juga mendapat 1 buku dan dia mengharapkan kita berdua bisa mempelajari Ilmu peninggalanmu. Tetapi di luar dugaan, adik ketiga malah tidak ingin mempelajarinya. Dia berkata, bahwa dia ingin mencari lagi salinan kitab tapak buddha rulai tingkat kesembilan.
Karena tetua Pei belum pernah ada kabarnya, adik ketiga meminta pamit untuk mencarinya. Dia memang pergi bersama Huang Xieling.” tutur Yunying panjang lebar.
“Kalau begitu, tapak buddha Rulai tingkat sembilan memang adalah alasan yang dikarang adik ketiga saja?” tutur Jieji sambil menggelengkan kepalanya.
“Tetapi…
Tidak….
Ketika aku menyerang partai Jiu Qi di India, aku mendengar salah seorang anggota partai yang hampir mati itu. Dia berkata sambil mengancam kepadaku, bahwa tapak buddha Rulai tingkat kesembilan sedang dipelajari oleh seseorang. Jika saja orang itu sudah berlatih sampai mantap, maka saat itulah ajalku… Begitulah tuturannya.” jawab Yunying sambil terlihat berpikir keras.
“Memang benar ada hal seperti demikian di partai Jiu Qi? Aneh sekali…
Terutama ketika kamu mengatakan bahwa rata-rata tetua dari partai Jiu Qi bisa ilmu silat tapak buddha Rulai. Ini sangat aneh sekali…
Apalagi sekarang muncul kata-kata bahwa tapak buddha Rulai tingkat kesembilan benar berada di dunia?” tanya Jieji.
“Betul….
Aku yakin tapak buddha Rulai tingkat kesembilan memang benar adanya berada di dunia. Hanya saja, sekarang siapa yang mempelajarinya betul tidak kutahu.” tutur Yunying sambil menunjukkan wajah yang agak keheranan.
“Tetapi kesemuanya benar ada hubungannya dengan partai Jiu Qi. Kita tidak bisa lagi menyelidikinya sebab kita sudah ketahuan.” jawab Jieji dengan tersenyum tawar kepadanya.
Yunying hanya mengangguk pelan saja sambil tersenyum. Dia memeluk kembali suaminya sambil menutup matanya.
Tetapi baru saja sebentar wanita nan cantik ini memeluk suaminya, dia kembali bangkit. Sepertinya dia menyadari sebuah hal. Dan kemudian dia berkata.
“Apakah kamu juga akan berhasil menolongku jika kamu tahu diriku-lah yang teracun pemusnah raga itu di depan Kuil Jetavana?”
Jieji tersenyum geli. Lantas dia berkata.
“Aku juga berpikir demikian. Jika saja kamu tidak menyamar, mungkin akan susah bagiku untuk menolongmu…”
“Dengan begitu, awal kebohongan memang bukanlah dikehendakiku. Kak Jie tidak bisa menyalahkanku…” Yunying tersenyum geli juga.
Jieji mengangguk pelan saja. Tetapi Yunying kemudian bertutur lagi.
“Kak Jie…
Apakah pernah kamu sadari rasa menyesal karena memberikan seluruh tenaga dalammu, tentunya maksudku kepada “wanita bertopeng”?”
“Tidak…
Saat itu, memang aku juga sempat berpikir demikian. Tetapi…
Tenaga dalamku tidak bisa kuhentikan kikisannya sampai sedemikian lama maka lebih bagus kuberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Begitulah apa yang ada di dalam hatiku.” jawab Jieji dengan tenang saja.
“Kak Jie masih ingat tentang ramalan Sang Puisi dewa mengenai diriku?”tanya Yunying.
“Dia mengatakan beberapa kata-kata yang maksud utamanya tentu dirimu tidak akan menerima kesusahan yang berarti, sebab kamu bisa mendapat rezeki baik dari setiap musibah.” tutur Jieji yang mengingat kembali keadaan pertarungannya di kota Beiping.
Saat itu, Yunying memang diambang kematian, tetapi setelah lewat. Yunying malah mendapat bantuan yang sungguh sangat banyak secara tidak langsung dari Yue Liangxu dan Xia Jieji.
Dan setelah dirinya bertualang, dia menemukan banyak hal juga yang cukup baik untuk dirinya sendiri. Terakhir, dia bertemu dengan Jieji yang tidak mengenalinya malah ternyata menyalurkan tenaga dalam luar biasa hebat kepadanya.
“Tetapi yang kupikirkan sekarang bukan itu saja. Melainkan….” jawab Yunying dengan berkerutkan alisnya.
Jieji mengangguk pelan saja. Dia menarik nafas panjang sebentar. Kemudian dia berkata.
“Sang Puisi dewa pernah memberikan beberapa kata-kata yang sungguh sangat tidak mengenakkan hatiku cukup lama saat itu. Sebenarnya setelah bertarung melawan Huo Xiang, aku ingin kembali ke daratan tengah. Tetapi…”
“Rupanya kak Jie juga menyadarinya?”tanya Yunying sambil keheranan.
“Betul…
1 Bintang utara telah lenyap…
Raja tanpa sebuah tiang lurus…
4 Bintang selatan berkelap-kelip…
Berkumpul dan ditabrak Bintang juga…
Semuanya seperti binatang Fu Yi…
Tiada kesempatan… Tiada kesempatan…
Tiada kesempatan….
Di puisinya ini sudah terdapat 3 hal yang benar. Dan ada hal keempat yang masih kurasa cukup janggal lagi. Aku sudah tahu arti dari ketiganya dengan baik. Hanya yang keempat yang meragukan serta yang kelima masih samar sekali. Kalimat 1 bintang utara yang lenyap adalah tewasnya Manabu Hirai, adik kandungku sendiri dibunuh olehku.
4 Bintang selatan berkelap-kelip artinya dalam 4 tahun kemudian akan menyusul orang-orang lainnya.
Bintang pertama yang menjadi korban adalah ibu kandungku. Yang kedua adalah Pei Nanyang alias tetua Zeng. Tetapi ini sangat kuherankan, karena tewasnya tetua Pei adalah sekitar seminggu setelah peringatan 1 tahun kematian Ibu-ku. Perkiraan waktu disini tidak begitu cocok.
Bintang yang ketiga adalah mengenai ayah kandungku sendiri, Hikatsuka. Dia telah menyusul untuk yang ketiga kalinya. Dan yang keempat benar masih samar. Tetapi aku mempunyai firasat yang tidak baik…”
Tutur Jieji sambil menghela nafas panjangnya. Wajahnya terlihat buram, sinar matanya terlihat sayu saat dia mengenang kembali segala hal.
Yunying diam saja melihat suaminya dalam keadaan yang sepertinya cukup kacau hatinya. Dia biarkan beberapa saat dahulu. Kemudian dia mulai menanyainya kembali.
“Apakah ada lagi yang kelima setelah keempat?”
Jieji menatap isterinya dengan dalam. Lalu dia berkata.
“Berkumpul 4 bintang selatan dan ditabrak bintang juga. Itu adalah kata-kata yang mempunyai dua arti. Yang pertama adalah bahwa aku-lah orang yang “menabrak” mereka semua. Yang kedua adalah mempunyai maksud bahwa bintang-bintang itu saling “membunuh”. Ini sangat membingungkanku. Tetapi, setelah dipikir-pikir. Hal ini terasa janggal.”
“Seharusnya adalah dalam 5 tahun, akan terjadi 5 kali keadaan yang sama.” tutur Yunying.
Jieji terkejut mendengar perkataan isterinya. Dia tidak ingin berpikir lebih lanjut dahulu, lantas segera dia menanyainya.
“Mengapa demikian?”
Yunying hanya melihat dalam kepadanya. Dia tidak ingin menjawabnya. Sepertinya di dalam hatinya dia mendapat sebuah kejanggalan juga. Dia ingin Jieji berpikir dengan serius, supaya apa-apa hal yang di dalam hatinya bukanlah hal yang benar diharapkannya.
Melihat wajah isterinya yang terlihat agak buram dan terasa perubahan wajahnya yang tiba-tiba. Dia tahu bahwa Yunying tidak bisa menjawabnya karena sesuatu hal. Lantas Jieji segera melihat ke meja, dia elus bibirnya pelan sambil berpikir.
Hal seperti demikian memang sudah menjadi kesehari-harian Jieji bersama Yunying selama 3 tahun di Tongyang. Yunying memang sering menjadikan pertanyaan untuk menjawab dengan pertanyaan dalam beberapa hal dalam menjawab suaminya, meski pertanyaan itu tidak harus melalui kata-kata. Begitu juga Jieji yang sering melakukannya kepada sang isteri.
“Jangan-jangan? Arti bintang yang ditabrak itu? Bisa saja artinya bahwa bukan aku-lah penyebab semuanya? Ini hal yang kau pikirkan?” tutur Jieji.
“Betul….” Jawab Yunying kemudian sambil tersenyum.
“Aku merasa bahwa kata-kata ditabrak bintang artinya bukan berarti kamulah orang yang melenyapkan mereka semua. Bisa juga artinya….”
“Artinya seseorang-lah yang melakukan kesemua itu dari awal-nya hingga akhir? Begitu?” tutur Jieji.
“Mungkin saja…. ” tutur Yunying kembali sambil tersenyum.
“Jika benar ada orang yang seperti kita pikirkan, maka sungguh sangat tepat kalau kita harus menyelidiki diam-diam tentang partai Jiu Qi lagi.” kata Jieji.
