Pahlawan dan kaisar 27

By abanstn

***

Sementara itu, di ruangan yang di tunjuk pemuda berprofesi kasir restoran dan penginapan Qian Li Xiang…

“Hari yang membosankan…” Tutur seorang pemuda.

“Selain kasus, tidak ada yang membuatmu betul terhibur…” Suara seorang wanita lembut menimpal.

“Petunjuk-nya sama sekali tidak ada, bagaimana bisa kita memecahkan kasus? Dan yang anehnya adalah permintaan yang ditulis di kertas. “Hanya menulis, tunggulah 3 hari kemudian.”"

“Hanya orang yang tolol saja yang percaya.” Lalu terdengar tawa seorang wanita.

“Hmph… Kenapa harus tiga hari? Dan tiga hari telah berlalu, sekarang sudah hari keempat. Aneh sekali…” Tutur pemuda.

“Ada orang…” tutur seorang wanita segera dengan suara yang lembut sekali.

Lelaki segera mengangguk pelan mengerti.

Ketiga orang yang barusan naik sudah sampai di depan kamar yang ditunjuk. Ketiganya melihat sesama-nya dengan wajah yang tegang. Orang di samping, berwajah bidang yang bermarga Wang segera saja mendorong atau bisa dikatakan mendobraknya dengan keras.
Pintu kayu yang cukup kuat pun terbelah akibat tenaga dalam keras yang keluar dari tangannya.

Seiring pintu dihancurkan, ketiganya dengan siaga menyolong masuk saja ke dalam. Lantas dengan cepat, ketiganya melongo. Dalam ruangan kosong melompong membuat mereka tidak percaya benar pada kasir di bawah tadi. Tetapi ketika melihat jendela yang mengarah ke jalanan terbuka, ketiganya juga segera melihat keluar lewat jendela.
Terlihat dengan sekejap adanya 2 bayangan yang meloncati atap dengan gerakan ringan tubuh hebat.

“Kejar!” Teriak Duan Jing segera.
Kedua temannya segera mengikuti perkataan adik seperguruannya. Dengan cara yang sama dan gaya melompat yang hampir mirip ketiganya mengejar.

Kejar mengejar sepertinya terlihat sangatlah seru sekali.
Pengejaran sudah dilakukan sampai keluar kota dengan cepat ke arah timur.
Dalam waktu yang cukup lama, ketiganya sudah mengejar hebat. Tetapi sepertinya kecepatan lawan di depan bukan kecepatan manusia umum, dan terlihat semakin terpisah-nya mereka bertiga dengan buruan mereka yang terdiri dari 2 orang di depan.

“Sepertinya tiga orang itulah akan mencari masalah….” Tutur Jieji kepada Yunying sambil berpegangan tangan dan berlari hebat. Sesekali mereka melompat dengan tenang saja ketika menjumpai batu-batu yang tinggi.

“Kenapa tidak saja kita berhenti? Dan tanyakan ada perihal apa?” Tanya Yunying dengan wajah yang agak heran.

“Sepertinya ketiga orang di belakang pada awalnya tidak mengenal kita. Tetapi setelah pulang, mereka kembali balik. Mungkin juga ada permohonan kasus, atau ada hubungannya dengan kertas di balik bajuku?” tanya Jieji kepada Yunying dengan heran.

Yunying mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Kita bisa saja lari, karena belum sama sekali kita kerahkan kesemua kemampuan kita. Tetapi lawan yang mengejar tentu masih setidaknya 1 tingkat di bawah kita berdua.”

“Betul, mereka mengejar dengan kecepatan maksimum mereka. Toh, kita tidak terkejar. Ayo, kita berhenti saja.” Tutur Jieji.

Selesai kata-kata Jieji dilepaskan, mereka mendarat dengan mudah dan menoleh ke belakang.
Tak lama kemudiannya, ketiganya juga telah sampai. Mereka mendarat dengan mudah sekali seperti halnya Jieji dan Yunying.

“Siapa anda sekalian?” tanya Jieji melihat ke arah ketiganya secara bergantian.

“Xia Jieji, Pahlawan Selatan-kah disini?” tanya Wang melihat secara serius.

Jieji tersenyum mengangguk pelan.

“Dan tentunya dia adalah Yuan Xufen?” tanya Jia yang berada di sampingnya.

“Yuan Xufen? Bukan dia bukan bermarga Yuan.” Tutur Jieji.

“Hmph…
Wajahnya sama dengan yang dilukisan, jika bukan Yuan Xufen siapa lagi?” tanya Duan Jing menatap lurus dan serius.

“Aku adalah adik perempuannya, namaku Yunying.” jawab Yunying dengan pandangan yang tajam pula.

“Oh yah? Kalian berdua ada maksud apa di Ta-Li?” tanya Jia yang terlihat cukup pintar. Wajahnya tersenyum khas dan penuh pertanyaan.

“Kita hanya jalan-jalan saja di sini. Tidak ada maksud lain?” tutur Jieji.

“Tidak ada maksud lain? Menyelamatkan Meng Yangchu yang kriminal negara kau bilang hanya jalan-jalan?” tanya Wang yang sepertinya agak tidak sabaran.

“Meng Yangchu? Bukankah dia ada di penjara Ta-Li?” tanya Jieji yang agak heran.

“Betul…
Semalam sebelum tengah malam, dia memang benar berada di sana.” jawab Duan Jing dengan wajah kemerah-merahan.

“Dia meloloskan diri? Jadi kalian bertiga mencurigai kita berdua? Bukan begitu?” tanya Jieji sambil tersenyum.

“Bukan mencurigai. Lihatlah ini!” teriak Duan sambil melempar kertas gambaran tadinya ke arah Jieji dengan sikap yang agak marah.

Sepertinya kaisar Ta-li benar bukan seorang pesilat yang gampang diremehkan siapa saja. Dengan uluran tangan membentuk lemparan gulungan sepertinya mengandung tenaga dalam yang kuat.
Bahkan Jieji perlu beranjak 1 langkah ke belakang mencari posisi untuk menangkap gulungan kertas. Dan baru saja ditangkap, sepertinya energi membuyar terasa mengelilingi dan membuyar segera.

Jika pesilat biasa yang berusaha menangkap lukisan, sepertinya telah terpental dan dalam bahaya besar. Tetapi Jieji menangkapnya dengan cukup tenang, dia membuka gulungan lukisan dengan wajah yang segera terkejut.
“Jadi benar ada orang yang melihat kita berdua?”

“Seorang dayang istana. Mereka melihat anda berdua bersama seorang tua yang dikenalinya, sedangkan 3 orang lainnya betul tidak dikenal olehnya sama sekali.” Sahut Duan Jing.

“Wajar sekali kita berdua dicurigai kalau begitu. Semalam tengah malam, kita berdua berada di penginapan saja tidak kemana-kemana. Banyak orang yang bisa membuktikan alibi kita berdua.” Sahut Yunying dengan tersenyum.

“Oh? Maksudmu orang-orang penginapan bisa membantu anda berdua meyakinkan alibi?” tanya Duan Jing mengerutkan dahinya.

“Betul sekali…” jawab Yunying.

Jieji memandang ke lukisan saja, dia tidak menjawab apapun.
Ketika dia benar sedang melamun, tidak dirasakannya hawa kehadiran seseorang. Tepat dari sebelah kanan-nya telah terlihat seseorang sedang berjalan pelan. Hanya Yunying yang tahu bahwa adanya seorang sedang berjalan pelan tetapi ringan sekali. Dia telah memandang ke arah orang itu.

Orang yang datang ini tertawa terbahak-bahak segera. Jieji yang baru saja menyadari adanya orang, segera berpaling. Dilihatnya sekilas kemudian telah membuat dirinya terkejut.
Orang yang datang memiliki tinggi 5 kaki lebih saja, dan bisa dikatakan cukup pendek untuk orang daratan tengah. Mungkin tingginya hanya sekitar tinggi orang Tongyang umumnya. Berpenampakan sangat berkharisma dari wajah, agung dan sangat tenang sekali. Di kepala orang, terhias sebuah kain layaknya seorang sastrawan mulia. Tangannya sedang dikepalkan ke arah belakang punggung. Di wajah terlihat kumis panjang dan jenggot yang pendek. Jieji sangat mengenali orang tersebut.

“Perdana Menteri Cao?” teriaknya dengan wajah seakan tidak percaya.

Orang “pendek” ini kemudian membungkuk hormat. Wajah dan matanya sangat ramah.
Jieji segera membalas hormat orang tersebut.

“Diakah Cao Bin yang namanya sangat termahsyur itu?” tanya Yunying berbisik kepada Jieji.
Jieji hanya memandang sebentar ke mata isterinya dan mengangguk pelan.

Sementara itu, ketiga orang di arah depan Jieji segera membungkuk memberi hormat. Yang hebatnya, ketiganya segera menutur perkataan yang sama.
“Guru….”

Bukan main terkejut Jieji mendapati perkataan ketiga orang, dia melongo sambil memandang ketiganya.

***
Alkisah, Cao Bin adalah menteri yang telah mengabdi kepada 3 Kaisar: Kaisar Zhou akhir, Chai Rong, Kaisar Sung Taizu, Zhao Kuangyin. Dan Sung Taizong, Zhao Kuangyi sekarang. Namanya memang sangatlah terkenal tetapi sifat dan pembawaannya tidaklah seiring tingginya Kemahsyuran nama-nya. Dia bertindak sangatlah rendah hati setiap saat, tidak pernah menonjolkan diri-nya meski dia adalah orang yang sangat pintar. Dunia berani mengatakan bahwa kepintaran Cao Bin sudah tidak ada tandingannya lagi pada zaman itu.

