Mendadak ia jambak rambut Buyung Kiu terus diputar balik ke bawah, tubuh Siau-hi-ji kini berbalik menindih di atas Buyung Kiu, cepat ia meraih sebuah selimut terus ditutup ke tubuh si nona, dengan erat ia bungkus tubuh Buyung Kiu.
Sinar mata Buyung Kiu tampak penuh rasa terkejut, teriaknya dengan parau, “Ken … kenapa kau bertindak begini?”
Siau-hi-ji, lantas berdiri dan menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Setiap orang tentu mempunyai hantunya sendiri dan hanya dia sendiri yang dapat mengusirnya, orang lain tidak mungkin membantumu ….”
“Aku … aku tidak paham ucapanmu, bebaskan aku … bebaskan aku!” teriak Buyung Kiu.
Dengan tertawa Siau-hi-ji memandang nona yang cuma kelihatan bagian kepala itu, lalu ia pegang pakaian si nona yang ditanggalkan itu dan dipandangnya sejenak, kemudian ia ambil poci teh di atas meja dan perlahan-lahan air teh itu disiramkan ke atas kepala Buyung Kiu.
“Nah, ingat, anak perempuan tidak boleh sembarangan, sedikitnya dia harus menunggu anak lelaki yang membukanya,” kata Siau-hi-ii dengan tertawa. “Ingat, kalau kau berbuat begini lagi pasti akan kupukul pantatmu.”
Buyung Kiu megap-megap karena disiram air teh, teriaknya gusar, “Kau keparat, jahat, bebaskan aku ….”
Siau-hi-ji tidak menggubrisnya lagi, ia bungkus poci yang sudah tak berisi itu dengan baju Buyung Kiu dan ditaruh di atas dada si nona, lalu membuka pintu dan turun ke bawah loteng.
Setelah putar keliling di bawah loteng, dilihatnya dua pelayan yang bermuka lumayan walaupun kelihatan ketolol-tololan, kedua Lo bersaudara tidak diketemukan di situ.
Mendadak Siau-hi-ji tarik salah satu pelayan itu dan digigit pipinya dengan geregetan, lalu berkata dengan tertawa, “Perempuan, dasar perempuan, kalau kau berbuat busuk padanya dia malah anggap kau ini orang baik, sebaliknya kalau kau berbuat baik padanya, dia malah memaki kau bangsat keparat, dan inilah perempuan ….”
Dengan kasar Siau-hi-ji memutar tubuh pelayan itu dan menggablok keras-keras pantatnya yang besar dan keras itu, lalu melangkah pergi.
Keruan pelayan itu melongo kaget, setelah Siau-hi-ji pergi barulah ia menjerit.
Siau-hi-ji masuk ke dapur, ia cuci muka, dengan sisa bahan rias kemarin ia mengubah wajah dalam bentuk lain pula, habis itu barulah ia meninggalkan tempat itu.
Rumah ini ternyata terletak di tengah-tengah pasar yang ramai, Siau-hi-ji membeli seperangkat baju baru di sebuah toko konveksi dan langsung dipakai, lalu ia makan sekenyangnya di sebuah restoran, setelah memandang cuaca yang sudah dekat petang ia bergumam dengan tertawa, “Hari sudah hampir gelap, sudah tiba pula waktunya bagiku untuk beraksi ….”
Terhadap perbuatannya tadi ia merasa puas, kini seluruh badan terasa segar, penuh gairah, kalau nanti tidak beraksi sebaik-baiknya rasanya berdosa terhadap dirinya sendiri.
Menjelang magrib, Siau-hi-ji menuju ke toko obat di mana dia bekerja itu, ia pura-pura membeli satu tahil likiam (asinan) dan ternyata tiada seorang pun yang mengenalnya.
Maksud Siau-hi-ji cuma ingin tahu apakah terjadi sesuatu di toko obat itu, tapi suasana toko itu tenang-tenang saja, agaknya pergolakan dunia persilatan tidak sampai mempengaruhi perdagangan sehari-hari toko obat itu.
Siau-hi-ji lantas menuju ke luar kota, sebenarnya ia ingin mendatangi rumah Toan Hap-pui, tapi mendadak berubah pikiran, soalnya dia melihat tidak sedikit orang persilatan sama menuju luar kota, mungkin sekali hendak pergi ke Thian-hiang-tong.
Maklumlah, nama Ay-cay-ji-beng Thi Bu-siang cukup gemilang di dunia Kangouw, selama berpuluh tahun ini tidak sedikit kaum muda yang mendapat bimbingannya dan menerima kebaikannya, tidak sedikit orang yang telah utang budi padanya. Kini jago tua itu meninggal dengan terhina, namun kematian Thi Bu-siang benar-benar kejadian besar di dunia Kangouw sehingga banyak orang datang melayat, paling tidak juga ingin melihat keramaian.
Dari jauh Siau-hi-ji sudah melihat suasana ramai di Thian-hiang-tong, cahaya lampu terang benderang, bayangan orang berseliweran, halaman yang luas itu penuh sesak dengan pengunjung.
Di luar perkampungan juga penuh berparkir macam-macam kereta kuda. Dengan langkah cepat Siau-hi-ji maju ke sana, tapi mendadak ia berhenti di antara kawanan kuda penarik kereta. Ia dengar suara ringkik kuda yang nyaring, ia merasa kenal ringkik kuda itu, yakni “Yan-ci-be” (kuda gincu), kuda merah milik Siau-sian-li.
Ia menjadi heran, jangan-jangan “Siau-sian-li” Thio Cing juga datang kemari?!
Tersembul senyuman geli bilamana Siau-hi-ji teringat kepada nona garang itu. Pikirnya, “Entah bagaimana dia selama dua tahun ini? Apakah masih serupa dahulu selalu mengenakan baju merah membara dan berkeliaran kian kemari dengan kuda merahnya dan menghajar orang dengan cambuknya?”
Ia benar-benar ingin melihat nona cilik mungil yang cantik tapi juga galak itu, selama dua tahun ini tentunya sudah tumbuh lebih besar, bisa jadi sudah bertambah alim pula.
Akan tetapi orang-orang di halaman depan itu terlalu banyak, Siau-hi-ji coba melongok sana-sini dan tetap tidak nampak bayangan nona itu. Padahal nona seperti Siau-sian-li Thio Cing biarpun bercampur baur di tengah orang yang berjumlah ribuan juga akan ditemukan dengan sekali pandang saja.
Soalnya Siau-sian-li benar-benar laksana seonggok bara, cuma onggok bara ini mengapa sekarang tidak mencolok mata? Jangan-jangan dia tidak datang, kudanya itu dipinjamkan kepada orang lain?
