<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>hijau</title>
	<atom:link href="http://abanstn.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abanstn.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jul 2008 04:44:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abanstn.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>hijau</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abanstn.wordpress.com/osd.xml" title="hijau" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abanstn.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 17b</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/06/pahlawan-dan-kaisar-17b/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/06/pahlawan-dan-kaisar-17b/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 04:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar teriakan Hikatsuka, akhirnya Yumei menghentikan rapalan jarinya. Dia hanya melihat ke depan dengan cemas saja. Dengan bertarung lebih dari 20 jurus kemudian, Hikatsuka telah terdesak sangat. Gaya kakinya telah berubah jalur kebanyakan. Lalu memanfaatkan suatu kesempatan, Huo menyerang ke arah rusuk Hikatsuka yang terbuka setelah jurus tendangannya terlihat ngawur. Benturan keras segera saja terjadi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=350&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-350"></span></p>
<p><span>Mendengar teriakan Hikatsuka, akhirnya Yumei menghentikan rapalan jarinya. Dia hanya melihat ke depan dengan cemas saja.<br />
Dengan bertarung lebih dari 20 jurus kemudian, Hikatsuka telah terdesak sangat. Gaya kakinya telah berubah jalur kebanyakan.</span></p>
<p><span>Lalu memanfaatkan suatu kesempatan, Huo menyerang ke arah rusuk Hikatsuka yang terbuka setelah jurus tendangannya terlihat ngawur.</span></p>
<p><span>Benturan keras segera saja terjadi. Suara patahnya tulang akhirnya mengakhiri pertarungan dahsyat itu.<br />
Dengan tubuh bagai layangan terlepas, akhirnya dia menabrak batu besar di tengah.<br />
Tabrakan itu cukup keras yang mengakibatkan batu besar sebesar 3 pelukan orang dewasa menjadi remuk.</span></p>
<p><span>Saat itu, Hikatsuka jatuh terjerembab dengan luka dalam yang sungguh<br />
sangat parah.<br />
Semua pesilat di pihak Huo segera bergembira luar biasa, hanya seorang Zhu Xiang yang terlihat menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang.</span></p>
<p><span>Sementara itu para pesilat yang merasa &#8220;harapan&#8221; hidup mereka telah sirna, lantas menggelengkan kepala dengan sikap putus asa.</span></p>
<p><span>Yumei yang melihatnya kontan terkejut luar biasa, dia segera menuju ke arah batu besar yang telah remuk itu dengan sikap yang khawatir luar biasa.<br />
Dia segera menjatuhkan dirinya melihat keadaan Hikatsuka. Dia mendapati bahwa beberapa tulang rusuk orang paruh baya ini telah remuk. Maka dengan mengalirkan air mata, dia melihat dengan rasa iba.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa paman? Kenapa???&#8221; teriaknya dengan menangis sejadi-jadinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku&#8230; Berhutang&#8230; Selembar&#8230; Nyawa padanya&#8230;.&#8221; Tutur Hikatsuka Oda yang terlihat sangat lemah sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa? Siapa yang paman maksud?&#8221; tutur Yumei dengan spontan dan cepat.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika&#8230; Kau belum.. Muncul&#8230; Kapan lagi kau???&#8221; tutur Hikatsuka Oda yang sepertinya makin melemah.<br />
Saat Yumei ingin menanyainya lagi. Dia mendapati orang paruh baya ini telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.</span></p>
<p><span>Kontan menangis deras, Yumei menggelengkan kepalanya beberapa kali.</span></p>
<p><span>Zhu Xiang yang melihat kawan seperjuangannya tewas dengan cara demikian tentu membuat hatinya teriris-iris. Tetapi bagaimanapun memang kawan seperjuangannya ini mengambil keputusan terakhirnya yang tidak bisa diganggu siapa saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu dahulu telah mengambil keputusan mengikuti Dewa Bumi, tujuanmu adalah Ilmu nan sakti itu. Tetapi berkat puteramu sendiri, kamu mengingkari janji setiamu sendiri. Hikatsuka, pergilah dengan tenang&#8230;&#8221; tutur Zhu Xiang sambil mendongkakkan kepalanya ke langit.</span></p>
<p><span>Batu yang remuk tadinya tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepadanya. Ternyata setelah beberapa saat, mereka merasakan sesuatu yang aneh.</span></p>
<p><span>Hawa di belakang batu remuk seakan mengambang tinggi.<br />
Sesegera, semua orang melihat ke arah hawa itu muncul. Hawa tiada lain muncul dari tubuhnya Xia Jieji yang sedang tidur terlentang. Sebuah hawa ungu yang pekat muncul dari dalam tubuhnya. Dan terasa mengumpul ke tengah membungkus.</span></p>
<p><span>Semua pesilat daratan China yang tahu bahwa hawa ungu ini mempunyai unsur racun pemusnah raga segera bergerak menghindar ke belakang.<br />
Beberapa pesilat dari Persia juga melakukan hal yang sama. Tiada orang yang ingin mengalami nasib serupa dengan pemuda kurus tinggi tadinya.</span></p>
<p><span>Hanya Yumei seorang saja yang masih berlutut di depan mayatnya Hikatsuka. Dia tidak mempedulikan sama sekali apa yang sedang terjadi.</span></p>
<p><span>Hawa ungu ini kembali membungkus batu remuk itu. Sama seperti tadinya, hawa ungu mendesir kembali setelah membungkus semua batu besar itu.</span></p>
<p><span>Huo Xiang yang melihat fenomena ini juga tidak merasa takut. Dia berjalan ke depan sambil melihat ke arah gadis kecil.<br />
Tetapi kali ini, dia tidak berjalan tanpa persiapan. Melainkan telah siap sebuah jurus yang disiapkan tentunya untuk gadis kecil itu.</span></p>
<p><span>Perlahan, Huo berjalan. Hanya berselang 5 tindak, dia segera menarik nafas dalam. Dengan satu telapak dia bermaksud mencabut nyawa gadis kecil itu.<br />
Yan yang melihatnya sangat terkejut, dia sempat berteriak sangat terkejut.</span></p>
<p><span>Tetapi Yumei sepertinya tidak ingin melawannya lagi. Meski dia dalam posisi berlutut dan melihat ke bawah tanah, dia tahu bahwa energi yang hampir sampai di kepalanya adalah energinya &#8220;raja kera&#8221; itu untuk mencabut nyawanya.</span></p>
<p><span>Siapapun tahu bahwa jurus Huo itu pasti akan mengenai batok kepala gadis kecil. Banyak orang yang menutup matanya ngeri menyaksikan gadis kecil cantik akan kehilangan nyawanya dengan batok kepala yang hancur.</span></p>
<p><span>Huo telah yakin sekali tapaknya yang penuh energi itu akan mengambil nyawa lawan di depannya. Tetapi di saat dia sudah yakin sekali bahwa tapaknya mengenai kepala lawan.</span></p>
<p><span>Dia merasa heran sekali. Sebab tahu-tahu tapaknya melainkan mengenai tempat yang kosong saja.</span></p>
<p><span>Sebuah hawa nan lembut sepertinya menarik gadis kecil ini untuk bergerak ke belakang sungguh cepat dan membuatnya berdiri dengan sangat baik sekali.</span></p>
<p><span>Sebelum gadis ini keheranan sangat, dia sempat melihat ke arah depannya. Terlihat seorang pemuda dengan rambut putih yang pendek dengan baju serba putih sedang mengamati ke arah depan.</span></p>
<p><span>Sedang di belakangnya, dia sempat menoleh. Kesemuanya adalah orang yang sudah tua dan berpakaian serba putih. Salah satunya adalah wanita.</span></p>
<p><span>Yan Jiao yang melihat kedatangan 4 orang disini, tentu sangat terkejut. Terlebih lagi seorang pemuda gagah dan kokoh yang berdiri paling depan itu. Dia lantas tidak mampu berkata-kata, wajahnya dipenuhi ratusan bahkan ribuan pertanyaan.</span></p>
<p><span>Huo yang melihat pemandangan di depannya, mau tidak mau juga cukup terkejut. Sebab ketika nona cantik itu di tarik dengan tenaga dalam mantap, dia bahkan tidak merasakannya.<br />
Zhu Xiang mengenal 3 orang di belakang itu, tetapi tidak dengan orang yang berdiri paling depan.<br />
Lantas berjalan ke depan, dia membisiki Huo.<br />
&#8220;3 orang di belakang adalah tetua dunia persilatan. Dewa Semesta, Dewa Sakti dan Dewi Peramal. Sedang yang di depan tidak kuketahui&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Huo terlihat mengangguk pelan saja. Lantas melihat ke arah orang yang paling depan dia menanyainya.<br />
&#8220;Siapa anda?&#8221;</span></p>
<p><span>Orang terdepan itu menjawab dengan pelan saja.<br />
&#8220;Kita pernah bertemu 5 kali dan inilah yang keenam. Tetapi kamu belum mengenalku&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Huo yang mendengar suara orang tua ini kontan terkejut. Dia mengerutkan dahinya.<br />
&#8220;Kau tetua dari partai surga menari????&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Terserah apa yang akan kau bilang. Tujuanku adalah meminta kalian semua meninggalkan tempat ini.&#8221; tuturnya dengan dingin.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau tidak bisa sesuka hatimu&#8230;&#8221; jawab Huo pendek. Tetapi dimatanya terlihat sikap jerih juga menatap pria di depannya itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah taman peristirahatan Puteri Han Ming. Kau adalah ketua bunga senja. Kau tahu betul ini adalah larangan kau berada disini?&#8221; tuturnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tujuanku kemari karena ingin menumpas semua orang yang berada disini karena telah menganggu tempat istirahat leluhur kita&#8230;&#8221; jawab Huo Xiang.</span></p>
<p><span>Mendengar apa kata Huo yang licin, pemuda tua ini malah tertawa terbahak bahak. Suaranya menggaung sangat tinggi.Beberapa pesilat disana terlihat tergoncang mendengar suara nan hebat yang muncul.</span></p>
<p><span>&#8220;Akhirnya kau mengaku bahwa kita bersama berasal dari 1 leluhur. Kau tahu apa arti partai Bunga senja?&#8221; tutur pemuda tua kembali kepadanya.</span></p>
<p><span>Mendengar apa kata-katanya, Huo hanya terlihat menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Dahulu leluhurmu diminta menjaga &#8220;bunga senja&#8221;. Bahkan kau sendiri tidak tahu arti &#8220;bunga senja&#8221;.&#8221; jawab pemuda tua sambil menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bunga senja artinya sinar emas.&#8221; tutur suara seseorang yang berada di belakang.</span></p>
<p><span>Suara pemuda yang tidaklah asing di dengar semua orang disana. Pemuda itu tadinya berada di daerah yang paling belakang. Sekarang dia sepertinya telah berdiri dengan baik. Suaranya bahkan tidak kelihatan bahwa dia sedang menderita ataupun apa.</span></p>
<p><span>Semua orang berbalik melihat. Sementara itu, para pesilat dari Persia maupun China daratan hanya diperlukan melihat ke samping.<br />
Yumei yang berbalik langsung menatap ke arah datangnya suara, tentu sangatlah kegirangan sekali.</span></p>
<p><span>Pemuda yang berbicara tiada lain adalah Jieji adanya. Dia telah berdiri kokoh. Tetapi kali ini dia tampak sungguh berbeda. Terutama adalah rambutnya yang sebenarnya telah memutih, sekarang telah berubah menjadi hitam kembali. Nafasnya teratur dan matanya penuh dengan sinar cerah.</span></p>
<p><span>Yumei yang kegirangan, segera beranjak ke arah Jieji.<br />
&#8220;Kakak kelima, kau tidak apa-apa?&#8221;<br />
tanyanya saking gembira.</span></p>
<p><span>Jieji hanya mengangguk perlahan. Lantas dia melihat ke arah depannya. Di depannya terlihat berbaring seorang pemuda paruh baya yang telah putus nafas itu.<br />
Dengan gerakan langkah perlahan dia tetap menatap ke arah bawah. Dari bola matanya telah terlihat mengalir air mata.<br />
&#8220;Ayah&#8230;&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Tuturnya sambil berlutut. Kemudian dia memberi hormat sebanyak 3 kali dengan sangat hikmad.</span></p>
<p><span>&#8220;Paman meninggal gara-gara menolongku&#8230;.&#8221; tutur Yumei yang berjalan ke depan sambil menangis.</span></p>
<p><span>Jieji hanya diam saja sambil menatap ke arah ayahnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Dia merasa berhutang budi karena 2 tahun lalu aku tidak membunuhnya. Maka daripada itu, dia membalasnya dengan sedemikian rupa..&#8221; tutur pemuda tua di tengah itu.</span></p>
<p><span>Mendengar pernyataan dari orang tua. Yumei baru menyadarinya. Meski dia tahu bahwa orang tua inilah yang menyelamatkannya, tetapi gara-gara pemuda tua ini tidak mencari masalah lebih lanjut dengannya. Maka Hikatsuka membalas kebaikannya dengan bertarung mati-matian untuk menyelamatkannya.<br />
Menyadari hal ini, Yumei kembali menangis deras.</span></p>
<p><span>Jieji yang hanya melihat ke ayahnya, segera membopong mayat sang ayahnya ke pinggir yang agak jauh. Dia melakukannya dengan amat hormat. Setelah benar di letakkan, dia mengamati ke arah Huo Xiang.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ada seorang pun dari partai bunga senja yang boleh kembali hidup dari sini&#8230;..&#8221;<br />
Tuturnya dengan nada yang marah. Di matanya terlihat sinar pembunuhan dahsyat. Kedua tangannya mengepal dengan keras. Hawa di sekitar tubuhnya mengumpul seiring desiran angin yang memutar hebat.</span></p>
<p><span>Sikap Jieji yang terlihat marah dan pandangan mata yang dingin melihat ke arah Huo dan kawan-kawannya tentu membuat mereka tergetar hatinya.<br />
Mereka tidak menyangka setelah dia bangun, maka tenaga dalamnya bukan saja bisa digunakan. Bahkan Zhu Xiang yang pernah melihat dan merasakan bagaimana energi Jieji tentu merasa keder. Kali ini setelah dirinya berdiri dengan benar, bukan saja hawa energinya setingkat saat pertarungannya melawan Yue Liangxu di tembok kota Beiping 2 tahun lalu. Melainkan dia merasakan energi lawannya lebih hebat lagi.</span></p>
<p><span>Sesaat, hanya Zhu Xiang yang merasa tergoncang hatinya menyaksikan lawan di depannya ternyata telah jauh di atasnya.</span></p>
<p><span>Jieji yang &#8220;emosi&#8221; sebab kematian ayahnya sepertinya tidak ambil peduli lagi atas segala hal. Apakah pesilat Persia semuanya bakal dibantainya disini?</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Nun Jauh di arah Timur&#8230;<br />
Perbatasan kota Chengdu, Sizhuan&#8230;</span></p>
<p><span>Yunying melanjutkan perjalanannya&#8230;<br />
Dia ingin menuju ke arah barat. Beberapa gosip menyatakan bahwa banyaknya pendekar daratan tengah telah menuju ke Persia. Di dalam hatinya dia berharap bahwa sang suaminya memang benar berada di sana. Tetapi banyak hal pula yang dipikirkannya. Salah satunya adalah mengapa Jieji tidak pulang ke daratan China. Setidaknya baginya dia adalah seorang lelaki yang bersifat setia terhadap janji-janjinya. Dia merasa bahwa Jieji tentu tidak ingin melihat kakak pertamanya kesusahan menghadapi pasukan Liao yang ganas itu.</span></p>
<p><span>Tetapi setelah diingat-ingat, dia malah terlihat cukup putus-asa.<br />
Justru karena sifatnya, maka tidak mungkin Jieji akan berpangku tangan saja terhadap kesusahan orang yang betul dikhawatirkannya yaitu Zhao kuangyin yang sebagai kakak pertamanya.<br />
Dari sini dia merasa bahwa harapan hidup suaminya kembali sirna. Tetapi nyonya Xia ini tidaklah menangis. Dia hanya mengerutkan dahinya sambil berpikir berkeliling kota Chengdu yang lumayan luas itu.</span></p>
<p><span>Seraya berjalan, dia mengingat kembali kejadian 2 tahun lalu di bawah tembok kota Beiping. Dia mengingat bagaimana Jieji dengan keji ingin membunuhnya dengan jurus tapak berantai tingkat terakhir. Tetapi mendengar bahwa setelah suaminya melukainya dengan parah, malah dia memberikan energinya untuk membuat dia bertahan hidup.<br />
Sesaat, dia juga merasa aneh saat-saat tersebut.<br />
Namun setelah di rasakannya sendiri dengan pasti, dia berpikir bahwa selain energi-nya. Jieji bahkan memberikannya salinan kitab Ilmu tapak berantai kepadanya dalam pesan terakhir yang dikhususkan untuknya.</span></p>
<p><span>Justru pesan terakhir dari suaminya yang sungguh sangat mengkhawatirkannya.<br />
Dia tahu bahwa sang suami selalu merencanakan sesuatu hal secermat-cermatnya. Termasuk kepergiannya kali ini tentulah sudah direncanakannya sangat matang. Entahpun dia kembali dengan selamat atau tidak.</span></p>
<p><span>Beberapa pikiran yang cukup rumit sedang menari-nari di otaknya. Bagaimanapun dalam hatinya, dia ingin langsung menanyai Jieji sebenarnya apa maksud dari keseluruhan tindakannya di bawah kota Beiping itu 2 tahun yang lalu. Dari sinilah, Yunying memulai perjalanannya setelah 1 tahun lamanya bergiat berlatih silat yang lebih dalam lagi di Tongyang.</span></p>
<p><span>Tenaga dalam pemberian Jieji dan Yue Liangxu keduanya mengandung unsur pemusnah raga. Seperti yang telah diberitahukan sebelumnya, unsur tenaga dalam pemusnah raga adalah pembelahan energi. Setiap belahan energi masing-masing dikuatkan sehingga membuat Ilmu termahsyur itu termasuk Ilmu yang tanpa tanding sejagad.</span></p>
<p><span>Tahapan tenaga dalam Ilmu pemusnah raga cepat berkembang tentunya disebabkan tiada lain karena pemakai sendiri memiliki 4 energi yang berbeda. Dan setiap saat pula, 4 energi selalu berkembang setiap saatnya. Apalagi Yue Liangxu, selain memiliki 4 energi mendukung tenaga dalamnya. Dia masih memiliki 4 energi pendukung 4 unsur utama. Sehingga dalam waktu selang beberapa tahun saja Ilmunya telah meningkat sungguh pesat sekali.</span></p>
<p><span>Yunying yang telah memiliki tenaga dalam hebat itu tentu tidak susah untuk mempelajarinya perbagian sebab pembelahan tenaga dalam(teknik tersusah) telah ada pada dirinya.<br />
Jadi di daratan China saat sekarang, Yunying telah termasuk seorang jago no.1 dan jarang bisa dibandingi lagi meski oleh Zhao kuangyin sekalipun.</span></p>
<p><span>Sikap cemas dan rasa susah telah tertampak dari wajahnya saat dia berkeliling dalam kota. Beberapa orang yang melihat gadis yang cantik luar biasa melewati mereka, banyak yang menolehkan pandangan kepadanya. Tetapi Yunying malah tidak melihat mereka satu persatu. Perjalanan yang terlihat membingungkan acap kali membawanya ke salah arah.<br />
Hingga dia berjalan sampai sebuah sudut kota yang cukup sepi.</span></p>
<p><span>&#8220;Nona manis&#8230;&#8221;<br />
terdengar suara seorang pria yang memanggilnya tiba-tiba.</span></p>
<p><span>Tetapi Yunying masih memikirkan banyak hal di otaknya. Tidak sedikitpun dia menggubris panggilan orang tersebut. Dia malah berjalan dengan gerakan biasa saja tanpa menoleh.</span></p>
<p><span>Tetapi pemanggil yang memanggilnya segera memanggilnya kembali dengan agak keras.</span></p>
<p><span>&#8220;Nona manis&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying kali ini mendengar seruan dari seorang pemuda. Tetapi dengan kepala yang masih agak tertunduk, dia berjalan saja tanpa menghiraukan. Baginya, dia sudah menjadi seorang nyonya, dan bahkan telah mempunyai seorang putera. Mana mungkin ada yang memanggilnya nona lagi.</span></p>
<p><span>Tetapi hal semacam ini tentu tidak pernah diketahui siapapun, mengingat usia Yunying memang masih tergolong muda. Paling saat ini dia hanya berusia sekitar 24 tahun saja.<br />
Tentu panggilan nona masih sangat wajar untuknya. Tetapi dengan tanpa menggubris, dia berjalan terus.</span></p>
<p><span>Pemuda yang memanggilnya sepertinya kehilangan kesabaran. Dengan berjalan perlahan, dia menguntit Yunying.<br />
Tetapi Yunying benar tahu bahwa dia sedang diikuti. Oleh karena itu, dia berjalan tetap ke depan tanpa menggubris dan seakan tidak merasa diikuti.</span></p>
<p><span>Setelah berjalan cukup jauh di sudut kota itu&#8230;</span></p>
<p><span>Si penguntit dirasa sepertinya bukanlah orang biasa. Gerakannya teramat ringan sekali. Untung saja Yunying adalah pesilat yang sungguh luar biasa tinggi kungfunya. Dia mampu merasakan setiap gerakan penguntit itu. Penguntit bergerak meski menginjak tanah, tetapi untuk mendengar suara langkah sudah hampir tidak mungkin. Oleh karena itu, Yunying hanya mengkonsentrasikan gerakan tubuhnya yang tersapu angin.</span></p>
<p><span>Tidak berapa lama, sampailah dia juga di sebuah lorong yang agak kecil. Lorong di depannya adalah buntu adanya.<br />
Akhirnya disini Yunying berhenti juga. Dia menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang menguntitnya. Tetapi baru saja dia menoleh, dia melihat serbuk putih telah mengenai mukanya.</span></p>
<p><span>Serbuk putih yang mengenai mukanya yang putih dan halus itu tidak berlangsung lama. Sebab pandangannya yang sebelumnya adalah serba putih, sekarang telah terasa sungguh gelap.<br />
Tanpa terasa olehnya, dia telah kehilangan kesadarannya. Dan jatuh terjerembab.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Persia&#8230;<br />
Di panggung format 72 Iblis&#8230;</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian pergilah.&#8221; seru pemuda tua itu yang menyaksikan kemarahan Jieji telah menjadi-jadi.</span></p>
<p><span>Mendengar seruan pemuda tua di tengah, Huo Xiang malah sepertinya tidak ingin pergi. Meski beberapa pengikutnya telah mulai ketakutan dengan sikap menterengnya Xia Jieji.<br />
Huo berjalan ke tengah. Dia tetap memegang tombak dengan sikap angkuh dia berjalan ke depan.</span></p>
<p><span>Jieji masih belum mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia masih tetap &#8220;melekatkan&#8221; pandangan matanya dalam-dalam ke arah Huo.<br />
Melihat Huo telah siap juga, Yumei yang berada tidak jauh dari Jieji. Segera berseru.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak kelima. Tangkap pedang&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Bersamaan dengan tutupnya suara Yumei. Pedang ksatria yang masih di tangannya dia lemparkan ke arah Jieji.<br />
Melihat Yumei beraksi, Huo cukup terkejut juga. Jika pedang nan tajam itu dipegang oleh Xia Jieji. Maka dia tentunya makin menjadi. Oleh karena itu, tentunya dia berniat benar untuk menghalanginya.</span></p>
<p><span>Bagaimanapun caranya, dia tidak akan membiarkan Jieji memakai pedang nan tajam itu untuk bertarung dengannya. Tentu pertandingan ini tidak akan adil sama sekali.</span></p>
<p><span>Lantas saat pedang sedang melayang ke arah Jieji, Huo dengan gerakan cepat luar biasa lantas ingin merebut pedang hebat itu.<br />
Jieji tentu melihat gerakan lawannya secara pasti. Dia tahu benar bahwa lawan sekarang bertujuan merebut pedang-nya. Dengan ancang-ancang, dia segera mengayunkan kakinya untuk mengambil pedangnya sendiri.</span></p>
<p><span>Semua pendekar siapapun yang melihat keduanya bergerak demi 1 pedang, tentu terkejut. Sebab kecepatan keduanya sungguh luar biasa. Tetapi gerakan awalnya Huo adalah menusuk ke arah pedang dengan tombaknya.</span></p>
<p><span>Dia tahu dengan benar bahwa Jieji tentu tidak akan membiarkan pedang direbut begitu mudah olehnya. Namun begitu pula Xia Jieji, dia berpikir bahwa Huo yang ingin merebutnya tentu akan mencari cara menyerangnya terlebih dahulu. Oleh karena itu, dia berlari ke arah pedang juga dengan persiapan yang baik.</span></p>
<p><span>Pedang terlihat melayang setinggi dada ke arah tengah.<br />
Jieji yang melihat pedang cukup jauh untuk dijangkau. Sedangkan tombak tentu akan lebih mudah menjangkaunya karena lebih panjang segera menyusun siasat pertarungan.</span></p>
<p><span>Ketika Huo Xiang merasa telah di atas angin dalam merebut pedang. Dia melihat sebuah sinar terang.<br />
Kontan dengan terkejut, dia segera mengelakkan tombaknya dan menghujamkannya ke tanah.</span></p>
<p><span>Sinar terang berwarna merah segera menuju ke dirinya. Tetapi karena Huo mempunyai jam terbang yang tinggi selain dari tenaga dalamnya yang hebat, dia masih bisa bertindak cukup tangkas.<br />
Dengan memutar tapaknya 1 lingkaran penuh, sinar merah segera melenceng melalui bahunya.<br />
Ilmu ini tiada lain tentu adalah tapak pemusnah raga tingkat pertama. Jieji-lah orang yang sering melakukan gerakan tapak ini beberapa kali.</span></p>
<p><span>Sinar merah memang telah tidak membahayakan dirinya, tetapi sebelum benar dia melihat ke depan untuk mencari Xia Jieji, dia telah merasakan sinar lainnya telah menuju dirinya.<br />
Kali ini yang datang bukanlah sinar merah.<br />
Melainkan sinar kehijauan yang terang. Tiada lain sinar kehijauan adalah berasal dari pedang ksatria yang sedang dibacokkan ke arahnya dari atas.</span></p>
<p><span>Huo yang melihatnya tentu keringat dingin.<br />
Semua pesilat Persia yang melihat gerakan Jieji turun dari atas seraya membacok ke bawah tentu meneriak keras memberikan peringatan kepadanya.</span></p>
<p><span>Dengan cekatan, ketua partai bunga senja itu memutarkan tombaknya cepat ke atas kepalanya. Inilah gerakan ilmu tombak pengejar nyawa tingkat terakhir.<br />
Dengan gerakan biasa saja, Huo merasa tidak mungkin sanggup melawan jurus yang dihempaskan dahsyat ke bawah itu.</span></p>
<p><span>Pusaran angin yang cepat segera membentuk benteng pertahanan dari bawah.<br />
Suara berlaga senjata terdengar jelas. Jieji yang menghempaskan pedang ke bawah, kemudian dengan cepat terlihat bersalto ke belakang.<br />
Setelah turun, dia terlihat menyeret kaki sekitar 10 kaki ke belakang.</span></p>
<p><span>Hal ini sempat heran dilihat semua pesilat. Hanya beberapa orang seperti pemuda tua, Dewa Sakti dan Dewa Semesta yang mengerti apa yang dilakukan oleh Jieji.</span></p>
<p><span>Huo yang melihat gerakan Jieji, segera tertawa terbahak-bahak.<br />
&#8220;Kamu tahu kalau jurus ini akan bisa mencelakai nyawamu, oleh karena itu kau mengorbankan pedangmu kepadaku..&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji hanya melihat ke depan. Di bibirnya segera timbul senyum.<br />
Tetapi senyumnya tiada lama. Sesegera dia telah serius kembali. Sambil berteriak keras dia maju.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, sekarang aku minta kembali pedangku.&#8221;</span></p>
<p><span>Huo masih memutarkan tombaknya dengan cepat. Sementara pedang-nya Jieji masih berputar terus mengikuti gerakan tombak 1 lingkaran penuh.<br />
Melihat gerakan Jieji menuju ke arahnya, dia kontan menghempaskan pedang ke arah Jieji dengan sangat cepat.</span></p>
<p><span>Pedang terlihat berbalik menyerang ke arah Jieji.<br />
Semua pesilat kontan terkejut melihat kemampuan Huo membalikkan pedang. Jieji sepertinya salah langkah kali ini. Dia tahu bahwa di belakangnya tiada lain adalah Yumei yang masih berdiri tegak.</span></p>
<p><span>Jika pedang tidak ditangkapnya, maka pedang kontan akan menuju ke arah adik kecilnya itu.<br />
Tetapi bagaimanapun Jieji bukanlah pendekar sembarangan. Jurus Huo Xiang yang sedemikian licik itu tentu belum sanggup benar menyulitkannya.</span></p>
<p><span>Pedang memang melesat sungguh cepat ke arahnya. Arah tiada lain dari tubuhnya adalah ulu hatinya. Dengan memutar sangat pas, Jieji yang membelakangi Huo segera menangkap pedangnya dengan tangan kirinya.</span></p>
<p><span>Huo sudah bisa menebak sebahagian besar tindakan lawannya itu. Maka melihat punggung lawan sudah terbuka. Tentu tidak sukar baginya untuk melancarkan serangan. Tanpa ayal, Huo segera menusukkan tombak ke depan dengan berputar kencang untuk mengoyak.</span></p>
<p><span>Yumei adalah orang yang paling cemas menyaksikan serangan lawan yang diarahkan sungguh tepat dan cepat ke arah kakak kelimanya. Dia-lah orang pertama yang berteriak kaget.</span></p>
<p><span>&#8220;Awas!!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji dalam posisi jelek itu bukannya merasa gelisah. Tetapi malah terlihat dia tersenyum saja.<br />
Pedang yang dipegang di tangan kirinya segera di putarkan arahnya melebar ke luar.</span></p>
<p><span>Karena ujung tombak sudah sangat dekat, Huo terlihat terkejut. Bagaimanapun pedang lawannya itu sangatlah tajam. Jika di laga ke pedang, maka ujung tombak tentu akan putus.<br />
Kekhawatiran Huo ternyata tidaklah sia-sia. Memang benar, gerakan awal jurus pedang no.1 sejagad telah membuahkan hasil.</span></p>
<p><span>Tombaknya Huo seperti sengaja di tusukkan pas ke bagian tajam pedang.<br />
Dengan putus menjadi 3 bagian, tombak masih meluncur dengan cepat ke depan. Sehingga bagian besi dari tombak telah terkoyak seperti kayu yang menghantam pedang tajam.</span></p>
<p><span>Sesaat itu, Huo merasa terkejut sekali. Sehingga dengan gerakan menarik. Dia terlihat menarik tombaknya untuk mengarah maju lagi.<br />
Alhasil, tombaknya memang berhasil di selamatkan. Tetapi ketika Huo baru saja ingin melihat ke depan.<br />
Sebuah benda nan dingin telah mengarah cukup dekat dengan bola mata sebelah kirinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ilmu pedang Surga membelah benar belum ada tandingannya sejagad dalam hal ilmu senjata.&#8221; tutur Orang tua di tengah itu sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Huo yang merasa dirinya sedang di ancam dalam keadaan yang sungguh gawat merasa keder. Kakinya gemetaran sekali melihat pedang yang jaraknya hanya sekitar seinchi di bola mata kirinya itu.<br />
&#8220;Ini kah Ilmu pedang surga membelah? Bagaimanakah kau bisa menguasainya?&#8221; Tutur ketua partai bunga senja ini. Tetapi dia segera melihat ke arah pemuda tua itu.</span></p>
<p><span>Pemuda tua yang melihat Huo memandangnya itu. Segera menjawabnya.<br />
&#8220;Mengenai ilmu ini, bahkan diriku hanya menguasai 5 jurus. Tetapi pemuda di depanmu telah menguasai 8 gerakan perubahannya.&#8221;</span></p>
<p><span>Huo Xiang seakan tidak percaya mendengarnya. Dia pernah dipecudangi orang tua di tengah itu ketika bertanding senjata sekitar 5 tahun yang lalu. Mendengar bahwa Jieji telah menguasainya lengkap, dia bahkan seakan tidak percaya.<br />
Rasa takut telah menyelimuti dirinya seluruhnya. Nyawanya kali ini sepertinya telah berada di ujung tanduk.</span></p>
<p><span>&#8220;Kumohon lepaskanlah ayahku&#8230;..&#8221;</span></p>
<p><span>Kemudian terdengar seorang berteriak keras.<br />
Suara tersebut membuat semua orang melihat ke arahnya. Nona muda yang berteriak tadi terlihat rasa ibanya melihat ke arah Jieji.<br />
Jieji yang melihatnya, segera menanyainya.<br />
&#8220;Apakah dia juga melepaskan ayahku tadinya?&#8221;</span></p>
<p><span>Nona ini yang dijawab sedemikian rupa hanya diam seribu bahasa. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Jieji.<br />
Tetapi dari matanya segera mengalir air mata. Kemudian dia berteriak kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tahu? Bagaimanapun dia termasuk ayah mertua temanmu&#8230;.&#8221;<br />
Thing-thing meneriakinya kali ini dengan suara keras kembali.</span></p>
<p><span>Jieji cukup terkejut. Dia tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan nona ini. Tetapi tanpa perlu berpikir lama dia sudah cukup mengetahui seluk beluknya. Ternyata hubungan Sun Shulie dan Thing-thing sepertinya tidak sampai tahap biasa saja. Yang mengherankan baginya, Sun tidak pernah menceritakan kepadanya bahwa dia telah mempunyai seorang isteri disini.</span></p>
<p><span>Lantas dengan menoleh ke arah pemuda tua, Jieji memandangnya.<br />
Pemuda tua itu menganggukkan kepalanya perlahan kepadanya. Sebenarnya apa yang terjadi antara Sun Shulie dan Thing-thing?</span></p>
<p><span>Jieji memang sebenarnya belum berniat membunuh ketua partai bunga senja itu. Tetapi tadinya hanya dia emosi tidak karuan. Lantas melepaskan pedang, dia berkata kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;1 tahun lagi kita bertanding. Yakinkanlah ilmu pemusnah ragamu sedemikian rupa. Barulah kita bertanding kembali. Tempatnya tiada lain adalah disini&#8230;&#8221;<br />
Sambil berkata, dia berbalik.</span></p>
<p><span>Huo Xiang seakan tiada percaya kemudian terlihat hanya melongo berdiri diam disana. Tidak ada sepatah katapun yang bisa diucapkannya. Sampai Thing-thing kemudian mendekatinya.<br />
Huo kemudian terlihat menggumam beberapa kata secara berulang-ulang.<br />
&#8220;Kenapa dia tidak membunuhku?&#8221;</span></p>
<p><span>Melainkan Thing-thing dan Zhu Xiang, mereka mengajak semua pendekar Persia dari partai bunga senja itu segera meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.</span></p>
<p><span>Jieji hanya berjalan membelakangi dengan pelan ke arah mayat ayahnya yang disana. Dia segera berlutut, dan terlihat menyembah beberapa kali kembali.<br />
Yumei terlihat mendekatinya. Dengan mengalir air mata, dia berlutut ikut menyembah almarhum Hikatsuka Oda.</span></p>
<p><span>Pemuda tua di tengah segera berjalan ke arah Jieji yang sedang berlutut. Dia diikuti oleh Dewa Sakti, Dewi peramal dan Dewa semesta.</span></p>
<p><span>&#8220;Untung kamu tidak bertarung lebih lama&#8230;.&#8221;<br />
Sahutnya kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji hanya tidak menjawabnya. Dia tetap menunduk ke bawah saja.<br />
Yumei yang mendengarnya cukup terkejut akan kata-kata pemuda tua itu. Dia melihat ke arahnya. Lantas dia ingin menanyainya. Tetapi orang tua ini memberikan tanda kepadanya untuk tidak bersuara.</span></p>
<p><span>Yan Jiao adalah orang yang berjalan ke arah pemuda tua itu. Segera dia memberi hormat dengan sangat dalam kepada pemuda tua.<br />
Pemuda tua terlihat membalas hormat pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudah lama kita tidak bertemu, saudaraku&#8230;&#8221;<br />
tutur pemuda tua sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak betul sama seperti dahulu. Tidak berubah engkau. Sebagai adik tiap hari aku merindukan kakak yang nan jauh disana&#8230;.&#8221; Tutur Yan Jiao sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Pemuda tua itu terlihat mengangguk pelan saja.</span></p>
<p><span>Jieji telah berdiri. Dia kembali membopong ayahnya di pundak.<br />
&#8220;Hari ini untung sekali aku tertolong berkat Ilmu pedang surga membelah. Sebenarnya tadinya&#8230;&#8221; tuturnya sambil melihat ke arah pemuda tua.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tahu dengan betul. Kamu tidak mampu lagi menggunakan tapak berantaimu. Jika saja tadi Huo menggunakan Ilmu pemusnah raga, mungkin kali ini kamu gawat sekali. Tetapi bagaimanapun aku sangat salut kepada anda&#8230;&#8221; sahut pemuda tua.</span></p>
<p><span>Jieji hanya mengangguk pelan saja. Dia segera berlalu bersama mayat ayahandanya di pundaknya. Dia berjalan cukup tenang saja.<br />
Yumei adalah orang yang mengikutinya dari belakang.</span></p>
<p><span>Setelah cukup jauh, Dewa Sakti segera menanyai orang tua itu.<br />
&#8220;Kenapa dengan tapak berantainya? Apa memang benar ada masalah?&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda tua itu menggelengkan kepalanya. Sambil menghela nafas dia menjawab.<br />
&#8220;Dia betul seorang satria sejati. Tidak memanfaatkan kesempatan meski seharusnya dia membalas dendam.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi benar bahwa sinar emas itu bukannya menolongnya?&#8221; tanya Dewa semesta yang sangat terkejut.</span></p>
<p><span>&#8220;Tadi setelah dirinya bangun, energinya mulai sirna. Jika dia tidak menggunakannya maka akan ketahuan bahwa energinya sebenarnya sedang membuyar. Jika saja pertarungan dilanjutkan lebih lama, maka dia tentu mengalami rugi yang sangat besar. Tetapi menyadari keadaannya sendiri, maka kukatakan dia adalah seorang satria sejati karena tidak membunuh Huo Xiang.&#8221; tutur pemuda tua sambil tersenyum melihat ke arah tadinya berlalu Xia Jieji.</span></p>
<p><span>Ketiga tetua lainnya lantas tersenyum mendapati hal ini. Mereka sangat mengagumi Jieji. Dan janji 1 tahun untuk bertarung kembali tentu akan memompa semangat Xia Jieji untuk melatih Ilmu baru lagi yang bisa mengimbangi Ilmu pemusnah raga itu karena bagaimanapun energi kumpulan 4 unsur utama Jieji telah membuyar seluruhnya.</span></p>
<p><span>Sebelah selatan 10 Li dari panggung format 72 iblis&#8230;</span></p>
<p><span>Sebuah panggung dari kayu telah didirikan dengan baik. Disana terlihat seorang pemuda paruh baya yang telah tiada bernyawa berbaring. Sedang pemuda yang jauh lebih muda sepertinya sedang menyiapkan kayu yang berapi ujungnya.<br />
Di belakangnya berdiri seorang nona cantik manis.</span></p>
<p><span>Tetapi keduanya seperti baru saja menangis. Mata keduanya cukup buram. Keduanya melakukan hal yang sama yaitu memandang ke depan saja.<br />
Tidak lama, pemuda terlihat melemparkan api ke tengah. Cukup cepat, api telah berkobar besar.<br />
Pemuda yang tiada lain adalah Jieji hanya diam saja menatap ke depan. Matanya tertimbun banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.</span></p>
<p><span>Salah satunya adalah Mengapa ayahnya meninggalkannya dengan cara sedemikian rupa. Dialah yang tanpa sengaja &#8220;memaksa&#8221; ayahnya meninggalkan &#8220;kampung halamannya&#8221;. Terakhir mengakibatkan dia tewas dengan cara begitu.<br />
Jieji yang berdiri melayangkan ingatannya.</span></p>
<p><span>Ingatannya secepat kilat seperti tertembus ke saat 2 tahun lalu.</span></p>
<p><span>Ayahnya memang mengejarnya sesaat dia meninggalkan kota Beiping.<br />
Kuda yang dibawa Jieji ternyata tidaklah secepat kuda bintang biru. Meski dia duluan pergi sesaat, tetapi karena gerakan ringan tubuh Hikatsuka telah mencapai tingkat tinggi. Dia akhirnya sanggup mengejarnya juga.</span></p>
<p><span>Adalah sekitar 70 li arah utara kota Shandang. Dia berhasil di cegat oleh Hikatsuka.<br />
Jieji masih terbaring lemah di atas kuda. Dia yang melihat ayahnya datang, maka sambil terlungkup dia melihat ke arah ayahnya dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Kembalilah ayah.. Bersama diriku&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Hikatsuka yang berdiri di depannya hanya diam saja.</span></p>
<p><span>Melihat ayahnya diam, Jieji kembali menanyainya.<br />
&#8220;Apa betul bahwa Manabu adalah adik kandungku?&#8221;</span></p>
<p><span>Hikatsuka hanya terlihat menarik nafas panjang. Dia tidak menjawab pertanyaan sang anak. Sesaat, melihat gerakan Hikatsuka yang pendek itu, dia sudah mampu menebaknya.<br />
Tanpa terasa dia meneteskan air matanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku membunuh adik kandungku sendiri&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Hikatsuka hanya memandangnya. Tidak lama dia berkata.<br />
&#8220;Adikmu semenjak lahir, sudah di didik oleh Dewa Bumi. Kemampuannya memang mengagumkan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi benar&#8230;.<br />
Mereka semua membenciku karena selain pernah membuat kakak angkat pertama ayah merenggut nyawa. Maka Manabu yang seharusnya memiliki Bintang Iblis malah kubunuh juga?<br />
Selain itu, masih banyak gara-gara campur tanganku maka usaha kalian semua gagal? Bukan begitu ayah?&#8221;tanyanya dengan suara parau kepada ayahnya.</span></p>
<p><span>Hikatsuka tiada menjawabnya sepatah katapun.</span></p>
<p><span>Jieji yang melihat sikap sang ayah, segera tahu apa yang ditebaknya selama ini memang telah benar.</span></p>
<p><span>&#8220;Selain itu, memang benar dulunya Yelu Xian dan Wu Shanniang masih bisa memaafkan aku jika aku berada di pihak mereka. Tetapi karena tidak maunya diriku mengikuti mereka, maka mereka semakin membenciku.&#8221; tutur Jieji lanjut lagi.</span></p>
<p><span>Hikatsuka tidak menjawabnya juga. Kali ini dia tidak memandang ke arah Jieji, melainkan ke hamparan tanah yang luas itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayah&#8230;..<br />
Kamu harus membunuhku. Bawalah kepalaku ke Liao. Dengan begitu, ayah masih bisa kembali ke sana&#8230;&#8221;<br />
tutur Jieji kembali.</span></p>
<p><span>Tetapi Hikatsuka segera berbalik kepadanya.<br />
&#8220;Kamu pergilah&#8230; Aku tidak akan membunuh puteraku sendiri. Jika ibumu tahu keadaanmu, pasti dia juga tidak akan pergi dengan tenang&#8230;&#8221; tuturnya sambil mendongkakkan kepalanya ke atas. Perlahan dari bola matanya terlihat berlinang air mata yang cukup deras.</span></p>
<p><span>Melihat keadaan sedemikian.<br />
Jieji juga ikut menangis deras. Tetapi dia tetap memacu kudanya perlahan dengan posisi terlungkup. Begitu langkah kuda telah cukup menjauh. Jieji sempat memberikan kata-kata terakhir kepada ayahnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak akan kembali ke daratan tengah lagi mengingat jika kembali maka akan menyulitkanmu sebagai orangtuaku.&#8221;</span></p>
<p><span>Tiba-tiba tuturan suara seseorang membuyarkan lamunannya.<br />
&#8220;Apa yang akan anda rencanakan?&#8221;</span></p>
<p><span>Api masih berkobar hebat membakar jenazah Hikatsuka Oda. Sementara itu, Jieji yang tadinya hanya melihat ke depan segera berbalik.<br />
Dia melihat adanya 5 orang di sana. Empat di antaranya adalah orang tua berpakaian putih, sedangkan 1 orang lagi pemuda paruh baya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak tahu&#8230;&#8221;<br />
jawab Jieji dengan pendek.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa kamu tahu bahwa dirimu sedang dalam keadaan yang cukup berbahaya?&#8221; tanya Dewa Sakti dengan mengerutkan dahinya.</span></p>
<p><span>Jieji melihat dalam ke arah orang tua ini. Lantas tiada berapa lama dia menjawabnya.<br />
&#8220;Mengenai tenaga dalamku yang sedang membuyar perlahan tentu saja kuketahui.&#8221;</span></p>
<p><span>Yumei yang mendengarnya, segera melihat ke arah Jieji. Dia sangat heran. Sebab tiada pernah dia merasakan adanya &#8220;bocoran&#8221; tenaga dalam Jieji sebab dia kelihatan biasa saja.</span></p>
<p><span>Dewa Sakti menggelengkan kepalanya. Lalu orang tua lainnya segera menuturkan kata-kata.<br />
&#8220;Tapak berantai tidak bisa kau gunakan lagi selamanya. Kecuali jika semua tenaga dalammu dilenyapkan dahulu. Baru berlatih dari awal lagi. Tetapi&#8230;&#8221;<br />
Jieji menjawabnya sambil tersenyum.<br />
&#8220;Mungkin memang riwayat tapak berantai sampai disini saja. Dan itupun tidak pernah kukhawatirkan. Selain itu, tapak berantai sudah hampir menyerap jiwaku ke dalamnya.&#8221;</span></p>
<p><span>Orang tua tadi tersenyum puas. Dia mengangguk dengan pelan.</span></p>
<p><span>Dewa Sakti memang cukup penasaran akan Jieji. Dia tidak pernah bisa menebak apa yang di dalam otaknya Jieji. Ingin sekali dia menanyainya banyak hal, selain itu dia juga ingin mengetahui bagaimana caranya menepati janji bertarung dengan Huo Xiang 1 tahun lagi jika dia yakin bahwa tapak berantainya tidak sanggup lagi dipakai.<br />
Bagaimana caranya bisa menang dalam pertandingan 1 tahun lagi?</span></p>
<p><span>Tetapi Jieji yang menatap ke arah Dewa Sakti sekilas sudah tahu apa yang dikhawatirkannya terutama karena dari wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.</span></p>
<p><span>&#8220;Tapak berantai bukanlah ilmu no. 1 sejagad. Dan bukanlah tidak mungkin tiada ilmu yang sanggup mengalahkan Ilmu pemusnah raga.&#8221; tutur Jieji ke arah Dewa Sakti.</span></p>
<p><span>Dewa Sakti kontan terkejut melihat ke arah Jieji. Sesaat, dia merasa sangat kagum kepadanya. Sebab 1/2 dari isi hatinya sudah dijawab oleh Jieji tanpa menanyainya apapun.</span></p>
<p><span>Dewa Semesta juga mengalami hal yang sama sebenarnya. Mendengar tuturan Xia Jieji, dia menanyainya kembali.<br />
&#8220;Ilmu pemusnah raga sebenarnya adalah belahan 4 unsur, dan mengapa kungfu ini cepat sekali majunya karena 4 bagian saling melengkapi 1 sama lainnya. Apakah mungkin ada kungfu lain yang bisa mengimbanginya?&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar pertanyaan Dewa Semesta, segera Jieji melihat ke arah orang tua sambil tersenyum.<br />
Orang tua di tengah tersebut melihat perubahan wajah Jieji, dia juga ikut tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Ilmu telapak Dewa Lao kabarnya adalah Ilmu yang sanggup mengalahkan Ilmu pemusnah raga. Lalu kenapa tiada Ilmu lain lagi bisa sanggup mengalahkannya?&#8221; tanya Jieji kepada orang tua di tengah.</span></p>
<p><span>Orang tua ini kontan tertawa keras mendengar tuturan Jieji. Dia terlihat bertepuk tangan berapa kali.</span></p>
<p><span>Dewa Sakti dan Dewa Semesta serta Dewi peramal merasa aneh juga melihat tingkah orang tua ini. Melainkan Jieji saja yang tahu apa maksudnya.<br />
&#8220;Anda adalah Dewa Lao yang termahsyur juga merupakan guru dari kakak pertamaku serta Sdr. Sun Shulie.<br />
Selain itu, anda juga adalah ketua partai Surga menari.&#8221;</span></p>
<p><span>Orang tua itu segera berhenti tertawa. Dia melihat dalam ke arah Jieji.<br />
Tidak berapa lama, dia menanyainya.<br />
&#8220;Berdasarkan apa anda mengatakan aku-lah Dewa Lao itu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Adik kecil, Yumei pernah menceritakan bahwa adanya seorang bertopeng aneh yang menyelamatkannya dari kejaran Ayahku. Katanya, jurus orang bertopeng adalah tapak yang memiliki jangkauan yang sangat jauh dan bertenaga besar. Selain itu, melihat gelagat Huo Xiang dan Tuan Yan Jiao ini. Aku sudah mampu menebaknya.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>Orang tua ini lantas tertawa lagi. Dia berkata.<br />
&#8220;Sungguh kamu ini pintar sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Sakti, semesta dan dewi peramal tersenyum melihat sikapnya.<br />
Tetapi dengan tiba-tiba kemudian Jieji berlutut kepadanya. Orang tua ini terkejut juga melihat sikap Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda pernah memberi informasi kepada adik kecilku yang ingin menolongku saat diriku disekap di penjara bawah tanah Partai Bunga senja.<br />
Bagaimanapun ini adalah sebuah budi yang cukup dalam bagiku&#8230;&#8221;<br />
Dan adalah berkat pertolongan anda yang membuatku bisa hidup sampai sekarang&#8230;<br />
tutur Jieji menyembahnya 2 kali.</span></p>
<p><span>Tetapi orang tua ini membimbingnya berdiri. Dia menatap mata Jieji dengan lama sekali. Begitu pula Jieji melakukan hal yang sama.<br />
Lalu dia menggandeng tangan Jieji seraya menjauh. Mereka berjalan sekitar hampir 100 meter dari tempat itu. </span></p>
<p><span>Orang-orang di sana cukup heran melihat sikap orang tua dan Jieji yang berjalan menjauh. Tetapi karena mereka merasa ada pembicaraan yang patut dibicarakan keduanya. Mereka hanya diam dan menunggu saja.</span></p>
<p><span>Di sebuah tanah yang agak luas dan cukup jauh dari tempat tadinya. Dia bertanya dengan pelan.<br />
&#8220;Apa yang anda rencanakan sebenarnya?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tetua. Memang tidak banyak hal yang kurencanakan itu. Tetapi aku akan meninggalkan tempat ini dahulu. Kemudian mencari tempat yang tenang untuk memikirkannya kembali masak-masak.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau ingin menciptakan Ilmu baru lagi? Apa kau yakin bisa berhasil hanya dalam 1 tahun?&#8221; tanya Dewa Lao sambil mengerutkan dahinya.</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Untuk tujuan-mu sebenarnya bukanlah sesuatu yang sangat gampang. Mengingat waktu yang terlalu pendek, selain itu apa ada sesuatu yang menurutmu bisa mengalahkan raja kera itu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak berniat menggabungkan lagi energi di dalam tubuhku. Sebab bagaimanapun gabungan energi adalah sangat tanggung sekali. Meski dapat kulakukan, tetapi aku sudah tertinggal jauh dari Huo Xiang yang dalam 1 tahun pasti akan maju pesat berkat Ilmu pemusnah raga.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Sambil menghela nafas mendengarkan, Dewa Lao akhirnya menjawabnya.<br />
&#8220;Tapak berantai sampai tingkatan empat memang bukanlah Ilmu no. 1. Tetapi memaksanya hingga jurus terakhir akan tiada menguntungkan pemakainya. Semakin dipakai semakin menyesatkan dan membahayakan diri sendiri. Ini sudah kuketahui sejak dahulu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Maka daripada itu tetua tidak pernah mempelajari Ilmu pemusnah raga kan?&#8221; tanya Jieji. </span></p>
<p><span>Dewa Lao mengangguk pelan.<br />
&#8220;Ada sesuatu yang ingin kutukarkan dengan anda. Bagaimana menurutmu?&#8221; </span></p>
<p><span>Jieji tersenyum mendengar kata-kata Dewa Lao.<br />
&#8220;Anda ingin menukarkan tapak dewa lao anda dengan 3 perubahan tingkatan pedang surga membelah?&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Lao lantas tersenyum kaget mendengarnya. Tetapi sebelum dia mengiyakan. Jieji memberi komentar kepadanya lagi.<br />
&#8220;Mengenai Ilmu pedang surga membelah. Sebenarnya Ilmu ini adalah Ilmu warisan dari Partai Surga menari kan? Kalau begitu, 3 tingkatan lainnya tentu akan kuberikan kepada anda tanpa perlu menukarkan apapun.&#8221; </span></p>
<p><span>Dewa Lao lantas tersenyum girang. Dia tidak menyangka Jieji juga adalah seorang yang bersifat budiman luar biasa.<br />
Kemudian dia mengarahkan tatapannya ke langit.<br />
&#8220;Ilmu pedang surga membelah adalah ciptaan leluhur partai Surga menari, Yan Chuyan. Setelah berhenti sebagai menteri pertahanan, dia datang kemari untuk menjabat sebagai tetua. Ratusan tahun telah berlalu, dan sungguh sangat disayangkan terakhir disini malah hanya terdapat 5 tingkatannya saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan.<br />
&#8220;Mengenai Ilmu pedang dahsyat itu, akan kuminta adik kecil memberikannya kepada-mu.&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Lao cukup terkejut mendengarnya. Lantas dia menanyainya.<br />
&#8220;Heran&#8230;<br />
Adik kecil-mu mempunyai salinannya? Aneh&#8230; Aneh&#8230;<br />
Lalu kenapa tidak dipelajarinya Ilmu pedang itu?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Waktu dirinya baru berumur 6 tahun. Tangan kirinya pernah cedera parah. Sehingga untuk memakai pedang menggunakan tangan kiri sungguh menghambat pergerakannya. Aku pernah membimbingnya untuk berlatih setahun terakhir, tetapi selain tidak maju saja maka terakhir malah menyulitkan gerakan tangan kirinya.&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Lao hanya mengangguk pelan saja. Tetapi tidak lama, dia mengeluarkan sesuatu benda dari saku bajunya. Sepertinya benda yang dikeluarkan adalah sebuah buku. Langsung dia angsurkan buku itu kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji memang tidak berani menerimanya terlebih dahulu. Dia melihat sampul buku yang bertuliskan &#8220;Kitab 10.000 langkah Dewa&#8221;. </span></p>
<p><span>Jieji yang melihatnya cukup terkejut.<br />
&#8220;Ini adalah buku kitab ilmu menghindar yang terkenal dari partai Surga menari?&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Lao mengangguk pelan saja. Tetapi sambil tersenyum dia berkata.<br />
&#8220;Meski Ilmu ini bukanlah gerakan penyerangan, tetapi untuk melatih langkah dasar bertarung adalah sungguh sangat baik.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji yang melihatnya tentu girang juga. Sebab bagaimanapun Ilmu menghindari partai surga menari sangat-lah hebat. Dia tahu bahwa bagaimanapun Ilmu langkah ini jauh di atas Ilmu langkah ringan Tao-nya. Perlahan dia menjemput buku itu sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Terima kasih tetua&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu akan pamitan?&#8221; tanya Dewa Lao kembali.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan kepadanya. Lalu dia berkata.<br />
&#8220;Tetua, tolong jagalah adik kecilku. Minta-lah kepadanya untuk pulang ke Daratan tengah saja. Sedikitnya dia masih bisa membantu kakak pertama. Karena selain Ilmu silat, dia juga adalah orang cerdik nan pandai. Dia sangat dibutuhkan disana.&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Lao menyatakan kesanggupannya. Dia terlihat mengangguk.<br />
&#8220;Aku berjanji akan membawanya sampai ke Shandang dengan aman.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji memberi hormat kepadanya dalam-dalam. Sesaat, dia bergerak menjauhi ketua partai surga menari ini.</span></p>
<p><span>Dewa Lao menatapnya cukup lama sampai berangsur dia menghilang.<br />
Sedangkan Yumei yang terpaut cukup jauh bisa melihat bahwa kakak kelimanya bergerak untuk meninggalkan tempat itu. Lalu, dia segera berlari ke arah Dewa Lao.<br />
Sesampainya dia di tempat berdiri Dewa Lao, lantas nona kecil ini menanyainya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak kelima hendak kemana?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dia berniat menyepi sendiri saja. Dia memintaku untuk mengantarkanmu pulang ke daratan tengah.&#8221; jawab Dewa Lao sambil menatap nona kecil.</span></p>
<p><span>Tetapi Yumei segera berlinang air mata. Dia melihat ke arah tempat Jieji beranjak meninggalkan tempat mereka. Tetapi dia tidak mengejarnya.<br />
Lantas cukup heran orang tua ini mendapati tingkah nona kecil, dia kemudian menanyainya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa kamu tidak mengejarnya?&#8221;</span></p>
<p><span>Yumei sambil menggunakan tangan melap air mata yang jatuh di pipinya menjawab.<br />
&#8220;Apa yang diputuskan kakak kelimaku tidak bisa kuganggu sedikitpun. Itu adalah haknya.&#8221;</span></p>
<p><span>Dewa Lao menatapnya sambil tersenyum. Di hatinya dia terasa sangat lega dan aman. Lalu sambil tersenyum dia menatap ke depan.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Chengdu, Daratan China&#8230;</span></p>
<p><span>Yunying yang merasa dirinya tertidur sesaat itu kemudian terkejut. Dia sepertinya sedang merasa dirinya bergoncang beberapa kali. Tempat dia membuka mata gelap sekali.<br />
Karena mempunyai pegangan yang cukup baik, dia bisa merasa tenang. Bubuk putih yang dilemparkan kepadanya oleh seorang pemuda adalah obat bius. Namun untuk membuatnya benar terbius bukanlah hal yang mudah sekali. Apalagi jelas sekarang bahwa Yunying telah memiliki tingkatan tenaga dalam yang tinggi.</span></p>
<p><span>Mungkin dirinya yang tertidur tidak-lah sampai beberapa menit.</span></p>
<p><span>Dia memasang telinganya dengan sangat peka mendengar suara di sekitarnya. Tanpa perlu waktu yang lama, dia sudah mengetahui dirinya sekarang berada di mana.<br />
Yunying tahu bahwa dia sendiri sedang &#8220;diangkut&#8221; dengan sebuah peti kayu. Dan terdengar olehnya suara ringkikan kuda yang kecil serta goncangan tentu akibat peti kayu adalah di tarik kuda di jalanan yang tidak begitu bagus.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku ingin melihat permainan apa yang sedang kalian mainkan itu.&#8221; pikirnya. Lantas dia kembali memakai kedua telinganya untuk mendengarkan dengan cermat.</span></p>
<p><span>Cukup lama juga perjalanan sepertinya. Sudah lebih dari sejam semenjak Yunying siuman. Tetapi belum juga kereta kuda yang dibawa orang ini berhenti. Sebenarnya Yunying juga tidak begitu sabar lagi. Namun karena dia ingin melihat apa hal yang terjadi, maka dia berusaha untuk mendiamkannya terlebih dahulu.</span></p>
<p><span>Selang sejam lebih kemudian&#8230;<br />
Sepertinya kereta kuda telah berhenti. Jalanan terakhir ini sudah cukup bagus, terbukti goncangan kereta kuda sepertinya sudah tidak separah tadinya lagi.</span></p>
<p><span>Samar-samar kemudian dia mendengar suara orang turun dari kereta kuda. Tidak lama, dia mendengar ketukan kayu yang sebenarnya tidaklah dekat. Sepertinya orang yang membawanya sedang mengetuk pintu.</span></p>
<p><span>Suara &#8220;kriek&#8221; terdengar cukup jelas bagi Yunying. </span></p>
<p><span>&#8220;Aku sudah membawa seorang wanita nan cantik. Cepat masukkan peti ke dalam terlebih dahulu.&#8221;</span></p>
<p><span>Sementara itu, terdengar suara seorang yang lainnya.<br />
&#8220;Kamu sudah membawa yang ke-8 bulan ini. Tetapi semuanya bukan orang yang digambar. Bagaimana kau itu?&#8221;<br />
suara orang ini agak serak, mungkin dia adalah orang yang cukup tua. Dan dari nadanya sepertinya dia kurang senang.</span></p>
<p><span>&#8220;Kali ini lain tuan&#8230; Kali ini lain&#8230;<br />
Nona ini cantik luar biasa. Kecantikannya tidak kalah dengan puteri Koguryo dan Wu Yunying dari Tongyang.&#8221; tuturnya sambil terkekeh-kekeh.</span></p>
<p><span>&#8220;Memang kau pernah lihat Puteri Chonchu dan Wu Yunying?&#8221; tutur pemuda yang bersuara serak itu dengan marah sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak pernah sih&#8230; Kalau tidak percaya coba anda masukkan dahulu peti ini.&#8221; tutur pemuda itu.</span></p>
<p><span>Suara ini kemudian dilanjutkan dengan suara derap kaki beberapa orang. Sepertinya disana juga telah terdapat beberapa orang yang lainnya.<br />
Yunying yang pura-pura tidak sadarkan diri itu telah merasa bahwa dirinya yang berada dalam kotak telah diseret.</span></p>
<p><span>Tidak lama kemudian, dia merasa dirinya bergoyang pelan-pelan. Dia tahu bahwa dirinya sekarang sedang &#8220;diangkut&#8221; bersamaan dengan peti kayu itu. Lalu dengan sabar, dia menunggunya.</span></p>
<p><span>Sepertinya, saat dia &#8220;melayang&#8221; itu cukup lama juga. Orang yang membawanya mungkin adalah sekitar 4 orang menurutnya sebab dia bisa merasakan keseimbangan di setiap sisi peti kayu berbentuk persegi panjang itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Setelah beberapa lama aku belum diturunkan, berarti rumah orang ini pasti tidaklah kecil.&#8221; Yunying menganggapnya begitu.<br />
Tetapi baru saja dia beranggapan begituan, dia merasa dirinya seperti sedang &#8220;jatuh&#8221; dengan cukup perlahan.</span></p>
<p><span>Tidak lama kemudian dia tahu benar bahwa dirinya telah berada di tanah.<br />
Keadaan masih cukup sunyi. Yunying cukup heran mendapatinya. Tetapi dia tetap belum mau keluar. Lantas kali ini, dia segera menutup matanya. Jika ada orang yang membuka peti, maka dia tidak ingin ketahuan bahwa dirinya telah sadar.</span></p>
<p><span>Perlu waktu yang cukup lama juga, sampai terakhir dia mendengar langkah yang mendekati peti. Dan langkah disini terasa cukup berat serta bukan hanya sepasang langkah saja yang didapatinya. Tetapi terdapat mungkin belasan langkah.</span></p>
<p><span>Yunying tidak ingin ambil pusing untuk menghitungnya. Lantas dengan pura-pura masih terbius, dia diam saja. Bahkan nafasnya sengaja diteraturkan lemah.</span></p>
<p><span>&#8220;Kriettt&#8230;&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Terdengar suara peti terbuka. Sesaat, suasana cahaya yang gelap luar biasa itu telah terang sekali. Yunying memang terkejut mendapatinya, tetapi dia masih berusaha tenang saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Nona ini cantik sekali memang.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul kak&#8230;<br />
Dia sungguh sangat luar biasa.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian sudah tidak bisa memilikinya lagi. Sebab Huang Zi adalah anggotaku, dia yang menangkapnya maka adalah milikku.&#8221;</span></p>
<p><span>Sesaat suara disana kemudian gaduh.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa katamu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, setelah menjadi milikmu beberapa lama. Maka pinjamkanlah dia kepadaku beberapa hari. Bagaimana?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Pinjamkan juga kepadaku tentunya setelah kamu merasa bosan kakak kedua.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kau telah membunuh 15 gadis cantik setelah kau kencani. Tidak tidak&#8230;<br />
Kali ini giliranku&#8230;.&#8221; teriak suara seorang pemuda.</span></p>
<p><span>Begitulah kegaduhan mereka. Tiada seorangpun yang sepertinya mau kalah satu sama lainnya dalam merebut Yunying yang pura-pura terbius itu.</span></p>
<p><span>Tetapi Yunying yang mendengarnya sebenarnya sangatlah marah. Dia ingin bangun dan menyelesaikan kesemuanya. Tetapi karena tadinya dia mendengar bahwa ada seorang potret wanita cantik. Dia tidak ingin melakukannya lagi, tetapi tetap berpura-pura tidur.</span></p>
<p><span>Suasana gaduh disana cukup lama. Yunying yang mendengar suara gaduh yang kasar itu kemudian juga sama marahnya. Dia berpikir.<br />
&#8220;Jika hari ini tidak mampu kuselesaikan kalian semua, maka jangan panggil diriku Wu Yunying. Akan kubalas semua kejahatan kalian 1 persatu.&#8221;</span></p>
<p><span>Tetapi tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang memecahkan kegaduhan itu.<br />
&#8220;Diam!!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Semua orang disini kontan diam tiada bersuara. Lantas mereka menyebut.<br />
&#8220;Kakak pertama&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Orang ini sedang berjalan mendekati ke arah Yunying. Yunying merasakannya sangat jelas. Sesaat, dia berdiri mematung cukup lama di atas peti itu.</span></p>
<p><span>Yunying merasa heran sekali, mengapa orang di atasnya berdiri tetap tiada bersuara saja. Dia tentu tahu bahwa orang yang barusan datang itu sedang memperhatikannya.<br />
Tetapi, lantas dia terdengar bersuara.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;.<br />
Inilah dia&#8230; Inilah wanita yang kita cari-cari itu&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa? Kakak pertama yakin tidak salah????&#8221;<br />
tutur kesemuanya. Tetapi dari nada mereka memang tidak puas.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak salah lagi. Nah, kalian lihatlah ini&#8230;..&#8221;<br />
tutur orang yang bersuara cukup serak. Sepertinya dia sedang meletakkan sesuatu di atas meja yang tidak jauh dari sana.</span></p>
<p><span>Kesemua orang terdengar langkah menjauh untuk mendekati meja di samping itu.<br />
&#8220;Astaga&#8230;..&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;. Tidak bisa&#8230; Darahku telah berdesir hebat melihat gadis itu. Tidak bisa tidak kulampiaskan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Apa kata kakak kedua benar&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar apa perkataan semua saudaranya, terdengar dia marah luar biasa.</span></p>
<p><span>Suara gaduh kemudian muncul lagi.<br />
Hingga suara seorang lainnya yang membuatnya menjadi sepi kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230; Mumpung dia masih tidur, bagaimana kita lampiaskan dulu. Kemudian baru kita serahkan kepada majikan. Bagaimana? Dia pasti tidak tahu&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Semua yang di sana lantas tertawa terkekeh-kekeh mendengar usul suara tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar!!! Obat bius dari Xi Zhang ini terkenal hebat. Kita berikan dia lagi, selang 3 hari kemudian dia pasti tertidur pulas. Lantas hari ini kita bisa menikmatinya beramai ramai.&#8221;</span></p>
<p><span>Suara orang ini kemudian membuat kesemuanya beranjak dari meja dan mendekati peti dimana Yunying berada.<br />
Yunying telah merasakan kehadiran mereka semua yang sedang mendekat. Tetapi dia tidak takut, kali ini dia telah mempunyai rencana.</span></p>
<p><span>Mereka semua telah berkeliling di peti mengamati Yunying. Yunying merasakannya dengan pasti.<br />
Melihat seorang wanita luar biasa cantiknya ketiduran tiada bangun tentu membuat mereka semua yang adalah lelaki normal berpikiran sangat kotor.</span></p>
<p><span>Kesemuanya lantas mendekati dengan wajahnya.<br />
Hanya berselang beberapa inchi kemudian&#8230;</span></p>
<p><span>Tiba-tiba kesemuanya terpental hebat ke belakang. Beberapa bahkan menabrak meja dan kursi, serta tembok dan tiang.</span></p>
<p><span>Kesemua orang itu langsung berdiri dengan sangat heran sekali. Dilihatnya wajah mereka masing-masing seakan tidak percaya. Mereka kembali mendekat ke peti. Tetapi di lihatnya si nona masih tertidur sangat pulas. Tiada tanda-tanda bahwa dirinya telah bangun.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak kedua. Wajahmu ada tamparan&#8230;.&#8221;<br />
Orang yang dipanggil ini segera memegang pipinya. Lantas kesemuanya juga merasakan hal yang sama. Wajah mereka memang terasa sama. Setelah ditilik, kesemuanya memiliki 4 garis tebal dari jari tangan.</span></p>
<p><span>Lantas dengan ketakutan mereka memandang sekeliling.<br />
Tetapi tiada orang yang tampak. Kesemuanya kontan gemetar mendapatinya.</span></p>
<p><span>Di saat mereka sedang kebingungan. Mereka kemudian merasakan kehadiran seseorang.<br />
Sebenarnya pesilat disini bukanlah pesilat golongan biasa lagi. Mereka cukup memiliki tenaga dalam yang tinggi. Mendapati sesuatu hal yang berubah, mereka sudah tahu.</span></p>
<p><span>Lantas kesemuanya memalingkan wajah ke arah terjadinya &#8220;perubahan&#8221; itu. Mereka kesemuanya melihat wanita berwajah putih dan berpakaian serba putih telah berdiri.<br />
Lalu beberapa sampai bibirnya gemetar menyahut.<br />
&#8220;Setan&#8230; Ada setan wanita&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Ngaco. Mana mungkin siang bolong ada hantu wanita.&#8221; jawab seorang lainnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini sudah sore. Wajar saja hantu mulai keluar&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying memang telah berdiri dengan wajahnya yang penuh kegusaran sedang melihat ke arah para pemuda di depannya. Dia melihat bahwa jumlah mereka adalah 8 orang. Kesemuanya rata-rata memiliki wajah yang jelek dan bentuk yang aneh. Ada yang pendek luar biasa, atau kurus dan tinggi sekali. Tetapi wajah mereka rata-rata adalah runcing keluar seperti siluman.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian tidak ada satupun yang bisa hidup keluar dari sini. Sekarang kalian katakanlah siapa yang memerintah kalian untuk menangkap gadis-gadis cantik?&#8221; tuturnya dengan amarah meluap-luap.</span></p>
<p><span>Tetapi kesemuanya kelihatan tidaklah takut. Melainkan mereka tertawa terkekeh-kekeh dan dengan senyuman mesum beranjak mendekatinya.<br />
Melihat lawan tidak tahu diri, Yunying segera beranjak sungguh cepat ke depan. Dia mengambil lawan yang tertinggi dahulu. Dengan segera dia menyerangnya dengan tapak.</span></p>
<p><span>Pertarungan dahsyat pun terjadi.<br />
Suara tadinya yang sempat gaduh akibat adu mulut, sekarang gaduh akibat pertarungan tingkat tinggi.<br />
Sinar emas sesekali berkelebat hebat membuat ruangan itu terang sesaat.<br />
Hanya sesaat kemudian ruangan tersebut tiba-tiba runtuh dengan diikuti perpendaran energi yang luar biasa sakti.</span></p>
<p><span>Ruangan ini tiada lain seperti ruangan tamu yang terpisah satu sama lainnya. Seluruh tiang penglari di sana telah patah dan hancur berantakan.<br />
Adalah melainkan hanya seorang wanita berpakaian putih saja yang berdiri dengan benar. Sedang kesemuanya telah berbaring. Beberapa bahkan telah kehilangan nyawanya dalam pertarungan singkat tetapi luar biasa dahsyat itu.</span></p>
<p><span>Wanita itu tiada lain tentunya adalah Yunying. Dia tidak terlihat mengalami sedikit cedera pun. Wajahnya masih sesegar semula. Matanya tetap tajam dan memerah mengamati kesemua orang yang sudah dikalahkannya.</span></p>
<p><span>Melihat seorang yang sedang kepayahan, nyonya ini mendekatinya.<br />
&#8220;Siapa yang menyuruh kalian? Dari mana kalian ini semua belajar tapak buddha Rulai?&#8221;</span></p>
<p><span>Tetapi orang yang kepayahan ini tidak menjawabnya. Sepertinya dia telah tidak sanggup berkata-kata meski hanya sepatah katapun. Lantas tiada lama, terlihat orang ini telah putus nafasnya.</span></p>
<p><span>Kembali Yunying melihat ke arah orang lain yang bertubuh tinggi kurus. Dia kembali bertanya.<br />
&#8220;Siapa yang menyuruh kalian?&#8221;</span></p>
<p><span>Si tinggi kurus ini sepertinya juga susah sekali menjawab pertanyaannya. Lantas dia menanyainya balik dengan kepayahan.<br />
&#8220;Mustahil jurus tapak buddha Rulai tingkat ke- 8 kami dikalahkan dalam 5 jurus saja. Siapakah kau? Dan benarkah kamu menguasai Ilmu pemusnah raga?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian adalah manusia bejat. Tidak pantas lagi kalian ini hidup lama. Semakin lama maka semakin banyak nyawa gadis tak berdosa lenyap di tangan kalian. Tadinya ingin kukurangi tenaga tetapi melihat bagaimana cara kalian, maka sungguh benar kelakuanku itu.&#8221;<br />
Yunying memang masih marah. Di dalam hatinya, dia berpikir kenapa kaum wanita selalu ditindas dan dihina saja. Hal ini tentu membuat dirinya sungguh tidak puas.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang menyuruh kita adalah&#8230; Adalah&#8230; Tuan HHHheeeiii&#8230;&#8221;<br />
Baru saja dia berkata, dia telah kehilangan nafas. Orang tinggi kurus kali ini juga mengalami nasib serupa dengan saudara-saudaranya.</span></p>
<p><span>Yunying mendengar sebuah kata &#8220;hei&#8221;. Tetapi dia tidak bisa mengerti artinya. Sebuah huruf &#8220;hei&#8221; tentu bukanlah nama marga sebab di daratan China tiada pernah ada marga begituan. Dia hanya menatap kosong ke depan, setelah berpikir lama dia pun tidak mendapat jawabannya.</span></p>
<p><span>Tidak lama kemudian, Yunying menyapu seluruh kamar yang telah roboh itu. Dia berjalan mendekati sesuatu yang dilihat oleh mereka semua tadinya di sebuah meja. </span></p>
<p><span>Tetapi meja sejak awal sudah rontok akibat pertarungan sesaat itu. Ditiliknya dengan teliti ke arah meja yang telah jadi rongsokan kayu.<br />
Ternyata ada sebuah kain panjang berwarna putih. Tetapi sekarang sepertinya tertindih rongsokan kayu dari atap.</span></p>
<p><span>Ditendangnya kayu dengan kuat. Kayu kontan melayang pesat beberapa puluh kaki jauhnya.<br />
Lantas sambil berjongkok, dia meraih kain putih. Lalu diamatinya sebentar.</span></p>
<p><span>Sungguh membuat dirinya terkejut mendapati bahwa di kain putih ini terdapat lukisan dirinya.<br />
Tetapi&#8230;.</span></p>
<p><span>Tidak&#8230; Ini bukanlah potret dirinya. Melainkan potretnya Yuan Xufen.<br />
Dia mengamatinya cukup lama sambil berpikir keras. Bagaimanapun dia memutar otaknya dia tidak sanggup untuk mendapatkan jawabannya. Lantas dipikirkannya apakah mungkin Xia Jieji mencari dirinya dengan cara beginian.</span></p>
<p><span>Tetapi sungguh mustahil, sebab tidak mungkin bahwa suaminya akan memerintahkan orang-orang bejat ini untuk mencari dirinya. Di otaknya terselubung sungguh sangat banyak hal.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana harus kucari dia lagi? Sama sekali tiada petunjuk sama sekali yang membuatku sungguh susah sekali&#8230;&#8221;<br />
Dia terus berpikir keras. Sampai ketika sudah terdengar langkah yang cukup dekat. Yunying memang sedang tidak memperhatikan sisi lain selain &#8220;dirinya&#8221; sendiri. Tetapi berkat mantapnya energi yang dimiliki olehnya, maka gerakan yang cukup cepat mendatangi tentu terasa olehnya.</span></p>
<p><span>Lantas dengan mengalihkan pandangan ke samping, dia sembari menunggu saja orang yang bakalan datang ke sana. Terasa derap langkah kaki memang cukup banyak. Mungkin belasan orang sampai menurutnya.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/350/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/350/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=350&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/06/pahlawan-dan-kaisar-17b/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 29</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-29/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-29/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[otak belakang. Tentu siapa dari sini tidak akan hidup lagi jika jurus dikerahkan. Tanpa terasa, keempat orang: Chen Yang, Huang Qian, Xia Rujian dan Wu Shanniang berkeringat dingin. &#8220;Kenapa diam? Kalau begitu akan kulakukan segera.&#8221; Begitu dia menutup mulutnya. Pedang yang sedang diarahkan ke Chen Yang tadinya segera dia putar pelan, namun sangat cepat sekali. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=346&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-346"></span></p>
<p><span>otak belakang. Tentu siapa dari sini tidak akan hidup lagi jika jurus dikerahkan.<br />
Tanpa terasa, keempat orang: Chen Yang, Huang Qian, Xia Rujian dan Wu Shanniang berkeringat dingin.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa diam? Kalau begitu akan kulakukan segera.&#8221;<br />
Begitu dia menutup mulutnya. Pedang yang sedang diarahkan ke Chen Yang tadinya segera dia putar pelan, namun sangat cepat sekali. Yang dituju sasarannya tiada lain adalah seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping.<br />
Entah karena dendam atau ada masalah lain, mengapa Putra mahkota Duan malah ingin melepas jiwa lawan yang jelas terlemah di antara mereka semua.<br />
Pedang membacok cepat sekali ke arah lengan Wu Shanniang.</span></p>
<p><span>Wu, yang melihatnya tentu kepalang terkejut. Dia berteriak keras tertahan sebelum pedangnya sampai membuntungi lengan Wu.<br />
Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Permainan ini dikacaukan oleh seseorang dengan gerak silat yang sangat cepat sekali. Belum sempat pedang yang tidak tajam tersebut di bacokkan ke lengan. Seperti ditahan oleh tenaga maha dahsyat dan pedang tidak dapat membacok ke bawah lagi. Hawa terasa dari arah bawah ke atas, dan berasal dari tapak terbuka yang putih bersih. Sebuah bentuk tangan seorang wanita yang lembut.<br />
Duan Taizi segera menoleh pelan sambil menerbitkan senyuman kepada penolong Wu Shanniang.<br />
Dia adalah seorang wanita cantik luar biasa. Wajahnya terlihat memerah karena amarah yang terbit sesaat.<br />
&#8220;Lepaskan dia!&#8221;</span></p>
<p><span>Terdengar wanita berteriak sekali. Duan yang melihat gaya garang wanita cantik tiada lain adalah Yunying, malah tidak takut. Dia memandang tertarik ke arah orang di belakang wanita cantik.<br />
Dia adalah Xia Jieji yang juga ikut menyusul mendekati. Wajah pemuda terbit senyum seperti Duan. Matanya terlihat berbinar sesaat ketika pandangan mereka bertubrukan.<br />
Wu Shanniang yang terkejut tadinya merasa rohnya telah terbang ke langit tingkat tujuh, sama sekali tidak dinyanya bahwa puterinya sendiri bakal menolongnya. Setelah beberapa saat, dia telah sadar bahwa bahaya terlihat sudah lewat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau sengaja membacok pedang ke arahnya bukan?&#8221; tanya Jieji sambil berwajah senyum.</span></p>
<p><span>Duan tidak langsung menjawab pertanyaan Jieji. Dia memandang sambil tersenyum saja kepadanya.<br />
Yunying yang melihat ke arah Jieji dan Duan Taizi sesaat merasa heran sekali. Keduanya lempar senyum dengan alis yang sedikit ditekukkan.<br />
Yunying bukanlah termasuk orang yang pikirannya lamban. Demi mendengar perkataan sang suami, sesaat dia mengerti juga pokok permasalahannya. Rupanya Duan sengaja memancing keduanya untuk &#8220;menolong&#8221;. Hanya Wu Shanniang dan Huang Qian yang sebenarnya memiliki hubungan dekat dengan mereka berdua. Dengan hendak mencelakai Wu, maka kemungkinan keduanya bakal datang menolong. Entah apa maksud dari putera mahkota negeri Tayli terdahulu itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian pergilah.&#8221; sahut Duan Taizi segera melempar wajah ke arah Chen Yang bertiga yang berdiri di dekatnya.</span></p>
<p><span>Chen mau tidak mau terkejut mendengar perkataan Duan Taizi. Tetapi, jika tidak pergi. Maka mereka hanya mengantar nyawa saja jika terus berdiri. Namun, mendengar lawan memberinya satu jalan hidup. Ketiganya memang terasa bingung sesaat, namun segera saja mereka berempat kabur dengan cepat. Huang Qian terlihat mengangkat Xia Rujian yang tadinya duduk dengan perlahan, tanpa banyak berkata mereka serentak bergegas meninggalkan tempat nan asri tersebut.</span></p>
<p><span>Xia Rujian yang dibopong Huang sempat berbalik melihat ke arah Jieji. Dia melihat Jieji melihatnya dengan tatapan alis berkerut. Karena tatapan demikian, Xia Rujian akhirnya memalingkan wajahnya ke depan lagi tanpa berbicara sepatah kata apapun. Begitu keempatnya meninggalkan tempat, tentu membuat semua pengawal-pengawal juga melakukan hal yang sama. Sekarang hanya tinggal 5 orang yang berada di sana. Kesemuanya terpaku sebentar setelah menyaksikan segerombolan orang pergi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita akan meninggalkan tempat ini?&#8221; tanya Yunying tiba-tiba kepada Xia Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji melihatnya sesaat, lantas berpaling ke arah Duan Taizi. Dia melihatnya dengan tatapan mata serius.<br />
&#8220;Ada yang hendak kutanyakan.&#8221;</span></p>
<p><span>Duan, yang melihat keseriusan Jieji malah tersenyum saja. Dia menjawab perlahan.<br />
&#8220;Silakan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Mengenai kitab Tapak Buddha Rulai tingkat kesembilan. Engkau sudah menggantinya sejak pertama bukan?&#8221; tanpa basa basi, Jieji menanyainya.</span></p>
<p><span>Duan yang mendengar perkataan Jieji, terlihat terkejut sebentar. Lantas wajahnya berubah tersenyum. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak dengan sangat senang sekali. Tenaga dalam dirinya tanpa sadar mengalir membahana seiring suaranya.</span></p>
<p><span>Gao Jianshen ataupun wanita cantik disebelahnya terkejut mendapati hal demikian. Mereka tahu bahwa putera mahkota Tayli tersebut sangat tinggi ilmu silat dan tenaga dalamnya, namun melihat sikap tertawa yang tidak sengaja mengeluarkan tenaga dalam saja bisa sebegini dahsyat, tentu keduanya seakan tidak percaya.<br />
Jieji juga sedemikiannya, dia melihat ke depan. Meski tenaga dalam sedemikian tidak mengganggu dirinya terlebih lagi Yunying, namun dia merasa salut juga kemampuan tingkatan tenaga dalam orang.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Kitab tapak buddha Rulai tingkatan sembilan sebenarnya sudah hilang sejak awal di jagad.&#8221; jawab Duan dengan tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Bukankah engkau memberikannya untuk pinjam lihat Meng Yangchu yang terakhir adalah pamanku, Huang Qian?&#8221; tanya Yunying yang agak heran.</span></p>
<p><span>Duan memandangnya dengan tersenyum.<br />
&#8220;Betul&#8230;<br />
Intisari dari kitab tapak buddha Rulai tingkatan kesembilan sebenarnya adalah latihan mendalam tentang tenaga dalam. Buku sudah terbakar semenjak ayahku wafat. Tetapi tingkatan kesembilan sudah kupelajari dengan sangat baik waktu itu.&#8221;</span></p>
<p><span>Sementara Duan bercerita, Jieji berpikir keras. Kemajuan pemikiran Jieji memang luar biasa. Duan baru bercerita sampai di sini, Jieji sudah berhasil menyelami apa yang bakal diceritakannya kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Tiada yang hebat betul dari tapak buddha tingkatan kesembilan, tetapi saudara angkatku itu sangat tertarik kepada buku itu. Dengan tingkat kepintaran saudaraku, aku tidak yakin bahwa dia mampu mempelajarinya dalam waktu beberapa hari saja. Maka daripada mengecewakannya dengan mengatakan bahwa kitab sudah terbakar, aku membuat salinannya dengan meniru tulisan tangan ayahku. Tetapi, kesemuanya sudah kuubah menjadi lebih sederhana.<br />
Aku menulis disana bahwa hanya menguasai dari tingkat 1 hingga 8, baru bisa memantapkan energi guna mempelajari tingkat selanjutnya. Terang tapak buddha memang tidak pernah menguasai cara membalikkan nadi seperti yang kutulis. Tetapi setiap serangan tapak buddha membutuhkan ketenangan hati, dan justru setelah memantapkan 8 jurus, maka jurus kesembilan jika benar dibalikkan maka kekuatan jurus tersebut benar tidak berada di bawah kemampuan jurus ke sembilan yang aslinya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tunggu&#8230;<br />
Apa efeknya jika benar dipelajari oleh seorang yang betul melatih tapak buddha tingkat pertama hingga kedelapan&#8230;&#8221; baru Jieji hendak bertanya. Duan sudah menyambungnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika ada orang sedemikian, dia mempunyai 2 pilihan takdir.&#8221; sahut Duan sambil mengangkat jarinya.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut juga. Biasanya 2 pilihan tentu 1 baik dan 1 buruk. Mengingat siapa yang berkemampuan mempelajarinya tersebut, tentu tanpa terasa dia berkeringat dingin.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang pertama, jika dia sanggup menguasai dirinya. Maka dia terang telah mengerti apa yang kutulis. Yang kedua&#8230;<br />
Meski dia bertambah kuat, tetapi nyawanya betul di ujung tanduk.<br />
Sama seperti keadaan anda dan atau bisa lebih parah, seperti ketika setelah anda mengalahkan Li Zhu beberapa tahun yang lalu.&#8221; tutur Duan dengan serius.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut sebentar. Dia membayangi kembali masa lalu yang sudah lewat sekitar 6 tahun lalu.<br />
Saat itu, Jieji terlalu memaksakan tenaga tapak berantainya. Memang benar terakhir dia unggul atas Li Zhu di jurus terakhir. Alhasil, bukan saja dirinya yang terlalu memaksakan dirinya sesaat segera &#8220;memakan&#8221; usianya dengan pesat.</span></p>
<p><span>&#8220;Tapak berantai&#8230; Jurus yang hebat dan dahsyat sekali. Meski mirip ilmu pemusnah raga, latihan awalnya terlihat sama. Tetapi pada latihan akhir, kedua ilmu cenderung berbeda sekali. Namun, ilmu ini bisa dikatakan sesat.&#8221; sahut Duan dengan memalingkan wajah ke samping.</span></p>
<p><span>Jieji menyadari apa perkataan dari Duan memang benar sekali. Tenaga dalam orang yang berlatih memang sangat kuat jika mendalami ilmu tersebut, namun karena 4 unsur selalu bertambah kuat setiap harinya. Maka lama kelamaan bukan saja meluber energi itu. Dan jika raga tidak tahan akan kemampuan tenaga dalam yang terus bertambah setiap saat, maka kebalikannya malah akan mengancam jiwa sendiri. Disebut Ilmu pemusnah raga awalnya karena pencipta Ilmu (Qin Shi Huang Di) sudah menyadari akibatnya. Artinya Ilmu ini bakal memusnahkan raga sendiri lama kelamaan.</span></p>
<p><span>Membayangkan bahwa orang yang melatih tapak buddha tingkat sembilan secara terbalik nadi, Jieji kembali berkeringat dingin. Tetapi, Yunying yang mendengar tuturan keduanya tentu tidak senang. Dia menghadap ke Jieji, dengan menarik pelan lengan baju pemuda, dia bertanya dengan berkerut kening.<br />
&#8220;Kalau begitu, tapak berantai yang dipelajari olehku benar berbahaya?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum mendengar pertanyaan isterinya.<br />
&#8220;Tentu tidak. Karena sudah mendapat pelajaran sebegini, aku sudah tahu benar bahwa ada beberapa kekurangan dalam Ilmu yang kucipta sendiri itu. Dengan sengaja setiap jurus baru yang kuciptakan selalu menghasilkan daya serangan meluber tentunya adalah mencegah hal sedemikian.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying kurang puas mendengar jawaban Jieji. Meski kungfu barunya itu lihai luar biasa ditambah tenaga dalam pemberian Jieji dan Yue Liangxu, sebenarnya kemampuan Yunying sudah tiada tandingan sejagad jika benar dalam adu tenaga dalam. Lantas segera dia menanyainya kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, aku harus bertarung setiap saat. Tidak boleh membiarkan energinya terus meluber? Dan tentunya lama kelamaan jika diriku tidak bertarung maka akan berubah menjadi nenek tua sebelum umurnya?&#8221; dengan terlihat kesal dia memandang ke Jieji.</span></p>
<p><span>Kesemua orang tertawa melihat cara berbicara dan kepolosan Yunying. Jieji tersenyum sangat riang demi mendengar perkataan Yunying. Lantas dia menjawabnya begini.<br />
&#8220;Ketika kamu benar melepaskan Qi ke seluruh tubuh. Apa pernah dirasakan bahwa energi meluber keluar dan penarikan nafas kedua menimbulkan ledakan energi yang lebih dahsyat?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying sering sekali melakukan gerakan awal pernafasan yang merupakan gerak awal setiap tingkatan Ilmu tapak berantai. Dia segera menjawab dengan menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu karena 4 unsur hanya sekali berjalan dan tidak saling bertindih. Kemajuan tenaga dalam sebegini memang agak lamban. Tetapi justru tidak membahayakan.&#8221; tutur Jieji sambil menepuk pundaknya ramah.</span></p>
<p><span>Yunying girang. Rupanya sejak awal Jieji memang sudah memperhitungkan efek bahaya Ilmu yang dilatihnya tersebut. Oleh karena itu, dia menciptakan kembali ilmu baru dengan daya tekanan yang berkurang dahsyat namun justru tidak menimbulkan efek bagi pemakai sama sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Wei Jindu sekarang sudah berubah. Seharusnya kau sudah benar tahu?&#8221; tanya Duan tiba-tiba kepada Jieji.<br />
Ini adalah pertanyaan paling tidak suka didengar oleh Jieji. Tetapi mendengar Duan menanyainya begitu, dia berpaling sambil menghela nafas panjangnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sekarang&#8230;<br />
Meski tidak pernah kau berikan salinan kitab tapak berantai. Toh, benar dia mendapatkannya. Sudah dia dapatkan sejak awal.&#8221; Duan bercerita sambil menggelengkan kepala.</span></p>
<p><span>Yunying tidak mengerti dengan jelas perkataan Duan. Dia terlihat berkerut kening. Namun, Jieji mengerti apa perkataan orang.<br />
&#8220;Aku harus bertemu dengannya secepatnya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, pergilah secepatnya.&#8221; sahut Duan dengan pendek dan serius.</span></p>
<p><span>Jieji baru saja mau memberi hormat sambil memutar badan. Tiba-tiba putera mahkota berkata kembali.<br />
&#8220;Untuk anda pendekar Xia&#8230;<br />
Sesungguhnya harus agak berhati-hati dalam perjalanan-mu kali ini&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji sempat berpaling sebentar, dia mengangguk pelan sambil mengucapkan sepatah kata terima kasih.</span></p>
<p><span>Duan dan 2 orang temannya memandang lurus ke depan beberapa saat. Sampai kemudian mantan putera mahkota segera melirik ke arah gadis di sampingnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya kamu harus mengikutinya.&#8221;</span></p>
<p><span>Gadis itu tersenyum manis. Kecantikannya memang luar biasa apalagi tersenyum seperti demikian. Dia memberi hormat pendek.<br />
&#8220;Aku akan berusaha semaksimal mungkin melindungi mereka.&#8221;</span></p>
<p><span>Duan mengangguk pelan dan berbalik sambil berjalan ke belakang dengan tenang saja.<br />
Sementara itu, si gadis sepertinya sudah beranjak berjalan mengikuti ke arah perginya Jieji dan isterinya, Wu Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Meng Yangchu&#8230; Saudaraku&#8230;<br />
Tidak disangka bahwa kamu sudah pergi puluhan tahun lalu. Tetapi tidak pernah kusadari sama sekali.&#8221; sahut Duan yang terlihat mengangkat kendi arak yang berada di meja belakang pohon.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuanku&#8230;<br />
Kenapa anda tidak membunuh Huang?&#8221; tutur Gao menanyainya.</span></p>
<p><span>Selang cukup lama juga, akhirnya Duan berbicara.<br />
&#8220;Huang Qian&#8230;<br />
Orang yang pintar luar biasa. Dia sudah menyamar menjadi 2 orang dalam 1 saat. Dan dirinya sendiri malah dianggap telah mati. Aku benar salut kepadanya.&#8221; Sambil melirik sebentar ke arah Gao, Duan melanjutkan kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Huang akan terkena akibat dari ulahnya sendiri. Setidaknya sekarang sudah ada 1 orang yang betul-betul menginginkan nyawanya.&#8221; Duan berkata sambil tersenyum hambar saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi.. Tuan muda..<br />
Sepertinya Xia Jieji tidak menyadari bahwa&#8230;&#8221; sahut Gao dengan agak bersemangat.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia mungkin tidak menyadarinya, hanya saja&#8230;&#8221; tutur Duan sambil mengerut keningnya.</span></p>
<p><span>Jieji yang beranjak pergi bersama Yunying menuju ke arah utara. Yunying asyik menghujani Jieji dengan berbagai pertanyaan yang sulit dimengertinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tahu? Sebenarnya saat kukatakan pada Lie Hui bahwa Meng Yangchu bukanlah ayahnya. Maka saat itu sebenarnya sudah kutahu bahwa dia adalah pamanmu.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Loh? Bukankah kalau dia adalah pamanku berarti dia adalah ayahnya Lie Hui?&#8221; tanya Yunying terus menerus karena tidak sabaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak..<br />
Sebenarnya Lie Hui bukanlah puterinya.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar!! Lie Hui bukanlah puterinya. Tetapi adalah isterinya!&#8221; teriak suara merdu seorang wanita.</span></p>
<p><span>Mendengar adanya teriakan semacam demikian, membuat Jieji dan Yunying berpaling ke arah sumber suara yang muncul. Mereka kemudian melihat seorang wanita cantik dengan wajah bersih terang, langsing semampai mendatangi.</span></p>
<p><span>&#8220;Pendekar Xia, bagaimana perjalananmu kali ini kalau kuikuti?&#8221; tanyanya seraya bercanda tertawa.</span></p>
<p><span>Jieji menatapnya agak bengong. Kemudian dia tersenyum.<br />
&#8220;Puteri Nan-an Duan Yenphing bersedia berjalan bersama kita. Tentu adalah sebuah kehormatan.&#8221;</span></p>
<p><span>Gadis cantik ini tertawa kembali. Dia mengangguk pelan sambil berjalan ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi Lie Hui itu isterinya pamanku?&#8221; tanya Yunying tidak begitu menggubris kedatangan puteri Tali tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali. Sesungguhnya dia bukanlah puterinya. Sahabatku itu seorang yang sangat pintar luar biasa, tidak disangka dengan &#8220;matinya&#8221; dirinya. Dia mengubah dirinya menjadi 2 orang lain yang pernah hidup di dunia. Sungguh luar biasa sekali kalau dipikir-pikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi&#8230;<br />
Meng Yangchu dan Lie Fei, Ketua partai Jiu Qi juga adalah dia?&#8221; tanya Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan saja. Kemudian dengan suara sayu dia berkata kepada Yunying.<br />
&#8220;Jika suatu saat, aku sangat yakin akan apa yang kupikirkan dalam 1 kasus. Maka sebutlah &#8220;Yunnan Meng Yangchu&#8221;, maka aku akan sangat berterima kasih kepadamu.&#8221; </span></p>
<p><span>Dua hari kemudian&#8230;</span></p>
<p><span>Di jalanan pendek dan agak sukar terlihat 3 orang sedang memacu kudanya ke depan dengan agak hati-hati. Daerah jalanan pegunungan Sizhuan memang sulit untuk dijalani. Jalan sempit, jurang di samping acap kali menanti. Dan beberapa daerah disini memang terlihat pegunungan yang tinggi mengapit.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah daerah yang sungguh berbahaya.&#8221; sahut suara seorang pria datar.</span></p>
<p><span>&#8220;Mengapa kamu pilih jalan ini?&#8221; tanya suara seorang wanita di belakangnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah lembah naga terbang.&#8221; sahut pemuda sambil meluruskan pandangan ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebelah barat berseberangan dengan Xiaguo. Dahulu Cao-Cao pernah menyerang kemari, tetapi dia tertipu habis-habisan oleh Zhuge Kungming karena memanfaatkan situasi medan perang yang sangat berbahaya.&#8221; jawab wanita di belakang.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebentar&#8230; Lihat ke depan!&#8221; teriak pemuda yang agak terkejut. Segera, dia turun dari kudanya. Meloncat ke depan dengan ringan tubuh yang sangat luar biasa.<br />
Kedua orang di belakangnya tiada lain adalah Yunying dan gadis yang merupakan puteri kerajaan Tali.</span></p>
<p><span>Keduanya, melihat gerakan Jieji yang maju ke depan secara pesat. Tanpa ayal, juga mengikutinya. Ilmu ringan tubuh kedua wanita tersebut tidaklah rendah, bahkan bisa dikatakan sangatlah bagus.<br />
Melewati 3 belokan, akhirnya kedua wanita berhenti karena melihat pria tersebut sudah jongkok untuk memeriksa.</span></p>
<p><span>&#8220;Darah!&#8221; sahut pria tersebut terkejut. Dia berjalan cepat kesana dan kemari. Melihat cukup banyak darah yang belepotan meski sudah luntur karena hujan semalam.<br />
Terakhir darah yang cukup banyak disana mengantarkannya ke sebuah jurang yang terlihat dalam. Sebab tidak bisa terlihat dasar dari tempatnya berdiri. </span></p>
<p><span>Pria ini termangu-mangu sambil berpikir kemudian.<br />