“Kenapa kita tidak mencobanya sekali lagi?”
Jieji menatap isterinya sambil berkerut dahi. Kemudian dia menjawabnya.
“Memang kamu punya cara yang paling baik? Kita sudah ketahuan sekali, lantas bagaimana sebaiknya untuk menyusup kesana kembali tentunya tanpa ketahuan siapapun?”
“Justru karena kita sudah ketahuan, maka kemungkinan mereka berpikir kita akan datang kembali sangat sedikit. Kakak Jie juga tahu bahwa dalam pertarungan itu, kita tidak menang. Kita sebagai pihak yang melarikan diri.” tutur Yunying kemudian.
“Betul… Lantas…” Jieji hanya berkata pendek, namun dia disusul Yunying kembali.
“Kita harus mencari tahu 3 hal. Yang pertama adalah siapa sebenarnya orang yang menyamar dirimu dan juga Yelu Xian.
Kedua, kita harus mencari tahu apa tujuan mereka menginginkan wanita yang mirip kak Xufen ataupun diriku.
Ketiga…” jawab Yunying. Tetapi Jieji memotongnya sebelum dia berkata lebih lanjut. Pemuda ini sambil tersenyum berkata kepadanya.
“Orang yang mempelajari tingkat kesembilan tapak buddha Rulai…
Kau makin hari makin pintar saja.”
Yunying hanya mengangguk saja. Lantas dia tersenyum. Wajahnya yang nan elok itu sebentar berkerut, sebentar tersenyum manis membuat diri Jieji yang sebenarnya sudah sangat merindukannya merasa sangat puas sekali.
“Bagaimana dengan putera kita di Tongyang?” tanya Jieji kepadanya.
“Nak Fei baik-baik saja. Dia dijaga dengan baik oleh Dewa Ajaib, semua paman-pamannya serta ayahku. Aku rasa tiada masalah baginya.” tutur Yunying.
“Menyusahkan mereka semua saja…” tutur Jieji sambil menghela nafas.
“Tidak juga… Mereka sangat menyayangi putera kita. Sebenarnya aku juga berat meninggalkannya, tetapi….” tutur Yunying yang terlihat meneteskan air matanya.
Dengan pelan dan lembut, pemuda menghapus air mata yang turun di pipi wanita cantik ini. Lantas kemudian dia berkata.
“Kita harus cepat menyelesaikan masalah di sini. Lantas bersama-sama kita pulang, bagaimana?”
Yunying tersenyum manis sambil mengangguk pelan saja. Setelah beberapa saat, dia kembali bertutur.
“Makanlah lagi… Mie-nya sudah dingin.”
Jieji mendengar kata-kata isterinya dengan baik. Sesekali, dia bahkan menyuapi isterinya. Mereka berdua memang cukup bahagia disini beberapa lamanya.
Setelah benar menghabiskan 1 mangkok mie, keduanya lantas duduk berdampingan. Mereka hanya duduk sambil menutup mata sedemikian lamanya. Dan tanpa terasa bahkan sang malam pun telah lewat dan digantikan dengan pagi.
Keduanya terlelap lama dalam keadaan duduk di kursi pada meja kamar tidur.
Sampai keduanya merasakan ada orang yang mengetuk pintu depan ruangan dengan tergopoh-gopoh.
“Siapa itu? Sepertinya ada beberapa orang di depan…” tutur Jieji yang segera bangun dari tidurnya.
“Betul… Sekiranya yang betul adalah 5 orang.” tutur Yunying sambil tersenyum kepadanya. Yunying meski tertidur, dia juga tahu adanya langkah yang tidak wajar itu sedang mendatangi. Oleh kerena itu, dia langsung bangun dengan cepat.
Mereka berdua segera beranjak dari kamar. Tujuan mereka tentu di ruangan tamu kecil yang tadinya sempat dibuat sebagai tempat berbincang-bincang. Dari ruangan tamu ini maka di depannya adalah pintu yang sedang diketok.
Adalah Jieji sendiri yang membuka pintu. Di sampingnya, sang isteri juga ikut berdiri untuk melihat apa yang telah terjadi.
“Ada apa?” tutur Jieji yang keheranan melihat pengetuk pintu itu. Sebab dia mengenali ke- 5 orang ini dengan cukup baik.
Kelima orang di depan ini adalah kelima pengawal di antara 10 pengawalnya Zhao Kuangyin. Melihat mereka berlima datang dengan langkah yang sebenarnya tidak begitu baik terasa, maka Jieji merasa heran.
“Yang Mulia sedang dikepung pasukan Persia di 10 Li sebelah selatan hutan Lin Qi, selain itu kelima saudara kita juga sedang bertarung hebat bersama-sama Pendekar besar Yuan. Disana terlihat Huo Xiang, ketua partai bunga senja bersama seorang kakek tua, orang berpakaian baju besi dan seorang yang mirip dengan anda.” tutur salah seorang yang berjenggot putih, namanya tiada lain adalah Shen Yi Leng.
Mendengar kata-kata pendekar ini, Jieji dan Yunying kontan terkejut. Mereka segera tanpa bersiap-siap lebih lanjut mengambil langkah cepat. Jieji memanggil kuda bintang birunya. Kuda “ajaib” ini sudah segera muncul dengan cepat. Dan diduduki olehnya bersama Yunying. Mereka memaju pesat ke arah yang disebutkan oleh Shen Yi Leng itu.
Dengan kecepatan kuda yang tinggi, keduanya seperti mengambil ke arah barat daya.
Adalah Lie Hui alias pencuri ulung yang tidak tahu apa-apa segera keluar ruangan juga karena mendengar suara yang cukup keras tadinya. Dia hanya sempat melihat ke 5 pendekar yang cukup asing dan tidak dikenalinya.
Kelima pendekar hanya berdiri di depan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Cukup lama juga, Lie Hui hanya terheran-heran saja mengamati kelima orang ini.
Lantas dia bertanya.
“Ada apa yang terjadi?”
Kelimanya langsung membalikkan tubuh. Mereka memandang Lie Hui alias pencuri ulung dengan wajah yang sangat aneh terasa. Kelimanya memang tersenyum ganas melihat ke arahnya. Lie Hui yang tidak tahu apa-apa tentu merasa keder juga dan dalam hatinya dia telah mendapati sesuatu.
Setelah sanggup menguasai dirinya, dia telah tersenyum.
“Kakak seperguruan…
Tidak disangka kalian main licik dengan cara begitu murah…”
Di antara 5 orang, terlihat seorang menganggukkan kepalanya.
Shen Yileng yang tadinya mengabari berita ke Jieji segera tertawa terbahak-bahak beberapa lama.
“Ayok.. Ikut diriku adik seperguruan…”
Dikisahkan Jieji dan Yunying yang berangkat dengan kuda bintang biru. Dalam perjalanan yang cepat, Jieji telah hampir mencapai daerah yang dimaksud.
Tadinya hatinya betul tergoncang mendengar perkataan Shen Yileng. Apalagi dia tahu bahwa orang tua bernama Chen Yang itu sakti sekali, ditambah pasukan Persia, tentu kakak pertamanya akan mengalami kesulitan.
Tetapi setelah dia bisa mengontrol pikirannya dengan baik. Dia segera mendapati sebuah kejanggalan.
Kontan saja, dia berkeringat dingin hebat setelah sepertinya menyadari sesuatu…
“Balik!!!” teriak Jieji sambil memutarkan kuda dengan cepat.
Yunying memang sangat heran mendapati tingkah Jieji. Dia tidak tahu apa maksud sang suami yang bertingkah sangat aneh.
“Ada apa??? Kau tidak jadi menolong kakak pertama?”
“Gawat!!!
Ini siasat memancing harimau turun gunung!!!”
Yunying segera saja diam. Dia kembali mengingat kata-kata Shen Yileng tadinya. Dia mencari ada apa dengan kata-katanya yang tidak beres sehingga di sadari suaminya itu.
Lantas, dia juga mengalami hal yang serupa. Kontan, dia sendiri juga sangat terkejut. Yunying tahu benar, orang yang ditinggali oleh mereka tiada lain adalah Pencuri ulung. Dengan memancing mereka berdua keluar, maka untuk melakukan urusan jelas jauh lebih mudah.
“Betul…
Tidak mungkin Shen Yileng dan orang-orangnya tahu bahwa adanya “Ketua” partai meski hanya melihatnya. Dan selain itu, dia berkata bahwa ada orang yang mirip dengan dirimu disana. Tentu jika mereka adalah pengawal kakak pertama, tentunya pasukan Persia dan pendekar disana tidak mungkin begitu mudah membiarkan mangsanya lolos sehingga kemari memberikan berita.”
“Betul…
Jika mereka berempat muncul. Lantas 1 orang mengambil 1 lawan saja sudah cukup membuat kedua orang lagi bisa mengejar kelimanya sehingga tidak mampu memberikan kabar kepadaku.
Aku benar tolol, tertipu muslihat yang sebegitu mudah…” tutur Jieji menyesali.
“Tidak..
Ini bukan muslihat yang mudah. Sepertinya memang ada yang janggal dengan orang partai Jiu Qi dan Bunga senja. Tidak mungkin mereka bisa begitu mengenal dirimu, dan dengan mudah memancing-mu keluar.” tutur Yunying.