Begitulah Siau-hi-ji menjadi ragu-ragu dan rada kecewa.
Layon Thi Bu-siang ditaruh di tengah ruangan depan, Tio Hiang-leng berdiri di samping peti mati dengan wajah murung, ternyata dia yang “wajib dinas” sebagai Haulam (putra yang mati).
Orang-orang yang melayat sama berjubel di halaman depan secara bergerombol-gerombol dan sedang berbisik-bisik entah apa yang diperbincangkan.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba suasana di luar rada gempar, terdengar seruan beberapa orang. “Ah, Kang-tayhiap juga datang!”, “Selamanya Kang-tayhiap berbudi luhur, sebelumnya sudah kuduga beliau pasti akan datang melayat.”
Serentak orang yang berjubel di halaman itu menyiah ke kanan kiri untuk memberi jalan, hampir semuanya sama munduk-munduk memberi hormat, malahan ada di antaranya kalau bisa ingin menyembah.
Beberapa lelaki kekar tampak melangkah masuk mengiringi Kang Piat-ho. Wajah “pendekar besar” kita ini tampak murung, langsung dia menuju ke depan layon Thi Bu-siang dan menjura dengan khidmat serta berdoa, “Thi-locianpwe, waktu hidupmu engkau bermusuhan denganku, tapi itu pun disebabkan rasa setia kawan di dunia Kangouw, di alam baka engkau tentu tahu maksud tujuanku, selanjutnya mohon arwahmu sudi memberi bantuan padaku untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia persilatan. Pada masa-masa tertentu atas nama para kawan Bu-lim pasti juga kami akan berziarah ke makan Thi-locianpwe dan berdoa semoga arwahmu beristirahat tenang di alam baka.”
Ucapan Kang Piat-ho ini kedengarannya sangat bijaksana dan berbudi luhur, kebanyakan pendengarnya tentu akan memuji jiwa ksatria Kang Piat-ho. Akan tetapi bagi Siau-hi-ji, ucapan Kang Piat-ho itu membuatnya mual, diam-diam ia menjengek, “Hm, ini benar-benar kucing menangisi kematian tikus ….”
Belum lagi lenyap pikirannya itu, tiba-tiba terdengar seorang mendengus dengan suara keras, “Huh, ini namanya kucing menangisi tikus, sudah membunuh, pura-pura berduka bagi sang korban.”
Suaranya nyaring lantang, ternyata suara kaum wanita.
Semua orang terkesiap dan memandang ke arah datangnya suara itu, benar juga yang bicara adalah seorang perempuan berbaju hitam, memakai topi bertepi lebar sehingga mata alisnya hampir tidak kelihatan, meski di musim panas, tapi memakai mantel hitam yang panjang, walau dipelototi orang sebanyak itu, sama sekali ia tidak keder, sebaliknya ia pun balas mendelik dengan sorot mata yang bercahaya tajam.
Di sebelah perempuan baju hitam ini berdiri pula seorang pemuda berpakaian perlente dan berperawakan jangkung, namun sikapnya malu-malu seperti gadis pingitan.
Sekali pandang saja Siau-hi-ji lantas tahu siapa kedua orang itu, diam-diam ia terkejut dan bergirang pula, pikirnya, “Dia benar-benar datang, tabiatnya yang keras dan ingin menang sendiri sedikit pun belum berubah.”
Dalam pada itu di antara hadirin sudah ada beberapa orang menerjang ke sana dan membentak sambil menuding si nona baju hitam, “Kau ini perempuan dari mana? Berani bersikap kasar terhadap Kang-tayhiap?”
“Hm, aku ingin omong apa boleh sesukaku, peduli kau?” jengek si nona.
“Apakah kau tahu tempat apa di sini? Berani sembarangan bicara!?”
“Memangnya kau mau apa?” dengus si nona.
“Kang-tayhiap berhati mulia, terpaksa aku mewakilkan Kang-tayhiap memberi hajaran setimpal padamu!” bentak salah seorang lelaki berewok, berbareng dengan telapak tangannya yang lebar terus mencengkeram.
Si nona baju hitam hanya mendengus saja tanpa bergerak. Tapi pemuda yang berdiri di sebelahnya mendadak menangkis. Sungguh aneh, lelaki yang berewok tinggi besar itu mendadak terpental hanya kena ditangkis dengan perlahan oleh pemuda yang lebih mirip gadis pingitan itu. Keruan banyak yang menjerit kaget, beberapa orang segera hendak menubruk maju.
Pemuda itu menarik kembali daya pukulannya dan pasang kuda-kuda dengan kuat. Di waktu diam dia mirip gadis pingitan, tapi sekali bergerak ternyata tangkas dan berwibawa.
“Pukul dan hajar saja mereka, kalau ada apa-apa biar tanggung jawabku,” kata si nona baju hitam.
Tampaknya pemuda itu memang penurut, kaki kiri maju setengah langkah, kepalan tangan secepat kilat menjotos, kontan lelaki yang paling depan kena digenjot hingga terpental.
“Nanti dulu, berhenti!” tiba-tiba terdengar suara orang membentak.
Dengan tersenyum Kang Piat-ho telah mengadang di depan pemuda itu, katanya sambil memberi hormat, “Hebat benar kepandaian saudara, jangan-jangan ahli waris ‘Koh-keh-sin-kun’ (pukulan sakti dari keluarga Koh) dari Kang-lam?”
Muka pemuda itu kembali menjadi merah, tangannya melurus ke bawah dan melangkah mundur, jawabnya singkat, “Ya.”
“Jika Cayhe tidak keliru, mungkin saudara inilah Giok-bin-sin-kun (si pukulan sakti berwajah cakap) Koh Jin-giok, Koh-jikongcu.”
Diam-diam Siau-hi-ji mengakui ketajaman mata Kang Piat-ho yang lihai itu.
Sebelum Koh Jin-giok menjawab, si nona baju hitam sudah menariknya sambil mendengus, “Huh, tak perlu bicara dengan dia, ayolah kita pergi!”
Begitu kata terakhir itu terucap, serentak dua sosok bayangan telah melayang keluar melampaui kepala orang banyak, mantel hitam yang berkibar tertiup angin itu tersingkap sehingga kelihatan pakaian bagian dalam yang merah membara.
“Jangan-jangan dia itulah Siau-sian-li!” seorang berseru di tengah hadirin.
“Harap kalian tinggal dulu di sini agar Cayhe dapat memberi pelayanan sekadarnya,” seru Kang Piat-ho.
Namun kedua orang itu sudah melayang keluar pintu, sekali bersuit, terdengar derapan kaki kuda, seekor kuda merah segera lari tiba dan membawa kedua orang itu terus kabur secepat terbang.
