Pahlawan dan kaisar 25

By abanstn

Karena dengan kecepatan yang sangat luar biasa, mereka melihat sebuah sinar terang sekejap. Hasilnya, adalah yang paling tidak di sangka semua orang. Cairan merah terlihat telah muncrat ke meja tempat duduk pemuda sebelumnya. Sedang di bahu pemuda, terlihat sebilah pisau tertancap cukup dalam sekali.

Wanita penari adalah orang yang menancapkan pisau yang disimpan di balik perutnya. Anehnya, Jieji tidak menghindar meski dia memiliki ilmu silat yang tinggi. Apakah benar rasa mabuk terlebih menguasainya sehingga dia tidak mampu lagi bergerak sedikitpun?

Yunying dan Zhao kuangyin adalah 2 orang yang pertama sampai untuk melihat keadaan Jieji yang berlumuran darah di daerah baju sebelah kirinya.

Wanita penari yang menusukkan pisau segera berteriak kegirangan.
“Akhirnya dendam telah terbalaskan!!!”

Begitulah suara wanita ini dengan antusias sekali berulang-ulang. Tetapi tawa kegirangannya tidak berlangsung lama, karena di hentikan oleh sebuah suara. Suara yang sangat dikenal oleh wanita ini tentunya.

“Betul…
Sepertinya dendam-mu benar telah terbalaskan.”

Wanita yang tadinya berteriak kegirangan ini segera menoleh cepat ke arah pemuda yang tadinya sempat terlungkup di meja. Tentu dengan wajah yang sangat terkejut seakan tidak percaya dia menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Zhao Kuangyin segera melihat keadaan adik keduanya dengan wajah yang penuh cemas.
“Kau tidak apa-apa?”

Jieji melihat ke arah kakak pertamanya sambil tersenyum pelan. Yunying sangat cemas terlihat karena melihat banyaknya darah yang mengucur dari bahu Jieji.
“Kenapa kamu tidak menghindar?”

Jieji tidak menjawab pertanyaan isterinya. Melainkan dia berdiri dengan pelan sambil menatap ke arah wanita penari itu.

“Tangkap wanita itu!!!”
Sesegera terdengar suara teriakan orang yang di tengah balairung yang tentu tiada lain adalah Kaisar Persia.

Tetapi ketika para pengawal yang telah siap sedia dia depan pintu utama beranjak masuk. Mereka dihentikan oleh sebuah suara.
“Jangan bergerak terlebih dahulu.”

Para pengawal terlihat diam di tempatnya. Orang yang berteriak tiada lain adalah pemuda yang berpakaian putih dan berlumuran darah. Pemuda ini mengangkat tangannya sebelah.
“Tidak disangka bahwa ayahmu sudah meninggal.”
Tutur pemuda dan melihat ke arah penari itu.

Wanita penari itu segera membuka tudung wajahnya segera. Wajah di sana adalah wajah seorang wanita yang cantik. Namun sinar matanya sangat buas memandang ke arah pemuda yang terluka ini.
Mereka semua terkejut ketika melihat wanita cantik di depan yang tadi baru saja gagal dalam pembunuhan gelap adalah puteri dari Partai bunga senja, Huo Thing-thing.

“Aku bersumpah akan membalas dendam selama diriku hidup!” teriak wanita ini dengan marah sekali.

Jieji menggelengkan kepalanya menatap dengan wajah penyesalan.
“Seharusnya bukan aku yang kau cari. Oh…
Aku tahu, berarti orang yang membunuh ayahmu sudah kau selesaikan bukan begitu?”

Wanita ini meski marah, tetapi mendengar tuturan Jieji maka dia terkejut juga.
“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ayahmu dibunuh oleh orang rendahan saja. Dengan kemampuanmu, seharusnya kau sudah bisa membalas dendam. Dan seharusnya kau bukan mencariku untuk balas dendam terlebih dahulu.” sahut Jieji.

Sekali lagi, Huo Thing-thing terlihat sangat terkejut. Dia tidak percaya bahwa apa-apa hal sudah diketahui oleh Jieji sejak awal.
“Kau tahu karena adanya pencuri ulung ini, Lie Hui?”

Jieji menggelengkan kepalanya.
“Kamu salah.
Aku dan ayahmu punya dendam sedalam lautan. Aku tidak membunuhnya 2 hari yang lalu bukannya aku merasa tidak sanggup. Karena dengan upaya sebaik-baiknya, aku tidak ingin hal seperti hal ini terjadi di kemudian harinya. Tetapi sepertinya apa usahaku adalah sia-sia belaka.”
Pemuda terlihat menghela nafas panjang ketika dia selesai mengucapkan kata-katanya.

“Aku menanyaimu kenapa kau bisa tahu hal ini? Kenapa kau bisa tahu kalau aku pura-pura menari saja? Dan sikapmu itu, kau memang sengaja memancingku.” tanya Thing-thing dengan wajah penuh kemarahan di satu sisi, dan di sisi lainnya penuh rasa penasaran.

“Hm…
Kau salah lagi sekali. Aku tidak pernah bermaksud menghindar tadinya. Tetapi yang sangat kuherankan adalah tusukan pisaumu tidak bisa mengenai titik mematikan dari tubuhku. Oh…
Aku tahu. Kau pasti berpikir aku akan menghindar, tetapi karena kecepatanmu tidak secepat daya hindarku, maka kau mengambil sikap untung-untungan dan berharap aku menghindar ke arah kiri dan tentu tusukan pisaumu saat itu akan mengenai batok kepalaku. Bukan begitu, puteri Thing-thing?”

Thing-thing terlihat mendengus sekali dengan marah. Dia menatap ke arah Jieji.
“Dari mana kau bisa tahu aku ini bukan seorang penari.”

Sepertinya Jieji dari tadi menghindari pertanyaan tersebut. Sudah ketiga kalinya, wanita cantik tetapi kejam ini mengajukan pertanyaan yang sama. Namun, akhirnya Jieji menjawab juga.
“Meski kamu adalah jago penari, tetapi untuk seorang pesilat tangguh masih bisa terlihat jejaknya meski dia sanggup menyimpan tenaga dalamnya sedemikian rupa. Gaya gesekan sepatumu lain dari penari lainnya. Seorang pesilat biasanya memiliki keseimbangan yang jauh lebih baik dari seorang penari biasa saja. Ini hal pertama.”

“Hm…
Lalu ada hal lainnya? Dan mengapa kau tidak menghindar meski sepertinya kamu memiliki kesempatan karena sejak awal kau sudah tahu aku ada di sini?”

“Hal yang kedua adalah, hal yang bisa kupastikan dengan sangat baik. Yaitu bau-mu, bau tubuhmu.” tutur Jieji sambil menatapnya serius.

“Kau seperti binatang pencium. Pantas aku kalah denganmu.” sahut wanita ini dengan senyuman mengejek.

Yunying sangat marah karena pernyataan wanita partai bunga senja ini. Memang Yunying pernah tahu bagaimana Jieji disiksa oleh wanita kejam ini di penjara partai. Dan bagaimana perlakuan wanita sadis ini kepada suaminya. Dan sejak awal, dia sudah tidak suka dengan tingkah wanita ini. Dia beranjak maju dan berniat untuk buat perhitungan dengan Thing-thing. Tetapi dia segera dihalangi oleh Jieji. Pemuda terlihat menghalangi dengan sebelah tangannya.

“Kau salah. Bau tubuhmu pernah kucium sekali. Bukan berarti bahwa ada yang khusus dengan bau tubuhmu. Aku cuma berniat memastikan makanya dengan sengaja tadinya aku berpura-pura mabuk dan bertingkah gila. Meski aku tidak memastikannya, kau pasti mencari cara untuk membunuhku juga, bukan begitu?”
tanya Jieji.

“Sekarang aku sudah jatuh ke tangan kalian. Mau bunuh atau apa terserah kalian.” sahut Thing-thing dengan marah dan menunjuk ke arah Jieji dan kawan-kawannya.

“Bagaimana jika kuberi kau kesempatan sekali lagi?” tanya Jieji kepadanya sambil tersenyum.

Semua orang sangat terkejut mendengar kata-kata Jieji ini. Yunying dan Zhao kuangyin segera menuju ke depan guna menghalangi. Tentu kata-kata Jieji tidak saja membuat kawan-kawannya cemas, tetapi Thing-thing terlebih-lebih lagi, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Pahlawan selatan.

“Aku tidak pernah mengingkari kata-kata yang pernah kuucapkan.” tutur Jieji sambil tersenyum serius kepadanya.

“Kau!”
teriak wanita ini sambil menunjuk dan tidak percaya.

Dengan cepat, Jieji mencabut pisau yang tadinya masih menusuk dalam di bahu. Darah tentu kontan muncrat keluar seiring dicabutnya pisau. Dia lemparkan ringan ke arah Thing-thing. Dengan sangat mudah, wanita ini menjemput pisau yang dilempar itu.

Sekarang sebelah tangan Thing-thing telah tergenggam pisau yang belepotan darah. Dia segera beranjak maju ke depan dengan pisau tergenggam kuat di tangannya.
Yunying dan Zhao kuangyin segera saja maju untuk menghalangi tindakan wanita “gila” ini.
Tetapi sekali lagi, Jieji menghalangi pergerakan mereka. Dia maju tegap ke depan sambil melihat ke arah kakak pertamanya.
“Tidak apa-apa.”
begitulah sahutnya pelan sambil beranjak maju.