Apa kata-kata Yunying memang beralasan. Jieji memang sangat menyayangi kakak pertamanya. Mendengar bahwa kakak pertamanya dalam bahaya tentu segera membuatnya tidak tenang. Ini adalah siasat yang cukup bagus yang dilakukan oleh orang-orang Partai Jiu Qi.
Dalam waktu beberapa saat saja, mereka telah mendekati kembali ke gubuk. Dilihatnya pintu depan terbuka lebar dari arah jauh. Jieji lantas turun, dengan ringan tubuhnya dia mengejar pesat ke depan.
Pemuda segera beranjak pelan dan setelah mendekati pintu. Dengan hati-hati, bersama Yunying dia masuk ke dalam.
Jieji yang tertipu sekali, tentu tidak akan tertipu untuk kedua kalinya. Dia merasa harus hati-hati sekali, jangan-jangan di ruangan ini telah disiapkan perangkap.
Dan benar saja…
Ketika kakinya menginjak sebuah kayu yang berbunyi pelan. Dia menyadari sesuatu yang aneh sesegera.
Yunying yang sedang berada di belakangnya, sudah tahu apa maksud suara yang keluar pelan dan menggesek.
Lantas dengan cepat dia berteriak.
“Awas kak Jie… Kita harus keluar dari sini sesegera mungkin.”
Jieji yang mendengar peringatan isterinya, segera beranjak mundur pesat sambil menggandeng tangan kiri isterinya. Mereka berdua melayang pesat ke belakang dengan perasaan was-was sekali.
Dan belum saja gerakan mereka betul berhenti…
Suara ledakan luar biasa telah terdengar diikuti dengan robohnya gubuk itu dengan sangat hebat.
Sungguh untung saja keduanya telah menjauh dari gubuk, jika cukup dekat maka setidaknya cukup berbahaya.
Daya ledakan kali ini jauh lebih hebat daripada ketika ledakan terjadi di perkemahan Sung sekitar hampir 3 tahun yang lalu itu. Gubuk telah rata dengan tanah dengan cepat sekali, sedangkan terlihat api sedang membakar pelan di gubuk.
Sambil melongo, Jieji melihat ke depan seakan tidak percaya.
“Ini adalah perangkap yang sama dengan perangkap yang dipersiapkan Liao untuk menghancurkan kakak pertama bersama pendekar lainnya.” tutur Yunying sambil berjalan pelan ke depan.
Jieji melihat dengan agak khawatir ke arah gubuk. Dia takut juga apakah pencuri ulung sudah keluar atau belum dari ruangan ini. Tetapi, kemudian dia berpikir tidak mungkin bahwa pencuri ulung masih di dalam gubuk itu. Dan segera pemuda beranjak ke depan.
“Kak Jie ingin melihat apakah di dalamnya masih terdapat pencuri ulung?”
tanya Yunying.
Jieji sambil berjalan pelan ke depan menjawabnya.
“Tidak mungkin dia masih di dalam. Jika orang-orang itu ingin membunuhnya, maka tidak perlu susah untuk menyembunyikan mayat-nya terlebih dahulu baru tunggu sampai ruangan itu meledak. Seharusnya jika mereka menginginkan kematian pencuri ulung, tentu mayatnya sudah kita temukan ketika kita masuk tadi.”
“Betul…
Jika mayatnya ada di ruangan depan, maka kita mau tidak mau lebih mudah dipancing masuk ke dalam. Bukan begitu?” tutur Yunying membalas.
Memang benar perkiraan keduanya….
Meski Jieji dan Yunying berjalan untuk meneliti kembali daerah yang telah menjadi abu itu, mereka tidak mendapatkan mayat ataupun kejanggalan lainnya.
“Bagaimana dengan kitab Ilmu pelenturan energimu?” tanya Yunying sesaat kemudian karena sadar jika saja kitab itu masih di dalam tentunya akan ikut lebur juga.
Tetapi Jieji tersenyum kepadanya.
“Kitab tidak kubawa lagi semenjak kita keluar dari Jetavana. Aku menyimpannya di ruangan tempat terdapatnya racun pemusnah raga.”
Yunying hanya mengangguk pelan saja mendengar tuturan dari suaminya.
“Kita hanya menemukan ini di reruntuhan dan rongsokan gubuk.” Tutur Jieji yang segera jongkok untuk mengambil sebuah pedang berat. Pedang sama yang pernah diseret oleh Yunying untuk diteliti oleh Jieji di hari-hari sebelumnya.
Lantas dengan memikul pedang berat. Mereka berdua segera beranjak dari tempat. Tempat yang dituju tentu adalah “rumah Sun Shulie” yang sekarang adalah tempat tinggal Zhao kuangyin dan Yuan Jielung.
Sesampainya disana, mereka segera menceritakan tentang tipu muslihat orang-orang aneh yang menyamar sebagai kelima pengawal dari Zhao. Dituturkan semua oleh Jieji bagaimana dia telah berangkat dan kembali lagi. Juga semua perangkap yang dipakai untuk menjebak dirinya bersama Yunying.
Zhao dan Yuan akhirnya mengetahui seluruh masalah, termasuk bahwa wanita di depannya ini adalah tiada lain Yunying.
“Adik kedua, tadi aku baru mendapat kabar baru….” sahut Zhao kuangyin setelah mereka sejenak diam.
Jieji hanya melihat ke arah kakak pertamanya beberapa lama. Lantas Zhao menjawab tatapan matanya dengan segera.
“Sekitar 8 bagian, aku sudah tahu kenapa mereka ingin mencari “Yuan Xufen” berdasarkan lukisan itu.” tutur Zhao.
Jieji terkejut juga. Tentu hal ini adalah hal yang paling ingin diketahuinya sekarang. Lantas dengan bibir yang gemetar, dia menanyainya pelan.
“Apa mereka benar ada dendam dengan Xufen?”
Zhao mengangguk pelan.
“Dahulu, kabarnya tabib sakti Chen Yang pernah dilukai hebat oleh Yuan Xufen. Xufen melukai sebelah mata dari tabib sakti itu karena hanya tabib ingin wajah Xufen…”
“Apa???” tanya Jieji yang heran dengan segera.
“Betul…
Tabib sakti ini selain pandai dalam ilmu ketabiban, dia juga sangat suka mempelajari raut wajah seseorang.” tutur Zhao Kuangyin.
“Berarti pantas saja dia mendapat pelajaran. Tetapi yang heran, seharusnya dia sudah tahu bahwa Yuan Xufen sudah tiada. Mengapa malah mencari orang yang berwajah yang sama dengannya kembali?” tanya Jieji.
“Betul… Ini hal baru saja kudengar beberapa saat yang lalu. Ini pun dikabarkan oleh Shen Yileng tentunya orang asli-nya yang cukup mengenal keluarga Yuan. Dia mengatakan bahwa wajah dari Yuan Xufen adalah sangat khusus sekali. Dari pelipis, kening, raut wajah, hidung, bibir dan pipi adalah hal yang masih biasa yang juga dimiliki oleh setiap wanita yang cantik. Tetapi adalah bola matanya yang merupakan hal yang sangat berbeda. Xufen memiliki bola mata yang sungguh sangat indah sekali.” tutur Zhao kuangyin.
“Betul…
Aku merasa memang demikian. Perbedaan antara Yunying dan Yuan Xufen memang terlihat dari bola mata mereka. Meski keduanya sangat mirip, tetapi dari sinar mata jelas bahwa Xufen memiliki sinar mata yang sangat khusus sekali jika kita memandangnya dengan waktu yang lama.” tutur Jieji sambil berpikir. Sesekali dia melihat ke arah Yunying untuk memastikan ingatannya.
Zhao tersenyum, kemudian dia berkata.
“Shen Yileng adalah seorang nelayan dari daerah Jing. Dia adalah orang yang terakhir yang tergabung dalam anggota 10 pengawalku. Ia hidup cukup lama di daerah selatan sebagai seorang ahli informasi.
Dahulu memang dia merasa informasi sedemikian memang bukanlah informasi khusus, oleh karena tadinya sempat kita bertutur tentang Partai Jiu Qi mencari orang yang mirip dengan Yuan Xufen, maka dia mengatakannya semua kepadaku.”
Jieji mengangguk pelan. Lantas Zhao kembali melanjutkan perkataannya.
“Chen Yang pernah dibutakan matanya sebelah oleh Yuan Xufen. Sebab katanya, ketika umur 17 tahun. Yuan Xufen suatu saat berpiknik bersama keluarganya di danau Dongting. Di sanalah tabib Chen Yang bertemu dengan Yuan Xufen. Karena sangat tertarik akan wajah dan bola matanya yang jernih menakjubkan. Dia memutuskan untuk membunuh gadis itu dengan tujuan mencuri wajahnya dan bola matanya.”
Jieji yang terdengar kata kakak pertamanya segera terkejut luar biasa. Begitu pula Yunying, dengan segera kelihatan mereka berdua menahan amarah.
“Tetapi karena saat itu, Xufen sudah menguasai Ilmu jari dewi pemusnah dengan lihai. Maka Xufen yang dalam bahaya itu segera mengarahkan jarinya ke sebelah mata lawannya. Alhasil, memang Chen Yang saat itu masih bukanlah pesilat unggul. Dia terakhir jatuh ke danau Dongting dengan sebelah matanya yang telah buta. Sampai sekaranglah baru terdengar kembali kabarnya.” tutur Zhao sambil menghela nafas.
Jieji diam saja, dia berpikir tentang kesemua tuturan kakak pertamanya.
