“Yelu Xian…..” jawab pencuri ulung dengan singkat saja.
“Berarti benar… Orang yang datang bukanlah Yelu Xian ataupun Yue Liangxu yang asli…” tutur Jieji.
“Tetapi…
Mata-mataku melaporkan bahwa Yelu Xian sudah tidak ada di perkemahan Liao…” tutur Pencuri ulung dengan kelihatan agak bersemangat.
“Hm…
Yelu Xian tidak mungkin meninggalkan Liao dengan cara seperti demikian. Mungkin saja kedua orang ada hubungannya dengan Liao. Tetapi disini aku yakin sekali bahwa Yue Liangxu bukanlah Yue Liangxu asli dan Yelu Xian bukan juga Yelu Xian asli.” tutur Jieji sambil tersenyum.
“Maksud anda adalah, Yeluxian di Liao juga sudah menyamar? Dan kenapa Yelu Xian palsu kemari tentu adalah untuk membicarakan tentang pertarungan saja dan pertempuran di timur daratan China?” tanya pencuri ulung kemudian.
“Betul.. Kalau begitu memang benar adanya. Huo Xiang malah telah menjadi biji catur mereka semua…” tutur Jieji sambil tersenyum manis.
Mendengar tuturan pemuda, pencuri ulung sangatlah terkejut. Jieji betul tidak berada di sana saat itu. Tetapi dia bisa tahu dengan secara mendetail segala hal hanya mendengar cerita saja. Sesaat, dia kagum kepadanya. Namun, segera dia mengajukan permohonan kepada pemuda lagi.
“Bagaimana kalau besok kita pagi-pagi berangkat untuk menyelidik ke dalam partai bunga senja?”
“Apa yang kau katakan itu adalah hal serius?” tanya Yunying kepadanya secara spontan.
Jieji yang mendengar kata “menyelidik” tentu sangat senang sekali. Dia segera mengiyakannya. Tetapi kembali Yunying mencegahnya.
“Kamu harus berlatih lagi…”
Jieji menggelengkan kepalanya. Lantas dia berkata.
“Semua jurus gerakan 18 telapak naga mendekam sudah ada di otakku. Untuk memantapkannya 1 tahap demi tahap adalah tergantung waktu dan jam terbang pertarungan. Lantas tidak ada gunanya lagi jika aku berdiam disini sekalipun…”
Pencuri ulung segera tersenyum. Segera saja, dia mengeluarkan banyak alat dari balik bajunya. Sampai keduanya pun heran. Bagaimana mungkin orang ini selalu membawa sedemikian banyaknya peralatan sambil berjalan-jalan. Keduanya hanya lantas terlihat menggelengkan kepalanya.
***
2 Minggu kemudian…
Tiga orang sudah sampai di utara wilayah Persia. Seperti yang diketahui, wilayah utara dari daerah Persia adalah seluruhnya daerah kekuasaan Partai bunga senja.
Raja dari Persia sekarang sudah di bawah naungan Partai bunga senja. Segala keputusan diputuskan oleh Thing-thing yang merupakan puteri dari Huo Xiang. Sementara itu, dalam beberapa bulan terakhir, Huo memang sangat rajin berlatih Ilmu pemusnah raga.
Mereka bertiga mendengar cukup banyak gosip tentang “dunia persilatan utara” itu. Tiada orang yang tiada tahu bahwa sekarang Huo sedang mengurung diri memperdalam ilmu-nya.
Mengenai kabar 2 orang (Yue Liangxu dan Yelu Xian) yang berada di Persia memang sangat jarang sekali diketahui orang. Melalui penyelidikan demi penyelidikan memang mereka mendapati bahwa kedua orang ini sempat berada di Partai dan tinggal dalam jangka waktu yang tidaklah lama. Sekarang, dimana keduanya berada tidak pernah diketahui orang-orang di sana.
Adalah ketiga orang yang nampak berjalan terlunta-lunta di sebuah sudut kota utara yang sangat sepi sekali. Ketiganya adalah 2 orang kakek reyot dan seorang nenek peot. Cara berjalan mereka memang sudah sangat kepayahan, sehingga acap kali terlihat mereka saling membantu satu sama lainnya.
Tentu ketiga orang ini adalah dalam penyamaran. Adalah Jieji dan Yunying yang tiada habis pikir mengapa harus berpakaian yang terlihat bongkok dan jalan pun terasa sangat susah sekali.
“Bagaimana? Sepertinya kabar tentang Yue Liangxu dan Yelu Xian sudah tidak terdengar lagi… Apakah kita harus pergi dengan cara demikian?” tanya seorang nenek peot dengan suara tenaga dalam yang sangat kecil dan nyaris tidak terdengar.
“Kalau tidak ada kabar mengenai keduanya. Bisa kita cari ketua partai Jiu Qi dahulu.” tutur Kakek reyot yang matanya buta sebelah. Ini adalah penyamaran baru dari pencuri ulung itu.
Lantas mendengar tuturan kakek ini, seorang kakek lainnya menanyainya.
“Kau tahu dimana ketua partai Jiu Qi berada?”
“Tentu….” jawabnya dengan suara yang sangat pelan. Tetapi kakek ini segera tertawa terkekeh-kekeh melihat ke arah nenek peot. Nenek peot ini lantas mengerutkan alisnya tanda bahwa dia tidak mengerti maksudnya.
2 Hari kemudian…
Di Wisma Naga emas, sebelah barat 20 li dari Partai bunga senja…
Seorang nona manis telah duduk di kursi. Wajahnya sungguh sangat manis dengan mata berbentuk bulat indah dan pipinya terlihat cukup tembem serta merona merah. Tetapi dari lingkar wajah, semua bisa melihat bahwa nona ini adalah orang yang sangat cantik meski kelihatan cukup “berisi”.
Seorang pria paruh baya sedang berdiri di sampingnya, wajahnya penuh rasa mesum sambil sepertinya sedang menunggu sesuatu melihat ke arah pintu luar.
Beberapa lama kemudian…
Di ruangan yang tadinya hanya terdiri dari 2 orang. Segera masuk beberapa orang yang baru. Kesemuanya memakai baju berwarna kuning emas. Sepertinya ini adalah seragam yang dipakai oleh setiap orang di wisma ini.
Lantas kesemuanya telah berbaris sangat rapi di kiri dan kanan dengan segera saja.
Dan Kesemua orang seperti sedang menunggu seseorang yang bakal sampai kemari. Kelihatan bahwa para “pengawal” ini cukup angker dengan golok siap di tangan kiri yang sengaja diberdirikan.
Sesaat kemudian…
Suara langkah sudah bisa dirasakan bergetar hebat di tanah kemudiannya. Sebuah langkah yang terasa sangat berat diikuti langkah dari belakang juga sama beratnya. Terasa juga dua pasang kaki yang cukup ringan berada di belakang orang yang berjalan sangat berat itu.
Mereka kesemua yang terdiri dari 3 orang telah mulai memasuki ruangan. Ketiga orang ini yang ditengah adalah sebuah baju besi yang tidak kelihatan bentuk tubuh bergerak. Inilah yang tadinya membuat tanah seakan bergetar akan langkah-langkahnya. Sedangkan 2 orang di belakang adalah seorang pemuda berwajah agung sedang berpakaian sastrawan tetapi di tangannya terlihat sedang memegang kipas yang cukup besar juga. Di samping pria berkharisma itu, terlihat seorang pemuda paruh baya yang lain.
Nona cantik yang terlihat cukup berisi di pipi itu segera memandang ketiga orang yang baru saja masuk. Sesaat, dia sangat terkejut sekali. Dia sempat memandang ke arah pemuda paruh baya yang sedang bersenyum mesum tadinya. Tetapi senyuman mesum-nya juga telah berubah sekarang menjadi sangat kaget sekali menyaksikan arah kiri dari si baju besi. Tiada lain karena orang ini sangat dikenalinya sendiri.
Pemuda sebelah kiri yang masuk ini sungguh dikenali oleh pria yang tadinya bersenyum mesum itu. Dan nona berpipi yang agak tembem juga mengenal orang ini dengan sangat baik.
Karena tiada lain orang ini adalah “Pahlawan dari Selatan” alias Xia Jieji.
Nona berpipi temben tentu adalah Yunying yang sedang menyamar itu. Melihat “Xia Jieji” yang sedang mentereng membuatnya berkeringat dingin kontan.
Disini…
Memang pemuda paruh baya yang bersenyum mesum tiada lain adalah pencuri ulung. Dia sempat terkaget luar biasa juga ketika melihat orang yang masuk adalah Jieji. Tetapi dia tahu dengan baik, bahwa orang itu sedang menyamar menjadi “Pahlawan Selatan”.
Oleh karena itu, dengan segera dia telah dapat mengontrol dirinya dengan baik. Lantas wajahnya kembali berubah mesum.
Dia berjalan mendekati ke arah 3 orang yang berdiri mentereng. Lantas dia berkata.
“Tuan-tuan sekalian…
Apakah memang benar nona disini adalah nona yang kalian cari?”
Adalah Pahlawan dari selatan itu yang maju untuk mendekati gadis yang menunduk diam dan kelihatan takut. Dengan sebelah tangan yang memegang kipas, dia mengangkat dagu nona berpipi temben. Lantas dia tersenyum menggoda ke arah nona.
“Dia bukan orang yang kita cari. Tetapi, sangat mirip sekali kecuali kedua pipinya…” tutur “Xia Jieji” palsu itu.
Tetapi adalah hal yang sangat mengherankan sekali. Jieji disini bersuara seperti suara aslinya.
Adalah pencuri ulung yang tahu dengan benar. Orang ini sedang mengganti suaranya supaya persis. Yunying yang mendengar perkataan pemuda, memang sudah tahu dengan benar bahwa suara orang memang cukup mirip dengan suara suaminya. Yang berbeda hanya adalah cara logat berbicara.
