Pahlawan dan kaisar 24

By abanstn

hancur jika tidak dihentikan. Oleh karena itu, aku mengatakan kepadamu bahwa sehebat apapun dirimu, tetapi tidak sanggup memuaskan dirimu. Nyawamu tidak akan lama lagi bertahan.” jelas Jieji kepada Chen Yang.

“Kenapa begitu? Bukankah 4 unsur saling mendukung membuat semuanya seimbang dan bukankah dalam kitab Tao yang mengajarkan panjang umur adalah membuat keempat unsur tubuh manusia seimbang?” tanya Chen Yang yang agak penasaran kembali. Dia tahu benar bahwa Xia Jieji adalah orang yang menguasai Ilmu ini secara mendetail. Setiap harinya Chen memang benar melatih tenaga dalamnya supaya menjadi kuat kian harinya.
Dia tidak merasakan kejanggalan apa-apa tentang ilmu yang telah dipelajarinya ini.

“Aku mengatakan bahwa itu adalah ilmuku. Bukan ilmu yang kau pelajari itu.” jawab Jieji pendek saja kepadanya.

Sementara itu, Yue Liangxu segera menghampiri orang tua bernama Chen Yang. Dia membisikkan sesuatu di telinganya.
Sesaat, Chen terkejut juga. Dia melihat serius ke arah Jieji.
“Kau ingin mengulur waktu?”

Huo Xiang tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Chen Yang. Dia ikut menuturkan kata-kata.
“Dia berharap setelah melepaskan tawanan, maka dia baru akan beraksi. Jangan beri kesempatan kepada mereka.”

Chen Yang mengangguk. Dia telah menyiapkan rapalan jurus telapaknya siap-siap. Tindakan Chen diikuti oleh Huo Xiang dan Yue Liangxu. Sedangkan Huo Thing-thing hanya bertindak waspada saja. Dia memasang kuda-kuda untuk bertahan.
Jieji diam saja. Memang rencananya dari awal adalah untuk memancing lawan berkata-kata. Membuat lawannya penasaran untuk menanyainya dan sementara kawan-kawannya akan berhasil melepaskan tawanan Lie Hui dan seseorang lainnya lagi.
Melihat kesiapan lawannya, Jieji juga telah memasang kuda-kuda menyamping. Wajahnya terlihat sangat serius memandang ke depan.

Beberapa saat, sikap mereka berempat hanya diam saja. Semuanya saling mengawasi sesamanya. Jieji memutarkan bola matanya dengan serius ke arah tiga orang yang sedang serius sekali melihatnya. Dia merasa jika salah satu orang yang bergerak saja, maka dia baru akan memutuskan apakah akan bertahan ataupun menyerang tergantung dari sikap lawannya itu.
Tetapi sikap ketiganya memang betul rapat baik pertahanan maupun penyerangan. Mereka melihat betul-betul berkonsentrasi ke arah Jieji. Ketiga orang ini mengincar titik lemah lawan dalam menyerang. Jika ada kesempatan saja dan ada ruang yang berbahaya maka mereka bertiga akan “memasukinya”.

Cukup lama posisi mereka hanya saling memandang saja dengan serius satu sama lainnya. Adalah seorang yang akhirnya tidak sabar. Dari arah belakang ketiga orang, segera muncul sebuah hawa penyerang yang cukup dahsyat. Sebuah benda terasa telah dilemparkan dengan sangat cepat mengarah ke arah Jieji.
Jieji tanpa melihatnya pun sudah tahu benar. Benda yang dilemparkan pesat ke arahnya adalah sebuah benda tajam sebab dia merasakan tusukan tenaga dalam yang masih lemah sedang mengarah ke mukanya, apakah itu adalah belati atau benda semacamnya. Dia sudah tidak ada keinginan untuk melihatnya. Oleh karena itu, dia segera menarik mundur dirinya sambil berkelit ke samping kanan.

Kesempatan telah datang…
Melihat Jieji telah berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya bagus, ketiga orang ini segera menyerang pesat ke depan.
Bukannya Jieji tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh mereka bertiga sekaligus secara cepat sekali. Dia tahu bahwa jika tadinya dia tidak menarik diri ke belakang, maka hawa serangan ketiga orang akan sangat berbahaya tentunya sebab jarak yang cukup dekat.

Dengan gaya berkelit ke samping, Jieji segera memutarkan dirinya sepenuhnya.
Memang posisi membelakangi arah serangan adalah sangat berbahaya. Sama berbahayanya dengan mendirikan tangsi membelakangi sungai. Tetapi tidak mungkin Xia Jieji tidak tahu bahwa dirinya berada dalam keadaan yang cukup berbahaya seperti sekarang.

Tetapi ketiga lawannya tentu sangat girang mendapati lubang penyerangan yang sudah “dibuka” oleh Huo thing-thing akibat lemparan belatinya dengan cepat dan tangkas itu.
Jieji segera berbalik kembali dalam posisinya yang telah semula kembali. Tetapi dengan berbaliknya tubuhnya, dia segera mengancangkan jari menotok ke depan 3 kali.
Alhasil, terasa hawa pedang dahsyat keluar dari jari telunjuk pemuda. Sebuah hawa penyerangan yang sangatlah dahsyat sekali mengarah ke titik berbahaya tiga orang yang menyerangnya itu.
Huo merasakan hawa pedang tanpa wujud sedang mengincar tenggorokannya, Yue Liangxu merasakan hawa pedang mengincar bagian bahu kirinya, sedangkan Chen Yang merasakan hawa pedang nan tajam mengarah ke mata kanannya.

Ketiga penyerang yang maju bersamaan ini menggunakan tangan kanan untuk menyerang. Merasakan hawa pedang yang sampai berada di arah berlawanan, Yue Liangxu segera menarik tapak untuk bertahan ke bahu kiri. Tetapi gerakan maju-nya Yue telah terlalu cepat. Sehingga meski tapaknya sempat menahan hawa energi pedang jari, dia juga terseret beberapa langkah ke belakang.
Sedangkan Huo Xiang yang merasakan bahwa hawa pedang sedang mengancam tenggorokannya, segera menarik tapak untuk bertahan seperti yang dilakukan oleh Yue Liangxu. Tapak memang berhasil menahan hawa jari pedang dengan sempurna, tetapi karena cukup takut bahwa Jieji akan melancarkan serangan kedua, dia berhenti dengan segera.
Sedang hawa pedang dari jari Jieji yang mengincar bola mata kanan-nya Chen Yang juga berhasil di tangkis secara sempurna oleh Chen. Dengan satu kibasan tangan, hawa pedang nan hebat berhasil dialihkan ke belakang. Chen tetap berniat maju ke depan dengan kecepatan yang sama sekali tidak dikurangi untuk menyerang.

Jieji memang sudah kembali ke ancang-ancang awalnya dan melihat serangannya sudah cukup membuahkan hasil. Dia menerjang ke arah Chen Yang yang sudah cukup dekat dengannya. Tanpa banyak bicara, kali ini pemuda merapalkan tapak lurus ke arah tapak orang tua yang datang dengan pesat itu.

Meski Jieji sedang mengarahkan tapak lurus ke arah telapak Chen Yang, dia tidak segera menahan laju tapak lawannya. Melainkan ketika tapak sudah sangat dekat, dia terlihat mengubah arah serangannya. Arah serangan yang seharusnya adalah setinggi dada, diubah pergerakannya menjadi agak ke atas. Arah yang diincar Jieji sekarang adalah muka lawannya.

Chen Yang terkejut, dia tidak menyangka bahwa perubahan jurus lawannya sebegitu cepat. Jika dia tidak menahan telapak yang menuju mukanya tentu akan membuatnya terluka dalam bersama Jieji. Dia tahu bahwa telapak lawannya yang lebih berbahaya karena mengenai mukanya jika sampai daripada telapak dirinya yang mengancam dada lawan.
Orang tua ini tidak berani mengambil resiko, dia akhirnya menghentikan kecepatannya yang sudah sangat dekat itu dan menarik sebelah tangannya untuk kemudian bertahan.

Chen lebih rela bertahan menerima serangan lawannya daripada harus menderita kerugian bersama Jieji. Sedangkan Jieji tidak berpikiran demikian, dia mempunyai perhitungan matang akan serangan tadinya. Dan melihat Chen Yang sudah membatalkan “pengejaran” melainkan sedang membendung dirinya dengan tenaga dalam, tentu membuat Jieji girang. Dia segera menyerang hebat ke arah orang tua.

Jieji tahu benar bagaimana cara kerja Ilmu pemusnah raga yang dimainkan oleh orang di depannya. Dia tahu setiap gerakan menyerang maupun bertahan dengan sangat baik, karena dia sendiri juga menguasai Ilmu yang persis dengan ilmu pemusnah raga dengan baik sekali.
Segera, dia mengerahkan Ilmu delapan belas telapak naga mendekam untuk menghantam ke depan. Jurus yang Jieji mainkan kali ini adalah jurus ke-10, hasilnya telapak sebelah kanan Jieji di hantamkan dengan keras ke depan.

Chen Yang girang melihat lemahnya serangan lawan di depannya, dia segera merapal energi dari bawah Tan Tien-nya untuk “menarik” energi lawan. Ini tiada lain adalah Ilmu pemusnah raga ataupun tapak berantai tingkat kedua yang sedang diperagakan.

Mustahil Jieji yang menguasai ilmu ini tidak tahu cara bekerjanya. Jika telapaknya benar di hantamkan ke arah Chen, maka tentunya Chen akan membiarkan energi lawan datang terlebih dahulu dan terakhir pelan-pelan mengurasnya dan membalikkan kembali energi itu.
Tetapi…

Ketika orang tua yakin usahanya berhasil, dia sangat terkejut kemudiannya. Sebab telapak nan hebat Jieji memang sampai ke lengannya yang sedang bertahan. Tetapi sungguh sebentar saja, dia sudah menarik kembali telapaknya yang membentur perlahan sehingga seperti pegas yang tertarik kembali ke posisi semulanya. Energi tenaga dalam langsung membuyar hebat sekali. Chen terlihat menarik diri untuk menahan energi yang spontan dan cukup membahayakan itu. Tetapi Jieji melihat pergerakan orang tua ini kontan gembira meski dia tidak menunjukkan di wajahnya.

