Pahlawan dan kaisar 17b

By abanstn

Mendengar teriakan Hikatsuka, akhirnya Yumei menghentikan rapalan jarinya. Dia hanya melihat ke depan dengan cemas saja.
Dengan bertarung lebih dari 20 jurus kemudian, Hikatsuka telah terdesak sangat. Gaya kakinya telah berubah jalur kebanyakan.

Lalu memanfaatkan suatu kesempatan, Huo menyerang ke arah rusuk Hikatsuka yang terbuka setelah jurus tendangannya terlihat ngawur.

Benturan keras segera saja terjadi. Suara patahnya tulang akhirnya mengakhiri pertarungan dahsyat itu.
Dengan tubuh bagai layangan terlepas, akhirnya dia menabrak batu besar di tengah.
Tabrakan itu cukup keras yang mengakibatkan batu besar sebesar 3 pelukan orang dewasa menjadi remuk.

Saat itu, Hikatsuka jatuh terjerembab dengan luka dalam yang sungguh
sangat parah.
Semua pesilat di pihak Huo segera bergembira luar biasa, hanya seorang Zhu Xiang yang terlihat menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang.

Sementara itu para pesilat yang merasa “harapan” hidup mereka telah sirna, lantas menggelengkan kepala dengan sikap putus asa.

Yumei yang melihatnya kontan terkejut luar biasa, dia segera menuju ke arah batu besar yang telah remuk itu dengan sikap yang khawatir luar biasa.
Dia segera menjatuhkan dirinya melihat keadaan Hikatsuka. Dia mendapati bahwa beberapa tulang rusuk orang paruh baya ini telah remuk. Maka dengan mengalirkan air mata, dia melihat dengan rasa iba.

“Kenapa paman? Kenapa???” teriaknya dengan menangis sejadi-jadinya.

“Aku… Berhutang… Selembar… Nyawa padanya….” Tutur Hikatsuka Oda yang terlihat sangat lemah sekali.

“Siapa? Siapa yang paman maksud?” tutur Yumei dengan spontan dan cepat.

“Jika… Kau belum.. Muncul… Kapan lagi kau???” tutur Hikatsuka Oda yang sepertinya makin melemah.
Saat Yumei ingin menanyainya lagi. Dia mendapati orang paruh baya ini telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kontan menangis deras, Yumei menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Zhu Xiang yang melihat kawan seperjuangannya tewas dengan cara demikian tentu membuat hatinya teriris-iris. Tetapi bagaimanapun memang kawan seperjuangannya ini mengambil keputusan terakhirnya yang tidak bisa diganggu siapa saja.

“Kamu dahulu telah mengambil keputusan mengikuti Dewa Bumi, tujuanmu adalah Ilmu nan sakti itu. Tetapi berkat puteramu sendiri, kamu mengingkari janji setiamu sendiri. Hikatsuka, pergilah dengan tenang…” tutur Zhu Xiang sambil mendongkakkan kepalanya ke langit.

Batu yang remuk tadinya tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepadanya. Ternyata setelah beberapa saat, mereka merasakan sesuatu yang aneh.

Hawa di belakang batu remuk seakan mengambang tinggi.
Sesegera, semua orang melihat ke arah hawa itu muncul. Hawa tiada lain muncul dari tubuhnya Xia Jieji yang sedang tidur terlentang. Sebuah hawa ungu yang pekat muncul dari dalam tubuhnya. Dan terasa mengumpul ke tengah membungkus.

Semua pesilat daratan China yang tahu bahwa hawa ungu ini mempunyai unsur racun pemusnah raga segera bergerak menghindar ke belakang.
Beberapa pesilat dari Persia juga melakukan hal yang sama. Tiada orang yang ingin mengalami nasib serupa dengan pemuda kurus tinggi tadinya.

Hanya Yumei seorang saja yang masih berlutut di depan mayatnya Hikatsuka. Dia tidak mempedulikan sama sekali apa yang sedang terjadi.

Hawa ungu ini kembali membungkus batu remuk itu. Sama seperti tadinya, hawa ungu mendesir kembali setelah membungkus semua batu besar itu.

Huo Xiang yang melihat fenomena ini juga tidak merasa takut. Dia berjalan ke depan sambil melihat ke arah gadis kecil.
Tetapi kali ini, dia tidak berjalan tanpa persiapan. Melainkan telah siap sebuah jurus yang disiapkan tentunya untuk gadis kecil itu.

Perlahan, Huo berjalan. Hanya berselang 5 tindak, dia segera menarik nafas dalam. Dengan satu telapak dia bermaksud mencabut nyawa gadis kecil itu.
Yan yang melihatnya sangat terkejut, dia sempat berteriak sangat terkejut.

Tetapi Yumei sepertinya tidak ingin melawannya lagi. Meski dia dalam posisi berlutut dan melihat ke bawah tanah, dia tahu bahwa energi yang hampir sampai di kepalanya adalah energinya “raja kera” itu untuk mencabut nyawanya.

Siapapun tahu bahwa jurus Huo itu pasti akan mengenai batok kepala gadis kecil. Banyak orang yang menutup matanya ngeri menyaksikan gadis kecil cantik akan kehilangan nyawanya dengan batok kepala yang hancur.

Huo telah yakin sekali tapaknya yang penuh energi itu akan mengambil nyawa lawan di depannya. Tetapi di saat dia sudah yakin sekali bahwa tapaknya mengenai kepala lawan.

Dia merasa heran sekali. Sebab tahu-tahu tapaknya melainkan mengenai tempat yang kosong saja.

Sebuah hawa nan lembut sepertinya menarik gadis kecil ini untuk bergerak ke belakang sungguh cepat dan membuatnya berdiri dengan sangat baik sekali.

Sebelum gadis ini keheranan sangat, dia sempat melihat ke arah depannya. Terlihat seorang pemuda dengan rambut putih yang pendek dengan baju serba putih sedang mengamati ke arah depan.

Sedang di belakangnya, dia sempat menoleh. Kesemuanya adalah orang yang sudah tua dan berpakaian serba putih. Salah satunya adalah wanita.

Yan Jiao yang melihat kedatangan 4 orang disini, tentu sangat terkejut. Terlebih lagi seorang pemuda gagah dan kokoh yang berdiri paling depan itu. Dia lantas tidak mampu berkata-kata, wajahnya dipenuhi ratusan bahkan ribuan pertanyaan.

Huo yang melihat pemandangan di depannya, mau tidak mau juga cukup terkejut. Sebab ketika nona cantik itu di tarik dengan tenaga dalam mantap, dia bahkan tidak merasakannya.
Zhu Xiang mengenal 3 orang di belakang itu, tetapi tidak dengan orang yang berdiri paling depan.
Lantas berjalan ke depan, dia membisiki Huo.
“3 orang di belakang adalah tetua dunia persilatan. Dewa Semesta, Dewa Sakti dan Dewi Peramal. Sedang yang di depan tidak kuketahui….”

Huo terlihat mengangguk pelan saja. Lantas melihat ke arah orang yang paling depan dia menanyainya.
“Siapa anda?”

Orang terdepan itu menjawab dengan pelan saja.
“Kita pernah bertemu 5 kali dan inilah yang keenam. Tetapi kamu belum mengenalku…”

Huo yang mendengar suara orang tua ini kontan terkejut. Dia mengerutkan dahinya.
“Kau tetua dari partai surga menari????”

“Terserah apa yang akan kau bilang. Tujuanku adalah meminta kalian semua meninggalkan tempat ini.” tuturnya dengan dingin.

“Kau tidak bisa sesuka hatimu…” jawab Huo pendek. Tetapi dimatanya terlihat sikap jerih juga menatap pria di depannya itu.

“Ini adalah taman peristirahatan Puteri Han Ming. Kau adalah ketua bunga senja. Kau tahu betul ini adalah larangan kau berada disini?” tuturnya.

“Tujuanku kemari karena ingin menumpas semua orang yang berada disini karena telah menganggu tempat istirahat leluhur kita…” jawab Huo Xiang.

Mendengar apa kata Huo yang licin, pemuda tua ini malah tertawa terbahak bahak. Suaranya menggaung sangat tinggi.Beberapa pesilat disana terlihat tergoncang mendengar suara nan hebat yang muncul.

“Akhirnya kau mengaku bahwa kita bersama berasal dari 1 leluhur. Kau tahu apa arti partai Bunga senja?” tutur pemuda tua kembali kepadanya.

Mendengar apa kata-katanya, Huo hanya terlihat menggelengkan kepalanya.

“Dahulu leluhurmu diminta menjaga “bunga senja”. Bahkan kau sendiri tidak tahu arti “bunga senja”.” jawab pemuda tua sambil menggelengkan kepalanya.

“Bunga senja artinya sinar emas.” tutur suara seseorang yang berada di belakang.

