Pahlawan dan kaisar 29

By abanstn

otak belakang. Tentu siapa dari sini tidak akan hidup lagi jika jurus dikerahkan.
Tanpa terasa, keempat orang: Chen Yang, Huang Qian, Xia Rujian dan Wu Shanniang berkeringat dingin.

“Kenapa diam? Kalau begitu akan kulakukan segera.”
Begitu dia menutup mulutnya. Pedang yang sedang diarahkan ke Chen Yang tadinya segera dia putar pelan, namun sangat cepat sekali. Yang dituju sasarannya tiada lain adalah seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping.
Entah karena dendam atau ada masalah lain, mengapa Putra mahkota Duan malah ingin melepas jiwa lawan yang jelas terlemah di antara mereka semua.
Pedang membacok cepat sekali ke arah lengan Wu Shanniang.

Wu, yang melihatnya tentu kepalang terkejut. Dia berteriak keras tertahan sebelum pedangnya sampai membuntungi lengan Wu.
Tetapi…

Permainan ini dikacaukan oleh seseorang dengan gerak silat yang sangat cepat sekali. Belum sempat pedang yang tidak tajam tersebut di bacokkan ke lengan. Seperti ditahan oleh tenaga maha dahsyat dan pedang tidak dapat membacok ke bawah lagi. Hawa terasa dari arah bawah ke atas, dan berasal dari tapak terbuka yang putih bersih. Sebuah bentuk tangan seorang wanita yang lembut.
Duan Taizi segera menoleh pelan sambil menerbitkan senyuman kepada penolong Wu Shanniang.
Dia adalah seorang wanita cantik luar biasa. Wajahnya terlihat memerah karena amarah yang terbit sesaat.
“Lepaskan dia!”

Terdengar wanita berteriak sekali. Duan yang melihat gaya garang wanita cantik tiada lain adalah Yunying, malah tidak takut. Dia memandang tertarik ke arah orang di belakang wanita cantik.
Dia adalah Xia Jieji yang juga ikut menyusul mendekati. Wajah pemuda terbit senyum seperti Duan. Matanya terlihat berbinar sesaat ketika pandangan mereka bertubrukan.
Wu Shanniang yang terkejut tadinya merasa rohnya telah terbang ke langit tingkat tujuh, sama sekali tidak dinyanya bahwa puterinya sendiri bakal menolongnya. Setelah beberapa saat, dia telah sadar bahwa bahaya terlihat sudah lewat.

“Kau sengaja membacok pedang ke arahnya bukan?” tanya Jieji sambil berwajah senyum.

Duan tidak langsung menjawab pertanyaan Jieji. Dia memandang sambil tersenyum saja kepadanya.
Yunying yang melihat ke arah Jieji dan Duan Taizi sesaat merasa heran sekali. Keduanya lempar senyum dengan alis yang sedikit ditekukkan.
Yunying bukanlah termasuk orang yang pikirannya lamban. Demi mendengar perkataan sang suami, sesaat dia mengerti juga pokok permasalahannya. Rupanya Duan sengaja memancing keduanya untuk “menolong”. Hanya Wu Shanniang dan Huang Qian yang sebenarnya memiliki hubungan dekat dengan mereka berdua. Dengan hendak mencelakai Wu, maka kemungkinan keduanya bakal datang menolong. Entah apa maksud dari putera mahkota negeri Tayli terdahulu itu.

“Kalian pergilah.” sahut Duan Taizi segera melempar wajah ke arah Chen Yang bertiga yang berdiri di dekatnya.

Chen mau tidak mau terkejut mendengar perkataan Duan Taizi. Tetapi, jika tidak pergi. Maka mereka hanya mengantar nyawa saja jika terus berdiri. Namun, mendengar lawan memberinya satu jalan hidup. Ketiganya memang terasa bingung sesaat, namun segera saja mereka berempat kabur dengan cepat. Huang Qian terlihat mengangkat Xia Rujian yang tadinya duduk dengan perlahan, tanpa banyak berkata mereka serentak bergegas meninggalkan tempat nan asri tersebut.

Xia Rujian yang dibopong Huang sempat berbalik melihat ke arah Jieji. Dia melihat Jieji melihatnya dengan tatapan alis berkerut. Karena tatapan demikian, Xia Rujian akhirnya memalingkan wajahnya ke depan lagi tanpa berbicara sepatah kata apapun. Begitu keempatnya meninggalkan tempat, tentu membuat semua pengawal-pengawal juga melakukan hal yang sama. Sekarang hanya tinggal 5 orang yang berada di sana. Kesemuanya terpaku sebentar setelah menyaksikan segerombolan orang pergi.

“Kita akan meninggalkan tempat ini?” tanya Yunying tiba-tiba kepada Xia Jieji.

Jieji melihatnya sesaat, lantas berpaling ke arah Duan Taizi. Dia melihatnya dengan tatapan mata serius.
“Ada yang hendak kutanyakan.”

Duan, yang melihat keseriusan Jieji malah tersenyum saja. Dia menjawab perlahan.
“Silakan.”

“Mengenai kitab Tapak Buddha Rulai tingkat kesembilan. Engkau sudah menggantinya sejak pertama bukan?” tanpa basa basi, Jieji menanyainya.

Duan yang mendengar perkataan Jieji, terlihat terkejut sebentar. Lantas wajahnya berubah tersenyum. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak dengan sangat senang sekali. Tenaga dalam dirinya tanpa sadar mengalir membahana seiring suaranya.

Gao Jianshen ataupun wanita cantik disebelahnya terkejut mendapati hal demikian. Mereka tahu bahwa putera mahkota Tayli tersebut sangat tinggi ilmu silat dan tenaga dalamnya, namun melihat sikap tertawa yang tidak sengaja mengeluarkan tenaga dalam saja bisa sebegini dahsyat, tentu keduanya seakan tidak percaya.
Jieji juga sedemikiannya, dia melihat ke depan. Meski tenaga dalam sedemikian tidak mengganggu dirinya terlebih lagi Yunying, namun dia merasa salut juga kemampuan tingkatan tenaga dalam orang.

“Betul sekali…
Kitab tapak buddha Rulai tingkatan sembilan sebenarnya sudah hilang sejak awal di jagad.” jawab Duan dengan tenang.

“Tetapi…
Bukankah engkau memberikannya untuk pinjam lihat Meng Yangchu yang terakhir adalah pamanku, Huang Qian?” tanya Yunying yang agak heran.

Duan memandangnya dengan tersenyum.
“Betul…
Intisari dari kitab tapak buddha Rulai tingkatan kesembilan sebenarnya adalah latihan mendalam tentang tenaga dalam. Buku sudah terbakar semenjak ayahku wafat. Tetapi tingkatan kesembilan sudah kupelajari dengan sangat baik waktu itu.”

Sementara Duan bercerita, Jieji berpikir keras. Kemajuan pemikiran Jieji memang luar biasa. Duan baru bercerita sampai di sini, Jieji sudah berhasil menyelami apa yang bakal diceritakannya kemudian.

“Tiada yang hebat betul dari tapak buddha tingkatan kesembilan, tetapi saudara angkatku itu sangat tertarik kepada buku itu. Dengan tingkat kepintaran saudaraku, aku tidak yakin bahwa dia mampu mempelajarinya dalam waktu beberapa hari saja. Maka daripada mengecewakannya dengan mengatakan bahwa kitab sudah terbakar, aku membuat salinannya dengan meniru tulisan tangan ayahku. Tetapi, kesemuanya sudah kuubah menjadi lebih sederhana.
Aku menulis disana bahwa hanya menguasai dari tingkat 1 hingga 8, baru bisa memantapkan energi guna mempelajari tingkat selanjutnya. Terang tapak buddha memang tidak pernah menguasai cara membalikkan nadi seperti yang kutulis. Tetapi setiap serangan tapak buddha membutuhkan ketenangan hati, dan justru setelah memantapkan 8 jurus, maka jurus kesembilan jika benar dibalikkan maka kekuatan jurus tersebut benar tidak berada di bawah kemampuan jurus ke sembilan yang aslinya.”