Dengan mengancangkan jari mengarah ke depan, energi “merah” terang segera keluar mengejar. Berbareng dengan ini, Jieji juga ikut mengejar pesat terhadap mundur-nya orang tua ini.
Chen baru sekarang menyadari kesalahannya, sebab dia belum sepenuhnya mengeliminasi energi 18 telapak naga mendekam itu. Lantas sudah dikejar oleh hawa Ilmu jari dewi pemusnah, dan belum lagi Jieji yang maju menerjang dengan sangat hebat ke depan.

Melihat Chen sudah dalam keadaan yang sangat berbahaya. Segera saja Huo Xiang dan Yue Liangxu mengejar ke depan untuk melindungi orang tua ini. Mereka siaga dengan sangat cepat terutama untuk menghalangi energi Ilmu jari dewi pemusnah. Tidak pernah kepikiran bagi mereka cara untuk menghalangi gerakan Jieji yang sedang menyerang ke depan.

Ilmu jari dewi pemusnah yang dikerahkan kali ini bukanlah ilmu yang penuh tenaga dalam hebat. Melainkan hanya tipu silat untuk memancing kedua orang lainnya untuk maju.

Memang benar…
Energi jari pedang sudah berhasil dieliminasi dengan cukup mudah oleh kedua orang hebat ini. Begitu pula Chen sendiri, energi 18 telapak naga mendekam yang menyerang sebentar itu sudah berhasil dipunahkan energinya. Ketika mereka sudah siap menghadapi pengejaran Jieji, mereka kemudian sangat terkejut. Sebab Jieji sudah sangat dekat dan hanya terpaku sekiranya 3 kaki saja di depan mereka semua.

Ketiga orang ini segera menyerang cepat untuk bertahan. Sebab untuk bertahan sepertinya tidaklah mungkin lagi mengingat jarak mereka sudah sangat dekat. Mereka kesemuanya mengambil resiko menyerang untuk bertahan.
Melihat ketiganya sudah siap menyerang, Jieji merapatkan kedua tapaknya di dada dengan cepat menarik nafas dan memutar dirinya sepenuhnya.

Sebenarnya melihat gerakan Jieji yang tergolong sangat aneh ini, memang sangat mengherankan kesemuanya karena gerakan silat seperti ini tidaklah terdapat dari Ilmu tapak berantai. Dan ketiganya juga tidak pernah punya keinginan untuk mencari tahu jurus apa yang sedang dikerahkan pemuda yang sedang mereka keroyoknya ini.

Jieji memang mengarahkan tapaknya ke depan, tetapi sebelum benar berbenturan dengan telapak lawan. Kedua telapak tangan Jieji seakan berubah menjadi serangan yang sangat aneh sekali. Tidak ada benturan energi secara langsung terjadi.
Ketiga orang ini heran sekali sebab mereka bukanlah melihat dua telapak yang mengarah kepada mereka. Melainkan beberapa puluh buah yang datang secara bersamaan.
Entah ini ilusi atau adalah benaran, tidak ada yang benar berani mencobanya.

Tadinya ketiganya sedang menyerang untuk bertahan. Tetapi melihat keadaan di depan, membuat mereka segera menarik diri dengan sempurna guna bertahan sepenuhnya. Tidak ada lagi keinginan untuk membuyarkan energi lawannya di depan yang sedang menyerang sangat hebat sekali.

Serangan telapak tangan Jieji yang jumlahnya puluhan itu segera ditahan oleh mereka bertiga sesegera kemudian dengan gerakan yang sangat cepat. Yang herannya adalah semua telapak yang menuju ke titik berbahaya tubuh mereka adalah telapak asli dan bukanlah ilusi kesemuanya. Suara benturan telapak menyerang dan bertahan terdengar sangat jelas sekali. Ketiga orang ini mengambil gerakan mundur seraya menahan telapak tenaga dalam hebat Jieji.

“Plak…. Plak… Plak…”
suara yang bergantian terdengar dalam jangka waktu yang sangat singkat sekali. Ketiganya memang sangat sibuk bertahan. Jika orang biasa yang melihatnya tentu tidak percaya sebab mereka tentu sama sekali tidak melihat telapak yang sudah sangat cepat dan seakan berjumlah sangat banyak sekali.

Memang benar, jika dihitung adalah jumlah telapak yang menyerang mereka secara bersamaan adalah jumlahnya 72 buah. Ini adalah gabungan Ilmu telapak 18 naga mendekam dengan gerakan menyerang Ilmu pedang surga membelah, langkah 10.000 Dewa, Dan tenaga dalam Jing-gang. Sedangkan tenaga dalam yang mengirimnya adalah Ilmu pelenturan energi Yang yang baru saja dikuasai Jieji tidak berapa lama.
Ketika mereka merasa telah berhasil mengeliminasi energi dahsyat di depan, ketiganya kembali terkejut. Karena sepertinya sama sekali Jieji tidak pernah memberikan kesempatan kepada mereka. Dia kerahkan seluruh kemampuannya untuk menyerang jarak jauh.

Menggunakan cara sama, dia memutar diri kebelakang sambil merapatkan tapaknya.
Ketika benar sudah mantap benar dan perputaran tubuhnya sudah pas, dia mengarahkan kembali kedua telapak guna menyerang ke depan kembali.
Kali ini, jurus Jieji tidak main-main. Sebab ketika dia berbalik, sinar emas muncul sangat terang. Diikuti teriakan hebat dan gerakan cepat. Energi tak terlihat mata itu segera membantai ke depan.

Ini adalah serangan jarak jauh jurus ke 18 dari 18 telapak naga mendekam yang sudah disempurnakannya. Kontan saja, tanah retak hebat saat dilewati energi yang menyerang ke depan.
Ketiga orang lawannya tidak sempat lagi untuk mengelak, sebab mereka tidak tahu daya serangan luasan-nya adalah sampai dimana. Jika menghindar secara sembarangan pun bukan daya yang paling bagus, sebab jangan-jangan hawa energi tak tertampak itu akan menyerang hebat karena mereka tentunya tidak akan memiliki pertahanan sempurna jika menghindar saja.

Dengan nasib-nasiban, mereka segera mengerahkan kemampuan terbaik mereka untuk menyerang ke depan pula.
Tipu silat yang dimainkan Jieji adalah sangat sempurna sekali. Sebab dalam ilmu 18 telapak naga mendekam sangat lengkap segala cara menyerang, bertahan, menyerang untuk bertahan ataupun tipu tanpa penyerangan. Dan Jieji adalah seorang yang luas pengetahuannya dan cerdik, tentu ilmu ini sangat cocok dimainkan olehnya yang sangat tanggap akan situasi sependek mungkin.

Ketiga pendekar yang merupakan lawannya segera berupaya sebaiknya untuk bertahan. Meski Jieji memiliki jurus aneh yang nan hebat, tetapi untuk menjatuhkan ketiganya dalam satu kali serangan bukanlah hal yang mungkin sekali.
Dalam beberapa jurus yang sudah dilakukan kedua belah pihak, tertampak bahwa meski ketiganya adalah pendekar hebat penguasa Ilmu pemusnah raga tetapi justru mereka semua “dipaksa” untuk bertahan sebaik mungkin. Dan dilihat dari pertarungan, tentu maksud Jieji untuk “menaklukkan” Ilmu pemusnah raga telah tercapai dengan baik sekali.

Dengan menggabungkan energi secara cepat sekali, baik Chen Yang, Yue Liangxu ataupun Huo Xiang ketiganya sedang sangat sibuk menahan jurus yang datang bagai air bah, bak hempasan ombak terkeras. Ketiga orang ini sesungguhnya adalah manusia pilihan dalam bertarung. Kemampuan mereka boleh dibilang sudah tidak ada tandingannya lagi. Menghadapi Jieji seorang memang cukup membuat mereka sibuk. Terlihat dari hawa perpendaran yang sudah terjadi di depan mata mereka masing-masing.

Hawa “Naga” dari 18 telapak naga mendekam memang masih terus bergelut hebat di depan maupun samping tubuh mereka semua yang sedang diserang oleh energi itu.
Tanah pijakan ketiganya meretak hebat dan bersamaan dengan suara yang muncul merindingkan bulu kuduk.

Melihat hal demikian, Jieji tidak tinggal diam.
Dengan pesat, sekali lagi dia mengincar ke depan. Kali ini dia tidak lagi mengincar ketiganya secara langsung. Tetapi hanya seorang saja, seorang paruh baya yang berkumis serta jenggot hitam yang kelihatannya masih asyik mengeliminasi energi 18 telapak naga mendekam. Dengan gerakan kaki, dia pertama tiba menghantam dada orang yang tiada lain tentu Huo Xiang.

Melihat ayahnya dalam keadaan berbahaya tidak membuat Huo Thing-thing terkejut sampai tidak mampu bergerak, dia segera menyusul ke depan guna menahan Jieji. Tetapi belum dia merasakan bagaimana cara kerja Ilmu lawannya, dia sudah terpental dan jatuh bergulingan.
Huo Thing-thing “mendarat” jelek dan segera muntah darah. Jieji memang merapal jurus tapak untuk di arahkan ke arahnya, tetapi pemuda ini sama sekali tiada berniat membunuh gadis kejam tersebut.

Sikap gerakan kaki Jieji tadinya sempat berhenti sampai setengah karena “mengacau-nya” Huo Thing-thing, tetapi kali ini dengan gerakan yang sama dia menendang kembali.
Tentu melihat gerakan pemuda, ketiga orang ini sangat terkejut sekali. Belum lagi hawa didepannya berhasil dibuyarkan, tetapi malah datang lagi hawa yang lainnya. Terutama tentu Huo Xiang adalah orang yang paling terkejut melihatnya.

Jieji memang hanya sengaja mengerahkan tendangan untuk melawan Huo Xiang, karena tiada lain inilah “balas dendam” terhadap ayahnya, Hikatsuka Oda yang tewas sekitar 1 tahun yang lalu oleh Huo Xiang. Sekarang niatnya benar telah tercapai. Gabungan tendangan matahari dan tendangan mayapada segera melemparkan Huo Xiang dengan pesat ke belakang dan menabrak tembok lorong. Tembok lorong yang kuat itu pun sepertinya ambruk seketika diterjang oleh tubuh Huo Xiang akibat hasil tendangan maha dahsyat dari Jieji.

Huo sepertinya telah terluka demikian parah. Ini karena energi 18 telapak naga mendekam yang masih tersisa yang belum berhasil dibuyarkan, sekarang ditambahkan oleh energi tendangan yang hebat. Dia kali ini telah terlihat susah bangun.