Kang Piat-ho mengelus jenggot menyaksikan kepergian kedua orang itu, katanya dengan gegetun, “Anak murid dari keluarga ternama memang lain daripada yang lain.”
“Biarpun anak murid keluarga ternama juga tidak boleh congkak begitu,” demikian seru seorang di tengah hadirin. “Memangnya di kalangan Kangouw siapa yang tidak menghormati Kang-tayhiap, berdasarkan apa mereka berani bersikap kasar begitu?”
“Anak muda berkepandaian tinggi, sedikit banyak tentu rada angkuh, lumrah dan tidak perlu menyalahkan mereka,” ujar Kang Piat-ho dengan tersenyum, berbareng ia rangkap kedua tangannya memberi hormat kepada hadirin sehingga semua orang terlebih menghormat dan memujinya.
Selagi Siau-hi-ji hendak mulai beraksi, tiba-tiba nampak seorang gelandangan berlari masuk dengan membawa sebuah galah bambu. Pada galah itu bergantung sehelai kain putih bertulis, yaitu “wan-lian” atau kain bertuliskan sanjak tanda berdukacita bagi orang mati. Tulisan yang terdapat pada kain putih itu berbunyi: “Waktu hidupmu, aku susah; Setelah kau mati, aku duka!”
Tulisan itu tampak tandas dan kuat seperti buah tangan seniman ternama tapi kalimatnya lucu dan tidak layak.
Semua orang menjadi heran dan tertawa geli pula, tapi setelah membaca lagi bagian atas dan bawah, yaitu nama yang dituju dan nama si pengirim, seketika air muka mereka berubah dan tiada seorang pun berani tertawa.
Kiranya bagian depan sajak itu tertulis, “Kepada bapak mertua” dan bagian bawah sebagai pengirimnya tercantum “Dari menantumu Li Toa-jui”.
“Li Toa-jui”, satu di antara ke-10 top penjahat penghuni Ok-jin-kok, tentu saja nama ini cukup menggemparkan hadirin, bahkan Siau-hi-ji juga melongo heran. Ia coba mengamati lebih teliti dan rasanya gaya tulisan itu memang mirip tulisan tangan Li Toa-jui, ia menjadi heran apakah betul Li Toa-jui telah meninggalkan Ok-jin-kok? Bilakah dia keluar dari lembah pusatnya top penjahat itu dan kini dia berada di mana?
Dalam pada itu Kang Piat-ho telah mengadang di depan gelandangan itu dan membentaknya, “Siapa yang suruh kau membawa kain tanda dukacita ini?”
Orang itu berkedip-kedip bingung, jawabnya, “Aku pun tidak jelas siapa dia, maklumlah malam gelap, cuma kelihatan perawakannya tinggi besar dan garang, tampangnya rada-rada mirip patung beringas yang dipuja di kelenteng.”
“Ha itu dia, memang begitulah bentuk Li Toa-jui,” demikian beberapa orang yang berusia agak lanjut lantas berseru.
“Selain disuruh mengantarkan Wan-lian ini, apalagi yang dikatakannya” tanya Kang Piat-ho.
Orang itu tergagap-gagap, akhirnya dia menutur, “Dia bil … bilang, meski bapak mertuanya pernah ingin membunuhnya, tapi dia tetap sakit hati terhadap orang yang membunuh bapak mertuanya, maka dia mengharapkan orang yang membunuh mertuanya supaya mandi sebersih-bersihnya. Aku menjadi heran dan bertanya untuk apa dia mengharapkan orang mandi bersih-bersih, dia tidak menjawab melainkan cuma tertawa lebar, lalu melangkah pergi.”
Seketika air muka Kang Piat-ho berubah, dia tidak bertanya pula terus melangkah pergi.
Hadirin menjadi panik demi mendengar penuturan orang tadi, banyak yang memperbincangkan munculnya Li Toa-jui, kata seorang, “Cap-toa-ok-jin itu sudah menghilang sekian tahun, kini Li Toa-jui telah muncul kembali, bukan mustahil kawan-kawannya juga akan membanjiri dunia Kangouw pula.”
“Selain Li Toa-jui, ada lagi seorang Ok-tu-kui yang sudah muncul di muka umum, melulu kedua orang ini sudah cukup membikin kepala pusing,” demikian kata yang lain.
Di tengah suara berisik dan ramai ocehan orang banyak itu, diam-diam si gelandangan tadi sudah mengeluyur keluar, hanya Siau-hi-ji saja terus mengintil di belakangnya.
Secara beriring-iringan mereka berjalan sekian jauhnya, sekonyong-konyong orang itu membalik tubuh dan menegur Siau-hi-ji dengan tertawa, “Aku baru saja mendapat persen tiga tahil perak, masa jumlah ini cukup menarik perhatianmu dan kau hendak membegal diriku?”
Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Sesungguhnya kau ini siapa? Apa maksudmu mengantarkan Wan-lian itu dengan memalsukan nama Li Toa-jui?”
Air muka orang itu tampak berubah, matanya memancarkan sinar yang tajam, sinar mata yang lebih licin daripada Kang Piat-ho dan lebih bengis daripada Ok-tu-kui.
Tapi hanya sekejap saja ia telah mengatupkan kelopak matanya dan berkata dengan tertawa, “Aku diberi persen tiga tahil perak dan segera kulakukan apa yang dia minta, urusan lain aku tidak perlu ambil pusing.”
“Tapi dari mana kau tahu aku mengintil di belakangmu?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jelas kau memiliki ilmu silat yang tinggi, mengapa ingin mengelabui diriku?”
Orang itu terbahak-bahak, katanya, “Jika aku mahir ilmu silat, tentu aku sudah menjadi bandit, untuk apa menjadi pengangguran begini?”
“Kau tidak mau mengaku? Segera akan kubikin kau mengaku!” teriak Siau-hi-ji, berbareng ia terus menubruk maju dan menghantam.
Siapa tahu orang itu ternyata benar tidak mahir ilmu silat, sekali digenjot Siau-hi-ji, kontan dia roboh terjungkal.
Sudah tentu Siau-hi-ji tidak percaya, ia pikir orang cuma pura-pura saja. Tapi setelah ditunggu sekian lama orang itu tetap menggeletak tak bergerak, waktu ia meraba dadanya, napasnya ternyata sudah berhenti dan kaki tangan sudah mulai dingin rupanya telah mati terpukul olehnya.