“Tunggu…
Apa efeknya jika benar dipelajari oleh seorang yang betul melatih tapak buddha tingkat pertama hingga kedelapan…” baru Jieji hendak bertanya. Duan sudah menyambungnya.

“Jika ada orang sedemikian, dia mempunyai 2 pilihan takdir.” sahut Duan sambil mengangkat jarinya.

Jieji terkejut juga. Biasanya 2 pilihan tentu 1 baik dan 1 buruk. Mengingat siapa yang berkemampuan mempelajarinya tersebut, tentu tanpa terasa dia berkeringat dingin.

“Yang pertama, jika dia sanggup menguasai dirinya. Maka dia terang telah mengerti apa yang kutulis. Yang kedua…
Meski dia bertambah kuat, tetapi nyawanya betul di ujung tanduk.
Sama seperti keadaan anda dan atau bisa lebih parah, seperti ketika setelah anda mengalahkan Li Zhu beberapa tahun yang lalu.” tutur Duan dengan serius.

Jieji terkejut sebentar. Dia membayangi kembali masa lalu yang sudah lewat sekitar 6 tahun lalu.
Saat itu, Jieji terlalu memaksakan tenaga tapak berantainya. Memang benar terakhir dia unggul atas Li Zhu di jurus terakhir. Alhasil, bukan saja dirinya yang terlalu memaksakan dirinya sesaat segera “memakan” usianya dengan pesat.

“Tapak berantai… Jurus yang hebat dan dahsyat sekali. Meski mirip ilmu pemusnah raga, latihan awalnya terlihat sama. Tetapi pada latihan akhir, kedua ilmu cenderung berbeda sekali. Namun, ilmu ini bisa dikatakan sesat.” sahut Duan dengan memalingkan wajah ke samping.

Jieji menyadari apa perkataan dari Duan memang benar sekali. Tenaga dalam orang yang berlatih memang sangat kuat jika mendalami ilmu tersebut, namun karena 4 unsur selalu bertambah kuat setiap harinya. Maka lama kelamaan bukan saja meluber energi itu. Dan jika raga tidak tahan akan kemampuan tenaga dalam yang terus bertambah setiap saat, maka kebalikannya malah akan mengancam jiwa sendiri. Disebut Ilmu pemusnah raga awalnya karena pencipta Ilmu (Qin Shi Huang Di) sudah menyadari akibatnya. Artinya Ilmu ini bakal memusnahkan raga sendiri lama kelamaan.

Membayangkan bahwa orang yang melatih tapak buddha tingkat sembilan secara terbalik nadi, Jieji kembali berkeringat dingin. Tetapi, Yunying yang mendengar tuturan keduanya tentu tidak senang. Dia menghadap ke Jieji, dengan menarik pelan lengan baju pemuda, dia bertanya dengan berkerut kening.
“Kalau begitu, tapak berantai yang dipelajari olehku benar berbahaya?”

Jieji tersenyum mendengar pertanyaan isterinya.
“Tentu tidak. Karena sudah mendapat pelajaran sebegini, aku sudah tahu benar bahwa ada beberapa kekurangan dalam Ilmu yang kucipta sendiri itu. Dengan sengaja setiap jurus baru yang kuciptakan selalu menghasilkan daya serangan meluber tentunya adalah mencegah hal sedemikian.”

Yunying kurang puas mendengar jawaban Jieji. Meski kungfu barunya itu lihai luar biasa ditambah tenaga dalam pemberian Jieji dan Yue Liangxu, sebenarnya kemampuan Yunying sudah tiada tandingan sejagad jika benar dalam adu tenaga dalam. Lantas segera dia menanyainya kembali.

“Kalau begitu, aku harus bertarung setiap saat. Tidak boleh membiarkan energinya terus meluber? Dan tentunya lama kelamaan jika diriku tidak bertarung maka akan berubah menjadi nenek tua sebelum umurnya?” dengan terlihat kesal dia memandang ke Jieji.

Kesemua orang tertawa melihat cara berbicara dan kepolosan Yunying. Jieji tersenyum sangat riang demi mendengar perkataan Yunying. Lantas dia menjawabnya begini.
“Ketika kamu benar melepaskan Qi ke seluruh tubuh. Apa pernah dirasakan bahwa energi meluber keluar dan penarikan nafas kedua menimbulkan ledakan energi yang lebih dahsyat?”

Yunying sering sekali melakukan gerakan awal pernafasan yang merupakan gerak awal setiap tingkatan Ilmu tapak berantai. Dia segera menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

“Itu karena 4 unsur hanya sekali berjalan dan tidak saling bertindih. Kemajuan tenaga dalam sebegini memang agak lamban. Tetapi justru tidak membahayakan.” tutur Jieji sambil menepuk pundaknya ramah.

Yunying girang. Rupanya sejak awal Jieji memang sudah memperhitungkan efek bahaya Ilmu yang dilatihnya tersebut. Oleh karena itu, dia menciptakan kembali ilmu baru dengan daya tekanan yang berkurang dahsyat namun justru tidak menimbulkan efek bagi pemakai sama sekali.

“Wei Jindu sekarang sudah berubah. Seharusnya kau sudah benar tahu?” tanya Duan tiba-tiba kepada Jieji.
Ini adalah pertanyaan paling tidak suka didengar oleh Jieji. Tetapi mendengar Duan menanyainya begitu, dia berpaling sambil menghela nafas panjangnya.

“Sekarang…
Meski tidak pernah kau berikan salinan kitab tapak berantai. Toh, benar dia mendapatkannya. Sudah dia dapatkan sejak awal.” Duan bercerita sambil menggelengkan kepala.

Yunying tidak mengerti dengan jelas perkataan Duan. Dia terlihat berkerut kening. Namun, Jieji mengerti apa perkataan orang.
“Aku harus bertemu dengannya secepatnya.”

“Kalau begitu, pergilah secepatnya.” sahut Duan dengan pendek dan serius.

Jieji baru saja mau memberi hormat sambil memutar badan. Tiba-tiba putera mahkota berkata kembali.
“Untuk anda pendekar Xia…
Sesungguhnya harus agak berhati-hati dalam perjalanan-mu kali ini…”

Jieji sempat berpaling sebentar, dia mengangguk pelan sambil mengucapkan sepatah kata terima kasih.

Duan dan 2 orang temannya memandang lurus ke depan beberapa saat. Sampai kemudian mantan putera mahkota segera melirik ke arah gadis di sampingnya.

“Sepertinya kamu harus mengikutinya.”

Gadis itu tersenyum manis. Kecantikannya memang luar biasa apalagi tersenyum seperti demikian. Dia memberi hormat pendek.
“Aku akan berusaha semaksimal mungkin melindungi mereka.”

Duan mengangguk pelan dan berbalik sambil berjalan ke belakang dengan tenang saja.
Sementara itu, si gadis sepertinya sudah beranjak berjalan mengikuti ke arah perginya Jieji dan isterinya, Wu Yunying.

“Meng Yangchu… Saudaraku…
Tidak disangka bahwa kamu sudah pergi puluhan tahun lalu. Tetapi tidak pernah kusadari sama sekali.” sahut Duan yang terlihat mengangkat kendi arak yang berada di meja belakang pohon.

“Tuanku…
Kenapa anda tidak membunuh Huang?” tutur Gao menanyainya.