Sementara itu, sepertinya baik Yue Liangxu dan Chen Yang telah berhasil dengan baik sekali membuyarkan energi hebat yang tersisa itu. Mereka segera membuang nafas keluar dengan baik sekali. Ini adalah bukti bahwa keduanya tiada mengapa-mengapa. Meski di dahi mereka keringat terus bercucuran, tetapi menerima kenyataan bahwa mereka telah berhasil sebelum Jieji menyerang kembali tentu membuat mereka girang.
Menurut mereka, jika saja Jieji kembali menyerang tentu membuat mereka dalam keadaan yang cukup gawat.

Senyum cerah terlihat sebentar di bibir kedua orang ini. Tetapi Jieji segera menyahut mereka.
“Aku hanya menyerang 1 orang…”

Terkejut tiada terkira baik Chen maupun Yue Liangxu mendengar perkataan pemuda. Mereka saling menengok beberapa saat, tetapi segera juga mereka sudah tahu pokok permasalahannya.
Jieji berpaling ke arah Huo yang perlahan mencoba berdiri itu. Di sampingnya, Huo Thing-thing telah berdiri untuk mengangkat ayahnya. Meski terpelanting cukup hebat, ternyata luka dalam Thing-thing tidaklah seberapa hebat jika dibandingkan ayahnya. Dia hanya diam dan menatap marah ke arah Jieji. Jieji memandangnya sekilas, lantas kembali dia berkata.
“Aku tidak akan membunuhnya. Cukup balas dendam atas kematian ayahku disini saja. Melihat dirinya yang kepayahan, maka pertarungan di Lin Qi kubatalkan saja.”

Huo Xiang yang dibimbing oleh puterinya sudah segera berbangkit. Di hidung dan bibirnya mengucur darah segar. Organ tubuh-nya sempat tergoncang hebat tadinya akibat 2 serangan tenaga dalam yang dahsyat. Dia tetap mampu berbicara meski terlihat agak kepayahan.
“Ilmu setan apakah yang kau keluarkan itu?”

Mendengar kata-kata Huo, tentu kedua orang lainnya Chen Yang dan Yue Liangxu juga ingin tahu. Mereka berdua sebenarnya tidak percaya adanya ilmu yang sanggup mengalahkan mereka dengan hanya sekejap saja. Meski keduanya tahu benar bahwa mereka tidak diberi “kesempatan” untuk menyerang. Tetapi serangan tadinya memang betul hebat.

Sebelum Jieji benar menjawab pertanyaan Huo Xiang, dia disusul oleh suara seseorang. Suara wanita yang lembut menggoda telinga setiap pria segera menyahut.
“Itu Ilmu 18 telapak penakluk naga!”

Tentu keempat orang segera berpaling ke arah suara yang menyahut. Keempat orang mengenali wanita ini, yang tiada lain tentu Wu Yunying atau isterinya Xia Jieji. Sedangkan Jieji hanya berpaling ke arah Yunying sambil menggelengkan kepalanya saja.

“18 telapak penakluk naga?” tanya Chen Yang heran.
Sementara itu, Yue Liangxu segera menutur.
“Ilmu telapakmu memang mirip dengan ilmu telapak 18 naga mendekam. Tetapi jelas jurusnya lebih beragam variasinya, tidak disangka saudara Xia telah menciptakan ilmu jurus yang jauh lebih hebat dari Ilmu pemusnah raga.”

Jieji yang mendengar pernyataan Yue, menjawabnya dengan datar.
“Tidak. Sebenarnya ilmu ini kucipta hanya khusus menaklukkan ilmu pemusnah raga saja. Tiada suatu yang khusus yang perlu dibuat takut.”

Sekarang, di tempat ini telah muncul kembali 3 orang. Ketiga orang ini muncul dari arah belakang. Ketiganya juga berdiri mentereng menghadap ke depan. Tiada lainnya adalah Zhao Kuangyin, Yuan Jielung dan pencuri ulung alias Lie Hui telah sampai disana.

“Hm…
Tidak disangka misi penyelamatan orangmu benar berhasil. Kita terlalu meremehkanmu.” tutur Chen Yang sambil menatap tajam ke arah Jieji.

Jieji tersenyum sambil menjawabnya.
“Kamu tentu tidak tahu bahwa ledakan itu hanya suara belaka saja.”

Chen memandang ke depan, dia memandang ke arah mata Jieji beberapa lama. Kemudian dia tertawa besar sekali.
Melihat gelagat orang tua, tentu semua orang merasa aneh sekali. Hanya seorang Jieji yang masih tetap tersenyum ke depan. Dia tahu persis bagaimana pikiran dan perasaan orang tua ini. Lalu dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Betul..
Suara itu pertama kita dengar adalah persis suara ledakan. Tetapi ketika kita telah sampai ke pos penjagaan, aku baru betul menyadarinya. Betul-betul kesalahan bodoh…” tutur Chen Yang yang masih tertawa dengan suara kekecewaannya.

“Sebab pos penjagaan disanalah yang kuledakkan pertama-tama. Sebenarnya wisma naga emas dan orang-orang disana sudah tertidur dengan keasyikannya. Sangat disayangkan betul jika kalian tidak sempat melihat pemandangan disana.” tutur Jieji.

Orang-orang dari pihak lawan segera terkejut. Mulut mereka menganga mendengar perkataan Jieji yang seakan tidak percaya semua halnya. Huo yang kepayahan segera menanyai Jieji.
“Bagaimana caranya kau…” Tetapi baru berkata, dia sudah muntah darah kembali. Thing-thing adalah orang yang paling terkejut melihat kondisi ayahnya itu.

“Itu mudah saja. Meski ini adalah cara kotor, tetapi jika tidak dilaksanakan sebaik-baiknya maka tidak akan ada saat sekarang.” tutur Jieji.

Tetapi Yunying dari sebelahnya segera menyela. Dia berkata.
“Tidak…
Ini bukan cara yang kotor. Mereka orang yang mulai duluan kan? Kita menaruh bubuk obat tidur di sumur semalam.”

Sebenarnya main racun terhadap sumber air memang bukanlah tindakan seorang satria. Tetapi karena mungkin tiada cara yang paling bagus maka inilah yang terpikirkan oleh mereka semua. Pertama-tama memang Jieji tidak begitu menyukai cara sedemikian, tetapi karena dia merasa tipu semacam ini memang memadai maka dia juga tidak menentangnya terlalu keras. Tipu meracuni sumber air ini adalah datang dari Yunying, tentu mendengar suaminya mengatakan bahwa adalah cara kotor, tentu dia tidak begitu puas maka daripada itu dia-lah orang yang pertama menyela.

“Obat tidur? Mengapa dari tadi pagi tidak ada yang tertidur sama sekali?” tanya Huo Thing-thing segera yang merasa aneh.

“Betul…
Itu obat tidur memang benar ditaruh ke sumur. Tetapi sudah dibungkus kulit kambing beberapa lapisnya, sehingga ketika siang baru air terkontaminasi oleh obat.” tutur Jieji.

Mendengar perkataan Jieji, Chen kembali tertawa. Dia terlihat tertawa sangat kecewa, tentunya karena terlalu meremehkan tindakan lawan yang sangat berbahaya itu sebenarnya.

“Sebenarnya, semenjak sore…
Orang-orang di wisma naga emas yang telah tertidur itu telah terganti orangnya. Adalah partai surga menari yang berpura-pura menjadi anggota Partai Jiu Qi, dengan begitu kiriman berita dari kedua belah pihak tetap berlanjut. Maka daripada itu rencana ini baru bisa dimaksimalkan seluruhnya.
Kita tahu bahwa orang yang menyamar sebagai Shen Yileng benar sudah tidak pulang ke Wisma naga emas, maka kita yakin sekali bahwa orang yang menangkap pencuri ulung tentu benar mengurungnya disini.”
jelas Jieji.

Chen segera berpaling ke arah Yue Liangxu, dia berkata.
“Sungguh benar perkiraanmu, kita kali ini kalah telak.”

Zhao Kuangyin segera beranjak ke depan, dia menuding dengan kipas di tangannya ke arah Huo Xiang.
“Kau sudah mengirimkan pasukanmu untuk menyerang daratan tengah. Sekarang akan kupinjam kepalamu untuk meminta mereka semua mundur.”

Mendengar tuturan Zhao, Thing-thing terkejut kelabakan. Dia segera menghunus pedang untuk menahan laju jalan Zhao.
Tetapi Jieji menghentikan gerakan Zhao sesegera. Dia berkata lurus menghadap ke arah Huo Xiang.
“Kita bukan hanya menolong seorang pencuri ulung kali ini. Tetapi ada seorang lainnya lagi. Dialah orang yang bisa membuat pasukan persia mundur.”

Zhao menatap ke arah adik keduanya sekilas. Kemudian terakhir dia beranjak mundur.

“Kau!!! Jangan-jangan…” sahut Huo Xiang seakan tiada percaya mendengar perkataan Jieji barusan.
Sebelum mereka berniat untuk melanjutkan kata-kata. Segera terasa hawa cukup banyak orang yang datang mengelilingi mereka kesemuanya. Mungkin jumlah orang yang dirasa dari derap kaki sudah mencapai ratusan orang. Meski cukup jauh, tetapi kesemua orang ini merasakannya dengan baik sekali.

“Raja Persia sudah dibebaskan oleh mereka. Sepertinya kali ini kau sudah dalam masalah besar.” tutur Chen Yang yang melihat ke arah Huo Xiang.

“Betul…
Kalian pergilah sesegera mungkin dan sedapat-dapatnya. Aku tidak akan menghalangi kalian semua.” jawab Jieji dengan serius.

Zhao kuangyin dan Yuan Jielung serta Wu Yunying seakan tidak percaya apa kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Jieji. Mereka tidak percaya bahwa dengan gampang Jieji berniat melepaskan mereka semua.
Terlebih lagi rasa terkejut Huo, Thing-thing, Chen Yang dan Yue Liangxu. Sebenarnya tidak mungkin bagi mereka bahwa Jieji akan melepaskan kesemuanya seperti saat sekarang. Tetapi mendengar perkataan Jieji, mereka semua tentu tahu bahwa pemuda ini tidak bermain-main dengan kata-katanya barusan.