Tak tersangka oleh Siau-hi-ji bahwa orang itu ternyata tidak tahan sekali pukul, diam-diam ia pun menyesal telah memukul mati orang tanpa sebab. Setelah tertegun sejenak, kemudian ia menghela napas dan berkata, “Jangan kau salahkan aku, kau sendiri yang tidak tahan pukul, biarlah kukubur kau dengan baik-baik.”
Dengan rasa menyesal segera ia panggul mayat orang itu dan memutar balik ke kota. Tapi belum beberapa jauh, tiba-tiba kuduknya terasa basah-basah hangat, bahkan berbau pesing.
“Buset! Orang mati masa bisa ngompol?!” omel Siau-hi-ji terkejut, segera ia bermaksud mengusap bagian yang basah itu.
Tapi karena tangannya terangkat, mayat itu lantas memberosot ke bawah, waktu Siau-hi-ji mendepak, mendadak “mayat” itu mencelat ke sana dengan gelak tertawa dan berkata, “Hari ini kusuguh kau dengan air kencing, lain hari akan kusuguh kau makan najis!”
Di tengah suara tertawanya itu mendadak ia berjumpalitan jauh ke sana, sekali berkelebat lagi lantas menghilang.
Ginkang orang ini ternyata tidak di bawah Kang Piat-ho, ketika Siau-hi-ji hendak mengejarnya, bayangan orang sudah tak tertampak pula.
Sejak kecil hingga besar ini belum pernah Siau-hi-ji dikerjai orang seperti sekarang ini, sungguh dadanya hampir meledak saking gemasnya. Lebih konyol lagi adalah siapa orang itu bahkan sama sekali tidak diketahuinya.
Ginkang orang itu sudah jelas mahatinggi, yang lebih hebat adalah caranya berlagak mati. Untuk bisa pura-pura mati sebaik itu harus memiliki Lwekang yang sempurna.
Setelah tertegun sejenak, tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa sendiri, gumamnya, “Untung dia cuma menggoda diriku saja, kalau tadi dia mau membunuhku, mustahil aku dapat hidup sampai sekarang. Jadi seharusnya aku bergembira, memangnya apa yang kusesalkan?”
Begitulah dengan tertawa dia melanjutkan perjalanan, sedikit pun tidak uring-uringan pula. Terhadap segala sesuatu yang tak dapat diatasinya dia dapat menerima menurut kenyataanya, Siau-hi-ji memang dapat berlapang dada terhadap segala persoalan, kalau tidak demikian tentu dia bukanlah Siau-hi-ji.
Sementara itu cahaya lampu sudah memenuhi pula jalanan di kota, tiba pula waktunya pasar malam yang paling ramai. Siau-hi-ji membeli pula seperangkat pakaian untuk salin, dia keluyuran ke sana sini untuk membuang waktu.
Selagi dia tengak-tengok kian kemari itulah, tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari cepat lewat di sebelahnya dan hampir menyerempetnya. Kereta itu mendadak berhenti di depan sebuah hotel yang besar, selang sejenak, beberapa orang centing yang berpakaian mentereng keluar dari hotel itu, lalu membuka pintu kereta dan berdiri tegak di samping dengan menahan napas.
Tidak lama kemudian, dari hotel itu keluar pula dua orang dengan iringan serombongan orang yang bersikap munduk-munduk dan ada beberapa orang yang membawa lentera.
Di bawah cahaya lampu itu kelihatan orang di sebelah kiri berwajah pucat, badan kurus lemah, tampaknya tidak tahan angin, namun sikapnya simpatik, meski warna bajunya sederhana dan potongan biasa, tapi semuanya serasi, dari kepala hingga kaki tiada suatu cacat.
Orang sebelah kanan bertubuh lebih tinggi besar, sikapnya gagah, sorot matanya berwibawa. Pakaiannya juga sederhana, tapi pakaian sederhana menjadi tidak sederhana lagi setelah dikenakan olehnya.
Kedua orang itu berturut-turut naik ke atas kereta, tidak bergaya dan juga tidak berlagak, tapi nampaknya memang rada berbeda dengan orang lain, seakan-akan sejak lahirnya sudah harus dilayani orang dan menumpang kereta sebagus itu, kalau orang mengumpak dan menjilatnya juga pantas dan adil.
Sampai kereta itu sudah berangkat Siau-hi-ji masih berdiri termenung di situ, ia heran siapakah kedua orang yang memiliki gaya luar biasa itu? Maklumlah, gaya anggun begitu memang sukar ditiru dan juga tidak mungkin dibuat-buat.
Di kota Ankhing sekarang ternyata banyak muncul kaum ksatria dan pendekar, dalam dua hari saja Siau-hi-ji telah berturut-turut memergoki tokoh-tokoh yang lain daripada yang lain. Yang membuatnya tidak paham adalah untuk apakah tokoh-tokoh ini datang ke Ankhing dan siapakah mereka? Yang jelas, wilayah ini selanjutnya pasti akan menjadi ramai.
Begitulah setelah berputar kayun setengah malaman, tanpa terasa Siau-hi-ji berada kembali di rumah Lo Kiu itu.
Meski pasar malam sudah mulai sepi, namun masih terlalu dini waktunya bagi beraksinya Ya-heng-jin (orang pejalan malam), setelah berpikir sejenak akhirnya ia masuk juga ke rumah itu.
Dia tidak naik ke loteng, dia duduk sekian lamanya di bawah, kedua pelayan yang ketolol-tololan itu berdiri jauh di sana, seperti takut pada setan saja, mereka tidak berani mendekati Siau-hi-ji.
Akhirnya malam pun larut, baru saja Siau-hi-ji berbangkit hendak berangkat, mendadak terdengar jeritan kaget di atas loteng, menyusul Lo Sam dan Lo Kiu tampak berlari turun.
“Kalian juga bisa terkejut, sungguh sukar untuk dipercaya?!” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.
Lo Iuu dan Lo Sam juga terkejut melihat Siau-hi-ji berada di situ, mereka menyurut mundur, sambil menatap anak muda itu, akhirnya Lo Kiu tertawa dan berkata, “Hebat benar kepandaian menyamar saudara, tampaknya sukar ada bandingannya dalam hal ini.”
“Jika saudara tidak buka suara, sungguh kami tidak mengenalimu lagi,” sambung Lo Sam tertawa.
“Kalian ke mana semalam hingga baru sekarang kalian pulang ke sini,” dengan tertawa Siau-hi-ji menanggapi.
“Soalnya hari ini ada tamu agung, Kang Piat-ho menjamunya dan kami bersaudara juga diundang, maka pulang agak terlambat,” tutur Lo Kiu.
“Maaf beribu maaf jika saudara menunggu terlalu lama,” sambung Lo Sam.