Suara pemuda yang tidaklah asing di dengar semua orang disana. Pemuda itu tadinya berada di daerah yang paling belakang. Sekarang dia sepertinya telah berdiri dengan baik. Suaranya bahkan tidak kelihatan bahwa dia sedang menderita ataupun apa.

Semua orang berbalik melihat. Sementara itu, para pesilat dari Persia maupun China daratan hanya diperlukan melihat ke samping.
Yumei yang berbalik langsung menatap ke arah datangnya suara, tentu sangatlah kegirangan sekali.

Pemuda yang berbicara tiada lain adalah Jieji adanya. Dia telah berdiri kokoh. Tetapi kali ini dia tampak sungguh berbeda. Terutama adalah rambutnya yang sebenarnya telah memutih, sekarang telah berubah menjadi hitam kembali. Nafasnya teratur dan matanya penuh dengan sinar cerah.

Yumei yang kegirangan, segera beranjak ke arah Jieji.
“Kakak kelima, kau tidak apa-apa?”
tanyanya saking gembira.

Jieji hanya mengangguk perlahan. Lantas dia melihat ke arah depannya. Di depannya terlihat berbaring seorang pemuda paruh baya yang telah putus nafas itu.
Dengan gerakan langkah perlahan dia tetap menatap ke arah bawah. Dari bola matanya telah terlihat mengalir air mata.
“Ayah…….”

Tuturnya sambil berlutut. Kemudian dia memberi hormat sebanyak 3 kali dengan sangat hikmad.

“Paman meninggal gara-gara menolongku….” tutur Yumei yang berjalan ke depan sambil menangis.

Jieji hanya diam saja sambil menatap ke arah ayahnya.

“Tidak…
Dia merasa berhutang budi karena 2 tahun lalu aku tidak membunuhnya. Maka daripada itu, dia membalasnya dengan sedemikian rupa..” tutur pemuda tua di tengah itu.

Mendengar pernyataan dari orang tua. Yumei baru menyadarinya. Meski dia tahu bahwa orang tua inilah yang menyelamatkannya, tetapi gara-gara pemuda tua ini tidak mencari masalah lebih lanjut dengannya. Maka Hikatsuka membalas kebaikannya dengan bertarung mati-matian untuk menyelamatkannya.
Menyadari hal ini, Yumei kembali menangis deras.

Jieji yang hanya melihat ke ayahnya, segera membopong mayat sang ayahnya ke pinggir yang agak jauh. Dia melakukannya dengan amat hormat. Setelah benar di letakkan, dia mengamati ke arah Huo Xiang.

“Tidak ada seorang pun dari partai bunga senja yang boleh kembali hidup dari sini…..”
Tuturnya dengan nada yang marah. Di matanya terlihat sinar pembunuhan dahsyat. Kedua tangannya mengepal dengan keras. Hawa di sekitar tubuhnya mengumpul seiring desiran angin yang memutar hebat.

Sikap Jieji yang terlihat marah dan pandangan mata yang dingin melihat ke arah Huo dan kawan-kawannya tentu membuat mereka tergetar hatinya.
Mereka tidak menyangka setelah dia bangun, maka tenaga dalamnya bukan saja bisa digunakan. Bahkan Zhu Xiang yang pernah melihat dan merasakan bagaimana energi Jieji tentu merasa keder. Kali ini setelah dirinya berdiri dengan benar, bukan saja hawa energinya setingkat saat pertarungannya melawan Yue Liangxu di tembok kota Beiping 2 tahun lalu. Melainkan dia merasakan energi lawannya lebih hebat lagi.

Sesaat, hanya Zhu Xiang yang merasa tergoncang hatinya menyaksikan lawan di depannya ternyata telah jauh di atasnya.

Jieji yang “emosi” sebab kematian ayahnya sepertinya tidak ambil peduli lagi atas segala hal. Apakah pesilat Persia semuanya bakal dibantainya disini?

***

Nun Jauh di arah Timur…
Perbatasan kota Chengdu, Sizhuan…

Yunying melanjutkan perjalanannya…
Dia ingin menuju ke arah barat. Beberapa gosip menyatakan bahwa banyaknya pendekar daratan tengah telah menuju ke Persia. Di dalam hatinya dia berharap bahwa sang suaminya memang benar berada di sana. Tetapi banyak hal pula yang dipikirkannya. Salah satunya adalah mengapa Jieji tidak pulang ke daratan China. Setidaknya baginya dia adalah seorang lelaki yang bersifat setia terhadap janji-janjinya. Dia merasa bahwa Jieji tentu tidak ingin melihat kakak pertamanya kesusahan menghadapi pasukan Liao yang ganas itu.

Tetapi setelah diingat-ingat, dia malah terlihat cukup putus-asa.
Justru karena sifatnya, maka tidak mungkin Jieji akan berpangku tangan saja terhadap kesusahan orang yang betul dikhawatirkannya yaitu Zhao kuangyin yang sebagai kakak pertamanya.
Dari sini dia merasa bahwa harapan hidup suaminya kembali sirna. Tetapi nyonya Xia ini tidaklah menangis. Dia hanya mengerutkan dahinya sambil berpikir berkeliling kota Chengdu yang lumayan luas itu.

Seraya berjalan, dia mengingat kembali kejadian 2 tahun lalu di bawah tembok kota Beiping. Dia mengingat bagaimana Jieji dengan keji ingin membunuhnya dengan jurus tapak berantai tingkat terakhir. Tetapi mendengar bahwa setelah suaminya melukainya dengan parah, malah dia memberikan energinya untuk membuat dia bertahan hidup.
Sesaat, dia juga merasa aneh saat-saat tersebut.
Namun setelah di rasakannya sendiri dengan pasti, dia berpikir bahwa selain energi-nya. Jieji bahkan memberikannya salinan kitab Ilmu tapak berantai kepadanya dalam pesan terakhir yang dikhususkan untuknya.

Justru pesan terakhir dari suaminya yang sungguh sangat mengkhawatirkannya.
Dia tahu bahwa sang suami selalu merencanakan sesuatu hal secermat-cermatnya. Termasuk kepergiannya kali ini tentulah sudah direncanakannya sangat matang. Entahpun dia kembali dengan selamat atau tidak.

Beberapa pikiran yang cukup rumit sedang menari-nari di otaknya. Bagaimanapun dalam hatinya, dia ingin langsung menanyai Jieji sebenarnya apa maksud dari keseluruhan tindakannya di bawah kota Beiping itu 2 tahun yang lalu. Dari sinilah, Yunying memulai perjalanannya setelah 1 tahun lamanya bergiat berlatih silat yang lebih dalam lagi di Tongyang.

Tenaga dalam pemberian Jieji dan Yue Liangxu keduanya mengandung unsur pemusnah raga. Seperti yang telah diberitahukan sebelumnya, unsur tenaga dalam pemusnah raga adalah pembelahan energi. Setiap belahan energi masing-masing dikuatkan sehingga membuat Ilmu termahsyur itu termasuk Ilmu yang tanpa tanding sejagad.

Tahapan tenaga dalam Ilmu pemusnah raga cepat berkembang tentunya disebabkan tiada lain karena pemakai sendiri memiliki 4 energi yang berbeda. Dan setiap saat pula, 4 energi selalu berkembang setiap saatnya. Apalagi Yue Liangxu, selain memiliki 4 energi mendukung tenaga dalamnya. Dia masih memiliki 4 energi pendukung 4 unsur utama. Sehingga dalam waktu selang beberapa tahun saja Ilmunya telah meningkat sungguh pesat sekali.

Yunying yang telah memiliki tenaga dalam hebat itu tentu tidak susah untuk mempelajarinya perbagian sebab pembelahan tenaga dalam(teknik tersusah) telah ada pada dirinya.
Jadi di daratan China saat sekarang, Yunying telah termasuk seorang jago no.1 dan jarang bisa dibandingi lagi meski oleh Zhao kuangyin sekalipun.

Sikap cemas dan rasa susah telah tertampak dari wajahnya saat dia berkeliling dalam kota. Beberapa orang yang melihat gadis yang cantik luar biasa melewati mereka, banyak yang menolehkan pandangan kepadanya. Tetapi Yunying malah tidak melihat mereka satu persatu. Perjalanan yang terlihat membingungkan acap kali membawanya ke salah arah.
Hingga dia berjalan sampai sebuah sudut kota yang cukup sepi.

“Nona manis…”
terdengar suara seorang pria yang memanggilnya tiba-tiba.

Tetapi Yunying masih memikirkan banyak hal di otaknya. Tidak sedikitpun dia menggubris panggilan orang tersebut. Dia malah berjalan dengan gerakan biasa saja tanpa menoleh.

Tetapi pemanggil yang memanggilnya segera memanggilnya kembali dengan agak keras.

“Nona manis….”