Yunying melainkan tidak berpikir, dia melampiaskan amarahnya dengan cukup hebat mendamprat.
“Orang tua tidak tahu diri, bangkotan!!! Mana ada orang yang mau dibunuh dan diambil wajahnya serta bola matanya demi ide konyol!!!”
Mereka semua diam saja mendengar omelan Yunying yang panjang lebar itu. Lantas kemudian Jieji-lah yang menghentikannya.
“Sudahlah…
Jika bertemu baru buat perhitungan masih bisa bukan?”
Yunying menggeser dirinya ke sebelah, lantas agak malu dia menundukkan kepalanya.
“Oya adik kedua.. Selain kabar ini, aku juga mempunyai kabar baru akibat selidikan orang-orang sekitarku…” tutur Zhao kepada Jieji dengan wajah yang agak serius.
“Kabar tentang pencuri ulung?” tanya Jieji.
Zhao segera tersenyum, kemudian dia melanjutkan kata-katanya kembali.
“Lie Hui benar adalah pencuri ulung, dan pencuri ulung adalah sesungguhnya Lie Hui. Kamu tahu masalah ini?”
Jieji mengerutkan dahinya. Dia menggelengkan kepalanya beberapa saat.
Zhao melanjutkan kembali kata-katanya.
“Ternyata Lie Hui dan Lie Xian memang adalah saudara sekandung. Dan bahkan Lie Xian sendiri tidak pernah tahu bahwa kakaknya itu ternyata adalah pencuri ulung. Lie Hui disini mungkin adalah orang yang hidup sama dengan masa diriku…”
Jieji sekali lagi terkejut. Dia berpikir tentang Lie Hui yang juga adalah pelacur di rumah bordir. Apakah benar nona ini betul adalah orang yang sudah tua? Palingan usianya hampir mencapai 60 tahun? Tetapi berpikir tentang ketua partai Jiu Qi memanggilnya dengan sebutan adik seperguruan. Maka mungkin saja segala hal di atas adalah benar.
“Tetapi…
Kabar santer menyebutkan begini…
Sekitar 40 tahun yang lalu, di rumah bordir Yuen Hua ada seorang wanita cantik luar biasa yang bernama Lie Hui juga. Mengenai kecantikan wanita ini, memang aku tidak pernah menyaksikannya. Hanya saja Wang Pangchi salah satu jenderal kepercayaanku pernah menceritakannya begini.
“Lie Hui dari rumah bordir Yuen Hua menamai puterinya dengan nama yang sama dengan dirinya yaitu Lie Hui juga. Bukankah itu sangat aneh?”"
“Benar…
Jika begitu, memang keduanya yang pastinya adalah ada hubungan dengan partai Jiu Qi…” tutur Jieji.
“Betul adik kedua…
Bukankah kau ingin pergi menolongnya?” tanya Zhao kepadanya.
Jieji mengangguk. Dan dia berkata.
“Sebenarnya jika dipikir-pikir, tidak mungkin aku tidak menolongnya. Beberapa kali juga dia pernah menolongku meski katanya adalah bayaran atas kalahnya dia dalam adu siasat.”
“Dengan begitu kita harus pergi ke partai Jiu Qi?” tanya Yuan Jielung.
Jieji menatapnya sambil tersenyum, lantas dia menjawab kepada ketua Kaibang ini.
“Tidak…
Lie Hui tidak mungkin disekap di Wisma naga emas…”
“Jadi?”
tanya Zhao maupun Yuan dengan agak heran.
“Kemungkinan dia sekarang ada di partai Bunga senja. Sebab Partai Bunga senja memiliki anggota lebih banyak untuk menjaga tahanan dan Partai bunga senja memiliki penjara rahasia yang penjagaannya ketat sekali.
Selain itu, mereka pasti tidak akan membiarkan orang yang merupakan perkumpulannya untuk disekap di “rumahnya” sendiri.” tutur Jieji.
“Betul kata-kata adik kedua. Dengan begitu, kita hanya perlu sekali saja ke sana untuk menyelidik. Adik kedua pernah disekap di penjara rahasia itu, tentu adik kedua paling tahu apakah di sana ada penjagaan yang ketat atau tidak.” tutur Zhao.
Lantas dia disambung oleh Jielung, ketua kaibang.
“Betul, jika penjagaan di sana lebih hebat dari biasanya. Sudah barang tentu bahwa Nona Lie Hui memang berada di sana.”
Yunying yang mendengar perkataan “sederhana” dari mereka, segera menyela.
“Tidak…
Bukankah bisa saja mereka tidak memperketat penjagaan di sana seolah tiada terjadi apa-apa, dan seolah Lie Hui memang tidak disekap di sana… Atau bisa saja….”
Jieji tersenyum mendengar Yunying yang bertutur dalam perasaan yang terlihat khawatir. Lantas dia sambil tertawa ringan menjawabnya.
“Betul katamu…
Jika saja tidak ada orang di Partai Jiu Qi yang mengenalku dengan baik. Maka taktikku kali ini tidak bisa dilaksanakan. Tetapi lain halnya ada orang yang benar mengenaliku disana. Tentu saja, mereka akan mencari cara yang paling efektif.”
“Dengan begitu maksudmu adalah apa yang bisa dipikirkan olehku pasti terpikir juga oleh mereka?” tanya Yunying dengan wajah yang agak menggerutu.
Jieji tertawa besar mendengar tuturan Yunying. Tetapi dia tetap membalasnya dengan pelan.
“Memang cara berpikir begitu adalah benar dan harus juga diperhatikan seksama. Kalau aku adalah mereka, maka aku akan memperketat 2 tempat penjagaan. Yaitu di Partai Bunga senja dan Wisma Naga emas.”
Zhao langsung memotong perkataan Jieji dengan perasaan yang tidak sabar.
“Betul…
Jika kita berpencar, maka kekuatan kita sudah berkurang…
Apa ada daya yang terbagus dari adik kedua?”
Sambil tersenyum, Jieji menjelaskan taktiknya.
“Kita lawan cara berpikir mereka dengan cara begini.
Lawan tentu tidak akan membiarkan tangkapannya lolos dengan begitu mudah. Mereka pasti tahu bahwa aku akan segera menolong Nona Lie Hui. Jika saja mereka tidak melakukan penjagaan ketat, tentu mereka lebih banyak kehilangan daripada mendapatkan.
Dan satu hal yang pasti, mereka terdiri dari 4 orang pesilat yang berkemampuan hebat sejagad. Jika kita ingin menerobos pun, pasti lebih bagus dihalangi daripada dibiarkan. Dengan begitu, mereka masih bisa menahan kita semua. Tentunya bukan hanya mereka berempat orang saja.”
“Pasukan Raja Persia sudah tunduk di bawah perintah Huo Xiang, dengan begitu di partai-nya pasti terdapat ratusan pengawal yang hebat juga. Kita tidak mudah menerobos masuk ke dalam. Meski bisa masuk sekalipun, keluar akan susah…” tutur Zhao yang sepertinya berpikir hebat.
Jieji tersenyum kepada kakak pertamanya, lantas dia menjawabnya.
“Tidak…
Tadi aku mengatakan bahwa akan menggunakan tipu melawan tipu mereka. Tentu disini maksudku adalah kita gunakan taktik yang sama, yaitu memancing harimau turun gunung.”
“Jadi…
Maksudmu kita pura-pura menyerang ke Wisma Naga emas dahulu untuk menyelamatkan Lie Hui yang memang tidak berada di sana? Lantas baru kita cari cara lain untuk menyelamatkan Lie yang ada di partai Bunga senja?”
tutur Yunying dengan bersemangat.
Jieji tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan isterinya. Lantas dengan wajah kegirangan, dia berkata begitu.
“Tepat!
Kita minta 4 orang pengawal kakak pertama untuk cukup mengacau Wisma naga emas saja.
Tentunya adalah harus ketika malam benar tiba, kita minta ke 4 orang berpakaian hitam dengan penutup muka. Dengan begini, tiada orang lagi yang tahu sebenarnya siapa 4 orang yang menyerang Wisma Naga emas.
Lalu…
Kita berempat menunggu apakah informasi cepat atau tidak telah sampai ke telinga orang-orang Partai bunga senja. Dan jika melihat adanya orang-orang berkungfu tinggi telah terpancing keluar maka langsung kita berempat menyerang ke partai bunga senja untuk menyelamatkan tawanan tentunya setelah adanya konfirmasi dari pihak kita sendiri.”
“Betul!!!” Zhao berteriak kegirangan.
“Dengan begitu, maka keempat orang hebat itu pasti berada di salah satu tempat antara Wisma naga Emas atau partai Bunga senja. Tetapi… Bagaimana jika Wisma naga emas benar adalah tempat keempat pendekar itu berada? Bukankah nantinya keempat pengawal bisa dalam masalah besar?”
tanya Yuan kepada Jieji.
“Untuk kata-kata pendekar Yuan, aku berani menjaminnya seratus persen tidak akan terjadi. Bahwa tidak mungkin Lie Hui ada di Wisma Naga emas bisa kita coba dengan cara cukup sederhana saja. Kita bisa minta Shen Yileng asli untuk pura-pura pergi ke Wisma Naga emas. Dengan bertingkah sedikit, langsung maju tanpa berkata banyak dan masuk melalui gerbang depan. Tentu saja bisa tahu apakah Shen Yileng “palsu” sebelumnya pernah pulang ke Wisma naga emas bukan?” tutur Jieji sambil tersenyum.