Ternyata kedua Lo bersaudara itu sama sekali tidak menyinggung apa-apa yang dilihatnya di atas loteng yang membuat mereka menjerit kaget tadi.
Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak suka menyinggungnya, dengan tertawa ia bertanya, “Tamu agung? Siapa dia?”
“Cukup ternama juga kedua tamu itu,” tutur Lo Kiu. “Mereka adalah menantu kesayangan keluarga Buyung, yang seorang adalah ahli waris keluarga bangsawan Lamkiong, yaitu Lamkiong Liu, seorang lagi adalah cendekia dunia Kangouw dan juga menjabat ketua serikat Bu-lim propinsi Kwitang dan Kwisay, yaitu Cin Kiam.”
“Anak muda bangsawan begitu biasanya merupakan suatu lingkungan kecil tersendiri di dunia Kangouw dan suka meremehkan orang lain, tapi hari ini mereka sudi menyambangi Kang Piat-ho, tentu saja Kang Piat-ho menjamu mereka sehormat-hormatnya,” tutur Lo Sam pula.
“Jadi mereka anak menantu keluarga Buyung?” tukas Siau-hi-ji dengan mata terbelalak. “Aha, bagus, bagus sekali.”
“Dari ucapan saudara ini, jangan-jangan engkau kenal mereka?” tanya Lo Kiu.
“Meski aku tidak kenal mereka, tapi tadi aku telah melihat wajah mereka, yang satu pucat dan yang lain gagah, semuanya berpakaian sederhana tapi sangat serasi dipandang, betul tidak?”
“Betul, memang mereka itulah,” sahut Lo Kiu.
“Bukan saja kedua orang tersebut, konon keenam anak menantu keluarga Buyung yang lain juga akan segera menyusul kemari dalam waktu dua hari ini,” sambung Lo Sam. “Selain itu ada lagi seorang bakal menantu Giok-bin-sin-kun Koh Jin-giok
“O, jadi Koh Jin-giok juga datang bersama mereka?” Siau-hi-ji menegas.
“Betul,” jawab Lo Kiu.
“Orang-orang ini sama meluruk ke sini, apakah kalian tahu apa sebabnya?” tanya Siau-hi-ji.
“Konon salah seorang nona keluarga Buyung telah hilang dan kabarnya nona ini pernah terlihat berada bersama Hoa Bu-koat, makanya mereka sama menyusul ke sini untuk mencari kabar,” tutur Lo Sam.
“Tepatlah jika begitu, memang sudah kuduga kedatangan mereka pasti menyangkut persoalan ini,” ucap Siau-hi-ji sambil keplok.
“Apakah saudara juga kenal nona yang hilang itu?” tanya Lo Kiu.
Siau-hi-ji berlagak mengingat-ingat sejenak, lalu menjawab, “Rasanya seperti pernah melihatnya.”
“Jangan-jangan saudara tahu jejak nona itu?” tanya Lo Kiu pula sambil menatap anak muda itu.
Sama sekali Siau-hi-ji tidak memandang ke arah loteng, ia sengaja menarik muka dan menjawab, “Dari mana kutahu, memangnya aku menyembunyikan gadis orang?”
“Mana berani kumaksudkan begitu,” ucap Lo Kiu dengan tertawa, “cuma ….”
“Cuma nona yang sudah berusia 18-19 tahun masa bisa menghilang begitu saja?” sambung Lo Sam. “Mana mungkin pula disembunyikan orang? Apalagi setiap nona keluarga Buyung terkenal serba mahir ilmu silat maupun ilmu surat, kukira di balik persoalan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres.”
“Bisa jadi nona itu minggat bersama pacarnya, bisa juga dia terpengaruh oleh obat bius orang ….” Siau-hi-ji berlagak berpikir, mendadak ia terbahak-bahak dan berkata pula, “Haha, sungguh menarik persoalan ini, sungguh sangat menarik.”
Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu berkata, “Tapi kami bersaudara tidak melihat adanya sesuatu yang menarik dalam persoalan ini.”
Lo Kiu tertawa ngakak sambil memandang sekejap ke arah loteng, lalu berkata, “Selama setengah hari ini saudara pergi ke mana?”
“Selama setengah hari aku pun banyak melihat kejadian yang menarik dan juga melihat beberapa orang yang menarik, yang paling menarik di antaranya ialah ….” meski dia telah dikencingi orang, tapi sedikit pun ia tidak merasa malu, ia malah menceritakan pengalamannya itu dengan jelas, sembari menutur sambil tertawa sehingga mirip orang yang sedang bercerita kejadian yang lucu.
Setelah mendengar cerita anak muda itu, Lo Sam dan Lo Kiu juga tertawa, tapi tertawa di kulit dan tidak tertawa masuk ke daging, malahan air muka mereka menjadi rada pucat. Kedua orang saling mengedip, lalu Lo Kiu bertanya, “Entah bagaimana bentuk orang yang saudara lihat itu?”
“Orang itu berpotongan seratus persen mirip kaum gelandangan atau pencoleng pasar, di tempat ramai di mana pun kau dapat melihat orang begitu, namun tiada seorang pun yang mau memperhatikan orang semacam dia, maka di sinilah letak kelihaiannya. Bahwasanya orang yang tidak menarik perhatian dengan sendirinya akan jauh lebih mudah bilamana dia mau berbuat sesuatu yang busuk.”
Kembali Lo Kiu dan Lo Sam saling memberi isyarat, mendadak Lo Kiu berbangkit dan masuk ke kamar.
Siau-hi-ji mendengar suara membuka laci di dalam kamar, menyusul terdengar suara keresak-keresek gulungan kertas, habis itu Lo Kiu keluar pula dengan membawa segulung kertas yang sudah lusuh dan menguning.
Gulungan kertas itu sudah tua sehingga warnanya telah luntur, bahkan robek, namun Lo Kiu memandangnya seperti benda pusaka yang berharga, ia memegangnya dengan hati-hati dan prihatin serta ditaruh di atas meja di depan Siau-hi-ji, anehnya setengah badannya sengaja mengalingi Siau-hi-ji seakan-akan khawatir anak muda itu melihat benda mustikanya itu.
Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Kertas begini dibanting juga takkan hancur, jatuh juga takkan rusak, orang pun takkan tertarik untuk merampasnya, tapi kau memandangnya seperti benda pusaka saja.”
“Meski kertas ini sudah tua lagi rusak, tapi bagi sementara orang Bu-lim memang terpandang sebagai pusaka yang sukar dinilai, jika saudara mengira tiada orang yang ingin merebutnya, maka salah besarlah engkau,” kata Lo Kiu.