Yunying berpikir cermat “Orang ini berbicara dengan suara yang cukup lembut tetapi terasa menjijikkan. Tidak sama dengan Xia Jieji asli yang berbicara dengan gaya dan logatnya yang seakan sok hebat.”
“Jadi benar dia mirip dengan Yuan Xufen?” kemudian terdengar tuturan suara yang muncul dari balik baju besi yang sedang berdiri dengan kokoh.
“Jieji” palsu segera berbalik ke arahnya. Dia mengangguk pelan saja. Tetapi, dia langsung memberi tanda kepada pengawal di samping.
Pengawal sepertinya mengerti, mereka langsung maju mendekati wanita berpipi tembem itu.
Sementara, pencuri ulung yang berwajahkan pemuda paruh baya yang kelihatan mesum segera beranjak maju.
“Benarkan tuan-tuan sekalian..Anda semua berniat menyimpannya bukan? Sekarang aku menuntut imbalan….”
Sepertinya disini, pencuri ulung menyamar jadi germo yang mencari wanita-wanita. Sudah bukan rahasia lagi kalau ketua partai Jiu Qi mencari wanita cantik di seluruh jagad untuk diperiksa wajahnya. Jika sudah benar adalah mirip Yuan Xufen, maka mereka akan membawanya untuk “disimpan”. Tidak ada yang tahu bahwa sudah berapa wanita yang mereka “simpan”. Disini memang ada hal yang sangat aneh, sebab entah apa tujuan dari mereka, yang jelas tentunya sudah tidak baik.
Pria yang berwajah Xia Jieji segera mengangkat tangannya tinggi. Lantas pengawal dari belakangnya segera maju. Mereka mempersembahkan cukup banyak uang emas kepadanya.
“Kau sudah boleh pergi…” tuturnya kemudian.
Tetapi pencuri ulung segera berkata kepadanya.
“Nona ini meski mirip dengan wanita di lukisan anda. Tetapi sayangnya… Sayangnya….”
“Sayangnya apa?” tanya seorang pemuda paruh baya dengan suara kasar yang berada di samping kanannya orang berbaju besi. Dia adalah orang yang berpenampakan sama dengan Yelu Xian.
“Sayangnya dia bisu…” tutur pencuri ulung dengan menunduk dan sepertinya sangat ketakutan.
“Apa katamu????” tutur Yelu Xian yang seakan berwajah marah.
“Betul.. Dia bisu…” tutur pencuri ulung dengan wajah yang terlihat amat ketakutan sekali.
Sementara, “Jieji” palsu itu segera menengahi.
“Tidak mengapa… Bawa masuk saja sekalian dengan dia. Jika tidak cocok, maka baru saja bertindak.”
Yelu Xian hanya mengangguk perlahan saja. Di sorot matanya memang masih tampak kemarahan yang tidaklah sirna.
Lalu sambil ketakutan, pencuri ulung berjalan ke belakang dengan kepala menunduk.
Dan memang benar…
Sepertinya mereka segera keluar dari ruangan ini. Wisma Naga emas memang bukan wisma yang kecil. Besarnya mungkin jauh lebih luas dari Wisma Sembilan Keanehan di Wilayah barat kota Chengdu. Mereka berjalan cukup lama juga, melewati gang pergang. Tetapi pengawal yang berpakaian emas yang jumlahnya mungkin 20 orang lebih juga ikut mengawal “Yunying” ke arah yang dituju.
Wisma Naga Emas memang seperti istana para pangeran layaknya. Karena berjalan beberapa tindak, lantas mereka bertemu dengan pengawal. Dan berjalan beberapa tindak kemudian, mereka langsung ketemu dengan dayang. Mungkin penghuni disini jumlahnya lebih dari ratusan orang.
Perlu waktu sekitar 1/2 jam kemudian, mereka akhirnya telah sampai. Di depan ruangan sama sekali tidak terlihat pengawal yang berjaga. Dan ruangan pun sepertinya terpisah dengan ruangan-ruangan lain yang saling sambung-menyambung itu. Tempat ini meski dilihat dari luar sudah bisa dipastikan sangat luas. Mungkin hanya ruangan ini saja sudah mencapai lebar 100 kaki lebih.
Dari dalam, sepertinya sudah ada manusia yang menunggu. Dia hanya memanggil pelan.
“Masuk saja…”
Mendengar tuturan seorang pemuda. Para pengawal segera membukakan pintu yang cukup luas dan tinggi. Bersamaan dengan terbukanya pintu, 20 pengawal segera mengawal mereka berdua masuk.
Disini, yang heran tiada lain adalah ketiga orang yaitu si baju besi, “Xia Jieji” dan Yelu Xian malah tidak menampakkan diri.
Lantas pencuri ulung sambil menyorot ke depan bisa melihat jelas. Sebuah bayangan memang terpampang di tirai yang cukup tebal. Dan kemungkinan besar orang ini adalah seorang pria karena mendengar suaranya yang bukan seakan-akan dibuat.
Pencuri ulung adalah orang yang sangat jago mendengar suara setiap orang, dan kemudian dia berusaha untuk menirunya. Bagaimanapun dia tahu bahwa orang di depannya memang sedang “mengganti” suara. Tetapi dari nadanya memang dia adalah pria.
“Kau mengatakan bahwa wanita ini adalah bisu?” tanyanya kemudian kepada pencuri ulung.
Mendapat pertanyaan seperti ini tentu membuatnya terkejut. Bagaimana mungkin pria ini bisa tahu percakapan dia dengan “Xia Jieji” tadinya. Lantas dengan berkeringat dingin, dia menjawab.
“Betul.. Meski dia adalah seorang wanita bisu. Tetapi katanya dia cukup mirip dengan gadis yang kita cari.” tutur suara itu kembali.
“Benar sekali. Oleh karena itu, disini aku hanya ingin menerjemahkan apa kata-kata wanita ini…” tutur pencuri ulung kembali.
“Apakah kau sehat-sehat saja wanita cantik?” tanya suara dari balik tirai itu.
Yunying tentu tahu bahwa suara pria ini sedang menyapanya. Lantas dia menganggukkan kepalanya perlahan. Tetapi dia arahkan mukanya ke germo dan bukannya ke arah tirai.
“Dia berkata dia baik-baik saja…” tutur germo alias pencuri ulung untuk menerjemahkan sikap wanita ini.
“Dia tidak ada masalah dengan kesehatannya?” tanya suara dari balik tirai.
“Tidak ada… Dia betul sangat sehat…” jawab pencuri ulung karena melihat gaya tangan wanita tembem.
“Kalau begitu…
Pengawal!!! Tangkap kedua orang ini…………”
teriaknya dengan keras dan seakan dari nadanya terasa kemarahan yang tinggi sekali.
Adalah pencuri ulung sangat terkejut. Lantas dengan gaya penasaran, dia menanyai pria yang di balik tirai.
“Kenapa? Kenapa kita harus ditangkap?”
“Ha Ha…
Kau bisa menipu banyak orang. Bagaimana kau bisa menipu diriku? Adik seperguruan?”
tutur suara itu kembali dan terdengar dia masih tertawa terbahak-bahak.
Para pengawal sudah beranjak mendekati mereka berdua sambil menyiapkan golok.
Pencuri ulung memang tidak habis pikir, kenapa penyamarannya bisa terbongkar. Sesaat, dia terkejut kemudian. Dia sudah tahu kenapa tadinya orang itu menanyai kesehatan wanita berpipi tembem.
“Seharusnya kau tahu. Orang yang menyimpan tenaga dalamnya akan terasa lebih lemah gerakannya dari orang biasa. Ketika kutanyai wanita ini sehat atau tidak, kenapa dia bisa menjawab bahwa dia baik-baik saja?” tanyanya ke arah pencuri ulung.
“Hm…
Kau pikir bisa menangkap diriku?” tutur pencuri ulung sambil tersenyum kepadanya. Kali ini dia sudah membuka topeng kulit pria paruh baya yang sudah melekat di wajahnya. Sekarang, wajahnya yang terpampang tiada lain adalah Lie Hui, wanita cantik.
Sedangkan pemuda yang di balik tirai segera maju sambil menyingkap tirai itu. Sudah terlihat disini adalah seorang pemuda paruh baya. Di wajahnya terhias kumis dan jenggot yang cukup lebat. Pencuri ulung tentu mengenal orang ini dengan baik dan tiada lain dia memang adalah Ketua partai Jiu Qi.
“Kau memang tidak mudah ditangkap mengingat kau memiliki banyak tipu muslihatnya. Tetapi gadis ini tentu mudah saja bagiku untuk menangkapnya.” tutur pemuda yang tiada lain adalah ketua partai Jiu Qi.
Yang anehnya sekarang, dari balik tirai kembali muncul 2 orang. Dua orang yang tadinya memang sudah berada di ruangan sebelumnya. Kedua orang ini adalah Xia Jieji serta Yelu Xian.
“Jadi kau sudah tahu sejak awal kakak seperguruan? Eh.. Tepatnya putra kaisar dari Tang akhir, Lie Fei.” tutur pencuri ulung sambil tersenyum sinis ke arah ketua partai Jiu Qi.
(Kaisar terakhir dari Dinasti Tang akhir(Later Tang) adalah Li Zhu yang bergelar kaisar Ai Di. Kaisar Ai Di digosipkan teracun tewas akibat perbuatan Zhu Wen atau leluhur dari Zhu Xiang dari Dinasti Liang akhir.