Dia tidak lain tentu Jieji. Melihat ke bawah jurang dan mengerutkan keningnya.<br />
Sebenarnya, Jieji tidak pernah tahu benar pesan yang diberikan oleh putera mahkota Duan. Sesuai pesan dari Duan, sesungguhnya artinya adalah bahwa Zhao kuangyin mendapat bahaya. Meski saat itu, Jieji betul menyadarinya. Maka kesempatan untuk menolong Zhao sudah tidak ada lagi.</span></p>
<p><span>&#8220;Menurutmu, ada yang jatuh ke jurang?&#8221; tanya Yunying kemudian sambil menoleh ke dalam.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku akan turun&#8230;&#8221; jawab Jieji dengan datar.</span></p>
<p><span>Keduanya terkejut mendengar perkataan Jieji. Saat ini, sebenarnya cukup cerah. Dan dasar dari jurang saja tidak bisa terlihat oleh mata mereka. Tentu mereka tahu bahwa jurang tersebut sangatlah dalam sekali. Mungkin ribuan kaki untuk sampai ke dasarnya. Mendengar Jieji ingin turun, keduanya tentu heran luar biasa.</span></p>
<p><span>Jieji melirik ke arah kedua wanita tersebut.<br />
&#8220;Kalian memiliki pisau?&#8221;</span></p>
<p><span>Puteri Nan-an segera merogoh kantung bajunya. Dengan segera dia mengeluarkan pisau pendek yang tidak sampai 1 kaki panjangnya. Namun, terlihat pisau sangatlah indah genggamannya. Sepertinya pisau tersebut bukanlah pisau biasa-biasa.<br />
Jieji segera membuka sarung dengan segera. Kilatan cahaya pisau segera muncul.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian berdua bisa membantuku?&#8221; tanya Jieji dengan serius.<br />
Tanpa perlu lama, keduanya sudah mengiyakan.</span></p>
<p><span>Jieji meminta keduanya menuju ke arah timur. Sekitar 30 li dari sana, terdapat sebuah desa. Mereka berdua diminta membeli tali sebanyak-banyaknya.<br />
Dalam 2 jam, keduanya akhirnya kembali dan membawa tali sepanjang yang diperlukan.</span></p>
<p><span>Jieji segera mengikatkan tali tersebut kepohon besar yang terdekat. Sambil ujung tali diikatkan ke batu yang agak besar. Dia melemparkannya ke bawah jurang.<br />
Alhasil, ketiga orang cukup bengong ketika batu besar yang telah dilemparkan tersebut tidak mencapai dasar meski panjang tali yang mereka bawa sudah hampir mencapai ratusan kaki.</span></p>
<p><span>Dari atas, Jieji menarik ulur sebentar tali tersebut. Sehingga dia ingin tahu apakah sesungguhnya batu yang dilempar tersebut telah mencapai dasar jurang atau tidak. Mendapati jurang teramat dalam, mau tidak mau Jieji juga terkejut.</span></p>
<p><span>&#8220;Kali ini aku harus turun untuk melihat. Kalian berdua jagalah di atas saja.&#8221; sahut Jieji kemudian. Meminjam pisau dari puteri Nan-an sebenarnya sejak awal sudah diketahui Jieji manfaatnya. Dia yakin bahwa tali terpanjang sekalipun tidak akan sanggup untuk mencapai dasar. </span></p>
<p><span>&#8220;Hati-hati&#8230;&#8221; sahut Yunying kepadanya dengan serius.</span></p>
<p><span>Jieji hanya mengangguk pelan saja. Namun, segera dia bekerja cepat.<br />
Dengan meloncat ke bawah sambil memegang tali, Jieji telah menuruni dengan pesat.</span></p>
<p><span>Diperlukan waktu yang lama juga ketika dia sudah mendapati batu yang memang sedang mengambang di udara. Sebab panjang tali benar tidak sanggup mencapai dasar jurang. Tetapi Jieji yang sedang berada di antara langit dan bumi, cukup girang. Karena sekarang jarak sampai ke dasar jurang sudah benar tidaklah jauh lagi. Dari sini, dia mampu melihat bahwa dasar jurang sepertinya ditumbuhi pohon yang sangat lebat sekali.</span></p>
<p><span>Segera, dia mengeluarkan pisau yang tadinya diselip ke ikat pinggangnya. Dengan sebelah tangan mencengkram dinding batu tebing. Sebelahnya dia tusukkan pisau ke dalam.<br />
Jieji menjadikan pisau kecil nan kuat dan tajam tersebut untuk menjadi pegangan saja. Sementara, kakinya dengan sangat lincah menuruni tebing yang curam sekali itu.</span></p>
<p><span>Dalam waktu sekitar setengah jam kemudian, Jieji sudah turun ke bawah. Dia loncat ke salah satu ranting pohon yang cukup besar tersebut. Memandang ke bawah bahwa di bawahnya adalah tanah yang tidak seberapa tingginya dari pohon. Sekali lagi dia meloncat turun ke bawah.</span></p>
<p><span>Jieji memandang sekitarnya. Jurang yang dalam tersebut ternyata di bawahnya terdapat pemandangan yang sungguh asri. Cahaya matahari seperti mengintip di antara daun-daun pepohonan yang menjulang tinggi.</span></p>
<p><span>Tetapi, Jieji bukan datang untuk menikmati pemandangan. Dia segera bekerja cepat. Memeriksa setiap sudut yang dikiranya penting. Luas daerah jurang tersebut mungkin sekitar 1 li persegi. </span></p>
<p><span>Tidak ada tanda-tanda darah dimana-mana, Jieji sebenarnya sangat lega mendapati hal demikian. Setidaknya jika ada orang yang jatuh ke jurang maka dipastikan belumlah tewas. Untuk memastikan, acap kali dia meloncat ke atas pohon, dan dari atas dia memeriksa semua pepohonan dengan sangat teliti.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya tidak ada orang yang jatuh kesini.&#8221; Jieji berpikir sejenak sambil berjalan ke depan. Namun, ketika dia sampai ke tebing seberang. Dia agak terkejut. Sebab ketika dia menoleh ke atas ranting, dia mendapati sesuatu benda.<br />
Sebuah kain berwarna ungu keemasan terlihat melambai di antara ranting pohon yang cukup lebat.</span></p>
<p><span>Sepertinya, Jieji mengenali benda tersebut. Maka dengan pesat, dia meloncat kembali ke atas dan meraih kain berwarna ungu itu.<br />
Ketika turun, dia mengamati sebentar benda ini. Langsung saja, wajahnya terlihat buram. Dia berpikir dengan sangat pesat kemudiannya sambil memejamkan matanya. Kerutan kening di dahinya membuatnya terlihat sangat sayu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak pertama sempat berada di sini. Tetapi dia jatuh dengan siapa?&#8221;<br />
&#8220;Tidak mungkin&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Jika dia jatuh ke sini bersama dengan adik ketiga&#8230; Maka&#8230;.&#8221;<br />
Sesaat, dia tersadar. Tangannya memang sedang memegang sebuah kain berwarna ungu keemasan. Senyumannya tampak di bibirnya dengan segera. Sepertinya dia sudah tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam jurang tersebut pada saat itu.</span></p>
<p><span>Dengan cekatan, Jieji mengikatkan kain berwarna ungu keemasan di pinggangnya. Sekali loncat dalam 1 tarikan nafas, tubuh Jieji segera mencelat tinggi di tebing seberang. Dan dengan bantuan tangan, Jieji memanjat pelan sambil mengamati tebing. Mendapati batu tebing terlihat bekas cakar yang cukup dalam, membuatnya tersenyum bahagia.<br />
Memang, tebing seberang lebih landai jika dibandingkan dengan tebing tempat dia turun tadinya. Sesudah menyaksikan apa yang perlu dilihatnya, Jieji segera meloncat turun dengan meminjam pijakan tebing.</span></p>
<p><span>Dengan bergerak terakhir kalinya, dia sudah meyakini benar sesungguhnya analisisnya tadi. Dan karena sudah tidak ada lagi yang perlu dicari di dasar jurang. Jieji kembali mendatangi ke arah dimana dirinya turun tadinya.<br />
Dengan melihat ke atas cukup lama, dia menarik nafasnya dalam-dalam sekali. Dan sekali dirinya terlihat berjongkok pelan, dan sekali lagi dirinya &#8220;terbang&#8221; meluncur ke atas dengan sangat pesat sekali.</span></p>
<p><span>Sebenarnya benda berupa kain berwarna ungu keemasan tiada lain adalah pusaka luar biasa di jagad. Benda ini adalah Sabuk naga sejati. Sabuk yang dipakai untuk melatih ilmu ringan tubuh. Bagi pemakai meski hanya orang biasa, namun dalam meloncat biasa tidak layaknya orang tersebut seperti telah menjadi seorang pesilat. Sepertinya pusaka tersebut benar telah dimiliki oleh Zhao Kuangyin.</span></p>
<p><span>Jieji seperti terbang ketika mendaki jurang yang teramat dalam tersebut. Tenaga dalamnya sudah tergolong sangat dahsyat, ilmu ringan tubuh yang diperolehnya dari ilmu 10,000 langkah dewa saja sudah demikian sakti, kali ini dia memakai sabuk, maka dirinya sama sekali tiada kesusahan. Tidak lama kemudian, dia sudah meloncat ke atas dengan bantuan tali yang diikat ke batu tadinya.</span></p>
<p><span>Namun, sesudah dia sampai ke atas. Dia sangat terkejut.<br />
Karena Yunying dan puteri Nan-an sudah tidak berada di sana.<br />
Jieji sempat menengok ke kanan dan ke kiri. Dia melihat adanya sebuah kain putih yang terpotong dan sepertinya diletakkan di atas batu yang sebesar genggaman tangan.</span></p>
<p><span>Sambil meraihnya, Jieji membaca sebentar.<br />
&#8220;Kita menuju ke Tongyang. Ada kabar yang katanya cukup berbahaya. Segeralah menyusul&#8230;&#8221;<br />
Mendapati tulisan Yunying di kain bajunya tersebut, Jieji cukup bingung. Dia berpikir sebentar dengan serius. Namun, karena dirinya cukup kacau dan pikirannya kurang bisa berkonsentrasi, maka Jieji tidak mendapat jawaban yang pasti hanya berdasarkan surat tersebut.</span></p>
<p><span>Di sebuah perempatan, sebelah selatan kota Zi tong&#8230;<br />
Terdapat lima orang yang sedang berdiskusi tentang sesuatu yang cukup serius.</span></p>
<p><span>Empat pria terlihat berdiri kokoh, sementara seorang gadis kecil berdiri paling samping.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi benar kakak kelima sedang menuju ke utara? Kita kehilangan jejaknya sekarang. Bagaimana ayah?&#8221; tanya seorang gadis kecil kepada orang paruh baya yang berambut pendek putih.</span></p>
<p><span>&#8220;Anak muridku sekarang tiada masalah. Aku rasa sebaiknya kita pulang saja ke perkemahan segera.&#8221; jawab orang tua yang tentunya adalah Dewa Lao.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230; Sungguh rumit sekali apa yang telah terjadi selama ini. Lie Hui yang dikira saudara Xia adalah puteri dari Huang Qian. Sekarang ternyata adalah isterinya sendiri. Apakah benar Lie Hui sedang mengincar nyawa Huang Qian?&#8221; tanya pria yang berdiri gagah di samping Dewa Lao.</span></p>
<p><span>Senyum tersungging di wajah seseorang yang berdiri tepat di depan pria tadinya yang adalah ketua partai Kaibang, Yuan Jielung.</span></p>
<p><span>&#8220;Lie Hui, seorang wanita yang memiliki 1000 keanehan. Xia Jieji mungkin tidak pernah tahu pada awalnya bahwa wanita tersebut adalah isterinya Huang Qian. Demikian juga diriku yang tertipu mentah-mentah oleh taktik detektif no. 1 (maksudnya Huang) sejagad itu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Namun segalanya betul berjalan dengan lancar dan sangat baik sekali akhirnya. Kasus Meng Yangchu dan keluarganya betul membuat dunia ini kacau sekali.&#8221; jawab Dewa Lao menengadah.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ayah&#8230; Ini bukan hal yang memusingkan sekali. Dengan singkat kita bisa merincikannya begini.<br />
Huang Qian, meninggalkan Lie Hui demi sesuatu hal. Terakhir diketahui adalah Ilmu silat tingkat tinggi. Dia rela merubah dirinya menjadi 2 orang yaitu Meng Yangchu dan Lie Fei. Demi cita-citanya, tentunya dia sudah bersekongkol benar dengan Yelu Xian dan dedengkotnya. Namun, ada satu yang benar tidak kumengerti. Seharusnya mereka semua memiliki pemimpin&#8230;&#8221; sahut Yumei dengan wajah yang kusut seakan sedang menyelidiki sesuatu yang sangat rumit.</span></p>
<p><span>Baru berkata sampai di sini. Putera mahkota Duan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan gadis kecil yang sangat pintar ini.<br />
&#8220;Benar sekali&#8230; Benar sekali&#8230;<br />
Kepintaran anda benar beberapa kali lipat di atasku dan bahkan sudah di atas Xia Jieji&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Pujian putera mahkota membuat Yumei si gadis kecil tersenyum malu-malu.<br />
&#8220;Tahukah kalian&#8230;<br />
Mereka semua adalah orang yang memiliki kemampuan dan derajat yang tidak rendah di dunia. Jika tidak diperintah oleh seseorang, mana mungkin bisa satu sama lainnya mempunyai cita-cita yang seakan sama? Kata-kata nona kecil masuk akal sekali. Tolong lanjutkan&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Yumei yang masih tersenyum, kembali melanjutkan.<br />
&#8220;Pertama-tama mungkin adalah Dewa Bumi yang merupakan sesepuh dunia persilatan yang memiliki pengalaman yang sangat kaya. Namun, lama kelamaan sepertinya orang-orang tersebut tidak begitu menyukai gaya kepemimpinannya. Karena itu, mereka &#8220;mengadakan&#8221; pertarungan antara kakak kelimaku dengan Dewa Bumi dan berharap Dewa itu bisa terbunuh oleh kakak kelima. Namun, segalanya tidak berjalan lancar ketika kakak kelimaku tidak membunuhnya. </span></p>
<p><span>Tetapi dia juga tewas akhirnya oleh Yue Liangxu, yang sesungguhnya betul ada orang yang sedang bermain di belakang layar. Lama kelamaan, mereka berkomplot dengan Huo Xiang di barat untuk menguasai daratan tengah. Sesungguhnya Huo tidak lain dan tidak lebih hanyalah biji catur mereka.</span></p>
<p><span>Meng Yangchu di selatan, mungkin menunggu waktu untuk melahap Ta-Li yang besar tersebut. Dia merencanakan sesuatu tentang &#8220;obat ilusi&#8221; yang seharusnya diberikan kepada putera mahkota dan membunuhnya. Setelah 1 halangan tersebut hilang, maka dia berniat mencaplok Ta-Li&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Putera mahkota sangat kagum akan penjelasan Yumei semenjak tadinya. Sesungguhnya, apa yang ada dalam pikirannya beberapa bulan lalu sudah dibeberkan oleh Yumei secara jelas sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tentu mengganti Kaisar Duan dengan dirinya(Huang Qian). Dia bisa bertindak mengancam daratan tengah dari beberapa arah.<br />
Tetapi, anda(putera mahkota) sudah mengetahuinya dan duluan menjalankan siasat anda. Mungkin karena kematian puteranya, anda betul sadar bahwa sesungguhnya Huang-lah orang yang bermain di belakang layar dari awalnya.&#8221;</span></p>
<p><span>Putera mahkota tertawa mendengar penjelasan nona kecil ini. Lantas dia menjawab.<br />
&#8220;Betul sekali, apa yang kulakukan jelas terucap seperti anda benar berada bersamaku saat itu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Huang sengaja memancing kakak kelimaku. Dan terakhir benar dia masuk ke dalam jebakan. Semua yang diketahui kakak kelima ku pada awalnya adalah hal yang samar samar dan kabur luar biasa. Yang mengira bahwa pelaku pembunuhan sebenarnya adalah anda sendiri. Namun, anda sudah menyiapkan sejak awal pencegahannya. Anda mempunyai hubungan erat dengan partai Jiu Qi, dan juga tentunya dengan wanita bernama Lie Hui itu. Karena itu, anda tidak pernah membunuh Huang Qian bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu sudah tahu semuanya. Benar-benar ajaib&#8230;<br />
Dahulu&#8230; 30 tahun yang lalu muncul seorang Yuan Xufen yang cerdasnya tiada tandingan. Sekarang&#8230; Kamu layak sekali menggantikannya.&#8221; tutur putera mahkota Tuan dengan bernafas lega sekali.<br />
&#8220;Lie Hui tiada lain adalah benar adik kandungku. Sifatnya luar biasa aneh. Dia memiliki seorang puteri yang bernama Lie Xian. Demi balas dendam karena Huang meninggalkannya, dia berusaha dengan banyak sekali cara-cara. Saat pertama kali Huang menginjak Yun-nan, aku tidaklah tahu menahu masalahnya. Oleh karena itu, kudiamkan saja.<br />
Ketika kuketahui bahwa adik kandungku mencarinya untuk balas dendam, aku membantunya. Namun, saat itu Huang sudah hilang tanpa jejak. Sungguh, Huang bukanlah lawan yang enak untuk ditantang.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, jelas sekali dia mencari kakak kelimaku untuk memanfaatkan otaknya. Namun, dia tidak mendapatkan apa-apa. Bukan begitu, paman Gao Jianshen? Atau bisa kusebut Lie Hui?&#8221; tanya Yumei sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Seorang pemuda paruh baya yang berdiri tepat putera mahkota tertawa terbahak-bahak. Suaranya lama kelamaan berubah meninggi seperti suara seorang perempuan.<br />
&#8220;Kamu pintar sekali nak. Gao sudah berangkat ke arah lembah naga terbang sejak kemarin-kemarin. Akulah orang yang menyamar sebagai dirinya. Lalu apa kamu tahu kenapa aku mendampingi kakak kandungku?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, dialah memberi kalian informasi bahwa Zhao Kuangyin aman-aman saja? Oleh karena itu, kalian tidak memaksa kakak kelimaku untuk segera menuju ke sana, bukan begitu? Untuk itu, aku benar tidaklah tahu.&#8221; jawab Yumei dengan menunduk malu-malu.</span></p>
<p><span>Sejak tadi, baik Dewa Lao maupun Yuan Jielung sangat kagum akan keterangan Yumei yang sangat luar biasa.</span></p>
<p><span>&#8220;Saudara Guo, anda memiliki seorang puteri yang sangat pintar. Sungguh luar biasa sekali dia mendapat pendidikan.&#8221; tutur Tuan dengan memberi hormat ke arah Dewa Lao.</span></p>
<p><span>Dewa Lao tersenyum saja, lantas dia memberikan keterangan.<br />
&#8220;Saudara Lie&#8230; Aku rasa tidak perlu kusembunyikan lagi identitas anda. Benarkah 3 bersaudara setan Kun tidak pernah mencari masalah denganmu lagi?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka selalu bertindak ketika tiada orang sama sekali di sekitar mangsanya. Selama puluhan tahun, sungguh memalukan sekali. Aku terpaksa meminta orang berada di sampingku. Tetapi, sekarang sepertinya semuanya sudah lain sekali.&#8221; jawab Tuan alias Lie.</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan-jangan sudah ada target baru mereka?&#8221; tanya Dewa Lao dengan agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Begini, aku mendapat kabar yang kurang pasti. Kabarnya 3 setan itu mendapat tawaran untuk membunuh Zhao Kuangyi dan digantikan dengan Zhao Kuangyin. Namun, sepertinya selama Zhao Kuangyin belum tewas. Maka Zhao Kuangyi akan aman-aman dari serangan 3 orang brutal itu.<br />
Dahulu&#8230;<br />
Nyawaku ditawarkan dengan 7 turunan keluarga Meng. Sampai sekarang aku masih hidup sehat sekali. Ini adalah kegagalan yang pertama bagi mereka&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi.. Bukankah Dewa Bumi sudah tewas? Perjanjian lama itu seharusnya sudah dihapus?&#8221; tanya Yumei tiba-tiba menengahi.</span></p>
<p><span>Duan melihat dengan terkejut kagum ke arah Yumei.<br />
&#8220;Anda juga tahu bahwa Dewa Bumilah orangnya? Tentunya karena Dewa Bumi sendiri takut aku bakal mencarinya. Sejak awal dia sudah berniat membinasakan keluarga Meng karena tetua Pei Nanyang, namun begitu kesempatan bahwa ketiga orang tersebut meminta nyawa seluruh keluarga Meng, tentu dilaksanakan sekaligus oleh Dewa Bumi dengan mudah sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, ketiga orang tersebut main tawar menawar dengan imbalan yang layak sekali. 7 turunan keluarga Meng diganti nyawa putera mahkota TaLi. Itu karena mereka tidak pernah tahu bahwa anda adalah pesilat yang luar biasa handal.&#8221; tutur Yumei dengan wajah penasaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu benar sekali. Namun, aku nyaris tewas saat itu. Aku bertarung lebih dari 100 jurus dengan mereka bertiga. Hingga saat aku benar terdesak, seseorang menolongku. Mereka memiliki etika dalam membunuh yaitu tidak ada seseorangpun di samping target mereka, baru mereka akan melakukan pembunuhan gelap tersebut.&#8221; sahut Tuan berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, kakak kelima betul dalam keadaan bahaya?&#8221; tanya Yumei seraya berteriak.</span></p>
<p><span>Kesemua orang kurang mengerti maksud Yumei.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayah! Seharusnya transaksi untuk membunuh Zhao Kuangyin diganti Zhao Kuangyi itu dibuat oleh seseorang yang sangat membenci kakak pertama(Zhao Kuangyin) bukan? Lantas, aku sama sekali tidak yakin kalau tidak ada orang lain yang melakukan transaksi untuk membunuh kakak kelima juga. Bukan begitu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Perkataanmu sungguh masuk akal. Namun sampai saat ini&#8230;&#8221; Tuan melihat ke arah Lie Hui atau Gao Jianshen.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ada informasi pertukaran tentang nyawa Xia Jieji. Aku mendapat informasi terbaru bahwa kedua jenderal besar Liao akan ditukar kepalanya dengan kakak pertama(Putera makota Tuan) baru-baru ini.&#8221; jawab Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Wei Jindu membenci Zhao Kuangyin sedalam lautan. Zhao Kuangyi ingin melenyapkan nyawa kedua jenderal besar Yelu dari Liao karena serangannya yang sering gagal ke utara. Lalu siapa saja orang yang mengincar kepala pendekar Xia?&#8221; tanya Yuan Jielung.</span></p>
<p><span>&#8220;Tentu salah satunya adalah Yelu Xian atau Wu Shanniang? Mereka berdua bukankah sangat membenci kakak kelimaku?&#8221; teriak Yumei dengan sangat cemas.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu. Kita harus susul dia secepatnya. Seharusnya dia masih berada di lembah naga terbang atau sudah jauh dari sana.&#8221; tutur Tuan dengan sesegera.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Xia Jieji masih berdiri tegap di lembah naga terbang yang sangat sunyi sekarang. Deru angin masih terdengar hebat di telinga dan suara rumput menebas angin juga terdengar merinding.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm..<br />
Seharusnya aku juga pulang ke Tongyang saja.&#8221; demikianlah pikiran Xia Jieji.<br />
Tidak ada seekor kuda pun disana. Jalanan susah membuat Jieji berpikir akan melalui mana terlebih dahulu.<br />
&#8220;Puteri Nan-an tahu jalanan di sini dengan baik karena dia adalah orang Ta-Li. Sekarang akan kuikuti saja jejak kuda mereka yang tertinggal.&#8221;</span></p>
<p><span>Dengan mengikuti jejak kaki kuda, Xia Jieji melangkah cepat berlari untuk menyusul.<br />
Sekira 10 Li ke arah barat, Jieji akhirnya menemukan desa. Desa tersebut tidak bisa dikatakan kecil, karena ini adalah penyeberangan terakhir menuju daerah kerajaan Sung. Jieji menengadah di depan gapura pintu masuk desa yang terlihat asri dan permai tersebut.<br />
&#8220;Desa keluarga Yang&#8221; terpampang jelas. Jalanan di desa tidaklah kecil, bahkan cukup lebar. Di samping terlihat beberapa kedai yang menjual makanan. Jieji segera menghampiri salah satunya seraya bertanya.<br />
&#8220;Paman, apakah anda melihat 2 orang wanita cantik luar biasa yang lewat? Salah satunya membawa kuda yang berwarna biru merah terang?&#8221;</span></p>
<p><span>Orang yang ditanya berumur sekitar 60 tahunan. Dia menjawab tidak.</span></p>
<p><span>Jieji makin penasaran. Lantas dia berjalan ke dalam desa, lantas menanyai beberapa orang disana. Namun, tiada satupun yang mengetahui adanya lewat 2 orang wanita cantik.<br />
Jieji dengan cepat berjalan keluar desa, dan mengamati kembali jejak kaki kuda. Yang diamati tiada lain adalah jejak kaki kuda bintang biru yang besar dan mendalam, tanda bahwa kuda tersebut kokoh dan gagah. Dia mendapati beberapa jejak keluar desa dengan langkah pendek atau kuda sedang dijalankan dalam keadaan lambat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa tidak ada yang melihat bahwa Yunying maupun puteri Nan-an melewati desa? Jangan-jangan???&#8221; terdengar Jieji menggumam pelan. Lantas dia mengamati tajam ke depan ke arah semak yang cukup lebat.<br />
Setelah selesai membeli beberapa bekal, dia menanyai seorang bibi yang berdagang di sana.<br />
&#8220;Apa nama tempat di depan bi?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Di jalanan depan terbagi 2 arah. ke arah utara dan timur. Arah utara dinamakan jalan Emas berbagi. Sedang ke arah timur dinamakan jalan kebersamaan yang runtuh.&#8221; jawab bibi itu sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Jalan Emas berbagi pernah kulewati beberapa tahun yang lalu, dari jalan itu akan tembus ke Chang-an beberapa ratus li jauhnya. Bagaimana jalan kebersamaan yang runtuh itu?&#8221; tanya Jieji kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Jalanan itu lebarnya 3 tombak dan luas. Di samping kiri kanan terdapat gunung yang tinggi. Anda akan sampai ke Jiangling melalui 5 desa dalam 2 malam.&#8221; jawab bibi tersebut.</span></p>
<p><span>Jieji mengucapkan terima kasih kepada bibi itu. Dan beranjak meninggalkan tempat setelah membeli seekor kuda cepat.<br />
&#8220;Aku sudah tertipu oleh seseorang. Tidak&#8230; Beberapa orang tepatnya. Aku harus lebih hati-hati.&#8221; Demikianlah pikir Jieji.</span></p>
<p><span>Dia memacu kudanya dengan kencang ke arah timur. Tetapi baru lebih dari 3 li saja. Jieji merasa aneh sekali.<br />
&#8220;Jejak kaki itu hilang di jalanan demikian. Di depan adalah tebing tinggi dengan sampingnya adalah gunung. Tempat seperti demikian sungguh sangat berbahaya.&#8221;<br />
Dengan duduk di atas kuda, Jieji memandang sekeliling. Sinar matahari sore sepertinya masih cukup menyengat.<br />
&#8220;Ini bukanlah jalan yang harus kulewati sekarang.&#8221;<br />
Lantas dia turun dari kuda, dan berjalan pelan ke belakang kembali. Tetapi, ada sesuatu yang sepertinya menggodanya ketika dia mengamati tebing di depan sana yang jauhnya tidak seberapa.</span></p>
<p><span>Jauh memandang, dia melihat aliran sungai Changjiang yang sejuk dan sangat sedap dipandang. Pandangannya terhenti di sebuah rumah yang kecil tepat di bawah kakinya. Lalu, seraya menambatkan kuda Jieji segera meloncat turun untuk mengamati.<br />
Sekarang, Jieji memiliki sabuk maha sakti yang sedang melekat di pinggangnya. Maka sekali loncat, Jieji bagaikan terbang atau bagaikan anak panah yang melesat dari busur.</span></p>
<p><span>Dalam menyelidik kali ini, Jieji berusaha ekstra hati-hati sekali. Dia usahakan mengikuti pergerakan angin tanpa melawan ketika hendak turun. Dia mendarat tepat di sebuah pohon yang besar. Dengan mengamati sekeliling sebentar, akhirnya Jieji melompat turun santai tepat pada depan gerbang rumah yang tidaklah kecil tersebut.</span></p>
<p><span>Di samping, aliran sungai sedang mengalir perlahan dengan air terjun kecil di belakangnya. Kembali Jieji mengamati dengan sangat serius ke depan. Pintu terlihat cukup bersih, daerah ini sangatlah asri sekali dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Ketika hendak melangkah ke depan, dia mendapati sesuatu.</span></p>
<p><span>Suara nafas seseorang dari dalam yang terdengar sangat perlahan di rasakannya. Karena mendapati suara nafas demikian, Jieji tertegun hebat.<br />
&#8220;Orang di dalam rumah adalah tokoh maha sakti. Dia menyembunyikan dirinya entah dengan tujuan apa. Sepertinya bukan hal yang baik sama sekali.&#8221; Namun, Jieji tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia selalu bernafas mengikuti hembusan angin yang pelan.</span></p>
<p><span>Pemuda ini terpaku sungguh lama di sana. Mungkin sudah 2 jam lebih, namun masih tidaklah bergerak sama sekali.<br />
&#8220;Aku tidak bisa pergi sekarang. Sepertinya begitu aku bergerak sedikit saja, orang di dalam rumah bakal menyerang. Namun, jika aku berdiri terus menerus, bukanlah cara yang paling baik.&#8221; Jieji berpikir keras.</span></p>
<p><span>Demikianlah kira-kira dimana pesilat maha tangguh bertemu satu sama lainnya. Satu gerakan saja bisa berakibat fatal sekali. Orang yang berada di dalam rumah mungkin sangat menyadari kesalahannya, kenapa tidak langsung saja menyerang orang di luar tadinya. Namun, memberi kesempatan sampai mangsanya mengetahui dirinya di dalam. Jieji tidak kehabisan akal, dengan perlahan sekali tangannya bergerak mengambil sebuah roti yang tadinya dibeli di desa.</span></p>
<p><span>Dengan mengikuti gerakan angin, Jieji sudah bersiap-siap.<br />
Denga sebuah sentilan ringan, roti mencelat dengan kecepatan tinggi ke arah pintu rumah.</span></p>
<p><span>Tetapi&#8230;<br />
Sebelum benar roti tersebut sampai ke pintu, kedua pintu sudah terbuka lebar. Seiring sebuah sinar terang keluar bersama terbukanya daun pintu.<br />
Jika Jieji bukanlah seorang pesilat berpengalaman, mungkin dia bakal tewas dengan satu gerakan tadinya. Energi maha dahsyat yang keluar segera mengincar ulu hatinya tanpa segan-segan.</span></p>
<p><span>Secepat gerakan lawan, Jieji menepis sinar putih gemilang yang menuju ke arah dadanya dengan tangan kanannya. Seiring gerakan lengan, sinar putih gemilang menuju ke arah aliran sungai kecil yang sesegera menimbulkan ledakan.</span></p>
<p><span>Tetapi gerakan demikian tidaklah sampai berhenti. Ketika Jieji baru saja menepis serangan sinar, lantas beberapa sinar lainnya ikut dari belakang dengan kecepatan yang tinggi pula. Jieji menyadari bahwa lawan pasti akan bertindak lebih jauh. Sebab, dia tahu benar lawannya tentu sudah tahu dengan pasti bahwa jurus pertama yang datang tidak akan sanggup membunuhnya. </span></p>
<p><span>Dengan mencabut kipas dari pinggang, Jieji segera menyapok dengan gerakan pelan seperti menari. Sinar cemerlang tiada satu pun yang tidak berhasil di sampok oleh kipas yang hanya berukuran 1 kaki tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak disangka Xia Jieji menguasai ilmu pedang sesat yang tiada tandingan itu!&#8221; terdengar suara berteriak keluar dari dalam rumah seiring dengan mencelatnya seseorang dengan pesat sekali.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut sekali. Dalam 3 jurus yang luar biasa cepat, dia sudah kalah cepat betul-betul.<br />
Tidak ada minat Jieji menjawab pertanyaan penyerangnya sama sekali. Langsung saja gerakan kipasnya di arahkan ke arah suara yang muncul tadinya. Kipas di arahkan cukup tinggi karena Jieji mengincar arah suara yang berasal dari mulut penyerangnya.</span></p>
<p><span>Tetapi penyerangnya bukanlah orang sembarangan. Gerakan kipas meski tidak diperhatikannya dengan betul, tetapi dia merasakan ujung kipas sedang mencucuk tenggorokannya.<br />
Dalam keadaan mencelat ke depan, dia memutar badannya sekali dan mengarahkan kakinya menampar rusuk tangan kiri Jieji yang sedang di arahkan kedepan.</span></p>
<p><span>Dengan gerakan secepat kilat, Jieji melayani serangan lawan. Dia meloncat sambil tiduran di udara untuk menghindari &#8220;tamparan&#8221; kaki lawannya yang sangat kuat dan cepat. Namun, gerakan tangan Jieji tidak berhenti karena di serang. Tusukan dari ujung kipas di ubah menjadi tamparan ke arah yang sama.<br />
Alhasil, lawan yang tidak tahu menahu adanya jurus nekad sedemikian &#8220;tertampar&#8221; secara cepat di mukanya. Sementara itu, kaki lawan yang sebenarnya sedang di arahkan meninggi tidak sempat mencapai tubuh Xia Jieji. Dengan ayunan kaki menyepak keluar, Jieji berdiri dengan tegak kembali dengan kipas di tangannya.</span></p>
<p><span>Sementara lawan terlihat terseret 20 kaki lebih ke belakang. Tamparan kipas memang tidaklah sekuat tenaga tusukan tadinya. Namun, lawan memang sungguh seorang pesilat luar biasa. Bukan saja tidak terluka, namun sepertinya dia tidak apa-apa.<br />
Jieji memandang ke arah lawan dengan serius. Seorang pria tua dengan umur diatas 60 tahun. Wajahnya bengis dengan tinggi tubuh hanya 5 kaki lebih saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Gerakan yang sungguh luar biasa&#8230;&#8221; puji pria tua ini dengan wajah bengis dan tertawa terkekeh-kekeh.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda benar luar biasa&#8230; Siapa sesungguhnya tetua?&#8221; tanya Jieji sambil tersenyum namun dia tetap serius dan berkonsentrasi.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku pernah mendengar kelihaian ilmu silatmu. Ternyata hanya sebegini saja? Kedua saudaraku bakal menyusul kemari. Kau tidak akan hidup lama.&#8221; tutur si tua dengan bersemangat.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Kita tiada permusuhan, kenapa anda bertindak sangat kejam?&#8221; tanya Jieji yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada yang meminta nyawamu. Cukup itu saja.&#8221; jawab pria tua.</span></p>
<p><span>&#8220;Wah&#8230;<br />
Lalu apa tebusan yang anda dapat karena membunuhku? Kedua saudara anda seharusnya sedang menunggu di bukit sana.&#8221; jawab Jieji sambil menunjuk.</span></p>
<p><span>&#8220;Baiklah&#8230;<br />
Karena kamu akan tewas disini. Aku akan mengatakannya&#8230;<br />
Kita 3 setan Kunlun. Namaku Zui Wang(mengejar harapan), mungkin kamu belum pernah mendengarnya. Nyawa Xia Jieji ditukar dengan 7 pemimpin barisan utama pasukan Sung. Setimpal bukan?&#8221; tutur pria tua.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda sekalian terlalu menghargaiku&#8230;&#8221; tutur Jieji segera merapal jurus dengan kedua telapak tangannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ilmu tapak pemusnah raga sudah kita ketahui kelemahannya. Tiada gunanya jika kamu menggunakannya melawan kita bertiga.&#8221; jawab si tua Zui Wang seraya tenang saja.</span></p>
<p><span>Tetapi Jieji segera menerjang luar biasa secepat kilat. Dengan tangan kiri memegang kipas, sedang tangan kanan diancangkan ke depan. Karena kecepatan luar biasa-nya, membuat si tua terkejut sebentar. Belum sempat dia bertahan, kipas telah menuju ke mukanya dengan sangat cepat sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Plok!&#8221; terdengar kipas menampar sekali lagi ke arah muka Zui Wang. Sebelum dia terkejut, tapak Jieji menghantam ke ulu hati lawannya dengan cepat. Namun, kali ini gerakan Jieji lambat dan keras.<br />
Lawan tidak pernah mengira bahwa Jieji sanggup melepaskan jurus di saat dirinya &#8220;mundur&#8221; karena tertampar kekuatan kipas.<br />
Ini adalah salah satu serangan jarak jauh 18 telapak penakluk naga-nya. Pria tua ini terlihat terdorong belasan kaki ke belakang. Namun, ketika dia memeriksa kondisi tubuhnya. Dia tidak merasakan dirinya terluka dalam atau apapun.</span></p>
<p><span>&#8220;Jurus pedang-mu memang hebat anak muda. Ilmu pedang surgawi tingkat berapa yang kamu perlihatkan kepadaku?&#8221; tanya Zui Wang.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah tingkat kelima. Aku belum mendapatkan orang yang sungguh-sungguh sampai membuatku mengerahkan jurus kelima.&#8221; jawab Jieji sambil menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Si tua terkejut sekali. Bukan saja dia terkejut karena dirinya tidak sanggup menahan gerakan jurus pedang yang disalurkan lewat kipas yang teramat aneh itu. Tetapi dia merasakan keanehan di wajahnya, serasa siraman air hangat tiba-tiba turun dari pipinya. Ketika dia memeriksa maka dia terkejut luar biasa. Karena ini adalah darah yang mengucur dengan sangat deras.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak mungkin!!!<br />
Kertas di kipasmu mana mungkin bisa melukaiku. Bambu biasa???&#8221; teriaknya terkejut. Namun, dia hanya sanggup berteriak sampai demikian saja. Langsung, Zui Wang roboh bersimbah darah di wajahnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ternyata&#8230;.&#8221; tuturnya dengan lirih.<br />
&#8220;Telapakmu lebih ber&#8230; berbahaya&#8230;. Itu&#8230; bukan&#8230; Tapak pemusnah&#8230;.&#8221; baru saja dia berbicara sampai demikian. Si tua sudah tewas dengan mata membelalak. Sinar matanya bukan saja mengerikan tetapi terlihat sinar yang seakan sangat menakutkan dirinya sendiri.</span></p>
<p><span>18 telapak penakluk naga Xia Jieji sebenarnya adalah sama kuatnya setiap jurus. Semua jurus dari tingkat ke tingkat adalah saling melengkapi tiada satu pun jurus yang lebih kuat dari jurus lainnya. Baik itu berupa serangan jarak jauh maupun dekat, kesemuanya adalah sama berbahayanya. Berbeda dengan 18 telapak naga mendekam-nya Yuan Jielung maupun Pei Nanyang, dimana jurus terakhir-lah yang paling kuat yaitu jurus ke 18. Tadinya, Jieji memainkan jurus ke 10 dari total 18 jurusnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak berniat membunuh anda. Jika kedua saudaramu tiba, maka saat itu akulah yang berbaring di tempatmu.&#8221; sahut Jieji sambil menunduk sebentar. Langsung, dia beranjak ke dalam rumah sesegera.</span></p>
<p><span>Jieji tidak pernah tahu, bahwa dengan membunuh Zui Wang si orang tua, bakal bermasalah yang berbuntut sangat panjang dalam kehidupannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa di dalam?&#8221; teriak Jieji dengan keras. Namun tidak ada jawaban sama sekali, tetapi tarikan nafas seseorang benar di rasakannya saat dia sudah berada di dalam rumah. </span></p>
<p><span>Dia segera mengamati sekeliling sambil berhati-hati. Ditiliknya kamar belakang rumah yang terbuka sedikit itu. Lewat cahaya matahari yang tembus ke jendela. Jieji terkejut karena melihat seorang wanita yang setengah terbuka baju di arah dadanya.</span></p>
<p><span>Dengan was-was sekali, Jieji berjalan pelan ke depan. Alangkah terkejutnya ketika dia mengetahui siapa wanita yang berada di ranjang tersebut. Seorang wanita yang dengan matanya terbuka melotot ke arahnya, wanita berwajah putih sekali dengan hidung mancung.<br />
Jieji tahu benar bahwa wanita di ranjang tersebut paling tidak sedang tertutuk nadinya. Maka dengan gerakan tangan ringan, dia melepas tutukan di nadi utama di ubun-ubun.</span></p>
<p><span>Wanita tersebut langsung duduk dengan wajah menunduk malu sambil membetulkan pakaiannya.<br />
&#8220;Kamu tidak apa-apa?&#8221; tanya Jieji ke arah nona tersebut. Dia tidak lain adalah Huo Thing-thing, puterinya Huo Xiang.</span></p>
<p><span>Sambil berwajah yang kusam sekali, dia menggelengkan kepalanya saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu mengenal siapa pria tua itu?&#8221; tanya Jieji kembali.</span></p>
<p><span>Huo Thing-thing kelihatan marah, dia segera berteriak.<br />
&#8220;Dia&#8230; Dia&#8230;<br />
Dimana dia?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dia sudah kubunuh&#8230;&#8221; jawab Jieji pendek.</span></p>
<p><span>Thing-thing melongo melihat ke arah Jieji seakan tidak percaya.<br />
&#8220;Dia itu salah satu setan kunlun. Dia termuda diantara kedua saudaranya, namanya Zui Wang.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Berarti kedua saudaranya tentunya lebih tinggi silat darinya?&#8221; tanya Jieji sambil mengerut kening.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku pernah melihat mereka bertiga ketika mereka bertamu ke rumahku. Tetapi, bedebah Zui Wang sudah dari dulu tertarik kepadaku. Aku dicegat di tengah jalan olehnya&#8230;.&#8221; baru sampai di sini si nona kelihatan enggan menceritakannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah&#8230; Kita harus pergi secepatnya sebelum kedua saudaranya menuju kemari.&#8221; tutur Jieji seraya bergerak cepat menuju ke arah belakang rumah.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda tidak mencurigaiku? Tidak mencurigaiku hendak mencelakakanmu?&#8221; tanya Huo Thing-thing dengan wajah yang seakan-akan tidak percaya menatap ke arah punggung si pemuda.</span></p>
<p><span>Jieji hanya menjawab tanpa membalik.<br />
&#8220;Sewaktu di Persia, bukankah kau sendiri yang tidak ingin membunuhku? Lantas dengan alasan apa aku mencurigaimu akan bertindak?&#8221;</span></p>
<p><span>Huo Thing-thing tersenyum kagum kepada musuh lamanya tersebut. Dia langsung bergerak mengikuti Jieji dengan cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/346/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/346/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/346/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=346&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-29/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 28</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-28/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-28/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Aku tidak yakin bahwa kamu bisa tahu semalam aku bersembunyi mendengar apa kata-kata dan omongan kalian.&#8221; sahut wanita bercadar. &#8220;Hanya dua peluang saja dimana kita-kita pesilat tidak mengetahui bahwa kamu mencuri dengar.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum manis ke arah wanita bercadar. Wanita bercadar tersentak sebentar. Dia terlihat tertarik dari kedua bola matanya yang terlihat terang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=345&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-345"></span></p>
<p><span>Aku tidak yakin bahwa kamu bisa tahu semalam aku bersembunyi mendengar apa kata-kata dan omongan kalian.&#8221; sahut wanita bercadar.</span></p>
<p><span>&#8220;Hanya dua peluang saja dimana kita-kita pesilat tidak mengetahui bahwa kamu mencuri dengar.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum manis ke arah wanita bercadar.</span></p>
<p><span>Wanita bercadar tersentak sebentar. Dia terlihat tertarik dari kedua bola matanya yang terlihat terang binar.<br />
&#8220;Oya? Coba kamu katakan.&#8221;</span></p>
<p><span>Sambil tetap tersenyum, pemuda memberikan penjelasannya.<br />
&#8220;Pertama, ada alat tertentu di ruangan ini. Misalnya adalah sebuah pipa yang dirancang secara panjang. Oleh karena itu, di tempat yang jaraknya 1 li sekalipun dapat di dengar. Biasanya alat tersebut dipasang di kurungan badan intelijen. Tujuannya tentu sederhana, mengetahui pembicaraan dari para tersangka yang tidak menyadari bahwa dia sedang dicuri dengar.</span></p>
<p><span>Kedua, orang yang mendengarnya jelas mempunyai kemampuan luar biasa dan jauh di atas orang yang mencuri dengar.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Jieji sampai di sini, wanita bercadar itu tertawa keras sekali. Sepertinya dia terlihat sangat bergembira. Cukup lama suara wanita muda ini kemudian baru mereda.</span></p>
<p><span>&#8220;Engkau betul mirip seseorang&#8230;&#8221;<br />
Wanita itu berkata sambil berlalu. Dia meninggalkan Yunying yang masih terbengong, sementara Jieji tetap tersenyum saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Mengapa wanita ini datang kemari?&#8221; tanya Yunying setelah orang bercadar telah beranjak.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia ingin meminta kita pergi.&#8221; jawab Jieji pendek.</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu anehnya, kenapa dia tidak mengatakan sendiri kepadamu?&#8221; tanya Yunying kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak seberapa aneh. Ada 2 pertanyaan juga di dalam hatiku, pertanyaan pertama memang gampang di jawab. Tidak perlu diberitahupun, dia merasa aku sudah mengetahui arti tersembunyi pesan yang kita dapat.<br />
Yang kedua betul masih mengganjal dalam hatiku hingga sekarang.&#8221; jawab Jieji sambil membuka terali besi dengan mudahnya. Dia melangkah keluar seakan tidak terjadi apa-apa. Dilihatnya, ternyata penjaga kurungan sementara kesemuanya terlihat sedang tertidur pulas.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya wanita tadi tidak berada di pihak lawan.&#8221; sahut Yunying sambil tersenyum.<br />
Jieji tidak menjawab pertanyaan isterinya lagi. Dia hanya mengangguk pelan terus melangkah keluar.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Utara kota Ta-Li, sekitar 50 Li dari sebuah tanjakan luas&#8230;<br />
Pemandangan indah nan damai di sana sungguh menggoyang hati siapapun menikmatinya cukup lama. Tanah persawahan terbentang sungguh luas seakan menyatu dengan langit. Suara kicauan burung pagi terdengar sangat hangat dan berirama menari di hati pendengarnya.</span></p>
<p><span>Luas tanah hamparan hijau disini mungkin lebih dari 20 Li persegi. Di tengahnya terdapat sebuah rumah bertingkat dua yang berukuran biasa saja, terlihat cukup terurus dan terlihat damai.<br />
Hanya sekitar beberapa puluh kaki di pintu gerbang kecil, tertanam 2 buah pohon yang tingginya menjulang dan hampir mencapai langit terlihat. Dua pohon yang sepertinya sengaja di tanam secara horizontal menghadap depan gapura rumah. Disini terlihat seseorang tidur-tiduran di atas kain kulit yang diikat dengan tali kencang di kedua belah batang pohon.</span></p>
<p><span>Seorang pemudalah yang sedang tidur-tiduran di sana.<br />
Umur pemuda terlihat mungkin hanya 30 tahun saja. Wajahnya tenang dan berkharisma, rambutnya diikatkan ke atas membuat wajahnya terlihat berkharisma sekali.<br />
Sambil memegang sebuah buku yang cukup tebal, dia membaca dengan cukup serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuan muda&#8230;&#8221;<br />
Sahut suara seorang tua yang membuyarkan konsentrasinya ke buku sambil menghampirinya dengan tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa? Kamu ingin memintaku meninggalkan tempat ini?&#8221; tanya pemuda yang tidur-tiduran dengan tidak acuh.</span></p>
<p><span>&#8220;Tadi sudah kubunuh 4 orang pendekar di sini. Hamba kira mereka pasti datang kembali.&#8221; tutur seorang tua. Orang tua disini tiada lain adalah Gao JianShen, pengawal Meng Yangchu sebelumnya.<br />
Daerah utara beberapa puluh kaki dari rumput pendek memang terlihat cukup kacau, ada yang terkoyak serta sebahagian terlihat tetesan darah cukup banyak di daerah ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Perampok biasa saja. Untuk apa ditakutkan?&#8221; sahut pemuda ini acuh tidak acuh tanpa melihat ke arah Gao.</span></p>
<p><span>&#8220;Hamba merasa mereka bukanlah perampok biasa&#8230;<br />
Hamba sangat yakin, terutama kesemuanya seperti menguasai jurus tapak buddha Rulai.&#8221; jawab Gao dengan sungguh-sungguh.</span></p>
<p><span>&#8220;Pak tua Gao&#8230;<br />
Mengapa terlihat anda sangat berkhawatir segala?&#8221; tanya pria ini seraya bangkit. Terlihat dia tidak begitu senang.</span></p>
<p><span>&#8220;Hamba&#8230;<br />
Hamba takut dapat mengganggu ketenangan tuan muda&#8230;&#8221; sahut Gao sambil terkejut, dia tidak berani menatap orang muda yang kelihatan sangat berpengaruh tersebut.</span></p>
<p><span>Tetapi pria, hanya menatap ke langit. Dia angsurkan bukunya ke samping sebentar sambil terdengar menghela nafas.<br />
&#8220;Takdir langit susah diketahui. Sepertinya pesan itu tidak berguna sama sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>Gao Jianshen yang melihat tingkah tuan muda-nya, tidak mengerti. Tetapi dia tidak berani menanyainya apapun.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah, kamu pergi dahulu. Jaga di utara wisma dan jangan biarkan mereka masuk saja. Sepertinya diagram Pa Kwa tidak berguna bagi begundal-begundal seperti mereka.&#8221; tutur pemuda sambil mengambil bukunya kembali untuk dibaca.</span></p>
<p><span>Gao kali ini tidak berani membantah perkataan pemuda lagi. Dia mengangsurkan dirinya ke dalam wisma sebentar. Setelah dia keluar, dia telah membawa sebatang pedang panjang. Sambil memberi hormat dalam, dia menuruti perintah tuan mudanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Berhati-hatilah&#8230;&#8221; sahut pemuda yang masih tetap menatap bukunya dengan serius.</span></p>
<p><span>Gao terlihat tersenyum riang karena merasakan bahwa majikannya ini mengkhawatirkan dirinya. Dia menjawab pendek dan memberi hormat. Kemudian berjalan ke arah utara sambil was-was. Di dalam pikirannya dia merasa sedikit aneh dengan tindakan tuan mudanya ini.<br />
&#8220;Tuan muda sepertinya tidak peduli akan nyawanya sendiri. Sungguh aneh sekali, meski dia tahu bahwa lawan yang bakal datang kemampuannya sungguh tinggi. Enam pesilat tadinya, bukan datang dengan tujuan membunuh. Karena hanya mendesak akan masuk dan menjarah wisma yang kelihatan bagus, karena menurut mereka pasti ada harta tersimpan di dalamnya. Setelah empat orang kubunuh, pasti pimpinan mereka bakal sampai saat kedua orang menyampaikan pesan&#8230;&#8221;<br />
Begitulah pemikiran Gao Jianshen tersebut sambil was-was berjalan melewati diagram Pa Kwa yang terjelma dari rumput tinggi serta susunan batu besar saja.</span></p>
<p><span>Tetapi baru berjalan beberapa puluh kaki ke depan, dia tergembira sesaat. Dia melihat seorang wanita sedang menuju ke tempatnya. Dengan berjalan kaki di dampingi kuda yang berwarna merah tua, wanita muda ini menyapanya.<br />
&#8220;Pak tua&#8230; Apa kabarnya?&#8221;</span></p>
<p><span>Gao Jianshen gembira tidak kepalang. Dia berjalan cepat menuju ke arah nona yang sangat cantik terlihat. Setelah dekat, dia gembira sekali.<br />
Nona di depannya, berpostur sedang dan semampai. Wajahnya cerah dan putih, kedua bola matanya terlihat indah. Hidungnya mancung, disertai dengan bibir tipis yang sangat menggoda hati. Nona ini bukanlah nona sembarang, wajahnya terlihat sangatlah cantik dan agung sekali. Dia memakai baju berwarna biru tua, dengan pisau tersarung yang terbelit di pinggang.</span></p>
<p><span>&#8220;Baik nona&#8230; Tetapi sekarang sepertinya kedatangan nona cukup bermanfaat..&#8221; sahut orang tua dengan wajah yang berubah serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada perihal apa? Bagaimana dengan kakak seperguruanku?&#8221; terkejut juga nona cantik ini melihat wajah Gao yang berubah cepat.</span></p>
<p><span>Gao dengan tangkas menceritakan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dia memberikan semua keterangan seperlunya kepada nona cantik tersebut.<br />
&#8220;Begitulah kira-kira&#8230; Dan tuan muda sepertinya tidak peduli akan segala urusan demikian.&#8221;</span></p>
<p><span>Nona cantik terlihat berpikir sebentar. Kepalanya tunduk mengamati rumput di kakinya beberapa saat. Tetapi belum sempat dia mengangkat kepalanya, dia sudah merasakan hawa yang mendatangi tempat tersebut.<br />
Gao juga merasakan hal yang sama, mereka segera melihat sambil menggerakkan tubuh mereka cepat.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya kali ini keadaan bisa runyam.&#8221; tutur Gao Jianshen yang terlihat mengerutkan alisnya.</span></p>
<p><span>Nona cantik tersenyum penuh arti memandang ke depan. Tidak kelihatan dirinya takut atau merasa khawatir terhadap sesuatu hal apapun.</span></p>
<p><span>Benar saja&#8230; Perkiraan buruk menjadi kenyataan.<br />
Setelah enam pendekar tadinya yang sempat datang kemari, maka 2 orang berhasil meloloskan diri. Dua orang ini tentu melapor secepatnya ke markas mereka. Tidak perlu waktu 3 jam, cukup banyak orang terasa sudah hadir di sana. Tetapi di antara belasan orang yang datang, sepertinya hanya 3 orang yang berdiri mentereng di sana. Mungkin ketiga orang ini adalah termasuk pimpinan menyerbu ke tanah damai tersebut.<br />
Tiga orang memang tidaklah dikenali baik oleh Gao maupun nona nan cantik ini. Seorang tua berambut putih dan terlihat gagah berdiri di tengah. Di samping kirinya adalah seorang paruh baya dengan kumis yang panjang menghias. Sedangkan di samping kanannya adalah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cukup cantik meski di usianya yang memasuki uzur.</span></p>
<p><span>Nona cantik menyenter matanya ke segala arah memandang kesemuanya. Memang tidak satupun orang dikenalinya. Tetapi ketika dia berhenti melihat ke arah wanita usia paruh baya, dia terlihat heran meski tidak begitu di tunjukkan melalui wajahnya.<br />
&#8220;Orang ini mirip dengan seseorang&#8230;&#8221; Begitulah pemikirannya saat itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Nona, anda dari mana kemari tadinya?&#8221; tanya Gao dengan berbisik sambil berjalan ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Ta-Li.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu kemungkinan mereka bukan dari Ta-Li. Jika tidak, tidak mungkin saat sampainya nona cukup bersamaan dengan mereka dan nona sama sekali tidak pernah merasakan kehadiran mereka sedikitpun.&#8221; jawab Gao.</span></p>
<p><span>Nona cantik ini hanya mengangguk saja. Dia kembali menatap ke arah lawan di depannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Orang tua itulah yang membunuh saudara kita&#8230;&#8221; tiba-tiba terdengar teriakan seseorang sambil menunjuk ke arah Gao Jianshen.<br />
Gao mengenali orang ini, dialah yang lolos tadinya dari pertarungan hebat sekitar beberapa jam yang lalu.</span></p>
<p><span>&#8220;Orang tua ini bernama Gao Jianshen. Dia adalah seekor anjing keluarga Meng. Herannya, kenapa dia bisa disini?&#8221; tanya Orang yang tidak kalah tuanya dengan Gao yang berdiri di tengah. Wajahnya terlihat bengis, semua kata-katanya sungguh merindingkan bulu kuduk orang.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan&#8230;<br />
Dia bukan anjing keluarga Meng. Dia hanya mata-mata saja.&#8221; jawab orang paruh baya di sampingnya.</span></p>
<p><span>Gao tidak tersinggung meski dimaki dalam kata-kata yang kasar. Dia menatap depan seakan tidak pernah terpengaruh sedikitpun.</span></p>
<p><span>&#8220;Orang tua, katakanlah siapa orang yang memintamu memata-matai Meng Yangchu, maka kau kubebaskan sekarang bersama nona cilik nan cantik ini.&#8221; tutur orang tua dengan tersenyum sinis.</span></p>
<p><span>Gao tidak pernah menjawab pertanyaan lawannya. Gao memiliki sikap yang sesungguhnya cukup keras kepala dari dahulu. Dia tidak pernah menjawab pertanyaan orang yang dirasakannya tidaklah perlu dijawab sama sekali.<br />
Tetapi nona cantik di sampingnya berpikiran lain, dia akhirnya mengejek orang tua di depannya.<br />
&#8220;Hai orang tua&#8230;<br />
Kamu sendiri jelas lebih tua, kenapa kamu malah memanggilnya orang tua? Oya, aku sudah lupa. Ternyata sebelah matamu buta itu mempengaruhi penglihatanmu terhadap jagad. Maklum&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Bukan main marahnya orang tua di depan. Kumisnya sempat berdiri sesaat, mukanya memerah dan matanya melotot melihat nona cantik ini. Dia ingin sekali langsung turun tangan untuk membunuh nona cantik yang kelihatannya betul kurang ajar.<br />
Gao Jianshen sangatlah berkhawatir terhadap ejekan kata-kata nona cantik ini, dia mengerutkan alisnya memandang nona.<br />
&#8220;Semua hal hari ini, adalah Gao tua ini penyebabnya. Janganlah mencari orang lain yang tidak ada hubungannya.&#8221;</span></p>
<p><span>Orang tua buta sebelah matanya tentu adalah Chen Yang. Dia kali ini memimpin &#8220;pasukan&#8221; dengan tujuan menghabisi Gao. Dia tidak tahu menahu siapa yang sesungguhnya bertempat tinggal disini. Menurutnya, dengan kemampuan kedua temannya yaitu Xia Rujian dan Wu Shanniang tentu sudah bisa menghabisi seorang Gao. Di sini tidak disangkanya malah muncul seorang gadis yang sekiranya berumur 20-an saja berani mengejeknya sedemikian parah. Dengan akal yang masih cukup sehat, Chen Yang tidak menyerangnya dahulu. Sebab diketahui jika ada seorang nona kecil saja berani berbicara begitu kurang ajar, maka setidaknya dia memiliki pegangan yang cukup baik.</span></p>
<p><span>Tetapi wanita paruh baya di sampingnya segera maju ke depan. Sambil menatap buas ke arah nona cantik, dia berkata.<br />
&#8220;Biarkan nona cantik ini bermain-main sejenak denganku. Akan kutunjukkan sebenarnya seberapa bahaya kita bertiga.&#8221;<br />
Setelah selesai Wu Shanniang berkata-kata, dia melaju pesat ke arah nona cantik. Dengan ancang-ancang tamparan segera dia melesat cepat untuk menampar nona cantik yang dinilainya sangat kurang ajar.</span></p>
<p><span>Nona cantik ini tidaklah terlihat takut sebab gerakan lawan yang cepat sekali. Dia menarik kakinya ke belakang dengan cepat sekali satu langkah. Dan dengan ancang-ancang jari dia hendak menyerang ke depan.</span></p>
<p><span>Tetapi&#8230;<br />
Tamparan Wu Shanniang bukanlah jurus mudah. Dia mengalirkan energi berbahaya pemusnah raga tingkat tinggi di dalamnya. Meski terlihat dia enggan memperkuat serangan, tetapi jelas bahwa tamparan tangan Wu Shanniang berniat mengambil jiwa lawannya secara langsung.<br />
Hanya sejenak saja pergerakan Nyonya Wu atau Nyonya Yelu ini. Mungkin hanya seperti kedipan mata biasa, telapak tamparannya telah menuju ke wajah nona cantik.</span></p>
<p><span>&#8220;Plak!&#8221;</span></p>
<p><span>Suara tamparan terdengar sangat jelas sekali. Wu Shanniang yang bergerak menampar tidak pernah merasa heran sebab dia tahu lawannya telah terserang. Namun, seumur hidupnya dia tidak pernah seheran sekarang.<br />
Tangannya terasa pegal, kesemutan dan gemetar. Dia memang menampar sesuatu benda yang tidaklah keras. Tetapi sama sekali bukan wajah nona cantik ini.<br />
Kesemua pendekar di sana tiada yang tidak merasa heran melihat serangan Wu Shanniang sebenarnya gagal total.<br />
Yang ditamparnya adalah sebuah sandal, sandal terbuat dari kulit dan ternyata adalah berasal dari sebelah kanan kaki seseorang.</span></p>
<p><span>Nona cantik sangat bergembira ketika dia melihat sebuah sandal sudah jatuh ke tanah dan dalam keadaan robek kepalanya akibat tamparan tangan Wu Shanniang.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa? Hanya orang licik saja yang bermain sembunyi-sembunyi!&#8221; terdengar salah satu anak buah Chen Yang berteriak keras ke depan.<br />
Tetapi, seiring suaranya berhenti. Seperti sesuatu benda kontan menamparnya kuat. Orang ini sialnya terpental jauh sekali dan dengan sebelah wajahnya menyeret rumput. Beberapa giginya bahkan tercopot keluar diikuti dengan teriakan dan muntah darah hebat.</span></p>
<p><span>Chen Yang dan kawan-kawannya sangatlah terkejut melihat pemandangan yang luar biasa terjadi dalam saat sekejap.<br />
Ternyata yang mementalkan orang berteriak itu juga adalah sebelah sandal lainnya.<br />
Hanya Chen, Wu dan Xia Rujian tiga orang dari pihak lawan yang tahu dari mana sesungguhnya sandal itu berasal. Dari jarak hampir 200 kaki, mereka melihat dua buah pohon yang menjulang sangat tinggi. Mereka bertiga tahu bahwa di sana terdapat seorang yang sangat tinggi kemampuan silatnya. Tentu tanpa banyak berkata-kata, ketiganya beranjak pesat ke depan bagaikan kilat.<br />
Bahkan Gao maupun nona cantik tidak berhasil mencegah ketiganya. Dan tanpa perlu waktu yang lama pula, ketiganya telah sampai di hadapan pemuda yang sedang tidur-tiduran santai sambil membaca sebuah buku tebal.</span></p>
<p><span>Tahu bahwa ketiganya sampai, pemuda sama sekali tidak bergerak. Melainkan tetap serius membaca buku yang dipegang sejak tadinya.<br />
Ketiga orang ini tiada yang tidak terkejut sama sekali. Orang di depannya mungkin hanya seorang pemuda yang berusia 30-an. Wajahnya sangat tenang luar biasa, agung dan terlihat sangat santai. Rambut diikat ke belakang dan agak berwarna hitam kecoklatan. Dia memakai jubah panjang musim semi yang berwarna merah gelap. Tapak kakinya sekarang sedang telanjang sebab kedua sandalnya jelas sudah &#8220;terbang&#8221; jauh sekali.</span></p>
<p><span>Tidak lama, Gao dan nona cantik telah sampai. Gao segera beranjak ke depan dengan wajah yang penuh penyesalan menyampaikan maafnya kepada pemuda.<br />
&#8220;Maafkan aku tuan muda&#8230; Aku tidak sanggup menghalangi mereka semua.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah.. Tidak perlu terlalu merendah pak tua Gao.. Ini bukanlah kesalahan anda&#8230;&#8221; Gao Jianshen terlihat sekilas memberi hormat dalam kepadanya.<br />
Segera orang ini memandang ke arah nona cantik sambil tersenyum.<br />
&#8220;Adik Zi&#8230; Kamu tidak apa-apa?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230; Terima kasih atas perhatian kakak&#8230; kakak seperguruan&#8230;&#8221; nona cantik ini tertunduk sambil tersenyum malu.</span></p>
<p><span>Pemuda langsung melihat ke arah wanita paruh baya yang adalah Wu Shanniang.<br />
Dia mengerutkan dahinya sebentar, kemudian berkata dengan pelan dan agung.<br />
&#8220;Dahulu&#8230;<br />
Kamu berupaya mendapatkan ilmu pemusnah raga, tetapi setelah mendapatkannya ternyata malah tidak ada gunanya. Kamu mengorbankan Yuan Xufen, puterimu sendiri. Terakhir meninggalkan keluarga dan menjadi pengkhianat bagi bangsamu sejak kamu ikuti Liao. Sekarang semua ilmumu ibarat hanya sebatas sandal saja. Betul sangat di sayangkan seluruh upayamu berpuluh tahun&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Wu Shanniang tentu sangat tersinggung sekali. Dia diam dan menunduk tanpa bisa menjawab sebab dia tahu bahwa lawan yang berusia muda sekali ini bukanlah orang biasa-biasa. Sementara itu, Chen Yang segera ingin menanyainya. Namun keburu si pemuda duluan mengajukan beberapa kata-kata kepadanya dengan sinis.<br />
&#8220;Kamu&#8230;<br />
Seorang tabib hebat, sayangnya terobsesi sedemikian parahnya. Kamu ingin merebut kedua bola mata Yuan Xufen. Tuhan Maha adil, dan terakhir anda harus kehilangan sebelah mata saja. Sungguh sangat menguntungkan dirimu.</span></p>
<p><span>Dan kamu, Xia Rujian&#8230;<br />
Kamu adalah seorang jenderal hebat semasa Dinasti Zhou akhir sampai pengabdianmu kepada Sung. Namun, kamu tetap serakah. Menginginkan segala hal, dan mengatakan bahwa kesemuanya adalah demi balas dendam terhadap kakak angkat pertamamu. Betapa memalukannya dirimu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Xia Rujian tidak sanggup berkata-kata apapun. Sebab apa hal yang sekarang berada di hatinya, disebutkan dengan baik oleh pemuda ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Beberapa hari ini aku cukup sibuk membaca buku-ku. Dan setiap lembaran kubuka, maka setiap saat juga kunantikan orang yang harus kutemui. Sayang, orang yang ingin kutemui bukanlah kalian semua. Aku meminta kalian untuk enyahlah segera.&#8221; Tutur pemuda yang terlihat sedikit sombong dan membuka kembali bukunya.</span></p>
<p><span>&#8220;Huh!!!<br />
Hanya sepasang sandal. Menakuti siapa?&#8221; Bentak Chen Yang sebentar.</span></p>
<p><span>Pemuda yang terasa tidak nyaman akan bentakan barusan, segera menoleh.<br />
Anehnya, dia tidaklah marah. Melainkan tersenyum, dan berkata.<br />
&#8220;Aku lupa sesuatu hal&#8230;<br />
23 tahun yang lalu anda masih seorang tabib. Di danau Dong Ting, kamu nyaris terbunuh oleh Yuan Xufen. Kamu tahu, setelah jatuh ke danau apa yang pertama dilakukan Yuan Xufen?&#8221;</span></p>
<p><span>Sebenarnya, mengenang kembali kejadian yang cukup tragis bagi Chen Yang memang membuatnya marah. Namun, dia tetap menahan emosinya sedemikian baik.<br />
Chen tidak menjawab, karena bagaimanapun dia tahu bahwa pemuda pasti akan melanjutkan kata-katanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Yuan Xufen segera meminta orang lain di sekitar sana terutama nelayan yang jago berenang untuk menolongmu. Dan setelah kamu diangkat, kamu masih pingsan. Yuan Xufen memberikan pertolongan dengan membalut luka di matamu, namun terakhir gadis itu menyesal luar biasa karena ternyata matamu sudah tidak dapat ditolong. Dia mengeluarkan 5 tael emas meminta nelayan danau itu untuk menjagamu sampai dirimu siuman&#8230;&#8221; tutur Pemuda sambil menatap langit untuk mengenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Omong kosong!&#8221; teriak Chen Yang dengan marah sekali. Matanya yang sudah buta memang masih berada di tempatnya, namun sinar hitam layaknya dimiliki setiap manusia sudah menghilang menjadi putih keabu-abuan.<br />
&#8220;Saat itu? Orang sepertimu baru berumur berapa??? Kau tahu apa??&#8221; teriak Chen Yang kembali.</span></p>
<p><span>Pemuda menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Saat itu, aku berusia 25 tahun.&#8221;</span></p>
<p><span>Kontan, orang di sekitar melongo. Melihat seakan tidak percaya terhadap manusia di depan mereka semua.</span></p>
<p><span>&#8220;Dan di sana, aku berkenalan dengan Yuan Xufen karena sangat tertarik melihat kemampuan jurus jarinya yang hebat.&#8221; tutur pemuda itu kembali dengan mata setengah tertutup.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau sudah berumur 46 tahun sekarang. Tidak disangka, di dunia ini ada ilmu untuk meremajakan wajah.&#8221; sahut Xia Rujian.</span></p>
<p><span>Pemuda segera menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Hidup sesuai dengan alam, sesuai aliran sungai mengalir. Akan terus membuat orang kembali muda.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak seperguan&#8230;<br />
Jangan meladeni mereka kesemua. Suruh saja mereka pergi.&#8221; sahut wanita cantik di sebelahnya segera.</span></p>
<p><span>Pemuda melihat sebentar ke arah wanita cantik ini, lantas menyahut.<br />
&#8220;Mereka akan pergi dengan sendirinya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa hal yang meyakinkanmu kita bakal pergi sendiri?&#8221; tanya Chen dengan wajah yang agak sinis.</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Chen Yang, pemuda tadi segera tertawa terbahak-bahak. Tawanya cukup lama dan terdengar sangat tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Sesungguhnya siapa dirimu? Hidup terpencil di tempat seperti demikian apa enaknya?&#8221; tanya Xia Rujian.<br />
Pertanyaan siapa dirinya memang sudah lama menggaung di setiap hati pesilat di sini. Mungkin cukup bodoh jika pemuda ini menjawabnya, dia hidup di tempat &#8220;rahasia&#8221; yang sebenarnya jarang dikunjungi orang. Tentu dia tidak ingin mengungkapkan identitasnya kepada siapun apalagi orang-orang di depan yang sepertinya bakal mencari masalah dengannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku terlahir dengan nama yang sama dengan salah satu putra-mu. Tetapi tidak pernah kupakai nama itu hingga sekarang. Ketika masih anak kecil, orang-orang memanggilku xiao lung. Tetapi beranjak remaja&#8230;<br />
Orang-orang di sekeliling memanggilku Duan Taizi&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Sungguh semua orang terkejut tidak terkira. Keringat dingin membasahi wajah semua pesilat yang datang tersebut. Beberapa bahkan saling pandang memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru diucapkan pemuda barusan.<br />
[*Taizi adalah putra mahkota. Jelas orang yang sedang bergaya duduk santai tiada lain adalah putera mahkota dari Tali]</span></p>
<p><span>&#8220;Sayang&#8230;<br />
Harimau tidak selalu melahirkan anak harimau&#8230;&#8221; tutur Chen Yang.<br />
Sebenarnya tujuan Chen adalah membuat marah orang di depannya. Dia memaksudkan Duan Siping yang terkenal kemampuan memimpinnya sehingga sanggup mendirikan kekaisaran Ta-Li. Tetapi penerusnya, yang berada di sini hanya bisa duduk dan menertawakan angin dalam kesepian.</span></p>
<p><span>Kata-kata seperti demikian memang adalah dengan tujuan mengejek betul. Chen tidak takut kepada orang ini karena dia sangat yakin akan kekuatannya sendiri. Dia banding Wu Shanniang yang terkena 1 jurus sandal tadinya, sebenarnya kemampuan Chen masih jauh di atas Wu. Maka daripada itu, dia sangatlah yakin tidak begitu bermasalah menghadapi orang ini.</span></p>
<p><span>Wanita cantik dan Gao terlihat marah sekali. Terutama Gao yang langsung memerah wajahnya padam sambil gemertak gigi. Namun, anehnya putera mahkota-lah yang menenangkan kedua temannya dengan kata-kata.<br />
&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Chen bersaudara adalah tabib terkenal di segala jagad. Sayang&#8230;<br />
Yang tua masih seorang manusia luar biasa, tetapi yang muda malah sudah hidup di kolong seperti anjing yang main sembunyi saja&#8230;<br />
Oh&#8230; Dan sesekali membawa pengawal berjumlah selaksa untuk mengeroyok orang lemah.&#8221;</span></p>
<p><span>Chen diam sampai disini. Dia berusaha tidak mendongkol dan memunculkan kemarahannya keluar. Karena jika terlihat kemarahannya, maka kali ini dia betul kalah dalam adu kata-kata.<br />
Tetapi, pemuda yang sedang duduk tersebut sekiranya menunjuk lantas bertanya.<br />
&#8220;Dimanakah Meng Yangchu berada? Kenapa tidak pernah kutampak?&#8221;</span></p>
<p><span>Chen Yang tersenyum sebentar. Wajahnya terlihat bengis.<br />
&#8220;Aku mendengar bahwa dahulu anda sempat mengangkat saudara dengan Meng Yangchu. Bersumpah saling setia&#8230;<br />
Tapi nyatanya, anda melanggar sumpah anda sendiri. Ingin merebut kitab tingkatan kesembilan tapak Buddha Rulai. Karena tidak kesampaian, maka inilah hal yang membuatmu sembunyi di sini. Bukankah begitu Yang Mulia Duan?&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda tidak pernah terlihat marah meski kata-kata sedemikian memang sangatlah pedas. Dia menjawabnya dengan tenang sekali.<br />
&#8220;Meng Yangchu&#8230; Saudaraku itu sudah mati lama. Aku rasa tidak perlu diungkit-ungkit lagi.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dan kabarnya andalah orang yang berada di lokasi kejadian terbunuhnya keluarga Meng Yangchu?&#8221; tanya Chen kembali dengan wajah menyelidik.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar sekali&#8230;<br />
Dan aku-lah orang yang membunuh semua keluarga Meng sekitar 30 tahun yang lalu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Tanpa ayal, kesemua orang terkejut. Termasuk baik Gao Jianshen dan wanita cantik di sampingnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak mungkin!&#8221; teriak Chen Yang seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Luka di leher mereka semua&#8230; Akibat jurus lima jari pedang yang keluar dari tanganku. Aku membantai mereka semua yang berjumlah 15 orang, semuanya berdarah keluarga Meng&#8230;&#8221; jawabnya kalem.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau!!!<br />
Menguasai jurus setan itu?&#8221; teriak Chen yang tidak percaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebentar&#8230;<br />
Sepertinya pendengar yang sudah berada di sini sejak tadi haruslah keluar!&#8221; teriak Taizi dengan tenang tetapi menggaungkan tenaga dalam tingkat tinggi.<br />
Tenaga dalam Taizi tidaklah merusak, tetapi seperti angin semelir ringan yang mengalir.</span></p>
<p><span>Dengan heran semua orang berpaling ke kiri kanan, mencari benarkah ada orang yang bersembunyi dan mencuri dengar. Lantas saja, seorang berjalan pelan ke depan. Tubuhnya tinggi besar dan berewokan. Dia tiada lain adalah &#8220;Meng Yangchu&#8221;. Memang aneh, tidak seharusnya &#8220;dia&#8221; tidak hadir di sini. Sebab orang ini memanglah sekomplotan dengan Chen dan kawan-kawannya.</span></p>
<p><span>Dia keluar sambil tertawa besar. Langkahnya besar dan tegap sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan kau yang kumaksud kan!&#8221; tutur Taizi Tali itu dengan wajah yang kurang senang.</span></p>
<p><span>Kontan kesemuanya terkejut langsung.<br />
Terutama Chen Yang yang maha hebat itu. Dia tidak pernah merasakan adanya orang yang datang kesini. Tentu hal ini membuatnya sangatlah heran tetapi pemuda di depannya tahu benar bahwa ada orang yang sudah berada di sana sejak tadinya.</span></p>
<p><span>Tidak lama kemudian, terlihat dari arah rumput bagian barat yang menjulang tinggi.<br />
Seseorang mungkin, berjalan dari arah rumput yang cukup tinggi. Ujung kepalanya terlihat dan dia datang bersama seorang yang sepertinya wanita. Sebab pemuda terlihat lebih tinggi sedikit dari wanita yang rambutnya terkibas panjang ke samping.<br />
Setelah mereka keluar dari &#8220;hutan&#8221; rumput itu, kesemua orang terkejut. Sebab kesemuanya orang di sini mengenal siapa yang datang.<br />
Dialah Xia Jieji dan Yunying. Sambil tersenyum, keduanya berjalan menghampiri ke arah Duan Taizi.</span></p>
<p><span>&#8220;Sungguh hebat sekali. Anda bisa tahu meski kita berdua hanya bernafas ikut gerakan angin. Bukan begitu? Pemuda sastrawan yang pura-pura bodoh.&#8221; sahut Jieji sambil tersenyum memberi hormat.</span></p>
<p><span>Yunying heran. Dia pandangi pemuda itu sekali lagi. Wajahnya memang pernah terlihat, tetapi dimana dilihatnya dia sudah tidak ingat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau sudah tahu aku sastrawan yang menyaksikan Meng Yangchu tertangkap? Bagaimana kau bisa mengatakan aku berpura-pura bodoh?&#8221; tanya putera mahkota dengan tersenyum pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Karena kau&#8230;<br />
Menyandang besi berat dan mengipaskannya berkali-kali. Penduduk Yun-nan yang hadir kesana tidak ada yang membawa senjata apapun. Tentu, maksudmu adalah ingin memberikan kipas kepadaku untuk memberi pelajaran pada kepala polisi itu.&#8221; jawab Jieji.<br />
Sesaat, Jieji menoleh ke arah Xia Rujian dan Wu Shanniang. Dia memberi hormat layaknya seorang anak kepada keduanya.<br />
Sedangkan Yunying, yang merasa sedikit trauma akan hal terdahulu terasa menunduk tidak berani memandang Wu Shanniang ibunya sendiri.</span></p>
<p><span>Chen dari tadi memandang putra mahkota, sedangkan setelah kemunculan Yunying dan Jieji. Putra mahkota malah sering melihat wajah isterinya Xia Jieji. Dia tatap dengan tatapan dalam dan sambil berkali-kali menghela nafas.</span></p>
<p><span>Chen yang merasa tidak sabar, ingin tahu kejadian sekitar 30 tahun yang lalu itu segera membuka suara.<br />
&#8220;Kau menunggu kesemuanya keluar untuk baru kemudian melanjutkan ceritamu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hampir lupa tuan Chen&#8230;&#8221; sahut putera mahkota tersenyum.<br />
&#8220;Aku memang membunuh kesemua anggota keluarga Meng. Meng Yangchu sengaja kuminta untuk keluar kota saat itu. Dan tentunya bersama Gao Jianshen, ini&#8230;<br />
Seseorang mengirimkan peti berisi sesuatu yang hebat sekali saat itu. Dalam perjalanan Chengdu menuju Yunnan, aku mendengar berita yang sangat hebat luar biasa. Yaitu&#8230;<br />
Dewa Bumi hendak memusnahkan seluruh orang Yun-nan&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Karena cucu muridnya mengkhianatinya bukan?&#8221; tanya Jieji dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Zeng Qianhao menjadi murid Lu Feidan, melarikan diri. Ini adalah pengkhianatan besar-besaran karena Zeng adalah murid yang menguasai secara lengkap tapak mayapada yang dikatakan sangat hebat itu.<br />
Tentu dengan tanpa ayal, Dewa bumi &#8220;mengirimkan&#8221; sesuatu kepada keluarga Meng. Satu-satunya keluarga yang berhubungan darah dengan Zeng Qianhao yang masih hidup baik di Yunnan. Merasakan firasat buruk, aku meminta Gao yang ikut denganku melindungi Meng Yangchu terlebih dahulu.</span></p>
<p><span>Akhirnya Gao, berhasil sampai dan mengamankan Meng Yangchu keluar kota beberapa hari. Tanpa sepengetahuan Meng bahwa keluarganya bakal dibantai habis-habisan.<br />
Lantas&#8230;<br />
Dengan berkuda cepat, aku menuju ke Jinping Shan. Mencari Dewa Bumi, tetapi tidak kedapatan jejaknya. Dan setelah itu, aku pulang ke Yunnan cepat pula. Namun, segalanya akhirnya terlambat.<br />
Keluarga Meng telah terkena racun pemusnah raga yang masih dalam proses pengembangannya dan ditambah obat ilusi<br />
Racun pemusnah raga saat itu belum seganas beberapa puluh tahun kemudian. Atau mungkin, Dewa bumi mengubah formulanya. Membuat racun tidak begitu ganas, tetapi penularannya luar biasa hebat. Dia ingin memusnahkan seluruh penduduk kota Yunnan&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kejam sekali&#8230;.&#8221; sahut wanita cantik di sebelah pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, pekerjaannya dianggap selesai benar. Tetapi, tidak pernah disangkanya. Aku sampai, dan membunuh kesemuanya terlebih dahulu. Aku masih mengingat malam itu dengan sangat baik&#8230;&#8221; tutur Duan Taizi.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Kau sudah membunuh seluruh keluarga saudaramu.&#8221; tutur Chen Yang dengan sinis.</span></p>
<p><span>Duan Taizi menatapnya dengan serius. Matanya yang tajam sekejap membuat takut dan gemetar Chen Yang sesaat. Lantas, pemuda itu kembali mengubah &#8220;wajahnya&#8221;. Dia kembali terlihat lembut.<br />
&#8220;Sampai saat kematiannya&#8230; Adik Meng tidak pernah tahu bahwa akulah orang yang menjagal keluarganya sendiri.&#8221;</span></p>
<p><span>Beberapa orang heran. Meng Yangchu masih berdiri di sini, kenapa dikatakan bahwa sudah mati? Sungguh cukup aneh. Perhatian beberapa orang sempat menajam menatap Meng Yangchu palsu tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Pantas saja kau berdiam, bersembunyi, bertapa karena takut akan kutukan langit kepadamu.&#8221; Chen kembali mengejeknya.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda salah tuan. Bukan karena membunuh orang yang hanya jumlahnya belasan lantas membuatku menyesal benar.&#8221; jawab Duan Taizi sambil tersenyum simpul.<br />
&#8220;Lantas&#8230;<br />
Kepala keluarga Wang yang tidak bersalah sama sekali itu. Dibantai oleh seseorang yang sedang berdiri baik disini.&#8221; sahut pemuda sambil menatap ke arah Meng Yangchu palsu.</span></p>
<p><span>Meng malah tersenyum sangat besar. Dia kemudian berkata.<br />
&#8220;Aku sudah berhasil menipu kitab-mu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tujuanmu sejak awal memang kitab. Sangat disayangkan aku baru menyadari beberapa tahun yang lalu.&#8221; tutur pemuda.</span></p>
<p><span>Semua perkataan keduanya membuat Jieji terkejut. Dia berkeringat dingin seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Akulah orang yang sengaja menyamarkan Meng Yangchu yang asli dengan kepala keluarga Wang. Aku melakukan mutilasi terhadap dirinya, sehingga meski keluarga Wang pun susah mengenalinya.&#8221; jawab Meng Yangchu dengan tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak pernah tahu sampai beberapa tahun lamanya. Meski sekalipun aku tahu, tidak layak aku mencurigai saudara angkatku satu-satunya. Dari sanalah aku tertipu mentah-mentah olehmu.&#8221; tutur Taizi dengan wajah serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar sekali&#8230;<br />
Meng Yangchu saudaramu kubius, kutukar wajahnya dengan wajah kepala keluarga Wang yang hari sebelumnya saat itu telah kulenyapkan. Dan pada malam berpetir dan hujan deras, aku memotong seluruh tubuh Meng Yangchu asli dan melanjutkan hidup Meng sendiri. Saat itu, andalah orang yang terbodoh karena frustasi terhadap masalah keluarga Meng. Berjanji sendiri, berpergian mencari Dewa Bumi yang sebenarnya sudah berada di Heilong Jiang. Inilah kesempatanku satu-satunya.&#8221; sahut pemuda berbadan besar luar biasa itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Sahabatku&#8230;<br />
Kau menipu semua orang di dunia dengan begitu mudah&#8230;&#8221; tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda dari arah samping kanan Duan Taizi menyahut. Semua sesaat memandang ke arah suara tersebut diperdengarkan. Mata pemuda yang berbicara sangat sayu, nafasnya memburu sebentar dan beberapa kali dia menggelengkan kepalanya. Dia tiada lain adalah Xia Jieji yang berdiri dengan tubuh sedikit gemetar.</span></p>
<p><span>Meng Yangchu yang berada di sini melihatnya dengan tatapan lama. Lantas kemudiannya dia gusar.<br />
&#8220;Kau!! Kau sudah menuduhku sedemikian rupa. Lantas mengatakanku adalah sahabatmu kembali? Apa maksudmu Tuan Xia?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aku benar-benar bersalah terhadap kasus keluarga Meng. Perkiraanku benar salah besar. Tidak disangka kamu berada dibelakangnya, sahabatku. Pantas saja sangat susah orang untuk mencarimu sebab kamu sudah hidup sebagai orang lain selama 30 tahun lamanya.&#8221; sahut Jieji dengan mata yang tiba-tiba melinangkan air mata kesedihan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia adalah salah satu detektif terbaik sepanjang zaman. Maka daripada itu, beberapa kelemahan kejahatan sudah ditutupinya dengan begitu mudah.&#8221; tutur Taizi sambil melihat ke arah Meng.</span></p>
<p><span>Meng melihat dengan dalam ke arah mantan putra mahkota Tali ini mendalam. Cukup lama juga, terakhir dia tertawa terbahak-bahak.<br />
&#8220;Tidak perlu lagi sepertinya kusembunyikan jati diri asliku.&#8221;<br />
Sambil berkata-kata, Meng membuka topeng wajahnya. Dia buka bajunya yang sebenarnya kebanyakan terdiri dari bantalan kapas, melepas sepatu yang membuatnya tambah tinggi. Dan tanpa perlu waktu yang lama, dia sudah berubah. Meng yang besar, tinggi, dan kokoh berubah menjadi seorang kurus, bermuka bulat, matanya bulat. Tangan &#8220;Meng&#8221; cukup panjang meski dengan lengan yang agak kurus. Dia terlihat cukup berkharisma di wajahnya pada saat-saat tua-nya.</span></p>
<p><span>&#8220;Saudara Huang, kamu sudah menipu dunia sebegitu lama. Hilangnya Huang Qian tidak disangka malah memunculkan 2 orang yang baru.&#8221; tutur Xia Jieji pertama sambil menggelengkan kepala.</span></p>
<p><span>&#8220;Dua orang baru?&#8221; tanya Yunying yang cukup tanggap akan kata-kata suaminya barusan.</span></p>
<p><span>Sebelum Jieji menjawab pertanyaan isterinya, kemudian putera mahkota segera mendahuluinya.<br />
&#8220;Betul sekali&#8230; Tidak disangka kamu betul tahu meski berdasarkan analisis untung-untungan. Huang Qian yang dahulu lenyap, digantikan oleh Meng Yangchu dan Ketua partai Jiu Qi. Bukan begitu?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying terkejut. Dia melongo melihat kiri kanan. Di kiri dia melihat wajah suaminya yang tersungging bibirnya. Begitu pula, di arah kanannya dia melihat putra mahkota sambil menyunggingkan senyumnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Memang&#8230;<br />
Analisis tebak-tebakan seperti demikian justru sering dilakoni oleh seorang detektif. Bukan begitu saudara Huang? Ini hal adalah hal yang sering sekali diajari olehmu.&#8221; sahut Jieji melihat ke arah Huang Qian.</span></p>
<p><span>Huang, tersenyum sambil melihat sekeliling. Dan kemudian, dia berhenti ke arah Duan Taizi.<br />
&#8220;Sejak kapan kau sudah betul menyadari aku bukanlah Meng Yangchu yang asli?&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda yang ditanya, segera menggeleng kepalanya perlahan.<br />
&#8220;Sejak beberapa hari yang lalu saja.<br />
Dahulu, karena sangat kupercayai saudaraku Meng Yangchu, maka daripada itu tidak pernah sekalipun aku curiga ataupun kesal karena dia merebut kitab satu-satunya peninggalan ayahku. Tetapi, lama kelamaan aku sudah merasa mulai janggal. Terutama karena selain mencuri kitab, kamu juga sering sekali melakukan tindakan gelap di belakang.<br />
Kasus tewasnya Ma Fongpao di Jiangling, Kasus pencurian emas 10,000 tael keluarga Wang di Hanzhong, hingga kasus utara yang sangat terkenal di kalangan sendiri : Pembunuhan Yue Liangxu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Xia Jieji melihat dengan berkerut alis ke arah Duan Taizi, dia bermaksud mengeluarkan suara. Tetapi putra mahkota kembali melanjutkan perkataannya.<br />
&#8220;Sebenarnya semua hal adalah sangat gampang dan tidak rumit. Adalah anda yang berdiri di belakang semua kejadian sehingga sangat terlihat rumit. Tujuan anda tentunya mengaburkan semua penyelidikan pihak yang ingin tahu maupun pihak berwajib. Hebatnya adalah, semua petugas kepolisian dari Yunnan hingga Zitong, Chengdu adalah orang-orang partai Jiu Qi. Dan ada hal yang betul kusalut kepadamu, Gao Jianshen tidak pernah menyadari bahwa kamu adalah Meng palsu meski berada disampingmu puluhan tahun.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak semua hal memang kulakukan.&#8221; jawab Huang Qian pendek saja membalas perkataan pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Setelah meyakinkan bahwa tiada orang yang mengetahui anda adalah Huang Qian. Anda mulai bertindak biasa sampai 5 tahun mendatang. Sampai suatu saat, ketika kita duduk berdua. Anda berniat meminjamkan kitab tingkatan kesembilan jurus tapak buddha Rulai kepadaku.<br />
Karena persaudaraan, maka aku meminjamkannya kepadamu. Dan selang 2 hari kemudian sesuai janji anda. Kitab dikembalikan kepadaku dengan baik sekali.<br />
Saat itu, tidak pernah aku merasa curiga kalau kitab sudah disalin oleh anda. Tepatnya selain disalin, kitab itu juga diubah tulisannya&#8230;&#8221;<br />
tutur putra mahkota sambil menegandah.</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, pantangan membaca buku dari ayahmu sudah diabaikan olehmu. Kamu tidak termasuk orang yang berbakti karena diam-diam malah mempelajarinya.&#8221; tutur Huang Qian terlihat sinis.</span></p>
<p><span>Namun orang yang disindir, menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Kitab itu, sudah kupelajari jauh hari&#8230;<br />
Jauh hari sebelum kita berkenalan saudaraku&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Huang terlihat terkejut. Baginya, putra mahkota Tali adalah orang yang jujur, pintar, bijaksana. Namun, masih banyak hal yang masih menjadi misteri baginya meski sudah berkawan maupun berlawan dengannya selama kurun waktu hampir 30 tahun lamanya.<br />
Huang yang mendengar pernyataannya, segera menatap tajam.<br />
&#8220;Lantas kenapa tidak mempelajarinya sendiri? Bukankah ilmu kungfu no.1 sudah kamu ketahui sejak awal? Tapak buddha Rulai tingkat sembilan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aku yakin kamu juga pernah membacanya sebab kamu adalah seorang pesilat yang menguasai tapak buddha Rulai hingga tingkat kedelapan. Tentu tingkat kesembilan tidak pernah terabaikan seharusnya.&#8221; sahut Duan Taizi.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Setelah kubaca, beberapa kali kulatih. Tingkat kedelapan sudah kudapatkan jauh hari sebelumnya karena mengetahui rahasia Yang Jian, kaisar dinasti Sui. Aku mendapatkannya berkat kerja sama dengan Dewa Bumi di Heilong Jiang. Anehnya, tingkat kesembilan malah tidak sanggup kupahami.&#8221; jawab Huang Qian dengan wajah yang kurang puas.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu karena, kamu tidak terlahir di daerah India. Kamu tidak terlahir untuk membaca kata-kata perhuruf. Mengganti aksara India ke bahasa daratan tengah. Mengutip hal yang perlu dan membuang hal yang tidak perlu.&#8221; jawab pemuda dengan datar.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa??&#8221;<br />
teriak Huang seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Rahasia kitab sudah kukatakan kepadamu. Sayang sekali memang&#8230;<br />
Karena buku aslinya sudah dilenyapkan oleh anda. Meski anda mengingat perhuruf kembali. Tidak ada kertas asli yang bisa dicelupkan ke air, maka tindakan anda sia-sia. Tapak buddha tingkat kesembilan sudah menjadi mimpi..<br />
Mimpi yang tiada berkesudahan&#8230;&#8221; tutur Duan Taizi sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Huang berdiri terpaku seakan tidak percaya kata-kata barusan dari Duan Taizi.</span></p>
<p><span>&#8220;Oya&#8230;<br />
Aku lupa memberitahumu&#8230;<br />
Pemuda yang kamu pinjam lihat kitab asli tersebut. Akhirnya memang menguasai kitab tapak buddha rulai tingkat kesembilan. Namun, hasilnya&#8230;<br />
Nyawanya sudah terancam. 17 organ dalamnya sudah rusak total ketika pertama kali dipelajari. Selang setahun, 34 organ utama dalam tubuh akan mengalami kelumpuhan. Dan setahun pas kemudian, dia akan kehilangan penglihatan, pendengaran, rasa serta segalanya. Dan hidupnya hanya menjadi beban selama 7 tahun yang membuatnya tewas menggenaskan kemudian.&#8221; tutur Duan Taizi kemudian dengan panjang lebar.</span></p>
<p><span>Mendengar perkataannya, Huang tidak percaya sama sekali. Dia meneriak keras &#8220;Omong kosong!&#8221;. Di sampingnya pria berusia 30-an, terkejut tiada terkira. Dia memandang putera mahkota seakan tidak percaya sama sekali. Wajahnya pucat bagaikan kertas sesaat, matanya mengecil, alisnya mengerut luar biasa.<br />
Dia menanyai pemuda dengan segera.<br />
&#8220;Dengan begitu&#8230;<br />
Adik angkatku sudah tidak punya harapan hidup?&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda yang duduk, segera melihat ke arah Xia Jieji. Dia tersenyum simpul sambil menjawabnya.<br />
&#8220;Dia masih hidup dengan baik. Masih cukup banyak waktu baginya&#8230;<br />
Cukup banyak&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji bagai disambar geledek. Dia memiliki sesuatu pemikiran yang sampai sekarang tidaklah berani diutarakannya. Dia berniat menanyai putra mahkota, tetapi lantas dia urungkan niatnya terlebih dahulu. Sebab dia ingin tahu apa hal sebenarnya yang terjadi kemudiannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Setelah mengembalikan kitab kepadaku. Diam-diam anda menaruh racun pemusnah raga di balik kitab. Ini hal baru kuketahui setelah salah seorang murid anda yang tamak keracunan, tewas seketika di kuil Zhu Fu. Sungguh, saat itu aku tidak pernah percaya apa yang sudah anda lakukan. Tepatnya, dilakukan oleh saudaraku yang difitnah meski dirinya sudah di alam baka.&#8221; tutur Duan mengenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Inilah kelemahan manusia&#8230;<br />
Kau sudah tahu bahwa aku bukan Meng Yangchu yang asli. Tetapi tidak pernah sekalipun dirimu turun tangan.&#8221; jawab Huang.</span></p>
<p><span>Pemuda, segera berdiri. Dia berjalan pelan dengan gaya yang terlihat sangat berkharisma. Jongkok dan mengambil benda yang tadinya sudah dibuang oleh Huang Qian. Tiada lain tentunya adalah wajah Meng Yangchu asli. Kulitnya di rendam obat, dijemur sebulan penuh sehingga meski melekat sudah puluhan tahun di wajah Huang, tidaklah rusak.<br />
&#8220;Adalah karena ini saja&#8230;<br />
Karena ini, aku tidak pernah turun tangan kepadamu.&#8221;</span></p>
<p><span>Wajah Duan Taizi segera berubah, dia berubah ganas dengan cepat sekali. Tadinya, wajahnya sangat tenang sekali bagaikan orang yang hidup dengan bahagia. Kali ini, dia berubah menjadi singa kelaparan yang siap melahap mangsanya.</span></p>
<p><span>Huang Qian yang melihat keadaan, segera beranjak mundur tiga empat langkah. Sementara itu, Chen Yang berdiri di depan dengan angkuh. Di sampingnya ikut Xia Rujian.<br />
&#8220;Anakku&#8230;<br />
Hari ini adalah urusan kita. Aku rasa kamu tidak pernah akan ikut campur barang sekalipun bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Puteriku&#8230; Apa yang dilakukan oleh suamimu tentu juga bakal dilakukan olehmu bukan?&#8221; tanya Wu Shanniang ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>Apa maksud perkataan Xia Rujian dan Wu Shanniang sangatlah jelas sekali. Jika Duan Taizi hanya sendirian, mustahil mereka berempat yang merupakan jago kelas tinggi tidak sanggup melawannya. Jika dibantu Xia Jieji dan Wu Yunying, jelas sekali mereka sudah di bawah angin.</span></p>
<p><span>Xia Jieji maupun Wu Yunying tidak pernah menjawab. Mereka melihat ke depan dengan mata yang tajam.<br />
Duan Taizi segera dihampiri kedua temannya. Satunya adalah wanita cantik dan Gao Jianshen. Keduanya terlihat telah siaga bertarung.<br />
Tetapi, Duan malah mengangkat sebelah tangannya. Maksud darinya adalah menahan wanita dan orang tua untuk bergebrak.<br />
Tentu keduanya sangatlah heran. Meski keduanya tahu bahwa Duan Taizi adalah pesilat hebat. Namun keduanya tidak pernah tahu kemampuannya adalah sampai dimana.</span></p>
<p><span>Wanita cantik tersebut sangat heran. Dia tahu bahwa ilmu kungfunya adalah dipelajari dari pemuda selama 10 tahun lebih. Namun, seberapa dalam kemampuan bertarungnya sangatlah jarang pernah terlihat olehnya sendiri.</span></p>
<p><span>&#8220;Empat orang mengeroyok seorang. Apakah tidak malu kalian?&#8221; teriak wanita cantik dengan agak marah.</span></p>
<p><span>Namun, Yunying telah berjalan ke depan diikuti Jieji. Mereka berdua menarik wanita cantik itu dan Gao Jianshen ke belakang.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak usah takut&#8230;&#8221; sahut Jieji kepada Gao Jianshen dengan wajah tersenyum.<br />
Begitupula Yunying menenangkan wanita ini.</span></p>
<p><span>Duan Taizi telah terlihat serius. Berbeda dengan keempat lawan di depannya, kesemuanya sedang mengerahkan tenaga dalam pemusnah raga. Sebaliknya Duan sama sekali tidak terlihat mengerahkan tenaga dalamnya, melainkan dia menarik sebuah pedang dari samping pohonnya yang tergantung.<br />
Pedangnya tidaklah tajam dan berbahaya seperti pedang biasa. Tetapi pedang terlihat agak panjang sedikit namun keras. Dia pegang di tangan kanannya dengan menunjuk ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Cari mati! Kau melawan kita berempat dengan pedang jelek itu?&#8221; tanya Chen Yang sambil tertawa.</span></p>
<p><span>&#8220;Untuk ukuran pesilat seperti kalian, hanya pedang sedemikianlah yang pantas.&#8221; jawab Duan Taizi.</span></p>