Keempat orang yang sepertinya mendapat “kesempatan” tentu tidak ingin menyia-nyiakannya. Lantas sambil beranjak, mereka berniat meninggalkan tempat. Tetapi pasukan kerajaan keburu sampai. Mereka sudah mengepung rapat di arah tengah. Bahkan beberapa pasukan pemanah sudah berada di atas atap mengeker posisi keempat orang yang beranjak meninggalkan.

“Jika kalian bisa kabur, maka langit tidak menghendaki kalian mati.” tutur Jieji kembali ke arah mereka.

Mereka memang berbalik setelah mendengar kata-kata Jieji. Tetapi baru saja mereka berniat ambil langkah seribu, kali ini di antara pasukan yang siaga sepertinya telah terlihat “membukanya” jalan dari rapatnya pasukan istana.
Di antara kumpulan pasukan, muncul seseorang dengan kursi yang diangkat. Seseorang yang berwajah putih dengan kumis panjang, mata yang sayu segera muncul. Dia memakai baju putih yang sepertinya cukup ternoda darah dan noda tanah. Dialah raja dari Persia.

Dia menunjuk ke depan dengan gusarnya sambil berteriak.
“Tangkap Huo Xiang dan seluruh dedengkotnya!!!”

Mendengar perkataan Raja, semua pasukan segera maju mengepung dengan sangat bersemangat. Di antara keempat orang ini, sebenarnya hanya 2 orang saja yang sanggup bertarung dengan baik. Baik Huo Xiang maupun Huo Thing-thing telah terluka dalam. Segera saja baku hantam terjadi dengan hebat. Kedua pendekar ini memang bukan sulit sekali meredam pasukan istana, mereka berdua mengeluarkan jurus untuk mengusir penghalang mereka. Arah yang dituju adalah tembok tinggi dari penjara.
Dan saat mereka sudah hampir tiba di tembok, terasa ledakan dan cahaya nan terang terlihat.

Begitu redanya cahaya sekejap, asap segera mengepul sangat hebat mengepung tempat itu. Rupanya penolong dari keempat orang sudah datang. Tiada lain orang yang melepaskan bom asap adalah ketua Partai Jiu Qi yang selalu memakai baju besi.
Jieji dan kawan-kawan bisa merasakan bagaimana orang ini bergerak dan pergi dari sana dengan sekejap. Tetapi baik dia dan kawan-kawan tidak mengejar kesemua orang itu. Mereka hanya diam ditempat dan bertindak seakan tidak terjadi sesuatu.

Ketika asap sudah reda sepenuhnya, adalah Yuan Jielung yang berjalan ke arah Jieji. Dia segera bertanya kepadanya dengan heran.
“Pendekar Xia, bagaimana mungkin kamu bisa melepaskan Huo Xiang? Dia sudah membunuh ayah anda dan guruku.”

Sambil menatap lekat ke bola mata Yuan, Jieji menjawabnya.
“Huo Xiang tidak akan berumur panjang lagi. Seluruh nadinya memang sudah putus, meski dia bisa hidup tentu itu adalah karunia Tuhan kepadanya.”

Yuan Jielung hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Sementara itu, Zhao Kuangyin segera maju ke arah Jieji. Dia menanyainya juga.
“Selama Huo dan kawan-kawannya masih hidup, dia adalah ancaman bagi kita semua serta keamanan wilayah daratan tengah. Kenapa tidak saja adik kedua menghabisinya sekaligus?”

Jieji menatap ke arah kakak pertamanya. Sambil tersenyum tawar dia menjawab.
“Ada 2 hal kenapa aku tidak membunuhnya. Yang pertama adalah tidak mungkin bagiku mengambil kesempatan saat dirinya sudah terluka parah. Dan yang kedua, aku merasa bahwa Yue Liangxu itu adalah palsu.”

Mendengar tuturan Jieji, Zhao terkejut. Begitu pula Yunying, Lie Hui dan Yuan Jielung. Mereka segera mengerutkan dahi mereka sambil memandang serius ke arah Jieji.
“Memang benar, kamu sungguh hebat. Yue Liangxu itu kurasa adalah orang yang palsu. Sebab jika dia adalah Yue Liangxu kenapa harus menekan suaranya sedemikian rupa, itu juga adalah salah satu ilmu mengubah suara dari partai Jiu Qi. Aku memang merasa cukup heran juga.” jelas Lie Hui.

Jieji menatapnya sambil tersenyum. Dia kemudian berkata.
“Jika kita perhatikan seksama seperti perkataanmu tadinya memang adalah kenyataan. Yue Liangxu di sini tadinya bukan orang aslinya. Tadi juga kutahu karena aku bertarung sesaat dengannya, dan anehnya jurus-jurusnya tiada satupun ada sangkut pautnya dengan pemusnah raga. Selain itu, jurus miliknya memang cukup mirip dengan sesuatu ilmu yang kukenal.”

Yunying yang merasa heran segera menanyai suaminya.
“Betul…
Aku merasa dari gerakan kakak seperguruanku memang terasa rada janggal. Aku mengenal Yue semenjak kecil. Dan dari setiap gerakan biasa saja aku sudah cukup merasa janggal.”

Jieji mengangguk pelan ke arah Yunying. Dia lantas berkata.
“Semoga saja pemikiranku bukan kenyataan.”

Memang berdasarkan kata-kata Jieji terasa cukup aneh bagi keempat temannya. Tetapi karena Jieji sering berkata hal “aneh” seperti demikian, maka mereka tidak mengambilnya betul di hati.

Raja Persia akhirnya menyahuti mereka semua yang sepertinya sedang serius untuk membahas sesuatu hal.
“Terima kasih atas pertolongan pendekar…”

Jieji dan teman-temannya berpaling. Mereka memberi hormat dengan dalam juga ke arah Raja Persia ini. Setelah kejadian, Wisma bunga senja telah “disita” oleh Raja Persia. Banyak anggota dari partai bunga senja melarikan diri setelah tahu bahwa Huo telah “jatuh”. Beberapa memang ada yang tertangkap serta dihukum mati oleh Raja.

Sementara itu…
Setelah mengetahui bahwa Jieji adalah “Pahlawan Selatan” di daratan tengah, serta Zhao Kuangyin adalah mantan Kaisar Sung, Sung Taizu tentu membuat Raja Persia sangat girang sekali. Raja dari Persia ini menjamu mereka beberapa kali dalam pesta. Dia secara pribadi menghanturkan terima kasih atas usaha mereka yang menyelamatkan dirinya dari cengkraman Ketua partai bunga senja yang sangat haus akan ambisi.
Jieji meminta Raja untuk mengirimkan beberapa mata-mata khusus untuk mengetahui gerakan partai Jiu Qi setelah jatuhnya Partai bunga senja, tentu hal ini segera disetujui oleh Raja. Mereka kesemuanya menempati ruangan khusus tamu istana kerajaan Persia.

Di sebuah ruangan yang cukup besar…
Penanggalan imlek hari kedua, atau hanya beberapa jam setelah raja Persia menjamu mereka semua sampai larut malamnya. Rasa bahagia-nya raja Persia tidak terkatakan, sebab karena dia justru diselamatkan pada hari saklar para rakyat daratan tengah.

“Adik kedua berpikir akan meninggalkan Persia? Tetapi kapan?” tanya Zhao kuangyin yang duduk di tengah meja berbentuk persegi.

“Setelah kita benar mendapat informasi akan kematiannya Huo Xiang. Kita akan berangkat pulang.” jawab Jieji sambil tersenyum kepada kakak pertamanya.

Di ruangan, terdiri dari beberapa orang yang sedang duduk serta berbincang dengan keadaan yang cukup tegang dan serius. Kesemua orang disini tentu adalah teman-temannya Xia Jieji yang semalam baru saja melakukan aksi hebat di partai Bunga senja. Ketika mereka mendengar jawaban pendek Jieji, mereka cukup terkejut dan seakan tidak percaya saja.
Zhao yang mendengar perkataan adik keduanya, segera bertanya dengan raut wajah yang agak mengherankan.
“Huo Xiang mati? Bagaimana caranya dia bisa mati?”

Jieji hanya tersenyum saja, dia menoleh ke arah pencuri ulung. Matanya yang terlihat bersinar cerah tentu mengandung sesuatu maksud. Pencuri ulung alias Lie Hui memang memandang ke arah Jieji, dia tidak habis pikir kenapa orang ini bisa memandangnya sambil tersenyum. Dia ikut bertanya kepada pemuda.
“Ini memang hal yang janggal, kenapa anda bisa mengatakan bahwa Huo Xiang bisa mati tanpa sebab?”

“Tidak…
Bukan tiada sebab. Aku ingin menanyai anda, selama seminggu anda dikurung lantas apa saja pembicaraan kakak seperguruanmu alias ketua partai Jiu Qi kepadamu?”

Lie Hui agak heran. Lantas dia kembali mengingat-ingat. Raut wajah penuh keheranan kepada dirinya sendiri menghiasi wajah yang manis darinya. Dia terlihat berpikir beberapa lama saatnya, tetapi kemudian Jieji berkata lagi kepadanya.
“Dia meminta sesuatu benda penting darimu, tetapi setelah beberapa saat dia juga tidak sanggup menemukannya lewat pembicaraan. Sekarang kamu sedang berpikir apakah ada hal yang janggal dari sana bukan?”

Lie Hui terkejut sekali mendengar perkataan Jieji barusan, dia tidak menyangka sama sekali kata-kata demikian bisa keluar dari mulut pemuda. Sesaat, sesungguhnya dia sangat heran. Tetapi setelah otaknya telah bekerja semestinya, dia kemudian menanyai Jieji dengan serius.
“Dia menginginkan-ku untuk menyerahkan pedang tanda ketua kepadanya. Tetapi dalam seminggu aku tidak pernah menjawabnya sama sekali.”

“Jangan-jangan…
Pedang itu adalah pedang berat?” tanya Yunying menyambung rasa heran dirinya sendiri dan kata-kata Lie Hui barusan.

Jieji memandang ke arah isterinya yang nan cantik itu, lantas dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Itu pedang bukanlah menjadi kunci kematian Huo Xiang. Jelas Huo Xiang tidak pernah berpikir untuk mendapatkan pedang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengannya. Tetapi dari pedang, tentu ada hubungannya dengan partai Jiu Qi. Partai Jiu Qi selama ini adalah berada di bawah bayang-bayang partai Bunga senja. Sekarang Huo Xiang sudah tidak menjadi orang yang berguna lagi bagi mereka, tentu orang pertama yang akan disingkirkan mereka adalah seorang Huo Xiang.”