“Betul…
Ini adalah cara yang sederhana yang dirasa cukup baik. Jika Shen tidak dihalangi, maka kemungkinan besar adalah orang partai Jiu Qi sudah mengenalnya sebagai “Shen Yileng” yang palsu. Tetapi, bagaimana jika mereka memasangkan perangkap untuk Shen Yileng?” tanya Zhao kuangyin dengan rada kacau.
“Tidak…
Bagi mereka adalah ikan besar lebih baik terpancing daripada ikan yang kecil.
Mereka sudah memasangkan perangkap di Partai Bunga senja dan Wisma Naga emas. Terutama adalah Wisma Naga emas, bukankah jika benar Lie Hui tidak berada disana. Maka usaha kita betul sia-sia? Dan sepertinya bahan peledak yang kedua pasti akan terjadi lagi di Wisma Naga emas.” Jelas Jieji sambil tersenyum.
“Betul…
Tidak mungkin juga Huo Xiang yang kabarnya telah mendirikan gedung balairung istana Persia dengan baik di Partai Bunga senja, lantas akan hancur lebur akibat ledakan dari bahan peledak.” tutur Zhao yang segera memanggil salah seorang pengawalnya.
Setelah sampai, dia memberi perintah rahasia. Dan orang ini minta pamit dengan segera melaksanakan apa pesan Zhao Kuangyin.
“Jika sebuah tipu muslihat benar dijelaskan terlebih dahulu, maka kesemuanya malah menjadi bahan yang sudah tidak menarik sama sekali.” tutur Yunying sambil melihat geli ke arah suaminya dengan samping matanya.
Jieji hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum tawar kepada isterinya itu.
Markas Besar Partai Bunga Senja…
Enam orang terlihat duduk di dalam balairung istana buatan Ketua partai ini. Keenam orang tersebut terlihat sedang serius memikirkan sesuatu. Dilihat dari potongan orang, terdapat 4 orang lelaki, seorang yang memakai baju besi lengkap dan seorang wanita cantik.
“Jadi menurutmu mereka tidak akan datang kemari?”
tutur seorang pemuda paruh baya yang memiliki jenggot lebat. Dia ini tak lain adalah “Yelu Xian”.
“Benar…. Kalian tidak usah khawatir.
Meski mereka menyerang pun untuk menyelamatkan tawanan, tentu yang diserang adalah wisma naga emas dahulu.” jawab Huo Xiang membalas perkataannya.
“Perkataan ketua partai benar sekali.
Kita sudah menyiapkan banyak perangkap di sana. Niscaya mereka bisa keluar hidup-hidup.” sahut suara seorang pria lain yang dilihat adalah sebuah baju besi kokoh yang sedang duduk.
“Tetapi……….”
sahut pria yang menyamar sebagai Xia Jieji dengan agak terkejut.
“Sudahlah nak…”
tutur orang tua berjenggot putih menghentikan komentarnya.
“Kita sudah merencanakan ini baik-baik, bagaimana bisa kita merubahnya kembali?”
“Benar….” sahut “Xia Jieji” itu kepada orang tua. Namun, dia kembali melanjutkan kata-katanya.
“Kalian betul tidak mengenalnya, karena itu kalian kurang waspada. Aku tidak yakin bisa membohonginya dengan begitu mudah.”
Hanya 2 orang disini yang mengerti bagaimana cara Jieji menyusun rencana-nya dengan cermat. Mereka berdua juga-lah tahu bahwa Xia Jieji bukanlah manusia yang sembarangan. Oleh karena itu, keduanya tampak ngotot untuk meminta memperumit penjagaan sebab mereka merasa penjagaan memang masih banyak “lubang kosong”.
Tetapi keempat orang lainnya tidak berpendapat sama dengan kedua pria ini. Mereka meyakinkan sebaik-baiknya apa yang sudah direncanakan mereka dari hari sebelumnya. Pembicaraan yang cukup lama disini adalah tentang tawanan yang baru saja beberapa hari mereka tangkap yaitu Pencuri ulung.
“Wisma Naga emas sudah penuh dengan peledak hebat. Jika mereka sudah mulai menyerang, maka kita ledakkan saja kesemuanya. Tiada orang yang bisa lolos dari sana.” sahut Orang tua kepadanya kembali.
“Bagaimana dengan tetua partai Jiu Qi dan anggotanya, apakah kalian juga berminat mengubur mereka hidup-hidup?” tanya Huo Xiang ke arah Baju besi.
Tetapi, baju besi hanya tertawa terbahak-bahak beberapa saat. Yang menjawabnya adalah orang tua di samping yang duduk tepat di sampingnya.
“Tidak…
Kita berpura-pura dahulu untuk bertarung. Jika mereka menyerang tentu akan menjatuhkan siapa saja yang menghalangi. Jika anggota kita yang terbunuh oleh mereka maka tiada masalah. Tetapi bagi anggota yang masih hidup harus berusaha melarikan diri ke tempat yang aman. Sedangkan tentara penjaga sel, sudah menyediakan lubang perlindungan yang dalam untuk bersembunyi sementara waktu jika mereka sampai dan peledak sudah diaktifkan.”
Huo tertawa terbahak-bahak, dia menyetujui dengan benar rencana orang tua ini. Tertawanya Huo diikuti oleh 3 orang lainnya secara beberapa lama. Tetapi kedua orang di samping ujung kursi tidak berpikiran demikian. Terutama pemuda yang menyamar sebagai Xia Jieji itu. Dia terlihat memikirkan sesuatu sambil memegang bibirnya cukup lama. Rasa tertawa tidak ada sama sekali di wajahnya. Kerutan di wajah yang berlebihan membuktikan rasa kekhawatirannya yang melebih-lebih.
“Sudahlah…
Jika begitu, kita bubar saja. Sebab malam ini kita tetap akan berjaga dengan sebaik-baiknya.”
sahut Huo Xiang yang membubarkan “rapat” tersebut.
Sudah lebih dari sejam, ruangan tadinya yang menjadi ruangan berdiskusi itu telah hening sama sekali. Sekarang ruangan yang dipenuhi 6 orang itu hanya tinggal seorang pemuda yang sedang asyik-nya memikirkan sesuatu hal. Dia duduk sambil berkerut dahi, sikapnya ini belum berubah sama sekali dari tadinya.
Tetapi dia tiba-tiba dikejutkan suara seseorang yang diikuti tepukan ringan di bahunya.
Pemuda menoleh secara spontan ke arah penepuk. Dilihatnya adalah seorang wanita cantik. Wanita yang tinggi semampai dengan pakaian yang cukup aduhai, senyum di wajahnya seakan bisa membuat lelaki normal goyah imannya.
Tetapi lain dengan pemuda ini, dia hanya tersenyum tawar sebentar. Lantas terlihat dia kembali berpikir.
Si Nona yang menyaksikan sikap pemuda, dia menanyainya dengan segera.
“Apa menurutmu rencana ayah dan para tetua tidak bisa diikuti?”
Pemuda hanya melihat ke arah wanita cantik. Terlihat sambil menghela nafas dia mengangguk.
“Kamu terlalu berkhawatir segala. Meski Xia Jieji itu pintar dan cerdik, tetapi dia juga manusia.” tutur wanita cantik sambil tersenyum.
“Tidak…
Di sini, terlihat sudah banyak kesalahan. Menganggap remeh lawan adalah sebuah hal yang sangat disayangkan akhirnya.” jawab Pemuda.
“Tidak…
Dalam hal ini, kakak mungkin salah paham. Bukankah kungfu kakak sudah sangat luar biasa tinggi. Kenapa harus takut kepada 4 orang itu meski mereka menyerang kemari?” tanya wanita ini kembali kepadanya seraya meyakinkannya.
“Bukan masalah ini yang benar kukhawatirkan. Jika saja mereka memancing kita, itu sangatlah berbahaya. Jika kita berenam di pisahkan tentu inilah hal yang sangat kutakutkan.” tutur “Xia Jieji” palsu ini.
Wanita cantik tertawa saja terbahak-bahak. Melihat kelakuan wanita ini, pemuda lantas berkerut dahi. Wanita ini kemudian menjelaskan kepadanya.
“Bagaimana kita bisa dipisahkan? Mereka hanya 4 orang yang menguasai kungfu hebat. Selain Zhao kuangyin dan Xia Jieji. Aku merasa kedua orang lainnya tidak begitu perlu kita takutkan.”
“Mengenai kata-kata ini, memang separuhnya benar. Zhao kuangyin ilmu silatnya memang teristimewa jika kita nilai, tetapi justru kulihat Yuan Jielung ataupun Xia Jieji tidak bisa dipandang remeh sama sekali. Dan… wanita misterius itu lagi. Mereka bukan lawan yang mudah dihadapi sama sekali.” tutur orang ini.
“Betul..
Jadi ingin kamu meminta kepada ayah untuk menanam bahan peledak disini? Seperti yang telah dilakukan di Wisma Naga emas?” tanya wanita ini kepadanya.
“Bukan juga…
Sesuai rencana, kita bergerak setelah mendengar letusan hebat dari arah barat. Anggota kita sambung menyambung sudah ditempatkan di sepanjang jalur lebih dari 10 li ke barat. Mereka akan mengabarkan jika benar terjadi ledakan, kita akan segera berangkat ke sana bukan? Justru itulah hal yang kukhawatirkan.” sahut pemuda dengan serius kepada wanita.