Selang cukup lama juga, akhirnya Duan berbicara.
“Huang Qian…
Orang yang pintar luar biasa. Dia sudah menyamar menjadi 2 orang dalam 1 saat. Dan dirinya sendiri malah dianggap telah mati. Aku benar salut kepadanya.” Sambil melirik sebentar ke arah Gao, Duan melanjutkan kembali.

“Huang akan terkena akibat dari ulahnya sendiri. Setidaknya sekarang sudah ada 1 orang yang betul-betul menginginkan nyawanya.” Duan berkata sambil tersenyum hambar saja.

“Tetapi.. Tuan muda..
Sepertinya Xia Jieji tidak menyadari bahwa…” sahut Gao dengan agak bersemangat.

“Dia mungkin tidak menyadarinya, hanya saja…” tutur Duan sambil mengerut keningnya.

Jieji yang beranjak pergi bersama Yunying menuju ke arah utara. Yunying asyik menghujani Jieji dengan berbagai pertanyaan yang sulit dimengertinya.

“Kamu tahu? Sebenarnya saat kukatakan pada Lie Hui bahwa Meng Yangchu bukanlah ayahnya. Maka saat itu sebenarnya sudah kutahu bahwa dia adalah pamanmu.” jawab Jieji.

“Loh? Bukankah kalau dia adalah pamanku berarti dia adalah ayahnya Lie Hui?” tanya Yunying terus menerus karena tidak sabaran.

“Tidak..
Sebenarnya Lie Hui bukanlah puterinya.” jawab Jieji sambil tersenyum.

“Benar!! Lie Hui bukanlah puterinya. Tetapi adalah isterinya!” teriak suara merdu seorang wanita.

Mendengar adanya teriakan semacam demikian, membuat Jieji dan Yunying berpaling ke arah sumber suara yang muncul. Mereka kemudian melihat seorang wanita cantik dengan wajah bersih terang, langsing semampai mendatangi.

“Pendekar Xia, bagaimana perjalananmu kali ini kalau kuikuti?” tanyanya seraya bercanda tertawa.

Jieji menatapnya agak bengong. Kemudian dia tersenyum.
“Puteri Nan-an Duan Yenphing bersedia berjalan bersama kita. Tentu adalah sebuah kehormatan.”

Gadis cantik ini tertawa kembali. Dia mengangguk pelan sambil berjalan ke depan.

“Jadi Lie Hui itu isterinya pamanku?” tanya Yunying tidak begitu menggubris kedatangan puteri Tali tersebut.

“Betul sekali. Sesungguhnya dia bukanlah puterinya. Sahabatku itu seorang yang sangat pintar luar biasa, tidak disangka dengan “matinya” dirinya. Dia mengubah dirinya menjadi 2 orang lain yang pernah hidup di dunia. Sungguh luar biasa sekali kalau dipikir-pikir.

“Jadi…
Meng Yangchu dan Lie Fei, Ketua partai Jiu Qi juga adalah dia?” tanya Yunying.

Jieji mengangguk pelan saja. Kemudian dengan suara sayu dia berkata kepada Yunying.
“Jika suatu saat, aku sangat yakin akan apa yang kupikirkan dalam 1 kasus. Maka sebutlah “Yunnan Meng Yangchu”, maka aku akan sangat berterima kasih kepadamu.”

Dua hari kemudian…

Di jalanan pendek dan agak sukar terlihat 3 orang sedang memacu kudanya ke depan dengan agak hati-hati. Daerah jalanan pegunungan Sizhuan memang sulit untuk dijalani. Jalan sempit, jurang di samping acap kali menanti. Dan beberapa daerah disini memang terlihat pegunungan yang tinggi mengapit.

“Ini adalah daerah yang sungguh berbahaya.” sahut suara seorang pria datar.

“Mengapa kamu pilih jalan ini?” tanya suara seorang wanita di belakangnya.

“Ini adalah lembah naga terbang.” sahut pemuda sambil meluruskan pandangan ke depan.

“Sebelah barat berseberangan dengan Xiaguo. Dahulu Cao-Cao pernah menyerang kemari, tetapi dia tertipu habis-habisan oleh Zhuge Kungming karena memanfaatkan situasi medan perang yang sangat berbahaya.” jawab wanita di belakang.

“Sebentar… Lihat ke depan!” teriak pemuda yang agak terkejut. Segera, dia turun dari kudanya. Meloncat ke depan dengan ringan tubuh yang sangat luar biasa.
Kedua orang di belakangnya tiada lain adalah Yunying dan gadis yang merupakan puteri kerajaan Tali.

Keduanya, melihat gerakan Jieji yang maju ke depan secara pesat. Tanpa ayal, juga mengikutinya. Ilmu ringan tubuh kedua wanita tersebut tidaklah rendah, bahkan bisa dikatakan sangatlah bagus.
Melewati 3 belokan, akhirnya kedua wanita berhenti karena melihat pria tersebut sudah jongkok untuk memeriksa.

“Darah!” sahut pria tersebut terkejut. Dia berjalan cepat kesana dan kemari. Melihat cukup banyak darah yang belepotan meski sudah luntur karena hujan semalam.
Terakhir darah yang cukup banyak disana mengantarkannya ke sebuah jurang yang terlihat dalam. Sebab tidak bisa terlihat dasar dari tempatnya berdiri.

Pria ini termangu-mangu sambil berpikir kemudian.
Dia tidak lain tentu Jieji. Melihat ke bawah jurang dan mengerutkan keningnya.
Sebenarnya, Jieji tidak pernah tahu benar pesan yang diberikan oleh putera mahkota Duan. Sesuai pesan dari Duan, sesungguhnya artinya adalah bahwa Zhao kuangyin mendapat bahaya. Meski saat itu, Jieji betul menyadarinya. Maka kesempatan untuk menolong Zhao sudah tidak ada lagi.

“Menurutmu, ada yang jatuh ke jurang?” tanya Yunying kemudian sambil menoleh ke dalam.

“Aku akan turun…” jawab Jieji dengan datar.

Keduanya terkejut mendengar perkataan Jieji. Saat ini, sebenarnya cukup cerah. Dan dasar dari jurang saja tidak bisa terlihat oleh mata mereka. Tentu mereka tahu bahwa jurang tersebut sangatlah dalam sekali. Mungkin ribuan kaki untuk sampai ke dasarnya. Mendengar Jieji ingin turun, keduanya tentu heran luar biasa.

Jieji melirik ke arah kedua wanita tersebut.
“Kalian memiliki pisau?”

Puteri Nan-an segera merogoh kantung bajunya. Dengan segera dia mengeluarkan pisau pendek yang tidak sampai 1 kaki panjangnya. Namun, terlihat pisau sangatlah indah genggamannya. Sepertinya pisau tersebut bukanlah pisau biasa-biasa.
Jieji segera membuka sarung dengan segera. Kilatan cahaya pisau segera muncul.

“Kalian berdua bisa membantuku?” tanya Jieji dengan serius.
Tanpa perlu lama, keduanya sudah mengiyakan.

Jieji meminta keduanya menuju ke arah timur. Sekitar 30 li dari sana, terdapat sebuah desa. Mereka berdua diminta membeli tali sebanyak-banyaknya.
Dalam 2 jam, keduanya akhirnya kembali dan membawa tali sepanjang yang diperlukan.

Jieji segera mengikatkan tali tersebut kepohon besar yang terdekat. Sambil ujung tali diikatkan ke batu yang agak besar. Dia melemparkannya ke bawah jurang.
Alhasil, ketiga orang cukup bengong ketika batu besar yang telah dilemparkan tersebut tidak mencapai dasar meski panjang tali yang mereka bawa sudah hampir mencapai ratusan kaki.