Mendengar perkataan Jieji kembali, lantas pencuri ulung memberikan komentarnya.
“Betul perkataan anda, aku merasa memang benar partai Jiu Qi berada di bawah komando Huo Xiang. Tetapi bagaimana kamu bisa yakin orang partai Jiu Qi yang akan membunuhnya?”

“Tidak… Maksudku adalah “menyingkirkan” bukan membunuhnya.” jawab Jieji sambil tersenyum kepada kesemuanya.

“Aku sudah tahu…” jawab Zhao kuangyin, lantas dia berkata kembali.
“Partai Jiu Qi sudah tamat riwayatnya di sini, di Persia. Adik kedua ingin mendengar kabar kematian Huo Xiang, karena dia sendirinya mempunyai musuh yang sangat banyak sekali disini. Lantas jika partai Jiu Qi tidak lagi mendukungnya, tentu mereka akan meninggalkan orang tua reyot yang tidak berguna. Saat itu mungkin Huo berada dalam bahaya besar.”

“Tepat 9 bagiannya kakak pertama…” tutur Jieji sambil tersenyum puas ke arah Zhao Kuangyin.

“Mereka meninggalkannya bukan saja dirasa tidak berguna, tetapi membawa seorang yang tidak berguna tentu harus membuat mereka melindunginya bukan? Dan itu bukanlah tugas yang mudah.” sahut Jieji.

“Dengan begitu, maka mereka tentu berpikir kita akan mengejar mereka dalam pelarian. Selain itu juga pasukan kerajaan sedang mencari-cari mereka di saat yang bersamaan. Dengan bersama Huo Xiang yang terluka dalam parah maka kemungkinan lolos akan sangat sedikit. Bukan begitu pendekar Xia?” tutur Yuan Jielung ke arah Jieji dengan senyuman kegembiraannya.

“Tepat sekali…” jawab Jieji sambil tersenyum ke arah Yuan Jielung.

Zhao menengadahkan kepalanya. Dia terlihat tersenyum beberapa saat, lantas dia berkata.
“Perkataan adik seperguruan Sun memang benar sekali. Huo akan mati di tangan orang yang rendah saja.”

Kesemua orang yang mendengar peryataan terakhir dari Zhao, segera tersenyum lebar. Sebab perkataan yang penuh emosi sekira satu tahun yang lalu dari Sun, ternyata hampir telah terbukti juga sekarang.

Yunying segera berpandang ke arah suaminya, dia ingin menanyainya sesuatu yang tertunda sejak semalam. Melihat kesemuanya sudah hadir, dirasa adalah hal yang sangat tepat sekali jika hal ini dikatakan dan ditanyakannya. Lantas dia membuka mulut.
“Kak Jie mengatakan bahwa “Semoga perkiraanku bukanlah kenyataan..” ketika kita berada di partai bunga senja. Lantas apa maksudnya semua itu?”

Jieji melirik ke arah isterinya. Lantas dia menggelengkan kepalanya saja.
Mendengar kembali Yunying mengungkit masalah ini, Zhao juga segera menanyai adik keduanya itu.
Tetapi sepertinya Jieji enggan berkata banyak kata akan masalah ini sampai kemudian pencuri ulung tiba-tiba menanyainya dengan pertanyaan yang cukup aneh.
Cukup aneh dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal yang sedang dibahas oleh mereka semua itu.

“Kamu bisa menjelaskan kisah saat dirimu masih kecil sampai beranjak dewasa?”

Ini pertanyaan memang cukup membingungkan apalagi keluar dari mulut pencuri ulung. Kesemuanya memang segera tertarik mendengar perkataan pencuri ulung di samping juga merasa sangat heran sekali mendengar perkataan nona cantik ini.
Jieji menatapnya dengan tajam, matanya terlihat berubah warna seketika. Bukanlah sinar kemarahan ataupun kesedihan. Tetapi sinar matanya mengandung sebuah arti yang sangat sulit dipahami. Atau bisa dikatakan saat ini adalah sinar matanya penuh dengan rasa pertanyaan.
Yunying segera menengahi mereka berdua, dia juga menyahut hal yang hampir serupa kemudiannya.
“Kamu pernah menceritakan kisah kehidupanmu setelah usiamu diatas 20 tahun, tetapi tidak pernah aku mendengar kisah kanak-kanakmu sampai beranjak dewasa.”

Jieji yang tadinya menatap tajam ke arah pencuri ulung, segera memaling wajahnya ke arah isterinya. Lalu dia berkata.
“Mengenai masa kecilku bukanlah hal yang ingin kubicarakan, seperti saat di Tongyang kamu sering menanyaiku. Aku sudah males sekali mengingatnya kembali.”

Yunying nampak kesal saja dengan pernyataan suaminya. Tetapi pencuri ulung lantas tersenyum sambil berkata kembali.
“Aku tahu sekira 7 bagian dari kehidupanmu itu.”

Jieji terkejut, dia melihat ke arah pencuri ulung sambil menggaruk-garuk kepalanya seakan tiada percaya. Wajahnya berubah kembali menjadi seperti agak pucat pasi. Dia melihat dengan sorot mata yang agak tidak percaya.
Zhao kuangyin dan Yuan Jielung cukup heran mendapati tingkah pemuda. Tetapi kemudian Zhao menanyainya lagi.
“Benar adik kedua…
Aku pernah mendengar kamu sangat rajin mempelajari banyak hal. Dari ilmu perang, taktik, tipu muslihat, dan penyelidikan. Kamu setiap hari membacanya dan menjadikannya sebagai teman hidupmu sejak lama sekali. Tetapi aku juga belum pernah mendengar bagaimana kamu bisa berkembang hebat hanya mengandalkan buku-buku saja?”

Jieji menghela nafas panjangnya. Sepertinya baginya bukan hal yang mudah sekali membicarakan kisah perjalanan hidupnya dari umur sekira 8 tahun sampai usianya yang ke 18. Dia ingin berbicara, tetapi mulutnya seakan tertutup rapat, hatinya seperti ditahan oleh sebuah batu besar sekali, sementara otaknya seakan sedang melayang-layang beberapa lamanya. Sementara itu, keadaan di sana telah terasa sangat hening cukup lama. Bahkan suara nafas kesemuanya bisa dirasakan kesetiap orang yang sedang dia mengamati ke arah Jieji.

Akhirnya, pencuri ulung memecah kehingan dengan suaranya.
“Ini ada hubungannya benar dengan kata-katamu yaitu “Semoga perkiraanku bukanlah kenyataan..”"

Jieji menatapnya beberapa saat dengan pandangan yang dalam sekali. Lantas tiba-tiba dia tertawa keras. Mendengar tawa Jieji, tentu kesemuanya sangatlah heran sekali. Tetapi Yunying dengan wajah menggerutu kemudian mengejeknya.
“Kamu makin lama makin mirip Chen Yang.”

Jieji memandang ke arah isterinya tetap dengan tertawa, lantas dia menggelengkan saja kepalanya.
Sebenarnya apa tindakan Jieji yang aneh adalah tidak luput dari pengamatan pencuri ulung. Hanya pencuri lihai ini yang mengetahui seluk beluk masalah, lantas dia tetap tersenyum saja beberapa saat.
Tibalah waktu akhirnya Jieji menghentikan tawanya. Tetapi di wajahnya terlihat kesedihan yang bukan dibuat-buat. Dia berusaha membuka mulutnya, lantas dia mengatakan beberapa hal dengan suara parau.
“Ketika usiaku masih sangat muda. Aku ingat…
Diriku berteman dengan seseorang, dia mengajariku banyak hal tentang hal yang janggal di dunia. Aku berteman selama 10 tahun dengannya.”

Yunying segera menanyainya dengan wajah penasaran.
“Temanmu itu wanita atau pria?”

Pertanyaan Yunying yang spontan tentu membuat orang merasa geli, tetapi ini adalah naluri seorang wanita yang tentunya telah bersuami. Melihat tingkah suaminya yang tidak mau menceritakan kisah kecilnya, sudah membuatnya cukup curiga. Dan mendengar bahwa dia berteman akrab selama 10 tahun dengan seseorang, tentu membuatnya berpikiran negatif duluan. Ini adalah sifat seorang wanita pada umumnya.
Sebelum Jieji menjawab, pencuri ulung sudah tertawa terbahak-bahak. Dia menuturkan kata-katanya.
“Temannya adalah seorang yang sudah tua, jauh lebih tua darinya dan seorang pria.”

Jieji menganggukkan kepalanya. Lantas dia melanjutkan kata-katanya kembali.
“Temanku bermarga Huang. Dan dia adalah…”

“Pamanmu dan yang bernama Huang itulah yang dimaksud.” tutur pencuri ulung, ke arah Yunying yang terlihat penasaran.

“Dia? Dia pamanku yang kabarnya sudah tidak pernah terdengar lagi. Huang Qian?” tanya Yunying yang agak heran.

“Huang Qian adalah seorang seniman hebat, selain dirinya juga jago memecahkan kasus. Dia mengarang 7 buah karya maha hebat sepanjang hidup dan meninggal di usianya yang ke 41s saja. Diakah orangnya adik kedua?” tanya Zhao kepada Jieji.

Jieji menganggukkan kepalanya. Sambil menghela nafas dia melanjutkan.
“Saudara Huang adalah seorang pria yang paling hebat. Aku sangat mengagumi kemampuannya. Ketika memecahkan kasus di Hebei pertama kalinya, aku yang masih berumur 8 tahun sangat terpesona. Lalu disana aku bersumpah bahwa suatu saat aku akan mengikuti jejak dirinya. Meski saat usia itu, aku pernah “dipaksa” oleh ayahku, Xia Rujian mempelajari ilmu pedang ayunan dewa. Tetapi tidak pernah sekalipun aku menurutinya. Sepanjang hidupku dari usia 4 tahun sampai 8 tahun, aku sangat tertarik akan kisah kepahlawanan, sastra, ilmu perang dan ilmu tipu muslihat.”

“Lalu anda berteman baik dengannya meski saat itu usia kalian berbeda sangat jauh. Dia sendiri sangat mengagumi dirimu ketika kamu memecahkan kasus hanya pada usia 11 tahun saja meski saat itu dialah yang membantu anda dari awal hingga akhir. Tentunya ini bukan termasuk sebagai kasus pertama yang anda pecahkan sendirian.” jawab Lie Hui sambil tersenyum puas ke arah Jieji.

