yaitu adanya isu lain. Isu tersebut mengatakan bahwa sinar “emas” yang merupakan sesuatu yang luar biasa telah sampai di Iran(persia). Sebuah negeri di barat yang nun jauh sekali.
Sesaat, diingatnya pesan dari pada Xue hung yang memintanya ke daerah barat untuk meninjau sesuatu disana. Tetapi, Jieji lebih mengutamakan untuk berkumpul kembali terlebih dahulu dengan para teman-temannya di kota Ye. Oleh karena itu, siang malam dia melanjutkan perjalanan kembali ke kota Ye.
Xia Rujian, Hikatsuka Oda, Yelu Xian dan Zhu Xiang telah berhasil melatih ilmu pemusnah raganya Qin Shih Huang. Meski tenaga dalam mereka belum sekuat untuk mendalami secara penuh. Namun keempat pendekar tersebut telah sangat berbahaya bagi Jieji dan kawan-kawannya. Ditambah lagi dengan seorang Yue Liangxu yang telah sangat tinggi kungfunya, maka mereka berlima telah termasuk jago yang tiada tandingan di kolong langit.
Kelima pendekar mengirim surat tantangan untuk bertarung kepada Zhao kuangyin dan kawan-kawannya pada bulan pertama hari Imlek, yaitu 15 hari setelah surat tantangan dikirimkan.
Pei Nanyang serta Yuan Jielung yang mendengar tantangan tersebut juga berniat ikut ke daerah utara Bei Ping. Surat tantangan mereka berlima sengaja di gembar gemborkan dengan sangat luas. Entah apa maksud kelima pendekar dari Liao tersebut, tetapi tentu setiap langkah mereka tiada-lah hal yang benar baik.
Imlek penanggalan China, hari pertama.
Pendekar dari daratan tengah yaitu Zhao kuangyin, Wei Jindu, Sun Shulie, Yuan Jielung, Pei Nanyang, Huang Xieling serta Dewa Ajaib telah sampai di daerah tersebut. Namun mereka dikejutkan dengan banyaknya para pendekar dunia persilatan yang telah berada disana untuk menyaksikan pertarungan lima pendekar daratan tengah melawan lima pendekar dari Liao tersebut.
“Kalian sudah datang?” seru Xia Rujian dari atas tembok kota Bei Ping yang megah tersebut.
Sesaat, semua pendekar yang berkumpul sepertinya membuka jalan untuk orang yang baru datang tersebut. Di antara orang yang baru saja sampai tersebut, oleh para pesilat. Mereka hanya mengenal Yuan Jielung seorang yang merupakan ketua Kaibang yang kesohor itu.
Zhao kuangyin berjalan paling depan diikuti oleh Pei Nan yang dan Yuan Jielung. Sedangkan Sun Shulie alias Ming Ta beserta Wei Jindu, Xie Ling dan Dewa Ajaib mengikuti dari belakang.
Zhao menatap tajam keatas saja. Sebelum dia hendak berkata, dia dipotong kembali oleh suara Rujian kembali.
“Dimana anakku? Kenapa dia tidak datang bersama dengan kalian?” Kata Xia Rujian dengan senyuman penuh arti.
Zhao hanya bungkam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Xia Rujian. Tetapi sesaat, dia melihat beberapa orang telah muncul disamping Xia Rujian. Adalah Yue Liangxu, Ye Luxian, Zhu Xiang, Hikatsuka Oda dan istrinya juga Wu Shan Niang telah berada di sana.
“Dimana kakak ipar?” tanya Wei Jindu sambil melihat ke atas, ke sekeliling tembok kota Bei Ping tersebut. Maksud Wei sendiri adalah Yunying. Istri dari Xia Jieji.
Wu Shanniang segera menarik Yunying keluar. Sepertinya Yunying sedang di totok oleh mereka semua. Entah apa maksud yang terkandung, tetapi sudah jelas bahwa Yunying kali ini tentu dijadikan perisai/tameng mereka semua.
“Licik!!!!” teriak Sun Shulie dengan marah.
Zhao hanya melihat ke arah Yunying yang kelihatannya tiada semarah saat berada di gurun pasir. Wajahnya terlihat murung dan seakan dirinya menganggap bahwa dirinya sendiri tiada punya harapan hidup lagi.
“Oh? Kalian sengaja menyimpan Jieji?” Tanya Hikatsuka dengan senyuman yang sulit di mengerti.
Zhao mengangkat tangannya untuk mencegah orang berkata lebih lanjut. Dia bermaksud memainkan sandiwara.
“Adik kedua telah menuju ke arah utara…” Jawab Zhao kuangyin.
“Utara?” kata Xia Rujian sambil keheranan. Sesaat, dia pandang ke arah Hikatsuka.
“Jangan-jangan???” kata Yue Liangxu yang cukup terkejut juga.
“Pasti dia menyerang tangsi Liao kita….” teriak Ye Luxian yang terkejut. Wajahnya langsung membiru.
Tetapi Hikatsuka tiada berpandangan begitu, sesaat. Dia mengeluarkan jarinya untuk menghitung-hitung. Tiada berapa lama, dia tertawa sangat jenaka. Tentu sikapnya sangat mengherankan siapa pun yang berada di sana. Teman-temannya lantas heran saja.
Sebenarnya Zhao kuangyin sedang berbohong untuk menipu, setidaknya hal tersebut bisa membuat goncang hati para lawannya yang sedang berada di atas. Dan jika benar saja Jieji sampai di tangsi tentara Liao, tentu mereka berlima mau tidak mau harus “pulang” dan tiada berani bertarung lagi meski hanya karena 1 kalimat yang keluar dari mulut Zhao kuangyin. Akan tetapi, di antara mereka semua. Masih terdapat seorang Hikatsuka Oda yang sangat jago menghitung dan sungguh orang yang termasuk sangat pintar adanya.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Yue Liangxu setelah tertawanya Hikatsuka Oda mereda.
“Dia ingin menipu kita…” Tunjuk Hikatsuka ke arah Zhao kuangyin.
“Jieji 15 hari yang lalu masih berada di Luo Yang. Dan sehebat apapun anakku itu, dia tidak akan sanggup sampai ke tangsi kita dalam waktu yang hanya 15 hari. Meski dia memiliki 1 bulan pun, mungkin belum akan sempat sampai ke Heilong Jiang. Oleh karena itu aku tertawa….” jawab Hikatsuka dengan keyakinan tinggi.
Mendengar penjelasan Hikatsuka, semua pendekar disana lantas bertepuk tangan kagum.
Zhao yang dibawah telah tahu bahwa rahasianya terbongkar. Mau tidak mau dia harus berhadapan dengan mereka secara langsung.
“Sekarang ada daya upaya apa lagi yang meski kamu lakukan?” tanya Hikatsuka ke arah Zhao kuangyin.
Zhao hanya diam saja, dia menatap ke atas dengan tajam ke arah mereka.
Sedang Dewa Ajaib yang berada di belakang sebenarnya telah tidak sabar lagi. Segera saja dia unjuk gigi. Dengan kecepatan yang luar biasa tinggi, dia mendaki tembok kota Bei ping.
Dewa ajaib bukanlah pendekar kacangan, kecepatannya sebenarnya tidak kalah dibanding dengan 5 orang pendekar di atas.
Namun kelihatannya para pendekar di sana sama sekali tidak ambil pusing. Mereka benar menunggu Dewa Ajaib untuk sampai disana. Tetapi…
Sebelum Dewa ajaib menginjak tembok kota, Zhu Xiang telah datang secepat kilat ke tempat yang seharusnya dewa ajaib akan sampai sambil merapal tapaknya untuk diarahkan ke bawah. Melihat hal tersebut, Wei Jindu kontan terkejut. Dia mengenal jurus yang akan dikeluarkan Zhu Xiang, kakak seperguruannya itu. Inilah jurus ke 6 dari Tapak Buddha Rulai yang hebat tersebut.
“Awas Dewa Ajaib!!!!” teriak Wei.
Dengan adanya suara dari Wei, Sun Shulie segera melepaskan pedang besar yang dipikulnya. Lalu dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia menyusul ke arah Dewa Ajaib.
Dan memang benar, tapak Zhu Xiang segera menuju ke arah dada dari Dewa Ajaib. Sebuah hawa tapak yang luar biasa keras telah mendekati ke arah dada dari Dewa Ajaib.
Dewa Ajaib sendiri tidak pernah tahu bahwa di dunia masih ada jurus yang demikian hebat untuk melakukan penyerangan dari atas kebawah. Sepertinya dia telah kelihatan pasrah saja di samping terkejut, tetapi dia tetap mengarahkan tapak untuk melawan jurusnya Zhu Xiang. Posisi Dewa Ajaib sungguh sangat riskan. Jika dia terpental akibat laga tenaga dalamnya melalui tapak dengan Zhu Xiang, maka dia pasti tewas karena terjatuh dengan kondisi kepala menghantam tanah mengingat jarak posisinya dengan tanah masih sangatlah tinggi.
Semua hadirin disana tentu sangat terkejut melihat hal tersebut. Bahkan ada beberapa yang menutup mukanya karena sangat terkejut untuk menyaksikan seorang tua bakal jatuh dengan otak berhamburan di tanah.
Sesaat, terdengarlah suara tapak berlaga yang sangat dahsyat. Dan memang benar, posisi Dewa ajaib tentu akan terjatuh dengan kepala menghadap ke bawah. Tenaga dalam yang beradu tadinya membuat Zhu Xiang terpental 4 langkah kebelakang. Tetapi, Dewa Ajaib malah semakin melesat menuju ke tanah.
