Pemuda terlihat menganggukkan kepalanya saja.
Esoknya pagi-pagi…
Jieji telah bangun dan telah keluar dari penginapan. Dia berkeliling seluruh kota Yun-nan demi mencari informasi.
Dia baru kembali sekitar tengah hari dan dalam keadaan yang cukup lesu kelihatannya.
Yunying menyambutnya dari dalam kamar ketika melihat suaminya pulang.
“Bagaimana?” tanyanya.
Jieji menghela nafas panjang sekali. Lantas dia menjawab.
“Terlalu sedikit orang yang tahu akan kasus itu. Para penduduk yang tua hanya tahu bahwa keluarga Meng dibantai habis-habisan di 1 malam itu. Meng Yang-chu hanya seorang yang hidup saja setelah pembantaian itu karena dia berada di luar saat itu. Tidak ada yang tahu dimana Meng Yangchu berada saat itu.”
Yunying berpikir sebentar. Lantas dia memberikan komentarnya.
“Aku merasa mencurigai seseorang kembali.”
Jieji menatap kedua bola mata isterinya. Wajah pemuda memang terlihat tidak begitu tertarik akan komentar isterinya. Lantas sambil tersenyum, dia menjawab isterinya.
“Kamu mengatakan kamu mencurigai Meng Yangchu bukan?”
Yunying mengangguk pelan sambil tersenyum manis.
“Benar…
Dia termasuk seseorang yang pantas dicurigai. Ada 2 hal yang membuatku tidak begitu percaya kepadanya. Tetapi tanpa berita penting tentang kasus sekitar 30 tahun lalu, kita tidak bisa berbuat apa-apa.” jawab Jieji.
“Kak Jie ingin mengatakan hal pertama adalah bahwa dia terlihat cukup aneh. Dan hal yang kedua adalah sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu?” tanya Yunying.
Jieji mengangguk.
“Betul sekali. Tetapi kecurigaan tidak selalu bisa terbukti. Tampaknya kita hanya bisa menunggu puteri pulang dahulu.”
Tidak berapa lama…
Memang sudah terdengar langkah menaiki tangga dari bawah. Penginapan tempat Jieji menginap sesungguhnya adalah lantai dua. Maka dengan suara derekan papan tangga membuat Jieji segera menunggu was-was sebab dia tahu bahwa orang yang datang ini siapa. Tetapi di belakang suara langkah terdengar langkah lainnya yang mengikuti juga.
Pintu terbuka…
Jieji melihat Chonchu yang masuk dengan senyum wajahnya yang khas dan diikuti oleh seorang wanita cantik pula. Wanita cantik yang tentu sudah dikenal mereka berdua, yaitu Lie Hui.
“Kamu mendapatkan sesuatu?” tanya Jieji ke arah Chonchu.
“Tidak… Tetapi orang di belakangku sepertinya mempunyai sesuatu yang sangat menarik.” tutur Chonchu sambil tersenyum aneh kepada Jieji.
Memang adalah Lie Hui orang di belakang Chonchu, dia terlihat tersenyum juga melihat mereka.
“Aku mendapatkan sesuatu hal.”
“Oh?” terlihat Jieji terkejut sebentar sambil menatap serius ke arah pencuri ulung itu.
“Setelah sehari aku berpisahan, lagi-lagi aku menemukan petunjuk kasus yang sangat diinginkan tentunya olehmu.” sahut Lie Hui.
“Lanjutkan…” tutur Jieji pendek.
“Tepatnya 29 tahun yang lalu. Di sini, di Yunnan terjadi kegemparan luar biasa di suatu pagi.
Keluarga Meng memang habis dibantai dalam malam itu. Semua orang yang tewas hanyalah orang yang berhubungan darah dengan keluarga Meng. Sedangkan semua pelayan ataupun pengawal tiada mengapa-ngapa. Sungguh sangat mengherankan awalnya.
Nah…
Kesemuanya memiliki luka goresan yang sama di leher atau bisa dikatakan kesemuanya mati dengan cara yang sama yaitu putusnya pembuluh darah di leher.”
“Itu sudah kuketahui…” tutur Jieji yang agak jengkel ke arah Lie Hui.
Tetapi sambil tersenyum, Lie melanjutkan ceritanya.
“Banyak orang yang mengatakan bahwa keluarga Wang adalah musuh besar keluarga Meng. Maka mereka sempat kesemuanya di interogasi oleh polisi, tetapi hasilnya tetap nihil. Kesemua anggota keluarga Wang memiliki alibi yang sangat baik karena malam itu adalah malam perayaan sembahyang bulan, maka keluarga Wang membuat pesta meriah sampai pagi hari.
Dan yang herannya adalah bahwa 3 hari setelah kejadian pembunuhan keluarga Meng, maka kepala keluarga Wang juga tewas dengan cara yang berbeda. Kepala keluarga Wang dibunuh dengan sangat kejam, tubuhnya dipotong-potong hingga berpuluh bagian. Dan kesemua bagian tubuhnya terpencar di kamar tidurnya.”
Jieji melonjak kegirangan setelah mendengar kabar dari Lie Hui.
“Orang tewas dibunuh dengan cara mengerikan, tetapi malah kau terlihat girang sekali.” tutur Yunying dengan wajah yang agak kesal.
“Tidak…
Bukan begitu…
Teruskanlah nona Lie Hui…” tutur Jieji kembali. Terlihat semangat dan darahnya seakan melonjak mengikuti sikapnya tersebut.
“Sebenarnya atas kematian kepala keluarga Wang, Meng Yangchu muda adalah orang yang paling dicurigai. Banyak warga mengatakan bahwa Meng sangat dendam terhadap keluarga Wang dan mengirim orang untuk membunuhnya.” sahut Lie Hui.
“Aku sudah tahu lanjutannya.
Tentu Meng tidak pernah terbukti bersalah sama sekali. Dan dari sinilah, sahabatku atau ayahmu menjadi sangat tertarik. Dan aku sudah tahu kenapa sahabatku mencari informasi ke kuil Zhu Fu.” tutur Jieji sambil tertawa besar.
Lie Hui terheran melihat Jieji. Tetapi meski Jieji sudah tahu garis besarnya, dia masih tetap melanjutkannya.
“Meng mengaku bahwa malam itu dia keluar untuk mencari angin, yaitu di sebelah tenggara kota. Dia disana sampai pagi kemudian saat terjadinya pembunuhan keluarganya sendiri. Dan Meng juga mengaku bahwa saat kejadian pembunuhan kepala keluarga Wang, dia sendiri sedang beristirahat di kamarnya. Hanya seorang yang bisa membuktikan alibi Meng.”
“Tentu orang tua yang bermarga Gao.” jawab Jieji.
“Bagaimana kau bisa tahu???” tanya Lie Hui.
“Tentu…
Biasanya pencuri adalah orang yang mencari sesuatu untuk dilihat apakah berharga atau tidak. Tetapi detektif sudah bisa tahu apa isi sesuatu sebelum membuka dan melihatnya.” jawab Chonchu sambil tersenyum geli ke Lie Hui.
Lie Hui hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Aku harus ke Kuil Zhu Fu sekali lagi. Sepertinya ada sesuatu yang masih belum kuselidiki di sana.” sahut Jieji dengan serius.
“Kita ikut saja semua bagaimana? Dengan begitu, kita bisa saling menjaga. Bagaimana?” sahut Yunying.
Kesemua teman-teman Jieji menganggukkan kepalanya.
Kuil Zhufu memang seperti semalam. Berbau agak pengap dengan keadaan yang tidak teratur. Jieji melihat ke bawah lantai ketika dia masuk ke dalam kuil. Jejak kaki memang masih jejak kaki yang sama seperti kemarin sebelumnya. Hanya jejak kaki dia dan Yunying yang masih tertinggal jelas di sana. Sedang jejak kaki lainnya adalah sudah sangat kabur dan kecil. Kemungkinan adalah anak-anak yang bermain-main di kuil entah beberapa minggu yang lewat atau beberapa bulan.
“Kamu tidak mencurigai orang yang menyerang kita? Jangan-jangan dia masih ada di sekitar.” tutur Yunying sambil masuk ke dalam bersama.
Jieji tersenyum tipis melalui bibirnya, dia tidak menjawab pertanyaan Yunying. Lantas segera saja terlihat dia melompat ke patung.
Ketiga orang yang bersamanya terkejut melihat tindakan Jieji. Namun ketiganya tidak bertindak apapun selain mengawasi dengan was-was sekeliling.
Jieji sudah sampai di patung tersebut. Patung perdana menteri Shu-Han terlihat berwajah yang bijaksana serta agung. Dia segera saja jongkok untuk memeriksa patung dengan sangat cermat.
Hanya perlu waktu sebentar, dia terlihat tersenyum sendiri.
Dengan jari tangan, sepertinya dia berniat mengangkat patung yang beratnya mungkin ratusan kilo itu.
Untuk berat patung seperti demikian tidak pernah menyusahkan Xia Jieji yang memiliki tenaga dalam nan kuat itu. Maka dengan sekali teriakan kecil, patung sudah terangkat tinggi dengan satu tangannya.