Dari atas, Jieji menarik ulur sebentar tali tersebut. Sehingga dia ingin tahu apakah sesungguhnya batu yang dilempar tersebut telah mencapai dasar jurang atau tidak. Mendapati jurang teramat dalam, mau tidak mau Jieji juga terkejut.

“Kali ini aku harus turun untuk melihat. Kalian berdua jagalah di atas saja.” sahut Jieji kemudian. Meminjam pisau dari puteri Nan-an sebenarnya sejak awal sudah diketahui Jieji manfaatnya. Dia yakin bahwa tali terpanjang sekalipun tidak akan sanggup untuk mencapai dasar.

“Hati-hati…” sahut Yunying kepadanya dengan serius.

Jieji hanya mengangguk pelan saja. Namun, segera dia bekerja cepat.
Dengan meloncat ke bawah sambil memegang tali, Jieji telah menuruni dengan pesat.

Diperlukan waktu yang lama juga ketika dia sudah mendapati batu yang memang sedang mengambang di udara. Sebab panjang tali benar tidak sanggup mencapai dasar jurang. Tetapi Jieji yang sedang berada di antara langit dan bumi, cukup girang. Karena sekarang jarak sampai ke dasar jurang sudah benar tidaklah jauh lagi. Dari sini, dia mampu melihat bahwa dasar jurang sepertinya ditumbuhi pohon yang sangat lebat sekali.

Segera, dia mengeluarkan pisau yang tadinya diselip ke ikat pinggangnya. Dengan sebelah tangan mencengkram dinding batu tebing. Sebelahnya dia tusukkan pisau ke dalam.
Jieji menjadikan pisau kecil nan kuat dan tajam tersebut untuk menjadi pegangan saja. Sementara, kakinya dengan sangat lincah menuruni tebing yang curam sekali itu.

Dalam waktu sekitar setengah jam kemudian, Jieji sudah turun ke bawah. Dia loncat ke salah satu ranting pohon yang cukup besar tersebut. Memandang ke bawah bahwa di bawahnya adalah tanah yang tidak seberapa tingginya dari pohon. Sekali lagi dia meloncat turun ke bawah.

Jieji memandang sekitarnya. Jurang yang dalam tersebut ternyata di bawahnya terdapat pemandangan yang sungguh asri. Cahaya matahari seperti mengintip di antara daun-daun pepohonan yang menjulang tinggi.

Tetapi, Jieji bukan datang untuk menikmati pemandangan. Dia segera bekerja cepat. Memeriksa setiap sudut yang dikiranya penting. Luas daerah jurang tersebut mungkin sekitar 1 li persegi.

Tidak ada tanda-tanda darah dimana-mana, Jieji sebenarnya sangat lega mendapati hal demikian. Setidaknya jika ada orang yang jatuh ke jurang maka dipastikan belumlah tewas. Untuk memastikan, acap kali dia meloncat ke atas pohon, dan dari atas dia memeriksa semua pepohonan dengan sangat teliti.

“Sepertinya tidak ada orang yang jatuh kesini.” Jieji berpikir sejenak sambil berjalan ke depan. Namun, ketika dia sampai ke tebing seberang. Dia agak terkejut. Sebab ketika dia menoleh ke atas ranting, dia mendapati sesuatu benda.
Sebuah kain berwarna ungu keemasan terlihat melambai di antara ranting pohon yang cukup lebat.

Sepertinya, Jieji mengenali benda tersebut. Maka dengan pesat, dia meloncat kembali ke atas dan meraih kain berwarna ungu itu.
Ketika turun, dia mengamati sebentar benda ini. Langsung saja, wajahnya terlihat buram. Dia berpikir dengan sangat pesat kemudiannya sambil memejamkan matanya. Kerutan kening di dahinya membuatnya terlihat sangat sayu.

“Kakak pertama sempat berada di sini. Tetapi dia jatuh dengan siapa?”
“Tidak mungkin….”
“Jika dia jatuh ke sini bersama dengan adik ketiga… Maka….”
Sesaat, dia tersadar. Tangannya memang sedang memegang sebuah kain berwarna ungu keemasan. Senyumannya tampak di bibirnya dengan segera. Sepertinya dia sudah tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam jurang tersebut pada saat itu.

Dengan cekatan, Jieji mengikatkan kain berwarna ungu keemasan di pinggangnya. Sekali loncat dalam 1 tarikan nafas, tubuh Jieji segera mencelat tinggi di tebing seberang. Dan dengan bantuan tangan, Jieji memanjat pelan sambil mengamati tebing. Mendapati batu tebing terlihat bekas cakar yang cukup dalam, membuatnya tersenyum bahagia.
Memang, tebing seberang lebih landai jika dibandingkan dengan tebing tempat dia turun tadinya. Sesudah menyaksikan apa yang perlu dilihatnya, Jieji segera meloncat turun dengan meminjam pijakan tebing.

Dengan bergerak terakhir kalinya, dia sudah meyakini benar sesungguhnya analisisnya tadi. Dan karena sudah tidak ada lagi yang perlu dicari di dasar jurang. Jieji kembali mendatangi ke arah dimana dirinya turun tadinya.
Dengan melihat ke atas cukup lama, dia menarik nafasnya dalam-dalam sekali. Dan sekali dirinya terlihat berjongkok pelan, dan sekali lagi dirinya “terbang” meluncur ke atas dengan sangat pesat sekali.

Sebenarnya benda berupa kain berwarna ungu keemasan tiada lain adalah pusaka luar biasa di jagad. Benda ini adalah Sabuk naga sejati. Sabuk yang dipakai untuk melatih ilmu ringan tubuh. Bagi pemakai meski hanya orang biasa, namun dalam meloncat biasa tidak layaknya orang tersebut seperti telah menjadi seorang pesilat. Sepertinya pusaka tersebut benar telah dimiliki oleh Zhao Kuangyin.

Jieji seperti terbang ketika mendaki jurang yang teramat dalam tersebut. Tenaga dalamnya sudah tergolong sangat dahsyat, ilmu ringan tubuh yang diperolehnya dari ilmu 10,000 langkah dewa saja sudah demikian sakti, kali ini dia memakai sabuk, maka dirinya sama sekali tiada kesusahan. Tidak lama kemudian, dia sudah meloncat ke atas dengan bantuan tali yang diikat ke batu tadinya.

Namun, sesudah dia sampai ke atas. Dia sangat terkejut.
Karena Yunying dan puteri Nan-an sudah tidak berada di sana.
Jieji sempat menengok ke kanan dan ke kiri. Dia melihat adanya sebuah kain putih yang terpotong dan sepertinya diletakkan di atas batu yang sebesar genggaman tangan.

Sambil meraihnya, Jieji membaca sebentar.
“Kita menuju ke Tongyang. Ada kabar yang katanya cukup berbahaya. Segeralah menyusul…”
Mendapati tulisan Yunying di kain bajunya tersebut, Jieji cukup bingung. Dia berpikir sebentar dengan serius. Namun, karena dirinya cukup kacau dan pikirannya kurang bisa berkonsentrasi, maka Jieji tidak mendapat jawaban yang pasti hanya berdasarkan surat tersebut.

Di sebuah perempatan, sebelah selatan kota Zi tong…
Terdapat lima orang yang sedang berdiskusi tentang sesuatu yang cukup serius.

Empat pria terlihat berdiri kokoh, sementara seorang gadis kecil berdiri paling samping.

“Jadi benar kakak kelima sedang menuju ke utara? Kita kehilangan jejaknya sekarang. Bagaimana ayah?” tanya seorang gadis kecil kepada orang paruh baya yang berambut pendek putih.