Yunying kali ini mendengar seruan dari seorang pemuda. Tetapi dengan kepala yang masih agak tertunduk, dia berjalan saja tanpa menghiraukan. Baginya, dia sudah menjadi seorang nyonya, dan bahkan telah mempunyai seorang putera. Mana mungkin ada yang memanggilnya nona lagi.

Tetapi hal semacam ini tentu tidak pernah diketahui siapapun, mengingat usia Yunying memang masih tergolong muda. Paling saat ini dia hanya berusia sekitar 24 tahun saja.
Tentu panggilan nona masih sangat wajar untuknya. Tetapi dengan tanpa menggubris, dia berjalan terus.

Pemuda yang memanggilnya sepertinya kehilangan kesabaran. Dengan berjalan perlahan, dia menguntit Yunying.
Tetapi Yunying benar tahu bahwa dia sedang diikuti. Oleh karena itu, dia berjalan tetap ke depan tanpa menggubris dan seakan tidak merasa diikuti.

Setelah berjalan cukup jauh di sudut kota itu…

Si penguntit dirasa sepertinya bukanlah orang biasa. Gerakannya teramat ringan sekali. Untung saja Yunying adalah pesilat yang sungguh luar biasa tinggi kungfunya. Dia mampu merasakan setiap gerakan penguntit itu. Penguntit bergerak meski menginjak tanah, tetapi untuk mendengar suara langkah sudah hampir tidak mungkin. Oleh karena itu, Yunying hanya mengkonsentrasikan gerakan tubuhnya yang tersapu angin.

Tidak berapa lama, sampailah dia juga di sebuah lorong yang agak kecil. Lorong di depannya adalah buntu adanya.
Akhirnya disini Yunying berhenti juga. Dia menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang menguntitnya. Tetapi baru saja dia menoleh, dia melihat serbuk putih telah mengenai mukanya.

Serbuk putih yang mengenai mukanya yang putih dan halus itu tidak berlangsung lama. Sebab pandangannya yang sebelumnya adalah serba putih, sekarang telah terasa sungguh gelap.
Tanpa terasa olehnya, dia telah kehilangan kesadarannya. Dan jatuh terjerembab.

***

Persia…
Di panggung format 72 Iblis…

“Kalian pergilah.” seru pemuda tua itu yang menyaksikan kemarahan Jieji telah menjadi-jadi.

Mendengar seruan pemuda tua di tengah, Huo Xiang malah sepertinya tidak ingin pergi. Meski beberapa pengikutnya telah mulai ketakutan dengan sikap menterengnya Xia Jieji.
Huo berjalan ke tengah. Dia tetap memegang tombak dengan sikap angkuh dia berjalan ke depan.

Jieji masih belum mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia masih tetap “melekatkan” pandangan matanya dalam-dalam ke arah Huo.
Melihat Huo telah siap juga, Yumei yang berada tidak jauh dari Jieji. Segera berseru.

“Kakak kelima. Tangkap pedang…”

Bersamaan dengan tutupnya suara Yumei. Pedang ksatria yang masih di tangannya dia lemparkan ke arah Jieji.
Melihat Yumei beraksi, Huo cukup terkejut juga. Jika pedang nan tajam itu dipegang oleh Xia Jieji. Maka dia tentunya makin menjadi. Oleh karena itu, tentunya dia berniat benar untuk menghalanginya.

Bagaimanapun caranya, dia tidak akan membiarkan Jieji memakai pedang nan tajam itu untuk bertarung dengannya. Tentu pertandingan ini tidak akan adil sama sekali.

Lantas saat pedang sedang melayang ke arah Jieji, Huo dengan gerakan cepat luar biasa lantas ingin merebut pedang hebat itu.
Jieji tentu melihat gerakan lawannya secara pasti. Dia tahu benar bahwa lawan sekarang bertujuan merebut pedang-nya. Dengan ancang-ancang, dia segera mengayunkan kakinya untuk mengambil pedangnya sendiri.

Semua pendekar siapapun yang melihat keduanya bergerak demi 1 pedang, tentu terkejut. Sebab kecepatan keduanya sungguh luar biasa. Tetapi gerakan awalnya Huo adalah menusuk ke arah pedang dengan tombaknya.

Dia tahu dengan benar bahwa Jieji tentu tidak akan membiarkan pedang direbut begitu mudah olehnya. Namun begitu pula Xia Jieji, dia berpikir bahwa Huo yang ingin merebutnya tentu akan mencari cara menyerangnya terlebih dahulu. Oleh karena itu, dia berlari ke arah pedang juga dengan persiapan yang baik.

Pedang terlihat melayang setinggi dada ke arah tengah.
Jieji yang melihat pedang cukup jauh untuk dijangkau. Sedangkan tombak tentu akan lebih mudah menjangkaunya karena lebih panjang segera menyusun siasat pertarungan.

Ketika Huo Xiang merasa telah di atas angin dalam merebut pedang. Dia melihat sebuah sinar terang.
Kontan dengan terkejut, dia segera mengelakkan tombaknya dan menghujamkannya ke tanah.

Sinar terang berwarna merah segera menuju ke dirinya. Tetapi karena Huo mempunyai jam terbang yang tinggi selain dari tenaga dalamnya yang hebat, dia masih bisa bertindak cukup tangkas.
Dengan memutar tapaknya 1 lingkaran penuh, sinar merah segera melenceng melalui bahunya.
Ilmu ini tiada lain tentu adalah tapak pemusnah raga tingkat pertama. Jieji-lah orang yang sering melakukan gerakan tapak ini beberapa kali.

Sinar merah memang telah tidak membahayakan dirinya, tetapi sebelum benar dia melihat ke depan untuk mencari Xia Jieji, dia telah merasakan sinar lainnya telah menuju dirinya.
Kali ini yang datang bukanlah sinar merah.
Melainkan sinar kehijauan yang terang. Tiada lain sinar kehijauan adalah berasal dari pedang ksatria yang sedang dibacokkan ke arahnya dari atas.

Huo yang melihatnya tentu keringat dingin.
Semua pesilat Persia yang melihat gerakan Jieji turun dari atas seraya membacok ke bawah tentu meneriak keras memberikan peringatan kepadanya.

Dengan cekatan, ketua partai bunga senja itu memutarkan tombaknya cepat ke atas kepalanya. Inilah gerakan ilmu tombak pengejar nyawa tingkat terakhir.
Dengan gerakan biasa saja, Huo merasa tidak mungkin sanggup melawan jurus yang dihempaskan dahsyat ke bawah itu.

Pusaran angin yang cepat segera membentuk benteng pertahanan dari bawah.
Suara berlaga senjata terdengar jelas. Jieji yang menghempaskan pedang ke bawah, kemudian dengan cepat terlihat bersalto ke belakang.
Setelah turun, dia terlihat menyeret kaki sekitar 10 kaki ke belakang.

Hal ini sempat heran dilihat semua pesilat. Hanya beberapa orang seperti pemuda tua, Dewa Sakti dan Dewa Semesta yang mengerti apa yang dilakukan oleh Jieji.

Huo yang melihat gerakan Jieji, segera tertawa terbahak-bahak.
“Kamu tahu kalau jurus ini akan bisa mencelakai nyawamu, oleh karena itu kau mengorbankan pedangmu kepadaku..”

Jieji hanya melihat ke depan. Di bibirnya segera timbul senyum.
Tetapi senyumnya tiada lama. Sesegera dia telah serius kembali. Sambil berteriak keras dia maju.

“Kalau begitu, sekarang aku minta kembali pedangku.”

Huo masih memutarkan tombaknya dengan cepat. Sementara pedang-nya Jieji masih berputar terus mengikuti gerakan tombak 1 lingkaran penuh.
Melihat gerakan Jieji menuju ke arahnya, dia kontan menghempaskan pedang ke arah Jieji dengan sangat cepat.

Pedang terlihat berbalik menyerang ke arah Jieji.
Semua pesilat kontan terkejut melihat kemampuan Huo membalikkan pedang. Jieji sepertinya salah langkah kali ini. Dia tahu bahwa di belakangnya tiada lain adalah Yumei yang masih berdiri tegak.

Jika pedang tidak ditangkapnya, maka pedang kontan akan menuju ke arah adik kecilnya itu.
Tetapi bagaimanapun Jieji bukanlah pendekar sembarangan. Jurus Huo Xiang yang sedemikian licik itu tentu belum sanggup benar menyulitkannya.

Pedang memang melesat sungguh cepat ke arahnya. Arah tiada lain dari tubuhnya adalah ulu hatinya. Dengan memutar sangat pas, Jieji yang membelakangi Huo segera menangkap pedangnya dengan tangan kirinya.

Huo sudah bisa menebak sebahagian besar tindakan lawannya itu. Maka melihat punggung lawan sudah terbuka. Tentu tidak sukar baginya untuk melancarkan serangan. Tanpa ayal, Huo segera menusukkan tombak ke depan dengan berputar kencang untuk mengoyak.