Teman-teman pemuda segera beranjak cepat ke depan. Karena mereka semua tahu Jieji sedang mencari sesuatu benda yang sedang terletak di bawah patung.
Ketika kesemuanya telah mendekat, tiada orang yang tidak terkejut melihat rancangan patung tersebut.
Tempat duduk patung terlihat memiliki lubang persegi. Dan di lubang berbentuk persegi sepertinya terlihat sebuah kotak kayu yang sangat bagus.
Pencuri ulung berniat segera mengambil kotak tersebut, tetapi dengan segera dia dihentikan oleh Jieji.
“Jangan..
Biarkanlah isteriku yang mengambilnya.”
Lie Hui dan Chonchu cukup heran. Yunying adalah isterinya sendiri dan jika saja kotak mengandung sesuatu bahaya maka Yunying tentunya orang yang paling terancam. Tetapi ketika semuanya sadar bahwa Yunying adalah orang yang memiliki kemampuan paling tinggi, maka bisa dimengerti kenapa Jieji meminta isterinya yang mengambil kotak itu.
Yunying dengan wajah serius segera mengangkat kotak itu dengan cukup pelan dan meletakkannya di atas meja kecil di belakang.
Jieji sudah meletakkan kembali patung batu itu dan melompat sekali untuk turun.
Dia amati kotak dengan sangat teliti. Dia membalikkan dengan pelan kotak tersebut untuk melihat dengan dekat.
“Apa isi kotak itu?” tanya Lie Hui sambil tersenyum geli kepada Jieji.
“Seharusnya adalah kitab kungfu. Atau mungkin saja ilmu perang dari Zhuge Kungming.” tutur nya sambil tersenyum geli juga membalas Lie Hui.
Pertanyaan Lie Hui kepadanya adalah sebenarnya untuk meledeknya tentang kata-kata Chonchu kemarin. Jika dia adalah detektif tentu dia tahu apa isi kotak tersebut daripada pencuri.
Maka dengan sangat hati-hati, Jieji mengangkat penutup kotak persegi. Sudah beberapa saat penutup kotak di angkat, tetapi tidak terdapat sesuatu reaksi apapun. Maka dengan cepat, Jieji mengayunkan tangannya.
Kotak sudah terbuka dengan sekejap dan hebatnya adalah tidak ada yang tidak terkejut melihat sesuatu dalam kotak tersebut.
Kotak itu terdapat sebuah lembaran buku yang pertama yang bertuliskan.
“Tingkat sembilan Tapak Buddha Rulai.”
Jieji tertawa keras ketika melihat benda tersebut. Tertawanya Jieji tentu mengherankan mereka semua. Chonchu segera menanyainya.
“Kenapa anda tertawa?”
“Kitab itu isinya kosong.” jawab Jieji pendek.
“Tidak mungkin..” tutur Yunying.
“Lihatlah kalau tidak percaya.” sahut Lie Hui yang ingin memegang kitab.
Tetapi Jieji kembali mencegahnya.
“Biar aku saja.”
Memang kitab segera diambil Jieji dari kotak kayu itu. Dan sepertinya perkiraan Jieji sebelumnya adalah benar. Terlihat cairan perak yang cukup banyak melekat di dasar kotak.
“Racun pemusnah raga lagi??” teriak Yunying.
Cukup benar Jieji melarang pencuri ulung yang dua kali yang hendak memegang kotak. Ternyata apa perkiraan Jieji sebelumnya untuk meminta Yunying mengambil kotak memang tepat sekali. Memang racun itu sengaja di taruh seseorang untuk membahayakan pemegangnya.
Tetapi kali kedua, Jieji salah besar…
Kitab memang benar ada di tangan. Tetapi kitab berisi tulisan pelatihan setelah dibuka olehnya. Kitab itu tidaklah kosong sama sekali. Jieji membacanya sebentar dan terlihat menghela nafas.
“Orang mengatakan tapak buddha Rulai adalah jurus yang bersih dan sakti. Tetapi aku melihat cara melatih tapak buddha tingkat kesembilan disini sudah bertentangan dengan ajaran ilmu kungfu.”
Yunying berniat melihatnya, dia terlihat meminta kitab dari tangan Jieji. Tetapi Jieji tidak memberikannya. Lantas pemuda berkata.
“Melihat halaman pertama, aku sudah merasa berdebar-debar. Halaman pertama ternyata memuat pelatihan tapak buddha tingkat ke delapan. Dan turun sampai tingkat pertama. Dan melihat halaman terakhir, aku tahu bahwa baru di ajarkan cara membalikkan nadi serta pelatihan salah terhadap syaraf otak.
Siapapun yang melatihnya akan menjadi sangat hebat, tetapi sudah tidak berakal. Sungguh kungfu yang berbahaya sekali.”
Mereka tertegun mendengar perkataan Jieji. Cukup lama mereka berempat terpaku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Bagaimana kalau kita lenyapkan saja?” tanya Yunying kemudian.
“Tidak…
Kita bukanlah pencipta jurus itu. Untuk memusnahkannya aku rasa sangat tidak baik. Ini adalah karya orang yang belajar ilmu ke arah sesat, meski membahayakan tetapi racun pemusnah raga disini tentu cukup berbahaya juga. Mungkin lebih bagus kita meletakkannya kembali saja.” tutur Jieji ke arah kesemuanya.
Benar Jieji mengangkat kembali patung di tengah dan menyimpannya balik. Lantas dia beranjak dari Kuil bersama teman-temannya.
Tidak lama kemudian dari sana, masih di kuil yang sama…
Terlihat seorang berpakaian keemasan sudah memasuki ruangan. Dia berjalan dengan santai ke arah patung di tengah. Dia amati patung tanpa bersuara apapun juga.
Tetapi tidak lama kemudian telah terdengar sebuah suara memecah keheningan.
“Seharusnya aku sudah tahu bahwa anda sedang berada di sini mengamati…”
Orang berpakaian keemasan segera memalingkan wajahnya dengan cepat. Wajahnya seperti semalam sebelumnya. Tertutup oleh kain berwarna keemasan. Matanya menyorotkan sesuatu perasaan yang aneh. Tetapi kali ini dia tidak menyerang sama sekali seperti halnya kemarin. Dia hanya terlihat diam saja sambil mengamati dengan was-was.
“Aku tahu benar bahwa pelaku kehebohan di wisma Meng semalam bukanlah ulahmu.” tutur suara itu kemudian.
Memang adalah keempat orang yang tadinya sempat masuk itu yang kembali kemudian. Tetapi sikap ketiga orang lainnya cukup was-was melihat ke depan.
Kesemuanya juga tahu kelihaian ilmu jari pedang tanpa bentuk dari lawan berpakaian emas ini. Tetapi melainkan pemuda sepertinya tidak takut, dia berjalan tenang saja dan berhenti setelah jarak cukup memadai satu sama lainnya.
“Oh?
Kamu tidak menjawabku… Kamu pasti tahu sesuatu hal tentang Meng Yangchu? Bisa kau ceritakan itu kepadaku?” tanya Jieji.
Orang ini tidak menyahut sama sekali. Tetapi dia bergerak merogoh kantung bajunya untuk mengeluarkan sesuatu benda. Sesuatu benda yang terlihat adalah kertas kecil dan kemudian terlihat dia melempar dengan tenang ke arah Jieji.
Pelempar memiliki energi yang tidak bisa dipandang remeh karena kertas yang tadinya dilipat sekali itu bisa melayang pesat ke arah Jieji.
Setelah menangkapnya, Jieji membuka kertas tersebut. Dia melihat sebentar dan membaca sesuatu di sana. Kemudian, dia mendongkakkan kepalanya untuk menatap orang bertopeng.
“Sungguh sebuah hal yang patut diceritakan. Aku akan menyelidikinya sebaik mungkin, anda boleh pergi tanpa kekurangan sesuatu apapun.” tutur Jieji sambil tersenyum kepadanya.
Tetapi setelah mendengar perkataan Jieji, orang ini malah diam tidak bergerak. Dia pangkukan tangannya dan berdiri tegak saja.
Melihat tingkahnya, Jieji tersenyum. Lantas dia berkata.
“Ini adalah rumah anda, seharusnya yang pergi adalah kita. Selamat berjumpa kembali…”
Jieji berjalan mundur untuk mengawasi orang tersebut dan para temannya mendahului sambil berwaspada pula.
“Siapa dia sesungguhnya?” tanya Yunying setelah beberapa lama mereka meninggalkan kuil.
“Aku tidak tahu. Tetapi kemampuan silatnya betul tinggi.” jawab Jieji.
“Betul.
Selain itu sepertinya orang itu aneh. Dan bagaimana kamu bisa yakin bukan dia orang yang mengacau menggunakan boneka semalam di wisma?” tanya Yunying yang terlihat penasaran.
“Sikapnya…
Dari sikapnya aku tahu orang ini bertindak terus terang. Boneka itu cukup aneh sebenarnya jika hanya untuk menakuti. Dan jika sasarannya benar adalah putera keluarga Meng, dia tidak usah menggunakan boneka segala. Dan beberapa hal yang masih terasa kabur sekali jika diingat-ingat. Aku betul tidak mampu berpikir sampai di sana. Benar kasus yang rumit….” tutur Jieji sambil tersenyum kecewa.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan tempat itu dan sepertinya beranjak balik menuju penginapan.