<p><span>Jieji berempat sudah mundur jauhnya 30 kaki. Mereka melihat ke depan dengan serius. Gao dan wanita cantik terlihat cukup cemas, wajah mereka berubah dan terlihat seakan takut.<br />
Jieji tersenyum sebentar melihat ketenangan Duan Taizi, dan dia tahu bahwa pemuda tersebut bukanlah manusia sembarangan yang menerima tantangan lawan yang semuanya menguasai Ilmu pemusnah raga.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Daerah Sizhuan&#8230;<br />
Ketenangan tempat tersebut yang biasanya selama setahun yang luar biasa damai telah berubah semenjak kemarin. Saat tempat tersebut dilewati oleh 2 pesilat jago sejagad. Mayat bergelimpangan, darah mengalir bagaikan sungai. Bau amis tercium tajam luar biasa.<br />
Jumlah jasad mungkin sudah ratusan orang. Namun, orang yang hidup disini ternyata hanyalah 3 orang saja. Dua orang berdiri terpaku di salah satu jurang bukit yang dalam. Sedangkan seorang sedang berjongkok, melihat ke bawah dengan cemas. Wajahnya terlihat putih dan air mata dari pipinya masih terlihat mengalir. Dia adalah seorang gadis yang umurnya hanya 20 saja. Cantik terlihat dengan pakaian sederhana namun sangat pas.</span></p>
<p><span>Orang yang berdiri salah satunya adalah Yuan Jielung, dan di sampingnya adalah salah satu pendekar no. 1 sejagad juga, Dewa Lao.<br />
Wajahnya tidak begitu berubah. Dia berjalan pelan ke arah gadis cantik, membimbingnya berdiri dengan perlahan.<br />
&#8220;Sudahlah&#8230;<br />
Mungkin betul ini adalah takdir. Muridku tidak sempat kuselamatkan, sangatlah disayangkan.&#8221;<br />
Berkata sampai disini, wajah gadis kembali murung. Dia terlihat menangis kembali, tetapi kali ini lebih parah dari sebelumnya.<br />
Yuan menundukkan kepalanya, wajahnya sangat menyesal sekali. Dia juga terlihat meneteskan air matanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayah! Kita harus mencari kakak kelima secepatnya. Mintalah dia balaskan dendam kakak pertama&#8230;&#8221; teriak gadis kecil yang adalah Yumei, adik terkecil dari Xia Jieji dari keluarga Xia.</span></p>
<p><span>Yumei memanggil Dewa Lao dengan sebutan ayah?<br />
Kedengarannya memang cukup aneh. Yuan memang terkejut, dia tidak mempercayai bahwa Dewa Lao ternyata mempunyai seorang puteri yang cantik. Namun, karena saat ini bukanlah saat yang tepat. Maka dia tidak berniat menanyainya.</span></p>
<p><span>Dewa Lao mengangguk pelan. Dia menatap ke arah selatan sambil berkata.<br />
&#8220;Tali tidak begitu jauh dari sini. Satu hari satu malam dengan kecepatan kuda tinggi, maka kita bisa sampai.&#8221;</span></p>
<p><span>Yuan diminta secara langsung oleh Dewa Lao.<br />
&#8220;Tuan Yuan&#8230;<br />
Bisakah anda membawa berita buruk ini ke ibukota? Katakanlah bahwa Jenderal Yang telah jatuh ke dalam jurang dalam pertarungan hebat selama sehari semalam. Nasibnya tidak diketahui sama sekali, dan&#8230;<br />
Dia jatuh ke jurang bersama-sama dengan Wei Jindu.&#8221;</span></p>
<p><span>Yuan memberi hormat dengan dalam. Dia akan mengundurkan dirinya tetapi hatinya masih terasa cemas sangat.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak usah khawatir&#8230;<br />
Aku akan mengurus hal di selatan dengan baik.&#8221; sahut Dewa Lao memastikan dengan suaranya yang agung.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Hutan kecil Pa kwa&#8230;</span></p>
<p><span>Pengumpulan energi dari empat orang sepertinya telah selesai. Energi berdesir dan terasa panas mengoyak dirasakan siapa saja.<br />
Seperti tadinya, Duan Taizi belum sempat mengubah arah pedang yang runcing yang ditunjukkan ke Chen Yang.<br />
Dia melihat serius saja dan sepertinya tidak akan mengambil langkah menyerang terlebih dahulu.</span></p>
<p><span>Mereka berempat memang cukup heran melihat pose lawannya yang tidak bergerak namun sinar matanya tajam ke depan. Tangan kirinya terlihat di arahkan ke belakang, sementara dengan mengancangkan pedang menyamping ke arah empat orang. Pemandangan disini memang sangatlah bagus. Pesilat-pesilat hebat sudah mulai akan bertarung satu sama lainnya.</span></p>
<p><span>Penonton sepertinya sedang hampir tidak sempat bernafas melihat keseriusan hawa pertarungan di depan mereka masing-masing.<br />
Akankah seorang putera mahkota sanggup seorang diri menghadapi semua lawan-lawannya yang ganas itu?</span></p>
<p><span>Dengan satu teriakan hebat, sepertinya ada pihak yang betul sudah tidak sabar menanti. Tentu pihak Chen yang memulai serangan terlebih dahulu.<br />
Dalam ilmu kungfu pemusnah raga yang termahsyur, sebenarnya hanya 3 tingkatan yang mengajarkan menyerang. Sedang dua tingkatan pertama selain bertahan, dan mengelak tiada berupa serangan berbahaya apapun.<br />
Tentu mengambil inisiatif menyerang, keempatnya mengerahkan tingkatan ketiga dari Ilmu pemusnah raga.</span></p>
<p><span>Dengan majunya keempat orang, maka pertarungan betul sudah dimulai.<br />
Keempat orang, mempunyai kecepatan yang luar biasa tinggi. Chen memang jauh lebih unggul daripada ketiga orang temannya. Dia tidak ingin menyerang dahulu mendahului teman-temannya. Maka daripada itu, dia tidak menggunakan kemampuan sesungguhnya saat ini.</span></p>
<p><span>Duan Taizi tahu benar, bahwa gerakan menyerang keempat orang di depannya adalah sangat cepat. Pedang memang sudah diarahkan ke depan tadinya. Dan diluar dugaan siapapun yang melihatnya&#8230;.</span></p>
<p><span>Duan Taizi tidaklah menyerang ataupun bertahan&#8230;<br />
Dia meletakkan sambil menancapkan pedang ke tanah. Sedangkan tangan kirinya yang tadinya sengaja disampingkan ke belakang telah ditunjuk maju ke depan. Jarinya di arahkan ke arah empat orang penyerangnya secara langsung.<br />
Lawan tidak pernah mengira apa yang sedang dilakukan oleh Duan Taizi.<br />
Sedangkan Jieji yang melihat gerakan awal Duan yang jelek, malah merasa terkejut kagum.</span></p>
<p><span>Baik Chen Yang, Wu Shanniang, Xia Rujian dan Huang Qian. Keempat orang tiada tahu apa yang sedang dilakukan lawannya. Mereka telah menghantam dengan tapak kuat. Namun berbareng terkejut, keempatnya terlontar mundur ke belakang dengan sangat pesat sekali.<br />
Tiada yang tahu apa yang sedang terjadi dengan keempat orang, namun terlihat jelas bahwa keempat orang terdorong oleh suatu tenaga yang tiada tampak oleh mata.</span></p>
<p><span>Keempat orang bukanlah pesilat tingkat rendahan. Mereka mengetahui sangat baik bagaimana lawan &#8220;melukai&#8221; mereka dengan hebat sekali.<br />
Dan setelah turun, keempat orang melihat ke arah tangan masing-masing.<br />
Darah sedang mengalir meski sepertinya adalah luka goresan belaka. Lima goresan yang cukup dalam membuat mereka terkejut sesaat.</span></p>
<p><span>&#8220;Jurus jari setan seperti demikian memang pernah kudengar. Namun, kali ini menyaksikannya baru percaya.&#8221; tutur Chen Yang melihat ke arah temannya.<br />
Namun, belum sempat keempatnya saling tanya jawab. Di depan mereka masing-masing telah terasa hawa kehadiran yang sangat cepat sekali.</span></p>
<p><span>Keempatnya mau tidak mau sangatlah terkejut luar biasa.<br />
Pedang yang tadinya tertancap di tanah sudah tidak berada di tempatnya lagi. Duan Taizi kali ini memulai penyerangan sebelum lawannya betul siap. Arah pedang segera diarahkan ke Wu Shanniang. Lawan terlemah diantara keempat orang tersebut.<br />
Gerakan pedang Duan Taizi memang sangat jelek, sepertinya dia tidak pernah menguasai ilmu pedang.<br />
Meski kecepatannya sangat tinggi sekali, namun gaya menyerangnya betul sangatlah terbuka sekali membuat lawannya yang melihat gerakannya segera meremehkannya.</span></p>
<p><span>Jieji mengenal lafalan dari gerakan Duan Taizi dengan baik. Meski agak sama, namun sepertinya gerakan seperti itu adalah gerakan yang cukup berbeda dengan gerakan yang dipelajarinya.</span></p>
<p><span>Wu Shanniang melihat lawan sedang mengincar tenggorokannya segera mencabut golok dari belakang pinggangnya. Dengan jurus golok, dia melayani tusukan pedang lawannya.<br />
Tetapi belum saja golok menyentuh pedang, pedang sudah berbelok sangat cepat.<br />
Kali ini incarannya adalah Huang Qian. Huang yang tidak pernah tahu bahwa jurus pedang seperti demikian ternyata sangatlah berbahaya itu, tidak siaga. Arah pedang adalah dadanya yang terlihat sangat terbuka tanpa pertahanan.</span></p>
<p><span>Chen Yang melihat Huang dalam saat yang berbahaya, segera mengibaskan tangannya sekali. Dari arah lengan bajunya terdapat sebilah belati yang disabetkan langsung ke Duan Taizi.<br />
Namun, serangan pedang Duan Taizi yang sudah hampir mengenai dada Huang Qian telah berubah arah. Pedang tidak ditarik, melainkan jalur pergerakannya bagaikan air ombak yang mengalir dahsyat.</span></p>
<p><span>Segera pedang mengambil korban dengan sangat cepat. Tusukan itu memang mengarah ke arah belati penuh tenaga dalam dari Chen Yang. Dan sesaat kelihatan bahwa tusukan pedang kalah hawanya.<br />
Tetapi ternyata pedang yang terlempar akibat tenaga dalam Chen Yang tidak berhenti dan telah mengincar Xia Rujian meski sedang terlepas.</span></p>
<p><span>Pergerakan awal pedang yang sangat bagus sekali walaupun gayanya sesungguhnya sangat kacau luar biasa. Pedang &#8220;terbang&#8221; ke arah bahu Xia Rujian dengan hebat. Sebelum sempat dia bertindak, dia bertahan cepat. Mengerahkan tenaga dalamnya untuk memblokir pesatnya pedang yang terakhir terhantam ke tangannya. Suara &#8220;krek&#8221; terdengar cukup jelas bagi siapapun disana pertanda tulang tangan orang sudah patah seiring terlihat &#8220;terbangnya&#8221; pemilik tangan menyeret tanah berumput.</span></p>
<p><span>Chen Yang, Huang Qian dan Wu Shanniang melihat Xia Rujian telah menjadi korban pertama langsung gusar berbarengan. Mereka menghantam tapak ke arah Duan Taizi bersamaan. Namun, seiring kibasan tangannya ketiga orang kembali terpental sekali lagi. Ini adalah jurus jari yang luar biasa hebat itu.</span></p>
<p><span>Wanita cantik dan Gao sangat bergembira melihat pertarungan pemuda yang pertama disangka jauh dibawah kemampuan mereka berempat yang ternyata malah di atas angin sedemikian lamanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang menyerang kita di kuil Zhu Fu bukanlah dia. Tetapi&#8230;&#8221; sahut Yunying tersenyum melihat ke arah Jieji.<br />
Jieji telah serius melihat ke arah Xia Rujian, dia berniat maju melihat luka dalam ayahnya. Namun, dia dihalangi oleh Yunying.<br />
&#8220;Aku rasa dia tidak mengapa, hanya patah tulang di tangan saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menatap Yunying sesaat, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah pertarungan luar biasa kembali.</span></p>
<p><span>Ketiga lawan terpental sebentar dan terlihat terdesak hebat.<br />
Duan Taizi tidak pernah memberikan kesempatan, sebab kali ini sebelum mereka benar berhenti akibat seretan tenaga dalamnya. Dia mengarahkan kembali jari ke depan. Dan terlihat dia kibaskan sekali lagi.<br />
Kali ini, sangat berbeda. Tadinya adalah hawa pedang tidak berwujud yang muncul dari setiap jarinya. Namun, kali ini suara desiran kuat mengikuti pedang tak berwujud tersebut.</span></p>
<p><span>Kontan saja, ketiga orang mengumpulkan energi satu tarikan nafas. Ketiganya menggunakan kemampuan terbaik mereka, Ilmu pemusnah raga tingkat kelima untuk memblokir serangan &#8220;setan&#8221; tidak berwujud itu.<br />
Suara keras terdengar akibat teriakan hebat ketiga orang. Menggunakan jurus yang sama, terlihat ketiganya bakal di atas angin. Tapak tiga pasang di arahkan ke depan, tempat melajunya jurus jari nan sakti tersebut.<br />
Namun, sepertinya hasilnya cukup mengejutkan. Desiran suara jari pedang tak berwujud sudah berhenti penuh. Ketiganya sempat girang sesaat melihat ke depan. Tetapi tidak perlu waktu satu kedipan mata, ketiganya terkejut luar biasa. Sebab terdengar suara seseorang dari belakang menyahut mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Pemusnah raga memang hebat, namun pertahanan berlipatnya jelas tidak ada.&#8221;</span></p>
<p><span>Ketiganya mendengar suara yang sama, kontan berpaling. Yang mereka lihat adalah pedang dan jari yang sangat dekat dengan wajah ketiganya. Mungkin hanya terpaut 1 kaki dari ujung pedang maupun jari. Arah pedang sedang diarahkan ke arah Chen Yang. Sedangkan arah jari terlihat di arahkan ke Huang Qian dan Wu Shanniang.</span></p>
<p><span>Istana kerajaan Sung, Kaifeng&#8230;</span></p>
<p><span>Sudah banyak sekali pejabat yang berkumpul di ruangan. Kesemuanya berbaris dengan amat rapi merapat ke kiri maupun ke kanan.<br />
Jenis pejabat dari arah luar jika dilihat, yang berbaris di sebelah kiri adalah pejabat berpakaian formal militer. Sedangkan di sebelah kanan adalah pejabat berpakaian formal sipil. Muka kesemua memang sedang serius-seriusnya. Sepertinya ada sesuatu yang betul mengkhawatirkan ke semuanya.</span></p>
<p><span>Seorang pemuda berumur sekitar 40-an sedang duduk santai di singgasana tengah. Berpakaian warna keemasan dengan topi berwarna emas. Siapa lagi jika bukan Zhao Kuangyi, Kaisar Sung Taizong tersebut.</span></p>
<p><span>Ruangan terasa sangat pengap. Bukan pengap karena panasnya hawa musim panas yang baru menjelang. Tetapi karena sesuatu perbincangan istimewa yang terjadi di ruangan.</span></p>
<p><span>Kaisar yang melihat pemandangan yang terasa serius sekali serta keheningan yang terasa sangat pekat, segera membuka suaranya.<br />
&#8220;Menurut pejabat militer, sebahagian besar ingin berserikat dengan Jin. Sedangkan pejabat sipil malah berpikir sebaliknya. Pejabat Yan&#8230; Bagaimana menurutmu?&#8221;</span></p>
<p><span>Orang yang dipanggil adalah berasal dari pejabat sipil kerajaan. Dia maju setindak tanpa mengurangi rasa hormatnya. Lantas dia menjawab dengan pelan.<br />
&#8220;Yang Mulia&#8230;<br />
Jin tidak ada bedanya dengan Liao. Mereka hidup di perbatasan sebelah timur laut dari Liao.<br />
Sebenarnya luas daerah Jin hanya sekitar 50 li persegi saja. Sangat jauh dibanding Liao yang berada di sebelah selatan Jin. Meski tawaran negara kita kepadanya sangatlah baik, tetapi hamba masih yakin bahwa Jenderal negara kita sendiri masih sanggup mengatasi Liao.&#8221;</span></p>
<p><span>Seorang pejabat dari seberang segera maju. Dia memberi hormat dengan pelan sebelum pejabat Yan menyelesaikan kata-katanya.<br />
&#8220;Keputusan Yang Mulia mana mungkin bisa diganggu gugat. Yang Mulia telah meminta utusan kita pergi ratusan li. Dan kembali dengan baik bersama utusan Jin. Hamba mohon Yang Mulia tidak menarik kembali kata-kata Yang Mulia.&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao dari tadi mendengar pendapat berlainan dari kedua pejabatnya dari divisi Wen(sipil) dan Wu(militer). Meski dirinya telah bersepakat untuk bersekutu 2 minggu lalu. Namun mendengar alasan para pejabat yang menyatakan sifat kedua suku nomaden itu pada dasarnya adalah sama, membuatnya menjadi ragu-ragu benar.</span></p>
<p><span>Dia tidak menjawab atau berkata-kata lagi. Dengan tenang dan agung, dia bangkit dari kursi singgasana-nya. Dan lalu menuju ke belakang.<br />
Meski sikap Kaisar terlihat agak aneh, namun tiada orang yang sanggup mencegahnya. Mereka hanya melotot kebingungan melihat Zhao kuangyi berjalan pelan ke belakang.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya hanya PM. Cao yang sanggup memberikan Yang Mulia keyakinan..&#8221; Tutur pejabat bermarga Yan tadi sambil menghadap langit.</span></p>
<p><span>Zhao Kuangyi sebenarnya bukanlah termasuk seorang yang pebimbang. Dia adalah seorang yang sangat ideal menjadi seorang Kaisar sejati. Sifatnya yang spontan membedakan dia dengan kakak kandungnya, Zhao Kuangyin. Kuangyi terlahir dan tumbuh dalam situasi yang keras. Sekeras Zhao kuangyin adanya.</span></p>
<p><span>Namun Zhao Kuangyin, Sung Taizu sangat berhutang budi terhadap banyak orang yang betul mendukungnya. Oleh karena itu, tindakan tegas jarang sekali bisa diambil oleh sang kakak layaknya seorang adik.</span></p>
<p><span>Sehabis rapat yang &#8220;tidak usai&#8221; itu. Zhao kuangyi menuju ke kebun belakang dari istana. Dia terlihat bimbang sambil berkali-kali menghela nafas panjang.<br />
&#8220;Xia Jieji&#8230;<br />
Apa keputusan yang bakal kamu ambil jika berada di posisiku? Wilayah utara jika berhasil ditaklukkan, maka setengahnya sudah menjadi milik Jin. Apakah Jin juga akan berlaku seperti Liao nantinya?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Xia Jieji bukanlah seorang dewa.&#8221; tutur suara seseorang yang kemudian membuatnya berpaling ke arah orang tersebut.<br />
Seorang wanita yang terlihat sangat anggun sekali. Umur wanita palingan hanya 20-an. Dengan pakaian resmi kerajaan dan topi phoenix yang sangat cantik berdiri menatapnya dengan bola mata yang gemilang. Wanita tersebut tersenyum sambil memberi hormat pelan.</span></p>
<p><span>&#8220;Yelu Xiuke dan Yelu Xiezhen. Kedua kakak beradik tersebut telah mengocar kacirkan pasukan pelindung Nan-pi. Tidak lama lagi&#8230;<br />
Mungkin Kaifeng bisa dipindahkan akibat ulah kedua jenderal dari pasukan Liao.&#8221; tutur Zhao Kuangyi sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Wanita tersebut tiada lain adalah permaisuri. Dia terlihat berduka menatap Kuangyi. Tetapi, tidak lama dia mengeluarkan suaranya.<br />
&#8220;Yang Mulia tidaklah perlu terlalu berkhawatir. Hamba mempunyai cara dan daya yang sangat bagus sekali meski tanpa Xia Jieji.&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao Kuangyi terkejut sebentar sambil menatap ke permaisuri-nya yang sepertinya sangat cerdas dan memiliki banyak akal.</span></p>
<p><span>&#8220;Hamba sudah mengatur dengan sangat baik sekali. Sudah kususupkan 3 orang pembunuh terhandal ke dalam kemah musuh di utara.&#8221; Sahut sang permaisuri.</span></p>
<p><span>Zhao Kuangyi mau tidak mau terkejut mendengar perkataan permaisurinya sendiri. Dia memandang melongo cukup lama ke arah sang wanita no. 1 di daratan China tersebut.<br />
&#8220;Tiga pendekar? Siapa mereka?&#8221; Tanya Zhao kuangyi seraya tidak percaya sama sekali. Dia terlihat bergembira.</span></p>
<p><span>Permaisuri tersebut memberikan keterangan kepada-nya, tetapi tidak secara langsung.<br />
&#8220;Ketiga orang ini adalah sahabat kakekku yang sudah tidak pernah berjumpa lagi satu sama lainnya. Tidak ada yang tahu nama asli mereka sesungguhnya, bahkan kakekku sekalipun. Ketiganya bersaudara dan selalu bertindak bersama-sama. Tidak pernah ada kata GAGAL dalam upaya pembunuhan yang dirancang oleh mereka bertiga. Hanya saja, sifat mereka sangat aneh&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Masih ada orang sedemikian di jagad tersebut? Kalau mereka masih hidup, tentu umur mereka sudah di atas 80. Apakah mereka sanggup bertindak leluasa? Dan mengapa dikatakan bahwa tingkah ketiganya sangat aneh?&#8221; tanya Zhao Kuangyi yang terlihat cukup menggebu-gebu.</span></p>
<p><span>&#8220;Ketiganya mengambil tebusan yang &#8220;aneh&#8221;. Ketiganya tidak pernah menginginkan uang ataupun harta. Biasanya dengan meletakkan 10 butir biji semangka dan di bawahnya terselip nama orang serta petunjuk mencari. Maka orang tersebut dijamin akan &#8220;hilang&#8221; dalam 10 hari semenjak kesepuluh butir biji semangka hilang dari tempatnya. Dan biasanya akan mendapat balasan apa yang mereka minta&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Sebentar&#8230;<br />
Dari penuturan-mu, maka 10 butir biji semangka sudah diambil beserta suratnya. Lalu apa surat balasan mereka?&#8221; tanya Zhao Kuangyi memotong.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka menginginkan nyawa putera mahkota Duan dari Ta Li. Tetapi mereka memberi kita waktu 45 hari.&#8221; tutur Permaisuri dengan serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Putra mahkota Ta Li? Bukankah Ta Li belum pernah mengangkat putera mahkota sebelumnya?&#8221; tanya Zhao kuangyi dengan heran.</span></p>
<p><span>Permaisuri tersenyum manis mendengar tuturan Kaisar.<br />
&#8220;Betul sekali. Maksud mereka tiada lain adalah putera mahkota Ta Li sebelumnya. Dan hanya 1 orang yang mengenalnya dari kerajaan kita.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Maksudmu adalah Cao Bin?&#8221; tanya Zhao.</span></p>
<p><span>Permaisuri menganggukkan kepalanya sambil memberi hormat mendalam.</span></p>
<p><span>&#8220;Cao Bin punya seorang kakak seperguruan. Kabarnya adalah mantan putera mahkota Ta Li.<br />
Permaisuriku&#8230; Tidak disangka semuanya sudah diatur olehmu sedemikian rupa. Sepertinya kekhawatiranku sudah teratasi benar olehmu.&#8221; sahut Zhao Kuangyi setengah berteriak girang.</span></p>
<p><span>Tidak ada seorangpun yang sesungguhnya tahu bahwa sebenarnya pelaksanaan pembunuhan oleh 3 orang misterius terhadap 2 jenderal besar Liao tidak pernah terlaksana.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Kembali kepada pertarungan Putera mahkota Duan dengan 4 pendekar hebat Liao.<br />
Diancam sedemikian rupa tentu membuat ketiganya tidak percaya sama sekali. Ketiga pendekar yang melatih ilmu hebat sedemikian lamanya tidak yakin akan pergerakan yang sudah mematikan langkah ketiga orang dengan sangat cepat.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak akan membunuh. Tetapi jika ada yang ingin pergi dari sini, harap tinggalkan sebelah lengan saja.&#8221; tutur putera mahkota Duan dengan wajah yang sangat serius.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">Mau tidak mau, keempat-nya tentu sangat terkejut.<br />
Xia Rujian memang masih berbaring dan terlihat kepayahan sambil memegang sebelah tangan, namun mendengar tutur kata-kata dari Duan, dia mau tidak mau terkejut juga.<br />
Jari maupun pedang sedang diarahkan kepada titik mematikan dari wajah masing-masing. Yaitu arah sebelah mata. Jika mata ditusuk dalam jarak sebegitu dekat, maka tidak mustahil selain biji mata yang hancur maka gerakan tenaga dalam tentu akan mencapai </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/345/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/345/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=345&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 27</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-27/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-27/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[*** Sementara itu, di ruangan yang di tunjuk pemuda berprofesi kasir restoran dan penginapan Qian Li Xiang&#8230; &#8220;Hari yang membosankan&#8230;&#8221; Tutur seorang pemuda. &#8220;Selain kasus, tidak ada yang membuatmu betul terhibur&#8230;&#8221; Suara seorang wanita lembut menimpal. &#8220;Petunjuk-nya sama sekali tidak ada, bagaimana bisa kita memecahkan kasus? Dan yang anehnya adalah permintaan yang ditulis di kertas. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=344&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-344"></span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Sementara itu, di ruangan yang di tunjuk pemuda berprofesi kasir restoran dan penginapan Qian Li Xiang&#8230;</span></p>
<p><span>&#8220;Hari yang membosankan&#8230;&#8221; Tutur seorang pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Selain kasus, tidak ada yang membuatmu betul terhibur&#8230;&#8221; Suara seorang wanita lembut menimpal.</span></p>
<p><span>&#8220;Petunjuk-nya sama sekali tidak ada, bagaimana bisa kita memecahkan kasus? Dan yang anehnya adalah permintaan yang ditulis di kertas. &#8220;Hanya menulis, tunggulah 3 hari kemudian.&#8221;"</span></p>
<p><span>&#8220;Hanya orang yang tolol saja yang percaya.&#8221; Lalu terdengar tawa seorang wanita.</span></p>
<p><span>&#8220;Hmph&#8230; Kenapa harus tiga hari? Dan tiga hari telah berlalu, sekarang sudah hari keempat. Aneh sekali&#8230;&#8221; Tutur pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada orang&#8230;&#8221; tutur seorang wanita segera dengan suara yang lembut sekali.</span></p>
<p><span>Lelaki segera mengangguk pelan mengerti.</span></p>
<p><span>Ketiga orang yang barusan naik sudah sampai di depan kamar yang ditunjuk. Ketiganya melihat sesama-nya dengan wajah yang tegang. Orang di samping, berwajah bidang yang bermarga Wang segera saja mendorong atau bisa dikatakan mendobraknya dengan keras.<br />
Pintu kayu yang cukup kuat pun terbelah akibat tenaga dalam keras yang keluar dari tangannya.</span></p>
<p><span>Seiring pintu dihancurkan, ketiganya dengan siaga menyolong masuk saja ke dalam. Lantas dengan cepat, ketiganya melongo. Dalam ruangan kosong melompong membuat mereka tidak percaya benar pada kasir di bawah tadi. Tetapi ketika melihat jendela yang mengarah ke jalanan terbuka, ketiganya juga segera melihat keluar lewat jendela.<br />
Terlihat dengan sekejap adanya 2 bayangan yang meloncati atap dengan gerakan ringan tubuh hebat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kejar!&#8221; Teriak Duan Jing segera.<br />
Kedua temannya segera mengikuti perkataan adik seperguruannya. Dengan cara yang sama dan gaya melompat yang hampir mirip ketiganya mengejar.</span></p>
<p><span>Kejar mengejar sepertinya terlihat sangatlah seru sekali.<br />
Pengejaran sudah dilakukan sampai keluar kota dengan cepat ke arah timur.<br />
Dalam waktu yang cukup lama, ketiganya sudah mengejar hebat. Tetapi sepertinya kecepatan lawan di depan bukan kecepatan manusia umum, dan terlihat semakin terpisah-nya mereka bertiga dengan buruan mereka yang terdiri dari 2 orang di depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya tiga orang itulah akan mencari masalah&#8230;.&#8221; Tutur Jieji kepada Yunying sambil berpegangan tangan dan berlari hebat. Sesekali mereka melompat dengan tenang saja ketika menjumpai batu-batu yang tinggi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa tidak saja kita berhenti? Dan tanyakan ada perihal apa?&#8221; Tanya Yunying dengan wajah yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya ketiga orang di belakang pada awalnya tidak mengenal kita. Tetapi setelah pulang, mereka kembali balik. Mungkin juga ada permohonan kasus, atau ada hubungannya dengan kertas di balik bajuku?&#8221; tanya Jieji kepada Yunying dengan heran.</span></p>
<p><span>Yunying mengangguk pelan sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kita bisa saja lari, karena belum sama sekali kita kerahkan kesemua kemampuan kita. Tetapi lawan yang mengejar tentu masih setidaknya 1 tingkat di bawah kita berdua.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul, mereka mengejar dengan kecepatan maksimum mereka. Toh, kita tidak terkejar. Ayo, kita berhenti saja.&#8221; Tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Selesai kata-kata Jieji dilepaskan, mereka mendarat dengan mudah dan menoleh ke belakang.<br />
Tak lama kemudiannya, ketiganya juga telah sampai. Mereka mendarat dengan mudah sekali seperti halnya Jieji dan Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa anda sekalian?&#8221; tanya Jieji melihat ke arah ketiganya secara bergantian.</span></p>
<p><span>&#8220;Xia Jieji, Pahlawan Selatan-kah disini?&#8221; tanya Wang melihat secara serius.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum mengangguk pelan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dan tentunya dia adalah Yuan Xufen?&#8221; tanya Jia yang berada di sampingnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Yuan Xufen? Bukan dia bukan bermarga Yuan.&#8221; Tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Hmph&#8230;<br />
Wajahnya sama dengan yang dilukisan, jika bukan Yuan Xufen siapa lagi?&#8221; tanya Duan Jing menatap lurus dan serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku adalah adik perempuannya, namaku Yunying.&#8221; jawab Yunying dengan pandangan yang tajam pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Oh yah? Kalian berdua ada maksud apa di Ta-Li?&#8221; tanya Jia yang terlihat cukup pintar. Wajahnya tersenyum khas dan penuh pertanyaan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita hanya jalan-jalan saja di sini. Tidak ada maksud lain?&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ada maksud lain? Menyelamatkan Meng Yangchu yang kriminal negara kau bilang hanya jalan-jalan?&#8221; tanya Wang yang sepertinya agak tidak sabaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Meng Yangchu? Bukankah dia ada di penjara Ta-Li?&#8221; tanya Jieji yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Semalam sebelum tengah malam, dia memang benar berada di sana.&#8221; jawab Duan Jing dengan wajah kemerah-merahan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia meloloskan diri? Jadi kalian bertiga mencurigai kita berdua? Bukan begitu?&#8221; tanya Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan mencurigai. Lihatlah ini!&#8221; teriak Duan sambil melempar kertas gambaran tadinya ke arah Jieji dengan sikap yang agak marah.</span></p>
<p><span>Sepertinya kaisar Ta-li benar bukan seorang pesilat yang gampang diremehkan siapa saja. Dengan uluran tangan membentuk lemparan gulungan sepertinya mengandung tenaga dalam yang kuat.<br />
Bahkan Jieji perlu beranjak 1 langkah ke belakang mencari posisi untuk menangkap gulungan kertas. Dan baru saja ditangkap, sepertinya energi membuyar terasa mengelilingi dan membuyar segera.</span></p>
<p><span>Jika pesilat biasa yang berusaha menangkap lukisan, sepertinya telah terpental dan dalam bahaya besar. Tetapi Jieji menangkapnya dengan cukup tenang, dia membuka gulungan lukisan dengan wajah yang segera terkejut.<br />
&#8220;Jadi benar ada orang yang melihat kita berdua?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Seorang dayang istana. Mereka melihat anda berdua bersama seorang tua yang dikenalinya, sedangkan 3 orang lainnya betul tidak dikenal olehnya sama sekali.&#8221; Sahut Duan Jing.</span></p>
<p><span>&#8220;Wajar sekali kita berdua dicurigai kalau begitu. Semalam tengah malam, kita berdua berada di penginapan saja tidak kemana-kemana. Banyak orang yang bisa membuktikan alibi kita berdua.&#8221; Sahut Yunying dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Oh? Maksudmu orang-orang penginapan bisa membantu anda berdua meyakinkan alibi?&#8221; tanya Duan Jing mengerutkan dahinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali&#8230;&#8221; jawab Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji memandang ke lukisan saja, dia tidak menjawab apapun.<br />
Ketika dia benar sedang melamun, tidak dirasakannya hawa kehadiran seseorang. Tepat dari sebelah kanan-nya telah terlihat seseorang sedang berjalan pelan. Hanya Yunying yang tahu bahwa adanya seorang sedang berjalan pelan tetapi ringan sekali. Dia telah memandang ke arah orang itu.</span></p>
<p><span>Orang yang datang ini tertawa terbahak-bahak segera. Jieji yang baru saja menyadari adanya orang, segera berpaling. Dilihatnya sekilas kemudian telah membuat dirinya terkejut.<br />
Orang yang datang memiliki tinggi 5 kaki lebih saja, dan bisa dikatakan cukup pendek untuk orang daratan tengah. Mungkin tingginya hanya sekitar tinggi orang Tongyang umumnya. Berpenampakan sangat berkharisma dari wajah, agung dan sangat tenang sekali. Di kepala orang, terhias sebuah kain layaknya seorang sastrawan mulia. Tangannya sedang dikepalkan ke arah belakang punggung. Di wajah terlihat kumis panjang dan jenggot yang pendek. Jieji sangat mengenali orang tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Perdana Menteri Cao?&#8221; teriaknya dengan wajah seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>Orang &#8220;pendek&#8221; ini kemudian membungkuk hormat. Wajah dan matanya sangat ramah.<br />
Jieji segera membalas hormat orang tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Diakah Cao Bin yang namanya sangat termahsyur itu?&#8221; tanya Yunying berbisik kepada Jieji.<br />
Jieji hanya memandang sebentar ke mata isterinya dan mengangguk pelan.</span></p>
<p><span>Sementara itu, ketiga orang di arah depan Jieji segera membungkuk memberi hormat. Yang hebatnya, ketiganya segera menutur perkataan yang sama.<br />
&#8220;Guru&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Bukan main terkejut Jieji mendapati perkataan ketiga orang, dia melongo sambil memandang ketiganya.</span></p>
<p><span>***<br />
Alkisah, Cao Bin adalah menteri yang telah mengabdi kepada 3 Kaisar: Kaisar Zhou akhir, Chai Rong, Kaisar Sung Taizu, Zhao Kuangyin. Dan Sung Taizong, Zhao Kuangyi sekarang. Namanya memang sangatlah terkenal tetapi sifat dan pembawaannya tidaklah seiring tingginya Kemahsyuran nama-nya. Dia bertindak sangatlah rendah hati setiap saat, tidak pernah menonjolkan diri-nya meski dia adalah orang yang sangat pintar. Dunia berani mengatakan bahwa kepintaran Cao Bin sudah tidak ada tandingannya lagi pada zaman itu.</span></p>
<p><span>Tahun ke-5 periode Xiande pada masa akhir Dinasti Zhou, Kaisar Shizong (Chai Rong) meminta Cao Bin untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke kerajaan Wuyue. Wuyue mencoba memberinya banyak hadiah pada berbagai kesempatan, tetapi Cao Bin selalu menolak. Saat perjalanan pulang, setelah naik ke kapal, Wuyue tanpa sepengetahuan Cao Bin meninggalkan sejumlah besar emas, perak dan berbagai permata di atas kapal sebagai hadiah untuknya.<br />
Setelah kembali ke istana, Cao Bin menyerahkan seluruh harta tersebut kepada istana. Kaisar sangat tersentuh dengan sikapnya tersebut dan mengembalikan seluruh hadiah kepadanya. Cao Bin tidak ada pilihan kecuali menerima penghargaan kaisar. Setelah menerima hadiah dari kaisar, ia membagikan seluruhnya kepada kerabat dan kawan-kawannya.</span></p>
<p><span>Dalam peperangan menyatukan Sung, dia pernah ditugaskan untuk menguasai Shu Akhir dan Tang Selatan. Dan dalam peperangan yang berhasil gemilang, apalagi dalam Shu akhir. Semua menteri dan jenderal yang ikut mengambil kekayaan Kerajaan Shu akhir yang sangat makmur. Kesemuanya pulang membawa emas, cita, giok dan segala kemewahan ke kampung halaman. Tetapi lain halnya dengan Cao Bin seorang, dia pergi membawa pakaian dan buku-bukunya. Dan dia pulang tanpa membawa lebih lagi barang-nya daripada pakaian dan buku-bukunya.</span></p>
<p><span>Sung Taizu, Zhao Kuangyin pernah menanyainya suatu saat.<br />
&#8220;Dahulu, ketika aku masih Jenderal terbaik di Zhou akhir. Kenapa hanya anda sendiri saja yang tidak pernah sekalipun mengunjungi-ku sementara kesemua menteri dari pangkat atas ke bawah tiada seorangpun yang tidak bertindak demikian seperti hal-nya anda?&#8221;</span></p>
<p><span>Cao Bin memberi hormat dengan sangat hikmad, lantas dia menjawab.<br />
&#8220;Pada saat itu, aku adalah seorang menteri yang sangat dekat dengan Kaisar Zhou dan aku juga sama dekatnya dengan perdana menteri-nya. Saya memusatkan untuk memberi perhatian penuh terhadap tugas dan kewajiban, mana mungkin saat itu aku berani berteman dekat dengan Yang Mulia?&#8221;<br />
Karena jawabannya yang sangat jujur, Zhao Kuangyin sangatlah menghormati Menterinya yang satu ini.<br />
Setelah kejadian itu, baik Cao maupun Zhao memiliki hati dan ikatan batin yang sudah terikat satu sama lainnya. Yang terakhir menolong Zhao Kuangyin lolos dari maut beserta Xia Jieji juga-lah Cao Bin.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>&#8220;Budi anda sungguh sedalam lautan. Tidak mungkin aku tidak membalasnya seumur hidupku.&#8221; Tutur Jieji tiba-tiba kepada Cao Bin yang sedang menyapa murid-muridnya.<br />
Cao melihat ke arah Jieji. Dia tersenyum.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Hari itu kalian berdua cukup memiliki kemampuan untuk lari. Lantas mengapa anda menceritakan kembali hal masa lalu itu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan adanya anda, maka masalah menjadi sangat praktis. Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah selamanya.&#8221; jawab Jieji tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Sayang-nya Tuan Yuan harus menebus nyawa-nya sendiri. Seumur hidup, inilah hal yang kusesalkan saja.&#8221; Jawab Cao Bin sambil memandang langit.</span></p>
<p><span>Jieji cukup lama memandang ke depan saja, tatapannya sayu. Dia mengingat kembali dirinya dan kakak angkatnya yang sedang terkepung hebat di tembok kota Kaifeng.</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu bagaimana masalah kita?&#8221; tiba-tiba Duan Jing menanyai Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji telah sadar dari lamunan-nya kembali. Dia melihat ke arah Duan sambil tersenyum hangat.<br />
&#8220;Anda ingin memakai kekerasan atau cara damai, aku siap melayani.&#8221;</span></p>
<p><span>Cao Bin tertawa mendengar tuturan Jieji. Dia menjawab dengan agung.<br />
&#8220;Sudah lama sekali, aku mendengar kehebatan tarung Xia Jieji. Tetapi belum pernah sekalipun aku beradu dengannya. Ilmu pemusnah raga kabarnya tiada tandingan, adalah penyesalan seumur hidup bagi seorang pesilat tinggi tidak pernah menjajalinya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, Mohon maaf Tuan Cao. Anda salah alamat kali ini?&#8221; Sahut Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Mata Cao tiba-tiba melotot, dia melihat Jieji dengan heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika anda hanya ingin bertarung melawan Ilmu pemusnah raga, maka isteriku rela menjajali kemampuan anda.&#8221; Tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Cao Bin segera menoleh ke arah Yunying. Dilihatnya dengan wajah yang seakan tidak percaya. Seorang wanita cantik tetapi memiliki kemampuan dahsyat. Tanpa perlu waktu yang lama untuk berpikir, dia segera berkata.<br />
&#8220;Anda-lah wanita bertopeng misterius itu? Yang dalam 1 malam saja bisa mengacaukan setiap cabang partai Jiu Qi?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying menatapnya sambil tersenyum. Lantas mengangguk pelan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, bagaimana kita mulai saja?&#8221; Tanya Cao melihat ke arah Yunying.<br />
Sementara itu, Yunying sudah bersiaga. Kuda-kuda kedua kakinya terlihat menyamping sebentar. Dia melangkah ke samping dua tindak untuk mencari posisi penyerangan. Cao juga melakukan hal yang hampir sama, dia menatap dengan tatapan tajam setiap gerakan yang paling sederhana sekalipun.</span></p>
<p><span>Jieji sudah beranjak dari sana, dia mundur sekitar 30 kaki ke belakang untuk memberi jarak pertarungan. Tetapi ketiga murid Cao Bin sepertinya juga ingin menjajali kemampuan pemuda berjuluk &#8220;Pahlawan Selatan&#8221; tersebut.</span></p>
<p><span>Mereka menatap tajam ke arah Jieji. Sementara itu, Jieji tersenyum saja. Dia sendiri juga membentuk kuda-kuda yang kelihatannya adalah bertahan. Ketiga orang, Duan Jing, Wang Xin, Jia Shan sudah membentuk kuda-kuda menyerang dari awal. Tangan mereka terlihat membentuk jari untuk menyerang. Jari telunjuk disiapkan mereka dekat wajah ketiga-nya.<br />
Jieji menatap satu persatu dengan wajah yang cukup terkejut. Sepertinya lawannya adalah pemakai jurus jari, tetapi yang jelas dia tahu bahwa kemampuan ketiganya tidak pernah terdengar di dunia persilatan dan membuatnya sungguh merasa was-was.</span></p>
<p><span>&#8220;Xia Jieji menguasai Ilmu jari dewi pemusnah dengan sangat baik. Murid-muridku berhati-hatilah.&#8221; tutur Cao Bin dari arah samping memperingatkan.<br />
Ketiga muridnya terdengar menjawab pendek serentak saja mendengar peringatan dari guru-nya.</span></p>
<p><span>Jieji segera menyerang ke depan terlebih dahulu untuk membuka suasana pertarungan. Dia tahu benar bahwa ketiga lawan di depannya bukan termasuk lawan yang enteng. Oleh karena itu, dia telah siap merapalkan tapaknya. Tapak segera dihantamkan cepat ke arah Wang Xin yang terlihat agak ke depan. Wang sesaat menunjukkan jarinya ke telapak Jieji yang terbuka lebar.<br />
Suara dentuman tenaga dalam segera terdengar sekali. Wang terlihat di bawah angin segera, dia menyeret kaki ke belakang guna &#8220;mengusir&#8221; tenaga dalam yang masih terasa hebat menolaknya.</span></p>
<p><span>Sementara Wang telah memainkan Jurus pertamanya, Jia Shan dan Duan Jing ikut menyerang serentak. Gerakan awal keduanya adalah sama. Jari Jia Shan segera dimainkan ke arah leher Jieji, sedangkan Duan Jing segera mengincar rusuk kanan Jieji yang terbuka.</span></p>
<p><span>Melihat keadaan yang cukup berbahaya, Jieji mengangkat sebelah kaki-nya ke arah luar. Tujuan-nya tiada lain adalah menepis lengan Duan dari samping yang jarinya sedang menuju ke arah rusuknya. Tindakan Jieji berhasil gemilang, Jari Duan yang seharusnya mengarah ke rusuk, langsung menyerang ke tempat kosong.<br />
Ketika Duan sempat terkejut, dia dihantam pada punggungnya oleh kaki Jieji yang belum turun dari udara. Dalam pertarungan 1 jurus, terlihat Duan telah tertolak mundur ke belakang dan mengalami luka dalam namun tidaklah parah sama sekali.</span></p>
<p><span>Tetapi bahaya tidak sampai disini saja, sebab Jia sudah menyerang hampir mengenai sasaran. Jari yang memiliki hawa penyerangan sangat kuat sudah menusuk ke arah leher pemuda, tetapi&#8230;<br />
Dengan kenekatan, sepertinya pemuda juga melakukan totokan jari ke arah leher lawan-nya.<br />
Sebenarnya, di dalam hati&#8230; Jia sudah merasa cukup senang karena meski lawannya sanggup mematahkan jurus kedua saudara seperguruannya, namun hanya miliknya-lah yang akan mencapai sasaran.<br />
Tetapi melihat lawan melakukan gerakan jari menotok ke leher, jelas membuatnya sangat terkejut sesaat. Dengan tanpa tawar menawar, Jia menahan gempuran jari Jieji dengan sebelah tangannya lagi sambil membentuk telapak.</span></p>
<p><span>Disini, terlihat hal yang sangat aneh sekali. Sebenarnya dilihat siapapun, semua tahu bahwa Jia sudah berhasil mengenai sasarannya melalui jari tangan kanannya. Tetapi, entah apa yang sedang dilakukan oleh Jieji pada saat &#8220;waktu&#8221; yang sangat sempit, yang membuat serangan Jia justru tertarik ke belakang.</span></p>
<p><span>Jarinya mengenai ke arah kosong seiring dengan mundurnya dirinya. Jia menarik kakinya ke belakang dan mundur beberapa puluh tindak.<br />
Ternyata, serangan jari Jieji sudah mengenai tapak lawan terlebih dahulunya. Sehingga tenaga dalam Jieji lebih dulu bekerja menolak daripada sampainya serangan Jia ke leher pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah jurus pedang yang dirapalkan ke jari.&#8221; sahut Jia sambil tersenyum manis kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan.<br />
&#8220;Betul. Jurus tadi adalah salah satu dari ratusan gerakan jurus kedua Ilmu pedang surgawi membelah.&#8221;</span></p>
<p><span>Ketiga lawannya kontan heran sesaat. Semuanya tahu ada-nya jurus tersebut hanya dalam legenda, tetapi Jieji mempelajari-nya dengan sangat baik.<br />
Jika dilihat sesaat, semua orang berpikir bahwa Jieji &#8220;mencari mati&#8221;. Dengan menelan bulat-bulat serangan lawan, dia hendak beradu nyawa. Tetapi justru ini-lah keunikan jurus pedang tangan kiri yang tanpa tanding itu. Lawan memiliki lengan yang tentunya berniat bertahan karena serangan dadakan, jadi mau tidak mau lawan yang sebenarnya unggul itu terdorong mundur. Semua gerakan serta pelafalan dari Jurus pedang surgawi membelah sebenarnya adalah trik hebat dalam pertarungan.</span></p>
<p><span>Jia tertawa terbahak-bahak melihat jurusnya malah sia-sia. Dia berkata dengan puas.<br />
&#8220;Ilmu pedang yang dirapalkan jari anda hebat sekali. Jika tadinya aku tidak bertahan, maka seranganku pasti mengenai sasaran. Dan setidaknya sekarang baik aku dan dirimu tidak bisa berdiri lagi. Ilmu pedang yang memanfaatkan dan memaksakan naluri pesilat untuk bertahan memang luar biasa.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Jika adalah seorang biasa, malah jurus demikian kelihatannya tidak berlaku.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum memegang bibirnya.</span></p>
<p><span>Sementara Jieji berbicara, ketiga lawan di depannya saling melihat dan saling menganggukkan kepalanya. Ketiganya terlihat kembali bersiaga, kaki mereka sudah berkuda-kuda menyamping dan ketiganya terlihat sangat seragam merapal jari kanannya kembali. Baru hendak mereka beranjak, keempat pendekar tersebut dihentikan oleh sebuah suara. Langsung, keempat menoleh ke samping.</span></p>
<p><span>Sepertinya pertarungan Yunying dan Cao Bin sudah dimulai. Setidaknya sudah belasan jurus mungkin berdua menjalani-nya.<br />
Suara tapak berlaga dan bertahan membuat keempat orang ini menghentikan pertarungan untuk sementara.</span></p>
<p><span>Yunying dan Cao Bin sudah bertarung sambil melayang di tebing yang terlihat curam. Keduanya seakan sedang &#8220;memanjat&#8221; tebing sementara keempat telapak sepertinya saling bertahan maupun menyerang.<br />
Pertarungan yang sangat bagus dan jarang sekali terlihat di dunia persilatan, kecepatan yang sesaat bagaikan kecepatan kilat yang menyambar.</span></p>
<p><span>Cao Bin adalah penguasa kungfu telapak, dan entah jurus apa yang sebenarnya sedang diperagakannya. Meski terlihat tidak asing, tetapi perubahan jurusnya mengundang decak kagum juga bagi siapapun yang melihatnya.<br />
Sedangkan Yunying tidak melayani-nya dengan tapak berantai dahulu, dia selalu menggunakan jurus dalam Ilmu memindah semestanya yang terdiri dari 10 tingkatan itu. Dengan berbekal tenaga dalam yang tanpa tanding, sepertinya Ilmu memindah semesta terlihat cukup unggul di atas kemampuan sebenarnya Cao Bin.</span></p>
<p><span>&#8220;Pertarungan yang luar biasa mematikan!&#8221; teriak Duan melihat gerakan kedua orang tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Wanita itu sungguh sangat luar biasa. Kemampuannya mungkin beberapa tingkat di atas kita.&#8221; tutur Wang ke arah Jia dengan wajah yang serius.<br />
Jia terlihat mengelus jenggotnya, dia mengangguk membenarkan pernyataan saudara seperguruannya.</span></p>
<p><span>Sedangkan Jieji melihat kedua petarung itu dengan senyuman manis. Dia sangat yakin bahwa Yunying pasti sanggup mengalahkan Cao Bin dalam adu jurus tersebut.</span></p>
<p><span>Di satu kesempatan, kelihatan jurus Cao Bin semakin liar. Medan pertarungan mereka telah berubah, yaitu di samping tebing yang terdiri dari rumput setinggi pinggang. Yunying melayani-nya dengan tetap serius tanpa banyak berpikir. Disini kelihatan bahwa wanita lebih sering bertahan dan memanfaatkan serangan balik.</span></p>
<p><span>Sudah ratusan jurus kemudian mereka melakoninya satu sama lain, tetapi tidak kelihatan bahwa kedua manusia ini lelah. Lantas Jieji berpaling ke arah Duan, Jia dan Wang bertiga. Ketiganya segera beradu pandang dengan Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa kita hanya melihatnya saja? Meski hanya 1 jurus, tetapi tidak tentu jurus lainnya kita bakal kalah.&#8221; sahut Wang yang terlihat kurang sabaran.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum. Dia merapatkan kedua tapaknya ke dada. Hawa pertarungannya segera muncul dahsyat.<br />
Duan, Wang dan Jia segera saja menarik kaki mereka bersamaan. Ketiganya sangat kompak kelihatannya, dan langsung saja mereka dahulu melakukan penyerangan. Jari dari sebelah tangan mereka semua di tunjukkan ke Jieji. Ketiganya berniat menyerang 3 daerah berbahaya dari tubuh lawannya.<br />
Jia menyerang ke arah leher, terlihat dia menunjukkan serangan ke leher lawan meski masih terpaut puluhan kaki. Duan mengancang ke arah jantung lawan, sedangkan Wang ke arah rusuk kanan lawan.</span></p>
<p><span>Seperti ancang-ancang jurus Ilmu jari dewi pemusnah, ketiganya menyerang serentak dan kali ini terlihat serangan mereka tentunya adalah serangannya jarak jauh.<br />
Jieji dengan sabar merapatkan kedua tangannya, sampai ketika hawa jari lawan sudah keluar. Terasa 3 buah &#8220;pedang&#8221; tak berwujud sedang menyerang-nya. </span></p>
<p><span>Dan dengan sebuah teriakan pendek, tanah di sekeliling pemuda retak sebentar. Hawa angin berdesir segera saja mengelilinginya mantap. Serangan ketiga lawan memang sebenarnya adalah pas ke titik mematikan Jieji. Tetapi sebelum benar ketiga &#8220;pedang&#8221; itu sampai, sepertinya daya tolak dari energi telah memancar sambil bergulung dengan sangat baik sekali.</span></p>
<p><span>Hasilnya, hawa jari pedang ketiganya berdesir mengikuti gelombang energi Jieji yang berputar. Dengan berputarnya energi lawan, ternyata Jieji &#8220;ikut&#8221; gerakan putaran itu selama 1 kali.<br />
Lawan terkejut melihat serangan mereka kesemuanya betul gagal dalam satu kali hentakan tenaga dalam kuat. Lebih lagi kesemuanya terkejut ketika Jieji sudah berputar penuh sekali. Sebab seiring baliknya dirinya ke arah depan, kedua tapak juga sudah di arahkan ke depan.</span></p>
<p><span>Hawa bergulung tadinya, beserta energi lawan di balikkan bagaikan naga menggeliat. Disusul oleh teriakan sekali Jieji, hawa energi meluber mengarah ke ketiga dengan waktu sesaat.<br />
Melihat bahaya di depan mata, ketiganya segera beranjak mundur dengan sikap bertahan semampu mereka.<br />
Jieji tidak pernah betul serius mengerahkan energinya, dia hanya mengeluarkan tidak sampai 1/2 kemampuan sesungguhnya. Meski terlihat gelombangnya amat &#8220;liar&#8221; itu dikarekan kehebatan dari 18 telapak naga mendekam yang disempurnakan-nya tersebut.</span></p>
<p><span>Tanah di sekitar mundur-nya mereka sempat terkelupas bagaikan tikus tanah raksasa yang sedang menggali. Terlihat kemudiannya untuk membuyarkan energi Jieji sesaat tadinya cukup memakan tenaga dan waktu bagi ketiganya. Sekarang jarak mereka sudah terpisah ratusan kaki, upaya mereka memang berhasil dengan sangat baik meski ketiganya terlihat bermandi keringat.</span></p>
<p><span>&#8220;Jurus yang hebat sekali. Belum pernah sekalipun ku dengar adanya jurus sedemikian.&#8221; puji Duan Jing dari arah yang jauh sekali.</span></p>
<p><span>Jieji membalas memberi hormat. Tetapi sepertinya dia tidak begitu tertarik omong, dia segera memalingkan wajahnya ke arah pertarungan Yunying dan Cao Bin.<br />
Pertarungan kedua-nya seperti telah memasuki tingkat akhir. Keduanya siaga benar sambil mengambil jarak puluhan kaki satu sama lainnya. Sepertinya kedua orang di sini juga akan mengambil 1 kali serangan saja.<br />
Jieji yang melihat kondisi demikian, segera berkata kepada isteri yang sangat di sayanginya itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan terlalu terburu-buru, ingatlah ini bukan pertarungan hidup mati.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying menoleh sebentar ke arah Jieji, dia tersenyum manis dan mengangguk.<br />
Cukup lama keduanya berpikir akan menyerang terlebih dahulu disini, tetapi menyerang terlebih dahulu dalam jarak sedemikian jauh, memang bukanlah hal yang bagus. Hanya pesilat handal yang sanggup berpikir ke sana, jika jarak penyerangan dekat maka yang menyerang sepertinya bakal lebih unggul. Sedangkan jika jarak penyerangan cukup jauh, justru bagi penyerang malah akan lebih beresiko dari pihak yang bertahan.</span></p>
<p><span>Di sini, sepertinya Cao Bin malah lebih menguntungkan. Maka Jieji memperingatkan isterinya dengan baik-baik. Dia tahu bahwa ketiga muridnya menguasai ilmu jari tak berwujud dalam penyerangan jarak jauh tentu gurunya juga memiliki kemampuan yang sama, sedangkan Yunying justru tidak pernah menguasai jurus demikian. Adapun serangan jarak jauh Yunying hanya berdasarkan gerakan tenaga dalamnya saja, jadi untuk menyerang jarak jauh memang terasa sangat jelek. </span></p>
<p><span>Yunying bukannya tidak tahu keadaan yang memberatkan dirinya, dia terlihat maju pelan-pelan ke depan. Tetapi Cao Bin justeru sebaliknya, dia mengamati seluruh titik tubuh mematikan lawannya sambil mengancangkan jarinya. Kejar-mengejar ala kucing dan tikus terlihat cukup menegangkan di samping terlihat agak lucu.<br />
Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Dengan tiba-tiba sepertinya Cao Bin telah melihat &#8220;lubang&#8221; pertahanan lawan yang sesaat lemah. Yaitu ketika Yunying sempat melangkah ke depan sambil menyamping. Gerakan mata yang bergeser sedikit yang membuat sudut pandang-nya agak tergeser segera dimanfaatkan oleh Cao Bin.<br />
Cao Bin adalah seorang pesilat yang sangat teliti sekali, jika diubah ke Jieji sekalipun, dia tidak pernah tahu ada kasus sedemikian dalam gerakan menyerang.</span></p>
<p><span>Hawa jari yang padat tenaga dalam segera melaju kencang ke arah Yunying sesegera. Yunying memang tahu bahwa langkah-nya yang belum sempat menginjak tanah lantas sudah di&#8221;matikan&#8221; oleh lawannya. Dengan gerakan menyeret kaki, dia terlihat menarik nafas panjang sekali.<br />
Jurus lawan memang tidak-lah berwujud, lebih kuat 10 kali daripada jurus ketiga muridnya tadi. Jieji yang melihat gerakan serangan demikian, kontan merasa cemas.</span></p>
<p><span>Sambil menarik kaki ke belakang, Yunying melingkarkan kedua telapaknya penuh ke depan. Hawa jari lawan terasa berbelok dengan segera, dan gerakan kali ini dari Yunying memang sungguh sangat sempurna. Setelah benar dirinya merasa sudah tidak dalam bahaya, Yunying merapalkan tapaknya maju ke depan. Tetapi, dia segera dihalangi oleh seruan Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Berhentilah&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Dia mengikuti perkataan Jieji dan sambil berjalan pelan, Yunying menuju kembali ke arah Jieji. Jieji menatap ke arah Cao Bin.<br />
&#8220;Jurus jari anda betul hebat&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Cao Bin yang terpaut cukup jauh merapatkan kedua tangannya dengan hormat, dia membungkuk sedikit.<br />
&#8220;Ternyata manusia dengan kemampuan no. 1 sejagad justru seorang wanita.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying mengangguk pelan sambil tersenyum malu mendengar perkataan Cao Bin yang memuji kemampuannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230; Kemampuan anda juga sangatlah mengagumkan. Boleh aku mengetahui, jurus jari anda tadinya bernama apa?&#8221; tanya Jieji dengan sopan.<br />
Sambil berjalan ke depan, Cao tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku memberi-nya nama Ilmu jari Dewa Selatan.&#8221; sahut Cao Bin.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, anda-lah pencipta jurus yang sedemikian hebat ini?&#8221; tanya Jieji terkejut sebentar.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak juga&#8230;<br />
Dahulu, aku pernah melatih 3 landasan dari jurus Jing-gang. Aku mendapat ide dari jurus jari Jing-gang yang sangat terkenal itu.&#8221; sahut Cao Bin merendah.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk, dan terlihat menghela nafas sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu, jurus tuan yang demikian hebat tadinya sempat kulihat sebentar. Anda juga menguasai tenaga dalam Jing-gang dengan sangat baik.&#8221; tutur Cao Bin dengan wajah menyelidik.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Aku secara tidak sengaja mendapatkan Ilmu tenaga dalam Jing-gang di Mongolia kuno.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi legenda itu benar ada-nya&#8230;&#8221; terlihat Cao berkata pendek sambil menghela nafas. Kemudian, dia melirik kembali ke arah Jieji. Dia kemudian bertanya kepadanya.<br />
&#8220;Lantas jurus telapak yang sanggup dengan mudahnya mengeliminasi jurus jari ketiga muridku? 18 telapak naga mendekam milik tetua Pei? Eh&#8230;<br />
Sepertinya tidak mirip, terlihat jauh lebih bertenaga dan berbahaya sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230; Itu adalah jurus 18 telapak penakluk naga..&#8221; sahut Yunying sambil tersenyum ke arah Jieji. Senyuman khas yang terlihat rada mengejek.</span></p>
<p><span>&#8220;18 telapak penakluk naga? 18 telapak penakluk naga?<br />
Sungguh sebuah nama yang sangat bagus sekali.&#8221; sahut Cao Bin dengan wajah yang cerah sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Nama ini adalah pemberian isteriku. Maafkan dirinya yang suka menggoda dan bermain-main. Sebenarnya Naga di sini yang kumaksud adalah &#8220;Ilmu pemusnah raga&#8221;.&#8221; Jawab Jieji sambil merendah.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Sepertinya Ilmu pemusnah raga betul bisa ditaklukkan oleh jurus-mu tadi. Aku meneliti cukup lama bersama dengan kakak seperguruanku. Sepertinya memang benar sekali bahwa tentu ada jurus yang sanggup menaklukkan-nya.&#8221; sahut Cao Bin sambil terlihat berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak seperguruan dari Tuan Cao? Boleh kutahu siapa?&#8221; tanya Jieji yang terlihat cukup tertarik dengan segera.</span></p>
<p><span>Cao tersenyum kepada Jieji. Dia tidak menyahutinya.<br />
Saat tersebut, terdengar derap kaki kuda yang mendatangi medan yang menjadi ajang pertarung hebat sesaat itu. Lantas kesemuanya menoleh saja.<br />
Dari arah padang rumput yang luas tersebut kemudian sudah terlihat 3 orang berkuda dan sebuah kuda yang sengaja di tarik dari arah belakang ketiganya. Kesemuanya memakai seragam kerajaan dengan gagah terlihat memacukan kudanya cepat.</span></p>
<p><span>Cao Bin sudah beranjak dari tempatnya cukup cepat. Dia tidak ingin para jenderal tersebut memacukan kudanya sampai ke depannya. Lantas tidak lama, ketiga orang jenderal telah sampai. Meski jarak cukup jauh, Jieji dan Yunying mendengar dengan baik sekali apa perkataan ketiga orang jenderal di sini.<br />
Setelah sapa menyapa ala Jenderal dengan Perdana Menteri, yang satu-nya yang terlihat berada di tengah mengatakan.</span></p>
<p><span>&#8220;Perdana Menteri&#8230;<br />
Sekarang Jin sudah berhasil berserikat dengan kita. Mereka berjanji akan menyerang Liao dari dalam, sedangkan kita bisa menyerang mereka dari luar.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Baiklah&#8230; Aku akan kembali menemui Yang Mulia.&#8221; sahut Cao Bin dengan pendek saja.<br />
Para Jenderal sudah menyiapkan kuda &#8220;kosong&#8221; yang sengaja diberikan untuk Cao Bin. Cao memberi hormat sekali saja kepada Jieji dan Yunying. Dia tidak sempat berkata apapun kemudiannya. Pemberian hormat Cao memang betul di balas baik oleh Jieji dan Yunying. Sedangkan ketiga muridnya terlihat berlutut menyembah sekali untuk memberi tanda pengantaran bagi guru mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa ibukota terjadi sesuatu?&#8221; tanya Yunying kepada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Sepertinya Zhao Kuangyi berserikat dengan bangsa Jin untuk menyingkirkan Liao.&#8221; tutur Jieji sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa?&#8221; tanya Yunying tiba-tiba.</span></p>
<p><span>&#8220;Bangsa Jin dan bangsa Liao sebenarnya adalah bangsa nomaden dari utara. Sifat kedua bangsa itu istimewa dan sama saja. Jika Jin berhasil mengusir Liao, tentu imbalannya kadang justru lebih mahal.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum tawar.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul juga&#8230;<br />
Jika dengan usaha kita bangsa Sung, mengusir Liao. Tentu yang menikmati usaha kita adalah bangsa kita sendiri. Tetapi jika yang mengusir Liao adalah Jin, maka kelangsungan negeri Sung justeru terasa berbahaya.&#8221; jawab Yunying yang terlihat berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu benar sekali&#8230;&#8221; jawab Jieji pendek.</span></p>
<p><span>Duan Jing selaku Kaisar dari Ta-Li segera beranjak mendekati Jieji dan Yunying. Lantas dengan sopan dia berkata.<br />
&#8220;Memang benar sepertinya anda berdua bukanlah pelaku penerobos penjara. Aku sangat yakin dengan itu! Tetapi&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji memandangnya sambil tersenyum, dia lantas menjawab.<br />
&#8220;Kasus bobolnya penjara Ta-Li sudah meluas sepertinya, mau tidak mau aku dan isteriku yang menjadi tersangka sementara harus di tahan. Begitu maksud Yang Mulia bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>Duan Jing terkejut mendengar kata-kata Jieji. Sepertinya Jieji memiliki lampu yang mampu menerangi hati-nya dan membaca huruf demi huruf dalam hatinya dengan sangat baik sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana anda tahu bahwa aku adalah Kaisar Ta-Li?&#8221; tanya Duan kemudian dengan agak heran.</span></p>
<p><span>Jieji tertawa lebar mendengar pertanyaan Duan Jing tersebut. Dia lantas berkata.<br />
&#8220;Ada 5 hal dan sederhana saja.<br />
Yang pertama. Jika anda bukan Kaisar, maka kemungkinannya adalah seorang pejabat tinggi istana.</span></p>
<p><span>Yang kedua. Aku mendengar bahwa Kaisar Ta-li berumur sekitar 30 tahunan dengan wajah yang bidang dan agung. Ternyata ini benar sekali.</span></p>
<p><span>Yang ketiga. Kedua teman anda ini, menghabiskan cukup banyak emas di restoran terkenal di Ta-Li. Bayaran untuk minum mereka berdua memang di luar jangkauan orang biasa. Kutebak bahwa keduanya adalah pejabat tinggi kerajaan.</span></p>
<p><span>Yang Keempat. Giok dan rantai yang terkalung di leher Yang Mulia, sepertinya hanya keluarga kerajaan yang sanggup memilikinya. Bukan begitu?</span></p>
<p><span>Kelima, anda mengakuinya sendiri baru saja bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>Duan Jing melihat Jieji seakan tidak percaya beberapa saat. Lantas dia tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan meriah.<br />
&#8220;Orang mengatakan bahwa dalam kemampuan berpikir, Xia Jieji memang no. 1 selangit.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menerima pujian tersebut sambil menghormat dalam.</span></p>
<p><span>&#8220;Lantas apa tujuan anda berdua datang kemari? Sungguh aneh kalau dipikir waktu kejadiannya?&#8221; tanya Kaisar Ta-li kepada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Kebetulan, kita baru saja dari Persia menuju Yun-nan melalui India dengan kapal laut. Sedangkan disini, tujuanku memang selain transit memang ada hal lain tetapi tiada hubungannya dengan Meng Yangchu.&#8221; jawab Jieji dengan tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Baik&#8230;<br />
Aku mempercayai kalian berdua. Tetapi&#8230;&#8221; sahut Yang Mulia Kaisar Ta-li tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Baiklah&#8230;&#8221; tutur Jieji yang sepertinya bisa mengerti dengan mudah isi hati Kaisar Ta-Li ini. Dia berbalik ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>Tetapi Yunying sepertinya tidak puas. Dia segera berkata kepada suaminya.<br />
&#8220;Mereka bukan tandingan kita berdua. Untuk apa harus mengikuti mereka? Dan kamu juga sudah tahu bahwa siapa dalang-nya bukan? Partai Jiu Qi lagi&#8230; Partai Jiu Qi&#8230;.&#8221;<br />
Terlihat Yunying memang sedang kesal, dia merasa bahwa yang menyamar mereka tentu adalah orang-orang Partai Jiu Qi. Namun, Jieji segera mendiamkannya. Dia menarik tangannya lembut untuk berjalan ke depan sambil tersenyum manis kepadanya.</span></p>
<p><span>Kurungan sementara Istana Ta-Li&#8230;</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa kamu dengan mudah mengikutinya ke tempat demikian?&#8221; tanya Yunying segera ketika sipir penjara keluar.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita keluarpun semudah kita masuk. Untuk apa dikhawatirkan?&#8221; tutur Jieji dengan tersenyum.<br />
&#8220;Ayo.. Sini&#8230; Duduklah&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil menunjuk ke jerami.</span></p>
<p><span>Tetapi Yunying sepertinya masih marah, dia tidak menyahuti Jieji. Kembali Jieji berkata.<br />
&#8220;Aku tahu siapa dalang-nya. Meng memang sudah keluar dan bebas, tetapi lebih bagus kita di dalam karena lebih banyak informasi yang bisa kita dapatkan di sini daripada diluar.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying tertarik mendengar perkataan Jieji. Dia segera mendekat, wajahnya yang tadi merah segera berubah menjadi agak penasaran.<br />
&#8220;Bagaimana mungkin?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Ha Ha&#8230;<br />
Betul tidak mungkin. Tetapi dalam kasus yang kuterima itu, lebih bagus kita di dalam daripada di luar. Perkembangan dunia luar semakin membingungkan, di dalam setidaknya hanya informasi penting saja yang kita terima. Dengan begitu, otak akan lebih jernih&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying mengangguk saja sambil tersenyum manis.<br />
&#8220;Seharusnya pencuri ulung juga ikut dengan kita di sini&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Keduanya duduk berdampingan sambil menikmati malam romantis meski di kurungan alias penjara.</span></p>
<p><span>Cukup lama juga hingga sepertinya terdengar sebuah langkah pelan pada kurungan pelaku pidana di Istana Ta-Li. Langkah yang terasa kencang, menyapu udara secara pelan segera dirasakan 2 orang yang tadinya duduk berdekatan.<br />
Keduanya dengan spontan berdiri meski tadinya telah tertidur cukup pulas. Lantas pemuda segera berjalan pelan, senyum di bibirnya terlihat menungging.</span></p>
<p><span>Gerakan kaki orang yang bakal sampai tidak lama itu sudah diketahui baik oleh Jieji maupun Yunying. Gerakan ringan tubuh tidak dangkal dari seorang yang jago mengendap-endap. Siapa lagi kalau orang itu adalah pencuri ulung yang sangat terkenal licin itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau datang juga akhirnya&#8230;&#8221; terdengar Jieji tertawa cukup pelan sekali ketika melihat ke depan meski terhalang terali besi yang cukup kuat.</span></p>
<p><span>Benar adalah Lie Hui orang tersebut, dia memandang Jieji sambil tersenyum.<br />
&#8220;Aku akan menolong kalian berdua keluar.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji segera menggelengkan kepalanya. Sambil tersenyum kembali, dia menyahuti pencuri ulung.<br />
&#8220;Kita berdua rela dikurung disini. Dan sepertinya kedatanganmu membawa sebuah informasi. Eh, tidak.. Mungkin beberapa informasi. Mari, silahkan masuk&#8230;&#8221;<br />
Dengan gerakan santai, terdengar Jieji menarik nafas sekali dan kedua tangannya telah digenggamkan di terali besi yang tebal. Dan sekali tarikan, terali besi satu sisi itu akhirnya dipindahkan Jieji ke samping tembok. Berat terali besi mungkin sudah ratusan kati, tetapi dengan mudah pemuda telah memindahkannya.</span></p>
<p><span>Lie Hui tidak terlalu heran lagi melihat hal semacam demikian, apalagi dia tahu pemuda di depannya adalah termasuk salah seorang pesilat no. 1 sejagad. Lantas sambil tertawa aneh, dia melangkah ke dalam.<br />
Dan Jieji segera mengembalikan terali besi kembali ke tempatnya semula.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Aku membawa beberapa informasi yang kelihatannya sangatlah berharga untukmu.&#8221; jawab Lie Hui ke arah Jieji dengan serius setelah beberapa lama diam.</span></p>
<p><span>&#8221; &#8220;Tunggulah tiga hari&#8230;&#8221; Sebuah pesan yang cukup aneh, dan sampai hari keempat ini belum kita pecahkan.&#8221; tutur Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan.. Bukan..<br />
&#8220;Teng Shan Thien Hou&#8221; / Tunggulah tiga hari kemudian!&#8221; sahut Jieji yang kelihatan serius menatap isterinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukannnya sama saja?&#8221; Yunying segera kelihatan tidak senang akan kata-kata Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Ini bukan menyuruh kita menunggu tiga hari. Tetapi sepertinya ini adalah sebuah petunjuk aneh.&#8221; jawab pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya begitu&#8230;&#8221; Sambung Lie Hui. Lantas dia kembali berkata.<br />
&#8220;Mengenai siapa penolong Meng Yangchu dari penjara, sepertinya sudah kamu ketahui orangnya. Lantas apa benar ada hubungan Meng yang lolos dari penjara adalah 3 hari?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Sepertinya bukan begitu. Kata-kata tunggu tiga hari kemudian, bisa saja banyak sekali kemungkinan-nya. Mungkin Meng yang lolos dari penjara pada hari ketiga adalah kebetulan saja.&#8221;Jawab Yunying yang ikut berpikir masalah yang benar kelihatan rumit ini.</span></p>
<p><span>Jieji hanya diam, dia memejamkan matanya beberapa lama. Dia mendengar setiap tuturan kedua wanita ini dengan mata tertutup yang sangat serius sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Meng Yang Chu, Teng Shan Thien Hou&#8230;. Benar sebuah hal yang membingungkan. Apa benar keduanya ada hubungannya? Pusing memikirkannya&#8230;&#8221; Yunying terakhir menggumam dengan wajah yang penuh gerutu-an.</span></p>
<p><span>Tetapi mendengar kata-kata Yunying, sepertinya ada orang yang tersentak kaget.<br />
Pemuda-lah yang tiba-tiba membuka matanya terkejut.<br />
&#8220;Kau coba ulangi lagi kata-katamu!&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Meng Yang Chu, Teng Shan Thien Hou&#8230;&#8221; Yunying mengulangnya bahkan sampai ke-3 kali.</span></p>
<p><span>Jieji terlihat serius, sambil berdiri dan menatap tanah dia berkata-kata secara pelan.<br />
&#8220;&#8221;Meng Yang Chu Shien&#8221;/ Mimpi Matahari muncul&#8221;<br />
[ Seharusnya kata-kata Chu biasanya diikuti dengan "Shien" yaitu Chu Shien yang berarti muncul keluar, dalam kata matahari (Yang) biasanya diartikan sebagai matahari terbit.<br />
Teng Shan Thien Hou / Tunggulah tiga hari kemudian...<br />
Digabung dan diurutkan secara terbalik bisa menjadi "Hou Shien, Thien Chu, Shan Yang, Teng Meng..."</span></p>
<p><span>Ketika Jieji selesai bergumam, alangkah terkejutnya baik Yunying maupun Lie Hui. Mendengar dia mengurutkan kata per-kata yang sepertinya tidak berarti banyak. Namun, mereka terkejut karena pemikiran Jieji yang bisa menjadi berbalik begitu.<br />
Kata Hou Shien = Belakangan muncul; Thien Chu = Langit keluar; Shan Yang = Tiga Matahari; Teng Meng = Menanti Mimpi.</span></p>
<p><span>"Tetapi kata-kata barusan sepertinya malah makin membingungkan." sahut Yunying.</span></p>
<p><span>"Betul...<br />
Memang sepertinya mempunyai arti tersendiri, tetapi malah makin rumit jika dibalikkan." jawab Lie Hui.</span></p>
<p><span>Jieji menghela nafas panjang sekali. Dia menatap langit sambil berkecewa.<br />
"Salahku...<br />
Terlalu yakin..." Jieji menyahut sesuatu sambil tersenyum hambar.</span></p>
<p><span>"Jadi kamu sudah tahu maksudnya?" tanya Yunying dengan terkejut sekali.</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya. Dia tidak menjawab. Tetapi dia melihat ke arah Lie Hui, sambil menanyainya.<br />
"Apa informasi yang kamu dapatkan sehingga tengah malam seperti demikian baru datang?"</span></p>
<p><span>Lie Hui tersenyum sebentar. Lantas dia berkata.<br />
"Telah 4 hari aku mencari informasi di Ta-Li. Sepertinya cukup banyak hal juga yang telah kuketahui. Aku tahu ada beberapa hal yang bisa membuatmu cukup terkejut jika mendengarnya."</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk perlahan mendengar perkataan Lie Hui. Lantas Lie Hui kembali bercerita.</span></p>
<p><span>"Banyak penduduk yang cukup tua mengetahui bahwa Duan Jing atau Kaisar Ta-Li sekarang bukanlah seorang kaisar yang asli. Apakah kamu mengetahuinya?" tanya Lie Hui.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut sebentar, begitupula Yunying. Mereka baru saja mengenal Duan Jing dari pertarungan tadi sore. Sekarang mendengar perkataan Lie Hui, keduanya bertanya-tanya kepadanya.<br />
Lie Hui sambil tersenyum, melanjutkan ceritanya.<br />
"Duan Jing adalah keponakan dari Kaisar Ta-Li terdahulu, Duan Siping. Duan Siping mempunyai seorang putera saja. Putra satu-satunya ini kudengar adalah anak pungut sebab Kaisar Duan Siping tidak mempunyai seorang anak laki-laki.<br />
Putranya sangat menyukai hal yang berbau misteri, seorang jago silat hebat. Tetapi tidak pernah mau mengurus pemerintahan, kerjanya hanya keluar jalan-jalan saja dan tidak pernah peduli akan urusan pemerintahan sama sekalipun. Beberapa orang yang tinggal cukup lama di Ta-Li mengatakan bahwa kematian Duan Siping adalah akibat ulah puteranya sendiri. Duan Siping meninggal karena kecewa akan putranya yang satu ini...."</span></p>
<p><span>"Sebentar...<br />
Ada yang tahu siapa nama-nya?" tanya Jieji spontan.</span></p>
<p><span>Lie Hui menggelengkan kepalanya. Sedangkan Yunying mulai mengejek suaminya ini.<br />
"Sepertinya putera mahkota Ta-Li terdahulu sangat mirip seseorang."</span></p>
<p><span>Jieji memandangnya sesaat. Kemudian dia menghela nafas.<br />
Yunying terkejut melihat tingkah Jieji. Dia tidak menyangka bahwa ejekannya benar tepat di hati pemuda. Apalagi kata-kata terakhir dari Lie Hui tadinya yang mengatakan bahwa Duan Siping, sang kaisar meninggal kecewa karena puteranya. Dengan begitu, jelas bahwa sebenarnya Yunying sangat tidak enak hati, sebab tanpa sengaja sebenarnya Hikatsuka Oda dan isterinya juga tewas akibat puteranya sendiri.<br />
Sebenarnya Yunying mengejek putera mahkota tersebut karena dirasa memiliki sifat yang tiada jauh berbeda dengan Jieji, apalagi dia menyukai misteri kehidupan serta silat yang tinggi.</span></p>
<p><span>Tetapi kesalahpahaman sebentar seperti demikian tentu tidaklah berakibat panjang. Yunying memang menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat cemberut sukar dilukiskan. Tetapi dengan segera Jieji berkata.<br />
"Memang orang itu mirip denganku. Tetapi kata-katamu memang benar beralasan, aku tidak menyalahkanmu..."</span></p>
<p><span>Yunying ingin menyahut, tetapi Jieji segera tersenyum pelan kepadanya. Dia segera memalingkan wajahnya ke Lie Hui.<br />
Lie segera melanjutkan apa yang harus diceritakannya.<br />
"Beberapa tahun setelahnya, sepertinya Ta-Li semakin suram. Duan Siping meninggal dan kerajaan Ta-Li tidaklah diurus siapapun. Korupsi mulai meraja-rela, kejahatan semakin tinggi hingga...."</span></p>
<p><span>"Munculnya keponakan Duan Siping, Duan Jing yang mengontrol pemerintahan.." sahut Jieji.</span></p>
<p><span>"Sebahagian betul..." jawab Lie Hui sambil tersenyum. Lantas dia melanjutkan.<br />
"Putera mahkota sempat pulang, dia menyerahkan kuasanya kepada Duan Jing secara penuh. Lantas di malam pertama dia kembali, saat itu juga dia telah menghilang hingga sekarang. Tidak pernah lagi ditemukan jejaknya sampai kini. Ini sudah terjadi hampir 10 tahun yang lalu."</span></p>
<p><span>"Dengan begitu, putera mahkota kemungkinan besar masih hidup. Umurnya mungkin sekarang sekitar 40-an. Lalu kenapa kamu menceritakannya?" tanya Jieji yang terlihat heran.</span></p>
<p><span>Lie Hui tertawa sebentar, kemudian dia melanjutkan.<br />
"Putra mahkota Ta-Li sangat tinggi silatnya. Meski tidak ada orang yang menyatakan seberapa hebatnya ia. Tetapi dia menguasai Ilmu jari tanpa wujud yang sangat hebat."</span></p>
<p><span>Jieji terkejut dan segera melihat ke arah Yunying.<br />
"Jangan-jangan yang menyerang kita di kuil Zhu fu adalah putera mahkota Ta-Li?"</span></p>
<p><span>"Kalau itu, mungkin masih susah ditebak. Tetapi, apa kamu tahu bahwa ketika kita bertiga menyamar sebagai kakek dan nenek? Orang yang menyerang kita sebenarnya adalah seorang wanita?" tanya Lie Hui kepada Jieji.</span></p>
<p><span>"Seorang wanita? Bagaimana mungkin?" tanya Yunying yang heran.</span></p>
<p><span>"Aku sudah menebaknya dari awal. Postur tubuhnya kecil, dan dari gerakannya yang terlihat sebentar hampir bisa kupastikan adalah seorang wanita? Lantas apa kamu mengenal wanita itu?" tanya Jieji.</span></p>
<p><span>Lie Hui mengangguk pelan.<br />
"Wanita itu tiada lain adalah seorang wanita yang cukup berpengaruh di kerajaan Ta-Li ini."</span></p>
<p><span>"Dengan begitu, sudah pasti adalah seorang putri Duan Siping." Jieji menjawabnya.</span></p>
<p><span>Lie Hui tersenyum manis. Lantas dia melanjutkan kembali.<br />
"Sejak berada di Chengdu, aku pernah mendengar sastrawan memuji kecantikan 3 bidadari di dunia. Yang pertama adalah orang yang berdiri di sini bersama kita...."</span></p>
<p><span>Yunying terlihat malu mendengar kata-kata Lie Hui. Tetapi dia tersenyum segera.<br />
"Jika kak Xufen masih hidup, dia tentu masuk ke dalamnya bukan?"</span></p>
<p><span>Lie Hui tersenyum mendengar perkataan polos Yunying.<br />
"Yang kedua, tentu puteri Koguryo, Chonchu yang terkenal itu. Dan yang ketiga, adalah puteri Nan An dari Ta-Li."</span></p>
<p><span>"Puteri Nan-An dari Ta-Li? Aku pernah mendengarnya. Tetapi tidak pernah kuketahui bahwa dia seorang ahli silat." sahut Jieji.</span></p>
<p><span>Lie Hui mengangguk. Dengan wajah serius sekali kemudian dia melanjutkan.<br />
"Betul...<br />
Jarang sekali ada informasi seperti demikian. Tetapi informasi yang paling sulit adalah hubungan antara putera mahkota Tali terdahulu dengan puteri Nan An tersebut. Ada kabar burung menyebutkan bahwa putera mahkota-lah orang yang mengajari silat kepada puteri Nan-an."</span></p>
<p><span>Jieji terkejut mendengar perkataan Lie Hui.<br />
"Jika saja yang mencegat kita betul adalah puteri Nan-an. Lantas seberapa hebatnya putera mahkota Ta-Li itu?"</span></p>
<p><span>Yunying yang mendengar kata-kata Jieji yang beralasan juga terkejut. Sesaat, dia pandang ke luka gores di punggung tangannya yang sudah halus sekali beberapa saat. Hawa jari pedang yang sangat hebat menyerangnya saat itu. Dia memang berhasil membelokkan kekuatan sakti tiada berwujud itu, tetapi jika saja lawannya menyerang secara cepat berturut-turut, maka nyawa sendiri betul jadi taruhannya.</span></p>
<p><span>"Nah, sekarang akan kuceritakan hubungan Meng Yangchu dengan putera mahkota Ta-Li itu." tutur Lie Hui sambil tersenyum.<br />
"Meng Yangchu memang sangat menyukai ilmu silat. Dia pernah berteman baik dengan putera mahkota Ta-Li. Tetapi dengan alasan yang tidak begitu jelas, sepertinya Meng Yangchu tiba-tiba bermusuhan dengannya. Tiada yang tahu apa yang terjadi, tetapi Meng sendiri menyatakan bahwa ada sesuatu benda miliknya yang telah dicuri oleh putera mahkota Tali. Gosip mengenai hal ini, tidak susah di dengar dari pihak awam di kota ini...."</span></p>
<p><span>"Buku kitab tingkat 9 dari Tapak buddha Rulai. Mungkin itu maksudnya." sahut Jieji.</span></p>
<p><span>"Tetapi...<br />
Tidak tampak bahwa putera mahkota sangat menginginkannya bukan? Jika tidak, tidaklah mungkin dia menabur racun pemusnah raga di buku." sahut Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji menampiknya.<br />
"Aku rasa, yang menabur racun bukanlah putera mahkota...."</span></p>
<p><span>Lie Hui tersenyum.<br />
"Betul...<br />
Batas Kuil Zhufu sepertinya adalah batas yang dibuat oleh Meng Yangchu. Dia menginginkan putera mahkota yang mengambil kitab itu. Dan membuatnya teracun tewas seketika. Begitu maksudmu?"</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum penuh arti.<br />
"Putra mahkota itu, siapapun dia. Adalah orang yang baik hati...."</span></p>
<p><span>"Jadi, dia menghalangi kita untuk masuk saat itu karena jika kita mengambil buku maka kita akan tewas? Tetapi anehnya kenapa dia tidak melenyapkannya saja?" tanya Yunying.</span></p>
<p><span>"Melenyapkan?<br />
Bagaimana jika buku itu adalah ditulis oleh seseorang yang dihormatinya sangat?" tanya Jieji.</span></p>
<p><span>Yunying dan Lie Hui mengasah otak untuk berpikir. Sesaat, Lie duluan terkejut. Wajahnya terlihat terang.<br />
"Kamu juga tidak pernah ingin melenyapkannya bukan? Jadi dari awal kamu sudah tahu bahwa putra mahkota dan puteri NanAn-lah kedua orang yang serius menjaga peninggalan seseorang yang sangat berharga?"</span></p>
<p><span>"Betul... Tetapi, tentunya....<br />
Aku tidak pernah tahu siapa yang menjaganya.<br />
Putra mahkota maupun puteri NanAn tidak pernah tahu hal sedemikian saat kita bertiga hampir sampai di kuil Zhufu. Melihat ada 3 orang tua reyot berkungfu tinggi ingin masuk ke Kuil Zhu Fu, maka mereka berupaya menghalangi. Jika kedua orang itu tahu bahwa kita bertiga adalah orang yang menyamar kakek dan nenek, maka kemungkinan besar mereka tidak menghalangi." sahut Jieji.</span></p>
<p><span>"Betul...<br />
Rupanya begitu..." tutur Lie Hui sambil tertawa.</span></p>
<p><span>Yunying menanyai Jieji setelah suasana agak reda.<br />
"Apa maksud dari 8 huruf yang kamu baca itu?"</span></p>
<p><span>Jieji melihat isterinya sambil tersenyum.<br />
"Tunggulah beberapa lama lagi, aku akan menceritakannya..."</span></p>
<p><span>Yunying dan Lie Hui agak penasaran mendengar perkataan Jieji terakhir ini, tetapi keduanya tidak berani menanyainya.</span></p>
<p><span>[ Sebenarnya pesan aneh yang tadi diceritakan mereka semua. "Meng Yang Chu Shien, Teng Shan Thien Hou" dimaksudkan bahwa Meng Yangchu ini bukanlah orang aslinya, melainkan orang yang menyamar sebagai dia. Seperti yang dikatakan oleh Jieji secara terbalik tadinya :<br />
"Hou Shien = Belakangan muncul; Thien Chu = Langit keluar; Shan Yang = Tiga Matahari; Teng Meng = Menanti Mimpi". Jika dari kalimat di atas dikeluarkan nama Meng Yang Chu, maka jadinya menjadi "Hou, Shien, Thien, Shan, Teng / Belakangan, muncul, langit, tiga, menanti." Tetapi dari kalimat di atas jelas sekali bagi Jieji bahwa kata "Hou" bisa dibaca sebagai "Kera", "Shien" selain kata muncul juga bisa diartikan "Dewa". Kata "Thien" tidak diubah yang di artikan sebagai Langit. "Shan" selain kata Tiga, juga bisa diartikan sebagai Gunung. Dan Teng yang artinya menanti. Jika diurutkan semuanya maka menjadi "Hou Shien Thien Shan Teng / "Kera Dewa Langit Gunung Menanti". </span></p>
<p><span>Ada seseorang di lubuk hati Jieji yang diketahui benar bahwa orang ini dijuluki sebagai "Kera Dewa Langit Gunung Teng".<br />
Maka daripada itu, Jieji cukup menyesal tidak memperhatikan kasus Meng Yangchu lebih serius. Sepertinya memang kasus Meng Yangchu bukanlah kasus sembarang gampang saja.</span></p>
<p><span>Tetapi, ada sesuatu di sini yang ada kaitan dengan seluruh puisi-nya Sang Puisi Dewa. Penulis informasi serta kode rumit ini tentu tujuannya bukan untuk membongkar identitas Meng Yang Chu saja. Hal inilah yang terakhir membuat Jieji sangat menyesal seumur hidupnya ketika sudah mengetahuinya.</span></p>
<p><span>Perhatikan kembali kata-kata "Meng Yang Chu Shien, Teng Shan Thien Hou". Sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana dari pesan tersebut. Pembawa pesan memberitahu Jieji dengan benar bahwa sebenarnya hal yang paling utama tidak terletak pada Meng Yang Chu.</span></p>
<p><span>Dengan mengangkat kembali kata "Meng, Chu, Teng, Thien" maka yang tertinggal hanyalah "Yang, Shien, Shan, Hou". Jika dianalogikan dan disusun perhuruf maka bisa diartikan 4 hari kemudian "Yang" pergi ke "alam mimpi".<br />
[ 4 hari lagi karena Hou Thien artinya Besok, dan Shan Teng = penantian 3 hari. Tidak perlu lagi dijelaskan mengenai alam mimpi, tetapi sayangnya Jieji tidak pernah menyadarinya ]</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Di persimpangan daerah Sizhuan, dekat dengan kota Zitong&#8230;<br />
Tepat di sebuah perbukitan selatan, terlihat dua orang pemuda sedang berjaga satu sama lainnya. Sepertinya daerah ini sudah menjadi daerah pembantaian secara besar-besaran. Mayat cukup banyak bergelimpangan, jumlahnya mungkin hampir mencapai 100 orang jika dilihat. Langit yang mendung ketika itu sudah malam, tetapi suara pertarungan sengit terdengar luar biasa-nya. Sudah lebih dari beberapa jam pertarungan berlangsung dengan sangat gencarnya. Dua orang pemuda melawan musuh yang jumlahnya cukup banyak, kemampuan mereka berdua memang sudah tertinggi di jagad sekarang. Meski keduanya mengalami keletihan sangat, namun semangat mereka tetap masih berkobar dengan hebatnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Maju serentak!&#8221; teriak seseorang yang masih duduk di atas kudanya. Wajahnya sengaja terlihat ditutupi topeng aneh dan bercadar. Di samping orang ini, terlihat seorang pemuda berpakaian serba putih. Di tangannya terpegang kipas, dan dengan tenang dia mengawas tajam ke arah dua orang yang diserang tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita harus turun tangan. Anak buah seperti mereka kurang berguna menghadapi 2 orang ini.&#8221; sahut pemakai topeng kepada pemuda berpakaian serba putih.</span></p>
<p><span>&#8220;Tunggu dulu&#8230;<br />
Jumlah kita masih banyak sekali. Semua-nya rata-rata menguasai tapak buddha rulai hingga tingkat ke enam. Meski harus dikorbankan, sangat pantas sekali&#8230; Karena kita mendapat ikan yang sangat besar di sini&#8230;&#8221; jawab pemuda berpakaian serba putih dengan dingin.</span></p>
<p><span>Orang yang duduk di atas kuda tidak menjawab apa-apa, melainkan dia hanya melihat saja ke depan. Pertarungan yang tidak adil tersebut sudah berlangsung selama 7 jam sebenarnya. Ketika kedua pemuda yang berkuda melewati daerah tersebut, mereka telah disergap hebat oleh beberapa pesilat yang tangguh. Kemudian makin lama, jumlah mereka semakin banyak dan bertambah. Hingga kedatangan kedua orang aneh tersebut, waktu sudah malam sekali.</span></p>
<p><span>Tetapi dasarnya, orang yang dikeroyok hanyalah 2 orang. Meski setangguh apapun, sepertinya keadaan sulit sudah menanti dengan sangat serius. Pengeroyok makin gencar dan girang menyaksikan lawannya sudah mulai terdesak.<br />
&#8220;Pendekar Yuan.. Sebaiknya kamu pergi dahulu. Baliklah ke Yun-nan secepatnya&#8230;&#8221;<br />
Sahut seorang pemuda yang berkumis serta jenggot tipis di suatu kesempatan. Dia tiada lain adalah Zhao Kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Anda saja yang pergi. Aku masih sanggup menahan mereka kesemua.&#8221; jawab pemuda berbadan kokoh dan berwajah agung. Dia adalah ketua Kaibang, Yuan Jielung.</span></p>
<p><span>Keduanya bermandi keringat dengan hebat. Nafas mereka terdengar sudah ngengosan.</span></p>
<p><span>&#8220;Jumlah mereka masih cukup banyak. Jika terus bertambah, niscaya kita berdua akan tewas disini. Anda pergi dahulu pendekar Yuan, kabarilah adik keduaku. Minta dia berhati-hati sangat.&#8221; Zhao kuangyin hanya bisa mengatakan sampai disini, sebab 5 orang dari 4 arah serangan sudah datang untuk menyergapnya kembali.</span></p>
<p><span>Keduanya bertarung sangat serius, meski konsentrasi kadang terpecah. Tetapi keduanya mempunyai prinsip yang sama, yaitu berjuang hingga titik darah penghabisan.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya aku duluanlah yang turun tangan&#8230;&#8221; sahut seorang yang bercadar di samping pemuda berpakaian putih. Dia kelihatan tidak begitu sabar lagi akan menyerang. Tanpa menghiraukan jawaban dari temannya, segera dia melompat pesat untuk menyerang.<br />
Kecepatan lompatan orang ini sungguh sangatlah dahsyat. Hanya beberapa orang saja yang memiliki ilmu ringan tubuh sehebat demikian di jagad sebenarnya.<br />
Dia turun bagaikan kapas, 20 kaki di depan Zhao maupun Yuan. Seiring turunnya orang, lantas dia membuka topeng aneh serta cadar yang menghiasi mukanya.</span></p>
<p><span>Zhao dan Yuan yang sepertinya mendapat waktu istirahat sejenak, kemudian terkejut berbareng melihat orang di depan mereka berdua. Mereka berdua tahu bahwa si topeng lah orang yang memerintah mereka kesemuanya. Namun, mengenai wajahnya tentu membuat keduanya terkejut dan terlihat saling melihat satu sama lainnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ternyata raja Yelu dari Liao berada di sini.&#8221; tutur Zhao sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Orang ini tiada lain benar adalah Yelu Xian, si singa dari utara. Dia tidak begitu berubah penampilannya sejak terlihat di tembok kota Beiping beberapa tahun lalu. Tetapi dari sinar matanya, kedua tahu bahwa lawan di depan tidaklah gampang. Di tambah seorang pemuda memakai kipas yang cukup dikenali mereka berdua, serta dedengkotnya yang jumlahnya masih sekitar 30 orang sekarang.</span></p>
<p><span>&#8220;Zhao kuangyin&#8230;.<br />
Serahkanlah nyawamu!&#8221; teriak Yelu Xian tanpa banyak berbasa-basi lagi. Dia ingin segera menyelesaikan pertarungan demikian. Tetapi tentunya, dia duluan memerintahkan anak buahnya menyerang terlebih dahulu. Tujuannya adalah tentu seperti biasanya, mencari kesempatan di saat paling bagus.<br />
Yelu tahu sekali bahwa Zhao kuangyin adalah pesilat yang sangat tinggi kemampuannya. Sekarang Zhao sudah sekelas Yue Liangxu pada beberapa tahun yang lalu. Di sampingnya malah terlihat Yuan Jielung, ketua kaibang yang sangat gagah dan termahsyur ini. Tentu dia berpikir akan mencari keuntungan saja di saat yang sempit.</span></p>
<p><span>Zhao yang sudah mendapat kesempatan sangat bagus untuk beristirahat barang sejenak, tentu cukup bergembira. Dengan tarikan nafas panjang dan membuyarkan energi tadinya, dia menghimpun kembali energi baru melalui tapak. Kali ini dia duluan menyerang.<br />
Melihat kepesatan tubuh Zhao ke depan, Yuan juga mengikutinya. Penyerang yang masih kurang berpengalaman, tentu terkejut melihat Zhao maupun Yuan yang duluan memulai penyerangan.<br />
Sebenarnya sejak beberapa jam lalu, dari mulai awal hingga akhir. Zhao maupun Yuan hanya terlihat bertahan akibat serangan mendadak. Sekarang keduanya telah beranjak untuk menyerang.</span></p>
<p><span>Tapak Dewa Lao memang bukanlah ilmu tapak omong kosong. Kekuatan, kecepatan dan ketenangan bersatu di dalamnya. Dengan cepat, sudah mengambil 3 orang korban yang berdiri terdepan. Kesemuanya terpental dan tewas akibat 1 tarikan nafas tenaga dalam Zhao Kuangyin. Yuan Jielung juga sama lihainya, dia memainkan tapak yang sangat keras dan tangguh terlihat.</span></p>
<p><span>Yelu Xian dari tadi hanya mengincar seorang saja. Dia melihat semua pergerakan Zhao kuangyin. Meski sangat maksimal daerah pertahanannya, tetapi bagaimanapun setiap gerakan pasti mempunyai kelemahannya.<br />
Di satu kesempatan, dengan segera Yelu Xian &#8220;terbang&#8221; ke arah Zhao kuangyin untuk menyerangnya secara mendadak.</span></p>
<p><span>Zhao sebenarnya sudah tahu benar bahwa alasan Yelu Xian tidak menyerang, tentu akan mencari &#8220;lubang&#8221; pertahanan yang terbuka akibat serangan. Dengan cepat pula, Zhao mengimbangi jurus tapak yang datang kepadanya dengan pesat. Dengan sebelah tangan dan setengah membungkuk, Zhao melayani tapak Yelu Xian.<br />
Sungguh keras sepertinya benturan tapak kedua senior dunia persilatan ini. Zhao memiliki kelemahan yang terbuka cukup lebar. Untuk menarik nafas melayani Yelu Xian pun dia tidak memiliki kesempatan lagi. Akibatnya, dia terdorong mundur pesat ke belakang. Ketika benar telah berhenti pergerakannya, dia merasakan mual dan memuntahkan darah segar cukup banyak.</span></p>
<p><span>Yelu Xian main licik dengan sangat pandai. Tetapi meski hanya 1/2 tarikan nafas Zhao Kuangyin pun membuatnya terpental cukup jauh. Di bibirnya juga terlihat darah mengalir perlahan. Yelu memang terluka dalam, tetapi dibanding Zhao kuangyin. Maka lukanya tidak seberapa.</span></p>
<p><span>Yuan Jielung terkejut, dia menarik diri dari para penyerang dan menghampiri Zhao kuangyin yang dalam posisi jongkok.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda tidak apa-apa?&#8221; tanya Yuan yang terkejut melihat kondisi Zhao.<br />
Sambil berbisik pelan, Zhao menyahutinya.<br />
&#8220;Ada racun di telapak kanannya tadi&#8230; Beberapa organ dalam tubuhku sudah terluka dalam.&#8221;</span></p>
<p><span>Yuan Jielung terkejut. Dia memalingkan wajah ke arah Yelu Xian dengan marah.<br />
&#8220;Dimana obat penawar? Tidak disangka raja utara yang terkenal pemberani itu tiada lebih dari seorang licik rendahan.&#8221;</span></p>
<p><span>Yelu Xian tersenyum sinis sekali melihat sikap Yuan yang terkejut itu. Dia menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Menang secara licik adalah taktik dalam pertarungan&#8230;.<br />