“Anak muridku sekarang tiada masalah. Aku rasa sebaiknya kita pulang saja ke perkemahan segera.” jawab orang tua yang tentunya adalah Dewa Lao.

“Tetapi… Sungguh rumit sekali apa yang telah terjadi selama ini. Lie Hui yang dikira saudara Xia adalah puteri dari Huang Qian. Sekarang ternyata adalah isterinya sendiri. Apakah benar Lie Hui sedang mengincar nyawa Huang Qian?” tanya pria yang berdiri gagah di samping Dewa Lao.

Senyum tersungging di wajah seseorang yang berdiri tepat di depan pria tadinya yang adalah ketua partai Kaibang, Yuan Jielung.

“Lie Hui, seorang wanita yang memiliki 1000 keanehan. Xia Jieji mungkin tidak pernah tahu pada awalnya bahwa wanita tersebut adalah isterinya Huang Qian. Demikian juga diriku yang tertipu mentah-mentah oleh taktik detektif no. 1 (maksudnya Huang) sejagad itu.”

“Namun segalanya betul berjalan dengan lancar dan sangat baik sekali akhirnya. Kasus Meng Yangchu dan keluarganya betul membuat dunia ini kacau sekali.” jawab Dewa Lao menengadah.

“Tidak ayah… Ini bukan hal yang memusingkan sekali. Dengan singkat kita bisa merincikannya begini.
Huang Qian, meninggalkan Lie Hui demi sesuatu hal. Terakhir diketahui adalah Ilmu silat tingkat tinggi. Dia rela merubah dirinya menjadi 2 orang yaitu Meng Yangchu dan Lie Fei. Demi cita-citanya, tentunya dia sudah bersekongkol benar dengan Yelu Xian dan dedengkotnya. Namun, ada satu yang benar tidak kumengerti. Seharusnya mereka semua memiliki pemimpin…” sahut Yumei dengan wajah yang kusut seakan sedang menyelidiki sesuatu yang sangat rumit.

Baru berkata sampai di sini. Putera mahkota Duan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan gadis kecil yang sangat pintar ini.
“Benar sekali… Benar sekali…
Kepintaran anda benar beberapa kali lipat di atasku dan bahkan sudah di atas Xia Jieji….”

Pujian putera mahkota membuat Yumei si gadis kecil tersenyum malu-malu.
“Tahukah kalian…
Mereka semua adalah orang yang memiliki kemampuan dan derajat yang tidak rendah di dunia. Jika tidak diperintah oleh seseorang, mana mungkin bisa satu sama lainnya mempunyai cita-cita yang seakan sama? Kata-kata nona kecil masuk akal sekali. Tolong lanjutkan…”

Yumei yang masih tersenyum, kembali melanjutkan.
“Pertama-tama mungkin adalah Dewa Bumi yang merupakan sesepuh dunia persilatan yang memiliki pengalaman yang sangat kaya. Namun, lama kelamaan sepertinya orang-orang tersebut tidak begitu menyukai gaya kepemimpinannya. Karena itu, mereka “mengadakan” pertarungan antara kakak kelimaku dengan Dewa Bumi dan berharap Dewa itu bisa terbunuh oleh kakak kelima. Namun, segalanya tidak berjalan lancar ketika kakak kelimaku tidak membunuhnya.

Tetapi dia juga tewas akhirnya oleh Yue Liangxu, yang sesungguhnya betul ada orang yang sedang bermain di belakang layar. Lama kelamaan, mereka berkomplot dengan Huo Xiang di barat untuk menguasai daratan tengah. Sesungguhnya Huo tidak lain dan tidak lebih hanyalah biji catur mereka.

Meng Yangchu di selatan, mungkin menunggu waktu untuk melahap Ta-Li yang besar tersebut. Dia merencanakan sesuatu tentang “obat ilusi” yang seharusnya diberikan kepada putera mahkota dan membunuhnya. Setelah 1 halangan tersebut hilang, maka dia berniat mencaplok Ta-Li….”

Putera mahkota sangat kagum akan penjelasan Yumei semenjak tadinya. Sesungguhnya, apa yang ada dalam pikirannya beberapa bulan lalu sudah dibeberkan oleh Yumei secara jelas sekali.

“Tentu mengganti Kaisar Duan dengan dirinya(Huang Qian). Dia bisa bertindak mengancam daratan tengah dari beberapa arah.
Tetapi, anda(putera mahkota) sudah mengetahuinya dan duluan menjalankan siasat anda. Mungkin karena kematian puteranya, anda betul sadar bahwa sesungguhnya Huang-lah orang yang bermain di belakang layar dari awalnya.”

Putera mahkota tertawa mendengar penjelasan nona kecil ini. Lantas dia menjawab.
“Betul sekali, apa yang kulakukan jelas terucap seperti anda benar berada bersamaku saat itu.”

“Huang sengaja memancing kakak kelimaku. Dan terakhir benar dia masuk ke dalam jebakan. Semua yang diketahui kakak kelima ku pada awalnya adalah hal yang samar samar dan kabur luar biasa. Yang mengira bahwa pelaku pembunuhan sebenarnya adalah anda sendiri. Namun, anda sudah menyiapkan sejak awal pencegahannya. Anda mempunyai hubungan erat dengan partai Jiu Qi, dan juga tentunya dengan wanita bernama Lie Hui itu. Karena itu, anda tidak pernah membunuh Huang Qian bukan?”

“Kamu sudah tahu semuanya. Benar-benar ajaib…
Dahulu… 30 tahun yang lalu muncul seorang Yuan Xufen yang cerdasnya tiada tandingan. Sekarang… Kamu layak sekali menggantikannya.” tutur putera mahkota Tuan dengan bernafas lega sekali.
“Lie Hui tiada lain adalah benar adik kandungku. Sifatnya luar biasa aneh. Dia memiliki seorang puteri yang bernama Lie Xian. Demi balas dendam karena Huang meninggalkannya, dia berusaha dengan banyak sekali cara-cara. Saat pertama kali Huang menginjak Yun-nan, aku tidaklah tahu menahu masalahnya. Oleh karena itu, kudiamkan saja.
Ketika kuketahui bahwa adik kandungku mencarinya untuk balas dendam, aku membantunya. Namun, saat itu Huang sudah hilang tanpa jejak. Sungguh, Huang bukanlah lawan yang enak untuk ditantang.”

“Dengan begitu, jelas sekali dia mencari kakak kelimaku untuk memanfaatkan otaknya. Namun, dia tidak mendapatkan apa-apa. Bukan begitu, paman Gao Jianshen? Atau bisa kusebut Lie Hui?” tanya Yumei sambil tersenyum.

Seorang pemuda paruh baya yang berdiri tepat putera mahkota tertawa terbahak-bahak. Suaranya lama kelamaan berubah meninggi seperti suara seorang perempuan.
“Kamu pintar sekali nak. Gao sudah berangkat ke arah lembah naga terbang sejak kemarin-kemarin. Akulah orang yang menyamar sebagai dirinya. Lalu apa kamu tahu kenapa aku mendampingi kakak kandungku?”

“Dengan begitu, dialah memberi kalian informasi bahwa Zhao Kuangyin aman-aman saja? Oleh karena itu, kalian tidak memaksa kakak kelimaku untuk segera menuju ke sana, bukan begitu? Untuk itu, aku benar tidaklah tahu.” jawab Yumei dengan menunduk malu-malu.

Sejak tadi, baik Dewa Lao maupun Yuan Jielung sangat kagum akan keterangan Yumei yang sangat luar biasa.

“Saudara Guo, anda memiliki seorang puteri yang sangat pintar. Sungguh luar biasa sekali dia mendapat pendidikan.” tutur Tuan dengan memberi hormat ke arah Dewa Lao.