Sekarang jarak antara Jieji dan Thing-thing telah dekat sekali. Dia mengamat serius ke arah pemuda yang sepertinya sama sekali tidak takut apapun. Dengan cukup bingung, dia menanyainya.
“Kenapa? Kenapa kau bisa bertindak demikian?”

“Ini adalah permusuhan antara aku dengan kau. Jika kau merasa bisa melampiaskan amarahmu yang konyol itu, maka aku akan rela dibunuh olehmu.” tutur Jieji dengan serius dan tegas.

Mendengar tuturan Jieji, Thing-thing terlihat serba salah. Dia memang sudah mengangkat pisaunya untuk diarahkan ke dada Jieji, tepat di sebelah kiri dada pemuda yaitu arah jantungnya.

“Dan satu hal lagi.
Kau tidak usah takut sama sekali, karena aku meminta kepada saudaraku, teman-temanku untuk tidak pernah membalas dendam kepadamu. Setelah membunuhku, kau bisa pergi dengan tenang.” sahut Jieji dengan tegas.

Yunying, Zhao kuangyin, Yuan Jielung dan Lie Hui telah terlihat sangat cemas. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda. Kenapa Jieji nekad ingin menyerahkan nyawanya kepada wanita sadis itu. Jika dihitung-hitung, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya dendam ini sangat layak dibalaskan Jieji karena Huo Xiang-lah orang yang membunuh Hikatsuka Oda. Dan Huo Xiang juga-lah orang penyebab kematian tetua Kaibang serta tetua dunia persilatan Zeng Qian hao alias Pei Nanyang.

Pisau yang dipegang oleh Thing-thing terlihat bergetar kuat ketika Jieji mengucapkan kata-kata terakhir itu. Amarah di matanya seakan sengaja dikuatkan supaya dia sanggup menusukkan pisau yang di tangannya dengan sekali hentakan tangan ke depan saja.
Ruangan yang tadinya hiruk pikuk akibat suara-suara dan musik-musik telah berubah jauh berbeda. Sekarang sudah sangat hening sekali. Meski sebatang jarum yang jatuh ke lantai pun dapat terdengar. Suara nafas pelan beberapa orang terdengar jelas, suara nafas tegang beberapa orang juga dapat terdengar.

Sedangkan hanya terdengar sebuah suara nafas yang memburu, suara nafas seorang wanita yang “menguasai” ruangan itu.
Cukup lama kondisi dan keadaan itu berlangsung, sampai sebuah suara tiba-tiba mengacaukan keadaan. Sebuah suara besi yang berlaga cukup keras terdengar di lantai, dan diikuti dengan suara derap langkah kencang berlari meninggalkan balairung itu.

Semua orang bingung melihat hal demikian, tetapi hanya Jieji yang diam di tempat mengawasi kepergian wanita itu sambil menghela nafas. Wanita cantik dan sadis ini tidak sanggup bertindak karena kecamuk hatinya yang sangat susah diukirkan lewat kata-kata.

Maka demikianlah hal dendam antara Xia Jieji dan Partai bunga senja telah selesai. Di hari kemudiannya, Huo Thing-thing tidak pernah lagi mengungkit sebuah kata “balas dendam” demi ayahnya lagi.

Seperti yang dikatakan oleh Jieji, setelah mereka mendapat informasi kematian Huo Xiang maka mereka akan meninggalkan Persia. Yaitu sehari kemudian setelah kejadian pembunuhan gelap Thing-thing, mereka kesemuanya meminta pamit kepada Raja Persia dan menuju ke selatan.

Dalam perjalanan…
Yunying tersenyum manis sepanjang harinya. Sebab apa yang diperkirakan dan membuatnya jengkel kemarin adalah pikiran-pikiran yang tidak-tidak saja. Sebenarnya dia sangat yakin terhadap suaminya, tetapi kadang hal yang bisa mengakibatkan cemburu ataupun kesal sangatlah susah dibendung oleh seorang wanita, meski Yunying adalah wanita yang sudah termasuk luar biasa.

“Apa yang kau pikirkan? Sepertinya kamu dari tadi hanya tersenyum saja. Melihatmu saja aku merasa cukup aneh.” kata Jieji membuyarkan lamunannya. Mereka berdua duduk di satu kereta kuda. Sedangkan Lie Hui, Yuan Jielung dan Zhao kuangyin duduk di kereta kuda yang lainnya.

Yunying tidak menjawabnya sama sekali. Dia hanya terlihat mengerutkan dahinya sebentar dan sambil tersenyum manis ke arah suaminya.

“Nah.. Kamu mulai aneh. Tetapi sepertinya aku bisa menebak isi hatimu.” jawab Jieji sambil tersenyum menggoda kepadanya.
“Kamu pertama kesal karena sikapku, tetapi karena sikap jantanku kemarin membuatmu sangat bangga, bukan begitu?”

“Tidak tahu malu!!!” teriak Yunying sambil tertawa malu. Warna wajahnya terlihat memerah dengan sekejap, sebab tebakan Jieji sangat tepat. Biasanya seorang wanita kalau isi hatinya diketahui dengan baik oleh seorang pria, maka tentu dia merasa malu meski oleh orang terdekatnya sekalipun.
“Oh..
Bagaimana kau tahu bahwa Huo Thing-thing tidak akan menusukkan pisau ke jantungmu? Saat itu aku takut sekali, tetapi setelah dipikir aku tahu sedikit maksud hatimu.”

Jieji tertawa terbahak-bahak mendengar tuturan Yunying.
Setelah tertawa beberapa lama, Jieji menyahuti pertanyaan Yunying.
“Kamu tahu..
Wanita itu sangat tinggi hatinya dan sikap egoisnya sangatlah luar biasa. Jika aku takut, mungkin dia makin berani. Tetapi dengan begini, semua hal selesai dengan baik. Dan ini adalah hal yang sangat kuharapkan benar.”

Yunying mendekat ke arah Jieji, sambil meletakkan kepalanya ke bahu pemuda dia menutup matanya dengan tersenyum manis sekali.

Perjalanan dilanjutkan dengan lancar saja. Arah yang dituju mereka adalah daerah selatan dan mencari pelabuhan. Sepertinya perjalanan kali ini sengaja tidak dilakukan lewat darat, melainkan lewat lautan. Dari arah Persia selatan, jika berlayar cepat maka dalam seminggu mereka bisa mencapai India. Dan dari India timur mereka berencana untuk berlayar dan menuju ke arah Yun-nan.

Sebulan kemudian…

Yun-nan, daerah selatan dari daratan tengah. Atau lebih tepat barat daya dari daerah daratan tengah. Sebuah daerah yang cukup subur, dengan penduduk lebih dari 5 laksa jiwa dan suhu yang jelas lebih tinggi dari daratan tengah. Yun-nan adalah tempat dengan hasil pertanian bagus setiap tahunnya.
Tiga orang yang berkuda terlihat jelas memasuki kota Yun-nan lewat pintu barat. Seorang pemuda yang duduk di sebuah kuda khusus terlihat melaju pelan. Cukup menarik perhatian bagi siapa saja melihat pemuda ini. Dengan berpakaian sastrawan dan berwajah sangat tampan dan muda dia terlihat santai. Sedangkan di belakangnya terlihat 2 orang wanita cantik. Yang satu berwajah sangat putih dan warna wajah agak memerah merona, seorang wanita yang sangat cantik sekali. Sedang di sampingnya juga seorang wanita cantik.

Dengan melihat sekilas saja, semua penduduk kota tahu benar bahwa ketiga orang ini bukanlah orang dari daerah Yun-nan, sebab cara berpakaian penduduk Yun-nan agak lain dari penduduk daratan tengah lainnya.
Ketiganya terlihat menuju ke salah sebuah penginapan dengan santai.

“Kenapa kau ngotot memakai wajah ini?” tanya wanita nan cantik heran kemudian setelah mereka masuk ke penginapan. Wanita ini adalah Yunying tentunya.

Pemuda tertawa saja, tetapi tidak menjawab.

“Ini karena dia tidak ingin dikenali seorang.” jawab wanita cantik lainnya sambil tersenyum. Wanita ini tiada lain adalah Lie Hui.

“Jadi kemungkinan paman-ku ada di kota ini? Memang wajahmu sekarang dengan wajahmu ketika kecil tiada berbeda?” tanya Yunying yang sepertinya sangat tidak setuju melihat penampilan Jieji.

Dengan membuka topeng kulit, Jieji tertawa sekali lagi.
“Bukan begitu. Aku jelas berbeda wajah ketika kecil dengan sekarang. Yang kuinginkan adalah aku tidak ingin ada yang tahu hubunganku dengan ayahku yang memiliki wajah yang cukup mirip denganku.”

Diterangkan demikian, akhirnya Yunying mengerti juga. Tetapi dia masih ngotot.
“Apakah ayahmu pernah kemari? Atau ada masalah kamu menggunakan wajahmu yang asli? Kamu sungguh aneh.”