Yumei adalah orang yang paling cemas menyaksikan serangan lawan yang diarahkan sungguh tepat dan cepat ke arah kakak kelimanya. Dia-lah orang pertama yang berteriak kaget.

“Awas!!!!”

Jieji dalam posisi jelek itu bukannya merasa gelisah. Tetapi malah terlihat dia tersenyum saja.
Pedang yang dipegang di tangan kirinya segera di putarkan arahnya melebar ke luar.

Karena ujung tombak sudah sangat dekat, Huo terlihat terkejut. Bagaimanapun pedang lawannya itu sangatlah tajam. Jika di laga ke pedang, maka ujung tombak tentu akan putus.
Kekhawatiran Huo ternyata tidaklah sia-sia. Memang benar, gerakan awal jurus pedang no.1 sejagad telah membuahkan hasil.

Tombaknya Huo seperti sengaja di tusukkan pas ke bagian tajam pedang.
Dengan putus menjadi 3 bagian, tombak masih meluncur dengan cepat ke depan. Sehingga bagian besi dari tombak telah terkoyak seperti kayu yang menghantam pedang tajam.

Sesaat itu, Huo merasa terkejut sekali. Sehingga dengan gerakan menarik. Dia terlihat menarik tombaknya untuk mengarah maju lagi.
Alhasil, tombaknya memang berhasil di selamatkan. Tetapi ketika Huo baru saja ingin melihat ke depan.
Sebuah benda nan dingin telah mengarah cukup dekat dengan bola mata sebelah kirinya.

“Ilmu pedang Surga membelah benar belum ada tandingannya sejagad dalam hal ilmu senjata.” tutur Orang tua di tengah itu sambil menghela nafas.

Huo yang merasa dirinya sedang di ancam dalam keadaan yang sungguh gawat merasa keder. Kakinya gemetaran sekali melihat pedang yang jaraknya hanya sekitar seinchi di bola mata kirinya itu.
“Ini kah Ilmu pedang surga membelah? Bagaimanakah kau bisa menguasainya?” Tutur ketua partai bunga senja ini. Tetapi dia segera melihat ke arah pemuda tua itu.

Pemuda tua yang melihat Huo memandangnya itu. Segera menjawabnya.
“Mengenai ilmu ini, bahkan diriku hanya menguasai 5 jurus. Tetapi pemuda di depanmu telah menguasai 8 gerakan perubahannya.”

Huo Xiang seakan tidak percaya mendengarnya. Dia pernah dipecudangi orang tua di tengah itu ketika bertanding senjata sekitar 5 tahun yang lalu. Mendengar bahwa Jieji telah menguasainya lengkap, dia bahkan seakan tidak percaya.
Rasa takut telah menyelimuti dirinya seluruhnya. Nyawanya kali ini sepertinya telah berada di ujung tanduk.

“Kumohon lepaskanlah ayahku…..”

Kemudian terdengar seorang berteriak keras.
Suara tersebut membuat semua orang melihat ke arahnya. Nona muda yang berteriak tadi terlihat rasa ibanya melihat ke arah Jieji.
Jieji yang melihatnya, segera menanyainya.
“Apakah dia juga melepaskan ayahku tadinya?”

Nona ini yang dijawab sedemikian rupa hanya diam seribu bahasa. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Jieji.
Tetapi dari matanya segera mengalir air mata. Kemudian dia berteriak kembali.

“Kamu tahu? Bagaimanapun dia termasuk ayah mertua temanmu….”
Thing-thing meneriakinya kali ini dengan suara keras kembali.

Jieji cukup terkejut. Dia tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan nona ini. Tetapi tanpa perlu berpikir lama dia sudah cukup mengetahui seluk beluknya. Ternyata hubungan Sun Shulie dan Thing-thing sepertinya tidak sampai tahap biasa saja. Yang mengherankan baginya, Sun tidak pernah menceritakan kepadanya bahwa dia telah mempunyai seorang isteri disini.

Lantas dengan menoleh ke arah pemuda tua, Jieji memandangnya.
Pemuda tua itu menganggukkan kepalanya perlahan kepadanya. Sebenarnya apa yang terjadi antara Sun Shulie dan Thing-thing?

Jieji memang sebenarnya belum berniat membunuh ketua partai bunga senja itu. Tetapi tadinya hanya dia emosi tidak karuan. Lantas melepaskan pedang, dia berkata kepadanya.

“1 tahun lagi kita bertanding. Yakinkanlah ilmu pemusnah ragamu sedemikian rupa. Barulah kita bertanding kembali. Tempatnya tiada lain adalah disini…”
Sambil berkata, dia berbalik.

Huo Xiang seakan tiada percaya kemudian terlihat hanya melongo berdiri diam disana. Tidak ada sepatah katapun yang bisa diucapkannya. Sampai Thing-thing kemudian mendekatinya.
Huo kemudian terlihat menggumam beberapa kata secara berulang-ulang.
“Kenapa dia tidak membunuhku?”

Melainkan Thing-thing dan Zhu Xiang, mereka mengajak semua pendekar Persia dari partai bunga senja itu segera meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.

Jieji hanya berjalan membelakangi dengan pelan ke arah mayat ayahnya yang disana. Dia segera berlutut, dan terlihat menyembah beberapa kali kembali.
Yumei terlihat mendekatinya. Dengan mengalir air mata, dia berlutut ikut menyembah almarhum Hikatsuka Oda.

Pemuda tua di tengah segera berjalan ke arah Jieji yang sedang berlutut. Dia diikuti oleh Dewa Sakti, Dewi peramal dan Dewa semesta.

“Untung kamu tidak bertarung lebih lama….”
Sahutnya kepada Jieji.

Jieji hanya tidak menjawabnya. Dia tetap menunduk ke bawah saja.
Yumei yang mendengarnya cukup terkejut akan kata-kata pemuda tua itu. Dia melihat ke arahnya. Lantas dia ingin menanyainya. Tetapi orang tua ini memberikan tanda kepadanya untuk tidak bersuara.

Yan Jiao adalah orang yang berjalan ke arah pemuda tua itu. Segera dia memberi hormat dengan sangat dalam kepada pemuda tua.
Pemuda tua terlihat membalas hormat pula.

“Sudah lama kita tidak bertemu, saudaraku…”
tutur pemuda tua sambil tersenyum kepadanya.

“Kakak betul sama seperti dahulu. Tidak berubah engkau. Sebagai adik tiap hari aku merindukan kakak yang nan jauh disana….” Tutur Yan Jiao sambil menghela nafas.

Pemuda tua itu terlihat mengangguk pelan saja.

Jieji telah berdiri. Dia kembali membopong ayahnya di pundak.
“Hari ini untung sekali aku tertolong berkat Ilmu pedang surga membelah. Sebenarnya tadinya…” tuturnya sambil melihat ke arah pemuda tua.

“Aku tahu dengan betul. Kamu tidak mampu lagi menggunakan tapak berantaimu. Jika saja tadi Huo menggunakan Ilmu pemusnah raga, mungkin kali ini kamu gawat sekali. Tetapi bagaimanapun aku sangat salut kepada anda…” sahut pemuda tua.

Jieji hanya mengangguk pelan saja. Dia segera berlalu bersama mayat ayahandanya di pundaknya. Dia berjalan cukup tenang saja.
Yumei adalah orang yang mengikutinya dari belakang.

Setelah cukup jauh, Dewa Sakti segera menanyai orang tua itu.
“Kenapa dengan tapak berantainya? Apa memang benar ada masalah?”

Pemuda tua itu menggelengkan kepalanya. Sambil menghela nafas dia menjawab.
“Dia betul seorang satria sejati. Tidak memanfaatkan kesempatan meski seharusnya dia membalas dendam.”

“Jadi benar bahwa sinar emas itu bukannya menolongnya?” tanya Dewa semesta yang sangat terkejut.

“Tadi setelah dirinya bangun, energinya mulai sirna. Jika dia tidak menggunakannya maka akan ketahuan bahwa energinya sebenarnya sedang membuyar. Jika saja pertarungan dilanjutkan lebih lama, maka dia tentu mengalami rugi yang sangat besar. Tetapi menyadari keadaannya sendiri, maka kukatakan dia adalah seorang satria sejati karena tidak membunuh Huo Xiang.” tutur pemuda tua sambil tersenyum melihat ke arah tadinya berlalu Xia Jieji.

Ketiga tetua lainnya lantas tersenyum mendapati hal ini. Mereka sangat mengagumi Jieji. Dan janji 1 tahun untuk bertarung kembali tentu akan memompa semangat Xia Jieji untuk melatih Ilmu baru lagi yang bisa mengimbangi Ilmu pemusnah raga itu karena bagaimanapun energi kumpulan 4 unsur utama Jieji telah membuyar seluruhnya.