Hanya 10 kaki sebelum Dewa Ajaib jatuh ke tanah, dia merasakan adanya tenaga dalam yang berputar hebat di pundaknya. Dewa Ajaib sempat berputar tiga kali kemudian dia dilemparkan seseorang dan mendarat ke tanah dengan baik sekali. Dewa ajaib mengalami luka dalam yang cukup serius, terlihat dia memuntahkan darah yang tidak sedikit. Tetapi memang dasar orang tua konyol, dia terlihat tersenyum geli ke arah penolongnya.
Semua hadirin yang melihat tindakan pemuda berusia 30 tahunan menjadi sangat kagum. Bagaimana dia mampu menahan berat seorang yang jatuh dari ketinggian 40 kaki dengan sangat tenang.
Tetapi, kelima pendekar beserta Wu Shanniang dan ibunya Jieji sangat terkejut. Mereka tidak menyangka adanya pendekar hebat lagi di kubu lawan.
“Sungguh mata tiada terbuka… Ha Ha…..” terdengar tawa Hikatsuka Oda.
“Siapa kau?” tanya Yue Liangxu dengan tajam ke bawah ke arah Sun Shulie.
“Dia adalah Sun Shulie alias Ming Ta. Putera terakhir dari keluarga Ming.” jawab Xia Rujian.
Xia Rujian memang mengenal tampang pemuda tersebut. Selain itu, sebenarnya Liao juga mempunyai mata-mata yang cukup banyak di daerah daratan tengah. Maka tiada heran, Xia Rujian telah mengenal pemuda berusia 30 tahunan tersebut.
“Kalau begitu, denganmu kita juga punya dendam meski kau sendiri tiada pernah tahu…” kata Ye luxian sambil menunjuk ke arahnya.
Sun hanya menatap tajam ke atas tanpa berkata-kata, di matanya tersirat banyak arti yang mendalam sambil melihat ke arah Yelu Xian.
“Lalu bagaimana pertarungan ini? Apa kalian hanya mengirim surat tantangan kepada kita dengan cara sia-sia belaka seperti ini?” tanya Zhao kuangyin kemudian memecahkan keheningan sementara di lapangan tembok kota itu.
“Bagus… Kelihatannya kalian telah tiada sabar… Sebenarnya hari ini berniat memancing kepiting, tetapi yang dapat hanya ikan kecil saja…” kata Xia Rujian dengan sangat angkuh.
“Kalian berlima pilihlah… Kita bertarung dalam 1000 jurus. Jika ada yang sanggup menang 3 babak duluan, maka sandera ini menjadi milik kalian…” kata Xia Rujian seraya mengarah kan telunjuk ke arah Yunying.
“Hm……” Zhao dan kawan-kawan sepertinya tiada berkata banyak. Sepertinya bagi mereka semua, tiada masalah.
Sun Shulie sudah tahu apa maksud kelima pendekar tersebut mengajukan tantangan silat yang kelihatannya menguntungkan mereka. Tetapi dia merasa adanya hal yang cukup janggal juga. Sambil tersenyum pahit dia memandang ke atas tanpa berkata apapun.
“Kamu tidak menanyainya kalau kalah bagaimana?” tanya Dewa Ajaib yang agak heran.
“Tidak perlu ditanya, kalau kalah tentu semua kita akan jadi abu…” jawab Sun Shulie dengan tenang tanpa berekspresi.
Pei Nanyang dan Yuan Jielung tentu mengiyakan saja.
“Jieji tidak datang, aku rasa kalian tiada punya peluang untuk menang…” kata Yelu Xian.
“Meski dia datang dan disini pun, tidak akan mengubah semuanya… Bukan begitu? Adik seperguruan?” kata Yue Liangxu kemudian dengan sinis sambil memandang ke arah Yunying.
Sementara itu, Yunying hanya memalingkan wajahnya untuk tidak melihat ke arahnya.
“Karena kalian adalah tamu, maka kalian boleh memilih siapa yang akan menjadi lawan kalian? Bagaimana?” teriak Ye Luxian ke arah bawah.
“Bagus…” jawab Zhao kuangyin.
Entah apa yang menjadi penyebab kelima orang tersebut sangat yakin mampu menang akan pendekar Sung. Tetapi mungkin saja disebabkan karena mereka sangat yakin akan kemampuan mereka sendiri ataukah ada sesuatu hal yang lainnya?
Zhao kuangyin dan kawan-kawan segera berunding. Tidak perlu waktu yang lama mereka telah bersepakat.
“Adik ipar harus ditolong mau tidak mau. Sekarang adik kedua belum sampai juga. Kita harus membuat keputusan sendiri…” kata Zhao kuangyin.
“Baik… Aku akan melayani Zhu Xiang..” jawab Wei Jindu.
“Kalau begitu berikanlah lawanku Hikatsuka..” kata Pei Nanyang.
“Sekarang tinggal Xia Rujian, Yelu Xian dan Yue liangxu. Aku rasa lebih bagus aku bergebrak dengan Yue Liangxu..” Kata Zhao kuangyin.
“Kalau begitu Xia Rujian akan bertarung denganku.” kata Yuan Jielung kemudian.
“Dengan begitu lawanku tentu adalah Yelu Xian.” kata Sun Shulie kemudian.
Zhao kemudian berteriak ke atas dengan menentukan siapa yang bertarung dengan siapa saja.
“Mereka membuat kita seperti boneka saja… Kita sepertinya harus menuruti permintaan mereka, terutama dalam penentuan babak.” tutur Sun Shulie sambil tersenyum melihat ke atas.
Zhao, dan Pei Nanyang setuju dengan apa yang diucapkan oleh Sun Shulie.
Dan memang benar apa perkiraan Sun Shulie, mereka mengajukan babak pertarungan. Semua babak pertarungan sungguh merugikan pihak Zhao kuangyin. Karena babak pertama pertarungan dimulai antara Wei Jindu dan Zhu Xiang. Sedangkan babak kedua dilanjutkan dengan Sun Shulie melawan Yelu Xian, dan babak ketiga Zhao kuangyin dengan Yue Liangxu. Babak keempat dilanjutkan Pei Nanyang melawan Hikatsuka Oda, serta babak kelima Yuan Jielung melawan Xia Rujian.
Disini telah terlihat hal yang sungguh merugikan pihak Zhao kuangyin. Wei Jindu boleh dikatakan sebagai pendekar yang terlemah di antara semuanya. Tetapi dia mendapat lawan tangguh di babak I. Sedang babak kedua, lawan tiada mengetahui seberapa hebat Sun Shulie, maka menurut pandangan mereka bahwa 1 orang Yelu Xian telah sanggup mengatasi Sun Shulie. Dan babak ketiga adalah babak yang paling merugikan Zhao kuangyin dan kawan-kawannya. Semua tahu bahwa Yue Liangxu-lah pendekar tertangguh, tetapi dia-lah yang kemudian akan menjadi penentuan kemenangan mereka.
Pei Nanyang dan Yuan Jielung adalah 2 orang pendekar yang dianggap paling hebat di antara mereka semua. Tetapi mereka tentunya sengaja untuk mengatur pertandingan mereka berdua adalah yang ke 4 dan ke 5. Jika babak 1,2 dan 3 telah di menangkan, maka tiada gunanya untuk bertarung lebih lanjut lagi pikir mereka. Yuan terlebih lagi, sebab mereka pernah mengeroyoknya berlima namun hasilnya Yuan masih tetap tangguh dengan jurus 18 tapak naga mendekamnya.
Semua pesilat yang hadir tentunya merasa sangat beruntung sekali sebab mereka bisa menyaksikan kehebatan pertarungan antar pendekar no 1 sejagad itu.
***
Dimanakah Xia Jieji berada sebenarnya saat pendekar Liao mulai menantang pendekar dari Cung Tu(dataran China). Setelah perjalanannya ke Hefei, dia sangat yakin bahwa Wu Quan dan sekeluarganya masih hidup dengan sangat baik di suatu tempat.
15 hari sebelum terjadinya pertandingan silat di bawah Kota Beiping…
Bertemunya dia dengan pendekar dari Persia membuatnya yakin bahwa Wu sekeluarga sekarang ada di kuil Shaolin.
Melalui perantara biksu tinggi Wu Huan dari kuil Shaolin, Jieji berangkat dari Luo Yang menuju ke Sung San(Mt. Sung/ Gunung Sung) ke biara ternama Shaolin tersebut. Biksu Wu Huan yang semenjak dahulu cukup kagum akan sikap kepahlawanan Jieji, dari perjalanan kota Luo Yang, mereka banyak berbicara banyak mengenai ilmu kungfu. Sampai banyak hal juga dibicarakan. Mendekati bawah kaki gunung Sung, sepertinya Jieji memperlambat laju kudanya. Wu Huan yang melihat ke arah Jieji, segera menanyainya.
“Pendekar Xia sepertinya sangat mencemaskan keluarga Wu?” tanya Wu Huan yang melihat kondisi Jieji yang sepertinya sering mengerutkan dahinya sepanjang perjalanan itu.
“Betul… Dengan masih hidupnya keluarga Wu, maka kebenaran akan jelas semuanya. Tetapi adalah hal lain lagi yang membuatku masih cemas benar …” tutur Jieji dengan perasaan yang masih bercampur aduk.
“Maksud pendekar adalah bahwa Wu Shanniang yang menjadi ibu daripada istri anda? Anda takut bahwa masalah baru akan datang lagi?” tanya Wu Huan kembali.