Jieji terkejut sekali. Dia memandang seakan tidak percaya ke arah wanita ini. Dia tidak tahu bagaimana caranya pencuri ulung sangat mengenal dirinya meski saat dia masih berusia sangatlah belia.

“Itu adalah kasus hilangnya batu giok di perjalanan pengawalan.” jawab Zhao Kuangyin sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.

“Dan hal yang paling penting adalah, saat itu bangsawan sendiri-lah yang sengaja “menghilangkan” batu giok. Dia berharap mendapat sejumlah besar uang ganti rugi atas pengawalan batu giok sebesar sebuah kepala itu dari biro pengawalan Wei. Aku masih ingat kasus itu.” tutur Zhao kuangyin yang seraya mengingatnya dengan baik.

“Tetapi hal yang terpenting di sini bukanlah mengenai hilangnya batu giok itu. Namun hasilnya, hasilnya adalah bangsawan Zhu dipenggal kepalanya atas perbuatannya yang telah membunuh 27 orang pengawalan dari biro pengawalan Wei di Hebei. Semua tindakan main gilaknya ketahuan karena dirinya telah terbongkar kejahatannya oleh seorang pemuda belia yang hanya berumur 11 tahun saja.” tutur Lie Hui sambil menatap Zhao Kuangyin dengan serius.

Zhao terkejut juga. Dia hendak berkata-kata, tetapi dia dipotong kembali oleh pencuri ulung.
“Anda-lah orang yang melaksanakan eksekusi itu. Anda masih ingat hari-hari itu?”

Zhao menatap tajam ke depan ke arah pencuri ulung. Beberapa lama kemudian, dia menganggukkan kepalanya.

Lie Hui kembali melanjutkan kata-katanya.
“Keluarga kerajaan Zhu dan Li adalah dua buah keluarga yang telah bermusuhan sejak ratusan tahun yang lalu. Inilah permusuhan yang dimulai semenjak zaman ini.
Zhu Wen adalah Kaisar dinasti Liang akhir, tetapi dia haus akan ambisinya sehingga dia meracuni Kaisar Aidi dari Tang, Li Zhu. Meski Li Zhu pura-pura tewas, tetapi dari sini bisa dilihat bahwa keluarga dari kaisar terakhir Tang tentu tidak puas sama sekali. Puteranya Li Zhu yang bernama Li Sen berhasil melarikan diri dibawa oleh pelayan dan dayangnya saat baru berusia 5 bulan saja. Li Sen bertekad membalas dendam setelah usianya beranjak dewasa. Dia mendirikan Biro pengawalan Wei, dan mengubah marga menjadi marga Wei di Hebei. Saat itu, dia sengaja untuk menerima batu giok dari keluarga Zhu meski dia sudah tahu bahwa keluarga Zhu bakal main curang dalam hal ini.

Dan benar saja, bangsawan Zhu akhirnya “diselesaikan” dengan pengeksekusian yang akhirnya berbuntut panjang. Zhu Lung memiliki seorang putera yang namanya adalah Zhu Xiang. Meski saat kecilnya dia dirawat di Tibet, tetapi setelah dewasa dan mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya dia berusaha membalas dendam….”

“Yaitu membunuh seluruh keluarga Wei yang pernah tinggal di Hebei. Zhu Xiang saat itu hanya berusia 20 tahun dan dia hanya menguasai 3 jurus telapak buddha Rulai. Yang tertinggal atas kesemuanya yang dibantai adalah seorang putera dan satu puterinya. Zhu Xiang masih belum puas, dia berniat mengejar sampai ujung daratan untuk menemukan kedua orang ini yang masih berusia sekitar 6 dan 7 tahun saja. Tetapi, akhirnya anak-anak keluarga Wei ditolong olehku.” jawab Zhao Kuangyin dengan tegas.

Jieji memandang ke arah kakak pertamanya seakan tidak percaya kata-katanya. Bagai disambar geledek dia melihat ke wajah kakak pertamanya yang terasa kekecewaannya.

“Aku hanya dijadikan bidak catur oleh perseteruan keluarga mereka. Keluarga Wei atau Li memanfaatkan diriku untuk membunuh kepala keluarga Zhu meski ini adalah perintah dari Chai Rong. Lantas ketika aku berhasil menyelamatkan kedua pasangan putera puteri ini di tengah kekacauan perang. Aku memberikan seorang yang wanita kepada Zhuo Lu, bangsawan di Guiyang yang isterinya menginginkan seorang anak perempuan. Sedang yang lelaki kuberikan kepada guru besar dari Tibet yang sangat senang melihat kelakuan anak kecil yang hanya berusia 6 tahun itu.”
Zhao kuangyin berkata sambil menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat sangat tua sekali ketika dia mengingat kembali peristiwa yang sudah sangat lama sekali itu.

“Apakah kakak pertama tahu bahwa adik ketiga-lah orang yang kakak selamatkan itu? Kapan kakak pertama mengetahuinya?” tanya Jieji kepada Zhao.

“Saat setelah aku tahu bahwa Ba Dao ternyata adalah orang yang pernah datang kepadaku di saat kekacauan perang di barat Gui Yang. Guru besar ini pernah mengunjungiku kembali di Istana bersama guruku, Dewa Semesta tetapi itu sudah lewat belasan tahun setelahnya.” tutur Zhao kuangyin.

“Dengan begitu, berarti kakak pertama tidak pernah tahu bahwa ketika kakak pertama mengangkat saudara dengan adik ketiga saat itu adalah sesungguhnya orang yang pernah diselamatkan oleh kakak pertama?” tanya Jieji lagi.

“Betul…
Aku tidak pernah mengiranya demikian. Adik ketiga adalah orang yang ramah dan penuh rasa kebenaran yang tinggi. Jadi saat itu, aku tidak pernah menghubungkan kasus lainnya untuk mengangkat saudara dengannya.” jawab Zhao dengan pasti.

“Tetapi…
Apa yang anda pikirkan ternyata tidak sama dengan yang dipikirkan oleh orang lainnya. Saat itu, pasukan pemberontak bermarga Han sedang melewati barat kota Guiyang…” tutur Lie Hui sambil mengerutkan alisnya.

Mendengar tuturan Lie Hui, Jieji tersenyum sinis kepadanya. Dia berkata dengan suara pelan nyaris tidak terdengar, “Zaman apa wanita ini lahir sebenarnya???”

“Benar sekali…
Kita mempunyai susunan kekuatan yang sama. Jika tidak bermain ilmu perang yang baik, maka kita akan kalah. Sebenarnya saat itu, aku tahu bahwa keluarga Wei sedang dibantai oleh seorang pemuda kecil. Jika aku menolongnya mungkin bukan hal yang susah sekali, tetapi….” jawab Zhao sambil menghela nafas. Dia kemudian menyesalkan dirinya sambil membanting kaki sekali ke tanah dengan keras. Air matanya terlihat turun perlahan, dan dia mendongkakkan kepalanya ke atas langit-langit ruangan.

“Tetapi…
Bagaimanapun kakak pertama tidak bisa dikatakan sepenuhnya bersalah kepada adik ketiga. Kakak pertama tahu bahwa jika dengan munculnya dirimu, maka itu akan terasa gawat sekali bagi pasukan yang kakak pertama pimpin saat itu. Urusan negara sangatlah mendesak, jika saja dalam malam persembunyian kakak memunculkan diri maka akan terasa tiada beruntungnya bagi pasukan dinasti Zhou akhir.” tutur Jieji menghiburnya.

Zhao menatap serius ke arah Jieji. Dia tidak begitu percaya apa kata-kata Jieji barusan, lantas dia menanyainya.
“Bagaimana adik kedua tahu saat itu adalah malam sangat gelap?”

“Itu tidak susah, jika saja Zhu Xiang yang mengenal sepasang putera puteri keluarga Wei, tentu dia tidak akan membiarkan yang lelaki hidup berdampingan damai dengannya selama hampir 20 tahun lamanya. Jika bukan malam terjadi pembantaian, mungkin dari dulu adik ketiga tidak pernah lagi hidup.
Dan guru besar Ba Dao mungkin pernah menyadari hal ini tentunya, tetapi karena dia tidak ingin pembunuhan turun-temurun itu berlanjut, maka dia memutuskan memungut adik ketiga menjadi muridnya. Di samping itu, sang guru juga bisa mengawasi setiap saat muridnya itu dengan baik. Dan dari sini bisa dikatakan bahwa guru Ba Dao tentu tidak akan mewariskan jurus yang lebih dalam lagi kepada Zhu Xiang yang niatnya untuk membantai musuh keluarganya masih begitu tinggi disamping keinginannya untuk mendirikan kembali dinasti Liang yang telah runtuh di tangan kakeknya.”
jawab Jieji sambil menjelaskannya dengan panjang lebar.

Zhao kuangyin hanya menghela nafas saja sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Yuan Jielung yang melihat keadaan hati Zhao yang sebenarnya merasa serba salah, segera berkata kepadanya.
“Benar perkataan pendekar Xia, sesungguhnya anda sendiri bukanlah orang yang pantas disalahkan. Seharusnya pendekar Wei sendiri setelah benar tahu, dia juga tidak akan begitu mudahnya menyalahkan anda yang telah menjadi saudara angkat dengannya hampir 20 tahun lamanya.”

Mendengar tuturan dari Yuan Jielung alias Li Yu, sebenarnya Zhao kuangyin malah bertambah ragu hatinya. Dia mendapat sesuatu dari tindakan Wei yang “tidak pulang” lagi kepadanya semenjak 2 tahun lewat. Dia melihat ke arah adik keduanya. Dan dengan berani mantan Kaisar Sung ini menanyainya.
“Menurut adik kedua apa mungkin orang yang menyamar sebagai Yue Liangxu adalah adik ketiga?”

Jieji menatap ke arah Zhao Kuangyin dengan serius beberapa lama. Wajahnya tidak berubah dan terasa dingin, tatapannya lurus terarah ke mata kakak pertamanya.
Yuan Jielung yang melihat suasana yang tiba-tiba hening seketika menyatakan sesuatu.
“Tidak bisa dipastikan juga. Tetapi aku sempat melihat sikapnya Yue Liangxu palsu itu ketika melihat anda. Kelihatannya di dalam dirinya menyimpan sesuatu kebencian mendalam sehingga dari sinar matanya terlihat kebuasan meski hanya sesaat.”

