Aku tidak yakin bahwa kamu bisa tahu semalam aku bersembunyi mendengar apa kata-kata dan omongan kalian.” sahut wanita bercadar.
“Hanya dua peluang saja dimana kita-kita pesilat tidak mengetahui bahwa kamu mencuri dengar.” tutur Jieji sambil tersenyum manis ke arah wanita bercadar.
Wanita bercadar tersentak sebentar. Dia terlihat tertarik dari kedua bola matanya yang terlihat terang binar.
“Oya? Coba kamu katakan.”
Sambil tetap tersenyum, pemuda memberikan penjelasannya.
“Pertama, ada alat tertentu di ruangan ini. Misalnya adalah sebuah pipa yang dirancang secara panjang. Oleh karena itu, di tempat yang jaraknya 1 li sekalipun dapat di dengar. Biasanya alat tersebut dipasang di kurungan badan intelijen. Tujuannya tentu sederhana, mengetahui pembicaraan dari para tersangka yang tidak menyadari bahwa dia sedang dicuri dengar.
Kedua, orang yang mendengarnya jelas mempunyai kemampuan luar biasa dan jauh di atas orang yang mencuri dengar.”
Mendengar perkataan Jieji sampai di sini, wanita bercadar itu tertawa keras sekali. Sepertinya dia terlihat sangat bergembira. Cukup lama suara wanita muda ini kemudian baru mereda.
“Engkau betul mirip seseorang…”
Wanita itu berkata sambil berlalu. Dia meninggalkan Yunying yang masih terbengong, sementara Jieji tetap tersenyum saja.
“Mengapa wanita ini datang kemari?” tanya Yunying setelah orang bercadar telah beranjak.
“Dia ingin meminta kita pergi.” jawab Jieji pendek.
“Lalu anehnya, kenapa dia tidak mengatakan sendiri kepadamu?” tanya Yunying kembali.
“Tidak seberapa aneh. Ada 2 pertanyaan juga di dalam hatiku, pertanyaan pertama memang gampang di jawab. Tidak perlu diberitahupun, dia merasa aku sudah mengetahui arti tersembunyi pesan yang kita dapat.
Yang kedua betul masih mengganjal dalam hatiku hingga sekarang.” jawab Jieji sambil membuka terali besi dengan mudahnya. Dia melangkah keluar seakan tidak terjadi apa-apa. Dilihatnya, ternyata penjaga kurungan sementara kesemuanya terlihat sedang tertidur pulas.
“Sepertinya wanita tadi tidak berada di pihak lawan.” sahut Yunying sambil tersenyum.
Jieji tidak menjawab pertanyaan isterinya lagi. Dia hanya mengangguk pelan terus melangkah keluar.
***
Utara kota Ta-Li, sekitar 50 Li dari sebuah tanjakan luas…
Pemandangan indah nan damai di sana sungguh menggoyang hati siapapun menikmatinya cukup lama. Tanah persawahan terbentang sungguh luas seakan menyatu dengan langit. Suara kicauan burung pagi terdengar sangat hangat dan berirama menari di hati pendengarnya.
Luas tanah hamparan hijau disini mungkin lebih dari 20 Li persegi. Di tengahnya terdapat sebuah rumah bertingkat dua yang berukuran biasa saja, terlihat cukup terurus dan terlihat damai.
Hanya sekitar beberapa puluh kaki di pintu gerbang kecil, tertanam 2 buah pohon yang tingginya menjulang dan hampir mencapai langit terlihat. Dua pohon yang sepertinya sengaja di tanam secara horizontal menghadap depan gapura rumah. Disini terlihat seseorang tidur-tiduran di atas kain kulit yang diikat dengan tali kencang di kedua belah batang pohon.
Seorang pemudalah yang sedang tidur-tiduran di sana.
Umur pemuda terlihat mungkin hanya 30 tahun saja. Wajahnya tenang dan berkharisma, rambutnya diikatkan ke atas membuat wajahnya terlihat berkharisma sekali.
Sambil memegang sebuah buku yang cukup tebal, dia membaca dengan cukup serius.
“Tuan muda…”
Sahut suara seorang tua yang membuyarkan konsentrasinya ke buku sambil menghampirinya dengan tenang.
“Ada apa? Kamu ingin memintaku meninggalkan tempat ini?” tanya pemuda yang tidur-tiduran dengan tidak acuh.
“Tadi sudah kubunuh 4 orang pendekar di sini. Hamba kira mereka pasti datang kembali.” tutur seorang tua. Orang tua disini tiada lain adalah Gao JianShen, pengawal Meng Yangchu sebelumnya.
Daerah utara beberapa puluh kaki dari rumput pendek memang terlihat cukup kacau, ada yang terkoyak serta sebahagian terlihat tetesan darah cukup banyak di daerah ini.
“Perampok biasa saja. Untuk apa ditakutkan?” sahut pemuda ini acuh tidak acuh tanpa melihat ke arah Gao.
“Hamba merasa mereka bukanlah perampok biasa…
Hamba sangat yakin, terutama kesemuanya seperti menguasai jurus tapak buddha Rulai.” jawab Gao dengan sungguh-sungguh.
“Pak tua Gao…
Mengapa terlihat anda sangat berkhawatir segala?” tanya pria ini seraya bangkit. Terlihat dia tidak begitu senang.
“Hamba…
Hamba takut dapat mengganggu ketenangan tuan muda…” sahut Gao sambil terkejut, dia tidak berani menatap orang muda yang kelihatan sangat berpengaruh tersebut.
Tetapi pria, hanya menatap ke langit. Dia angsurkan bukunya ke samping sebentar sambil terdengar menghela nafas.
“Takdir langit susah diketahui. Sepertinya pesan itu tidak berguna sama sekali.”
Gao Jianshen yang melihat tingkah tuan muda-nya, tidak mengerti. Tetapi dia tidak berani menanyainya apapun.
“Sudahlah, kamu pergi dahulu. Jaga di utara wisma dan jangan biarkan mereka masuk saja. Sepertinya diagram Pa Kwa tidak berguna bagi begundal-begundal seperti mereka.” tutur pemuda sambil mengambil bukunya kembali untuk dibaca.
Gao kali ini tidak berani membantah perkataan pemuda lagi. Dia mengangsurkan dirinya ke dalam wisma sebentar. Setelah dia keluar, dia telah membawa sebatang pedang panjang. Sambil memberi hormat dalam, dia menuruti perintah tuan mudanya.
“Berhati-hatilah…” sahut pemuda yang masih tetap menatap bukunya dengan serius.
Gao terlihat tersenyum riang karena merasakan bahwa majikannya ini mengkhawatirkan dirinya. Dia menjawab pendek dan memberi hormat. Kemudian berjalan ke arah utara sambil was-was. Di dalam pikirannya dia merasa sedikit aneh dengan tindakan tuan mudanya ini.
“Tuan muda sepertinya tidak peduli akan nyawanya sendiri. Sungguh aneh sekali, meski dia tahu bahwa lawan yang bakal datang kemampuannya sungguh tinggi. Enam pesilat tadinya, bukan datang dengan tujuan membunuh. Karena hanya mendesak akan masuk dan menjarah wisma yang kelihatan bagus, karena menurut mereka pasti ada harta tersimpan di dalamnya. Setelah empat orang kubunuh, pasti pimpinan mereka bakal sampai saat kedua orang menyampaikan pesan…”
Begitulah pemikiran Gao Jianshen tersebut sambil was-was berjalan melewati diagram Pa Kwa yang terjelma dari rumput tinggi serta susunan batu besar saja.
Tetapi baru berjalan beberapa puluh kaki ke depan, dia tergembira sesaat. Dia melihat seorang wanita sedang menuju ke tempatnya. Dengan berjalan kaki di dampingi kuda yang berwarna merah tua, wanita muda ini menyapanya.
“Pak tua… Apa kabarnya?”
Gao Jianshen gembira tidak kepalang. Dia berjalan cepat menuju ke arah nona yang sangat cantik terlihat. Setelah dekat, dia gembira sekali.
Nona di depannya, berpostur sedang dan semampai. Wajahnya cerah dan putih, kedua bola matanya terlihat indah. Hidungnya mancung, disertai dengan bibir tipis yang sangat menggoda hati. Nona ini bukanlah nona sembarang, wajahnya terlihat sangatlah cantik dan agung sekali. Dia memakai baju berwarna biru tua, dengan pisau tersarung yang terbelit di pinggang.
“Baik nona… Tetapi sekarang sepertinya kedatangan nona cukup bermanfaat..” sahut orang tua dengan wajah yang berubah serius.
“Ada perihal apa? Bagaimana dengan kakak seperguruanku?” terkejut juga nona cantik ini melihat wajah Gao yang berubah cepat.
Gao dengan tangkas menceritakan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dia memberikan semua keterangan seperlunya kepada nona cantik tersebut.
“Begitulah kira-kira… Dan tuan muda sepertinya tidak peduli akan segala urusan demikian.”
Nona cantik terlihat berpikir sebentar. Kepalanya tunduk mengamati rumput di kakinya beberapa saat. Tetapi belum sempat dia mengangkat kepalanya, dia sudah merasakan hawa yang mendatangi tempat tersebut.
Gao juga merasakan hal yang sama, mereka segera melihat sambil menggerakkan tubuh mereka cepat.
“Sepertinya kali ini keadaan bisa runyam.” tutur Gao Jianshen yang terlihat mengerutkan alisnya.
Nona cantik tersenyum penuh arti memandang ke depan. Tidak kelihatan dirinya takut atau merasa khawatir terhadap sesuatu hal apapun.