Tetapi sungguh kusalut Zhao kuangyin, tidak tewas akibat benturan tapak pemusnah raga tingkat ketigaku di tambah cincin berisi jarum beracun.&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao tidak menyahutinya, dia diam sambil menatap tanah. Nafasnya tetap teratur setiap saatnya. Ini menandakan meski racun sudah berkumpul menyerang organ dalamnya, tetapi untuk mencapai titik kematian masihlah terlalu jauh.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Ta-Li, keesokan paginya&#8230;</span></p>
<p><span>Kurungan yang betul mirip penjara tidaklah bersinar terang. Sebab selain sebuah lubang angin, maka tiada tempat lagi dimana cahaya matahari bisa masuk.<br />
Jieji sudah bangun sejak tadinya, dia tidak tertidur lelap. Sementara itu Yunying yang di sampingnya, terlihat baru saja bangun. Dia melihat ke arah Jieji yang duduk menatap dinding.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tidak bisa tidur?&#8221; tanya Yunying kepadanya.</span></p>
<p><span>Jieji berbalik, dia tersenyum sebentar.<br />
&#8220;Tidak&#8230; Dari semalam aku tidak tidur&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa? Bukankah tiada kasus lagi? Kamu sudah mengerti dari arti perkataan pesan itu?<br />
Kalau begitu, kita sudah bisa keluar&#8230; Bagaimana?&#8221; tanya Yunying yang kelihatan tidak senang akan tempat demikian.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk saja, dia tidak menjawab beberapa lama. Sampai dia mendengar adanya suara kerekan pintu besi di bagian atas. Sepertinya ada seseorang yang sedang berjalan pelan menuruni tangga beton. Dari gerak langkah, Jieji tahu bahwa orang ini pasti seorang wanita. Gaya berjalannya lembut menerpa angin, gerakannya tidak berat juga tidak ringan. Namun, sepertinya gerakan orang mantap ke depan. Pemuda dan isterinya tahu bahwa orang demikian adalah seorang berilmu tinggi yang sedang menyembunyikan tenaga dalamnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau tidak perlu berbasa-basi.&#8221; Jieji kemudian bertutur sambil tertawa.</span></p>
<p><span>Orang ini meski masih puluhan kaki, Jieji sudah tahu bahwa orang yang datang bukanlah Lie Hui, pencuri ulung itu.<br />
Adalah memang seseorang benar sampai ke sana. Tetapi dia tidak bisa dilihat sebagai seorang wanita ataupun laki-laki. Yang datang tiada lain adalah seorang berpakaian emas dan menutup wajahnya dengan cadar keemasan.</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying terkejut sebentar, tetapi kemudian keduanya sudah bisa mengendalikan diri mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Puteri Nan-an&#8230;<br />
Selamat pagi&#8230;&#8221; sahut Jieji sambil memberi hormat pendek kepadanya.</span></p>
<p><span>Orang yang disahut, diam saja. Dia menatap ke depan dengan serius. Kedua bola matanya terlihat melotot sebentar melihat ke arah Jieji dan Yunying bergantian.<br />
Suasana hening berlangsung cukup lama, sampai orang tersebut tertawa sebentar.<br />
Suaranya betul adalah suara seorang wanita, seorang wanita muda.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau sudah tahu siapa diriku?&#8221; tanya wanita ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Pembicaraan semalam diriku dengan Lie Hui serta isteriku sudah kamu dengar semuanya bukan?&#8221; tanya Jieji berbalik.</span></p>
<p><span>Wanita ini cukup terkejut mendengar kata-kata Jieji. Sedangkan Yunying menatap Jieji dengan cukup heran. Dia tahu mana mungkin semalam ada yang mendengar pembicaraan mereka. Sungguh sangat aneh jika dipikir. Dan jikapun ada yang mendengarnya, maka tentu Yunying pasti tahu sebab ketika si orang pergi, pasti di rasakannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sungguh detektif hebat&#8230;.&#8221; jawab wanita bercadar.</span></p>
<p><span>Jieji menggeleng dan tersenyum.<br />
&#8220;Tidak&#8230; Bukankah kamu sendiri yang mengakuinya barusan.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Hm&#8230;<br />
Berarti benar aku terjebak akal bulus sederhanamu saja.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/344/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/344/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/344/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=344&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 26</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-26/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-26/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Pemuda terlihat menganggukkan kepalanya saja. Esoknya pagi-pagi&#8230; Jieji telah bangun dan telah keluar dari penginapan. Dia berkeliling seluruh kota Yun-nan demi mencari informasi. Dia baru kembali sekitar tengah hari dan dalam keadaan yang cukup lesu kelihatannya. Yunying menyambutnya dari dalam kamar ketika melihat suaminya pulang. &#8220;Bagaimana?&#8221; tanyanya. Jieji menghela nafas panjang sekali. Lantas dia menjawab. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=343&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-343"></span></p>
<p><span>Pemuda terlihat menganggukkan kepalanya saja.</span></p>
<p><span>Esoknya pagi-pagi&#8230;<br />
Jieji telah bangun dan telah keluar dari penginapan. Dia berkeliling seluruh kota Yun-nan demi mencari informasi.<br />
Dia baru kembali sekitar tengah hari dan dalam keadaan yang cukup lesu kelihatannya.<br />
Yunying menyambutnya dari dalam kamar ketika melihat suaminya pulang.<br />
&#8220;Bagaimana?&#8221; tanyanya.</span></p>
<p><span>Jieji menghela nafas panjang sekali. Lantas dia menjawab.<br />
&#8220;Terlalu sedikit orang yang tahu akan kasus itu. Para penduduk yang tua hanya tahu bahwa keluarga Meng dibantai habis-habisan di 1 malam itu. Meng Yang-chu hanya seorang yang hidup saja setelah pembantaian itu karena dia berada di luar saat itu. Tidak ada yang tahu dimana Meng Yangchu berada saat itu.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying berpikir sebentar. Lantas dia memberikan komentarnya.<br />
&#8220;Aku merasa mencurigai seseorang kembali.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menatap kedua bola mata isterinya. Wajah pemuda memang terlihat tidak begitu tertarik akan komentar isterinya. Lantas sambil tersenyum, dia menjawab isterinya.<br />
&#8220;Kamu mengatakan kamu mencurigai Meng Yangchu bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying mengangguk pelan sambil tersenyum manis.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;<br />
Dia termasuk seseorang yang pantas dicurigai. Ada 2 hal yang membuatku tidak begitu percaya kepadanya. Tetapi tanpa berita penting tentang kasus sekitar 30 tahun lalu, kita tidak bisa berbuat apa-apa.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Kak Jie ingin mengatakan hal pertama adalah bahwa dia terlihat cukup aneh. Dan hal yang kedua adalah sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu?&#8221; tanya Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk.<br />
&#8220;Betul sekali. Tetapi kecurigaan tidak selalu bisa terbukti. Tampaknya kita hanya bisa menunggu puteri pulang dahulu.&#8221;</span></p>
<p><span>Tidak berapa lama&#8230;<br />
Memang sudah terdengar langkah menaiki tangga dari bawah. Penginapan tempat Jieji menginap sesungguhnya adalah lantai dua. Maka dengan suara derekan papan tangga membuat Jieji segera menunggu was-was sebab dia tahu bahwa orang yang datang ini siapa. Tetapi di belakang suara langkah terdengar langkah lainnya yang mengikuti juga.</span></p>
<p><span>Pintu terbuka&#8230;<br />
Jieji melihat Chonchu yang masuk dengan senyum wajahnya yang khas dan diikuti oleh seorang wanita cantik pula. Wanita cantik yang tentu sudah dikenal mereka berdua, yaitu Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu mendapatkan sesuatu?&#8221; tanya Jieji ke arah Chonchu.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230; Tetapi orang di belakangku sepertinya mempunyai sesuatu yang sangat menarik.&#8221; tutur Chonchu sambil tersenyum aneh kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Memang adalah Lie Hui orang di belakang Chonchu, dia terlihat tersenyum juga melihat mereka.<br />
&#8220;Aku mendapatkan sesuatu hal.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Oh?&#8221; terlihat Jieji terkejut sebentar sambil menatap serius ke arah pencuri ulung itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Setelah sehari aku berpisahan, lagi-lagi aku menemukan petunjuk kasus yang sangat diinginkan tentunya olehmu.&#8221; sahut Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Lanjutkan&#8230;&#8221; tutur Jieji pendek.</span></p>
<p><span>&#8220;Tepatnya 29 tahun yang lalu. Di sini, di Yunnan terjadi kegemparan luar biasa di suatu pagi.<br />
Keluarga Meng memang habis dibantai dalam malam itu. Semua orang yang tewas hanyalah orang yang berhubungan darah dengan keluarga Meng. Sedangkan semua pelayan ataupun pengawal tiada mengapa-ngapa. Sungguh sangat mengherankan awalnya.</span></p>
<p><span>Nah&#8230;<br />
Kesemuanya memiliki luka goresan yang sama di leher atau bisa dikatakan kesemuanya mati dengan cara yang sama yaitu putusnya pembuluh darah di leher.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Itu sudah kuketahui&#8230;&#8221; tutur Jieji yang agak jengkel ke arah Lie Hui.<br />
Tetapi sambil tersenyum, Lie melanjutkan ceritanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Banyak orang yang mengatakan bahwa keluarga Wang adalah musuh besar keluarga Meng. Maka mereka sempat kesemuanya di interogasi oleh polisi, tetapi hasilnya tetap nihil. Kesemua anggota keluarga Wang memiliki alibi yang sangat baik karena malam itu adalah malam perayaan sembahyang bulan, maka keluarga Wang membuat pesta meriah sampai pagi hari.</span></p>
<p><span>Dan yang herannya adalah bahwa 3 hari setelah kejadian pembunuhan keluarga Meng, maka kepala keluarga Wang juga tewas dengan cara yang berbeda. Kepala keluarga Wang dibunuh dengan sangat kejam, tubuhnya dipotong-potong hingga berpuluh bagian. Dan kesemua bagian tubuhnya terpencar di kamar tidurnya.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji melonjak kegirangan setelah mendengar kabar dari Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Orang tewas dibunuh dengan cara mengerikan, tetapi malah kau terlihat girang sekali.&#8221; tutur Yunying dengan wajah yang agak kesal.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Bukan begitu&#8230;<br />
Teruskanlah nona Lie Hui&#8230;&#8221; tutur Jieji kembali. Terlihat semangat dan darahnya seakan melonjak mengikuti sikapnya tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebenarnya atas kematian kepala keluarga Wang, Meng Yangchu muda adalah orang yang paling dicurigai. Banyak warga mengatakan bahwa Meng sangat dendam terhadap keluarga Wang dan mengirim orang untuk membunuhnya.&#8221; sahut Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku sudah tahu lanjutannya.<br />
Tentu Meng tidak pernah terbukti bersalah sama sekali. Dan dari sinilah, sahabatku atau ayahmu menjadi sangat tertarik. Dan aku sudah tahu kenapa sahabatku mencari informasi ke kuil Zhu Fu.&#8221; tutur Jieji sambil tertawa besar.</span></p>
<p><span>Lie Hui terheran melihat Jieji. Tetapi meski Jieji sudah tahu garis besarnya, dia masih tetap melanjutkannya.<br />
&#8220;Meng mengaku bahwa malam itu dia keluar untuk mencari angin, yaitu di sebelah tenggara kota. Dia disana sampai pagi kemudian saat terjadinya pembunuhan keluarganya sendiri. Dan Meng juga mengaku bahwa saat kejadian pembunuhan kepala keluarga Wang, dia sendiri sedang beristirahat di kamarnya. Hanya seorang yang bisa membuktikan alibi Meng.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tentu orang tua yang bermarga Gao.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana kau bisa tahu???&#8221; tanya Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Tentu&#8230;<br />
Biasanya pencuri adalah orang yang mencari sesuatu untuk dilihat apakah berharga atau tidak. Tetapi detektif sudah bisa tahu apa isi sesuatu sebelum membuka dan melihatnya.&#8221; jawab Chonchu sambil tersenyum geli ke Lie Hui.</span></p>
<p><span>Lie Hui hanya menggelengkan kepalanya saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku harus ke Kuil Zhu Fu sekali lagi. Sepertinya ada sesuatu yang masih belum kuselidiki di sana.&#8221; sahut Jieji dengan serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita ikut saja semua bagaimana? Dengan begitu, kita bisa saling menjaga. Bagaimana?&#8221; sahut Yunying.<br />
Kesemua teman-teman Jieji menganggukkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Kuil Zhufu memang seperti semalam. Berbau agak pengap dengan keadaan yang tidak teratur. Jieji melihat ke bawah lantai ketika dia masuk ke dalam kuil. Jejak kaki memang masih jejak kaki yang sama seperti kemarin sebelumnya. Hanya jejak kaki dia dan Yunying yang masih tertinggal jelas di sana. Sedang jejak kaki lainnya adalah sudah sangat kabur dan kecil. Kemungkinan adalah anak-anak yang bermain-main di kuil entah beberapa minggu yang lewat atau beberapa bulan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tidak mencurigai orang yang menyerang kita? Jangan-jangan dia masih ada di sekitar.&#8221; tutur Yunying sambil masuk ke dalam bersama.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum tipis melalui bibirnya, dia tidak menjawab pertanyaan Yunying. Lantas segera saja terlihat dia melompat ke patung.<br />
Ketiga orang yang bersamanya terkejut melihat tindakan Jieji. Namun ketiganya tidak bertindak apapun selain mengawasi dengan was-was sekeliling.</span></p>
<p><span>Jieji sudah sampai di patung tersebut. Patung perdana menteri Shu-Han terlihat berwajah yang bijaksana serta agung. Dia segera saja jongkok untuk memeriksa patung dengan sangat cermat.<br />
Hanya perlu waktu sebentar, dia terlihat tersenyum sendiri.<br />
Dengan jari tangan, sepertinya dia berniat mengangkat patung yang beratnya mungkin ratusan kilo itu.</span></p>
<p><span>Untuk berat patung seperti demikian tidak pernah menyusahkan Xia Jieji yang memiliki tenaga dalam nan kuat itu. Maka dengan sekali teriakan kecil, patung sudah terangkat tinggi dengan satu tangannya.<br />
Teman-teman pemuda segera beranjak cepat ke depan. Karena mereka semua tahu Jieji sedang mencari sesuatu benda yang sedang terletak di bawah patung.<br />
Ketika kesemuanya telah mendekat, tiada orang yang tidak terkejut melihat rancangan patung tersebut.</span></p>
<p><span>Tempat duduk patung terlihat memiliki lubang persegi. Dan di lubang berbentuk persegi sepertinya terlihat sebuah kotak kayu yang sangat bagus.<br />
Pencuri ulung berniat segera mengambil kotak tersebut, tetapi dengan segera dia dihentikan oleh Jieji.<br />
&#8220;Jangan..<br />
Biarkanlah isteriku yang mengambilnya.&#8221;</span></p>
<p><span>Lie Hui dan Chonchu cukup heran. Yunying adalah isterinya sendiri dan jika saja kotak mengandung sesuatu bahaya maka Yunying tentunya orang yang paling terancam. Tetapi ketika semuanya sadar bahwa Yunying adalah orang yang memiliki kemampuan paling tinggi, maka bisa dimengerti kenapa Jieji meminta isterinya yang mengambil kotak itu.</span></p>
<p><span>Yunying dengan wajah serius segera mengangkat kotak itu dengan cukup pelan dan meletakkannya di atas meja kecil di belakang.<br />
Jieji sudah meletakkan kembali patung batu itu dan melompat sekali untuk turun.<br />
Dia amati kotak dengan sangat teliti. Dia membalikkan dengan pelan kotak tersebut untuk melihat dengan dekat.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa isi kotak itu?&#8221; tanya Lie Hui sambil tersenyum geli kepada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Seharusnya adalah kitab kungfu. Atau mungkin saja ilmu perang dari Zhuge Kungming.&#8221; tutur nya sambil tersenyum geli juga membalas Lie Hui.</span></p>
<p><span>Pertanyaan Lie Hui kepadanya adalah sebenarnya untuk meledeknya tentang kata-kata Chonchu kemarin. Jika dia adalah detektif tentu dia tahu apa isi kotak tersebut daripada pencuri.</span></p>
<p><span>Maka dengan sangat hati-hati, Jieji mengangkat penutup kotak persegi. Sudah beberapa saat penutup kotak di angkat, tetapi tidak terdapat sesuatu reaksi apapun. Maka dengan cepat, Jieji mengayunkan tangannya.<br />
Kotak sudah terbuka dengan sekejap dan hebatnya adalah tidak ada yang tidak terkejut melihat sesuatu dalam kotak tersebut.<br />
Kotak itu terdapat sebuah lembaran buku yang pertama yang bertuliskan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tingkat sembilan Tapak Buddha Rulai.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tertawa keras ketika melihat benda tersebut. Tertawanya Jieji tentu mengherankan mereka semua. Chonchu segera menanyainya.<br />
&#8220;Kenapa anda tertawa?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kitab itu isinya kosong.&#8221; jawab Jieji pendek.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak mungkin..&#8221; tutur Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Lihatlah kalau tidak percaya.&#8221; sahut Lie Hui yang ingin memegang kitab.</span></p>
<p><span>Tetapi Jieji kembali mencegahnya.<br />
&#8220;Biar aku saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Memang kitab segera diambil Jieji dari kotak kayu itu. Dan sepertinya perkiraan Jieji sebelumnya adalah benar. Terlihat cairan perak yang cukup banyak melekat di dasar kotak.<br />
&#8220;Racun pemusnah raga lagi??&#8221; teriak Yunying.</span></p>
<p><span>Cukup benar Jieji melarang pencuri ulung yang dua kali yang hendak memegang kotak. Ternyata apa perkiraan Jieji sebelumnya untuk meminta Yunying mengambil kotak memang tepat sekali. Memang racun itu sengaja di taruh seseorang untuk membahayakan pemegangnya.</span></p>
<p><span>Tetapi kali kedua, Jieji salah besar&#8230;<br />
Kitab memang benar ada di tangan. Tetapi kitab berisi tulisan pelatihan setelah dibuka olehnya. Kitab itu tidaklah kosong sama sekali. Jieji membacanya sebentar dan terlihat menghela nafas.<br />
&#8220;Orang mengatakan tapak buddha Rulai adalah jurus yang bersih dan sakti. Tetapi aku melihat cara melatih tapak buddha tingkat kesembilan disini sudah bertentangan dengan ajaran ilmu kungfu.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying berniat melihatnya, dia terlihat meminta kitab dari tangan Jieji. Tetapi Jieji tidak memberikannya. Lantas pemuda berkata.<br />
&#8220;Melihat halaman pertama, aku sudah merasa berdebar-debar. Halaman pertama ternyata memuat pelatihan tapak buddha tingkat ke delapan. Dan turun sampai tingkat pertama. Dan melihat halaman terakhir, aku tahu bahwa baru di ajarkan cara membalikkan nadi serta pelatihan salah terhadap syaraf otak.</span></p>
<p><span>Siapapun yang melatihnya akan menjadi sangat hebat, tetapi sudah tidak berakal. Sungguh kungfu yang berbahaya sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>Mereka tertegun mendengar perkataan Jieji. Cukup lama mereka berempat terpaku tanpa mengucapkan sepatah katapun.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana kalau kita lenyapkan saja?&#8221; tanya Yunying kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Kita bukanlah pencipta jurus itu. Untuk memusnahkannya aku rasa sangat tidak baik. Ini adalah karya orang yang belajar ilmu ke arah sesat, meski membahayakan tetapi racun pemusnah raga disini tentu cukup berbahaya juga. Mungkin lebih bagus kita meletakkannya kembali saja.&#8221; tutur Jieji ke arah kesemuanya.</span></p>
<p><span>Benar Jieji mengangkat kembali patung di tengah dan menyimpannya balik. Lantas dia beranjak dari Kuil bersama teman-temannya.</span></p>
<p><span>Tidak lama kemudian dari sana, masih di kuil yang sama&#8230;<br />
Terlihat seorang berpakaian keemasan sudah memasuki ruangan. Dia berjalan dengan santai ke arah patung di tengah. Dia amati patung tanpa bersuara apapun juga.</span></p>
<p><span>Tetapi tidak lama kemudian telah terdengar sebuah suara memecah keheningan.</span></p>
<p><span>&#8220;Seharusnya aku sudah tahu bahwa anda sedang berada di sini mengamati&#8230;&#8221;<br />
Orang berpakaian keemasan segera memalingkan wajahnya dengan cepat. Wajahnya seperti semalam sebelumnya. Tertutup oleh kain berwarna keemasan. Matanya menyorotkan sesuatu perasaan yang aneh. Tetapi kali ini dia tidak menyerang sama sekali seperti halnya kemarin. Dia hanya terlihat diam saja sambil mengamati dengan was-was.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tahu benar bahwa pelaku kehebohan di wisma Meng semalam bukanlah ulahmu.&#8221; tutur suara itu kemudian.<br />
Memang adalah keempat orang yang tadinya sempat masuk itu yang kembali kemudian. Tetapi sikap ketiga orang lainnya cukup was-was melihat ke depan.</span></p>
<p><span>Kesemuanya juga tahu kelihaian ilmu jari pedang tanpa bentuk dari lawan berpakaian emas ini. Tetapi melainkan pemuda sepertinya tidak takut, dia berjalan tenang saja dan berhenti setelah jarak cukup memadai satu sama lainnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Oh?<br />
Kamu tidak menjawabku&#8230; Kamu pasti tahu sesuatu hal tentang Meng Yangchu? Bisa kau ceritakan itu kepadaku?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>Orang ini tidak menyahut sama sekali. Tetapi dia bergerak merogoh kantung bajunya untuk mengeluarkan sesuatu benda. Sesuatu benda yang terlihat adalah kertas kecil dan kemudian terlihat dia melempar dengan tenang ke arah Jieji.<br />
Pelempar memiliki energi yang tidak bisa dipandang remeh karena kertas yang tadinya dilipat sekali itu bisa melayang pesat ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>Setelah menangkapnya, Jieji membuka kertas tersebut. Dia melihat sebentar dan membaca sesuatu di sana. Kemudian, dia mendongkakkan kepalanya untuk menatap orang bertopeng.<br />
&#8220;Sungguh sebuah hal yang patut diceritakan. Aku akan menyelidikinya sebaik mungkin, anda boleh pergi tanpa kekurangan sesuatu apapun.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>Tetapi setelah mendengar perkataan Jieji, orang ini malah diam tidak bergerak. Dia pangkukan tangannya dan berdiri tegak saja.<br />
Melihat tingkahnya, Jieji tersenyum. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Ini adalah rumah anda, seharusnya yang pergi adalah kita. Selamat berjumpa kembali&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji berjalan mundur untuk mengawasi orang tersebut dan para temannya mendahului sambil berwaspada pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa dia sesungguhnya?&#8221; tanya Yunying setelah beberapa lama mereka meninggalkan kuil.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak tahu. Tetapi kemampuan silatnya betul tinggi.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul.<br />
Selain itu sepertinya orang itu aneh. Dan bagaimana kamu bisa yakin bukan dia orang yang mengacau menggunakan boneka semalam di wisma?&#8221; tanya Yunying yang terlihat penasaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Sikapnya&#8230;<br />
Dari sikapnya aku tahu orang ini bertindak terus terang. Boneka itu cukup aneh sebenarnya jika hanya untuk menakuti. Dan jika sasarannya benar adalah putera keluarga Meng, dia tidak usah menggunakan boneka segala. Dan beberapa hal yang masih terasa kabur sekali jika diingat-ingat. Aku betul tidak mampu berpikir sampai di sana. Benar kasus yang rumit&#8230;.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum kecewa.</span></p>
<p><span>Mereka bertiga berjalan meninggalkan tempat itu dan sepertinya beranjak balik menuju penginapan.<br />
Chonchu adalah orang yang hadir pertama di penginapan. Dia lantas beranjak dan menanyai Jieji.<br />
&#8220;Kamu sudah tahu pelakunya. Kenapa malah berkata hal yang begitu kabur kembali?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum melihat cara bicara puteri koguryo itu. Lantas dia menjawab.<br />
&#8220;Puteri&#8230;<br />
Anda tahu bahwa ada beberapa orang yang mengikuti kita sewaktu kembali dari kuil. Aku tidak tahu siapa mereka. Tetapi&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Oh??&#8221; terlihat Chonchu tersentak kegirangan.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum kembali karena melihat Chonchu sudah mengerti beberapa titik balik kasus.</span></p>
<p><span>Keesokan harinya&#8230;<br />
Pagi-pagi sekali jalanan di kota Yunnan yang tidak lebar itu dipenuh sesak. Tidak seperti biasanya hari ini. Jalan yang demikian ramai di kota-kota daratan tengah biasanya hanya bisa dijumpai di beberapa kota saja seperti Kaifeng, Changsha, Xiangyang, Changan dan Luo Yang. Selebihnya kota pelabuhan biasanya juga memunculkan pemandangan sedemikian.<br />
Jieji memang tidur dengan pulas malam sebelumnya karena terasa cukup lelah setelah malam sebelumnya tidak tidur sama sekali. Dia terkejut ketika kota sudah mulai dipenuhi suara-suara desas desus meski suara tersebut tidaklah keras.</span></p>
<p><span>Melihat hal demikian, dia segera bangun dan berpakaian rapi. Tidak sempat lagi dirinya untuk membasuh muka sekalipun. Dia beranjak turun dengan cepat.<br />
Yunying memang sekamar dengannya, dia tahu bahwa Jieji dengan cepat telah turun untuk melihat keadaan yang ramai. Tetapi dia sama sekali tidak sempat menanyainya.</span></p>
<p><span>Mengikuti keramaian orang, Jieji segera beranjak untuk mencari tahu hal apa yang terjadi. Keributan benar terjadi di arah utara kota Yunnan. Dia berhenti sejenak saat dia mendengar suara gempar teriakan seseorang dari arah Wisma Meng.<br />
Segera, dia meloncat cukup tinggi dan mendarat di atap untuk melihat keadaan sekitar yang sesungguhnya sudah ramai sekali.<br />
Dari arah kejauhan, dia sempat melihat sebuah &#8220;lingkaran&#8221; yang sengaja di buat oleh manusia. &#8220;Lingkaran&#8221; itu cukup luas karena orang-orang yang berkumpul di sampingnya. Di tengah malah terlihat pemandangan yang aneh. Adanya seseorang dengan tombak panjang sedang mengayuh ke sana kemari dengan cepat dan ganas. Sedang di sekitar-nya yaitu tanah tempat berpijak terlihat banyak orang yang terlungkup sambil bersimbah darah.</span></p>
<p><span>&#8220;Sungguh aneh? Penduduk malah sangat tertarik akan hal demikian?&#8221; tutur Jieji dalam hatinya.<br />
Dengan sekali lompatan pesat, dia menuju ke arah orang yang mengamuk itu.<br />
Setelah sampai, di tangan pemuda telah terpegang sebuah pedang pendek. Dia berancang-ancang ke depan sambil mengawasi dengan tajam dan serius.<br />
Rupa-rupanya salah seorang di belakang pemuda telah berteriak terkejut ketika pemuda sampai. Karena pedang yang dipegangnya telah beralih tuan dengan sekejap saja.</span></p>
<p><span>Jieji meluruskan pedang ke depan dengan wajah yang serius memandang. Dilihatnya seorang paruh baya yang berambut riap-riap memiliki wajah yang kengerian. Tinggi tubuhnya adalah tujuh kaki dengan wajah yang dipenuhi oleh berewokan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuan besar&#8230;<br />
Tidak disangka hanya dalam semalaman saja, anda sudah berubah demikian.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Orang yang disapa segera berbalik arah ke samping yaitu segaris dengan tempat berdirinya Xia Jieji. Tetapi tanpa banyak berkata, orang bermarga Meng segera menyerangnya dengan hebat.<br />
Jieji sudah menyiapkan diri sedemikian baik dan dia tahu bahwa sepertinya orang bermarga Meng ini telah kehilangan akal sehatnya.</span></p>
<p><span>Tombak di arahkan ke arah jantung pemuda dengan cepat. Gerakan tombak Meng Yangchu benar tidak bisa dipandang remeh. Meski Jieji tidak pernah melihat gerakan tombak sedemikian, tetapi dia tahu bahwa sesungguhnya pemilik wisma bukanlah seorang jago tombak melainkan seorang yang jago menggunakan pedang panjang.</span></p>
<p><span>Pedang pendek sudah di tangan Jieji sedari tadi. Dan dengan sekali berkebat, sepertinya telah terlihat pedang pendek mengambil tumbal. Memang Jieji hanya mengarahkan pedang ke arah pergelangan tangan Meng. Dan terlihat di sini, Meng Yangchu-lah orang yang &#8220;mencari&#8221; sisi tajam pedang.<br />
Tetapi meski tergores, sepertinya Meng sama sekali tidak menghiraukannya Dia malah datang semakin ganas.</span></p>
<p><span>Penduduk yang jarang sekali melihat pertarungan sedemikian, semuanya kontan bersorak gembira sekali. Sepertinya para penduduk tidak menghiraukan bahaya sama sekali saat itu, malah kesemuanya terliha sangat bergembira.</span></p>
<p><span>Jieji tidak pernah memberi kesempatan kepada Meng Yangchu. Setiap serangan Meng justru membawa luka bagi dirinya sendiri. Jieji hanya mengarahkan pedang tepat ke daerah kosong pertahanan lawan. Dan tidak pernah sekalipun pemuda berniat melenyapkan nyawa kepala keluarga ini.<br />
Sudah puluhan jurus dilakukan keduanya, dan puluhan luka juga lah terdapat di tubuh Meng yang sangat kokoh itu.</span></p>
<p><span>Dalam satu ancang-ancang penyerangan Meng, Jieji akhirnya berniat menghentikan raksasa gila yang sedang mengamuk ini. Dengan sebuah tapak, Jieji menghantam ke depan sementara itu pedang di tangan kirinya telah di selip ke belakang.<br />
Meng terlihat terhantam perutnya dengan keras. Dan membungkuk dengan segera serta memuntahkan darah segar sebentar.<br />
Memang cukup alot juga tubuh pemilik Wisma tersebut, meski luka sudah berdarah cukup hebat dan pukulan di perut tersebut memang tidak dikerahkan maksimal tenaga Jieji. Namun belum bisa membuatnya betul &#8220;tunduk&#8221;.</span></p>
<p><span>Dan akhirnya dengan sebuah serangan jari, Jieji baru dapat &#8220;menundukkannya&#8221;.<br />
Nadi gerak raksasa tertotok dan terlihat dirinya tumbang ke tanah. Nafasnya ngegosan lagi terdengar keras dan terbukti bahwa raksasa tersebut meski tumbang namun belumlah takluk.</span></p>
<p><span>Jieji terlihat segera jongkok. Dan membisikkan sesuatu di telinga Meng.<br />
&#8220;Ini adalah karma masa lampau-mu. Seharusnya memang kaulah orang yang menderita seperti sekarang.&#8221;</span></p>
<p><span>Meng Yangchu segera menatapnya dengan sangat marah sekali. Wajahnya terlihat memerah sesegera dan matanya terlihat berapi-api setelah dia mendengar tuturan Jieji barusan.</span></p>
<p><span>&#8220;Racun ilusi itu&#8230;<br />
Sebuah barang yang masih baru dan tidak pernah muncul sekalipun di dunia persilatan.&#8221; tiba-tiba terdengar suara seseorang di antara kerumunan.<br />
Orang yang baru saja berbicara adalah seorang wanita, dia segera terlihat berjalan ke depan.</span></p>
<p><span>Jieji memalingkan wajahnya sambil berjongkok. Dia tersenyum kemudian berkata.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Bukan barang yang benar baru. Setidaknya puluhan tahun yang lalu sudah muncul.&#8221;</span></p>
<p><span>Wanita yang ditanggapi begitu, langsung tersenyum. Dia adalah Lie Hui yang sudah mengikuti Jieji dari belakang tadinya.<br />
&#8220;Racun sedemikian memang tidak berbau dan bahkan tidak bisa dirasakan sama sekali. Memang hebat si tua ini sanggup berjaya puluhan tahun karenanya.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji berbalik kembali ke arah bawah. Dia masih melihat Meng Yangchu marah besar meskipun dia tidak sanggup berkata sesuatu apapun dari mulutnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu-lah orang yang membunuh keluarga-mu sendiri dalam kasus keluarga Meng. Juga kamu-lah orang yang membunuh kepala keluarga Wang.&#8221;<br />
Jieji menegaskan dengan serius ke arah Meng. Semua penduduk di sekitar sana banyak yang terlihat terkejut mendengarnya.</span></p>
<p><span>Meng masih saja mengeram dalam keadaan marah. Tidak sekalipun dia menanggapi perkataan pemuda. Lalu Jieji kembali melanjutkan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia masih ter-ilusi akibat racunnya sendiri. Sepertinya kita hanya bisa menunggu dahulu.&#8221; Dia berkata sambil berdiri mantap, kemudian meminta orang di sekitar untuk membelenggunya dan memanggil polisi setempat.<br />
Para penduduk memang sebenarnya segan juga mengikat &#8220;raksasa&#8221; tersebut, karena raksasa ini sebenarnya cukup disegani oleh seluruh penduduk kota Yun-nan. Tetapi karena melihatnya telah membunuh beberapa orang di depan rumahnya sendiri, maka kesemuanya menjadi berani karena Meng telah terbukti membunuh.</span></p>
<p><span>Hanya diperlukan sekejap saja bagi para penduduk untuk menyiapkan tali, mengikatnya sehingga dia tidak berdaya sama sekali. Meski Meng sedang dalam keadaan tertotok nadi, tetapi jika tidak diikat keras, maka ketika di bawa ke pengadilan akan terasa bermasalah juga. Maka daripada itu, Jieji meminta para penduduk supaya mengikatnya terlebih dahulu.</span></p>
<p><span>Khalayak ramai ini cukup tegang menyaksikan kejadian ini, oleh karena itu suara mereka hanya terdengar sungguh pelan satu sama lainnya.<br />
&#8220;Apa yang terjadi?&#8221; tanya suara seseorang dari arah belakang. </span></p>
<p><span>Jieji menoleh kepadanya sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Kamu ikuti saja semuanya. Nanti baru akan kuceritakan.&#8221;</span></p>
<p><span>Orang yang datang adalah Yunying. Dia telah beres membasuh mukanya dan ikut menyusul juga kemudian. Di belakangnya terlihat Chonchu, puteri koguryo.<br />
Para polisi kemudian telah berdatangan. Mereka sigap dan segera bersiaga mengepung Meng yang terikat sambil berlutut. Sementara seseorang yang memakai baju seragam yang agak berbeda dari anggotanya maju ke depan untuk menanyai Jieji. Dia terlihat berwajah bidang, umurnya yang terlihat dari wajahnya mungkin 40-an atau hampir 50 tahun. Memiliki kumis tipis dan berpandangan licik.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia telah membunuh?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Saksi-nya adalah seluruh warga di sini.&#8221; jawab Jieji pendek saja.</span></p>
<p><span>Kepala polisi terlihat mengangguk pelan saja. Dia segera berbalik ke arah penduduk sekitar guna menanyai mereka.<br />
Jieji melihatnya dengan tatapan yang sinis sekali. Tetapi pengamatan pemuda segera dilihat oleh isterinya sendiri, yang lantas datang untuk menanyainya.<br />
&#8220;Kenapa kamu menatap dengan cara begitu ke kepala polisi?&#8221;</span></p>
<p><span>Sambil berbisik, Jieji berkata kepada Yunying.<br />
&#8220;Hm&#8230;<br />
Ada 3 hal&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;3 hal?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul..<br />
Hal pertama, kepala polisi itu tolol.<br />
Hal kedua, kepala polisi itu korup.<br />
Hal ketiga, kepala polisi akan mencari masalah.&#8221;</span></p>
<p><span>Baru saja Jieji menutup mulutnya, dia segera di datangi kepala polisi. Sambil melepaskan pedang dari sarung dia menuding Jieji.<br />
&#8220;Kau!<br />
Kau penyebab semuanya???&#8221;</span></p>
<p><span>Kontan saja banyak penduduk yang terkejut. Lantas Yunying dan Chonchu juga cukup terkejut begitupun Lie Hui. Tetapi Jieji malah tertawa tenang.<br />
&#8220;Tadi baru saja kukatakan.<br />
Tolol karena tidak bisa melihat suasana. Korup karena ada sesuatu hal besar, tetapi dibiarkannya. Dan akan mencari masalah, dan tentu saja ketika baru saja dia meloloskan pedang dari sarung-nya kemudian di arahkan tepat ke arahku.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying melihatnya dengan tersenyum. Dia tidak menyangka Jieji sangat pintar membaca isi hati kepala polisi itu meski hanya sekali dia berbicara dengannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Aku-lah orang yang membunuh semua orang di sini.&#8221; jawab Jieji pendek kemudian.</span></p>
<p><span>Kontan jawaban Jieji membuat semua orang sangat terkejut. Kesemua penduduk tahu bagaimana jalan cerita Meng Yangchu yang baru saja berhasil ditaklukkan. Tetapi mengaku kesalahan membunuh adalah hukumannya sangat berat. Namun, Jieji terlihat tenang saja.<br />
Sedangkan teman-temannya juga merasa aneh kenapa pemuda bisa mengatakan hal demikian.</span></p>
<p><span>&#8220;Nah&#8230;<br />
Kalau begitu, ikutlah kita ke kantor polisi. Kasus ini akan di serahkan ke pengadilan Zi Tong.&#8221; tutur Kepala polisi dengan gaya angkuh.</span></p>
<p><span>&#8220;Tunggu dulu&#8230;&#8221; jawab Jieji sambil mengangkat sebelah tangannya.<br />
&#8220;Terima kasih kepala polisi.&#8221; pemuda itu kembali bertutur sambil tersenyum sangat manis kepadanya.</span></p>
<p><span>Kepala polisi merasa heran kenapa orang tersebut bertingkah aneh di depannya. Dia tidak berusaha untuk menebak apa yang sedang berada di otak pemuda. Lantas dengan memberi tanda, polisi yang jumlahnya 20 orang lebih mengepung Jieji dan kawan-kawannya.<br />
Sementara melihat kelakuan kepala polisi, Jieji hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Apakah ada orang yang sanggup meredam kesaktian bertarung Jieji dan Yunying di sini? Memang tindakan seperti demikian memang sangatlah bodoh sekali jika dipikir-pikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Kepala polisi. Anda ditangkap karena dituduh melakukan tindak kejahatan dengan Meng Yangchu. Karier polisimu sudah tamat betul.&#8221; tutur Jieji sambil tertawa. Tidak sedikitpun kekhawatiran tampak di wajah Jieji, dia tetap tertawa seakan sedang berada di tempat yang tidak ada orang-nya.</span></p>
<p><span>&#8220;Serang!&#8221; terdengar kepala polisi berteriak sekali. Ingin sekali dia musnahkan pemuda beserta teman-temannya disini.</span></p>
<p><span>Banyak orang di sana tentunya berpikiran bahwa 4 orang di sini. 3 orang wanita dan seorang pria bakal menjadi daging cincang. Mereka kesemuanya sedang dikepung rapat oleh 20 orang lebih.<br />
Namun, ternyata hasilnya di luar dugaan mereka sama sekali. Karena tidak ada yang benar tahu bagaimana &#8220;proses&#8221; tersebut terjadi. Kesemuanya hanya melihat hasil akhir-nya saja.</span></p>
<p><span>Lebih dari dua puluh orang polisi terpental bergulingan ke belakang membentuk lingkaran yang jauh lebih besar. Dijatuhkan oleh sesuatu tenaga &#8220;setan&#8221; yang betul tidak tampak mata. Semelir angin lembut memancar benar terasa sekali.<br />
Kepala polisi di sini memang tidak-lah terpental sama sekali. Tetapi pedang di tangannya terasa bergetar ketika melihat &#8220;hasil&#8221; dari Maha karya setan tak berwujud tersebut.</span></p>
<p><span>Jieji berjalan ke samping. Dilihatnya sebuah kipas yang sedang dipegang oleh seorang pemuda yang mungkin adalah sastrawan.<br />
&#8220;Aku meminjam sebentar kipas anda.&#8221; tuturnya sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Pemuda yang usianya sekitar belasan tahun atau hampir 20 hanya memandangnya melongo ketika Jieji mengambil kipas dari tangannya.<br />
Lantas dia berjalan ke tengah sambil berkata-kata layaknya seorang sastrawan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kasus keluarga Meng beberapa puluh tahun yang lalu sudah terpecahkan.<br />
Pembunuhnya adalah tiada lain Meng Yangchu sendiri. Bagaimana cara pembunuhan terjadi tentu sebenarnya adalah masih misteri sekali. </span></p>
<p><span>Tetapi&#8230;<br />
Baru saja teman kita&#8230;.&#8221; tunjuk Jieji dengan kipas ke arah Meng.</span></p>
<p><span>Suara desas-desus penduduk yang tadinya masih terdengar, sekarang sudah berubah menjadi kondisi serius. Tiada suatu suara-pun selain milik pemuda berjuluk &#8220;Pahlawan Selatan&#8221; pada saat tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;&#8230;&#8230;mengakuinya dengan sangat baik. Dan dia dilindungi oleh kepala polisi yang tangannya sepertinya sangat gemetaran sekarang. Cara pembunuhan bukanlah sesuatu yang aneh sebenarnya.</span></p>
<p><span>Meng yang sekarang sedang ber-ilusi hebat.<br />
Adalah karena dia terkena racun&#8230; Eh, mungkin semacam obat yang di dapatinya entah dari mana.<br />
Aku baru tahu ketika mendengar kabar bahwa Penguasa cakar setan adalah tepatnya tuan besar Meng yang bernama Meng Zulu atau ayahnya tuan besar Meng Yangchu sekarang.</span></p>
<p><span>Benar sekali, Meng Zulu sebenarnya adalah orang yang membunuh keluarganya sendiri akibat obat &#8220;hebat&#8221; dari Meng Yangchu. Membuatnya kehilangan akal sehat dan membantai keluarganya sendiri.</span></p>
<p><span>Sebenarnya&#8230;<br />
Ada beberapa hal yang benar mengherankan saat itu. Yaitu bahwa hanya keluarga Meng-lah yang mati dibantai. Sedangkan orang-orang yang di luar hubungan keluarga-nya malah baik-baik saja tidak mengapa.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Obat tidur??&#8221; sahut Lie Hui tiba-tiba memecah suara Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji menoleh ke arah Lie Hui. Dia tunjukkan kipas ke arah wanita.<br />
&#8220;Tepat!<br />
Tidak&#8230;.<br />
Salah juga&#8230;.&#8221;<br />
tutur Jieji secara serentak dan cepat. Dia segera berbalik.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku sudah meneliti&#8230;.&#8221; lanjut pemuda.<br />
&#8220;Ke rumah keluarga Meng terdahulu yang sudah tiada berpenghuni kecuali setan penasaran.<br />
Bentuk rumah di sana mengingatkan kepadaku sebuah hal. Rumah di sana terbagi menjadi 4 penjuru mata angin dan tengah.<br />
Sungguh sangat masuk akal sekali jika hanya rumah &#8220;tengah&#8221; tempat terjadinya pembantaian karena seisi keluarga Meng tinggal di sana.</span></p>
<p><span>Dengan kata lain, kasus-nya adalah sedemikian rupa&#8230;<br />
Meng Yangchu memberi obat &#8220;ilusi&#8221; kepada seluruh keluarga-nya. Sedangkan dia sengaja keluar untuk &#8220;mencari angin&#8221; bersama Gao Jianshen.<br />
Ketika obat ilusi itu sudah bekerja, maka kepala keluarga Meng Zulu sudah mulai membantai seperti yang sedang dilakukan oleh Meng Yangchu sekarang. Dia adalah penguasa ilmu cakar yang menyerang leher lawan.<br />
Malam pembantaian saat itu terjadi hebat&#8230; </span></p>
<p><span>Kenapa hanya keluarga Meng saja yang terbantai tetapi tidak orang disekitar sungguh mudah dipahami.<br />
Sebab ketika suara seseorang yang mendekati ajal tentu didengar oleh semua orang di balai tengah Wisma Meng. Satu persatu kehilangan nyawa dengan cara yang sama karena mereka mendekati balai utama tempat Meng Zulu berada.<br />
Kemudian, teman kita&#8230;.&#8221; tunjuk Jieji kemudian ke arah Meng Yangchu kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Pulang ke rumah untuk melihat hasil kerjanya. Hasil Maha karyanya yang sangat hebat.<br />
Tentu, saat itu ketika dia pulang&#8230;<br />
Malam sudah gelap sekali meski ruangan itu terang. Kemudian ketika menyaksikannya&#8230; Dia tentu berteriak demikian&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Chonchu sangat tertarik melihat Jieji bercerita. Mendengar sampai di sini, dia melanjutkannya.<br />
&#8220;Panggil Polisi cepat&#8230; Panggil polisi!!!&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tepat sekali, puteri&#8230;.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum. Dia segera berbalik ke arah kepala polisi.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia memanggilmu saat itu. Tepatnya Gao yang memanggilmu saat itu.&#8221; Kepala polisi menatap serius ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Polisi ini datang ke Wisma Meng dengan sesegera. Lantas membuktikan bahwa adanya pembunuhan hebat di sana. Dengan membuat alibi kuat, Meng Yangchu muda saat itu lolos dan tidak pernah disangka bahwa Meng Yangchu-lah orang yang membunuh keluarga-nya sendiri dengan sedikit taktik obat ilusi.&#8221; tutur Yunying melanjutkan.</span></p>
<p><span>Jieji tertawa mendengar tuturan Yunying.<br />
Sepertinya saat itu terlihat sungguh cukup menakjubkan. Jieji dan kawan-kawannya seakan sedang memainkan sebuah sandiwara di atas panggung yang berdarah. Memang cara demikian sungguh cukup aneh jika dilihat, tetapi memang benar sekali bahwa tuturan kesemuanya mulai masuk akal.</span></p>
<p><span>&#8220;Membuat luka yang sama memang tidak susah sama sekali. Dengan cakar, dia membunuh ayah kandungnya sendiri yang sudah lemah akibat reaksi obat ilusi yang berlebihan. Tepatnya lemah setelah bertindak &#8220;terlalu bersemangat&#8221;! &#8220;</span></p>
<p><span>&#8220;Kata-katamu tidak beralasan! Meng Yangchu sangat berbakti kepada ayahnya. Semua penduduk Yun-nan mengetahuinya. Jelas kata-kata anda tidak masuk akal&#8230;&#8221;<br />
terdengar teriakan kepala polisi yang tergoncang akibat penuturan analisis-nya Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji kemudian menatapnya. Wajahnya sayu beberapa saat, dia berkata seperti seorang yang kerongkongannya kering.<br />
&#8220;Tadinya, aku sengaja memancingmu. Aku tidak tahu siapa pembantu pelaku ketika kasus puluhan tahun lalu itu terjadi. Tetapi dengan kata-kata anda tadinya, aku yakin anda-lah orang yang terlibat.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kau memancingku? Kau punya bukti bahwa aku-lah orang yang membantu Meng, tentunya seperti yang kau katakan tadinya?&#8221; sambil marah dia memelototi Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap tanah.</span></p>
<p><span>&#8220;Nah&#8230;<br />
Kau tidak punya bukti sama sekali bukan? Bagaimana kau bisa menuduhku terlibat?&#8221; tanya kepala polisi itu dengan marah.</span></p>
<p><span>Jieji menatapnya dengan serius. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Aku menggelengkan kepalaku, bukannya bahwa tiada bukti yang kudapatkan. Anda salah besar. Maksudku tadinya adalah terlalu banyak bukti yang mengarah kepadamu. Membuktikan bahwa kau dan Meng Yangchu bersekongkol satu sama lainnya.&#8221;</span></p>
<p><span>Kepala polisi terkejut sekali. Wajahnya jelas terlihat membiru sebentar.</span></p>
<p><span>&#8220;Kasus kembali terjadi beberapa hari kemudian saat itu. Kepala keluarga Wang mati dengan cara yang sangat mengerikan. Tubuhnya dimutilasi menjadi beberapa puluh bagian. Saat itu, yang memeriksa kasus ini, juga anda bukan?&#8221; tutur Jieji menanyainya.</span></p>
<p><span>Kali ini kepala polisi diam, dan terlihat berpikir beberapa saat sebelum menjawab. Dia tidak berani mengatakan secara sembarang dahulu. Tetapi saat sunyi ini kemudian menjadi &#8220;pecah&#8221; sesegera. Terdengar suara Jieji berteriak keras sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Kepala Polisi!!!!<br />
Apa yang kau pikirkan?!?&#8221;</span></p>
<p><span>Kepala polisi terkejut juga. Sebenarnya dia sendiri sedang tenggelam dalam lamunan tentang kejadian kasus. Dia segera berpikir mencari celah untuk mengelak. Dia segera menjawab.<br />
&#8220;Aku orang yang menyelidikinya&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Lantas kenapa kau perlu waktu yang lama untuk berpikir apakah kau bukan orang yang menangani kasus itu? Jawab Aku kepala Polisi!&#8221; tutur Jieji semakin keras.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku&#8230;.&#8221; baru saja kepala polisi hendak berpikir untuk berbicara, tetapi malah Jieji melanjutkannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau sedang berpikir begini. Ini adalah hal yang ingin kau katakan : &#8220;Kasus itu sudah lewat puluhan tahun yang lalu jadi aku tidak begitu mengingatnya lagi.&#8221;<br />
Bukankah hal sedemikian yang ingin kau katakan? Aku menanyaimu, selama 30 tahun, kasus mutilasi orang di Yun-nan ada berapa? Ha?&#8221; teriak Jieji makin sengit kepadanya.</span></p>
<p><span>Kepala polisi tidak sanggup berkata-kata sama sekali. Dia terlihat menundukkan kepalanya.<br />
Sungguh hebat sekali pemandangan disini. Sesungguhnya dia-lah orang yang pantas menanyai tersangka dengan cara demikian. Tetapi kali ini berbeda, belum pernah terjadi sepanjang hidupnya &#8220;diinterogasi&#8221; oleh orang yang ingin ditangkapnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Hanya sekali saja. Dan hanya sekali itulah anda menangani-nya. Dan hanya sekali juga kasus itu terjadi di sini.&#8221; tutur Jieji sambil melunak.<br />
&#8220;Kau sudah mendapat sogokan&#8230;&#8221; Jieji terlihat menarik Meng Yangchu yang sudah terikat itu. Dia menyeretnya melewati teman-temannya, dan sekali sampai di samping kepala polisi tersebut.</span></p>
<p><span>Terlihat cukup payah juga Xia Jieji menarik raksasa bermarga Meng ini. Dia terlihat menyeretkan kakinya dengan kepayahan dan nafas yang tersengal-sengal. Memang sudah diketahui bahwa Meng adalah orang yang mungkin paling &#8220;berat&#8221; dibandingkan dengan semua penduduk Yun-nan.</span></p>
<p><span>Adalah sebuah kesempatan bagi kepala polisi saat itu. Melihat lawan &#8220;bicara-nya&#8221; sedang kepayahan di sampingnya. Segera saja dia mengambil kesempatan. Dia mengeluarkan sesuatu benda dari balik baju-nya untuk segera ditusukkan ke arah pemuda. Jarak mereka hanya paling 1 kaki saja saat tersebut. Dengan curang dia ingin mencelakai Jieji yang terlihat sedang serius menarik Meng.</span></p>
<p><span>Tetapi seharusnya ketika sesuatu benda menancap ke pinggang pemuda, namun hasilnya di luar dugaan. Sebab sepertinya sesuatu benda yang dipegang oleh Kepala polisi langsung lepas begitu saja.<br />
Tangannya terasa nyeri sesaat itu dan terkejut-nya segera terjadi tidak buatan. Sebab beberapa jarinya sudah terputus dengan sangat cepat akibat ayunan tangan menusuknya.<br />
Darah menyemprot cepat ke arah pinggang pemuda yang seharusnya dia celakai beberapa saat dan menetes ke tanah hebat sekali. Sedang kepala polisi terdengar berteriak kesakitan luar biasa.</span></p>
<p><span>Semua khalayak kontan merasa ngeri sekali melihat keadaan kepala polisi. Tidak ada yang tahu bahwa bagaimana cara Jieji mencelakainya. Yang jelas kesemua tahu bahwa ada &#8220;sesuatu&#8221; yang sedang dilakukan Jieji dengan gerakan secepat kilat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau melihatnya dik?&#8221; tanya Chonchu yang tahu bahwa Jieji telah melakukan sesuatu.</span></p>
<p><span>Yunying berbalik ke arah Chonchu. Dia tersenyum sesaat.<br />
&#8220;Itu adalah jurus pedang surgawi membelah. Kipas terasa berat tadinya, sepertinya sastrawan tadinya juga sastrawan mengagumkan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kipas mengandung besi tajam di setiap sisinya. Itu adalah termasuk senjata juga.&#8221; tutur Lie Hui ke arah Chonchu.</span></p>
<p><span>Chonchu menganggukkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Jieji memang bertindak cepat ketika sesuatu benda yang terasa tajam sedang mengancam pinggangnya. Kepala polisi ini ingin mencelakai pemuda yang terlihat sedang serius terhadap &#8220;barang&#8221; tepat di bawah kakinya. Namun, dia tidak pernah sekalipun menyangka bahwa Jieji sedang memainkan sebuah sandiwara saja.<br />
Pemandangan di sana cukup mengerikan, penduduk yang menyaksikan hasil dari gerakan 1 kali ini membuat mereka menggigil. Tiga jari :jempol, telunjuk dan jari tengah sudah terbabat putus di tanah. Sedangkan darah seperti menjadi kuah dari daging &#8220;pendek&#8221; tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa tidak kau akui saja? Akui saja bahwa dirimu, hakim, dan pejabat setempat juga terlibat akan kasus demikian.&#8221; tutur Jieji melembut melihat ke arah kepala polisi.</span></p>
<p><span>&#8220;Omong kosong!!!&#8221; teriak kepala polisi yang sedang menahan sakit yang merambat ke seluruh tangan kanan-nya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayo-lah&#8230;<br />
Kau juga tidak akan lolos. Yun-nan memiliki hukum membunuh berarti mendapat hukuman mati. Kau tidak melakukannya, kenapa harus kau takut dihukum mati?&#8221; tutur Jieji kepadanya.</span></p>
<p><span>Kepala polisi meski kesakitan, tetapi dia tertarik mendengar perkataan Jieji. Namun, karena kepala polisi ini cukup takut dan merasa sangat susah mengakui kesalahan yang telah diperbuat ini diam saja. Dia memandang ke bawah tanpa berani berkata apapun.</span></p>
<p><span>Jieji memandangnya cukup lama tanpa berkata apapun juga. Kedua alisnya berkerut sambil menunggu pengakuan kepala polisi ini. Tetapi karena tidak kunjungnya polisi memberikan kesaksian di depan orang banyak. Dia kembali melanjutkan lagi.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku merasa secepatnya ada orang yang sanggup memberikan informasi kasus tersebut ke Tali. Apa ada yang bersedia meminta pejabat Tali kemari?&#8221;<br />
tanya Jieji kepada khalayak ramai.</span></p>
<p><span>Pernyataan Jieji banyak ternyata disambut ramai oleh beberapa pihak. Banyak orang yang terlihat dari kaum persilatan Yun-nan bersedia melakukannya. Jieji berterima kasih kepada mereka secara satu persatu.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana? Kita hanya menunggu?&#8221; tanya Yunying kemudian setelah dia maju ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tentu&#8230;<br />
Kamu punya cara yang lebih baik?&#8221; tanya Jieji kepada isterinya kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Pengadilan dan pejabat di Yun-nan sudah pasti tidak akan menerima kasus tersebut setelah mereka mengetahui kepala polisi mereka gagal total. Dan keputusan kepala polisi tadinya dengan memberikan kasus ke pengadilan lebih tinggi di Zi Tong sudah mengandung maksud tertentu.&#8221; sahut Chonchu dari belakang Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan, lantas dia menambahkan kata-katanya.<br />
&#8220;Pengadilan di Zi tong ternyata juga mengambil andil dari kasus puluhan tahun di sini. Mereka tidak menyeret kita ke Tali karena di sana tidak ada orang-orang mereka. Sedang di Zi Tong yang jelas lebih jauh tentu mempunyai antek-antek dari Meng Yangchu sendiri.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana kau bisa tahu bahwa Meng-lah orang yang membunuh keluarga-nya sendiri? Aku tidak mendapat petunjuk cara berjalannya otakmu.&#8221; tanya Lie Hui segera ketika Jieji baru saja menyelesaikan kata-katanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Wajar saja anda tidak mengetahuinya.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum.<br />
&#8220;Sebab saat kematian putera keluarga Meng, kamu tidak berada di sana.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying yang mendengar tuturan Jieji, kontan bersemangat. Terlihat sekali bahwa dia ingin mengungkapkan semuanya. Lantas dengan cepat mendahului suaminya, dia berkata.<br />
&#8220;Benar sekali. Sebenarnya putera Meng Yangchu juga tewas karena akibat cakar setan. Semuanya juga berawal dari obat ilusi yang ditebarkan oleh Meng Yangchu.<br />
Malam itu, kita sudah berunding dengan pengurus rumah Gao untuk memancing orang berpakaian emas. Semua arahan kak Jieji sebenarnya sudah sangat baik sekali dan tanpa celah&#8230; Lalu ada beberapa hal yang kuherankan sesaat itu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hal yang kamu herankan inilah yang menjadi awal titik kasus Meng Yangchu. Tidak ada jejak kaki sama sekali di lapangan terbuka dan tidak ada rasa sedikitpun gerakan orang berpakaian emas di atap adalah kejanggalan yang luar biasa.<br />
Saat kemarahan Meng meluap ketika menyaksikan kematian putera-nya, saat itu juga aku sudah tahu pelakunya adalah Meng Yangchu sendiri&#8230;&#8221; sahut Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Masuk akal&#8230;<br />
Saat itu, aku juga telah mencurigai Meng Yangchu. Dia membuat perangkap seolah orang berpakaian emas ingin membunuhnya. Padalah tujuannya hari itu adalah melenyapkan puteranya sendiri.<br />
Mungkin puteranya mengetahui sedikit banyak rahasia dirinya. Dan juga saat itu dia ingin membunuhnya. Adalah sungguh kebetulan aku sudah berada di sana beberapa hari sebelumnya.&#8221; sambung Chonchu sambil berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia membuat sedikit trik dengan memanfaatkan kita tentunya&#8230;<br />
Ketika kita telah pergi untuk menyelidik wisma Meng yang lama. Chonchu seharusnya menyiapkan perangkap yang baik untuk orang berpakaian emas. Disinilah, saat yang baik bagi Meng sendiri untuk menghabisi puteranya sendiri.<br />
Setelah benar dia melakukannya, lantas dia berbalik ke kamarnya sendiri. Hebatnya tiada saksi ataupun bukti yang menguatkan kalau Meng sebelumnya ada di kamar puteranya. Karena jurus cakar hebat itu saja yang bisa dijadikan petunjuk, namun cukup sedikit informasi bahwa Meng-lah orang yang membunuh puteranya.&#8221; sahut Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Oleh karena itu, kamu tidak mengatakan bagaimana cara pembunuhan kepada khalayak ramai seperti sekarang?&#8221; tanya Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji menganggukkan kepalanya saja. Dan kembali dia berkata.<br />
&#8220;Meng Yangchu membunuh keluarganya sendiri adalah sebuah kasus yang cukup aneh dan jarang sekali terjadi di seluruh daratan tengah.<br />
Yangchu muda saat itu mengalami kejadian yang sama persis dengan kejadian puteranya. Dia maupun puteranya telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat. Hebatnya, Meng Yangchu-lah yang menjadi &#8220;hakim&#8221; terhadap keluarganya sendiri.&#8221; </span></p>
<p><span>&#8220;Perkataanmu sungguh membingungkan&#8230;&#8221; tutur Yunying kepadanya.<br />
Jieji melihat isterinya, sambil tersenyum dia mengeluarkan sesuatu benda dari dalam bajunya. Sebuah kertas putih terlihat tergores tinta hitam di sana. Dia memberikan kepada isterinya untuk dibaca.</span></p>
<p><span>&#8220;Pelaku pembunuhan dari awal hingga akhir hanya seorang Meng Yangchu. Aku memberimu tempo hingga tengah malam. Jika tidak, aku akan bertindak.&#8221;</span></p>
<p><span>Begitulah bunyinya tulisan dari surat tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini berasal dari orang berpakaian keemasan?&#8221; tanya Yunying segera.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk.<br />
&#8220;Sepertinya orang yang tahu kasus dari awal hingga akhir hanya dia-lah seorang saja.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi anehnya orang itu tidaklah membunuh Meng dari hari-hari sebelumnya. Ini sangat aneh bukan?&#8221; tanya Chonchu yang tidak bisa mengira apa hal yang sebenarnya terjadi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kemungkinan saja&#8230;<br />
Kemungkinan adalah orang yang mempunyai alasan kuat yang tidak akan melakukan hal pembunuhan.&#8221; tutur Jieji sambil melihat ke arah Lie Hui.</span></p>
<p><span>Melihat Jieji menatapnya secara langsung, membuat Lie Hui sendiri juga berpikir. Dengan cepat, dia telah menanggapi kata-kata Jieji.<br />
&#8220;Jangan-jangan&#8230;&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kemungkinan&#8230;&#8221; jawab Jieji kemudian dengan pendek.</span></p>
<p><span>&#8220;Lokasi Ta-li cukup dekat dengan kota Yun-nan sekarang, seharusnya tidak lama lagi pengadil akan sampai.&#8221; tutur Chonchu.</span></p>
<p><span>Jieji tidak menjawab lagi perkataan temannya. Dia hanya berdiri diam mengawasi ke arah Meng Yangchu. Meng memang masih terlihat kepayahan karena terikat tali yang beberapa lapis tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita harus pergi&#8230;&#8221; tutur Jieji kemudiannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi kasus ini&#8230;&#8221; jawab Yunying dengan terkejut ketika Jieji baru saja menyelesaikan kata-katanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada orang yang lebih rela menunggunya daripada kita sendiri.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum saja.<br />
Dia berjalan membelakangi Meng yang sedang berlutut di tanah itu. Kemudian diikuti oleh teman-temannya. Khalayak memang cukup merasa aneh bahwa orang-orang ini dengan cepat ingin meninggalkan tempat. Ketika melewati sastrawan tadinya, Jieji memberikan kembali kipasnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebuah benda yang cocok untuk membela diri&#8230;&#8221; tutur Jieji kepadanya sambil tersenyum. Sedangkan sastrawan itu terlihat tersenyum malu.</span></p>
<p><span>Mereka kemudian berjalan keluar kota melalui utara. Ketika sudah tidak ada penghuni di sana. Yunying baru menanyainya kembali.<br />
&#8220;Kamu ini aneh sekali&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;&#8221; tutur Jieji memberi komentar.<br />
&#8220;Orang berpakaian emas itu bisa mengatur segala hal. Tenang saja&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Lie Hui berdiri berbalik dan diam di tempat. Ingin sekali dia kembali kelihatannya. Tetapi Jieji berkata kepadanya.<br />
&#8220;Dia bukanlah ayahmu&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Lie menoleh sebentar ke arah Jieji. Dia terlihat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa yang hendak kamu lakukan sekarang?&#8221; tanyanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Membasuh muka tentunya terlebih dahulu&#8230;.&#8221; tutur Jieji pendek sambil tertawa kecil.</span></p>
<p><span>3 Hari kemudiannya&#8230;<br />
Ta-Li, Nan Zhao&#8230;<br />
Sebuah negeri kerajaan yang luasnya tidaklah seberapa saja dengan penduduk yang jumlahnya juga tidak seberapa banyak. Kerajaan Tali pernah membuat gempar seluruh daratan tengah sekitar 200 tahun yang lalu yaitu mereka sempat menyerang dan menklaim Chengdu pada masa kacau di akhir dinasti Tang. Lalu kerajaan Tali sempat surut kembali ke Yunnan dan terakhir berjaya kembali pada tahun 930-an. Kerajaan Tali era baru didirikan oleh Duan Siping yang menjabat sebagai kaisar Tali yang pertama. Sudah berkuasanya 3 Kaisar Tali hingga sekarang dan Kerajaan Tali benar berada di bawah kekuasaan Sung utara. Namun kerajaan Tali adalah kerajaan yang memiliki hak kuasa penuh terhadap masalah intern mereka sendiri.</span></p>
<p><span>Di sebuah penginapan berikut restoran mewah sedang terlihat kacau. Banyak penduduk di sana sedang berkumpul seperti hendak menyaksikan keramaian yang tidak dibuat-buat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita bertaruh!!!&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;100 gelas!!!&#8221; </span></p>
<p><span>Pemandangan yang cukup aneh jika dilihat. Dari dalam restoran terlihat 2 orang yang berpenampakan jelas gagah. Umur keduanya sekitar 30-an. Tinggi keduanya mungkin hampir mencapai 7 kaki dengan wajah yang bidang serta memelihara jenggot. Keduanya hampir terlihat sebagai kembaran jika hanya orang-orang melihat sekilas.<br />
Tetapi kejadian semacam demikian bukanlah pertama kalinya terjadi. Sudah puluhan kali sejak sebulan terakhir. Tidak ada orang yang mengenal keduanya, tetapi keduanya diyakini sebagai orang yang memiliki banyak uang serta berkungfu tinggi.</span></p>
<p><span>Setiap harinya, bahkan keduanya sanggup menghabiskan 100 kendi arak dengan hanya berdua saja dan ribuan gelas telah dilalui mereka berdua tanpa merasa mabuk sedikitpun.</span></p>
<p><span>Tawa mereka menggaungi ruangan yang terlihat mewah tersebut. </span></p>
<p><span>&#8220;Mengapa banyak sekali orang royal di sini? Aneh&#8230;&#8221;<br />
tutur seorang wanita yang duduk bersama seorang pria di sebuah sudut ruangan restoran.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka adalah peminum yang luar biasa handal.&#8221; tutur seorang pria yang duduk bersebrangan dengan wanita.</span></p>
<p><span>&#8220;Sastrawan kaya, hakim yang selalu membeli mutiara, dan sekarang 2 orang gilak yang tahu minum setiap harinya saja. Mungkin mereka memerlukan 50 tael emas setiap hari kalau dilihat dari cara minum mereka itu.&#8221; tutur wanita yang terlihat agak kesal.</span></p>
<p><span>Pemuda tersenyum sesaat. Dia melanjutkan dengan pelan.<br />
&#8220;Keduanya mempunyai tingkatan kungfu yang tinggi sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak mungkin? Dilihat darimana keduanya terlihat hanya orang biasa saja.&#8221; tanya wanita.</span></p>
<p><span>&#8220;Orang yang hebat adalah orang yang sanggup menyimpan tenaga dalamnya dengan sangat baik sehingga kelihatan dari cara ataupun gaya tidak bisa diketahui meski oleh seorang yang ahli.&#8221; tutur lelaki.</span></p>
<p><span>Wanita itu hanya duduk saja sambil sesekali mengambil sumpit untuk makan di sana. Sedangkan yang pria hanya duduk membelakangi kedua orang &#8220;gilak&#8221; tersebut sambil makan makanan ringan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kasus itu&#8230;<br />
Kamu ingin menyelidikinya?&#8221; tanya wanita itu tiba-tiba.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita sudah diminta seseorang yang tidak kita ketahui sama sekali. Sepertinya di sini pun kita tiada kerjaan, kenapa tidak coba-coba saja untuk melatih otak?&#8221; tanya yang lelaki sambil tertawa ringan.</span></p>
<p><span>Wanita itu tersenyum sambil memegang pipinya.<br />
&#8220;Setelah di sini benar selesai, kita menuju ke Tongyang terlebih dahulu. Bagaimana menurutmu?&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda melihat kedua bola mata wanita, sambil tersenyum dia mengangguk.</span></p>
<p><span>Ruangan restoran memang terasa ribut sekali dengan perbincangan keduanya yang keras. Meski demikian kedua orang kemudian tidak merasa terganggu sama sekali. Hingga sekitar beberapa saat kemudian, &#8220;suara&#8221; lain telah muncul. Suara langkah tergopoh-gopoh masuk ke restoran bisa di dengar siapa saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Berita!!! Berita!!!!&#8221; teriaknya sepanjang jalan dan terdengar membahana.</span></p>
<p><span>Biasanya hal sedemikian sangatlah diminati oleh pemuda yang duduk di pojok, dan dengan segera dia bangun saja dan melihat ke arah orang yang berlari masuk itu.<br />
Orang yang berlari masuk adalah seorang pemuda, berusia sekitar 20-an dan terlihat energik sekali.</span></p>
<p><span>Sedangkan 2 orang yang sedang minum dengan cara &#8220;hebat&#8221; itu segera memalingkan wajahnya. Satu di antaranya terlihat marah dan sambil berjalan mendekati pembawa berita. Dia mengangkatnya hanya dengan sebelah tangan.</span></p>
<p><span>&#8220;Berita apa!?&#8221; teriaknya.</span></p>
<p><span>Orang yang diangkat segera pucat sekali wajahnya. Dia gemetaran sambil hendak berkata.<br />
&#8220;Meng&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Meng? Yang jelas!!!&#8221; teriaknya kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Saudara Wang&#8230; Letakkan dia terlebih dahulu.&#8221; teriak seorang peminum yang tidak beranjak dari tempatnya.</span></p>
<p><span>Orang bermarga Wang yang tinggi besar sempat menoleh sebentar, dan mengangguk. Dia segera menurunkan pemuda pembawa &#8220;berita&#8221; yang sepertinya telah mengacaukan kesenangan kedua peminum barusan.<br />
Cukup perlu waktu yang lama juga sehingga pembawa berita tersebut menghilangkan rasa terkejutnya. Kemudian dia mulai berkata.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak tahu kalau kedua pahlawan berada di sini. Aku sungguh telah salah besar.&#8221;</span></p>
<p><span>Peminum di depan yang bermarga Wang terlihat tertawa keras beberapa lama, lantas dia berkata.<br />
&#8220;Pahlawan? Sungguh kata-kata yang hancur berantakan. Ada kabar berita apa yang kau dapatkan?&#8221; tanyanya segera.</span></p>
<p><span>&#8220;Tentang kepala keluarga Meng, Meng Yangchu telah lolos dari penjara kemarin malam. Dia sepertinya di bantu oleh beberapa orang, kesemuanya adalah jago silat tingkat tinggi&#8230; Ini adalah berita yang hendak kusampaikan&#8230;&#8221; tutur orang ini sambil merendahkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Peminum bermarga Wang tadinya memang masih tersenyum, tetapi sekarang wajahnya telah berubah. Dia melihat ke arah temannya yang masih berdiri sambil mengangguk pelan. Wajah keduanya terlihat segera serius menanggapi berita barusan.<br />
&#8220;Kita harus pergi sekarang juga saudara Jia.&#8221;</span></p>
<p><span>Orang di ruangan tengah yang masih memegang kendi arak segera mengangguk. Keduanya berlari cepat sekali dan melompat hebat menelurusuri pintu depan yang terbuka lebar itu. Dan hanya sesaat saja kesemua orang yang berada di sana merasa heran sebab keduanya telah &#8220;raib&#8221;. Meski keduanya memiliki bentuk badan besar tinggi, tetapi kelincahan mereka berdua patut mendapat ancungan jempol.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tahu siapa dia?&#8221; tanya seorang wanita cantik di pojok yang tentunya adalah Yunying kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji menatap sekilas ke pintu depan, lantas dia mengangkat bahunya pelan sambil menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Istana kekaisaran Ta-Li&#8230;<br />
Ruangan rapat utama terlihat telah dipenuhi banyak menteri-menteri yang berpakaian seragam warna merah. Sepertinya disini terlihat wajah masing-masing yang terasa menegangkan.<br />
Kaisar Ta-Li sedang duduk di kursi kemegahan, memiliki wajah bidang yang tenang dan agung. Di lehernya terlihat terikat rantai yang terbuat dari mutiara dan ujungnya berbentuk giok kehijauan. Umur Kaisar Ta-Li sepertinya hanya 20-an atau 30 tahun saja.<br />
Sungguh kontras wajah Kaisar dibandingkan dengan wajah para menteri-nya yang terlihat pucat pasi dan tidak tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang Mulia, kasus keluarga Meng semakin lama semakin terasa aneh sekali. Jebolnya penjara kekaisaran kita sungguh sangatlah mengkhawatirkan. Mohon segera Yang Mulia membuat keputusan melakukan pengejaran.&#8221; Yang berbicara di sini sepertinya seorang pejabat tinggi kekaisaran, dia berdiri di sebelah depan kanan. Jika diurutkan, biasanya orang yang berhak berbicara di sini adalah termasuk Perdana Menteri , Penasehat ataupun seorang guru kekaisaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Penasehat Dong&#8230;<br />
Berapakah perwira kita yang tewas?&#8221; Kaisar muda segera bertanya dengan wajah yang tenang sama sekali. Tidak nampak ketegangan di wajah pemuda agung cukup muda tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Jumlahnya pas 43 orang termasuk 2 orang dayang istana yang kebetulan lewat saja.&#8221; jawab orang di depan, yang ternyata adalah Penasehat kekaisaran Ta-Li.</span></p>
<p><span>&#8220;Hmph&#8230;&#8230;.&#8221;<br />
Kaisar Ta-Li hanya berdengus sekali. Wajahnya yang tenang tadinya telah berubah, kedua matanya terlihat merah karena amarahnya yang meluap sesaat.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang Mulia&#8230;<br />
Pesilat yang menolong Meng Yangchu terdiri dari 6 orang. Mereka menerobos dengan ganas dan membunuh siapapun yang menghalangi tanpa terkecuali. Ini tidak bisa dibiarkan&#8230;&#8221;tutur Penasehat Dong kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Adakah orang kita yang mengenal keenam orang itu? Dan adakah tanda-tanda atau ciri-ciri keenam orang tersebut?&#8221; Kaisar Ta-Li bertanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Keenam orang dikenali 3 orang saja. Dan sungguh sangat kebetulan bahwa orang yang mengenali ketiga orang adalah orang yang berasal dari sekampung dengan pesilat-pesilat itu.&#8221;tutur Penasehat kembali kepada Kaisar dengan cara yang penuh hormat.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, sebarkanlah seluruh perintah ke seluruh negeri. Aku akan menulis surat untuk Kaisar Sung meminta mereka ikut dalam penangkapan Meng serta teman-temannya. Rapat dibubarkan sampai di sini saja!&#8221;Kaisar segera beranjak naik singgasana-nya untuk berjalan ke belakang.<br />
Tetapi sepertinya Penasehat Dong menghalanginya dengan berkata-kata.<br />
&#8220;Tiga orang adalah pesilat yang sangat handal sekali. Yang Mulia tentu pernah mendengar nama Pahlawan Selatan bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>Kaisar Ta-Li menoleh dengan wajah yang terkejut.<br />
&#8220;Maksudmu tiga orang, salah satunya adalah Xia Jieji?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Begitulah Yang Mulia&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Bawa masuk orang yang melihat Xia Jieji segera sekarang juga!&#8221;Kaisar segera memerintahkan seraya berteriak.<br />
Tanpa perlu waktu yang lama, dengan tergopoh-gopoh seorang dayang yang agak tua segera masuk. Dia menjalankan adat sebagaimana dilakukan oleh hamba-nya terhadap Kaisar.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak perlu terlalu banyak basa-basi. Sekarang katakanlah semua dengan jelas&#8230;&#8221; Tanya kaisar sambil menunjuk dayang-nya yang sedang berlutut.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang Mulia..<br />
Hamba dahulu berasal dari Changsha di propinsi Jing selatan. Hamba pernah melihat ketiga orang yang semalam menyerang penjara istana kekaisaran&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Lanjutkan!&#8221; tutur Kaisar seperti sedang semangat atau seperti sedang ketakutan atau semacamnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ketiga orang ini diyakini adalah Xia Jieji, Yuan Xufen, dan Xia Rujian. Hamba berani memastikan ketiganya adalah benar mereka&#8230;&#8221; Sahut dayang kaisar Tali dengan yakin sekali.<br />
Sementara itu, penasehat segera mengeluarkan sebuah kertas dari balik lengan bajunya. Kertas gulung yang berukuran tidak kecil segera di sodorkan ke arah Kaisar. Kaisar sempat membukanya sebentar dan melihat.<br />
&#8220;Hmph?&#8221;<br />
Kaisar terlihat marah. Dia berjalan ke belakang cepat tanpa memberi perintah apapun lagi.</span></p>
<p><span>Ruangan belakang istana kekaisaran&#8230;<br />
Rapat sudah bubar karena kaisar Ta-li, Duan Jing membubarkannya dengan cara tidak terhormat. Sepertinya Kaisar merasa terpukul akibat &#8220;lawan-nya&#8221; bukanlah manusia sembarangan. Dia terlihat diam saja dan berpikir dengan wajah yang masam sekali. Cukup lama sepertinya Kaisar Tali tenggelam dalam pemikirannya yang dalam. Sampai sebuah suara yang memanggilnya pun tidak diketahuinya. Adalah sampai panggilan kedua, dia baru saja menyadarinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Masuk&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Di depan ruangan belakang terlihat dua orang &#8220;raksasa&#8221; melangkah dengan tenang. Sesampai di dalam, mereka berdua berlutut memberi hormat.<br />
&#8220;Kalian berdua termasuk kakak seperguruanku. Jangan sesekali lagi berlutut menyembah seperti demikian.&#8221;</span></p>
<p><span>Tetapi keduanya berdiri juga setelah memberi hormat sekali lagi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kabar yang kita dapat di kota menyatakan bahwa Meng Yangchu sudah lolos.&#8221; Tutur orang yang di sebelah kiri.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul kakak seperguruan Wang. Mereka membunuh banyak anggota pasukan kekaisaran kita.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Empat puluh tiga orang dibunuh dalam sekejap. Kecuali kita bertiga apa ada orang di Ta-Li sanggup melakukannya?&#8221;tanya Wang dengan terkejut sebentar.</span></p>
<p><span>Kaisar Duan Jing segera mengeluarkan sesuatu benda yang sedari tadi disimpannya di balik lengan bajunya kepada orang bermarga Wang tersebut.<br />
Wang menerimanya dengan hormat, dan dengan cepat dia membukanya. Sedangkan saudara perguruannya yang bermarga Jia melakukan hal yang sama. Dia menjulurkan kepalanya ke samping untuk melihat.</span></p>
<p><span>Digulungan kertas ternyata terpampang wajah tiga orang. Wajah pertama adalah orang yang berwajah agung, umurnya sekitar 50-an mungkin, wajahnya dihiasi kumis dan jenggot. Di tengah tergambar seorang pemuda berwajah tenang, umurnya 30-an dengan alis yang agak tinggi dan wajah yang agak lebar. Sedangkan di sebelah kanan terlihat gambar seorang wanita cantik, hanya dengan melihat lukisan saja sudah bisa diyakinkan bahwa wanita ini adalah wanita yang cantik luar biasa jika benar hidup.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak Wang, lihatlah. Kedua orang ini bukankah?&#8221;<br />
teriak Jia sambil tidak percaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kedua orang terlihat di restoran Qian Li Xiang barusan saja.&#8221; tutur Wang melihat ke arah Kaisar Duan Jing.</span></p>
<p><span>&#8220;Benarkah saudara seperguruan Jia Shan?&#8221; Tanya Duan seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>Wang membenarkan pernyataan Jia untuk meyakinkan kaisar Duan.<br />
&#8220;Kalau begitu, kita berdua segera kembali ke sana untuk meringkus keduanya&#8230;&#8221; Wang berkata seraya berangkat. Dia diikuti oleh Jia Shan cepat. Sedangkan Kaisar Duan segera masuk ke dalam kamar, sepertinya dia sangat tertarik dengan kejadian ini.</span></p>
<p><span>***<br />
Restoran dan Penginapan Qian Li Xiang&#8230;<br />
Sudah sejam berlalu sejak kedua orang peminum meninggalkan restoran ini. Keramaian memang masih terasa meski kedua &#8220;gentong arak&#8221; sudah pergi. Meja makan di sudut yang tadinya diduduki sepasang pemuda dan pemudi sudah kosong. Sekarang ketiga orang berdiri di depan pintu masuk sambil was-was untuk melihat sekeliling.</span></p>
<p><span>Para penonton ataupun penghuni penginapan sepertinya bergembira kembali karena mereka merasa bisa menyaksikan tontonan yang hebat kembali. Tetapi kali ini dua orang terlihat sangat serius menyapu ruangan dengan keempat bola mata mereka. Sedangkan orang di tengah yang terlihat berwajah agung dan tenang juga melakukan hal yang sama.<br />
Tidak lama, ketiganya melangkah ke dalam karena &#8220;buruan&#8221; mereka sepertinya telah &#8220;hilang&#8221;. Ketiganya beranjak ke kasir restoran sekaligus penginapan.</span></p>
<p><span>Wang terlihat meletakkan 1 tael emas ke arah kasir yang agaknya sudah berumur.<br />
&#8220;Katakanlah, dimana sepasang pemuda pemudi yang tadinya sempat duduk di sana.&#8221; katanya sambil menunjuk ke arah tadinya Jieji dan Yunying duduk.</span></p>
<p><span>Kasir yang menerima uang 1 tael emas segera tersenyum, dia menengok ke atas sambil menunjuk. &#8220;Keduanya tinggal di atas, di kamar sebelah sana. Sepertinya keduanya adalah sepasang suami-isteri.&#8221;</span></p>
<p><span>Kaisar Duan Jing, Wang Xin, dan Jia Shan segera melihat ke atas. Pandangan mereka tajam ke arah yang ditunjuk kasir. Segera saja, ketiganya beranjak dari sana dan menaiki tangga dengan perlahan.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/343/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/343/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=343&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 25</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-25/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-25/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:26:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Karena dengan kecepatan yang sangat luar biasa, mereka melihat sebuah sinar terang sekejap. Hasilnya, adalah yang paling tidak di sangka semua orang. Cairan merah terlihat telah muncrat ke meja tempat duduk pemuda sebelumnya. Sedang di bahu pemuda, terlihat sebilah pisau tertancap cukup dalam sekali. Wanita penari adalah orang yang menancapkan pisau yang disimpan di balik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=342&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-342"></span></p>
<p><span>Karena dengan kecepatan yang sangat luar biasa, mereka melihat sebuah sinar terang sekejap. Hasilnya, adalah yang paling tidak di sangka semua orang. Cairan merah terlihat telah muncrat ke meja tempat duduk pemuda sebelumnya. Sedang di bahu pemuda, terlihat sebilah pisau tertancap cukup dalam sekali.</span></p>
<p><span>Wanita penari adalah orang yang menancapkan pisau yang disimpan di balik perutnya. Anehnya, Jieji tidak menghindar meski dia memiliki ilmu silat yang tinggi. Apakah benar rasa mabuk terlebih menguasainya sehingga dia tidak mampu lagi bergerak sedikitpun?</span></p>
<p><span>Yunying dan Zhao kuangyin adalah 2 orang yang pertama sampai untuk melihat keadaan Jieji yang berlumuran darah di daerah baju sebelah kirinya.</span></p>
<p><span>Wanita penari yang menusukkan pisau segera berteriak kegirangan.<br />
&#8220;Akhirnya dendam telah terbalaskan!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Begitulah suara wanita ini dengan antusias sekali berulang-ulang. Tetapi tawa kegirangannya tidak berlangsung lama, karena di hentikan oleh sebuah suara. Suara yang sangat dikenal oleh wanita ini tentunya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Sepertinya dendam-mu benar telah terbalaskan.&#8221; </span></p>
<p><span>Wanita yang tadinya berteriak kegirangan ini segera menoleh cepat ke arah pemuda yang tadinya sempat terlungkup di meja. Tentu dengan wajah yang sangat terkejut seakan tidak percaya dia menggelengkan kepalanya.<br />
Sedangkan Zhao Kuangyin segera melihat keadaan adik keduanya dengan wajah yang penuh cemas.<br />
&#8220;Kau tidak apa-apa?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji melihat ke arah kakak pertamanya sambil tersenyum pelan. Yunying sangat cemas terlihat karena melihat banyaknya darah yang mengucur dari bahu Jieji.<br />
&#8220;Kenapa kamu tidak menghindar?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tidak menjawab pertanyaan isterinya. Melainkan dia berdiri dengan pelan sambil menatap ke arah wanita penari itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Tangkap wanita itu!!!&#8221;<br />
Sesegera terdengar suara teriakan orang yang di tengah balairung yang tentu tiada lain adalah Kaisar Persia.</span></p>
<p><span>Tetapi ketika para pengawal yang telah siap sedia dia depan pintu utama beranjak masuk. Mereka dihentikan oleh sebuah suara.<br />
&#8220;Jangan bergerak terlebih dahulu.&#8221;</span></p>
<p><span>Para pengawal terlihat diam di tempatnya. Orang yang berteriak tiada lain adalah pemuda yang berpakaian putih dan berlumuran darah. Pemuda ini mengangkat tangannya sebelah.<br />
&#8220;Tidak disangka bahwa ayahmu sudah meninggal.&#8221;<br />
Tutur pemuda dan melihat ke arah penari itu.</span></p>
<p><span>Wanita penari itu segera membuka tudung wajahnya segera. Wajah di sana adalah wajah seorang wanita yang cantik. Namun sinar matanya sangat buas memandang ke arah pemuda yang terluka ini.<br />
Mereka semua terkejut ketika melihat wanita cantik di depan yang tadi baru saja gagal dalam pembunuhan gelap adalah puteri dari Partai bunga senja, Huo Thing-thing.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku bersumpah akan membalas dendam selama diriku hidup!&#8221; teriak wanita ini dengan marah sekali.</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya menatap dengan wajah penyesalan.<br />
&#8220;Seharusnya bukan aku yang kau cari. Oh&#8230;<br />
Aku tahu, berarti orang yang membunuh ayahmu sudah kau selesaikan bukan begitu?&#8221;</span></p>
<p><span>Wanita ini meski marah, tetapi mendengar tuturan Jieji maka dia terkejut juga.<br />
&#8220;Bagaimana kau bisa tahu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Ayahmu dibunuh oleh orang rendahan saja. Dengan kemampuanmu, seharusnya kau sudah bisa membalas dendam. Dan seharusnya kau bukan mencariku untuk balas dendam terlebih dahulu.&#8221; sahut Jieji.</span></p>
<p><span>Sekali lagi, Huo Thing-thing terlihat sangat terkejut. Dia tidak percaya bahwa apa-apa hal sudah diketahui oleh Jieji sejak awal.<br />
&#8220;Kau tahu karena adanya pencuri ulung ini, Lie Hui?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Kamu salah.<br />
Aku dan ayahmu punya dendam sedalam lautan. Aku tidak membunuhnya 2 hari yang lalu bukannya aku merasa tidak sanggup. Karena dengan upaya sebaik-baiknya, aku tidak ingin hal seperti hal ini terjadi di kemudian harinya. Tetapi sepertinya apa usahaku adalah sia-sia belaka.&#8221;<br />
Pemuda terlihat menghela nafas panjang ketika dia selesai mengucapkan kata-katanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku menanyaimu kenapa kau bisa tahu hal ini? Kenapa kau bisa tahu kalau aku pura-pura menari saja? Dan sikapmu itu, kau memang sengaja memancingku.&#8221; tanya Thing-thing dengan wajah penuh kemarahan di satu sisi, dan di sisi lainnya penuh rasa penasaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Kau salah lagi sekali. Aku tidak pernah bermaksud menghindar tadinya. Tetapi yang sangat kuherankan adalah tusukan pisaumu tidak bisa mengenai titik mematikan dari tubuhku. Oh&#8230;<br />
Aku tahu. Kau pasti berpikir aku akan menghindar, tetapi karena kecepatanmu tidak secepat daya hindarku, maka kau mengambil sikap untung-untungan dan berharap aku menghindar ke arah kiri dan tentu tusukan pisaumu saat itu akan mengenai batok kepalaku. Bukan begitu, puteri Thing-thing?&#8221;</span></p>
<p><span>Thing-thing terlihat mendengus sekali dengan marah. Dia menatap ke arah Jieji.<br />
&#8220;Dari mana kau bisa tahu aku ini bukan seorang penari.&#8221;</span></p>
<p><span>Sepertinya Jieji dari tadi menghindari pertanyaan tersebut. Sudah ketiga kalinya, wanita cantik tetapi kejam ini mengajukan pertanyaan yang sama. Namun, akhirnya Jieji menjawab juga.<br />
&#8220;Meski kamu adalah jago penari, tetapi untuk seorang pesilat tangguh masih bisa terlihat jejaknya meski dia sanggup menyimpan tenaga dalamnya sedemikian rupa. Gaya gesekan sepatumu lain dari penari lainnya. Seorang pesilat biasanya memiliki keseimbangan yang jauh lebih baik dari seorang penari biasa saja. Ini hal pertama.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Lalu ada hal lainnya? Dan mengapa kau tidak menghindar meski sepertinya kamu memiliki kesempatan karena sejak awal kau sudah tahu aku ada di sini?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hal yang kedua adalah, hal yang bisa kupastikan dengan sangat baik. Yaitu bau-mu, bau tubuhmu.&#8221; tutur Jieji sambil menatapnya serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau seperti binatang pencium. Pantas aku kalah denganmu.&#8221; sahut wanita ini dengan senyuman mengejek.</span></p>
<p><span>Yunying sangat marah karena pernyataan wanita partai bunga senja ini. Memang Yunying pernah tahu bagaimana Jieji disiksa oleh wanita kejam ini di penjara partai. Dan bagaimana perlakuan wanita sadis ini kepada suaminya. Dan sejak awal, dia sudah tidak suka dengan tingkah wanita ini. Dia beranjak maju dan berniat untuk buat perhitungan dengan Thing-thing. Tetapi dia segera dihalangi oleh Jieji. Pemuda terlihat menghalangi dengan sebelah tangannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau salah. Bau tubuhmu pernah kucium sekali. Bukan berarti bahwa ada yang khusus dengan bau tubuhmu. Aku cuma berniat memastikan makanya dengan sengaja tadinya aku berpura-pura mabuk dan bertingkah gila. Meski aku tidak memastikannya, kau pasti mencari cara untuk membunuhku juga, bukan begitu?&#8221;<br />
tanya Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Sekarang aku sudah jatuh ke tangan kalian. Mau bunuh atau apa terserah kalian.&#8221; sahut Thing-thing dengan marah dan menunjuk ke arah Jieji dan kawan-kawannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana jika kuberi kau kesempatan sekali lagi?&#8221; tanya Jieji kepadanya sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Semua orang sangat terkejut mendengar kata-kata Jieji ini. Yunying dan Zhao kuangyin segera menuju ke depan guna menghalangi. Tentu kata-kata Jieji tidak saja membuat kawan-kawannya cemas, tetapi Thing-thing terlebih-lebih lagi, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Pahlawan selatan.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak pernah mengingkari kata-kata yang pernah kuucapkan.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum serius kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau!&#8221;<br />
teriak wanita ini sambil menunjuk dan tidak percaya.</span></p>
<p><span>Dengan cepat, Jieji mencabut pisau yang tadinya masih menusuk dalam di bahu. Darah tentu kontan muncrat keluar seiring dicabutnya pisau. Dia lemparkan ringan ke arah Thing-thing. Dengan sangat mudah, wanita ini menjemput pisau yang dilempar itu.</span></p>
<p><span>Sekarang sebelah tangan Thing-thing telah tergenggam pisau yang belepotan darah. Dia segera beranjak maju ke depan dengan pisau tergenggam kuat di tangannya.<br />
Yunying dan Zhao kuangyin segera saja maju untuk menghalangi tindakan wanita &#8220;gila&#8221; ini.<br />
Tetapi sekali lagi, Jieji menghalangi pergerakan mereka. Dia maju tegap ke depan sambil melihat ke arah kakak pertamanya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa.&#8221;<br />
begitulah sahutnya pelan sambil beranjak maju.</span></p>
<p><span>Sekarang jarak antara Jieji dan Thing-thing telah dekat sekali. Dia mengamat serius ke arah pemuda yang sepertinya sama sekali tidak takut apapun. Dengan cukup bingung, dia menanyainya.<br />
&#8220;Kenapa? Kenapa kau bisa bertindak demikian?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah permusuhan antara aku dengan kau. Jika kau merasa bisa melampiaskan amarahmu yang konyol itu, maka aku akan rela dibunuh olehmu.&#8221; tutur Jieji dengan serius dan tegas.</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan Jieji, Thing-thing terlihat serba salah. Dia memang sudah mengangkat pisaunya untuk diarahkan ke dada Jieji, tepat di sebelah kiri dada pemuda yaitu arah jantungnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Dan satu hal lagi.<br />
Kau tidak usah takut sama sekali, karena aku meminta kepada saudaraku, teman-temanku untuk tidak pernah membalas dendam kepadamu. Setelah membunuhku, kau bisa pergi dengan tenang.&#8221; sahut Jieji dengan tegas.</span></p>
<p><span>Yunying, Zhao kuangyin, Yuan Jielung dan Lie Hui telah terlihat sangat cemas. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda. Kenapa Jieji nekad ingin menyerahkan nyawanya kepada wanita sadis itu. Jika dihitung-hitung, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya dendam ini sangat layak dibalaskan Jieji karena Huo Xiang-lah orang yang membunuh Hikatsuka Oda. Dan Huo Xiang juga-lah orang penyebab kematian tetua Kaibang serta tetua dunia persilatan Zeng Qian hao alias Pei Nanyang.</span></p>
<p><span>Pisau yang dipegang oleh Thing-thing terlihat bergetar kuat ketika Jieji mengucapkan kata-kata terakhir itu. Amarah di matanya seakan sengaja dikuatkan supaya dia sanggup menusukkan pisau yang di tangannya dengan sekali hentakan tangan ke depan saja.<br />
Ruangan yang tadinya hiruk pikuk akibat suara-suara dan musik-musik telah berubah jauh berbeda. Sekarang sudah sangat hening sekali. Meski sebatang jarum yang jatuh ke lantai pun dapat terdengar. Suara nafas pelan beberapa orang terdengar jelas, suara nafas tegang beberapa orang juga dapat terdengar.</span></p>
<p><span>Sedangkan hanya terdengar sebuah suara nafas yang memburu, suara nafas seorang wanita yang &#8220;menguasai&#8221; ruangan itu.<br />
Cukup lama kondisi dan keadaan itu berlangsung, sampai sebuah suara tiba-tiba mengacaukan keadaan. Sebuah suara besi yang berlaga cukup keras terdengar di lantai, dan diikuti dengan suara derap langkah kencang berlari meninggalkan balairung itu.</span></p>
<p><span>Semua orang bingung melihat hal demikian, tetapi hanya Jieji yang diam di tempat mengawasi kepergian wanita itu sambil menghela nafas. Wanita cantik dan sadis ini tidak sanggup bertindak karena kecamuk hatinya yang sangat susah diukirkan lewat kata-kata.</span></p>
<p><span>Maka demikianlah hal dendam antara Xia Jieji dan Partai bunga senja telah selesai. Di hari kemudiannya, Huo Thing-thing tidak pernah lagi mengungkit sebuah kata &#8220;balas dendam&#8221; demi ayahnya lagi.</span></p>
<p><span>Seperti yang dikatakan oleh Jieji, setelah mereka mendapat informasi kematian Huo Xiang maka mereka akan meninggalkan Persia. Yaitu sehari kemudian setelah kejadian pembunuhan gelap Thing-thing, mereka kesemuanya meminta pamit kepada Raja Persia dan menuju ke selatan.</span></p>