Chonchu adalah orang yang hadir pertama di penginapan. Dia lantas beranjak dan menanyai Jieji.
“Kamu sudah tahu pelakunya. Kenapa malah berkata hal yang begitu kabur kembali?”
Jieji tersenyum melihat cara bicara puteri koguryo itu. Lantas dia menjawab.
“Puteri…
Anda tahu bahwa ada beberapa orang yang mengikuti kita sewaktu kembali dari kuil. Aku tidak tahu siapa mereka. Tetapi…”
“Oh??” terlihat Chonchu tersentak kegirangan.
Jieji tersenyum kembali karena melihat Chonchu sudah mengerti beberapa titik balik kasus.
Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali jalanan di kota Yunnan yang tidak lebar itu dipenuh sesak. Tidak seperti biasanya hari ini. Jalan yang demikian ramai di kota-kota daratan tengah biasanya hanya bisa dijumpai di beberapa kota saja seperti Kaifeng, Changsha, Xiangyang, Changan dan Luo Yang. Selebihnya kota pelabuhan biasanya juga memunculkan pemandangan sedemikian.
Jieji memang tidur dengan pulas malam sebelumnya karena terasa cukup lelah setelah malam sebelumnya tidak tidur sama sekali. Dia terkejut ketika kota sudah mulai dipenuhi suara-suara desas desus meski suara tersebut tidaklah keras.
Melihat hal demikian, dia segera bangun dan berpakaian rapi. Tidak sempat lagi dirinya untuk membasuh muka sekalipun. Dia beranjak turun dengan cepat.
Yunying memang sekamar dengannya, dia tahu bahwa Jieji dengan cepat telah turun untuk melihat keadaan yang ramai. Tetapi dia sama sekali tidak sempat menanyainya.
Mengikuti keramaian orang, Jieji segera beranjak untuk mencari tahu hal apa yang terjadi. Keributan benar terjadi di arah utara kota Yunnan. Dia berhenti sejenak saat dia mendengar suara gempar teriakan seseorang dari arah Wisma Meng.
Segera, dia meloncat cukup tinggi dan mendarat di atap untuk melihat keadaan sekitar yang sesungguhnya sudah ramai sekali.
Dari arah kejauhan, dia sempat melihat sebuah “lingkaran” yang sengaja di buat oleh manusia. “Lingkaran” itu cukup luas karena orang-orang yang berkumpul di sampingnya. Di tengah malah terlihat pemandangan yang aneh. Adanya seseorang dengan tombak panjang sedang mengayuh ke sana kemari dengan cepat dan ganas. Sedang di sekitar-nya yaitu tanah tempat berpijak terlihat banyak orang yang terlungkup sambil bersimbah darah.
“Sungguh aneh? Penduduk malah sangat tertarik akan hal demikian?” tutur Jieji dalam hatinya.
Dengan sekali lompatan pesat, dia menuju ke arah orang yang mengamuk itu.
Setelah sampai, di tangan pemuda telah terpegang sebuah pedang pendek. Dia berancang-ancang ke depan sambil mengawasi dengan tajam dan serius.
Rupa-rupanya salah seorang di belakang pemuda telah berteriak terkejut ketika pemuda sampai. Karena pedang yang dipegangnya telah beralih tuan dengan sekejap saja.
Jieji meluruskan pedang ke depan dengan wajah yang serius memandang. Dilihatnya seorang paruh baya yang berambut riap-riap memiliki wajah yang kengerian. Tinggi tubuhnya adalah tujuh kaki dengan wajah yang dipenuhi oleh berewokan.
“Tuan besar…
Tidak disangka hanya dalam semalaman saja, anda sudah berubah demikian.” tutur Jieji.
Orang yang disapa segera berbalik arah ke samping yaitu segaris dengan tempat berdirinya Xia Jieji. Tetapi tanpa banyak berkata, orang bermarga Meng segera menyerangnya dengan hebat.
Jieji sudah menyiapkan diri sedemikian baik dan dia tahu bahwa sepertinya orang bermarga Meng ini telah kehilangan akal sehatnya.
Tombak di arahkan ke arah jantung pemuda dengan cepat. Gerakan tombak Meng Yangchu benar tidak bisa dipandang remeh. Meski Jieji tidak pernah melihat gerakan tombak sedemikian, tetapi dia tahu bahwa sesungguhnya pemilik wisma bukanlah seorang jago tombak melainkan seorang yang jago menggunakan pedang panjang.
Pedang pendek sudah di tangan Jieji sedari tadi. Dan dengan sekali berkebat, sepertinya telah terlihat pedang pendek mengambil tumbal. Memang Jieji hanya mengarahkan pedang ke arah pergelangan tangan Meng. Dan terlihat di sini, Meng Yangchu-lah orang yang “mencari” sisi tajam pedang.
Tetapi meski tergores, sepertinya Meng sama sekali tidak menghiraukannya Dia malah datang semakin ganas.
Penduduk yang jarang sekali melihat pertarungan sedemikian, semuanya kontan bersorak gembira sekali. Sepertinya para penduduk tidak menghiraukan bahaya sama sekali saat itu, malah kesemuanya terliha sangat bergembira.
Jieji tidak pernah memberi kesempatan kepada Meng Yangchu. Setiap serangan Meng justru membawa luka bagi dirinya sendiri. Jieji hanya mengarahkan pedang tepat ke daerah kosong pertahanan lawan. Dan tidak pernah sekalipun pemuda berniat melenyapkan nyawa kepala keluarga ini.
Sudah puluhan jurus dilakukan keduanya, dan puluhan luka juga lah terdapat di tubuh Meng yang sangat kokoh itu.
Dalam satu ancang-ancang penyerangan Meng, Jieji akhirnya berniat menghentikan raksasa gila yang sedang mengamuk ini. Dengan sebuah tapak, Jieji menghantam ke depan sementara itu pedang di tangan kirinya telah di selip ke belakang.
Meng terlihat terhantam perutnya dengan keras. Dan membungkuk dengan segera serta memuntahkan darah segar sebentar.
Memang cukup alot juga tubuh pemilik Wisma tersebut, meski luka sudah berdarah cukup hebat dan pukulan di perut tersebut memang tidak dikerahkan maksimal tenaga Jieji. Namun belum bisa membuatnya betul “tunduk”.
Dan akhirnya dengan sebuah serangan jari, Jieji baru dapat “menundukkannya”.
Nadi gerak raksasa tertotok dan terlihat dirinya tumbang ke tanah. Nafasnya ngegosan lagi terdengar keras dan terbukti bahwa raksasa tersebut meski tumbang namun belumlah takluk.
Jieji terlihat segera jongkok. Dan membisikkan sesuatu di telinga Meng.
“Ini adalah karma masa lampau-mu. Seharusnya memang kaulah orang yang menderita seperti sekarang.”
Meng Yangchu segera menatapnya dengan sangat marah sekali. Wajahnya terlihat memerah sesegera dan matanya terlihat berapi-api setelah dia mendengar tuturan Jieji barusan.
“Racun ilusi itu…
Sebuah barang yang masih baru dan tidak pernah muncul sekalipun di dunia persilatan.” tiba-tiba terdengar suara seseorang di antara kerumunan.
Orang yang baru saja berbicara adalah seorang wanita, dia segera terlihat berjalan ke depan.
Jieji memalingkan wajahnya sambil berjongkok. Dia tersenyum kemudian berkata.
“Tidak…
Bukan barang yang benar baru. Setidaknya puluhan tahun yang lalu sudah muncul.”
Wanita yang ditanggapi begitu, langsung tersenyum. Dia adalah Lie Hui yang sudah mengikuti Jieji dari belakang tadinya.
“Racun sedemikian memang tidak berbau dan bahkan tidak bisa dirasakan sama sekali. Memang hebat si tua ini sanggup berjaya puluhan tahun karenanya.”
Jieji berbalik kembali ke arah bawah. Dia masih melihat Meng Yangchu marah besar meskipun dia tidak sanggup berkata sesuatu apapun dari mulutnya.
“Kamu-lah orang yang membunuh keluarga-mu sendiri dalam kasus keluarga Meng. Juga kamu-lah orang yang membunuh kepala keluarga Wang.”
Jieji menegaskan dengan serius ke arah Meng. Semua penduduk di sekitar sana banyak yang terlihat terkejut mendengarnya.
Meng masih saja mengeram dalam keadaan marah. Tidak sekalipun dia menanggapi perkataan pemuda. Lalu Jieji kembali melanjutkan.
“Dia masih ter-ilusi akibat racunnya sendiri. Sepertinya kita hanya bisa menunggu dahulu.” Dia berkata sambil berdiri mantap, kemudian meminta orang di sekitar untuk membelenggunya dan memanggil polisi setempat.
Para penduduk memang sebenarnya segan juga mengikat “raksasa” tersebut, karena raksasa ini sebenarnya cukup disegani oleh seluruh penduduk kota Yun-nan. Tetapi karena melihatnya telah membunuh beberapa orang di depan rumahnya sendiri, maka kesemuanya menjadi berani karena Meng telah terbukti membunuh.