Benar saja… Perkiraan buruk menjadi kenyataan.
Setelah enam pendekar tadinya yang sempat datang kemari, maka 2 orang berhasil meloloskan diri. Dua orang ini tentu melapor secepatnya ke markas mereka. Tidak perlu waktu 3 jam, cukup banyak orang terasa sudah hadir di sana. Tetapi di antara belasan orang yang datang, sepertinya hanya 3 orang yang berdiri mentereng di sana. Mungkin ketiga orang ini adalah termasuk pimpinan menyerbu ke tanah damai tersebut.
Tiga orang memang tidaklah dikenali baik oleh Gao maupun nona nan cantik ini. Seorang tua berambut putih dan terlihat gagah berdiri di tengah. Di samping kirinya adalah seorang paruh baya dengan kumis yang panjang menghias. Sedangkan di samping kanannya adalah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cukup cantik meski di usianya yang memasuki uzur.
Nona cantik menyenter matanya ke segala arah memandang kesemuanya. Memang tidak satupun orang dikenalinya. Tetapi ketika dia berhenti melihat ke arah wanita usia paruh baya, dia terlihat heran meski tidak begitu di tunjukkan melalui wajahnya.
“Orang ini mirip dengan seseorang…” Begitulah pemikirannya saat itu.
“Nona, anda dari mana kemari tadinya?” tanya Gao dengan berbisik sambil berjalan ke depan.
“Ta-Li.”
“Dengan begitu kemungkinan mereka bukan dari Ta-Li. Jika tidak, tidak mungkin saat sampainya nona cukup bersamaan dengan mereka dan nona sama sekali tidak pernah merasakan kehadiran mereka sedikitpun.” jawab Gao.
Nona cantik ini hanya mengangguk saja. Dia kembali menatap ke arah lawan di depannya.
“Orang tua itulah yang membunuh saudara kita…” tiba-tiba terdengar teriakan seseorang sambil menunjuk ke arah Gao Jianshen.
Gao mengenali orang ini, dialah yang lolos tadinya dari pertarungan hebat sekitar beberapa jam yang lalu.
“Orang tua ini bernama Gao Jianshen. Dia adalah seekor anjing keluarga Meng. Herannya, kenapa dia bisa disini?” tanya Orang yang tidak kalah tuanya dengan Gao yang berdiri di tengah. Wajahnya terlihat bengis, semua kata-katanya sungguh merindingkan bulu kuduk orang.
“Bukan…
Dia bukan anjing keluarga Meng. Dia hanya mata-mata saja.” jawab orang paruh baya di sampingnya.
Gao tidak tersinggung meski dimaki dalam kata-kata yang kasar. Dia menatap depan seakan tidak pernah terpengaruh sedikitpun.
“Orang tua, katakanlah siapa orang yang memintamu memata-matai Meng Yangchu, maka kau kubebaskan sekarang bersama nona cilik nan cantik ini.” tutur orang tua dengan tersenyum sinis.
Gao tidak pernah menjawab pertanyaan lawannya. Gao memiliki sikap yang sesungguhnya cukup keras kepala dari dahulu. Dia tidak pernah menjawab pertanyaan orang yang dirasakannya tidaklah perlu dijawab sama sekali.
Tetapi nona cantik di sampingnya berpikiran lain, dia akhirnya mengejek orang tua di depannya.
“Hai orang tua…
Kamu sendiri jelas lebih tua, kenapa kamu malah memanggilnya orang tua? Oya, aku sudah lupa. Ternyata sebelah matamu buta itu mempengaruhi penglihatanmu terhadap jagad. Maklum….”
Bukan main marahnya orang tua di depan. Kumisnya sempat berdiri sesaat, mukanya memerah dan matanya melotot melihat nona cantik ini. Dia ingin sekali langsung turun tangan untuk membunuh nona cantik yang kelihatannya betul kurang ajar.
Gao Jianshen sangatlah berkhawatir terhadap ejekan kata-kata nona cantik ini, dia mengerutkan alisnya memandang nona.
“Semua hal hari ini, adalah Gao tua ini penyebabnya. Janganlah mencari orang lain yang tidak ada hubungannya.”
Orang tua buta sebelah matanya tentu adalah Chen Yang. Dia kali ini memimpin “pasukan” dengan tujuan menghabisi Gao. Dia tidak tahu menahu siapa yang sesungguhnya bertempat tinggal disini. Menurutnya, dengan kemampuan kedua temannya yaitu Xia Rujian dan Wu Shanniang tentu sudah bisa menghabisi seorang Gao. Di sini tidak disangkanya malah muncul seorang gadis yang sekiranya berumur 20-an saja berani mengejeknya sedemikian parah. Dengan akal yang masih cukup sehat, Chen Yang tidak menyerangnya dahulu. Sebab diketahui jika ada seorang nona kecil saja berani berbicara begitu kurang ajar, maka setidaknya dia memiliki pegangan yang cukup baik.
Tetapi wanita paruh baya di sampingnya segera maju ke depan. Sambil menatap buas ke arah nona cantik, dia berkata.
“Biarkan nona cantik ini bermain-main sejenak denganku. Akan kutunjukkan sebenarnya seberapa bahaya kita bertiga.”
Setelah selesai Wu Shanniang berkata-kata, dia melaju pesat ke arah nona cantik. Dengan ancang-ancang tamparan segera dia melesat cepat untuk menampar nona cantik yang dinilainya sangat kurang ajar.
Nona cantik ini tidaklah terlihat takut sebab gerakan lawan yang cepat sekali. Dia menarik kakinya ke belakang dengan cepat sekali satu langkah. Dan dengan ancang-ancang jari dia hendak menyerang ke depan.
Tetapi…
Tamparan Wu Shanniang bukanlah jurus mudah. Dia mengalirkan energi berbahaya pemusnah raga tingkat tinggi di dalamnya. Meski terlihat dia enggan memperkuat serangan, tetapi jelas bahwa tamparan tangan Wu Shanniang berniat mengambil jiwa lawannya secara langsung.
Hanya sejenak saja pergerakan Nyonya Wu atau Nyonya Yelu ini. Mungkin hanya seperti kedipan mata biasa, telapak tamparannya telah menuju ke wajah nona cantik.
“Plak!”
Suara tamparan terdengar sangat jelas sekali. Wu Shanniang yang bergerak menampar tidak pernah merasa heran sebab dia tahu lawannya telah terserang. Namun, seumur hidupnya dia tidak pernah seheran sekarang.
Tangannya terasa pegal, kesemutan dan gemetar. Dia memang menampar sesuatu benda yang tidaklah keras. Tetapi sama sekali bukan wajah nona cantik ini.
Kesemua pendekar di sana tiada yang tidak merasa heran melihat serangan Wu Shanniang sebenarnya gagal total.
Yang ditamparnya adalah sebuah sandal, sandal terbuat dari kulit dan ternyata adalah berasal dari sebelah kanan kaki seseorang.
Nona cantik sangat bergembira ketika dia melihat sebuah sandal sudah jatuh ke tanah dan dalam keadaan robek kepalanya akibat tamparan tangan Wu Shanniang.
“Siapa? Hanya orang licik saja yang bermain sembunyi-sembunyi!” terdengar salah satu anak buah Chen Yang berteriak keras ke depan.
Tetapi, seiring suaranya berhenti. Seperti sesuatu benda kontan menamparnya kuat. Orang ini sialnya terpental jauh sekali dan dengan sebelah wajahnya menyeret rumput. Beberapa giginya bahkan tercopot keluar diikuti dengan teriakan dan muntah darah hebat.
Chen Yang dan kawan-kawannya sangatlah terkejut melihat pemandangan yang luar biasa terjadi dalam saat sekejap.
Ternyata yang mementalkan orang berteriak itu juga adalah sebelah sandal lainnya.
Hanya Chen, Wu dan Xia Rujian tiga orang dari pihak lawan yang tahu dari mana sesungguhnya sandal itu berasal. Dari jarak hampir 200 kaki, mereka melihat dua buah pohon yang menjulang sangat tinggi. Mereka bertiga tahu bahwa di sana terdapat seorang yang sangat tinggi kemampuan silatnya. Tentu tanpa banyak berkata-kata, ketiganya beranjak pesat ke depan bagaikan kilat.
Bahkan Gao maupun nona cantik tidak berhasil mencegah ketiganya. Dan tanpa perlu waktu yang lama pula, ketiganya telah sampai di hadapan pemuda yang sedang tidur-tiduran santai sambil membaca sebuah buku tebal.
Tahu bahwa ketiganya sampai, pemuda sama sekali tidak bergerak. Melainkan tetap serius membaca buku yang dipegang sejak tadinya.
Ketiga orang ini tiada yang tidak terkejut sama sekali. Orang di depannya mungkin hanya seorang pemuda yang berusia 30-an. Wajahnya sangat tenang luar biasa, agung dan terlihat sangat santai. Rambut diikat ke belakang dan agak berwarna hitam kecoklatan. Dia memakai jubah panjang musim semi yang berwarna merah gelap. Tapak kakinya sekarang sedang telanjang sebab kedua sandalnya jelas sudah “terbang” jauh sekali.
Tidak lama, Gao dan nona cantik telah sampai. Gao segera beranjak ke depan dengan wajah yang penuh penyesalan menyampaikan maafnya kepada pemuda.
“Maafkan aku tuan muda… Aku tidak sanggup menghalangi mereka semua.”
“Sudahlah.. Tidak perlu terlalu merendah pak tua Gao.. Ini bukanlah kesalahan anda…” Gao Jianshen terlihat sekilas memberi hormat dalam kepadanya.