Tahun ke-5 periode Xiande pada masa akhir Dinasti Zhou, Kaisar Shizong (Chai Rong) meminta Cao Bin untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke kerajaan Wuyue. Wuyue mencoba memberinya banyak hadiah pada berbagai kesempatan, tetapi Cao Bin selalu menolak. Saat perjalanan pulang, setelah naik ke kapal, Wuyue tanpa sepengetahuan Cao Bin meninggalkan sejumlah besar emas, perak dan berbagai permata di atas kapal sebagai hadiah untuknya.
Setelah kembali ke istana, Cao Bin menyerahkan seluruh harta tersebut kepada istana. Kaisar sangat tersentuh dengan sikapnya tersebut dan mengembalikan seluruh hadiah kepadanya. Cao Bin tidak ada pilihan kecuali menerima penghargaan kaisar. Setelah menerima hadiah dari kaisar, ia membagikan seluruhnya kepada kerabat dan kawan-kawannya.

Dalam peperangan menyatukan Sung, dia pernah ditugaskan untuk menguasai Shu Akhir dan Tang Selatan. Dan dalam peperangan yang berhasil gemilang, apalagi dalam Shu akhir. Semua menteri dan jenderal yang ikut mengambil kekayaan Kerajaan Shu akhir yang sangat makmur. Kesemuanya pulang membawa emas, cita, giok dan segala kemewahan ke kampung halaman. Tetapi lain halnya dengan Cao Bin seorang, dia pergi membawa pakaian dan buku-bukunya. Dan dia pulang tanpa membawa lebih lagi barang-nya daripada pakaian dan buku-bukunya.

Sung Taizu, Zhao Kuangyin pernah menanyainya suatu saat.
“Dahulu, ketika aku masih Jenderal terbaik di Zhou akhir. Kenapa hanya anda sendiri saja yang tidak pernah sekalipun mengunjungi-ku sementara kesemua menteri dari pangkat atas ke bawah tiada seorangpun yang tidak bertindak demikian seperti hal-nya anda?”

Cao Bin memberi hormat dengan sangat hikmad, lantas dia menjawab.
“Pada saat itu, aku adalah seorang menteri yang sangat dekat dengan Kaisar Zhou dan aku juga sama dekatnya dengan perdana menteri-nya. Saya memusatkan untuk memberi perhatian penuh terhadap tugas dan kewajiban, mana mungkin saat itu aku berani berteman dekat dengan Yang Mulia?”
Karena jawabannya yang sangat jujur, Zhao Kuangyin sangatlah menghormati Menterinya yang satu ini.
Setelah kejadian itu, baik Cao maupun Zhao memiliki hati dan ikatan batin yang sudah terikat satu sama lainnya. Yang terakhir menolong Zhao Kuangyin lolos dari maut beserta Xia Jieji juga-lah Cao Bin.

***

“Budi anda sungguh sedalam lautan. Tidak mungkin aku tidak membalasnya seumur hidupku.” Tutur Jieji tiba-tiba kepada Cao Bin yang sedang menyapa murid-muridnya.
Cao melihat ke arah Jieji. Dia tersenyum.
“Tidak…
Hari itu kalian berdua cukup memiliki kemampuan untuk lari. Lantas mengapa anda menceritakan kembali hal masa lalu itu?”

“Dengan adanya anda, maka masalah menjadi sangat praktis. Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah selamanya.” jawab Jieji tersenyum.

“Sayang-nya Tuan Yuan harus menebus nyawa-nya sendiri. Seumur hidup, inilah hal yang kusesalkan saja.” Jawab Cao Bin sambil memandang langit.

Jieji cukup lama memandang ke depan saja, tatapannya sayu. Dia mengingat kembali dirinya dan kakak angkatnya yang sedang terkepung hebat di tembok kota Kaifeng.

“Lalu bagaimana masalah kita?” tiba-tiba Duan Jing menanyai Jieji.

Jieji telah sadar dari lamunan-nya kembali. Dia melihat ke arah Duan sambil tersenyum hangat.
“Anda ingin memakai kekerasan atau cara damai, aku siap melayani.”

Cao Bin tertawa mendengar tuturan Jieji. Dia menjawab dengan agung.
“Sudah lama sekali, aku mendengar kehebatan tarung Xia Jieji. Tetapi belum pernah sekalipun aku beradu dengannya. Ilmu pemusnah raga kabarnya tiada tandingan, adalah penyesalan seumur hidup bagi seorang pesilat tinggi tidak pernah menjajalinya.”

“Kalau begitu, Mohon maaf Tuan Cao. Anda salah alamat kali ini?” Sahut Jieji sambil tersenyum.

Mata Cao tiba-tiba melotot, dia melihat Jieji dengan heran.

“Jika anda hanya ingin bertarung melawan Ilmu pemusnah raga, maka isteriku rela menjajali kemampuan anda.” Tutur Jieji.

Cao Bin segera menoleh ke arah Yunying. Dilihatnya dengan wajah yang seakan tidak percaya. Seorang wanita cantik tetapi memiliki kemampuan dahsyat. Tanpa perlu waktu yang lama untuk berpikir, dia segera berkata.
“Anda-lah wanita bertopeng misterius itu? Yang dalam 1 malam saja bisa mengacaukan setiap cabang partai Jiu Qi?”

Yunying menatapnya sambil tersenyum. Lantas mengangguk pelan.

“Kalau begitu, bagaimana kita mulai saja?” Tanya Cao melihat ke arah Yunying.
Sementara itu, Yunying sudah bersiaga. Kuda-kuda kedua kakinya terlihat menyamping sebentar. Dia melangkah ke samping dua tindak untuk mencari posisi penyerangan. Cao juga melakukan hal yang hampir sama, dia menatap dengan tatapan tajam setiap gerakan yang paling sederhana sekalipun.

Jieji sudah beranjak dari sana, dia mundur sekitar 30 kaki ke belakang untuk memberi jarak pertarungan. Tetapi ketiga murid Cao Bin sepertinya juga ingin menjajali kemampuan pemuda berjuluk “Pahlawan Selatan” tersebut.

Mereka menatap tajam ke arah Jieji. Sementara itu, Jieji tersenyum saja. Dia sendiri juga membentuk kuda-kuda yang kelihatannya adalah bertahan. Ketiga orang, Duan Jing, Wang Xin, Jia Shan sudah membentuk kuda-kuda menyerang dari awal. Tangan mereka terlihat membentuk jari untuk menyerang. Jari telunjuk disiapkan mereka dekat wajah ketiga-nya.
Jieji menatap satu persatu dengan wajah yang cukup terkejut. Sepertinya lawannya adalah pemakai jurus jari, tetapi yang jelas dia tahu bahwa kemampuan ketiganya tidak pernah terdengar di dunia persilatan dan membuatnya sungguh merasa was-was.

“Xia Jieji menguasai Ilmu jari dewi pemusnah dengan sangat baik. Murid-muridku berhati-hatilah.” tutur Cao Bin dari arah samping memperingatkan.
Ketiga muridnya terdengar menjawab pendek serentak saja mendengar peringatan dari guru-nya.

Jieji segera menyerang ke depan terlebih dahulu untuk membuka suasana pertarungan. Dia tahu benar bahwa ketiga lawan di depannya bukan termasuk lawan yang enteng. Oleh karena itu, dia telah siap merapalkan tapaknya. Tapak segera dihantamkan cepat ke arah Wang Xin yang terlihat agak ke depan. Wang sesaat menunjukkan jarinya ke telapak Jieji yang terbuka lebar.
Suara dentuman tenaga dalam segera terdengar sekali. Wang terlihat di bawah angin segera, dia menyeret kaki ke belakang guna “mengusir” tenaga dalam yang masih terasa hebat menolaknya.

Sementara Wang telah memainkan Jurus pertamanya, Jia Shan dan Duan Jing ikut menyerang serentak. Gerakan awal keduanya adalah sama. Jari Jia Shan segera dimainkan ke arah leher Jieji, sedangkan Duan Jing segera mengincar rusuk kanan Jieji yang terbuka.

Melihat keadaan yang cukup berbahaya, Jieji mengangkat sebelah kaki-nya ke arah luar. Tujuan-nya tiada lain adalah menepis lengan Duan dari samping yang jarinya sedang menuju ke arah rusuknya. Tindakan Jieji berhasil gemilang, Jari Duan yang seharusnya mengarah ke rusuk, langsung menyerang ke tempat kosong.
Ketika Duan sempat terkejut, dia dihantam pada punggungnya oleh kaki Jieji yang belum turun dari udara. Dalam pertarungan 1 jurus, terlihat Duan telah tertolak mundur ke belakang dan mengalami luka dalam namun tidaklah parah sama sekali.

Tetapi bahaya tidak sampai disini saja, sebab Jia sudah menyerang hampir mengenai sasaran. Jari yang memiliki hawa penyerangan sangat kuat sudah menusuk ke arah leher pemuda, tetapi…
Dengan kenekatan, sepertinya pemuda juga melakukan totokan jari ke arah leher lawan-nya.
Sebenarnya, di dalam hati… Jia sudah merasa cukup senang karena meski lawannya sanggup mematahkan jurus kedua saudara seperguruannya, namun hanya miliknya-lah yang akan mencapai sasaran.
Tetapi melihat lawan melakukan gerakan jari menotok ke leher, jelas membuatnya sangat terkejut sesaat. Dengan tanpa tawar menawar, Jia menahan gempuran jari Jieji dengan sebelah tangannya lagi sambil membentuk telapak.