“Betul…
Itulah masalah yang utamanya. Tetapi jika Yunying sendiri melihat bahwa ayahnya masih hidup dengan baik, entah bagaimana jadinya? Dan satu hal lagi yang betul mengganggu pikiranku selama ini..” tutur Jieji dengan terus terang.
“Biksu dilarang untuk berpikiran kotor. Maka daripada itu, ada beberapa pendapat saja yang perlu kusampaikan kepada anda. Yunying mungkin hanyalah sandera yang paling berguna nantinya kelak…” tutur Wu Huan kembali.
“Betul perkataan Maha biksu.. Tidak peduli bagaimana jadinya, aku tidak akan menyerah untuk mengungkapkan kebohongan tersebut. Aku sudah punya daya upaya tersendiri, hanya saja…….” jelas Jieji sambil mengerutkan dahinya kembali.
“Lakukanlah apa yang paling penting menurut anda. Buddha selalu berada di dalam hati orang yang bekerja sesuai dengan kebenaran. Entah apapun keputusannya, pasti adalah yang terbaik adanya.” jawab Wu Huan kembali.
Jieji tersenyum melihat ke arah Wu Huan. Tidak berapa lama, Jieji mengungkit apa yang dilihatnya ketika di panggung batu utara Mongolia, Hutan misteri.
Sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung baju, Jieji memperlihatkan sebuah buku. Dia memberikannya kepada biksu Wu Huan yang berada di atas kuda.
Wu mengambilnya dengan cermat, dia melihat ke arah buku yang sampul sebelah kirinya tertulis kitab Ilmu Jing Gang. Wu yang melihat sampulnya saja langsung terkejut luar biasa. Keringat dingin di dahinya segera membasahi seluruh mukanya.
“Kenapa kitab ini? Kenapa??” tanya Wu Huan sambil megap-megap.
Wu tahu betul bahwa ilmu tertinggi Shaolin adalah Ilmu Jing Gang. Dia yang melihat buku dengan sampul judul Ilmu Jing Gang tentu membuat sangat terkejut.
“Tidak mengapa Biksu…
Buku ini kutulis dengan sendirinya, kemudian akan kuserahkan ke Shaolin. Sungguh suatu kebetulan yang bagus aku bertemu denganmu…” tutur Jieji sambil tersenyum.
Wu Huan sungguh bingung sambil melihat ke arah Jieji. Dia ingin berkata, tetapi dari mulutnya sepertinya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
“Buku ini kusalin karena melihat fenomena panggung batu di hutan misteri. Kabarnya Shaolin hanya mempunyai 7 tingkatan ilmu tersebut, namun di panggung batu terpampang 9 tingkatan tenaga dalam Jing Gang-nya Shaolin. Bagaimanapun ini kungfu berasal dari Shaolin, maka menurutku adalah pantas jika di kembalikan saja…” tutur Jieji kembali dengan tersenyum.
Wu Huan yang mendengar penjelasan Jieji, segera merapatkan kedua tangannya beranjali memberi hormat ke arah Jieji.
“Sungguh anda adalah orang yang bijak sekali. Semoga buddha memberkati anda.” tutur Wu Huan yang kelihatannya sungguh sangat girang sekali.
Jieji berkong-ciu (merapatkan kedua tangan dengan menggenggam) untuk memberi hormat ke arah Wu Huan kembali.
Mereka terus melakukan perjalanan. Sampai sekitar 1 jam kemudian, mereka telah mendekati biara Shaolin yang ternama tersebut.
Tetapi, sebelum benar sampai. Jieji telah merasakan sesuatu yang cukup mengherankan. Dia segera berhenti di tengah jalan. Sambil menatap tajam ke atas.
Wu Huan yang melihat tingkah Jieji, segera mengatur kudanya untuk mendekati Jieji kembali.
“Ada apa pendekar muda? Apa sesuatu telah terjadi?” tanya Wu yang cukup heran melihat tingkah Jieji.
“Di atas sepertinya sedang berkobar perang…” tutur Jieji sambil menutup matanya untuk berkonsentrasi.
Tidak berapa lama, Jieji membuka matanya.
“Kuil Shaolin sepertinya sedang di serang…” kata Jieji sambil menunjuk ke atas.
Wu Huan sangat bingung mendengar apa yang dikatakan Jieji. Kuil Shaolin memang nampak, tetapi dia sendiri tahu masih sangat jauh sekali kuil itu. Mata biasa memang sanggup memandang ke arah kuil. Tetapi besarnya kuil yang nan jauh itu masih tidak sebesar sebutir beras jika dibandingkan. Mungkin hampir mencapai 2 li.
“Kita harus cepat!” tutur Jieji dengan segera menggerakan tali kudanya untuk mendaki gunung Sung.
Wu Huan yang tiada mengerti apa-apa segera menyusul Jieji dengan cepat juga.
Tidak sampai 1/2 jam, Jieji telah berada di depan pintu gerbang kuil Shaolin bersama Wu Huan.
Wu adalah orang yang paling terkejut, dia melihat pintu gerbang Shaolin telah hancur di dobrak. Dari agak jauh dia melihat ke dalam, sekitar 20 orang para biarawan sepertinya telah tergeletak bersimbah darah.
Jieji segera turun dari kudanya dan melaju pesat ke depan diikuti oleh Biksu tua Wu Huan ini. Hanya sekejap, mereka telah berada di lapangan yang cukup luas. Sekitar 20 orang segera dilihat sebentar oleh mereka berdua.
“Ini ilmu tombak persia itu?” tutur Wu Huan sambil mengerutkan dahinya setelah melihat mayat para biarawan tersebut mempunyai luka yang sama di leher tenggorokan masing-masing.
“Mereka telah tewas…” tutur Jieji sambil memandang tajam ke dalam. Tetapi dia sendiri tidak ayal, maka segera pendekar ini bergegas masuk ke dalam. Dari arah lapangan, mungkin masih sekitar 2 li lagi baru sampai ke balai utama. Dari balai utama terdengar suara pertarungan, sehingga mereka langsung saja menuju ke sana.
Di dalam balai utama yang luas tersebut, telah berjatuhan cukup banyak korban. Banyak biarawan yang tidak berdosa tersebut telah hampir memenuhi seluruh ruangan. Sementara itu sepertinya tiang penglari dari kuil pun telah terbacok, tertusuk banyak senjata tajam. Ruangan yang bersih tersebut telah menjadi sungai darah yang telah mengering.
Di sini tampak 2 orang perempuan sedang memegang golok. Seorang biksu tua sedang merapatkan kedua tangannya dengan cukup bersiaga. Sementara di belakang mereka, tertampak seorang yang tua dengan rambut yang hampir memutih sedang tiada berdaya sambil memegang dadanya sendiri.
Sedang dari arah depan, terlihat 8 orang yang bersenjatakan tombak panjang. 8 orang pemuda tersebut sepertinya sedang menatap tajam ke dalam.
Tiada lama, 8 pemuda segera menyerang serempak ke arah Biksu yang di tengah tersebut. Biksu yang melihatnya, segera beranjak maju dengan tapak yang sudah di siagakannya. Sedang kedua wanita muda juga segera melakukan perlawanan.
Kedua wanita muda sepertinya menggunakan ilmu golok keluarga Wu, dengan cukup tangkas mereka menahan ilmu tombak yang hanya mengincar leher mereka berdua. Hanya dalam beberapa puluh jurus, sepertinya kedua wanita tersebut telah kecapaian. Sebab bagaimanapun mereka bertarung, golok sangat susah melawan senjata tombak yang panjang itu. Golok adalah senjata yang panjangnya sungguh tiada memadai untuk melawan tombak.
Selain itu, sepertinya tombak orang tidak dikenal ini jauh lebih cepat pergerakannya daripada orang yang mengejar Wu Huan sampai ke Luo Yang beberapa hari yang lalu. Si Biksu tua sepertinya juga mengalami hal yang sama. Dia hanya terlihat menghindar dan sesekali dia menepis tombak yang sangat cepat gerakannya itu. Kedua gadis sementara terlihat sudah sangat lelah sekali. Mereka berdua sepertinya telah menyerahi nasib kepada langit saja.
Tetapi…
Pada saat yang benar genting, pendekar tak dikenal sekalian sepertinya membalikkan badan ke arah pintu besar balai utama tersebut. Hanya berselang sesaat, mereka memutar tombak dengan sangat cepat sekali ke depan. Secara serempak, kedelapan orang tersebut sepertinya ingin menepis sesuatu hawa yang datang sangat cepat dan keras itu. Namun sebelum tombak hampir di arahkan ke “benda” yang datang itu. Kesemuanya seakan berbalik arah ke samping. Tanpa tahu di antara 6 orang telah tertampar mulut masing-masingnya. Dan dengan cepat pula mereka berenam terpental menabrak tiang penglari kuil tersebut, lantas jatuh dan bergulingan ke lantai.
Sementara itu, dua orang lainnya berhasil mematahkan serangan aneh yang hampir tiada berwujud ini. Hanya terdengar suara.
“Krakkk!!”
Suara yang lumayan keras. Kedua orang yang beruntung ini adalah kedua yang berada paling jauh dari enam orang sebelumnya. Mereka terkaget sebentar ketika melihat benda yang telah menjatuhkan keenam teman mereka sekaligus. Hanya bambu yang sudah terkoyak tersebutlah yang mengarah ke arah mereka sesungguhnya. Keduanya langsung berkeringat dingin mendapatinya. Mereka sempat memandang sesamanya dan sempat memandang sekeliling.