Segera orang ini memandang ke arah nona cantik sambil tersenyum.
“Adik Zi… Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak… Terima kasih atas perhatian kakak… kakak seperguruan…” nona cantik ini tertunduk sambil tersenyum malu.
Pemuda langsung melihat ke arah wanita paruh baya yang adalah Wu Shanniang.
Dia mengerutkan dahinya sebentar, kemudian berkata dengan pelan dan agung.
“Dahulu…
Kamu berupaya mendapatkan ilmu pemusnah raga, tetapi setelah mendapatkannya ternyata malah tidak ada gunanya. Kamu mengorbankan Yuan Xufen, puterimu sendiri. Terakhir meninggalkan keluarga dan menjadi pengkhianat bagi bangsamu sejak kamu ikuti Liao. Sekarang semua ilmumu ibarat hanya sebatas sandal saja. Betul sangat di sayangkan seluruh upayamu berpuluh tahun….”
Wu Shanniang tentu sangat tersinggung sekali. Dia diam dan menunduk tanpa bisa menjawab sebab dia tahu bahwa lawan yang berusia muda sekali ini bukanlah orang biasa-biasa. Sementara itu, Chen Yang segera ingin menanyainya. Namun keburu si pemuda duluan mengajukan beberapa kata-kata kepadanya dengan sinis.
“Kamu…
Seorang tabib hebat, sayangnya terobsesi sedemikian parahnya. Kamu ingin merebut kedua bola mata Yuan Xufen. Tuhan Maha adil, dan terakhir anda harus kehilangan sebelah mata saja. Sungguh sangat menguntungkan dirimu.
Dan kamu, Xia Rujian…
Kamu adalah seorang jenderal hebat semasa Dinasti Zhou akhir sampai pengabdianmu kepada Sung. Namun, kamu tetap serakah. Menginginkan segala hal, dan mengatakan bahwa kesemuanya adalah demi balas dendam terhadap kakak angkat pertamamu. Betapa memalukannya dirimu…”
Xia Rujian tidak sanggup berkata-kata apapun. Sebab apa hal yang sekarang berada di hatinya, disebutkan dengan baik oleh pemuda ini.
“Beberapa hari ini aku cukup sibuk membaca buku-ku. Dan setiap lembaran kubuka, maka setiap saat juga kunantikan orang yang harus kutemui. Sayang, orang yang ingin kutemui bukanlah kalian semua. Aku meminta kalian untuk enyahlah segera.” Tutur pemuda yang terlihat sedikit sombong dan membuka kembali bukunya.
“Huh!!!
Hanya sepasang sandal. Menakuti siapa?” Bentak Chen Yang sebentar.
Pemuda yang terasa tidak nyaman akan bentakan barusan, segera menoleh.
Anehnya, dia tidaklah marah. Melainkan tersenyum, dan berkata.
“Aku lupa sesuatu hal…
23 tahun yang lalu anda masih seorang tabib. Di danau Dong Ting, kamu nyaris terbunuh oleh Yuan Xufen. Kamu tahu, setelah jatuh ke danau apa yang pertama dilakukan Yuan Xufen?”
Sebenarnya, mengenang kembali kejadian yang cukup tragis bagi Chen Yang memang membuatnya marah. Namun, dia tetap menahan emosinya sedemikian baik.
Chen tidak menjawab, karena bagaimanapun dia tahu bahwa pemuda pasti akan melanjutkan kata-katanya.
“Yuan Xufen segera meminta orang lain di sekitar sana terutama nelayan yang jago berenang untuk menolongmu. Dan setelah kamu diangkat, kamu masih pingsan. Yuan Xufen memberikan pertolongan dengan membalut luka di matamu, namun terakhir gadis itu menyesal luar biasa karena ternyata matamu sudah tidak dapat ditolong. Dia mengeluarkan 5 tael emas meminta nelayan danau itu untuk menjagamu sampai dirimu siuman…” tutur Pemuda sambil menatap langit untuk mengenang.
“Omong kosong!” teriak Chen Yang dengan marah sekali. Matanya yang sudah buta memang masih berada di tempatnya, namun sinar hitam layaknya dimiliki setiap manusia sudah menghilang menjadi putih keabu-abuan.
“Saat itu? Orang sepertimu baru berumur berapa??? Kau tahu apa??” teriak Chen Yang kembali.
Pemuda menggelengkan kepalanya.
“Saat itu, aku berusia 25 tahun.”
Kontan, orang di sekitar melongo. Melihat seakan tidak percaya terhadap manusia di depan mereka semua.
“Dan di sana, aku berkenalan dengan Yuan Xufen karena sangat tertarik melihat kemampuan jurus jarinya yang hebat.” tutur pemuda itu kembali dengan mata setengah tertutup.
“Kau sudah berumur 46 tahun sekarang. Tidak disangka, di dunia ini ada ilmu untuk meremajakan wajah.” sahut Xia Rujian.
Pemuda segera menggelengkan kepalanya.
“Tidak…
Hidup sesuai dengan alam, sesuai aliran sungai mengalir. Akan terus membuat orang kembali muda.”
“Kakak seperguan…
Jangan meladeni mereka kesemua. Suruh saja mereka pergi.” sahut wanita cantik di sebelahnya segera.
Pemuda melihat sebentar ke arah wanita cantik ini, lantas menyahut.
“Mereka akan pergi dengan sendirinya.”
“Apa hal yang meyakinkanmu kita bakal pergi sendiri?” tanya Chen dengan wajah yang agak sinis.
Mendengar perkataan Chen Yang, pemuda tadi segera tertawa terbahak-bahak. Tawanya cukup lama dan terdengar sangat tenang.
“Sesungguhnya siapa dirimu? Hidup terpencil di tempat seperti demikian apa enaknya?” tanya Xia Rujian.
Pertanyaan siapa dirinya memang sudah lama menggaung di setiap hati pesilat di sini. Mungkin cukup bodoh jika pemuda ini menjawabnya, dia hidup di tempat “rahasia” yang sebenarnya jarang dikunjungi orang. Tentu dia tidak ingin mengungkapkan identitasnya kepada siapun apalagi orang-orang di depan yang sepertinya bakal mencari masalah dengannya.
“Aku terlahir dengan nama yang sama dengan salah satu putra-mu. Tetapi tidak pernah kupakai nama itu hingga sekarang. Ketika masih anak kecil, orang-orang memanggilku xiao lung. Tetapi beranjak remaja…
Orang-orang di sekeliling memanggilku Duan Taizi…”
Sungguh semua orang terkejut tidak terkira. Keringat dingin membasahi wajah semua pesilat yang datang tersebut. Beberapa bahkan saling pandang memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru diucapkan pemuda barusan.
[*Taizi adalah putra mahkota. Jelas orang yang sedang bergaya duduk santai tiada lain adalah putera mahkota dari Tali]
“Sayang…
Harimau tidak selalu melahirkan anak harimau…” tutur Chen Yang.
Sebenarnya tujuan Chen adalah membuat marah orang di depannya. Dia memaksudkan Duan Siping yang terkenal kemampuan memimpinnya sehingga sanggup mendirikan kekaisaran Ta-Li. Tetapi penerusnya, yang berada di sini hanya bisa duduk dan menertawakan angin dalam kesepian.
Kata-kata seperti demikian memang adalah dengan tujuan mengejek betul. Chen tidak takut kepada orang ini karena dia sangat yakin akan kekuatannya sendiri. Dia banding Wu Shanniang yang terkena 1 jurus sandal tadinya, sebenarnya kemampuan Chen masih jauh di atas Wu. Maka daripada itu, dia sangatlah yakin tidak begitu bermasalah menghadapi orang ini.
Wanita cantik dan Gao terlihat marah sekali. Terutama Gao yang langsung memerah wajahnya padam sambil gemertak gigi. Namun, anehnya putera mahkota-lah yang menenangkan kedua temannya dengan kata-kata.
“Betul sekali…
Chen bersaudara adalah tabib terkenal di segala jagad. Sayang…
Yang tua masih seorang manusia luar biasa, tetapi yang muda malah sudah hidup di kolong seperti anjing yang main sembunyi saja…
Oh… Dan sesekali membawa pengawal berjumlah selaksa untuk mengeroyok orang lemah.”
Chen diam sampai disini. Dia berusaha tidak mendongkol dan memunculkan kemarahannya keluar. Karena jika terlihat kemarahannya, maka kali ini dia betul kalah dalam adu kata-kata.
Tetapi, pemuda yang sedang duduk tersebut sekiranya menunjuk lantas bertanya.
“Dimanakah Meng Yangchu berada? Kenapa tidak pernah kutampak?”
Chen Yang tersenyum sebentar. Wajahnya terlihat bengis.
“Aku mendengar bahwa dahulu anda sempat mengangkat saudara dengan Meng Yangchu. Bersumpah saling setia…
Tapi nyatanya, anda melanggar sumpah anda sendiri. Ingin merebut kitab tingkatan kesembilan tapak Buddha Rulai. Karena tidak kesampaian, maka inilah hal yang membuatmu sembunyi di sini. Bukankah begitu Yang Mulia Duan?”
Pemuda tidak pernah terlihat marah meski kata-kata sedemikian memang sangatlah pedas. Dia menjawabnya dengan tenang sekali.
“Meng Yangchu… Saudaraku itu sudah mati lama. Aku rasa tidak perlu diungkit-ungkit lagi.”
“Dan kabarnya andalah orang yang berada di lokasi kejadian terbunuhnya keluarga Meng Yangchu?” tanya Chen kembali dengan wajah menyelidik.