“Bukan begitu maksudku. Aku tidak takut dikenali saja oleh siapapun. Buktinya jika aku tidak ingin dikenali, maka kuda bintang biru bisa saja kupinjam ke kakak pertama ketika dia dan Ketua Yuan pulang ke Shandang. Ada hal lain lagi yang tidak bisa kuceritakan sekarang.” tutur Jieji sambil tersenyum.

Yunying hanya menggelengkan kepalanya saja.
Sementara itu, Lie Hui meminta pamit kepada mereka berdua sebab katanya dia ingin menyelidiki sesuatu di kota. Jieji telah berjanji untuk membantu nona ini tentunya dengan tujuan bahwa dia juga ingin sekali mendengar kabar tentang Huang Qian, sahabat tua-nya itu yang telah tidak pernah terdengar kabarnya lebih dari 20 tahun.

“Darimana kamu akan memulai penyelidikan?” tanya Yunying kemudian setelah beberapa lama.

“Aku tidak tahu. Tetapi aku harus mencari penyebab dendam turunan keluarga Meng dahulu. Mungkin dari sini kita mulai.” jawab Jieji sambil tersenyum.

“Tetapi petunjuknya cukup sedikit, bukan begitu?” tanya Yunying kembali.

“Tidak juga. Jika petunjuk sedikit, maka akan kucari cara lainnya.”

“Bagaimana? Kamu tidak pernah mengatakan sesuatu kepadaku secara jelas. Kamu takut aku jadi mata-mata?” tanya Yunying yang kesal dan tersenyum geli kemudiannya.

“Bukan begitu. Aku tidak yakin ini bakal berhasil.” jawab Jieji sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Yunying segera tertarik melihat sebuah benda yang dikeluarkan Jieji dari balik bajunya yang tiada lain adalah sebuah lukisan. Lukisan yang digulung sedemikian rupa yang cukup kecil yang entah kapan dimiliki oleh Jieji.
Pemuda membuka gulungan pendek lukisan itu dengan wajah tersenyum.

Yunying melihatnya terkejut. Adalah sebuah gambar wajah seseorang terpampang di sana. Orang yang sekiranya umur 40-an dengan kumis dan jenggot yang tipis terlihat.
“Jadi dia adalah pamanku, Huang Qian?”

Jieji menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Benar. Kamu pintar…”

“Kamu ingin menyelidiki dari sini mulainya?” tanya Yunying mengerutkan dahi.

“Betul…
Pencuri ulung sekarang mencari bahan untuk membuat wajah. Kita bisa mengunjungi wisma Meng di sini dan memakai wajah saudara Huang Qian untuk mengunjungi mereka. Jika ada yang bisa mengenali wajah ini, maka kemungkinan bahwa pamanmu atau sahabat dekatku itu pernah kemari.” jelas Jieji.

“Pintar…” jawab Yunying pendek sambil tersenyum.

Tidak lama kemudian, pencuri ulung alias Lie Hui sudah kembali.
Di tangannya dia membawa sebuah buntalan, dan tersenyum lebar dia memasuki ruangan kamar penginapan.

“Kamu sudah dapat petunjuknya?” tanya Jieji yang melihat perubahan mimik Lie.

Lie Hui mengangguk pelan. Lantas dia berkata.
“Begini…
Aku memberi 10 tael emas kepada seorang tua yang sepertinya tahu sedikit hal.
Dia berkata sekitar 40 tahun yang lalu, dia pernah melihat wajah seorang pemuda yang mirip dengan lukisan. Dan dia berkata, dia hanya tinggal 3 hari di kuil Zhu Fu. Saat itu, orang tua ini adalah seorang pelayan di kuil itu yang mengurus sembahyang. Tetapi orang di lukisan itu tidak pernah mengungkit apapun mengenai kasus, melainkan dia selalu menikmati sejarah kuil itu. Dan hanya itu saja.”

“Aneh…”
tutur Jieji sambil berpikir.

“Apa ada yang aneh dengan tindakan orang itu? Kamu pikir orang tua itu berbohong?” tanya Lie Hui.

“Tidak juga. Melihat sifat ayahmu, tidak mungkin dia membiarkan kasus itu begitu saja di hadapannya. Sepertinya kuil Zhu Fu juga harus kita kunjungi selain wisma Meng.” jelas Jieji.

“Sekarang sudah malam, bagaimana jika besok pagi kita beranjak menuju ke kedua tempat itu?” tanya Yunying.

“Sudah pasti, karena ada sesuatu yang harus diselesaikan nona Lie Hui malam ini juga.” tutur Jieji sambil tersenyum.

Lie Hui membalas senyuman Jieji sambil mengeluarkan buntalan tas kecilnya untuk memulai melakukan sesuatu.

Keesokan harinya…

Pagi sekali, ketiganya telah berangkat dari penginapan. Arah yang dituju ketiganya adalah Kuil yang disebut di atas itu. Namun, penampilan pemuda kali ini sudah agak lain. Dia merubah wajah dirinya menjadi wajah Huang Qian atau sahabat lamanya itu, mengganti bajunya dengan baju yang hampir mirip dengan baju yang sering dikenakan orang ini. Tetapi rupa-rupanya bukan Jieji saja yang mengubah wajahnya, melainkan Yunying dan Lie Hui juga mengganti wajah. Kedua orang ini lebih aneh karena mengubah diri mereka menjadi kakek dan nenek.
Entah apa maksud semuanya, tetapi ini adalah akal dari Jieji sendiri.

Tidak jauh dari Kuil Zhu Fu, ketiga orang ini berjalan cukup pelan seakan mereka termasuk orang tua yang berjalan saja sudah cukup kepayahan. Daerah kuil ini sepertinya jarang ada orang, dan cukup sepi juga meski saat itu termasuk sudah pagi.

Tetapi ketiga orang yang mendekati kuil itu terkejut juga ketika mereka melihat pemandangan luar biasa di depan sesegera.
Di depan Kuil yang sepertinya kurang terurus dari jauh terlihat adanya seorang bertopeng emas dan berpakaian kuning keemasan sudah siap siaga untuk menantikan sesuatu.

“Hati-hati..” bisik Jieji yang berpenampilan Huang Qian dengan suara yang sangat pelan sekali.

Ketiga orang yang tadinya bermaksud masuk ke kuil, akhirnya berpura-pura mengambil daerah samping jalan untuk menuju ke arah kanan.
Tetapi, baru saja mereka mengalihkan pandangan ke samping. Baik Jieji maupun Yunying segera merasakan gerakan orang dari kejauhan yang cepat sekali menyusul.

Merasakan bahaya. Dan tahu bahwa mereka bertiga adalah orang yang diincar mengakibatkan mereka mau tidak mau membongkarkan identitas mereka dengan cepat. Langkah orang yang mendekat bukanlah langkah pesilat biasa. Langkah pesilat yang sangat tangguh terasa mendekat.

Adalah nenek yang tadinya sangat kepayahan segera berpaling cepat ke samping. Dia arahkan tapak dengan cepat ke arah orang yang mengejar.
Sungguh sangat cepat pergerakan orang berpakaian emas. Sebab tanpa di sangka sekalipun, tapak yang dihantam nenek ini yang sudah sangat cepat masih bisa berlaga dengan tapak lawannya.

Sesegera saja hawa penyerangan menyebar ke seluruh penjuru dengan hasil penyerang berpakaian keemasan terpental belasan langkah ke belakang. Sementara itu nenek malah tiada apa-apa dan berdiri tegak saja sambil memandang ke depan.

Jieji melihat ke depan, dia menyadari bahwa pukulan nenek itu alias Yunying memang bukanlah pukulan sembarangan lagi. Tetapi Yunying hanya bisa membuatnya terpental tanpa terluka tenaga dalam karena posisinya yang jelek tentu membuatnya sadar bahwa penyerang itu bukanlah orang biasa.

Nenek terlihat segera ingin beranjak cepat ke depan. Tetapi penyerang berpakaian emas segera merapal jarinya ke depan. Sesaat…
Jieji terkejut juga, sebab jurus demikian cukup mirip dengan rapalan jurus yang biasa dikeluarkannya.

“Awas!!!” teriak Jieji tertahan.

Nenek yang maju itu terkejut juga sebab dia memang melihat bahwa orang berpakaian keemasan sedang mengarahkan jarinya ke depan. Tidak ada sesuatu perubahan seperti terlihat sinar seperti Ilmu jari dewi pemusnah, tetapi dari arah depan Yunying merasakan sesuatu benda nan tajam sedang mengancam jiwanya.

Lalu, dengan tarikan nafas panjang dan cepat. Yunying mundur dan melingkarkan tapaknya 1 lingkaran penuh. Alhasil hawa pedang tak berwujud yang keluar dari jari itu berhasil di pentalkan.
Jieji sangat mengkhawatirkan keselamatan Yunying yang berpenampilan nenek itu, dan segera mungkin dia beranjak maju ke arah Yunying.

Hawa jari pedang ini bukan hawa jari pedang biasa, karena selain tak berwujud maka hawa pedang ini jauh lebih tajam dan cepat dari hawa jari pedang Ilmu jari dewi pemusnah tingkat tertinggi.