Hanya diperlukan sekejap saja bagi para penduduk untuk menyiapkan tali, mengikatnya sehingga dia tidak berdaya sama sekali. Meski Meng sedang dalam keadaan tertotok nadi, tetapi jika tidak diikat keras, maka ketika di bawa ke pengadilan akan terasa bermasalah juga. Maka daripada itu, Jieji meminta para penduduk supaya mengikatnya terlebih dahulu.
Khalayak ramai ini cukup tegang menyaksikan kejadian ini, oleh karena itu suara mereka hanya terdengar sungguh pelan satu sama lainnya.
“Apa yang terjadi?” tanya suara seseorang dari arah belakang.
Jieji menoleh kepadanya sambil tersenyum.
“Tidak…
Kamu ikuti saja semuanya. Nanti baru akan kuceritakan.”
Orang yang datang adalah Yunying. Dia telah beres membasuh mukanya dan ikut menyusul juga kemudian. Di belakangnya terlihat Chonchu, puteri koguryo.
Para polisi kemudian telah berdatangan. Mereka sigap dan segera bersiaga mengepung Meng yang terikat sambil berlutut. Sementara seseorang yang memakai baju seragam yang agak berbeda dari anggotanya maju ke depan untuk menanyai Jieji. Dia terlihat berwajah bidang, umurnya yang terlihat dari wajahnya mungkin 40-an atau hampir 50 tahun. Memiliki kumis tipis dan berpandangan licik.
“Dia telah membunuh?”
“Saksi-nya adalah seluruh warga di sini.” jawab Jieji pendek saja.
Kepala polisi terlihat mengangguk pelan saja. Dia segera berbalik ke arah penduduk sekitar guna menanyai mereka.
Jieji melihatnya dengan tatapan yang sinis sekali. Tetapi pengamatan pemuda segera dilihat oleh isterinya sendiri, yang lantas datang untuk menanyainya.
“Kenapa kamu menatap dengan cara begitu ke kepala polisi?”
Sambil berbisik, Jieji berkata kepada Yunying.
“Hm…
Ada 3 hal…”
“3 hal?”
“Betul..
Hal pertama, kepala polisi itu tolol.
Hal kedua, kepala polisi itu korup.
Hal ketiga, kepala polisi akan mencari masalah.”
Baru saja Jieji menutup mulutnya, dia segera di datangi kepala polisi. Sambil melepaskan pedang dari sarung dia menuding Jieji.
“Kau!
Kau penyebab semuanya???”
Kontan saja banyak penduduk yang terkejut. Lantas Yunying dan Chonchu juga cukup terkejut begitupun Lie Hui. Tetapi Jieji malah tertawa tenang.
“Tadi baru saja kukatakan.
Tolol karena tidak bisa melihat suasana. Korup karena ada sesuatu hal besar, tetapi dibiarkannya. Dan akan mencari masalah, dan tentu saja ketika baru saja dia meloloskan pedang dari sarung-nya kemudian di arahkan tepat ke arahku.”
Yunying melihatnya dengan tersenyum. Dia tidak menyangka Jieji sangat pintar membaca isi hati kepala polisi itu meski hanya sekali dia berbicara dengannya.
“Betul…
Aku-lah orang yang membunuh semua orang di sini.” jawab Jieji pendek kemudian.
Kontan jawaban Jieji membuat semua orang sangat terkejut. Kesemua penduduk tahu bagaimana jalan cerita Meng Yangchu yang baru saja berhasil ditaklukkan. Tetapi mengaku kesalahan membunuh adalah hukumannya sangat berat. Namun, Jieji terlihat tenang saja.
Sedangkan teman-temannya juga merasa aneh kenapa pemuda bisa mengatakan hal demikian.
“Nah…
Kalau begitu, ikutlah kita ke kantor polisi. Kasus ini akan di serahkan ke pengadilan Zi Tong.” tutur Kepala polisi dengan gaya angkuh.
“Tunggu dulu…” jawab Jieji sambil mengangkat sebelah tangannya.
“Terima kasih kepala polisi.” pemuda itu kembali bertutur sambil tersenyum sangat manis kepadanya.
Kepala polisi merasa heran kenapa orang tersebut bertingkah aneh di depannya. Dia tidak berusaha untuk menebak apa yang sedang berada di otak pemuda. Lantas dengan memberi tanda, polisi yang jumlahnya 20 orang lebih mengepung Jieji dan kawan-kawannya.
Sementara melihat kelakuan kepala polisi, Jieji hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
Apakah ada orang yang sanggup meredam kesaktian bertarung Jieji dan Yunying di sini? Memang tindakan seperti demikian memang sangatlah bodoh sekali jika dipikir-pikir.
“Kepala polisi. Anda ditangkap karena dituduh melakukan tindak kejahatan dengan Meng Yangchu. Karier polisimu sudah tamat betul.” tutur Jieji sambil tertawa. Tidak sedikitpun kekhawatiran tampak di wajah Jieji, dia tetap tertawa seakan sedang berada di tempat yang tidak ada orang-nya.
“Serang!” terdengar kepala polisi berteriak sekali. Ingin sekali dia musnahkan pemuda beserta teman-temannya disini.
Banyak orang di sana tentunya berpikiran bahwa 4 orang di sini. 3 orang wanita dan seorang pria bakal menjadi daging cincang. Mereka kesemuanya sedang dikepung rapat oleh 20 orang lebih.
Namun, ternyata hasilnya di luar dugaan mereka sama sekali. Karena tidak ada yang benar tahu bagaimana “proses” tersebut terjadi. Kesemuanya hanya melihat hasil akhir-nya saja.
Lebih dari dua puluh orang polisi terpental bergulingan ke belakang membentuk lingkaran yang jauh lebih besar. Dijatuhkan oleh sesuatu tenaga “setan” yang betul tidak tampak mata. Semelir angin lembut memancar benar terasa sekali.
Kepala polisi di sini memang tidak-lah terpental sama sekali. Tetapi pedang di tangannya terasa bergetar ketika melihat “hasil” dari Maha karya setan tak berwujud tersebut.
Jieji berjalan ke samping. Dilihatnya sebuah kipas yang sedang dipegang oleh seorang pemuda yang mungkin adalah sastrawan.
“Aku meminjam sebentar kipas anda.” tuturnya sambil tersenyum.
Pemuda yang usianya sekitar belasan tahun atau hampir 20 hanya memandangnya melongo ketika Jieji mengambil kipas dari tangannya.
Lantas dia berjalan ke tengah sambil berkata-kata layaknya seorang sastrawan.
“Kasus keluarga Meng beberapa puluh tahun yang lalu sudah terpecahkan.
Pembunuhnya adalah tiada lain Meng Yangchu sendiri. Bagaimana cara pembunuhan terjadi tentu sebenarnya adalah masih misteri sekali.
Tetapi…
Baru saja teman kita….” tunjuk Jieji dengan kipas ke arah Meng.
Suara desas-desus penduduk yang tadinya masih terdengar, sekarang sudah berubah menjadi kondisi serius. Tiada suatu suara-pun selain milik pemuda berjuluk “Pahlawan Selatan” pada saat tersebut.
“……mengakuinya dengan sangat baik. Dan dia dilindungi oleh kepala polisi yang tangannya sepertinya sangat gemetaran sekarang. Cara pembunuhan bukanlah sesuatu yang aneh sebenarnya.
Meng yang sekarang sedang ber-ilusi hebat.
Adalah karena dia terkena racun… Eh, mungkin semacam obat yang di dapatinya entah dari mana.
Aku baru tahu ketika mendengar kabar bahwa Penguasa cakar setan adalah tepatnya tuan besar Meng yang bernama Meng Zulu atau ayahnya tuan besar Meng Yangchu sekarang.
Benar sekali, Meng Zulu sebenarnya adalah orang yang membunuh keluarganya sendiri akibat obat “hebat” dari Meng Yangchu. Membuatnya kehilangan akal sehat dan membantai keluarganya sendiri.
Sebenarnya…
Ada beberapa hal yang benar mengherankan saat itu. Yaitu bahwa hanya keluarga Meng-lah yang mati dibantai. Sedangkan orang-orang yang di luar hubungan keluarga-nya malah baik-baik saja tidak mengapa.”
“Obat tidur??” sahut Lie Hui tiba-tiba memecah suara Jieji.
Jieji menoleh ke arah Lie Hui. Dia tunjukkan kipas ke arah wanita.
“Tepat!
Tidak….
Salah juga….”
tutur Jieji secara serentak dan cepat. Dia segera berbalik.
“Aku sudah meneliti….” lanjut pemuda.
“Ke rumah keluarga Meng terdahulu yang sudah tiada berpenghuni kecuali setan penasaran.
Bentuk rumah di sana mengingatkan kepadaku sebuah hal. Rumah di sana terbagi menjadi 4 penjuru mata angin dan tengah.
Sungguh sangat masuk akal sekali jika hanya rumah “tengah” tempat terjadinya pembantaian karena seisi keluarga Meng tinggal di sana.