“Benar sekali…
Dan aku-lah orang yang membunuh semua keluarga Meng sekitar 30 tahun yang lalu…”
Tanpa ayal, kesemua orang terkejut. Termasuk baik Gao Jianshen dan wanita cantik di sampingnya.
“Tidak mungkin!” teriak Chen Yang seakan tidak percaya.
“Luka di leher mereka semua… Akibat jurus lima jari pedang yang keluar dari tanganku. Aku membantai mereka semua yang berjumlah 15 orang, semuanya berdarah keluarga Meng…” jawabnya kalem.
“Kau!!!
Menguasai jurus setan itu?” teriak Chen yang tidak percaya.
“Sebentar…
Sepertinya pendengar yang sudah berada di sini sejak tadi haruslah keluar!” teriak Taizi dengan tenang tetapi menggaungkan tenaga dalam tingkat tinggi.
Tenaga dalam Taizi tidaklah merusak, tetapi seperti angin semelir ringan yang mengalir.
Dengan heran semua orang berpaling ke kiri kanan, mencari benarkah ada orang yang bersembunyi dan mencuri dengar. Lantas saja, seorang berjalan pelan ke depan. Tubuhnya tinggi besar dan berewokan. Dia tiada lain adalah “Meng Yangchu”. Memang aneh, tidak seharusnya “dia” tidak hadir di sini. Sebab orang ini memanglah sekomplotan dengan Chen dan kawan-kawannya.
Dia keluar sambil tertawa besar. Langkahnya besar dan tegap sekali.
“Bukan kau yang kumaksud kan!” tutur Taizi Tali itu dengan wajah yang kurang senang.
Kontan kesemuanya terkejut langsung.
Terutama Chen Yang yang maha hebat itu. Dia tidak pernah merasakan adanya orang yang datang kesini. Tentu hal ini membuatnya sangatlah heran tetapi pemuda di depannya tahu benar bahwa ada orang yang sudah berada di sana sejak tadinya.
Tidak lama kemudian, terlihat dari arah rumput bagian barat yang menjulang tinggi.
Seseorang mungkin, berjalan dari arah rumput yang cukup tinggi. Ujung kepalanya terlihat dan dia datang bersama seorang yang sepertinya wanita. Sebab pemuda terlihat lebih tinggi sedikit dari wanita yang rambutnya terkibas panjang ke samping.
Setelah mereka keluar dari “hutan” rumput itu, kesemua orang terkejut. Sebab kesemuanya orang di sini mengenal siapa yang datang.
Dialah Xia Jieji dan Yunying. Sambil tersenyum, keduanya berjalan menghampiri ke arah Duan Taizi.
“Sungguh hebat sekali. Anda bisa tahu meski kita berdua hanya bernafas ikut gerakan angin. Bukan begitu? Pemuda sastrawan yang pura-pura bodoh.” sahut Jieji sambil tersenyum memberi hormat.
Yunying heran. Dia pandangi pemuda itu sekali lagi. Wajahnya memang pernah terlihat, tetapi dimana dilihatnya dia sudah tidak ingat.
“Kau sudah tahu aku sastrawan yang menyaksikan Meng Yangchu tertangkap? Bagaimana kau bisa mengatakan aku berpura-pura bodoh?” tanya putera mahkota dengan tersenyum pula.
“Karena kau…
Menyandang besi berat dan mengipaskannya berkali-kali. Penduduk Yun-nan yang hadir kesana tidak ada yang membawa senjata apapun. Tentu, maksudmu adalah ingin memberikan kipas kepadaku untuk memberi pelajaran pada kepala polisi itu.” jawab Jieji.
Sesaat, Jieji menoleh ke arah Xia Rujian dan Wu Shanniang. Dia memberi hormat layaknya seorang anak kepada keduanya.
Sedangkan Yunying, yang merasa sedikit trauma akan hal terdahulu terasa menunduk tidak berani memandang Wu Shanniang ibunya sendiri.
Chen dari tadi memandang putra mahkota, sedangkan setelah kemunculan Yunying dan Jieji. Putra mahkota malah sering melihat wajah isterinya Xia Jieji. Dia tatap dengan tatapan dalam dan sambil berkali-kali menghela nafas.
Chen yang merasa tidak sabar, ingin tahu kejadian sekitar 30 tahun yang lalu itu segera membuka suara.
“Kau menunggu kesemuanya keluar untuk baru kemudian melanjutkan ceritamu?”
“Hampir lupa tuan Chen…” sahut putera mahkota tersenyum.
“Aku memang membunuh kesemua anggota keluarga Meng. Meng Yangchu sengaja kuminta untuk keluar kota saat itu. Dan tentunya bersama Gao Jianshen, ini…
Seseorang mengirimkan peti berisi sesuatu yang hebat sekali saat itu. Dalam perjalanan Chengdu menuju Yunnan, aku mendengar berita yang sangat hebat luar biasa. Yaitu…
Dewa Bumi hendak memusnahkan seluruh orang Yun-nan…”
“Karena cucu muridnya mengkhianatinya bukan?” tanya Jieji dengan tersenyum.
“Betul sekali…
Zeng Qianhao menjadi murid Lu Feidan, melarikan diri. Ini adalah pengkhianatan besar-besaran karena Zeng adalah murid yang menguasai secara lengkap tapak mayapada yang dikatakan sangat hebat itu.
Tentu dengan tanpa ayal, Dewa bumi “mengirimkan” sesuatu kepada keluarga Meng. Satu-satunya keluarga yang berhubungan darah dengan Zeng Qianhao yang masih hidup baik di Yunnan. Merasakan firasat buruk, aku meminta Gao yang ikut denganku melindungi Meng Yangchu terlebih dahulu.
Akhirnya Gao, berhasil sampai dan mengamankan Meng Yangchu keluar kota beberapa hari. Tanpa sepengetahuan Meng bahwa keluarganya bakal dibantai habis-habisan.
Lantas…
Dengan berkuda cepat, aku menuju ke Jinping Shan. Mencari Dewa Bumi, tetapi tidak kedapatan jejaknya. Dan setelah itu, aku pulang ke Yunnan cepat pula. Namun, segalanya akhirnya terlambat.
Keluarga Meng telah terkena racun pemusnah raga yang masih dalam proses pengembangannya dan ditambah obat ilusi
Racun pemusnah raga saat itu belum seganas beberapa puluh tahun kemudian. Atau mungkin, Dewa bumi mengubah formulanya. Membuat racun tidak begitu ganas, tetapi penularannya luar biasa hebat. Dia ingin memusnahkan seluruh penduduk kota Yunnan…”
“Kejam sekali….” sahut wanita cantik di sebelah pemuda.
“Dengan begitu, pekerjaannya dianggap selesai benar. Tetapi, tidak pernah disangkanya. Aku sampai, dan membunuh kesemuanya terlebih dahulu. Aku masih mengingat malam itu dengan sangat baik…” tutur Duan Taizi.
“Hm…
Kau sudah membunuh seluruh keluarga saudaramu.” tutur Chen Yang dengan sinis.
Duan Taizi menatapnya dengan serius. Matanya yang tajam sekejap membuat takut dan gemetar Chen Yang sesaat. Lantas, pemuda itu kembali mengubah “wajahnya”. Dia kembali terlihat lembut.
“Sampai saat kematiannya… Adik Meng tidak pernah tahu bahwa akulah orang yang menjagal keluarganya sendiri.”
Beberapa orang heran. Meng Yangchu masih berdiri di sini, kenapa dikatakan bahwa sudah mati? Sungguh cukup aneh. Perhatian beberapa orang sempat menajam menatap Meng Yangchu palsu tersebut.
“Pantas saja kau berdiam, bersembunyi, bertapa karena takut akan kutukan langit kepadamu.” Chen kembali mengejeknya.
“Anda salah tuan. Bukan karena membunuh orang yang hanya jumlahnya belasan lantas membuatku menyesal benar.” jawab Duan Taizi sambil tersenyum simpul.
“Lantas…
Kepala keluarga Wang yang tidak bersalah sama sekali itu. Dibantai oleh seseorang yang sedang berdiri baik disini.” sahut pemuda sambil menatap ke arah Meng Yangchu palsu.
Meng malah tersenyum sangat besar. Dia kemudian berkata.
“Aku sudah berhasil menipu kitab-mu…”
“Tujuanmu sejak awal memang kitab. Sangat disayangkan aku baru menyadari beberapa tahun yang lalu.” tutur pemuda.
Semua perkataan keduanya membuat Jieji terkejut. Dia berkeringat dingin seakan tidak percaya.
“Betul…
Akulah orang yang sengaja menyamarkan Meng Yangchu yang asli dengan kepala keluarga Wang. Aku melakukan mutilasi terhadap dirinya, sehingga meski keluarga Wang pun susah mengenalinya.” jawab Meng Yangchu dengan tenang.
“Aku tidak pernah tahu sampai beberapa tahun lamanya. Meski sekalipun aku tahu, tidak layak aku mencurigai saudara angkatku satu-satunya. Dari sanalah aku tertipu mentah-mentah olehmu.” tutur Taizi dengan wajah serius.
“Benar sekali…
Meng Yangchu saudaramu kubius, kutukar wajahnya dengan wajah kepala keluarga Wang yang hari sebelumnya saat itu telah kulenyapkan. Dan pada malam berpetir dan hujan deras, aku memotong seluruh tubuh Meng Yangchu asli dan melanjutkan hidup Meng sendiri. Saat itu, andalah orang yang terbodoh karena frustasi terhadap masalah keluarga Meng. Berjanji sendiri, berpergian mencari Dewa Bumi yang sebenarnya sudah berada di Heilong Jiang. Inilah kesempatanku satu-satunya.” sahut pemuda berbadan besar luar biasa itu.