“He, jika begitu, barangkali kertas ini juga sebangsa peta harta karun? Jika betul demikian, ha, memandangnya saja aku tidak sudi.”
“Di dunia Kangouw memang tidak sedikit beredar ‘peta harta karun’ yang menipu orang, di antara sekian ribu helai peta begituan mungkin tiada satu pun yang tulen,” kata Lo Sam dengan tertawa. “Dari ucapan saudara tadi, jangan-jangan engkau juga pernah tertipu oleh peta begitu?”
“Akan tetapi peta kita ini bukanlah peta begituan ….” sambung Lo Kiu.
“Kau mengeluarkan kertas ini, mestinya hendak diperlihatkan padaku, mengapa kau mengalingi pula pandanganku?” tanya Siau-hi-ji.
“Biasanya kami memandang peta ini sebagai pusaka yang berharga, namun saudara kini bukan lagi orang luar, sebab itulah Cayhe mau mengeluarkannya,” tutur Lo Kiu. “Cuma … cuma saudara harus berjanji, setelah melihat gambar ini, betapa pun kau harus menjaga rahasia.”
Mau tak mau Siau-hi-ji jadi tertarik juga dan ingin tahu, tapi dia sengaja berbangkit dan menyingkir ke sana, katanya dengan tertawa, “Jika kalian tidak percaya padaku, lebih baik aku tidak melihatnya.”
Dengan tertawa cepat Lo Sam menanggapi, “Ah, kalau kami tidak percaya pada saudara mau percaya pada siapa lagi?”
“Jika begitu, coba katakan dulu gambar apa yang terlukis di situ dan akan kupertimbangkan mau melihatnya atau tidak,” kata Siau-hi-ji.
“Yang terlukis di gambar ini adalah wajah asli Cap-toa-ok-jin,” jawab Lo Kiu dengan suara berat.
Terbelalak mata Siau-hi-ji, tapi dia sengaja berkata acuh tak acuh, “Meski aku belum pernah melihat Cap-toa-ok-jin, tapi dari nama mereka dapat kubayangkan wajah mereka pasti buruk seperti siluman, memangnya apa perlunya memandang wajah mereka yang buruk itu dan untuk apa pula orang ingin merebut gambar ini?”
“Saudara tahu bahwa Cap-toa-ok-jin ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi, semuanya suka berbuat jahat, entah berapa banyak orang Kangouw yang pernah dicelakai mereka ….” sampai di sini penuturan Lo Kiu, segera Lo Sam menyambungnya, “Tapi jejak kesepuluh orang ini justru tidak menentu, semua pandai menyamar pula, maka banyak orang yang dikerjai mereka, tapi bagaimana wajah musuh itu tidak pernah dilihatnya, karena itu pula sukarlah untuk menuntut balas dan dendam tetap tak terlampiaskan.”
“Ah, tahulah aku sekarang,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Kiranya orang ingin merampas gambar ini, tujuannya agar dapat mengenali wajah asli kesepuluh wajah top penjahat ini supaya bisa mencari mereka untuk menuntut balas.”
“Ya, memang begitulah,” seru Lo Sam.
“Tapi mereka tiada permusuhan apa pun dengan aku, untuk apa kalian suruh aku melihat potret mereka?” tanya Siau-hi-ji.
Lo Kiu tersenyum misterius, katanya, “Apa betul saudara tidak bermusuhan dengan mereka?”
Tiba-tiba Siau-hi-ji ingat sesuatu, jawabnya, “Jangan-jangan kalian maksudkan gelandangan yang berlagak mampus itu pun salah satu dari Cap-toa-ok-jin?”
Lo Kiu tidak menjawabnya melainkan menyingkir ke samping, lalu ia tunjuk salah seorang yang terlukis di gambarnya dan berkata, “Boleh saudara melihatnya sendiri, bukankah dia inilah pencoleng yang mengerjaimu itu?”
Di atas kertas yang sudah menguning itu memang benar terlukis sepuluh orang, akan tetapi kalau dihitung dengan teliti, sebenarnya yang terlukis bukan hanya sepuluh orang melainkan ada sebelas orang. Semuanya terlukis dengan goresan yang hidup. Seorang di antaranya berbaju putih mulus, mukanya pucat, jelas dia ini “Hiat-jiu” Toh Sat, si tangan berdarah.
Di sebelah Toh Sat terlukis seorang yang sedang menengadah dan tertawa, dengan sendirinya ialah Si Budha tertawa Ha-ha-ji dengan filsafat hidupnya yang terkenal, yaitu “tertawa sambil menikam”.
Sebelahnya lagi adalah seorang perempuan cantik dan genit, terang dia ini Siau Mi-mi, si tukang pikat tanpa ganti nyawa. Dan di sampingnya adalah Li Toa-jui yang memegang sebuah kepala manusia dengan wajah murung, si tukang makan daging manusia ini terkenal dengan julukan “Put-sip-jin-thau” atau tidak makan kepala manusia.
Lalu seorang terlukis berdiri remang-remang di tengah kabut, tak perlu diterangkan lagi dia adalah Im Kiu-yu, si setengah manusia setengah setan. Dan orang yang berada di sebelah Im Kiu-yu terlukis berkepala dua, bagian kepala sebelah kiri berwajah nona cantik, bagian kepala sebelah kanan terlukis wajah pemuda cakap, terang dia inilah To Kiau-kiau, si banci.
Orang-orang ini entah sudah berapa ribu kali dilihat oleh Siau-hi-ji, ia merasa lukisan ini memang sangat hidup, sampai-sampai sikap dan mimik wajah setiap orang yang dilukis itu pun mirip benar.
Diam-diam Siau-hi-ji memuji pelukisnya yang mahir itu, ia menjadi heran siapakah pelukisnya itu? Kalau bukan orang yang sangat karib dengan ke-10 top penjahat itu mana bisa melukisnya sedemikian hidup?
Lalu Siau-hi-ji melihat pula Han-wan Sam-kong, si setan judi yang bertubuh gagah itu, di sebelahnya adalah seorang berewok dan berwajah beringas, matanya melotot seperti harimau hendak menerkam mangsanya, tangan memegang golok besar berlumuran darah.
“Wajah orang ini sungguh menakutkan, entah siapa dia?” demikian Siau-hi-ji sengaja bertanya.
“Dia inilah Ong-say Thi Cian, si singa gila,” tutur Lo Kiu.
“Meski bentuk orang ini tampaknya buas menakutkan, padahal dia dapat dikatakan orang yang paling alim di antara Cap-toa-ok-jin, asalkan orang lain tidak merecoki dia, maka dia juga tidak mengganggu orang,” sambung Lo Sam dengan tertawa.