Disini, terlihat hal yang sangat aneh sekali. Sebenarnya dilihat siapapun, semua tahu bahwa Jia sudah berhasil mengenai sasarannya melalui jari tangan kanannya. Tetapi, entah apa yang sedang dilakukan oleh Jieji pada saat “waktu” yang sangat sempit, yang membuat serangan Jia justru tertarik ke belakang.

Jarinya mengenai ke arah kosong seiring dengan mundurnya dirinya. Jia menarik kakinya ke belakang dan mundur beberapa puluh tindak.
Ternyata, serangan jari Jieji sudah mengenai tapak lawan terlebih dahulunya. Sehingga tenaga dalam Jieji lebih dulu bekerja menolak daripada sampainya serangan Jia ke leher pemuda.

“Ini adalah jurus pedang yang dirapalkan ke jari.” sahut Jia sambil tersenyum manis kepada Jieji.

Jieji mengangguk pelan.
“Betul. Jurus tadi adalah salah satu dari ratusan gerakan jurus kedua Ilmu pedang surgawi membelah.”

Ketiga lawannya kontan heran sesaat. Semuanya tahu ada-nya jurus tersebut hanya dalam legenda, tetapi Jieji mempelajari-nya dengan sangat baik.
Jika dilihat sesaat, semua orang berpikir bahwa Jieji “mencari mati”. Dengan menelan bulat-bulat serangan lawan, dia hendak beradu nyawa. Tetapi justru ini-lah keunikan jurus pedang tangan kiri yang tanpa tanding itu. Lawan memiliki lengan yang tentunya berniat bertahan karena serangan dadakan, jadi mau tidak mau lawan yang sebenarnya unggul itu terdorong mundur. Semua gerakan serta pelafalan dari Jurus pedang surgawi membelah sebenarnya adalah trik hebat dalam pertarungan.

Jia tertawa terbahak-bahak melihat jurusnya malah sia-sia. Dia berkata dengan puas.
“Ilmu pedang yang dirapalkan jari anda hebat sekali. Jika tadinya aku tidak bertahan, maka seranganku pasti mengenai sasaran. Dan setidaknya sekarang baik aku dan dirimu tidak bisa berdiri lagi. Ilmu pedang yang memanfaatkan dan memaksakan naluri pesilat untuk bertahan memang luar biasa.”

“Betul…
Jika adalah seorang biasa, malah jurus demikian kelihatannya tidak berlaku.” tutur Jieji sambil tersenyum memegang bibirnya.

Sementara Jieji berbicara, ketiga lawan di depannya saling melihat dan saling menganggukkan kepalanya. Ketiganya terlihat kembali bersiaga, kaki mereka sudah berkuda-kuda menyamping dan ketiganya terlihat sangat seragam merapal jari kanannya kembali. Baru hendak mereka beranjak, keempat pendekar tersebut dihentikan oleh sebuah suara. Langsung, keempat menoleh ke samping.

Sepertinya pertarungan Yunying dan Cao Bin sudah dimulai. Setidaknya sudah belasan jurus mungkin berdua menjalani-nya.
Suara tapak berlaga dan bertahan membuat keempat orang ini menghentikan pertarungan untuk sementara.

Yunying dan Cao Bin sudah bertarung sambil melayang di tebing yang terlihat curam. Keduanya seakan sedang “memanjat” tebing sementara keempat telapak sepertinya saling bertahan maupun menyerang.
Pertarungan yang sangat bagus dan jarang sekali terlihat di dunia persilatan, kecepatan yang sesaat bagaikan kecepatan kilat yang menyambar.

Cao Bin adalah penguasa kungfu telapak, dan entah jurus apa yang sebenarnya sedang diperagakannya. Meski terlihat tidak asing, tetapi perubahan jurusnya mengundang decak kagum juga bagi siapapun yang melihatnya.
Sedangkan Yunying tidak melayani-nya dengan tapak berantai dahulu, dia selalu menggunakan jurus dalam Ilmu memindah semestanya yang terdiri dari 10 tingkatan itu. Dengan berbekal tenaga dalam yang tanpa tanding, sepertinya Ilmu memindah semesta terlihat cukup unggul di atas kemampuan sebenarnya Cao Bin.

“Pertarungan yang luar biasa mematikan!” teriak Duan melihat gerakan kedua orang tersebut.

“Wanita itu sungguh sangat luar biasa. Kemampuannya mungkin beberapa tingkat di atas kita.” tutur Wang ke arah Jia dengan wajah yang serius.
Jia terlihat mengelus jenggotnya, dia mengangguk membenarkan pernyataan saudara seperguruannya.

Sedangkan Jieji melihat kedua petarung itu dengan senyuman manis. Dia sangat yakin bahwa Yunying pasti sanggup mengalahkan Cao Bin dalam adu jurus tersebut.

Di satu kesempatan, kelihatan jurus Cao Bin semakin liar. Medan pertarungan mereka telah berubah, yaitu di samping tebing yang terdiri dari rumput setinggi pinggang. Yunying melayani-nya dengan tetap serius tanpa banyak berpikir. Disini kelihatan bahwa wanita lebih sering bertahan dan memanfaatkan serangan balik.

Sudah ratusan jurus kemudian mereka melakoninya satu sama lain, tetapi tidak kelihatan bahwa kedua manusia ini lelah. Lantas Jieji berpaling ke arah Duan, Jia dan Wang bertiga. Ketiganya segera beradu pandang dengan Jieji.

“Apa kita hanya melihatnya saja? Meski hanya 1 jurus, tetapi tidak tentu jurus lainnya kita bakal kalah.” sahut Wang yang terlihat kurang sabaran.

Jieji tersenyum. Dia merapatkan kedua tapaknya ke dada. Hawa pertarungannya segera muncul dahsyat.
Duan, Wang dan Jia segera saja menarik kaki mereka bersamaan. Ketiganya sangat kompak kelihatannya, dan langsung saja mereka dahulu melakukan penyerangan. Jari dari sebelah tangan mereka semua di tunjukkan ke Jieji. Ketiganya berniat menyerang 3 daerah berbahaya dari tubuh lawannya.
Jia menyerang ke arah leher, terlihat dia menunjukkan serangan ke leher lawan meski masih terpaut puluhan kaki. Duan mengancang ke arah jantung lawan, sedangkan Wang ke arah rusuk kanan lawan.

Seperti ancang-ancang jurus Ilmu jari dewi pemusnah, ketiganya menyerang serentak dan kali ini terlihat serangan mereka tentunya adalah serangannya jarak jauh.
Jieji dengan sabar merapatkan kedua tangannya, sampai ketika hawa jari lawan sudah keluar. Terasa 3 buah “pedang” tak berwujud sedang menyerang-nya.

Dan dengan sebuah teriakan pendek, tanah di sekeliling pemuda retak sebentar. Hawa angin berdesir segera saja mengelilinginya mantap. Serangan ketiga lawan memang sebenarnya adalah pas ke titik mematikan Jieji. Tetapi sebelum benar ketiga “pedang” itu sampai, sepertinya daya tolak dari energi telah memancar sambil bergulung dengan sangat baik sekali.

Hasilnya, hawa jari pedang ketiganya berdesir mengikuti gelombang energi Jieji yang berputar. Dengan berputarnya energi lawan, ternyata Jieji “ikut” gerakan putaran itu selama 1 kali.
Lawan terkejut melihat serangan mereka kesemuanya betul gagal dalam satu kali hentakan tenaga dalam kuat. Lebih lagi kesemuanya terkejut ketika Jieji sudah berputar penuh sekali. Sebab seiring baliknya dirinya ke arah depan, kedua tapak juga sudah di arahkan ke depan.

Hawa bergulung tadinya, beserta energi lawan di balikkan bagaikan naga menggeliat. Disusul oleh teriakan sekali Jieji, hawa energi meluber mengarah ke ketiga dengan waktu sesaat.
Melihat bahaya di depan mata, ketiganya segera beranjak mundur dengan sikap bertahan semampu mereka.
Jieji tidak pernah betul serius mengerahkan energinya, dia hanya mengeluarkan tidak sampai 1/2 kemampuan sesungguhnya. Meski terlihat gelombangnya amat “liar” itu dikarekan kehebatan dari 18 telapak naga mendekam yang disempurnakan-nya tersebut.

Tanah di sekitar mundur-nya mereka sempat terkelupas bagaikan tikus tanah raksasa yang sedang menggali. Terlihat kemudiannya untuk membuyarkan energi Jieji sesaat tadinya cukup memakan tenaga dan waktu bagi ketiganya. Sekarang jarak mereka sudah terpisah ratusan kaki, upaya mereka memang berhasil dengan sangat baik meski ketiganya terlihat bermandi keringat.

“Jurus yang hebat sekali. Belum pernah sekalipun ku dengar adanya jurus sedemikian.” puji Duan Jing dari arah yang jauh sekali.

Jieji membalas memberi hormat. Tetapi sepertinya dia tidak begitu tertarik omong, dia segera memalingkan wajahnya ke arah pertarungan Yunying dan Cao Bin.
Pertarungan kedua-nya seperti telah memasuki tingkat akhir. Keduanya siaga benar sambil mengambil jarak puluhan kaki satu sama lainnya. Sepertinya kedua orang di sini juga akan mengambil 1 kali serangan saja.
Jieji yang melihat kondisi demikian, segera berkata kepada isteri yang sangat di sayanginya itu.