“Sahabatku…
Kau menipu semua orang di dunia dengan begitu mudah…” tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda dari arah samping kanan Duan Taizi menyahut. Semua sesaat memandang ke arah suara tersebut diperdengarkan. Mata pemuda yang berbicara sangat sayu, nafasnya memburu sebentar dan beberapa kali dia menggelengkan kepalanya. Dia tiada lain adalah Xia Jieji yang berdiri dengan tubuh sedikit gemetar.
Meng Yangchu yang berada di sini melihatnya dengan tatapan lama. Lantas kemudiannya dia gusar.
“Kau!! Kau sudah menuduhku sedemikian rupa. Lantas mengatakanku adalah sahabatmu kembali? Apa maksudmu Tuan Xia?”
“Aku benar-benar bersalah terhadap kasus keluarga Meng. Perkiraanku benar salah besar. Tidak disangka kamu berada dibelakangnya, sahabatku. Pantas saja sangat susah orang untuk mencarimu sebab kamu sudah hidup sebagai orang lain selama 30 tahun lamanya.” sahut Jieji dengan mata yang tiba-tiba melinangkan air mata kesedihan.
“Dia adalah salah satu detektif terbaik sepanjang zaman. Maka daripada itu, beberapa kelemahan kejahatan sudah ditutupinya dengan begitu mudah.” tutur Taizi sambil melihat ke arah Meng.
Meng melihat dengan dalam ke arah mantan putra mahkota Tali ini mendalam. Cukup lama juga, terakhir dia tertawa terbahak-bahak.
“Tidak perlu lagi sepertinya kusembunyikan jati diri asliku.”
Sambil berkata-kata, Meng membuka topeng wajahnya. Dia buka bajunya yang sebenarnya kebanyakan terdiri dari bantalan kapas, melepas sepatu yang membuatnya tambah tinggi. Dan tanpa perlu waktu yang lama, dia sudah berubah. Meng yang besar, tinggi, dan kokoh berubah menjadi seorang kurus, bermuka bulat, matanya bulat. Tangan “Meng” cukup panjang meski dengan lengan yang agak kurus. Dia terlihat cukup berkharisma di wajahnya pada saat-saat tua-nya.
“Saudara Huang, kamu sudah menipu dunia sebegitu lama. Hilangnya Huang Qian tidak disangka malah memunculkan 2 orang yang baru.” tutur Xia Jieji pertama sambil menggelengkan kepala.
“Dua orang baru?” tanya Yunying yang cukup tanggap akan kata-kata suaminya barusan.
Sebelum Jieji menjawab pertanyaan isterinya, kemudian putera mahkota segera mendahuluinya.
“Betul sekali… Tidak disangka kamu betul tahu meski berdasarkan analisis untung-untungan. Huang Qian yang dahulu lenyap, digantikan oleh Meng Yangchu dan Ketua partai Jiu Qi. Bukan begitu?”
Yunying terkejut. Dia melongo melihat kiri kanan. Di kiri dia melihat wajah suaminya yang tersungging bibirnya. Begitu pula, di arah kanannya dia melihat putra mahkota sambil menyunggingkan senyumnya.
“Memang…
Analisis tebak-tebakan seperti demikian justru sering dilakoni oleh seorang detektif. Bukan begitu saudara Huang? Ini hal adalah hal yang sering sekali diajari olehmu.” sahut Jieji melihat ke arah Huang Qian.
Huang, tersenyum sambil melihat sekeliling. Dan kemudian, dia berhenti ke arah Duan Taizi.
“Sejak kapan kau sudah betul menyadari aku bukanlah Meng Yangchu yang asli?”
Pemuda yang ditanya, segera menggeleng kepalanya perlahan.
“Sejak beberapa hari yang lalu saja.
Dahulu, karena sangat kupercayai saudaraku Meng Yangchu, maka daripada itu tidak pernah sekalipun aku curiga ataupun kesal karena dia merebut kitab satu-satunya peninggalan ayahku. Tetapi, lama kelamaan aku sudah merasa mulai janggal. Terutama karena selain mencuri kitab, kamu juga sering sekali melakukan tindakan gelap di belakang.
Kasus tewasnya Ma Fongpao di Jiangling, Kasus pencurian emas 10,000 tael keluarga Wang di Hanzhong, hingga kasus utara yang sangat terkenal di kalangan sendiri : Pembunuhan Yue Liangxu…”
Xia Jieji melihat dengan berkerut alis ke arah Duan Taizi, dia bermaksud mengeluarkan suara. Tetapi putra mahkota kembali melanjutkan perkataannya.
“Sebenarnya semua hal adalah sangat gampang dan tidak rumit. Adalah anda yang berdiri di belakang semua kejadian sehingga sangat terlihat rumit. Tujuan anda tentunya mengaburkan semua penyelidikan pihak yang ingin tahu maupun pihak berwajib. Hebatnya adalah, semua petugas kepolisian dari Yunnan hingga Zitong, Chengdu adalah orang-orang partai Jiu Qi. Dan ada hal yang betul kusalut kepadamu, Gao Jianshen tidak pernah menyadari bahwa kamu adalah Meng palsu meski berada disampingmu puluhan tahun.”
“Tidak semua hal memang kulakukan.” jawab Huang Qian pendek saja membalas perkataan pemuda.
“Setelah meyakinkan bahwa tiada orang yang mengetahui anda adalah Huang Qian. Anda mulai bertindak biasa sampai 5 tahun mendatang. Sampai suatu saat, ketika kita duduk berdua. Anda berniat meminjamkan kitab tingkatan kesembilan jurus tapak buddha Rulai kepadaku.
Karena persaudaraan, maka aku meminjamkannya kepadamu. Dan selang 2 hari kemudian sesuai janji anda. Kitab dikembalikan kepadaku dengan baik sekali.
Saat itu, tidak pernah aku merasa curiga kalau kitab sudah disalin oleh anda. Tepatnya selain disalin, kitab itu juga diubah tulisannya…”
tutur putra mahkota sambil menegandah.
“Dengan begitu, pantangan membaca buku dari ayahmu sudah diabaikan olehmu. Kamu tidak termasuk orang yang berbakti karena diam-diam malah mempelajarinya.” tutur Huang Qian terlihat sinis.
Namun orang yang disindir, menggelengkan kepalanya.
“Kitab itu, sudah kupelajari jauh hari…
Jauh hari sebelum kita berkenalan saudaraku…”
Huang terlihat terkejut. Baginya, putra mahkota Tali adalah orang yang jujur, pintar, bijaksana. Namun, masih banyak hal yang masih menjadi misteri baginya meski sudah berkawan maupun berlawan dengannya selama kurun waktu hampir 30 tahun lamanya.
Huang yang mendengar pernyataannya, segera menatap tajam.
“Lantas kenapa tidak mempelajarinya sendiri? Bukankah ilmu kungfu no.1 sudah kamu ketahui sejak awal? Tapak buddha Rulai tingkat sembilan.”
“Aku yakin kamu juga pernah membacanya sebab kamu adalah seorang pesilat yang menguasai tapak buddha Rulai hingga tingkat kedelapan. Tentu tingkat kesembilan tidak pernah terabaikan seharusnya.” sahut Duan Taizi.
“Betul sekali…
Setelah kubaca, beberapa kali kulatih. Tingkat kedelapan sudah kudapatkan jauh hari sebelumnya karena mengetahui rahasia Yang Jian, kaisar dinasti Sui. Aku mendapatkannya berkat kerja sama dengan Dewa Bumi di Heilong Jiang. Anehnya, tingkat kesembilan malah tidak sanggup kupahami.” jawab Huang Qian dengan wajah yang kurang puas.
“Itu karena, kamu tidak terlahir di daerah India. Kamu tidak terlahir untuk membaca kata-kata perhuruf. Mengganti aksara India ke bahasa daratan tengah. Mengutip hal yang perlu dan membuang hal yang tidak perlu.” jawab pemuda dengan datar.
“Apa??”
teriak Huang seakan tidak percaya.
“Rahasia kitab sudah kukatakan kepadamu. Sayang sekali memang…
Karena buku aslinya sudah dilenyapkan oleh anda. Meski anda mengingat perhuruf kembali. Tidak ada kertas asli yang bisa dicelupkan ke air, maka tindakan anda sia-sia. Tapak buddha tingkat kesembilan sudah menjadi mimpi..
Mimpi yang tiada berkesudahan…” tutur Duan Taizi sambil menghela nafas.
Huang berdiri terpaku seakan tidak percaya kata-kata barusan dari Duan Taizi.
“Oya…
Aku lupa memberitahumu…
Pemuda yang kamu pinjam lihat kitab asli tersebut. Akhirnya memang menguasai kitab tapak buddha rulai tingkat kesembilan. Namun, hasilnya…
Nyawanya sudah terancam. 17 organ dalamnya sudah rusak total ketika pertama kali dipelajari. Selang setahun, 34 organ utama dalam tubuh akan mengalami kelumpuhan. Dan setahun pas kemudian, dia akan kehilangan penglihatan, pendengaran, rasa serta segalanya. Dan hidupnya hanya menjadi beban selama 7 tahun yang membuatnya tewas menggenaskan kemudian.” tutur Duan Taizi kemudian dengan panjang lebar.