Tetapi Ai Di memang tidak tewas, karena semenjak hari yang mengabarkan dirinya telah tewas diracuni oleh Zhu Wen. Tetapi malah Ai Di bersembunyi di Hutan misteri Mongolia kuno. Terakhir, dia kalah dalam pertarungan hebatnya dengan Xia Jieji yang harus di bayarnya dengan nyawa)
Mendengar tuturan adik seperguruannya, orang yang memakai baju besi segera tertawa besar. Suaranya yang keras membuktikan bahwa tenaga dalamnya memang sangat tinggi sekali. Dan ruangan tempatnya berada sempat terlihat bergetar sebentar.
“Adik seperguruan…
Dahulu, guru hanya menurunkan 3 ilmu keanehan kepadaku. Tetapi kamu justru dituruni sampai 8 keanehan. Ini membuktikan bahwa memang guru lebih menyayangi dirimu dari pada diriku. Sekarang, aku sudah menguasai kesembilan dari keanehan itu sendiri. Lantas, kamu benar sudah tidak berguna untukku…”
Tutur ketua partai Jiu Qi, tetapi dia bertindak aneh kembali. Dia menutup wajahnya kembali dengan tutup kepala besi kemudian.
Partai Jiu Qi (sembilan keanehan) memiliki 9 kemampuan khusus. Kesemuanya kemampuan khusus itu tiada lain adalah mencakup kungfu, sastra, militer, penyamaran, kecepatan, tipu-muslihat, kemampuan berkarya, Menciptakan senjata, dan sifat dermawan. Disebut 9 keanehan karena di antara kesemua kemampuan adalah tiada wajarnya jika diteliti oleh orang lain. Tetapi kesemuanya justru adalah keahlian yang wajib dimiliki oleh “Ketua” partai Jiu Qi. Siapa yang memiliki kemampuan yang terbanyak maka dia-lah orang yang berhak menjadi ketua di partai.
Setelah dipikir-pikir, malah Partai ini memang sungguh “aneh”.
“Kakak seperguruan…
Sebenarnya partai Jiu Qi dibangun di saat kekacauan yang bersilih ganti di China daratan. Tugas utama partai Jiu Qi sangat mulia yaitu membantu “Naga sejati” membangun negara. Tetapi, setelah dirimu menjabat. Kau telah mengganti 2 di antara 9 keanehan itu. Kau adalah murid yang laknat, lantas berdasarkan apa kau bisa mengajakku berdebat tentang hal partai?”
“Apa maksudmu?” tutur si Baju besi yang terlihat cukup marah dari nada suaranya.
“Kau telah mengganti dua yaitu Kungfu dan sastra…”
“Kungfu dan sastra?” tanya baju besi kembali.
“Betul…
Kungfu kau ganti menjadi gemar paras elok. Dan sastra kau ganti menjadi perampokan dan pemerkosaan. Lantas disini apa pantas kau berbicara tentang partai dan perguruan kita?” tutur Pencuri ulung dengan nada yang sangat sinis ke arahnya.
Mendengar perkataan pencuri ulung, sebenarnya terlihat betapa marahnya ketua partai Jiu Qi ini. Dia ingin sekali menghabisi adik seperguruannya yang telah sangat lancang.
Lantas kemudian dia kembali bertutur.
“Kau mengatakan kemampuan kungfu telah kuubah, dengan begitu berarti bahwa kungfu-mu sudah sangat tinggi dan mengatakan kalau kungfu-ku tiada apa-apanya. Bukan begitu adik seperguruan?”
“Betul.. Itulah maksudku…” tutur pencuri ulung dengan tertawa.
Tetapi dengan gaya tertawanya, sepertinya sesuatu benda telah terlepas dari bajunya. Dengan segera, Ketua partai Jiu Qi yang bernama Lie Fei berteriak.
“Awas!!! Itu bom asap!!!”
Tentu saja ketua ini bersikap sangat waspada. Mengingat jika saja bom asap ditaburi racun, maka cukup gawat juga kesemua orang di dalam ruangan ini. Dengan sangat cepat, dia kemudian menghancurkan atap dari ruangan itu.
Sementara, kesemua orang sepertinya cukup panik. Tentu-nya terkecuali 3 orang lainnya yaitu Lie Fei, “Xia Jieji” dan Yelu Xian.
Sepertinya ketiga orang ini segera menerjang lewat atap dengan ilmu yang sangat tinggi.
Dengan sesegera, ketiganya sudah berada di atas atap. Dan ketiganya seperti sedang menyapu seluruh empat penjuru dengan mata mereka masing-masing.
“Itu dia….”
teriak “Xia Jieji” palsu dengan menunjuk.
Lantas Lie Fei, ketua partai Jiu Qi dan Yelu Xian sempat menengok ke arah yang ditunjuk. Kelihatan 3 orang sedang berlari dengan ringan tubuh. Yang aneh bagi mereka adalah orang terakhir yang lari belakangan. Adalah seorang pemuda yang berpakaian keemasan dengan memegang golok di tangan. Sepertinya pemuda ini juga menyamar menjadi salah seorang “anggota” mereka.
“Mereka rupanya terdiri dari 3 orang….” tutur Lie Fei dengan baju besi berat yang masih tetap dipakainya.
“Terjang!!!” teriak Yelu Xian dengan segera.
Ketiga orang dari atap segera turun dan maju ke depan dengan ilmu ringan tubuh yang tidak kalah tingginya dari mereka bertiga.
Pengejaran pun sudah dilakukan oleh ketiganya. Adalah di satu sudut dari Wisma ini. Terlihat di depan adalah terdapat pagoda pemujaan yang sungguh sangat luas adanya. Tetapi di belakang pagoda sepertinya telah menunggu seseorang. Dia berdiri dengan sangat agung sambil menantikan ketiga orang yang kabur itu menuju ke tempatnya.
“Di depan terdapat hawa yang sangat dahsyat….” tutur pemuda berpakaian emas dan memegang golok dalam keadaan berlari kencang. Tiada lain tentunya pemuda ini adalah Xia Jieji asli adanya. Dia sudah sejak awal berada di ruangan. Dengan sedikit penyamaran sebagai pengawal partai, sebenarnya dia juga ikut dalam aksi yang dipimpin pencuri ulung kali ini.
Kedua orang temannya segera berhenti saja karena bukan Jieji seorang saja yang merasakan adanya keanehan di depan. Mereka berdua tahu, kali ini tentu kesemuanya harus diselesaikan lewat pertarungan.
Jieji sudah merasakan bahwa hawa di depan itu yang masih berjarak sekitar 1/2 li bukan hawa manusia sembarangan. Lawan terhebat yang pernah ditemuinya tentu adalah Yue Liangxu. Tetapi Yue tidak pernah sekalipun menggunakan semua kemampuannya ketika mereka bertarung.
Namun, orang di depan ini sungguh berbeda. Dari jauh saja, mereka bertiga memang sudah merasakan bahwa lawan di depan bukan orang yang mudah dihadapi.
“Pendekar di depan… Tunjukkanlah dirimu….” tutur Pencuri ulung sambil menggunakan tenaga dalam tinggi untuk memanggil ke arah pagoda.
Sementara itu, ketiga pengejar juga sudah sampai. Ketiganya berdiri mentereng menghadap ke arah Jieji bertiga. Jarak mereka terpaut juga tidak begitu jauh paling 30 kaki saja.
Dengan tanpa bersuara diikuti angin santai yang berhembus. Seseorang sudah sampai juga disana. Sekarang terlihat 3 orang di belakang, dan 1 orang di depan sudah menantikan.
Adalah Jieji dan Yunying yang cukup merasa terkejut melihat pemandangan di depan mereka. Seorang tua berdiri dengan rambut terurai memutih. Wajahnya sekilas terlihat agung. Dia memegang tongkat di sebelah kiri tangannya dan di sebelah tangan kanan sepertinya memegang sebuah bola kristal. Matanya bersorotkan sebuah sinar memerah sarat dengan pembunuhan.
“Tetua…. Mereka bertiga adalah penyusup… Entah apa tujuannya, tetapi wanita berpakaian ungu itu adalah adik seperguruanku…” tutur si baju besi sambil memberi hormat ke depan.
Orang tua ini tersenyum mengangguk saja. Lantas tidak berapa lama, dia berkata.
“Apa tujuan kalian bertiga kemari?”
“Kami hanya datang untuk meminjam kakus. Setelah selesai, kita bertiga akan meninggalkan tempat ini. Apa ada yang aneh?” tutur Lie Hui alias pencuri ulung.
“Kakus? Bukankah kakus ada di belakang rumah? Kenapa kalian malah beranjak ke depan?” tutur orang tua ini yang sempat bergaya cukup aneh. Dia mengerutkan alisnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Sebenarnya tindakan orang tua ini memang terasa sangat aneh betul. Hanya Jieji yang mengerti apa maksud perkataannya. Dia berkata kepada kedua temannya dengan pelan.
“Orang tua ini bukan orang sembarangan. Hawa di tubuhnya juga mengandung hawa pemusnah raga..”
Jieji tahu benar. Dahulu ketika dia bertarung hebat melawan Li Zhu di hutan misteri mongolia. Dia juga merasakan hawa yang sama antara orang tua ini dengan Li Zhu, Kaisar Ai Di dari Dinasti Tang.
Terlihat Yunying dan Lie Hui mengangguk perlahan saja. Lantas Lie Hui dengan berani menjawab kepada orang tua.
“Di belakang kakus itu sudah dipakai oleh ketiga teman kita di belakang ini. Sekarang setelah membuang hajat, lantas kita ingin meninggalkan tempat.”
“Oh? Jadi begitu?” tutur orang tua ini. Lantas dia mengayunkan tangannya pelan ke depan. Tetapi…
Berbareng ayunan dan lambaian tangannya ke depan. Segera muncul hawa luar biasa dahsyat berwarna unguh kehitaman yang sangat kencang mengancam Lie Hui. Tentu Jieji dan Yunying segera terkejut luar biasa.