Sebelah selatan 10 Li dari panggung format 72 iblis…

Sebuah panggung dari kayu telah didirikan dengan baik. Disana terlihat seorang pemuda paruh baya yang telah tiada bernyawa berbaring. Sedang pemuda yang jauh lebih muda sepertinya sedang menyiapkan kayu yang berapi ujungnya.
Di belakangnya berdiri seorang nona cantik manis.

Tetapi keduanya seperti baru saja menangis. Mata keduanya cukup buram. Keduanya melakukan hal yang sama yaitu memandang ke depan saja.
Tidak lama, pemuda terlihat melemparkan api ke tengah. Cukup cepat, api telah berkobar besar.
Pemuda yang tiada lain adalah Jieji hanya diam saja menatap ke depan. Matanya tertimbun banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.

Salah satunya adalah Mengapa ayahnya meninggalkannya dengan cara sedemikian rupa. Dialah yang tanpa sengaja “memaksa” ayahnya meninggalkan “kampung halamannya”. Terakhir mengakibatkan dia tewas dengan cara begitu.
Jieji yang berdiri melayangkan ingatannya.

Ingatannya secepat kilat seperti tertembus ke saat 2 tahun lalu.

Ayahnya memang mengejarnya sesaat dia meninggalkan kota Beiping.
Kuda yang dibawa Jieji ternyata tidaklah secepat kuda bintang biru. Meski dia duluan pergi sesaat, tetapi karena gerakan ringan tubuh Hikatsuka telah mencapai tingkat tinggi. Dia akhirnya sanggup mengejarnya juga.

Adalah sekitar 70 li arah utara kota Shandang. Dia berhasil di cegat oleh Hikatsuka.
Jieji masih terbaring lemah di atas kuda. Dia yang melihat ayahnya datang, maka sambil terlungkup dia melihat ke arah ayahnya dengan tersenyum.

“Kembalilah ayah.. Bersama diriku…”

Hikatsuka yang berdiri di depannya hanya diam saja.

Melihat ayahnya diam, Jieji kembali menanyainya.
“Apa betul bahwa Manabu adalah adik kandungku?”

Hikatsuka hanya terlihat menarik nafas panjang. Dia tidak menjawab pertanyaan sang anak. Sesaat, melihat gerakan Hikatsuka yang pendek itu, dia sudah mampu menebaknya.
Tanpa terasa dia meneteskan air matanya.

“Aku membunuh adik kandungku sendiri….”

Hikatsuka hanya memandangnya. Tidak lama dia berkata.
“Adikmu semenjak lahir, sudah di didik oleh Dewa Bumi. Kemampuannya memang mengagumkan.”

“Jadi benar….
Mereka semua membenciku karena selain pernah membuat kakak angkat pertama ayah merenggut nyawa. Maka Manabu yang seharusnya memiliki Bintang Iblis malah kubunuh juga?
Selain itu, masih banyak gara-gara campur tanganku maka usaha kalian semua gagal? Bukan begitu ayah?”tanyanya dengan suara parau kepada ayahnya.

Hikatsuka tiada menjawabnya sepatah katapun.

Jieji yang melihat sikap sang ayah, segera tahu apa yang ditebaknya selama ini memang telah benar.

“Selain itu, memang benar dulunya Yelu Xian dan Wu Shanniang masih bisa memaafkan aku jika aku berada di pihak mereka. Tetapi karena tidak maunya diriku mengikuti mereka, maka mereka semakin membenciku.” tutur Jieji lanjut lagi.

Hikatsuka tidak menjawabnya juga. Kali ini dia tidak memandang ke arah Jieji, melainkan ke hamparan tanah yang luas itu.

“Ayah…..
Kamu harus membunuhku. Bawalah kepalaku ke Liao. Dengan begitu, ayah masih bisa kembali ke sana…”
tutur Jieji kembali.

Tetapi Hikatsuka segera berbalik kepadanya.
“Kamu pergilah… Aku tidak akan membunuh puteraku sendiri. Jika ibumu tahu keadaanmu, pasti dia juga tidak akan pergi dengan tenang…” tuturnya sambil mendongkakkan kepalanya ke atas. Perlahan dari bola matanya terlihat berlinang air mata yang cukup deras.

Melihat keadaan sedemikian.
Jieji juga ikut menangis deras. Tetapi dia tetap memacu kudanya perlahan dengan posisi terlungkup. Begitu langkah kuda telah cukup menjauh. Jieji sempat memberikan kata-kata terakhir kepada ayahnya.

“Aku tidak akan kembali ke daratan tengah lagi mengingat jika kembali maka akan menyulitkanmu sebagai orangtuaku.”

Tiba-tiba tuturan suara seseorang membuyarkan lamunannya.
“Apa yang akan anda rencanakan?”

Api masih berkobar hebat membakar jenazah Hikatsuka Oda. Sementara itu, Jieji yang tadinya hanya melihat ke depan segera berbalik.
Dia melihat adanya 5 orang di sana. Empat di antaranya adalah orang tua berpakaian putih, sedangkan 1 orang lagi pemuda paruh baya.

“Aku tidak tahu…”
jawab Jieji dengan pendek.

“Apa kamu tahu bahwa dirimu sedang dalam keadaan yang cukup berbahaya?” tanya Dewa Sakti dengan mengerutkan dahinya.

Jieji melihat dalam ke arah orang tua ini. Lantas tiada berapa lama dia menjawabnya.
“Mengenai tenaga dalamku yang sedang membuyar perlahan tentu saja kuketahui.”

Yumei yang mendengarnya, segera melihat ke arah Jieji. Dia sangat heran. Sebab tiada pernah dia merasakan adanya “bocoran” tenaga dalam Jieji sebab dia kelihatan biasa saja.

Dewa Sakti menggelengkan kepalanya. Lalu orang tua lainnya segera menuturkan kata-kata.
“Tapak berantai tidak bisa kau gunakan lagi selamanya. Kecuali jika semua tenaga dalammu dilenyapkan dahulu. Baru berlatih dari awal lagi. Tetapi…”
Jieji menjawabnya sambil tersenyum.
“Mungkin memang riwayat tapak berantai sampai disini saja. Dan itupun tidak pernah kukhawatirkan. Selain itu, tapak berantai sudah hampir menyerap jiwaku ke dalamnya.”

Orang tua tadi tersenyum puas. Dia mengangguk dengan pelan.

Dewa Sakti memang cukup penasaran akan Jieji. Dia tidak pernah bisa menebak apa yang di dalam otaknya Jieji. Ingin sekali dia menanyainya banyak hal, selain itu dia juga ingin mengetahui bagaimana caranya menepati janji bertarung dengan Huo Xiang 1 tahun lagi jika dia yakin bahwa tapak berantainya tidak sanggup lagi dipakai.
Bagaimana caranya bisa menang dalam pertandingan 1 tahun lagi?

Tetapi Jieji yang menatap ke arah Dewa Sakti sekilas sudah tahu apa yang dikhawatirkannya terutama karena dari wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Tapak berantai bukanlah ilmu no. 1 sejagad. Dan bukanlah tidak mungkin tiada ilmu yang sanggup mengalahkan Ilmu pemusnah raga.” tutur Jieji ke arah Dewa Sakti.

Dewa Sakti kontan terkejut melihat ke arah Jieji. Sesaat, dia merasa sangat kagum kepadanya. Sebab 1/2 dari isi hatinya sudah dijawab oleh Jieji tanpa menanyainya apapun.

Dewa Semesta juga mengalami hal yang sama sebenarnya. Mendengar tuturan Xia Jieji, dia menanyainya kembali.
“Ilmu pemusnah raga sebenarnya adalah belahan 4 unsur, dan mengapa kungfu ini cepat sekali majunya karena 4 bagian saling melengkapi 1 sama lainnya. Apakah mungkin ada kungfu lain yang bisa mengimbanginya?”

Mendengar pertanyaan Dewa Semesta, segera Jieji melihat ke arah orang tua sambil tersenyum.
Orang tua di tengah tersebut melihat perubahan wajah Jieji, dia juga ikut tersenyum.

“Ilmu telapak Dewa Lao kabarnya adalah Ilmu yang sanggup mengalahkan Ilmu pemusnah raga. Lalu kenapa tiada Ilmu lain lagi bisa sanggup mengalahkannya?” tanya Jieji kepada orang tua di tengah.

Orang tua ini kontan tertawa keras mendengar tuturan Jieji. Dia terlihat bertepuk tangan berapa kali.

Dewa Sakti dan Dewa Semesta serta Dewi peramal merasa aneh juga melihat tingkah orang tua ini. Melainkan Jieji saja yang tahu apa maksudnya.
“Anda adalah Dewa Lao yang termahsyur juga merupakan guru dari kakak pertamaku serta Sdr. Sun Shulie.
Selain itu, anda juga adalah ketua partai Surga menari.”