Mendengar perkataannya, Huang tidak percaya sama sekali. Dia meneriak keras “Omong kosong!”. Di sampingnya pria berusia 30-an, terkejut tiada terkira. Dia memandang putera mahkota seakan tidak percaya sama sekali. Wajahnya pucat bagaikan kertas sesaat, matanya mengecil, alisnya mengerut luar biasa.
Dia menanyai pemuda dengan segera.
“Dengan begitu…
Adik angkatku sudah tidak punya harapan hidup?”
Pemuda yang duduk, segera melihat ke arah Xia Jieji. Dia tersenyum simpul sambil menjawabnya.
“Dia masih hidup dengan baik. Masih cukup banyak waktu baginya…
Cukup banyak…”
Jieji bagai disambar geledek. Dia memiliki sesuatu pemikiran yang sampai sekarang tidaklah berani diutarakannya. Dia berniat menanyai putra mahkota, tetapi lantas dia urungkan niatnya terlebih dahulu. Sebab dia ingin tahu apa hal sebenarnya yang terjadi kemudiannya.
“Setelah mengembalikan kitab kepadaku. Diam-diam anda menaruh racun pemusnah raga di balik kitab. Ini hal baru kuketahui setelah salah seorang murid anda yang tamak keracunan, tewas seketika di kuil Zhu Fu. Sungguh, saat itu aku tidak pernah percaya apa yang sudah anda lakukan. Tepatnya, dilakukan oleh saudaraku yang difitnah meski dirinya sudah di alam baka.” tutur Duan mengenang.
“Inilah kelemahan manusia…
Kau sudah tahu bahwa aku bukan Meng Yangchu yang asli. Tetapi tidak pernah sekalipun dirimu turun tangan.” jawab Huang.
Pemuda, segera berdiri. Dia berjalan pelan dengan gaya yang terlihat sangat berkharisma. Jongkok dan mengambil benda yang tadinya sudah dibuang oleh Huang Qian. Tiada lain tentunya adalah wajah Meng Yangchu asli. Kulitnya di rendam obat, dijemur sebulan penuh sehingga meski melekat sudah puluhan tahun di wajah Huang, tidaklah rusak.
“Adalah karena ini saja…
Karena ini, aku tidak pernah turun tangan kepadamu.”
Wajah Duan Taizi segera berubah, dia berubah ganas dengan cepat sekali. Tadinya, wajahnya sangat tenang sekali bagaikan orang yang hidup dengan bahagia. Kali ini, dia berubah menjadi singa kelaparan yang siap melahap mangsanya.
Huang Qian yang melihat keadaan, segera beranjak mundur tiga empat langkah. Sementara itu, Chen Yang berdiri di depan dengan angkuh. Di sampingnya ikut Xia Rujian.
“Anakku…
Hari ini adalah urusan kita. Aku rasa kamu tidak pernah akan ikut campur barang sekalipun bukan?”
“Puteriku… Apa yang dilakukan oleh suamimu tentu juga bakal dilakukan olehmu bukan?” tanya Wu Shanniang ke arah Yunying.
Apa maksud perkataan Xia Rujian dan Wu Shanniang sangatlah jelas sekali. Jika Duan Taizi hanya sendirian, mustahil mereka berempat yang merupakan jago kelas tinggi tidak sanggup melawannya. Jika dibantu Xia Jieji dan Wu Yunying, jelas sekali mereka sudah di bawah angin.
Xia Jieji maupun Wu Yunying tidak pernah menjawab. Mereka melihat ke depan dengan mata yang tajam.
Duan Taizi segera dihampiri kedua temannya. Satunya adalah wanita cantik dan Gao Jianshen. Keduanya terlihat telah siaga bertarung.
Tetapi, Duan malah mengangkat sebelah tangannya. Maksud darinya adalah menahan wanita dan orang tua untuk bergebrak.
Tentu keduanya sangatlah heran. Meski keduanya tahu bahwa Duan Taizi adalah pesilat hebat. Namun keduanya tidak pernah tahu kemampuannya adalah sampai dimana.
Wanita cantik tersebut sangat heran. Dia tahu bahwa ilmu kungfunya adalah dipelajari dari pemuda selama 10 tahun lebih. Namun, seberapa dalam kemampuan bertarungnya sangatlah jarang pernah terlihat olehnya sendiri.
“Empat orang mengeroyok seorang. Apakah tidak malu kalian?” teriak wanita cantik dengan agak marah.
Namun, Yunying telah berjalan ke depan diikuti Jieji. Mereka berdua menarik wanita cantik itu dan Gao Jianshen ke belakang.
“Tidak usah takut…” sahut Jieji kepada Gao Jianshen dengan wajah tersenyum.
Begitupula Yunying menenangkan wanita ini.
Duan Taizi telah terlihat serius. Berbeda dengan keempat lawan di depannya, kesemuanya sedang mengerahkan tenaga dalam pemusnah raga. Sebaliknya Duan sama sekali tidak terlihat mengerahkan tenaga dalamnya, melainkan dia menarik sebuah pedang dari samping pohonnya yang tergantung.
Pedangnya tidaklah tajam dan berbahaya seperti pedang biasa. Tetapi pedang terlihat agak panjang sedikit namun keras. Dia pegang di tangan kanannya dengan menunjuk ke depan.
“Cari mati! Kau melawan kita berempat dengan pedang jelek itu?” tanya Chen Yang sambil tertawa.
“Untuk ukuran pesilat seperti kalian, hanya pedang sedemikianlah yang pantas.” jawab Duan Taizi.
Jieji berempat sudah mundur jauhnya 30 kaki. Mereka melihat ke depan dengan serius. Gao dan wanita cantik terlihat cukup cemas, wajah mereka berubah dan terlihat seakan takut.
Jieji tersenyum sebentar melihat ketenangan Duan Taizi, dan dia tahu bahwa pemuda tersebut bukanlah manusia sembarangan yang menerima tantangan lawan yang semuanya menguasai Ilmu pemusnah raga.
***
Daerah Sizhuan…
Ketenangan tempat tersebut yang biasanya selama setahun yang luar biasa damai telah berubah semenjak kemarin. Saat tempat tersebut dilewati oleh 2 pesilat jago sejagad. Mayat bergelimpangan, darah mengalir bagaikan sungai. Bau amis tercium tajam luar biasa.
Jumlah jasad mungkin sudah ratusan orang. Namun, orang yang hidup disini ternyata hanyalah 3 orang saja. Dua orang berdiri terpaku di salah satu jurang bukit yang dalam. Sedangkan seorang sedang berjongkok, melihat ke bawah dengan cemas. Wajahnya terlihat putih dan air mata dari pipinya masih terlihat mengalir. Dia adalah seorang gadis yang umurnya hanya 20 saja. Cantik terlihat dengan pakaian sederhana namun sangat pas.
Orang yang berdiri salah satunya adalah Yuan Jielung, dan di sampingnya adalah salah satu pendekar no. 1 sejagad juga, Dewa Lao.
Wajahnya tidak begitu berubah. Dia berjalan pelan ke arah gadis cantik, membimbingnya berdiri dengan perlahan.
“Sudahlah…
Mungkin betul ini adalah takdir. Muridku tidak sempat kuselamatkan, sangatlah disayangkan.”
Berkata sampai disini, wajah gadis kembali murung. Dia terlihat menangis kembali, tetapi kali ini lebih parah dari sebelumnya.
Yuan menundukkan kepalanya, wajahnya sangat menyesal sekali. Dia juga terlihat meneteskan air matanya.
“Ayah! Kita harus mencari kakak kelima secepatnya. Mintalah dia balaskan dendam kakak pertama…” teriak gadis kecil yang adalah Yumei, adik terkecil dari Xia Jieji dari keluarga Xia.
Yumei memanggil Dewa Lao dengan sebutan ayah?
Kedengarannya memang cukup aneh. Yuan memang terkejut, dia tidak mempercayai bahwa Dewa Lao ternyata mempunyai seorang puteri yang cantik. Namun, karena saat ini bukanlah saat yang tepat. Maka dia tidak berniat menanyainya.
Dewa Lao mengangguk pelan. Dia menatap ke arah selatan sambil berkata.
“Tali tidak begitu jauh dari sini. Satu hari satu malam dengan kecepatan kuda tinggi, maka kita bisa sampai.”
Yuan diminta secara langsung oleh Dewa Lao.
“Tuan Yuan…
Bisakah anda membawa berita buruk ini ke ibukota? Katakanlah bahwa Jenderal Yang telah jatuh ke dalam jurang dalam pertarungan hebat selama sehari semalam. Nasibnya tidak diketahui sama sekali, dan…
Dia jatuh ke jurang bersama-sama dengan Wei Jindu.”
Yuan memberi hormat dengan dalam. Dia akan mengundurkan dirinya tetapi hatinya masih terasa cemas sangat.
“Tidak usah khawatir…
Aku akan mengurus hal di selatan dengan baik.” sahut Dewa Lao memastikan dengan suaranya yang agung.
***
Hutan kecil Pa kwa…
Pengumpulan energi dari empat orang sepertinya telah selesai. Energi berdesir dan terasa panas mengoyak dirasakan siapa saja.
Seperti tadinya, Duan Taizi belum sempat mengubah arah pedang yang runcing yang ditunjukkan ke Chen Yang.
Dia melihat serius saja dan sepertinya tidak akan mengambil langkah menyerang terlebih dahulu.
Mereka berempat memang cukup heran melihat pose lawannya yang tidak bergerak namun sinar matanya tajam ke depan. Tangan kirinya terlihat di arahkan ke belakang, sementara dengan mengancangkan pedang menyamping ke arah empat orang. Pemandangan disini memang sangatlah bagus. Pesilat-pesilat hebat sudah mulai akan bertarung satu sama lainnya.