Adalah Jieji sangat tanggap adanya, dengan mengayun tangannya juga. Hawa yang datang secepat kilat itu telah buyar. Dan alhasil, hawa pembuyaran itu segera meretakkan tanah di sekitar mereka radius 30 kaki lebih.
“Hebat anak muda…. Jurus 18 telapak naga mendekam milik Pei Nanyang alias Zeng Qianhao betul jurus hebat.” tutur orang tua ini sambil tersenyum ke arah Jieji.
Jieji memandang lurus ke depan. Dia merasakan hawa energi yang telah membuat tangannya kesemutan itu memang dahsyat sekali. Ini adalah cara menyerang dari Ilmu pemusnah raga. Dan kemampuan orang tua ini jelas tidak di bawah Li Zhu pikirnya.
Tadinya Jieji menggunakan jurus ketujuh dari Ilmu 18 telapak naga mendekam. Dia memindahkan energi dahsyat itu ke tanah dan mengakibatkan tanah sudah retak hebat sekali.
“Tetapi jurus tingkat kedua pemusnah raga anda juga tidak kalah hebatnya…” tutur Jieji membalas dirinya tentu sambil tersenyum.
Orang tua ini tertawa terbahak-bahak. Lantas dia mengatakan.
“Tidak disangka ketua partai pengemis, Yuan Jielung juga berada disini. Ini akan menjadi sebuah pertarungan yang sungguh mengasyikkan…”
Orang tua mengira Jieji adalah Yuan Jielung adanya. Tentu perkiraan orang tua membuat Jieji tidak kalah senangnya. Tetapi dia tidak menunjukkan kesenangan di hatinya itu. Tentu lebih bagus orang mengiranya adalah Yuan Jielung ketimbang orang tahu dia adalah Xia Jieji sendiri menurut pemuda ini.
“Kita kepung mereka semua, aku ingin tahu seorang Yuan Jielung bisa berbuat apa?” tutur “Xia Jieji” palsu itu sambil menunjuk ke depan.
“Kau pergi dahulu… Aku akan melindungimu…” tutur Jieji pelan kepada Lie Hui alias pencuri ulung. Jieji tahu bahwa dia adalah yang paling lemah diantara mereka bertiga.
“Tetapi……” tutur pencuri ulung sambil mengerutkan alis.
“Kita berdua tidak akan ada apa-apanya disini… Tenang saja…” tutur pemuda kembali.
Yunying mengiyakan dengan mengangguk kepalanya perlahan.
Memang benar, pencuri ulung segera melepaskan bom asap sekali ini lagi. Dengan bersamaan dengan bom asap. Ketiga orang di belakang dan seorang kakek di depan terlihat mundur 10 langkah. Pencuri ulung dengan ilmu meringankan tubuh hebat, segera beranjak ke samping.
Tetapi…
Jieji merasakan sebuah hawa yang dahsyat yang segera mengikuti pergerakan Lie Hui itu. Dengan tidak ayal, dia segera melayang secepat kilat juga untuk melindunginya.
Sementara itu, ketiga orang yang tadinya di belakang sepertinya juga mengejar seorang Lie Hui yang ingin kabur.
Ketiganya merasakan hal yang sama yaitu sebuah energi seakan meninggalkan tempat dari tanah tempatnya berpijak.
Dengan teriakan hebat, Jieji segera memutar lengan kananya setelah merasakan hawa hebat itu berada di sampingnya.
Orang tua tidak mengejarnya. Tetapi dia merapal sebuah jurus penyerangan jarak jauh untuk “melumpuhkan” pencuri ulung yang mencoba kabur.
Dengan gerakan sangat cepat dan kuat, gelombang energi yang menyerang itu segera dipentalkan ke arah penyerangnya. Dan sesaat kemudian, terdengar ledakan dahsyat.
Karena kepulan asap masih hebat, tidak ada yang tahu suara ledakan itu terjadi karena hal apa.
Namun dari arah belakang punggung, Jieji sudah merasakan tiga buah tapak yang segera di arahkan ke sasarannya. Memang benar kali ini cukup gawat bagi pemuda. Karena baru saja dia mengeliminasi energi kakek tua. Ketiga orang lainnya sudah menyerangnya secara dahsyat.
Sungguh sangat kontras sekali. Asap memang sudah menyebar kemana-mana. Dan di tempat lapangan luas itu tidak ada orang yang bisa melihat satu sama lainnya lagi. Kesemua orang yang menyerang maupun bertahan hanya seperti bertarung dalam keadaan tutup mata.
Adalah di saat yang terasa sangat berbahaya sekali bagi Jieji. Dia merasakan adanya “hawa lain” yang membelakangi dirinya. “Hawa baru” ini membantunya dengan menahan energi ketiga orang yang tadinya sempat mengancam dari arah punggungnya.
Siapa lagi orang yang datang terakhir ini selain Yunying.
Tiga buah tapak lawan, segera membentur energi yang dahsyat dengan segera. Disini, kelima orang memang sedang melayang di antara kepulan asap yang sangat pekat itu.
Begitu energi saling bergebrak, sungguh hebat sekali keadaan disana.Karena seakan terjadi gempa yang sangat dahsyat dengan sesegera.
Jieji dan Yunying memang sedang melayang turun.
Tetapi sebelum benar dia turun. Dia sudah merasakan sebuah hawa di bawah kakinya.
Sepertinya orang tua tadinya segera beranjak untuk menantikannya turun. Jieji segera terkejut. Tetapi dia segera merapal jurus ke tendangannya.
Orang tua memang benar sudah pas berada di bawah tempat turunnya Jieji. Dia sudah menyiapkan tapak untuk menghantam ke atas. Jieji segera merapal jurus tendangannya yang sudah lama dipelajarinya. Segera saja, beribu tendangan segera di arahkan ke bawah.
Tetapi Yunying yang berada di sampingnya juga tidak kalah sigapnya. Mengetahui bahwa orang tua bukanlah lawan yang mudah dihadapi. Segera dia merapal tapak untuk di arahkan ke bawah.
Kali ini…
Benturan energi dahsyat kembali terjadi untuk sekali lagi. Hasilnya Jieji memang menggunakan tendangan mayapada dan tendangan matahari untuk melayani tapak lawan.
Pertahanan orang tua memang sangat hebat sekali, sebab beribu tendangan yang dikeluarkan dalam sekejap sepertinya bisa ditahan dengan sempurna sekali. Tetapi ketika hantaman tapak lain yang menyusul itu telah membuat orang tua terpental. Ini bisa dilihat dari suara gesekan kaki yang hebat merusak tanah di sekitar.
Sungguh sibuk sekali Jieji dan Yunying kali ini. Sebab ketika baru saja mereka mendarat, ketiga energi kembali datang secara bersamaan di asap tebal.
Merasakan hal demikian, Jieji membisiki Yunying dengan cepat.
“Gunakan semua kemampuan, buyarkan energi melalui tanah…”
Yunying mengerti maksud Jieji dengan sangat baik. Dengan cepat pula, dia menarik nafas dan menghempaskan ke tanah tempat mereka berpijak. Apa yang dilakukan Yunying segera diikuti oleh Jieji. Keduanya merapal jurus terbaik mereka masing masing untuk di arahkan ke tanah mereka berpijak.
Ketika hantaman telah menuju ke tanah. Gempa luar biasa telah muncul. Kali ini gempa jauh lebih dahsyat 10 kali dari hantaman sebelumnya.
Energi membuyar dahsyat segera saja terjadi. Adalah ketiga orang dan orang tua sekarang malah sibuk luar biasa. Mereka segera mundur cepat seakan “dikejar” oleh energi yang membuyar hebat ke seluruh penjuru. Keempatnya seperti sibuk mengeliminasi energi yang sangat dahsyat. Keempatnya sempat tidak percaya ada hal sedemikian di dunia.
Sebab gempa ini selain dahsyat, juga membawa suara terpecah atau runtuhnya sesuatu di sekitar sana. Dan silih berganti terdengar saling menyahut suara yang cukup aneh itu.
Tidak berapa lama, asap sudah membuyar pula. Adalah keempat orang berdiri dengan tegak terlihat. Masing-masing seperti terpisah satu lingkaran penuh yang jaraknya hampir 1/2 li masing-masing.
Ketika mata mereka sudah bisa melihat sekitarnya, alangkah terkejut keempat orang ini.
Di tengah memang terdapat sebuah lubang berbentuk lingkaran yang cukup besar. Tanah berpijak sudah menjadi retak bagai sesuatu benda besar jatuh. Dan…
Semua pagoda di sana sudah runtuh dan rata dengan tanah.
“Ini…. Tidak mungkin….” tutur pemuda berwajahkan “Xia Jieji” itu sambil melongo. Dari hidung dan bibirnya telah terlihat darah mengalir yang belum berhenti. Ini adalah bukti bahwa pemuda telah terluka dalam.
Tetapi bukan saja pemuda menyerupai Xia Jieji yang demikian saja. Yelu Xian juga mengalami hal yang sama, dan si topeng besi juga tahu bahwa dirinya terluka dalam cukup parah.
Sedang orang tua itu sempat melihat sekelilingnya, dia memang tidak mengapa-ngapa. Tetapi keringat dingin segera mengucur dari dahinya ke bawah.
Jieji dan Yunying yang memanfaatkan pentalan energi dahsyat ke tanah, sudah lenyap tak berbekas. Tidak ada orang disana yang tahu mereka lari kemana. Tetapi yang jelas itu bisa terjadi karena keempat orang ini tidak lagi sempat untuk merasakan hawa manusia karena sibuknya mereka mengeliminasi energi yang menuju ke arah masing-masing.