“Kakak mengkhawatirkan bahwa ketika ledakan terjadi, mereka juga akan menyerang kemari? Jika mereka memisah diri, tentu setelah mendengar ledakan di wisma, mereka tentu akan menuju kesana. Oleh karena itu, rencana kita kurasa sudah cukup baik. Begitu kita menuju kesana, tentu aku merasa mereka tinggal 2 orang saja. Untuk mengeroyoknya, kita berenam pasti sanggup. Tidak usahlah kakak terlalu berkhawatir.” tutur Wanita cantik yang bernama Huo Thing-thing ini panjang dan lebar.
Apa kata-kata wanita ini memang adalah kata-kata yang cukup beralasan. Mereka telah menyusun taktik begini dari awal.
Di Wisma naga emas, akan ada 5 orang yang didandani mirip dengan keempat pendekar yaitu Huo Xiang, Baju besi, Chen Yang, “Yelu Xian” dan “Xia Jieji”. Kelima-nya telah diperintah harus berkelahi sambil mundur teratur. Jika sudah ada peluang, maka salah satu di antara mereka harus memancing keempat pendekar (Jieji dan kawan-kawan) untuk diledakkan dalam sel Wisma Naga emas.
Jika mereka memisahkan diri, yaitu 2 orang ke wisma naga emas dan 2 orang lagi ke partai bunga senja. Tentu menurut mereka, jika ledakan benar terjadi di wisma naga emas, maka keempat pendekar dari partai bunga senja akan menyusul untuk “membinasakan” dua orang lainnya. Rencana serta taktik sudah disusun dengan sebaik-baiknya dari awal. Tetapi jika harus diganti lagi tentu selain makan waktu, dan memikirkan rencana yang lebih bagus dari ini mungkin tidaklah mudah sama sekali.
Tetapi kata-kata Thing-thing tidak benar bisa membuat hatinya lega. Dia kembali bertutur.
“Xia Jieji adalah manusia luar biasa pandai, aku tidak yakin kita bisa menipunya dengan cara begituan. Tetapi karena rencana sudah dibuat, aku merasa sebaiknya kuikuti saja maunya mereka semua.”
Wanita cantik ini lantas tersenyum. Dia berikan sebelah telapak tangannya untuk menarik pemuda ini berdiri. Keduanya lantas meninggalkan ruangan.
***
3 Hari setelahnya…
Adalah malam tahun baru Imlek. Hari dimana kawasan kota penuh penduduk, meski ada yang merayakannya dan ada pula yang tidak, tetapi suasana di sini cukuplah ramai. Banyak anak-anak memainkan petasan serta ada yang bercanda ria. Pemuda-pemudi berpasangan acap kali nampak di kota yang tiada kecil itu, banyak juga yang memadu asmara di sana menikmati keindahan malamnya kota.
Jieji dan kawan-kawan sedari tadi memang sudah bersiap-siap. Mereka memilih sebuah tempat dari arah timurnya kota Huai, dimana kota tempat partai bunga senja berada.
Sebuah kedai arak bekas yang sudah tidak terbuka sejak lama sedang di tempati oleh keempat orang. Keempat orang ini sengaja menunggu waktu telah gelap supaya keempatnya bisa mulai melakukan aksinya.
“Di kota pasti terdapat banyak penjagaan yang ketat. Lantas bagaimana kita menerobos masuk ke kota terlebih dahulu?” tanya Yunying kepada mereka bertiga.
“Itu tidaklah susah. Aku sudah mengaturnya dengan sangat baik sekali.” tutur Jieji sambil tersenyum kepadanya.
“Betul perkataan adik ipar. Bagaimana caranya kita menyusup ke dalam kota terlebih dahulu?” tanya Zhao kuangyin yang seakan merasa bingung mendapati keyakinan adik keduanya.
“Kita tidak perlu menyusup ke dalam kota. Kalian tahu bahwa penjagaan yang ketat di setiap pos sepanjang 10 li ke barat?” tanya Jieji.
“Betul…
Di sana terlihat penjaga partai bunga senja yang di setiap pos jumlahnya ada sekitar 10 orang.” sahut Yuan Jielung kepadanya.
“Itu akan kita lihat nantinya… Sulap yang terjadi di tahun baru akan menjadi sulap yang luar biasa…” tutur Jieji dengan tertawa dan wajah yang penuh keyakinan.
Lantas dia berkata melihat ke arah kakak pertamanya. Dia meminta kakak pertamanya untuk ikut dengannya terlebih dahulu. Kedua orang lainnya yaitu Yuan Jielung dan Yunying cukup heran. Tetapi mereka merasa bahwa Jieji pasti mempunyai pesan yang penting kepada Zhao Kuangyin, oleh karena itu keduanya mengawasi kepergian keduanya dengan perasaan yang cukup was-was pula.
Setelah keduanya berjalan kaki hampir 1 Li, mereka berdua akhirnya berhenti.
“Ada apa adik kedua?” tanya Zhao kuangyin dengan wajah yang agak keheranan kepadanya.
Jieji menyerahkan sesuatu kepadanya. Sesuatu benda yang terlihat agak keemasan.
Sepertinya benda ini tak lain adalah kain yang berwarna keemasan. Zhao cukup heran mendapatinya.
Dahulu, sekitar 3 tahun lalu. Dia juga pernah menerima barang yang sama dari Jieji, adik angkat keduanya. Tetapi, saat itu Jieji tidak punya pilihan lagi selain “mati”, dan dia meninggalkan wasiatnya kepada sang kakak pertama untuk mengaturnya sedemikian rupa.
Tetapi kali ini, kembali Jieji memberikan sesuatu benda yang mirip dengan benda 3 tahun lalu itu. Dia kontan terkejut.
“Ini… Ada apa lagi adik kedua?” tanya Zhao kuangyin dengan wajah yang tidak percaya.
Sambil tersenyum, Jieji menjawabnya.
“Ini adalah sesuatu yang akan dilaksanakan kalian. Kakak pertama pasti bisa melakukannya dengan mudah.”
“Tetapi…
Dahulu… 3 tahun yang lalu….” baru saja Zhao berkata sampai disini, Jieji menghentikannya.
“Aku kali ini tidak ingin lagi mati. Aku mempunyai daya yang sudah sangat baik sekali. Benda ini kumohon kepada kakak pertama untuk membukanya ketika aku berkata, “Yuan Lai She Ni Men / Ternyata kalian”. Mohon dilaksanakanlah sebaik-baiknya.” tutur Jieji yang berubah menjadi serius.
“Tidak bisa..
Ini.. Kamu harus berjanji kepadaku dahulu adik kedua.” tutur Zhao dengan berubah serius pula.
“Tenang saja kakak.
Aku menjamin, aku akan pulang dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun. Di dalam Cin Lung (Kantong emas) telah kuberikan tipu untuk mengerjakan sesuatu hal dan tipu meloloskan diri. Kita berempat dan pencuri ulung tidak akan kurang satu apapun. Kakak pertama…
Percayalah padaku, perhitunganku kali ini tidak mungkin meleset sama sekali.” sahut Jieji.
Zhao hanya menghela nafas panjang, meski hatinya benar khawatir. Dia mengangguk perlahan dan berjanji akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya.
Zhao sudah memberikan wewenang penuh kepada adik keduanya dalam operasi penyelamatan pencuri ulung. Adalah Jieji juga orang yang meminta kakak pertamanya, Yuan Jielung dan Yunying untuk mempercayakan hal ini sepenuh kepadanya.
Di partai Bunga senja…
Ke-enam pendekar yang hebat telah duduk di atas temboknya partai bunga senja.
Partai bunga senja memang benar telah direnovasi sedemikian rupa sehingga dalam kota Huai, terdapat “kota” Bunga senja juga.
Mereka sepertinya bersembunyi di bawah tirai yang tebal. Keenamnya seperti berkonsentrasi untuk merasakan siapa saja yang datang. Dari gerak langkah, keenamnya bisa tahu benar bahwa orang yang berjalan di bawahnya termasuk seorang pesilat ataupun bukan.
Di “kota” bunga senja, penjagaan memang betul ketat. Partai bunga senja sendiri tidak pernah melarang rakyat jelatanya untuk jalan-jalan di daerah sana, tentunya untuk tidak menimbulkan kecurigaan kepada Jieji dan kawan-kawannya sehingga mereka merasa tawanan betul berada di sini.
Di dalamnya pada setiap sudut partai, penjagaan sangatlah ketat. Tidak ada yang tahu sesungguhnya ada penjaga yang banyak sekali di partai selain orang dalam. Dari luar sekalipun, tidak terlihatnya banyak penjaga malang-melintang dari sana seakan sedang dalam keadaan biasa saja.
Biasanya penduduk daerah daratan tengah merayakan saat-saat terakhir lewat tahun. Tentu diikuti dengan suara mercon yang luar biasa berisiknya. Banyak orang biasanya berteriak-teriak “Gung Xi Fa Chai.” Dan ketika satu orang bertemu dengan orang lainnya, mereka juga akan mengucapkan kata “Gung Xi/ Selamat”. Selain tradisi di daratan tengah, maka rakyat yang telah berbaur dengan penduduk datangan biasanya juga mengikuti adat ini guna meramaikan acara tahun baru.