<p><span>Dalam perjalanan&#8230;<br />
Yunying tersenyum manis sepanjang harinya. Sebab apa yang diperkirakan dan membuatnya jengkel kemarin adalah pikiran-pikiran yang tidak-tidak saja. Sebenarnya dia sangat yakin terhadap suaminya, tetapi kadang hal yang bisa mengakibatkan cemburu ataupun kesal sangatlah susah dibendung oleh seorang wanita, meski Yunying adalah wanita yang sudah termasuk luar biasa.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa yang kau pikirkan? Sepertinya kamu dari tadi hanya tersenyum saja. Melihatmu saja aku merasa cukup aneh.&#8221; kata Jieji membuyarkan lamunannya. Mereka berdua duduk di satu kereta kuda. Sedangkan Lie Hui, Yuan Jielung dan Zhao kuangyin duduk di kereta kuda yang lainnya.</span></p>
<p><span>Yunying tidak menjawabnya sama sekali. Dia hanya terlihat mengerutkan dahinya sebentar dan sambil tersenyum manis ke arah suaminya.</span></p>
<p><span>&#8220;Nah.. Kamu mulai aneh. Tetapi sepertinya aku bisa menebak isi hatimu.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum menggoda kepadanya.<br />
&#8220;Kamu pertama kesal karena sikapku, tetapi karena sikap jantanku kemarin membuatmu sangat bangga, bukan begitu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak tahu malu!!!&#8221; teriak Yunying sambil tertawa malu. Warna wajahnya terlihat memerah dengan sekejap, sebab tebakan Jieji sangat tepat. Biasanya seorang wanita kalau isi hatinya diketahui dengan baik oleh seorang pria, maka tentu dia merasa malu meski oleh orang terdekatnya sekalipun.<br />
&#8220;Oh..<br />
Bagaimana kau tahu bahwa Huo Thing-thing tidak akan menusukkan pisau ke jantungmu? Saat itu aku takut sekali, tetapi setelah dipikir aku tahu sedikit maksud hatimu.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tertawa terbahak-bahak mendengar tuturan Yunying.<br />
Setelah tertawa beberapa lama, Jieji menyahuti pertanyaan Yunying.<br />
&#8220;Kamu tahu..<br />
Wanita itu sangat tinggi hatinya dan sikap egoisnya sangatlah luar biasa. Jika aku takut, mungkin dia makin berani. Tetapi dengan begini, semua hal selesai dengan baik. Dan ini adalah hal yang sangat kuharapkan benar.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying mendekat ke arah Jieji, sambil meletakkan kepalanya ke bahu pemuda dia menutup matanya dengan tersenyum manis sekali.</span></p>
<p><span>Perjalanan dilanjutkan dengan lancar saja. Arah yang dituju mereka adalah daerah selatan dan mencari pelabuhan. Sepertinya perjalanan kali ini sengaja tidak dilakukan lewat darat, melainkan lewat lautan. Dari arah Persia selatan, jika berlayar cepat maka dalam seminggu mereka bisa mencapai India. Dan dari India timur mereka berencana untuk berlayar dan menuju ke arah Yun-nan.</span></p>
<p><span>Sebulan kemudian&#8230;</span></p>
<p><span>Yun-nan, daerah selatan dari daratan tengah. Atau lebih tepat barat daya dari daerah daratan tengah. Sebuah daerah yang cukup subur, dengan penduduk lebih dari 5 laksa jiwa dan suhu yang jelas lebih tinggi dari daratan tengah. Yun-nan adalah tempat dengan hasil pertanian bagus setiap tahunnya.<br />
Tiga orang yang berkuda terlihat jelas memasuki kota Yun-nan lewat pintu barat. Seorang pemuda yang duduk di sebuah kuda khusus terlihat melaju pelan. Cukup menarik perhatian bagi siapa saja melihat pemuda ini. Dengan berpakaian sastrawan dan berwajah sangat tampan dan muda dia terlihat santai. Sedangkan di belakangnya terlihat 2 orang wanita cantik. Yang satu berwajah sangat putih dan warna wajah agak memerah merona, seorang wanita yang sangat cantik sekali. Sedang di sampingnya juga seorang wanita cantik.</span></p>
<p><span>Dengan melihat sekilas saja, semua penduduk kota tahu benar bahwa ketiga orang ini bukanlah orang dari daerah Yun-nan, sebab cara berpakaian penduduk Yun-nan agak lain dari penduduk daratan tengah lainnya.<br />
Ketiganya terlihat menuju ke salah sebuah penginapan dengan santai.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa kau ngotot memakai wajah ini?&#8221; tanya wanita nan cantik heran kemudian setelah mereka masuk ke penginapan. Wanita ini adalah Yunying tentunya.</span></p>
<p><span>Pemuda tertawa saja, tetapi tidak menjawab.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini karena dia tidak ingin dikenali seorang.&#8221; jawab wanita cantik lainnya sambil tersenyum. Wanita ini tiada lain adalah Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi kemungkinan paman-ku ada di kota ini? Memang wajahmu sekarang dengan wajahmu ketika kecil tiada berbeda?&#8221; tanya Yunying yang sepertinya sangat tidak setuju melihat penampilan Jieji.</span></p>
<p><span>Dengan membuka topeng kulit, Jieji tertawa sekali lagi.<br />
&#8220;Bukan begitu. Aku jelas berbeda wajah ketika kecil dengan sekarang. Yang kuinginkan adalah aku tidak ingin ada yang tahu hubunganku dengan ayahku yang memiliki wajah yang cukup mirip denganku.&#8221;</span></p>
<p><span>Diterangkan demikian, akhirnya Yunying mengerti juga. Tetapi dia masih ngotot.<br />
&#8220;Apakah ayahmu pernah kemari? Atau ada masalah kamu menggunakan wajahmu yang asli? Kamu sungguh aneh.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan begitu maksudku. Aku tidak takut dikenali saja oleh siapapun. Buktinya jika aku tidak ingin dikenali, maka kuda bintang biru bisa saja kupinjam ke kakak pertama ketika dia dan Ketua Yuan pulang ke Shandang. Ada hal lain lagi yang tidak bisa kuceritakan sekarang.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Yunying hanya menggelengkan kepalanya saja.<br />
Sementara itu, Lie Hui meminta pamit kepada mereka berdua sebab katanya dia ingin menyelidiki sesuatu di kota. Jieji telah berjanji untuk membantu nona ini tentunya dengan tujuan bahwa dia juga ingin sekali mendengar kabar tentang Huang Qian, sahabat tua-nya itu yang telah tidak pernah terdengar kabarnya lebih dari 20 tahun.</span></p>
<p><span>&#8220;Darimana kamu akan memulai penyelidikan?&#8221; tanya Yunying kemudian setelah beberapa lama.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak tahu. Tetapi aku harus mencari penyebab dendam turunan keluarga Meng dahulu. Mungkin dari sini kita mulai.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi petunjuknya cukup sedikit, bukan begitu?&#8221; tanya Yunying kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak juga. Jika petunjuk sedikit, maka akan kucari cara lainnya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana? Kamu tidak pernah mengatakan sesuatu kepadaku secara jelas. Kamu takut aku jadi mata-mata?&#8221; tanya Yunying yang kesal dan tersenyum geli kemudiannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan begitu. Aku tidak yakin ini bakal berhasil.&#8221; jawab Jieji sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.<br />
Yunying segera tertarik melihat sebuah benda yang dikeluarkan Jieji dari balik bajunya yang tiada lain adalah sebuah lukisan. Lukisan yang digulung sedemikian rupa yang cukup kecil yang entah kapan dimiliki oleh Jieji.<br />
Pemuda membuka gulungan pendek lukisan itu dengan wajah tersenyum.</span></p>
<p><span>Yunying melihatnya terkejut. Adalah sebuah gambar wajah seseorang terpampang di sana. Orang yang sekiranya umur 40-an dengan kumis dan jenggot yang tipis terlihat.<br />
&#8220;Jadi dia adalah pamanku, Huang Qian?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menganggukkan kepalanya dan tersenyum.<br />
&#8220;Benar. Kamu pintar&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu ingin menyelidiki dari sini mulainya?&#8221; tanya Yunying mengerutkan dahi.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Pencuri ulung sekarang mencari bahan untuk membuat wajah. Kita bisa mengunjungi wisma Meng di sini dan memakai wajah saudara Huang Qian untuk mengunjungi mereka. Jika ada yang bisa mengenali wajah ini, maka kemungkinan bahwa pamanmu atau sahabat dekatku itu pernah kemari.&#8221; jelas Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Pintar&#8230;&#8221; jawab Yunying pendek sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Tidak lama kemudian, pencuri ulung alias Lie Hui sudah kembali.<br />
Di tangannya dia membawa sebuah buntalan, dan tersenyum lebar dia memasuki ruangan kamar penginapan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu sudah dapat petunjuknya?&#8221; tanya Jieji yang melihat perubahan mimik Lie.</span></p>
<p><span>Lie Hui mengangguk pelan. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Begini&#8230;<br />
Aku memberi 10 tael emas kepada seorang tua yang sepertinya tahu sedikit hal.<br />
Dia berkata sekitar 40 tahun yang lalu, dia pernah melihat wajah seorang pemuda yang mirip dengan lukisan. Dan dia berkata, dia hanya tinggal 3 hari di kuil Zhu Fu. Saat itu, orang tua ini adalah seorang pelayan di kuil itu yang mengurus sembahyang. Tetapi orang di lukisan itu tidak pernah mengungkit apapun mengenai kasus, melainkan dia selalu menikmati sejarah kuil itu. Dan hanya itu saja.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aneh&#8230;&#8221;<br />
tutur Jieji sambil berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa ada yang aneh dengan tindakan orang itu? Kamu pikir orang tua itu berbohong?&#8221; tanya Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak juga. Melihat sifat ayahmu, tidak mungkin dia membiarkan kasus itu begitu saja di hadapannya. Sepertinya kuil Zhu Fu juga harus kita kunjungi selain wisma Meng.&#8221; jelas Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Sekarang sudah malam, bagaimana jika besok pagi kita beranjak menuju ke kedua tempat itu?&#8221; tanya Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudah pasti, karena ada sesuatu yang harus diselesaikan nona Lie Hui malam ini juga.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Lie Hui membalas senyuman Jieji sambil mengeluarkan buntalan tas kecilnya untuk memulai melakukan sesuatu.</span></p>
<p><span>Keesokan harinya&#8230;</span></p>
<p><span>Pagi sekali, ketiganya telah berangkat dari penginapan. Arah yang dituju ketiganya adalah Kuil yang disebut di atas itu. Namun, penampilan pemuda kali ini sudah agak lain. Dia merubah wajah dirinya menjadi wajah Huang Qian atau sahabat lamanya itu, mengganti bajunya dengan baju yang hampir mirip dengan baju yang sering dikenakan orang ini. Tetapi rupa-rupanya bukan Jieji saja yang mengubah wajahnya, melainkan Yunying dan Lie Hui juga mengganti wajah. Kedua orang ini lebih aneh karena mengubah diri mereka menjadi kakek dan nenek.<br />
Entah apa maksud semuanya, tetapi ini adalah akal dari Jieji sendiri.</span></p>
<p><span>Tidak jauh dari Kuil Zhu Fu, ketiga orang ini berjalan cukup pelan seakan mereka termasuk orang tua yang berjalan saja sudah cukup kepayahan. Daerah kuil ini sepertinya jarang ada orang, dan cukup sepi juga meski saat itu termasuk sudah pagi.</span></p>
<p><span>Tetapi ketiga orang yang mendekati kuil itu terkejut juga ketika mereka melihat pemandangan luar biasa di depan sesegera.<br />
Di depan Kuil yang sepertinya kurang terurus dari jauh terlihat adanya seorang bertopeng emas dan berpakaian kuning keemasan sudah siap siaga untuk menantikan sesuatu.</span></p>
<p><span>&#8220;Hati-hati..&#8221; bisik Jieji yang berpenampilan Huang Qian dengan suara yang sangat pelan sekali.</span></p>
<p><span>Ketiga orang yang tadinya bermaksud masuk ke kuil, akhirnya berpura-pura mengambil daerah samping jalan untuk menuju ke arah kanan.<br />
Tetapi, baru saja mereka mengalihkan pandangan ke samping. Baik Jieji maupun Yunying segera merasakan gerakan orang dari kejauhan yang cepat sekali menyusul.</span></p>
<p><span>Merasakan bahaya. Dan tahu bahwa mereka bertiga adalah orang yang diincar mengakibatkan mereka mau tidak mau membongkarkan identitas mereka dengan cepat. Langkah orang yang mendekat bukanlah langkah pesilat biasa. Langkah pesilat yang sangat tangguh terasa mendekat.</span></p>
<p><span>Adalah nenek yang tadinya sangat kepayahan segera berpaling cepat ke samping. Dia arahkan tapak dengan cepat ke arah orang yang mengejar.<br />
Sungguh sangat cepat pergerakan orang berpakaian emas. Sebab tanpa di sangka sekalipun, tapak yang dihantam nenek ini yang sudah sangat cepat masih bisa berlaga dengan tapak lawannya.</span></p>
<p><span>Sesegera saja hawa penyerangan menyebar ke seluruh penjuru dengan hasil penyerang berpakaian keemasan terpental belasan langkah ke belakang. Sementara itu nenek malah tiada apa-apa dan berdiri tegak saja sambil memandang ke depan.</span></p>
<p><span>Jieji melihat ke depan, dia menyadari bahwa pukulan nenek itu alias Yunying memang bukanlah pukulan sembarangan lagi. Tetapi Yunying hanya bisa membuatnya terpental tanpa terluka tenaga dalam karena posisinya yang jelek tentu membuatnya sadar bahwa penyerang itu bukanlah orang biasa.</span></p>
<p><span>Nenek terlihat segera ingin beranjak cepat ke depan. Tetapi penyerang berpakaian emas segera merapal jarinya ke depan. Sesaat&#8230;<br />
Jieji terkejut juga, sebab jurus demikian cukup mirip dengan rapalan jurus yang biasa dikeluarkannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Awas!!!&#8221; teriak Jieji tertahan.</span></p>
<p><span>Nenek yang maju itu terkejut juga sebab dia memang melihat bahwa orang berpakaian keemasan sedang mengarahkan jarinya ke depan. Tidak ada sesuatu perubahan seperti terlihat sinar seperti Ilmu jari dewi pemusnah, tetapi dari arah depan Yunying merasakan sesuatu benda nan tajam sedang mengancam jiwanya.</span></p>
<p><span>Lalu, dengan tarikan nafas panjang dan cepat. Yunying mundur dan melingkarkan tapaknya 1 lingkaran penuh. Alhasil hawa pedang tak berwujud yang keluar dari jari itu berhasil di pentalkan.<br />
Jieji sangat mengkhawatirkan keselamatan Yunying yang berpenampilan nenek itu, dan segera mungkin dia beranjak maju ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>Hawa jari pedang ini bukan hawa jari pedang biasa, karena selain tak berwujud maka hawa pedang ini jauh lebih tajam dan cepat dari hawa jari pedang Ilmu jari dewi pemusnah tingkat tertinggi.</span></p>
<p><span>Jieji telah sampai ke tempat posisi berdiri nenek dan hawa jari pedang sepertinya telah berhasil dibelokkan sedemikian rupa. Tetapi hawa pedang segera mengambil tumbal yaitu sebuah tiang bangunan segera roboh akibat hawa jari yang kuat itu.<br />
Tetapi ketika ketiganya berusaha melihat ke arah penyerang yang berpakaian emas itu, dia sudah menghilang tanpa jejak sama sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini sungguh berbahaya.&#8221; tutur Jieji ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>Yunying setuju, dia menganggukkan kepalanya sambil menatap serius ke arah tangan kanannya. Lima goresan tipis yang mengeluarkan bercak darah sudah terjejak jelas di lengannya yang sangat mulus itu.</span></p>
<p><span>Pemuda segera mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk melap dan membalut darah yang keluar meski hanya sedikit saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Ilmu jari yang aneh dan belum pernah terlihat maupun terdengar di dunia persilatan.&#8221; kata Lie Hui sesegera yang berpenampilan kakek.</span></p>
<p><span>Jieji kembali membenarkan pernyataan.<br />
&#8220;Betul, benar-benar di luar sangka bahwa ada yang menguasai Ilmu jari sedemikian hebat. Benar-benar membuka mata.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jika dia tadinya menyerang dalam keadaan tiba-tiba, maka kita berada dalam bahaya besar.&#8221; tutur Yunying mengingat.</span></p>
<p><span>&#8220;Lawan di daerah gelap, sedangkan kita terang-terangan. Sepertinya penyamaran di sini sudah tidak begitu dibutuhkan lagi.&#8221; sahut Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak juga.<br />
Mungkin saja orang itu hanya kebetulan menyerang karena kita mendekati kuil. Atau bisa saja karena samaran dari Kak Jie yang menarik perhatiannya.&#8221; tutur Yunying sambil melihat ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>Tetapi disini Jieji tidak menyahut perkataan mereka berdua. Dia hanya diam saja dan berpikir. Sesekali terlihat dia menggesekkan jarinya pelan ke bibirnya dan mengelus dagunya. Dan karena melihat Jieji sedang serius berpikir saja, keduanya tidak lagi mengeluarkan suara apa-apa lagi.<br />
Sampai kemudian terdengar pemuda akhirnya berkata-kata.<br />
&#8220;Kita harus ke kuil Zhu Fu di depan sekarang juga.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa?<br />
Bagaimana jika penyerang masih bersembunyi di sana?&#8221; tanya Yunying yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak..&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.<br />
&#8220;Dia merasa hawa jari pedangnya yang sangat sakti itu saja bisa dibelokkan oleh seorang nenek. Tentu dia tidak akan berani lagi kembali ke kuil. Untuk hal ini, aku sangat yakin sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>Lie Hui membenarkan pernyataan Jieji. Mereka kemudian beranjak cepat ke depan kuil untuk memeriksa. Kali ini ketiganya bukan lagi berjalan kepayahan, mereka menggunakan lari cepat untuk menuju ke depan.</span></p>
<p><span>Kuil Zhu Fu sebenarnya didirikan untuk menghormati seorang pahlawan perang zaman tiga kerajaan, Zhuge Khung-ming. Atas dasar sifat welas asihnya terhadap penduduk Nan-Zhong maka para penduduk mendirikan kuil untuk disembahyangi selama 4 musim.<br />
Kuil cukup luas di pelatarannya dan meski saat sedang pagi, tetapi keangkeran tempat ini memang cukup terasa. Kuil sepertinya sudah tidak pernah lagi dihuni selama belasan tahun ataupun lebih. Bau pengap sangat menyengat sekali di sini.<br />
Di tengah kuil terlihat sebuah patung yang sedang duduk. Wajah patung terlihat sangat agung dan berwibawa dengan pakaian imam. Kumis dan jenggot pendek menghias wajah patung. Di tangan kanannya terpegang sebuah kipas bulu burung.</span></p>
<p><span>Ini adalah patung dari Zhuge Khungming alias Zhuge Liang. Jieji memberi hormat pelan ke arah patung, dan kemudian segera dia menyelidik ruangan. Dinding ruangan meski terlihat cukup rapuh, tetapi di sana terpahat beberapa sejarah bangsa Nan-zhong. Terlihat juga beberapa gambar-gambar terukir jenderal besar Ma Wan dari Han. Di samping belakang terukir gambar-gambar peperangan pemberontakan Nan Zhong yang dipimpin oleh Meng Huo melawan pasukan Shu-Han.</span></p>
<p><span>Jieji mengamati semuanya dengan sangat serius, tidak pernah sekalipun dia mengeluarkan suara apapun. Di dalam hatinya, dia sedang membayangkan dirinya adalah Huang Qian.<br />
Kenapa saudaranya itu hanya melihat ke arah ukiran-ukiran dan mempelajari sejarah di sini. Bukannya mencari petunjuk kasus. Apakah benar bahwa ada sesuatu hal yang tertinggal di sini yang bisa mencari petunjuk tentang kasus pembunuhan keluarga Meng tujuh turunan.</span></p>
<p><span>Sudah lebih dari 1 jam, Jieji hanya beranjak sebentar kemari dan kesana. Tidak ada sesuatu petunjuk sepertinya didapatkan sama sekali.<br />
&#8220;Saudaraku Huang Qian, apa maksudmu sebenarnya kemari?&#8221; tutur Jieji kemudian seperti menggumam.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya lebih bagus jika kita mengunjungi wisma Meng dahulu.&#8221; sahut Yunying memberi saran.</span></p>
<p><span>Jieji terlihat menganggukkan kepalanya.<br />
&#8220;Kalian tidak perlu lagi berpakaian seperti seorang kakek ataupun nenek. Kita kunjungi mereka layaknya penduduk biasa dari daratan tengah saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Kemudian dari kuil Zhu Fu, ketiganya segera berangkat. Wisma Meng terletak di utara kota Yun-nan. Ketiganya berangkat dengan berjalan kaki secara biasa meski mereka bertiga cukup was-was terhadap keadaan sekitar. Sebab bagaimanapun penyerang yang tadinya sempat bentrok sesaat bukanlah manusia sembarangan. Oleh karena itu, diperlukan sikap ekstra hati-hati untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.</span></p>
<p><span>Kota Yunnan bukanlah kota yang makmur penduduknya karena terlihat cukup banyak penduduk miskin. Ini bisa dilihat dari cukup banyak pengemis-pengemis yang meminta-minta di jalan. Selain itu, pakaian penduduk-penduduk juga seadanya saja dan membuktikan bahwa mereka bukan-lah dari keluarga yang berkecukupan.</span></p>
<p><span>Hanya diperlukan waktu sekira 15 menit, mereka sudah sampai di tempat yang ingin dituju.<br />
Wisma Meng&#8230;<br />
Di depan Wisma terlihat adanya 4 penjaga yang siaga dengan tombak di tangan. Keempatnya layaknya seperti dewa penjaga pintu dengan muka yang angker. Mereka mengawasi dengan mata yang mendelik dan was-was setiap saat terhadap siapapun yang lewat.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya telah terjadi sesuatu.&#8221; tutur Yunying yang telah kembali berpenampilan seperti biasa.<br />
Tadinya mereka bertiga sempat lewat di depan gerbang dan menyaksikan bagaimana para pengawal itu memandang mereka dengan tatapan mata bengis.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Jika telah terjadi sesuatu, maka keempat pengawal sudah bukan di gerbang.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar juga. Sepertinya keluarga Meng sangat takut akan ancaman kembali terjadi. Saat ini, informasi menyebutkan bahwa keluarga Meng dipimpin oleh orang yang bernama Meng Yang-chu.&#8221; tutur Lie Hui dengan pelan.</span></p>
<p><span>&#8220;Meng Yang-chu? Meng Yang-chu?&#8230;.<br />
&#8220;Mimpi&#8221; &#8220;Matahari&#8221; &#8220;Keluar&#8221;?&#8221; tutur Jieji yang agak heran.<br />
&#8220;Nama yang tidak bagus sama sekali. Bermimpi matahari terbit jika kita analogikan nama pemimpin wisma. Sungguh aneh&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul..<br />
Biasanya orang tua memberi nama kepada putra ataupun putrinya dengan nama yang bermakna. Dengan sebuah kata &#8220;mimpi&#8221;, maka nama ini terasa sangat tidak bagus.&#8221; jawab Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak usah kita peduli terlebih dahulu. Kita tidak mempunyai jalan selain menyelidik ke keluarga Meng.<br />
Nona Lie Hui, aku meminta anda supaya kembali dahulu ke penginapan.&#8221; tutur Jieji serius ke arah pencuri ulung.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda ingin mencari informasi ke dalam?&#8221; tanya Lie kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Cukup aku dan Yunying saja untuk melihat-lihat ke dalam.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Lie Hui terlihat mengangguk pelan.<br />
&#8220;Aku akan kembali sesuai dengan anjuran anda. Tetapi aku berniat mencari informasi lainnya, terutama untuk kasus pembunuhan rentetan keluarga Meng yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu.</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying memang tetap berada di salah satu sudut luar Wisma Meng untuk menunggu terjadinya sesuatu perubahan sebelum mereka berdua berniat menyelinap ke dalam.<br />
Sudah lebih dari dua jam, kemudian mereka mendapati sesuatu.</span></p>
<p><span>Adanya deretan kereta-kereta kemudian berhenti di depan gerbang. Deretan kereta yang jumlahnya mungkin 10 buah lebih cukup mengherankan Jieji maupun Yunying. Bentuk deretan tersebut adalah kotak berwarna hitam, dan besarnya sekiranya adalah sebesar kotak upeti yang sering sekali terlihat di ibukota pada musim semi awal. Adalah ketika para raja wilayah ataupun raja luar wilayah yang mempersembahkan upeti berupa perhiasan ataupun barang antik lainnya kepada Kaisar setiap tahun. Kotak tersebut memang benar persis sekali jika diamati dari luar.</span></p>
<p><span>Di Wisma Meng tidaklah terdapat Kaisar sebagaimana jika dipikirkan. Tetapi atas dasar apa orang ini mengantarkan kotak besar yang sepertinya berisi sesuatu ke Wisma?<br />
Jieji memang sudah tidak tahan rasa penasarannya. Ini terbukti beberapa kali dia menjulurkan kepala lewat sebatang pohon Ek yang besar untuk melihat keadaan. Dia pasang telinganya dengan cukup baik untuk mendengar pembicaraan mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuan Meng memang telah memesannya. Mungkin dia lupa memberitahu kepada kalian!&#8221; terdengar seorang pengawal kereta berteriak kemudian.<br />
Tadinya suara mereka lumayan pelan saja, dan hampir bisa dikatakan tidak dapat terdengar. Tetapi kali ini, suara pengawal kereta membludak karena terlihat dia marah sekali.</span></p>
<p><span>Untuk saja percekcokan tidak berlangsung lama karena sepertinya suara cek-cok dihentikan oleh sebuah suara. Suara yang terdengar cukup berat dan serak bisa membuktikan bahwa usia orang memang cukup tinggi. Selain itu, Jieji juga merasakan bahwa orang tua yang bakal keluar ini bukanlah orang biasa. Sebab teriakannya juga mengandung semacam hawa tenaga dalam yang kuat.</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying keduanya segera menjulurkan kepala sekali lagi untuk melihat ke gerbang. Mereka berdua berdiri lebih dari 20 langkah di samping gerbang dan bersembunyi di sebuah pohon besar.<br />
Memang adalah seorang tua, umurnya mungkin sudah 60-an ke atas. Wajahnya memang tidak terlihat begitu jelas karena jarak pandang yang jauh. Tetapi rambutnya sudah putih, wajahnya dihiasi jenggot dan kumis panjang. Orang tua berpakaian pendeta dan terlihat cukup agung dari sikapnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetua Gao, maafkan kami. Tetapi pengawal kereta selalu ingin mendesak kalau Tuan besar sudah memesan kereta-kereta.&#8221; jawab salah seorang pengawal yang tadinya angker namun sekarang berubah menjadi sopan.</span></p>
<p><span>Orang tua terdengar berbicara dengan lembut.<br />
&#8220;Ini adalah kesalahanku. Tuan besar memang sudah memesan kereta tadi pagi sekali tetapi karena ini tugasku untuk memberitahukan kalian. Namun disini aku lupa. Maafkan aku..&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Orang tua itu mencurigakan&#8230;&#8221; tutur Yunying kepada Jieji dengan sangat pelan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak juga.&#8221;<br />
jawab Jieji pendek.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa tidak? Dia adalah seorang pesilat tangguh, apa mungkin pesan dari Tuan besar Meng bisa dilupakannya?&#8221; tanya Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Bukan begitu, yang kamu bicarakan adalah sebuah kemungkinan saja. Tetapi kalau aku melihat orang tua itu, memang bukanlah seperti yang kau kira.&#8221; sahut Jieji dengan suara pelan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia kemungkinan adalah orang yang menghalangi kita di kuil. Karena dia menunggu sejak pagi, maka pesan tuan besar tidak dihiraukannya. Dan aku merasa dia baru saja sampai barusan.&#8221; tutur Yunying dengan alis yang berkerut.</span></p>
<p><span>&#8220;Pintar&#8230;<br />
Tetapi ini hanya kemungkinan. Dan satu hal lagi, kau masih ingat orang berpakaian emas dan bertutup muka? Lihatlah kembali ke arah orang tua.&#8221; sahut Jieji dengan serius ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Oh&#8230;.<br />
Betul, orang tua ini berperawakan besar sekali. Selain itu, dia hanya menutup muka saja tadi di kuil. Mana mungkin rambut putihnya tidak terlihat? Jika dia mengubah bentuk rambut memang wajar saja. Makanya kamu sebut kemungkinan?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Pintar&#8230;<br />
Selain itu, bentuk tubuhnya yang menjadi perhatian. Orang besar tidak mungkin bisa membuat tubuhnya menciut. Tetapi jika orang tua ini tidak bertubuh besar, maka para pengawal cukup akan curiga dan mengungkitnya saat ini karena melihat perawakannya yang beda.<br />
Dan bagaimanapun, sepertinya penyelidikan kita bisa dimulai dari orang tua ini.&#8221; jawab Jieji dengan pelan dan tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayok kita pergi.&#8221; tutur Yunying seraya membalikkan badan.</span></p>
<p><span>Tetapi ketika mereka baru saja beranjak 3 langkah ke belakang. Keduanya terkejut dengan cepat. Sebab mereka sudah merasakan hadirnya sebuah hawa dan tenang di belakang keduanya.<br />
Baik Jieji maupun Yunying segera menoleh. Mereka kemudian melihat orang tua itu telah sampai. Dengan cara bagaimana dan seperti apa, tiada yang tahu benar. Sebab tahu-tahunya orang tua sudah berdiri agung sambil memegang jenggotnya.</span></p>
<p><span>Wajah orang tua terlihat tersenyum melihat keduanya.<br />
&#8220;Hebat&#8230;&#8221; tuturnya dengan seraya memuji.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Anda lebih hebat. Kita bahkan tidak tahu sejak kapan tetua bisa sampai di sini dan berdiri dengan agung.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>Orang tua ini tertawa terbahak-bahak. Sedang Jieji dan Yunying terlihat tersenyum saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak tahu apa maksud kalian. Tetapi diam-diam dan bersembunyi bukanlah tindakan seorang ksatria. Siapa kalian berdua?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak perlu di tanya siapa mereka berdua.&#8221; tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang lembut dari arah kejauhan.<br />
Tentu suara semacam demikian mengundang ketiganya langsung menoleh.<br />
Soerang wanita yang berpakaian biru muda terlihat berjalan secara pelan dan anggun ke arah mereka bertiga. Wanita yang terlihat berkulit sangat putih dan mulus. Wajahnya dari kejauhan saja sudah bisa dipastikan sangatlah cantik. </span></p>
<p><span>Ketiganya terlihat bergembira meski kegembiraan ketiganya tentu saja tidak sama.</span></p>
<p><span>&#8220;Puteri Chonchu?&#8221; teriak Jieji seakan tidak percaya.<br />
Yunying juga berteriak dengan suara yang sama.<br />
Tetapi orang tua ini yang keheranan karena melihat keduanya mengenal wanita itu hanya bisa bengong saja.</span></p>
<p><span>Yang datang kemari memang betul adalah puteri Chonchu, puteri Koguryo yang terkenal itu. Dan merupakan hanya satu-satunya puteri kandung dari Pei Nanyang alias Zeng Qianhao.<br />
&#8220;Tetua Gao&#8230;<br />
Mereka berdua adalah teman-temanku.&#8221; tutur Chonchu kepada orang tua itu sambil tersenyum manis.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka?&#8221; tanya orang tua sambil menunjuk ke arah Jieji dan Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Yang pria adalah orang yang terkenal dengan julukan &#8220;Pahlawan Selatan&#8221;, sedang yang wanita adalah isterinya, Wu Yunying.&#8221;<br />
jawab Chonchu sambil tersenyum ke arah keduanya.</span></p>
<p><span>Orang tua terlihat terkejut sebentar, tetapi dia masih bisa menguasai dirinya sedemikian rupa. Sesaat, wajahnya tersenyum riang.<br />
&#8220;Dengan adanya kedua pendekar, maka yang tua ini sepertinya tidak perlu terlalu bersusah-payah lagi.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji agak heran mendengar pernyataan orang tua. Lantas dia menanyainya.<br />
&#8220;Bagaimana anda tahu bahwa kita mempunyai tujuan ke Wisma Meng?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Orang tua kemarin, yang diberi beberapa peser uang oleh teman anda bukan? Kemarin benar aku tidak tahu siapa orangnya bahwa ada yang mencari informasi tentang Wisma Meng, tetapi dengan adanya kedatangan anda berdua hari ini maka aku bisa memastikannya.&#8221; tutur orang tua sambil memberi hormat.<br />
Jieji terlihat tersenyum girang mendengar pernyataan orang tua ini. Jelas orang tua di depannya bukanlah manusia sembarangan. Meski usianya mungkin sudar termasuk ujur, tetapi daya berpikirnya malah tidak melambat.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia adalah pengasuh diriku sejak kecil.&#8221; tutur Chonchu sambil memberi hormat ke arah orang tua.</span></p>
<p><span>&#8220;Nona terlalu membesarkan. Aku hanya menjaga anda selama 4 tahun saja semenjak nona kecil lahir.&#8221; jawab orang tua dengan membalas hormat Chonchu.<br />
Ternyata Chonchu adalah seorang wanita yang lumayan dikenal di Yun-nan. Orang tua ini mengaku bernama Gao JianShen. Gao, Jian, Shen tiga buah huruf disini bisa berarti &#8220;Tinggi&#8221;, &#8220;Bertemu&#8221;, &#8220;Dewa&#8221;.</span></p>
<p><span>&#8220;Nama yang aneh lagi?&#8221; tutur Yunying spontan ketika dia mendengar nama orang tua di depan.</span></p>
<p><span>Baik Chonchu maupun orang tua tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Nama disini adalah sebuah analogi. Aku tidak yakin bahwa nama-nama seperti Meng Yangchu dan Gao Jianshen adalah nama yang asli.&#8221; tutur Jieji seraya berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali anak muda. Tidak heran anda disebut sebagai detektif terkenal.<br />
Di daerah pedalaman sebelah barat daya, semua orang memiliki 2 buah nama. Nama asli hanya bisa dan boleh disebutkan sekali seumur hidup. Yaitu ketika seseorang sudah mencapai ajal.&#8221; tutur Orang tua.</span></p>
<p><span>&#8220;Pantas saja&#8230;&#8221; Jieji terlihat tersenyum.</span></p>
<p><span>Mereka berdua segera diajak oleh Chonchu dan orang tua bermarga Gao ini untuk masuk ke dalam.<br />
Jieji dan Yunying menempati ruangan khusus untuk tamu. Perlu diketahui, Wisma Meng bukanlah wisma yang asli luas sekali. Melainkan hanya sekitar palingan 3 petak tanah saja. Meski pelataran tergolong luas, tetapi ternyata rumah mereka malah termasuk sempit. Sebab disini pengawal terlalu banyak jumlahnya.</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying sempat berkeliling sebentar di sana untuk beberapa saat mengamati.<br />
&#8220;Sepertinya keamanan wisma memang bagus sekali.&#8221; tutur Yunying sambil berjalan pelan di samping Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul..<br />
Pengamanan terlihat ketat karena wisma yang jaraknya tidak luas. Aku sudah menghitung pengawal yang dari tadi silih berganti kesana dan kemari. Jumlahnya pas 50 orang. Dan seharusnya keluarga Meng memiliki 100 orang pengawal yang bisa digantikan secara silih berganti setiap pagi dan malam kemudian.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying menganggukkan kepalanya saja. Mereka baru saja kemudian beranjak beberapa tindak ke depan. Lalu terdengar suara pengawal yang memanggil keduanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kasus keluarga Meng harus kita selidiki sampai tuntas. Hampir 30 tahun yang lalu kabarnya semua keluarga Meng terbantai habis, kecuali para pelayan ataupun pengawal. Tidak ada seorangpun tahu bagaimana mereka bisa selamat, tetapi semua tahu bahwa para pelayan maupun pengawal dalam keadaan pingsan. Kita hanya mempunyai petunjuk berikut saja.&#8221; tutur Jieji sambil mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan oleh Huang Qian kepadanya beberapa puluh tahun yang lalu.</span></p>
<p><span>Di dalam ruangan utama Wisma Meng, sudah terlihat 3 orang yang sedang duduk. Seorang duduk di arah atas tangga yang jumlahnya mungkin 5 petak saja. Sedang di kiri dan kanannya terlihat seorang tua tadi dan Chonchu duduk dengan wajah riang menantikan kedua orang.</span></p>
<p><span>&#8220;Hormat kepada pemilik Wisma.&#8221; tutur Jieji dengan sopan.<br />
Jieji sempat melihat ke arah pemilik Wisma yang memiliki nama &#8220;aneh&#8221;. Orang yang tergolong tinggi besar, dengan wajah berangasan. Mata bulat dan alis yang tebal. Di wajahnya terhias jenggot dan kumis yang berewokan. Sepertinya pemilik Wisma adalah orang yang tetap menjaga ciri khas Yun-nan.<br />
Zeng Qianhao memang terlihat berperawakan demikian, tinggi besar dan terlihat sekilas menakutkan tetapi bedanya adalah kumis dan jenggot Zeng tidaklah serampangan seperti pemilik Wisma.</span></p>
<p><span>Meng Yangchu sesegera mempersilahkan keduanya duduk di kursi sebelah Chonchu. Lantas dengan tiada berbasa-basi, dia mengeluarkan suara &#8220;guntur&#8221;nya.<br />
&#8220;Aku pernah mendengar nama besar anda di daratan tengah. Sungguh hal yang baik jika anda mengunjungiku. Bisa saya tahu apa maksud anda datang kemari dengan sejujurnya?&#8221;</span></p>
<p><span>Perkataan tuan rumah memang langsung ke sasaran tanpa bertele-tele. Mungkin ini juga salah satu ciri khas orang Yun-nan yang sepertinya tidak banyak bicara jika tidak perlu.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;<br />
Tujuanku datang kemari hanya demi seseorang sebenarnya.&#8221; jawab Jieji juga langsung ke sasaran dan tidak banyak bertele-tele kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Hmm?<br />
Lantas siapa yang anda cari? Apa ada hubungannya dengan wisma?&#8221; tanya tuan rumah. Wajah tuan rumah terasa cukup aneh ketika mendengar pernyataan Jieji barusan.</span></p>
<p><span>&#8220;Sejujurnya, aku juga tidak akan banyak berbasa-basi lagi.<br />
Temanku, atau tepatnya adalah paman dari wanita yang duduk di sampingku. Dia pernah datang kemari hampir 30 tahun yang lalu. Dia-lah orang yang sedang kucari.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>Tuan rumah terlihat berpikir beberapa saat. Dia amati keseriusan wajah pemuda dengan serius juga. Lantas dia terdengar tertawa.<br />
&#8220;Betul&#8230;<br />
Orang yang ingin kau cari mungkin adalah seorang detektif usia 40-an pada saat itu. Bukankah dia?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Kabarnya banyak detektif ataupun polisi yang tidak sanggup menyelesaikan kasus yang dimaksud. Memang benar perkataan pendekar, banyak juga orang-orang itu hilang tak berbekas.&#8221; tutur tuan rumah sambil menengadahkan kepalanya ke atas mengenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada satu hal saja yang ingin saya tanyakan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa itu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Mengenai wisma&#8230;<br />
Dimanakah sesungguhnya wisma berada sejak terjadi pembantaian puluhan tahun lalu itu?&#8221;<br />
tanya Jieji dengan serius.</span></p>
<p><span>Tuan rumah memandangnya sesegera. Wajahnya segera berubah. Entah ekspresi apa yang sedang ditunjukkan. Tetapi dengan segera, wajah tuan rumah segera berubah dahsyat. Dia tertawa sangat keras tiba-tiba.<br />
&#8220;Wisma Meng terdahulu letaknya adalah sebelah selatan kota. Di sebelah barat terletak banyak rumput dan di sebelah timur terdapat air terjun kecil.<br />
Anda sepertinya sangat tertarik akan misteri-misteri. Datanglah ke sana untuk menyelidik jika anda inginkan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Terima kasih.&#8221; jawab Jieji pendek saja.</span></p>
<p><span>Pembicaraan selanjutnya memang tidak lagi mengenakkan sama sekali. Dan hanya tinggal beberapa hal yang kurang penting saja yang bisa dijadikan informasi berharga dalam penyelidikan. Oleh karena itu, Jieji dan Yunying segera meminta pamit. Mereka dikawani oleh Chonchu ke kamar mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Puteri Chonchu&#8230;<br />
Bagaimana menurutmu pemilik wisma, Meng Yangchu?&#8221; tanya Jieji ketika mereka berjalan mendekati kamar.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuan besar Meng adalah seorang yang sangat keras. Itu wajar saja.<br />
Sebab di usianya yang barusan 16 tahun, dia telah kehilangan seluruh keluarganya. Dia untungnya terselematkan karena ayahku.&#8221; tutur Chonchu sesaat. Tetapi tiba-tiba dia merasakan pedih di hatinya.</span></p>
<p><span>Jieji mengerti maksud Chonchu.<br />
Kabar meninggalnya Pei nanyang tentu sudah sampai di telinga nona ini. Tetapi kemudian pemuda berkata kepadanya.<br />
&#8220;Orang yang menyebabkan kematian tetua Zeng juga sudah tewas.&#8221;</span></p>
<p><span>Chonchu memandang Jieji agak heran. Dia lantas bertanya.<br />
&#8220;Bagaimana si tua Huo itu tewasnya?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menceritakan singkat saja kejadian tempo waktu beberapa bulan yang lalu. Selesai mereka bercerita satu sama lainnya. Akhirnya ketiganya juga telah berada di dalam ruangan kamar.</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu bagaimana kakak Chonchu bisa ke Yun-nan? Dan dimana kak Sungyu?&#8221; tanya Yunying kepada Chonchu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kak Sungyu sekarang sedang membela negara. Dia sebenarnya ingin ikut, tetapi aku menghalanginya. Dikarenakan masalah utara, Liao pun belum beres.&#8221; jawab Chonchu dengan tersenyum simpul.</span></p>
<p><span>&#8220;Anda diminta orang tua bermarga Gao untuk menyelidik secara diam-diam juga rupanya.&#8221; </span></p>
<p><span>Chonchu memandang Jieji dengan heran. Lantas dia terdengar tertawa sekali. Seraya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dia memberikan kepada pemuda.<br />
Jieji mengambilnya dengan sigap dan memampangkan sesuatu benda. Ternyata adalah sebuah kain terlihat. Kain itu dengan segera saja dipampangkan di meja.<br />
Rupanya adalah sebuah surat yang berisi tinta merah. Tinta ini mungkin saja dibuat dari darah sesungguhnya. Tetapi surat ini berisi pesan yang sangat pendek tetapi sangat mengancam.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku akan mengirim keluarga Meng kembali.<br />
Pembantaian untuk 30 tahun yang lalu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya hal ini makin lama makin serius saja.<br />
Aku ingin bertanya kepadamu sesuatu hal.&#8221; tutur Jieji yang kelihatan tertarik dengan surat pemberitahuan atau surat ancaman.</span></p>
<p><span>&#8220;Katakan saja.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Gao Jianshen adalah seorang pendekar hebat. Lalu kamu tahu darimana kekuatan tenaga dalamnya di dapat?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Wajar saja. Sebenarnya ayahku pernah mengajarinya kungfu meski sudah lama sekali. Dan terakhir ketika kakak seperguruan (Yuan Jielung) dan Ayah berada di Yunnan. Mereka bertiga-lah orang yang sering merundingkan jurus-jurus kungfu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi begitu?&#8221; tutur Jieji sambil berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu memang kemungkinan yang satu juga telah musnah sama sekali.&#8221; sahut Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji membenarkan pernyataan Yunying.<br />
Chonchu yang sangat pandai itu segera tersenyum dan berkata.<br />
&#8220;Kalian sempat mencurigai Gao JianShen? Memang ada sesuatu yang telah terjadi?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tertawa mendengar perkataan Chonchu. Dan sekali ini, Yunying yang menceritakan semua pertemuan mereka dengan pendekar tangguh yang misterius itu. Sambil mengeluarkan lengannya, Yunying juga melepaskan kain sapu tangan yang masih mengikat luka ringan di lengannya.<br />
Chonchu sepertinya memandang dengan cukup tertarik. Wajahnya terlihat aneh dan mengerutkan dahi beberapa saat.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya puteri mendapat sesuatu petunjuk dari luka isteriku?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Aku ingin berkata bahwa bekas luka lima goresan di tangan Yunying juga sama. Sama dengan luka goresan di semua leher keluarga Meng yang tewas terbantai.&#8221;tutur Chonchu.</span></p>
<p><span>Bukan main terkejutnya Jieji dan Yunying mendengar perkataan Chonchu barusan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi, banyak sekali dugaan. Penduduk sekitar tidak pernah ingin menjawabnya kepada orang luar tentang hal yang terjadi di Yunnan saat itu. Tetapi ayahku pernah tahu dan mengatakan bahwa mereka dibunuh dengan jurus yang sama. Namun, penduduk Yunnan mengatakan bahwa mereka dibunuh oleh mayat hidup. Bekas di leher semua korban adalah bekas cakaran mayat hidup.&#8221; sahut Chonchu dengan wajah yang serius.</span></p>
<p><span>Jieji menangkap perkataan Chonchu dengan tersenyum saja. Sedangkan Yunying malah bertingkah aneh sekali.<br />
&#8220;Tidak mungkin&#8230;<br />
Jangan-jangan benar ada mayat hidup? Mereka benar dibunuh mayat hidup?&#8221; teriaknya dengan wajah gelisah.</span></p>
<p><span>Jieji yang melihat ke arah Yunying segera tertawa lebar. Begitu pula Chonchu melakukan hal yang sama.<br />
&#8220;Tidak disangka setelah kau telah menjadi seorang pesilat luar biasa sezaman ini, malah bisa ditakutkan oleh cerita semacam demikian.&#8221;</span></p>
<p><span>Wajar saja, sebenarnya hari sudah gelap juga. Karena mendengar tentang hal berbau &#8220;hantu&#8221;, Yunying terlihat cukup gemetaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak!!<br />
Yang kukhawatirkan adalah rumah ini. Bukankah disini terjadi pembantaian keluarga Meng? Ini cukup menakutkan!&#8221; teriak Yunying kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Salah&#8230;<br />
Bukankah tadinya pemilik Wisma berkata bahwa pembantaian bukan dilakukan di rumah ini? Dasar kau..&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Baru sekarang terlihat pikiran Yunying jernih kembali.<br />
&#8220;Betul juga&#8230;<br />
Jika benar bahwa banyak orang terbunuh disini, yang paling pertama ditakuti tentu pemilik wisma. Untunglah&#8230;&#8221; seru Yunying dengan lega sekali.</span></p>
<p><span>Sekali lagi keduanya tertawa melihat kepolosan nyonya Xia yang memang sesungguhnya tidak rasional.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Sekarang aku sudah tahu sebuah hal. Mereka benar dibunuh dengan Ilmu jari. Dan hebatnya adalah Ilmu jari sakti itu bisa dikeluarkan dari jarak yang cukup jauh tetapi mematikan. Malah sekilas terasa aneh sebab bisa saja ilmu itu memakan korban dengan cara memilih secara tepat.&#8221; tutur Jieji sambil berpikir. Dia sedang berpikir beberapa kemungkinan saja yang bisa terjadi.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ada ditemukan dendam antara keluarga Meng dengan pelaku kejahatan. Ini sangat diherankan. Kenapa kasus seperti demikian tidak meninggalkan jejak sama sekali?&#8221; tutur Chonchu juga sambil berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Kalau benar perkiraan kita. Maka sesungguhnya pamanmu kemungkinannya sangat kecil masih hidup di dunia.&#8221; tutur Jieji dengan menghela nafas ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Aku tidak percaya. Kamu bilang pamanku sangat pandai meski kungfunya jelek. Dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik sekali.&#8221; sahut Yunying dengan lantang.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul sekali. Sepertinya kita harus ke Wisma Meng dahulu itu. Mungkin saja jejak akan ada di sana.&#8221; tutur Chonchu.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan mungkin, tetapi pasti.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Yunying melongo melihat Jieji yang kelihatan telah cerah wajahnya. Sementara itu, Chonchu juga tersenyum.<br />
&#8220;Betul&#8230;<br />
Jika tidak ada, maka bisa kita suruh dia datang. Bukan begitu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Satu hal lagi puteri&#8230;<br />
Apa benda berderet berbentuk kotak yang baru saja diterima oleh pihak Wisma tadi siang?&#8221;</span></p>
<p><span>Chonchu tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Itu adalah bahan peledak.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Wah&#8230;<br />
Sepertinya kondisi psikologi pemilik Wisma sudah bermasalah. Dia ingin meledakkan mayat hidup jika datang kepadanya?&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum geli.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Selatan kota Yun-nan&#8230;<br />
Sepertinya apa yang dideskripsikan Meng Yangchu memang tidaklah salah sama sekali. Jieji sudah melihat pepohonan dan air terjun yang dikatakan pemilik wisma. Memang di sebelah kirinya terlihat sebuah bangunan tua yang bertembok cukup tinggi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau ingin menelusurinya di saat malam begini? Apa kau tidak takut?&#8221; tanya Yunying dengan sangat gelisah. Sepertinya wanita ini ketakutan akan cerita mengenai mayat hidup. Tetapi sebaliknya Jieji tersenyum dan tertawa sebentar tanpa menjawab pertanyaannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayok!&#8221; seru Jieji pelan sambil meraih tangan Yunying. Dia sudah melompat ke dalam tembok dalam. Dengan cepat sekali, mereka berdua sudah sampai di balairung utama. Balairung yang gelap dan angker luar biasa telah terpampang. Menyelidiki sesuatu di saat begini memang bukanlah hal yang benar bisa bermanfaat. Jika saja ada api yang dihidupkan saat seperti demikian, maka sangat berbahaya sekali. Karena lawan lebih bisa melihat dimana mereka berada. Oleh karena itu, Jieji tetap tiada penerangan bermaksud menelusuri wisma tua.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Wisma Meng (kecil)&#8230;<br />
Seperti biasanya. Tuan Meng sudah tidak bisa tidur semenjak adanya pemberitahuan ancaman pembunuhan keluarganya. Tuan Meng memang memiliki 3 orang putera dan 1 orang puteri. Kesemuanya adalah jago silat juga rupanya. Tetapi mereka juga ikut berkhawatir akan sesuatu hal yang bakal terjadi pada keluarga mereka. Baik Meng Yangchu dan keempat orang anaknya tidak lagi bisa tidur tenang. Sudah berbulan-bulan semenjak pemberitahuan dilakukan, tetapi belum adanya tanda-tanda dari pembunuh sama sekali.</span></p>
<p><span>Hari ini, bulan purnama sungguh sangat indah. Angin terasa berhembus sepoi-sepoi dan tiada tanda bakal terjadinya perubahan cuaca.<br />
Wisma tetap terang benderang semenjak berbulan-bulan lalu ketika pemberitahuan pembunuhan sudah disebarkan.</span></p>
<p><span>Kepala keluarga Meng Yangchu sudah duduk di ruangan utama dengan wajah yang tidak begitu tenang. Dia terlihat sebentar berjalan kesini dan kesana.<br />
Sudah lebih dari 3 jam dia melakukannya dan setiap malam juga dilakukan hal yang serupa. Biasanya setelah dia berjalan sampai tengah malam, dia akan pergi tidur. Tetapi hari ini lain dari pada lain. Sebelum benar tengah malam, sepertinya dia menangkap sesuatu bayangan di dinding belakangnya.</span></p>
<p><span>Bayangan yang sepertinya memakai baju emas sedang terlihat. Dengan kerudung tutup muka yang berwarna emas pula. Tidak bisa disangkal lagi, orang inilah yang telah menyerang Jieji dan Yunying serta pencuri ulung di depan kuil Zhu Fu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau mau apa?&#8221; teriak Meng Yangchu dengan kalap ketika melihat seorang aneh di ruangannya.</span></p>
<p><span>Orang ini tidak berbicara sedikitpun. Tetapi dia mengangkat tangannya. Jarinya terlihat ditunjukkan ke arah Meng Yangchu. Sepertinya keadaan Meng sedang dalam gawat-gawatnya.</span></p>
<p><span>Tetapi sebelum Meng Yangchu menjadi korban orang tersebut. Tiba-tiba saja sinar terang benderang mengalahkan terangnya ruangan.<br />
Adalah sinar merah luar biasa terang dan pesat kemudiannya menghantam orang berbaju emas tersebut. Orang misterius terlihat terpental sungguh pesat ke belakang dan menghantam dinding ruangan hingga roboh.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya kamu telah terkena pancingan.&#8221;<br />
tutur sebuah suara dari arah depan pintu besar itu.</span></p>
<p><span>Dengan langkah yang cukup pelan, sepertinya terasa langkah kaki beberapa orang yang memasuki ruangan. Meski di depan terasa cukup gelap, tetapi di dalam ruangan sesungguhnya adalah terang benderang. Suara langkah beberapa orang ini juga diikuti suara langkah yang cukup ramai yang ikut menyusul.<br />
Setelah orang yang sampai tersebut melangkahkan kakinya, maka seorang pria kemudian berjalan ke depan dengan cukup was-was. Terlihat sebelah tapaknya sedang disiagakan untuk bertahan.</span></p>
<p><span>Tembok yang berjarak sekitar 30 kaki lebih darinya itu memang sudah runtuh akibat terjangan tubuh seseorang yang menghantam. Pemuda yang datang di sini tentu tiada lain adalah Jieji. Di belakangnya terdapat 2 orang wanita muda dan seorang pria tua.<br />
Jieji berhati-hati benar sambil mengawasi tajam ke arah orang yang menabrak dinding itu. Tetapi meski langkahnya sudah dilakukan sebanyak belasan kali ke depan, namun orang yang berpakaian emas itu sama sekali tiada bergerak.</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan-jangan dia telah tewas?&#8221; tutur pria tua di belakang kepada orang di sekeliling.</span></p>
<p><span>Suasana di dalam ruangan memang terasa menyesakkan nafas setiap orang. Meski di luar memang sudah siaga cukup banyak pengawal yang siap untuk bertarung mati-matian, tetapi menyaksikan penyerang yang roboh dan diam tak berkutik membuat semua orang was-was. Terlebih lagi pemuda yang berniat untuk mendekatinya.</span></p>
<p><span>Tetapi&#8230;<br />
Ketika benar Jieji telah sampai di sana, yaitu di tempat robohnya orang yang terhantam jurus Ilmu jari dewi pemusnah. Dia kontan terkejut tidak terkira.<br />
Dia terlihat mengangkat &#8220;orang&#8221; yang berpakaian emas itu dengan sangat mudah. Dan terlihat segera dia melemparkan tubuhnya ke tengah ruangan yang bersinar terang benderang itu.</span></p>
<p><span>Tindakan Jieji juga sangat mengejutkan siapa saja. Tidak disangka bahwa ternyata &#8220;orang&#8221; yang dilempar ternyata adalah orang-orangan yang terbuat dari kain yang berisi cukup banyak batu sehingga terasa berat.<br />
Kondisi ruangan sekarang telah &#8220;menghasilkan&#8221; sebuah lubang selain pintu masuk. Langsung saja, Jieji berjalan seraya melompat ringan untuk menuju ke halaman samping dari lubang.</span></p>
<p><span>Dia berjongkok sebentar untuk mengamati. Gerakannya segera diikuti oleh Yunying dan Chonchu. Chonchu meminjam sebuah kayu berapi dari para pengawal untuk ikut ke arah Jieji. Dia tahu benar bahwa sedang apa Xia Jieji melakukan tindakannya itu sekarang.</span></p>
<p><span>Benar Jieji sedang memeriksa jejak langkah dari orang yang dirasanya melarikan diri. Tetapi jika ada pendekar yang sanggup lari dari ruangan tersebut tanpa diketahui-nya, maka kemampuan pendekar itu sudah sangat tinggi sekali. Mungkin sekarang sudah sekelas Dewa Lao, Zhao Kuangyin ataupun Wu Yunying. Apakah memang benar ada pendekar hebat yang bersembunyi di sini? Sungguh cukup mengherankannya.</span></p>
<p><span>Jieji meminta kayu berapi dari tangan Chonchu, kemudian dia segera saja memeriksa lapangan tanah di samping ruangan tersebut.<br />
Perlu diketahui, lapangan di sini memang tidaklah luas. Tetapi lapangan di sini justru terasa gersang dan jika saja ada orang berjalan di sana, maka tidak mungkin jejak kaki tidak tertinggal sama sekali disana.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar-benar luar biasa sekali. Ini hal yang sangat menarik&#8230;&#8221;<br />
tutur Jieji sambil tersenyum melihat ke arah tanah.<br />
Perlu diketahui, di sini hanya terdapat hamparan tanah dan di sekelilingnya sudah tidak terdapat gedung. Maka jika orang tersebut melarikan diripun, pasti dia akan meloncat ke atap ruangan terjadinya upaya pembunuhan terhadap Meng Yangchu.<br />
Tetapi hebatnya, Jieji dan kawan-kawannya yang adalah pesilat tangguh sama sekali tidak pernah merasakan adanya langkah yang melewati atap sama sekali.</span></p>
<p><span>Chonchu, Yunying dan orang tua bermarga Gao tentu mengerti apa maksud Xia Jieji yang berkata demikian. Karena mereka sendiri juga melihat tiada jejak kaki sama sekali disana, dan tidak ada yang merasakan adanya orang yang kabur dari lokasi.<br />
Lantas sambil menghela nafas, Jieji masuk kembali ke ruangan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dimana pembunuhnya???&#8221; teriak Meng Yangchu seraya berteriak ketika dia melihat Jieji masuk.</span></p>
<p><span>Tetapi tidak pernah Jieji menjawab pertanyaannya, karena dia sendiri sedang berpikir keras. Jika hanya sebuah boneka, maka tidak mungkin boneka bisa menunjuk ke arah Meng Yangchu dengan jarinya seakan-akan hendak membunuhnya saat itu. Namun, jika adalah manusia. Mana mungkin bisa lolos tanpa jejak sama sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Izinkan kita untuk berpikir dahulu.&#8221; tutur Chonchu ke arah Meng Yangchu meski kelihatan bahwa tuan rumah tidaklah sabar sama sekali.<br />
Tetapi sebelum tuan rumah bersuara, mereka semua telah dikejutkan suara pelayan wanita yang berteriak.</span></p>
<p><span>Karena teriakan pelayan wanita terasa histeris dan mengundang kengerian. Kesemua orang di ruangan langsung saja beranjak. Kesemuanya baik pengawal ataupun penghuni segera menuju ke arah suara.<br />
Jieji dan Yunying adalah 2 orang pesilat tangguh luar biasa di sini. Mereka berdualah yang pertama sampai di lokasi tempat pelayan itu berteriak.<br />
Keduanya terkejut ketika melihat sesuatu. Dan sangat wajar kalau pelayan berteriak.</span></p>
<p><span>Sebab di ruangan kamar tidur yang tidak seberapa besar itu telah terlihat pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang siapapun.<br />
Di kursi yang bisa bersandar atau tepatnya kursi santai telah terlihat seorang duduk di sana dengan wajah yang sangat mengerikan.<br />
Darah terlihat masih mengalir deras dari tubuh orang tersebut.</span></p>
<p><span>Yunying yang memang tidak biasa melihat pemandangan demikian tentu merasa ngeri. Dia langsung saja beranjak ke belakang punggung suaminya itu tanpa berani menatap lama-lama lagi.<br />
Tidak berapa lama.<br />
Chonchu dan orang tua serta kepala keluarga alias Meng Yangchu juga telah sampai. Kontan saja terdengar teriakan ngeri seseorang di belakang.<br />
&#8220;Anakku!!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Meng segera saja masuk dengan sangat cepat untuk beranjak ke depan.<br />
Memang benar, orang yang tergeletak itu adalah seorang pria. Wajahnya terlihat sangat menakutkan sekali, selain itu mata dan mulutnya tidaklah tertutup sama sekali. Darah yang terus mengalir membuat pemandangan terasa sangat menjijikkan.<br />
Jieji memang telah berada di depan mayat tersebut, mayat tuan muda keluarga Meng.</span></p>
<p><span>Dia melihat dengan jelas bahwa darah masih membanjir deras dari leher. Segera pemuda mengeluarkan sapu tangannya untuk melap bersih darah yang belum kunjung berhenti.<br />
Maka terlihatlah bahwa ada 5 bekas goresan yang cukup dalam. Luka seperti demikian memang bisa dibuat melalui cakar seseorang yang sangat kuat.<br />
Memang sepertinya pemuda berusia 20 tahunan ini tewas karena luka di leher tersebut.</span></p>
<p><span>Meng Yangchu alias tuan rumah terlihat berteriak keras sambil mengusir Jieji dengan marah sekali.<br />
&#8220;Kau bilang bisa melindungi keluargaku. Sekarang kau lihat!!! Apa yang kau perbuat????&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji diam saja, dia tidak menjawab makian tuan rumah itu. Tetapi dia beranjak dari tempat dan mengajak Yunying serta Chonchu untuk keluar dari ruangan.<br />
Karena sikap tuan rumah yang sangat kasar inilah membuat Jieji sudah tidak ingin tinggal lebih lama di Wisma Meng.<br />
Mereka bertiga segera keluar dari Wisma dan berniat berjalan untuk mencari tempat berteduh sementara. Meski saat itu telah tengah malam, tetapi ketiganya tidak cukup susah untuk mencari penginapan.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana menurutmu kasus demikian?&#8221; tanya Yunying yang melihat Jieji sedari tadi diam saja sejak keluar dari Wisma.</span></p>
<p><span>&#8220;Kasus seperti demikian sebenarnya bukan hal yang sangat aneh.&#8221; tutur Chonchu sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Jieji melihat ke arah puteri koguryo yang sangat pintar tersebut sambil tersenyum juga.<br />
&#8220;Benar&#8230;<br />
Yang membuat kasus rumit tiada lain hanyalah tiada petunjuk sama sekali. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada keluarga Meng generasi sebelumnya, bahkan bagaimana cara mereka semuanya tewas kita juga tidak pernah tahu.&#8221; </span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana jika besok kita lanjutkan penyelidikan saja ke kota. Aku yakin pasti masih banyak orang yang tahu benar kasus yang sudah hampir 30 tahun lalu itu terjadi.&#8221; tutur Yunying kepada Jieji.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/342/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/342/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=342&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 24</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-24/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-24/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[hancur jika tidak dihentikan. Oleh karena itu, aku mengatakan kepadamu bahwa sehebat apapun dirimu, tetapi tidak sanggup memuaskan dirimu. Nyawamu tidak akan lama lagi bertahan.&#8221; jelas Jieji kepada Chen Yang. &#8220;Kenapa begitu? Bukankah 4 unsur saling mendukung membuat semuanya seimbang dan bukankah dalam kitab Tao yang mengajarkan panjang umur adalah membuat keempat unsur tubuh manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=341&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-341"></span></p>
<p><span>hancur jika tidak dihentikan. Oleh karena itu, aku mengatakan kepadamu bahwa sehebat apapun dirimu, tetapi tidak sanggup memuaskan dirimu. Nyawamu tidak akan lama lagi bertahan.&#8221; jelas Jieji kepada Chen Yang.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa begitu? Bukankah 4 unsur saling mendukung membuat semuanya seimbang dan bukankah dalam kitab Tao yang mengajarkan panjang umur adalah membuat keempat unsur tubuh manusia seimbang?&#8221; tanya Chen Yang yang agak penasaran kembali. Dia tahu benar bahwa Xia Jieji adalah orang yang menguasai Ilmu ini secara mendetail. Setiap harinya Chen memang benar melatih tenaga dalamnya supaya menjadi kuat kian harinya.<br />
Dia tidak merasakan kejanggalan apa-apa tentang ilmu yang telah dipelajarinya ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku mengatakan bahwa itu adalah ilmuku. Bukan ilmu yang kau pelajari itu.&#8221; jawab Jieji pendek saja kepadanya.</span></p>
<p><span>Sementara itu, Yue Liangxu segera menghampiri orang tua bernama Chen Yang. Dia membisikkan sesuatu di telinganya.<br />
Sesaat, Chen terkejut juga. Dia melihat serius ke arah Jieji.<br />
&#8220;Kau ingin mengulur waktu?&#8221;</span></p>
<p><span>Huo Xiang tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Chen Yang. Dia ikut menuturkan kata-kata.<br />
&#8220;Dia berharap setelah melepaskan tawanan, maka dia baru akan beraksi. Jangan beri kesempatan kepada mereka.&#8221;</span></p>
<p><span>Chen Yang mengangguk. Dia telah menyiapkan rapalan jurus telapaknya siap-siap. Tindakan Chen diikuti oleh Huo Xiang dan Yue Liangxu. Sedangkan Huo Thing-thing hanya bertindak waspada saja. Dia memasang kuda-kuda untuk bertahan.<br />
Jieji diam saja. Memang rencananya dari awal adalah untuk memancing lawan berkata-kata. Membuat lawannya penasaran untuk menanyainya dan sementara kawan-kawannya akan berhasil melepaskan tawanan Lie Hui dan seseorang lainnya lagi.<br />
Melihat kesiapan lawannya, Jieji juga telah memasang kuda-kuda menyamping. Wajahnya terlihat sangat serius memandang ke depan.</span></p>
<p><span>Beberapa saat, sikap mereka berempat hanya diam saja. Semuanya saling mengawasi sesamanya. Jieji memutarkan bola matanya dengan serius ke arah tiga orang yang sedang serius sekali melihatnya. Dia merasa jika salah satu orang yang bergerak saja, maka dia baru akan memutuskan apakah akan bertahan ataupun menyerang tergantung dari sikap lawannya itu.<br />
Tetapi sikap ketiganya memang betul rapat baik pertahanan maupun penyerangan. Mereka melihat betul-betul berkonsentrasi ke arah Jieji. Ketiga orang ini mengincar titik lemah lawan dalam menyerang. Jika ada kesempatan saja dan ada ruang yang berbahaya maka mereka bertiga akan &#8220;memasukinya&#8221;.</span></p>
<p><span>Cukup lama posisi mereka hanya saling memandang saja dengan serius satu sama lainnya. Adalah seorang yang akhirnya tidak sabar. Dari arah belakang ketiga orang, segera muncul sebuah hawa penyerang yang cukup dahsyat. Sebuah benda terasa telah dilemparkan dengan sangat cepat mengarah ke arah Jieji.<br />
Jieji tanpa melihatnya pun sudah tahu benar. Benda yang dilemparkan pesat ke arahnya adalah sebuah benda tajam sebab dia merasakan tusukan tenaga dalam yang masih lemah sedang mengarah ke mukanya, apakah itu adalah belati atau benda semacamnya. Dia sudah tidak ada keinginan untuk melihatnya. Oleh karena itu, dia segera menarik mundur dirinya sambil berkelit ke samping kanan.</span></p>
<p><span>Kesempatan telah datang&#8230;<br />
Melihat Jieji telah berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya bagus, ketiga orang ini segera menyerang pesat ke depan.<br />
Bukannya Jieji tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh mereka bertiga sekaligus secara cepat sekali. Dia tahu bahwa jika tadinya dia tidak menarik diri ke belakang, maka hawa serangan ketiga orang akan sangat berbahaya tentunya sebab jarak yang cukup dekat. </span></p>
<p><span>Dengan gaya berkelit ke samping, Jieji segera memutarkan dirinya sepenuhnya.<br />
Memang posisi membelakangi arah serangan adalah sangat berbahaya. Sama berbahayanya dengan mendirikan tangsi membelakangi sungai. Tetapi tidak mungkin Xia Jieji tidak tahu bahwa dirinya berada dalam keadaan yang cukup berbahaya seperti sekarang.</span></p>
<p><span>Tetapi ketiga lawannya tentu sangat girang mendapati lubang penyerangan yang sudah &#8220;dibuka&#8221; oleh Huo thing-thing akibat lemparan belatinya dengan cepat dan tangkas itu.<br />
Jieji segera berbalik kembali dalam posisinya yang telah semula kembali. Tetapi dengan berbaliknya tubuhnya, dia segera mengancangkan jari menotok ke depan 3 kali.<br />
Alhasil, terasa hawa pedang dahsyat keluar dari jari telunjuk pemuda. Sebuah hawa penyerangan yang sangatlah dahsyat sekali mengarah ke titik berbahaya tiga orang yang menyerangnya itu.<br />
Huo merasakan hawa pedang tanpa wujud sedang mengincar tenggorokannya, Yue Liangxu merasakan hawa pedang mengincar bagian bahu kirinya, sedangkan Chen Yang merasakan hawa pedang nan tajam mengarah ke mata kanannya.</span></p>
<p><span>Ketiga penyerang yang maju bersamaan ini menggunakan tangan kanan untuk menyerang. Merasakan hawa pedang yang sampai berada di arah berlawanan, Yue Liangxu segera menarik tapak untuk bertahan ke bahu kiri. Tetapi gerakan maju-nya Yue telah terlalu cepat. Sehingga meski tapaknya sempat menahan hawa energi pedang jari, dia juga terseret beberapa langkah ke belakang.<br />
Sedangkan Huo Xiang yang merasakan bahwa hawa pedang sedang mengancam tenggorokannya, segera menarik tapak untuk bertahan seperti yang dilakukan oleh Yue Liangxu. Tapak memang berhasil menahan hawa jari pedang dengan sempurna, tetapi karena cukup takut bahwa Jieji akan melancarkan serangan kedua, dia berhenti dengan segera.<br />
Sedang hawa pedang dari jari Jieji yang mengincar bola mata kanan-nya Chen Yang juga berhasil di tangkis secara sempurna oleh Chen. Dengan satu kibasan tangan, hawa pedang nan hebat berhasil dialihkan ke belakang. Chen tetap berniat maju ke depan dengan kecepatan yang sama sekali tidak dikurangi untuk menyerang.</span></p>
<p><span>Jieji memang sudah kembali ke ancang-ancang awalnya dan melihat serangannya sudah cukup membuahkan hasil. Dia menerjang ke arah Chen Yang yang sudah cukup dekat dengannya. Tanpa banyak bicara, kali ini pemuda merapalkan tapak lurus ke arah tapak orang tua yang datang dengan pesat itu.</span></p>
<p><span>Meski Jieji sedang mengarahkan tapak lurus ke arah telapak Chen Yang, dia tidak segera menahan laju tapak lawannya. Melainkan ketika tapak sudah sangat dekat, dia terlihat mengubah arah serangannya. Arah serangan yang seharusnya adalah setinggi dada, diubah pergerakannya menjadi agak ke atas. Arah yang diincar Jieji sekarang adalah muka lawannya.</span></p>
<p><span>Chen Yang terkejut, dia tidak menyangka bahwa perubahan jurus lawannya sebegitu cepat. Jika dia tidak menahan telapak yang menuju mukanya tentu akan membuatnya terluka dalam bersama Jieji. Dia tahu bahwa telapak lawannya yang lebih berbahaya karena mengenai mukanya jika sampai daripada telapak dirinya yang mengancam dada lawan.<br />
Orang tua ini tidak berani mengambil resiko, dia akhirnya menghentikan kecepatannya yang sudah sangat dekat itu dan menarik sebelah tangannya untuk kemudian bertahan.</span></p>
<p><span>Chen lebih rela bertahan menerima serangan lawannya daripada harus menderita kerugian bersama Jieji. Sedangkan Jieji tidak berpikiran demikian, dia mempunyai perhitungan matang akan serangan tadinya. Dan melihat Chen Yang sudah membatalkan &#8220;pengejaran&#8221; melainkan sedang membendung dirinya dengan tenaga dalam, tentu membuat Jieji girang. Dia segera menyerang hebat ke arah orang tua.</span></p>
<p><span>Jieji tahu benar bagaimana cara kerja Ilmu pemusnah raga yang dimainkan oleh orang di depannya. Dia tahu setiap gerakan menyerang maupun bertahan dengan sangat baik, karena dia sendiri juga menguasai Ilmu yang persis dengan ilmu pemusnah raga dengan baik sekali.<br />
Segera, dia mengerahkan Ilmu delapan belas telapak naga mendekam untuk menghantam ke depan. Jurus yang Jieji mainkan kali ini adalah jurus ke-10, hasilnya telapak sebelah kanan Jieji di hantamkan dengan keras ke depan.</span></p>
<p><span>Chen Yang girang melihat lemahnya serangan lawan di depannya, dia segera merapal energi dari bawah Tan Tien-nya untuk &#8220;menarik&#8221; energi lawan. Ini tiada lain adalah Ilmu pemusnah raga ataupun tapak berantai tingkat kedua yang sedang diperagakan.</span></p>
<p><span>Mustahil Jieji yang menguasai ilmu ini tidak tahu cara bekerjanya. Jika telapaknya benar di hantamkan ke arah Chen, maka tentunya Chen akan membiarkan energi lawan datang terlebih dahulu dan terakhir pelan-pelan mengurasnya dan membalikkan kembali energi itu.<br />
Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Ketika orang tua yakin usahanya berhasil, dia sangat terkejut kemudiannya. Sebab telapak nan hebat Jieji memang sampai ke lengannya yang sedang bertahan. Tetapi sungguh sebentar saja, dia sudah menarik kembali telapaknya yang membentur perlahan sehingga seperti pegas yang tertarik kembali ke posisi semulanya. Energi tenaga dalam langsung membuyar hebat sekali. Chen terlihat menarik diri untuk menahan energi yang spontan dan cukup membahayakan itu. Tetapi Jieji melihat pergerakan orang tua ini kontan gembira meski dia tidak menunjukkan di wajahnya.</span></p>
<p><span>Dengan mengancangkan jari mengarah ke depan, energi &#8220;merah&#8221; terang segera keluar mengejar. Berbareng dengan ini, Jieji juga ikut mengejar pesat terhadap mundur-nya orang tua ini.<br />
Chen baru sekarang menyadari kesalahannya, sebab dia belum sepenuhnya mengeliminasi energi 18 telapak naga mendekam itu. Lantas sudah dikejar oleh hawa Ilmu jari dewi pemusnah, dan belum lagi Jieji yang maju menerjang dengan sangat hebat ke depan.</span></p>
<p><span>Melihat Chen sudah dalam keadaan yang sangat berbahaya. Segera saja Huo Xiang dan Yue Liangxu mengejar ke depan untuk melindungi orang tua ini. Mereka siaga dengan sangat cepat terutama untuk menghalangi energi Ilmu jari dewi pemusnah. Tidak pernah kepikiran bagi mereka cara untuk menghalangi gerakan Jieji yang sedang menyerang ke depan.</span></p>
<p><span>Ilmu jari dewi pemusnah yang dikerahkan kali ini bukanlah ilmu yang penuh tenaga dalam hebat. Melainkan hanya tipu silat untuk memancing kedua orang lainnya untuk maju. </span></p>
<p><span>Memang benar&#8230;<br />
Energi jari pedang sudah berhasil dieliminasi dengan cukup mudah oleh kedua orang hebat ini. Begitu pula Chen sendiri, energi 18 telapak naga mendekam yang menyerang sebentar itu sudah berhasil dipunahkan energinya. Ketika mereka sudah siap menghadapi pengejaran Jieji, mereka kemudian sangat terkejut. Sebab Jieji sudah sangat dekat dan hanya terpaku sekiranya 3 kaki saja di depan mereka semua.</span></p>
<p><span>Ketiga orang ini segera menyerang cepat untuk bertahan. Sebab untuk bertahan sepertinya tidaklah mungkin lagi mengingat jarak mereka sudah sangat dekat. Mereka kesemuanya mengambil resiko menyerang untuk bertahan.<br />
Melihat ketiganya sudah siap menyerang, Jieji merapatkan kedua tapaknya di dada dengan cepat menarik nafas dan memutar dirinya sepenuhnya.</span></p>
<p><span>Sebenarnya melihat gerakan Jieji yang tergolong sangat aneh ini, memang sangat mengherankan kesemuanya karena gerakan silat seperti ini tidaklah terdapat dari Ilmu tapak berantai. Dan ketiganya juga tidak pernah punya keinginan untuk mencari tahu jurus apa yang sedang dikerahkan pemuda yang sedang mereka keroyoknya ini.</span></p>
<p><span>Jieji memang mengarahkan tapaknya ke depan, tetapi sebelum benar berbenturan dengan telapak lawan. Kedua telapak tangan Jieji seakan berubah menjadi serangan yang sangat aneh sekali. Tidak ada benturan energi secara langsung terjadi.<br />
Ketiga orang ini heran sekali sebab mereka bukanlah melihat dua telapak yang mengarah kepada mereka. Melainkan beberapa puluh buah yang datang secara bersamaan.<br />
Entah ini ilusi atau adalah benaran, tidak ada yang benar berani mencobanya.</span></p>
<p><span>Tadinya ketiganya sedang menyerang untuk bertahan. Tetapi melihat keadaan di depan, membuat mereka segera menarik diri dengan sempurna guna bertahan sepenuhnya. Tidak ada lagi keinginan untuk membuyarkan energi lawannya di depan yang sedang menyerang sangat hebat sekali.</span></p>
<p><span>Serangan telapak tangan Jieji yang jumlahnya puluhan itu segera ditahan oleh mereka bertiga sesegera kemudian dengan gerakan yang sangat cepat. Yang herannya adalah semua telapak yang menuju ke titik berbahaya tubuh mereka adalah telapak asli dan bukanlah ilusi kesemuanya. Suara benturan telapak menyerang dan bertahan terdengar sangat jelas sekali. Ketiga orang ini mengambil gerakan mundur seraya menahan telapak tenaga dalam hebat Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Plak&#8230;. Plak&#8230; Plak&#8230;&#8221;<br />
suara yang bergantian terdengar dalam jangka waktu yang sangat singkat sekali. Ketiganya memang sangat sibuk bertahan. Jika orang biasa yang melihatnya tentu tidak percaya sebab mereka tentu sama sekali tidak melihat telapak yang sudah sangat cepat dan seakan berjumlah sangat banyak sekali.</span></p>
<p><span>Memang benar, jika dihitung adalah jumlah telapak yang menyerang mereka secara bersamaan adalah jumlahnya 72 buah. Ini adalah gabungan Ilmu telapak 18 naga mendekam dengan gerakan menyerang Ilmu pedang surga membelah, langkah 10.000 Dewa, Dan tenaga dalam Jing-gang. Sedangkan tenaga dalam yang mengirimnya adalah Ilmu pelenturan energi Yang yang baru saja dikuasai Jieji tidak berapa lama.<br />
Ketika mereka merasa telah berhasil mengeliminasi energi dahsyat di depan, ketiganya kembali terkejut. Karena sepertinya sama sekali Jieji tidak pernah memberikan kesempatan kepada mereka. Dia kerahkan seluruh kemampuannya untuk menyerang jarak jauh.</span></p>
<p><span>Menggunakan cara sama, dia memutar diri kebelakang sambil merapatkan tapaknya.<br />
Ketika benar sudah mantap benar dan perputaran tubuhnya sudah pas, dia mengarahkan kembali kedua telapak guna menyerang ke depan kembali.<br />
Kali ini, jurus Jieji tidak main-main. Sebab ketika dia berbalik, sinar emas muncul sangat terang. Diikuti teriakan hebat dan gerakan cepat. Energi tak terlihat mata itu segera membantai ke depan.</span></p>
<p><span>Ini adalah serangan jarak jauh jurus ke 18 dari 18 telapak naga mendekam yang sudah disempurnakannya. Kontan saja, tanah retak hebat saat dilewati energi yang menyerang ke depan.<br />
Ketiga orang lawannya tidak sempat lagi untuk mengelak, sebab mereka tidak tahu daya serangan luasan-nya adalah sampai dimana. Jika menghindar secara sembarangan pun bukan daya yang paling bagus, sebab jangan-jangan hawa energi tak tertampak itu akan menyerang hebat karena mereka tentunya tidak akan memiliki pertahanan sempurna jika menghindar saja.</span></p>
<p><span>Dengan nasib-nasiban, mereka segera mengerahkan kemampuan terbaik mereka untuk menyerang ke depan pula.<br />
Tipu silat yang dimainkan Jieji adalah sangat sempurna sekali. Sebab dalam ilmu 18 telapak naga mendekam sangat lengkap segala cara menyerang, bertahan, menyerang untuk bertahan ataupun tipu tanpa penyerangan. Dan Jieji adalah seorang yang luas pengetahuannya dan cerdik, tentu ilmu ini sangat cocok dimainkan olehnya yang sangat tanggap akan situasi sependek mungkin.</span></p>
<p><span>Ketiga pendekar yang merupakan lawannya segera berupaya sebaiknya untuk bertahan. Meski Jieji memiliki jurus aneh yang nan hebat, tetapi untuk menjatuhkan ketiganya dalam satu kali serangan bukanlah hal yang mungkin sekali.<br />
Dalam beberapa jurus yang sudah dilakukan kedua belah pihak, tertampak bahwa meski ketiganya adalah pendekar hebat penguasa Ilmu pemusnah raga tetapi justru mereka semua &#8220;dipaksa&#8221; untuk bertahan sebaik mungkin. Dan dilihat dari pertarungan, tentu maksud Jieji untuk &#8220;menaklukkan&#8221; Ilmu pemusnah raga telah tercapai dengan baik sekali.</span></p>
<p><span>Dengan menggabungkan energi secara cepat sekali, baik Chen Yang, Yue Liangxu ataupun Huo Xiang ketiganya sedang sangat sibuk menahan jurus yang datang bagai air bah, bak hempasan ombak terkeras. Ketiga orang ini sesungguhnya adalah manusia pilihan dalam bertarung. Kemampuan mereka boleh dibilang sudah tidak ada tandingannya lagi. Menghadapi Jieji seorang memang cukup membuat mereka sibuk. Terlihat dari hawa perpendaran yang sudah terjadi di depan mata mereka masing-masing.</span></p>
<p><span>Hawa &#8220;Naga&#8221; dari 18 telapak naga mendekam memang masih terus bergelut hebat di depan maupun samping tubuh mereka semua yang sedang diserang oleh energi itu.<br />
Tanah pijakan ketiganya meretak hebat dan bersamaan dengan suara yang muncul merindingkan bulu kuduk.</span></p>
<p><span>Melihat hal demikian, Jieji tidak tinggal diam.<br />
Dengan pesat, sekali lagi dia mengincar ke depan. Kali ini dia tidak lagi mengincar ketiganya secara langsung. Tetapi hanya seorang saja, seorang paruh baya yang berkumis serta jenggot hitam yang kelihatannya masih asyik mengeliminasi energi 18 telapak naga mendekam. Dengan gerakan kaki, dia pertama tiba menghantam dada orang yang tiada lain tentu Huo Xiang.</span></p>
<p><span>Melihat ayahnya dalam keadaan berbahaya tidak membuat Huo Thing-thing terkejut sampai tidak mampu bergerak, dia segera menyusul ke depan guna menahan Jieji. Tetapi belum dia merasakan bagaimana cara kerja Ilmu lawannya, dia sudah terpental dan jatuh bergulingan.<br />
Huo Thing-thing &#8220;mendarat&#8221; jelek dan segera muntah darah. Jieji memang merapal jurus tapak untuk di arahkan ke arahnya, tetapi pemuda ini sama sekali tiada berniat membunuh gadis kejam tersebut.</span></p>
<p><span>Sikap gerakan kaki Jieji tadinya sempat berhenti sampai setengah karena &#8220;mengacau-nya&#8221; Huo Thing-thing, tetapi kali ini dengan gerakan yang sama dia menendang kembali.<br />
Tentu melihat gerakan pemuda, ketiga orang ini sangat terkejut sekali. Belum lagi hawa didepannya berhasil dibuyarkan, tetapi malah datang lagi hawa yang lainnya. Terutama tentu Huo Xiang adalah orang yang paling terkejut melihatnya.</span></p>
<p><span>Jieji memang hanya sengaja mengerahkan tendangan untuk melawan Huo Xiang, karena tiada lain inilah &#8220;balas dendam&#8221; terhadap ayahnya, Hikatsuka Oda yang tewas sekitar 1 tahun yang lalu oleh Huo Xiang. Sekarang niatnya benar telah tercapai. Gabungan tendangan matahari dan tendangan mayapada segera melemparkan Huo Xiang dengan pesat ke belakang dan menabrak tembok lorong. Tembok lorong yang kuat itu pun sepertinya ambruk seketika diterjang oleh tubuh Huo Xiang akibat hasil tendangan maha dahsyat dari Jieji.</span></p>
<p><span>Huo sepertinya telah terluka demikian parah. Ini karena energi 18 telapak naga mendekam yang masih tersisa yang belum berhasil dibuyarkan, sekarang ditambahkan oleh energi tendangan yang hebat. Dia kali ini telah terlihat susah bangun.</span></p>
<p><span>Sementara itu, sepertinya baik Yue Liangxu dan Chen Yang telah berhasil dengan baik sekali membuyarkan energi hebat yang tersisa itu. Mereka segera membuang nafas keluar dengan baik sekali. Ini adalah bukti bahwa keduanya tiada mengapa-mengapa. Meski di dahi mereka keringat terus bercucuran, tetapi menerima kenyataan bahwa mereka telah berhasil sebelum Jieji menyerang kembali tentu membuat mereka girang.<br />
Menurut mereka, jika saja Jieji kembali menyerang tentu membuat mereka dalam keadaan yang cukup gawat.</span></p>
<p><span>Senyum cerah terlihat sebentar di bibir kedua orang ini. Tetapi Jieji segera menyahut mereka.<br />
&#8220;Aku hanya menyerang 1 orang&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Terkejut tiada terkira baik Chen maupun Yue Liangxu mendengar perkataan pemuda. Mereka saling menengok beberapa saat, tetapi segera juga mereka sudah tahu pokok permasalahannya.<br />
Jieji berpaling ke arah Huo yang perlahan mencoba berdiri itu. Di sampingnya, Huo Thing-thing telah berdiri untuk mengangkat ayahnya. Meski terpelanting cukup hebat, ternyata luka dalam Thing-thing tidaklah seberapa hebat jika dibandingkan ayahnya. Dia hanya diam dan menatap marah ke arah Jieji. Jieji memandangnya sekilas, lantas kembali dia berkata.<br />
&#8220;Aku tidak akan membunuhnya. Cukup balas dendam atas kematian ayahku disini saja. Melihat dirinya yang kepayahan, maka pertarungan di Lin Qi kubatalkan saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Huo Xiang yang dibimbing oleh puterinya sudah segera berbangkit. Di hidung dan bibirnya mengucur darah segar. Organ tubuh-nya sempat tergoncang hebat tadinya akibat 2 serangan tenaga dalam yang dahsyat. Dia tetap mampu berbicara meski terlihat agak kepayahan.<br />
&#8220;Ilmu setan apakah yang kau keluarkan itu?&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar kata-kata Huo, tentu kedua orang lainnya Chen Yang dan Yue Liangxu juga ingin tahu. Mereka berdua sebenarnya tidak percaya adanya ilmu yang sanggup mengalahkan mereka dengan hanya sekejap saja. Meski keduanya tahu benar bahwa mereka tidak diberi &#8220;kesempatan&#8221; untuk menyerang. Tetapi serangan tadinya memang betul hebat.</span></p>
<p><span>Sebelum Jieji benar menjawab pertanyaan Huo Xiang, dia disusul oleh suara seseorang. Suara wanita yang lembut menggoda telinga setiap pria segera menyahut.<br />
&#8220;Itu Ilmu 18 telapak penakluk naga!&#8221;</span></p>
<p><span>Tentu keempat orang segera berpaling ke arah suara yang menyahut. Keempat orang mengenali wanita ini, yang tiada lain tentu Wu Yunying atau isterinya Xia Jieji. Sedangkan Jieji hanya berpaling ke arah Yunying sambil menggelengkan kepalanya saja.</span></p>
<p><span>&#8220;18 telapak penakluk naga?&#8221; tanya Chen Yang heran.<br />
Sementara itu, Yue Liangxu segera menutur.<br />
&#8220;Ilmu telapakmu memang mirip dengan ilmu telapak 18 naga mendekam. Tetapi jelas jurusnya lebih beragam variasinya, tidak disangka saudara Xia telah menciptakan ilmu jurus yang jauh lebih hebat dari Ilmu pemusnah raga.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji yang mendengar pernyataan Yue, menjawabnya dengan datar.<br />
&#8220;Tidak. Sebenarnya ilmu ini kucipta hanya khusus menaklukkan ilmu pemusnah raga saja. Tiada suatu yang khusus yang perlu dibuat takut.&#8221;</span></p>
<p><span>Sekarang, di tempat ini telah muncul kembali 3 orang. Ketiga orang ini muncul dari arah belakang. Ketiganya juga berdiri mentereng menghadap ke depan. Tiada lainnya adalah Zhao Kuangyin, Yuan Jielung dan pencuri ulung alias Lie Hui telah sampai disana.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Tidak disangka misi penyelamatan orangmu benar berhasil. Kita terlalu meremehkanmu.&#8221; tutur Chen Yang sambil menatap tajam ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum sambil menjawabnya.<br />
&#8220;Kamu tentu tidak tahu bahwa ledakan itu hanya suara belaka saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Chen memandang ke depan, dia memandang ke arah mata Jieji beberapa lama. Kemudian dia tertawa besar sekali.<br />
Melihat gelagat orang tua, tentu semua orang merasa aneh sekali. Hanya seorang Jieji yang masih tetap tersenyum ke depan. Dia tahu persis bagaimana pikiran dan perasaan orang tua ini. Lalu dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. </span></p>
<p><span>&#8220;Betul..<br />
Suara itu pertama kita dengar adalah persis suara ledakan. Tetapi ketika kita telah sampai ke pos penjagaan, aku baru betul menyadarinya. Betul-betul kesalahan bodoh&#8230;&#8221; tutur Chen Yang yang masih tertawa dengan suara kekecewaannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebab pos penjagaan disanalah yang kuledakkan pertama-tama. Sebenarnya wisma naga emas dan orang-orang disana sudah tertidur dengan keasyikannya. Sangat disayangkan betul jika kalian tidak sempat melihat pemandangan disana.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Orang-orang dari pihak lawan segera terkejut. Mulut mereka menganga mendengar perkataan Jieji yang seakan tidak percaya semua halnya. Huo yang kepayahan segera menanyai Jieji.<br />
&#8220;Bagaimana caranya kau&#8230;&#8221; Tetapi baru berkata, dia sudah muntah darah kembali. Thing-thing adalah orang yang paling terkejut melihat kondisi ayahnya itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu mudah saja. Meski ini adalah cara kotor, tetapi jika tidak dilaksanakan sebaik-baiknya maka tidak akan ada saat sekarang.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Tetapi Yunying dari sebelahnya segera menyela. Dia berkata.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Ini bukan cara yang kotor. Mereka orang yang mulai duluan kan? Kita menaruh bubuk obat tidur di sumur semalam.&#8221;</span></p>
<p><span>Sebenarnya main racun terhadap sumber air memang bukanlah tindakan seorang satria. Tetapi karena mungkin tiada cara yang paling bagus maka inilah yang terpikirkan oleh mereka semua. Pertama-tama memang Jieji tidak begitu menyukai cara sedemikian, tetapi karena dia merasa tipu semacam ini memang memadai maka dia juga tidak menentangnya terlalu keras. Tipu meracuni sumber air ini adalah datang dari Yunying, tentu mendengar suaminya mengatakan bahwa adalah cara kotor, tentu dia tidak begitu puas maka daripada itu dia-lah orang yang pertama menyela.</span></p>
<p><span>&#8220;Obat tidur? Mengapa dari tadi pagi tidak ada yang tertidur sama sekali?&#8221; tanya Huo Thing-thing segera yang merasa aneh.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Itu obat tidur memang benar ditaruh ke sumur. Tetapi sudah dibungkus kulit kambing beberapa lapisnya, sehingga ketika siang baru air terkontaminasi oleh obat.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Jieji, Chen kembali tertawa. Dia terlihat tertawa sangat kecewa, tentunya karena terlalu meremehkan tindakan lawan yang sangat berbahaya itu sebenarnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebenarnya, semenjak sore&#8230;<br />
Orang-orang di wisma naga emas yang telah tertidur itu telah terganti orangnya. Adalah partai surga menari yang berpura-pura menjadi anggota Partai Jiu Qi, dengan begitu kiriman berita dari kedua belah pihak tetap berlanjut. Maka daripada itu rencana ini baru bisa dimaksimalkan seluruhnya.<br />
Kita tahu bahwa orang yang menyamar sebagai Shen Yileng benar sudah tidak pulang ke Wisma naga emas, maka kita yakin sekali bahwa orang yang menangkap pencuri ulung tentu benar mengurungnya disini.&#8221;<br />
jelas Jieji.</span></p>
<p><span>Chen segera berpaling ke arah Yue Liangxu, dia berkata.<br />
&#8220;Sungguh benar perkiraanmu, kita kali ini kalah telak.&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao Kuangyin segera beranjak ke depan, dia menuding dengan kipas di tangannya ke arah Huo Xiang.<br />
&#8220;Kau sudah mengirimkan pasukanmu untuk menyerang daratan tengah. Sekarang akan kupinjam kepalamu untuk meminta mereka semua mundur.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan Zhao, Thing-thing terkejut kelabakan. Dia segera menghunus pedang untuk menahan laju jalan Zhao.<br />
Tetapi Jieji menghentikan gerakan Zhao sesegera. Dia berkata lurus menghadap ke arah Huo Xiang.<br />
&#8220;Kita bukan hanya menolong seorang pencuri ulung kali ini. Tetapi ada seorang lainnya lagi. Dialah orang yang bisa membuat pasukan persia mundur.&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao menatap ke arah adik keduanya sekilas. Kemudian terakhir dia beranjak mundur.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau!!! Jangan-jangan&#8230;&#8221; sahut Huo Xiang seakan tiada percaya mendengar perkataan Jieji barusan.<br />
Sebelum mereka berniat untuk melanjutkan kata-kata. Segera terasa hawa cukup banyak orang yang datang mengelilingi mereka kesemuanya. Mungkin jumlah orang yang dirasa dari derap kaki sudah mencapai ratusan orang. Meski cukup jauh, tetapi kesemua orang ini merasakannya dengan baik sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Raja Persia sudah dibebaskan oleh mereka. Sepertinya kali ini kau sudah dalam masalah besar.&#8221; tutur Chen Yang yang melihat ke arah Huo Xiang.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Kalian pergilah sesegera mungkin dan sedapat-dapatnya. Aku tidak akan menghalangi kalian semua.&#8221; jawab Jieji dengan serius.</span></p>
<p><span>Zhao kuangyin dan Yuan Jielung serta Wu Yunying seakan tidak percaya apa kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Jieji. Mereka tidak percaya bahwa dengan gampang Jieji berniat melepaskan mereka semua.<br />
Terlebih lagi rasa terkejut Huo, Thing-thing, Chen Yang dan Yue Liangxu. Sebenarnya tidak mungkin bagi mereka bahwa Jieji akan melepaskan kesemuanya seperti saat sekarang. Tetapi mendengar perkataan Jieji, mereka semua tentu tahu bahwa pemuda ini tidak bermain-main dengan kata-katanya barusan.</span></p>
<p><span>Keempat orang yang sepertinya mendapat &#8220;kesempatan&#8221; tentu tidak ingin menyia-nyiakannya. Lantas sambil beranjak, mereka berniat meninggalkan tempat. Tetapi pasukan kerajaan keburu sampai. Mereka sudah mengepung rapat di arah tengah. Bahkan beberapa pasukan pemanah sudah berada di atas atap mengeker posisi keempat orang yang beranjak meninggalkan.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika kalian bisa kabur, maka langit tidak menghendaki kalian mati.&#8221; tutur Jieji kembali ke arah mereka.</span></p>
<p><span>Mereka memang berbalik setelah mendengar kata-kata Jieji. Tetapi baru saja mereka berniat ambil langkah seribu, kali ini di antara pasukan yang siaga sepertinya telah terlihat &#8220;membukanya&#8221; jalan dari rapatnya pasukan istana.<br />
Di antara kumpulan pasukan, muncul seseorang dengan kursi yang diangkat. Seseorang yang berwajah putih dengan kumis panjang, mata yang sayu segera muncul. Dia memakai baju putih yang sepertinya cukup ternoda darah dan noda tanah. Dialah raja dari Persia.</span></p>
<p><span>Dia menunjuk ke depan dengan gusarnya sambil berteriak.<br />
&#8220;Tangkap Huo Xiang dan seluruh dedengkotnya!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Raja, semua pasukan segera maju mengepung dengan sangat bersemangat. Di antara keempat orang ini, sebenarnya hanya 2 orang saja yang sanggup bertarung dengan baik. Baik Huo Xiang maupun Huo Thing-thing telah terluka dalam. Segera saja baku hantam terjadi dengan hebat. Kedua pendekar ini memang bukan sulit sekali meredam pasukan istana, mereka berdua mengeluarkan jurus untuk mengusir penghalang mereka. Arah yang dituju adalah tembok tinggi dari penjara.<br />