Dewa Lao tersenyum saja, lantas dia memberikan keterangan.
“Saudara Lie… Aku rasa tidak perlu kusembunyikan lagi identitas anda. Benarkah 3 bersaudara setan Kun tidak pernah mencari masalah denganmu lagi?”

“Mereka selalu bertindak ketika tiada orang sama sekali di sekitar mangsanya. Selama puluhan tahun, sungguh memalukan sekali. Aku terpaksa meminta orang berada di sampingku. Tetapi, sekarang sepertinya semuanya sudah lain sekali.” jawab Tuan alias Lie.

“Jangan-jangan sudah ada target baru mereka?” tanya Dewa Lao dengan agak heran.

“Betul sekali…
Begini, aku mendapat kabar yang kurang pasti. Kabarnya 3 setan itu mendapat tawaran untuk membunuh Zhao Kuangyi dan digantikan dengan Zhao Kuangyin. Namun, sepertinya selama Zhao Kuangyin belum tewas. Maka Zhao Kuangyi akan aman-aman dari serangan 3 orang brutal itu.
Dahulu…
Nyawaku ditawarkan dengan 7 turunan keluarga Meng. Sampai sekarang aku masih hidup sehat sekali. Ini adalah kegagalan yang pertama bagi mereka…”

“Tetapi.. Bukankah Dewa Bumi sudah tewas? Perjanjian lama itu seharusnya sudah dihapus?” tanya Yumei tiba-tiba menengahi.

Duan melihat dengan terkejut kagum ke arah Yumei.
“Anda juga tahu bahwa Dewa Bumilah orangnya? Tentunya karena Dewa Bumi sendiri takut aku bakal mencarinya. Sejak awal dia sudah berniat membinasakan keluarga Meng karena tetua Pei Nanyang, namun begitu kesempatan bahwa ketiga orang tersebut meminta nyawa seluruh keluarga Meng, tentu dilaksanakan sekaligus oleh Dewa Bumi dengan mudah sekali.”

“Dengan begitu, ketiga orang tersebut main tawar menawar dengan imbalan yang layak sekali. 7 turunan keluarga Meng diganti nyawa putera mahkota TaLi. Itu karena mereka tidak pernah tahu bahwa anda adalah pesilat yang luar biasa handal.” tutur Yumei dengan wajah penasaran.

“Kamu benar sekali. Namun, aku nyaris tewas saat itu. Aku bertarung lebih dari 100 jurus dengan mereka bertiga. Hingga saat aku benar terdesak, seseorang menolongku. Mereka memiliki etika dalam membunuh yaitu tidak ada seseorangpun di samping target mereka, baru mereka akan melakukan pembunuhan gelap tersebut.” sahut Tuan berpikir.

“Kalau begitu, kakak kelima betul dalam keadaan bahaya?” tanya Yumei seraya berteriak.

Kesemua orang kurang mengerti maksud Yumei.

“Ayah! Seharusnya transaksi untuk membunuh Zhao Kuangyin diganti Zhao Kuangyi itu dibuat oleh seseorang yang sangat membenci kakak pertama(Zhao Kuangyin) bukan? Lantas, aku sama sekali tidak yakin kalau tidak ada orang lain yang melakukan transaksi untuk membunuh kakak kelima juga. Bukan begitu?”

“Perkataanmu sungguh masuk akal. Namun sampai saat ini…” Tuan melihat ke arah Lie Hui atau Gao Jianshen.

“Tidak ada informasi pertukaran tentang nyawa Xia Jieji. Aku mendapat informasi terbaru bahwa kedua jenderal besar Liao akan ditukar kepalanya dengan kakak pertama(Putera makota Tuan) baru-baru ini.” jawab Lie Hui.

“Wei Jindu membenci Zhao Kuangyin sedalam lautan. Zhao Kuangyi ingin melenyapkan nyawa kedua jenderal besar Yelu dari Liao karena serangannya yang sering gagal ke utara. Lalu siapa saja orang yang mengincar kepala pendekar Xia?” tanya Yuan Jielung.

“Tentu salah satunya adalah Yelu Xian atau Wu Shanniang? Mereka berdua bukankah sangat membenci kakak kelimaku?” teriak Yumei dengan sangat cemas.

“Kalau begitu. Kita harus susul dia secepatnya. Seharusnya dia masih berada di lembah naga terbang atau sudah jauh dari sana.” tutur Tuan dengan sesegera.

***

Xia Jieji masih berdiri tegap di lembah naga terbang yang sangat sunyi sekarang. Deru angin masih terdengar hebat di telinga dan suara rumput menebas angin juga terdengar merinding.

“Hm..
Seharusnya aku juga pulang ke Tongyang saja.” demikianlah pikiran Xia Jieji.
Tidak ada seekor kuda pun disana. Jalanan susah membuat Jieji berpikir akan melalui mana terlebih dahulu.
“Puteri Nan-an tahu jalanan di sini dengan baik karena dia adalah orang Ta-Li. Sekarang akan kuikuti saja jejak kuda mereka yang tertinggal.”

Dengan mengikuti jejak kaki kuda, Xia Jieji melangkah cepat berlari untuk menyusul.
Sekira 10 Li ke arah barat, Jieji akhirnya menemukan desa. Desa tersebut tidak bisa dikatakan kecil, karena ini adalah penyeberangan terakhir menuju daerah kerajaan Sung. Jieji menengadah di depan gapura pintu masuk desa yang terlihat asri dan permai tersebut.
“Desa keluarga Yang” terpampang jelas. Jalanan di desa tidaklah kecil, bahkan cukup lebar. Di samping terlihat beberapa kedai yang menjual makanan. Jieji segera menghampiri salah satunya seraya bertanya.
“Paman, apakah anda melihat 2 orang wanita cantik luar biasa yang lewat? Salah satunya membawa kuda yang berwarna biru merah terang?”

Orang yang ditanya berumur sekitar 60 tahunan. Dia menjawab tidak.

Jieji makin penasaran. Lantas dia berjalan ke dalam desa, lantas menanyai beberapa orang disana. Namun, tiada satupun yang mengetahui adanya lewat 2 orang wanita cantik.
Jieji dengan cepat berjalan keluar desa, dan mengamati kembali jejak kaki kuda. Yang diamati tiada lain adalah jejak kaki kuda bintang biru yang besar dan mendalam, tanda bahwa kuda tersebut kokoh dan gagah. Dia mendapati beberapa jejak keluar desa dengan langkah pendek atau kuda sedang dijalankan dalam keadaan lambat.

“Kenapa tidak ada yang melihat bahwa Yunying maupun puteri Nan-an melewati desa? Jangan-jangan???” terdengar Jieji menggumam pelan. Lantas dia mengamati tajam ke depan ke arah semak yang cukup lebat.
Setelah selesai membeli beberapa bekal, dia menanyai seorang bibi yang berdagang di sana.
“Apa nama tempat di depan bi?”

“Di jalanan depan terbagi 2 arah. ke arah utara dan timur. Arah utara dinamakan jalan Emas berbagi. Sedang ke arah timur dinamakan jalan kebersamaan yang runtuh.” jawab bibi itu sambil tersenyum.

“Jalan Emas berbagi pernah kulewati beberapa tahun yang lalu, dari jalan itu akan tembus ke Chang-an beberapa ratus li jauhnya. Bagaimana jalan kebersamaan yang runtuh itu?” tanya Jieji kembali.

“Jalanan itu lebarnya 3 tombak dan luas. Di samping kiri kanan terdapat gunung yang tinggi. Anda akan sampai ke Jiangling melalui 5 desa dalam 2 malam.” jawab bibi tersebut.