Jieji telah sampai ke tempat posisi berdiri nenek dan hawa jari pedang sepertinya telah berhasil dibelokkan sedemikian rupa. Tetapi hawa pedang segera mengambil tumbal yaitu sebuah tiang bangunan segera roboh akibat hawa jari yang kuat itu.
Tetapi ketika ketiganya berusaha melihat ke arah penyerang yang berpakaian emas itu, dia sudah menghilang tanpa jejak sama sekali.

“Ini sungguh berbahaya.” tutur Jieji ke arah Yunying.

Yunying setuju, dia menganggukkan kepalanya sambil menatap serius ke arah tangan kanannya. Lima goresan tipis yang mengeluarkan bercak darah sudah terjejak jelas di lengannya yang sangat mulus itu.

Pemuda segera mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk melap dan membalut darah yang keluar meski hanya sedikit saja.

“Ilmu jari yang aneh dan belum pernah terlihat maupun terdengar di dunia persilatan.” kata Lie Hui sesegera yang berpenampilan kakek.

Jieji kembali membenarkan pernyataan.
“Betul, benar-benar di luar sangka bahwa ada yang menguasai Ilmu jari sedemikian hebat. Benar-benar membuka mata.”

“Jika dia tadinya menyerang dalam keadaan tiba-tiba, maka kita berada dalam bahaya besar.” tutur Yunying mengingat.

“Lawan di daerah gelap, sedangkan kita terang-terangan. Sepertinya penyamaran di sini sudah tidak begitu dibutuhkan lagi.” sahut Lie Hui.

“Tidak juga.
Mungkin saja orang itu hanya kebetulan menyerang karena kita mendekati kuil. Atau bisa saja karena samaran dari Kak Jie yang menarik perhatiannya.” tutur Yunying sambil melihat ke arah Jieji.

Tetapi disini Jieji tidak menyahut perkataan mereka berdua. Dia hanya diam saja dan berpikir. Sesekali terlihat dia menggesekkan jarinya pelan ke bibirnya dan mengelus dagunya. Dan karena melihat Jieji sedang serius berpikir saja, keduanya tidak lagi mengeluarkan suara apa-apa lagi.
Sampai kemudian terdengar pemuda akhirnya berkata-kata.
“Kita harus ke kuil Zhu Fu di depan sekarang juga.”

“Apa?
Bagaimana jika penyerang masih bersembunyi di sana?” tanya Yunying yang agak heran.

“Tidak..” tutur Jieji sambil tersenyum.
“Dia merasa hawa jari pedangnya yang sangat sakti itu saja bisa dibelokkan oleh seorang nenek. Tentu dia tidak akan berani lagi kembali ke kuil. Untuk hal ini, aku sangat yakin sekali.”

Lie Hui membenarkan pernyataan Jieji. Mereka kemudian beranjak cepat ke depan kuil untuk memeriksa. Kali ini ketiganya bukan lagi berjalan kepayahan, mereka menggunakan lari cepat untuk menuju ke depan.

Kuil Zhu Fu sebenarnya didirikan untuk menghormati seorang pahlawan perang zaman tiga kerajaan, Zhuge Khung-ming. Atas dasar sifat welas asihnya terhadap penduduk Nan-Zhong maka para penduduk mendirikan kuil untuk disembahyangi selama 4 musim.
Kuil cukup luas di pelatarannya dan meski saat sedang pagi, tetapi keangkeran tempat ini memang cukup terasa. Kuil sepertinya sudah tidak pernah lagi dihuni selama belasan tahun ataupun lebih. Bau pengap sangat menyengat sekali di sini.
Di tengah kuil terlihat sebuah patung yang sedang duduk. Wajah patung terlihat sangat agung dan berwibawa dengan pakaian imam. Kumis dan jenggot pendek menghias wajah patung. Di tangan kanannya terpegang sebuah kipas bulu burung.

Ini adalah patung dari Zhuge Khungming alias Zhuge Liang. Jieji memberi hormat pelan ke arah patung, dan kemudian segera dia menyelidik ruangan. Dinding ruangan meski terlihat cukup rapuh, tetapi di sana terpahat beberapa sejarah bangsa Nan-zhong. Terlihat juga beberapa gambar-gambar terukir jenderal besar Ma Wan dari Han. Di samping belakang terukir gambar-gambar peperangan pemberontakan Nan Zhong yang dipimpin oleh Meng Huo melawan pasukan Shu-Han.

Jieji mengamati semuanya dengan sangat serius, tidak pernah sekalipun dia mengeluarkan suara apapun. Di dalam hatinya, dia sedang membayangkan dirinya adalah Huang Qian.
Kenapa saudaranya itu hanya melihat ke arah ukiran-ukiran dan mempelajari sejarah di sini. Bukannya mencari petunjuk kasus. Apakah benar bahwa ada sesuatu hal yang tertinggal di sini yang bisa mencari petunjuk tentang kasus pembunuhan keluarga Meng tujuh turunan.

Sudah lebih dari 1 jam, Jieji hanya beranjak sebentar kemari dan kesana. Tidak ada sesuatu petunjuk sepertinya didapatkan sama sekali.
“Saudaraku Huang Qian, apa maksudmu sebenarnya kemari?” tutur Jieji kemudian seperti menggumam.

“Sepertinya lebih bagus jika kita mengunjungi wisma Meng dahulu.” sahut Yunying memberi saran.

Jieji terlihat menganggukkan kepalanya.
“Kalian tidak perlu lagi berpakaian seperti seorang kakek ataupun nenek. Kita kunjungi mereka layaknya penduduk biasa dari daratan tengah saja.”

Kemudian dari kuil Zhu Fu, ketiganya segera berangkat. Wisma Meng terletak di utara kota Yun-nan. Ketiganya berangkat dengan berjalan kaki secara biasa meski mereka bertiga cukup was-was terhadap keadaan sekitar. Sebab bagaimanapun penyerang yang tadinya sempat bentrok sesaat bukanlah manusia sembarangan. Oleh karena itu, diperlukan sikap ekstra hati-hati untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

Kota Yunnan bukanlah kota yang makmur penduduknya karena terlihat cukup banyak penduduk miskin. Ini bisa dilihat dari cukup banyak pengemis-pengemis yang meminta-minta di jalan. Selain itu, pakaian penduduk-penduduk juga seadanya saja dan membuktikan bahwa mereka bukan-lah dari keluarga yang berkecukupan.

Hanya diperlukan waktu sekira 15 menit, mereka sudah sampai di tempat yang ingin dituju.
Wisma Meng…
Di depan Wisma terlihat adanya 4 penjaga yang siaga dengan tombak di tangan. Keempatnya layaknya seperti dewa penjaga pintu dengan muka yang angker. Mereka mengawasi dengan mata yang mendelik dan was-was setiap saat terhadap siapapun yang lewat.

“Sepertinya telah terjadi sesuatu.” tutur Yunying yang telah kembali berpenampilan seperti biasa.
Tadinya mereka bertiga sempat lewat di depan gerbang dan menyaksikan bagaimana para pengawal itu memandang mereka dengan tatapan mata bengis.

“Tidak…
Jika telah terjadi sesuatu, maka keempat pengawal sudah bukan di gerbang.” tutur Jieji.

“Benar juga. Sepertinya keluarga Meng sangat takut akan ancaman kembali terjadi. Saat ini, informasi menyebutkan bahwa keluarga Meng dipimpin oleh orang yang bernama Meng Yang-chu.” tutur Lie Hui dengan pelan.

“Meng Yang-chu? Meng Yang-chu?….
“Mimpi” “Matahari” “Keluar”?” tutur Jieji yang agak heran.
“Nama yang tidak bagus sama sekali. Bermimpi matahari terbit jika kita analogikan nama pemimpin wisma. Sungguh aneh…”

“Betul..
Biasanya orang tua memberi nama kepada putra ataupun putrinya dengan nama yang bermakna. Dengan sebuah kata “mimpi”, maka nama ini terasa sangat tidak bagus.” jawab Yunying.

“Tidak usah kita peduli terlebih dahulu. Kita tidak mempunyai jalan selain menyelidik ke keluarga Meng.
Nona Lie Hui, aku meminta anda supaya kembali dahulu ke penginapan.” tutur Jieji serius ke arah pencuri ulung.

“Anda ingin mencari informasi ke dalam?” tanya Lie kemudian.

“Betul… Cukup aku dan Yunying saja untuk melihat-lihat ke dalam.” tutur Jieji.

Lie Hui terlihat mengangguk pelan.
“Aku akan kembali sesuai dengan anjuran anda. Tetapi aku berniat mencari informasi lainnya, terutama untuk kasus pembunuhan rentetan keluarga Meng yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu.

Jieji dan Yunying memang tetap berada di salah satu sudut luar Wisma Meng untuk menunggu terjadinya sesuatu perubahan sebelum mereka berdua berniat menyelinap ke dalam.
Sudah lebih dari dua jam, kemudian mereka mendapati sesuatu.