Dan saat mereka sudah hampir tiba di tembok, terasa ledakan dan cahaya nan terang terlihat. </span></p>
<p><span>Begitu redanya cahaya sekejap, asap segera mengepul sangat hebat mengepung tempat itu. Rupanya penolong dari keempat orang sudah datang. Tiada lain orang yang melepaskan bom asap adalah ketua Partai Jiu Qi yang selalu memakai baju besi.<br />
Jieji dan kawan-kawan bisa merasakan bagaimana orang ini bergerak dan pergi dari sana dengan sekejap. Tetapi baik dia dan kawan-kawan tidak mengejar kesemua orang itu. Mereka hanya diam ditempat dan bertindak seakan tidak terjadi sesuatu.</span></p>
<p><span>Ketika asap sudah reda sepenuhnya, adalah Yuan Jielung yang berjalan ke arah Jieji. Dia segera bertanya kepadanya dengan heran.<br />
&#8220;Pendekar Xia, bagaimana mungkin kamu bisa melepaskan Huo Xiang? Dia sudah membunuh ayah anda dan guruku.&#8221;</span></p>
<p><span>Sambil menatap lekat ke bola mata Yuan, Jieji menjawabnya.<br />
&#8220;Huo Xiang tidak akan berumur panjang lagi. Seluruh nadinya memang sudah putus, meski dia bisa hidup tentu itu adalah karunia Tuhan kepadanya.&#8221;</span></p>
<p><span>Yuan Jielung hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Sementara itu, Zhao Kuangyin segera maju ke arah Jieji. Dia menanyainya juga.<br />
&#8220;Selama Huo dan kawan-kawannya masih hidup, dia adalah ancaman bagi kita semua serta keamanan wilayah daratan tengah. Kenapa tidak saja adik kedua menghabisinya sekaligus?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menatap ke arah kakak pertamanya. Sambil tersenyum tawar dia menjawab.<br />
&#8220;Ada 2 hal kenapa aku tidak membunuhnya. Yang pertama adalah tidak mungkin bagiku mengambil kesempatan saat dirinya sudah terluka parah. Dan yang kedua, aku merasa bahwa Yue Liangxu itu adalah palsu.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan Jieji, Zhao terkejut. Begitu pula Yunying, Lie Hui dan Yuan Jielung. Mereka segera mengerutkan dahi mereka sambil memandang serius ke arah Jieji.<br />
&#8220;Memang benar, kamu sungguh hebat. Yue Liangxu itu kurasa adalah orang yang palsu. Sebab jika dia adalah Yue Liangxu kenapa harus menekan suaranya sedemikian rupa, itu juga adalah salah satu ilmu mengubah suara dari partai Jiu Qi. Aku memang merasa cukup heran juga.&#8221; jelas Lie Hui.</span></p>
<p><span>Jieji menatapnya sambil tersenyum. Dia kemudian berkata.<br />
&#8220;Jika kita perhatikan seksama seperti perkataanmu tadinya memang adalah kenyataan. Yue Liangxu di sini tadinya bukan orang aslinya. Tadi juga kutahu karena aku bertarung sesaat dengannya, dan anehnya jurus-jurusnya tiada satupun ada sangkut pautnya dengan pemusnah raga. Selain itu, jurus miliknya memang cukup mirip dengan sesuatu ilmu yang kukenal.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying yang merasa heran segera menanyai suaminya.<br />
&#8220;Betul&#8230;<br />
Aku merasa dari gerakan kakak seperguruanku memang terasa rada janggal. Aku mengenal Yue semenjak kecil. Dan dari setiap gerakan biasa saja aku sudah cukup merasa janggal.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan ke arah Yunying. Dia lantas berkata.<br />
&#8220;Semoga saja pemikiranku bukan kenyataan.&#8221;</span></p>
<p><span>Memang berdasarkan kata-kata Jieji terasa cukup aneh bagi keempat temannya. Tetapi karena Jieji sering berkata hal &#8220;aneh&#8221; seperti demikian, maka mereka tidak mengambilnya betul di hati.</span></p>
<p><span>Raja Persia akhirnya menyahuti mereka semua yang sepertinya sedang serius untuk membahas sesuatu hal.<br />
&#8220;Terima kasih atas pertolongan pendekar&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji dan teman-temannya berpaling. Mereka memberi hormat dengan dalam juga ke arah Raja Persia ini. Setelah kejadian, Wisma bunga senja telah &#8220;disita&#8221; oleh Raja Persia. Banyak anggota dari partai bunga senja melarikan diri setelah tahu bahwa Huo telah &#8220;jatuh&#8221;. Beberapa memang ada yang tertangkap serta dihukum mati oleh Raja. </span></p>
<p><span>Sementara itu&#8230;<br />
Setelah mengetahui bahwa Jieji adalah &#8220;Pahlawan Selatan&#8221; di daratan tengah, serta Zhao Kuangyin adalah mantan Kaisar Sung, Sung Taizu tentu membuat Raja Persia sangat girang sekali. Raja dari Persia ini menjamu mereka beberapa kali dalam pesta. Dia secara pribadi menghanturkan terima kasih atas usaha mereka yang menyelamatkan dirinya dari cengkraman Ketua partai bunga senja yang sangat haus akan ambisi.<br />
Jieji meminta Raja untuk mengirimkan beberapa mata-mata khusus untuk mengetahui gerakan partai Jiu Qi setelah jatuhnya Partai bunga senja, tentu hal ini segera disetujui oleh Raja. Mereka kesemuanya menempati ruangan khusus tamu istana kerajaan Persia. </span></p>
<p><span>Di sebuah ruangan yang cukup besar&#8230;<br />
Penanggalan imlek hari kedua, atau hanya beberapa jam setelah raja Persia menjamu mereka semua sampai larut malamnya. Rasa bahagia-nya raja Persia tidak terkatakan, sebab karena dia justru diselamatkan pada hari saklar para rakyat daratan tengah.</span></p>
<p><span>&#8220;Adik kedua berpikir akan meninggalkan Persia? Tetapi kapan?&#8221; tanya Zhao kuangyin yang duduk di tengah meja berbentuk persegi.</span></p>
<p><span>&#8220;Setelah kita benar mendapat informasi akan kematiannya Huo Xiang. Kita akan berangkat pulang.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum kepada kakak pertamanya.</span></p>
<p><span>Di ruangan, terdiri dari beberapa orang yang sedang duduk serta berbincang dengan keadaan yang cukup tegang dan serius. Kesemua orang disini tentu adalah teman-temannya Xia Jieji yang semalam baru saja melakukan aksi hebat di partai Bunga senja. Ketika mereka mendengar jawaban pendek Jieji, mereka cukup terkejut dan seakan tidak percaya saja.<br />
Zhao yang mendengar perkataan adik keduanya, segera bertanya dengan raut wajah yang agak mengherankan.<br />
&#8220;Huo Xiang mati? Bagaimana caranya dia bisa mati?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji hanya tersenyum saja, dia menoleh ke arah pencuri ulung. Matanya yang terlihat bersinar cerah tentu mengandung sesuatu maksud. Pencuri ulung alias Lie Hui memang memandang ke arah Jieji, dia tidak habis pikir kenapa orang ini bisa memandangnya sambil tersenyum. Dia ikut bertanya kepada pemuda.<br />
&#8220;Ini memang hal yang janggal, kenapa anda bisa mengatakan bahwa Huo Xiang bisa mati tanpa sebab?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Bukan tiada sebab. Aku ingin menanyai anda, selama seminggu anda dikurung lantas apa saja pembicaraan kakak seperguruanmu alias ketua partai Jiu Qi kepadamu?&#8221;</span></p>
<p><span>Lie Hui agak heran. Lantas dia kembali mengingat-ingat. Raut wajah penuh keheranan kepada dirinya sendiri menghiasi wajah yang manis darinya. Dia terlihat berpikir beberapa lama saatnya, tetapi kemudian Jieji berkata lagi kepadanya.<br />
&#8220;Dia meminta sesuatu benda penting darimu, tetapi setelah beberapa saat dia juga tidak sanggup menemukannya lewat pembicaraan. Sekarang kamu sedang berpikir apakah ada hal yang janggal dari sana bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>Lie Hui terkejut sekali mendengar perkataan Jieji barusan, dia tidak menyangka sama sekali kata-kata demikian bisa keluar dari mulut pemuda. Sesaat, sesungguhnya dia sangat heran. Tetapi setelah otaknya telah bekerja semestinya, dia kemudian menanyai Jieji dengan serius.<br />
&#8220;Dia menginginkan-ku untuk menyerahkan pedang tanda ketua kepadanya. Tetapi dalam seminggu aku tidak pernah menjawabnya sama sekali.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan-jangan&#8230;<br />
Pedang itu adalah pedang berat?&#8221; tanya Yunying menyambung rasa heran dirinya sendiri dan kata-kata Lie Hui barusan.</span></p>
<p><span>Jieji memandang ke arah isterinya yang nan cantik itu, lantas dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.<br />
&#8220;Itu pedang bukanlah menjadi kunci kematian Huo Xiang. Jelas Huo Xiang tidak pernah berpikir untuk mendapatkan pedang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengannya. Tetapi dari pedang, tentu ada hubungannya dengan partai Jiu Qi. Partai Jiu Qi selama ini adalah berada di bawah bayang-bayang partai Bunga senja. Sekarang Huo Xiang sudah tidak menjadi orang yang berguna lagi bagi mereka, tentu orang pertama yang akan disingkirkan mereka adalah seorang Huo Xiang.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Jieji kembali, lantas pencuri ulung memberikan komentarnya.<br />
&#8220;Betul perkataan anda, aku merasa memang benar partai Jiu Qi berada di bawah komando Huo Xiang. Tetapi bagaimana kamu bisa yakin orang partai Jiu Qi yang akan membunuhnya?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230; Maksudku adalah &#8220;menyingkirkan&#8221; bukan membunuhnya.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum kepada kesemuanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku sudah tahu&#8230;&#8221; jawab Zhao kuangyin, lantas dia berkata kembali.<br />
&#8220;Partai Jiu Qi sudah tamat riwayatnya di sini, di Persia. Adik kedua ingin mendengar kabar kematian Huo Xiang, karena dia sendirinya mempunyai musuh yang sangat banyak sekali disini. Lantas jika partai Jiu Qi tidak lagi mendukungnya, tentu mereka akan meninggalkan orang tua reyot yang tidak berguna. Saat itu mungkin Huo berada dalam bahaya besar.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tepat 9 bagiannya kakak pertama&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum puas ke arah Zhao Kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka meninggalkannya bukan saja dirasa tidak berguna, tetapi membawa seorang yang tidak berguna tentu harus membuat mereka melindunginya bukan? Dan itu bukanlah tugas yang mudah.&#8221; sahut Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, maka mereka tentu berpikir kita akan mengejar mereka dalam pelarian. Selain itu juga pasukan kerajaan sedang mencari-cari mereka di saat yang bersamaan. Dengan bersama Huo Xiang yang terluka dalam parah maka kemungkinan lolos akan sangat sedikit. Bukan begitu pendekar Xia?&#8221; tutur Yuan Jielung ke arah Jieji dengan senyuman kegembiraannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tepat sekali&#8230;&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum ke arah Yuan Jielung.</span></p>
<p><span>Zhao menengadahkan kepalanya. Dia terlihat tersenyum beberapa saat, lantas dia berkata.<br />
&#8220;Perkataan adik seperguruan Sun memang benar sekali. Huo akan mati di tangan orang yang rendah saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Kesemua orang yang mendengar peryataan terakhir dari Zhao, segera tersenyum lebar. Sebab perkataan yang penuh emosi sekira satu tahun yang lalu dari Sun, ternyata hampir telah terbukti juga sekarang.</span></p>
<p><span>Yunying segera berpandang ke arah suaminya, dia ingin menanyainya sesuatu yang tertunda sejak semalam. Melihat kesemuanya sudah hadir, dirasa adalah hal yang sangat tepat sekali jika hal ini dikatakan dan ditanyakannya. Lantas dia membuka mulut.<br />
&#8220;Kak Jie mengatakan bahwa &#8220;Semoga perkiraanku bukanlah kenyataan..&#8221; ketika kita berada di partai bunga senja. Lantas apa maksudnya semua itu?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji melirik ke arah isterinya. Lantas dia menggelengkan kepalanya saja.<br />
Mendengar kembali Yunying mengungkit masalah ini, Zhao juga segera menanyai adik keduanya itu.<br />
Tetapi sepertinya Jieji enggan berkata banyak kata akan masalah ini sampai kemudian pencuri ulung tiba-tiba menanyainya dengan pertanyaan yang cukup aneh.<br />
Cukup aneh dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal yang sedang dibahas oleh mereka semua itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu bisa menjelaskan kisah saat dirimu masih kecil sampai beranjak dewasa?&#8221;</span></p>
<p><span>Ini pertanyaan memang cukup membingungkan apalagi keluar dari mulut pencuri ulung. Kesemuanya memang segera tertarik mendengar perkataan pencuri ulung di samping juga merasa sangat heran sekali mendengar perkataan nona cantik ini.<br />
Jieji menatapnya dengan tajam, matanya terlihat berubah warna seketika. Bukanlah sinar kemarahan ataupun kesedihan. Tetapi sinar matanya mengandung sebuah arti yang sangat sulit dipahami. Atau bisa dikatakan saat ini adalah sinar matanya penuh dengan rasa pertanyaan.<br />
Yunying segera menengahi mereka berdua, dia juga menyahut hal yang hampir serupa kemudiannya.<br />
&#8220;Kamu pernah menceritakan kisah kehidupanmu setelah usiamu diatas 20 tahun, tetapi tidak pernah aku mendengar kisah kanak-kanakmu sampai beranjak dewasa.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji yang tadinya menatap tajam ke arah pencuri ulung, segera memaling wajahnya ke arah isterinya. Lalu dia berkata.<br />
&#8220;Mengenai masa kecilku bukanlah hal yang ingin kubicarakan, seperti saat di Tongyang kamu sering menanyaiku. Aku sudah males sekali mengingatnya kembali.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying nampak kesal saja dengan pernyataan suaminya. Tetapi pencuri ulung lantas tersenyum sambil berkata kembali.<br />
&#8220;Aku tahu sekira 7 bagian dari kehidupanmu itu.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji terkejut, dia melihat ke arah pencuri ulung sambil menggaruk-garuk kepalanya seakan tiada percaya. Wajahnya berubah kembali menjadi seperti agak pucat pasi. Dia melihat dengan sorot mata yang agak tidak percaya.<br />
Zhao kuangyin dan Yuan Jielung cukup heran mendapati tingkah pemuda. Tetapi kemudian Zhao menanyainya lagi.<br />
&#8220;Benar adik kedua&#8230;<br />
Aku pernah mendengar kamu sangat rajin mempelajari banyak hal. Dari ilmu perang, taktik, tipu muslihat, dan penyelidikan. Kamu setiap hari membacanya dan menjadikannya sebagai teman hidupmu sejak lama sekali. Tetapi aku juga belum pernah mendengar bagaimana kamu bisa berkembang hebat hanya mengandalkan buku-buku saja?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menghela nafas panjangnya. Sepertinya baginya bukan hal yang mudah sekali membicarakan kisah perjalanan hidupnya dari umur sekira 8 tahun sampai usianya yang ke 18. Dia ingin berbicara, tetapi mulutnya seakan tertutup rapat, hatinya seperti ditahan oleh sebuah batu besar sekali, sementara otaknya seakan sedang melayang-layang beberapa lamanya. Sementara itu, keadaan di sana telah terasa sangat hening cukup lama. Bahkan suara nafas kesemuanya bisa dirasakan kesetiap orang yang sedang dia mengamati ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>Akhirnya, pencuri ulung memecah kehingan dengan suaranya.<br />
&#8220;Ini ada hubungannya benar dengan kata-katamu yaitu &#8220;Semoga perkiraanku bukanlah kenyataan..&#8221;"</span></p>
<p><span>Jieji menatapnya beberapa saat dengan pandangan yang dalam sekali. Lantas tiba-tiba dia tertawa keras. Mendengar tawa Jieji, tentu kesemuanya sangatlah heran sekali. Tetapi Yunying dengan wajah menggerutu kemudian mengejeknya.<br />
&#8220;Kamu makin lama makin mirip Chen Yang.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji memandang ke arah isterinya tetap dengan tertawa, lantas dia menggelengkan saja kepalanya.<br />
Sebenarnya apa tindakan Jieji yang aneh adalah tidak luput dari pengamatan pencuri ulung. Hanya pencuri lihai ini yang mengetahui seluk beluk masalah, lantas dia tetap tersenyum saja beberapa saat.<br />
Tibalah waktu akhirnya Jieji menghentikan tawanya. Tetapi di wajahnya terlihat kesedihan yang bukan dibuat-buat. Dia berusaha membuka mulutnya, lantas dia mengatakan beberapa hal dengan suara parau.<br />
&#8220;Ketika usiaku masih sangat muda. Aku ingat&#8230;<br />
Diriku berteman dengan seseorang, dia mengajariku banyak hal tentang hal yang janggal di dunia. Aku berteman selama 10 tahun dengannya.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying segera menanyainya dengan wajah penasaran.<br />
&#8220;Temanmu itu wanita atau pria?&#8221;</span></p>
<p><span>Pertanyaan Yunying yang spontan tentu membuat orang merasa geli, tetapi ini adalah naluri seorang wanita yang tentunya telah bersuami. Melihat tingkah suaminya yang tidak mau menceritakan kisah kecilnya, sudah membuatnya cukup curiga. Dan mendengar bahwa dia berteman akrab selama 10 tahun dengan seseorang, tentu membuatnya berpikiran negatif duluan. Ini adalah sifat seorang wanita pada umumnya.<br />
Sebelum Jieji menjawab, pencuri ulung sudah tertawa terbahak-bahak. Dia menuturkan kata-katanya.<br />
&#8220;Temannya adalah seorang yang sudah tua, jauh lebih tua darinya dan seorang pria.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menganggukkan kepalanya. Lantas dia melanjutkan kata-katanya kembali.<br />
&#8220;Temanku bermarga Huang. Dan dia adalah&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Pamanmu dan yang bernama Huang itulah yang dimaksud.&#8221; tutur pencuri ulung, ke arah Yunying yang terlihat penasaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia? Dia pamanku yang kabarnya sudah tidak pernah terdengar lagi. Huang Qian?&#8221; tanya Yunying yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Huang Qian adalah seorang seniman hebat, selain dirinya juga jago memecahkan kasus. Dia mengarang 7 buah karya maha hebat sepanjang hidup dan meninggal di usianya yang ke 41s saja. Diakah orangnya adik kedua?&#8221; tanya Zhao kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji menganggukkan kepalanya. Sambil menghela nafas dia melanjutkan.<br />
&#8220;Saudara Huang adalah seorang pria yang paling hebat. Aku sangat mengagumi kemampuannya. Ketika memecahkan kasus di Hebei pertama kalinya, aku yang masih berumur 8 tahun sangat terpesona. Lalu disana aku bersumpah bahwa suatu saat aku akan mengikuti jejak dirinya. Meski saat usia itu, aku pernah &#8220;dipaksa&#8221; oleh ayahku, Xia Rujian mempelajari ilmu pedang ayunan dewa. Tetapi tidak pernah sekalipun aku menurutinya. Sepanjang hidupku dari usia 4 tahun sampai 8 tahun, aku sangat tertarik akan kisah kepahlawanan, sastra, ilmu perang dan ilmu tipu muslihat.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu anda berteman baik dengannya meski saat itu usia kalian berbeda sangat jauh. Dia sendiri sangat mengagumi dirimu ketika kamu memecahkan kasus hanya pada usia 11 tahun saja meski saat itu dialah yang membantu anda dari awal hingga akhir. Tentunya ini bukan termasuk sebagai kasus pertama yang anda pecahkan sendirian.&#8221; jawab Lie Hui sambil tersenyum puas ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut sekali. Dia memandang seakan tidak percaya ke arah wanita ini. Dia tidak tahu bagaimana caranya pencuri ulung sangat mengenal dirinya meski saat dia masih berusia sangatlah belia.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu adalah kasus hilangnya batu giok di perjalanan pengawalan.&#8221; jawab Zhao Kuangyin sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Dan hal yang paling penting adalah, saat itu bangsawan sendiri-lah yang sengaja &#8220;menghilangkan&#8221; batu giok. Dia berharap mendapat sejumlah besar uang ganti rugi atas pengawalan batu giok sebesar sebuah kepala itu dari biro pengawalan Wei. Aku masih ingat kasus itu.&#8221; tutur Zhao kuangyin yang seraya mengingatnya dengan baik.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi hal yang terpenting di sini bukanlah mengenai hilangnya batu giok itu. Namun hasilnya, hasilnya adalah bangsawan Zhu dipenggal kepalanya atas perbuatannya yang telah membunuh 27 orang pengawalan dari biro pengawalan Wei di Hebei. Semua tindakan main gilaknya ketahuan karena dirinya telah terbongkar kejahatannya oleh seorang pemuda belia yang hanya berumur 11 tahun saja.&#8221; tutur Lie Hui sambil menatap Zhao Kuangyin dengan serius.</span></p>
<p><span>Zhao terkejut juga. Dia hendak berkata-kata, tetapi dia dipotong kembali oleh pencuri ulung.<br />
&#8220;Anda-lah orang yang melaksanakan eksekusi itu. Anda masih ingat hari-hari itu?&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao menatap tajam ke depan ke arah pencuri ulung. Beberapa lama kemudian, dia menganggukkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Lie Hui kembali melanjutkan kata-katanya.<br />
&#8220;Keluarga kerajaan Zhu dan Li adalah dua buah keluarga yang telah bermusuhan sejak ratusan tahun yang lalu. Inilah permusuhan yang dimulai semenjak zaman ini.<br />
Zhu Wen adalah Kaisar dinasti Liang akhir, tetapi dia haus akan ambisinya sehingga dia meracuni Kaisar Aidi dari Tang, Li Zhu. Meski Li Zhu pura-pura tewas, tetapi dari sini bisa dilihat bahwa keluarga dari kaisar terakhir Tang tentu tidak puas sama sekali. Puteranya Li Zhu yang bernama Li Sen berhasil melarikan diri dibawa oleh pelayan dan dayangnya saat baru berusia 5 bulan saja. Li Sen bertekad membalas dendam setelah usianya beranjak dewasa. Dia mendirikan Biro pengawalan Wei, dan mengubah marga menjadi marga Wei di Hebei. Saat itu, dia sengaja untuk menerima batu giok dari keluarga Zhu meski dia sudah tahu bahwa keluarga Zhu bakal main curang dalam hal ini.</span></p>
<p><span>Dan benar saja, bangsawan Zhu akhirnya &#8220;diselesaikan&#8221; dengan pengeksekusian yang akhirnya berbuntut panjang. Zhu Lung memiliki seorang putera yang namanya adalah Zhu Xiang. Meski saat kecilnya dia dirawat di Tibet, tetapi setelah dewasa dan mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya dia berusaha membalas dendam&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Yaitu membunuh seluruh keluarga Wei yang pernah tinggal di Hebei. Zhu Xiang saat itu hanya berusia 20 tahun dan dia hanya menguasai 3 jurus telapak buddha Rulai. Yang tertinggal atas kesemuanya yang dibantai adalah seorang putera dan satu puterinya. Zhu Xiang masih belum puas, dia berniat mengejar sampai ujung daratan untuk menemukan kedua orang ini yang masih berusia sekitar 6 dan 7 tahun saja. Tetapi, akhirnya anak-anak keluarga Wei ditolong olehku.&#8221; jawab Zhao Kuangyin dengan tegas.</span></p>
<p><span>Jieji memandang ke arah kakak pertamanya seakan tidak percaya kata-katanya. Bagai disambar geledek dia melihat ke wajah kakak pertamanya yang terasa kekecewaannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku hanya dijadikan bidak catur oleh perseteruan keluarga mereka. Keluarga Wei atau Li memanfaatkan diriku untuk membunuh kepala keluarga Zhu meski ini adalah perintah dari Chai Rong. Lantas ketika aku berhasil menyelamatkan kedua pasangan putera puteri ini di tengah kekacauan perang. Aku memberikan seorang yang wanita kepada Zhuo Lu, bangsawan di Guiyang yang isterinya menginginkan seorang anak perempuan. Sedang yang lelaki kuberikan kepada guru besar dari Tibet yang sangat senang melihat kelakuan anak kecil yang hanya berusia 6 tahun itu.&#8221;<br />
Zhao kuangyin berkata sambil menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat sangat tua sekali ketika dia mengingat kembali peristiwa yang sudah sangat lama sekali itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Apakah kakak pertama tahu bahwa adik ketiga-lah orang yang kakak selamatkan itu? Kapan kakak pertama mengetahuinya?&#8221; tanya Jieji kepada Zhao.</span></p>
<p><span>&#8220;Saat setelah aku tahu bahwa Ba Dao ternyata adalah orang yang pernah datang kepadaku di saat kekacauan perang di barat Gui Yang. Guru besar ini pernah mengunjungiku kembali di Istana bersama guruku, Dewa Semesta tetapi itu sudah lewat belasan tahun setelahnya.&#8221; tutur Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, berarti kakak pertama tidak pernah tahu bahwa ketika kakak pertama mengangkat saudara dengan adik ketiga saat itu adalah sesungguhnya orang yang pernah diselamatkan oleh kakak pertama?&#8221; tanya Jieji lagi.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Aku tidak pernah mengiranya demikian. Adik ketiga adalah orang yang ramah dan penuh rasa kebenaran yang tinggi. Jadi saat itu, aku tidak pernah menghubungkan kasus lainnya untuk mengangkat saudara dengannya.&#8221; jawab Zhao dengan pasti.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Apa yang anda pikirkan ternyata tidak sama dengan yang dipikirkan oleh orang lainnya. Saat itu, pasukan pemberontak bermarga Han sedang melewati barat kota Guiyang&#8230;&#8221; tutur Lie Hui sambil mengerutkan alisnya.</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan Lie Hui, Jieji tersenyum sinis kepadanya. Dia berkata dengan suara pelan nyaris tidak terdengar, &#8220;Zaman apa wanita ini lahir sebenarnya???&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Benar sekali&#8230;<br />
Kita mempunyai susunan kekuatan yang sama. Jika tidak bermain ilmu perang yang baik, maka kita akan kalah. Sebenarnya saat itu, aku tahu bahwa keluarga Wei sedang dibantai oleh seorang pemuda kecil. Jika aku menolongnya mungkin bukan hal yang susah sekali, tetapi&#8230;.&#8221; jawab Zhao sambil menghela nafas. Dia kemudian menyesalkan dirinya sambil membanting kaki sekali ke tanah dengan keras. Air matanya terlihat turun perlahan, dan dia mendongkakkan kepalanya ke atas langit-langit ruangan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Bagaimanapun kakak pertama tidak bisa dikatakan sepenuhnya bersalah kepada adik ketiga. Kakak pertama tahu bahwa jika dengan munculnya dirimu, maka itu akan terasa gawat sekali bagi pasukan yang kakak pertama pimpin saat itu. Urusan negara sangatlah mendesak, jika saja dalam malam persembunyian kakak memunculkan diri maka akan terasa tiada beruntungnya bagi pasukan dinasti Zhou akhir.&#8221; tutur Jieji menghiburnya.</span></p>
<p><span>Zhao menatap serius ke arah Jieji. Dia tidak begitu percaya apa kata-kata Jieji barusan, lantas dia menanyainya.<br />
&#8220;Bagaimana adik kedua tahu saat itu adalah malam sangat gelap?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Itu tidak susah, jika saja Zhu Xiang yang mengenal sepasang putera puteri keluarga Wei, tentu dia tidak akan membiarkan yang lelaki hidup berdampingan damai dengannya selama hampir 20 tahun lamanya. Jika bukan malam terjadi pembantaian, mungkin dari dulu adik ketiga tidak pernah lagi hidup.<br />
Dan guru besar Ba Dao mungkin pernah menyadari hal ini tentunya, tetapi karena dia tidak ingin pembunuhan turun-temurun itu berlanjut, maka dia memutuskan memungut adik ketiga menjadi muridnya. Di samping itu, sang guru juga bisa mengawasi setiap saat muridnya itu dengan baik. Dan dari sini bisa dikatakan bahwa guru Ba Dao tentu tidak akan mewariskan jurus yang lebih dalam lagi kepada Zhu Xiang yang niatnya untuk membantai musuh keluarganya masih begitu tinggi disamping keinginannya untuk mendirikan kembali dinasti Liang yang telah runtuh di tangan kakeknya.&#8221;<br />
jawab Jieji sambil menjelaskannya dengan panjang lebar.</span></p>
<p><span>Zhao kuangyin hanya menghela nafas saja sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Yuan Jielung yang melihat keadaan hati Zhao yang sebenarnya merasa serba salah, segera berkata kepadanya.<br />
&#8220;Benar perkataan pendekar Xia, sesungguhnya anda sendiri bukanlah orang yang pantas disalahkan. Seharusnya pendekar Wei sendiri setelah benar tahu, dia juga tidak akan begitu mudahnya menyalahkan anda yang telah menjadi saudara angkat dengannya hampir 20 tahun lamanya.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan dari Yuan Jielung alias Li Yu, sebenarnya Zhao kuangyin malah bertambah ragu hatinya. Dia mendapat sesuatu dari tindakan Wei yang &#8220;tidak pulang&#8221; lagi kepadanya semenjak 2 tahun lewat. Dia melihat ke arah adik keduanya. Dan dengan berani mantan Kaisar Sung ini menanyainya.<br />
&#8220;Menurut adik kedua apa mungkin orang yang menyamar sebagai Yue Liangxu adalah adik ketiga?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menatap ke arah Zhao Kuangyin dengan serius beberapa lama. Wajahnya tidak berubah dan terasa dingin, tatapannya lurus terarah ke mata kakak pertamanya.<br />
Yuan Jielung yang melihat suasana yang tiba-tiba hening seketika menyatakan sesuatu.<br />
&#8220;Tidak bisa dipastikan juga. Tetapi aku sempat melihat sikapnya Yue Liangxu palsu itu ketika melihat anda. Kelihatannya di dalam dirinya menyimpan sesuatu kebencian mendalam sehingga dari sinar matanya terlihat kebuasan meski hanya sesaat.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hanya ketika kalian bertemu lagi nantinya, baru bisa kita pancing dengan berkata-kata kepada Yue Liangxu itu. Bagaimana?&#8221; tutur pencuri ulung kemudian dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>Mereka bertiga segera mengangguk saja menurut. Sebab menebak saja bukanlah jalan keluar terbaik karena dengan tebakan meski jitu, tetapi tetap kelihatannya tidak begitu berguna di saat seperti sekarang. Ketiganya yang sedang membahas masalah ini, segera mengabaikannya untuk beberapa lama. </span></p>
<p><span>Suasana menjadi hening, suara nafas sesamanya terdengar pelan tetapi teratur satu sama lainnya. Jieji terlihat memandang kosong ke arah meja, Zhao kuangyin juga melakukan hal yang sama dengan adik keduanya. Yuan Jielung menatap langit-langit dengan serius, sebenarnya pemikiran mereka bertiga sedang melayang-layang ke alam nan jauh.<br />
Yunying hanya berdiri di samping Jieji sambil menatapnya, dia tidak tersenyum ataupun merasa sedih. Dia menatap suaminya dengan pandangan kosong saja.<br />
Pencuri ulung yang sedang duduk memandang ketiga pemuda sambil tersenyum saja. Meski perkataannya tadi benar bisa membuat mereka tidak membahas sesuatu yang masih belum berupa kenyataan, tetapi kekhawatiran hati ketiga pemuda tersebut memang tidaklah hilang seluruhnya.</span></p>
<p><span>Kemudian, dia telah mendapatkan sesuatu akal untuk memecahkan keheningan yang telah berlangsung beberapa saat lamanya itu. Dia berpaling ke arah Jieji dan kemudian<br />
menanyainya mengalihkan ketegangan pihak mereka.<br />
&#8220;Bagaimana ceritanya kamu dengan orang bermarga Huang yang merupakan paman dari isterimu sendiri?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji melihatnya sekilas. Kali ini dia mengubah posisi duduknya, kedua tangannya segera dihimpitkan rapat di dada yang menopang di meja. Dia terlihat mengingat sesuatu setelah beberapa lama, kemudian dia berpaling ke arah Lie Hui, dan menanyainya.<br />
&#8220;Aku ingin kamu menceritakan tentang masalah Yuan Xufen semenjak dia lahir, bagaimana? Dan terlihat kamu sendiri juga tertarik akan cerita saudaraku yang bernama Huang Qian.&#8221;</span></p>
<p><span>Pencuri ulung tertawa terkekeh mendengar perkataan Jieji. Dia segera berseru kepadanya.<br />
&#8220;Bagaimana kau bisa yakin sekali bahwa aku pantas bertukar informasi denganmu? Sangat aneh?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kau pasti tahu sesuatu tentang masalah Wu Shanniang, Ibu mertuaku. Dan melihat ketertarikanmu terhadap Huang Qian, aku bisa menebak lima bagian dari sini.&#8221; jawab Jieji dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>Lie Hui lantas berubah menjadi serius. Dia memandang pemuda ini beberapa lama-nya dengan wajah yang seakan tidak percaya.<br />
&#8220;Bagaimana kau bisa tahu aku mempunyai informasi tentang Yuan Xufen sekiranya 40 tahun lalu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aku yakin kau pasti tahu sedikit banyak. Kenapa dia dibenci oleh ayahnya, Yelu Xian tentu bisa kutebak dan kutahu dengan pasti. Tetapi aku ingin kamu mengisahkan riwayat hidupnya.&#8221; tanya Jieji kepada Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Aku mendapat sedikit saja tentang hal itu. Tetapi kamu yakin sekali bahwa aku mempunyai informan yang bisa memberitahukan kepadaku. Bukan begitu?&#8221; tutur Lie Hui.</span></p>
<p><span>Zhao kuangyin melihat keduanya serius membicarakan hal tersebut, juga mengikuti pembicaraan mereka berdua.<br />
&#8220;Kita semua tahu benar bahwa isteri pertama dari Yelu Xian benar adalah Huang Shanniang. Tetapi, ada sedikit masalah tentang kaburnya Shanniang dari Liao, dan terakhir dinikahi oleh Wu Quan. Yang anehnya adalah, tidak pernah Wu tahu bahwa sebenarnya gadis yang dinikahinya sebenarnya sudah mempunyai seorang puteri. Yelu Xian mungkin marah mendapati isteri-nya kabur dari Liao, dan malah menikah dengan pejabat Sung. Tentu saja ini membuatnya yang emosional segera tidak ingin lagi membesarkan puteri mereka. Yang anehnya adalah, kenapa puteri ini bisa sampai ke Changsha dan diasuh oleh guru besar Yuan?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Semua kata-kata anda benar beralasan. Tetapi ada sedikit unsur dendam yang terdapat di sana. Yuan Xufen sengaja dititipkan ke keluarga Yuan, karena disini pendidikan serta kemewahan jelas sudah terpenuhi. Dan poin terpenting justeru tidak mungkin Yelu Xian orang yang menitipkan bayi ini ke keluarga Yuan. Melainkan&#8230;.&#8221;<br />
jelas Lie Hui sambil memandang ke arah Jieji. Bola matanya terlihat mengecil, kerutan di alis terlihat dengan nyata-nyatanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Maksudmu, seorang pemuda yang selalu memanggul arak di pinggangnya, setiap hari menyanyi di jalan dan menertawakan rembulan?&#8221; tanya Jieji dengan penuh semangat.</span></p>
<p><span>Wajah Lie Hui segera cerah luar biasa mendengar perkataan Jieji. Dia gembira sekali karena Jieji benar sedang mengikuti &#8220;permainan&#8221; kata-katanya dengan serius. Dengan sangat baik, Jieji mengungkapkan semua hal yang tersimpan ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa yang dimaksud? Apa ada pria seperti itu?&#8221; tanya Yunying yang penasaran sekali, sebab bagaimanapun Yuan Xufen adalah kakak kandung seibu namun tidak seayah dengannya. Mendengar cerita keluarga-nya sendiri tentu dia sangat berminta sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia adalah pamanmu, Huang Qian.<br />
Huang adalah seorang lelaki yang pintar luar biasa. Di kolong langit, kemampuannya menganalisis sesuatu tidak ada bandingnya lagi. Seorang sastrawan, pemabuk, seniman hebat dan ahli strategi terbaik yang pernah hidup dalam jangka waktu 500 tahun ini-lah yang membawa puteri keluarga Yelu untuk dititipkan ke keluarga Yuan. </span></p>
<p><span>Saat itu, Yelu Xian memang benar marah sekali. Dia memerintahkan orang untuk membunuh saja puterinya meski baru berusia 11 bulan. Ini disebabkan isterinya sendiri lari dari rumah dan kembali ke China daratan. Tetapi Huang Qian rela menukar bayi itu dengan 2 buah benda yang sangat luar biasa sejagad kepada Yelu Xian.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;<br />
Dua buah benda itu adalah, penawar racun pemusnah raga dan Lukisan Heng Shan selatan yang sangat termahsyur.&#8221;tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana kau bisa tahu?&#8221; tanya Lie Hui agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Hal ini pernah diceritakan temanku, Huang kepadaku. Dia menipu seorang raja dari utara katanya dengan menaruh air seni kuda yang dicampur teh dari wilayah barat. Dia mengatakan bahwa ini adalah penawar racun pemusnah raga. Serta selembar kain lukisan asli pemandangan Heng Shan selatan yang diberikan kepadanya. Tetapi heran sekali, kenapa Yelu Xian malah dengan mudah melepaskan puterinya yang masih bayi hanya karena 2 benda ini, aku juga tidak begitu mengerti.&#8221; tutur Jieji sambil terlihat berpikir.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar sekali&#8230;<br />
Tetapi lukisan itu kemudian telah diberikan kepada Wu Shanniang yang pulang ke Liao. Dan terakhir dia membawanya ke keluarga Wu, di wisma Wu di Hefei.&#8221; tutur Lie Hui sambil melihat ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi &#8230;<br />
Aku tidak pernah sekalipun melihat lukisan itu..&#8221; tutur Yunying dengan heran sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Kamu sudah tahu lukisan yang mana tetapi tidak ada seorang pun yang tahu bahwa penutup papan kamar ayahmu adalah lukisan itu. Maka daripada itu aku mengatakan bahwa aku pernah tahu lukisan asli itu berada dimana.&#8221; jelas Jieji kepada Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Wu Shanniang memang aneh sekali, terlebih lagi suaminya Yelu Xian. Wu melahirkan puterinya dan dibimbing baik oleh guru besar Yuan, tetapi berkat ajaran Huang Qian maka nona kecil bernama Xufen itu berkembang dengan sangat baik baik dalam silat dan otak. Huang Qian memiliki 2 orang teman baik selama hidupnya. Dia adalah Yuan dan Dewa Sakti. Berkat ajaran Dewa Sakti, Yuan Xufen menjadi seorang ahli silat. Dan yang anehnya, Dewa Sakti tidak pernah memberitahu kepada Yuan bahwa dia mengajari puterinya Ilmu silat terbaiknya.</span></p>
<p><span>Beberapa tahun setelahnya, setelah si nona kecil beranjak remaja. Dia telah berubah menjadi seorang dewi nan cantik dan sangat luar biasa anggun-nya. Kepintarannya membuatnya menjadi seorang wanita teguh dan kokoh, kecantikannya seakan membuat jantung pria berhenti berdetak ketika melihatnya lewat.<br />
Dan, ketika dia bertamasya dengan keluarganya di danau Dongting, kalian sudah tahu penyebab Chen Yang terluka sebelah matanya dan terakhir membuatnya menjadi buta.</span></p>
<p><span>Chen Yang memang berhasil kembali dari kematiannya. Tetapi setelah dia menemukan bahwa Yuan Xufen jauh hari telah tewas, dia sudah mulai melampiaskan amarahnya secara tidak karuan. Dengan dukungan partai Jiu Qi, dia berbuat semena-mena. Beberapa kali dia mengorek keluar mata indah seorang wanita cantik dan membunuhnya. Tindakannya sangat kejam luar biasa sekali sehingga membuat negeri cukup gempar. Dan, terakhir dengan alasan yang sama dia menjalankan niatnya dengan agak halus.</span></p>
<p><span>Dari desa ke desa, anak buahnya selalu mencari wanita cantik. Dengan dalih yang aneh, dia melaksanakan hal yang tidak kalah kejamnya. Tentunya adalah yang dimaksud adalah pernikahan Dewa Sungai itu.&#8221;<br />
jelas pencuri ulung panjang lebar. Tetapi kata-kata terakhir itu ditujukan kepada Zhao Kuangyin.</span></p>
<p><span>Jelas Zhao tertarik mendengar kata-kata Lie Hui, segera dia melanjutkan.<br />
&#8220;Benar&#8230;<br />
Adik seperguruan Sun pernah mengatakan bahwa gadis itu ditenggelamkannya di sungai Changjiang di daerah propinsi Chengdu. Tetapi gadis itu tidaklah tewas, melainkan sekarang dia sering mencari Sun untuk katanya membalas dendam. Berarti wanita itu adalah anak buahnya Chen juga?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul kakak pertama. Kelihatan banyak sekali benang yang sebenarnya adalah saling berhubungan, semuanya sekarang telah cukup jelas.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Pencuri ulung terlihat mengangguk sekali, lantas kembali dia bercerita.<br />
&#8220;Benar sekali perkiraaan kalian semuanya. Wanita itu bernama Tu Yiyen, dia lahir di tanah Heilongjiang dan merupakan puteri dari nenek Tu.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tidak begitu tertarik akan cerita kali ini. Tetapi dia tetap mendengarkan juga dengan baik.</span></p>
<p><span>&#8220;Nenek Tu sangat dendam terhadap Huang Shanniang sebenarnya. Beberapa kali Dewa bumi terpergok olehnya ingin bertindak macam-macam terhadap Huang Shanniang. Dia-lah orang yang memanasi hati Yelu Xian untuk membunuh sendiri puteri kandungnya. Namun benar nasib berkata lain, Yuan Xufen tetap hidup dengan baik sampai dengan usianya yang ke 26. Sayang sekali&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung sambil menghela nafasnya panjang.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu ingin tahu hal mengenai Huang Qian lebih mendalam? Atau bisa dipastikan kamu ingin tahu bagaimana caranya ayahmu meninggal dan ibumu menghilang, bukan begitu?&#8221;<br />
tanya Jieji kepada Pencuri ulung alias Lie Hui.</span></p>
<p><span>Lie Hui terpana mendengar perkataan pemuda, seakan tidak percaya dan menggosok matanya kencang dia melihat ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Maksudku adalah Bagaimana cara-nya ayahmu menghilang dan ibumu meninggal. Itu maksudku.&#8221; tutur Jieji membalikkan kata-kata kembali kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana kau tahu aku adalah puterinya?&#8221; tanya Lie Hui dengan wajah yang sangatlah keheranan mendapati Jieji mengetahui siapa jati dirinya sesungguhnya.</span></p>
<p><span>Pemuda yang ditanya segera tersenyum puas.<br />
&#8220;Tadinya hanya aku mengira-ngira saja. Huang Qian memang pernah berkata sekali padaku. Dia mengatakan dia ada hubungan dalam terhadap seorang wanita yang sangat aneh dari partai Jiu Qi. Mengetahui kalau kau tahu tentang sedikit permasalahan sekitar beberapa tahun yang lalu itu aku bisa menebak sebagian besar.<br />
Dan dari kata-kata anda inilah, aku yakin benar bahwa tentunya kamu adalah puterinya sahabat lamaku itu.&#8221;</span></p>
<p><span>Lie Hui menganggukkan kepalanya pelan. </span></p>
<p><span>&#8220;Ayahmu, atau sahabatku Huang Qian adalah orang yang tidak suka dengan nama. Dia rela memecahkan kasus melalui perantara orang lain. Baginya, kasus atau teka-teki adalah &#8220;Hidup&#8221;-nya. Beberapa kali saat dia hidup dengan tenang, dia tidak pernah bisa &#8220;tenang&#8221; sesungguhnya. Oleh karena itu, dengan seluruh keberanian dia terlibat terhadap kasus keluarga Meng di Yun-nan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kasus keluarga Meng?&#8221; tanya Lie Hui dengan sangat heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Huang Qian namanya meski tidak terkenal, tetapi aku pernah mendengarnya sekali. Sekali saja. Yaitu ketika dia berhasil meyakinkan hakim bahwa adanya persengketaan kedua keluarga Li dan Zhu. Namun, semenjak itu aku tidak pernah lagi mendengar namanya.&#8221; sahut Zhao Kuangyin menengahi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak Huang memang tidak menyukai nama, baginya dengan berkibarnya namanya dengan baik, maka dia lebih-lebih tidak akan hidup dengan tenang karena takut orang mencarinya balas dendam gara-gara analisisnya yang memojokkan pelaku kejahatan.</span></p>
<p><span>Mengenai kasus pembunuhan tujuh turunan terhadap keluarga Meng memang pernah didengar oleh siapa orang saja di selatan. Huang, kabarnya terbunuh karena hampir berhasil menyibak kasus itu. Tetapi, aku pernah sekali ke Yun-nan untuk memastikan. Namun, petunjuk bahwa Huang pernah ke sana memang sangatlah samar sekali. Oleh karena itu, aku tidak yakin bahwa saudaraku Huang Qian tidak ada lagi di dunia.&#8221; tutur Jieji mengenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi? Ayahku memang benar masih hidup?&#8221; tanya Lie Hui dengan terlihat sikap senangnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana ketika kita balik ke China daratan, kita pergi ke Yunnan untuk memeriksa sekali lagi?&#8221; tanya Jieji sambil tersenyum kepada semuanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Baik&#8230;<br />
Tetapi bagaimana dengan kematian ibuku? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?&#8221; tanya Lie Hui kembali kepada Jieji yang di wajahnya masih tersisa rasa penasaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Huang sendiri pernah bercerita padaku sedikit. Dia mengatakan hidupnya telah hancur luluh, sebab orang yang sangat dicintainya telah meninggal gara-gara dirinya. Huang pernah terlihat olehku mengantongi sebuah sulaman sapu tangan yang bertuliskan sebuah kata yaitu &#8220;Hui&#8221;. Dia sering melamun melihat sapu tangan itu ketika waktu sedang senggang-senggangnya. Jadi aku yakin wanita yang dimaksud tentu adalah ibumu. Dan mengenai bagaimana caranya ibumu meninggal, aku sungguh tiada tahu.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>Lie Hui terlihat menunduk, di wajahnya nampak sebuah kesedihan yang bukan dibuat-buat. Lie Hui ditinggalkan oleh ibunya semenjak usia belasan tahun di partai Jiu Qi. Ibunya seorang wanita yang tegar dan kuat. Meski dia hidup di rumah bordir Yuen Hua, tetapi tidak ada seorang pun yang berhasil untuk memikatnya terkecuali Huang Qian. Lie Hui tadinya sempat cukup senang karena mengetahui mungkin Jieji tahu kisah hidup ibunya, tetapi mendengar pernyataan kali ini, dia tentu tidak begitu puas. Lalu, dia-lah terlihat sangat antusias untuk meninggalkan Persia untuk mencari ayah kandungnya jika masih hidup. Karena hanya inilah pengharapannya yang terakhir untuk mencari orang yang dekat dengannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang Mulia tiba!&#8221;</span></p>
<p><span>Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang berteriak di depan ruangan.</span></p>
<p><span>Xia Jieji tersenyum ketika dia mendengar suara dayang-dayang yang berteriak cukup keras.<br />
&#8220;Sepertinya pesta lagi-lagi menunggu kita&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kita hanya bisa menghadiri pesta yang dibuat meski tidak kita nikmati. Karena itu, mau tidak mau kita harus mengikutinya sampai benar ada informasi yang kita butuhkan.&#8221; sahut Zhao Kuangyin membalas senyuman Jieji.</span></p>
<p><span>Kesemua teman-temannya mengiyakan pernyataan Zhao kuangyin, mantan Kaisar Sung ini.</span></p>
<p><span>Balairung Istana Persia&#8230;<br />
Seperti kemarin, Kaisar Persia sepertinya sangat bergembira. Mereka kesemuanya diundang untuk menikmati perjamuan yang meriah sekali. Ruangan pesta memang cukup besar, sebesar ruangan rapat kaisar Persia. Biasanya pesta selalu dimulai dengan perjamuan dahulu, kemudian baru disajikan dengan tarian khas Persia.</span></p>
<p><span>Adalah ketika para wanita muda menarikan tarian yang cukup indah dan menarik. Jieji sudah minum lebih dari 3 gentong arak. Karena tidak ada yang benar bisa dinikmatinya dalam pesta, maka arak-lah yang jadi tumbalnya. Dia sudah mulai cukup mabuk ketika tarian itu di bawakan.<br />
Sedang Yunying terlihat cukup jengkel melihat kelakuan Jieji yang tidak henti-hentinya meneguk arak dengan lahap. Tetapi bagaimanapun, dia tahu bahwa biasanya suami-nya itu tidak pernah tertarik akan keramaian yang sedang disajikan. Memang terlihat beberapa kali, wanita cantik luar biasa ini berupaya menghentikan tegukan arak Jieji. Tetapi, dia tidak mampu membendung kelakuan suaminya itu meski untuk sekejap saja.</span></p>
<p><span>Dan suatu ketika, seperti kemarin juga. Beberapa penari sudah berpencar dari tarian mereka untuk menuangkan arak bagi tamu. Wanita penari biasanya memiliki penutup muka, dan hanya kedua bola matanya yang kelihatan.<br />
Ketika kemarin, pada saat-saat seperti ini Jieji biasanya menolak. Tetapi hari ini, pemuda bersikap lain. Biasanya dia sangat sopan sekali terhadap wanita dimanapun, kapanpun juga. Meski pada saat dia mabuk arak, biasanya Jieji sanggup mengontrol dirinya sedemikian rupa.</span></p>
<p><span>Dia segera mengangkat cawan dengan kedua tangannya sambil tersenyum mabuk ke arah penari yang semakin mendekatinya. Penari dengan tinggi tubuh cukup semampai dan warna kulit putih serta bertubuh sangat bagus. Pakaian wanita Persia memang pernah disebutkan terlihat cukup vulgar. Jika saja adalah lelaki normal, maka jarang sekali ada yang sanggup menahan diri untuk melihat ke tubuh wanita yang berpakaian sedemikian. Apalagi untuk penduduk daratan tengah yang merasa cukup tabu untuk hal sedemikian.</span></p>
<p><span>Sikap Jieji bukan tidak dilihat oleh siapapun. Termasuk kakak angkatnya juga merasa heran. Tidak pernah dia melihat Jieji dalam keadaan demikian. Yuan Jielung dan Lie Hui juga merasa heran bahwa Jieji yang sekarang terlihat hidung belang sekali jika diamati.<br />
Yunying sangat marah sekali melihat perubahan suaminya yang tiba-tiba dalam sekejap. Sedangkan Kaisar Persia yang melihat tingkah Jieji malah tertawa terbahak-bahak.</span></p>
<p><span>Penari menundukkan kepalanya sambil menuangkan cawan arak dengan sikap yang sangat lembut dan penuh kewanitaan. Jieji memandang lurus ke arah wanita bertutup muka dengan wajah yang serius sekali. Arak memang hampir tertuang penuh, ketika kesemua orang tiba-tiba sangat terkejut.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/341/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/341/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/341/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=341&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 23</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-23/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-23/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[juga mendapat 1 buku dan dia mengharapkan kita berdua bisa mempelajari Ilmu peninggalanmu. Tetapi di luar dugaan, adik ketiga malah tidak ingin mempelajarinya. Dia berkata, bahwa dia ingin mencari lagi salinan kitab tapak buddha rulai tingkat kesembilan. Karena tetua Pei belum pernah ada kabarnya, adik ketiga meminta pamit untuk mencarinya. Dia memang pergi bersama Huang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=340&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-340"></span></p>
<p><span>juga mendapat 1 buku dan dia mengharapkan kita berdua bisa mempelajari Ilmu peninggalanmu. Tetapi di luar dugaan, adik ketiga malah tidak ingin mempelajarinya. Dia berkata, bahwa dia ingin mencari lagi salinan kitab tapak buddha rulai tingkat kesembilan.<br />
Karena tetua Pei belum pernah ada kabarnya, adik ketiga meminta pamit untuk mencarinya. Dia memang pergi bersama Huang Xieling.&#8221; tutur Yunying panjang lebar.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, tapak buddha Rulai tingkat sembilan memang adalah alasan yang dikarang adik ketiga saja?&#8221; tutur Jieji sambil menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Tidak&#8230;.<br />
Ketika aku menyerang partai Jiu Qi di India, aku mendengar salah seorang anggota partai yang hampir mati itu. Dia berkata sambil mengancam kepadaku, bahwa tapak buddha Rulai tingkat kesembilan sedang dipelajari oleh seseorang. Jika saja orang itu sudah berlatih sampai mantap, maka saat itulah ajalku&#8230; Begitulah tuturannya.&#8221; jawab Yunying sambil terlihat berpikir keras.</span></p>
<p><span>&#8220;Memang benar ada hal seperti demikian di partai Jiu Qi? Aneh sekali&#8230;<br />
Terutama ketika kamu mengatakan bahwa rata-rata tetua dari partai Jiu Qi bisa ilmu silat tapak buddha Rulai. Ini sangat aneh sekali&#8230;<br />
Apalagi sekarang muncul kata-kata bahwa tapak buddha Rulai tingkat kesembilan benar berada di dunia?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;.<br />
Aku yakin tapak buddha Rulai tingkat kesembilan memang benar adanya berada di dunia. Hanya saja, sekarang siapa yang mempelajarinya betul tidak kutahu.&#8221; tutur Yunying sambil menunjukkan wajah yang agak keheranan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi kesemuanya benar ada hubungannya dengan partai Jiu Qi. Kita tidak bisa lagi menyelidikinya sebab kita sudah ketahuan.&#8221; jawab Jieji dengan tersenyum tawar kepadanya.</span></p>
<p><span>Yunying hanya mengangguk pelan saja sambil tersenyum. Dia memeluk kembali suaminya sambil menutup matanya.</span></p>
<p><span>Tetapi baru saja sebentar wanita nan cantik ini memeluk suaminya, dia kembali bangkit. Sepertinya dia menyadari sebuah hal. Dan kemudian dia berkata.<br />
&#8220;Apakah kamu juga akan berhasil menolongku jika kamu tahu diriku-lah yang teracun pemusnah raga itu di depan Kuil Jetavana?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum geli. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Aku juga berpikir demikian. Jika saja kamu tidak menyamar, mungkin akan susah bagiku untuk menolongmu&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, awal kebohongan memang bukanlah dikehendakiku. Kak Jie tidak bisa menyalahkanku&#8230;&#8221; Yunying tersenyum geli juga.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan saja. Tetapi Yunying kemudian bertutur lagi.<br />
&#8220;Kak Jie&#8230;<br />
Apakah pernah kamu sadari rasa menyesal karena memberikan seluruh tenaga dalammu, tentunya maksudku kepada &#8220;wanita bertopeng&#8221;?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Saat itu, memang aku juga sempat berpikir demikian. Tetapi&#8230;<br />
Tenaga dalamku tidak bisa kuhentikan kikisannya sampai sedemikian lama maka lebih bagus kuberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Begitulah apa yang ada di dalam hatiku.&#8221; jawab Jieji dengan tenang saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Kak Jie masih ingat tentang ramalan Sang Puisi dewa mengenai diriku?&#8221;tanya Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia mengatakan beberapa kata-kata yang maksud utamanya tentu dirimu tidak akan menerima kesusahan yang berarti, sebab kamu bisa mendapat rezeki baik dari setiap musibah.&#8221; tutur Jieji yang mengingat kembali keadaan pertarungannya di kota Beiping. </span></p>
<p><span>Saat itu, Yunying memang diambang kematian, tetapi setelah lewat. Yunying malah mendapat bantuan yang sungguh sangat banyak secara tidak langsung dari Yue Liangxu dan Xia Jieji.<br />
Dan setelah dirinya bertualang, dia menemukan banyak hal juga yang cukup baik untuk dirinya sendiri. Terakhir, dia bertemu dengan Jieji yang tidak mengenalinya malah ternyata menyalurkan tenaga dalam luar biasa hebat kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi yang kupikirkan sekarang bukan itu saja. Melainkan&#8230;.&#8221; jawab Yunying dengan berkerutkan alisnya.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan saja. Dia menarik nafas panjang sebentar. Kemudian dia berkata.<br />
&#8220;Sang Puisi dewa pernah memberikan beberapa kata-kata yang sungguh sangat tidak mengenakkan hatiku cukup lama saat itu. Sebenarnya setelah bertarung melawan Huo Xiang, aku ingin kembali ke daratan tengah. Tetapi&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Rupanya kak Jie juga menyadarinya?&#8221;tanya Yunying sambil keheranan.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
1 Bintang utara telah lenyap&#8230;<br />
Raja tanpa sebuah tiang lurus&#8230;<br />
4 Bintang selatan berkelap-kelip&#8230;<br />
Berkumpul dan ditabrak Bintang juga&#8230;<br />
Semuanya seperti binatang Fu Yi&#8230;<br />
Tiada kesempatan&#8230; Tiada kesempatan&#8230;<br />
Tiada kesempatan&#8230;.</span></p>
<p><span>Di puisinya ini sudah terdapat 3 hal yang benar. Dan ada hal keempat yang masih kurasa cukup janggal lagi. Aku sudah tahu arti dari ketiganya dengan baik. Hanya yang keempat yang meragukan serta yang kelima masih samar sekali. Kalimat 1 bintang utara yang lenyap adalah tewasnya Manabu Hirai, adik kandungku sendiri dibunuh olehku.<br />
4 Bintang selatan berkelap-kelip artinya dalam 4 tahun kemudian akan menyusul orang-orang lainnya.<br />
Bintang pertama yang menjadi korban adalah ibu kandungku. Yang kedua adalah Pei Nanyang alias tetua Zeng. Tetapi ini sangat kuherankan, karena tewasnya tetua Pei adalah sekitar seminggu setelah peringatan 1 tahun kematian Ibu-ku. Perkiraan waktu disini tidak begitu cocok.<br />
Bintang yang ketiga adalah mengenai ayah kandungku sendiri, Hikatsuka. Dia telah menyusul untuk yang ketiga kalinya. Dan yang keempat benar masih samar. Tetapi aku mempunyai firasat yang tidak baik&#8230;&#8221;<br />
Tutur Jieji sambil menghela nafas panjangnya. Wajahnya terlihat buram, sinar matanya terlihat sayu saat dia mengenang kembali segala hal.</span></p>
<p><span>Yunying diam saja melihat suaminya dalam keadaan yang sepertinya cukup kacau hatinya. Dia biarkan beberapa saat dahulu. Kemudian dia mulai menanyainya kembali.<br />
&#8220;Apakah ada lagi yang kelima setelah keempat?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menatap isterinya dengan dalam. Lalu dia berkata.<br />
&#8220;Berkumpul 4 bintang selatan dan ditabrak bintang juga. Itu adalah kata-kata yang mempunyai dua arti. Yang pertama adalah bahwa aku-lah orang yang &#8220;menabrak&#8221; mereka semua. Yang kedua adalah mempunyai maksud bahwa bintang-bintang itu saling &#8220;membunuh&#8221;. Ini sangat membingungkanku. Tetapi, setelah dipikir-pikir. Hal ini terasa janggal.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Seharusnya adalah dalam 5 tahun, akan terjadi 5 kali keadaan yang sama.&#8221; tutur Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut mendengar perkataan isterinya. Dia tidak ingin berpikir lebih lanjut dahulu, lantas segera dia menanyainya.<br />
&#8220;Mengapa demikian?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying hanya melihat dalam kepadanya. Dia tidak ingin menjawabnya. Sepertinya di dalam hatinya dia mendapat sebuah kejanggalan juga. Dia ingin Jieji berpikir dengan serius, supaya apa-apa hal yang di dalam hatinya bukanlah hal yang benar diharapkannya.</span></p>
<p><span>Melihat wajah isterinya yang terlihat agak buram dan terasa perubahan wajahnya yang tiba-tiba. Dia tahu bahwa Yunying tidak bisa menjawabnya karena sesuatu hal. Lantas Jieji segera melihat ke meja, dia elus bibirnya pelan sambil berpikir.<br />
Hal seperti demikian memang sudah menjadi kesehari-harian Jieji bersama Yunying selama 3 tahun di Tongyang. Yunying memang sering menjadikan pertanyaan untuk menjawab dengan pertanyaan dalam beberapa hal dalam menjawab suaminya, meski pertanyaan itu tidak harus melalui kata-kata. Begitu juga Jieji yang sering melakukannya kepada sang isteri.</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan-jangan? Arti bintang yang ditabrak itu? Bisa saja artinya bahwa bukan aku-lah penyebab semuanya? Ini hal yang kau pikirkan?&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;.&#8221; Jawab Yunying kemudian sambil tersenyum.<br />
&#8220;Aku merasa bahwa kata-kata ditabrak bintang artinya bukan berarti kamulah orang yang melenyapkan mereka semua. Bisa juga artinya&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Artinya seseorang-lah yang melakukan kesemua itu dari awal-nya hingga akhir? Begitu?&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Mungkin saja&#8230;. &#8221; tutur Yunying kembali sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika benar ada orang yang seperti kita pikirkan, maka sungguh sangat tepat kalau kita harus menyelidiki diam-diam tentang partai Jiu Qi lagi.&#8221; kata Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa kita tidak mencobanya sekali lagi?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menatap isterinya sambil berkerut dahi. Kemudian dia menjawabnya.<br />
&#8220;Memang kamu punya cara yang paling baik? Kita sudah ketahuan sekali, lantas bagaimana sebaiknya untuk menyusup kesana kembali tentunya tanpa ketahuan siapapun?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Justru karena kita sudah ketahuan, maka kemungkinan mereka berpikir kita akan datang kembali sangat sedikit. Kakak Jie juga tahu bahwa dalam pertarungan itu, kita tidak menang. Kita sebagai pihak yang melarikan diri.&#8221; tutur Yunying kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Lantas&#8230;&#8221; Jieji hanya berkata pendek, namun dia disusul Yunying kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita harus mencari tahu 3 hal. Yang pertama adalah siapa sebenarnya orang yang menyamar dirimu dan juga Yelu Xian.<br />
Kedua, kita harus mencari tahu apa tujuan mereka menginginkan wanita yang mirip kak Xufen ataupun diriku.<br />
Ketiga&#8230;&#8221; jawab Yunying. Tetapi Jieji memotongnya sebelum dia berkata lebih lanjut. Pemuda ini sambil tersenyum berkata kepadanya.<br />
&#8220;Orang yang mempelajari tingkat kesembilan tapak buddha Rulai&#8230;<br />
Kau makin hari makin pintar saja.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying hanya mengangguk saja. Lantas dia tersenyum. Wajahnya yang nan elok itu sebentar berkerut, sebentar tersenyum manis membuat diri Jieji yang sebenarnya sudah sangat merindukannya merasa sangat puas sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana dengan putera kita di Tongyang?&#8221; tanya Jieji kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Nak Fei baik-baik saja. Dia dijaga dengan baik oleh Dewa Ajaib, semua paman-pamannya serta ayahku. Aku rasa tiada masalah baginya.&#8221; tutur Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Menyusahkan mereka semua saja&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak juga&#8230; Mereka sangat menyayangi putera kita. Sebenarnya aku juga berat meninggalkannya, tetapi&#8230;.&#8221; tutur Yunying yang terlihat meneteskan air matanya.</span></p>
<p><span>Dengan pelan dan lembut, pemuda menghapus air mata yang turun di pipi wanita cantik ini. Lantas kemudian dia berkata.<br />
&#8220;Kita harus cepat menyelesaikan masalah di sini. Lantas bersama-sama kita pulang, bagaimana?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying tersenyum manis sambil mengangguk pelan saja. Setelah beberapa saat, dia kembali bertutur.<br />
&#8220;Makanlah lagi&#8230; Mie-nya sudah dingin.&#8221; </span></p>
<p><span>Jieji mendengar kata-kata isterinya dengan baik. Sesekali, dia bahkan menyuapi isterinya. Mereka berdua memang cukup bahagia disini beberapa lamanya.<br />
Setelah benar menghabiskan 1 mangkok mie, keduanya lantas duduk berdampingan. Mereka hanya duduk sambil menutup mata sedemikian lamanya. Dan tanpa terasa bahkan sang malam pun telah lewat dan digantikan dengan pagi.</span></p>
<p><span>Keduanya terlelap lama dalam keadaan duduk di kursi pada meja kamar tidur.<br />
Sampai keduanya merasakan ada orang yang mengetuk pintu depan ruangan dengan tergopoh-gopoh.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa itu? Sepertinya ada beberapa orang di depan&#8230;&#8221; tutur Jieji yang segera bangun dari tidurnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Sekiranya yang betul adalah 5 orang.&#8221; tutur Yunying sambil tersenyum kepadanya. Yunying meski tertidur, dia juga tahu adanya langkah yang tidak wajar itu sedang mendatangi. Oleh kerena itu, dia langsung bangun dengan cepat.</span></p>
<p><span>Mereka berdua segera beranjak dari kamar. Tujuan mereka tentu di ruangan tamu kecil yang tadinya sempat dibuat sebagai tempat berbincang-bincang. Dari ruangan tamu ini maka di depannya adalah pintu yang sedang diketok.</span></p>
<p><span>Adalah Jieji sendiri yang membuka pintu. Di sampingnya, sang isteri juga ikut berdiri untuk melihat apa yang telah terjadi.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa?&#8221; tutur Jieji yang keheranan melihat pengetuk pintu itu. Sebab dia mengenali ke- 5 orang ini dengan cukup baik.<br />
Kelima orang di depan ini adalah kelima pengawal di antara 10 pengawalnya Zhao Kuangyin. Melihat mereka berlima datang dengan langkah yang sebenarnya tidak begitu baik terasa, maka Jieji merasa heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Yang Mulia sedang dikepung pasukan Persia di 10 Li sebelah selatan hutan Lin Qi, selain itu kelima saudara kita juga sedang bertarung hebat bersama-sama Pendekar besar Yuan. Disana terlihat Huo Xiang, ketua partai bunga senja bersama seorang kakek tua, orang berpakaian baju besi dan seorang yang mirip dengan anda.&#8221; tutur salah seorang yang berjenggot putih, namanya tiada lain adalah Shen Yi Leng.</span></p>
<p><span>Mendengar kata-kata pendekar ini, Jieji dan Yunying kontan terkejut. Mereka segera tanpa bersiap-siap lebih lanjut mengambil langkah cepat. Jieji memanggil kuda bintang birunya. Kuda &#8220;ajaib&#8221; ini sudah segera muncul dengan cepat. Dan diduduki olehnya bersama Yunying. Mereka memaju pesat ke arah yang disebutkan oleh Shen Yi Leng itu.</span></p>
<p><span>Dengan kecepatan kuda yang tinggi, keduanya seperti mengambil ke arah barat daya.</span></p>
<p><span>Adalah Lie Hui alias pencuri ulung yang tidak tahu apa-apa segera keluar ruangan juga karena mendengar suara yang cukup keras tadinya. Dia hanya sempat melihat ke 5 pendekar yang cukup asing dan tidak dikenalinya.<br />
Kelima pendekar hanya berdiri di depan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.<br />
Cukup lama juga, Lie Hui hanya terheran-heran saja mengamati kelima orang ini.<br />
Lantas dia bertanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa yang terjadi?&#8221;</span></p>
<p><span>Kelimanya langsung membalikkan tubuh. Mereka memandang Lie Hui alias pencuri ulung dengan wajah yang sangat aneh terasa. Kelimanya memang tersenyum ganas melihat ke arahnya. Lie Hui yang tidak tahu apa-apa tentu merasa keder juga dan dalam hatinya dia telah mendapati sesuatu.<br />
Setelah sanggup menguasai dirinya, dia telah tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak seperguruan&#8230;<br />
Tidak disangka kalian main licik dengan cara begitu murah&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Di antara 5 orang, terlihat seorang menganggukkan kepalanya.<br />
Shen Yileng yang tadinya mengabari berita ke Jieji segera tertawa terbahak-bahak beberapa lama.<br />
&#8220;Ayok.. Ikut diriku adik seperguruan&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Dikisahkan Jieji dan Yunying yang berangkat dengan kuda bintang biru. Dalam perjalanan yang cepat, Jieji telah hampir mencapai daerah yang dimaksud.<br />
Tadinya hatinya betul tergoncang mendengar perkataan Shen Yileng. Apalagi dia tahu bahwa orang tua bernama Chen Yang itu sakti sekali, ditambah pasukan Persia, tentu kakak pertamanya akan mengalami kesulitan.<br />
Tetapi setelah dia bisa mengontrol pikirannya dengan baik. Dia segera mendapati sebuah kejanggalan.<br />
Kontan saja, dia berkeringat dingin hebat setelah sepertinya menyadari sesuatu&#8230;</span></p>
<p><span>&#8220;Balik!!!&#8221; teriak Jieji sambil memutarkan kuda dengan cepat.</span></p>
<p><span>Yunying memang sangat heran mendapati tingkah Jieji. Dia tidak tahu apa maksud sang suami yang bertingkah sangat aneh.<br />
&#8220;Ada apa??? Kau tidak jadi menolong kakak pertama?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Gawat!!!<br />
Ini siasat memancing harimau turun gunung!!!&#8221; </span></p>
<p><span>Yunying segera saja diam. Dia kembali mengingat kata-kata Shen Yileng tadinya. Dia mencari ada apa dengan kata-katanya yang tidak beres sehingga di sadari suaminya itu.<br />
Lantas, dia juga mengalami hal yang serupa. Kontan, dia sendiri juga sangat terkejut. Yunying tahu benar, orang yang ditinggali oleh mereka tiada lain adalah Pencuri ulung. Dengan memancing mereka berdua keluar, maka untuk melakukan urusan jelas jauh lebih mudah.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Tidak mungkin Shen Yileng dan orang-orangnya tahu bahwa adanya &#8220;Ketua&#8221; partai meski hanya melihatnya. Dan selain itu, dia berkata bahwa ada orang yang mirip dengan dirimu disana. Tentu jika mereka adalah pengawal kakak pertama, tentunya pasukan Persia dan pendekar disana tidak mungkin begitu mudah membiarkan mangsanya lolos sehingga kemari memberikan berita.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Jika mereka berempat muncul. Lantas 1 orang mengambil 1 lawan saja sudah cukup membuat kedua orang lagi bisa mengejar kelimanya sehingga tidak mampu memberikan kabar kepadaku.<br />
Aku benar tolol, tertipu muslihat yang sebegitu mudah&#8230;&#8221; tutur Jieji menyesali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak..<br />
Ini bukan muslihat yang mudah. Sepertinya memang ada yang janggal dengan orang partai Jiu Qi dan Bunga senja. Tidak mungkin mereka bisa begitu mengenal dirimu, dan dengan mudah memancing-mu keluar.&#8221; tutur Yunying.</span></p>
<p><span>Apa kata-kata Yunying memang beralasan. Jieji memang sangat menyayangi kakak pertamanya. Mendengar bahwa kakak pertamanya dalam bahaya tentu segera membuatnya tidak tenang. Ini adalah siasat yang cukup bagus yang dilakukan oleh orang-orang Partai Jiu Qi.</span></p>
<p><span>Dalam waktu beberapa saat saja, mereka telah mendekati kembali ke gubuk. Dilihatnya pintu depan terbuka lebar dari arah jauh. Jieji lantas turun, dengan ringan tubuhnya dia mengejar pesat ke depan.<br />
Pemuda segera beranjak pelan dan setelah mendekati pintu. Dengan hati-hati, bersama Yunying dia masuk ke dalam.<br />
Jieji yang tertipu sekali, tentu tidak akan tertipu untuk kedua kalinya. Dia merasa harus hati-hati sekali, jangan-jangan di ruangan ini telah disiapkan perangkap.</span></p>
<p><span>Dan benar saja&#8230;<br />
Ketika kakinya menginjak sebuah kayu yang berbunyi pelan. Dia menyadari sesuatu yang aneh sesegera.<br />
Yunying yang sedang berada di belakangnya, sudah tahu apa maksud suara yang keluar pelan dan menggesek.</span></p>
<p><span>Lantas dengan cepat dia berteriak.<br />
&#8220;Awas kak Jie&#8230; Kita harus keluar dari sini sesegera mungkin.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji yang mendengar peringatan isterinya, segera beranjak mundur pesat sambil menggandeng tangan kiri isterinya. Mereka berdua melayang pesat ke belakang dengan perasaan was-was sekali.<br />
Dan belum saja gerakan mereka betul berhenti&#8230;</span></p>
<p><span>Suara ledakan luar biasa telah terdengar diikuti dengan robohnya gubuk itu dengan sangat hebat.<br />
Sungguh untung saja keduanya telah menjauh dari gubuk, jika cukup dekat maka setidaknya cukup berbahaya.</span></p>
<p><span>Daya ledakan kali ini jauh lebih hebat daripada ketika ledakan terjadi di perkemahan Sung sekitar hampir 3 tahun yang lalu itu. Gubuk telah rata dengan tanah dengan cepat sekali, sedangkan terlihat api sedang membakar pelan di gubuk.<br />
Sambil melongo, Jieji melihat ke depan seakan tidak percaya.<br />
&#8220;Ini adalah perangkap yang sama dengan perangkap yang dipersiapkan Liao untuk menghancurkan kakak pertama bersama pendekar lainnya.&#8221; tutur Yunying sambil berjalan pelan ke depan.</span></p>
<p><span>Jieji melihat dengan agak khawatir ke arah gubuk. Dia takut juga apakah pencuri ulung sudah keluar atau belum dari ruangan ini. Tetapi, kemudian dia berpikir tidak mungkin bahwa pencuri ulung masih di dalam gubuk itu. Dan segera pemuda beranjak ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kak Jie ingin melihat apakah di dalamnya masih terdapat pencuri ulung?&#8221;<br />
tanya Yunying.</span></p>
<p><span>Jieji sambil berjalan pelan ke depan menjawabnya.<br />
&#8220;Tidak mungkin dia masih di dalam. Jika orang-orang itu ingin membunuhnya, maka tidak perlu susah untuk menyembunyikan mayat-nya terlebih dahulu baru tunggu sampai ruangan itu meledak. Seharusnya jika mereka menginginkan kematian pencuri ulung, tentu mayatnya sudah kita temukan ketika kita masuk tadi.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Jika mayatnya ada di ruangan depan, maka kita mau tidak mau lebih mudah dipancing masuk ke dalam. Bukan begitu?&#8221; tutur Yunying membalas.</span></p>
<p><span>Memang benar perkiraan keduanya&#8230;.<br />
Meski Jieji dan Yunying berjalan untuk meneliti kembali daerah yang telah menjadi abu itu, mereka tidak mendapatkan mayat ataupun kejanggalan lainnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana dengan kitab Ilmu pelenturan energimu?&#8221; tanya Yunying sesaat kemudian karena sadar jika saja kitab itu masih di dalam tentunya akan ikut lebur juga.<br />
Tetapi Jieji tersenyum kepadanya.<br />
&#8220;Kitab tidak kubawa lagi semenjak kita keluar dari Jetavana. Aku menyimpannya di ruangan tempat terdapatnya racun pemusnah raga.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying hanya mengangguk pelan saja mendengar tuturan dari suaminya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita hanya menemukan ini di reruntuhan dan rongsokan gubuk.&#8221; Tutur Jieji yang segera jongkok untuk mengambil sebuah pedang berat. Pedang sama yang pernah diseret oleh Yunying untuk diteliti oleh Jieji di hari-hari sebelumnya.</span></p>
<p><span>Lantas dengan memikul pedang berat. Mereka berdua segera beranjak dari tempat. Tempat yang dituju tentu adalah &#8220;rumah Sun Shulie&#8221; yang sekarang adalah tempat tinggal Zhao kuangyin dan Yuan Jielung. </span></p>
<p><span>Sesampainya disana, mereka segera menceritakan tentang tipu muslihat orang-orang aneh yang menyamar sebagai kelima pengawal dari Zhao. Dituturkan semua oleh Jieji bagaimana dia telah berangkat dan kembali lagi. Juga semua perangkap yang dipakai untuk menjebak dirinya bersama Yunying.<br />
Zhao dan Yuan akhirnya mengetahui seluruh masalah, termasuk bahwa wanita di depannya ini adalah tiada lain Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Adik kedua, tadi aku baru mendapat kabar baru&#8230;.&#8221; sahut Zhao kuangyin setelah mereka sejenak diam.<br />
Jieji hanya melihat ke arah kakak pertamanya beberapa lama. Lantas Zhao menjawab tatapan matanya dengan segera.</span></p>
<p><span>&#8220;Sekitar 8 bagian, aku sudah tahu kenapa mereka ingin mencari &#8220;Yuan Xufen&#8221; berdasarkan lukisan itu.&#8221; tutur Zhao.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut juga. Tentu hal ini adalah hal yang paling ingin diketahuinya sekarang. Lantas dengan bibir yang gemetar, dia menanyainya pelan.<br />
&#8220;Apa mereka benar ada dendam dengan Xufen?&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao mengangguk pelan.<br />
&#8220;Dahulu, kabarnya tabib sakti Chen Yang pernah dilukai hebat oleh Yuan Xufen. Xufen melukai sebelah mata dari tabib sakti itu karena hanya tabib ingin wajah Xufen&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa???&#8221; tanya Jieji yang heran dengan segera.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Tabib sakti ini selain pandai dalam ilmu ketabiban, dia juga sangat suka mempelajari raut wajah seseorang.&#8221; tutur Zhao Kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Berarti pantas saja dia mendapat pelajaran. Tetapi yang heran, seharusnya dia sudah tahu bahwa Yuan Xufen sudah tiada. Mengapa malah mencari orang yang berwajah yang sama dengannya kembali?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Ini hal baru saja kudengar beberapa saat yang lalu. Ini pun dikabarkan oleh Shen Yileng tentunya orang asli-nya yang cukup mengenal keluarga Yuan. Dia mengatakan bahwa wajah dari Yuan Xufen adalah sangat khusus sekali. Dari pelipis, kening, raut wajah, hidung, bibir dan pipi adalah hal yang masih biasa yang juga dimiliki oleh setiap wanita yang cantik. Tetapi adalah bola matanya yang merupakan hal yang sangat berbeda. Xufen memiliki bola mata yang sungguh sangat indah sekali.&#8221; tutur Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Aku merasa memang demikian. Perbedaan antara Yunying dan Yuan Xufen memang terlihat dari bola mata mereka. Meski keduanya sangat mirip, tetapi dari sinar mata jelas bahwa Xufen memiliki sinar mata yang sangat khusus sekali jika kita memandangnya dengan waktu yang lama.&#8221; tutur Jieji sambil berpikir. Sesekali dia melihat ke arah Yunying untuk memastikan ingatannya.</span></p>
<p><span>Zhao tersenyum, kemudian dia berkata.<br />
&#8220;Shen Yileng adalah seorang nelayan dari daerah Jing. Dia adalah orang yang terakhir yang tergabung dalam anggota 10 pengawalku. Ia hidup cukup lama di daerah selatan sebagai seorang ahli informasi.<br />
Dahulu memang dia merasa informasi sedemikian memang bukanlah informasi khusus, oleh karena tadinya sempat kita bertutur tentang Partai Jiu Qi mencari orang yang mirip dengan Yuan Xufen, maka dia mengatakannya semua kepadaku.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk pelan. Lantas Zhao kembali melanjutkan perkataannya.<br />
&#8220;Chen Yang pernah dibutakan matanya sebelah oleh Yuan Xufen. Sebab katanya, ketika umur 17 tahun. Yuan Xufen suatu saat berpiknik bersama keluarganya di danau Dongting. Di sanalah tabib Chen Yang bertemu dengan Yuan Xufen. Karena sangat tertarik akan wajah dan bola matanya yang jernih menakjubkan. Dia memutuskan untuk membunuh gadis itu dengan tujuan mencuri wajahnya dan bola matanya.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji yang terdengar kata kakak pertamanya segera terkejut luar biasa. Begitu pula Yunying, dengan segera kelihatan mereka berdua menahan amarah.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi karena saat itu, Xufen sudah menguasai Ilmu jari dewi pemusnah dengan lihai. Maka Xufen yang dalam bahaya itu segera mengarahkan jarinya ke sebelah mata lawannya. Alhasil, memang Chen Yang saat itu masih bukanlah pesilat unggul. Dia terakhir jatuh ke danau Dongting dengan sebelah matanya yang telah buta. Sampai sekaranglah baru terdengar kembali kabarnya.&#8221; tutur Zhao sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Jieji diam saja, dia berpikir tentang kesemua tuturan kakak pertamanya.<br />
Yunying melainkan tidak berpikir, dia melampiaskan amarahnya dengan cukup hebat mendamprat.<br />
&#8220;Orang tua tidak tahu diri, bangkotan!!! Mana ada orang yang mau dibunuh dan diambil wajahnya serta bola matanya demi ide konyol!!!&#8221; </span></p>
<p><span>Mereka semua diam saja mendengar omelan Yunying yang panjang lebar itu. Lantas kemudian Jieji-lah yang menghentikannya.<br />
&#8220;Sudahlah&#8230;<br />
Jika bertemu baru buat perhitungan masih bisa bukan?&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying menggeser dirinya ke sebelah, lantas agak malu dia menundukkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Oya adik kedua.. Selain kabar ini, aku juga mempunyai kabar baru akibat selidikan orang-orang sekitarku&#8230;&#8221; tutur Zhao kepada Jieji dengan wajah yang agak serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Kabar tentang pencuri ulung?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>Zhao segera tersenyum, kemudian dia melanjutkan kata-katanya kembali.<br />
&#8220;Lie Hui benar adalah pencuri ulung, dan pencuri ulung adalah sesungguhnya Lie Hui. Kamu tahu masalah ini?&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji mengerutkan dahinya. Dia menggelengkan kepalanya beberapa saat.<br />
Zhao melanjutkan kembali kata-katanya.<br />
&#8220;Ternyata Lie Hui dan Lie Xian memang adalah saudara sekandung. Dan bahkan Lie Xian sendiri tidak pernah tahu bahwa kakaknya itu ternyata adalah pencuri ulung. Lie Hui disini mungkin adalah orang yang hidup sama dengan masa diriku&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji sekali lagi terkejut. Dia berpikir tentang Lie Hui yang juga adalah pelacur di rumah bordir. Apakah benar nona ini betul adalah orang yang sudah tua? Palingan usianya hampir mencapai 60 tahun? Tetapi berpikir tentang ketua partai Jiu Qi memanggilnya dengan sebutan adik seperguruan. Maka mungkin saja segala hal di atas adalah benar.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Kabar santer menyebutkan begini&#8230;<br />
Sekitar 40 tahun yang lalu, di rumah bordir Yuen Hua ada seorang wanita cantik luar biasa yang bernama Lie Hui juga. Mengenai kecantikan wanita ini, memang aku tidak pernah menyaksikannya. Hanya saja Wang Pangchi salah satu jenderal kepercayaanku pernah menceritakannya begini.<br />
&#8220;Lie Hui dari rumah bordir Yuen Hua menamai puterinya dengan nama yang sama dengan dirinya yaitu Lie Hui juga. Bukankah itu sangat aneh?&#8221;"</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;<br />
Jika begitu, memang keduanya yang pastinya adalah ada hubungan dengan partai Jiu Qi&#8230;&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul adik kedua&#8230;<br />
Bukankah kau ingin pergi menolongnya?&#8221; tanya Zhao kepadanya.</span></p>
<p><span>Jieji mengangguk. Dan dia berkata.<br />
&#8220;Sebenarnya jika dipikir-pikir, tidak mungkin aku tidak menolongnya. Beberapa kali juga dia pernah menolongku meski katanya adalah bayaran atas kalahnya dia dalam adu siasat.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu kita harus pergi ke partai Jiu Qi?&#8221; tanya Yuan Jielung.</span></p>
<p><span>Jieji menatapnya sambil tersenyum, lantas dia menjawab kepada ketua Kaibang ini.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Lie Hui tidak mungkin disekap di Wisma naga emas&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi?&#8221;<br />
tanya Zhao maupun Yuan dengan agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Kemungkinan dia sekarang ada di partai Bunga senja. Sebab Partai Bunga senja memiliki anggota lebih banyak untuk menjaga tahanan dan Partai bunga senja memiliki penjara rahasia yang penjagaannya ketat sekali.<br />
Selain itu, mereka pasti tidak akan membiarkan orang yang merupakan perkumpulannya untuk disekap di &#8220;rumahnya&#8221; sendiri.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul kata-kata adik kedua. Dengan begitu, kita hanya perlu sekali saja ke sana untuk menyelidik. Adik kedua pernah disekap di penjara rahasia itu, tentu adik kedua paling tahu apakah di sana ada penjagaan yang ketat atau tidak.&#8221; tutur Zhao.</span></p>
<p><span>Lantas dia disambung oleh Jielung, ketua kaibang.<br />
&#8220;Betul, jika penjagaan di sana lebih hebat dari biasanya. Sudah barang tentu bahwa Nona Lie Hui memang berada di sana.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying yang mendengar perkataan &#8220;sederhana&#8221; dari mereka, segera menyela.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Bukankah bisa saja mereka tidak memperketat penjagaan di sana seolah tiada terjadi apa-apa, dan seolah Lie Hui memang tidak disekap di sana&#8230; Atau bisa saja&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum mendengar Yunying yang bertutur dalam perasaan yang terlihat khawatir. Lantas dia sambil tertawa ringan menjawabnya.<br />
&#8220;Betul katamu&#8230;<br />
Jika saja tidak ada orang di Partai Jiu Qi yang mengenalku dengan baik. Maka taktikku kali ini tidak bisa dilaksanakan. Tetapi lain halnya ada orang yang benar mengenaliku disana. Tentu saja, mereka akan mencari cara yang paling efektif.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu maksudmu adalah apa yang bisa dipikirkan olehku pasti terpikir juga oleh mereka?&#8221; tanya Yunying dengan wajah yang agak menggerutu.</span></p>
<p><span>Jieji tertawa besar mendengar tuturan Yunying. Tetapi dia tetap membalasnya dengan pelan.<br />
&#8220;Memang cara berpikir begitu adalah benar dan harus juga diperhatikan seksama. Kalau aku adalah mereka, maka aku akan memperketat 2 tempat penjagaan. Yaitu di Partai Bunga senja dan Wisma Naga emas.&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao langsung memotong perkataan Jieji dengan perasaan yang tidak sabar.<br />
&#8220;Betul&#8230;<br />
Jika kita berpencar, maka kekuatan kita sudah berkurang&#8230;<br />
Apa ada daya yang terbagus dari adik kedua?&#8221;</span></p>
<p><span>Sambil tersenyum, Jieji menjelaskan taktiknya.<br />
&#8220;Kita lawan cara berpikir mereka dengan cara begini.<br />
Lawan tentu tidak akan membiarkan tangkapannya lolos dengan begitu mudah. Mereka pasti tahu bahwa aku akan segera menolong Nona Lie Hui. Jika saja mereka tidak melakukan penjagaan ketat, tentu mereka lebih banyak kehilangan daripada mendapatkan.<br />
Dan satu hal yang pasti, mereka terdiri dari 4 orang pesilat yang berkemampuan hebat sejagad. Jika kita ingin menerobos pun, pasti lebih bagus dihalangi daripada dibiarkan. Dengan begitu, mereka masih bisa menahan kita semua. Tentunya bukan hanya mereka berempat orang saja.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Pasukan Raja Persia sudah tunduk di bawah perintah Huo Xiang, dengan begitu di partai-nya pasti terdapat ratusan pengawal yang hebat juga. Kita tidak mudah menerobos masuk ke dalam. Meski bisa masuk sekalipun, keluar akan susah&#8230;&#8221; tutur Zhao yang sepertinya berpikir hebat.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum kepada kakak pertamanya, lantas dia menjawabnya.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Tadi aku mengatakan bahwa akan menggunakan tipu melawan tipu mereka. Tentu disini maksudku adalah kita gunakan taktik yang sama, yaitu memancing harimau turun gunung.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi&#8230;<br />
Maksudmu kita pura-pura menyerang ke Wisma Naga emas dahulu untuk menyelamatkan Lie Hui yang memang tidak berada di sana? Lantas baru kita cari cara lain untuk menyelamatkan Lie yang ada di partai Bunga senja?&#8221;<br />
tutur Yunying dengan bersemangat.</span></p>
<p><span>Jieji tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan isterinya. Lantas dengan wajah kegirangan, dia berkata begitu.<br />
&#8220;Tepat!<br />
Kita minta 4 orang pengawal kakak pertama untuk cukup mengacau Wisma naga emas saja.<br />
Tentunya adalah harus ketika malam benar tiba, kita minta ke 4 orang berpakaian hitam dengan penutup muka. Dengan begini, tiada orang lagi yang tahu sebenarnya siapa 4 orang yang menyerang Wisma Naga emas.<br />
Lalu&#8230;<br />
Kita berempat menunggu apakah informasi cepat atau tidak telah sampai ke telinga orang-orang Partai bunga senja. Dan jika melihat adanya orang-orang berkungfu tinggi telah terpancing keluar maka langsung kita berempat menyerang ke partai bunga senja untuk menyelamatkan tawanan tentunya setelah adanya konfirmasi dari pihak kita sendiri.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul!!!&#8221; Zhao berteriak kegirangan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu, maka keempat orang hebat itu pasti berada di salah satu tempat antara Wisma naga Emas atau partai Bunga senja. Tetapi&#8230; Bagaimana jika Wisma naga emas benar adalah tempat keempat pendekar itu berada? Bukankah nantinya keempat pengawal bisa dalam masalah besar?&#8221;<br />
tanya Yuan kepada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Untuk kata-kata pendekar Yuan, aku berani menjaminnya seratus persen tidak akan terjadi. Bahwa tidak mungkin Lie Hui ada di Wisma Naga emas bisa kita coba dengan cara cukup sederhana saja. Kita bisa minta Shen Yileng asli untuk pura-pura pergi ke Wisma Naga emas. Dengan bertingkah sedikit, langsung maju tanpa berkata banyak dan masuk melalui gerbang depan. Tentu saja bisa tahu apakah Shen Yileng &#8220;palsu&#8221; sebelumnya pernah pulang ke Wisma naga emas bukan?&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Ini adalah cara yang sederhana yang dirasa cukup baik. Jika Shen tidak dihalangi, maka kemungkinan besar adalah orang partai Jiu Qi sudah mengenalnya sebagai &#8220;Shen Yileng&#8221; yang palsu. Tetapi, bagaimana jika mereka memasangkan perangkap untuk Shen Yileng?&#8221; tanya Zhao kuangyin dengan rada kacau.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Bagi mereka adalah ikan besar lebih baik terpancing daripada ikan yang kecil.<br />
Mereka sudah memasangkan perangkap di Partai Bunga senja dan Wisma Naga emas. Terutama adalah Wisma Naga emas, bukankah jika benar Lie Hui tidak berada disana. Maka usaha kita betul sia-sia? Dan sepertinya bahan peledak yang kedua pasti akan terjadi lagi di Wisma Naga emas.&#8221; Jelas Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Tidak mungkin juga Huo Xiang yang kabarnya telah mendirikan gedung balairung istana Persia dengan baik di Partai Bunga senja, lantas akan hancur lebur akibat ledakan dari bahan peledak.&#8221; tutur Zhao yang segera memanggil salah seorang pengawalnya.</span></p>
<p><span>Setelah sampai, dia memberi perintah rahasia. Dan orang ini minta pamit dengan segera melaksanakan apa pesan Zhao Kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika sebuah tipu muslihat benar dijelaskan terlebih dahulu, maka kesemuanya malah menjadi bahan yang sudah tidak menarik sama sekali.&#8221; tutur Yunying sambil melihat geli ke arah suaminya dengan samping matanya.</span></p>
<p><span>Jieji hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum tawar kepada isterinya itu.</span></p>
<p><span>Markas Besar Partai Bunga Senja&#8230;</span></p>
<p><span>Enam orang terlihat duduk di dalam balairung istana buatan Ketua partai ini. Keenam orang tersebut terlihat sedang serius memikirkan sesuatu. Dilihat dari potongan orang, terdapat 4 orang lelaki, seorang yang memakai baju besi lengkap dan seorang wanita cantik. </span></p>
<p><span>&#8220;Jadi menurutmu mereka tidak akan datang kemari?&#8221;<br />
tutur seorang pemuda paruh baya yang memiliki jenggot lebat. Dia ini tak lain adalah &#8220;Yelu Xian&#8221;.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;. Kalian tidak usah khawatir.<br />
Meski mereka menyerang pun untuk menyelamatkan tawanan, tentu yang diserang adalah wisma naga emas dahulu.&#8221; jawab Huo Xiang membalas perkataannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Perkataan ketua partai benar sekali.<br />
Kita sudah menyiapkan banyak perangkap di sana. Niscaya mereka bisa keluar hidup-hidup.&#8221; sahut suara seorang pria lain yang dilihat adalah sebuah baju besi kokoh yang sedang duduk.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;<br />
sahut pria yang menyamar sebagai Xia Jieji dengan agak terkejut.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah nak&#8230;&#8221;<br />
tutur orang tua berjenggot putih menghentikan komentarnya.<br />
&#8220;Kita sudah merencanakan ini baik-baik, bagaimana bisa kita merubahnya kembali?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;.&#8221; sahut &#8220;Xia Jieji&#8221; itu kepada orang tua. Namun, dia kembali melanjutkan kata-katanya.<br />
&#8220;Kalian betul tidak mengenalnya, karena itu kalian kurang waspada. Aku tidak yakin bisa membohonginya dengan begitu mudah.&#8221;</span></p>
<p><span>Hanya 2 orang disini yang mengerti bagaimana cara Jieji menyusun rencana-nya dengan cermat. Mereka berdua juga-lah tahu bahwa Xia Jieji bukanlah manusia yang sembarangan. Oleh karena itu, keduanya tampak ngotot untuk meminta memperumit penjagaan sebab mereka merasa penjagaan memang masih banyak &#8220;lubang kosong&#8221;.<br />
Tetapi keempat orang lainnya tidak berpendapat sama dengan kedua pria ini. Mereka meyakinkan sebaik-baiknya apa yang sudah direncanakan mereka dari hari sebelumnya. Pembicaraan yang cukup lama disini adalah tentang tawanan yang baru saja beberapa hari mereka tangkap yaitu Pencuri ulung.</span></p>
<p><span>&#8220;Wisma Naga emas sudah penuh dengan peledak hebat. Jika mereka sudah mulai menyerang, maka kita ledakkan saja kesemuanya. Tiada orang yang bisa lolos dari sana.&#8221; sahut Orang tua kepadanya kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana dengan tetua partai Jiu Qi dan anggotanya, apakah kalian juga berminat mengubur mereka hidup-hidup?&#8221; tanya Huo Xiang ke arah Baju besi.</span></p>
<p><span>Tetapi, baju besi hanya tertawa terbahak-bahak beberapa saat. Yang menjawabnya adalah orang tua di samping yang duduk tepat di sampingnya.<br />
&#8220;Tidak&#8230;<br />
Kita berpura-pura dahulu untuk bertarung. Jika mereka menyerang tentu akan menjatuhkan siapa saja yang menghalangi. Jika anggota kita yang terbunuh oleh mereka maka tiada masalah. Tetapi bagi anggota yang masih hidup harus berusaha melarikan diri ke tempat yang aman. Sedangkan tentara penjaga sel, sudah menyediakan lubang perlindungan yang dalam untuk bersembunyi sementara waktu jika mereka sampai dan peledak sudah diaktifkan.&#8221;</span></p>