Jieji mengucapkan terima kasih kepada bibi itu. Dan beranjak meninggalkan tempat setelah membeli seekor kuda cepat.
“Aku sudah tertipu oleh seseorang. Tidak… Beberapa orang tepatnya. Aku harus lebih hati-hati.” Demikianlah pikir Jieji.

Dia memacu kudanya dengan kencang ke arah timur. Tetapi baru lebih dari 3 li saja. Jieji merasa aneh sekali.
“Jejak kaki itu hilang di jalanan demikian. Di depan adalah tebing tinggi dengan sampingnya adalah gunung. Tempat seperti demikian sungguh sangat berbahaya.”
Dengan duduk di atas kuda, Jieji memandang sekeliling. Sinar matahari sore sepertinya masih cukup menyengat.
“Ini bukanlah jalan yang harus kulewati sekarang.”
Lantas dia turun dari kuda, dan berjalan pelan ke belakang kembali. Tetapi, ada sesuatu yang sepertinya menggodanya ketika dia mengamati tebing di depan sana yang jauhnya tidak seberapa.

Jauh memandang, dia melihat aliran sungai Changjiang yang sejuk dan sangat sedap dipandang. Pandangannya terhenti di sebuah rumah yang kecil tepat di bawah kakinya. Lalu, seraya menambatkan kuda Jieji segera meloncat turun untuk mengamati.
Sekarang, Jieji memiliki sabuk maha sakti yang sedang melekat di pinggangnya. Maka sekali loncat, Jieji bagaikan terbang atau bagaikan anak panah yang melesat dari busur.

Dalam menyelidik kali ini, Jieji berusaha ekstra hati-hati sekali. Dia usahakan mengikuti pergerakan angin tanpa melawan ketika hendak turun. Dia mendarat tepat di sebuah pohon yang besar. Dengan mengamati sekeliling sebentar, akhirnya Jieji melompat turun santai tepat pada depan gerbang rumah yang tidaklah kecil tersebut.

Di samping, aliran sungai sedang mengalir perlahan dengan air terjun kecil di belakangnya. Kembali Jieji mengamati dengan sangat serius ke depan. Pintu terlihat cukup bersih, daerah ini sangatlah asri sekali dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Ketika hendak melangkah ke depan, dia mendapati sesuatu.

Suara nafas seseorang dari dalam yang terdengar sangat perlahan di rasakannya. Karena mendapati suara nafas demikian, Jieji tertegun hebat.
“Orang di dalam rumah adalah tokoh maha sakti. Dia menyembunyikan dirinya entah dengan tujuan apa. Sepertinya bukan hal yang baik sama sekali.” Namun, Jieji tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia selalu bernafas mengikuti hembusan angin yang pelan.

Pemuda ini terpaku sungguh lama di sana. Mungkin sudah 2 jam lebih, namun masih tidaklah bergerak sama sekali.
“Aku tidak bisa pergi sekarang. Sepertinya begitu aku bergerak sedikit saja, orang di dalam rumah bakal menyerang. Namun, jika aku berdiri terus menerus, bukanlah cara yang paling baik.” Jieji berpikir keras.

Demikianlah kira-kira dimana pesilat maha tangguh bertemu satu sama lainnya. Satu gerakan saja bisa berakibat fatal sekali. Orang yang berada di dalam rumah mungkin sangat menyadari kesalahannya, kenapa tidak langsung saja menyerang orang di luar tadinya. Namun, memberi kesempatan sampai mangsanya mengetahui dirinya di dalam. Jieji tidak kehabisan akal, dengan perlahan sekali tangannya bergerak mengambil sebuah roti yang tadinya dibeli di desa.

Dengan mengikuti gerakan angin, Jieji sudah bersiap-siap.
Denga sebuah sentilan ringan, roti mencelat dengan kecepatan tinggi ke arah pintu rumah.

Tetapi…
Sebelum benar roti tersebut sampai ke pintu, kedua pintu sudah terbuka lebar. Seiring sebuah sinar terang keluar bersama terbukanya daun pintu.
Jika Jieji bukanlah seorang pesilat berpengalaman, mungkin dia bakal tewas dengan satu gerakan tadinya. Energi maha dahsyat yang keluar segera mengincar ulu hatinya tanpa segan-segan.

Secepat gerakan lawan, Jieji menepis sinar putih gemilang yang menuju ke arah dadanya dengan tangan kanannya. Seiring gerakan lengan, sinar putih gemilang menuju ke arah aliran sungai kecil yang sesegera menimbulkan ledakan.

Tetapi gerakan demikian tidaklah sampai berhenti. Ketika Jieji baru saja menepis serangan sinar, lantas beberapa sinar lainnya ikut dari belakang dengan kecepatan yang tinggi pula. Jieji menyadari bahwa lawan pasti akan bertindak lebih jauh. Sebab, dia tahu benar lawannya tentu sudah tahu dengan pasti bahwa jurus pertama yang datang tidak akan sanggup membunuhnya.

Dengan mencabut kipas dari pinggang, Jieji segera menyapok dengan gerakan pelan seperti menari. Sinar cemerlang tiada satu pun yang tidak berhasil di sampok oleh kipas yang hanya berukuran 1 kaki tersebut.

“Tidak disangka Xia Jieji menguasai ilmu pedang sesat yang tiada tandingan itu!” terdengar suara berteriak keluar dari dalam rumah seiring dengan mencelatnya seseorang dengan pesat sekali.

Jieji terkejut sekali. Dalam 3 jurus yang luar biasa cepat, dia sudah kalah cepat betul-betul.
Tidak ada minat Jieji menjawab pertanyaan penyerangnya sama sekali. Langsung saja gerakan kipasnya di arahkan ke arah suara yang muncul tadinya. Kipas di arahkan cukup tinggi karena Jieji mengincar arah suara yang berasal dari mulut penyerangnya.

Tetapi penyerangnya bukanlah orang sembarangan. Gerakan kipas meski tidak diperhatikannya dengan betul, tetapi dia merasakan ujung kipas sedang mencucuk tenggorokannya.
Dalam keadaan mencelat ke depan, dia memutar badannya sekali dan mengarahkan kakinya menampar rusuk tangan kiri Jieji yang sedang di arahkan kedepan.

Dengan gerakan secepat kilat, Jieji melayani serangan lawan. Dia meloncat sambil tiduran di udara untuk menghindari “tamparan” kaki lawannya yang sangat kuat dan cepat. Namun, gerakan tangan Jieji tidak berhenti karena di serang. Tusukan dari ujung kipas di ubah menjadi tamparan ke arah yang sama.
Alhasil, lawan yang tidak tahu menahu adanya jurus nekad sedemikian “tertampar” secara cepat di mukanya. Sementara itu, kaki lawan yang sebenarnya sedang di arahkan meninggi tidak sempat mencapai tubuh Xia Jieji. Dengan ayunan kaki menyepak keluar, Jieji berdiri dengan tegak kembali dengan kipas di tangannya.

Sementara lawan terlihat terseret 20 kaki lebih ke belakang. Tamparan kipas memang tidaklah sekuat tenaga tusukan tadinya. Namun, lawan memang sungguh seorang pesilat luar biasa. Bukan saja tidak terluka, namun sepertinya dia tidak apa-apa.
Jieji memandang ke arah lawan dengan serius. Seorang pria tua dengan umur diatas 60 tahun. Wajahnya bengis dengan tinggi tubuh hanya 5 kaki lebih saja.

“Gerakan yang sungguh luar biasa…” puji pria tua ini dengan wajah bengis dan tertawa terkekeh-kekeh.

“Anda benar luar biasa… Siapa sesungguhnya tetua?” tanya Jieji sambil tersenyum namun dia tetap serius dan berkonsentrasi.