Adanya deretan kereta-kereta kemudian berhenti di depan gerbang. Deretan kereta yang jumlahnya mungkin 10 buah lebih cukup mengherankan Jieji maupun Yunying. Bentuk deretan tersebut adalah kotak berwarna hitam, dan besarnya sekiranya adalah sebesar kotak upeti yang sering sekali terlihat di ibukota pada musim semi awal. Adalah ketika para raja wilayah ataupun raja luar wilayah yang mempersembahkan upeti berupa perhiasan ataupun barang antik lainnya kepada Kaisar setiap tahun. Kotak tersebut memang benar persis sekali jika diamati dari luar.

Di Wisma Meng tidaklah terdapat Kaisar sebagaimana jika dipikirkan. Tetapi atas dasar apa orang ini mengantarkan kotak besar yang sepertinya berisi sesuatu ke Wisma?
Jieji memang sudah tidak tahan rasa penasarannya. Ini terbukti beberapa kali dia menjulurkan kepala lewat sebatang pohon Ek yang besar untuk melihat keadaan. Dia pasang telinganya dengan cukup baik untuk mendengar pembicaraan mereka.

“Tuan Meng memang telah memesannya. Mungkin dia lupa memberitahu kepada kalian!” terdengar seorang pengawal kereta berteriak kemudian.
Tadinya suara mereka lumayan pelan saja, dan hampir bisa dikatakan tidak dapat terdengar. Tetapi kali ini, suara pengawal kereta membludak karena terlihat dia marah sekali.

Untuk saja percekcokan tidak berlangsung lama karena sepertinya suara cek-cok dihentikan oleh sebuah suara. Suara yang terdengar cukup berat dan serak bisa membuktikan bahwa usia orang memang cukup tinggi. Selain itu, Jieji juga merasakan bahwa orang tua yang bakal keluar ini bukanlah orang biasa. Sebab teriakannya juga mengandung semacam hawa tenaga dalam yang kuat.

Jieji dan Yunying keduanya segera menjulurkan kepala sekali lagi untuk melihat ke gerbang. Mereka berdua berdiri lebih dari 20 langkah di samping gerbang dan bersembunyi di sebuah pohon besar.
Memang adalah seorang tua, umurnya mungkin sudah 60-an ke atas. Wajahnya memang tidak terlihat begitu jelas karena jarak pandang yang jauh. Tetapi rambutnya sudah putih, wajahnya dihiasi jenggot dan kumis panjang. Orang tua berpakaian pendeta dan terlihat cukup agung dari sikapnya.

“Tetua Gao, maafkan kami. Tetapi pengawal kereta selalu ingin mendesak kalau Tuan besar sudah memesan kereta-kereta.” jawab salah seorang pengawal yang tadinya angker namun sekarang berubah menjadi sopan.

Orang tua terdengar berbicara dengan lembut.
“Ini adalah kesalahanku. Tuan besar memang sudah memesan kereta tadi pagi sekali tetapi karena ini tugasku untuk memberitahukan kalian. Namun disini aku lupa. Maafkan aku..”

“Orang tua itu mencurigakan…” tutur Yunying kepada Jieji dengan sangat pelan.

“Tidak juga.”
jawab Jieji pendek.

“Kenapa tidak? Dia adalah seorang pesilat tangguh, apa mungkin pesan dari Tuan besar Meng bisa dilupakannya?” tanya Yunying.

“Tidak…
Bukan begitu, yang kamu bicarakan adalah sebuah kemungkinan saja. Tetapi kalau aku melihat orang tua itu, memang bukanlah seperti yang kau kira.” sahut Jieji dengan suara pelan.

“Dia kemungkinan adalah orang yang menghalangi kita di kuil. Karena dia menunggu sejak pagi, maka pesan tuan besar tidak dihiraukannya. Dan aku merasa dia baru saja sampai barusan.” tutur Yunying dengan alis yang berkerut.

“Pintar…
Tetapi ini hanya kemungkinan. Dan satu hal lagi, kau masih ingat orang berpakaian emas dan bertutup muka? Lihatlah kembali ke arah orang tua.” sahut Jieji dengan serius ke depan.

“Oh….
Betul, orang tua ini berperawakan besar sekali. Selain itu, dia hanya menutup muka saja tadi di kuil. Mana mungkin rambut putihnya tidak terlihat? Jika dia mengubah bentuk rambut memang wajar saja. Makanya kamu sebut kemungkinan?”

“Pintar…
Selain itu, bentuk tubuhnya yang menjadi perhatian. Orang besar tidak mungkin bisa membuat tubuhnya menciut. Tetapi jika orang tua ini tidak bertubuh besar, maka para pengawal cukup akan curiga dan mengungkitnya saat ini karena melihat perawakannya yang beda.
Dan bagaimanapun, sepertinya penyelidikan kita bisa dimulai dari orang tua ini.” jawab Jieji dengan pelan dan tersenyum.

“Ayok kita pergi.” tutur Yunying seraya membalikkan badan.

Tetapi ketika mereka baru saja beranjak 3 langkah ke belakang. Keduanya terkejut dengan cepat. Sebab mereka sudah merasakan hadirnya sebuah hawa dan tenang di belakang keduanya.
Baik Jieji maupun Yunying segera menoleh. Mereka kemudian melihat orang tua itu telah sampai. Dengan cara bagaimana dan seperti apa, tiada yang tahu benar. Sebab tahu-tahunya orang tua sudah berdiri agung sambil memegang jenggotnya.

Wajah orang tua terlihat tersenyum melihat keduanya.
“Hebat…” tuturnya dengan seraya memuji.

“Tidak…
Anda lebih hebat. Kita bahkan tidak tahu sejak kapan tetua bisa sampai di sini dan berdiri dengan agung.” jawab Jieji.

Orang tua ini tertawa terbahak-bahak. Sedang Jieji dan Yunying terlihat tersenyum saja.

“Aku tidak tahu apa maksud kalian. Tetapi diam-diam dan bersembunyi bukanlah tindakan seorang ksatria. Siapa kalian berdua?”

“Tidak perlu di tanya siapa mereka berdua.” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang lembut dari arah kejauhan.
Tentu suara semacam demikian mengundang ketiganya langsung menoleh.
Soerang wanita yang berpakaian biru muda terlihat berjalan secara pelan dan anggun ke arah mereka bertiga. Wanita yang terlihat berkulit sangat putih dan mulus. Wajahnya dari kejauhan saja sudah bisa dipastikan sangatlah cantik.

Ketiganya terlihat bergembira meski kegembiraan ketiganya tentu saja tidak sama.

“Puteri Chonchu?” teriak Jieji seakan tidak percaya.
Yunying juga berteriak dengan suara yang sama.
Tetapi orang tua ini yang keheranan karena melihat keduanya mengenal wanita itu hanya bisa bengong saja.

Yang datang kemari memang betul adalah puteri Chonchu, puteri Koguryo yang terkenal itu. Dan merupakan hanya satu-satunya puteri kandung dari Pei Nanyang alias Zeng Qianhao.
“Tetua Gao…
Mereka berdua adalah teman-temanku.” tutur Chonchu kepada orang tua itu sambil tersenyum manis.

“Mereka?” tanya orang tua sambil menunjuk ke arah Jieji dan Yunying.

“Betul…
Yang pria adalah orang yang terkenal dengan julukan “Pahlawan Selatan”, sedang yang wanita adalah isterinya, Wu Yunying.”
jawab Chonchu sambil tersenyum ke arah keduanya.

Orang tua terlihat terkejut sebentar, tetapi dia masih bisa menguasai dirinya sedemikian rupa. Sesaat, wajahnya tersenyum riang.
“Dengan adanya kedua pendekar, maka yang tua ini sepertinya tidak perlu terlalu bersusah-payah lagi.”

Jieji agak heran mendengar pernyataan orang tua. Lantas dia menanyainya.
“Bagaimana anda tahu bahwa kita mempunyai tujuan ke Wisma Meng?”

“Orang tua kemarin, yang diberi beberapa peser uang oleh teman anda bukan? Kemarin benar aku tidak tahu siapa orangnya bahwa ada yang mencari informasi tentang Wisma Meng, tetapi dengan adanya kedatangan anda berdua hari ini maka aku bisa memastikannya.” tutur orang tua sambil memberi hormat.
Jieji terlihat tersenyum girang mendengar pernyataan orang tua ini. Jelas orang tua di depannya bukanlah manusia sembarangan. Meski usianya mungkin sudar termasuk ujur, tetapi daya berpikirnya malah tidak melambat.

“Dia adalah pengasuh diriku sejak kecil.” tutur Chonchu sambil memberi hormat ke arah orang tua.

“Nona terlalu membesarkan. Aku hanya menjaga anda selama 4 tahun saja semenjak nona kecil lahir.” jawab orang tua dengan membalas hormat Chonchu.
Ternyata Chonchu adalah seorang wanita yang lumayan dikenal di Yun-nan. Orang tua ini mengaku bernama Gao JianShen. Gao, Jian, Shen tiga buah huruf disini bisa berarti “Tinggi”, “Bertemu”, “Dewa”.

“Nama yang aneh lagi?” tutur Yunying spontan ketika dia mendengar nama orang tua di depan.

Baik Chonchu maupun orang tua tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Yunying.

“Nama disini adalah sebuah analogi. Aku tidak yakin bahwa nama-nama seperti Meng Yangchu dan Gao Jianshen adalah nama yang asli.” tutur Jieji seraya berpikir.