Dilihat ke arah bawah pijakan lantai di depan mereka. Benda yang merupakan bambu yang terkoyak itulah yang seakan membentuk sebuah tulisan aksara China. Lalu dengan mengamati dengan cermat, maka ke enam bambu yang telah terkoyak tersebut tertulis tulisan “ENYAH” (Kuen).
Keenam orang yang terluka dalam itu telah berangsur berdiri. Mereka juga terheran menatap ke arah pintu yang hanya terlihat cahaya yang agak terang. Tetapi tidak sanggup melihat siapapun sedang berada di sana.
“Siapa kau? Keluar tampakkan dirimu…” Demikianlah para pendekar tersebut berteriak.
Tetapi tidak berapa lama, mereka telah merasakan hawa kehadiran seseorang yang sedang berjalan dengan cukup pelan memasuki ruangan balai utama itu. Seorang yang lumayan tinggi besar sedang berjalan dengan sangat berwibawa ke dalam.
Kontan 8 orang yang melihatnya cukup terkejut. Mereka melihat seorang yang lumayan tua dengan rambut putih yang berurai, di tangan kirinya tergenggam kipas pendek. Sementara itu tangan kanan orang yang datang tersebut hanya membelakangi dirinya sendiri.
“Siapa kau?” teriak salah satu dari ke 8 pendekar tersebut.
Namun orang yang datang tersebut tiada menghiraukannya. Dia berjalan dengan pelan ke depan untuk melihat keadaan. Sementara itu, mereka semua juga melihat ke arah orang yang datang bersama pendekar aneh tersebut. Seorang biksu tua yang mempunyai wajah yang penuh welas asih.
Biksu di ruangan tengah yang telah melihat Biksu tersebut segera mengambil jalan melingkar untuk mendekati biksu tua tersebut.
“Paman guru Wu Huan…
Maafkan diriku yang tiada mampu ini….” katanya sambil menangis di depan biksu Wu huan tersebut.
Wu Quan dan kedua puterinya yang melihat ke arah Jieji cukup heran juga. Mereka sepertinya mengenalinya sebagai Jieji. Tetapi kenapa dia bisa berubah begitu dahsyat. Rambut pemuda yang hanya berusia 30 tahunan ini telah hampir memutih semua. Bahkan warna hitam sebelumnya telah berubah menjadi agak keabuan.
“Nak Jieji???” kata Wu Quan yang sepertinya telah terluka dalam parah.
Jieji hanya memandang sekilas dan tiada lama ke arah ayah mertuanya.
“Ayah mertua… Cukup susah membiarkanmu sendirian disini. Ini adalah kesalahanku…” Kata Jieji sambil mengakui.
“Kau!!!” teriak salah seorang pendekar di antara 8 orang tersebut.
Jieji langsung melihat dalam ke arah orang yang berteriak tersebut. Di pandangnya pendekar tersebut cukup lama, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah yang lainnya.
Pakaian para pendekar sungguh aneh dan berbeda dengan kaum persilatan umumnya. Pakaian mereka tidak mirip dengan pakaian para jago yang telah mengeroyoknya sendirian di kota Luo Yang tersebut. Tetapi dari sini, Jieji mengambil kesimpulan bahwa ke delapannya adalah pendekar dari Persia karena perawakan orang Persia jelas jauh beda. Orang Persia lebih tinggi bentuk tubuhnya dan kulit mereka pun rada putih dengan hidung yang agak mancung. Sesaat, dia teringat akan murid perempuannya, Huang Xieling.
“Ada apa kalian semua datang kemari?” tanya Jieji sambil menatap dalam ke arah mereka satu persatu.
“Mereka ingin kita mengeluarkan kitab Jing-gang dan kitab 72 teknik tenaga dalam Shaolin.” jawab biksu yang lumayan tua yang telah berada di depan biksu Wu Huan tersebut.
Kitab Jing-gang pernah “hilang” dua ratus tahun yang lalu. Lalu tetua Shaolin yang bernama Hui Guan sempat membawanya pulang kembali ke Shaolin, namun Kitab Jinggang-nya Shaolin dari Hui Guan hanya 7 tingkat. Sungguh beruntung Jieji mendapati seluruh ilmu dari kitab tersebut di hutan misteri, Mongolia.
Sedang ilmu 72 teknik tenaga dalam adalah pelatihan tenaga dalam dasar untuk melanjuti Ilmu tingkat tinggi Shaolin. Sebenarnya kedua Ilmu sakti tersebut harus dibarengi latihannya. Beruntung sekali Jieji sanggup cukup mudah menguasai Ilmu Jing-gang secara lengkap karena di dalam tubuhnya telah terdapat tenaga dalam hawa murni yang luar biasa dahsyatnya.
“Ini pertanda tidak baik… Kita tunggu sampai pendekar balai timur sampai, sementara itu kita bisa undur waktu…” tutur pendekar yang ditengah tersebut kepada kawannya sambil berbisik setelah melihat keadaan.
“Pendekar balai timur? Katakan kenapa banyak sekali orang persia mengacau disini?” jawab Jieji yang jelas mendengar bisikan sekelompok pendekar itu.
Ke 8 kontan terkejut, mereka memandang sambil melotot ke arah Jieji yang hanya sendirian itu.
“Hm…
Apa kata-kata kita telah diketahuinya. Jadi tunggu apa lagi?” kata seorang lainnya sambil bersiaga dengan tombak di tangannya.
Sementara ke enam orang lainnya langsung “mencari” tombak masing-masing yang tadinya terpental mengikuti tuannya yang di”tampar” bambu kecil yang lentur itu untuk bersiaga kembali.
Ke-delapan orang tersebut sepertinya telah siaga dengan benar dan terlihat sangat serius sekali menatap ke arah tengah dimana Jieji berada dengan tenang. Maka mau tidak mau bagi mereka, ini adalah pertarungan hidup mati karena mengetahui musuh di depan mereka bukanlah orang sembarangan.
Lalu,
tanpa banyak berkata lagi. Mereka berkeliling dengan kecepatan tinggi, sepertinya sedang membentuk formasi. Lalu dengan cepat ke-4 orang langsung menyerang ke arah tengah dengan tombak yang di tusukkan sangat keras dan cepat. Tentu incaran mereka tiada lain adalah tenggorokan lawannya. Kecepatan tombak kali ini jauh lebih cepat daripada ketika pertarungan barusan tersebut. Namun Jieji hanya diam-diam saja sambil menunggu saat yang tepat.
Wu Quan dan kedua puterinya Wu Linying dan Wu Jiaying kontan berteriak karena terkejut.
“Awas!!!!”
Tetapi Jieji hanya diam saja tanpa menunjukkan reaksi apapun. Maka, saat tombak hanya sekira seinci di depan tenggorokannya. Mendadak keempat orang tersebut kehilangan sesuatu. Keempat orang tersebut kontan keheranan. Di dalam ruangan, tiada orang yang mampu melihat apa yang sedang di lakukan Jieji. Bahkan Wu Huan dan Wu Quan hanya melihat Jieji mengibaskan lengan kirinya sebentar. Lalu timbul suara yang cukup berisik menghantam ke tanah.
“Trangggg….” beberapa kali.
Tiada berapa lama, pendekar-pendekar merasa tangan kesemuanya kesemutan sangat. Dan ketika mereka melihat ke depan, mereka sudah tahu bahwa 4 tombak itu telah berada di lantai.
“Setan….” kata-kata yang terdengar keluar dari bibir masing-masing. Ke empatnya langsung megap-megap dengan mulut yang tenganga terbuka lebar dan mata yang menyiratkan bahwa adanya “ketidakpercayaan” melihat apa yang sedang terjadi di depan mereka.
Namun sebelum mereka benar sadar. Sesaat saja, keempatnya langsung terpental dengan luka dalam di dada mereka. Keempat orang yang berada di depan tersebut yang mengelilingi Jieji segera terpelanting dan tiada lagi tenaga untuk benar bangkit. Tetapi Jieji tidak benar ingin melakukan pembunuhan. Maka meski keempatnya sepertinya sudah “tewas” namun sebenarnya keempatnya telah pingsan tak sadarkan diri.
Sedang keempat kawan mereka yang di belakang ingin mengambil kesempatan. Jika mereka melihat Jieji beranjak menghindar, maka keempat orang di belakang akan maju menyerang seraya mengepung. Namun, sebelum mereka semua benar bergerak. Maka kawan-kawan mereka telah jatuh tidak sadarkan diri. Mereka hanya sanggup menganga membuka mulut tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.
Sebenarnya apa hal yang sedang di lakukan Jieji?
Inilah kedahsyatan ilmu pedang tangan kiri Jieji yang baru dilatihnya tiada lama tersebut. Ketika Wu Quan dan Wu Huan melihat dia mengibaskan lengannya. Maka Kipas itu telah bergerak 1 lingkaran penuh dengan kecepatan yang sangat luar biasa yang tidak mampu dipandang mata orang awam maupun pesilat kelas tinggi sekalipun.
Kipas “menampar” tangan keempat penyerangnya. Kemudian dengan gerakan yang tiada terlihat, kipas juga “menampar” dada keempat orang yang mengelilinginya itu. Jadi perputaran tenaga Ilmu pedang tangan kiri ini hanya 2 kali dikerahkan saja.
“Enyah-lah… Tetapi setiap orang harus meninggalkan lengan kanannya disini…” tutur Jieji dengan sangat dingin dan berwibawa.
Tentu keempat orang lainnya sungguh sangat terkejut. Jika saja Jieji menginginkan “lengan kanan” mereka semua. Maka apa bedanya mereka dengan orang cacat? Mengingat ilmu tombak adalah ilmu yang mengandalkan 2 buah tangan untuk bergerak secara flexibel dan dinamis itu.