Penonton sepertinya sedang hampir tidak sempat bernafas melihat keseriusan hawa pertarungan di depan mereka masing-masing.
Akankah seorang putera mahkota sanggup seorang diri menghadapi semua lawan-lawannya yang ganas itu?
Dengan satu teriakan hebat, sepertinya ada pihak yang betul sudah tidak sabar menanti. Tentu pihak Chen yang memulai serangan terlebih dahulu.
Dalam ilmu kungfu pemusnah raga yang termahsyur, sebenarnya hanya 3 tingkatan yang mengajarkan menyerang. Sedang dua tingkatan pertama selain bertahan, dan mengelak tiada berupa serangan berbahaya apapun.
Tentu mengambil inisiatif menyerang, keempatnya mengerahkan tingkatan ketiga dari Ilmu pemusnah raga.
Dengan majunya keempat orang, maka pertarungan betul sudah dimulai.
Keempat orang, mempunyai kecepatan yang luar biasa tinggi. Chen memang jauh lebih unggul daripada ketiga orang temannya. Dia tidak ingin menyerang dahulu mendahului teman-temannya. Maka daripada itu, dia tidak menggunakan kemampuan sesungguhnya saat ini.
Duan Taizi tahu benar, bahwa gerakan menyerang keempat orang di depannya adalah sangat cepat. Pedang memang sudah diarahkan ke depan tadinya. Dan diluar dugaan siapapun yang melihatnya….
Duan Taizi tidaklah menyerang ataupun bertahan…
Dia meletakkan sambil menancapkan pedang ke tanah. Sedangkan tangan kirinya yang tadinya sengaja disampingkan ke belakang telah ditunjuk maju ke depan. Jarinya di arahkan ke arah empat orang penyerangnya secara langsung.
Lawan tidak pernah mengira apa yang sedang dilakukan oleh Duan Taizi.
Sedangkan Jieji yang melihat gerakan awal Duan yang jelek, malah merasa terkejut kagum.
Baik Chen Yang, Wu Shanniang, Xia Rujian dan Huang Qian. Keempat orang tiada tahu apa yang sedang dilakukan lawannya. Mereka telah menghantam dengan tapak kuat. Namun berbareng terkejut, keempatnya terlontar mundur ke belakang dengan sangat pesat sekali.
Tiada yang tahu apa yang sedang terjadi dengan keempat orang, namun terlihat jelas bahwa keempat orang terdorong oleh suatu tenaga yang tiada tampak oleh mata.
Keempat orang bukanlah pesilat tingkat rendahan. Mereka mengetahui sangat baik bagaimana lawan “melukai” mereka dengan hebat sekali.
Dan setelah turun, keempat orang melihat ke arah tangan masing-masing.
Darah sedang mengalir meski sepertinya adalah luka goresan belaka. Lima goresan yang cukup dalam membuat mereka terkejut sesaat.
“Jurus jari setan seperti demikian memang pernah kudengar. Namun, kali ini menyaksikannya baru percaya.” tutur Chen Yang melihat ke arah temannya.
Namun, belum sempat keempatnya saling tanya jawab. Di depan mereka masing-masing telah terasa hawa kehadiran yang sangat cepat sekali.
Keempatnya mau tidak mau sangatlah terkejut luar biasa.
Pedang yang tadinya tertancap di tanah sudah tidak berada di tempatnya lagi. Duan Taizi kali ini memulai penyerangan sebelum lawannya betul siap. Arah pedang segera diarahkan ke Wu Shanniang. Lawan terlemah diantara keempat orang tersebut.
Gerakan pedang Duan Taizi memang sangat jelek, sepertinya dia tidak pernah menguasai ilmu pedang.
Meski kecepatannya sangat tinggi sekali, namun gaya menyerangnya betul sangatlah terbuka sekali membuat lawannya yang melihat gerakannya segera meremehkannya.
Jieji mengenal lafalan dari gerakan Duan Taizi dengan baik. Meski agak sama, namun sepertinya gerakan seperti itu adalah gerakan yang cukup berbeda dengan gerakan yang dipelajarinya.
Wu Shanniang melihat lawan sedang mengincar tenggorokannya segera mencabut golok dari belakang pinggangnya. Dengan jurus golok, dia melayani tusukan pedang lawannya.
Tetapi belum saja golok menyentuh pedang, pedang sudah berbelok sangat cepat.
Kali ini incarannya adalah Huang Qian. Huang yang tidak pernah tahu bahwa jurus pedang seperti demikian ternyata sangatlah berbahaya itu, tidak siaga. Arah pedang adalah dadanya yang terlihat sangat terbuka tanpa pertahanan.
Chen Yang melihat Huang dalam saat yang berbahaya, segera mengibaskan tangannya sekali. Dari arah lengan bajunya terdapat sebilah belati yang disabetkan langsung ke Duan Taizi.
Namun, serangan pedang Duan Taizi yang sudah hampir mengenai dada Huang Qian telah berubah arah. Pedang tidak ditarik, melainkan jalur pergerakannya bagaikan air ombak yang mengalir dahsyat.
Segera pedang mengambil korban dengan sangat cepat. Tusukan itu memang mengarah ke arah belati penuh tenaga dalam dari Chen Yang. Dan sesaat kelihatan bahwa tusukan pedang kalah hawanya.
Tetapi ternyata pedang yang terlempar akibat tenaga dalam Chen Yang tidak berhenti dan telah mengincar Xia Rujian meski sedang terlepas.
Pergerakan awal pedang yang sangat bagus sekali walaupun gayanya sesungguhnya sangat kacau luar biasa. Pedang “terbang” ke arah bahu Xia Rujian dengan hebat. Sebelum sempat dia bertindak, dia bertahan cepat. Mengerahkan tenaga dalamnya untuk memblokir pesatnya pedang yang terakhir terhantam ke tangannya. Suara “krek” terdengar cukup jelas bagi siapapun disana pertanda tulang tangan orang sudah patah seiring terlihat “terbangnya” pemilik tangan menyeret tanah berumput.
Chen Yang, Huang Qian dan Wu Shanniang melihat Xia Rujian telah menjadi korban pertama langsung gusar berbarengan. Mereka menghantam tapak ke arah Duan Taizi bersamaan. Namun, seiring kibasan tangannya ketiga orang kembali terpental sekali lagi. Ini adalah jurus jari yang luar biasa hebat itu.
Wanita cantik dan Gao sangat bergembira melihat pertarungan pemuda yang pertama disangka jauh dibawah kemampuan mereka berempat yang ternyata malah di atas angin sedemikian lamanya.
“Yang menyerang kita di kuil Zhu Fu bukanlah dia. Tetapi…” sahut Yunying tersenyum melihat ke arah Jieji.
Jieji telah serius melihat ke arah Xia Rujian, dia berniat maju melihat luka dalam ayahnya. Namun, dia dihalangi oleh Yunying.
“Aku rasa dia tidak mengapa, hanya patah tulang di tangan saja.”
Jieji menatap Yunying sesaat, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah pertarungan luar biasa kembali.
Ketiga lawan terpental sebentar dan terlihat terdesak hebat.
Duan Taizi tidak pernah memberikan kesempatan, sebab kali ini sebelum mereka benar berhenti akibat seretan tenaga dalamnya. Dia mengarahkan kembali jari ke depan. Dan terlihat dia kibaskan sekali lagi.
Kali ini, sangat berbeda. Tadinya adalah hawa pedang tidak berwujud yang muncul dari setiap jarinya. Namun, kali ini suara desiran kuat mengikuti pedang tak berwujud tersebut.
Kontan saja, ketiga orang mengumpulkan energi satu tarikan nafas. Ketiganya menggunakan kemampuan terbaik mereka, Ilmu pemusnah raga tingkat kelima untuk memblokir serangan “setan” tidak berwujud itu.
Suara keras terdengar akibat teriakan hebat ketiga orang. Menggunakan jurus yang sama, terlihat ketiganya bakal di atas angin. Tapak tiga pasang di arahkan ke depan, tempat melajunya jurus jari nan sakti tersebut.
Namun, sepertinya hasilnya cukup mengejutkan. Desiran suara jari pedang tak berwujud sudah berhenti penuh. Ketiganya sempat girang sesaat melihat ke depan. Tetapi tidak perlu waktu satu kedipan mata, ketiganya terkejut luar biasa. Sebab terdengar suara seseorang dari belakang menyahut mereka.
“Pemusnah raga memang hebat, namun pertahanan berlipatnya jelas tidak ada.”
Ketiganya mendengar suara yang sama, kontan berpaling. Yang mereka lihat adalah pedang dan jari yang sangat dekat dengan wajah ketiganya. Mungkin hanya terpaut 1 kaki dari ujung pedang maupun jari. Arah pedang sedang diarahkan ke arah Chen Yang. Sedangkan arah jari terlihat di arahkan ke Huang Qian dan Wu Shanniang.
Istana kerajaan Sung, Kaifeng…
Sudah banyak sekali pejabat yang berkumpul di ruangan. Kesemuanya berbaris dengan amat rapi merapat ke kiri maupun ke kanan.
Jenis pejabat dari arah luar jika dilihat, yang berbaris di sebelah kiri adalah pejabat berpakaian formal militer. Sedangkan di sebelah kanan adalah pejabat berpakaian formal sipil. Muka kesemua memang sedang serius-seriusnya. Sepertinya ada sesuatu yang betul mengkhawatirkan ke semuanya.