“Betul sekali anak muda. Tidak heran anda disebut sebagai detektif terkenal.
Di daerah pedalaman sebelah barat daya, semua orang memiliki 2 buah nama. Nama asli hanya bisa dan boleh disebutkan sekali seumur hidup. Yaitu ketika seseorang sudah mencapai ajal.” tutur Orang tua.

“Pantas saja…” Jieji terlihat tersenyum.

Mereka berdua segera diajak oleh Chonchu dan orang tua bermarga Gao ini untuk masuk ke dalam.
Jieji dan Yunying menempati ruangan khusus untuk tamu. Perlu diketahui, Wisma Meng bukanlah wisma yang asli luas sekali. Melainkan hanya sekitar palingan 3 petak tanah saja. Meski pelataran tergolong luas, tetapi ternyata rumah mereka malah termasuk sempit. Sebab disini pengawal terlalu banyak jumlahnya.

Jieji dan Yunying sempat berkeliling sebentar di sana untuk beberapa saat mengamati.
“Sepertinya keamanan wisma memang bagus sekali.” tutur Yunying sambil berjalan pelan di samping Jieji.

“Betul..
Pengamanan terlihat ketat karena wisma yang jaraknya tidak luas. Aku sudah menghitung pengawal yang dari tadi silih berganti kesana dan kemari. Jumlahnya pas 50 orang. Dan seharusnya keluarga Meng memiliki 100 orang pengawal yang bisa digantikan secara silih berganti setiap pagi dan malam kemudian.”

Yunying menganggukkan kepalanya saja. Mereka baru saja kemudian beranjak beberapa tindak ke depan. Lalu terdengar suara pengawal yang memanggil keduanya.

“Kasus keluarga Meng harus kita selidiki sampai tuntas. Hampir 30 tahun yang lalu kabarnya semua keluarga Meng terbantai habis, kecuali para pelayan ataupun pengawal. Tidak ada seorangpun tahu bagaimana mereka bisa selamat, tetapi semua tahu bahwa para pelayan maupun pengawal dalam keadaan pingsan. Kita hanya mempunyai petunjuk berikut saja.” tutur Jieji sambil mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan oleh Huang Qian kepadanya beberapa puluh tahun yang lalu.

Di dalam ruangan utama Wisma Meng, sudah terlihat 3 orang yang sedang duduk. Seorang duduk di arah atas tangga yang jumlahnya mungkin 5 petak saja. Sedang di kiri dan kanannya terlihat seorang tua tadi dan Chonchu duduk dengan wajah riang menantikan kedua orang.

“Hormat kepada pemilik Wisma.” tutur Jieji dengan sopan.
Jieji sempat melihat ke arah pemilik Wisma yang memiliki nama “aneh”. Orang yang tergolong tinggi besar, dengan wajah berangasan. Mata bulat dan alis yang tebal. Di wajahnya terhias jenggot dan kumis yang berewokan. Sepertinya pemilik Wisma adalah orang yang tetap menjaga ciri khas Yun-nan.
Zeng Qianhao memang terlihat berperawakan demikian, tinggi besar dan terlihat sekilas menakutkan tetapi bedanya adalah kumis dan jenggot Zeng tidaklah serampangan seperti pemilik Wisma.

Meng Yangchu sesegera mempersilahkan keduanya duduk di kursi sebelah Chonchu. Lantas dengan tiada berbasa-basi, dia mengeluarkan suara “guntur”nya.
“Aku pernah mendengar nama besar anda di daratan tengah. Sungguh hal yang baik jika anda mengunjungiku. Bisa saya tahu apa maksud anda datang kemari dengan sejujurnya?”

Perkataan tuan rumah memang langsung ke sasaran tanpa bertele-tele. Mungkin ini juga salah satu ciri khas orang Yun-nan yang sepertinya tidak banyak bicara jika tidak perlu.

“Benar…
Tujuanku datang kemari hanya demi seseorang sebenarnya.” jawab Jieji juga langsung ke sasaran dan tidak banyak bertele-tele kemudian.

“Hmm?
Lantas siapa yang anda cari? Apa ada hubungannya dengan wisma?” tanya tuan rumah. Wajah tuan rumah terasa cukup aneh ketika mendengar pernyataan Jieji barusan.

“Sejujurnya, aku juga tidak akan banyak berbasa-basi lagi.
Temanku, atau tepatnya adalah paman dari wanita yang duduk di sampingku. Dia pernah datang kemari hampir 30 tahun yang lalu. Dia-lah orang yang sedang kucari.” jawab Jieji.

Tuan rumah terlihat berpikir beberapa saat. Dia amati keseriusan wajah pemuda dengan serius juga. Lantas dia terdengar tertawa.
“Betul…
Orang yang ingin kau cari mungkin adalah seorang detektif usia 40-an pada saat itu. Bukankah dia?”

“Hm…
Kabarnya banyak detektif ataupun polisi yang tidak sanggup menyelesaikan kasus yang dimaksud. Memang benar perkataan pendekar, banyak juga orang-orang itu hilang tak berbekas.” tutur tuan rumah sambil menengadahkan kepalanya ke atas mengenang.

“Ada satu hal saja yang ingin saya tanyakan.”

“Apa itu?”

“Mengenai wisma…
Dimanakah sesungguhnya wisma berada sejak terjadi pembantaian puluhan tahun lalu itu?”
tanya Jieji dengan serius.

Tuan rumah memandangnya sesegera. Wajahnya segera berubah. Entah ekspresi apa yang sedang ditunjukkan. Tetapi dengan segera, wajah tuan rumah segera berubah dahsyat. Dia tertawa sangat keras tiba-tiba.
“Wisma Meng terdahulu letaknya adalah sebelah selatan kota. Di sebelah barat terletak banyak rumput dan di sebelah timur terdapat air terjun kecil.
Anda sepertinya sangat tertarik akan misteri-misteri. Datanglah ke sana untuk menyelidik jika anda inginkan.”

“Terima kasih.” jawab Jieji pendek saja.

Pembicaraan selanjutnya memang tidak lagi mengenakkan sama sekali. Dan hanya tinggal beberapa hal yang kurang penting saja yang bisa dijadikan informasi berharga dalam penyelidikan. Oleh karena itu, Jieji dan Yunying segera meminta pamit. Mereka dikawani oleh Chonchu ke kamar mereka.

“Puteri Chonchu…
Bagaimana menurutmu pemilik wisma, Meng Yangchu?” tanya Jieji ketika mereka berjalan mendekati kamar.

“Tuan besar Meng adalah seorang yang sangat keras. Itu wajar saja.
Sebab di usianya yang barusan 16 tahun, dia telah kehilangan seluruh keluarganya. Dia untungnya terselematkan karena ayahku.” tutur Chonchu sesaat. Tetapi tiba-tiba dia merasakan pedih di hatinya.

Jieji mengerti maksud Chonchu.
Kabar meninggalnya Pei nanyang tentu sudah sampai di telinga nona ini. Tetapi kemudian pemuda berkata kepadanya.
“Orang yang menyebabkan kematian tetua Zeng juga sudah tewas.”

Chonchu memandang Jieji agak heran. Dia lantas bertanya.
“Bagaimana si tua Huo itu tewasnya?”

Jieji menceritakan singkat saja kejadian tempo waktu beberapa bulan yang lalu. Selesai mereka bercerita satu sama lainnya. Akhirnya ketiganya juga telah berada di dalam ruangan kamar.

“Lalu bagaimana kakak Chonchu bisa ke Yun-nan? Dan dimana kak Sungyu?” tanya Yunying kepada Chonchu.

“Kak Sungyu sekarang sedang membela negara. Dia sebenarnya ingin ikut, tetapi aku menghalanginya. Dikarenakan masalah utara, Liao pun belum beres.” jawab Chonchu dengan tersenyum simpul.

“Anda diminta orang tua bermarga Gao untuk menyelidik secara diam-diam juga rupanya.”

Chonchu memandang Jieji dengan heran. Lantas dia terdengar tertawa sekali. Seraya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dia memberikan kepada pemuda.
Jieji mengambilnya dengan sigap dan memampangkan sesuatu benda. Ternyata adalah sebuah kain terlihat. Kain itu dengan segera saja dipampangkan di meja.
Rupanya adalah sebuah surat yang berisi tinta merah. Tinta ini mungkin saja dibuat dari darah sesungguhnya. Tetapi surat ini berisi pesan yang sangat pendek tetapi sangat mengancam.

“Aku akan mengirim keluarga Meng kembali.
Pembantaian untuk 30 tahun yang lalu…”

“Sepertinya hal ini makin lama makin serius saja.
Aku ingin bertanya kepadamu sesuatu hal.” tutur Jieji yang kelihatan tertarik dengan surat pemberitahuan atau surat ancaman.

“Katakan saja.”

“Gao Jianshen adalah seorang pendekar hebat. Lalu kamu tahu darimana kekuatan tenaga dalamnya di dapat?” tanya Jieji.

“Wajar saja. Sebenarnya ayahku pernah mengajarinya kungfu meski sudah lama sekali. Dan terakhir ketika kakak seperguruan (Yuan Jielung) dan Ayah berada di Yunnan. Mereka bertiga-lah orang yang sering merundingkan jurus-jurus kungfu.”