“Wanita itu adalah orang yang sama dengan orang yang menghancurkan Wisma Jiu Qi kita, serta yang memporak porandakan Partai Jiu Qi kita yang berada di Tibet serta India.” tutur orang tua itu sambil menengadahkan kepalanya.
Ketiga orang ini segera berkumpul satu sama lainnya. Jarak mereka terpisah memang sudah sangat jauh sekali satu sama lain. Sekarang ketiga orang ini kembali mendekati. Sementara itu, para pengawal dari Wisma Naga emas yang mendengar ledakan sudah mulai berkumpul di daerah tempat pemujaan pagoda leluhur. Jumlah mereka mungkin hampir 100 orang. Tetapi kesemuanya seakan tidak percaya dan melongo menyaksikan pemandangan di depan mereka.
“Jika saja Yuan Jielung bergabung bersama gadis hebat itu, maka kita dalam kesusahan tinggi.” Tutur “Xia Jieji” itu kepada orang tua.
“Oleh karena itu, kau harus cepat berlatih tapak buddha Rulai tingkat kesembilan. Dengan begitu, meski keduanya bergabung bersama Xia Jieji sekalipun mereka tidak ada apa-apanya.” tutur orang tua.
Tetapi Yelu Xian segera menyambung perkataannya.
“Bukan saja mereka bertiga. Meski bersama Zhao Kuangyin, Dewa Lao dan Sun Shulie mengeroyokmu seorangpun. Mereka bukanlah tandingan kita.”
Dia menuturkan sampai disini, kemudian terlihat mereka berempat segera tertawa terbahak-bahak.
***
Jieji dan Yunying beserta pencuri ulung memang sudah kembali ke gubuk di sebelah barat daya kota Anlu seminggu setelah kejadian di Wisma Naga Emas. Mereka bertiga sepertinya duduk sambil berunding.
“Kamu tahu siapa orang tua itu?” tanya Jieji ke arah pencuri ulung.
“Dia adalah seorang tetua dari dunia persilatan. Dahulu dia sudah menghilang sangat lama, tidak disangka bahwa dia ada di Wisma naga emas.” jawab pencuri ulung dengan mengerutkan alisnya.
“Tetua dunia persilatan?” tanya Yunying kemudian yang cukup heran. Dia tahu bahwa orang tua bukan orang yang sama sekali mudah dihadapi.
“Betul… Dan dia mempunyai hubungan juga denganmu. Sekitar hampir 40 tahun yang lalu…” tutur pencuri ulung dengan melihat ke Jieji.
Jieji memandangnya dengan cukup heran. Dia segera berpikir. Sekitar 40 tahun yang lalu adalah dirinya mungkin belum lahir. Tetapi ketika orang ini mengatakan bahwa dia mempunyai hubungan dengannya, tentu dia tahu adalah mungkin waktu dia masih balita. Lantas dia menanyainya.
“Lantas ada hubungan apa aku dengannya?”
“Nyawa….” jawab pencuri ulung sambil tersenyum kepadanya.
Sesaat…
Jieji terkejut luar biasa. Kemudian dia berusaha mengendalikan dirinya dahulu, dan segera berpikir. Dia tahu bahwa ketika dirinya masih bayi, dia terkena racun pemusnah raga. Lantas dari sini dia berpikir. Dan tanpa perlu waktu lama, dia sudah mengingat sesuatu. Dia mengingat kembali perkataan Kyosei, bawahan sekaligus kepercayaan ayahnya itu. Dia segera terkejut ketika sepertinya mendapati sesuatu.
“Dia … Seorang tabib sakti?”
Pencuri ulung menganggukkan kepalanya.
“Sungguh aneh memang. Dahulu Chen Yang memang adalah seorang tabib sakti sekaligus adalah adik kandung Chen Shou, Dewa Tabib. Tetapi dia sekarang menguasai Ilmu pemusnah dengan cukup baik, maka sangat diherankan.”
“Dia memiliki hubungan baik dengan ayahku. Tentu menurutku selain dia adalah murid Dewa Ajaib, maka dia pasti ada hubungannya dengan Dewa Bumi…” tutur Jieji.
“Betul perkataan saudara Xia. Sekarang masalah sepertinya makin rumit…
Entah apa maksud partai Jiu Qi mencari wanita yang persis wajahnya dengan Yuan Xufen. Dan yang terlebih aneh lagi, entah apa maksud kesemua orang itu. Yang jelas seperti yang saudara Xia katakan, mereka sepertinya sedang memanfaatkan Huo Xiang. Tetapi apa tujuan mereka pula.” kata pencuri ulung sambil berpikir keras.
“Penyelidikan kita memang juga membuahkan hasil. Setidaknya kita tahu bahwa mereka terdiri dari 4 orang.” tutur Jieji kemudian.
“Bagaimana menurutmu? Jika mereka di tambahkan seorang Huo Xiang. Apa kalian berdua memiliki keyakinan menang?” tanya pencuri ulung kepada mereka.
“Tidak tahu…
Tetapi jika bertarung dengan benar saat itu. Kita semua paling seimbang. Jika ditambahkan Huo Xiang di pihak mereka, kita tidak memiliki keyakinan sama sekali…” tutur Jieji seraya berpikir.
Adalah ketika mereka sedang memeras otak dengan sangat tajam satu sama lainnya. Mereka dikejutkan oleh suara seseorang.
“Bagaimana kalau bersama kita berdua?”
Suara orang sangat agung dan berkharisma. Hebatnya orang-orang yang datang ini sama sekali tidak diketahui mereka kesemuanya. Lantas dengan mengalihkan pandangan ke depan pintu. Ketiga orang ini girang luar biasa sekali.
Dua orang pemuda masuk ke dalam gubuk. Kedua orang ini dikenal oleh mereka bertiga pula.
Disini, Jieji sangat girang sekali mendapati orang paruh baya yang tingginya 6 kaki, wajahnya bersinar terang agung, matanya tajam bagai rajawali dan senyum di wajahnya sungguh sangat ceria.
“Kakak pertama? Bagaimana kau bisa sampai di sini?” teriak Jieji 1/2 heran mendapati Zhao Kuangyin berada disini, di Persia.
Sedangkan di samping Zhao kuangyin terlihat seorang pemuda gagah lainnya. Wajahnya berbentuk petak dan terlihat kharisma luar biasa juga muncul dari dirinya, tubuhnya kokoh dan cara berdirinya sungguh sangat terlihat agung.
Dia tidak lain adalah Yuan Jielung, ketua perkumpulan pengemis.
Tetapi bagaimana keduanya bisa sampai disini memang cukup mengherankan kesemuanya. Pencuri ulung memang mengenali mereka berdua, meski keduanya tentu hanya mengenalinya sebagai Lie Hui saja.
Adalah Yunying orang yang paling terkejut. Dia tidak tahu harus ngomong apa, jika saja Zhao kuangyin memanggilnya “adik ipar” atau semacamnya yang bisa mengkaitkan dirinya sebagai isteri Xia Jieji. Entah apa yang harus dilakukannya.
Jieji segera menyilakan kesemuanya duduk di meja yang memang cukup besar itu. Setelah tamu baru ini sudah duduk dengan benar, Zhao bertutur dengan wajah yang penuh kegembiraan.
“Adik kedua… Sungguh dirimu betul hidup dengan sangat baik disini. Kakak pertama sungguh merindukanmu.”
“Kakak pertama, apakah anda tidak berada di perbatasan untuk mengusir Liao atau Han utara lagi? Kenapa kau bisa tiba bersama pendekar Yuan?” tutur Jieji yang agak heran, dia menatap Yuan Jielung sebentar.
Yuan memberi hormat secara mendalam kepadanya. Kemudian, Jieji juga bersikap sangat hormat kepada ketua perkumpulan pengemis dari daratan tengah ini.
“Daratan tengah sudah aman sentosa. Liao sudah berjanji melakukan gencatan senjata.” tutur Zhao sambil tersenyum kepadanya.
“Ha?
Kenapa bisa Liao berubah pikiran untuk tidak lagi berperang dengan Sung lebih lanjut?” tanya Jieji yang agak heran.
“Betul…
Han utara sudah kalah habis-habisan. Pasukan Sung sudah berhasil menyerang ke Taiyuan (Ibukota Han Utara) dan telah merebutnya. Terakhir Raja Liu Jiyuan juga sudah bertekuk lutut kepada Sung.” tutur Zhao kemudian.
“Benarkah? Sungguh baik sekali jika begitu… Berarti memang benar bahwa Liao sudah kehilangan pengaruhnya, dan Yue Liangxu benar sudah tewas?” tanya Jieji kembali ke kakak pertamanya.
“Betul…
Melalui taktik-nya Yumei, Sung berhasil menggebrak Ibukota Taiyuan hanya dalam 3 minggu. Han utara menyerah, sedangkan Liao yang dipimpin oleh Yelu Xian sudah mundur kembali ke wilayah mereka.”
tutur Zhao kuangyin masih dengan wajah yang penuh kegembiraan.
“Yumei? Adik kecilku-lah yang mengatur penyerangan ke Han utara?tanya Jieji dengan agak heran.
“Betul..
Dengan taktik mundur dari utara Shandang, Han utara mengejar kita.
Kita sempat melepas kota Shandang yang sudah diungsikan penduduknya, semuanya adalah hampir sama dengan taktik adik kedua ketika berperang melawan He Shen belasan tahun yang lalu dan diulang oleh Yumei.
Tetapi berbareng dari kota Ye, pasukan Sung yang dipimpin Zhao Kuangyi menyerang ke Taiyuan. Bersama anggota pengemis dan prajurit Tongyang dari kediaman oda yang dipimpin Kyosei. Dalam 3 minggu saja, ibukota Han utara, Taiyuan bisa dipukul jatuh.