“Jangan terlalu terburu-buru, ingatlah ini bukan pertarungan hidup mati.”

Yunying menoleh sebentar ke arah Jieji, dia tersenyum manis dan mengangguk.
Cukup lama keduanya berpikir akan menyerang terlebih dahulu disini, tetapi menyerang terlebih dahulu dalam jarak sedemikian jauh, memang bukanlah hal yang bagus. Hanya pesilat handal yang sanggup berpikir ke sana, jika jarak penyerangan dekat maka yang menyerang sepertinya bakal lebih unggul. Sedangkan jika jarak penyerangan cukup jauh, justru bagi penyerang malah akan lebih beresiko dari pihak yang bertahan.

Di sini, sepertinya Cao Bin malah lebih menguntungkan. Maka Jieji memperingatkan isterinya dengan baik-baik. Dia tahu bahwa ketiga muridnya menguasai ilmu jari tak berwujud dalam penyerangan jarak jauh tentu gurunya juga memiliki kemampuan yang sama, sedangkan Yunying justru tidak pernah menguasai jurus demikian. Adapun serangan jarak jauh Yunying hanya berdasarkan gerakan tenaga dalamnya saja, jadi untuk menyerang jarak jauh memang terasa sangat jelek.

Yunying bukannya tidak tahu keadaan yang memberatkan dirinya, dia terlihat maju pelan-pelan ke depan. Tetapi Cao Bin justeru sebaliknya, dia mengamati seluruh titik tubuh mematikan lawannya sambil mengancangkan jarinya. Kejar-mengejar ala kucing dan tikus terlihat cukup menegangkan di samping terlihat agak lucu.
Tetapi…

Dengan tiba-tiba sepertinya Cao Bin telah melihat “lubang” pertahanan lawan yang sesaat lemah. Yaitu ketika Yunying sempat melangkah ke depan sambil menyamping. Gerakan mata yang bergeser sedikit yang membuat sudut pandang-nya agak tergeser segera dimanfaatkan oleh Cao Bin.
Cao Bin adalah seorang pesilat yang sangat teliti sekali, jika diubah ke Jieji sekalipun, dia tidak pernah tahu ada kasus sedemikian dalam gerakan menyerang.

Hawa jari yang padat tenaga dalam segera melaju kencang ke arah Yunying sesegera. Yunying memang tahu bahwa langkah-nya yang belum sempat menginjak tanah lantas sudah di”matikan” oleh lawannya. Dengan gerakan menyeret kaki, dia terlihat menarik nafas panjang sekali.
Jurus lawan memang tidak-lah berwujud, lebih kuat 10 kali daripada jurus ketiga muridnya tadi. Jieji yang melihat gerakan serangan demikian, kontan merasa cemas.

Sambil menarik kaki ke belakang, Yunying melingkarkan kedua telapaknya penuh ke depan. Hawa jari lawan terasa berbelok dengan segera, dan gerakan kali ini dari Yunying memang sungguh sangat sempurna. Setelah benar dirinya merasa sudah tidak dalam bahaya, Yunying merapalkan tapaknya maju ke depan. Tetapi, dia segera dihalangi oleh seruan Jieji.

“Berhentilah…”

Dia mengikuti perkataan Jieji dan sambil berjalan pelan, Yunying menuju kembali ke arah Jieji. Jieji menatap ke arah Cao Bin.
“Jurus jari anda betul hebat…”

Cao Bin yang terpaut cukup jauh merapatkan kedua tangannya dengan hormat, dia membungkuk sedikit.
“Ternyata manusia dengan kemampuan no. 1 sejagad justru seorang wanita.”

Yunying mengangguk pelan sambil tersenyum malu mendengar perkataan Cao Bin yang memuji kemampuannya.

“Tidak… Kemampuan anda juga sangatlah mengagumkan. Boleh aku mengetahui, jurus jari anda tadinya bernama apa?” tanya Jieji dengan sopan.
Sambil berjalan ke depan, Cao tersenyum.

“Aku memberi-nya nama Ilmu jari Dewa Selatan.” sahut Cao Bin.

“Kalau begitu, anda-lah pencipta jurus yang sedemikian hebat ini?” tanya Jieji terkejut sebentar.

“Tidak juga…
Dahulu, aku pernah melatih 3 landasan dari jurus Jing-gang. Aku mendapat ide dari jurus jari Jing-gang yang sangat terkenal itu.” sahut Cao Bin merendah.

Jieji mengangguk, dan terlihat menghela nafas sekali.

“Lalu, jurus tuan yang demikian hebat tadinya sempat kulihat sebentar. Anda juga menguasai tenaga dalam Jing-gang dengan sangat baik.” tutur Cao Bin dengan wajah menyelidik.

“Betul…
Aku secara tidak sengaja mendapatkan Ilmu tenaga dalam Jing-gang di Mongolia kuno.” jawab Jieji sambil tersenyum.

“Jadi legenda itu benar ada-nya…” terlihat Cao berkata pendek sambil menghela nafas. Kemudian, dia melirik kembali ke arah Jieji. Dia kemudian bertanya kepadanya.
“Lantas jurus telapak yang sanggup dengan mudahnya mengeliminasi jurus jari ketiga muridku? 18 telapak naga mendekam milik tetua Pei? Eh…
Sepertinya tidak mirip, terlihat jauh lebih bertenaga dan berbahaya sekali.”

“Tidak… Itu adalah jurus 18 telapak penakluk naga..” sahut Yunying sambil tersenyum ke arah Jieji. Senyuman khas yang terlihat rada mengejek.

“18 telapak penakluk naga? 18 telapak penakluk naga?
Sungguh sebuah nama yang sangat bagus sekali.” sahut Cao Bin dengan wajah yang cerah sekali.

“Nama ini adalah pemberian isteriku. Maafkan dirinya yang suka menggoda dan bermain-main. Sebenarnya Naga di sini yang kumaksud adalah “Ilmu pemusnah raga”.” Jawab Jieji sambil merendah.

“Betul…
Sepertinya Ilmu pemusnah raga betul bisa ditaklukkan oleh jurus-mu tadi. Aku meneliti cukup lama bersama dengan kakak seperguruanku. Sepertinya memang benar sekali bahwa tentu ada jurus yang sanggup menaklukkan-nya.” sahut Cao Bin sambil terlihat berpikir.

“Kakak seperguruan dari Tuan Cao? Boleh kutahu siapa?” tanya Jieji yang terlihat cukup tertarik dengan segera.

Cao tersenyum kepada Jieji. Dia tidak menyahutinya.
Saat tersebut, terdengar derap kaki kuda yang mendatangi medan yang menjadi ajang pertarung hebat sesaat itu. Lantas kesemuanya menoleh saja.
Dari arah padang rumput yang luas tersebut kemudian sudah terlihat 3 orang berkuda dan sebuah kuda yang sengaja di tarik dari arah belakang ketiganya. Kesemuanya memakai seragam kerajaan dengan gagah terlihat memacukan kudanya cepat.

Cao Bin sudah beranjak dari tempatnya cukup cepat. Dia tidak ingin para jenderal tersebut memacukan kudanya sampai ke depannya. Lantas tidak lama, ketiga orang jenderal telah sampai. Meski jarak cukup jauh, Jieji dan Yunying mendengar dengan baik sekali apa perkataan ketiga orang jenderal di sini.
Setelah sapa menyapa ala Jenderal dengan Perdana Menteri, yang satu-nya yang terlihat berada di tengah mengatakan.

“Perdana Menteri…
Sekarang Jin sudah berhasil berserikat dengan kita. Mereka berjanji akan menyerang Liao dari dalam, sedangkan kita bisa menyerang mereka dari luar.”

“Baiklah… Aku akan kembali menemui Yang Mulia.” sahut Cao Bin dengan pendek saja.
Para Jenderal sudah menyiapkan kuda “kosong” yang sengaja diberikan untuk Cao Bin. Cao memberi hormat sekali saja kepada Jieji dan Yunying. Dia tidak sempat berkata apapun kemudiannya. Pemberian hormat Cao memang betul di balas baik oleh Jieji dan Yunying. Sedangkan ketiga muridnya terlihat berlutut menyembah sekali untuk memberi tanda pengantaran bagi guru mereka.

“Apa ibukota terjadi sesuatu?” tanya Yunying kepada Jieji.

“Tidak…
Sepertinya Zhao Kuangyi berserikat dengan bangsa Jin untuk menyingkirkan Liao.” tutur Jieji sambil menghela nafas.

“Kenapa?” tanya Yunying tiba-tiba.

“Bangsa Jin dan bangsa Liao sebenarnya adalah bangsa nomaden dari utara. Sifat kedua bangsa itu istimewa dan sama saja. Jika Jin berhasil mengusir Liao, tentu imbalannya kadang justru lebih mahal.” tutur Jieji sambil tersenyum tawar.

“Betul juga…
Jika dengan usaha kita bangsa Sung, mengusir Liao. Tentu yang menikmati usaha kita adalah bangsa kita sendiri. Tetapi jika yang mengusir Liao adalah Jin, maka kelangsungan negeri Sung justeru terasa berbahaya.” jawab Yunying yang terlihat berpikir.

“Kamu benar sekali…” jawab Jieji pendek.

Duan Jing selaku Kaisar dari Ta-Li segera beranjak mendekati Jieji dan Yunying. Lantas dengan sopan dia berkata.
“Memang benar sepertinya anda berdua bukanlah pelaku penerobos penjara. Aku sangat yakin dengan itu! Tetapi…”

Jieji memandangnya sambil tersenyum, dia lantas menjawab.
“Kasus bobolnya penjara Ta-Li sudah meluas sepertinya, mau tidak mau aku dan isteriku yang menjadi tersangka sementara harus di tahan. Begitu maksud Yang Mulia bukan?”