“Jadi begitu?” tutur Jieji sambil berpikir.

“Kalau begitu memang kemungkinan yang satu juga telah musnah sama sekali.” sahut Yunying.

Jieji membenarkan pernyataan Yunying.
Chonchu yang sangat pandai itu segera tersenyum dan berkata.
“Kalian sempat mencurigai Gao JianShen? Memang ada sesuatu yang telah terjadi?”

Jieji tertawa mendengar perkataan Chonchu. Dan sekali ini, Yunying yang menceritakan semua pertemuan mereka dengan pendekar tangguh yang misterius itu. Sambil mengeluarkan lengannya, Yunying juga melepaskan kain sapu tangan yang masih mengikat luka ringan di lengannya.
Chonchu sepertinya memandang dengan cukup tertarik. Wajahnya terlihat aneh dan mengerutkan dahi beberapa saat.

“Sepertinya puteri mendapat sesuatu petunjuk dari luka isteriku?” tanya Jieji.

“Betul sekali…
Aku ingin berkata bahwa bekas luka lima goresan di tangan Yunying juga sama. Sama dengan luka goresan di semua leher keluarga Meng yang tewas terbantai.”tutur Chonchu.

Bukan main terkejutnya Jieji dan Yunying mendengar perkataan Chonchu barusan.

“Tetapi, banyak sekali dugaan. Penduduk sekitar tidak pernah ingin menjawabnya kepada orang luar tentang hal yang terjadi di Yunnan saat itu. Tetapi ayahku pernah tahu dan mengatakan bahwa mereka dibunuh dengan jurus yang sama. Namun, penduduk Yunnan mengatakan bahwa mereka dibunuh oleh mayat hidup. Bekas di leher semua korban adalah bekas cakaran mayat hidup.” sahut Chonchu dengan wajah yang serius.

Jieji menangkap perkataan Chonchu dengan tersenyum saja. Sedangkan Yunying malah bertingkah aneh sekali.
“Tidak mungkin…
Jangan-jangan benar ada mayat hidup? Mereka benar dibunuh mayat hidup?” teriaknya dengan wajah gelisah.

Jieji yang melihat ke arah Yunying segera tertawa lebar. Begitu pula Chonchu melakukan hal yang sama.
“Tidak disangka setelah kau telah menjadi seorang pesilat luar biasa sezaman ini, malah bisa ditakutkan oleh cerita semacam demikian.”

Wajar saja, sebenarnya hari sudah gelap juga. Karena mendengar tentang hal berbau “hantu”, Yunying terlihat cukup gemetaran.

“Tidak!!
Yang kukhawatirkan adalah rumah ini. Bukankah disini terjadi pembantaian keluarga Meng? Ini cukup menakutkan!” teriak Yunying kembali.

“Tidak…
Salah…
Bukankah tadinya pemilik Wisma berkata bahwa pembantaian bukan dilakukan di rumah ini? Dasar kau..” tutur Jieji sambil tersenyum.

Baru sekarang terlihat pikiran Yunying jernih kembali.
“Betul juga…
Jika benar bahwa banyak orang terbunuh disini, yang paling pertama ditakuti tentu pemilik wisma. Untunglah…” seru Yunying dengan lega sekali.

Sekali lagi keduanya tertawa melihat kepolosan nyonya Xia yang memang sesungguhnya tidak rasional.

“Betul…
Sekarang aku sudah tahu sebuah hal. Mereka benar dibunuh dengan Ilmu jari. Dan hebatnya adalah Ilmu jari sakti itu bisa dikeluarkan dari jarak yang cukup jauh tetapi mematikan. Malah sekilas terasa aneh sebab bisa saja ilmu itu memakan korban dengan cara memilih secara tepat.” tutur Jieji sambil berpikir. Dia sedang berpikir beberapa kemungkinan saja yang bisa terjadi.

“Tidak ada ditemukan dendam antara keluarga Meng dengan pelaku kejahatan. Ini sangat diherankan. Kenapa kasus seperti demikian tidak meninggalkan jejak sama sekali?” tutur Chonchu juga sambil berpikir.

“Betul…
Kalau benar perkiraan kita. Maka sesungguhnya pamanmu kemungkinannya sangat kecil masih hidup di dunia.” tutur Jieji dengan menghela nafas ke arah Yunying.

“Tidak…
Aku tidak percaya. Kamu bilang pamanku sangat pandai meski kungfunya jelek. Dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik sekali.” sahut Yunying dengan lantang.

“Betul sekali. Sepertinya kita harus ke Wisma Meng dahulu itu. Mungkin saja jejak akan ada di sana.” tutur Chonchu.

“Bukan mungkin, tetapi pasti.” tutur Jieji sambil tersenyum.

Yunying melongo melihat Jieji yang kelihatan telah cerah wajahnya. Sementara itu, Chonchu juga tersenyum.
“Betul…
Jika tidak ada, maka bisa kita suruh dia datang. Bukan begitu?”

“Satu hal lagi puteri…
Apa benda berderet berbentuk kotak yang baru saja diterima oleh pihak Wisma tadi siang?”

Chonchu tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.
“Itu adalah bahan peledak.”

“Wah…
Sepertinya kondisi psikologi pemilik Wisma sudah bermasalah. Dia ingin meledakkan mayat hidup jika datang kepadanya?” jawab Jieji sambil tersenyum geli.

***

Selatan kota Yun-nan…
Sepertinya apa yang dideskripsikan Meng Yangchu memang tidaklah salah sama sekali. Jieji sudah melihat pepohonan dan air terjun yang dikatakan pemilik wisma. Memang di sebelah kirinya terlihat sebuah bangunan tua yang bertembok cukup tinggi.

“Kau ingin menelusurinya di saat malam begini? Apa kau tidak takut?” tanya Yunying dengan sangat gelisah. Sepertinya wanita ini ketakutan akan cerita mengenai mayat hidup. Tetapi sebaliknya Jieji tersenyum dan tertawa sebentar tanpa menjawab pertanyaannya.

“Ayok!” seru Jieji pelan sambil meraih tangan Yunying. Dia sudah melompat ke dalam tembok dalam. Dengan cepat sekali, mereka berdua sudah sampai di balairung utama. Balairung yang gelap dan angker luar biasa telah terpampang. Menyelidiki sesuatu di saat begini memang bukanlah hal yang benar bisa bermanfaat. Jika saja ada api yang dihidupkan saat seperti demikian, maka sangat berbahaya sekali. Karena lawan lebih bisa melihat dimana mereka berada. Oleh karena itu, Jieji tetap tiada penerangan bermaksud menelusuri wisma tua.

***

Wisma Meng (kecil)…
Seperti biasanya. Tuan Meng sudah tidak bisa tidur semenjak adanya pemberitahuan ancaman pembunuhan keluarganya. Tuan Meng memang memiliki 3 orang putera dan 1 orang puteri. Kesemuanya adalah jago silat juga rupanya. Tetapi mereka juga ikut berkhawatir akan sesuatu hal yang bakal terjadi pada keluarga mereka. Baik Meng Yangchu dan keempat orang anaknya tidak lagi bisa tidur tenang. Sudah berbulan-bulan semenjak pemberitahuan dilakukan, tetapi belum adanya tanda-tanda dari pembunuh sama sekali.

Hari ini, bulan purnama sungguh sangat indah. Angin terasa berhembus sepoi-sepoi dan tiada tanda bakal terjadinya perubahan cuaca.
Wisma tetap terang benderang semenjak berbulan-bulan lalu ketika pemberitahuan pembunuhan sudah disebarkan.

Kepala keluarga Meng Yangchu sudah duduk di ruangan utama dengan wajah yang tidak begitu tenang. Dia terlihat sebentar berjalan kesini dan kesana.
Sudah lebih dari 3 jam dia melakukannya dan setiap malam juga dilakukan hal yang serupa. Biasanya setelah dia berjalan sampai tengah malam, dia akan pergi tidur. Tetapi hari ini lain dari pada lain. Sebelum benar tengah malam, sepertinya dia menangkap sesuatu bayangan di dinding belakangnya.

Bayangan yang sepertinya memakai baju emas sedang terlihat. Dengan kerudung tutup muka yang berwarna emas pula. Tidak bisa disangkal lagi, orang inilah yang telah menyerang Jieji dan Yunying serta pencuri ulung di depan kuil Zhu Fu.

“Kau mau apa?” teriak Meng Yangchu dengan kalap ketika melihat seorang aneh di ruangannya.

Orang ini tidak berbicara sedikitpun. Tetapi dia mengangkat tangannya. Jarinya terlihat ditunjukkan ke arah Meng Yangchu. Sepertinya keadaan Meng sedang dalam gawat-gawatnya.

Tetapi sebelum Meng Yangchu menjadi korban orang tersebut. Tiba-tiba saja sinar terang benderang mengalahkan terangnya ruangan.
Adalah sinar merah luar biasa terang dan pesat kemudiannya menghantam orang berbaju emas tersebut. Orang misterius terlihat terpental sungguh pesat ke belakang dan menghantam dinding ruangan hingga roboh.

“Sepertinya kamu telah terkena pancingan.”
tutur sebuah suara dari arah depan pintu besar itu.