<p><span>Huo tertawa terbahak-bahak, dia menyetujui dengan benar rencana orang tua ini. Tertawanya Huo diikuti oleh 3 orang lainnya secara beberapa lama. Tetapi kedua orang di samping ujung kursi tidak berpikiran demikian. Terutama pemuda yang menyamar sebagai Xia Jieji itu. Dia terlihat memikirkan sesuatu sambil memegang bibirnya cukup lama. Rasa tertawa tidak ada sama sekali di wajahnya. Kerutan di wajah yang berlebihan membuktikan rasa kekhawatirannya yang melebih-lebih. </span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah&#8230;<br />
Jika begitu, kita bubar saja. Sebab malam ini kita tetap akan berjaga dengan sebaik-baiknya.&#8221;<br />
sahut Huo Xiang yang membubarkan &#8220;rapat&#8221; tersebut.</span></p>
<p><span>Sudah lebih dari sejam, ruangan tadinya yang menjadi ruangan berdiskusi itu telah hening sama sekali. Sekarang ruangan yang dipenuhi 6 orang itu hanya tinggal seorang pemuda yang sedang asyik-nya memikirkan sesuatu hal. Dia duduk sambil berkerut dahi, sikapnya ini belum berubah sama sekali dari tadinya.<br />
Tetapi dia tiba-tiba dikejutkan suara seseorang yang diikuti tepukan ringan di bahunya.<br />
Pemuda menoleh secara spontan ke arah penepuk. Dilihatnya adalah seorang wanita cantik. Wanita yang tinggi semampai dengan pakaian yang cukup aduhai, senyum di wajahnya seakan bisa membuat lelaki normal goyah imannya.</span></p>
<p><span>Tetapi lain dengan pemuda ini, dia hanya tersenyum tawar sebentar. Lantas terlihat dia kembali berpikir.<br />
Si Nona yang menyaksikan sikap pemuda, dia menanyainya dengan segera.<br />
&#8220;Apa menurutmu rencana ayah dan para tetua tidak bisa diikuti?&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda hanya melihat ke arah wanita cantik. Terlihat sambil menghela nafas dia mengangguk.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu terlalu berkhawatir segala. Meski Xia Jieji itu pintar dan cerdik, tetapi dia juga manusia.&#8221; tutur wanita cantik sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Di sini, terlihat sudah banyak kesalahan. Menganggap remeh lawan adalah sebuah hal yang sangat disayangkan akhirnya.&#8221; jawab Pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Dalam hal ini, kakak mungkin salah paham. Bukankah kungfu kakak sudah sangat luar biasa tinggi. Kenapa harus takut kepada 4 orang itu meski mereka menyerang kemari?&#8221; tanya wanita ini kembali kepadanya seraya meyakinkannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan masalah ini yang benar kukhawatirkan. Jika saja mereka memancing kita, itu sangatlah berbahaya. Jika kita berenam di pisahkan tentu inilah hal yang sangat kutakutkan.&#8221; tutur &#8220;Xia Jieji&#8221; palsu ini.</span></p>
<p><span>Wanita cantik tertawa saja terbahak-bahak. Melihat kelakuan wanita ini, pemuda lantas berkerut dahi. Wanita ini kemudian menjelaskan kepadanya.<br />
&#8220;Bagaimana kita bisa dipisahkan? Mereka hanya 4 orang yang menguasai kungfu hebat. Selain Zhao kuangyin dan Xia Jieji. Aku merasa kedua orang lainnya tidak begitu perlu kita takutkan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Mengenai kata-kata ini, memang separuhnya benar. Zhao kuangyin ilmu silatnya memang teristimewa jika kita nilai, tetapi justru kulihat Yuan Jielung ataupun Xia Jieji tidak bisa dipandang remeh sama sekali. Dan&#8230; wanita misterius itu lagi. Mereka bukan lawan yang mudah dihadapi sama sekali.&#8221; tutur orang ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul..<br />
Jadi ingin kamu meminta kepada ayah untuk menanam bahan peledak disini? Seperti yang telah dilakukan di Wisma Naga emas?&#8221; tanya wanita ini kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Bukan juga&#8230;<br />
Sesuai rencana, kita bergerak setelah mendengar letusan hebat dari arah barat. Anggota kita sambung menyambung sudah ditempatkan di sepanjang jalur lebih dari 10 li ke barat. Mereka akan mengabarkan jika benar terjadi ledakan, kita akan segera berangkat ke sana bukan? Justru itulah hal yang kukhawatirkan.&#8221; sahut pemuda dengan serius kepada wanita.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak mengkhawatirkan bahwa ketika ledakan terjadi, mereka juga akan menyerang kemari? Jika mereka memisah diri, tentu setelah mendengar ledakan di wisma, mereka tentu akan menuju kesana. Oleh karena itu, rencana kita kurasa sudah cukup baik. Begitu kita menuju kesana, tentu aku merasa mereka tinggal 2 orang saja. Untuk mengeroyoknya, kita berenam pasti sanggup. Tidak usahlah kakak terlalu berkhawatir.&#8221; tutur Wanita cantik yang bernama Huo Thing-thing ini panjang dan lebar.</span></p>
<p><span>Apa kata-kata wanita ini memang adalah kata-kata yang cukup beralasan. Mereka telah menyusun taktik begini dari awal.<br />
Di Wisma naga emas, akan ada 5 orang yang didandani mirip dengan keempat pendekar yaitu Huo Xiang, Baju besi, Chen Yang, &#8220;Yelu Xian&#8221; dan &#8220;Xia Jieji&#8221;. Kelima-nya telah diperintah harus berkelahi sambil mundur teratur. Jika sudah ada peluang, maka salah satu di antara mereka harus memancing keempat pendekar (Jieji dan kawan-kawan) untuk diledakkan dalam sel Wisma Naga emas.</span></p>
<p><span>Jika mereka memisahkan diri, yaitu 2 orang ke wisma naga emas dan 2 orang lagi ke partai bunga senja. Tentu menurut mereka, jika ledakan benar terjadi di wisma naga emas, maka keempat pendekar dari partai bunga senja akan menyusul untuk &#8220;membinasakan&#8221; dua orang lainnya. Rencana serta taktik sudah disusun dengan sebaik-baiknya dari awal. Tetapi jika harus diganti lagi tentu selain makan waktu, dan memikirkan rencana yang lebih bagus dari ini mungkin tidaklah mudah sama sekali.</span></p>
<p><span>Tetapi kata-kata Thing-thing tidak benar bisa membuat hatinya lega. Dia kembali bertutur.<br />
&#8220;Xia Jieji adalah manusia luar biasa pandai, aku tidak yakin kita bisa menipunya dengan cara begituan. Tetapi karena rencana sudah dibuat, aku merasa sebaiknya kuikuti saja maunya mereka semua.&#8221;</span></p>
<p><span>Wanita cantik ini lantas tersenyum. Dia berikan sebelah telapak tangannya untuk menarik pemuda ini berdiri. Keduanya lantas meninggalkan ruangan.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>3 Hari setelahnya&#8230;<br />
Adalah malam tahun baru Imlek. Hari dimana kawasan kota penuh penduduk, meski ada yang merayakannya dan ada pula yang tidak, tetapi suasana di sini cukuplah ramai. Banyak anak-anak memainkan petasan serta ada yang bercanda ria. Pemuda-pemudi berpasangan acap kali nampak di kota yang tiada kecil itu, banyak juga yang memadu asmara di sana menikmati keindahan malamnya kota.</span></p>
<p><span>Jieji dan kawan-kawan sedari tadi memang sudah bersiap-siap. Mereka memilih sebuah tempat dari arah timurnya kota Huai, dimana kota tempat partai bunga senja berada.<br />
Sebuah kedai arak bekas yang sudah tidak terbuka sejak lama sedang di tempati oleh keempat orang. Keempat orang ini sengaja menunggu waktu telah gelap supaya keempatnya bisa mulai melakukan aksinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Di kota pasti terdapat banyak penjagaan yang ketat. Lantas bagaimana kita menerobos masuk ke kota terlebih dahulu?&#8221; tanya Yunying kepada mereka bertiga.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu tidaklah susah. Aku sudah mengaturnya dengan sangat baik sekali.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul perkataan adik ipar. Bagaimana caranya kita menyusup ke dalam kota terlebih dahulu?&#8221; tanya Zhao kuangyin yang seakan merasa bingung mendapati keyakinan adik keduanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita tidak perlu menyusup ke dalam kota. Kalian tahu bahwa penjagaan yang ketat di setiap pos sepanjang 10 li ke barat?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Di sana terlihat penjaga partai bunga senja yang di setiap pos jumlahnya ada sekitar 10 orang.&#8221; sahut Yuan Jielung kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu akan kita lihat nantinya&#8230; Sulap yang terjadi di tahun baru akan menjadi sulap yang luar biasa&#8230;&#8221; tutur Jieji dengan tertawa dan wajah yang penuh keyakinan. </span></p>
<p><span>Lantas dia berkata melihat ke arah kakak pertamanya. Dia meminta kakak pertamanya untuk ikut dengannya terlebih dahulu. Kedua orang lainnya yaitu Yuan Jielung dan Yunying cukup heran. Tetapi mereka merasa bahwa Jieji pasti mempunyai pesan yang penting kepada Zhao Kuangyin, oleh karena itu keduanya mengawasi kepergian keduanya dengan perasaan yang cukup was-was pula.</span></p>
<p><span>Setelah keduanya berjalan kaki hampir 1 Li, mereka berdua akhirnya berhenti.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa adik kedua?&#8221; tanya Zhao kuangyin dengan wajah yang agak keheranan kepadanya.<br />
Jieji menyerahkan sesuatu kepadanya. Sesuatu benda yang terlihat agak keemasan.<br />
Sepertinya benda ini tak lain adalah kain yang berwarna keemasan. Zhao cukup heran mendapatinya.<br />
Dahulu, sekitar 3 tahun lalu. Dia juga pernah menerima barang yang sama dari Jieji, adik angkat keduanya. Tetapi, saat itu Jieji tidak punya pilihan lagi selain &#8220;mati&#8221;, dan dia meninggalkan wasiatnya kepada sang kakak pertama untuk mengaturnya sedemikian rupa.<br />
Tetapi kali ini, kembali Jieji memberikan sesuatu benda yang mirip dengan benda 3 tahun lalu itu. Dia kontan terkejut.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini&#8230; Ada apa lagi adik kedua?&#8221; tanya Zhao kuangyin dengan wajah yang tidak percaya.</span></p>
<p><span>Sambil tersenyum, Jieji menjawabnya.<br />
&#8220;Ini adalah sesuatu yang akan dilaksanakan kalian. Kakak pertama pasti bisa melakukannya dengan mudah.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Dahulu&#8230; 3 tahun yang lalu&#8230;.&#8221; baru saja Zhao berkata sampai disini, Jieji menghentikannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku kali ini tidak ingin lagi mati. Aku mempunyai daya yang sudah sangat baik sekali. Benda ini kumohon kepada kakak pertama untuk membukanya ketika aku berkata, &#8220;Yuan Lai She Ni Men / Ternyata kalian&#8221;. Mohon dilaksanakanlah sebaik-baiknya.&#8221; tutur Jieji yang berubah menjadi serius.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak bisa..<br />
Ini.. Kamu harus berjanji kepadaku dahulu adik kedua.&#8221; tutur Zhao dengan berubah serius pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Tenang saja kakak.<br />
Aku menjamin, aku akan pulang dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun. Di dalam Cin Lung (Kantong emas) telah kuberikan tipu untuk mengerjakan sesuatu hal dan tipu meloloskan diri. Kita berempat dan pencuri ulung tidak akan kurang satu apapun. Kakak pertama&#8230;<br />
Percayalah padaku, perhitunganku kali ini tidak mungkin meleset sama sekali.&#8221; sahut Jieji.</span></p>
<p><span>Zhao hanya menghela nafas panjang, meski hatinya benar khawatir. Dia mengangguk perlahan dan berjanji akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya.<br />
Zhao sudah memberikan wewenang penuh kepada adik keduanya dalam operasi penyelamatan pencuri ulung. Adalah Jieji juga orang yang meminta kakak pertamanya, Yuan Jielung dan Yunying untuk mempercayakan hal ini sepenuh kepadanya.</span></p>
<p><span>Di partai Bunga senja&#8230;<br />
Ke-enam pendekar yang hebat telah duduk di atas temboknya partai bunga senja.<br />
Partai bunga senja memang benar telah direnovasi sedemikian rupa sehingga dalam kota Huai, terdapat &#8220;kota&#8221; Bunga senja juga.<br />
Mereka sepertinya bersembunyi di bawah tirai yang tebal. Keenamnya seperti berkonsentrasi untuk merasakan siapa saja yang datang. Dari gerak langkah, keenamnya bisa tahu benar bahwa orang yang berjalan di bawahnya termasuk seorang pesilat ataupun bukan.</span></p>
<p><span>Di &#8220;kota&#8221; bunga senja, penjagaan memang betul ketat. Partai bunga senja sendiri tidak pernah melarang rakyat jelatanya untuk jalan-jalan di daerah sana, tentunya untuk tidak menimbulkan kecurigaan kepada Jieji dan kawan-kawannya sehingga mereka merasa tawanan betul berada di sini.<br />
Di dalamnya pada setiap sudut partai, penjagaan sangatlah ketat. Tidak ada yang tahu sesungguhnya ada penjaga yang banyak sekali di partai selain orang dalam. Dari luar sekalipun, tidak terlihatnya banyak penjaga malang-melintang dari sana seakan sedang dalam keadaan biasa saja.</span></p>
<p><span>Biasanya penduduk daerah daratan tengah merayakan saat-saat terakhir lewat tahun. Tentu diikuti dengan suara mercon yang luar biasa berisiknya. Banyak orang biasanya berteriak-teriak &#8220;Gung Xi Fa Chai.&#8221; Dan ketika satu orang bertemu dengan orang lainnya, mereka juga akan mengucapkan kata &#8220;Gung Xi/ Selamat&#8221;. Selain tradisi di daratan tengah, maka rakyat yang telah berbaur dengan penduduk datangan biasanya juga mengikuti adat ini guna meramaikan acara tahun baru.</span></p>
<p><span>Adalah di saat detik detik terakhir akan terjadi-nya pergantian tahun&#8230;<br />
Suara hampir tidak terdengar ketika orang-orang mencoba untuk tenang dan menghirup nafas terakhirnya di tahun ini. Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Segera, suara mercon yang menggelegar terjadi dengan dahsyat. Suara ini tiada lain adalah muncul di sebelah barat dari posisi kota Huai. Kontan, bukannya para penduduk merasa takut atau lain hal. Mereka juga ikut meramaikan suara mercon menggelegar itu dengan suara teriakan yang cukup dahsyat juga, sebab dari anak-anak, remaja dan sampai ke orang tua kebanyakannya berteriak-teriak gembira sekali.<br />
Suara kegembiraan dari para rakyat ternyata tidaklah membangkitkan kegembiraan enam orang yang berada di atas tembok &#8220;kota&#8221; bunga senja. Mereka segera bangkit dan mengawasi sesama-nya dengan keheran-heranan.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu tanda ledakan dari arah barat!!!&#8221; teriak orang tua bernama Chen Yang ini dengan gembira sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;.&#8221; jawab Huo Xiang yang tidak kalah gembiranya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayok!!! Segera kita ke barat, cepat!!!&#8221; teriak si Baju besi. Orang yang pertama turun dari tembok kota dengan kecepatan luar biasa melesat ke arah barat. Rupa-rupanya di sebelah barat, telah di siapkan kuda yang mampu berlari kencang.<br />
Dia disusul oleh 4 orang lainnya dengan segera. Keempat orang juga bergerak sangat pesat sekali dengan &#8220;mencari&#8221; kuda yang telah disiapkan dengan sangat baik.</span></p>
<p><span>Di sini&#8230;<br />
Hanya seorang pemuda saja yang tidak ikut. Dia melompat ke arah dalam malah dari tembok tinggi partai. Dia tidak mengikuti gerakan kesemua orang itu. Dengan gerakan berlari cepat, dia ingin menuju ke arah sel / penjara bunga senja.<br />
Apa yang dilakukan pemuda, memang sudah diketahui pendekar-pendekar lainnya meski mereka sedang menuju ke arah barat dengan gerakan pasti nan cepat. Adalah seorang wanita yang kemudian berbalik dengan cepat memutar arah kudanya, dia terlihat berteriak.<br />
&#8220;Aku akan melihatnya!&#8221;</span></p>
<p><span>Keempat orang ini tidak mempedulikan gadis itu. Mereka tetap melanjutkan perjalanannya dengan cepat.</span></p>
<p><span>Pemuda yang memakai wajah &#8220;Xia Jieji&#8221; itu, hampir sampai di daerah yang dituju. Gerakan cepat dari kedua kakinya sungguh di luar dugaan. Bahkan para penjaga tidak pernah tahu, bahwa dirinya lewat di samping mereka yang kebanyakan adalah kaum pesilat. Kesemuanya hanya merasakan angin ringan yang berhembus saja.</span></p>
<p><span>Dia bergerak sangat cepat, menelusuri gang demi gang yang cukup sempit yang terlihat pengawalnya sedang diam memandang ke depan. Karena kecepatan serta pengaturan langkahnya yang sudah sempurna, tiada yang tahu bahwa ada pemuda luar biasa ilmu ringan tubuhnya telah lewat di sampingnya. </span></p>
<p><span>Adalah ketika dia sudah mencapai sebuah tanah lapang. Dia segera keheranan, sebab dia sudah berhenti dari gerakannya total. Tetapi, dia melihat pemandangan yang kurang begitu meyakinkannya. Sebab tidak ada seorang pengawal pun bergerak memandangnya. </span></p>
<p><span>Segera, dia terkejut luar biasa sekali. Sebab dia sudah merasakan beberapa hawa yang muncul dari sampingnya. Dia segera menoleh cepat sekali. Dilihatnya ada 4 orang yang sedang berdiri diam mengawasinya.<br />
Tentu keringat dingin segera membasahi dahinya. Dia tidak percaya bagaimana keempatnya bisa masuk demikian cepat. Bahkan dia sudah tahu pokok permasalahannya dengan baik, yaitu ketika para pengawal yang meyakini ilmu silat itu telah tertotok nadi geraknya kesemuanya. Pantas saja kesemuanya segera tidak mampu bergerak bukannya karena mereka tidak mampu mengetahui adanya orang yang lewat di sampingnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Xia Jieji?&#8221;</span></p>
<p><span>Memang benar, siapa lagi kalau keempat orang itu bukanlah Xia Jieji dan kawan-kawannya.<br />
Jieji memandangnya sambil tersenyum saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa kau? Kenapa selalu saja menyamar sebagai suamiku?&#8221; tanya Yunying ke arahnya dengan wajah yang agak heran dan tidak senang.</span></p>
<p><span>Orang ini terkejut. Dia segera melihat ke arah orang yang berbicara. Ternyata seorang wanita cantik. Dia sudah tahu kembali pokok permasalahan yang lainnya, yaitu bahwa ternyata selama ini wanita bertopeng tiada lain adalah Wu Yunying yang sama sekali tidaklah perlu menyamar lagi, sebab wajahnya toh begituan.</span></p>
<p><span>&#8220;Ternyata kau adalah Wu Yunying&#8230;<br />
Kalian menyusup masuk demikian mudahnya, benar-benar orang yang hebat.&#8221; tutur &#8220;Xia Jieji&#8221; palsu ini sambil menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu bagaimana kau bisa tahu bahwa kita sudah ada di sini? Kau juga tidak kalah hebatnya. Tetapi sepertinya empat orang lainnya adalah orang tolol..&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum geli kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Empat orang?&#8221; tanya &#8220;Xia Jieji&#8221; ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul.. 1 orang adalah wanita, dia sedang menuju kemari.&#8221; tutur Zhao kuangyin melihatnya sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Tetapi ketika orang ini melihat ke arahnya, tertimbul sebuah dendam dari matanya. Dia melihat Zhao dengan wajah yang agak buas. Sepertinya pemuda ini menyimpan sebuah dendam dengannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau adalah Yue Liangxu bukan? Untuk apa kau menutup wajahmu dan menggantikannya dengan wajahku?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>Orang ini mendengar kata-kata Jieji, dia membuka wajahnya dengan sesegera.<br />
Memang benar sekali, wajahnya terlihat wajah Yue Liangxu. Dia memang tidak berubah dari dulu, tetap sama.<br />
Sambil tersenyum, dia berkata kepada Jieji.<br />
&#8220;Bagaimana saudara Xia bisa begitu cepat kemari? Sungguh aneh, aku tiap malam memikirkan taktikmu itu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak bisa memberitahumu secara detail, waktuku tidaklah banyak. Kau ingin bertarung?&#8221; tanya Jieji kepadanya.</span></p>
<p><span>Tiga orang di belakang Jieji sepertinya akan ikut membantu. Tetapi Jieji malah menghentikannya, dia mengangkat sebelah tangannya. Justru saat itu, wanita lainnya telah sampai. Wanita yang bernama Huo Thing-thing telah mendarat dengan ilmu ringan tubuhnya yang mantap.</span></p>
<p><span>&#8220;Ternyata kalian&#8230;&#8221; tutur Jieji agak keras.<br />
Zhao yang mendengarnya segera tahu. Dia berjalan ke arah belakang dengan pelan, merogoh kantong bajunya dan membuka dengan cepat bungkusan emas.<br />
Hanya beberapa kata-kata yang tidak panjang serta rumit ditulis di atas kertas berwarna putih, lantas Zhao terkejut kegirangan mendapati apa tulisan itu.<br />
Sesaat, dia memandang adik keduanya dengan sangat kagum.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayok.. Kalian ikutlah aku..&#8221; tutur Zhao kepada keduanya. Tetapi Yunying menyatakan tetap tinggal. Dia merasa agak heran mendengar tuturan Zhao Kuangyin. Dia ingin membantah, tetapi dia dihentikan segera.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak bisa.. Kamu ikutlah kakak pertama dahulu. Banyak hal yang harus dikerjakan oleh kalian.&#8221; tutur Jieji dengan serius.</span></p>
<p><span>Melihat keseriusan Jieji, Yunying diam sebentar. Lantas dia menganggukkan kepalanya. Dia segera bergerak ke arah Zhao. Ketiganya mengambil gerakan mundur ke arah sebuah gerbang besi yang kecil.<br />
Tetapi niat mereka bertiga kemudian dihalangi dengan segera.</span></p>
<p><span>Baik Yue Liangxu dan Thing-thing segera bergerak cepat untuk mendahului mereka. Tetapi baru sebentar saja, mereka berdua telah dihalangi oleh seseorang.<br />
Rupa-rupanya Jieji telah sampai di depan untuk menghalangi dengan gerakan yang jauh lebih cepat. Jieji menyiapkan rapalan jurus siaga menantikan keduanya.</span></p>
<p><span>Pertarungan tentu langsung saja terjadi dengan cepat.<br />
Jieji bertarung dengan serius menghadapi keduanya. Dengan gerakan bertahan sambil menyerang dia beradu dengan kedua orang ini. Tetapi dalam 5 jurus saja, Jieji sudah merasa cukup aneh. Dia merasa kedua lawannya ini masih beberapa kelas di bawahnya. Terutama adalah Yue Liangxu ini, kemampuannya kali ini sungguh mengherankan Jieji. Hanya dua kali hentakan tenaga dalam dan sekali perputaran tangan dalam jurus keenam, keduanya terpental oleh energi ringannya Jieji.<br />
Meski keduanya tidak dijatuhkan, tetapi dari pertarungan singkat ini Jieji tahu benar ada sesuatu hal yang janggal.</span></p>
<p><span>&#8220;Aneh&#8230;<br />
Saudara Yue&#8230; Sepertinya kungfumu tidak lebih baik dari ketika pertarungan 3 tahun yang lalu..&#8221; tutur Jieji yang merasa cukup bingung mendapati kemampuan Yue Liangxu di depannya ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu karena aku belum mengeluarkan kepandaianku..&#8221; tutur Yue Liangxu dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>Tetapi baru saja dia berkata sampai disini, telah terasa hawa mendekat dengan cukup cepat.<br />
Jieji segera berpaling lurus ke arah depan. Dengan pesat sekali, dia telah mendapati sampainya 2 orang yang sakti. Dia melihat 2 orang yang turun dari langit dan mendarat cepat dengan mantap sekali. Kedua orang ini adalah seorang tua yang merupakan tabib sakti, Chen Yang dengan ketua partai bunga senja, Huo Xiang.</span></p>
<p><span>Zhao, Yuan Jielung dan Yunying sudah meninggalkan tempat ini. Mereka beranjak ke belakang, sepertinya Jieji sedang memberikan &#8220;perintah&#8221; kepada mereka untuk melaksanakan sesuatu.</span></p>
<p><span>&#8220;Dimana ketiga orang yang lainnya?&#8221; tanya Chen Yang sesegera saat dia mendarat.</span></p>
<p><span>Yue Liangxu segera menjawabnya.<br />
&#8220;Mereka sedang menyelamatkan tawanan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi hanya tinggal dirimu seorang di sini? Betapa yakinnya dirimu akan kemampuanmu sekarang?&#8221; tanya Chen Yang yang agak heran menatapi Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji membalas perkataan orang tua.<br />
&#8220;Tentu&#8230;<br />
Jika tidak tentunya bukan aku sendiri saja yang berjaga di sini.&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Jieji, kesemua orang disini agak heran. Mereka heran bagaimana kemampuannya yang sesungguhnya. Kabar dunia persilatan daratan tengah memang pernah &#8220;mengibarkan&#8221; nama Xia Jieji yang selangit. Tetapi, beberapa tahun belakangan sepak terjang Xia Jieji memang tidak pernah terdengar kabarnya lagi.</span></p>
<p><span>Huo Xiang memang merasa aneh sejak awal sampai sekarang. Adalah tentunya dia memang sempat &#8220;menyekap&#8221; Jieji di penjaranya. Saat itu, dia tahu bahwa pemuda tidak mempunyai kungfu yang tinggi, bahkan energi dalam dirinya sama sekali tidak terasa layaknya manusia biasa saja. Oleh karena hal ini, Huo selalu mengira dia salah tangkap orang. Tetapi, merasakan kehebatan lawannya saat setahun lalu ketika mereka bertarung sebentar di hutan Lin Qi, dia sendiri tidak pernah habis pikir apa maksud tujuan Jieji &#8220;melenyapkan&#8221; ilmunya dan rela menjadi tawanan-nya dalam jangka waktu 8 bulan.</span></p>
<p><span>Sekarang, disini telah berdiri Xia Jieji yang asli dan sedang penuh keyakinan menjawab mereka berempat. Tentu mereka benar tahu bahwa Jieji tidak pernah sembarangan dan bermain api di saat yang cukup berbahaya seperti sekarang. Merasakan bahwa lawan memang masih susah ditaksir kemampuannya, maka mereka berempat tidak berani maju sedikitpun mendahului yang lainnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Aku menanyaimu, apa benar kau sudah menikah dengan wanita bernama Yuan Xufen?&#8221; tanya Chen Yang sambil menunjuk kepada Jieji dengan tongkatnya.</span></p>
<p><span>Tersenyum, pemuda yang ditanyainya ini menjawab.<br />
&#8220;Aku rasa pertanyaan sebodoh ini tidak perlu di jawab. Dahulu, kabarnya kamu mempunyai dendam dengan isteriku. Dia telah membutakan sebelah matamu, kau ingin mencarinya balas dendam?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Mataku ini&#8230;&#8221; tutur Chen Yang sambil mengorek biji mata sebelah kirinya. Dengan mudah, dia mengeluarkannya dan meletakkan di telapak tangan. Lantas sambil membentak dia melihat ke arah Jieji. Raut wajahnya berubah sangat bengis sekali memandang pemuda.<br />
&#8220;Ini-lah hasil perbuatan isterimu!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum sinis kepadanya.<br />
&#8220;Sayang sekali isteriku tidak membunuhmu dahulu. Kau menginginkan wajah dan bola matanya. Ini adalah hal yang sungguh biadab, apakah ada orang yang hidup rela memberikan wajah dan kedua bola matanya?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Yuan Xufen adalah benar puteri dari Yelu Xian. Dia sendiri-lah yang memintaku untuk membunuh puterinya.&#8221; tutur Chen Yang kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan Chen, Jieji bagai di sambar oleh geledek. Dia tidak percaya apa perkataan Chen. Lantas sambil menggeleng dia berkata pula.<br />
&#8220;Itu tidak mungkin&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Huh&#8230;<br />
Yuan Xufen adalah puteri haram dari Yelu Xian dan Wu Shanniang. Saat itu, aku memang berniat melihat Yuan Xufen sendiri dengan mata kepalaku sendiri. Kabarnya dia adalah seorang wanita yang sangat cantik. Aku menginginkan wajahnya untuk diteliti pertama-tama. Tetapi setelah benar melihatnya, aku sangat tertarik akan kedua bola matanya itu.&#8221;<br />
sahut Chen Yang mengisahkan.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi benar kalau Yuan Xufen ternyata sudah melakukan perbuatan yang tidak baik sehingga Yelu Xian sendiri yang merupakan ayah kandungnya saja menginginkan nyawanya.&#8221; tutur Jieji sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Xufen selalu ingin tahu siapa orang tua kandungnya dari pertama-tama. Jika saja Xufen disini dan tahu bahwa ayah kandungnya sendiri bahkan menginginkan nyawanya tentu sangat membuatnya kecewa. Hati Jieji memang panas sekali mendengar perkataan Chen Yang. Dan pemuda ini sepertinya tahu betul bahwa apa tujuan Yelu Xian begitu sadis terhadap puteri kandungnya sendiri.</span></p>
<p><span>&#8220;Separuh betul dan separuh salah besar.&#8221; jawab Chen Yang.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu memang benar perkiraanku. Dia menginginkan Ilmu hebat itu, apapun dikorbankannya. Lantas apa kata-kata dari ibunya sendiri?&#8221; tutur Jieji menanyai orang tua ini.</span></p>
<p><span>Orang tua tertawa sebentar. Kemudian dia menjawabnya.<br />
&#8220;Betul&#8230;<br />
Saat itu, Wu Shanniang tidak ada di Liao. Dia sudah menikah dengan Wu Quan. Jadi dia tidak tahu masalah ini.&#8221;</span></p>
<p><span>Menghela nafas, Jieji memandang serius ke arah Chen Yang.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku memang tidak pernah memberikan salinan kitab itu kepada Yelu Xian sebab diriku sudah kalah akibat pertarungan 2 jurus saja dengan Yuan Xufen. Sungguh tidak kusangka ternyata Yuan Xufen adalah murid Dewa Sakti.&#8221; sahut Chen Yang kepada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika begitu, adalah benar bahwa kau juga bersama Li Zhu di hutan misterinya Mongolia kuno. Kalian mempelajari ilmu itu sama-sama? Atau memang benar kau sudah memiliki salinan ilmu itu sebelumnya?&#8221; tanya Jieji kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ha Ha&#8230;..<br />
Kau sungguh pintar. Aku tidak pernah mempelajari kitab itu meski ada di tanganku sebelumnya. Jika tidak, mana mungkin aku akan kalah kepadanya. Darimana kau tahu bahwa aku mempunyai salinan kitab Ilmu pemusnah raga?&#8221; tanya Chen Yang tiba-tiba karena merasa cukup heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Kunci untuk membuka panggung batu adalah 4 pedang. Dua buah pedang sudah dipegang olehku. Sebilah pedang dipegang oleh Guo Lei, dan sebilah pedang lagi sudah dimiliki Huang Yu Zong. Jadi berarti saat Huang membuka panggung batu, tentunya kau dan Li Zhu juga di sana bukan?&#8221; tanya Jieji.</span></p>
<p><span>Mendengar pernyataan Jieji, Chen Yang tertawa terbahak-bahak cukup lama sekali. Dia menanyai Jieji setelah sekian lamanya.<br />
&#8220;Sungguh pintar&#8230;<br />
Kau tahu berdasarkan kunci membuka panggung adalah pedang. Tetapi masih kurang seorang lagi yang bersama kita itu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Oya? Kurang ataupun lebih untuk apa dipermasalahkan sama sekali. Sebab aku merasa tidak tertarik akan hal yang berhubungan dengan Ilmu pemusnah raga.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ilmu itu terang adalah ilmu no. 1 sejagad. Kau memiliki tapak berantai dan kemampuanmu telah menguasai dunia persilatan sejak lama. Kenapa kau bilang Ilmu-mu sendiri bukanlah ilmu yang sama sekali tidak membuatmu tertarik?&#8221; tanya Chen yang agak penasaran kepada pemuda.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebab Tapak berantai ataupun Ilmu pemusnah raga bukanlah ilmu yang cocok dilatih manusia. Setelah dipikir-pikir, aku merasa Ilmu ini bukanlah ilmu yang perlu dibuat mengejutkan.&#8221; jawab Jieji.</span></p>
<p><span>Tadinya Chen Yang memang penasaran ingin menanyainya. Tetapi mendengar jawaban Jieji, dia berubah menjadi terpesona. Dia menyahut.<br />
&#8220;Kalau begitu, kau anggap Ilmu-ku dan Ilmu-mu bukanlah ilmu yang perlu dibuat takut?&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Benar sekali&#8230;<br />
Orang yang melatihnya pertama-tama akan merasa semangatnya naik ke langit. Semakin dilatih maka ilmu ini semakin maju pesat. Karena pembagian unsur dalam diri manusia membuat unsur pemecahnya mendukung satu sama lainnya. Sehingga perpaduan itu menghasilkan tenaga dalam yang hebat. Tetapi, jika orang melatihnya terlalu lama. Maka ilmu ini sesuai dengan namanya. &#8220;Pemusnah raga&#8221; tentu maksudnya raga sendiri bakal </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/340/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/340/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=340&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 22</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-22/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-22/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Yelu Xian&#8230;..&#8221; jawab pencuri ulung dengan singkat saja. &#8220;Berarti benar&#8230; Orang yang datang bukanlah Yelu Xian ataupun Yue Liangxu yang asli&#8230;&#8221; tutur Jieji. &#8220;Tetapi&#8230; Mata-mataku melaporkan bahwa Yelu Xian sudah tidak ada di perkemahan Liao&#8230;&#8221; tutur Pencuri ulung dengan kelihatan agak bersemangat. &#8220;Hm&#8230; Yelu Xian tidak mungkin meninggalkan Liao dengan cara seperti demikian. Mungkin saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=339&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-339"></span></p>
<p><span>&#8220;Yelu Xian&#8230;..&#8221; jawab pencuri ulung dengan singkat saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Berarti benar&#8230; Orang yang datang bukanlah Yelu Xian ataupun Yue Liangxu yang asli&#8230;&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Mata-mataku melaporkan bahwa Yelu Xian sudah tidak ada di perkemahan Liao&#8230;&#8221; tutur Pencuri ulung dengan kelihatan agak bersemangat.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Yelu Xian tidak mungkin meninggalkan Liao dengan cara seperti demikian. Mungkin saja kedua orang ada hubungannya dengan Liao. Tetapi disini aku yakin sekali bahwa Yue Liangxu bukanlah Yue Liangxu asli dan Yelu Xian bukan juga Yelu Xian asli.&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Maksud anda adalah, Yeluxian di Liao juga sudah menyamar? Dan kenapa Yelu Xian palsu kemari tentu adalah untuk membicarakan tentang pertarungan saja dan pertempuran di timur daratan China?&#8221; tanya pencuri ulung kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul.. Kalau begitu memang benar adanya. Huo Xiang malah telah menjadi biji catur mereka semua&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum manis.</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan pemuda, pencuri ulung sangatlah terkejut. Jieji betul tidak berada di sana saat itu. Tetapi dia bisa tahu dengan secara mendetail segala hal hanya mendengar cerita saja. Sesaat, dia kagum kepadanya. Namun, segera dia mengajukan permohonan kepada pemuda lagi.<br />
&#8220;Bagaimana kalau besok kita pagi-pagi berangkat untuk menyelidik ke dalam partai bunga senja?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa yang kau katakan itu adalah hal serius?&#8221; tanya Yunying kepadanya secara spontan.</span></p>
<p><span>Jieji yang mendengar kata &#8220;menyelidik&#8221; tentu sangat senang sekali. Dia segera mengiyakannya. Tetapi kembali Yunying mencegahnya.<br />
&#8220;Kamu harus berlatih lagi&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menggelengkan kepalanya. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Semua jurus gerakan 18 telapak naga mendekam sudah ada di otakku. Untuk memantapkannya 1 tahap demi tahap adalah tergantung waktu dan jam terbang pertarungan. Lantas tidak ada gunanya lagi jika aku berdiam disini sekalipun&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Pencuri ulung segera tersenyum. Segera saja, dia mengeluarkan banyak alat dari balik bajunya. Sampai keduanya pun heran. Bagaimana mungkin orang ini selalu membawa sedemikian banyaknya peralatan sambil berjalan-jalan. Keduanya hanya lantas terlihat menggelengkan kepalanya.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>2 Minggu kemudian&#8230;<br />
Tiga orang sudah sampai di utara wilayah Persia. Seperti yang diketahui, wilayah utara dari daerah Persia adalah seluruhnya daerah kekuasaan Partai bunga senja.<br />
Raja dari Persia sekarang sudah di bawah naungan Partai bunga senja. Segala keputusan diputuskan oleh Thing-thing yang merupakan puteri dari Huo Xiang. Sementara itu, dalam beberapa bulan terakhir, Huo memang sangat rajin berlatih Ilmu pemusnah raga.<br />
Mereka bertiga mendengar cukup banyak gosip tentang &#8220;dunia persilatan utara&#8221; itu. Tiada orang yang tiada tahu bahwa sekarang Huo sedang mengurung diri memperdalam ilmu-nya.</span></p>
<p><span>Mengenai kabar 2 orang (Yue Liangxu dan Yelu Xian) yang berada di Persia memang sangat jarang sekali diketahui orang. Melalui penyelidikan demi penyelidikan memang mereka mendapati bahwa kedua orang ini sempat berada di Partai dan tinggal dalam jangka waktu yang tidaklah lama. Sekarang, dimana keduanya berada tidak pernah diketahui orang-orang di sana.</span></p>
<p><span>Adalah ketiga orang yang nampak berjalan terlunta-lunta di sebuah sudut kota utara yang sangat sepi sekali. Ketiganya adalah 2 orang kakek reyot dan seorang nenek peot. Cara berjalan mereka memang sudah sangat kepayahan, sehingga acap kali terlihat mereka saling membantu satu sama lainnya.<br />
Tentu ketiga orang ini adalah dalam penyamaran. Adalah Jieji dan Yunying yang tiada habis pikir mengapa harus berpakaian yang terlihat bongkok dan jalan pun terasa sangat susah sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana? Sepertinya kabar tentang Yue Liangxu dan Yelu Xian sudah tidak terdengar lagi&#8230; Apakah kita harus pergi dengan cara demikian?&#8221; tanya seorang nenek peot dengan suara tenaga dalam yang sangat kecil dan nyaris tidak terdengar.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau tidak ada kabar mengenai keduanya. Bisa kita cari ketua partai Jiu Qi dahulu.&#8221; tutur Kakek reyot yang matanya buta sebelah. Ini adalah penyamaran baru dari pencuri ulung itu.</span></p>
<p><span>Lantas mendengar tuturan kakek ini, seorang kakek lainnya menanyainya.<br />
&#8220;Kau tahu dimana ketua partai Jiu Qi berada?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tentu&#8230;.&#8221; jawabnya dengan suara yang sangat pelan. Tetapi kakek ini segera tertawa terkekeh-kekeh melihat ke arah nenek peot. Nenek peot ini lantas mengerutkan alisnya tanda bahwa dia tidak mengerti maksudnya.</span></p>
<p><span>2 Hari kemudian&#8230;<br />
Di Wisma Naga emas, sebelah barat 20 li dari Partai bunga senja&#8230;</span></p>
<p><span>Seorang nona manis telah duduk di kursi. Wajahnya sungguh sangat manis dengan mata berbentuk bulat indah dan pipinya terlihat cukup tembem serta merona merah. Tetapi dari lingkar wajah, semua bisa melihat bahwa nona ini adalah orang yang sangat cantik meski kelihatan cukup &#8220;berisi&#8221;.<br />
Seorang pria paruh baya sedang berdiri di sampingnya, wajahnya penuh rasa mesum sambil sepertinya sedang menunggu sesuatu melihat ke arah pintu luar.</span></p>
<p><span>Beberapa lama kemudian&#8230;<br />
Di ruangan yang tadinya hanya terdiri dari 2 orang. Segera masuk beberapa orang yang baru. Kesemuanya memakai baju berwarna kuning emas. Sepertinya ini adalah seragam yang dipakai oleh setiap orang di wisma ini.<br />
Lantas kesemuanya telah berbaris sangat rapi di kiri dan kanan dengan segera saja.</span></p>
<p><span>Dan Kesemua orang seperti sedang menunggu seseorang yang bakal sampai kemari. Kelihatan bahwa para &#8220;pengawal&#8221; ini cukup angker dengan golok siap di tangan kiri yang sengaja diberdirikan.<br />
Sesaat kemudian&#8230;<br />
Suara langkah sudah bisa dirasakan bergetar hebat di tanah kemudiannya. Sebuah langkah yang terasa sangat berat diikuti langkah dari belakang juga sama beratnya. Terasa juga dua pasang kaki yang cukup ringan berada di belakang orang yang berjalan sangat berat itu.</span></p>
<p><span>Mereka kesemua yang terdiri dari 3 orang telah mulai memasuki ruangan. Ketiga orang ini yang ditengah adalah sebuah baju besi yang tidak kelihatan bentuk tubuh bergerak. Inilah yang tadinya membuat tanah seakan bergetar akan langkah-langkahnya. Sedangkan 2 orang di belakang adalah seorang pemuda berwajah agung sedang berpakaian sastrawan tetapi di tangannya terlihat sedang memegang kipas yang cukup besar juga. Di samping pria berkharisma itu, terlihat seorang pemuda paruh baya yang lain.</span></p>
<p><span>Nona cantik yang terlihat cukup berisi di pipi itu segera memandang ketiga orang yang baru saja masuk. Sesaat, dia sangat terkejut sekali. Dia sempat memandang ke arah pemuda paruh baya yang sedang bersenyum mesum tadinya. Tetapi senyuman mesum-nya juga telah berubah sekarang menjadi sangat kaget sekali menyaksikan arah kiri dari si baju besi. Tiada lain karena orang ini sangat dikenalinya sendiri.</span></p>
<p><span>Pemuda sebelah kiri yang masuk ini sungguh dikenali oleh pria yang tadinya bersenyum mesum itu. Dan nona berpipi yang agak tembem juga mengenal orang ini dengan sangat baik.</span></p>
<p><span>Karena tiada lain orang ini adalah &#8220;Pahlawan dari Selatan&#8221; alias Xia Jieji.<br />
Nona berpipi temben tentu adalah Yunying yang sedang menyamar itu. Melihat &#8220;Xia Jieji&#8221; yang sedang mentereng membuatnya berkeringat dingin kontan. </span></p>
<p><span>Disini&#8230;<br />
Memang pemuda paruh baya yang bersenyum mesum tiada lain adalah pencuri ulung. Dia sempat terkaget luar biasa juga ketika melihat orang yang masuk adalah Jieji. Tetapi dia tahu dengan baik, bahwa orang itu sedang menyamar menjadi &#8220;Pahlawan Selatan&#8221;.<br />
Oleh karena itu, dengan segera dia telah dapat mengontrol dirinya dengan baik. Lantas wajahnya kembali berubah mesum.</span></p>
<p><span>Dia berjalan mendekati ke arah 3 orang yang berdiri mentereng. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Tuan-tuan sekalian&#8230;<br />
Apakah memang benar nona disini adalah nona yang kalian cari?&#8221;</span></p>
<p><span>Adalah Pahlawan dari selatan itu yang maju untuk mendekati gadis yang menunduk diam dan kelihatan takut. Dengan sebelah tangan yang memegang kipas, dia mengangkat dagu nona berpipi temben. Lantas dia tersenyum menggoda ke arah nona.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia bukan orang yang kita cari. Tetapi, sangat mirip sekali kecuali kedua pipinya&#8230;&#8221; tutur &#8220;Xia Jieji&#8221; palsu itu.<br />
Tetapi adalah hal yang sangat mengherankan sekali. Jieji disini bersuara seperti suara aslinya. </span></p>
<p><span>Adalah pencuri ulung yang tahu dengan benar. Orang ini sedang mengganti suaranya supaya persis. Yunying yang mendengar perkataan pemuda, memang sudah tahu dengan benar bahwa suara orang memang cukup mirip dengan suara suaminya. Yang berbeda hanya adalah cara logat berbicara. </span></p>
<p><span>Yunying berpikir cermat &#8220;Orang ini berbicara dengan suara yang cukup lembut tetapi terasa menjijikkan. Tidak sama dengan Xia Jieji asli yang berbicara dengan gaya dan logatnya yang seakan sok hebat.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi benar dia mirip dengan Yuan Xufen?&#8221; kemudian terdengar tuturan suara yang muncul dari balik baju besi yang sedang berdiri dengan kokoh.</span></p>
<p><span>&#8220;Jieji&#8221; palsu segera berbalik ke arahnya. Dia mengangguk pelan saja. Tetapi, dia langsung memberi tanda kepada pengawal di samping.<br />
Pengawal sepertinya mengerti, mereka langsung maju mendekati wanita berpipi tembem itu.</span></p>
<p><span>Sementara, pencuri ulung yang berwajahkan pemuda paruh baya yang kelihatan mesum segera beranjak maju.<br />
&#8220;Benarkan tuan-tuan sekalian..Anda semua berniat menyimpannya bukan? Sekarang aku menuntut imbalan&#8230;.&#8221;<br />
Sepertinya disini, pencuri ulung menyamar jadi germo yang mencari wanita-wanita. Sudah bukan rahasia lagi kalau ketua partai Jiu Qi mencari wanita cantik di seluruh jagad untuk diperiksa wajahnya. Jika sudah benar adalah mirip Yuan Xufen, maka mereka akan membawanya untuk &#8220;disimpan&#8221;. Tidak ada yang tahu bahwa sudah berapa wanita yang mereka &#8220;simpan&#8221;. Disini memang ada hal yang sangat aneh, sebab entah apa tujuan dari mereka, yang jelas tentunya sudah tidak baik.</span></p>
<p><span>Pria yang berwajah Xia Jieji segera mengangkat tangannya tinggi. Lantas pengawal dari belakangnya segera maju. Mereka mempersembahkan cukup banyak uang emas kepadanya.<br />
&#8220;Kau sudah boleh pergi&#8230;&#8221; tuturnya kemudian.</span></p>
<p><span>Tetapi pencuri ulung segera berkata kepadanya.<br />
&#8220;Nona ini meski mirip dengan wanita di lukisan anda. Tetapi sayangnya&#8230; Sayangnya&#8230;.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Sayangnya apa?&#8221; tanya seorang pemuda paruh baya dengan suara kasar yang berada di samping kanannya orang berbaju besi. Dia adalah orang yang berpenampakan sama dengan Yelu Xian.</span></p>
<p><span>&#8220;Sayangnya dia bisu&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung dengan menunduk dan sepertinya sangat ketakutan.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa katamu????&#8221; tutur Yelu Xian yang seakan berwajah marah.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul.. Dia bisu&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung dengan wajah yang terlihat amat ketakutan sekali.</span></p>
<p><span>Sementara, &#8220;Jieji&#8221; palsu itu segera menengahi.<br />
&#8220;Tidak mengapa&#8230; Bawa masuk saja sekalian dengan dia. Jika tidak cocok, maka baru saja bertindak.&#8221;</span></p>
<p><span>Yelu Xian hanya mengangguk perlahan saja. Di sorot matanya memang masih tampak kemarahan yang tidaklah sirna.<br />
Lalu sambil ketakutan, pencuri ulung berjalan ke belakang dengan kepala menunduk.</span></p>
<p><span>Dan memang benar&#8230;<br />
Sepertinya mereka segera keluar dari ruangan ini. Wisma Naga emas memang bukan wisma yang kecil. Besarnya mungkin jauh lebih luas dari Wisma Sembilan Keanehan di Wilayah barat kota Chengdu. Mereka berjalan cukup lama juga, melewati gang pergang. Tetapi pengawal yang berpakaian emas yang jumlahnya mungkin 20 orang lebih juga ikut mengawal &#8220;Yunying&#8221; ke arah yang dituju.</span></p>
<p><span>Wisma Naga Emas memang seperti istana para pangeran layaknya. Karena berjalan beberapa tindak, lantas mereka bertemu dengan pengawal. Dan berjalan beberapa tindak kemudian, mereka langsung ketemu dengan dayang. Mungkin penghuni disini jumlahnya lebih dari ratusan orang.</span></p>
<p><span>Perlu waktu sekitar 1/2 jam kemudian, mereka akhirnya telah sampai. Di depan ruangan sama sekali tidak terlihat pengawal yang berjaga. Dan ruangan pun sepertinya terpisah dengan ruangan-ruangan lain yang saling sambung-menyambung itu. Tempat ini meski dilihat dari luar sudah bisa dipastikan sangat luas. Mungkin hanya ruangan ini saja sudah mencapai lebar 100 kaki lebih.</span></p>
<p><span>Dari dalam, sepertinya sudah ada manusia yang menunggu. Dia hanya memanggil pelan.<br />
&#8220;Masuk saja&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan seorang pemuda. Para pengawal segera membukakan pintu yang cukup luas dan tinggi. Bersamaan dengan terbukanya pintu, 20 pengawal segera mengawal mereka berdua masuk.<br />
Disini, yang heran tiada lain adalah ketiga orang yaitu si baju besi, &#8220;Xia Jieji&#8221; dan Yelu Xian malah tidak menampakkan diri.<br />
Lantas pencuri ulung sambil menyorot ke depan bisa melihat jelas. Sebuah bayangan memang terpampang di tirai yang cukup tebal. Dan kemungkinan besar orang ini adalah seorang pria karena mendengar suaranya yang bukan seakan-akan dibuat.</span></p>
<p><span>Pencuri ulung adalah orang yang sangat jago mendengar suara setiap orang, dan kemudian dia berusaha untuk menirunya. Bagaimanapun dia tahu bahwa orang di depannya memang sedang &#8220;mengganti&#8221; suara. Tetapi dari nadanya memang dia adalah pria.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau mengatakan bahwa wanita ini adalah bisu?&#8221; tanyanya kemudian kepada pencuri ulung.<br />
Mendapat pertanyaan seperti ini tentu membuatnya terkejut. Bagaimana mungkin pria ini bisa tahu percakapan dia dengan &#8220;Xia Jieji&#8221; tadinya. Lantas dengan berkeringat dingin, dia menjawab.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul.. Meski dia adalah seorang wanita bisu. Tetapi katanya dia cukup mirip dengan gadis yang kita cari.&#8221; tutur suara itu kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar sekali. Oleh karena itu, disini aku hanya ingin menerjemahkan apa kata-kata wanita ini&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Apakah kau sehat-sehat saja wanita cantik?&#8221; tanya suara dari balik tirai itu.</span></p>
<p><span>Yunying tentu tahu bahwa suara pria ini sedang menyapanya. Lantas dia menganggukkan kepalanya perlahan. Tetapi dia arahkan mukanya ke germo dan bukannya ke arah tirai.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia berkata dia baik-baik saja&#8230;&#8221; tutur germo alias pencuri ulung untuk menerjemahkan sikap wanita ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia tidak ada masalah dengan kesehatannya?&#8221; tanya suara dari balik tirai.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ada&#8230; Dia betul sangat sehat&#8230;&#8221; jawab pencuri ulung karena melihat gaya tangan wanita tembem.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu&#8230;<br />
Pengawal!!! Tangkap kedua orang ini&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;<br />
teriaknya dengan keras dan seakan dari nadanya terasa kemarahan yang tinggi sekali.</span></p>
<p><span>Adalah pencuri ulung sangat terkejut. Lantas dengan gaya penasaran, dia menanyai pria yang di balik tirai.<br />
&#8220;Kenapa? Kenapa kita harus ditangkap?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Ha Ha&#8230;<br />
Kau bisa menipu banyak orang. Bagaimana kau bisa menipu diriku? Adik seperguruan?&#8221;<br />
tutur suara itu kembali dan terdengar dia masih tertawa terbahak-bahak.</span></p>
<p><span>Para pengawal sudah beranjak mendekati mereka berdua sambil menyiapkan golok.<br />
Pencuri ulung memang tidak habis pikir, kenapa penyamarannya bisa terbongkar. Sesaat, dia terkejut kemudian. Dia sudah tahu kenapa tadinya orang itu menanyai kesehatan wanita berpipi tembem.</span></p>
<p><span>&#8220;Seharusnya kau tahu. Orang yang menyimpan tenaga dalamnya akan terasa lebih lemah gerakannya dari orang biasa. Ketika kutanyai wanita ini sehat atau tidak, kenapa dia bisa menjawab bahwa dia baik-baik saja?&#8221; tanyanya ke arah pencuri ulung.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Kau pikir bisa menangkap diriku?&#8221; tutur pencuri ulung sambil tersenyum kepadanya. Kali ini dia sudah membuka topeng kulit pria paruh baya yang sudah melekat di wajahnya. Sekarang, wajahnya yang terpampang tiada lain adalah Lie Hui, wanita cantik.</span></p>
<p><span>Sedangkan pemuda yang di balik tirai segera maju sambil menyingkap tirai itu. Sudah terlihat disini adalah seorang pemuda paruh baya. Di wajahnya terhias kumis dan jenggot yang cukup lebat. Pencuri ulung tentu mengenal orang ini dengan baik dan tiada lain dia memang adalah Ketua partai Jiu Qi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau memang tidak mudah ditangkap mengingat kau memiliki banyak tipu muslihatnya. Tetapi gadis ini tentu mudah saja bagiku untuk menangkapnya.&#8221; tutur pemuda yang tiada lain adalah ketua partai Jiu Qi.</span></p>
<p><span>Yang anehnya sekarang, dari balik tirai kembali muncul 2 orang. Dua orang yang tadinya memang sudah berada di ruangan sebelumnya. Kedua orang ini adalah Xia Jieji serta Yelu Xian.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi kau sudah tahu sejak awal kakak seperguruan? Eh.. Tepatnya putra kaisar dari Tang akhir, Lie Fei.&#8221; tutur pencuri ulung sambil tersenyum sinis ke arah ketua partai Jiu Qi.<br />
(Kaisar terakhir dari Dinasti Tang akhir(Later Tang) adalah Li Zhu yang bergelar kaisar Ai Di. Kaisar Ai Di digosipkan teracun tewas akibat perbuatan Zhu Wen atau leluhur dari Zhu Xiang dari Dinasti Liang akhir.<br />
Tetapi Ai Di memang tidak tewas, karena semenjak hari yang mengabarkan dirinya telah tewas diracuni oleh Zhu Wen. Tetapi malah Ai Di bersembunyi di Hutan misteri Mongolia kuno. Terakhir, dia kalah dalam pertarungan hebatnya dengan Xia Jieji yang harus di bayarnya dengan nyawa)</span></p>
<p><span>Mendengar tuturan adik seperguruannya, orang yang memakai baju besi segera tertawa besar. Suaranya yang keras membuktikan bahwa tenaga dalamnya memang sangat tinggi sekali. Dan ruangan tempatnya berada sempat terlihat bergetar sebentar.<br />
&#8220;Adik seperguruan&#8230;<br />
Dahulu, guru hanya menurunkan 3 ilmu keanehan kepadaku. Tetapi kamu justru dituruni sampai 8 keanehan. Ini membuktikan bahwa memang guru lebih menyayangi dirimu dari pada diriku. Sekarang, aku sudah menguasai kesembilan dari keanehan itu sendiri. Lantas, kamu benar sudah tidak berguna untukku&#8230;&#8221;<br />
Tutur ketua partai Jiu Qi, tetapi dia bertindak aneh kembali. Dia menutup wajahnya kembali dengan tutup kepala besi kemudian.</span></p>
<p><span>Partai Jiu Qi (sembilan keanehan) memiliki 9 kemampuan khusus. Kesemuanya kemampuan khusus itu tiada lain adalah mencakup kungfu, sastra, militer, penyamaran, kecepatan, tipu-muslihat, kemampuan berkarya, Menciptakan senjata, dan sifat dermawan. Disebut 9 keanehan karena di antara kesemua kemampuan adalah tiada wajarnya jika diteliti oleh orang lain. Tetapi kesemuanya justru adalah keahlian yang wajib dimiliki oleh &#8220;Ketua&#8221; partai Jiu Qi. Siapa yang memiliki kemampuan yang terbanyak maka dia-lah orang yang berhak menjadi ketua di partai.<br />
Setelah dipikir-pikir, malah Partai ini memang sungguh &#8220;aneh&#8221;.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak seperguruan&#8230;<br />
Sebenarnya partai Jiu Qi dibangun di saat kekacauan yang bersilih ganti di China daratan. Tugas utama partai Jiu Qi sangat mulia yaitu membantu &#8220;Naga sejati&#8221; membangun negara. Tetapi, setelah dirimu menjabat. Kau telah mengganti 2 di antara 9 keanehan itu. Kau adalah murid yang laknat, lantas berdasarkan apa kau bisa mengajakku berdebat tentang hal partai?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Apa maksudmu?&#8221; tutur si Baju besi yang terlihat cukup marah dari nada suaranya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau telah mengganti dua yaitu Kungfu dan sastra&#8230;&#8221; </span></p>
<p><span>&#8220;Kungfu dan sastra?&#8221; tanya baju besi kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Kungfu kau ganti menjadi gemar paras elok. Dan sastra kau ganti menjadi perampokan dan pemerkosaan. Lantas disini apa pantas kau berbicara tentang partai dan perguruan kita?&#8221; tutur Pencuri ulung dengan nada yang sangat sinis ke arahnya.</span></p>
<p><span>Mendengar perkataan pencuri ulung, sebenarnya terlihat betapa marahnya ketua partai Jiu Qi ini. Dia ingin sekali menghabisi adik seperguruannya yang telah sangat lancang.<br />
Lantas kemudian dia kembali bertutur.<br />
&#8220;Kau mengatakan kemampuan kungfu telah kuubah, dengan begitu berarti bahwa kungfu-mu sudah sangat tinggi dan mengatakan kalau kungfu-ku tiada apa-apanya. Bukan begitu adik seperguruan?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Betul.. Itulah maksudku&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung dengan tertawa.<br />
Tetapi dengan gaya tertawanya, sepertinya sesuatu benda telah terlepas dari bajunya. Dengan segera, Ketua partai Jiu Qi yang bernama Lie Fei berteriak.<br />
&#8220;Awas!!! Itu bom asap!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Tentu saja ketua ini bersikap sangat waspada. Mengingat jika saja bom asap ditaburi racun, maka cukup gawat juga kesemua orang di dalam ruangan ini. Dengan sangat cepat, dia kemudian menghancurkan atap dari ruangan itu.<br />
Sementara, kesemua orang sepertinya cukup panik. Tentu-nya terkecuali 3 orang lainnya yaitu Lie Fei, &#8220;Xia Jieji&#8221; dan Yelu Xian.<br />
Sepertinya ketiga orang ini segera menerjang lewat atap dengan ilmu yang sangat tinggi.</span></p>
<p><span>Dengan sesegera, ketiganya sudah berada di atas atap. Dan ketiganya seperti sedang menyapu seluruh empat penjuru dengan mata mereka masing-masing.<br />
&#8220;Itu dia&#8230;.&#8221;<br />
teriak &#8220;Xia Jieji&#8221; palsu dengan menunjuk.</span></p>
<p><span>Lantas Lie Fei, ketua partai Jiu Qi dan Yelu Xian sempat menengok ke arah yang ditunjuk. Kelihatan 3 orang sedang berlari dengan ringan tubuh. Yang aneh bagi mereka adalah orang terakhir yang lari belakangan. Adalah seorang pemuda yang berpakaian keemasan dengan memegang golok di tangan. Sepertinya pemuda ini juga menyamar menjadi salah seorang &#8220;anggota&#8221; mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka rupanya terdiri dari 3 orang&#8230;.&#8221; tutur Lie Fei dengan baju besi berat yang masih tetap dipakainya.<br />
&#8220;Terjang!!!&#8221; teriak Yelu Xian dengan segera.<br />
Ketiga orang dari atap segera turun dan maju ke depan dengan ilmu ringan tubuh yang tidak kalah tingginya dari mereka bertiga.</span></p>
<p><span>Pengejaran pun sudah dilakukan oleh ketiganya. Adalah di satu sudut dari Wisma ini. Terlihat di depan adalah terdapat pagoda pemujaan yang sungguh sangat luas adanya. Tetapi di belakang pagoda sepertinya telah menunggu seseorang. Dia berdiri dengan sangat agung sambil menantikan ketiga orang yang kabur itu menuju ke tempatnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Di depan terdapat hawa yang sangat dahsyat&#8230;.&#8221; tutur pemuda berpakaian emas dan memegang golok dalam keadaan berlari kencang. Tiada lain tentunya pemuda ini adalah Xia Jieji asli adanya. Dia sudah sejak awal berada di ruangan. Dengan sedikit penyamaran sebagai pengawal partai, sebenarnya dia juga ikut dalam aksi yang dipimpin pencuri ulung kali ini.</span></p>
<p><span>Kedua orang temannya segera berhenti saja karena bukan Jieji seorang saja yang merasakan adanya keanehan di depan. Mereka berdua tahu, kali ini tentu kesemuanya harus diselesaikan lewat pertarungan.<br />
Jieji sudah merasakan bahwa hawa di depan itu yang masih berjarak sekitar 1/2 li bukan hawa manusia sembarangan. Lawan terhebat yang pernah ditemuinya tentu adalah Yue Liangxu. Tetapi Yue tidak pernah sekalipun menggunakan semua kemampuannya ketika mereka bertarung.<br />
Namun, orang di depan ini sungguh berbeda. Dari jauh saja, mereka bertiga memang sudah merasakan bahwa lawan di depan bukan orang yang mudah dihadapi.</span></p>
<p><span>&#8220;Pendekar di depan&#8230; Tunjukkanlah dirimu&#8230;.&#8221; tutur Pencuri ulung sambil menggunakan tenaga dalam tinggi untuk memanggil ke arah pagoda.</span></p>
<p><span>Sementara itu, ketiga pengejar juga sudah sampai. Ketiganya berdiri mentereng menghadap ke arah Jieji bertiga. Jarak mereka terpaut juga tidak begitu jauh paling 30 kaki saja.<br />
Dengan tanpa bersuara diikuti angin santai yang berhembus. Seseorang sudah sampai juga disana. Sekarang terlihat 3 orang di belakang, dan 1 orang di depan sudah menantikan.</span></p>
<p><span>Adalah Jieji dan Yunying yang cukup merasa terkejut melihat pemandangan di depan mereka. Seorang tua berdiri dengan rambut terurai memutih. Wajahnya sekilas terlihat agung. Dia memegang tongkat di sebelah kiri tangannya dan di sebelah tangan kanan sepertinya memegang sebuah bola kristal. Matanya bersorotkan sebuah sinar memerah sarat dengan pembunuhan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetua&#8230;. Mereka bertiga adalah penyusup&#8230; Entah apa tujuannya, tetapi wanita berpakaian ungu itu adalah adik seperguruanku&#8230;&#8221; tutur si baju besi sambil memberi hormat ke depan.</span></p>
<p><span>Orang tua ini tersenyum mengangguk saja. Lantas tidak berapa lama, dia berkata.<br />
&#8220;Apa tujuan kalian bertiga kemari?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kami hanya datang untuk meminjam kakus. Setelah selesai, kita bertiga akan meninggalkan tempat ini. Apa ada yang aneh?&#8221; tutur Lie Hui alias pencuri ulung.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakus? Bukankah kakus ada di belakang rumah? Kenapa kalian malah beranjak ke depan?&#8221; tutur orang tua ini yang sempat bergaya cukup aneh. Dia mengerutkan alisnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.<br />
Sebenarnya tindakan orang tua ini memang terasa sangat aneh betul. Hanya Jieji yang mengerti apa maksud perkataannya. Dia berkata kepada kedua temannya dengan pelan.<br />
&#8220;Orang tua ini bukan orang sembarangan. Hawa di tubuhnya juga mengandung hawa pemusnah raga..&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tahu benar. Dahulu ketika dia bertarung hebat melawan Li Zhu di hutan misteri mongolia. Dia juga merasakan hawa yang sama antara orang tua ini dengan Li Zhu, Kaisar Ai Di dari Dinasti Tang.<br />
Terlihat Yunying dan Lie Hui mengangguk perlahan saja. Lantas Lie Hui dengan berani menjawab kepada orang tua.<br />
&#8220;Di belakang kakus itu sudah dipakai oleh ketiga teman kita di belakang ini. Sekarang setelah membuang hajat, lantas kita ingin meninggalkan tempat.&#8221; </span></p>
<p><span>&#8220;Oh? Jadi begitu?&#8221; tutur orang tua ini. Lantas dia mengayunkan tangannya pelan ke depan. Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Berbareng ayunan dan lambaian tangannya ke depan. Segera muncul hawa luar biasa dahsyat berwarna unguh kehitaman yang sangat kencang mengancam Lie Hui. Tentu Jieji dan Yunying segera terkejut luar biasa.<br />
Adalah Jieji sangat tanggap adanya, dengan mengayun tangannya juga. Hawa yang datang secepat kilat itu telah buyar. Dan alhasil, hawa pembuyaran itu segera meretakkan tanah di sekitar mereka radius 30 kaki lebih.</span></p>
<p><span>&#8220;Hebat anak muda&#8230;. Jurus 18 telapak naga mendekam milik Pei Nanyang alias Zeng Qianhao betul jurus hebat.&#8221; tutur orang tua ini sambil tersenyum ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji memandang lurus ke depan. Dia merasakan hawa energi yang telah membuat tangannya kesemutan itu memang dahsyat sekali. Ini adalah cara menyerang dari Ilmu pemusnah raga. Dan kemampuan orang tua ini jelas tidak di bawah Li Zhu pikirnya.<br />
Tadinya Jieji menggunakan jurus ketujuh dari Ilmu 18 telapak naga mendekam. Dia memindahkan energi dahsyat itu ke tanah dan mengakibatkan tanah sudah retak hebat sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi jurus tingkat kedua pemusnah raga anda juga tidak kalah hebatnya&#8230;&#8221; tutur Jieji membalas dirinya tentu sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Orang tua ini tertawa terbahak-bahak. Lantas dia mengatakan.<br />
&#8220;Tidak disangka ketua partai pengemis, Yuan Jielung juga berada disini. Ini akan menjadi sebuah pertarungan yang sungguh mengasyikkan&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Orang tua mengira Jieji adalah Yuan Jielung adanya. Tentu perkiraan orang tua membuat Jieji tidak kalah senangnya. Tetapi dia tidak menunjukkan kesenangan di hatinya itu. Tentu lebih bagus orang mengiranya adalah Yuan Jielung ketimbang orang tahu dia adalah Xia Jieji sendiri menurut pemuda ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita kepung mereka semua, aku ingin tahu seorang Yuan Jielung bisa berbuat apa?&#8221; tutur &#8220;Xia Jieji&#8221; palsu itu sambil menunjuk ke depan.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau pergi dahulu&#8230; Aku akan melindungimu&#8230;&#8221; tutur Jieji pelan kepada Lie Hui alias pencuri ulung. Jieji tahu bahwa dia adalah yang paling lemah diantara mereka bertiga.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung sambil mengerutkan alis.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita berdua tidak akan ada apa-apanya disini&#8230; Tenang saja&#8230;&#8221; tutur pemuda kembali.</span></p>
<p><span>Yunying mengiyakan dengan mengangguk kepalanya perlahan.<br />
Memang benar, pencuri ulung segera melepaskan bom asap sekali ini lagi. Dengan bersamaan dengan bom asap. Ketiga orang di belakang dan seorang kakek di depan terlihat mundur 10 langkah. Pencuri ulung dengan ilmu meringankan tubuh hebat, segera beranjak ke samping.</span></p>
<p><span>Tetapi&#8230;<br />
Jieji merasakan sebuah hawa yang dahsyat yang segera mengikuti pergerakan Lie Hui itu. Dengan tidak ayal, dia segera melayang secepat kilat juga untuk melindunginya.<br />
Sementara itu, ketiga orang yang tadinya di belakang sepertinya juga mengejar seorang Lie Hui yang ingin kabur.<br />
Ketiganya merasakan hal yang sama yaitu sebuah energi seakan meninggalkan tempat dari tanah tempatnya berpijak.</span></p>
<p><span>Dengan teriakan hebat, Jieji segera memutar lengan kananya setelah merasakan hawa hebat itu berada di sampingnya.<br />
Orang tua tidak mengejarnya. Tetapi dia merapal sebuah jurus penyerangan jarak jauh untuk &#8220;melumpuhkan&#8221; pencuri ulung yang mencoba kabur.<br />
Dengan gerakan sangat cepat dan kuat, gelombang energi yang menyerang itu segera dipentalkan ke arah penyerangnya. Dan sesaat kemudian, terdengar ledakan dahsyat.<br />
Karena kepulan asap masih hebat, tidak ada yang tahu suara ledakan itu terjadi karena hal apa.</span></p>
<p><span>Namun dari arah belakang punggung, Jieji sudah merasakan tiga buah tapak yang segera di arahkan ke sasarannya. Memang benar kali ini cukup gawat bagi pemuda. Karena baru saja dia mengeliminasi energi kakek tua. Ketiga orang lainnya sudah menyerangnya secara dahsyat.</span></p>
<p><span>Sungguh sangat kontras sekali. Asap memang sudah menyebar kemana-mana. Dan di tempat lapangan luas itu tidak ada orang yang bisa melihat satu sama lainnya lagi. Kesemua orang yang menyerang maupun bertahan hanya seperti bertarung dalam keadaan tutup mata.</span></p>
<p><span>Adalah di saat yang terasa sangat berbahaya sekali bagi Jieji. Dia merasakan adanya &#8220;hawa lain&#8221; yang membelakangi dirinya. &#8220;Hawa baru&#8221; ini membantunya dengan menahan energi ketiga orang yang tadinya sempat mengancam dari arah punggungnya.<br />
Siapa lagi orang yang datang terakhir ini selain Yunying.</span></p>
<p><span>Tiga buah tapak lawan, segera membentur energi yang dahsyat dengan segera. Disini, kelima orang memang sedang melayang di antara kepulan asap yang sangat pekat itu.<br />
Begitu energi saling bergebrak, sungguh hebat sekali keadaan disana.Karena seakan terjadi gempa yang sangat dahsyat dengan sesegera.</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying memang sedang melayang turun.<br />
Tetapi sebelum benar dia turun. Dia sudah merasakan sebuah hawa di bawah kakinya.<br />
Sepertinya orang tua tadinya segera beranjak untuk menantikannya turun. Jieji segera terkejut. Tetapi dia segera merapal jurus ke tendangannya.</span></p>
<p><span>Orang tua memang benar sudah pas berada di bawah tempat turunnya Jieji. Dia sudah menyiapkan tapak untuk menghantam ke atas. Jieji segera merapal jurus tendangannya yang sudah lama dipelajarinya. Segera saja, beribu tendangan segera di arahkan ke bawah.<br />
Tetapi Yunying yang berada di sampingnya juga tidak kalah sigapnya. Mengetahui bahwa orang tua bukanlah lawan yang mudah dihadapi. Segera dia merapal tapak untuk di arahkan ke bawah.</span></p>
<p><span>Kali ini&#8230;<br />
Benturan energi dahsyat kembali terjadi untuk sekali lagi. Hasilnya Jieji memang menggunakan tendangan mayapada dan tendangan matahari untuk melayani tapak lawan.<br />
Pertahanan orang tua memang sangat hebat sekali, sebab beribu tendangan yang dikeluarkan dalam sekejap sepertinya bisa ditahan dengan sempurna sekali. Tetapi ketika hantaman tapak lain yang menyusul itu telah membuat orang tua terpental. Ini bisa dilihat dari suara gesekan kaki yang hebat merusak tanah di sekitar.</span></p>
<p><span>Sungguh sibuk sekali Jieji dan Yunying kali ini. Sebab ketika baru saja mereka mendarat, ketiga energi kembali datang secara bersamaan di asap tebal.<br />
Merasakan hal demikian, Jieji membisiki Yunying dengan cepat.<br />
&#8220;Gunakan semua kemampuan, buyarkan energi melalui tanah&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying mengerti maksud Jieji dengan sangat baik. Dengan cepat pula, dia menarik nafas dan menghempaskan ke tanah tempat mereka berpijak. Apa yang dilakukan Yunying segera diikuti oleh Jieji. Keduanya merapal jurus terbaik mereka masing masing untuk di arahkan ke tanah mereka berpijak.</span></p>
<p><span>Ketika hantaman telah menuju ke tanah. Gempa luar biasa telah muncul. Kali ini gempa jauh lebih dahsyat 10 kali dari hantaman sebelumnya.<br />
Energi membuyar dahsyat segera saja terjadi. Adalah ketiga orang dan orang tua sekarang malah sibuk luar biasa. Mereka segera mundur cepat seakan &#8220;dikejar&#8221; oleh energi yang membuyar hebat ke seluruh penjuru. Keempatnya seperti sibuk mengeliminasi energi yang sangat dahsyat. Keempatnya sempat tidak percaya ada hal sedemikian di dunia.</span></p>
<p><span>Sebab gempa ini selain dahsyat, juga membawa suara terpecah atau runtuhnya sesuatu di sekitar sana. Dan silih berganti terdengar saling menyahut suara yang cukup aneh itu.</span></p>
<p><span>Tidak berapa lama, asap sudah membuyar pula. Adalah keempat orang berdiri dengan tegak terlihat. Masing-masing seperti terpisah satu lingkaran penuh yang jaraknya hampir 1/2 li masing-masing.<br />
Ketika mata mereka sudah bisa melihat sekitarnya, alangkah terkejut keempat orang ini.</span></p>
<p><span>Di tengah memang terdapat sebuah lubang berbentuk lingkaran yang cukup besar. Tanah berpijak sudah menjadi retak bagai sesuatu benda besar jatuh. Dan&#8230;<br />
Semua pagoda di sana sudah runtuh dan rata dengan tanah.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini&#8230;. Tidak mungkin&#8230;.&#8221; tutur pemuda berwajahkan &#8220;Xia Jieji&#8221; itu sambil melongo. Dari hidung dan bibirnya telah terlihat darah mengalir yang belum berhenti. Ini adalah bukti bahwa pemuda telah terluka dalam.<br />
Tetapi bukan saja pemuda menyerupai Xia Jieji yang demikian saja. Yelu Xian juga mengalami hal yang sama, dan si topeng besi juga tahu bahwa dirinya terluka dalam cukup parah.</span></p>
<p><span>Sedang orang tua itu sempat melihat sekelilingnya, dia memang tidak mengapa-ngapa. Tetapi keringat dingin segera mengucur dari dahinya ke bawah.</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying yang memanfaatkan pentalan energi dahsyat ke tanah, sudah lenyap tak berbekas. Tidak ada orang disana yang tahu mereka lari kemana. Tetapi yang jelas itu bisa terjadi karena keempat orang ini tidak lagi sempat untuk merasakan hawa manusia karena sibuknya mereka mengeliminasi energi yang menuju ke arah masing-masing.</span></p>
<p><span>&#8220;Wanita itu adalah orang yang sama dengan orang yang menghancurkan Wisma Jiu Qi kita, serta yang memporak porandakan Partai Jiu Qi kita yang berada di Tibet serta India.&#8221; tutur orang tua itu sambil menengadahkan kepalanya.</span></p>
<p><span>Ketiga orang ini segera berkumpul satu sama lainnya. Jarak mereka terpisah memang sudah sangat jauh sekali satu sama lain. Sekarang ketiga orang ini kembali mendekati. Sementara itu, para pengawal dari Wisma Naga emas yang mendengar ledakan sudah mulai berkumpul di daerah tempat pemujaan pagoda leluhur. Jumlah mereka mungkin hampir 100 orang. Tetapi kesemuanya seakan tidak percaya dan melongo menyaksikan pemandangan di depan mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Jika saja Yuan Jielung bergabung bersama gadis hebat itu, maka kita dalam kesusahan tinggi.&#8221; Tutur &#8220;Xia Jieji&#8221; itu kepada orang tua.</span></p>
<p><span>&#8220;Oleh karena itu, kau harus cepat berlatih tapak buddha Rulai tingkat kesembilan. Dengan begitu, meski keduanya bergabung bersama Xia Jieji sekalipun mereka tidak ada apa-apanya.&#8221; tutur orang tua.</span></p>
<p><span>Tetapi Yelu Xian segera menyambung perkataannya.<br />
&#8220;Bukan saja mereka bertiga. Meski bersama Zhao Kuangyin, Dewa Lao dan Sun Shulie mengeroyokmu seorangpun. Mereka bukanlah tandingan kita.&#8221;<br />
Dia menuturkan sampai disini, kemudian terlihat mereka berempat segera tertawa terbahak-bahak.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Jieji dan Yunying beserta pencuri ulung memang sudah kembali ke gubuk di sebelah barat daya kota Anlu seminggu setelah kejadian di Wisma Naga Emas. Mereka bertiga sepertinya duduk sambil berunding.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tahu siapa orang tua itu?&#8221; tanya Jieji ke arah pencuri ulung.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia adalah seorang tetua dari dunia persilatan. Dahulu dia sudah menghilang sangat lama, tidak disangka bahwa dia ada di Wisma naga emas.&#8221; jawab pencuri ulung dengan mengerutkan alisnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetua dunia persilatan?&#8221; tanya Yunying kemudian yang cukup heran. Dia tahu bahwa orang tua bukan orang yang sama sekali mudah dihadapi.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Dan dia mempunyai hubungan juga denganmu. Sekitar hampir 40 tahun yang lalu&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung dengan melihat ke Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji memandangnya dengan cukup heran. Dia segera berpikir. Sekitar 40 tahun yang lalu adalah dirinya mungkin belum lahir. Tetapi ketika orang ini mengatakan bahwa dia mempunyai hubungan dengannya, tentu dia tahu adalah mungkin waktu dia masih balita. Lantas dia menanyainya.<br />
&#8220;Lantas ada hubungan apa aku dengannya?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Nyawa&#8230;.&#8221; jawab pencuri ulung sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>Sesaat&#8230;<br />
Jieji terkejut luar biasa. Kemudian dia berusaha mengendalikan dirinya dahulu, dan segera berpikir. Dia tahu bahwa ketika dirinya masih bayi, dia terkena racun pemusnah raga. Lantas dari sini dia berpikir. Dan tanpa perlu waktu lama, dia sudah mengingat sesuatu. Dia mengingat kembali perkataan Kyosei, bawahan sekaligus kepercayaan ayahnya itu. Dia segera terkejut ketika sepertinya mendapati sesuatu.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia &#8230; Seorang tabib sakti?&#8221; </span></p>
<p><span>Pencuri ulung menganggukkan kepalanya.<br />
&#8220;Sungguh aneh memang. Dahulu Chen Yang memang adalah seorang tabib sakti sekaligus adalah adik kandung Chen Shou, Dewa Tabib. Tetapi dia sekarang menguasai Ilmu pemusnah dengan cukup baik, maka sangat diherankan.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Dia memiliki hubungan baik dengan ayahku. Tentu menurutku selain dia adalah murid Dewa Ajaib, maka dia pasti ada hubungannya dengan Dewa Bumi&#8230;&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul perkataan saudara Xia. Sekarang masalah sepertinya makin rumit&#8230;<br />
Entah apa maksud partai Jiu Qi mencari wanita yang persis wajahnya dengan Yuan Xufen. Dan yang terlebih aneh lagi, entah apa maksud kesemua orang itu. Yang jelas seperti yang saudara Xia katakan, mereka sepertinya sedang memanfaatkan Huo Xiang. Tetapi apa tujuan mereka pula.&#8221; kata pencuri ulung sambil berpikir keras.</span></p>
<p><span>&#8220;Penyelidikan kita memang juga membuahkan hasil. Setidaknya kita tahu bahwa mereka terdiri dari 4 orang.&#8221; tutur Jieji kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagaimana menurutmu? Jika mereka di tambahkan seorang Huo Xiang. Apa kalian berdua memiliki keyakinan menang?&#8221; tanya pencuri ulung kepada mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak tahu&#8230;<br />
Tetapi jika bertarung dengan benar saat itu. Kita semua paling seimbang. Jika ditambahkan Huo Xiang di pihak mereka, kita tidak memiliki keyakinan sama sekali&#8230;&#8221; tutur Jieji seraya berpikir.</span></p>
<p><span>Adalah ketika mereka sedang memeras otak dengan sangat tajam satu sama lainnya. Mereka dikejutkan oleh suara seseorang.<br />
&#8220;Bagaimana kalau bersama kita berdua?&#8221;</span></p>
<p><span>Suara orang sangat agung dan berkharisma. Hebatnya orang-orang yang datang ini sama sekali tidak diketahui mereka kesemuanya. Lantas dengan mengalihkan pandangan ke depan pintu. Ketiga orang ini girang luar biasa sekali.</span></p>
<p><span>Dua orang pemuda masuk ke dalam gubuk. Kedua orang ini dikenal oleh mereka bertiga pula.<br />
Disini, Jieji sangat girang sekali mendapati orang paruh baya yang tingginya 6 kaki, wajahnya bersinar terang agung, matanya tajam bagai rajawali dan senyum di wajahnya sungguh sangat ceria.</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak pertama? Bagaimana kau bisa sampai di sini?&#8221; teriak Jieji 1/2 heran mendapati Zhao Kuangyin berada disini, di Persia.<br />
Sedangkan di samping Zhao kuangyin terlihat seorang pemuda gagah lainnya. Wajahnya berbentuk petak dan terlihat kharisma luar biasa juga muncul dari dirinya, tubuhnya kokoh dan cara berdirinya sungguh sangat terlihat agung.<br />
Dia tidak lain adalah Yuan Jielung, ketua perkumpulan pengemis.</span></p>
<p><span>Tetapi bagaimana keduanya bisa sampai disini memang cukup mengherankan kesemuanya. Pencuri ulung memang mengenali mereka berdua, meski keduanya tentu hanya mengenalinya sebagai Lie Hui saja.<br />
Adalah Yunying orang yang paling terkejut. Dia tidak tahu harus ngomong apa, jika saja Zhao kuangyin memanggilnya &#8220;adik ipar&#8221; atau semacamnya yang bisa mengkaitkan dirinya sebagai isteri Xia Jieji. Entah apa yang harus dilakukannya.</span></p>
<p><span>Jieji segera menyilakan kesemuanya duduk di meja yang memang cukup besar itu. Setelah tamu baru ini sudah duduk dengan benar, Zhao bertutur dengan wajah yang penuh kegembiraan.<br />
&#8220;Adik kedua&#8230; Sungguh dirimu betul hidup dengan sangat baik disini. Kakak pertama sungguh merindukanmu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kakak pertama, apakah anda tidak berada di perbatasan untuk mengusir Liao atau Han utara lagi? Kenapa kau bisa tiba bersama pendekar Yuan?&#8221; tutur Jieji yang agak heran, dia menatap Yuan Jielung sebentar.<br />
Yuan memberi hormat secara mendalam kepadanya. Kemudian, Jieji juga bersikap sangat hormat kepada ketua perkumpulan pengemis dari daratan tengah ini.</span></p>
<p><span>&#8220;Daratan tengah sudah aman sentosa. Liao sudah berjanji melakukan gencatan senjata.&#8221; tutur Zhao sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ha?<br />
Kenapa bisa Liao berubah pikiran untuk tidak lagi berperang dengan Sung lebih lanjut?&#8221; tanya Jieji yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Han utara sudah kalah habis-habisan. Pasukan Sung sudah berhasil menyerang ke Taiyuan (Ibukota Han Utara) dan telah merebutnya. Terakhir Raja Liu Jiyuan juga sudah bertekuk lutut kepada Sung.&#8221; tutur Zhao kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Benarkah? Sungguh baik sekali jika begitu&#8230; Berarti memang benar bahwa Liao sudah kehilangan pengaruhnya, dan Yue Liangxu benar sudah tewas?&#8221; tanya Jieji kembali ke kakak pertamanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Melalui taktik-nya Yumei, Sung berhasil menggebrak Ibukota Taiyuan hanya dalam 3 minggu. Han utara menyerah, sedangkan Liao yang dipimpin oleh Yelu Xian sudah mundur kembali ke wilayah mereka.&#8221;<br />
tutur Zhao kuangyin masih dengan wajah yang penuh kegembiraan.</span></p>
<p><span>&#8220;Yumei? Adik kecilku-lah yang mengatur penyerangan ke Han utara?tanya Jieji dengan agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul..<br />
Dengan taktik mundur dari utara Shandang, Han utara mengejar kita.<br />
Kita sempat melepas kota Shandang yang sudah diungsikan penduduknya, semuanya adalah hampir sama dengan taktik adik kedua ketika berperang melawan He Shen belasan tahun yang lalu dan diulang oleh Yumei.<br />
Tetapi berbareng dari kota Ye, pasukan Sung yang dipimpin Zhao Kuangyi menyerang ke Taiyuan. Bersama anggota pengemis dan prajurit Tongyang dari kediaman oda yang dipimpin Kyosei. Dalam 3 minggu saja, ibukota Han utara, Taiyuan bisa dipukul jatuh.</span></p>
<p><span>Saat Taiyuan sedang digempur, pasukan yang dipimpin Liu Ji-yuan sebenarnya berada di kota Shandang. Menerima kabar Taiyuan sedang dalam bahaya hebat, Liu langsung melepas kota dan pulang hendak menolong ibukota. Tetapi dalam perjalanan pulang, kita dan para pasukan menggempurnya hebat dan terakhir sanggup menangkap Liu Jiyuan.&#8221; tutur Zhao kuangyin panjang lebar untuk menceritakan keadaan peperangan di garis depan utara dari tapal batas Sung.</span></p>
<p><span>&#8220;Liu tentu tidak pernah menyangka bahwa serangannya kali ini ke Sung malah berakibat fatal. Tetapi apakah kakak pertama tahu kenapa Liao yang merupakan koalisi dari Han utara tidak membantunya sama sekali?&#8221; tanya Jieji kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan-jangan benar bahwa Yelu Xian ada disini?&#8221; tutur Zhao yang langsung keheranan.</span></p>
<p><span>Tetapi Jieji segera menjawabnya.<br />
&#8220;Disini memang telah terdapat banyak hal yang janggal.&#8221; Kemudian pemuda menceritakan semua kisahnya ketika menyelidik Wisma Naga Emas, disana dia mendapati Yelu Xian. Hanya betul ini adalah Yelu Xian asli atau tidak, tiada yang bisa tahu.</span></p>
<p><span>Mereka segera berpikir satu sama lainnya. Lantas Zhao kembali bertutur kepada adik angkatnya.<br />
&#8220;Sungguh aneh? Mereka menginginkan Yuan Xufen? Apakah benar mereka tidak tahu bahwa Yuan Xufen sudah tiada 20 tahun yang lalu?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Memang hal ini betul membuatku pusing. Aku tidak bisa mendapatkan ide kenapa mereka masih mengejar Xufen?&#8221; tutur Jieji sambil terlihat nada-nya marah.</span></p>
<p><span>Pencuri ulung yang tadinya hanya diam-diam saja kemudian berkata.<br />
&#8220;Yuan Xufen adalah seorang wanita yang luar biasa cantik sejagad. Dari dahulu, selain nona ini terkenal di Changsha. Dia juga sudah terkenal di Tibet dan India.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji melongo ke arah pencuri ulung. Dia lantas mengerutkan alisnya sambil menanyainya.<br />
&#8220;Apa jangan-jangan mereka sama sekali tidak tahu bahwa Yuan Xufen sudah meninggal. Dan tentu kabar tentang meninggalnya ia, tidak diketahui oleh mereka semua sehingga membuat mereka ingin mencarinya lagi?&#8221;</span></p>
<p><span>Tetapi mendengar kata-kata Jieji, pencuri ulung segera tertawa hebat. Cara tertawanya membuat kesemua orang cukup heran.<br />
&#8220;Xia Jieji&#8230; Kenapa tiba-tiba kau bisa berubah menjadi setolol ini?<br />
Bahkan aku yang tinggal di Persia saja dahulu sudah mendapat kabar tentang meninggalnya Yuan Xufen. Bagaimana mungkin mereka, Partai Jiu Qi yang tersebar ke seluruh negeri anggotanya tidak tahu hal sedemikian.&#8221;</span></p>
<p><span>Kata-kata Pencuri ulung bagaikan siraman air dingin memenuhi kepalanya sesegera. Dia lantas bertutur.<br />
&#8220;Dengan begitu&#8230; Kemungkinan orang yang ingin mencari &#8220;Yuan Xufen&#8221; adalah orang yang maniak?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Anggap saja begitu dahulu&#8230;&#8221; tutur pencuri ulung sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>Zhao melihat cara keduanya berbicara. Sesaat, dia melihat ke arah Lie Hui. Dia merasa mengenal wanita cantik ini. Dia berpikir sesaatnya kemudian. Tentu Zhao masih mengenalnya sebagai salah satu orang di antara 15 pasukan pengawal adik kandungnya.<br />
&#8220;Pendekar Lie Hui, mengapa anda bisa sampai kesini?&#8221; </span></p>
<p><span>Lie Hui alias pencuri ulung segera tertawa terbahak-bahak mendengar Zhao kuangyin memanggilnya Lie Hui. Jieji segera menyelanya dan dia berkata kepada kakak pertamanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia adalah pencuri ulung yang terkenal itu&#8230; Dia sedang merubah wajahnya&#8230;&#8221; tutur Jieji kepada kakak pertamanya.</span></p>
<p><span>Zhao kuangyin dan Yuan Jielung cukup kaget melihat &#8220;nona palsu&#8221; ini. Sebab mereka tidak menemukan kejanggalan sama sekali di wajahnya yang merupakan penyamaran.<br />
Adalah Yunying yang dari tadi terlihat &#8220;takut&#8221; jika saja Zhao kuangyin memanggilnya. Oleh karena itu, dia tetap menunduk saja.</span></p>
<p><span>Lantas, memang benar Zhao memang memandang ke arahnya. Yunying tidak berani melihat ke arah Zhao. Dengan begitu, dia tetap menunduk saja.<br />
&#8220;Jangan-jangan adik ipar ini juga????&#8221; tanyanya seakan tidak percaya.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum saja kepadanya. Dia memperkenalkan wanita ini yang dikenalnya sebagai wanita bertopeng yang pernah muncul di daratan China.<br />
Zhao segera berpikir hebat mendengar penuturan adik angkatnya itu. Dia dan Sun Shulie pernah membahas tentang wanita bertopeng yang memiliki Ilmu silat hebat ini ketika mereka berada di utara kota Shandang. Saat itu, mereka berdua memang mengiranya adalah Yunying karena kemampuan Yunying sejak tidak sadarkan diri setelah Jieji meninggalkan Beiping memang sudah luar biasa.</span></p>
<p><span>Sekarang di depannya, dia memang melihat wanita cantik yang berwajahkan adik iparnya kontan juga heran. Sesaat, dia berpaling ke arah Jieji. Dia sedang berpikir sebenarnya adik keduanya sedang memikirkan apa. Tidak mungkin bahwa Jieji yang meminta pencuri ulung untuk mengganti wajah wanita bertopeng ini. Lantas dia memang tidak berniat menanyainya terlebih dahulu karena masih ada masalah lain yang kiranya lebih penting.<br />
&#8220;Adik kedua&#8230; Kamu tahu siapa yang menunjukkan tempat ini kepada kita?&#8221;<br />
tanya Zhao kemudian sambil melihat ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya adalah Dewa Lao yang menunjukkan tempat ini sehingga kakak pertama dan pendekar Yuan kemari..&#8221; kata Jieji sambil memandang ke arah kakak pertamanya.</span></p>
<p><span>Zhao tersenyum puas saja mendengar pernyataan adik keduanya.</span></p>
<p><span>Yuan Jielung alias Li Yu segera bertutur sambil tersenyum.<br />
&#8220;Betul sekali&#8230;<br />
Tetua Lao berkata bahwa kalian disini mengalami kesulitan. Adalah juga tetua Lao yang menunjukkan bahwa para pendekar sekalian pasti berada disini. Kita sudah sampai kemari seminggu yang lalu, tetapi karena tidak kelihatan orang di gubuk. Kita berjalan ke kota Lin Qi untuk menyelidik. Tetapi hasilnya adalah nihil sehingga kita berdua langsung balik kemari. Tetapi karena merasakan adanya orang, maka dengan gerakan ringan kita melihat siapa saja orang di dalam&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum kepada Yuan. Tetapi kemudiannya, dia menunduk sambil menghela nafas. Yuan Jielung yang melihat tindakan Jieji segera saja menghela nafas. Dia tahu benar apa maksud Xia Jieji yang bertindak demikian.<br />
Adalah karena Jieji kembali berpikir tentang Zeng Qianhao, guru Yuan sendiri.</span></p>
<p><span>Pencuri ulung segera memberikan komentar kemudian.<br />
&#8220;Dengan adanya kedua pendekar disini, maka sudah sangat baik. Pertarungan anda yang tinggal 1 bulan lagi sepertinya tidak ada masalah yang berarti.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum saja. Lantas dia berpaling ke arah kakak pertamanya. Dia menanyainya.<br />
&#8220;Kakak pertama&#8230;<br />
Apakah ada kabar Yunying dari Tongyang?&#8221;</span></p>
<p><span>Zhao yang mendengar kata-kata ini, tidak bisa menjawabnya. Dia berpikir keras, apakah harus mengatakan bahwa Yunying &#8220;hilang&#8221; dari wisma Oda sudah beberapa tahun lalu. Dia sejenak bingung sendiri.</span></p>
<p><span>Jieji adalah orang yang pintar. Melihat kakak pertamanya sepertinya tidak begitu mau menjawabnya, dia sudah menebak beberapa hal.<br />
&#8220;Apakah sesuatu terjadi kepadanya??&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak.. Dia di sampingmu saja&#8230;..&#8221; tutur Yunying dalam hati yang melihat ke arah Jieji. Dia tersenyum dengan wajahnya, tetapi kemudian dia terlihat menundukkan kepalanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230; Adik ipar tidak ada apa-apa&#8230; Hanya saja, kita belum menemukan jejaknya&#8230;&#8221; tutur Zhao kuangyin dengan berhela nafas.</span></p>
<p><span>Jieji yang mendengar penuturan kakak pertamanya lantas terlihat sibuk. Dia berpikir dengan keras, kenapa Yunying ingin meninggalkan Tongyang Wisma Oda. Dia berpikir saat terakhir dia bertemu dengan Yunying lagi. Wajah isterinya memang bukanlah senyuman yang terlihat. Tetapi adalah keanehan yang sungguh susah diukir dengan kata-kata. Selain itu, Jieji juga berpikir saat Yunying sedang meninggalkannya di padang pasir Mongolia kuno. Isterinya itu memang pergi dalam keadaan yang marah.<br />
Sekarang mendapati keterangan bahwa isterinya tidak ada di Tongyang tentu membuatnya cukup bingung.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi selain adik ipar yang hilang, adik ketiga juga sama. Dia &#8220;menghilang&#8221; sudah cukup lama sekali&#8230;&#8221;<br />
tutur Zhao kemudian yang membuyarkan keheningan.</span></p>
<p><span>Jieji memandang kakak pertamanya dengan wajah yang sangat heran. Dia tidak habis pikir juga, dimana Wei Jindu sekarang berada.</span></p>
<p><span>&#8220;Terakhir, dia pergi ke barat untuk mencari tetua Pei yang sudah beberapa bulan tidak ada kabarnya. Dia pergi bersama Huang Xieling dan sampai sekarang tidak pernah lagi ada kabar beritanya.&#8221; tutur Zhao sambil menghela nafasnya.</span></p>
<p><span>Jieji kali ini &#8220;dipaksa&#8221; untuk memainkan otaknya. Apakah mungkin Wei kembali ke Tibet bersama Huang Xieling? Tetapi tentu dalam jangka waktu yang 2 tahun lebih itu seharusnya sudah ada kabar beritanya. Tetapi kenapa sampai sekarang bahkan bayangannya saja tidak pernah memberikan kabar.<br />
&#8220;Kakak pertama&#8230;<br />
Apakah hal yang terjadi ketika kamu memberikan Ilmu tapak berantai kepadanya?&#8221; tanya Jieji kepada kakak pertamanya Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>Zhao lantas mengingat kembali.<br />
Jieji memang memberikan salinan kitab tapak berantai kepada Zhao kuangyin yang untuk kemudiannya diserahkan kepada Wei Jindu. Semua hal ini adalah ditulis Jieji sebagai wasiatnya kepada Zhao untuk menjalankan pesan ketiga dari kantong emas.</span></p>
<p><span>Wasiat Jieji yang ketiga adalah meminta Zhao Kuangyin menyerahkan salinan kitab tapak berantai yang sudah ditulisnya kepada Wei Jindu. Selain itu, Jieji juga meminta Zhao untuk tidak menceritakan banyak hal kepada Yunying. Sebab Jieji sudah mengira bahwa dengan kepergian dirinya ke tembok kota Beiping, maka dia harus menebus dengan nyawanya disana.<br />
Jieji lebih memilih isterinya, Wu Yunying membencinya daripada tahu hal yang sebenarnya yaitu semua hal yang rumit itu dilakukan untuk tiada lain hanya untuk menolongnya.</span></p>
<p><span>Jika saja Yunying tahu dirinya telah tiada, dan tahu kesemuanya adalah dilakukan deminya, tentu Yunying akan mengalami rasa penyesalan sepanjang hidupnya. Melainkan jika Yunying marah, tentu dia tidak akan menjadi frustasi menurut pemuda. Setelah lama,memang Yunying akan menyadarinya. Tetapi lebih bagus semua telah berjalan baik baru Yunying menyadari hal ini lebih baik. Daripada langsung tahu keadaan sebenarnya dari Jieji.</span></p>
<p><span>Tetapi justru hal perkiraan Jieji benar berbeda sekali. Dia sekarang malah hidup dengan baik tanpa kekurangan sesuatu apapun.</span></p>
<p><span>&#8220;Memang buku salinan itu sempat kuberikan kepada adik ketiga. Tetapi&#8230;<br />
Di luar dugaan, dia menolaknya. Dia mengatakan lebih bagus berikan saja kepada kakak ipar&#8230;&#8221; tutur Zhao menjelaskan.</span></p>
<p><span>Jieji yang mendengar kata-kata ini bagai disambar geledek. Dia tidak habis pikir bahwa buku salinan kitabnya ternyata diberikan kepada Yunying. Di dalam hatinya dia sepertinya mendapati sesuatu hal yang membuatnya sekarang tidak begitu tenang jadinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi apa benar Yunying mempelajari ilmu dari salinan tapak berantai?&#8221; tanya Jieji dengan cukup penasaran kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Itulah hal yang tidak kita ketahui. Yang jelas setelah buku itu dikembalikan, adik ipar hanya terlihat menyimpannya saja. Mengenai ilmu tapak dipelajarinya atau tidak, itu tidaklah kuketahui. Memang ada masalah jika benar dipelajari ilmu tapak itu?&#8221; tanya Zhao yang segera heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada kejanggalan&#8230;<br />