Duan Jing terkejut mendengar kata-kata Jieji. Sepertinya Jieji memiliki lampu yang mampu menerangi hati-nya dan membaca huruf demi huruf dalam hatinya dengan sangat baik sekali.

“Bagaimana anda tahu bahwa aku adalah Kaisar Ta-Li?” tanya Duan kemudian dengan agak heran.

Jieji tertawa lebar mendengar pertanyaan Duan Jing tersebut. Dia lantas berkata.
“Ada 5 hal dan sederhana saja.
Yang pertama. Jika anda bukan Kaisar, maka kemungkinannya adalah seorang pejabat tinggi istana.

Yang kedua. Aku mendengar bahwa Kaisar Ta-li berumur sekitar 30 tahunan dengan wajah yang bidang dan agung. Ternyata ini benar sekali.

Yang ketiga. Kedua teman anda ini, menghabiskan cukup banyak emas di restoran terkenal di Ta-Li. Bayaran untuk minum mereka berdua memang di luar jangkauan orang biasa. Kutebak bahwa keduanya adalah pejabat tinggi kerajaan.

Yang Keempat. Giok dan rantai yang terkalung di leher Yang Mulia, sepertinya hanya keluarga kerajaan yang sanggup memilikinya. Bukan begitu?

Kelima, anda mengakuinya sendiri baru saja bukan?”

Duan Jing melihat Jieji seakan tidak percaya beberapa saat. Lantas dia tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan meriah.
“Orang mengatakan bahwa dalam kemampuan berpikir, Xia Jieji memang no. 1 selangit.”

Jieji menerima pujian tersebut sambil menghormat dalam.

“Lantas apa tujuan anda berdua datang kemari? Sungguh aneh kalau dipikir waktu kejadiannya?” tanya Kaisar Ta-li kepada Jieji.

“Kebetulan, kita baru saja dari Persia menuju Yun-nan melalui India dengan kapal laut. Sedangkan disini, tujuanku memang selain transit memang ada hal lain tetapi tiada hubungannya dengan Meng Yangchu.” jawab Jieji dengan tenang.

“Baik…
Aku mempercayai kalian berdua. Tetapi…” sahut Yang Mulia Kaisar Ta-li tersebut.

“Baiklah…” tutur Jieji yang sepertinya bisa mengerti dengan mudah isi hati Kaisar Ta-Li ini. Dia berbalik ke arah Yunying.

Tetapi Yunying sepertinya tidak puas. Dia segera berkata kepada suaminya.
“Mereka bukan tandingan kita berdua. Untuk apa harus mengikuti mereka? Dan kamu juga sudah tahu bahwa siapa dalang-nya bukan? Partai Jiu Qi lagi… Partai Jiu Qi….”
Terlihat Yunying memang sedang kesal, dia merasa bahwa yang menyamar mereka tentu adalah orang-orang Partai Jiu Qi. Namun, Jieji segera mendiamkannya. Dia menarik tangannya lembut untuk berjalan ke depan sambil tersenyum manis kepadanya.

Kurungan sementara Istana Ta-Li…

“Kenapa kamu dengan mudah mengikutinya ke tempat demikian?” tanya Yunying segera ketika sipir penjara keluar.

“Kita keluarpun semudah kita masuk. Untuk apa dikhawatirkan?” tutur Jieji dengan tersenyum.
“Ayo.. Sini… Duduklah…” tutur Jieji sambil menunjuk ke jerami.

Tetapi Yunying sepertinya masih marah, dia tidak menyahuti Jieji. Kembali Jieji berkata.
“Aku tahu siapa dalang-nya. Meng memang sudah keluar dan bebas, tetapi lebih bagus kita di dalam karena lebih banyak informasi yang bisa kita dapatkan di sini daripada diluar.”

Yunying tertarik mendengar perkataan Jieji. Dia segera mendekat, wajahnya yang tadi merah segera berubah menjadi agak penasaran.
“Bagaimana mungkin?”

“Ha Ha…
Betul tidak mungkin. Tetapi dalam kasus yang kuterima itu, lebih bagus kita di dalam daripada di luar. Perkembangan dunia luar semakin membingungkan, di dalam setidaknya hanya informasi penting saja yang kita terima. Dengan begitu, otak akan lebih jernih…”

Yunying mengangguk saja sambil tersenyum manis.
“Seharusnya pencuri ulung juga ikut dengan kita di sini…”

Keduanya duduk berdampingan sambil menikmati malam romantis meski di kurungan alias penjara.

Cukup lama juga hingga sepertinya terdengar sebuah langkah pelan pada kurungan pelaku pidana di Istana Ta-Li. Langkah yang terasa kencang, menyapu udara secara pelan segera dirasakan 2 orang yang tadinya duduk berdekatan.
Keduanya dengan spontan berdiri meski tadinya telah tertidur cukup pulas. Lantas pemuda segera berjalan pelan, senyum di bibirnya terlihat menungging.

Gerakan kaki orang yang bakal sampai tidak lama itu sudah diketahui baik oleh Jieji maupun Yunying. Gerakan ringan tubuh tidak dangkal dari seorang yang jago mengendap-endap. Siapa lagi kalau orang itu adalah pencuri ulung yang sangat terkenal licin itu.

“Kau datang juga akhirnya…” terdengar Jieji tertawa cukup pelan sekali ketika melihat ke depan meski terhalang terali besi yang cukup kuat.

Benar adalah Lie Hui orang tersebut, dia memandang Jieji sambil tersenyum.
“Aku akan menolong kalian berdua keluar.”

Jieji segera menggelengkan kepalanya. Sambil tersenyum kembali, dia menyahuti pencuri ulung.
“Kita berdua rela dikurung disini. Dan sepertinya kedatanganmu membawa sebuah informasi. Eh, tidak.. Mungkin beberapa informasi. Mari, silahkan masuk…”
Dengan gerakan santai, terdengar Jieji menarik nafas sekali dan kedua tangannya telah digenggamkan di terali besi yang tebal. Dan sekali tarikan, terali besi satu sisi itu akhirnya dipindahkan Jieji ke samping tembok. Berat terali besi mungkin sudah ratusan kati, tetapi dengan mudah pemuda telah memindahkannya.

Lie Hui tidak terlalu heran lagi melihat hal semacam demikian, apalagi dia tahu pemuda di depannya adalah termasuk salah seorang pesilat no. 1 sejagad. Lantas sambil tertawa aneh, dia melangkah ke dalam.
Dan Jieji segera mengembalikan terali besi kembali ke tempatnya semula.

“Betul… Aku membawa beberapa informasi yang kelihatannya sangatlah berharga untukmu.” jawab Lie Hui ke arah Jieji dengan serius setelah beberapa lama diam.

” “Tunggulah tiga hari…” Sebuah pesan yang cukup aneh, dan sampai hari keempat ini belum kita pecahkan.” tutur Yunying.

“Bukan.. Bukan..
“Teng Shan Thien Hou” / Tunggulah tiga hari kemudian!” sahut Jieji yang kelihatan serius menatap isterinya.

“Bukannnya sama saja?” Yunying segera kelihatan tidak senang akan kata-kata Jieji.

“Tidak…
Ini bukan menyuruh kita menunggu tiga hari. Tetapi sepertinya ini adalah sebuah petunjuk aneh.” jawab pemuda.

“Sepertinya begitu…” Sambung Lie Hui. Lantas dia kembali berkata.
“Mengenai siapa penolong Meng Yangchu dari penjara, sepertinya sudah kamu ketahui orangnya. Lantas apa benar ada hubungan Meng yang lolos dari penjara adalah 3 hari?”

“Tidak…
Sepertinya bukan begitu. Kata-kata tunggu tiga hari kemudian, bisa saja banyak sekali kemungkinan-nya. Mungkin Meng yang lolos dari penjara pada hari ketiga adalah kebetulan saja.”Jawab Yunying yang ikut berpikir masalah yang benar kelihatan rumit ini.

Jieji hanya diam, dia memejamkan matanya beberapa lama. Dia mendengar setiap tuturan kedua wanita ini dengan mata tertutup yang sangat serius sekali.

“Meng Yang Chu, Teng Shan Thien Hou…. Benar sebuah hal yang membingungkan. Apa benar keduanya ada hubungannya? Pusing memikirkannya…” Yunying terakhir menggumam dengan wajah yang penuh gerutu-an.

Tetapi mendengar kata-kata Yunying, sepertinya ada orang yang tersentak kaget.
Pemuda-lah yang tiba-tiba membuka matanya terkejut.
“Kau coba ulangi lagi kata-katamu!”

“Meng Yang Chu, Teng Shan Thien Hou…” Yunying mengulangnya bahkan sampai ke-3 kali.

Jieji terlihat serius, sambil berdiri dan menatap tanah dia berkata-kata secara pelan.
“”Meng Yang Chu Shien”/ Mimpi Matahari muncul”
[ Seharusnya kata-kata Chu biasanya diikuti dengan "Shien" yaitu Chu Shien yang berarti muncul keluar, dalam kata matahari (Yang) biasanya diartikan sebagai matahari terbit.
Teng Shan Thien Hou / Tunggulah tiga hari kemudian...
Digabung dan diurutkan secara terbalik bisa menjadi "Hou Shien, Thien Chu, Shan Yang, Teng Meng..."