“Tapi kalau orang mengganggu dia, lalu bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.
“Wah, kalau dia diganggu, maka celakalah tujuh turunan orang itu,” tutur Lo Sam. “Singa Gila itu pasti akan mengamuk dan membunuh habis-habisan segenap makhluk berjiwa di rumah musuhnya.”
“Haha, kalau orang begitu dianggap alim, maka aku boleh dianggap sebagai nabi,” ucap Siau-hi-ji. Meski bicara mengenai orang lain, tiba-tiba teringat olehnya akan diri Thi Sim-lan, terbayang senyuman si nona yang menggiurkan serta sorot matanya yang sayu itu, seketika hatinya merasa pedih, cepat ia berseru pula, “Dan siapa lagi yang dua orang ini?”
Dua orang yang ditanyakan ini jelas adalah saudara kembar, keduanya sama-sama kurus kering, tulang pipi menonjol, yang satu membawa Swipoa, yang lain membawa buku utang piutang, dandanan mereka mirip saudagar besar yang kaya raya, tapi potongan tubuh dan sikap mereka lebih mirip setan kelaparan yang kabur dari neraka.
Dengan tertawa Lo Kiu menjawab, “Kedua orang ini adalah saudara kembar sekandung, keduanya senantiasa berada bersama, A tidak meninggalkan B dan B juga tidak pernah berpisah dengan A. Meski Cap-toa-ok-jin resminya disebut Cap (sepuluh), padahal sesungguhnya berjumlah sebelas orang, hanya saja orang Kangouw menganggap kedua saudara kembar ini sebagai satu orang.”
“Kedua saudara kembar ini she Suma,” sambung Lo Sam, “Yang satu berjuluk ‘adu jiwa juga ingin untung’ dan yang lain berjuluk ‘mati pun tidak mau rugi’, Dari julukan mereka ini tentu saudara dapat membayangkan mereka ini manusia macam apa?!”
Segera Lo Kiu menyambung pula, “Meski nama Cap-toa-ok-jin sangat terkenal, tapi rata-rata mereka adalah orang miskin, hanya kedua saudara kembar inilah yang kaya raya, hartawan besar.”
“Pantas saja,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, “Yang satu mati-matian cari untung dan yang lain tidak mau rugi, kalau mereka tidak kaya kan mustahil. Pantas mereka senantiasa membawa Swipoa serta buku, mungkin khawatir harta kekayaan mereka akan dikerjai orang lain.”
“Betul, memang begitulah,” kata Lo Kiu.
Lalu Lo Sam menunjuk orang terakhir pada lukisan itu, katanya, “Tapi watak orang ini justru sama sekali terbalik daripada kedua saudara kembar ini, selama hidup orang ini paling suka membikin susah orang, menipu dan menjebak orang, soal apakah dia sendiri mendapatkan untung atau tidak, sama sekali tak terpikir olehnya.”
“Dia sendiri tidak mendapatkan untung, malahan terkadang dia harus tombok, namun baginya bukan soal, asalkan dia melihat orang yang dikerjainya itu kelabakan setengah mati dan mau menangis, maka hal ini dianggapnya kejadian yang paling menyenangkan baginya,” demikian tukas Lo Kiu.
“Hah, orang demikian sungguh jarang ada, dia ….” mendadak Siau-hi-ji berseru, “He, betul, itulah dia, yaitu orang yang berlagak mati dan mengencingi diriku itu.”
Orang-orang yang terlukis itu ada yang duduk dan ada yang berdiri, hanya yang terakhir inilah yang terlukis sedang berjongkok di pojok bawah, tangan yang satu lagi korek-korek celah jari kaki, sehingga mengingatkan orang akan penyakit eksim yang gatal itu, sedang tangan yang lain terangkat di depan hidung seperti lagi mengendus-endus baunya.
Kalau orang yang terlukis itu rata-rata juga bersikap menonjol sebagaimana umumnya orang yang ada nama, hanya orang terakhir inilah yang kelihatan munduk-munduk, takut-takut, cengar-cengir persis seorang pencoleng kecil-kecilan.
“Nah, saudara sudah melihat jelas?” demikian Lo Kiu menegas.
“Betul, sedikit pun tidak salah, memang betul dia ini,” seru Siau-hi-ji pula. “Meski wajahnya sudah tersamar, tapi lagak lagunya, cengar-cengirnya yang khas ini sekali-kali tidak bisa keliru.”
“Ya, makanya begitu Cayhe mendengar cerita saudara tentang tindak tanduk pencoleng itu segera kuduga pasti dia ini orangnya,” kata Lo Kiu.
“Siapa nama orang ini?” tanya Siau-hi-ji.
“Orang ini she Pek, ia sendiri mengaku bernama Khay-sim,” jawab Lo Kiu.
“Tapi orang-orang Kangouw menambahkan pula sebuah julukan baginya, yaitu ‘bikin rugi orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’, dengan demikian lengkaplah dia terkenal sebagai Pek Kay-sim (gembira percuma), setelah bikin rugi orang lain tanpa menarik keuntungan apa-apa.”
“Haha, namanya benar-benar cocok dengan perbuatannya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa geli. “Dia memalsukan nama orang lain untuk mengirim Wan-lian berduka cita, berlagak mati untuk menipu orang, semua ini memang merugikan orang lain tapi tidak menguntungkan dia sendiri. Malahan dia harus tombok membeli kain putih dan membuang tenaga percuma.”
“Di dunia Kangouw terdapat macam-macam penjahat, tapi orang yang khusus berbuat merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri hanya dia saja seorang, makanya kami bersaudara …”
Belum selesai ucapan Lo Kiu, mendadak Siau-hi-ji memotong, “Makanya kalian lantas ingat akan dia begitu mendengar ceritaku tadi, jangan-jangan kalian memang kenal baik padanya.”
Lo Kiu meraba-raba dagunya yang gemuk itu, jawabnya dengan tertawa, “Jelek-jelek kami bersaudara tidak sampai bergaul dengan manusia begitu.”
Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula sambil menatap Lo Kiu, “Kukira kalian kenal benar dengan dia, bahkan kenal baik Cap-toa-ok-jin, kalau tidak masakah kalian sedemikian jelas terhadap tingkah laku setiap pribadi Cap-toa-ok-jin ini dan mengapa lukisan ini berada pula padamu.”
Air muka Lo Kiu tampak berubah, tapi Lo Sam lantas menyela, “Bicara terus terang, sesungguhnya Cap-toa-ok-jin adalah musuh besar kami, soalnya ayah ibu kami justru terbunuh oleh mereka.”
Keterangan ini rada di luar dugaan Siau-hi-ji, katanya, “O, bet … betulkah demikian?”