Orang tua itu segera berhenti tertawa. Dia melihat dalam ke arah Jieji.
Tidak berapa lama, dia menanyainya.
“Berdasarkan apa anda mengatakan aku-lah Dewa Lao itu?”

“Adik kecil, Yumei pernah menceritakan bahwa adanya seorang bertopeng aneh yang menyelamatkannya dari kejaran Ayahku. Katanya, jurus orang bertopeng adalah tapak yang memiliki jangkauan yang sangat jauh dan bertenaga besar. Selain itu, melihat gelagat Huo Xiang dan Tuan Yan Jiao ini. Aku sudah mampu menebaknya.” jawab Jieji.

Orang tua ini lantas tertawa lagi. Dia berkata.
“Sungguh kamu ini pintar sekali.”

Dewa Sakti, semesta dan dewi peramal tersenyum melihat sikapnya.
Tetapi dengan tiba-tiba kemudian Jieji berlutut kepadanya. Orang tua ini terkejut juga melihat sikap Jieji.

“Anda pernah memberi informasi kepada adik kecilku yang ingin menolongku saat diriku disekap di penjara bawah tanah Partai Bunga senja.
Bagaimanapun ini adalah sebuah budi yang cukup dalam bagiku…”
Dan adalah berkat pertolongan anda yang membuatku bisa hidup sampai sekarang…
tutur Jieji menyembahnya 2 kali.

Tetapi orang tua ini membimbingnya berdiri. Dia menatap mata Jieji dengan lama sekali. Begitu pula Jieji melakukan hal yang sama.
Lalu dia menggandeng tangan Jieji seraya menjauh. Mereka berjalan sekitar hampir 100 meter dari tempat itu.

Orang-orang di sana cukup heran melihat sikap orang tua dan Jieji yang berjalan menjauh. Tetapi karena mereka merasa ada pembicaraan yang patut dibicarakan keduanya. Mereka hanya diam dan menunggu saja.

Di sebuah tanah yang agak luas dan cukup jauh dari tempat tadinya. Dia bertanya dengan pelan.
“Apa yang anda rencanakan sebenarnya?”

“Tetua. Memang tidak banyak hal yang kurencanakan itu. Tetapi aku akan meninggalkan tempat ini dahulu. Kemudian mencari tempat yang tenang untuk memikirkannya kembali masak-masak.” tutur Jieji.

“Kau ingin menciptakan Ilmu baru lagi? Apa kau yakin bisa berhasil hanya dalam 1 tahun?” tanya Dewa Lao sambil mengerutkan dahinya.

Jieji menggelengkan kepalanya saja.

“Untuk tujuan-mu sebenarnya bukanlah sesuatu yang sangat gampang. Mengingat waktu yang terlalu pendek, selain itu apa ada sesuatu yang menurutmu bisa mengalahkan raja kera itu?”

“Aku tidak berniat menggabungkan lagi energi di dalam tubuhku. Sebab bagaimanapun gabungan energi adalah sangat tanggung sekali. Meski dapat kulakukan, tetapi aku sudah tertinggal jauh dari Huo Xiang yang dalam 1 tahun pasti akan maju pesat berkat Ilmu pemusnah raga.” tutur Jieji.

Sambil menghela nafas mendengarkan, Dewa Lao akhirnya menjawabnya.
“Tapak berantai sampai tingkatan empat memang bukanlah Ilmu no. 1. Tetapi memaksanya hingga jurus terakhir akan tiada menguntungkan pemakainya. Semakin dipakai semakin menyesatkan dan membahayakan diri sendiri. Ini sudah kuketahui sejak dahulu…”

“Maka daripada itu tetua tidak pernah mempelajari Ilmu pemusnah raga kan?” tanya Jieji.

Dewa Lao mengangguk pelan.
“Ada sesuatu yang ingin kutukarkan dengan anda. Bagaimana menurutmu?”

Jieji tersenyum mendengar kata-kata Dewa Lao.
“Anda ingin menukarkan tapak dewa lao anda dengan 3 perubahan tingkatan pedang surga membelah?”

Dewa Lao lantas tersenyum kaget mendengarnya. Tetapi sebelum dia mengiyakan. Jieji memberi komentar kepadanya lagi.
“Mengenai Ilmu pedang surga membelah. Sebenarnya Ilmu ini adalah Ilmu warisan dari Partai Surga menari kan? Kalau begitu, 3 tingkatan lainnya tentu akan kuberikan kepada anda tanpa perlu menukarkan apapun.”

Dewa Lao lantas tersenyum girang. Dia tidak menyangka Jieji juga adalah seorang yang bersifat budiman luar biasa.
Kemudian dia mengarahkan tatapannya ke langit.
“Ilmu pedang surga membelah adalah ciptaan leluhur partai Surga menari, Yan Chuyan. Setelah berhenti sebagai menteri pertahanan, dia datang kemari untuk menjabat sebagai tetua. Ratusan tahun telah berlalu, dan sungguh sangat disayangkan terakhir disini malah hanya terdapat 5 tingkatannya saja.”

Jieji mengangguk pelan.
“Mengenai Ilmu pedang dahsyat itu, akan kuminta adik kecil memberikannya kepada-mu.”

Dewa Lao cukup terkejut mendengarnya. Lantas dia menanyainya.
“Heran…
Adik kecil-mu mempunyai salinannya? Aneh… Aneh…
Lalu kenapa tidak dipelajarinya Ilmu pedang itu?”

Jieji menggelengkan kepalanya.
“Waktu dirinya baru berumur 6 tahun. Tangan kirinya pernah cedera parah. Sehingga untuk memakai pedang menggunakan tangan kiri sungguh menghambat pergerakannya. Aku pernah membimbingnya untuk berlatih setahun terakhir, tetapi selain tidak maju saja maka terakhir malah menyulitkan gerakan tangan kirinya.”

Dewa Lao hanya mengangguk pelan saja. Tetapi tidak lama, dia mengeluarkan sesuatu benda dari saku bajunya. Sepertinya benda yang dikeluarkan adalah sebuah buku. Langsung dia angsurkan buku itu kepada Jieji.

Jieji memang tidak berani menerimanya terlebih dahulu. Dia melihat sampul buku yang bertuliskan “Kitab 10.000 langkah Dewa”.

Jieji yang melihatnya cukup terkejut.
“Ini adalah buku kitab ilmu menghindar yang terkenal dari partai Surga menari?”

Dewa Lao mengangguk pelan saja. Tetapi sambil tersenyum dia berkata.
“Meski Ilmu ini bukanlah gerakan penyerangan, tetapi untuk melatih langkah dasar bertarung adalah sungguh sangat baik.”

Jieji yang melihatnya tentu girang juga. Sebab bagaimanapun Ilmu menghindari partai surga menari sangat-lah hebat. Dia tahu bahwa bagaimanapun Ilmu langkah ini jauh di atas Ilmu langkah ringan Tao-nya. Perlahan dia menjemput buku itu sambil tersenyum.

“Terima kasih tetua…”

“Kamu akan pamitan?” tanya Dewa Lao kembali.

Jieji mengangguk pelan kepadanya. Lalu dia berkata.
“Tetua, tolong jagalah adik kecilku. Minta-lah kepadanya untuk pulang ke Daratan tengah saja. Sedikitnya dia masih bisa membantu kakak pertama. Karena selain Ilmu silat, dia juga adalah orang cerdik nan pandai. Dia sangat dibutuhkan disana.”

Dewa Lao menyatakan kesanggupannya. Dia terlihat mengangguk.
“Aku berjanji akan membawanya sampai ke Shandang dengan aman.”

Jieji memberi hormat kepadanya dalam-dalam. Sesaat, dia bergerak menjauhi ketua partai surga menari ini.

Dewa Lao menatapnya cukup lama sampai berangsur dia menghilang.
Sedangkan Yumei yang terpaut cukup jauh bisa melihat bahwa kakak kelimanya bergerak untuk meninggalkan tempat itu. Lalu, dia segera berlari ke arah Dewa Lao.
Sesampainya dia di tempat berdiri Dewa Lao, lantas nona kecil ini menanyainya.

“Kakak kelima hendak kemana?”

“Dia berniat menyepi sendiri saja. Dia memintaku untuk mengantarkanmu pulang ke daratan tengah.” jawab Dewa Lao sambil menatap nona kecil.

Tetapi Yumei segera berlinang air mata. Dia melihat ke arah tempat Jieji beranjak meninggalkan tempat mereka. Tetapi dia tidak mengejarnya.
Lantas cukup heran orang tua ini mendapati tingkah nona kecil, dia kemudian menanyainya.

“Kenapa kamu tidak mengejarnya?”

Yumei sambil menggunakan tangan melap air mata yang jatuh di pipinya menjawab.
“Apa yang diputuskan kakak kelimaku tidak bisa kuganggu sedikitpun. Itu adalah haknya.”