Ketika Jieji selesai bergumam, alangkah terkejutnya baik Yunying maupun Lie Hui. Mendengar dia mengurutkan kata per-kata yang sepertinya tidak berarti banyak. Namun, mereka terkejut karena pemikiran Jieji yang bisa menjadi berbalik begitu.
Kata Hou Shien = Belakangan muncul; Thien Chu = Langit keluar; Shan Yang = Tiga Matahari; Teng Meng = Menanti Mimpi.

"Tetapi kata-kata barusan sepertinya malah makin membingungkan." sahut Yunying.

"Betul...
Memang sepertinya mempunyai arti tersendiri, tetapi malah makin rumit jika dibalikkan." jawab Lie Hui.

Jieji menghela nafas panjang sekali. Dia menatap langit sambil berkecewa.
"Salahku...
Terlalu yakin..." Jieji menyahut sesuatu sambil tersenyum hambar.

"Jadi kamu sudah tahu maksudnya?" tanya Yunying dengan terkejut sekali.

Jieji menggelengkan kepalanya. Dia tidak menjawab. Tetapi dia melihat ke arah Lie Hui, sambil menanyainya.
"Apa informasi yang kamu dapatkan sehingga tengah malam seperti demikian baru datang?"

Lie Hui tersenyum sebentar. Lantas dia berkata.
"Telah 4 hari aku mencari informasi di Ta-Li. Sepertinya cukup banyak hal juga yang telah kuketahui. Aku tahu ada beberapa hal yang bisa membuatmu cukup terkejut jika mendengarnya."

Jieji mengangguk perlahan mendengar perkataan Lie Hui. Lantas Lie Hui kembali bercerita.

"Banyak penduduk yang cukup tua mengetahui bahwa Duan Jing atau Kaisar Ta-Li sekarang bukanlah seorang kaisar yang asli. Apakah kamu mengetahuinya?" tanya Lie Hui.

Jieji terkejut sebentar, begitupula Yunying. Mereka baru saja mengenal Duan Jing dari pertarungan tadi sore. Sekarang mendengar perkataan Lie Hui, keduanya bertanya-tanya kepadanya.
Lie Hui sambil tersenyum, melanjutkan ceritanya.
"Duan Jing adalah keponakan dari Kaisar Ta-Li terdahulu, Duan Siping. Duan Siping mempunyai seorang putera saja. Putra satu-satunya ini kudengar adalah anak pungut sebab Kaisar Duan Siping tidak mempunyai seorang anak laki-laki.
Putranya sangat menyukai hal yang berbau misteri, seorang jago silat hebat. Tetapi tidak pernah mau mengurus pemerintahan, kerjanya hanya keluar jalan-jalan saja dan tidak pernah peduli akan urusan pemerintahan sama sekalipun. Beberapa orang yang tinggal cukup lama di Ta-Li mengatakan bahwa kematian Duan Siping adalah akibat ulah puteranya sendiri. Duan Siping meninggal karena kecewa akan putranya yang satu ini...."

"Sebentar...
Ada yang tahu siapa nama-nya?" tanya Jieji spontan.

Lie Hui menggelengkan kepalanya. Sedangkan Yunying mulai mengejek suaminya ini.
"Sepertinya putera mahkota Ta-Li terdahulu sangat mirip seseorang."

Jieji memandangnya sesaat. Kemudian dia menghela nafas.
Yunying terkejut melihat tingkah Jieji. Dia tidak menyangka bahwa ejekannya benar tepat di hati pemuda. Apalagi kata-kata terakhir dari Lie Hui tadinya yang mengatakan bahwa Duan Siping, sang kaisar meninggal kecewa karena puteranya. Dengan begitu, jelas bahwa sebenarnya Yunying sangat tidak enak hati, sebab tanpa sengaja sebenarnya Hikatsuka Oda dan isterinya juga tewas akibat puteranya sendiri.
Sebenarnya Yunying mengejek putera mahkota tersebut karena dirasa memiliki sifat yang tiada jauh berbeda dengan Jieji, apalagi dia menyukai misteri kehidupan serta silat yang tinggi.

Tetapi kesalahpahaman sebentar seperti demikian tentu tidaklah berakibat panjang. Yunying memang menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat cemberut sukar dilukiskan. Tetapi dengan segera Jieji berkata.
"Memang orang itu mirip denganku. Tetapi kata-katamu memang benar beralasan, aku tidak menyalahkanmu..."

Yunying ingin menyahut, tetapi Jieji segera tersenyum pelan kepadanya. Dia segera memalingkan wajahnya ke Lie Hui.
Lie segera melanjutkan apa yang harus diceritakannya.
"Beberapa tahun setelahnya, sepertinya Ta-Li semakin suram. Duan Siping meninggal dan kerajaan Ta-Li tidaklah diurus siapapun. Korupsi mulai meraja-rela, kejahatan semakin tinggi hingga...."

"Munculnya keponakan Duan Siping, Duan Jing yang mengontrol pemerintahan.." sahut Jieji.

"Sebahagian betul..." jawab Lie Hui sambil tersenyum. Lantas dia melanjutkan.
"Putera mahkota sempat pulang, dia menyerahkan kuasanya kepada Duan Jing secara penuh. Lantas di malam pertama dia kembali, saat itu juga dia telah menghilang hingga sekarang. Tidak pernah lagi ditemukan jejaknya sampai kini. Ini sudah terjadi hampir 10 tahun yang lalu."

"Dengan begitu, putera mahkota kemungkinan besar masih hidup. Umurnya mungkin sekarang sekitar 40-an. Lalu kenapa kamu menceritakannya?" tanya Jieji yang terlihat heran.

Lie Hui tertawa sebentar, kemudian dia melanjutkan.
"Putra mahkota Ta-Li sangat tinggi silatnya. Meski tidak ada orang yang menyatakan seberapa hebatnya ia. Tetapi dia menguasai Ilmu jari tanpa wujud yang sangat hebat."

Jieji terkejut dan segera melihat ke arah Yunying.
"Jangan-jangan yang menyerang kita di kuil Zhu fu adalah putera mahkota Ta-Li?"

"Kalau itu, mungkin masih susah ditebak. Tetapi, apa kamu tahu bahwa ketika kita bertiga menyamar sebagai kakek dan nenek? Orang yang menyerang kita sebenarnya adalah seorang wanita?" tanya Lie Hui kepada Jieji.

"Seorang wanita? Bagaimana mungkin?" tanya Yunying yang heran.

"Aku sudah menebaknya dari awal. Postur tubuhnya kecil, dan dari gerakannya yang terlihat sebentar hampir bisa kupastikan adalah seorang wanita? Lantas apa kamu mengenal wanita itu?" tanya Jieji.

Lie Hui mengangguk pelan.
"Wanita itu tiada lain adalah seorang wanita yang cukup berpengaruh di kerajaan Ta-Li ini."

"Dengan begitu, sudah pasti adalah seorang putri Duan Siping." Jieji menjawabnya.

Lie Hui tersenyum manis. Lantas dia melanjutkan kembali.
"Sejak berada di Chengdu, aku pernah mendengar sastrawan memuji kecantikan 3 bidadari di dunia. Yang pertama adalah orang yang berdiri di sini bersama kita...."

Yunying terlihat malu mendengar kata-kata Lie Hui. Tetapi dia tersenyum segera.
"Jika kak Xufen masih hidup, dia tentu masuk ke dalamnya bukan?"

Lie Hui tersenyum mendengar perkataan polos Yunying.
"Yang kedua, tentu puteri Koguryo, Chonchu yang terkenal itu. Dan yang ketiga, adalah puteri Nan An dari Ta-Li."

"Puteri Nan-An dari Ta-Li? Aku pernah mendengarnya. Tetapi tidak pernah kuketahui bahwa dia seorang ahli silat." sahut Jieji.

Lie Hui mengangguk. Dengan wajah serius sekali kemudian dia melanjutkan.
"Betul...
Jarang sekali ada informasi seperti demikian. Tetapi informasi yang paling sulit adalah hubungan antara putera mahkota Tali terdahulu dengan puteri Nan An tersebut. Ada kabar burung menyebutkan bahwa putera mahkota-lah orang yang mengajari silat kepada puteri Nan-an."

Jieji terkejut mendengar perkataan Lie Hui.
"Jika saja yang mencegat kita betul adalah puteri Nan-an. Lantas seberapa hebatnya putera mahkota Ta-Li itu?"

Yunying yang mendengar kata-kata Jieji yang beralasan juga terkejut. Sesaat, dia pandang ke luka gores di punggung tangannya yang sudah halus sekali beberapa saat. Hawa jari pedang yang sangat hebat menyerangnya saat itu. Dia memang berhasil membelokkan kekuatan sakti tiada berwujud itu, tetapi jika saja lawannya menyerang secara cepat berturut-turut, maka nyawa sendiri betul jadi taruhannya.

"Nah, sekarang akan kuceritakan hubungan Meng Yangchu dengan putera mahkota Ta-Li itu." tutur Lie Hui sambil tersenyum.
"Meng Yangchu memang sangat menyukai ilmu silat. Dia pernah berteman baik dengan putera mahkota Ta-Li. Tetapi dengan alasan yang tidak begitu jelas, sepertinya Meng Yangchu tiba-tiba bermusuhan dengannya. Tiada yang tahu apa yang terjadi, tetapi Meng sendiri menyatakan bahwa ada sesuatu benda miliknya yang telah dicuri oleh putera mahkota Tali. Gosip mengenai hal ini, tidak susah di dengar dari pihak awam di kota ini...."