Seorang pemuda berumur sekitar 40-an sedang duduk santai di singgasana tengah. Berpakaian warna keemasan dengan topi berwarna emas. Siapa lagi jika bukan Zhao Kuangyi, Kaisar Sung Taizong tersebut.
Ruangan terasa sangat pengap. Bukan pengap karena panasnya hawa musim panas yang baru menjelang. Tetapi karena sesuatu perbincangan istimewa yang terjadi di ruangan.
Kaisar yang melihat pemandangan yang terasa serius sekali serta keheningan yang terasa sangat pekat, segera membuka suaranya.
“Menurut pejabat militer, sebahagian besar ingin berserikat dengan Jin. Sedangkan pejabat sipil malah berpikir sebaliknya. Pejabat Yan… Bagaimana menurutmu?”
Orang yang dipanggil adalah berasal dari pejabat sipil kerajaan. Dia maju setindak tanpa mengurangi rasa hormatnya. Lantas dia menjawab dengan pelan.
“Yang Mulia…
Jin tidak ada bedanya dengan Liao. Mereka hidup di perbatasan sebelah timur laut dari Liao.
Sebenarnya luas daerah Jin hanya sekitar 50 li persegi saja. Sangat jauh dibanding Liao yang berada di sebelah selatan Jin. Meski tawaran negara kita kepadanya sangatlah baik, tetapi hamba masih yakin bahwa Jenderal negara kita sendiri masih sanggup mengatasi Liao.”
Seorang pejabat dari seberang segera maju. Dia memberi hormat dengan pelan sebelum pejabat Yan menyelesaikan kata-katanya.
“Keputusan Yang Mulia mana mungkin bisa diganggu gugat. Yang Mulia telah meminta utusan kita pergi ratusan li. Dan kembali dengan baik bersama utusan Jin. Hamba mohon Yang Mulia tidak menarik kembali kata-kata Yang Mulia.”
Zhao dari tadi mendengar pendapat berlainan dari kedua pejabatnya dari divisi Wen(sipil) dan Wu(militer). Meski dirinya telah bersepakat untuk bersekutu 2 minggu lalu. Namun mendengar alasan para pejabat yang menyatakan sifat kedua suku nomaden itu pada dasarnya adalah sama, membuatnya menjadi ragu-ragu benar.
Dia tidak menjawab atau berkata-kata lagi. Dengan tenang dan agung, dia bangkit dari kursi singgasana-nya. Dan lalu menuju ke belakang.
Meski sikap Kaisar terlihat agak aneh, namun tiada orang yang sanggup mencegahnya. Mereka hanya melotot kebingungan melihat Zhao kuangyi berjalan pelan ke belakang.
“Sepertinya hanya PM. Cao yang sanggup memberikan Yang Mulia keyakinan..” Tutur pejabat bermarga Yan tadi sambil menghadap langit.
Zhao Kuangyi sebenarnya bukanlah termasuk seorang yang pebimbang. Dia adalah seorang yang sangat ideal menjadi seorang Kaisar sejati. Sifatnya yang spontan membedakan dia dengan kakak kandungnya, Zhao Kuangyin. Kuangyi terlahir dan tumbuh dalam situasi yang keras. Sekeras Zhao kuangyin adanya.
Namun Zhao Kuangyin, Sung Taizu sangat berhutang budi terhadap banyak orang yang betul mendukungnya. Oleh karena itu, tindakan tegas jarang sekali bisa diambil oleh sang kakak layaknya seorang adik.
Sehabis rapat yang “tidak usai” itu. Zhao kuangyi menuju ke kebun belakang dari istana. Dia terlihat bimbang sambil berkali-kali menghela nafas panjang.
“Xia Jieji…
Apa keputusan yang bakal kamu ambil jika berada di posisiku? Wilayah utara jika berhasil ditaklukkan, maka setengahnya sudah menjadi milik Jin. Apakah Jin juga akan berlaku seperti Liao nantinya?”
“Xia Jieji bukanlah seorang dewa.” tutur suara seseorang yang kemudian membuatnya berpaling ke arah orang tersebut.
Seorang wanita yang terlihat sangat anggun sekali. Umur wanita palingan hanya 20-an. Dengan pakaian resmi kerajaan dan topi phoenix yang sangat cantik berdiri menatapnya dengan bola mata yang gemilang. Wanita tersebut tersenyum sambil memberi hormat pelan.
“Yelu Xiuke dan Yelu Xiezhen. Kedua kakak beradik tersebut telah mengocar kacirkan pasukan pelindung Nan-pi. Tidak lama lagi…
Mungkin Kaifeng bisa dipindahkan akibat ulah kedua jenderal dari pasukan Liao.” tutur Zhao Kuangyi sambil menghela nafas.
Wanita tersebut tiada lain adalah permaisuri. Dia terlihat berduka menatap Kuangyi. Tetapi, tidak lama dia mengeluarkan suaranya.
“Yang Mulia tidaklah perlu terlalu berkhawatir. Hamba mempunyai cara dan daya yang sangat bagus sekali meski tanpa Xia Jieji.”
Zhao Kuangyi terkejut sebentar sambil menatap ke permaisuri-nya yang sepertinya sangat cerdas dan memiliki banyak akal.
“Hamba sudah mengatur dengan sangat baik sekali. Sudah kususupkan 3 orang pembunuh terhandal ke dalam kemah musuh di utara.” Sahut sang permaisuri.
Zhao Kuangyi mau tidak mau terkejut mendengar perkataan permaisurinya sendiri. Dia memandang melongo cukup lama ke arah sang wanita no. 1 di daratan China tersebut.
“Tiga pendekar? Siapa mereka?” Tanya Zhao kuangyi seraya tidak percaya sama sekali. Dia terlihat bergembira.
Permaisuri tersebut memberikan keterangan kepada-nya, tetapi tidak secara langsung.
“Ketiga orang ini adalah sahabat kakekku yang sudah tidak pernah berjumpa lagi satu sama lainnya. Tidak ada yang tahu nama asli mereka sesungguhnya, bahkan kakekku sekalipun. Ketiganya bersaudara dan selalu bertindak bersama-sama. Tidak pernah ada kata GAGAL dalam upaya pembunuhan yang dirancang oleh mereka bertiga. Hanya saja, sifat mereka sangat aneh…”
“Masih ada orang sedemikian di jagad tersebut? Kalau mereka masih hidup, tentu umur mereka sudah di atas 80. Apakah mereka sanggup bertindak leluasa? Dan mengapa dikatakan bahwa tingkah ketiganya sangat aneh?” tanya Zhao Kuangyi yang terlihat cukup menggebu-gebu.
“Ketiganya mengambil tebusan yang “aneh”. Ketiganya tidak pernah menginginkan uang ataupun harta. Biasanya dengan meletakkan 10 butir biji semangka dan di bawahnya terselip nama orang serta petunjuk mencari. Maka orang tersebut dijamin akan “hilang” dalam 10 hari semenjak kesepuluh butir biji semangka hilang dari tempatnya. Dan biasanya akan mendapat balasan apa yang mereka minta…”
“Sebentar…
Dari penuturan-mu, maka 10 butir biji semangka sudah diambil beserta suratnya. Lalu apa surat balasan mereka?” tanya Zhao Kuangyi memotong.
“Mereka menginginkan nyawa putera mahkota Duan dari Ta Li. Tetapi mereka memberi kita waktu 45 hari.” tutur Permaisuri dengan serius.
“Putra mahkota Ta Li? Bukankah Ta Li belum pernah mengangkat putera mahkota sebelumnya?” tanya Zhao kuangyi dengan heran.
Permaisuri tersenyum manis mendengar tuturan Kaisar.
“Betul sekali. Maksud mereka tiada lain adalah putera mahkota Ta Li sebelumnya. Dan hanya 1 orang yang mengenalnya dari kerajaan kita.”
“Maksudmu adalah Cao Bin?” tanya Zhao.
Permaisuri menganggukkan kepalanya sambil memberi hormat mendalam.
“Cao Bin punya seorang kakak seperguruan. Kabarnya adalah mantan putera mahkota Ta Li.
Permaisuriku… Tidak disangka semuanya sudah diatur olehmu sedemikian rupa. Sepertinya kekhawatiranku sudah teratasi benar olehmu.” sahut Zhao Kuangyi setengah berteriak girang.
Tidak ada seorangpun yang sesungguhnya tahu bahwa sebenarnya pelaksanaan pembunuhan oleh 3 orang misterius terhadap 2 jenderal besar Liao tidak pernah terlaksana.
***
Kembali kepada pertarungan Putera mahkota Duan dengan 4 pendekar hebat Liao.
Diancam sedemikian rupa tentu membuat ketiganya tidak percaya sama sekali. Ketiga pendekar yang melatih ilmu hebat sedemikian lamanya tidak yakin akan pergerakan yang sudah mematikan langkah ketiga orang dengan sangat cepat.
“Aku tidak akan membunuh. Tetapi jika ada yang ingin pergi dari sini, harap tinggalkan sebelah lengan saja.” tutur putera mahkota Duan dengan wajah yang sangat serius.
Mau tidak mau, keempat-nya tentu sangat terkejut.
Xia Rujian memang masih berbaring dan terlihat kepayahan sambil memegang sebelah tangan, namun mendengar tutur kata-kata dari Duan, dia mau tidak mau terkejut juga.
Jari maupun pedang sedang diarahkan kepada titik mematikan dari wajah masing-masing. Yaitu arah sebelah mata. Jika mata ditusuk dalam jarak sebegitu dekat, maka tidak mustahil selain biji mata yang hancur maka gerakan tenaga dalam tentu akan mencapai