Dewa Lao menatapnya sambil tersenyum. Di hatinya dia terasa sangat lega dan aman. Lalu sambil tersenyum dia menatap ke depan.

***

Chengdu, Daratan China…

Yunying yang merasa dirinya tertidur sesaat itu kemudian terkejut. Dia sepertinya sedang merasa dirinya bergoncang beberapa kali. Tempat dia membuka mata gelap sekali.
Karena mempunyai pegangan yang cukup baik, dia bisa merasa tenang. Bubuk putih yang dilemparkan kepadanya oleh seorang pemuda adalah obat bius. Namun untuk membuatnya benar terbius bukanlah hal yang mudah sekali. Apalagi jelas sekarang bahwa Yunying telah memiliki tingkatan tenaga dalam yang tinggi.

Mungkin dirinya yang tertidur tidak-lah sampai beberapa menit.

Dia memasang telinganya dengan sangat peka mendengar suara di sekitarnya. Tanpa perlu waktu yang lama, dia sudah mengetahui dirinya sekarang berada di mana.
Yunying tahu bahwa dia sendiri sedang “diangkut” dengan sebuah peti kayu. Dan terdengar olehnya suara ringkikan kuda yang kecil serta goncangan tentu akibat peti kayu adalah di tarik kuda di jalanan yang tidak begitu bagus.

“Aku ingin melihat permainan apa yang sedang kalian mainkan itu.” pikirnya. Lantas dia kembali memakai kedua telinganya untuk mendengarkan dengan cermat.

Cukup lama juga perjalanan sepertinya. Sudah lebih dari sejam semenjak Yunying siuman. Tetapi belum juga kereta kuda yang dibawa orang ini berhenti. Sebenarnya Yunying juga tidak begitu sabar lagi. Namun karena dia ingin melihat apa hal yang terjadi, maka dia berusaha untuk mendiamkannya terlebih dahulu.

Selang sejam lebih kemudian…
Sepertinya kereta kuda telah berhenti. Jalanan terakhir ini sudah cukup bagus, terbukti goncangan kereta kuda sepertinya sudah tidak separah tadinya lagi.

Samar-samar kemudian dia mendengar suara orang turun dari kereta kuda. Tidak lama, dia mendengar ketukan kayu yang sebenarnya tidaklah dekat. Sepertinya orang yang membawanya sedang mengetuk pintu.

Suara “kriek” terdengar cukup jelas bagi Yunying.

“Aku sudah membawa seorang wanita nan cantik. Cepat masukkan peti ke dalam terlebih dahulu.”

Sementara itu, terdengar suara seorang yang lainnya.
“Kamu sudah membawa yang ke-8 bulan ini. Tetapi semuanya bukan orang yang digambar. Bagaimana kau itu?”
suara orang ini agak serak, mungkin dia adalah orang yang cukup tua. Dan dari nadanya sepertinya dia kurang senang.

“Kali ini lain tuan… Kali ini lain…
Nona ini cantik luar biasa. Kecantikannya tidak kalah dengan puteri Koguryo dan Wu Yunying dari Tongyang.” tuturnya sambil terkekeh-kekeh.

“Memang kau pernah lihat Puteri Chonchu dan Wu Yunying?” tutur pemuda yang bersuara serak itu dengan marah sekali.

“Tidak pernah sih… Kalau tidak percaya coba anda masukkan dahulu peti ini.” tutur pemuda itu.

Suara ini kemudian dilanjutkan dengan suara derap kaki beberapa orang. Sepertinya disana juga telah terdapat beberapa orang yang lainnya.
Yunying yang pura-pura tidak sadarkan diri itu telah merasa bahwa dirinya yang berada dalam kotak telah diseret.

Tidak lama kemudian, dia merasa dirinya bergoyang pelan-pelan. Dia tahu bahwa dirinya sekarang sedang “diangkut” bersamaan dengan peti kayu itu. Lalu dengan sabar, dia menunggunya.

Sepertinya, saat dia “melayang” itu cukup lama juga. Orang yang membawanya mungkin adalah sekitar 4 orang menurutnya sebab dia bisa merasakan keseimbangan di setiap sisi peti kayu berbentuk persegi panjang itu.

“Setelah beberapa lama aku belum diturunkan, berarti rumah orang ini pasti tidaklah kecil.” Yunying menganggapnya begitu.
Tetapi baru saja dia beranggapan begituan, dia merasa dirinya seperti sedang “jatuh” dengan cukup perlahan.

Tidak lama kemudian dia tahu benar bahwa dirinya telah berada di tanah.
Keadaan masih cukup sunyi. Yunying cukup heran mendapatinya. Tetapi dia tetap belum mau keluar. Lantas kali ini, dia segera menutup matanya. Jika ada orang yang membuka peti, maka dia tidak ingin ketahuan bahwa dirinya telah sadar.

Perlu waktu yang cukup lama juga, sampai terakhir dia mendengar langkah yang mendekati peti. Dan langkah disini terasa cukup berat serta bukan hanya sepasang langkah saja yang didapatinya. Tetapi terdapat mungkin belasan langkah.

Yunying tidak ingin ambil pusing untuk menghitungnya. Lantas dengan pura-pura masih terbius, dia diam saja. Bahkan nafasnya sengaja diteraturkan lemah.

“Kriettt…….”

Terdengar suara peti terbuka. Sesaat, suasana cahaya yang gelap luar biasa itu telah terang sekali. Yunying memang terkejut mendapatinya, tetapi dia masih berusaha tenang saja.

“Nona ini cantik sekali memang.”

“Betul kak…
Dia sungguh sangat luar biasa.”

“Kalian sudah tidak bisa memilikinya lagi. Sebab Huang Zi adalah anggotaku, dia yang menangkapnya maka adalah milikku.”

Sesaat suara disana kemudian gaduh.

“Apa katamu?”

“Kalau begitu, setelah menjadi milikmu beberapa lama. Maka pinjamkanlah dia kepadaku beberapa hari. Bagaimana?”

“Pinjamkan juga kepadaku tentunya setelah kamu merasa bosan kakak kedua.”

“Kau telah membunuh 15 gadis cantik setelah kau kencani. Tidak tidak…
Kali ini giliranku….” teriak suara seorang pemuda.

Begitulah kegaduhan mereka. Tiada seorangpun yang sepertinya mau kalah satu sama lainnya dalam merebut Yunying yang pura-pura terbius itu.

Tetapi Yunying yang mendengarnya sebenarnya sangatlah marah. Dia ingin bangun dan menyelesaikan kesemuanya. Tetapi karena tadinya dia mendengar bahwa ada seorang potret wanita cantik. Dia tidak ingin melakukannya lagi, tetapi tetap berpura-pura tidur.

Suasana gaduh disana cukup lama. Yunying yang mendengar suara gaduh yang kasar itu kemudian juga sama marahnya. Dia berpikir.
“Jika hari ini tidak mampu kuselesaikan kalian semua, maka jangan panggil diriku Wu Yunying. Akan kubalas semua kejahatan kalian 1 persatu.”

Tetapi tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang memecahkan kegaduhan itu.
“Diam!!!!”

Semua orang disini kontan diam tiada bersuara. Lantas mereka menyebut.
“Kakak pertama….”

Orang ini sedang berjalan mendekati ke arah Yunying. Yunying merasakannya sangat jelas. Sesaat, dia berdiri mematung cukup lama di atas peti itu.

Yunying merasa heran sekali, mengapa orang di atasnya berdiri tetap tiada bersuara saja. Dia tentu tahu bahwa orang yang barusan datang itu sedang memperhatikannya.
Tetapi, lantas dia terdengar bersuara.

“Betul….
Inilah dia… Inilah wanita yang kita cari-cari itu….”

“Apa? Kakak pertama yakin tidak salah????”
tutur kesemuanya. Tetapi dari nada mereka memang tidak puas.

“Tidak salah lagi. Nah, kalian lihatlah ini…..”
tutur orang yang bersuara cukup serak. Sepertinya dia sedang meletakkan sesuatu di atas meja yang tidak jauh dari sana.

Kesemua orang terdengar langkah menjauh untuk mendekati meja di samping itu.
“Astaga…..”

“Tetapi…. Tidak bisa… Darahku telah berdesir hebat melihat gadis itu. Tidak bisa tidak kulampiaskan.”

“Betul… Apa kata kakak kedua benar….”

Mendengar apa perkataan semua saudaranya, terdengar dia marah luar biasa.

Suara gaduh kemudian muncul lagi.
Hingga suara seorang lainnya yang membuatnya menjadi sepi kembali.

“Tetapi… Mumpung dia masih tidur, bagaimana kita lampiaskan dulu. Kemudian baru kita serahkan kepada majikan. Bagaimana? Dia pasti tidak tahu….”

Semua yang di sana lantas tertawa terkekeh-kekeh mendengar usul suara tersebut.