Dengan kata lain, kasus-nya adalah sedemikian rupa…
Meng Yangchu memberi obat “ilusi” kepada seluruh keluarga-nya. Sedangkan dia sengaja keluar untuk “mencari angin” bersama Gao Jianshen.
Ketika obat ilusi itu sudah bekerja, maka kepala keluarga Meng Zulu sudah mulai membantai seperti yang sedang dilakukan oleh Meng Yangchu sekarang. Dia adalah penguasa ilmu cakar yang menyerang leher lawan.
Malam pembantaian saat itu terjadi hebat…
Kenapa hanya keluarga Meng saja yang terbantai tetapi tidak orang disekitar sungguh mudah dipahami.
Sebab ketika suara seseorang yang mendekati ajal tentu didengar oleh semua orang di balai tengah Wisma Meng. Satu persatu kehilangan nyawa dengan cara yang sama karena mereka mendekati balai utama tempat Meng Zulu berada.
Kemudian, teman kita….” tunjuk Jieji kemudian ke arah Meng Yangchu kembali.
“Pulang ke rumah untuk melihat hasil kerjanya. Hasil Maha karyanya yang sangat hebat.
Tentu, saat itu ketika dia pulang…
Malam sudah gelap sekali meski ruangan itu terang. Kemudian ketika menyaksikannya… Dia tentu berteriak demikian….”
Chonchu sangat tertarik melihat Jieji bercerita. Mendengar sampai di sini, dia melanjutkannya.
“Panggil Polisi cepat… Panggil polisi!!!”
“Tepat sekali, puteri….” tutur Jieji sambil tersenyum. Dia segera berbalik ke arah kepala polisi.
“Dia memanggilmu saat itu. Tepatnya Gao yang memanggilmu saat itu.” Kepala polisi menatap serius ke arah Jieji.
“Polisi ini datang ke Wisma Meng dengan sesegera. Lantas membuktikan bahwa adanya pembunuhan hebat di sana. Dengan membuat alibi kuat, Meng Yangchu muda saat itu lolos dan tidak pernah disangka bahwa Meng Yangchu-lah orang yang membunuh keluarga-nya sendiri dengan sedikit taktik obat ilusi.” tutur Yunying melanjutkan.
Jieji tertawa mendengar tuturan Yunying.
Sepertinya saat itu terlihat sungguh cukup menakjubkan. Jieji dan kawan-kawannya seakan sedang memainkan sebuah sandiwara di atas panggung yang berdarah. Memang cara demikian sungguh cukup aneh jika dilihat, tetapi memang benar sekali bahwa tuturan kesemuanya mulai masuk akal.
“Membuat luka yang sama memang tidak susah sama sekali. Dengan cakar, dia membunuh ayah kandungnya sendiri yang sudah lemah akibat reaksi obat ilusi yang berlebihan. Tepatnya lemah setelah bertindak “terlalu bersemangat”! “
“Kata-katamu tidak beralasan! Meng Yangchu sangat berbakti kepada ayahnya. Semua penduduk Yun-nan mengetahuinya. Jelas kata-kata anda tidak masuk akal…”
terdengar teriakan kepala polisi yang tergoncang akibat penuturan analisis-nya Jieji.
Jieji kemudian menatapnya. Wajahnya sayu beberapa saat, dia berkata seperti seorang yang kerongkongannya kering.
“Tadinya, aku sengaja memancingmu. Aku tidak tahu siapa pembantu pelaku ketika kasus puluhan tahun lalu itu terjadi. Tetapi dengan kata-kata anda tadinya, aku yakin anda-lah orang yang terlibat.”
“Kau memancingku? Kau punya bukti bahwa aku-lah orang yang membantu Meng, tentunya seperti yang kau katakan tadinya?” sambil marah dia memelototi Jieji.
Jieji menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap tanah.
“Nah…
Kau tidak punya bukti sama sekali bukan? Bagaimana kau bisa menuduhku terlibat?” tanya kepala polisi itu dengan marah.
Jieji menatapnya dengan serius. Lantas dia berkata.
“Aku menggelengkan kepalaku, bukannya bahwa tiada bukti yang kudapatkan. Anda salah besar. Maksudku tadinya adalah terlalu banyak bukti yang mengarah kepadamu. Membuktikan bahwa kau dan Meng Yangchu bersekongkol satu sama lainnya.”
Kepala polisi terkejut sekali. Wajahnya jelas terlihat membiru sebentar.
“Kasus kembali terjadi beberapa hari kemudian saat itu. Kepala keluarga Wang mati dengan cara yang sangat mengerikan. Tubuhnya dimutilasi menjadi beberapa puluh bagian. Saat itu, yang memeriksa kasus ini, juga anda bukan?” tutur Jieji menanyainya.
Kali ini kepala polisi diam, dan terlihat berpikir beberapa saat sebelum menjawab. Dia tidak berani mengatakan secara sembarang dahulu. Tetapi saat sunyi ini kemudian menjadi “pecah” sesegera. Terdengar suara Jieji berteriak keras sekali.
“Kepala Polisi!!!!
Apa yang kau pikirkan?!?”
Kepala polisi terkejut juga. Sebenarnya dia sendiri sedang tenggelam dalam lamunan tentang kejadian kasus. Dia segera berpikir mencari celah untuk mengelak. Dia segera menjawab.
“Aku orang yang menyelidikinya…”
“Lantas kenapa kau perlu waktu yang lama untuk berpikir apakah kau bukan orang yang menangani kasus itu? Jawab Aku kepala Polisi!” tutur Jieji semakin keras.
“Aku….” baru saja kepala polisi hendak berpikir untuk berbicara, tetapi malah Jieji melanjutkannya.
“Kau sedang berpikir begini. Ini adalah hal yang ingin kau katakan : “Kasus itu sudah lewat puluhan tahun yang lalu jadi aku tidak begitu mengingatnya lagi.”
Bukankah hal sedemikian yang ingin kau katakan? Aku menanyaimu, selama 30 tahun, kasus mutilasi orang di Yun-nan ada berapa? Ha?” teriak Jieji makin sengit kepadanya.
Kepala polisi tidak sanggup berkata-kata sama sekali. Dia terlihat menundukkan kepalanya.
Sungguh hebat sekali pemandangan disini. Sesungguhnya dia-lah orang yang pantas menanyai tersangka dengan cara demikian. Tetapi kali ini berbeda, belum pernah terjadi sepanjang hidupnya “diinterogasi” oleh orang yang ingin ditangkapnya.
“Hanya sekali saja. Dan hanya sekali itulah anda menangani-nya. Dan hanya sekali juga kasus itu terjadi di sini.” tutur Jieji sambil melunak.
“Kau sudah mendapat sogokan…” Jieji terlihat menarik Meng Yangchu yang sudah terikat itu. Dia menyeretnya melewati teman-temannya, dan sekali sampai di samping kepala polisi tersebut.
Terlihat cukup payah juga Xia Jieji menarik raksasa bermarga Meng ini. Dia terlihat menyeretkan kakinya dengan kepayahan dan nafas yang tersengal-sengal. Memang sudah diketahui bahwa Meng adalah orang yang mungkin paling “berat” dibandingkan dengan semua penduduk Yun-nan.
Adalah sebuah kesempatan bagi kepala polisi saat itu. Melihat lawan “bicara-nya” sedang kepayahan di sampingnya. Segera saja dia mengambil kesempatan. Dia mengeluarkan sesuatu benda dari balik baju-nya untuk segera ditusukkan ke arah pemuda. Jarak mereka hanya paling 1 kaki saja saat tersebut. Dengan curang dia ingin mencelakai Jieji yang terlihat sedang serius menarik Meng.
Tetapi seharusnya ketika sesuatu benda menancap ke pinggang pemuda, namun hasilnya di luar dugaan. Sebab sepertinya sesuatu benda yang dipegang oleh Kepala polisi langsung lepas begitu saja.
Tangannya terasa nyeri sesaat itu dan terkejut-nya segera terjadi tidak buatan. Sebab beberapa jarinya sudah terputus dengan sangat cepat akibat ayunan tangan menusuknya.
Darah menyemprot cepat ke arah pinggang pemuda yang seharusnya dia celakai beberapa saat dan menetes ke tanah hebat sekali. Sedang kepala polisi terdengar berteriak kesakitan luar biasa.
Semua khalayak kontan merasa ngeri sekali melihat keadaan kepala polisi. Tidak ada yang tahu bahwa bagaimana cara Jieji mencelakainya. Yang jelas kesemua tahu bahwa ada “sesuatu” yang sedang dilakukan Jieji dengan gerakan secepat kilat.
“Kau melihatnya dik?” tanya Chonchu yang tahu bahwa Jieji telah melakukan sesuatu.
Yunying berbalik ke arah Chonchu. Dia tersenyum sesaat.
“Itu adalah jurus pedang surgawi membelah. Kipas terasa berat tadinya, sepertinya sastrawan tadinya juga sastrawan mengagumkan.”
“Kipas mengandung besi tajam di setiap sisinya. Itu adalah termasuk senjata juga.” tutur Lie Hui ke arah Chonchu.