“Amitabha… San Cai.. San Cai…” tutur Biksu Wu Huan ke arah tengah seraya menengahi.
“Pendekar disini meski jahat, tetapi apa bedanya kita para kaum biarawan dengan mereka jika…”
Namun, sebelum biksu Wu Huan benar ingin melanjutkan kembali.
Jieji telah merasakan sesuatu hawa yang sangat kuat sedang mendatangi arah tengah biara.
Lalu Jieji memberi kode ke arah Wu Huan yang juga sama merasakan datangnya pesilat hebat ke arah mereka tersebut.
Sesaat, angin disana telah terasa tidak ramah lagi. Perputaran angin di dalam seakan telah “terhisap” oleh sesuatu hawa ke depan pintu balai utama ruangan Kuil Shaolin tersebut.
Siapapun tahu bahwa di luar ada seorang yang hebat mendatangi dengan gerakan tenaga dalam nan tinggi.
“Ha Ha….
Pendekar balai timur telah sampai…” kata keempat orang tersebut dengan kegirangan sangat. Sebenarnya kemampuan ke delapan pesilat sudah bukan kemampuan pendekar biasa. Kemampuan ilmu senjata mereka tiada satupun kalah dengan kemampuan ketua partai Hua Shan, Yang Xiu dalam memainkan senjata. Bedanya Yang Xiu ahli pedang, namun mereka berlapan adalah ahli tombak.
Pendekar balai timur diyakini mereka berdelapan adalah pendekar yang sungguh hebat yang ikut dalam gerakan menyerbu Shaolin. Entah partai apa dalam pertarungan untuk memperebutkan kitab ternama perguruan Shaolin. Tetapi para pendekar yang datang dari Persia tersebut tentu tiada bermaksud baik adanya.
Sementara itu, Jieji hanya diam dan melihat tajam ke depan ruangan balai utama itu sambil menyunggingkan senyuman yang sulit dilukiskan oleh kata-kata apapun.
Gerakan ringan tubuh orang tidak dikenal tersebut memang sungguh tinggi. Jieji tanpa melihat pun tahu bahwa orang yang bakal datang tersebut kemampuannya bakal tidak di bawah ukuran orang biasa. Mungkin kemampuan tenaga dalamnya sudah tidak di bawah kakak angkatnya, Zhao kuangyin. Atau bahkan lebih daripada itu.
Tiada lama, maka telah tiba juga seseorang di depan pintu itu. Siapapun tahu dari gerakan orang tersebut adalah ilmu meringankan tubuh yang lihai. Tetapi, siapapun tidak tahu bahwa orang yang datang tersebut ternyata adalah seorang wanita.
Yah… Wanita cantik…
Jieji sempat terkejut melihat tampang pendekar yang datang tersebut. Wanita yang datang tiada lain mungkin hanya seorang nona saja, umurnya mungkin hanya belasan atau paling tua 20-an saja.
Wajahnya putih bersih dan sungguh mulus sekali. Perawakannya cukup tinggi. Dan jika dibandingkan dengan Yunying, maka wanita muda tersebut termasuk jauh lebih tinggi daripadanya. Pakaian wanita tersebut terbuka di daerah pusarnya, dan inilah pakaian wanita khusus Persia. Selain itu, pakaian wanita tersebut juga menonjolkan lekuk tubuhnya yang cukup aduhai.
Wanita “hebat” tersebut hanya berjalan perlahan ke depan. Dia menyapu seluruh isi ruangan disana. Perlahan tapi pasti, dilihatnya 2 orang biksu tua yang saling berdekatan. Dan 4 orang murid dari partainya sendiri juga seperti linglung mendapatinya telah sampai. Sesaat dia memalingkan matanya ke arah kanan, dilihatnya 2 wanita muda beserta seorang tua yang telah kepayahan. Sedangkan 4 orang temannya sendiri telah terkapar tidak berdaya. Kemudian sinar matanya tidak berhenti di sana saja, lantas bergerak ke arah seorang pemuda yang kelihatannya cukup tua baginya. Seorang pemuda yang hanya berdiri santai dengan wajah yang sungguh terang serta bibir yang tersungging manis melihatnya.
“Kau…?
Kau yang melakukannya?” tanyanya dengan nada yang terkesan marah. Wajah si nona yang cantik itu seketika berubah menjadi merah padam. Sepertinya dia sungguh marah mendapati keempat “temannya” terkapar di lantai tiada berdaya.
Dengan mengangguk pelan dan tanpa menghilangkan senyuman di bibirnya, pemuda ini mengangguk pelan.
Sementara itu, keempat pendekar yang masih melongo itu langsung menuju ke arah wanita cantik tersebut dengan megap-megap dan terbata-bata. Sambil berlutut seperti minta ampun. Mereka menyembah nona yang cantik tersebut terlebih dahulu.
“Dia….
Dia yang mengacau disini….” tutur seorang di antaranya.
Bersamaan dengan perkataan pendekar yang berlutut di bawah kakinya, langsung segera nona tersebut mengarahkan sinar matanya yang tajam ke arah Jieji. Nona ini menatapnya dengan cukup dingin dan kelihatannya serius sekali.
Tidak lama, di depan pintu telah kedatangan beberapa wanita yang menutup mukanya dengan selembar kain. Pakaian mereka juga tiada jauh berbeda dengan nona cantik tersebut. Jieji melirik ke arah mereka. Yang terdepan dua orang sepertinya memegang siter yang bentuknya cukup aneh. Agak berbeda dengan alat musik Cung Tu(China daratan) yang biasanya ditidurkan. Selain itu siter dari Persia sepertinya memakai 3 tali senar saja.
Wu Huan yang sedari tadi hanya melihat, segera maju mendekati nona tersebut.
“Ada apa gerangan anda sekalian menginginkan kitab perguruan Shaolin?” tanyanya dengan sopan.
Tetapi nona cantik ini bukannya menjawab, langsung saja dia berniat menyerang dengan cepat ke arah biksu tua Wu Huan. Biksu tua Wu Huan yang sebenarnya cukup siaga, langsung saja memasang kuda-kuda untuk mundur atau bertahan. Hanya yang anehnya, nona cantik ini memasang tinju di tangan dan bukanlah tapak. Tetapi pergerakan nona cantik yang hanya sesaat saja, dilihat oleh Jieji yang sebenarnya telah siaga benar.
Wu tiada sanggup bertahan atas serbuan tinju nona cantik, ini disebabkan karena tinjunya memang sudah sekelas tinju panjangnya Zhao kuangyin yang sangat terkenal itu. Dan hanya beberapa saat tinju hampir mengenai ke dada Wu Huan, seseorang dirasakannya sangat cepat sedang mengarah ke dia.
Lalu tanpa membiarkan tinjunya mengenai Wu. Segera dia menarik diri dengan sungguh cepat pula ke arah belakang. Rupanya si nona cantik sempat mundur 3 langkah dari tempatnya semula. Saat dia mendarat dengan benar, dia telah melihat seorang pemuda sedang berdiri di samping biksu tua itu.
Dengan melotot dia memandang pemuda tersebut.
“Siapa kau sesungguhnya?” tanyanya yang cukup terkejut akan “kecepatan” langkah Jieji yang sungguh siaga benar.
“Orang-orang di China daratan ini memanggilku Xia Jieji.” tutur pemuda ini dengan tenang.
“Xia Jieji????” teriak 4 orang yang sedang berlutut tersebut ke arahnya.
“Hm…
Pantas saja pengawalku tidak sanggup melawanmu seorang…” tutur nona cantik ini sambil tersenyum.
Senyuman khas nona cantik ini sungguh menggoda hati. Jika saja disana ada pria muda, maka tidak mustahil terpikat kepadanya. Dan sepertinya dalam dirinya juga tercium bau harum yang cukup menggoda para lelaki. Dan untung saja pria disana selain Jieji dan Wu Quan, semuanya adalah biksu.
“Katakan siapa anda sesungguhnya? Dan apa maksud sebenarnya banyak pendekar persia datang ke Daratan China?” tutur Jieji kepadanya.
“Aku adalah putri partai Bunga senja dari Persia. Dan…
Untuk mengapa kita kemari, tanyakan saja pada dewa akherat saja nantinya.” tutur puteri ini dengan cukup sombong dan mata berbinar seakan ingin melahap orang di depannya.
Jieji yang melihat sinar matanya, hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil menghela nafas.
“Apa maksudmu menggelengkan kepala? Kau pikir kau adalah pendekar hebat di China daratan lantas kau merasa tiada yang sanggup menandingimu.” kata wanita itu dengan nada yang terkesan kesal.
“Aku sangat menyayangkan dirimu. Kau adalah wanita yang cantik, kenapa di sinar matamu yang ada hanya sinar mata pembunuh? Pulanglah ke Persia saja, maka kau kuberi kesempatan. Bagaimana?” tutur Jieji dengan nada perlahan.
Maksud Jieji adalah dia tidak ingin adanya jatuh korban. Apalagi di depannya adalah seorang wanita. Baginya wanita sama sekali tidak pantas untuk maju di muka dan berkelahi dengan pria secara mati-matian. Menurutnya nona persia ini masih berada di bawah tingkatannya.
Karena seorang wanita yang jago silat umumnya suka memamerkan kemampuannya, maka daripada itu Jieji mengambil kesimpulan meski wanita ini jago.
Tetapi dari hawa tadinya pertama kali datang, tentu itu adalah seluruh kemampuannya.