“Aku pernah mendengar kelihaian ilmu silatmu. Ternyata hanya sebegini saja? Kedua saudaraku bakal menyusul kemari. Kau tidak akan hidup lama.” tutur si tua dengan bersemangat.

“Hm…
Kita tiada permusuhan, kenapa anda bertindak sangat kejam?” tanya Jieji yang agak heran.

“Ada yang meminta nyawamu. Cukup itu saja.” jawab pria tua.

“Wah…
Lalu apa tebusan yang anda dapat karena membunuhku? Kedua saudara anda seharusnya sedang menunggu di bukit sana.” jawab Jieji sambil menunjuk.

“Baiklah…
Karena kamu akan tewas disini. Aku akan mengatakannya…
Kita 3 setan Kunlun. Namaku Zui Wang(mengejar harapan), mungkin kamu belum pernah mendengarnya. Nyawa Xia Jieji ditukar dengan 7 pemimpin barisan utama pasukan Sung. Setimpal bukan?” tutur pria tua.

“Anda sekalian terlalu menghargaiku…” tutur Jieji segera merapal jurus dengan kedua telapak tangannya.

“Ilmu tapak pemusnah raga sudah kita ketahui kelemahannya. Tiada gunanya jika kamu menggunakannya melawan kita bertiga.” jawab si tua Zui Wang seraya tenang saja.

Tetapi Jieji segera menerjang luar biasa secepat kilat. Dengan tangan kiri memegang kipas, sedang tangan kanan diancangkan ke depan. Karena kecepatan luar biasa-nya, membuat si tua terkejut sebentar. Belum sempat dia bertahan, kipas telah menuju ke mukanya dengan sangat cepat sekali.

“Plok!” terdengar kipas menampar sekali lagi ke arah muka Zui Wang. Sebelum dia terkejut, tapak Jieji menghantam ke ulu hati lawannya dengan cepat. Namun, kali ini gerakan Jieji lambat dan keras.
Lawan tidak pernah mengira bahwa Jieji sanggup melepaskan jurus di saat dirinya “mundur” karena tertampar kekuatan kipas.
Ini adalah salah satu serangan jarak jauh 18 telapak penakluk naga-nya. Pria tua ini terlihat terdorong belasan kaki ke belakang. Namun, ketika dia memeriksa kondisi tubuhnya. Dia tidak merasakan dirinya terluka dalam atau apapun.

“Jurus pedang-mu memang hebat anak muda. Ilmu pedang surgawi tingkat berapa yang kamu perlihatkan kepadaku?” tanya Zui Wang.

“Ini adalah tingkat kelima. Aku belum mendapatkan orang yang sungguh-sungguh sampai membuatku mengerahkan jurus kelima.” jawab Jieji sambil menggelengkan kepalanya.

Si tua terkejut sekali. Bukan saja dia terkejut karena dirinya tidak sanggup menahan gerakan jurus pedang yang disalurkan lewat kipas yang teramat aneh itu. Tetapi dia merasakan keanehan di wajahnya, serasa siraman air hangat tiba-tiba turun dari pipinya. Ketika dia memeriksa maka dia terkejut luar biasa. Karena ini adalah darah yang mengucur dengan sangat deras.

“Tidak mungkin!!!
Kertas di kipasmu mana mungkin bisa melukaiku. Bambu biasa???” teriaknya terkejut. Namun, dia hanya sanggup berteriak sampai demikian saja. Langsung, Zui Wang roboh bersimbah darah di wajahnya.

“Ternyata….” tuturnya dengan lirih.
“Telapakmu lebih ber… berbahaya…. Itu… bukan… Tapak pemusnah….” baru saja dia berbicara sampai demikian. Si tua sudah tewas dengan mata membelalak. Sinar matanya bukan saja mengerikan tetapi terlihat sinar yang seakan sangat menakutkan dirinya sendiri.

18 telapak penakluk naga Xia Jieji sebenarnya adalah sama kuatnya setiap jurus. Semua jurus dari tingkat ke tingkat adalah saling melengkapi tiada satu pun jurus yang lebih kuat dari jurus lainnya. Baik itu berupa serangan jarak jauh maupun dekat, kesemuanya adalah sama berbahayanya. Berbeda dengan 18 telapak naga mendekam-nya Yuan Jielung maupun Pei Nanyang, dimana jurus terakhir-lah yang paling kuat yaitu jurus ke 18. Tadinya, Jieji memainkan jurus ke 10 dari total 18 jurusnya.

“Aku tidak berniat membunuh anda. Jika kedua saudaramu tiba, maka saat itu akulah yang berbaring di tempatmu.” sahut Jieji sambil menunduk sebentar. Langsung, dia beranjak ke dalam rumah sesegera.

Jieji tidak pernah tahu, bahwa dengan membunuh Zui Wang si orang tua, bakal bermasalah yang berbuntut sangat panjang dalam kehidupannya.

“Siapa di dalam?” teriak Jieji dengan keras. Namun tidak ada jawaban sama sekali, tetapi tarikan nafas seseorang benar di rasakannya saat dia sudah berada di dalam rumah.

Dia segera mengamati sekeliling sambil berhati-hati. Ditiliknya kamar belakang rumah yang terbuka sedikit itu. Lewat cahaya matahari yang tembus ke jendela. Jieji terkejut karena melihat seorang wanita yang setengah terbuka baju di arah dadanya.

Dengan was-was sekali, Jieji berjalan pelan ke depan. Alangkah terkejutnya ketika dia mengetahui siapa wanita yang berada di ranjang tersebut. Seorang wanita yang dengan matanya terbuka melotot ke arahnya, wanita berwajah putih sekali dengan hidung mancung.
Jieji tahu benar bahwa wanita di ranjang tersebut paling tidak sedang tertutuk nadinya. Maka dengan gerakan tangan ringan, dia melepas tutukan di nadi utama di ubun-ubun.

Wanita tersebut langsung duduk dengan wajah menunduk malu sambil membetulkan pakaiannya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Jieji ke arah nona tersebut. Dia tidak lain adalah Huo Thing-thing, puterinya Huo Xiang.

Sambil berwajah yang kusam sekali, dia menggelengkan kepalanya saja.

“Kamu mengenal siapa pria tua itu?” tanya Jieji kembali.

Huo Thing-thing kelihatan marah, dia segera berteriak.
“Dia… Dia…
Dimana dia?”

“Dia sudah kubunuh…” jawab Jieji pendek.

Thing-thing melongo melihat ke arah Jieji seakan tidak percaya.
“Dia itu salah satu setan kunlun. Dia termuda diantara kedua saudaranya, namanya Zui Wang.”

“Berarti kedua saudaranya tentunya lebih tinggi silat darinya?” tanya Jieji sambil mengerut kening.

“Aku pernah melihat mereka bertiga ketika mereka bertamu ke rumahku. Tetapi, bedebah Zui Wang sudah dari dulu tertarik kepadaku. Aku dicegat di tengah jalan olehnya….” baru sampai di sini si nona kelihatan enggan menceritakannya.

“Sudahlah… Kita harus pergi secepatnya sebelum kedua saudaranya menuju kemari.” tutur Jieji seraya bergerak cepat menuju ke arah belakang rumah.

“Anda tidak mencurigaiku? Tidak mencurigaiku hendak mencelakakanmu?” tanya Huo Thing-thing dengan wajah yang seakan-akan tidak percaya menatap ke arah punggung si pemuda.

Jieji hanya menjawab tanpa membalik.
“Sewaktu di Persia, bukankah kau sendiri yang tidak ingin membunuhku? Lantas dengan alasan apa aku mencurigaimu akan bertindak?”

Huo Thing-thing tersenyum kagum kepada musuh lamanya tersebut. Dia langsung bergerak mengikuti Jieji dengan cepat.

Leave a Reply