“Hanya ketika kalian bertemu lagi nantinya, baru bisa kita pancing dengan berkata-kata kepada Yue Liangxu itu. Bagaimana?” tutur pencuri ulung kemudian dengan tersenyum.

Mereka bertiga segera mengangguk saja menurut. Sebab menebak saja bukanlah jalan keluar terbaik karena dengan tebakan meski jitu, tetapi tetap kelihatannya tidak begitu berguna di saat seperti sekarang. Ketiganya yang sedang membahas masalah ini, segera mengabaikannya untuk beberapa lama.

Suasana menjadi hening, suara nafas sesamanya terdengar pelan tetapi teratur satu sama lainnya. Jieji terlihat memandang kosong ke arah meja, Zhao kuangyin juga melakukan hal yang sama dengan adik keduanya. Yuan Jielung menatap langit-langit dengan serius, sebenarnya pemikiran mereka bertiga sedang melayang-layang ke alam nan jauh.
Yunying hanya berdiri di samping Jieji sambil menatapnya, dia tidak tersenyum ataupun merasa sedih. Dia menatap suaminya dengan pandangan kosong saja.
Pencuri ulung yang sedang duduk memandang ketiga pemuda sambil tersenyum saja. Meski perkataannya tadi benar bisa membuat mereka tidak membahas sesuatu yang masih belum berupa kenyataan, tetapi kekhawatiran hati ketiga pemuda tersebut memang tidaklah hilang seluruhnya.

Kemudian, dia telah mendapatkan sesuatu akal untuk memecahkan keheningan yang telah berlangsung beberapa saat lamanya itu. Dia berpaling ke arah Jieji dan kemudian
menanyainya mengalihkan ketegangan pihak mereka.
“Bagaimana ceritanya kamu dengan orang bermarga Huang yang merupakan paman dari isterimu sendiri?”

Jieji melihatnya sekilas. Kali ini dia mengubah posisi duduknya, kedua tangannya segera dihimpitkan rapat di dada yang menopang di meja. Dia terlihat mengingat sesuatu setelah beberapa lama, kemudian dia berpaling ke arah Lie Hui, dan menanyainya.
“Aku ingin kamu menceritakan tentang masalah Yuan Xufen semenjak dia lahir, bagaimana? Dan terlihat kamu sendiri juga tertarik akan cerita saudaraku yang bernama Huang Qian.”

Pencuri ulung tertawa terkekeh mendengar perkataan Jieji. Dia segera berseru kepadanya.
“Bagaimana kau bisa yakin sekali bahwa aku pantas bertukar informasi denganmu? Sangat aneh?”

“Kau pasti tahu sesuatu tentang masalah Wu Shanniang, Ibu mertuaku. Dan melihat ketertarikanmu terhadap Huang Qian, aku bisa menebak lima bagian dari sini.” jawab Jieji dengan tersenyum.

Lie Hui lantas berubah menjadi serius. Dia memandang pemuda ini beberapa lama-nya dengan wajah yang seakan tidak percaya.
“Bagaimana kau bisa tahu aku mempunyai informasi tentang Yuan Xufen sekiranya 40 tahun lalu?”

“Aku yakin kau pasti tahu sedikit banyak. Kenapa dia dibenci oleh ayahnya, Yelu Xian tentu bisa kutebak dan kutahu dengan pasti. Tetapi aku ingin kamu mengisahkan riwayat hidupnya.” tanya Jieji kepada Lie Hui.

“Betul…
Aku mendapat sedikit saja tentang hal itu. Tetapi kamu yakin sekali bahwa aku mempunyai informan yang bisa memberitahukan kepadaku. Bukan begitu?” tutur Lie Hui.

Zhao kuangyin melihat keduanya serius membicarakan hal tersebut, juga mengikuti pembicaraan mereka berdua.
“Kita semua tahu benar bahwa isteri pertama dari Yelu Xian benar adalah Huang Shanniang. Tetapi, ada sedikit masalah tentang kaburnya Shanniang dari Liao, dan terakhir dinikahi oleh Wu Quan. Yang anehnya adalah, tidak pernah Wu tahu bahwa sebenarnya gadis yang dinikahinya sebenarnya sudah mempunyai seorang puteri. Yelu Xian mungkin marah mendapati isteri-nya kabur dari Liao, dan malah menikah dengan pejabat Sung. Tentu saja ini membuatnya yang emosional segera tidak ingin lagi membesarkan puteri mereka. Yang anehnya adalah, kenapa puteri ini bisa sampai ke Changsha dan diasuh oleh guru besar Yuan?”

“Betul…
Semua kata-kata anda benar beralasan. Tetapi ada sedikit unsur dendam yang terdapat di sana. Yuan Xufen sengaja dititipkan ke keluarga Yuan, karena disini pendidikan serta kemewahan jelas sudah terpenuhi. Dan poin terpenting justeru tidak mungkin Yelu Xian orang yang menitipkan bayi ini ke keluarga Yuan. Melainkan….”
jelas Lie Hui sambil memandang ke arah Jieji. Bola matanya terlihat mengecil, kerutan di alis terlihat dengan nyata-nyatanya.

“Maksudmu, seorang pemuda yang selalu memanggul arak di pinggangnya, setiap hari menyanyi di jalan dan menertawakan rembulan?” tanya Jieji dengan penuh semangat.

Wajah Lie Hui segera cerah luar biasa mendengar perkataan Jieji. Dia gembira sekali karena Jieji benar sedang mengikuti “permainan” kata-katanya dengan serius. Dengan sangat baik, Jieji mengungkapkan semua hal yang tersimpan ini.

“Siapa yang dimaksud? Apa ada pria seperti itu?” tanya Yunying yang penasaran sekali, sebab bagaimanapun Yuan Xufen adalah kakak kandung seibu namun tidak seayah dengannya. Mendengar cerita keluarga-nya sendiri tentu dia sangat berminta sekali.

“Dia adalah pamanmu, Huang Qian.
Huang adalah seorang lelaki yang pintar luar biasa. Di kolong langit, kemampuannya menganalisis sesuatu tidak ada bandingnya lagi. Seorang sastrawan, pemabuk, seniman hebat dan ahli strategi terbaik yang pernah hidup dalam jangka waktu 500 tahun ini-lah yang membawa puteri keluarga Yelu untuk dititipkan ke keluarga Yuan.

Saat itu, Yelu Xian memang benar marah sekali. Dia memerintahkan orang untuk membunuh saja puterinya meski baru berusia 11 bulan. Ini disebabkan isterinya sendiri lari dari rumah dan kembali ke China daratan. Tetapi Huang Qian rela menukar bayi itu dengan 2 buah benda yang sangat luar biasa sejagad kepada Yelu Xian.”

“Benar…
Dua buah benda itu adalah, penawar racun pemusnah raga dan Lukisan Heng Shan selatan yang sangat termahsyur.”tutur Jieji.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Lie Hui agak heran.

“Hal ini pernah diceritakan temanku, Huang kepadaku. Dia menipu seorang raja dari utara katanya dengan menaruh air seni kuda yang dicampur teh dari wilayah barat. Dia mengatakan bahwa ini adalah penawar racun pemusnah raga. Serta selembar kain lukisan asli pemandangan Heng Shan selatan yang diberikan kepadanya. Tetapi heran sekali, kenapa Yelu Xian malah dengan mudah melepaskan puterinya yang masih bayi hanya karena 2 benda ini, aku juga tidak begitu mengerti.” tutur Jieji sambil terlihat berpikir.

“Benar sekali…
Tetapi lukisan itu kemudian telah diberikan kepada Wu Shanniang yang pulang ke Liao. Dan terakhir dia membawanya ke keluarga Wu, di wisma Wu di Hefei.” tutur Lie Hui sambil melihat ke arah Yunying.

“Tetapi …
Aku tidak pernah sekalipun melihat lukisan itu..” tutur Yunying dengan heran sekali.

“Tidak…
Kamu sudah tahu lukisan yang mana tetapi tidak ada seorang pun yang tahu bahwa penutup papan kamar ayahmu adalah lukisan itu. Maka daripada itu aku mengatakan bahwa aku pernah tahu lukisan asli itu berada dimana.” jelas Jieji kepada Yunying.

“Wu Shanniang memang aneh sekali, terlebih lagi suaminya Yelu Xian. Wu melahirkan puterinya dan dibimbing baik oleh guru besar Yuan, tetapi berkat ajaran Huang Qian maka nona kecil bernama Xufen itu berkembang dengan sangat baik baik dalam silat dan otak. Huang Qian memiliki 2 orang teman baik selama hidupnya. Dia adalah Yuan dan Dewa Sakti. Berkat ajaran Dewa Sakti, Yuan Xufen menjadi seorang ahli silat. Dan yang anehnya, Dewa Sakti tidak pernah memberitahu kepada Yuan bahwa dia mengajari puterinya Ilmu silat terbaiknya.

Beberapa tahun setelahnya, setelah si nona kecil beranjak remaja. Dia telah berubah menjadi seorang dewi nan cantik dan sangat luar biasa anggun-nya. Kepintarannya membuatnya menjadi seorang wanita teguh dan kokoh, kecantikannya seakan membuat jantung pria berhenti berdetak ketika melihatnya lewat.
Dan, ketika dia bertamasya dengan keluarganya di danau Dongting, kalian sudah tahu penyebab Chen Yang terluka sebelah matanya dan terakhir membuatnya menjadi buta.

Chen Yang memang berhasil kembali dari kematiannya. Tetapi setelah dia menemukan bahwa Yuan Xufen jauh hari telah tewas, dia sudah mulai melampiaskan amarahnya secara tidak karuan. Dengan dukungan partai Jiu Qi, dia berbuat semena-mena. Beberapa kali dia mengorek keluar mata indah seorang wanita cantik dan membunuhnya. Tindakannya sangat kejam luar biasa sekali sehingga membuat negeri cukup gempar. Dan, terakhir dengan alasan yang sama dia menjalankan niatnya dengan agak halus.

Dari desa ke desa, anak buahnya selalu mencari wanita cantik. Dengan dalih yang aneh, dia melaksanakan hal yang tidak kalah kejamnya. Tentunya adalah yang dimaksud adalah pernikahan Dewa Sungai itu.”
jelas pencuri ulung panjang lebar. Tetapi kata-kata terakhir itu ditujukan kepada Zhao Kuangyin.