Berbeda dengan seorang pria yang sangat jago tingkatan silatnya, semakin jago maka semakin seorang pria tidak ingin menonjolkannya. Semakin jago maka semakin banyak merendahkan ilmu silatnya pada pertama kali.
Namun kata-kata Jieji bukannya membuatnya senang. Malah kata-katanya membangkitkan emosinya secara menjadi-jadi.
“Kau!!! Di Persia tidak ada orang yang berani menghinaku begitu rupa. Sudah 82 pendekar hebat kukalahkan. Tetapi kau itu siapa? Ha???” katanya membentak sampai membelalakkan matanya dengan nada yang tinggi.
Jelas wanita ini sudah marah luar biasa. Tetapi Jieji tidak menanggapinya lebih lanjut lagi, sepertinya hanya kekuatan ototlah yang sanggup meredam emosi wanita cantik tersebut.
“Tetapi dia adalah Xia Jieji…. Nona harus hati-hati benar, kalau terjadi sesuatu maka….” tutur seorang diantaranya. Tetapi sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, si nona telah terlanjur sangat marah. Maka dengan kaki yang menyepak ke belakang, si nona langsung saja mengarahkan telapak kakinya ke muka anak buahnya.
“Dukkk…”
Lantas suara cukup keras terdengar memenuhi ruangan balai utama yang telah senyap itu.
Pendekar yang berlutut tadinya jelas tertampak tersepak cukup jauh ke belakang dengan bergulingan beberapa kali.
Sepertinya emosi nona ini terasa tidak beres, mungkin juga si nona masih termasuk baru saja dewasa. Keinginannya tidak sanggup dihalangi seseorang siapapun.
Tetapi anak buahnya yang tersepak ke belakang itu hanya merintih saja. Si nona rupanya tiada berniat membunuhnya.
Namun karena benar mencemaskan puteri satu-satunya dari ketua partai mereka. Yang lain juga ikut memberi nasehat.
“Sebelum puteri meninggalkan Persia, guru berpesan untuk selalu bersabar. Hanya 4 orang yang dimana nona harus dilarang bertemu. Yang pertama adalah Xia Jieji ini, yang kedua Sun Shulie alias Ming Ta. Yue Liangxu dan Zhao kuangyin adalah orang ketiga dan keempat itu. Mohon puteri jaga diri…” tutur mereka sambung menyambung.
“Hm….” Nona cantik ini merem dengan nada yang sudah marah sekali. Namun karena ketiga orang lain itu, dia tidak melanjutkan lagi aksinya lebih lanjut. Tetapi dia kontan dan dengan cepat langsung menuju ke arah Jieji. Kali ini tetap di pasangnya tinju, tinju yang kecepatannya mungkin 2 kali lipat lebih cepat daripada ketika dia menyerang Wu Huan.
Jieji melihat dengan pasti bahwa tinju ini meski cepat, tetapi terdapat banyak kelemahan. Maka ketika tinju hampir mengenai mukanya. Dia segera menyeret kaki ke samping. Tinju itu lewat di mukanya yang hanya beberapa inchi saja.
Tetapi dengan cepat dan lihai, sepertinya puteri ini mengubah bentuk tinju menjadi tamparan. Sesaat dan sangat cepat, Jieji cukup terkejut. Namun, dia masih berdaya cepat juga. Dengan lembut dia menunduk.
Tamparan si puteri langsung hanya mengenai beberapa helai rambut Jieji yang terurai itu. Tetapi kemampuan puteri cantik ini tiada berhenti di sini. Maka dengan tangan yang lain dia rapalkan tapak. Sambil membelakangi, si nona ingin menyerang ke arah dada Jieji yang cukup terbuka. Dengan langkah Tao, cepat Jieji melangkah mengelilingi si nona cantik dan sampai di belakang punggungnya.
Si puteri memang bukan jago kacangan. Merasakan lawan sudah berada di belakang, puteri ini diam-diam tersenyum. Segera dia mengeluarkan ekor kaki untuk menyerang pas di dada pemuda ini kemudian.
Karuan Jieji terkejut.
Dia tidak menyangka bahwa ada jurus yang serba aneh seperti itu. Sepertinya jurus ini adalah tarian seorang wanita dari arah utara yang pernah di lihatnya. Jurus yang sebenarnya hanya sederhana seperti ini tiada keistimewaan apapun. Tetapi, jika “ditarikan” seorang yang jago kungfu dan wanita yang cantik, maka sudah lengkap jurus tersebut.
Sebenarnya Jieji tidak berniat untuk “berlaga” dengannya. Namun apa daya, jika tersepak maka cukup membuatnya luka dalam juga mengingat tendangan si nona sepertinya tidak memberi ampun layaknya yang di kerahkannya pertama kali pada anak buahnya.
Maka tidak ayal, dengan menarik nafas panjang. Jieji mengumpulkan hawa dari bawah perutnya dengan sangat cepat sekali. Inilah jurus pertama tapak berantai-nya. Setelah membentuk 1 lingkaran penuh pada tangan kanannya. Maka tangan kiri segera di arahkan ke tapak kaki si puteri.
“Blam!!!”
Suara berlaganya dua buah tenaga dalam segera terasa. Angin yang cukup menusuk segera mengarah secara melingkar.
Puteri yang tidak pernah tahu bahwa lawan bakal menyerang dengan gerakan yang teramat cepat tersebut tentu terkejut. Maka tidak ayal lagi, dia terlempar ke depan cukup cepat dan sempat menabrak ke arah tiang penglari kuil tersebut.
Wu Quan dan kedua puterinya adalah orang yang tertawa melihat tingkah si nona cantik tersebut yang cukup lucu memang.
Si nona sempat menabrak dan jatuh dalam keadaan lucu. Maka setelah bangkit, dia marah luar biasa sekali.
Melainkan Jieji tidak menertawainya. Dia malah berkata.
“Sudahlah… Kamu pulang saja. Kamu masih jauh di bawahku.” katanya dengan nada yang ringan.
Meski puteri ini sungguh berkungfu tinggi, tetapi tentunya dia tidak mau menerima “penghinaan” dari kata-kata Jieji barusan. Tetapi sebelum dia marah dan ingin berkata-kata. Jieji kembali memotongnya.
“Itu adalah jurus tapak berantai tingkat pertamaku. Dan hanya kugunakan tenaga tidak sampai 5 bagian. Tapak berantaiku terdiri dari 5 tingkatan, maka setiap tingkatan energi selalu sekali lebih kuat daripada yang lainnya. Tidak ada gunanya kamu menghamburkan waktu disini.” tutur Jieji kembali dengan nada yang welas.
“Itu belum tentu…” tutur puteri yang cantik nan manja itu kembali.
Lalu dengan cepat dia bergerak ke arah penggiringnya dan segera dia mengambil siter dari tangannya.
Langsung saja dan tanpa banyak bicara, dia memeluk siter itu sambil bersila. Sesaat, segera dipetikkan siter itu dengan nada yang cepat seakan mengoyak.
Jieji langsung terkejut..
Tidak disangkanya, setelah tewasnya Dewa bumi dan Fei Shan. Maka masih ada yang bisa “jurus Ilmu pembuyar tenaga dalam” ini.
Dengan segera, Jieji merapalkan jurusnya. Dia “menghisap” biksu Wu Huan dan biksu tua lainnya untuk mundur sekaligus ke arah ayah mertuanya. Dengan sekali memutar lengan kembali, tangan kelima orang itu segera lekat satu sama lainnya.
Kecapi tiada berhenti, tetapi masih tetap berkumandang hebat. Dan makin lama maka semakin menjadi.
Tentu ini membuat 5 orang teman Jieji segera merinding merasakan tenaga dalam mereka membuyar. Tetapi hanya tidak lama, mereka kemudian merasakan energi sejuk mulai memasuki tubuh mereka masing-masing. Rupanya Jieji telah “memasokkan” energi yang cukup deras ke punggung biksu tua Wu Huan. Energi Jieji memang sangat deras dan kuat. Maka energi hawa murni yang seharusnya membuyar itu telah “tertarik” kembali.
Sementara si puteri yang cantik itu tersenyum sangat ngeri mendapati Jieji tiada berdaya seperti itu. Tetapi dia lupa akan sebuah hal.
“Kalian tunggu apalagi, segera gerakkan tombak. Bunuh saja semuanya…” tuturnya dengan nada yang dingin dan penuh hawa pembunuhan.
Ketiga orang yang lain segera mengambil tombak yang telah diletakkan di lantai itu. Namun sebelum ketiganya benar ingin melaksanakan tugas dari puteri itu. Sebuah sinar yang memerah segera tertampak terang luar biasa memenuhi ruangan.
Puteri yang mengamati ketiga orangnya untuk bekerja segera terkejut sangat luar biasa. Dan tentu tidak ayal lagi, dia terpelanting dan jatuh ke belakang dengan muntah darah yang banyak. Ada sebungkus barang yang jatuh dari tubuh puteri tersebut dan tanpa di sadari siapapun kecuali Jieji. Bungkusan tersebut berwarna kuning tua, dan di dalamnya sepertinya terdapat beberapa barang juga.
Jurus yang menjatuhkannya adalah Ilmu jari dewi pemusnah ciptaan Dewa Sakti itu. Tetapi jelas Jieji tidak ingin membunuhnya. Maka dia telah memberi wanita cantik itu 2 kali kesempatan hidup.