Adalah di saat detik detik terakhir akan terjadi-nya pergantian tahun…
Suara hampir tidak terdengar ketika orang-orang mencoba untuk tenang dan menghirup nafas terakhirnya di tahun ini. Tetapi…
Segera, suara mercon yang menggelegar terjadi dengan dahsyat. Suara ini tiada lain adalah muncul di sebelah barat dari posisi kota Huai. Kontan, bukannya para penduduk merasa takut atau lain hal. Mereka juga ikut meramaikan suara mercon menggelegar itu dengan suara teriakan yang cukup dahsyat juga, sebab dari anak-anak, remaja dan sampai ke orang tua kebanyakannya berteriak-teriak gembira sekali.
Suara kegembiraan dari para rakyat ternyata tidaklah membangkitkan kegembiraan enam orang yang berada di atas tembok “kota” bunga senja. Mereka segera bangkit dan mengawasi sesama-nya dengan keheran-heranan.
“Itu tanda ledakan dari arah barat!!!” teriak orang tua bernama Chen Yang ini dengan gembira sekali.
“Betul….” jawab Huo Xiang yang tidak kalah gembiranya.
“Ayok!!! Segera kita ke barat, cepat!!!” teriak si Baju besi. Orang yang pertama turun dari tembok kota dengan kecepatan luar biasa melesat ke arah barat. Rupa-rupanya di sebelah barat, telah di siapkan kuda yang mampu berlari kencang.
Dia disusul oleh 4 orang lainnya dengan segera. Keempat orang juga bergerak sangat pesat sekali dengan “mencari” kuda yang telah disiapkan dengan sangat baik.
Di sini…
Hanya seorang pemuda saja yang tidak ikut. Dia melompat ke arah dalam malah dari tembok tinggi partai. Dia tidak mengikuti gerakan kesemua orang itu. Dengan gerakan berlari cepat, dia ingin menuju ke arah sel / penjara bunga senja.
Apa yang dilakukan pemuda, memang sudah diketahui pendekar-pendekar lainnya meski mereka sedang menuju ke arah barat dengan gerakan pasti nan cepat. Adalah seorang wanita yang kemudian berbalik dengan cepat memutar arah kudanya, dia terlihat berteriak.
“Aku akan melihatnya!”
Keempat orang ini tidak mempedulikan gadis itu. Mereka tetap melanjutkan perjalanannya dengan cepat.
Pemuda yang memakai wajah “Xia Jieji” itu, hampir sampai di daerah yang dituju. Gerakan cepat dari kedua kakinya sungguh di luar dugaan. Bahkan para penjaga tidak pernah tahu, bahwa dirinya lewat di samping mereka yang kebanyakan adalah kaum pesilat. Kesemuanya hanya merasakan angin ringan yang berhembus saja.
Dia bergerak sangat cepat, menelusuri gang demi gang yang cukup sempit yang terlihat pengawalnya sedang diam memandang ke depan. Karena kecepatan serta pengaturan langkahnya yang sudah sempurna, tiada yang tahu bahwa ada pemuda luar biasa ilmu ringan tubuhnya telah lewat di sampingnya.
Adalah ketika dia sudah mencapai sebuah tanah lapang. Dia segera keheranan, sebab dia sudah berhenti dari gerakannya total. Tetapi, dia melihat pemandangan yang kurang begitu meyakinkannya. Sebab tidak ada seorang pengawal pun bergerak memandangnya.
Segera, dia terkejut luar biasa sekali. Sebab dia sudah merasakan beberapa hawa yang muncul dari sampingnya. Dia segera menoleh cepat sekali. Dilihatnya ada 4 orang yang sedang berdiri diam mengawasinya.
Tentu keringat dingin segera membasahi dahinya. Dia tidak percaya bagaimana keempatnya bisa masuk demikian cepat. Bahkan dia sudah tahu pokok permasalahannya dengan baik, yaitu ketika para pengawal yang meyakini ilmu silat itu telah tertotok nadi geraknya kesemuanya. Pantas saja kesemuanya segera tidak mampu bergerak bukannya karena mereka tidak mampu mengetahui adanya orang yang lewat di sampingnya.
“Xia Jieji?”
Memang benar, siapa lagi kalau keempat orang itu bukanlah Xia Jieji dan kawan-kawannya.
Jieji memandangnya sambil tersenyum saja.
“Siapa kau? Kenapa selalu saja menyamar sebagai suamiku?” tanya Yunying ke arahnya dengan wajah yang agak heran dan tidak senang.
Orang ini terkejut. Dia segera melihat ke arah orang yang berbicara. Ternyata seorang wanita cantik. Dia sudah tahu kembali pokok permasalahan yang lainnya, yaitu bahwa ternyata selama ini wanita bertopeng tiada lain adalah Wu Yunying yang sama sekali tidaklah perlu menyamar lagi, sebab wajahnya toh begituan.
“Ternyata kau adalah Wu Yunying…
Kalian menyusup masuk demikian mudahnya, benar-benar orang yang hebat.” tutur “Xia Jieji” palsu ini sambil menggelengkan kepalanya.
“Lalu bagaimana kau bisa tahu bahwa kita sudah ada di sini? Kau juga tidak kalah hebatnya. Tetapi sepertinya empat orang lainnya adalah orang tolol..” tutur Jieji sambil tersenyum geli kepadanya.
“Empat orang?” tanya “Xia Jieji” ini.
“Betul.. 1 orang adalah wanita, dia sedang menuju kemari.” tutur Zhao kuangyin melihatnya sambil tersenyum.
Tetapi ketika orang ini melihat ke arahnya, tertimbul sebuah dendam dari matanya. Dia melihat Zhao dengan wajah yang agak buas. Sepertinya pemuda ini menyimpan sebuah dendam dengannya.
“Kau adalah Yue Liangxu bukan? Untuk apa kau menutup wajahmu dan menggantikannya dengan wajahku?” tanya Jieji.
Orang ini mendengar kata-kata Jieji, dia membuka wajahnya dengan sesegera.
Memang benar sekali, wajahnya terlihat wajah Yue Liangxu. Dia memang tidak berubah dari dulu, tetap sama.
Sambil tersenyum, dia berkata kepada Jieji.
“Bagaimana saudara Xia bisa begitu cepat kemari? Sungguh aneh, aku tiap malam memikirkan taktikmu itu.”
“Aku tidak bisa memberitahumu secara detail, waktuku tidaklah banyak. Kau ingin bertarung?” tanya Jieji kepadanya.
Tiga orang di belakang Jieji sepertinya akan ikut membantu. Tetapi Jieji malah menghentikannya, dia mengangkat sebelah tangannya. Justru saat itu, wanita lainnya telah sampai. Wanita yang bernama Huo Thing-thing telah mendarat dengan ilmu ringan tubuhnya yang mantap.
“Ternyata kalian…” tutur Jieji agak keras.
Zhao yang mendengarnya segera tahu. Dia berjalan ke arah belakang dengan pelan, merogoh kantong bajunya dan membuka dengan cepat bungkusan emas.
Hanya beberapa kata-kata yang tidak panjang serta rumit ditulis di atas kertas berwarna putih, lantas Zhao terkejut kegirangan mendapati apa tulisan itu.
Sesaat, dia memandang adik keduanya dengan sangat kagum.
“Ayok.. Kalian ikutlah aku..” tutur Zhao kepada keduanya. Tetapi Yunying menyatakan tetap tinggal. Dia merasa agak heran mendengar tuturan Zhao Kuangyin. Dia ingin membantah, tetapi dia dihentikan segera.
“Tidak bisa.. Kamu ikutlah kakak pertama dahulu. Banyak hal yang harus dikerjakan oleh kalian.” tutur Jieji dengan serius.
Melihat keseriusan Jieji, Yunying diam sebentar. Lantas dia menganggukkan kepalanya. Dia segera bergerak ke arah Zhao. Ketiganya mengambil gerakan mundur ke arah sebuah gerbang besi yang kecil.
Tetapi niat mereka bertiga kemudian dihalangi dengan segera.
Baik Yue Liangxu dan Thing-thing segera bergerak cepat untuk mendahului mereka. Tetapi baru sebentar saja, mereka berdua telah dihalangi oleh seseorang.
Rupa-rupanya Jieji telah sampai di depan untuk menghalangi dengan gerakan yang jauh lebih cepat. Jieji menyiapkan rapalan jurus siaga menantikan keduanya.
Pertarungan tentu langsung saja terjadi dengan cepat.
Jieji bertarung dengan serius menghadapi keduanya. Dengan gerakan bertahan sambil menyerang dia beradu dengan kedua orang ini. Tetapi dalam 5 jurus saja, Jieji sudah merasa cukup aneh. Dia merasa kedua lawannya ini masih beberapa kelas di bawahnya. Terutama adalah Yue Liangxu ini, kemampuannya kali ini sungguh mengherankan Jieji. Hanya dua kali hentakan tenaga dalam dan sekali perputaran tangan dalam jurus keenam, keduanya terpental oleh energi ringannya Jieji.
Meski keduanya tidak dijatuhkan, tetapi dari pertarungan singkat ini Jieji tahu benar ada sesuatu hal yang janggal.
“Aneh…
Saudara Yue… Sepertinya kungfumu tidak lebih baik dari ketika pertarungan 3 tahun yang lalu..” tutur Jieji yang merasa cukup bingung mendapati kemampuan Yue Liangxu di depannya ini.
“Itu karena aku belum mengeluarkan kepandaianku..” tutur Yue Liangxu dengan tersenyum.
Tetapi baru saja dia berkata sampai disini, telah terasa hawa mendekat dengan cukup cepat.