Dengan langkah yang cukup pelan, sepertinya terasa langkah kaki beberapa orang yang memasuki ruangan. Meski di depan terasa cukup gelap, tetapi di dalam ruangan sesungguhnya adalah terang benderang. Suara langkah beberapa orang ini juga diikuti suara langkah yang cukup ramai yang ikut menyusul.
Setelah orang yang sampai tersebut melangkahkan kakinya, maka seorang pria kemudian berjalan ke depan dengan cukup was-was. Terlihat sebelah tapaknya sedang disiagakan untuk bertahan.

Tembok yang berjarak sekitar 30 kaki lebih darinya itu memang sudah runtuh akibat terjangan tubuh seseorang yang menghantam. Pemuda yang datang di sini tentu tiada lain adalah Jieji. Di belakangnya terdapat 2 orang wanita muda dan seorang pria tua.
Jieji berhati-hati benar sambil mengawasi tajam ke arah orang yang menabrak dinding itu. Tetapi meski langkahnya sudah dilakukan sebanyak belasan kali ke depan, namun orang yang berpakaian emas itu sama sekali tiada bergerak.

“Jangan-jangan dia telah tewas?” tutur pria tua di belakang kepada orang di sekeliling.

Suasana di dalam ruangan memang terasa menyesakkan nafas setiap orang. Meski di luar memang sudah siaga cukup banyak pengawal yang siap untuk bertarung mati-matian, tetapi menyaksikan penyerang yang roboh dan diam tak berkutik membuat semua orang was-was. Terlebih lagi pemuda yang berniat untuk mendekatinya.

Tetapi…
Ketika benar Jieji telah sampai di sana, yaitu di tempat robohnya orang yang terhantam jurus Ilmu jari dewi pemusnah. Dia kontan terkejut tidak terkira.
Dia terlihat mengangkat “orang” yang berpakaian emas itu dengan sangat mudah. Dan terlihat segera dia melemparkan tubuhnya ke tengah ruangan yang bersinar terang benderang itu.

Tindakan Jieji juga sangat mengejutkan siapa saja. Tidak disangka bahwa ternyata “orang” yang dilempar ternyata adalah orang-orangan yang terbuat dari kain yang berisi cukup banyak batu sehingga terasa berat.
Kondisi ruangan sekarang telah “menghasilkan” sebuah lubang selain pintu masuk. Langsung saja, Jieji berjalan seraya melompat ringan untuk menuju ke halaman samping dari lubang.

Dia berjongkok sebentar untuk mengamati. Gerakannya segera diikuti oleh Yunying dan Chonchu. Chonchu meminjam sebuah kayu berapi dari para pengawal untuk ikut ke arah Jieji. Dia tahu benar bahwa sedang apa Xia Jieji melakukan tindakannya itu sekarang.

Benar Jieji sedang memeriksa jejak langkah dari orang yang dirasanya melarikan diri. Tetapi jika ada pendekar yang sanggup lari dari ruangan tersebut tanpa diketahui-nya, maka kemampuan pendekar itu sudah sangat tinggi sekali. Mungkin sekarang sudah sekelas Dewa Lao, Zhao Kuangyin ataupun Wu Yunying. Apakah memang benar ada pendekar hebat yang bersembunyi di sini? Sungguh cukup mengherankannya.

Jieji meminta kayu berapi dari tangan Chonchu, kemudian dia segera saja memeriksa lapangan tanah di samping ruangan tersebut.
Perlu diketahui, lapangan di sini memang tidaklah luas. Tetapi lapangan di sini justru terasa gersang dan jika saja ada orang berjalan di sana, maka tidak mungkin jejak kaki tidak tertinggal sama sekali disana.

“Benar-benar luar biasa sekali. Ini hal yang sangat menarik…”
tutur Jieji sambil tersenyum melihat ke arah tanah.
Perlu diketahui, di sini hanya terdapat hamparan tanah dan di sekelilingnya sudah tidak terdapat gedung. Maka jika orang tersebut melarikan diripun, pasti dia akan meloncat ke atap ruangan terjadinya upaya pembunuhan terhadap Meng Yangchu.
Tetapi hebatnya, Jieji dan kawan-kawannya yang adalah pesilat tangguh sama sekali tidak pernah merasakan adanya langkah yang melewati atap sama sekali.

Chonchu, Yunying dan orang tua bermarga Gao tentu mengerti apa maksud Xia Jieji yang berkata demikian. Karena mereka sendiri juga melihat tiada jejak kaki sama sekali disana, dan tidak ada yang merasakan adanya orang yang kabur dari lokasi.
Lantas sambil menghela nafas, Jieji masuk kembali ke ruangan.

“Dimana pembunuhnya???” teriak Meng Yangchu seraya berteriak ketika dia melihat Jieji masuk.

Tetapi tidak pernah Jieji menjawab pertanyaannya, karena dia sendiri sedang berpikir keras. Jika hanya sebuah boneka, maka tidak mungkin boneka bisa menunjuk ke arah Meng Yangchu dengan jarinya seakan-akan hendak membunuhnya saat itu. Namun, jika adalah manusia. Mana mungkin bisa lolos tanpa jejak sama sekali.

“Izinkan kita untuk berpikir dahulu.” tutur Chonchu ke arah Meng Yangchu meski kelihatan bahwa tuan rumah tidaklah sabar sama sekali.
Tetapi sebelum tuan rumah bersuara, mereka semua telah dikejutkan suara pelayan wanita yang berteriak.

Karena teriakan pelayan wanita terasa histeris dan mengundang kengerian. Kesemua orang di ruangan langsung saja beranjak. Kesemuanya baik pengawal ataupun penghuni segera menuju ke arah suara.
Jieji dan Yunying adalah 2 orang pesilat tangguh luar biasa di sini. Mereka berdualah yang pertama sampai di lokasi tempat pelayan itu berteriak.
Keduanya terkejut ketika melihat sesuatu. Dan sangat wajar kalau pelayan berteriak.

Sebab di ruangan kamar tidur yang tidak seberapa besar itu telah terlihat pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang siapapun.
Di kursi yang bisa bersandar atau tepatnya kursi santai telah terlihat seorang duduk di sana dengan wajah yang sangat mengerikan.
Darah terlihat masih mengalir deras dari tubuh orang tersebut.

Yunying yang memang tidak biasa melihat pemandangan demikian tentu merasa ngeri. Dia langsung saja beranjak ke belakang punggung suaminya itu tanpa berani menatap lama-lama lagi.
Tidak berapa lama.
Chonchu dan orang tua serta kepala keluarga alias Meng Yangchu juga telah sampai. Kontan saja terdengar teriakan ngeri seseorang di belakang.
“Anakku!!!!”

Meng segera saja masuk dengan sangat cepat untuk beranjak ke depan.
Memang benar, orang yang tergeletak itu adalah seorang pria. Wajahnya terlihat sangat menakutkan sekali, selain itu mata dan mulutnya tidaklah tertutup sama sekali. Darah yang terus mengalir membuat pemandangan terasa sangat menjijikkan.
Jieji memang telah berada di depan mayat tersebut, mayat tuan muda keluarga Meng.

Dia melihat dengan jelas bahwa darah masih membanjir deras dari leher. Segera pemuda mengeluarkan sapu tangannya untuk melap bersih darah yang belum kunjung berhenti.
Maka terlihatlah bahwa ada 5 bekas goresan yang cukup dalam. Luka seperti demikian memang bisa dibuat melalui cakar seseorang yang sangat kuat.
Memang sepertinya pemuda berusia 20 tahunan ini tewas karena luka di leher tersebut.

Meng Yangchu alias tuan rumah terlihat berteriak keras sambil mengusir Jieji dengan marah sekali.
“Kau bilang bisa melindungi keluargaku. Sekarang kau lihat!!! Apa yang kau perbuat????”

Jieji diam saja, dia tidak menjawab makian tuan rumah itu. Tetapi dia beranjak dari tempat dan mengajak Yunying serta Chonchu untuk keluar dari ruangan.
Karena sikap tuan rumah yang sangat kasar inilah membuat Jieji sudah tidak ingin tinggal lebih lama di Wisma Meng.
Mereka bertiga segera keluar dari Wisma dan berniat berjalan untuk mencari tempat berteduh sementara. Meski saat itu telah tengah malam, tetapi ketiganya tidak cukup susah untuk mencari penginapan.

“Bagaimana menurutmu kasus demikian?” tanya Yunying yang melihat Jieji sedari tadi diam saja sejak keluar dari Wisma.

“Kasus seperti demikian sebenarnya bukan hal yang sangat aneh.” tutur Chonchu sambil tersenyum.

Jieji melihat ke arah puteri koguryo yang sangat pintar tersebut sambil tersenyum juga.
“Benar…
Yang membuat kasus rumit tiada lain hanyalah tiada petunjuk sama sekali. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada keluarga Meng generasi sebelumnya, bahkan bagaimana cara mereka semuanya tewas kita juga tidak pernah tahu.”

“Bagaimana jika besok kita lanjutkan penyelidikan saja ke kota. Aku yakin pasti masih banyak orang yang tahu benar kasus yang sudah hampir 30 tahun lalu itu terjadi.” tutur Yunying kepada Jieji.

Leave a Reply