Chonchu menganggukkan kepalanya.
Jieji memang bertindak cepat ketika sesuatu benda yang terasa tajam sedang mengancam pinggangnya. Kepala polisi ini ingin mencelakai pemuda yang terlihat sedang serius terhadap “barang” tepat di bawah kakinya. Namun, dia tidak pernah sekalipun menyangka bahwa Jieji sedang memainkan sebuah sandiwara saja.
Pemandangan di sana cukup mengerikan, penduduk yang menyaksikan hasil dari gerakan 1 kali ini membuat mereka menggigil. Tiga jari :jempol, telunjuk dan jari tengah sudah terbabat putus di tanah. Sedangkan darah seperti menjadi kuah dari daging “pendek” tersebut.
“Kenapa tidak kau akui saja? Akui saja bahwa dirimu, hakim, dan pejabat setempat juga terlibat akan kasus demikian.” tutur Jieji melembut melihat ke arah kepala polisi.
“Omong kosong!!!” teriak kepala polisi yang sedang menahan sakit yang merambat ke seluruh tangan kanan-nya.
“Ayo-lah…
Kau juga tidak akan lolos. Yun-nan memiliki hukum membunuh berarti mendapat hukuman mati. Kau tidak melakukannya, kenapa harus kau takut dihukum mati?” tutur Jieji kepadanya.
Kepala polisi meski kesakitan, tetapi dia tertarik mendengar perkataan Jieji. Namun, karena kepala polisi ini cukup takut dan merasa sangat susah mengakui kesalahan yang telah diperbuat ini diam saja. Dia memandang ke bawah tanpa berani berkata apapun.
Jieji memandangnya cukup lama tanpa berkata apapun juga. Kedua alisnya berkerut sambil menunggu pengakuan kepala polisi ini. Tetapi karena tidak kunjungnya polisi memberikan kesaksian di depan orang banyak. Dia kembali melanjutkan lagi.
“Aku merasa secepatnya ada orang yang sanggup memberikan informasi kasus tersebut ke Tali. Apa ada yang bersedia meminta pejabat Tali kemari?”
tanya Jieji kepada khalayak ramai.
Pernyataan Jieji banyak ternyata disambut ramai oleh beberapa pihak. Banyak orang yang terlihat dari kaum persilatan Yun-nan bersedia melakukannya. Jieji berterima kasih kepada mereka secara satu persatu.
“Bagaimana? Kita hanya menunggu?” tanya Yunying kemudian setelah dia maju ke depan.
“Tentu…
Kamu punya cara yang lebih baik?” tanya Jieji kepada isterinya kembali.
“Pengadilan dan pejabat di Yun-nan sudah pasti tidak akan menerima kasus tersebut setelah mereka mengetahui kepala polisi mereka gagal total. Dan keputusan kepala polisi tadinya dengan memberikan kasus ke pengadilan lebih tinggi di Zi Tong sudah mengandung maksud tertentu.” sahut Chonchu dari belakang Yunying.
Jieji mengangguk pelan, lantas dia menambahkan kata-katanya.
“Pengadilan di Zi tong ternyata juga mengambil andil dari kasus puluhan tahun di sini. Mereka tidak menyeret kita ke Tali karena di sana tidak ada orang-orang mereka. Sedang di Zi Tong yang jelas lebih jauh tentu mempunyai antek-antek dari Meng Yangchu sendiri.”
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa Meng-lah orang yang membunuh keluarga-nya sendiri? Aku tidak mendapat petunjuk cara berjalannya otakmu.” tanya Lie Hui segera ketika Jieji baru saja menyelesaikan kata-katanya.
“Wajar saja anda tidak mengetahuinya.” jawab Jieji sambil tersenyum.
“Sebab saat kematian putera keluarga Meng, kamu tidak berada di sana.”
Yunying yang mendengar tuturan Jieji, kontan bersemangat. Terlihat sekali bahwa dia ingin mengungkapkan semuanya. Lantas dengan cepat mendahului suaminya, dia berkata.
“Benar sekali. Sebenarnya putera Meng Yangchu juga tewas karena akibat cakar setan. Semuanya juga berawal dari obat ilusi yang ditebarkan oleh Meng Yangchu.
Malam itu, kita sudah berunding dengan pengurus rumah Gao untuk memancing orang berpakaian emas. Semua arahan kak Jieji sebenarnya sudah sangat baik sekali dan tanpa celah… Lalu ada beberapa hal yang kuherankan sesaat itu.”
“Hal yang kamu herankan inilah yang menjadi awal titik kasus Meng Yangchu. Tidak ada jejak kaki sama sekali di lapangan terbuka dan tidak ada rasa sedikitpun gerakan orang berpakaian emas di atap adalah kejanggalan yang luar biasa.
Saat kemarahan Meng meluap ketika menyaksikan kematian putera-nya, saat itu juga aku sudah tahu pelakunya adalah Meng Yangchu sendiri…” sahut Jieji.
“Masuk akal…
Saat itu, aku juga telah mencurigai Meng Yangchu. Dia membuat perangkap seolah orang berpakaian emas ingin membunuhnya. Padalah tujuannya hari itu adalah melenyapkan puteranya sendiri.
Mungkin puteranya mengetahui sedikit banyak rahasia dirinya. Dan juga saat itu dia ingin membunuhnya. Adalah sungguh kebetulan aku sudah berada di sana beberapa hari sebelumnya.” sambung Chonchu sambil berpikir.
“Dia membuat sedikit trik dengan memanfaatkan kita tentunya…
Ketika kita telah pergi untuk menyelidik wisma Meng yang lama. Chonchu seharusnya menyiapkan perangkap yang baik untuk orang berpakaian emas. Disinilah, saat yang baik bagi Meng sendiri untuk menghabisi puteranya sendiri.
Setelah benar dia melakukannya, lantas dia berbalik ke kamarnya sendiri. Hebatnya tiada saksi ataupun bukti yang menguatkan kalau Meng sebelumnya ada di kamar puteranya. Karena jurus cakar hebat itu saja yang bisa dijadikan petunjuk, namun cukup sedikit informasi bahwa Meng-lah orang yang membunuh puteranya.” sahut Jieji.
“Oleh karena itu, kamu tidak mengatakan bagaimana cara pembunuhan kepada khalayak ramai seperti sekarang?” tanya Yunying.
Jieji menganggukkan kepalanya saja. Dan kembali dia berkata.
“Meng Yangchu membunuh keluarganya sendiri adalah sebuah kasus yang cukup aneh dan jarang sekali terjadi di seluruh daratan tengah.
Yangchu muda saat itu mengalami kejadian yang sama persis dengan kejadian puteranya. Dia maupun puteranya telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat. Hebatnya, Meng Yangchu-lah yang menjadi “hakim” terhadap keluarganya sendiri.”
“Perkataanmu sungguh membingungkan…” tutur Yunying kepadanya.
Jieji melihat isterinya, sambil tersenyum dia mengeluarkan sesuatu benda dari dalam bajunya. Sebuah kertas putih terlihat tergores tinta hitam di sana. Dia memberikan kepada isterinya untuk dibaca.
“Pelaku pembunuhan dari awal hingga akhir hanya seorang Meng Yangchu. Aku memberimu tempo hingga tengah malam. Jika tidak, aku akan bertindak.”
Begitulah bunyinya tulisan dari surat tersebut.
“Ini berasal dari orang berpakaian keemasan?” tanya Yunying segera.
Jieji mengangguk.
“Sepertinya orang yang tahu kasus dari awal hingga akhir hanya dia-lah seorang saja.”
“Tetapi anehnya orang itu tidaklah membunuh Meng dari hari-hari sebelumnya. Ini sangat aneh bukan?” tanya Chonchu yang tidak bisa mengira apa hal yang sebenarnya terjadi.
“Kemungkinan saja…
Kemungkinan adalah orang yang mempunyai alasan kuat yang tidak akan melakukan hal pembunuhan.” tutur Jieji sambil melihat ke arah Lie Hui.
Melihat Jieji menatapnya secara langsung, membuat Lie Hui sendiri juga berpikir. Dengan cepat, dia telah menanggapi kata-kata Jieji.
“Jangan-jangan……”
“Kemungkinan…” jawab Jieji kemudian dengan pendek.
“Lokasi Ta-li cukup dekat dengan kota Yun-nan sekarang, seharusnya tidak lama lagi pengadil akan sampai.” tutur Chonchu.
Jieji tidak menjawab lagi perkataan temannya. Dia hanya berdiri diam mengawasi ke arah Meng Yangchu. Meng memang masih terlihat kepayahan karena terikat tali yang beberapa lapis tersebut.
“Kita harus pergi…” tutur Jieji kemudiannya.
“Tetapi kasus ini…” jawab Yunying dengan terkejut ketika Jieji baru saja menyelesaikan kata-katanya.
“Ada orang yang lebih rela menunggunya daripada kita sendiri.” tutur Jieji sambil tersenyum saja.
Dia berjalan membelakangi Meng yang sedang berlutut di tanah itu. Kemudian diikuti oleh teman-temannya. Khalayak memang cukup merasa aneh bahwa orang-orang ini dengan cepat ingin meninggalkan tempat. Ketika melewati sastrawan tadinya, Jieji memberikan kembali kipasnya.