Jieji segera berpaling lurus ke arah depan. Dengan pesat sekali, dia telah mendapati sampainya 2 orang yang sakti. Dia melihat 2 orang yang turun dari langit dan mendarat cepat dengan mantap sekali. Kedua orang ini adalah seorang tua yang merupakan tabib sakti, Chen Yang dengan ketua partai bunga senja, Huo Xiang.
Zhao, Yuan Jielung dan Yunying sudah meninggalkan tempat ini. Mereka beranjak ke belakang, sepertinya Jieji sedang memberikan “perintah” kepada mereka untuk melaksanakan sesuatu.
“Dimana ketiga orang yang lainnya?” tanya Chen Yang sesegera saat dia mendarat.
Yue Liangxu segera menjawabnya.
“Mereka sedang menyelamatkan tawanan.”
“Jadi hanya tinggal dirimu seorang di sini? Betapa yakinnya dirimu akan kemampuanmu sekarang?” tanya Chen Yang yang agak heran menatapi Jieji.
Jieji membalas perkataan orang tua.
“Tentu…
Jika tidak tentunya bukan aku sendiri saja yang berjaga di sini.”
Mendengar perkataan Jieji, kesemua orang disini agak heran. Mereka heran bagaimana kemampuannya yang sesungguhnya. Kabar dunia persilatan daratan tengah memang pernah “mengibarkan” nama Xia Jieji yang selangit. Tetapi, beberapa tahun belakangan sepak terjang Xia Jieji memang tidak pernah terdengar kabarnya lagi.
Huo Xiang memang merasa aneh sejak awal sampai sekarang. Adalah tentunya dia memang sempat “menyekap” Jieji di penjaranya. Saat itu, dia tahu bahwa pemuda tidak mempunyai kungfu yang tinggi, bahkan energi dalam dirinya sama sekali tidak terasa layaknya manusia biasa saja. Oleh karena hal ini, Huo selalu mengira dia salah tangkap orang. Tetapi, merasakan kehebatan lawannya saat setahun lalu ketika mereka bertarung sebentar di hutan Lin Qi, dia sendiri tidak pernah habis pikir apa maksud tujuan Jieji “melenyapkan” ilmunya dan rela menjadi tawanan-nya dalam jangka waktu 8 bulan.
Sekarang, disini telah berdiri Xia Jieji yang asli dan sedang penuh keyakinan menjawab mereka berempat. Tentu mereka benar tahu bahwa Jieji tidak pernah sembarangan dan bermain api di saat yang cukup berbahaya seperti sekarang. Merasakan bahwa lawan memang masih susah ditaksir kemampuannya, maka mereka berempat tidak berani maju sedikitpun mendahului yang lainnya.
“Hm…
Aku menanyaimu, apa benar kau sudah menikah dengan wanita bernama Yuan Xufen?” tanya Chen Yang sambil menunjuk kepada Jieji dengan tongkatnya.
Tersenyum, pemuda yang ditanyainya ini menjawab.
“Aku rasa pertanyaan sebodoh ini tidak perlu di jawab. Dahulu, kabarnya kamu mempunyai dendam dengan isteriku. Dia telah membutakan sebelah matamu, kau ingin mencarinya balas dendam?”
“Betul… Mataku ini…” tutur Chen Yang sambil mengorek biji mata sebelah kirinya. Dengan mudah, dia mengeluarkannya dan meletakkan di telapak tangan. Lantas sambil membentak dia melihat ke arah Jieji. Raut wajahnya berubah sangat bengis sekali memandang pemuda.
“Ini-lah hasil perbuatan isterimu!!!”
Jieji tersenyum sinis kepadanya.
“Sayang sekali isteriku tidak membunuhmu dahulu. Kau menginginkan wajah dan bola matanya. Ini adalah hal yang sungguh biadab, apakah ada orang yang hidup rela memberikan wajah dan kedua bola matanya?”
“Yuan Xufen adalah benar puteri dari Yelu Xian. Dia sendiri-lah yang memintaku untuk membunuh puterinya.” tutur Chen Yang kepada Jieji.
Mendengar perkataan Chen, Jieji bagai di sambar oleh geledek. Dia tidak percaya apa perkataan Chen. Lantas sambil menggeleng dia berkata pula.
“Itu tidak mungkin….”
“Huh…
Yuan Xufen adalah puteri haram dari Yelu Xian dan Wu Shanniang. Saat itu, aku memang berniat melihat Yuan Xufen sendiri dengan mata kepalaku sendiri. Kabarnya dia adalah seorang wanita yang sangat cantik. Aku menginginkan wajahnya untuk diteliti pertama-tama. Tetapi setelah benar melihatnya, aku sangat tertarik akan kedua bola matanya itu.”
sahut Chen Yang mengisahkan.
“Jadi benar kalau Yuan Xufen ternyata sudah melakukan perbuatan yang tidak baik sehingga Yelu Xian sendiri yang merupakan ayah kandungnya saja menginginkan nyawanya.” tutur Jieji sambil menghela nafas.
Xufen selalu ingin tahu siapa orang tua kandungnya dari pertama-tama. Jika saja Xufen disini dan tahu bahwa ayah kandungnya sendiri bahkan menginginkan nyawanya tentu sangat membuatnya kecewa. Hati Jieji memang panas sekali mendengar perkataan Chen Yang. Dan pemuda ini sepertinya tahu betul bahwa apa tujuan Yelu Xian begitu sadis terhadap puteri kandungnya sendiri.
“Separuh betul dan separuh salah besar.” jawab Chen Yang.
“Kalau begitu memang benar perkiraanku. Dia menginginkan Ilmu hebat itu, apapun dikorbankannya. Lantas apa kata-kata dari ibunya sendiri?” tutur Jieji menanyai orang tua ini.
Orang tua tertawa sebentar. Kemudian dia menjawabnya.
“Betul…
Saat itu, Wu Shanniang tidak ada di Liao. Dia sudah menikah dengan Wu Quan. Jadi dia tidak tahu masalah ini.”
Menghela nafas, Jieji memandang serius ke arah Chen Yang.
“Aku memang tidak pernah memberikan salinan kitab itu kepada Yelu Xian sebab diriku sudah kalah akibat pertarungan 2 jurus saja dengan Yuan Xufen. Sungguh tidak kusangka ternyata Yuan Xufen adalah murid Dewa Sakti.” sahut Chen Yang kepada Jieji.
“Jika begitu, adalah benar bahwa kau juga bersama Li Zhu di hutan misterinya Mongolia kuno. Kalian mempelajari ilmu itu sama-sama? Atau memang benar kau sudah memiliki salinan ilmu itu sebelumnya?” tanya Jieji kepadanya.
“Ha Ha…..
Kau sungguh pintar. Aku tidak pernah mempelajari kitab itu meski ada di tanganku sebelumnya. Jika tidak, mana mungkin aku akan kalah kepadanya. Darimana kau tahu bahwa aku mempunyai salinan kitab Ilmu pemusnah raga?” tanya Chen Yang tiba-tiba karena merasa cukup heran.
“Kunci untuk membuka panggung batu adalah 4 pedang. Dua buah pedang sudah dipegang olehku. Sebilah pedang dipegang oleh Guo Lei, dan sebilah pedang lagi sudah dimiliki Huang Yu Zong. Jadi berarti saat Huang membuka panggung batu, tentunya kau dan Li Zhu juga di sana bukan?” tanya Jieji.
Mendengar pernyataan Jieji, Chen Yang tertawa terbahak-bahak cukup lama sekali. Dia menanyai Jieji setelah sekian lamanya.
“Sungguh pintar…
Kau tahu berdasarkan kunci membuka panggung adalah pedang. Tetapi masih kurang seorang lagi yang bersama kita itu.”
“Oya? Kurang ataupun lebih untuk apa dipermasalahkan sama sekali. Sebab aku merasa tidak tertarik akan hal yang berhubungan dengan Ilmu pemusnah raga.” jawab Jieji sambil tersenyum kepadanya.
“Ilmu itu terang adalah ilmu no. 1 sejagad. Kau memiliki tapak berantai dan kemampuanmu telah menguasai dunia persilatan sejak lama. Kenapa kau bilang Ilmu-mu sendiri bukanlah ilmu yang sama sekali tidak membuatmu tertarik?” tanya Chen yang agak penasaran kepada pemuda.
“Sebab Tapak berantai ataupun Ilmu pemusnah raga bukanlah ilmu yang cocok dilatih manusia. Setelah dipikir-pikir, aku merasa Ilmu ini bukanlah ilmu yang perlu dibuat mengejutkan.” jawab Jieji.
Tadinya Chen Yang memang penasaran ingin menanyainya. Tetapi mendengar jawaban Jieji, dia berubah menjadi terpesona. Dia menyahut.
“Kalau begitu, kau anggap Ilmu-ku dan Ilmu-mu bukanlah ilmu yang perlu dibuat takut?”
“Benar sekali…
Orang yang melatihnya pertama-tama akan merasa semangatnya naik ke langit. Semakin dilatih maka ilmu ini semakin maju pesat. Karena pembagian unsur dalam diri manusia membuat unsur pemecahnya mendukung satu sama lainnya. Sehingga perpaduan itu menghasilkan tenaga dalam yang hebat. Tetapi, jika orang melatihnya terlalu lama. Maka ilmu ini sesuai dengan namanya. “Pemusnah raga” tentu maksudnya raga sendiri bakal