Jelas Zhao tertarik mendengar kata-kata Lie Hui, segera dia melanjutkan.
“Benar…
Adik seperguruan Sun pernah mengatakan bahwa gadis itu ditenggelamkannya di sungai Changjiang di daerah propinsi Chengdu. Tetapi gadis itu tidaklah tewas, melainkan sekarang dia sering mencari Sun untuk katanya membalas dendam. Berarti wanita itu adalah anak buahnya Chen juga?”

“Betul kakak pertama. Kelihatan banyak sekali benang yang sebenarnya adalah saling berhubungan, semuanya sekarang telah cukup jelas.” tutur Jieji sambil tersenyum.

Pencuri ulung terlihat mengangguk sekali, lantas kembali dia bercerita.
“Benar sekali perkiraaan kalian semuanya. Wanita itu bernama Tu Yiyen, dia lahir di tanah Heilongjiang dan merupakan puteri dari nenek Tu.”

Jieji tidak begitu tertarik akan cerita kali ini. Tetapi dia tetap mendengarkan juga dengan baik.

“Nenek Tu sangat dendam terhadap Huang Shanniang sebenarnya. Beberapa kali Dewa bumi terpergok olehnya ingin bertindak macam-macam terhadap Huang Shanniang. Dia-lah orang yang memanasi hati Yelu Xian untuk membunuh sendiri puteri kandungnya. Namun benar nasib berkata lain, Yuan Xufen tetap hidup dengan baik sampai dengan usianya yang ke 26. Sayang sekali…” tutur pencuri ulung sambil menghela nafasnya panjang.

“Kamu ingin tahu hal mengenai Huang Qian lebih mendalam? Atau bisa dipastikan kamu ingin tahu bagaimana caranya ayahmu meninggal dan ibumu menghilang, bukan begitu?”
tanya Jieji kepada Pencuri ulung alias Lie Hui.

Lie Hui terpana mendengar perkataan pemuda, seakan tidak percaya dan menggosok matanya kencang dia melihat ke arah Jieji.

“Tidak…
Maksudku adalah Bagaimana cara-nya ayahmu menghilang dan ibumu meninggal. Itu maksudku.” tutur Jieji membalikkan kata-kata kembali kepadanya.

“Bagaimana kau tahu aku adalah puterinya?” tanya Lie Hui dengan wajah yang sangatlah keheranan mendapati Jieji mengetahui siapa jati dirinya sesungguhnya.

Pemuda yang ditanya segera tersenyum puas.
“Tadinya hanya aku mengira-ngira saja. Huang Qian memang pernah berkata sekali padaku. Dia mengatakan dia ada hubungan dalam terhadap seorang wanita yang sangat aneh dari partai Jiu Qi. Mengetahui kalau kau tahu tentang sedikit permasalahan sekitar beberapa tahun yang lalu itu aku bisa menebak sebagian besar.
Dan dari kata-kata anda inilah, aku yakin benar bahwa tentunya kamu adalah puterinya sahabat lamaku itu.”

Lie Hui menganggukkan kepalanya pelan.

“Ayahmu, atau sahabatku Huang Qian adalah orang yang tidak suka dengan nama. Dia rela memecahkan kasus melalui perantara orang lain. Baginya, kasus atau teka-teki adalah “Hidup”-nya. Beberapa kali saat dia hidup dengan tenang, dia tidak pernah bisa “tenang” sesungguhnya. Oleh karena itu, dengan seluruh keberanian dia terlibat terhadap kasus keluarga Meng di Yun-nan.”

“Kasus keluarga Meng?” tanya Lie Hui dengan sangat heran.

“Huang Qian namanya meski tidak terkenal, tetapi aku pernah mendengarnya sekali. Sekali saja. Yaitu ketika dia berhasil meyakinkan hakim bahwa adanya persengketaan kedua keluarga Li dan Zhu. Namun, semenjak itu aku tidak pernah lagi mendengar namanya.” sahut Zhao Kuangyin menengahi.

“Kakak Huang memang tidak menyukai nama, baginya dengan berkibarnya namanya dengan baik, maka dia lebih-lebih tidak akan hidup dengan tenang karena takut orang mencarinya balas dendam gara-gara analisisnya yang memojokkan pelaku kejahatan.

Mengenai kasus pembunuhan tujuh turunan terhadap keluarga Meng memang pernah didengar oleh siapa orang saja di selatan. Huang, kabarnya terbunuh karena hampir berhasil menyibak kasus itu. Tetapi, aku pernah sekali ke Yun-nan untuk memastikan. Namun, petunjuk bahwa Huang pernah ke sana memang sangatlah samar sekali. Oleh karena itu, aku tidak yakin bahwa saudaraku Huang Qian tidak ada lagi di dunia.” tutur Jieji mengenang.

“Jadi? Ayahku memang benar masih hidup?” tanya Lie Hui dengan terlihat sikap senangnya.

“Bagaimana ketika kita balik ke China daratan, kita pergi ke Yunnan untuk memeriksa sekali lagi?” tanya Jieji sambil tersenyum kepada semuanya.

“Baik…
Tetapi bagaimana dengan kematian ibuku? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanya Lie Hui kembali kepada Jieji yang di wajahnya masih tersisa rasa penasaran.

“Huang sendiri pernah bercerita padaku sedikit. Dia mengatakan hidupnya telah hancur luluh, sebab orang yang sangat dicintainya telah meninggal gara-gara dirinya. Huang pernah terlihat olehku mengantongi sebuah sulaman sapu tangan yang bertuliskan sebuah kata yaitu “Hui”. Dia sering melamun melihat sapu tangan itu ketika waktu sedang senggang-senggangnya. Jadi aku yakin wanita yang dimaksud tentu adalah ibumu. Dan mengenai bagaimana caranya ibumu meninggal, aku sungguh tiada tahu.” jawab Jieji.

Lie Hui terlihat menunduk, di wajahnya nampak sebuah kesedihan yang bukan dibuat-buat. Lie Hui ditinggalkan oleh ibunya semenjak usia belasan tahun di partai Jiu Qi. Ibunya seorang wanita yang tegar dan kuat. Meski dia hidup di rumah bordir Yuen Hua, tetapi tidak ada seorang pun yang berhasil untuk memikatnya terkecuali Huang Qian. Lie Hui tadinya sempat cukup senang karena mengetahui mungkin Jieji tahu kisah hidup ibunya, tetapi mendengar pernyataan kali ini, dia tentu tidak begitu puas. Lalu, dia-lah terlihat sangat antusias untuk meninggalkan Persia untuk mencari ayah kandungnya jika masih hidup. Karena hanya inilah pengharapannya yang terakhir untuk mencari orang yang dekat dengannya.

“Yang Mulia tiba!”

Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang berteriak di depan ruangan.

Xia Jieji tersenyum ketika dia mendengar suara dayang-dayang yang berteriak cukup keras.
“Sepertinya pesta lagi-lagi menunggu kita…”

“Kita hanya bisa menghadiri pesta yang dibuat meski tidak kita nikmati. Karena itu, mau tidak mau kita harus mengikutinya sampai benar ada informasi yang kita butuhkan.” sahut Zhao Kuangyin membalas senyuman Jieji.

Kesemua teman-temannya mengiyakan pernyataan Zhao kuangyin, mantan Kaisar Sung ini.

Balairung Istana Persia…
Seperti kemarin, Kaisar Persia sepertinya sangat bergembira. Mereka kesemuanya diundang untuk menikmati perjamuan yang meriah sekali. Ruangan pesta memang cukup besar, sebesar ruangan rapat kaisar Persia. Biasanya pesta selalu dimulai dengan perjamuan dahulu, kemudian baru disajikan dengan tarian khas Persia.

Adalah ketika para wanita muda menarikan tarian yang cukup indah dan menarik. Jieji sudah minum lebih dari 3 gentong arak. Karena tidak ada yang benar bisa dinikmatinya dalam pesta, maka arak-lah yang jadi tumbalnya. Dia sudah mulai cukup mabuk ketika tarian itu di bawakan.
Sedang Yunying terlihat cukup jengkel melihat kelakuan Jieji yang tidak henti-hentinya meneguk arak dengan lahap. Tetapi bagaimanapun, dia tahu bahwa biasanya suami-nya itu tidak pernah tertarik akan keramaian yang sedang disajikan. Memang terlihat beberapa kali, wanita cantik luar biasa ini berupaya menghentikan tegukan arak Jieji. Tetapi, dia tidak mampu membendung kelakuan suaminya itu meski untuk sekejap saja.

Dan suatu ketika, seperti kemarin juga. Beberapa penari sudah berpencar dari tarian mereka untuk menuangkan arak bagi tamu. Wanita penari biasanya memiliki penutup muka, dan hanya kedua bola matanya yang kelihatan.
Ketika kemarin, pada saat-saat seperti ini Jieji biasanya menolak. Tetapi hari ini, pemuda bersikap lain. Biasanya dia sangat sopan sekali terhadap wanita dimanapun, kapanpun juga. Meski pada saat dia mabuk arak, biasanya Jieji sanggup mengontrol dirinya sedemikian rupa.

Dia segera mengangkat cawan dengan kedua tangannya sambil tersenyum mabuk ke arah penari yang semakin mendekatinya. Penari dengan tinggi tubuh cukup semampai dan warna kulit putih serta bertubuh sangat bagus. Pakaian wanita Persia memang pernah disebutkan terlihat cukup vulgar. Jika saja adalah lelaki normal, maka jarang sekali ada yang sanggup menahan diri untuk melihat ke tubuh wanita yang berpakaian sedemikian. Apalagi untuk penduduk daratan tengah yang merasa cukup tabu untuk hal sedemikian.

Sikap Jieji bukan tidak dilihat oleh siapapun. Termasuk kakak angkatnya juga merasa heran. Tidak pernah dia melihat Jieji dalam keadaan demikian. Yuan Jielung dan Lie Hui juga merasa heran bahwa Jieji yang sekarang terlihat hidung belang sekali jika diamati.
Yunying sangat marah sekali melihat perubahan suaminya yang tiba-tiba dalam sekejap. Sedangkan Kaisar Persia yang melihat tingkah Jieji malah tertawa terbahak-bahak.

Penari menundukkan kepalanya sambil menuangkan cawan arak dengan sikap yang sangat lembut dan penuh kewanitaan. Jieji memandang lurus ke arah wanita bertutup muka dengan wajah yang serius sekali. Arak memang hampir tertuang penuh, ketika kesemua orang tiba-tiba sangat terkejut.

Leave a Reply