“Lekas kalian bawa puteri kalian untuk enyah dari China daratan sekarang juga. Jangan sampai dia bertemu denganku lagi nantinya…” tutur Jieji seraya marah dan berdiri setelah siap menyalurkan energi ke punggung biksu Wu Huan.
Ketiga orang lainnya ini segera lari dengan cepat ke depan, diikuti oleh semua anggotanya yang meski ada yang telah kepayahan sekali.
Dan tentunya tidak lama, kuil Shaolin tersebut telah tenteram kembali.
Wu Quan dan ketiga puterinya segera di angsurkan ke samping. Karena ketiganya tadi telah mendapat saluran energi dahsyat Jieji, maka ketiganya segera bermeditasi kembali untuk menghimpun tenaga dalam mengobati diri.
Biksu Wu Huan mendekati Jieji sambil memberi hormat yang mendalam. Dan segera di balas oleh Jieji kembali.
“Adalah tuan pendekar yang menolong kita-kita semua. Sehingga jerih payah 400 tahun Shaolin ini tidak habis di tanganku…” tuturnya kemudian dengan mengalir air mata.
“Tidak…
Anda jugalah yang menolong keluargaku. Maka sangat sepantasnya budi ini harus kubalas sampai tuntas..” tutur Jieji dengan nada merendah juga kepada Wu Huan.
“Tuan juga telah membawa kembali kitab Jing Gang Shaolin. Budi ini tidak mampu yang tua ini membalasnya seumur hidup…”
“Ini adalah kebetulan saja. Selain itu, kitab Jing-gang adalah milik Shaolin secara mutlak. Maka setelah mendapatinya, aku rasa harus dikembalikan ke asalnya.”
“Shaolin dengan anda telah berhutang sungguh banyak sekali….
Sifat welas dari anda juga sangat kukagumi.”
Jieji membalasnya dengan perlahan dan mendalam. Namun segera dia berjalan ke arah “benda” yang jatuh dari tubuh puteri cantik itu. Maka dengan segera, dia buka untuk dilihat isinya. Di dalam bungkusan terdapat sebuah buku yang tidak kalah tebalnya dengan buku Jing-gang yang telah ditulis kembali oleh Jieji.
Ternyata buku itu memang ditulis dalam aksara China. Dan tertulis sungguh jelas di bagian sampul depannya. “Kitab Pelenturan Energi”. Jieji yang melihatnya sungguh terkejut. Lalu dengan pelan dia buka isinya. Di sini tergambar latihan melenturkan tubuh untuk menyerap energi dari Surya dan rembulan.
Wu Huan yang hanya berdiri di sampingnya juga terkejut melihat isi kitab tersebut.
“Ini kitab cukup mirip dengan kitab Yu Jingjing-nya (Kitab pelentur Otot) Shaolin. Dan kitab ini sepertinya pernah kudengar…” tutur Wu Huan yang sambil berpikir keras.
Sementara itu, Jieji membalikkan halaman-halaman buku itu sambil menghela nafas. Dia tidak pernah tahu bahwa posisi “aneh” seperti itu adalah posisi yang hebat dalam mengumpulkan energi. Latihan 1 tahun dengan bimbingan buku adalah sehebat latihan 10 tahun daripada orang yang betul menekuninya. Sungguh buku yang teramat luar biasa.
Wu Huan yang sedari tadi berpikir, segera melangkah dengan tergesa-gesa masuk kedalam. Sepertinya dia mencari sesuatu benda.
Sementara itu, Jieji hanya diam saja. Dia mengamati dengan benar “posisi” kungfu yang sungguh luar biasa tersebut. Kungfu hebat yang ditulis terasa sungguh lembut bagaikan angin siang yang sepoi-sepoi rasanya. Tidak berapa lama, Wu Huan telah keluar dari sebuah tempat di belakang balai utama Shaolin tersebut. Sambil membawa sebuah buku, dia keluar tergopoh-gopoh.
Dengan cepat dia menunjukkan isi buku tersebut.
“Ini adalah kitab pelentur energi milik Liu Zheng Ta She (Pendeta besar Liu Zheng).” tutur Wu Huan.
Jieji terkejut mendengarnya.
“Liu Zheng adalah seorang Pendeta dari India juga, dia terlebih dahulu mendukung Dinasti Liang (502-557). Sepuluh tahun setelah Liu Zheng, maka Bodhidharma sampai ke daratan China. Liu Zheng terkenal dengan cara sesatnya menyelesaikan masalah. Beberapa orang masih meyakini bahwa Liu Zheng adalah jago kawakan. Saat itu, Bodhidharma masih belum tandingannya. Tetapi melalui meditasi tinggi, guru besar kami Ta Mo(Bodhidharma) akhirnya mencapai kesempurnaan. Dan…
Di buku ini juga dituturkan bahwa Ilmu Dahsyat Kitab Pelentur Energi belum ada tandingannya saat itu.” tutur Wu Huan dengan nada yang sangat serius.
Wu kembali melanjutkan apa yang tertera di bukunya. Buku yang merupakan buku sejarah dari Shaolin sepertinya.
“Liu Zheng hidup di kuil Jetavana (India) sejak kecil. Dia sangat berbakat dalam banyak hal; kungfu, kepintaran, keagamaan ataupun menyusun siasat. Tetapi di usianya yang ke 30, dia melarikan diri dari kuil sambil membawa kitab ini ke arah timur. Di sana, dia mendukung Raja dinasti Liang. Dinasti Liang hampir di ambang kehancuran saat itu sebelum datangnya Bodhidharma. Sampai saat Liu Zheng tewas membakar diri, buku ini telah hilang.
Namun sekarang bisa kedapatan orang-orang Persia itu.”
“Aneh…..” kata Jieji dengan pendek dan seperti sedang berpikir keras.
“Dimana letak keanehannya?” tanya Wu Huan dengan nada yang terkejut pula.
“Maksudku adalah buku ini. Sepertinya orang persia itu ingin merebut kitab hebat dari seluruh daratan. Kitab ini pasti didapatkannya dari India. Dan yang kuherankan adalah tujuannya…” tutur Jieji tidak lama. Kemudian dia sudah teringat sesuatu.
“Ilmu pemusnah raga lagi???” tutur Jieji kemudian.
Wu Huan juga terkejut mendengar apa yang dikatakan Jieji.
“Benar…Pasti karena semua kitab itu, maka mereka semua ingin menciptakan Ilmu baru yang lebih hebat lagi…. Kapan dunia bakal damai….” tutur Wu Huan seraya menghela nafas.
“Sepertinya ini buku tiada bermanfaat lagi…” tutur Jieji dengan menghela nafas pula.
“Kalau begitu, jika tuan ada kesana. Kembalikan saja…” tutur Wu Huan kembali sambil tersenyum.
Jieji membalas senyuman Biksu tua ini seraya mengiyakannya.
Demikianlah selama 3 hari Jieji berada di Shaolin, sambil menunggu sembuhnya ayah mertuanya, Wu Quan. Maka banyak kesempatan lowong juga dia untuk melatih konsentrasi dirinya. Beberapa saat terlihat Jieji melatih pernafasannya kembali. Dan pada malamnya, dia tidak pernah tidur di Shaolin, melainkan turun dari gunung untuk membeli arak dan minum sampai saban sinting. Acapkali dia tertidur di kedai arak sekitar 10 li dari kaki pegunungan Sung.
Tiga hari kemudian..
Pada pagi hari yang hujan salju itu.
Jieji kembali memeriksa nadi Wu Quan. Sesaat, dia merasa girang juga. Karena saluran energinya telah hampir membuat orang tua ini pulih.
“Nak Jieji…
Dimana puteriku Yunying?” tanya orang tua ini kemudian.
“Dia sedang bersama ibunya…” jawab Jieji datar saja. Tetapi dari raut wajahnya nampak sesuatu perubahan.
“Jadi istriku, Shanniang sudah ditemukan? Dimana dia berada sekarang?” tanya orang tua ini dengan nada yang memelas.
“Sesudah ayah sehat, maka kita akan menuju ke sana.” jawab Jieji sambil tersenyum manis kepadanya.
“Tetapi mengenai kondisi kesehatanku, aku rasa sudah cukup pulih untuk melanjutkan perjalanan.” jawab Wu Quan dengan cukup bersemangat.
Jieji berpikir sebentar. Dia merasa memang seharusnya “salahpaham” antara dia dan Yunying harus di selesaikan secepatnya. Maka dia mengangguk saja.
“Tetapi sekarang adalah musim dingin. Apa ayah tidak merasa keberatan melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini?” tanya Jieji kepadanya.
“Tidak masalah… Kondisiku sudah 8 bagian sembuh benar. Kita harus segera berangkat besoknya.” tutur Wu Quan seraya tersenyum.
Jieji hanya mengangguk perlahan. Dia tidak pernah memberitahukan bahwa Wu Shanniang sebenarnya telah berada di pihak lawannya. Serta Yunying telah mengalami masalah salam paham yang cukup ruwet bagi dirinya sendiri. Dia menunggu sampai ketiga orang ini telah berkumpul kembali, baru membicarakan masalah tersebut lebih lanjut.
Tetapi sebelum Jieji keluar dari ruangan, dia telah mendapati adanya beberapa langkah kaki mendekati kamar.
Segera dia membuka pintu ruangan kamar dari Wu Quan. Lalu segera dilihatnya 10 pendekar yang setia mengikuti Zhao kuangyin kemanapun dia pergi. Sesaat, Jieji terkejut juga. Dia berpikir apakah kakak angkatnya telah mengalami masalah.
“Ada apa kalian semua kemari?” tanya Jieji yang dengan keheranan.