Saat Taiyuan sedang digempur, pasukan yang dipimpin Liu Ji-yuan sebenarnya berada di kota Shandang. Menerima kabar Taiyuan sedang dalam bahaya hebat, Liu langsung melepas kota dan pulang hendak menolong ibukota. Tetapi dalam perjalanan pulang, kita dan para pasukan menggempurnya hebat dan terakhir sanggup menangkap Liu Jiyuan.” tutur Zhao kuangyin panjang lebar untuk menceritakan keadaan peperangan di garis depan utara dari tapal batas Sung.
“Liu tentu tidak pernah menyangka bahwa serangannya kali ini ke Sung malah berakibat fatal. Tetapi apakah kakak pertama tahu kenapa Liao yang merupakan koalisi dari Han utara tidak membantunya sama sekali?” tanya Jieji kembali.
“Jangan-jangan benar bahwa Yelu Xian ada disini?” tutur Zhao yang langsung keheranan.
Tetapi Jieji segera menjawabnya.
“Disini memang telah terdapat banyak hal yang janggal.” Kemudian pemuda menceritakan semua kisahnya ketika menyelidik Wisma Naga Emas, disana dia mendapati Yelu Xian. Hanya betul ini adalah Yelu Xian asli atau tidak, tiada yang bisa tahu.
Mereka segera berpikir satu sama lainnya. Lantas Zhao kembali bertutur kepada adik angkatnya.
“Sungguh aneh? Mereka menginginkan Yuan Xufen? Apakah benar mereka tidak tahu bahwa Yuan Xufen sudah tiada 20 tahun yang lalu?”
“Memang hal ini betul membuatku pusing. Aku tidak bisa mendapatkan ide kenapa mereka masih mengejar Xufen?” tutur Jieji sambil terlihat nada-nya marah.
Pencuri ulung yang tadinya hanya diam-diam saja kemudian berkata.
“Yuan Xufen adalah seorang wanita yang luar biasa cantik sejagad. Dari dahulu, selain nona ini terkenal di Changsha. Dia juga sudah terkenal di Tibet dan India.”
Jieji melongo ke arah pencuri ulung. Dia lantas mengerutkan alisnya sambil menanyainya.
“Apa jangan-jangan mereka sama sekali tidak tahu bahwa Yuan Xufen sudah meninggal. Dan tentu kabar tentang meninggalnya ia, tidak diketahui oleh mereka semua sehingga membuat mereka ingin mencarinya lagi?”
Tetapi mendengar kata-kata Jieji, pencuri ulung segera tertawa hebat. Cara tertawanya membuat kesemua orang cukup heran.
“Xia Jieji… Kenapa tiba-tiba kau bisa berubah menjadi setolol ini?
Bahkan aku yang tinggal di Persia saja dahulu sudah mendapat kabar tentang meninggalnya Yuan Xufen. Bagaimana mungkin mereka, Partai Jiu Qi yang tersebar ke seluruh negeri anggotanya tidak tahu hal sedemikian.”
Kata-kata Pencuri ulung bagaikan siraman air dingin memenuhi kepalanya sesegera. Dia lantas bertutur.
“Dengan begitu… Kemungkinan orang yang ingin mencari “Yuan Xufen” adalah orang yang maniak?”
“Anggap saja begitu dahulu…” tutur pencuri ulung sambil tersenyum kepadanya.
Zhao melihat cara keduanya berbicara. Sesaat, dia melihat ke arah Lie Hui. Dia merasa mengenal wanita cantik ini. Dia berpikir sesaatnya kemudian. Tentu Zhao masih mengenalnya sebagai salah satu orang di antara 15 pasukan pengawal adik kandungnya.
“Pendekar Lie Hui, mengapa anda bisa sampai kesini?”
Lie Hui alias pencuri ulung segera tertawa terbahak-bahak mendengar Zhao kuangyin memanggilnya Lie Hui. Jieji segera menyelanya dan dia berkata kepada kakak pertamanya.
“Dia adalah pencuri ulung yang terkenal itu… Dia sedang merubah wajahnya…” tutur Jieji kepada kakak pertamanya.
Zhao kuangyin dan Yuan Jielung cukup kaget melihat “nona palsu” ini. Sebab mereka tidak menemukan kejanggalan sama sekali di wajahnya yang merupakan penyamaran.
Adalah Yunying yang dari tadi terlihat “takut” jika saja Zhao kuangyin memanggilnya. Oleh karena itu, dia tetap menunduk saja.
Lantas, memang benar Zhao memang memandang ke arahnya. Yunying tidak berani melihat ke arah Zhao. Dengan begitu, dia tetap menunduk saja.
“Jangan-jangan adik ipar ini juga????” tanyanya seakan tidak percaya.
Jieji tersenyum saja kepadanya. Dia memperkenalkan wanita ini yang dikenalnya sebagai wanita bertopeng yang pernah muncul di daratan China.
Zhao segera berpikir hebat mendengar penuturan adik angkatnya itu. Dia dan Sun Shulie pernah membahas tentang wanita bertopeng yang memiliki Ilmu silat hebat ini ketika mereka berada di utara kota Shandang. Saat itu, mereka berdua memang mengiranya adalah Yunying karena kemampuan Yunying sejak tidak sadarkan diri setelah Jieji meninggalkan Beiping memang sudah luar biasa.
Sekarang di depannya, dia memang melihat wanita cantik yang berwajahkan adik iparnya kontan juga heran. Sesaat, dia berpaling ke arah Jieji. Dia sedang berpikir sebenarnya adik keduanya sedang memikirkan apa. Tidak mungkin bahwa Jieji yang meminta pencuri ulung untuk mengganti wajah wanita bertopeng ini. Lantas dia memang tidak berniat menanyainya terlebih dahulu karena masih ada masalah lain yang kiranya lebih penting.
“Adik kedua… Kamu tahu siapa yang menunjukkan tempat ini kepada kita?”
tanya Zhao kemudian sambil melihat ke arah Jieji.
“Sepertinya adalah Dewa Lao yang menunjukkan tempat ini sehingga kakak pertama dan pendekar Yuan kemari..” kata Jieji sambil memandang ke arah kakak pertamanya.
Zhao tersenyum puas saja mendengar pernyataan adik keduanya.
Yuan Jielung alias Li Yu segera bertutur sambil tersenyum.
“Betul sekali…
Tetua Lao berkata bahwa kalian disini mengalami kesulitan. Adalah juga tetua Lao yang menunjukkan bahwa para pendekar sekalian pasti berada disini. Kita sudah sampai kemari seminggu yang lalu, tetapi karena tidak kelihatan orang di gubuk. Kita berjalan ke kota Lin Qi untuk menyelidik. Tetapi hasilnya adalah nihil sehingga kita berdua langsung balik kemari. Tetapi karena merasakan adanya orang, maka dengan gerakan ringan kita melihat siapa saja orang di dalam…”
Jieji tersenyum kepada Yuan. Tetapi kemudiannya, dia menunduk sambil menghela nafas. Yuan Jielung yang melihat tindakan Jieji segera saja menghela nafas. Dia tahu benar apa maksud Xia Jieji yang bertindak demikian.
Adalah karena Jieji kembali berpikir tentang Zeng Qianhao, guru Yuan sendiri.
Pencuri ulung segera memberikan komentar kemudian.
“Dengan adanya kedua pendekar disini, maka sudah sangat baik. Pertarungan anda yang tinggal 1 bulan lagi sepertinya tidak ada masalah yang berarti.”
Jieji tersenyum saja. Lantas dia berpaling ke arah kakak pertamanya. Dia menanyainya.
“Kakak pertama…
Apakah ada kabar Yunying dari Tongyang?”
Zhao yang mendengar kata-kata ini, tidak bisa menjawabnya. Dia berpikir keras, apakah harus mengatakan bahwa Yunying “hilang” dari wisma Oda sudah beberapa tahun lalu. Dia sejenak bingung sendiri.
Jieji adalah orang yang pintar. Melihat kakak pertamanya sepertinya tidak begitu mau menjawabnya, dia sudah menebak beberapa hal.
“Apakah sesuatu terjadi kepadanya??”
“Tidak.. Dia di sampingmu saja…..” tutur Yunying dalam hati yang melihat ke arah Jieji. Dia tersenyum dengan wajahnya, tetapi kemudian dia terlihat menundukkan kepalanya.
“Tidak… Adik ipar tidak ada apa-apa… Hanya saja, kita belum menemukan jejaknya…” tutur Zhao kuangyin dengan berhela nafas.
Jieji yang mendengar penuturan kakak pertamanya lantas terlihat sibuk. Dia berpikir dengan keras, kenapa Yunying ingin meninggalkan Tongyang Wisma Oda. Dia berpikir saat terakhir dia bertemu dengan Yunying lagi. Wajah isterinya memang bukanlah senyuman yang terlihat. Tetapi adalah keanehan yang sungguh susah diukir dengan kata-kata. Selain itu, Jieji juga berpikir saat Yunying sedang meninggalkannya di padang pasir Mongolia kuno. Isterinya itu memang pergi dalam keadaan yang marah.
Sekarang mendapati keterangan bahwa isterinya tidak ada di Tongyang tentu membuatnya cukup bingung.
“Tetapi selain adik ipar yang hilang, adik ketiga juga sama. Dia “menghilang” sudah cukup lama sekali…”
tutur Zhao kemudian yang membuyarkan keheningan.
Jieji memandang kakak pertamanya dengan wajah yang sangat heran. Dia tidak habis pikir juga, dimana Wei Jindu sekarang berada.
“Terakhir, dia pergi ke barat untuk mencari tetua Pei yang sudah beberapa bulan tidak ada kabarnya. Dia pergi bersama Huang Xieling dan sampai sekarang tidak pernah lagi ada kabar beritanya.” tutur Zhao sambil menghela nafasnya.