“Benar!!! Obat bius dari Xi Zhang ini terkenal hebat. Kita berikan dia lagi, selang 3 hari kemudian dia pasti tertidur pulas. Lantas hari ini kita bisa menikmatinya beramai ramai.”

Suara orang ini kemudian membuat kesemuanya beranjak dari meja dan mendekati peti dimana Yunying berada.
Yunying telah merasakan kehadiran mereka semua yang sedang mendekat. Tetapi dia tidak takut, kali ini dia telah mempunyai rencana.

Mereka semua telah berkeliling di peti mengamati Yunying. Yunying merasakannya dengan pasti.
Melihat seorang wanita luar biasa cantiknya ketiduran tiada bangun tentu membuat mereka semua yang adalah lelaki normal berpikiran sangat kotor.

Kesemuanya lantas mendekati dengan wajahnya.
Hanya berselang beberapa inchi kemudian…

Tiba-tiba kesemuanya terpental hebat ke belakang. Beberapa bahkan menabrak meja dan kursi, serta tembok dan tiang.

Kesemua orang itu langsung berdiri dengan sangat heran sekali. Dilihatnya wajah mereka masing-masing seakan tidak percaya. Mereka kembali mendekat ke peti. Tetapi di lihatnya si nona masih tertidur sangat pulas. Tiada tanda-tanda bahwa dirinya telah bangun.

“Kakak kedua. Wajahmu ada tamparan….”
Orang yang dipanggil ini segera memegang pipinya. Lantas kesemuanya juga merasakan hal yang sama. Wajah mereka memang terasa sama. Setelah ditilik, kesemuanya memiliki 4 garis tebal dari jari tangan.

Lantas dengan ketakutan mereka memandang sekeliling.
Tetapi tiada orang yang tampak. Kesemuanya kontan gemetar mendapatinya.

Di saat mereka sedang kebingungan. Mereka kemudian merasakan kehadiran seseorang.
Sebenarnya pesilat disini bukanlah pesilat golongan biasa lagi. Mereka cukup memiliki tenaga dalam yang tinggi. Mendapati sesuatu hal yang berubah, mereka sudah tahu.

Lantas kesemuanya memalingkan wajah ke arah terjadinya “perubahan” itu. Mereka kesemuanya melihat wanita berwajah putih dan berpakaian serba putih telah berdiri.
Lalu beberapa sampai bibirnya gemetar menyahut.
“Setan… Ada setan wanita…”

“Ngaco. Mana mungkin siang bolong ada hantu wanita.” jawab seorang lainnya.

“Ini sudah sore. Wajar saja hantu mulai keluar…”

Yunying memang telah berdiri dengan wajahnya yang penuh kegusaran sedang melihat ke arah para pemuda di depannya. Dia melihat bahwa jumlah mereka adalah 8 orang. Kesemuanya rata-rata memiliki wajah yang jelek dan bentuk yang aneh. Ada yang pendek luar biasa, atau kurus dan tinggi sekali. Tetapi wajah mereka rata-rata adalah runcing keluar seperti siluman.

“Kalian tidak ada satupun yang bisa hidup keluar dari sini. Sekarang kalian katakanlah siapa yang memerintah kalian untuk menangkap gadis-gadis cantik?” tuturnya dengan amarah meluap-luap.

Tetapi kesemuanya kelihatan tidaklah takut. Melainkan mereka tertawa terkekeh-kekeh dan dengan senyuman mesum beranjak mendekatinya.
Melihat lawan tidak tahu diri, Yunying segera beranjak sungguh cepat ke depan. Dia mengambil lawan yang tertinggi dahulu. Dengan segera dia menyerangnya dengan tapak.

Pertarungan dahsyat pun terjadi.
Suara tadinya yang sempat gaduh akibat adu mulut, sekarang gaduh akibat pertarungan tingkat tinggi.
Sinar emas sesekali berkelebat hebat membuat ruangan itu terang sesaat.
Hanya sesaat kemudian ruangan tersebut tiba-tiba runtuh dengan diikuti perpendaran energi yang luar biasa sakti.

Ruangan ini tiada lain seperti ruangan tamu yang terpisah satu sama lainnya. Seluruh tiang penglari di sana telah patah dan hancur berantakan.
Adalah melainkan hanya seorang wanita berpakaian putih saja yang berdiri dengan benar. Sedang kesemuanya telah berbaring. Beberapa bahkan telah kehilangan nyawanya dalam pertarungan singkat tetapi luar biasa dahsyat itu.

Wanita itu tiada lain tentunya adalah Yunying. Dia tidak terlihat mengalami sedikit cedera pun. Wajahnya masih sesegar semula. Matanya tetap tajam dan memerah mengamati kesemua orang yang sudah dikalahkannya.

Melihat seorang yang sedang kepayahan, nyonya ini mendekatinya.
“Siapa yang menyuruh kalian? Dari mana kalian ini semua belajar tapak buddha Rulai?”

Tetapi orang yang kepayahan ini tidak menjawabnya. Sepertinya dia telah tidak sanggup berkata-kata meski hanya sepatah katapun. Lantas tiada lama, terlihat orang ini telah putus nafasnya.

Kembali Yunying melihat ke arah orang lain yang bertubuh tinggi kurus. Dia kembali bertanya.
“Siapa yang menyuruh kalian?”

Si tinggi kurus ini sepertinya juga susah sekali menjawab pertanyaannya. Lantas dia menanyainya balik dengan kepayahan.
“Mustahil jurus tapak buddha Rulai tingkat ke- 8 kami dikalahkan dalam 5 jurus saja. Siapakah kau? Dan benarkah kamu menguasai Ilmu pemusnah raga?”

“Kalian adalah manusia bejat. Tidak pantas lagi kalian ini hidup lama. Semakin lama maka semakin banyak nyawa gadis tak berdosa lenyap di tangan kalian. Tadinya ingin kukurangi tenaga tetapi melihat bagaimana cara kalian, maka sungguh benar kelakuanku itu.”
Yunying memang masih marah. Di dalam hatinya, dia berpikir kenapa kaum wanita selalu ditindas dan dihina saja. Hal ini tentu membuat dirinya sungguh tidak puas.

“Yang menyuruh kita adalah… Adalah… Tuan HHHheeeiii…”
Baru saja dia berkata, dia telah kehilangan nafas. Orang tinggi kurus kali ini juga mengalami nasib serupa dengan saudara-saudaranya.

Yunying mendengar sebuah kata “hei”. Tetapi dia tidak bisa mengerti artinya. Sebuah huruf “hei” tentu bukanlah nama marga sebab di daratan China tiada pernah ada marga begituan. Dia hanya menatap kosong ke depan, setelah berpikir lama dia pun tidak mendapat jawabannya.

Tidak lama kemudian, Yunying menyapu seluruh kamar yang telah roboh itu. Dia berjalan mendekati sesuatu yang dilihat oleh mereka semua tadinya di sebuah meja.

Tetapi meja sejak awal sudah rontok akibat pertarungan sesaat itu. Ditiliknya dengan teliti ke arah meja yang telah jadi rongsokan kayu.
Ternyata ada sebuah kain panjang berwarna putih. Tetapi sekarang sepertinya tertindih rongsokan kayu dari atap.

Ditendangnya kayu dengan kuat. Kayu kontan melayang pesat beberapa puluh kaki jauhnya.
Lantas sambil berjongkok, dia meraih kain putih. Lalu diamatinya sebentar.

Sungguh membuat dirinya terkejut mendapati bahwa di kain putih ini terdapat lukisan dirinya.
Tetapi….

Tidak… Ini bukanlah potret dirinya. Melainkan potretnya Yuan Xufen.
Dia mengamatinya cukup lama sambil berpikir keras. Bagaimanapun dia memutar otaknya dia tidak sanggup untuk mendapatkan jawabannya. Lantas dipikirkannya apakah mungkin Xia Jieji mencari dirinya dengan cara beginian.

Tetapi sungguh mustahil, sebab tidak mungkin bahwa suaminya akan memerintahkan orang-orang bejat ini untuk mencari dirinya. Di otaknya terselubung sungguh sangat banyak hal.

“Bagaimana harus kucari dia lagi? Sama sekali tiada petunjuk sama sekali yang membuatku sungguh susah sekali…”
Dia terus berpikir keras. Sampai ketika sudah terdengar langkah yang cukup dekat. Yunying memang sedang tidak memperhatikan sisi lain selain “dirinya” sendiri. Tetapi berkat mantapnya energi yang dimiliki olehnya, maka gerakan yang cukup cepat mendatangi tentu terasa olehnya.

Lantas dengan mengalihkan pandangan ke samping, dia sembari menunggu saja orang yang bakalan datang ke sana. Terasa derap langkah kaki memang cukup banyak. Mungkin belasan orang sampai menurutnya.

Leave a Reply