“Sebuah benda yang cocok untuk membela diri…” tutur Jieji kepadanya sambil tersenyum. Sedangkan sastrawan itu terlihat tersenyum malu.
Mereka kemudian berjalan keluar kota melalui utara. Ketika sudah tidak ada penghuni di sana. Yunying baru menanyainya kembali.
“Kamu ini aneh sekali….”
“Tidak…” tutur Jieji memberi komentar.
“Orang berpakaian emas itu bisa mengatur segala hal. Tenang saja…”
Lie Hui berdiri berbalik dan diam di tempat. Ingin sekali dia kembali kelihatannya. Tetapi Jieji berkata kepadanya.
“Dia bukanlah ayahmu….”
Lie menoleh sebentar ke arah Jieji. Dia terlihat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli saja.
“Apa yang hendak kamu lakukan sekarang?” tanyanya.
“Membasuh muka tentunya terlebih dahulu….” tutur Jieji pendek sambil tertawa kecil.
3 Hari kemudiannya…
Ta-Li, Nan Zhao…
Sebuah negeri kerajaan yang luasnya tidaklah seberapa saja dengan penduduk yang jumlahnya juga tidak seberapa banyak. Kerajaan Tali pernah membuat gempar seluruh daratan tengah sekitar 200 tahun yang lalu yaitu mereka sempat menyerang dan menklaim Chengdu pada masa kacau di akhir dinasti Tang. Lalu kerajaan Tali sempat surut kembali ke Yunnan dan terakhir berjaya kembali pada tahun 930-an. Kerajaan Tali era baru didirikan oleh Duan Siping yang menjabat sebagai kaisar Tali yang pertama. Sudah berkuasanya 3 Kaisar Tali hingga sekarang dan Kerajaan Tali benar berada di bawah kekuasaan Sung utara. Namun kerajaan Tali adalah kerajaan yang memiliki hak kuasa penuh terhadap masalah intern mereka sendiri.
Di sebuah penginapan berikut restoran mewah sedang terlihat kacau. Banyak penduduk di sana sedang berkumpul seperti hendak menyaksikan keramaian yang tidak dibuat-buat.
“Kita bertaruh!!!”
“100 gelas!!!”
Pemandangan yang cukup aneh jika dilihat. Dari dalam restoran terlihat 2 orang yang berpenampakan jelas gagah. Umur keduanya sekitar 30-an. Tinggi keduanya mungkin hampir mencapai 7 kaki dengan wajah yang bidang serta memelihara jenggot. Keduanya hampir terlihat sebagai kembaran jika hanya orang-orang melihat sekilas.
Tetapi kejadian semacam demikian bukanlah pertama kalinya terjadi. Sudah puluhan kali sejak sebulan terakhir. Tidak ada orang yang mengenal keduanya, tetapi keduanya diyakini sebagai orang yang memiliki banyak uang serta berkungfu tinggi.
Setiap harinya, bahkan keduanya sanggup menghabiskan 100 kendi arak dengan hanya berdua saja dan ribuan gelas telah dilalui mereka berdua tanpa merasa mabuk sedikitpun.
Tawa mereka menggaungi ruangan yang terlihat mewah tersebut.
“Mengapa banyak sekali orang royal di sini? Aneh…”
tutur seorang wanita yang duduk bersama seorang pria di sebuah sudut ruangan restoran.
“Mereka adalah peminum yang luar biasa handal.” tutur seorang pria yang duduk bersebrangan dengan wanita.
“Sastrawan kaya, hakim yang selalu membeli mutiara, dan sekarang 2 orang gilak yang tahu minum setiap harinya saja. Mungkin mereka memerlukan 50 tael emas setiap hari kalau dilihat dari cara minum mereka itu.” tutur wanita yang terlihat agak kesal.
Pemuda tersenyum sesaat. Dia melanjutkan dengan pelan.
“Keduanya mempunyai tingkatan kungfu yang tinggi sekali.”
“Tidak mungkin? Dilihat darimana keduanya terlihat hanya orang biasa saja.” tanya wanita.
“Orang yang hebat adalah orang yang sanggup menyimpan tenaga dalamnya dengan sangat baik sehingga kelihatan dari cara ataupun gaya tidak bisa diketahui meski oleh seorang yang ahli.” tutur lelaki.
Wanita itu hanya duduk saja sambil sesekali mengambil sumpit untuk makan di sana. Sedangkan yang pria hanya duduk membelakangi kedua orang “gilak” tersebut sambil makan makanan ringan.
“Kasus itu…
Kamu ingin menyelidikinya?” tanya wanita itu tiba-tiba.
“Kita sudah diminta seseorang yang tidak kita ketahui sama sekali. Sepertinya di sini pun kita tiada kerjaan, kenapa tidak coba-coba saja untuk melatih otak?” tanya yang lelaki sambil tertawa ringan.
Wanita itu tersenyum sambil memegang pipinya.
“Setelah di sini benar selesai, kita menuju ke Tongyang terlebih dahulu. Bagaimana menurutmu?”
Pemuda melihat kedua bola mata wanita, sambil tersenyum dia mengangguk.
Ruangan restoran memang terasa ribut sekali dengan perbincangan keduanya yang keras. Meski demikian kedua orang kemudian tidak merasa terganggu sama sekali. Hingga sekitar beberapa saat kemudian, “suara” lain telah muncul. Suara langkah tergopoh-gopoh masuk ke restoran bisa di dengar siapa saja.
“Berita!!! Berita!!!!” teriaknya sepanjang jalan dan terdengar membahana.
Biasanya hal sedemikian sangatlah diminati oleh pemuda yang duduk di pojok, dan dengan segera dia bangun saja dan melihat ke arah orang yang berlari masuk itu.
Orang yang berlari masuk adalah seorang pemuda, berusia sekitar 20-an dan terlihat energik sekali.
Sedangkan 2 orang yang sedang minum dengan cara “hebat” itu segera memalingkan wajahnya. Satu di antaranya terlihat marah dan sambil berjalan mendekati pembawa berita. Dia mengangkatnya hanya dengan sebelah tangan.
“Berita apa!?” teriaknya.
Orang yang diangkat segera pucat sekali wajahnya. Dia gemetaran sambil hendak berkata.
“Meng….”
“Meng? Yang jelas!!!” teriaknya kembali.
“Saudara Wang… Letakkan dia terlebih dahulu.” teriak seorang peminum yang tidak beranjak dari tempatnya.
Orang bermarga Wang yang tinggi besar sempat menoleh sebentar, dan mengangguk. Dia segera menurunkan pemuda pembawa “berita” yang sepertinya telah mengacaukan kesenangan kedua peminum barusan.
Cukup perlu waktu yang lama juga sehingga pembawa berita tersebut menghilangkan rasa terkejutnya. Kemudian dia mulai berkata.
“Aku tidak tahu kalau kedua pahlawan berada di sini. Aku sungguh telah salah besar.”
Peminum di depan yang bermarga Wang terlihat tertawa keras beberapa lama, lantas dia berkata.
“Pahlawan? Sungguh kata-kata yang hancur berantakan. Ada kabar berita apa yang kau dapatkan?” tanyanya segera.
“Tentang kepala keluarga Meng, Meng Yangchu telah lolos dari penjara kemarin malam. Dia sepertinya di bantu oleh beberapa orang, kesemuanya adalah jago silat tingkat tinggi… Ini adalah berita yang hendak kusampaikan…” tutur orang ini sambil merendahkan kepalanya.
Peminum bermarga Wang tadinya memang masih tersenyum, tetapi sekarang wajahnya telah berubah. Dia melihat ke arah temannya yang masih berdiri sambil mengangguk pelan. Wajah keduanya terlihat segera serius menanggapi berita barusan.
“Kita harus pergi sekarang juga saudara Jia.”
Orang di ruangan tengah yang masih memegang kendi arak segera mengangguk. Keduanya berlari cepat sekali dan melompat hebat menelurusuri pintu depan yang terbuka lebar itu. Dan hanya sesaat saja kesemua orang yang berada di sana merasa heran sebab keduanya telah “raib”. Meski keduanya memiliki bentuk badan besar tinggi, tetapi kelincahan mereka berdua patut mendapat ancungan jempol.
“Kamu tahu siapa dia?” tanya seorang wanita cantik di pojok yang tentunya adalah Yunying kepada Jieji.
Jieji menatap sekilas ke pintu depan, lantas dia mengangkat bahunya pelan sambil menggelengkan kepalanya.
Istana kekaisaran Ta-Li…
Ruangan rapat utama terlihat telah dipenuhi banyak menteri-menteri yang berpakaian seragam warna merah. Sepertinya disini terlihat wajah masing-masing yang terasa menegangkan.
Kaisar Ta-Li sedang duduk di kursi kemegahan, memiliki wajah bidang yang tenang dan agung. Di lehernya terlihat terikat rantai yang terbuat dari mutiara dan ujungnya berbentuk giok kehijauan. Umur Kaisar Ta-Li sepertinya hanya 20-an atau 30 tahun saja.