Jieji kali ini “dipaksa” untuk memainkan otaknya. Apakah mungkin Wei kembali ke Tibet bersama Huang Xieling? Tetapi tentu dalam jangka waktu yang 2 tahun lebih itu seharusnya sudah ada kabar beritanya. Tetapi kenapa sampai sekarang bahkan bayangannya saja tidak pernah memberikan kabar.
“Kakak pertama…
Apakah hal yang terjadi ketika kamu memberikan Ilmu tapak berantai kepadanya?” tanya Jieji kepada kakak pertamanya Zhao kuangyin.
Zhao lantas mengingat kembali.
Jieji memang memberikan salinan kitab tapak berantai kepada Zhao kuangyin yang untuk kemudiannya diserahkan kepada Wei Jindu. Semua hal ini adalah ditulis Jieji sebagai wasiatnya kepada Zhao untuk menjalankan pesan ketiga dari kantong emas.
Wasiat Jieji yang ketiga adalah meminta Zhao Kuangyin menyerahkan salinan kitab tapak berantai yang sudah ditulisnya kepada Wei Jindu. Selain itu, Jieji juga meminta Zhao untuk tidak menceritakan banyak hal kepada Yunying. Sebab Jieji sudah mengira bahwa dengan kepergian dirinya ke tembok kota Beiping, maka dia harus menebus dengan nyawanya disana.
Jieji lebih memilih isterinya, Wu Yunying membencinya daripada tahu hal yang sebenarnya yaitu semua hal yang rumit itu dilakukan untuk tiada lain hanya untuk menolongnya.
Jika saja Yunying tahu dirinya telah tiada, dan tahu kesemuanya adalah dilakukan deminya, tentu Yunying akan mengalami rasa penyesalan sepanjang hidupnya. Melainkan jika Yunying marah, tentu dia tidak akan menjadi frustasi menurut pemuda. Setelah lama,memang Yunying akan menyadarinya. Tetapi lebih bagus semua telah berjalan baik baru Yunying menyadari hal ini lebih baik. Daripada langsung tahu keadaan sebenarnya dari Jieji.
Tetapi justru hal perkiraan Jieji benar berbeda sekali. Dia sekarang malah hidup dengan baik tanpa kekurangan sesuatu apapun.
“Memang buku salinan itu sempat kuberikan kepada adik ketiga. Tetapi…
Di luar dugaan, dia menolaknya. Dia mengatakan lebih bagus berikan saja kepada kakak ipar…” tutur Zhao menjelaskan.
Jieji yang mendengar kata-kata ini bagai disambar geledek. Dia tidak habis pikir bahwa buku salinan kitabnya ternyata diberikan kepada Yunying. Di dalam hatinya dia sepertinya mendapati sesuatu hal yang membuatnya sekarang tidak begitu tenang jadinya.
“Jadi apa benar Yunying mempelajari ilmu dari salinan tapak berantai?” tanya Jieji dengan cukup penasaran kemudian.
“Itulah hal yang tidak kita ketahui. Yang jelas setelah buku itu dikembalikan, adik ipar hanya terlihat menyimpannya saja. Mengenai ilmu tapak dipelajarinya atau tidak, itu tidaklah kuketahui. Memang ada masalah jika benar dipelajari ilmu tapak itu?” tanya Zhao yang segera heran.
“Ada kejanggalan…
Jika Yunying betul mempelajarinya, aku takut sesuatu terjadi kepadanya.” tutur Jieji.
Kesemuanya kontan terkejut mendengar tuturan Jieji. Seakan tidak percaya kesemuanya melihat dengan serius ke arah Jieji. Terlebih lagi Yunying asli ini yang duduk hanya terpaut 3 kaki darinya. Wanita nan cantik ini tidak begitu mengerti maksud dari pada Jieji.
“Sebenarnya formula dari ilmu tapak berantai memang sudah kuganti. Tapak berantai yang kusalin tidak sama dengan yang kupelajari.
Sebagai mana contoh dari tapak berantai ku adalah bersifat normal dalam semua ilmu 4 unsur yang terdapat di dalamnya.
Dahulu, Li Zhu pernah menyusun tapak pemusnah raga menjadi berat di kekuatan. Sedangkan dari formula tapak itu, aku menyusunnya menjadi bersifat menghancurkan.” tutur Jieji kemudian.
“Lantas apa masalahnya?” tanya Zhao yang cukup heran.
“Nah…
Disini, sifat adik ketiga adalah penyabar yang luar biasa. Meski dia menggunakan tapak berantai yang kusalin, maka dia tentu tidak akan sembarangan merusak dengan tenaga dalam-nya. Jika saja Yunying yang mempelajari, takutnya… Takutnya dia berubah menjadi setan penghancur…” tutur Jieji sambil menghela nafas.
“Jadi memang benar kenapa ilmu ini disebut ilmu pemusnah raga adalah betul sekali. Sebab ketika seorang yang telah mempelajarinya, seakan raganya sudah bukan miliknya lagi. Hanya batinnya dan tenaga dalam dirinya yang betul mengontrol dirinya sepenuhnya?” tanya Zhao kuangyin kepada Jieji.
“Betul… Oleh karena itu, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa ilmu ini berbahaya.” tutur Jieji.
Jieji memang tidak pernah tahu bagaimana hasil dari tapak berantai salinan baru itu. Adalah Yunying yang tahu dengan benar. Ilmu barunya ini memang sangat sejalan dengan Ilmu semestanya, hanya saja dia juga pernah berpikir bahwa daya rusaknya sudah kelewatan hebat. Apalagi sekarang tenaga dalamnya jelas sangat tinggi bagaikan tanggul yang jebol.
“Semua jurus yang penting adalah daya rusaknya, kenapa justru dikhawatirkan?” tanya pencuri ulung dengan agak penasaran.
“Memang benar…
Tetapi sifat isteriku tidak sama dengan Wei Jindu. Sifat isteriku kadang-kadang bisa menjadi seorang pemarah yang berbahaya. Dahulu, aku telah menyalurkan tenaga dalamku beserta tenaga dalam Yue Liangxu kepadanya. Jika dia benar mempelajari Ilmu tapak berantai salinanku, kutakut betul akan gawat sekali.”
tutur Jieji sambil menghela nafas.
Sekarang pencuri ulung telah mengerti. Dia segera tersenyum puas. Dia berpikir bahwa tuturan main-mainnya yaitu “Xi-Shi” betul-betul menjadi kenyataan, mengingat daya rusak wanita cantik ini memang betul luar biasa.
Yunying yang mendengar tuturan Jieji, tentu mendongkol hebat. Dia tidak begitu puas mendengar bahwa dia dikatakan seorang pemarah yang berbahaya.
“Tetapi…
Guru mengatakan bahwa adik ipar masih hidup dengan baik. Adik kedua tidak usah khawatir…” tutur Zhao kemudian sambil menepuk pelan pundak Jieji dan tersenyum.
“Betul…
Kita juga melihat bahwa sebenarnya isteri pendekar Xia berada di barat, di daerah sini juga.” tutur Yuan dengan tersenyum kepadanya.
Jieji heran mendengar kata-kata terakhir dari Yuan. Lantas dia menanyainya.
“Maksudnya?”
“Kita pernah melihat bintang pendekar di utara kota Shandang. Inipun karena paksaan dari nona kecil Yumei. Dewa Lao terakhir mengabulkannya, kita melihat bahwa bintang isteri pendekar bersinar terang sekali dan di belakang bintang isteri pendekar malah muncul bintang pendekar Xia yang juga sama terangnya. Dewa Lao mengatakan bahwa kalian sama berada di satu tempat.” tutur Yuan dengan polos kepada Jieji.
Mendengar hal ini, Jieji hanya menjawab pelan saja.
“Jadi begitu?”
Kemudian dengan cepat, dia mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
Yunying sekarang sangat takut. Dia tidak berani memandang Jieji, tangannya yang dikepalkan terasa basah akibat berkeringat dingin. Sebab semua kata-kata mereka-lah yang tidak sengaja membongkar identitasnya.
Tetapi Jieji disini sama sekali tidak melihatnya. Dia memandang kakak pertamanya, kemudian dia bertutur.
“Pertarungan dengan Huo Xiang bakalan tidak lama lagi. Dan Huo telah menguasai pemusnah raga seharusnya sudah cukup mantap. Dengan begitu hal yang dikhawatirkan disini sekarang sudah berkurang banyak. Kita disini terdiri dari 5 orang, begitu juga dari pihak mereka 5 orang.”
“Partai bunga senja bukanlah partai yang bisa kita anggap remeh, mereka sudah menguasai pemerintahan. Selain itu, di daerah tibet. Mereka telah menyiapkan pasukan untuk menyerang ke kota Chengdu. Ini adalah sebuah hal yang betul harus diperhatikan juga.” tutur Lie Hui kemudian kepada mereka.
“Tetapi…
Dalam perjalanan kemari, kita sama sekali tidak melihat adanya pasukan yang sudah terbentuk. Heran sekali…” tutur Zhao kuangyin menjawab Lie Hui.
“Itu tidaklah heran. Sebab mereka semua sekarang pasti ada di puncak pegunungan Kunlun. Ketika kalian lewat, tentu tidak pernah menyadari bahwa adanya cukup banyak orang di atas pegunungan.” sahut Lie Hui.
Zhao kuangyin tersenyum kepadanya. Lantas dia berkata.
“Aku sudah mengutus Wang Pangchi, Shi Soxing, Wang Zhenzhong dan Yang Guangyi berempat untuk menyelidiki sisa perjalanan kita dari daerah Tibet. Sedangkan Lu Xuqing, Chu Zhaobu, Pang Mei bertiga memeriksa sisa perjalanan kita dari India. Dan Shen Yileng, Mi Xin, Tian Zhongjing memeriksa sisa perjalanan kita di daerah persia.”