“Tuan…
Anda diharapkan kembali ke kota Beiping secepatnya.” tutur Huang Xu, pemimpin dari 10 pendekar tersebut.
“Apakah terjadi sesuatu di garis depan?” tanya Jieji kemudian yang agaknya mencemaskan kawan-kawannya yang disana.
“Betul…
Sekitar seminggu lalu, Pendekar dari Liao telah menantang pertarungan di bawah kota Beiping pada imlek mendatang. Yang Mulia mengirimkan kuda cepat untuk memberitahu kami yang berada di kota Pu Yang untuk mencari anda…”
Apa yang dikatakan mereka sungguh membuat Jieji terkejut. Pendekar Liao telah menantang pendekar China daratan untuk bertarung? Sungguh hebat.
Tentu Jieji tidak ayal lagi segera pamitan dengan ayah mertuanya. Dia meminta 10 orang pendekar hebat tersebut untuk mengawal ayah mertuanya serta kedua puterinya ke kota Beiping. Dengan meminta pamit pada Biksu senior Wu Huan, Jieji segera mengencangkan kuda Bintang birunya. Dia hanya memiliki waktu selama 1 minggu untuk sampai.
***
Di bawah tembok kota Bei Ping…
Di hadapan pendekar dari dunia persilatan. Pendekar Liao sudah berdiri di bawah kota dengan rapi. Terlihat Xia Rujian, Hikatsuka Oda, Yelu Xian dan Yue Liangxu. Sementara itu, Zhu Xiang telah berdiri berhadapan dengan Wei Jindu. Di belakangnya telah berdiri Zhao kuangyin, Pei Nanyang, Yuan Jielung, Sun Shulie serta Huang Xieling. Sementara itu, Dewa Ajaib malah duduk di tanah sambil menyaksikan.
“Dimana guru?” tanya Wei kepada kakak seperguruannya.
“Sudah mati beberapa bulan yang lalu…” tutur Zhu Xiang dengan perlahan saja.
“Apa?” teriak Wei yang kaget.
“Gurumu Ba Dao telah kukirim ke surga. Disana dia akan memimpin setan-setan berkotbah.. Ha Ha…….” tutur Yue Liangxu di belakang.
Kata-kata Yue segera membangkitkan emosi pemuda yang sangat sabar tersebut.
“Setelah memberikan “energi” dahsyatnya, guru telah terbang ke langit.” tutur Zhu Xiang kemudian dengan nada sinis.
“Adik ketiga, jangan kamu dengar apa kata-kata mereka dahulu. Tenangkan pikiranmu…” teriak Zhao dari belakang.
Dan segera, lamunan Wei akan gurunya telah musnah. Dia tahu benar, kakak seperguruannya bukanlah lawan biasa. Mau tidak mau dia harus berkonsentrasi dengan penuh. Maka daripada itu, dia segera membentuk tapaknya di tengah dada.
Sesaat, angin kencang segera meliputi tubuhnya.
“Kurang… Tenagamu kurang adik seperguruan…” tutur Zhu Xiang yang sesaat meningkatkan energinya.
Sapuan telah meliputi tubuh mereka berdua. Angin kencang di tanah datar telah membuat pasir dan tanah ringan berterbangan meliputi keduanya. Bagaikan angin topan kecil, tubuh mereka segera terlilit oleh hawa energi yang tidak tampak tersebut.
Sementara,pendekar-pendekar dari dunia persilatan sungguh terkejut menyaksikan hawa aneh dari keduanya. Hawa yang terasa sama dahsyatnya, tetapi pada hawa tenaga dalam Zhu Xiang terasa lain, seakan terasa sangat buas sekali.
“Adik seperguruan… Pikirkanlah, jika kamu mati dalam pertarungan ini. Maka tiada yang membalas dendam guru lagi…” tutur Zhu Xiang dengan nada yang sangat sok dan tinggi hati.
Sementara itu, Wei Jindu telah siap benar dengan tapaknya. Kata-kata kakak seperguruannya ternyata sama sekali tidak menggoyahkannya. Lalu dengan cepat dan bertenaga penuh, Wei segera memainkan tapaknya pertama.
Tapak Buddha Rulai bukanlah jurus biasa. Semua jurusnya adalah selalu menyerang ke posisi yang sungguh benar. Jurus demi jurus dari tapak Budha Rulai selalu datang untuk mengancam dan tiada cara mengelak. Meski lawan ingin mengelak, maka waktu yang diperlukan adalah sangat sedikit dan sungguh beresiko.
Zhu Xiang sendiri memahami Ilmu tersebut, dan tentunya dia segera datang untuk menahan serangan dari Wei Jindu. Sesaat angin yang tadinya terasa berkumpul, segera mengoyak ke segala sisi. Ilmu keduanya memang sudah sangat setara. Dan tanpa terasa telah 50 jurus keduanya melaksanakannya dengan sungguh bagus sekali.
“Dalam 50 jurus pertama kamu sudah kelihatan kalah hawa tenaga dalammu. Bagaimana kau bisa bertarung lagi adik seperguruan? Menyerahlah….” tutur Zhu Xiang dengan keyakinan penuh.
Sementara itu, Wei malah merasa terdesak juga sebenarnya. Tenaga dalamnya tidaklah sejago Zhu Xiang. Tetapi inilah medan pertarungan, dia harus mengeluarkan semua kepandaiannya untuk bertarung mati-matian.
Konsentrasi hampir semua orang selalu tertuju menyaksikan pertandingan yang bagus tersebut.
Sementara itu, Zhao Kuangyin yang berdiri dengan berkonsentrasi penuh. Tanpa disadarinya telah di pegang dengan keras oleh seseorang dari belakang.
Hal ini sungguh membuat semua orang terkejut. Karena yang datang adalah orang yang sakti, maka tiada yang merasakannya. Apalagi dari pihak Zhao, semuanya sedang berkonsentrasi di depan.
Ketika semua mata tertuju ke belakang, mereka sangat terkejut mendapati seorang tua sedang mencakar bahu Zhao kuangyin. Zhao yang telah terasa bahwa bahunya tiba-tiba lemas segera berbalik. Dilihatnya seorang yang sangat dikenalinya.
“Guru???” tanyanya.
Memang benar, yang datang adalah tiada lain Dewa Semesta. Di sampingnya adalah Dewa Sakti dan Dewi Peramal.
Dewa Semesta segera mengalihkan pandangannya ke Dewa Sakti. Dewa Sakti yang segera mengerti segera mengiyakan.
Tanpa terasa, cengkraman dari Dewa Semesta makin lama makin keras. Sehingga memaksanya menjadi duduk bersila. Dewa Sakti yang melihatnya segera dengan cepat bersila di depannya. Di tempelkanlah tapak sebelah tangannya ke dada si pemuda. Sementara itu Dewa Semesta langsung mengerahkan seluruh tenaga untuk menghantam ke Punggung Zhao.
Sesaat, tentu Zhao sangat terkejut.
Dia segera merasakan hawa energi yang kuat luar biasa telah masuk ke dalam tubuhnya.
“Guru… Paman guru… Apa yang terjadi?” tanyanya dengan heran.
“Ini adalah hadiah dari kita berdua…
Dengan kemampuan tenaga dalammu, tidak mungkin kamu sanggup melawan Yue Liangxu.” Tutur Dewa Sakti di depannya sambil tersenyum.
“Tetapi…. Tetapi…” tutur Zhao terbata-bata. Dia segera merasakan hawa dahsyat dari dalam tubuhnya segera “merangkul” energi baru yang memasuki tubuhnya.
Para pendekar China daratan tentu sangat terkejut melihat pengorbanan dua orang tua ini. Tetapi maksud mereka berdua adalah sangat mulia adanya. Maka dari pada itu, mereka hanya menghela nafas saja.
Sementara itu, di pihak Liao. Tentu semua pendekar terkejut karena melihat Dewa Semesta dan Dewa Sakti sedang mengalirkan hawa murni mereka ke dalam tubuh Zhao. Tentu hal ini sungguh merugikan mereka. Tetapi Yue Liangxu berpendapatan lain.
“Tidak ada gunanya…. Perhatikan pertarungan saja…” tuturnya dengan sinis menatap ke arah Zhao kuangyin.
Yue sepertinya punya keyakinan sendiri akan kemampuannya. Menurutnya, barisan Zhao mungkin semua adalah katak dalam tempurung baginya. Lalu tanpa menghiraukan, segera dia melihat pertandingan Wei Jindu melawan Zhu Xiang dengan santai seakan tiada terjadi sesuatu hal.
Di ujung barat yang nun jauh…
Persia…
Sebuah negara yang berbentuk kerajaan monarki. Negara Persia adalah sebuah negara yang tadinya di bawah pemerintahan China daratan. Persia “diserang” oleh Kaisar dari Dinasti Tang, Li Shih Min. Oleh karena itu, budaya dan bahasa rakyat Persia telah mengalami percampuran dengan bangsa setempat. Semua orang di Persia mempunyai 2 buah nama, dimana nama asli adalah nama bernada Persia. Sedang nama kedua adalah nama panggilan yang bermakna tersendiri, serta dipanggil dalam nada suara pelapalan China daratan.
Persia membebaskan diri dari China daratan setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Tang di daratan tengah. Sekarang, negara Persia tidak ubahnya seperti negara yang telah dikuasai pemimpin setempat mereka sendiri.
Salah satu budaya dari daratan tengah yang masih melekat sampai saat itu adalah budaya “rimba”-nya dari daratan tengah. Siapa yang paling kuat, maka siapa yang berkuasa. Oleh