Sungguh kontras wajah Kaisar dibandingkan dengan wajah para menteri-nya yang terlihat pucat pasi dan tidak tenang.
“Yang Mulia, kasus keluarga Meng semakin lama semakin terasa aneh sekali. Jebolnya penjara kekaisaran kita sungguh sangatlah mengkhawatirkan. Mohon segera Yang Mulia membuat keputusan melakukan pengejaran.” Yang berbicara di sini sepertinya seorang pejabat tinggi kekaisaran, dia berdiri di sebelah depan kanan. Jika diurutkan, biasanya orang yang berhak berbicara di sini adalah termasuk Perdana Menteri , Penasehat ataupun seorang guru kekaisaran.
“Penasehat Dong…
Berapakah perwira kita yang tewas?” Kaisar muda segera bertanya dengan wajah yang tenang sama sekali. Tidak nampak ketegangan di wajah pemuda agung cukup muda tersebut.
“Jumlahnya pas 43 orang termasuk 2 orang dayang istana yang kebetulan lewat saja.” jawab orang di depan, yang ternyata adalah Penasehat kekaisaran Ta-Li.
“Hmph…….”
Kaisar Ta-Li hanya berdengus sekali. Wajahnya yang tenang tadinya telah berubah, kedua matanya terlihat merah karena amarahnya yang meluap sesaat.
“Yang Mulia…
Pesilat yang menolong Meng Yangchu terdiri dari 6 orang. Mereka menerobos dengan ganas dan membunuh siapapun yang menghalangi tanpa terkecuali. Ini tidak bisa dibiarkan…”tutur Penasehat Dong kemudian.
“Adakah orang kita yang mengenal keenam orang itu? Dan adakah tanda-tanda atau ciri-ciri keenam orang tersebut?” Kaisar Ta-Li bertanya.
“Keenam orang dikenali 3 orang saja. Dan sungguh sangat kebetulan bahwa orang yang mengenali ketiga orang adalah orang yang berasal dari sekampung dengan pesilat-pesilat itu.”tutur Penasehat kembali kepada Kaisar dengan cara yang penuh hormat.
“Kalau begitu, sebarkanlah seluruh perintah ke seluruh negeri. Aku akan menulis surat untuk Kaisar Sung meminta mereka ikut dalam penangkapan Meng serta teman-temannya. Rapat dibubarkan sampai di sini saja!”Kaisar segera beranjak naik singgasana-nya untuk berjalan ke belakang.
Tetapi sepertinya Penasehat Dong menghalanginya dengan berkata-kata.
“Tiga orang adalah pesilat yang sangat handal sekali. Yang Mulia tentu pernah mendengar nama Pahlawan Selatan bukan?”
Kaisar Ta-Li menoleh dengan wajah yang terkejut.
“Maksudmu tiga orang, salah satunya adalah Xia Jieji?”
“Begitulah Yang Mulia…”
“Bawa masuk orang yang melihat Xia Jieji segera sekarang juga!”Kaisar segera memerintahkan seraya berteriak.
Tanpa perlu waktu yang lama, dengan tergopoh-gopoh seorang dayang yang agak tua segera masuk. Dia menjalankan adat sebagaimana dilakukan oleh hamba-nya terhadap Kaisar.
“Tidak perlu terlalu banyak basa-basi. Sekarang katakanlah semua dengan jelas…” Tanya kaisar sambil menunjuk dayang-nya yang sedang berlutut.
“Yang Mulia..
Hamba dahulu berasal dari Changsha di propinsi Jing selatan. Hamba pernah melihat ketiga orang yang semalam menyerang penjara istana kekaisaran…”
“Lanjutkan!” tutur Kaisar seperti sedang semangat atau seperti sedang ketakutan atau semacamnya.
“Ketiga orang ini diyakini adalah Xia Jieji, Yuan Xufen, dan Xia Rujian. Hamba berani memastikan ketiganya adalah benar mereka…” Sahut dayang kaisar Tali dengan yakin sekali.
Sementara itu, penasehat segera mengeluarkan sebuah kertas dari balik lengan bajunya. Kertas gulung yang berukuran tidak kecil segera di sodorkan ke arah Kaisar. Kaisar sempat membukanya sebentar dan melihat.
“Hmph?”
Kaisar terlihat marah. Dia berjalan ke belakang cepat tanpa memberi perintah apapun lagi.
Ruangan belakang istana kekaisaran…
Rapat sudah bubar karena kaisar Ta-li, Duan Jing membubarkannya dengan cara tidak terhormat. Sepertinya Kaisar merasa terpukul akibat “lawan-nya” bukanlah manusia sembarangan. Dia terlihat diam saja dan berpikir dengan wajah yang masam sekali. Cukup lama sepertinya Kaisar Tali tenggelam dalam pemikirannya yang dalam. Sampai sebuah suara yang memanggilnya pun tidak diketahuinya. Adalah sampai panggilan kedua, dia baru saja menyadarinya.
“Masuk…”
Di depan ruangan belakang terlihat dua orang “raksasa” melangkah dengan tenang. Sesampai di dalam, mereka berdua berlutut memberi hormat.
“Kalian berdua termasuk kakak seperguruanku. Jangan sesekali lagi berlutut menyembah seperti demikian.”
Tetapi keduanya berdiri juga setelah memberi hormat sekali lagi.
“Kabar yang kita dapat di kota menyatakan bahwa Meng Yangchu sudah lolos.” Tutur orang yang di sebelah kiri.
“Betul kakak seperguruan Wang. Mereka membunuh banyak anggota pasukan kekaisaran kita.”
“Empat puluh tiga orang dibunuh dalam sekejap. Kecuali kita bertiga apa ada orang di Ta-Li sanggup melakukannya?”tanya Wang dengan terkejut sebentar.
Kaisar Duan Jing segera mengeluarkan sesuatu benda yang sedari tadi disimpannya di balik lengan bajunya kepada orang bermarga Wang tersebut.
Wang menerimanya dengan hormat, dan dengan cepat dia membukanya. Sedangkan saudara perguruannya yang bermarga Jia melakukan hal yang sama. Dia menjulurkan kepalanya ke samping untuk melihat.
Digulungan kertas ternyata terpampang wajah tiga orang. Wajah pertama adalah orang yang berwajah agung, umurnya sekitar 50-an mungkin, wajahnya dihiasi kumis dan jenggot. Di tengah tergambar seorang pemuda berwajah tenang, umurnya 30-an dengan alis yang agak tinggi dan wajah yang agak lebar. Sedangkan di sebelah kanan terlihat gambar seorang wanita cantik, hanya dengan melihat lukisan saja sudah bisa diyakinkan bahwa wanita ini adalah wanita yang cantik luar biasa jika benar hidup.
“Kakak Wang, lihatlah. Kedua orang ini bukankah?”
teriak Jia sambil tidak percaya.
“Kedua orang terlihat di restoran Qian Li Xiang barusan saja.” tutur Wang melihat ke arah Kaisar Duan Jing.
“Benarkah saudara seperguruan Jia Shan?” Tanya Duan seakan tidak percaya.
Wang membenarkan pernyataan Jia untuk meyakinkan kaisar Duan.
“Kalau begitu, kita berdua segera kembali ke sana untuk meringkus keduanya…” Wang berkata seraya berangkat. Dia diikuti oleh Jia Shan cepat. Sedangkan Kaisar Duan segera masuk ke dalam kamar, sepertinya dia sangat tertarik dengan kejadian ini.
***
Restoran dan Penginapan Qian Li Xiang…
Sudah sejam berlalu sejak kedua orang peminum meninggalkan restoran ini. Keramaian memang masih terasa meski kedua “gentong arak” sudah pergi. Meja makan di sudut yang tadinya diduduki sepasang pemuda dan pemudi sudah kosong. Sekarang ketiga orang berdiri di depan pintu masuk sambil was-was untuk melihat sekeliling.
Para penonton ataupun penghuni penginapan sepertinya bergembira kembali karena mereka merasa bisa menyaksikan tontonan yang hebat kembali. Tetapi kali ini dua orang terlihat sangat serius menyapu ruangan dengan keempat bola mata mereka. Sedangkan orang di tengah yang terlihat berwajah agung dan tenang juga melakukan hal yang sama.
Tidak lama, ketiganya melangkah ke dalam karena “buruan” mereka sepertinya telah “hilang”. Ketiganya beranjak ke kasir restoran sekaligus penginapan.
Wang terlihat meletakkan 1 tael emas ke arah kasir yang agaknya sudah berumur.
“Katakanlah, dimana sepasang pemuda pemudi yang tadinya sempat duduk di sana.” katanya sambil menunjuk ke arah tadinya Jieji dan Yunying duduk.
Kasir yang menerima uang 1 tael emas segera tersenyum, dia menengok ke atas sambil menunjuk. “Keduanya tinggal di atas, di kamar sebelah sana. Sepertinya keduanya adalah sepasang suami-isteri.”
Kaisar Duan Jing, Wang Xin, dan Jia Shan segera melihat ke atas. Pandangan mereka tajam ke arah yang ditunjuk kasir. Segera saja, ketiganya beranjak dari sana dan menaiki tangga dengan perlahan.