"Buku kitab tingkat 9 dari Tapak buddha Rulai. Mungkin itu maksudnya." sahut Jieji.

"Tetapi...
Tidak tampak bahwa putera mahkota sangat menginginkannya bukan? Jika tidak, tidaklah mungkin dia menabur racun pemusnah raga di buku." sahut Yunying.

Jieji menampiknya.
"Aku rasa, yang menabur racun bukanlah putera mahkota...."

Lie Hui tersenyum.
"Betul...
Batas Kuil Zhufu sepertinya adalah batas yang dibuat oleh Meng Yangchu. Dia menginginkan putera mahkota yang mengambil kitab itu. Dan membuatnya teracun tewas seketika. Begitu maksudmu?"

Jieji tersenyum penuh arti.
"Putra mahkota itu, siapapun dia. Adalah orang yang baik hati...."

"Jadi, dia menghalangi kita untuk masuk saat itu karena jika kita mengambil buku maka kita akan tewas? Tetapi anehnya kenapa dia tidak melenyapkannya saja?" tanya Yunying.

"Melenyapkan?
Bagaimana jika buku itu adalah ditulis oleh seseorang yang dihormatinya sangat?" tanya Jieji.

Yunying dan Lie Hui mengasah otak untuk berpikir. Sesaat, Lie duluan terkejut. Wajahnya terlihat terang.
"Kamu juga tidak pernah ingin melenyapkannya bukan? Jadi dari awal kamu sudah tahu bahwa putra mahkota dan puteri NanAn-lah kedua orang yang serius menjaga peninggalan seseorang yang sangat berharga?"

"Betul... Tetapi, tentunya....
Aku tidak pernah tahu siapa yang menjaganya.
Putra mahkota maupun puteri NanAn tidak pernah tahu hal sedemikian saat kita bertiga hampir sampai di kuil Zhufu. Melihat ada 3 orang tua reyot berkungfu tinggi ingin masuk ke Kuil Zhu Fu, maka mereka berupaya menghalangi. Jika kedua orang itu tahu bahwa kita bertiga adalah orang yang menyamar kakek dan nenek, maka kemungkinan besar mereka tidak menghalangi." sahut Jieji.

"Betul...
Rupanya begitu..." tutur Lie Hui sambil tertawa.

Yunying menanyai Jieji setelah suasana agak reda.
"Apa maksud dari 8 huruf yang kamu baca itu?"

Jieji melihat isterinya sambil tersenyum.
"Tunggulah beberapa lama lagi, aku akan menceritakannya..."

Yunying dan Lie Hui agak penasaran mendengar perkataan Jieji terakhir ini, tetapi keduanya tidak berani menanyainya.

[ Sebenarnya pesan aneh yang tadi diceritakan mereka semua. "Meng Yang Chu Shien, Teng Shan Thien Hou" dimaksudkan bahwa Meng Yangchu ini bukanlah orang aslinya, melainkan orang yang menyamar sebagai dia. Seperti yang dikatakan oleh Jieji secara terbalik tadinya :
"Hou Shien = Belakangan muncul; Thien Chu = Langit keluar; Shan Yang = Tiga Matahari; Teng Meng = Menanti Mimpi". Jika dari kalimat di atas dikeluarkan nama Meng Yang Chu, maka jadinya menjadi "Hou, Shien, Thien, Shan, Teng / Belakangan, muncul, langit, tiga, menanti." Tetapi dari kalimat di atas jelas sekali bagi Jieji bahwa kata "Hou" bisa dibaca sebagai "Kera", "Shien" selain kata muncul juga bisa diartikan "Dewa". Kata "Thien" tidak diubah yang di artikan sebagai Langit. "Shan" selain kata Tiga, juga bisa diartikan sebagai Gunung. Dan Teng yang artinya menanti. Jika diurutkan semuanya maka menjadi "Hou Shien Thien Shan Teng / "Kera Dewa Langit Gunung Menanti".

Ada seseorang di lubuk hati Jieji yang diketahui benar bahwa orang ini dijuluki sebagai "Kera Dewa Langit Gunung Teng".
Maka daripada itu, Jieji cukup menyesal tidak memperhatikan kasus Meng Yangchu lebih serius. Sepertinya memang kasus Meng Yangchu bukanlah kasus sembarang gampang saja.

Tetapi, ada sesuatu di sini yang ada kaitan dengan seluruh puisi-nya Sang Puisi Dewa. Penulis informasi serta kode rumit ini tentu tujuannya bukan untuk membongkar identitas Meng Yang Chu saja. Hal inilah yang terakhir membuat Jieji sangat menyesal seumur hidupnya ketika sudah mengetahuinya.

Perhatikan kembali kata-kata "Meng Yang Chu Shien, Teng Shan Thien Hou". Sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana dari pesan tersebut. Pembawa pesan memberitahu Jieji dengan benar bahwa sebenarnya hal yang paling utama tidak terletak pada Meng Yang Chu.

Dengan mengangkat kembali kata "Meng, Chu, Teng, Thien" maka yang tertinggal hanyalah "Yang, Shien, Shan, Hou". Jika dianalogikan dan disusun perhuruf maka bisa diartikan 4 hari kemudian "Yang" pergi ke "alam mimpi".
[ 4 hari lagi karena Hou Thien artinya Besok, dan Shan Teng = penantian 3 hari. Tidak perlu lagi dijelaskan mengenai alam mimpi, tetapi sayangnya Jieji tidak pernah menyadarinya ]

***

Di persimpangan daerah Sizhuan, dekat dengan kota Zitong…
Tepat di sebuah perbukitan selatan, terlihat dua orang pemuda sedang berjaga satu sama lainnya. Sepertinya daerah ini sudah menjadi daerah pembantaian secara besar-besaran. Mayat cukup banyak bergelimpangan, jumlahnya mungkin hampir mencapai 100 orang jika dilihat. Langit yang mendung ketika itu sudah malam, tetapi suara pertarungan sengit terdengar luar biasa-nya. Sudah lebih dari beberapa jam pertarungan berlangsung dengan sangat gencarnya. Dua orang pemuda melawan musuh yang jumlahnya cukup banyak, kemampuan mereka berdua memang sudah tertinggi di jagad sekarang. Meski keduanya mengalami keletihan sangat, namun semangat mereka tetap masih berkobar dengan hebatnya.

“Maju serentak!” teriak seseorang yang masih duduk di atas kudanya. Wajahnya sengaja terlihat ditutupi topeng aneh dan bercadar. Di samping orang ini, terlihat seorang pemuda berpakaian serba putih. Di tangannya terpegang kipas, dan dengan tenang dia mengawas tajam ke arah dua orang yang diserang tersebut.

“Kita harus turun tangan. Anak buah seperti mereka kurang berguna menghadapi 2 orang ini.” sahut pemakai topeng kepada pemuda berpakaian serba putih.

“Tunggu dulu…
Jumlah kita masih banyak sekali. Semua-nya rata-rata menguasai tapak buddha rulai hingga tingkat ke enam. Meski harus dikorbankan, sangat pantas sekali… Karena kita mendapat ikan yang sangat besar di sini…” jawab pemuda berpakaian serba putih dengan dingin.

Orang yang duduk di atas kuda tidak menjawab apa-apa, melainkan dia hanya melihat saja ke depan. Pertarungan yang tidak adil tersebut sudah berlangsung selama 7 jam sebenarnya. Ketika kedua pemuda yang berkuda melewati daerah tersebut, mereka telah disergap hebat oleh beberapa pesilat yang tangguh. Kemudian makin lama, jumlah mereka semakin banyak dan bertambah. Hingga kedatangan kedua orang aneh tersebut, waktu sudah malam sekali.

Tetapi dasarnya, orang yang dikeroyok hanyalah 2 orang. Meski setangguh apapun, sepertinya keadaan sulit sudah menanti dengan sangat serius. Pengeroyok makin gencar dan girang menyaksikan lawannya sudah mulai terdesak.
“Pendekar Yuan.. Sebaiknya kamu pergi dahulu. Baliklah ke Yun-nan secepatnya…”
Sahut seorang pemuda yang berkumis serta jenggot tipis di suatu kesempatan. Dia tiada lain adalah Zhao Kuangyin.

“Tidak…
Anda saja yang pergi. Aku masih sanggup menahan mereka kesemua.” jawab pemuda berbadan kokoh dan berwajah agung. Dia adalah ketua Kaibang, Yuan Jielung.

Keduanya bermandi keringat dengan hebat. Nafas mereka terdengar sudah ngengosan.

“Jumlah mereka masih cukup banyak. Jika terus bertambah, niscaya kita berdua akan tewas disini. Anda pergi dahulu pendekar Yuan, kabarilah adik keduaku. Minta dia berhati-hati sangat.” Zhao kuangyin hanya bisa mengatakan sampai disini, sebab 5 orang dari 4 arah serangan sudah datang untuk menyergapnya kembali.

Keduanya bertarung sangat serius, meski konsentrasi kadang terpecah. Tetapi keduanya mempunyai prinsip yang sama, yaitu berjuang hingga titik darah penghabisan.

“Sepertinya aku duluanlah yang turun tangan…” sahut seorang yang bercadar di samping pemuda berpakaian putih. Dia kelihatan tidak begitu sabar lagi akan menyerang. Tanpa menghiraukan jawaban dari temannya, segera dia melompat pesat untuk menyerang.
Kecepatan lompatan orang ini sungguh sangatlah dahsyat. Hanya beberapa orang saja yang memiliki ilmu ringan tubuh sehebat demikian di jagad sebenarnya.
Dia turun bagaikan kapas, 20 kaki di depan Zhao maupun Yuan. Seiring turunnya orang, lantas dia membuka topeng aneh serta cadar yang menghiasi mukanya.