Nama-nama orang yang disebut oleh Zhao Kuangyin tiada lain adalah ke-10 orang pengawalnya yang juga memiliki ilmu silat yang tinggi. Ke-10 pengawalnya juga adalah jenderal kepercayaan yang sudah mengikutinya lebih dari 30 tahun.
Sisa perjalanan yang dimaksudkan oleh Zhao kuangyin adalah apakah benar ada orang yang mengikuti mereka atau tidak sampai disini. Zhao adalah orang yang sungguh teliti, dia tidak ingin ada yang tahu apa yang sedang dilakukannya.
“Sungguh orang mengatakan bahwa Sung Taizu adalah orang yang sangat cermat sekali. Tidak melihatnya maka aku tiada percaya.” tutur Pencuri ulung diikuti oleh tertawanya.
Zhao terlihat tersenyum saja.
“Aku rasa sebaiknya kita pun beristirahat dahulu. Sebab sepertinya sudah lumayan sore.” tutur pencuri ulung sambil berdiri dan terlihat dia merenggangkan badannya.
“Baiklah…” tutur Jieji. Dia segera akan mengatur tempat tinggal untuk kedua orang ini.
Tetapi Zhao menolaknya, dia berkata.
“Sebenarnya ketika kita sampai disini, sempat juga membersihkan sebuah rumah kecil tepatnya 2 li saja dari sini.”
Jieji heran juga. Lantas Zhao kembali menyambung.
“Aku mengutus 3 orang pengawalku untuk membersihkan tempat tinggal itu sehingga sudah layak ditinggali. Dari sini kesana hanya 2 li arah ke barat saja dik. Tenang saja…
Dan besoknya aku akan kemari lagi…”
Tempat tinggal yang disebut oleh Zhao kuangyin tiada lain adalah tempat tinggal Sun Shulie dahulunya. Dia merasa lebih baik dirinya tinggal disana sementara waktu sambil menunggu waktu 1 bulan lagi.
Jieji lantas memberi hormat kepada keduanya. Sepertinya kedua orang ini bergerak dengan pelan saja ke depan. Sampai keduanya sudah hilang dari pandangan, Jieji baru beranjak kembali.
Dia tidak kembali ke kamarnya. Melainkan dia terlihat sedang menunggu seseorang di kamar lainnya. Siapa lagi yang ditunggu oleh pemuda ini selain seorang wanita. Seorang wanita yang banyak pertanyaan yang harus di tanyakannya secara langsung.
Tetapi wanita ini sepertinya “tidak berani” pulang. Sejak Jieji mengantarkan kakak pertama dan ketua kaibang ke depan, dia tidak terlihat batang hidungnya lagi. Entah kemana wanita ini tiba-tiba menghilang.
Sudah lewat 3 jam…
Akhirnya pemuda yang menunggu ini juga mendapatkan hasil. Dia merasakan seorang yang telah ditunggunya itu sudah balik ke kamar pula. Memang tindakannya tentu dinilai tidak sopan oleh sesiapapun karena menunggu di kamar seorang wanita memang tidaklah pantas. Tetapi dia sudah tahu sebagian besar hal ini semenjak perbicangan tadinya. Oleh karena itu, sebelum wanita membuka pintu untuk masuk. Pemuda mendahuluinya dulu.
Dia membuka perlahan daun pintu kamar sebelah kirinya…
Wanita ini memang masih terlihat sama dengan wajah sebelumnya. Di tangan wanita terpegang sebuah mangkok yang sedang tertutup. Dengan kedua tangannya, dia berjalan perlahan ke depan. Dan tiba-tiba saja, dia berlutut. Kepala wanita ini menunduk dan tak berani memandang pria pujaannya.
“Seharusnya aku sudah tahu bahwa…..”
tutur Jieji sambil menengadahkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
Wanita memang masih belum berani menengadahkan kepalanya untuk melihat. Dia terlihat berlinangkan air mata.
“Kamu berdirilah… ” tutur Jieji sambil membimbingnya.
“Tidak pernah sekalipun aku menyalahkan dirimu…” Kemudian pemuda melihat dalam ke mata isterinya.
“Aku.. Aku….” wanita ini hanya bisa mengucapkan beberapa kata saja.
“Sudahlah… Kau pergi membeli mie kesukaanku lagi? Kita duduk berdua saja dan kongsi kita makan habis. Bagaimana?” tutur Jieji sambil menghapus air mata yang turun dari matanya.
Lantas sambil tersenyum, Yunying menganggukkan kepalanya.
Tadinya Yunying mengira bahwa Jieji akan marah kepadanya. Lantas dia segera menuju ke kota Lin Qi untuk membeli makanan kesukaannya seraya menyenangkan hatinya. Tetapi perkiraannya kali memang salah. Jieji bukan saja tidak marah, tetapi dalam hatinya dia merasa sangat iba sekali.
“Aku tidak mampu melindungi isteriku…
Sebagai kepala keluarga, maka semua itu adalah kesalahanku…” tutur Jieji sambil meminta maaf kepadanya.
Tetapi Yunying menggelengkan kepalanya. Tangisannya belumlah berhenti. Lantas dengan lirih, dia berkata.
“Dahulu memang semua adalah kesalahanku. Aku terjebak oleh fitnah palsu dari ibuku tentang dirimu. Aku menyadari semuanya adalah ketika diriku sudah di Tongyang. Ternyata ayahku jauh hari sudah berada di sana dengan selamat. Selain itu, kakak-kakakku juga berada di sana dengan keadaan selamat.
Kemudian mereka menceritakan tentang dirimu, tentang sepak terjangmu yang menyelamatkan mereka di Shaolin. Saat itu, aku benar telah mengerti.”
Jieji menghela nafas ketika teringat akan kejadian tempo dulu. Mie yang baru saja disantapnya beberapa kali, ditinggalkannya. Dia segera duduk di sebelah isterinya dan sambil merangkul sang isteri untuk menyandar ke bahunya. Dia berkata.
“Itu adalah soal lalu, tidak usah diungkit lagi. Bukankah aku hidup dengan sangat baik disini?”
“Tetapi…
Kenapa kamu begitu nekatnya? Aku tidak habis pikir tentang semua hal yang dilakukan olehmu…” Yunying menolaknya sebentar, dia memandang ke mata suaminya.
Jieji terlihat menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.
“Aku tidak ada cara lain lagi. Sebenarnya di tembok kota Beiping, aku ingin menyelamatkanmu, tetapi dayaku sangat lemah. Maka daripada itu, aku hanya memikirkan cara terakhir yang akhirnya melukai dirimu. Ini adalah dosaku yang tidak bisa diampuni. Tadi kukatakan bahwa seharusnya aku melindungi, tetapi malah aku menyakitimu.”
Yunying memandangnya dengan cukup lama. Lantas dia berkata.
“Ini adalah keputusanmu. Dan sebagai isterimu, tentu aku harus dan wajib untuk menerimanya. Meski saat itu aku mati, dan mengetahui niatmu betul adalah untuk menyelamatkanku, aku pun sangat rela.”
Pemuda yang mendengar kata-kata yang pilu dari isterinya, terlihat mendekapnya kembali. Dia tidak berkata apa apa hingga waktu yang lama.
“Dahulu… Aku telah mencelakai kakak-mu. Sekarang setelah kejadian itu, aku berjanji. Meski seberapa sulitpun atau harus sampai kehilangan nyawa, aku tidak akan melukaimu lagi.”
“Hush.. Ngomong jangan yang tidak-tidak. Baik-baik kenapa harus bilang menanggung nyawa atau apa. Kenapa kamu tidak menanyaiku bagaimana aku bisa dari Tongyang yang jauh sampai disini?” Tutur Yunying yang terlihat sifat manjanya kembali.
Yunying memang orang yang sangat jago dalam mengubah situasi. Dia tahu, jika pembicaraan pilu ini dilanjutkan maka tidak akan ada habisnya. Dia tahu betul bahwa sang suami memang benar menyayanginya dengan segenap hati. Lantas, dengan mengalihkan pembicaraan ke arah yang hangat dia berusaha untuk “menghidupkan” hati suaminya itu.
“Betul… Adalah hal ini yang sejak daritadi ingin kutanyakan…” tanya Jieji ke arahnya dengan wajah yang cukup heran dan terlihat penasaran.
Memang taktik Yunying adalah taktik hebat. Dia mengerti suaminya dengan sangat baik. Hidup 3 tahun bersamanya di Tongyang sedikit banyak sudah membuatnya sangat memahaminya. Asalkan ada sesuatu yang bisa membuatnya merasa “heran” dan ingin berpikir. Maka sang suami sepertinya tidak mempedulikan hal yang lain terlebih dahulu.
Yunying tertawa kecil karena selain melihat wajah suaminya yang berubah itu juga karena dia merasa bahwa “taktik kecilnya” ini telah berhasil.
“Tadi… Kakak pertama memang mengatakan bahwa adik ketiga tidak ingin buku salinan tapak berantai-mu. Semua itu adalah hal yang benar.
Kakak pertama sempat meneliti buku salinanmu beberapa saat di utara kota Shandang sebelum aku balik ke Tongyang. Tetapi setelah dia meneliti beberapa lama, dia mengatakan bahwa diriku-lah orang yang paling cocok mempelajarinya.”
“Sebab karena tenaga dalammu sudah sangat tinggi. Dan jika tidak diimbangi oleh Ilmu yang lebih dahsyat maka menjadi sia-sia saja. Begitu kata kakak pertama kan?” tanya Jieji sambil tersenyum kepadanya.
“Betul…
Lantas dia memang menyerahkan kepada adik ketiga. Tetapi meminta adik ketiga untuk membuat salinannya 1 buku lagi. Dengan begitu, adik ketiga mendapat 1 buku dan diriku