Jika Yunying betul mempelajarinya, aku takut sesuatu terjadi kepadanya.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Kesemuanya kontan terkejut mendengar tuturan Jieji. Seakan tidak percaya kesemuanya melihat dengan serius ke arah Jieji. Terlebih lagi Yunying asli ini yang duduk hanya terpaut 3 kaki darinya. Wanita nan cantik ini tidak begitu mengerti maksud dari pada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebenarnya formula dari ilmu tapak berantai memang sudah kuganti. Tapak berantai yang kusalin tidak sama dengan yang kupelajari.<br />
Sebagai mana contoh dari tapak berantai ku adalah bersifat normal dalam semua ilmu 4 unsur yang terdapat di dalamnya.<br />
Dahulu, Li Zhu pernah menyusun tapak pemusnah raga menjadi berat di kekuatan. Sedangkan dari formula tapak itu, aku menyusunnya menjadi bersifat menghancurkan.&#8221; tutur Jieji kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Lantas apa masalahnya?&#8221; tanya Zhao yang cukup heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Nah&#8230;<br />
Disini, sifat adik ketiga adalah penyabar yang luar biasa. Meski dia menggunakan tapak berantai yang kusalin, maka dia tentu tidak akan sembarangan merusak dengan tenaga dalam-nya. Jika saja Yunying yang mempelajari, takutnya&#8230; Takutnya dia berubah menjadi setan penghancur&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi memang benar kenapa ilmu ini disebut ilmu pemusnah raga adalah betul sekali. Sebab ketika seorang yang telah mempelajarinya, seakan raganya sudah bukan miliknya lagi. Hanya batinnya dan tenaga dalam dirinya yang betul mengontrol dirinya sepenuhnya?&#8221; tanya Zhao kuangyin kepada Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Oleh karena itu, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa ilmu ini berbahaya.&#8221; tutur Jieji.</span></p>
<p><span>Jieji memang tidak pernah tahu bagaimana hasil dari tapak berantai salinan baru itu. Adalah Yunying yang tahu dengan benar. Ilmu barunya ini memang sangat sejalan dengan Ilmu semestanya, hanya saja dia juga pernah berpikir bahwa daya rusaknya sudah kelewatan hebat. Apalagi sekarang tenaga dalamnya jelas sangat tinggi bagaikan tanggul yang jebol.</span></p>
<p><span>&#8220;Semua jurus yang penting adalah daya rusaknya, kenapa justru dikhawatirkan?&#8221; tanya pencuri ulung dengan agak penasaran.</span></p>
<p><span>&#8220;Memang benar&#8230;<br />
Tetapi sifat isteriku tidak sama dengan Wei Jindu. Sifat isteriku kadang-kadang bisa menjadi seorang pemarah yang berbahaya. Dahulu, aku telah menyalurkan tenaga dalamku beserta tenaga dalam Yue Liangxu kepadanya. Jika dia benar mempelajari Ilmu tapak berantai salinanku, kutakut betul akan gawat sekali.&#8221;<br />
tutur Jieji sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>Sekarang pencuri ulung telah mengerti. Dia segera tersenyum puas. Dia berpikir bahwa tuturan main-mainnya yaitu &#8220;Xi-Shi&#8221; betul-betul menjadi kenyataan, mengingat daya rusak wanita cantik ini memang betul luar biasa.</span></p>
<p><span>Yunying yang mendengar tuturan Jieji, tentu mendongkol hebat. Dia tidak begitu puas mendengar bahwa dia dikatakan seorang pemarah yang berbahaya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Guru mengatakan bahwa adik ipar masih hidup dengan baik. Adik kedua tidak usah khawatir&#8230;&#8221; tutur Zhao kemudian sambil menepuk pelan pundak Jieji dan tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Kita juga melihat bahwa sebenarnya isteri pendekar Xia berada di barat, di daerah sini juga.&#8221; tutur Yuan dengan tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span>Jieji heran mendengar kata-kata terakhir dari Yuan. Lantas dia menanyainya.<br />
&#8220;Maksudnya?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Kita pernah melihat bintang pendekar di utara kota Shandang. Inipun karena paksaan dari nona kecil Yumei. Dewa Lao terakhir mengabulkannya, kita melihat bahwa bintang isteri pendekar bersinar terang sekali dan di belakang bintang isteri pendekar malah muncul bintang pendekar Xia yang juga sama terangnya. Dewa Lao mengatakan bahwa kalian sama berada di satu tempat.&#8221; tutur Yuan dengan polos kepada Jieji.</span></p>
<p><span>Mendengar hal ini, Jieji hanya menjawab pelan saja.<br />
&#8220;Jadi begitu?&#8221;<br />
Kemudian dengan cepat, dia mengalihkan pembicaraan ke hal lain.</span></p>
<p><span>Yunying sekarang sangat takut. Dia tidak berani memandang Jieji, tangannya yang dikepalkan terasa basah akibat berkeringat dingin. Sebab semua kata-kata mereka-lah yang tidak sengaja membongkar identitasnya.<br />
Tetapi Jieji disini sama sekali tidak melihatnya. Dia memandang kakak pertamanya, kemudian dia bertutur.<br />
&#8220;Pertarungan dengan Huo Xiang bakalan tidak lama lagi. Dan Huo telah menguasai pemusnah raga seharusnya sudah cukup mantap. Dengan begitu hal yang dikhawatirkan disini sekarang sudah berkurang banyak. Kita disini terdiri dari 5 orang, begitu juga dari pihak mereka 5 orang.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Partai bunga senja bukanlah partai yang bisa kita anggap remeh, mereka sudah menguasai pemerintahan. Selain itu, di daerah tibet. Mereka telah menyiapkan pasukan untuk menyerang ke kota Chengdu. Ini adalah sebuah hal yang betul harus diperhatikan juga.&#8221; tutur Lie Hui kemudian kepada mereka.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Dalam perjalanan kemari, kita sama sekali tidak melihat adanya pasukan yang sudah terbentuk. Heran sekali&#8230;&#8221; tutur Zhao kuangyin menjawab Lie Hui.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu tidaklah heran. Sebab mereka semua sekarang pasti ada di puncak pegunungan Kunlun. Ketika kalian lewat, tentu tidak pernah menyadari bahwa adanya cukup banyak orang di atas pegunungan.&#8221; sahut Lie Hui.</span></p>
<p><span>Zhao kuangyin tersenyum kepadanya. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Aku sudah mengutus Wang Pangchi, Shi Soxing, Wang Zhenzhong dan Yang Guangyi berempat untuk menyelidiki sisa perjalanan kita dari daerah Tibet. Sedangkan Lu Xuqing, Chu Zhaobu, Pang Mei bertiga memeriksa sisa perjalanan kita dari India. Dan Shen Yileng, Mi Xin, Tian Zhongjing memeriksa sisa perjalanan kita di daerah persia.&#8221;<br />
Nama-nama orang yang disebut oleh Zhao Kuangyin tiada lain adalah ke-10 orang pengawalnya yang juga memiliki ilmu silat yang tinggi. Ke-10 pengawalnya juga adalah jenderal kepercayaan yang sudah mengikutinya lebih dari 30 tahun.<br />
Sisa perjalanan yang dimaksudkan oleh Zhao kuangyin adalah apakah benar ada orang yang mengikuti mereka atau tidak sampai disini. Zhao adalah orang yang sungguh teliti, dia tidak ingin ada yang tahu apa yang sedang dilakukannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sungguh orang mengatakan bahwa Sung Taizu adalah orang yang sangat cermat sekali. Tidak melihatnya maka aku tiada percaya.&#8221; tutur Pencuri ulung diikuti oleh tertawanya.</span></p>
<p><span>Zhao terlihat tersenyum saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku rasa sebaiknya kita pun beristirahat dahulu. Sebab sepertinya sudah lumayan sore.&#8221; tutur pencuri ulung sambil berdiri dan terlihat dia merenggangkan badannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Baiklah&#8230;&#8221; tutur Jieji. Dia segera akan mengatur tempat tinggal untuk kedua orang ini.<br />
Tetapi Zhao menolaknya, dia berkata.<br />
&#8220;Sebenarnya ketika kita sampai disini, sempat juga membersihkan sebuah rumah kecil tepatnya 2 li saja dari sini.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji heran juga. Lantas Zhao kembali menyambung.<br />
&#8220;Aku mengutus 3 orang pengawalku untuk membersihkan tempat tinggal itu sehingga sudah layak ditinggali. Dari sini kesana hanya 2 li arah ke barat saja dik. Tenang saja&#8230;<br />
Dan besoknya aku akan kemari lagi&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Tempat tinggal yang disebut oleh Zhao kuangyin tiada lain adalah tempat tinggal Sun Shulie dahulunya. Dia merasa lebih baik dirinya tinggal disana sementara waktu sambil menunggu waktu 1 bulan lagi.<br />
Jieji lantas memberi hormat kepada keduanya. Sepertinya kedua orang ini bergerak dengan pelan saja ke depan. Sampai keduanya sudah hilang dari pandangan, Jieji baru beranjak kembali.</span></p>
<p><span>Dia tidak kembali ke kamarnya. Melainkan dia terlihat sedang menunggu seseorang di kamar lainnya. Siapa lagi yang ditunggu oleh pemuda ini selain seorang wanita. Seorang wanita yang banyak pertanyaan yang harus di tanyakannya secara langsung.</span></p>
<p><span>Tetapi wanita ini sepertinya &#8220;tidak berani&#8221; pulang. Sejak Jieji mengantarkan kakak pertama dan ketua kaibang ke depan, dia tidak terlihat batang hidungnya lagi. Entah kemana wanita ini tiba-tiba menghilang.</span></p>
<p><span>Sudah lewat 3 jam&#8230;<br />
Akhirnya pemuda yang menunggu ini juga mendapatkan hasil. Dia merasakan seorang yang telah ditunggunya itu sudah balik ke kamar pula. Memang tindakannya tentu dinilai tidak sopan oleh sesiapapun karena menunggu di kamar seorang wanita memang tidaklah pantas. Tetapi dia sudah tahu sebagian besar hal ini semenjak perbicangan tadinya. Oleh karena itu, sebelum wanita membuka pintu untuk masuk. Pemuda mendahuluinya dulu.</span></p>
<p><span>Dia membuka perlahan daun pintu kamar sebelah kirinya&#8230;<br />
Wanita ini memang masih terlihat sama dengan wajah sebelumnya. Di tangan wanita terpegang sebuah mangkok yang sedang tertutup. Dengan kedua tangannya, dia berjalan perlahan ke depan. Dan tiba-tiba saja, dia berlutut. Kepala wanita ini menunduk dan tak berani memandang pria pujaannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Seharusnya aku sudah tahu bahwa&#8230;..&#8221;<br />
tutur Jieji sambil menengadahkan kepalanya dan menghela nafas panjang.</span></p>
<p><span>Wanita memang masih belum berani menengadahkan kepalanya untuk melihat. Dia terlihat berlinangkan air mata.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu berdirilah&#8230; &#8221; tutur Jieji sambil membimbingnya.<br />
&#8220;Tidak pernah sekalipun aku menyalahkan dirimu&#8230;&#8221; Kemudian pemuda melihat dalam ke mata isterinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku.. Aku&#8230;.&#8221; wanita ini hanya bisa mengucapkan beberapa kata saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah&#8230; Kau pergi membeli mie kesukaanku lagi? Kita duduk berdua saja dan kongsi kita makan habis. Bagaimana?&#8221; tutur Jieji sambil menghapus air mata yang turun dari matanya.</span></p>
<p><span>Lantas sambil tersenyum, Yunying menganggukkan kepalanya.<br />
Tadinya Yunying mengira bahwa Jieji akan marah kepadanya. Lantas dia segera menuju ke kota Lin Qi untuk membeli makanan kesukaannya seraya menyenangkan hatinya. Tetapi perkiraannya kali memang salah. Jieji bukan saja tidak marah, tetapi dalam hatinya dia merasa sangat iba sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku tidak mampu melindungi isteriku&#8230;<br />
Sebagai kepala keluarga, maka semua itu adalah kesalahanku&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil meminta maaf kepadanya.</span></p>
<p><span>Tetapi Yunying menggelengkan kepalanya. Tangisannya belumlah berhenti. Lantas dengan lirih, dia berkata.<br />
&#8220;Dahulu memang semua adalah kesalahanku. Aku terjebak oleh fitnah palsu dari ibuku tentang dirimu. Aku menyadari semuanya adalah ketika diriku sudah di Tongyang. Ternyata ayahku jauh hari sudah berada di sana dengan selamat. Selain itu, kakak-kakakku juga berada di sana dengan keadaan selamat.<br />
Kemudian mereka menceritakan tentang dirimu, tentang sepak terjangmu yang menyelamatkan mereka di Shaolin. Saat itu, aku benar telah mengerti.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji menghela nafas ketika teringat akan kejadian tempo dulu. Mie yang baru saja disantapnya beberapa kali, ditinggalkannya. Dia segera duduk di sebelah isterinya dan sambil merangkul sang isteri untuk menyandar ke bahunya. Dia berkata.<br />
&#8220;Itu adalah soal lalu, tidak usah diungkit lagi. Bukankah aku hidup dengan sangat baik disini?&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;<br />
Kenapa kamu begitu nekatnya? Aku tidak habis pikir tentang semua hal yang dilakukan olehmu&#8230;&#8221; Yunying menolaknya sebentar, dia memandang ke mata suaminya.</span></p>
<p><span>Jieji terlihat menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.<br />
&#8220;Aku tidak ada cara lain lagi. Sebenarnya di tembok kota Beiping, aku ingin menyelamatkanmu, tetapi dayaku sangat lemah. Maka daripada itu, aku hanya memikirkan cara terakhir yang akhirnya melukai dirimu. Ini adalah dosaku yang tidak bisa diampuni. Tadi kukatakan bahwa seharusnya aku melindungi, tetapi malah aku menyakitimu.&#8221;</span></p>
<p><span>Yunying memandangnya dengan cukup lama. Lantas dia berkata.<br />
&#8220;Ini adalah keputusanmu. Dan sebagai isterimu, tentu aku harus dan wajib untuk menerimanya. Meski saat itu aku mati, dan mengetahui niatmu betul adalah untuk menyelamatkanku, aku pun sangat rela.&#8221;</span></p>
<p><span>Pemuda yang mendengar kata-kata yang pilu dari isterinya, terlihat mendekapnya kembali. Dia tidak berkata apa apa hingga waktu yang lama.<br />
&#8220;Dahulu&#8230; Aku telah mencelakai kakak-mu. Sekarang setelah kejadian itu, aku berjanji. Meski seberapa sulitpun atau harus sampai kehilangan nyawa, aku tidak akan melukaimu lagi.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Hush.. Ngomong jangan yang tidak-tidak. Baik-baik kenapa harus bilang menanggung nyawa atau apa. Kenapa kamu tidak menanyaiku bagaimana aku bisa dari Tongyang yang jauh sampai disini?&#8221; Tutur Yunying yang terlihat sifat manjanya kembali.</span></p>
<p><span>Yunying memang orang yang sangat jago dalam mengubah situasi. Dia tahu, jika pembicaraan pilu ini dilanjutkan maka tidak akan ada habisnya. Dia tahu betul bahwa sang suami memang benar menyayanginya dengan segenap hati. Lantas, dengan mengalihkan pembicaraan ke arah yang hangat dia berusaha untuk &#8220;menghidupkan&#8221; hati suaminya itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Adalah hal ini yang sejak daritadi ingin kutanyakan&#8230;&#8221; tanya Jieji ke arahnya dengan wajah yang cukup heran dan terlihat penasaran.<br />
Memang taktik Yunying adalah taktik hebat. Dia mengerti suaminya dengan sangat baik. Hidup 3 tahun bersamanya di Tongyang sedikit banyak sudah membuatnya sangat memahaminya. Asalkan ada sesuatu yang bisa membuatnya merasa &#8220;heran&#8221; dan ingin berpikir. Maka sang suami sepertinya tidak mempedulikan hal yang lain terlebih dahulu.</span></p>
<p><span>Yunying tertawa kecil karena selain melihat wajah suaminya yang berubah itu juga karena dia merasa bahwa &#8220;taktik kecilnya&#8221; ini telah berhasil.<br />
&#8220;Tadi&#8230; Kakak pertama memang mengatakan bahwa adik ketiga tidak ingin buku salinan tapak berantai-mu. Semua itu adalah hal yang benar.<br />
Kakak pertama sempat meneliti buku salinanmu beberapa saat di utara kota Shandang sebelum aku balik ke Tongyang. Tetapi setelah dia meneliti beberapa lama, dia mengatakan bahwa diriku-lah orang yang paling cocok mempelajarinya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Sebab karena tenaga dalammu sudah sangat tinggi. Dan jika tidak diimbangi oleh Ilmu yang lebih dahsyat maka menjadi sia-sia saja. Begitu kata kakak pertama kan?&#8221; tanya Jieji sambil tersenyum kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Betul&#8230;<br />
Lantas dia memang menyerahkan kepada adik ketiga. Tetapi meminta adik ketiga untuk membuat salinannya 1 buku lagi. Dengan begitu, adik ketiga mendapat 1 buku dan diriku </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/339/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/339/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/339/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=339&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan dan kaisar 12</title>
		<link>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-12/</link>
		<comments>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-12/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 00:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abanstn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bacaan silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abanstn.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[yaitu adanya isu lain. Isu tersebut mengatakan bahwa sinar &#8220;emas&#8221; yang merupakan sesuatu yang luar biasa telah sampai di Iran(persia). Sebuah negeri di barat yang nun jauh sekali. Sesaat, diingatnya pesan dari pada Xue hung yang memintanya ke daerah barat untuk meninjau sesuatu disana. Tetapi, Jieji lebih mengutamakan untuk berkumpul kembali terlebih dahulu dengan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=325&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-325"></span></p>
<p><span>yaitu adanya isu lain. Isu tersebut mengatakan bahwa sinar &#8220;emas&#8221; yang merupakan sesuatu yang luar biasa telah sampai di Iran(persia). Sebuah negeri di barat yang nun jauh sekali.</span></p>
<p><span>Sesaat, diingatnya pesan dari pada Xue hung yang memintanya ke daerah barat untuk meninjau sesuatu disana. Tetapi, Jieji lebih mengutamakan untuk berkumpul kembali terlebih dahulu dengan para teman-temannya di kota Ye. Oleh karena itu, siang malam dia melanjutkan perjalanan kembali ke kota Ye.</span></p>
<p><span>Xia Rujian, Hikatsuka Oda, Yelu Xian dan Zhu Xiang telah berhasil melatih ilmu pemusnah raganya Qin Shih Huang. Meski tenaga dalam mereka belum sekuat untuk mendalami secara penuh. Namun keempat pendekar tersebut telah sangat berbahaya bagi Jieji dan kawan-kawannya. Ditambah lagi dengan seorang Yue Liangxu yang telah sangat tinggi kungfunya, maka mereka berlima telah termasuk jago yang tiada tandingan di kolong langit.</span></p>
<p><span>Kelima pendekar mengirim surat tantangan untuk bertarung kepada Zhao kuangyin dan kawan-kawannya pada bulan pertama hari Imlek, yaitu 15 hari setelah surat tantangan dikirimkan.<br />
Pei Nanyang serta Yuan Jielung yang mendengar tantangan tersebut juga berniat ikut ke daerah utara Bei Ping. Surat tantangan mereka berlima sengaja di gembar gemborkan dengan sangat luas. Entah apa maksud kelima pendekar dari Liao tersebut, tetapi tentu setiap langkah mereka tiada-lah hal yang benar baik.</span></p>
<p><span>Imlek penanggalan China, hari pertama.<br />
Pendekar dari daratan tengah yaitu Zhao kuangyin, Wei Jindu, Sun Shulie, Yuan Jielung, Pei Nanyang, Huang Xieling serta Dewa Ajaib telah sampai di daerah tersebut. Namun mereka dikejutkan dengan banyaknya para pendekar dunia persilatan yang telah berada disana untuk menyaksikan pertarungan lima pendekar daratan tengah melawan lima pendekar dari Liao tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian sudah datang?&#8221; seru Xia Rujian dari atas tembok kota Bei Ping yang megah tersebut.</span></p>
<p><span>Sesaat, semua pendekar yang berkumpul sepertinya membuka jalan untuk orang yang baru datang tersebut. Di antara orang yang baru saja sampai tersebut, oleh para pesilat. Mereka hanya mengenal Yuan Jielung seorang yang merupakan ketua Kaibang yang kesohor itu.<br />
Zhao kuangyin berjalan paling depan diikuti oleh Pei Nan yang dan Yuan Jielung. Sedangkan Sun Shulie alias Ming Ta beserta Wei Jindu, Xie Ling dan Dewa Ajaib mengikuti dari belakang.</span></p>
<p><span>Zhao menatap tajam keatas saja. Sebelum dia hendak berkata, dia dipotong kembali oleh suara Rujian kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Dimana anakku? Kenapa dia tidak datang bersama dengan kalian?&#8221; Kata Xia Rujian dengan senyuman penuh arti.</span></p>
<p><span>Zhao hanya bungkam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Xia Rujian. Tetapi sesaat, dia melihat beberapa orang telah muncul disamping Xia Rujian. Adalah Yue Liangxu, Ye Luxian, Zhu Xiang, Hikatsuka Oda dan istrinya juga Wu Shan Niang telah berada di sana.</span></p>
<p><span>&#8220;Dimana kakak ipar?&#8221; tanya Wei Jindu sambil melihat ke atas, ke sekeliling tembok kota Bei Ping tersebut. Maksud Wei sendiri adalah Yunying. Istri dari Xia Jieji.</span></p>
<p><span>Wu Shanniang segera menarik Yunying keluar. Sepertinya Yunying sedang di totok oleh mereka semua. Entah apa maksud yang terkandung, tetapi sudah jelas bahwa Yunying kali ini tentu dijadikan perisai/tameng mereka semua.</span></p>
<p><span>&#8220;Licik!!!!&#8221; teriak Sun Shulie dengan marah.<br />
Zhao hanya melihat ke arah Yunying yang kelihatannya tiada semarah saat berada di gurun pasir. Wajahnya terlihat murung dan seakan dirinya menganggap bahwa dirinya sendiri tiada punya harapan hidup lagi.</span></p>
<p><span>&#8220;Oh? Kalian sengaja menyimpan Jieji?&#8221; Tanya Hikatsuka dengan senyuman yang sulit di mengerti.</span></p>
<p><span>Zhao mengangkat tangannya untuk mencegah orang berkata lebih lanjut. Dia bermaksud memainkan sandiwara.</span></p>
<p><span>&#8220;Adik kedua telah menuju ke arah utara&#8230;&#8221; Jawab Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Utara?&#8221; kata Xia Rujian sambil keheranan. Sesaat, dia pandang ke arah Hikatsuka.</span></p>
<p><span>&#8220;Jangan-jangan???&#8221; kata Yue Liangxu yang cukup terkejut juga.</span></p>
<p><span>&#8220;Pasti dia menyerang tangsi Liao kita&#8230;.&#8221; teriak Ye Luxian yang terkejut. Wajahnya langsung membiru.</span></p>
<p><span>Tetapi Hikatsuka tiada berpandangan begitu, sesaat. Dia mengeluarkan jarinya untuk menghitung-hitung. Tiada berapa lama, dia tertawa sangat jenaka. Tentu sikapnya sangat mengherankan siapa pun yang berada di sana. Teman-temannya lantas heran saja.</span></p>
<p><span>Sebenarnya Zhao kuangyin sedang berbohong untuk menipu, setidaknya hal tersebut bisa membuat goncang hati para lawannya yang sedang berada di atas. Dan jika benar saja Jieji sampai di tangsi tentara Liao, tentu mereka berlima mau tidak mau harus &#8220;pulang&#8221; dan tiada berani bertarung lagi meski hanya karena 1 kalimat yang keluar dari mulut Zhao kuangyin. Akan tetapi, di antara mereka semua. Masih terdapat seorang Hikatsuka Oda yang sangat jago menghitung dan sungguh orang yang termasuk sangat pintar adanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa kau tertawa?&#8221; tanya Yue Liangxu setelah tertawanya Hikatsuka Oda mereda.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia ingin menipu kita&#8230;&#8221; Tunjuk Hikatsuka ke arah Zhao kuangyin.<br />
&#8220;Jieji 15 hari yang lalu masih berada di Luo Yang. Dan sehebat apapun anakku itu, dia tidak akan sanggup sampai ke tangsi kita dalam waktu yang hanya 15 hari. Meski dia memiliki 1 bulan pun, mungkin belum akan sempat sampai ke Heilong Jiang. Oleh karena itu aku tertawa&#8230;.&#8221; jawab Hikatsuka dengan keyakinan tinggi.</span></p>
<p><span>Mendengar penjelasan Hikatsuka, semua pendekar disana lantas bertepuk tangan kagum.<br />
Zhao yang dibawah telah tahu bahwa rahasianya terbongkar. Mau tidak mau dia harus berhadapan dengan mereka secara langsung.</span></p>
<p><span>&#8220;Sekarang ada daya upaya apa lagi yang meski kamu lakukan?&#8221; tanya Hikatsuka ke arah Zhao kuangyin.<br />
Zhao hanya diam saja, dia menatap ke atas dengan tajam ke arah mereka.</span></p>
<p><span>Sedang Dewa Ajaib yang berada di belakang sebenarnya telah tidak sabar lagi. Segera saja dia unjuk gigi. Dengan kecepatan yang luar biasa tinggi, dia mendaki tembok kota Bei ping.<br />
Dewa ajaib bukanlah pendekar kacangan, kecepatannya sebenarnya tidak kalah dibanding dengan 5 orang pendekar di atas.<br />
Namun kelihatannya para pendekar di sana sama sekali tidak ambil pusing. Mereka benar menunggu Dewa Ajaib untuk sampai disana. Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Sebelum Dewa ajaib menginjak tembok kota, Zhu Xiang telah datang secepat kilat ke tempat yang seharusnya dewa ajaib akan sampai sambil merapal tapaknya untuk diarahkan ke bawah. Melihat hal tersebut, Wei Jindu kontan terkejut. Dia mengenal jurus yang akan dikeluarkan Zhu Xiang, kakak seperguruannya itu. Inilah jurus ke 6 dari Tapak Buddha Rulai yang hebat tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Awas Dewa Ajaib!!!!&#8221; teriak Wei.</span></p>
<p><span>Dengan adanya suara dari Wei, Sun Shulie segera melepaskan pedang besar yang dipikulnya. Lalu dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia menyusul ke arah Dewa Ajaib.<br />
Dan memang benar, tapak Zhu Xiang segera menuju ke arah dada dari Dewa Ajaib. Sebuah hawa tapak yang luar biasa keras telah mendekati ke arah dada dari Dewa Ajaib.</span></p>
<p><span>Dewa Ajaib sendiri tidak pernah tahu bahwa di dunia masih ada jurus yang demikian hebat untuk melakukan penyerangan dari atas kebawah. Sepertinya dia telah kelihatan pasrah saja di samping terkejut, tetapi dia tetap mengarahkan tapak untuk melawan jurusnya Zhu Xiang. Posisi Dewa Ajaib sungguh sangat riskan. Jika dia terpental akibat laga tenaga dalamnya melalui tapak dengan Zhu Xiang, maka dia pasti tewas karena terjatuh dengan kondisi kepala menghantam tanah mengingat jarak posisinya dengan tanah masih sangatlah tinggi.</span></p>
<p><span>Semua hadirin disana tentu sangat terkejut melihat hal tersebut. Bahkan ada beberapa yang menutup mukanya karena sangat terkejut untuk menyaksikan seorang tua bakal jatuh dengan otak berhamburan di tanah.<br />
Sesaat, terdengarlah suara tapak berlaga yang sangat dahsyat. Dan memang benar, posisi Dewa ajaib tentu akan terjatuh dengan kepala menghadap ke bawah. Tenaga dalam yang beradu tadinya membuat Zhu Xiang terpental 4 langkah kebelakang. Tetapi, Dewa Ajaib malah semakin melesat menuju ke tanah.</span></p>
<p><span>Hanya 10 kaki sebelum Dewa Ajaib jatuh ke tanah, dia merasakan adanya tenaga dalam yang berputar hebat di pundaknya. Dewa Ajaib sempat berputar tiga kali kemudian dia dilemparkan seseorang dan mendarat ke tanah dengan baik sekali. Dewa ajaib mengalami luka dalam yang cukup serius, terlihat dia memuntahkan darah yang tidak sedikit. Tetapi memang dasar orang tua konyol, dia terlihat tersenyum geli ke arah penolongnya.</span></p>
<p><span>Semua hadirin yang melihat tindakan pemuda berusia 30 tahunan menjadi sangat kagum. Bagaimana dia mampu menahan berat seorang yang jatuh dari ketinggian 40 kaki dengan sangat tenang.</span></p>
<p><span>Tetapi, kelima pendekar beserta Wu Shanniang dan ibunya Jieji sangat terkejut. Mereka tidak menyangka adanya pendekar hebat lagi di kubu lawan.<br />
&#8220;Sungguh mata tiada terbuka&#8230; Ha Ha&#8230;..&#8221; terdengar tawa Hikatsuka Oda.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa kau?&#8221; tanya Yue Liangxu dengan tajam ke bawah ke arah Sun Shulie.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia adalah Sun Shulie alias Ming Ta. Putera terakhir dari keluarga Ming.&#8221; jawab Xia Rujian.<br />
Xia Rujian memang mengenal tampang pemuda tersebut. Selain itu, sebenarnya Liao juga mempunyai mata-mata yang cukup banyak di daerah daratan tengah. Maka tiada heran, Xia Rujian telah mengenal pemuda berusia 30 tahunan tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, denganmu kita juga punya dendam meski kau sendiri tiada pernah tahu&#8230;&#8221; kata Ye luxian sambil menunjuk ke arahnya.</span></p>
<p><span>Sun hanya menatap tajam ke atas tanpa berkata-kata, di matanya tersirat banyak arti yang mendalam sambil melihat ke arah Yelu Xian.</span></p>
<p><span>&#8220;Lalu bagaimana pertarungan ini? Apa kalian hanya mengirim surat tantangan kepada kita dengan cara sia-sia belaka seperti ini?&#8221; tanya Zhao kuangyin kemudian memecahkan keheningan sementara di lapangan tembok kota itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagus&#8230; Kelihatannya kalian telah tiada sabar&#8230; Sebenarnya hari ini berniat memancing kepiting, tetapi yang dapat hanya ikan kecil saja&#8230;&#8221; kata Xia Rujian dengan sangat angkuh.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian berlima pilihlah&#8230; Kita bertarung dalam 1000 jurus. Jika ada yang sanggup menang 3 babak duluan, maka sandera ini menjadi milik kalian&#8230;&#8221; kata Xia Rujian seraya mengarah kan telunjuk ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;&#8230;&#8221; Zhao dan kawan-kawan sepertinya tiada berkata banyak. Sepertinya bagi mereka semua, tiada masalah.</span></p>
<p><span>Sun Shulie sudah tahu apa maksud kelima pendekar tersebut mengajukan tantangan silat yang kelihatannya menguntungkan mereka. Tetapi dia merasa adanya hal yang cukup janggal juga. Sambil tersenyum pahit dia memandang ke atas tanpa berkata apapun.</span></p>
<p><span>&#8220;Kamu tidak menanyainya kalau kalah bagaimana?&#8221; tanya Dewa Ajaib yang agak heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak perlu ditanya, kalau kalah tentu semua kita akan jadi abu&#8230;&#8221; jawab Sun Shulie dengan tenang tanpa berekspresi.</span></p>
<p><span>Pei Nanyang dan Yuan Jielung tentu mengiyakan saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Jieji tidak datang, aku rasa kalian tiada punya peluang untuk menang&#8230;&#8221; kata Yelu Xian.</span></p>
<p><span>&#8220;Meski dia datang dan disini pun, tidak akan mengubah semuanya&#8230; Bukan begitu? Adik seperguruan?&#8221; kata Yue Liangxu kemudian dengan sinis sambil memandang ke arah Yunying.</span></p>
<p><span>Sementara itu, Yunying hanya memalingkan wajahnya untuk tidak melihat ke arahnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Karena kalian adalah tamu, maka kalian boleh memilih siapa yang akan menjadi lawan kalian? Bagaimana?&#8221; teriak Ye Luxian ke arah bawah.</span></p>
<p><span>&#8220;Bagus&#8230;&#8221; jawab Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>Entah apa yang menjadi penyebab kelima orang tersebut sangat yakin mampu menang akan pendekar Sung. Tetapi mungkin saja disebabkan karena mereka sangat yakin akan kemampuan mereka sendiri ataukah ada sesuatu hal yang lainnya?</span></p>
<p><span>Zhao kuangyin dan kawan-kawan segera berunding. Tidak perlu waktu yang lama mereka telah bersepakat.</span></p>
<p><span>&#8220;Adik ipar harus ditolong mau tidak mau. Sekarang adik kedua belum sampai juga. Kita harus membuat keputusan sendiri&#8230;&#8221; kata Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Baik&#8230; Aku akan melayani Zhu Xiang..&#8221; jawab Wei Jindu.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu berikanlah lawanku Hikatsuka..&#8221; kata Pei Nanyang.</span></p>
<p><span>&#8220;Sekarang tinggal Xia Rujian, Yelu Xian dan Yue liangxu. Aku rasa lebih bagus aku bergebrak dengan Yue Liangxu..&#8221; Kata Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu Xia Rujian akan bertarung denganku.&#8221; kata Yuan Jielung kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Dengan begitu lawanku tentu adalah Yelu Xian.&#8221; kata Sun Shulie kemudian.</span></p>
<p><span>Zhao kemudian berteriak ke atas dengan menentukan siapa yang bertarung dengan siapa saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka membuat kita seperti boneka saja&#8230; Kita sepertinya harus menuruti permintaan mereka, terutama dalam penentuan babak.&#8221; tutur Sun Shulie sambil tersenyum melihat ke atas.</span></p>
<p><span>Zhao, dan Pei Nanyang setuju dengan apa yang diucapkan oleh Sun Shulie.</span></p>
<p><span>Dan memang benar apa perkiraan Sun Shulie, mereka mengajukan babak pertarungan. Semua babak pertarungan sungguh merugikan pihak Zhao kuangyin. Karena babak pertama pertarungan dimulai antara Wei Jindu dan Zhu Xiang. Sedangkan babak kedua dilanjutkan dengan Sun Shulie melawan Yelu Xian, dan babak ketiga Zhao kuangyin dengan Yue Liangxu. Babak keempat dilanjutkan Pei Nanyang melawan Hikatsuka Oda, serta babak kelima Yuan Jielung melawan Xia Rujian.</span></p>
<p><span>Disini telah terlihat hal yang sungguh merugikan pihak Zhao kuangyin. Wei Jindu boleh dikatakan sebagai pendekar yang terlemah di antara semuanya. Tetapi dia mendapat lawan tangguh di babak I. Sedang babak kedua, lawan tiada mengetahui seberapa hebat Sun Shulie, maka menurut pandangan mereka bahwa 1 orang Yelu Xian telah sanggup mengatasi Sun Shulie. Dan babak ketiga adalah babak yang paling merugikan Zhao kuangyin dan kawan-kawannya. Semua tahu bahwa Yue Liangxu-lah pendekar tertangguh, tetapi dia-lah yang kemudian akan menjadi penentuan kemenangan mereka.</span></p>
<p><span>Pei Nanyang dan Yuan Jielung adalah 2 orang pendekar yang dianggap paling hebat di antara mereka semua. Tetapi mereka tentunya sengaja untuk mengatur pertandingan mereka berdua adalah yang ke 4 dan ke 5. Jika babak 1,2 dan 3 telah di menangkan, maka tiada gunanya untuk bertarung lebih lanjut lagi pikir mereka. Yuan terlebih lagi, sebab mereka pernah mengeroyoknya berlima namun hasilnya Yuan masih tetap tangguh dengan jurus 18 tapak naga mendekamnya.</span></p>
<p><span>Semua pesilat yang hadir tentunya merasa sangat beruntung sekali sebab mereka bisa menyaksikan kehebatan pertarungan antar pendekar no 1 sejagad itu.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Dimanakah Xia Jieji berada sebenarnya saat pendekar Liao mulai menantang pendekar dari Cung Tu(dataran China). Setelah perjalanannya ke Hefei, dia sangat yakin bahwa Wu Quan dan sekeluarganya masih hidup dengan sangat baik di suatu tempat. </span></p>
<p><span>15 hari sebelum terjadinya pertandingan silat di bawah Kota Beiping&#8230;</span></p>
<p><span>Bertemunya dia dengan pendekar dari Persia membuatnya yakin bahwa Wu sekeluarga sekarang ada di kuil Shaolin.</span></p>
<p><span>Melalui perantara biksu tinggi Wu Huan dari kuil Shaolin, Jieji berangkat dari Luo Yang menuju ke Sung San(Mt. Sung/ Gunung Sung) ke biara ternama Shaolin tersebut. Biksu Wu Huan yang semenjak dahulu cukup kagum akan sikap kepahlawanan Jieji, dari perjalanan kota Luo Yang, mereka banyak berbicara banyak mengenai ilmu kungfu. Sampai banyak hal juga dibicarakan. Mendekati bawah kaki gunung Sung, sepertinya Jieji memperlambat laju kudanya. Wu Huan yang melihat ke arah Jieji, segera menanyainya.</span></p>
<p><span>&#8220;Pendekar Xia sepertinya sangat mencemaskan keluarga Wu?&#8221; tanya Wu Huan yang melihat kondisi Jieji yang sepertinya sering mengerutkan dahinya sepanjang perjalanan itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230; Dengan masih hidupnya keluarga Wu, maka kebenaran akan jelas semuanya. Tetapi adalah hal lain lagi yang membuatku masih cemas benar &#8230;&#8221; tutur Jieji dengan perasaan yang masih bercampur aduk.</span></p>
<p><span>&#8220;Maksud pendekar adalah bahwa Wu Shanniang yang menjadi ibu daripada istri anda? Anda takut bahwa masalah baru akan datang lagi?&#8221; tanya Wu Huan kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Itulah masalah yang utamanya. Tetapi jika Yunying sendiri melihat bahwa ayahnya masih hidup dengan baik, entah bagaimana jadinya? Dan satu hal lagi yang betul mengganggu pikiranku selama ini..&#8221; tutur Jieji dengan terus terang.</span></p>
<p><span>&#8220;Biksu dilarang untuk berpikiran kotor. Maka daripada itu, ada beberapa pendapat saja yang perlu kusampaikan kepada anda. Yunying mungkin hanyalah sandera yang paling berguna nantinya kelak&#8230;&#8221; tutur Wu Huan kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul perkataan Maha biksu.. Tidak peduli bagaimana jadinya, aku tidak akan menyerah untuk mengungkapkan kebohongan tersebut. Aku sudah punya daya upaya tersendiri, hanya saja&#8230;&#8230;.&#8221; jelas Jieji sambil mengerutkan dahinya kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Lakukanlah apa yang paling penting menurut anda. Buddha selalu berada di dalam hati orang yang bekerja sesuai dengan kebenaran. Entah apapun keputusannya, pasti adalah yang terbaik adanya.&#8221; jawab Wu Huan kembali.</span></p>
<p><span>Jieji tersenyum melihat ke arah Wu Huan. Tidak berapa lama, Jieji mengungkit apa yang dilihatnya ketika di panggung batu utara Mongolia, Hutan misteri.<br />
Sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung baju, Jieji memperlihatkan sebuah buku. Dia memberikannya kepada biksu Wu Huan yang berada di atas kuda.</span></p>
<p><span>Wu mengambilnya dengan cermat, dia melihat ke arah buku yang sampul sebelah kirinya tertulis kitab Ilmu Jing Gang. Wu yang melihat sampulnya saja langsung terkejut luar biasa. Keringat dingin di dahinya segera membasahi seluruh mukanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kenapa kitab ini? Kenapa??&#8221; tanya Wu Huan sambil megap-megap.<br />
Wu tahu betul bahwa ilmu tertinggi Shaolin adalah Ilmu Jing Gang. Dia yang melihat buku dengan sampul judul Ilmu Jing Gang tentu membuat sangat terkejut.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak mengapa Biksu&#8230;<br />
Buku ini kutulis dengan sendirinya, kemudian akan kuserahkan ke Shaolin. Sungguh suatu kebetulan yang bagus aku bertemu denganmu&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Wu Huan sungguh bingung sambil melihat ke arah Jieji. Dia ingin berkata, tetapi dari mulutnya sepertinya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.</span></p>
<p><span>&#8220;Buku ini kusalin karena melihat fenomena panggung batu di hutan misteri. Kabarnya Shaolin hanya mempunyai 7 tingkatan ilmu tersebut, namun di panggung batu terpampang 9 tingkatan tenaga dalam Jing Gang-nya Shaolin. Bagaimanapun ini kungfu berasal dari Shaolin, maka menurutku adalah pantas jika di kembalikan saja&#8230;&#8221; tutur Jieji kembali dengan tersenyum.</span></p>
<p><span>Wu Huan yang mendengar penjelasan Jieji, segera merapatkan kedua tangannya beranjali memberi hormat ke arah Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Sungguh anda adalah orang yang bijak sekali. Semoga buddha memberkati anda.&#8221; tutur Wu Huan yang kelihatannya sungguh sangat girang sekali.</span></p>
<p><span>Jieji berkong-ciu (merapatkan kedua tangan dengan menggenggam) untuk memberi hormat ke arah Wu Huan kembali.</span></p>
<p><span>Mereka terus melakukan perjalanan. Sampai sekitar 1 jam kemudian, mereka telah mendekati biara Shaolin yang ternama tersebut.<br />
Tetapi, sebelum benar sampai. Jieji telah merasakan sesuatu yang cukup mengherankan. Dia segera berhenti di tengah jalan. Sambil menatap tajam ke atas.</span></p>
<p><span>Wu Huan yang melihat tingkah Jieji, segera mengatur kudanya untuk mendekati Jieji kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa pendekar muda? Apa sesuatu telah terjadi?&#8221; tanya Wu yang cukup heran melihat tingkah Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Di atas sepertinya sedang berkobar perang&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil menutup matanya untuk berkonsentrasi.<br />
Tidak berapa lama, Jieji membuka matanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kuil Shaolin sepertinya sedang di serang&#8230;&#8221; kata Jieji sambil menunjuk ke atas.</span></p>
<p><span>Wu Huan sangat bingung mendengar apa yang dikatakan Jieji. Kuil Shaolin memang nampak, tetapi dia sendiri tahu masih sangat jauh sekali kuil itu. Mata biasa memang sanggup memandang ke arah kuil. Tetapi besarnya kuil yang nan jauh itu masih tidak sebesar sebutir beras jika dibandingkan. Mungkin hampir mencapai 2 li.</span></p>
<p><span>&#8220;Kita harus cepat!&#8221; tutur Jieji dengan segera menggerakan tali kudanya untuk mendaki gunung Sung.</span></p>
<p><span>Wu Huan yang tiada mengerti apa-apa segera menyusul Jieji dengan cepat juga.</span></p>
<p><span>Tidak sampai 1/2 jam, Jieji telah berada di depan pintu gerbang kuil Shaolin bersama Wu Huan.<br />
Wu adalah orang yang paling terkejut, dia melihat pintu gerbang Shaolin telah hancur di dobrak. Dari agak jauh dia melihat ke dalam, sekitar 20 orang para biarawan sepertinya telah tergeletak bersimbah darah.</span></p>
<p><span>Jieji segera turun dari kudanya dan melaju pesat ke depan diikuti oleh Biksu tua Wu Huan ini. Hanya sekejap, mereka telah berada di lapangan yang cukup luas. Sekitar 20 orang segera dilihat sebentar oleh mereka berdua.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini ilmu tombak persia itu?&#8221; tutur Wu Huan sambil mengerutkan dahinya setelah melihat mayat para biarawan tersebut mempunyai luka yang sama di leher tenggorokan masing-masing.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka telah tewas&#8230;&#8221; tutur Jieji sambil memandang tajam ke dalam. Tetapi dia sendiri tidak ayal, maka segera pendekar ini bergegas masuk ke dalam. Dari arah lapangan, mungkin masih sekitar 2 li lagi baru sampai ke balai utama. Dari balai utama terdengar suara pertarungan, sehingga mereka langsung saja menuju ke sana.</span></p>
<p><span>Di dalam balai utama yang luas tersebut, telah berjatuhan cukup banyak korban. Banyak biarawan yang tidak berdosa tersebut telah hampir memenuhi seluruh ruangan. Sementara itu sepertinya tiang penglari dari kuil pun telah terbacok, tertusuk banyak senjata tajam. Ruangan yang bersih tersebut telah menjadi sungai darah yang telah mengering.</span></p>
<p><span>Di sini tampak 2 orang perempuan sedang memegang golok. Seorang biksu tua sedang merapatkan kedua tangannya dengan cukup bersiaga. Sementara di belakang mereka, tertampak seorang yang tua dengan rambut yang hampir memutih sedang tiada berdaya sambil memegang dadanya sendiri.</span></p>
<p><span>Sedang dari arah depan, terlihat 8 orang yang bersenjatakan tombak panjang. 8 orang pemuda tersebut sepertinya sedang menatap tajam ke dalam.</span></p>
<p><span>Tiada lama, 8 pemuda segera menyerang serempak ke arah Biksu yang di tengah tersebut. Biksu yang melihatnya, segera beranjak maju dengan tapak yang sudah di siagakannya. Sedang kedua wanita muda juga segera melakukan perlawanan.</span></p>
<p><span>Kedua wanita muda sepertinya menggunakan ilmu golok keluarga Wu, dengan cukup tangkas mereka menahan ilmu tombak yang hanya mengincar leher mereka berdua. Hanya dalam beberapa puluh jurus, sepertinya kedua wanita tersebut telah kecapaian. Sebab bagaimanapun mereka bertarung, golok sangat susah melawan senjata tombak yang panjang itu. Golok adalah senjata yang panjangnya sungguh tiada memadai untuk melawan tombak.</span></p>
<p><span>Selain itu, sepertinya tombak orang tidak dikenal ini jauh lebih cepat pergerakannya daripada orang yang mengejar Wu Huan sampai ke Luo Yang beberapa hari yang lalu. Si Biksu tua sepertinya juga mengalami hal yang sama. Dia hanya terlihat menghindar dan sesekali dia menepis tombak yang sangat cepat gerakannya itu. Kedua gadis sementara terlihat sudah sangat lelah sekali. Mereka berdua sepertinya telah menyerahi nasib kepada langit saja.</span></p>
<p><span>Tetapi&#8230;</span></p>
<p><span>Pada saat yang benar genting, pendekar tak dikenal sekalian sepertinya membalikkan badan ke arah pintu besar balai utama tersebut. Hanya berselang sesaat, mereka memutar tombak dengan sangat cepat sekali ke depan. Secara serempak, kedelapan orang tersebut sepertinya ingin menepis sesuatu hawa yang datang sangat cepat dan keras itu. Namun sebelum tombak hampir di arahkan ke &#8220;benda&#8221; yang datang itu. Kesemuanya seakan berbalik arah ke samping. Tanpa tahu di antara 6 orang telah tertampar mulut masing-masingnya. Dan dengan cepat pula mereka berenam terpental menabrak tiang penglari kuil tersebut, lantas jatuh dan bergulingan ke lantai.</span></p>
<p><span>Sementara itu, dua orang lainnya berhasil mematahkan serangan aneh yang hampir tiada berwujud ini. Hanya terdengar suara.</span></p>
<p><span>&#8220;Krakkk!!&#8221; </span></p>
<p><span>Suara yang lumayan keras. Kedua orang yang beruntung ini adalah kedua yang berada paling jauh dari enam orang sebelumnya. Mereka terkaget sebentar ketika melihat benda yang telah menjatuhkan keenam teman mereka sekaligus. Hanya bambu yang sudah terkoyak tersebutlah yang mengarah ke arah mereka sesungguhnya. Keduanya langsung berkeringat dingin mendapatinya. Mereka sempat memandang sesamanya dan sempat memandang sekeliling.</span></p>
<p><span>Dilihat ke arah bawah pijakan lantai di depan mereka. Benda yang merupakan bambu yang terkoyak itulah yang seakan membentuk sebuah tulisan aksara China. Lalu dengan mengamati dengan cermat, maka ke enam bambu yang telah terkoyak tersebut tertulis tulisan &#8220;ENYAH&#8221; (Kuen).</span></p>
<p><span>Keenam orang yang terluka dalam itu telah berangsur berdiri. Mereka juga terheran menatap ke arah pintu yang hanya terlihat cahaya yang agak terang. Tetapi tidak sanggup melihat siapapun sedang berada di sana.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa kau? Keluar tampakkan dirimu&#8230;&#8221; Demikianlah para pendekar tersebut berteriak.</span></p>
<p><span>Tetapi tidak berapa lama, mereka telah merasakan hawa kehadiran seseorang yang sedang berjalan dengan cukup pelan memasuki ruangan balai utama itu. Seorang yang lumayan tinggi besar sedang berjalan dengan sangat berwibawa ke dalam.</span></p>
<p><span>Kontan 8 orang yang melihatnya cukup terkejut. Mereka melihat seorang yang lumayan tua dengan rambut putih yang berurai, di tangan kirinya tergenggam kipas pendek. Sementara itu tangan kanan orang yang datang tersebut hanya membelakangi dirinya sendiri.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa kau?&#8221; teriak salah satu dari ke 8 pendekar tersebut.</span></p>
<p><span>Namun orang yang datang tersebut tiada menghiraukannya. Dia berjalan dengan pelan ke depan untuk melihat keadaan. Sementara itu, mereka semua juga melihat ke arah orang yang datang bersama pendekar aneh tersebut. Seorang biksu tua yang mempunyai wajah yang penuh welas asih.</span></p>
<p><span>Biksu di ruangan tengah yang telah melihat Biksu tersebut segera mengambil jalan melingkar untuk mendekati biksu tua tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Paman guru Wu Huan&#8230;<br />
Maafkan diriku yang tiada mampu ini&#8230;.&#8221; katanya sambil menangis di depan biksu Wu huan tersebut.</span></p>
<p><span>Wu Quan dan kedua puterinya yang melihat ke arah Jieji cukup heran juga. Mereka sepertinya mengenalinya sebagai Jieji. Tetapi kenapa dia bisa berubah begitu dahsyat. Rambut pemuda yang hanya berusia 30 tahunan ini telah hampir memutih semua. Bahkan warna hitam sebelumnya telah berubah menjadi agak keabuan.</span></p>
<p><span>&#8220;Nak Jieji???&#8221; kata Wu Quan yang sepertinya telah terluka dalam parah.</span></p>
<p><span>Jieji hanya memandang sekilas dan tiada lama ke arah ayah mertuanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ayah mertua&#8230; Cukup susah membiarkanmu sendirian disini. Ini adalah kesalahanku&#8230;&#8221; Kata Jieji sambil mengakui.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau!!!&#8221; teriak salah seorang pendekar di antara 8 orang tersebut.</span></p>
<p><span>Jieji langsung melihat dalam ke arah orang yang berteriak tersebut. Di pandangnya pendekar tersebut cukup lama, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah yang lainnya.<br />
Pakaian para pendekar sungguh aneh dan berbeda dengan kaum persilatan umumnya. Pakaian mereka tidak mirip dengan pakaian para jago yang telah mengeroyoknya sendirian di kota Luo Yang tersebut. Tetapi dari sini, Jieji mengambil kesimpulan bahwa ke delapannya adalah pendekar dari Persia karena perawakan orang Persia jelas jauh beda. Orang Persia lebih tinggi bentuk tubuhnya dan kulit mereka pun rada putih dengan hidung yang agak mancung. Sesaat, dia teringat akan murid perempuannya, Huang Xieling.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa kalian semua datang kemari?&#8221; tanya Jieji sambil menatap dalam ke arah mereka satu persatu.</span></p>
<p><span>&#8220;Mereka ingin kita mengeluarkan kitab Jing-gang dan kitab 72 teknik tenaga dalam Shaolin.&#8221; jawab biksu yang lumayan tua yang telah berada di depan biksu Wu Huan tersebut.</span></p>
<p><span>Kitab Jing-gang pernah &#8220;hilang&#8221; dua ratus tahun yang lalu. Lalu tetua Shaolin yang bernama Hui Guan sempat membawanya pulang kembali ke Shaolin, namun Kitab Jinggang-nya Shaolin dari Hui Guan hanya 7 tingkat. Sungguh beruntung Jieji mendapati seluruh ilmu dari kitab tersebut di hutan misteri, Mongolia.</span></p>
<p><span>Sedang ilmu 72 teknik tenaga dalam adalah pelatihan tenaga dalam dasar untuk melanjuti Ilmu tingkat tinggi Shaolin. Sebenarnya kedua Ilmu sakti tersebut harus dibarengi latihannya. Beruntung sekali Jieji sanggup cukup mudah menguasai Ilmu Jing-gang secara lengkap karena di dalam tubuhnya telah terdapat tenaga dalam hawa murni yang luar biasa dahsyatnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini pertanda tidak baik&#8230; Kita tunggu sampai pendekar balai timur sampai, sementara itu kita bisa undur waktu&#8230;&#8221; tutur pendekar yang ditengah tersebut kepada kawannya sambil berbisik setelah melihat keadaan.</span></p>
<p><span>&#8220;Pendekar balai timur? Katakan kenapa banyak sekali orang persia mengacau disini?&#8221; jawab Jieji yang jelas mendengar bisikan sekelompok pendekar itu.</span></p>
<p><span>Ke 8 kontan terkejut, mereka memandang sambil melotot ke arah Jieji yang hanya sendirian itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Apa kata-kata kita telah diketahuinya. Jadi tunggu apa lagi?&#8221; kata seorang lainnya sambil bersiaga dengan tombak di tangannya.<br />
Sementara ke enam orang lainnya langsung &#8220;mencari&#8221; tombak masing-masing yang tadinya terpental mengikuti tuannya yang di&#8221;tampar&#8221; bambu kecil yang lentur itu untuk bersiaga kembali.</span></p>
<p><span>Ke-delapan orang tersebut sepertinya telah siaga dengan benar dan terlihat sangat serius sekali menatap ke arah tengah dimana Jieji berada dengan tenang. Maka mau tidak mau bagi mereka, ini adalah pertarungan hidup mati karena mengetahui musuh di depan mereka bukanlah orang sembarangan.</span></p>
<p><span>Lalu,<br />
tanpa banyak berkata lagi. Mereka berkeliling dengan kecepatan tinggi, sepertinya sedang membentuk formasi. Lalu dengan cepat ke-4 orang langsung menyerang ke arah tengah dengan tombak yang di tusukkan sangat keras dan cepat. Tentu incaran mereka tiada lain adalah tenggorokan lawannya. Kecepatan tombak kali ini jauh lebih cepat daripada ketika pertarungan barusan tersebut. Namun Jieji hanya diam-diam saja sambil menunggu saat yang tepat.</span></p>
<p><span>Wu Quan dan kedua puterinya Wu Linying dan Wu Jiaying kontan berteriak karena terkejut.</span></p>
<p><span>&#8220;Awas!!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Tetapi Jieji hanya diam saja tanpa menunjukkan reaksi apapun. Maka, saat tombak hanya sekira seinci di depan tenggorokannya. Mendadak keempat orang tersebut kehilangan sesuatu. Keempat orang tersebut kontan keheranan. Di dalam ruangan, tiada orang yang mampu melihat apa yang sedang di lakukan Jieji. Bahkan Wu Huan dan Wu Quan hanya melihat Jieji mengibaskan lengan kirinya sebentar. Lalu timbul suara yang cukup berisik menghantam ke tanah.</span></p>
<p><span>&#8220;Trangggg&#8230;.&#8221; beberapa kali.</span></p>
<p><span>Tiada berapa lama, pendekar-pendekar merasa tangan kesemuanya kesemutan sangat. Dan ketika mereka melihat ke depan, mereka sudah tahu bahwa 4 tombak itu telah berada di lantai.</span></p>
<p><span>&#8220;Setan&#8230;.&#8221; kata-kata yang terdengar keluar dari bibir masing-masing. Ke empatnya langsung megap-megap dengan mulut yang tenganga terbuka lebar dan mata yang menyiratkan bahwa adanya &#8220;ketidakpercayaan&#8221; melihat apa yang sedang terjadi di depan mereka.</span></p>
<p><span>Namun sebelum mereka benar sadar. Sesaat saja, keempatnya langsung terpental dengan luka dalam di dada mereka. Keempat orang yang berada di depan tersebut yang mengelilingi Jieji segera terpelanting dan tiada lagi tenaga untuk benar bangkit. Tetapi Jieji tidak benar ingin melakukan pembunuhan. Maka meski keempatnya sepertinya sudah &#8220;tewas&#8221; namun sebenarnya keempatnya telah pingsan tak sadarkan diri.</span></p>
<p><span>Sedang keempat kawan mereka yang di belakang ingin mengambil kesempatan. Jika mereka melihat Jieji beranjak menghindar, maka keempat orang di belakang akan maju menyerang seraya mengepung. Namun, sebelum mereka semua benar bergerak. Maka kawan-kawan mereka telah jatuh tidak sadarkan diri. Mereka hanya sanggup menganga membuka mulut tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.</span></p>
<p><span>Sebenarnya apa hal yang sedang di lakukan Jieji?<br />
Inilah kedahsyatan ilmu pedang tangan kiri Jieji yang baru dilatihnya tiada lama tersebut. Ketika Wu Quan dan Wu Huan melihat dia mengibaskan lengannya. Maka Kipas itu telah bergerak 1 lingkaran penuh dengan kecepatan yang sangat luar biasa yang tidak mampu dipandang mata orang awam maupun pesilat kelas tinggi sekalipun.</span></p>
<p><span>Kipas &#8220;menampar&#8221; tangan keempat penyerangnya. Kemudian dengan gerakan yang tiada terlihat, kipas juga &#8220;menampar&#8221; dada keempat orang yang mengelilinginya itu. Jadi perputaran tenaga Ilmu pedang tangan kiri ini hanya 2 kali dikerahkan saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Enyah-lah&#8230; Tetapi setiap orang harus meninggalkan lengan kanannya disini&#8230;&#8221; tutur Jieji dengan sangat dingin dan berwibawa.</span></p>
<p><span>Tentu keempat orang lainnya sungguh sangat terkejut. Jika saja Jieji menginginkan &#8220;lengan kanan&#8221; mereka semua. Maka apa bedanya mereka dengan orang cacat? Mengingat ilmu tombak adalah ilmu yang mengandalkan 2 buah tangan untuk bergerak secara flexibel dan dinamis itu.</span></p>
<p><span>&#8220;Amitabha&#8230; San Cai.. San Cai&#8230;&#8221; tutur Biksu Wu Huan ke arah tengah seraya menengahi.<br />
&#8220;Pendekar disini meski jahat, tetapi apa bedanya kita para kaum biarawan dengan mereka jika&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Namun, sebelum biksu Wu Huan benar ingin melanjutkan kembali.</span></p>
<p><span>Jieji telah merasakan sesuatu hawa yang sangat kuat sedang mendatangi arah tengah biara.<br />
Lalu Jieji memberi kode ke arah Wu Huan yang juga sama merasakan datangnya pesilat hebat ke arah mereka tersebut.</span></p>
<p><span>Sesaat, angin disana telah terasa tidak ramah lagi. Perputaran angin di dalam seakan telah &#8220;terhisap&#8221; oleh sesuatu hawa ke depan pintu balai utama ruangan Kuil Shaolin tersebut.<br />
Siapapun tahu bahwa di luar ada seorang yang hebat mendatangi dengan gerakan tenaga dalam nan tinggi.</span></p>
<p><span>&#8220;Ha Ha&#8230;.<br />
Pendekar balai timur telah sampai&#8230;&#8221; kata keempat orang tersebut dengan kegirangan sangat. Sebenarnya kemampuan ke delapan pesilat sudah bukan kemampuan pendekar biasa. Kemampuan ilmu senjata mereka tiada satupun kalah dengan kemampuan ketua partai Hua Shan, Yang Xiu dalam memainkan senjata. Bedanya Yang Xiu ahli pedang, namun mereka berlapan adalah ahli tombak.</span></p>
<p><span>Pendekar balai timur diyakini mereka berdelapan adalah pendekar yang sungguh hebat yang ikut dalam gerakan menyerbu Shaolin. Entah partai apa dalam pertarungan untuk memperebutkan kitab ternama perguruan Shaolin. Tetapi para pendekar yang datang dari Persia tersebut tentu tiada bermaksud baik adanya.</span></p>
<p><span>Sementara itu, Jieji hanya diam dan melihat tajam ke depan ruangan balai utama itu sambil menyunggingkan senyuman yang sulit dilukiskan oleh kata-kata apapun.</span></p>
<p><span>Gerakan ringan tubuh orang tidak dikenal tersebut memang sungguh tinggi. Jieji tanpa melihat pun tahu bahwa orang yang bakal datang tersebut kemampuannya bakal tidak di bawah ukuran orang biasa. Mungkin kemampuan tenaga dalamnya sudah tidak di bawah kakak angkatnya, Zhao kuangyin. Atau bahkan lebih daripada itu.</span></p>
<p><span>Tiada lama, maka telah tiba juga seseorang di depan pintu itu. Siapapun tahu dari gerakan orang tersebut adalah ilmu meringankan tubuh yang lihai. Tetapi, siapapun tidak tahu bahwa orang yang datang tersebut ternyata adalah seorang wanita. </span></p>
<p><span>Yah&#8230; Wanita cantik&#8230;</span></p>
<p><span>Jieji sempat terkejut melihat tampang pendekar yang datang tersebut. Wanita yang datang tiada lain mungkin hanya seorang nona saja, umurnya mungkin hanya belasan atau paling tua 20-an saja.<br />
Wajahnya putih bersih dan sungguh mulus sekali. Perawakannya cukup tinggi. Dan jika dibandingkan dengan Yunying, maka wanita muda tersebut termasuk jauh lebih tinggi daripadanya. Pakaian wanita tersebut terbuka di daerah pusarnya, dan inilah pakaian wanita khusus Persia. Selain itu, pakaian wanita tersebut juga menonjolkan lekuk tubuhnya yang cukup aduhai.</span></p>
<p><span>Wanita &#8220;hebat&#8221; tersebut hanya berjalan perlahan ke depan. Dia menyapu seluruh isi ruangan disana. Perlahan tapi pasti, dilihatnya 2 orang biksu tua yang saling berdekatan. Dan 4 orang murid dari partainya sendiri juga seperti linglung mendapatinya telah sampai. Sesaat dia memalingkan matanya ke arah kanan, dilihatnya 2 wanita muda beserta seorang tua yang telah kepayahan. Sedangkan 4 orang temannya sendiri telah terkapar tidak berdaya. Kemudian sinar matanya tidak berhenti di sana saja, lantas bergerak ke arah seorang pemuda yang kelihatannya cukup tua baginya. Seorang pemuda yang hanya berdiri santai dengan wajah yang sungguh terang serta bibir yang tersungging manis melihatnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau&#8230;?<br />
Kau yang melakukannya?&#8221; tanyanya dengan nada yang terkesan marah. Wajah si nona yang cantik itu seketika berubah menjadi merah padam. Sepertinya dia sungguh marah mendapati keempat &#8220;temannya&#8221; terkapar di lantai tiada berdaya.</span></p>
<p><span>Dengan mengangguk pelan dan tanpa menghilangkan senyuman di bibirnya, pemuda ini mengangguk pelan.</span></p>
<p><span>Sementara itu, keempat pendekar yang masih melongo itu langsung menuju ke arah wanita cantik tersebut dengan megap-megap dan terbata-bata. Sambil berlutut seperti minta ampun. Mereka menyembah nona yang cantik tersebut terlebih dahulu.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia&#8230;.<br />
Dia yang mengacau disini&#8230;.&#8221; tutur seorang di antaranya.</span></p>
<p><span>Bersamaan dengan perkataan pendekar yang berlutut di bawah kakinya, langsung segera nona tersebut mengarahkan sinar matanya yang tajam ke arah Jieji. Nona ini menatapnya dengan cukup dingin dan kelihatannya serius sekali.</span></p>
<p><span>Tidak lama, di depan pintu telah kedatangan beberapa wanita yang menutup mukanya dengan selembar kain. Pakaian mereka juga tiada jauh berbeda dengan nona cantik tersebut. Jieji melirik ke arah mereka. Yang terdepan dua orang sepertinya memegang siter yang bentuknya cukup aneh. Agak berbeda dengan alat musik Cung Tu(China daratan) yang biasanya ditidurkan. Selain itu siter dari Persia sepertinya memakai 3 tali senar saja.</span></p>
<p><span>Wu Huan yang sedari tadi hanya melihat, segera maju mendekati nona tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa gerangan anda sekalian menginginkan kitab perguruan Shaolin?&#8221; tanyanya dengan sopan.</span></p>
<p><span>Tetapi nona cantik ini bukannya menjawab, langsung saja dia berniat menyerang dengan cepat ke arah biksu tua Wu Huan. Biksu tua Wu Huan yang sebenarnya cukup siaga, langsung saja memasang kuda-kuda untuk mundur atau bertahan. Hanya yang anehnya, nona cantik ini memasang tinju di tangan dan bukanlah tapak. Tetapi pergerakan nona cantik yang hanya sesaat saja, dilihat oleh Jieji yang sebenarnya telah siaga benar.</span></p>
<p><span>Wu tiada sanggup bertahan atas serbuan tinju nona cantik, ini disebabkan karena tinjunya memang sudah sekelas tinju panjangnya Zhao kuangyin yang sangat terkenal itu. Dan hanya beberapa saat tinju hampir mengenai ke dada Wu Huan, seseorang dirasakannya sangat cepat sedang mengarah ke dia. </span></p>
<p><span>Lalu tanpa membiarkan tinjunya mengenai Wu. Segera dia menarik diri dengan sungguh cepat pula ke arah belakang. Rupanya si nona cantik sempat mundur 3 langkah dari tempatnya semula. Saat dia mendarat dengan benar, dia telah melihat seorang pemuda sedang berdiri di samping biksu tua itu.</span></p>
<p><span>Dengan melotot dia memandang pemuda tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Siapa kau sesungguhnya?&#8221; tanyanya yang cukup terkejut akan &#8220;kecepatan&#8221; langkah Jieji yang sungguh siaga benar.</span></p>
<p><span>&#8220;Orang-orang di China daratan ini memanggilku Xia Jieji.&#8221; tutur pemuda ini dengan tenang.</span></p>
<p><span>&#8220;Xia Jieji????&#8221; teriak 4 orang yang sedang berlutut tersebut ke arahnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;<br />
Pantas saja pengawalku tidak sanggup melawanmu seorang&#8230;&#8221; tutur nona cantik ini sambil tersenyum.<br />
Senyuman khas nona cantik ini sungguh menggoda hati. Jika saja disana ada pria muda, maka tidak mustahil terpikat kepadanya. Dan sepertinya dalam dirinya juga tercium bau harum yang cukup menggoda para lelaki. Dan untung saja pria disana selain Jieji dan Wu Quan, semuanya adalah biksu.</span></p>
<p><span>&#8220;Katakan siapa anda sesungguhnya? Dan apa maksud sebenarnya banyak pendekar persia datang ke Daratan China?&#8221; tutur Jieji kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku adalah putri partai Bunga senja dari Persia. Dan&#8230;<br />
Untuk mengapa kita kemari, tanyakan saja pada dewa akherat saja nantinya.&#8221; tutur puteri ini dengan cukup sombong dan mata berbinar seakan ingin melahap orang di depannya.</span></p>
<p><span>Jieji yang melihat sinar matanya, hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil menghela nafas.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa maksudmu menggelengkan kepala? Kau pikir kau adalah pendekar hebat di China daratan lantas kau merasa tiada yang sanggup menandingimu.&#8221; kata wanita itu dengan nada yang terkesan kesal.</span></p>
<p><span>&#8220;Aku sangat menyayangkan dirimu. Kau adalah wanita yang cantik, kenapa di sinar matamu yang ada hanya sinar mata pembunuh? Pulanglah ke Persia saja, maka kau kuberi kesempatan. Bagaimana?&#8221; tutur Jieji dengan nada perlahan.</span></p>
<p><span>Maksud Jieji adalah dia tidak ingin adanya jatuh korban. Apalagi di depannya adalah seorang wanita. Baginya wanita sama sekali tidak pantas untuk maju di muka dan berkelahi dengan pria secara mati-matian. Menurutnya nona persia ini masih berada di bawah tingkatannya.<br />
Karena seorang wanita yang jago silat umumnya suka memamerkan kemampuannya, maka daripada itu Jieji mengambil kesimpulan meski wanita ini jago.<br />
Tetapi dari hawa tadinya pertama kali datang, tentu itu adalah seluruh kemampuannya. </span></p>
<p><span>Berbeda dengan seorang pria yang sangat jago tingkatan silatnya, semakin jago maka semakin seorang pria tidak ingin menonjolkannya. Semakin jago maka semakin banyak merendahkan ilmu silatnya pada pertama kali.</span></p>
<p><span>Namun kata-kata Jieji bukannya membuatnya senang. Malah kata-katanya membangkitkan emosinya secara menjadi-jadi.</span></p>
<p><span>&#8220;Kau!!! Di Persia tidak ada orang yang berani menghinaku begitu rupa. Sudah 82 pendekar hebat kukalahkan. Tetapi kau itu siapa? Ha???&#8221; katanya membentak sampai membelalakkan matanya dengan nada yang tinggi.</span></p>
<p><span>Jelas wanita ini sudah marah luar biasa. Tetapi Jieji tidak menanggapinya lebih lanjut lagi, sepertinya hanya kekuatan ototlah yang sanggup meredam emosi wanita cantik tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi dia adalah Xia Jieji&#8230;. Nona harus hati-hati benar, kalau terjadi sesuatu maka&#8230;.&#8221; tutur seorang diantaranya. Tetapi sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, si nona telah terlanjur sangat marah. Maka dengan kaki yang menyepak ke belakang, si nona langsung saja mengarahkan telapak kakinya ke muka anak buahnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Dukkk&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Lantas suara cukup keras terdengar memenuhi ruangan balai utama yang telah senyap itu.</span></p>
<p><span>Pendekar yang berlutut tadinya jelas tertampak tersepak cukup jauh ke belakang dengan bergulingan beberapa kali.<br />
Sepertinya emosi nona ini terasa tidak beres, mungkin juga si nona masih termasuk baru saja dewasa. Keinginannya tidak sanggup dihalangi seseorang siapapun.</span></p>
<p><span>Tetapi anak buahnya yang tersepak ke belakang itu hanya merintih saja. Si nona rupanya tiada berniat membunuhnya.<br />
Namun karena benar mencemaskan puteri satu-satunya dari ketua partai mereka. Yang lain juga ikut memberi nasehat.</span></p>
<p><span>&#8220;Sebelum puteri meninggalkan Persia, guru berpesan untuk selalu bersabar. Hanya 4 orang yang dimana nona harus dilarang bertemu. Yang pertama adalah Xia Jieji ini, yang kedua Sun Shulie alias Ming Ta. Yue Liangxu dan Zhao kuangyin adalah orang ketiga dan keempat itu. Mohon puteri jaga diri&#8230;&#8221; tutur mereka sambung menyambung.</span></p>
<p><span>&#8220;Hm&#8230;.&#8221; Nona cantik ini merem dengan nada yang sudah marah sekali. Namun karena ketiga orang lain itu, dia tidak melanjutkan lagi aksinya lebih lanjut. Tetapi dia kontan dan dengan cepat langsung menuju ke arah Jieji. Kali ini tetap di pasangnya tinju, tinju yang kecepatannya mungkin 2 kali lipat lebih cepat daripada ketika dia menyerang Wu Huan.</span></p>
<p><span>Jieji melihat dengan pasti bahwa tinju ini meski cepat, tetapi terdapat banyak kelemahan. Maka ketika tinju hampir mengenai mukanya. Dia segera menyeret kaki ke samping. Tinju itu lewat di mukanya yang hanya beberapa inchi saja.</span></p>
<p><span>Tetapi dengan cepat dan lihai, sepertinya puteri ini mengubah bentuk tinju menjadi tamparan. Sesaat dan sangat cepat, Jieji cukup terkejut. Namun, dia masih berdaya cepat juga. Dengan lembut dia menunduk.</span></p>
<p><span>Tamparan si puteri langsung hanya mengenai beberapa helai rambut Jieji yang terurai itu. Tetapi kemampuan puteri cantik ini tiada berhenti di sini. Maka dengan tangan yang lain dia rapalkan tapak. Sambil membelakangi, si nona ingin menyerang ke arah dada Jieji yang cukup terbuka. Dengan langkah Tao, cepat Jieji melangkah mengelilingi si nona cantik dan sampai di belakang punggungnya.</span></p>
<p><span>Si puteri memang bukan jago kacangan. Merasakan lawan sudah berada di belakang, puteri ini diam-diam tersenyum. Segera dia mengeluarkan ekor kaki untuk menyerang pas di dada pemuda ini kemudian.</span></p>
<p><span>Karuan Jieji terkejut.</span></p>
<p><span>Dia tidak menyangka bahwa ada jurus yang serba aneh seperti itu. Sepertinya jurus ini adalah tarian seorang wanita dari arah utara yang pernah di lihatnya. Jurus yang sebenarnya hanya sederhana seperti ini tiada keistimewaan apapun. Tetapi, jika &#8220;ditarikan&#8221; seorang yang jago kungfu dan wanita yang cantik, maka sudah lengkap jurus tersebut.</span></p>
<p><span>Sebenarnya Jieji tidak berniat untuk &#8220;berlaga&#8221; dengannya. Namun apa daya, jika tersepak maka cukup membuatnya luka dalam juga mengingat tendangan si nona sepertinya tidak memberi ampun layaknya yang di kerahkannya pertama kali pada anak buahnya.</span></p>
<p><span>Maka tidak ayal, dengan menarik nafas panjang. Jieji mengumpulkan hawa dari bawah perutnya dengan sangat cepat sekali. Inilah jurus pertama tapak berantai-nya. Setelah membentuk 1 lingkaran penuh pada tangan kanannya. Maka tangan kiri segera di arahkan ke tapak kaki si puteri.</span></p>
<p><span>&#8220;Blam!!!&#8221;</span></p>
<p><span>Suara berlaganya dua buah tenaga dalam segera terasa. Angin yang cukup menusuk segera mengarah secara melingkar. </span></p>
<p><span>Puteri yang tidak pernah tahu bahwa lawan bakal menyerang dengan gerakan yang teramat cepat tersebut tentu terkejut. Maka tidak ayal lagi, dia terlempar ke depan cukup cepat dan sempat menabrak ke arah tiang penglari kuil tersebut.</span></p>
<p><span>Wu Quan dan kedua puterinya adalah orang yang tertawa melihat tingkah si nona cantik tersebut yang cukup lucu memang.</span></p>
<p><span>Si nona sempat menabrak dan jatuh dalam keadaan lucu. Maka setelah bangkit, dia marah luar biasa sekali.<br />
Melainkan Jieji tidak menertawainya. Dia malah berkata.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudahlah&#8230; Kamu pulang saja. Kamu masih jauh di bawahku.&#8221; katanya dengan nada yang ringan.</span></p>
<p><span>Meski puteri ini sungguh berkungfu tinggi, tetapi tentunya dia tidak mau menerima &#8220;penghinaan&#8221; dari kata-kata Jieji barusan. Tetapi sebelum dia marah dan ingin berkata-kata. Jieji kembali memotongnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu adalah jurus tapak berantai tingkat pertamaku. Dan hanya kugunakan tenaga tidak sampai 5 bagian. Tapak berantaiku terdiri dari 5 tingkatan, maka setiap tingkatan energi selalu sekali lebih kuat daripada yang lainnya. Tidak ada gunanya kamu menghamburkan waktu disini.&#8221; tutur Jieji kembali dengan nada yang welas.</span></p>
<p><span>&#8220;Itu belum tentu&#8230;&#8221; tutur puteri yang cantik nan manja itu kembali.<br />
Lalu dengan cepat dia bergerak ke arah penggiringnya dan segera dia mengambil siter dari tangannya.</span></p>
<p><span>Langsung saja dan tanpa banyak bicara, dia memeluk siter itu sambil bersila. Sesaat, segera dipetikkan siter itu dengan nada yang cepat seakan mengoyak.<br />
Jieji langsung terkejut..<br />
Tidak disangkanya, setelah tewasnya Dewa bumi dan Fei Shan. Maka masih ada yang bisa &#8220;jurus Ilmu pembuyar tenaga dalam&#8221; ini.</span></p>
<p><span>Dengan segera, Jieji merapalkan jurusnya. Dia &#8220;menghisap&#8221; biksu Wu Huan dan biksu tua lainnya untuk mundur sekaligus ke arah ayah mertuanya. Dengan sekali memutar lengan kembali, tangan kelima orang itu segera lekat satu sama lainnya.</span></p>
<p><span>Kecapi tiada berhenti, tetapi masih tetap berkumandang hebat. Dan makin lama maka semakin menjadi.</span></p>
<p><span>Tentu ini membuat 5 orang teman Jieji segera merinding merasakan tenaga dalam mereka membuyar. Tetapi hanya tidak lama, mereka kemudian merasakan energi sejuk mulai memasuki tubuh mereka masing-masing. Rupanya Jieji telah &#8220;memasokkan&#8221; energi yang cukup deras ke punggung biksu tua Wu Huan. Energi Jieji memang sangat deras dan kuat. Maka energi hawa murni yang seharusnya membuyar itu telah &#8220;tertarik&#8221; kembali.</span></p>
<p><span>Sementara si puteri yang cantik itu tersenyum sangat ngeri mendapati Jieji tiada berdaya seperti itu. Tetapi dia lupa akan sebuah hal.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalian tunggu apalagi, segera gerakkan tombak. Bunuh saja semuanya&#8230;&#8221; tuturnya dengan nada yang dingin dan penuh hawa pembunuhan.</span></p>
<p><span>Ketiga orang yang lain segera mengambil tombak yang telah diletakkan di lantai itu. Namun sebelum ketiganya benar ingin melaksanakan tugas dari puteri itu. Sebuah sinar yang memerah segera tertampak terang luar biasa memenuhi ruangan.<br />
Puteri yang mengamati ketiga orangnya untuk bekerja segera terkejut sangat luar biasa. Dan tentu tidak ayal lagi, dia terpelanting dan jatuh ke belakang dengan muntah darah yang banyak. Ada sebungkus barang yang jatuh dari tubuh puteri tersebut dan tanpa di sadari siapapun kecuali Jieji. Bungkusan tersebut berwarna kuning tua, dan di dalamnya sepertinya terdapat beberapa barang juga.</span></p>
<p><span>Jurus yang menjatuhkannya adalah Ilmu jari dewi pemusnah ciptaan Dewa Sakti itu. Tetapi jelas Jieji tidak ingin membunuhnya. Maka dia telah memberi wanita cantik itu 2 kali kesempatan hidup.</span></p>
<p><span>&#8220;Lekas kalian bawa puteri kalian untuk enyah dari China daratan sekarang juga. Jangan sampai dia bertemu denganku lagi nantinya&#8230;&#8221; tutur Jieji seraya marah dan berdiri setelah siap menyalurkan energi ke punggung biksu Wu Huan.</span></p>
<p><span>Ketiga orang lainnya ini segera lari dengan cepat ke depan, diikuti oleh semua anggotanya yang meski ada yang telah kepayahan sekali.<br />
Dan tentunya tidak lama, kuil Shaolin tersebut telah tenteram kembali.</span></p>
<p><span>Wu Quan dan ketiga puterinya segera di angsurkan ke samping. Karena ketiganya tadi telah mendapat saluran energi dahsyat Jieji, maka ketiganya segera bermeditasi kembali untuk menghimpun tenaga dalam mengobati diri.</span></p>
<p><span>Biksu Wu Huan mendekati Jieji sambil memberi hormat yang mendalam. Dan segera di balas oleh Jieji kembali.</span></p>
<p><span>&#8220;Adalah tuan pendekar yang menolong kita-kita semua. Sehingga jerih payah 400 tahun Shaolin ini tidak habis di tanganku&#8230;&#8221; tuturnya kemudian dengan mengalir air mata.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak&#8230;<br />
Anda jugalah yang menolong keluargaku. Maka sangat sepantasnya budi ini harus kubalas sampai tuntas..&#8221; tutur Jieji dengan nada merendah juga kepada Wu Huan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuan juga telah membawa kembali kitab Jing Gang Shaolin. Budi ini tidak mampu yang tua ini membalasnya seumur hidup&#8230;&#8221; </span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah kebetulan saja. Selain itu, kitab Jing-gang adalah milik Shaolin secara mutlak. Maka setelah mendapatinya, aku rasa harus dikembalikan ke asalnya.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Shaolin dengan anda telah berhutang sungguh banyak sekali&#8230;.<br />
Sifat welas dari anda juga sangat kukagumi.&#8221;</span></p>
<p><span>Jieji membalasnya dengan perlahan dan mendalam. Namun segera dia berjalan ke arah &#8220;benda&#8221; yang jatuh dari tubuh puteri cantik itu. Maka dengan segera, dia buka untuk dilihat isinya. Di dalam bungkusan terdapat sebuah buku yang tidak kalah tebalnya dengan buku Jing-gang yang telah ditulis kembali oleh Jieji.<br />
Ternyata buku itu memang ditulis dalam aksara China. Dan tertulis sungguh jelas di bagian sampul depannya. &#8220;Kitab Pelenturan Energi&#8221;. Jieji yang melihatnya sungguh terkejut. Lalu dengan pelan dia buka isinya. Di sini tergambar latihan melenturkan tubuh untuk menyerap energi dari Surya dan rembulan.</span></p>
<p><span>Wu Huan yang hanya berdiri di sampingnya juga terkejut melihat isi kitab tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini kitab cukup mirip dengan kitab Yu Jingjing-nya (Kitab pelentur Otot) Shaolin. Dan kitab ini sepertinya pernah kudengar&#8230;&#8221; tutur Wu Huan yang sambil berpikir keras.</span></p>
<p><span>Sementara itu, Jieji membalikkan halaman-halaman buku itu sambil menghela nafas. Dia tidak pernah tahu bahwa posisi &#8220;aneh&#8221; seperti itu adalah posisi yang hebat dalam mengumpulkan energi. Latihan 1 tahun dengan bimbingan buku adalah sehebat latihan 10 tahun daripada orang yang betul menekuninya. Sungguh buku yang teramat luar biasa.</span></p>
<p><span>Wu Huan yang sedari tadi berpikir, segera melangkah dengan tergesa-gesa masuk kedalam. Sepertinya dia mencari sesuatu benda.</span></p>
<p><span>Sementara itu, Jieji hanya diam saja. Dia mengamati dengan benar &#8220;posisi&#8221; kungfu yang sungguh luar biasa tersebut. Kungfu hebat yang ditulis terasa sungguh lembut bagaikan angin siang yang sepoi-sepoi rasanya. Tidak berapa lama, Wu Huan telah keluar dari sebuah tempat di belakang balai utama Shaolin tersebut. Sambil membawa sebuah buku, dia keluar tergopoh-gopoh.</span></p>
<p><span>Dengan cepat dia menunjukkan isi buku tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah kitab pelentur energi milik Liu Zheng Ta She (Pendeta besar Liu Zheng).&#8221; tutur Wu Huan.</span></p>
<p><span>Jieji terkejut mendengarnya. </span></p>
<p><span>&#8220;Liu Zheng adalah seorang Pendeta dari India juga, dia terlebih dahulu mendukung Dinasti Liang (502-557). Sepuluh tahun setelah Liu Zheng, maka Bodhidharma sampai ke daratan China. Liu Zheng terkenal dengan cara sesatnya menyelesaikan masalah. Beberapa orang masih meyakini bahwa Liu Zheng adalah jago kawakan. Saat itu, Bodhidharma masih belum tandingannya. Tetapi melalui meditasi tinggi, guru besar kami Ta Mo(Bodhidharma) akhirnya mencapai kesempurnaan. Dan&#8230;</span></p>
<p><span>Di buku ini juga dituturkan bahwa Ilmu Dahsyat Kitab Pelentur Energi belum ada tandingannya saat itu.&#8221; tutur Wu Huan dengan nada yang sangat serius.</span></p>
<p><span>Wu kembali melanjutkan apa yang tertera di bukunya. Buku yang merupakan buku sejarah dari Shaolin sepertinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Liu Zheng hidup di kuil Jetavana (India) sejak kecil. Dia sangat berbakat dalam banyak hal; kungfu, kepintaran, keagamaan ataupun menyusun siasat. Tetapi di usianya yang ke 30, dia melarikan diri dari kuil sambil membawa kitab ini ke arah timur. Di sana, dia mendukung Raja dinasti Liang. Dinasti Liang hampir di ambang kehancuran saat itu sebelum datangnya Bodhidharma. Sampai saat Liu Zheng tewas membakar diri, buku ini telah hilang.<br />
Namun sekarang bisa kedapatan orang-orang Persia itu.&#8221;</span></p>
<p><span>&#8220;Aneh&#8230;..&#8221; kata Jieji dengan pendek dan seperti sedang berpikir keras.</span></p>
<p><span>&#8220;Dimana letak keanehannya?&#8221; tanya Wu Huan dengan nada yang terkejut pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Maksudku adalah buku ini. Sepertinya orang persia itu ingin merebut kitab hebat dari seluruh daratan. Kitab ini pasti didapatkannya dari India. Dan yang kuherankan adalah tujuannya&#8230;&#8221; tutur Jieji tidak lama. Kemudian dia sudah teringat sesuatu.<br />
&#8220;Ilmu pemusnah raga lagi???&#8221; tutur Jieji kemudian.</span></p>
<p><span>Wu Huan juga terkejut mendengar apa yang dikatakan Jieji.</span></p>
<p><span>&#8220;Benar&#8230;Pasti karena semua kitab itu, maka mereka semua ingin menciptakan Ilmu baru yang lebih hebat lagi&#8230;. Kapan dunia bakal damai&#8230;.&#8221; tutur Wu Huan seraya menghela nafas.</span></p>
<p><span>&#8220;Sepertinya ini buku tiada bermanfaat lagi&#8230;&#8221; tutur Jieji dengan menghela nafas pula.</span></p>
<p><span>&#8220;Kalau begitu, jika tuan ada kesana. Kembalikan saja&#8230;&#8221; tutur Wu Huan kembali sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>Jieji membalas senyuman Biksu tua ini seraya mengiyakannya.</span></p>
<p><span>Demikianlah selama 3 hari Jieji berada di Shaolin, sambil menunggu sembuhnya ayah mertuanya, Wu Quan. Maka banyak kesempatan lowong juga dia untuk melatih konsentrasi dirinya. Beberapa saat terlihat Jieji melatih pernafasannya kembali. Dan pada malamnya, dia tidak pernah tidur di Shaolin, melainkan turun dari gunung untuk membeli arak dan minum sampai saban sinting. Acapkali dia tertidur di kedai arak sekitar 10 li dari kaki pegunungan Sung.</span></p>
<p><span>Tiga hari kemudian..<br />
Pada pagi hari yang hujan salju itu.<br />
Jieji kembali memeriksa nadi Wu Quan. Sesaat, dia merasa girang juga. Karena saluran energinya telah hampir membuat orang tua ini pulih.</span></p>
<p><span>&#8220;Nak Jieji&#8230;</span></p>
<p><span>Dimana puteriku Yunying?&#8221; tanya orang tua ini kemudian.</span></p>
<p><span>&#8220;Dia sedang bersama ibunya&#8230;&#8221; jawab Jieji datar saja. Tetapi dari raut wajahnya nampak sesuatu perubahan.</span></p>
<p><span>&#8220;Jadi istriku, Shanniang sudah ditemukan? Dimana dia berada sekarang?&#8221; tanya orang tua ini dengan nada yang memelas.</span></p>
<p><span>&#8220;Sesudah ayah sehat, maka kita akan menuju ke sana.&#8221; jawab Jieji sambil tersenyum manis kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi mengenai kondisi kesehatanku, aku rasa sudah cukup pulih untuk melanjutkan perjalanan.&#8221; jawab Wu Quan dengan cukup bersemangat.</span></p>
<p><span>Jieji berpikir sebentar. Dia merasa memang seharusnya &#8220;salahpaham&#8221; antara dia dan Yunying harus di selesaikan secepatnya. Maka dia mengangguk saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi sekarang adalah musim dingin. Apa ayah tidak merasa keberatan melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini?&#8221; tanya Jieji kepadanya.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak masalah&#8230; Kondisiku sudah 8 bagian sembuh benar. Kita harus segera berangkat besoknya.&#8221; tutur Wu Quan seraya tersenyum.</span></p>
<p><span>Jieji hanya mengangguk perlahan. Dia tidak pernah memberitahukan bahwa Wu Shanniang sebenarnya telah berada di pihak lawannya. Serta Yunying telah mengalami masalah salam paham yang cukup ruwet bagi dirinya sendiri. Dia menunggu sampai ketiga orang ini telah berkumpul kembali, baru membicarakan masalah tersebut lebih lanjut.</span></p>
<p><span>Tetapi sebelum Jieji keluar dari ruangan, dia telah mendapati adanya beberapa langkah kaki mendekati kamar.<br />
Segera dia membuka pintu ruangan kamar dari Wu Quan. Lalu segera dilihatnya 10 pendekar yang setia mengikuti Zhao kuangyin kemanapun dia pergi. Sesaat, Jieji terkejut juga. Dia berpikir apakah kakak angkatnya telah mengalami masalah.</span></p>
<p><span>&#8220;Ada apa kalian semua kemari?&#8221; tanya Jieji yang dengan keheranan.</span></p>
<p><span>&#8220;Tuan&#8230;<br />
Anda diharapkan kembali ke kota Beiping secepatnya.&#8221; tutur Huang Xu, pemimpin dari 10 pendekar tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Apakah terjadi sesuatu di garis depan?&#8221; tanya Jieji kemudian yang agaknya mencemaskan kawan-kawannya yang disana.</span></p>
<p><span>&#8220;Betul&#8230;<br />
Sekitar seminggu lalu, Pendekar dari Liao telah menantang pertarungan di bawah kota Beiping pada imlek mendatang. Yang Mulia mengirimkan kuda cepat untuk memberitahu kami yang berada di kota Pu Yang untuk mencari anda&#8230;&#8221;</span></p>
<p><span>Apa yang dikatakan mereka sungguh membuat Jieji terkejut. Pendekar Liao telah menantang pendekar China daratan untuk bertarung? Sungguh hebat.<br />
Tentu Jieji tidak ayal lagi segera pamitan dengan ayah mertuanya. Dia meminta 10 orang pendekar hebat tersebut untuk mengawal ayah mertuanya serta kedua puterinya ke kota Beiping. Dengan meminta pamit pada Biksu senior Wu Huan, Jieji segera mengencangkan kuda Bintang birunya. Dia hanya memiliki waktu selama 1 minggu untuk sampai.</span></p>
<p><span>***</span></p>
<p><span>Di bawah tembok kota Bei Ping&#8230;</span></p>
<p><span>Di hadapan pendekar dari dunia persilatan. Pendekar Liao sudah berdiri di bawah kota dengan rapi. Terlihat Xia Rujian, Hikatsuka Oda, Yelu Xian dan Yue Liangxu. Sementara itu, Zhu Xiang telah berdiri berhadapan dengan Wei Jindu. Di belakangnya telah berdiri Zhao kuangyin, Pei Nanyang, Yuan Jielung, Sun Shulie serta Huang Xieling. Sementara itu, Dewa Ajaib malah duduk di tanah sambil menyaksikan.</span></p>
<p><span>&#8220;Dimana guru?&#8221; tanya Wei kepada kakak seperguruannya.</span></p>
<p><span>&#8220;Sudah mati beberapa bulan yang lalu&#8230;&#8221; tutur Zhu Xiang dengan perlahan saja.</span></p>
<p><span>&#8220;Apa?&#8221; teriak Wei yang kaget.</span></p>
<p><span>&#8220;Gurumu Ba Dao telah kukirim ke surga. Disana dia akan memimpin setan-setan berkotbah.. Ha Ha&#8230;&#8230;.&#8221; tutur Yue Liangxu di belakang.</span></p>
<p><span>Kata-kata Yue segera membangkitkan emosi pemuda yang sangat sabar tersebut.</span></p>
<p><span>&#8220;Setelah memberikan &#8220;energi&#8221; dahsyatnya, guru telah terbang ke langit.&#8221; tutur Zhu Xiang kemudian dengan nada sinis.</span></p>
<p><span>&#8220;Adik ketiga, jangan kamu dengar apa kata-kata mereka dahulu. Tenangkan pikiranmu&#8230;&#8221; teriak Zhao dari belakang.</span></p>
<p><span>Dan segera, lamunan Wei akan gurunya telah musnah. Dia tahu benar, kakak seperguruannya bukanlah lawan biasa. Mau tidak mau dia harus berkonsentrasi dengan penuh. Maka daripada itu, dia segera membentuk tapaknya di tengah dada.</span></p>
<p><span>Sesaat, angin kencang segera meliputi tubuhnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Kurang&#8230; Tenagamu kurang adik seperguruan&#8230;&#8221; tutur Zhu Xiang yang sesaat meningkatkan energinya.</span></p>
<p><span>Sapuan telah meliputi tubuh mereka berdua. Angin kencang di tanah datar telah membuat pasir dan tanah ringan berterbangan meliputi keduanya. Bagaikan angin topan kecil, tubuh mereka segera terlilit oleh hawa energi yang tidak tampak tersebut.</span></p>
<p><span>Sementara,pendekar-pendekar dari dunia persilatan sungguh terkejut menyaksikan hawa aneh dari keduanya. Hawa yang terasa sama dahsyatnya, tetapi pada hawa tenaga dalam Zhu Xiang terasa lain, seakan terasa sangat buas sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Adik seperguruan&#8230; Pikirkanlah, jika kamu mati dalam pertarungan ini. Maka tiada yang membalas dendam guru lagi&#8230;&#8221; tutur Zhu Xiang dengan nada yang sangat sok dan tinggi hati.<br />
Sementara itu, Wei Jindu telah siap benar dengan tapaknya. Kata-kata kakak seperguruannya ternyata sama sekali tidak menggoyahkannya. Lalu dengan cepat dan bertenaga penuh, Wei segera memainkan tapaknya pertama.</span></p>
<p><span>Tapak Buddha Rulai bukanlah jurus biasa. Semua jurusnya adalah selalu menyerang ke posisi yang sungguh benar. Jurus demi jurus dari tapak Budha Rulai selalu datang untuk mengancam dan tiada cara mengelak. Meski lawan ingin mengelak, maka waktu yang diperlukan adalah sangat sedikit dan sungguh beresiko.</span></p>
<p><span>Zhu Xiang sendiri memahami Ilmu tersebut, dan tentunya dia segera datang untuk menahan serangan dari Wei Jindu. Sesaat angin yang tadinya terasa berkumpul, segera mengoyak ke segala sisi. Ilmu keduanya memang sudah sangat setara. Dan tanpa terasa telah 50 jurus keduanya melaksanakannya dengan sungguh bagus sekali.</span></p>
<p><span>&#8220;Dalam 50 jurus pertama kamu sudah kelihatan kalah hawa tenaga dalammu. Bagaimana kau bisa bertarung lagi adik seperguruan? Menyerahlah&#8230;.&#8221; tutur Zhu Xiang dengan keyakinan penuh.</span></p>
<p><span>Sementara itu, Wei malah merasa terdesak juga sebenarnya. Tenaga dalamnya tidaklah sejago Zhu Xiang. Tetapi inilah medan pertarungan, dia harus mengeluarkan semua kepandaiannya untuk bertarung mati-matian.</span></p>
<p><span>Konsentrasi hampir semua orang selalu tertuju menyaksikan pertandingan yang bagus tersebut.<br />
Sementara itu, Zhao Kuangyin yang berdiri dengan berkonsentrasi penuh. Tanpa disadarinya telah di pegang dengan keras oleh seseorang dari belakang.<br />
Hal ini sungguh membuat semua orang terkejut. Karena yang datang adalah orang yang sakti, maka tiada yang merasakannya. Apalagi dari pihak Zhao, semuanya sedang berkonsentrasi di depan.</span></p>
<p><span>Ketika semua mata tertuju ke belakang, mereka sangat terkejut mendapati seorang tua sedang mencakar bahu Zhao kuangyin. Zhao yang telah terasa bahwa bahunya tiba-tiba lemas segera berbalik. Dilihatnya seorang yang sangat dikenalinya.</span></p>
<p><span>&#8220;Guru???&#8221; tanyanya.<br />
Memang benar, yang datang adalah tiada lain Dewa Semesta. Di sampingnya adalah Dewa Sakti dan Dewi Peramal.</span></p>
<p><span>Dewa Semesta segera mengalihkan pandangannya ke Dewa Sakti. Dewa Sakti yang segera mengerti segera mengiyakan.<br />
Tanpa terasa, cengkraman dari Dewa Semesta makin lama makin keras. Sehingga memaksanya menjadi duduk bersila. Dewa Sakti yang melihatnya segera dengan cepat bersila di depannya. Di tempelkanlah tapak sebelah tangannya ke dada si pemuda. Sementara itu Dewa Semesta langsung mengerahkan seluruh tenaga untuk menghantam ke Punggung Zhao.</span></p>
<p><span>Sesaat, tentu Zhao sangat terkejut.<br />
Dia segera merasakan hawa energi yang kuat luar biasa telah masuk ke dalam tubuhnya.</span></p>
<p><span>&#8220;Guru&#8230; Paman guru&#8230; Apa yang terjadi?&#8221; tanyanya dengan heran.</span></p>
<p><span>&#8220;Ini adalah hadiah dari kita berdua&#8230;<br />
Dengan kemampuan tenaga dalammu, tidak mungkin kamu sanggup melawan Yue Liangxu.&#8221; Tutur Dewa Sakti di depannya sambil tersenyum.</span></p>
<p><span>&#8220;Tetapi&#8230;. Tetapi&#8230;&#8221; tutur Zhao terbata-bata. Dia segera merasakan hawa dahsyat dari dalam tubuhnya segera &#8220;merangkul&#8221; energi baru yang memasuki tubuhnya.<br />
Para pendekar China daratan tentu sangat terkejut melihat pengorbanan dua orang tua ini. Tetapi maksud mereka berdua adalah sangat mulia adanya. Maka dari pada itu, mereka hanya menghela nafas saja.</span></p>
<p><span>Sementara itu, di pihak Liao. Tentu semua pendekar terkejut karena melihat Dewa Semesta dan Dewa Sakti sedang mengalirkan hawa murni mereka ke dalam tubuh Zhao. Tentu hal ini sungguh merugikan mereka. Tetapi Yue Liangxu berpendapatan lain.</span></p>
<p><span>&#8220;Tidak ada gunanya&#8230;. Perhatikan pertarungan saja&#8230;&#8221; tuturnya dengan sinis menatap ke arah Zhao kuangyin.</span></p>
<p><span>Yue sepertinya punya keyakinan sendiri akan kemampuannya. Menurutnya, barisan Zhao mungkin semua adalah katak dalam tempurung baginya. Lalu tanpa menghiraukan, segera dia melihat pertandingan Wei Jindu melawan Zhu Xiang dengan santai seakan tiada terjadi sesuatu hal.</span></p>
<p><span>Di ujung barat yang nun jauh&#8230;</span></p>
<p><span>Persia&#8230;<br />
Sebuah negara yang berbentuk kerajaan monarki. Negara Persia adalah sebuah negara yang tadinya di bawah pemerintahan China daratan. Persia &#8220;diserang&#8221; oleh Kaisar dari Dinasti Tang, Li Shih Min. Oleh karena itu, budaya dan bahasa rakyat Persia telah mengalami percampuran dengan bangsa setempat. Semua orang di Persia mempunyai 2 buah nama, dimana nama asli adalah nama bernada Persia. Sedang nama kedua adalah nama panggilan yang bermakna tersendiri, serta dipanggil dalam nada suara pelapalan China daratan.</span></p>
<p><span>Persia membebaskan diri dari China daratan setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Tang di daratan tengah. Sekarang, negara Persia tidak ubahnya seperti negara yang telah dikuasai pemimpin setempat mereka sendiri.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">Salah satu budaya dari daratan tengah yang masih melekat sampai saat itu adalah budaya &#8220;rimba&#8221;-nya dari daratan tengah. Siapa yang paling kuat, maka siapa yang berkuasa. Oleh </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abanstn.wordpress.com/325/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abanstn.wordpress.com/325/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abanstn.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abanstn.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abanstn.wordpress.com&amp;blog=3534336&amp;post=325&amp;subd=abanstn&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abanstn.wordpress.com/2008/07/05/pahlawan-dan-kaisar-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/542d0d0b0837c821971bfbbb57117417?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abanstn</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