Zhao dan Yuan yang sepertinya mendapat waktu istirahat sejenak, kemudian terkejut berbareng melihat orang di depan mereka berdua. Mereka berdua tahu bahwa si topeng lah orang yang memerintah mereka kesemuanya. Namun, mengenai wajahnya tentu membuat keduanya terkejut dan terlihat saling melihat satu sama lainnya.

“Ternyata raja Yelu dari Liao berada di sini.” tutur Zhao sambil tersenyum.

Orang ini tiada lain benar adalah Yelu Xian, si singa dari utara. Dia tidak begitu berubah penampilannya sejak terlihat di tembok kota Beiping beberapa tahun lalu. Tetapi dari sinar matanya, kedua tahu bahwa lawan di depan tidaklah gampang. Di tambah seorang pemuda memakai kipas yang cukup dikenali mereka berdua, serta dedengkotnya yang jumlahnya masih sekitar 30 orang sekarang.

“Zhao kuangyin….
Serahkanlah nyawamu!” teriak Yelu Xian tanpa banyak berbasa-basi lagi. Dia ingin segera menyelesaikan pertarungan demikian. Tetapi tentunya, dia duluan memerintahkan anak buahnya menyerang terlebih dahulu. Tujuannya adalah tentu seperti biasanya, mencari kesempatan di saat paling bagus.
Yelu tahu sekali bahwa Zhao kuangyin adalah pesilat yang sangat tinggi kemampuannya. Sekarang Zhao sudah sekelas Yue Liangxu pada beberapa tahun yang lalu. Di sampingnya malah terlihat Yuan Jielung, ketua kaibang yang sangat gagah dan termahsyur ini. Tentu dia berpikir akan mencari keuntungan saja di saat yang sempit.

Zhao yang sudah mendapat kesempatan sangat bagus untuk beristirahat barang sejenak, tentu cukup bergembira. Dengan tarikan nafas panjang dan membuyarkan energi tadinya, dia menghimpun kembali energi baru melalui tapak. Kali ini dia duluan menyerang.
Melihat kepesatan tubuh Zhao ke depan, Yuan juga mengikutinya. Penyerang yang masih kurang berpengalaman, tentu terkejut melihat Zhao maupun Yuan yang duluan memulai penyerangan.
Sebenarnya sejak beberapa jam lalu, dari mulai awal hingga akhir. Zhao maupun Yuan hanya terlihat bertahan akibat serangan mendadak. Sekarang keduanya telah beranjak untuk menyerang.

Tapak Dewa Lao memang bukanlah ilmu tapak omong kosong. Kekuatan, kecepatan dan ketenangan bersatu di dalamnya. Dengan cepat, sudah mengambil 3 orang korban yang berdiri terdepan. Kesemuanya terpental dan tewas akibat 1 tarikan nafas tenaga dalam Zhao Kuangyin. Yuan Jielung juga sama lihainya, dia memainkan tapak yang sangat keras dan tangguh terlihat.

Yelu Xian dari tadi hanya mengincar seorang saja. Dia melihat semua pergerakan Zhao kuangyin. Meski sangat maksimal daerah pertahanannya, tetapi bagaimanapun setiap gerakan pasti mempunyai kelemahannya.
Di satu kesempatan, dengan segera Yelu Xian “terbang” ke arah Zhao kuangyin untuk menyerangnya secara mendadak.

Zhao sebenarnya sudah tahu benar bahwa alasan Yelu Xian tidak menyerang, tentu akan mencari “lubang” pertahanan yang terbuka akibat serangan. Dengan cepat pula, Zhao mengimbangi jurus tapak yang datang kepadanya dengan pesat. Dengan sebelah tangan dan setengah membungkuk, Zhao melayani tapak Yelu Xian.
Sungguh keras sepertinya benturan tapak kedua senior dunia persilatan ini. Zhao memiliki kelemahan yang terbuka cukup lebar. Untuk menarik nafas melayani Yelu Xian pun dia tidak memiliki kesempatan lagi. Akibatnya, dia terdorong mundur pesat ke belakang. Ketika benar telah berhenti pergerakannya, dia merasakan mual dan memuntahkan darah segar cukup banyak.

Yelu Xian main licik dengan sangat pandai. Tetapi meski hanya 1/2 tarikan nafas Zhao Kuangyin pun membuatnya terpental cukup jauh. Di bibirnya juga terlihat darah mengalir perlahan. Yelu memang terluka dalam, tetapi dibanding Zhao kuangyin. Maka lukanya tidak seberapa.

Yuan Jielung terkejut, dia menarik diri dari para penyerang dan menghampiri Zhao kuangyin yang dalam posisi jongkok.

“Anda tidak apa-apa?” tanya Yuan yang terkejut melihat kondisi Zhao.
Sambil berbisik pelan, Zhao menyahutinya.
“Ada racun di telapak kanannya tadi… Beberapa organ dalam tubuhku sudah terluka dalam.”

Yuan Jielung terkejut. Dia memalingkan wajah ke arah Yelu Xian dengan marah.
“Dimana obat penawar? Tidak disangka raja utara yang terkenal pemberani itu tiada lebih dari seorang licik rendahan.”

Yelu Xian tersenyum sinis sekali melihat sikap Yuan yang terkejut itu. Dia menggelengkan kepalanya.
“Menang secara licik adalah taktik dalam pertarungan….
Tetapi sungguh kusalut Zhao kuangyin, tidak tewas akibat benturan tapak pemusnah raga tingkat ketigaku di tambah cincin berisi jarum beracun.”

Zhao tidak menyahutinya, dia diam sambil menatap tanah. Nafasnya tetap teratur setiap saatnya. Ini menandakan meski racun sudah berkumpul menyerang organ dalamnya, tetapi untuk mencapai titik kematian masihlah terlalu jauh.

***

Ta-Li, keesokan paginya…

Kurungan yang betul mirip penjara tidaklah bersinar terang. Sebab selain sebuah lubang angin, maka tiada tempat lagi dimana cahaya matahari bisa masuk.
Jieji sudah bangun sejak tadinya, dia tidak tertidur lelap. Sementara itu Yunying yang di sampingnya, terlihat baru saja bangun. Dia melihat ke arah Jieji yang duduk menatap dinding.

“Kamu tidak bisa tidur?” tanya Yunying kepadanya.

Jieji berbalik, dia tersenyum sebentar.
“Tidak… Dari semalam aku tidak tidur…”

“Kenapa? Bukankah tiada kasus lagi? Kamu sudah mengerti dari arti perkataan pesan itu?
Kalau begitu, kita sudah bisa keluar… Bagaimana?” tanya Yunying yang kelihatan tidak senang akan tempat demikian.

Jieji mengangguk saja, dia tidak menjawab beberapa lama. Sampai dia mendengar adanya suara kerekan pintu besi di bagian atas. Sepertinya ada seseorang yang sedang berjalan pelan menuruni tangga beton. Dari gerak langkah, Jieji tahu bahwa orang ini pasti seorang wanita. Gaya berjalannya lembut menerpa angin, gerakannya tidak berat juga tidak ringan. Namun, sepertinya gerakan orang mantap ke depan. Pemuda dan isterinya tahu bahwa orang demikian adalah seorang berilmu tinggi yang sedang menyembunyikan tenaga dalamnya.

“Kau tidak perlu berbasa-basi.” Jieji kemudian bertutur sambil tertawa.

Orang ini meski masih puluhan kaki, Jieji sudah tahu bahwa orang yang datang bukanlah Lie Hui, pencuri ulung itu.
Adalah memang seseorang benar sampai ke sana. Tetapi dia tidak bisa dilihat sebagai seorang wanita ataupun laki-laki. Yang datang tiada lain adalah seorang berpakaian emas dan menutup wajahnya dengan cadar keemasan.

Jieji dan Yunying terkejut sebentar, tetapi kemudian keduanya sudah bisa mengendalikan diri mereka.

“Puteri Nan-an…
Selamat pagi…” sahut Jieji sambil memberi hormat pendek kepadanya.

Orang yang disahut, diam saja. Dia menatap ke depan dengan serius. Kedua bola matanya terlihat melotot sebentar melihat ke arah Jieji dan Yunying bergantian.
Suasana hening berlangsung cukup lama, sampai orang tersebut tertawa sebentar.
Suaranya betul adalah suara seorang wanita, seorang wanita muda.

“Kau sudah tahu siapa diriku?” tanya wanita ini.

“Pembicaraan semalam diriku dengan Lie Hui serta isteriku sudah kamu dengar semuanya bukan?” tanya Jieji berbalik.

Wanita ini cukup terkejut mendengar kata-kata Jieji. Sedangkan Yunying menatap Jieji dengan cukup heran. Dia tahu mana mungkin semalam ada yang mendengar pembicaraan mereka. Sungguh sangat aneh jika dipikir. Dan jikapun ada yang mendengarnya, maka tentu Yunying pasti tahu sebab ketika si orang pergi, pasti di rasakannya.

“Sungguh detektif hebat….” jawab wanita bercadar.

Jieji menggeleng dan tersenyum.
“Tidak… Bukankah kamu sendiri yang mengakuinya barusan.”

“Hm…
Berarti benar aku terjebak akal bulus sederhanamu saja.

Leave a Reply