“Untuk menuntut balas, kami telah berdaya upaya dengan segala jalan dan akhirnya mendapatkan lukisan ini,” tutur Lo Kiu. “Dengan macam-macam usaha lain kami berhasil menyelidiki dan mendapat keterangan sejelas-jelasnya mengenai tindak-tanduk mereka.”
“Jika begitu, mengapa kalian tidak memperlihatkan lukisan ini kepada umum agar orang lain juga mencari perkara kepada mereka, tapi apa sebabnya kalian malah merahasiakan mereka?”
Lo Kiu menyeringai, jawabnya, “Jika kalian menghadapi kejadian yang menyenangkan, apakah kau mau merasakannya bersama orang lain?”
“Masa ini termasuk urusan yang menyenangkan?” ujar Siau-hi-ji.
“Kami sudah berusaha dengan macam-macam daya upaya, dengan susah payah akhirnya kami akan dapat menuntut balas, bilamana kami membayangkan betapa senangnya nanti kalau kami membunuh musuh dengan tangan sendiri, apakah kami dapat membiarkan mereka mati di tangan orang lain?” kata Lo Kiu dengan gemas.
Siau-hi-ji mengangguk, katanya, “Ya, beralasan juga dan masuk akal.”
Dengan hati-hati, Lo Kiu menggulung pula lukisan tua itu, katanya kemudian, “Sebab itulah bila nanti saudara bertemu pula dengan Pek Khay-sim itu, hendaklah engkau suka memperhatikannya bagi kami.”
“Jika saudara dapat menyelidiki di mana jejaknya, tentu kami akan lebih-lebih berterima kasih,” sambung Lo Sam.
Sinar mata Siau-hi-ji gemerlap, katanya, “Baik, Pek Khay-sim bagianmu, tapi Kang Giok-long bagianku, betapa pun kalian harus menahannya bagiku, paling baik apabila orang lain tidak menyentuhnya sama sekali.”
“Sudah tentu,” seru Lo Kiu dengan tertawa.
“Eh, bapaknya menjamu tamu, tentu putranya juga hadir, jadi tadi kalian telah bertemu dengan. dia,” tanya Siau-hi-ji.
“Di sinilah keanehannya,” tutur Lo Kiu, “Bahwa Kang Piat-ho menjamu tamu, tapi Kang Giok-long tidak ikut hadir.”
Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Masa bangsat cilik itu tidak berani menongol lagi di depan umum? Padahal menghadapi tokoh pujaan semacam Lamkiong Liu dan Cin Kiam itu mustahil ayahnya tidak menyuruh dia mendekati mereka?”
“Bisa jadi bangsat cilik itu sudah pecah nyalinya menghadapi saudara,” ujar Lo Kiu.
Siau-hi-ji melirik sekejap ke loteng, lalu berkata dengan tertawa, “Ya, melihat seorang yang pernah dipukul mati olehnya tahu-tahu hidup kembali di depannya, tak peduli siapa pun pasti juga akan ketakutan hingga kehilangan ingatan sehat dan tidak berani lagi menemui orang.”
Ucapan ini dengan sendirinya mengandung arti lain, hanya saja kedua Lo bersaudara itu tidak pernah menyangka kalau Siau-hi-ji ada sangkut-pautnya dengan anak perempuan yang linglung dan sembunyi di atas loteng itu, malahan mereka lebih-lebih tidak menyangka bahwa anak perempuan yang kehilangan ingatan itu justru adalah Buyung Kiu.
Karena melihat Siau-hi-ji melirik ke arah loteng, kedua Lo bersaudara lantas berbangkit sambil tertawa, kata mereka, “Sudah larut malam mungkin saudara perlu istirahat.”
“Betul, memang aku perlu istirahat,” ucap Siau-hi-ji tertawa sambil berdiri dan lantas melangkah keluar.
Keruan kedua Lo bersaudara melengak, Lo Kiu menuding ke atas loteng, katanya, “Apakah malam ini saudara tidak tidur saja di atas sana?”
Siau-hi-ji sudah melangkah keluar pintu, ia menjawab sambil menoleh, “Di atas sana banyak sarang labah-labah, aku tak dapat tidur, biarlah kudatang lagi besok pagi … jika ada kabar beritanya Kang Giok-long, jangan lupa, harap kalian suka menyampaikan keterangan padaku.”
Melihat kepergian Siau-hi-ji itu Lo Kiu bergumam, “Sarang labah-labah, labah-labah apa?…. Eh, kaukira bocah ini waras atau tidak?”
“Tidak waras apa persetan dengan dia,” jawah Lo Sam. “Dia cuma pura-pura bodoh dan berlagak sinting saja, sebaiknya kita harus waspada, jangan sampai kapal terbalik di selokan, tidak berhasil memperalat dia, sebaliknya malah diperalat olehnya.”
Lo Kiu terkekeh-kekeh, katanya, “Biarpun isi perut anak ini penuh akal busuk, tapi seberapa hebat kalau dibandingkan kita?”
“Hehe, betapa pun banyak orang busuk di dunia ini, tapi siapa yang dapat membandingi kita?” sambung Lo Sam.
Malam sudah larut, tempat kediaman Lo bersaudara itu sudah sepi, Siau-hi-ji berputar melintasi dua jalanan di sekitar situ. Dilihatnya perumahan sekitarnya rata-rata rumah biasa, selain rumah berloteng kecil tempat Lo Kiu itu, hanya tidak jauh di sebelah timur sana ada sebuah gedung berloteng yang jauh lebih tinggi daripada rumah sekelilingnya.
Perlahan Siau-hi-ji menuju ke sana, setelah memutar ke ujung tembok sana dan berputar pula sekeliling, setelah cahaya lampu di gedung itu sudah padam, dengan enteng ia lantas melompat ke atas rumah, ia mendekam dibalik wuwungan yang gelap.
Bulan terang dan bintang jarang-jarang, suasana sunyi senyap, dipandang dari jauh jendela loteng kecil itu telah terbuka dengan sinar lampu yang remang-remang, tampak Buyung Kiu bertopang dagu menghadapi lampu, agaknya sedang melamun.
Sekonyong-konyong terdengar angin berkesiur, sesosok bayangan hitam bagai hantu saja melayang ke atas wuwungan, lalu mendekam juga di situ serta memandang jauh ke loteng kecil sana.
Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya “Ternyata cocok dengan dugaanku, dia benar-benar datang.”
Di sebelah sana Buyung Kiu tampak termangu-mangu sehingga tidak mengetahui bahwa di sebelahnya masih mendekam seorang. Hanya sepasang biji matanya tampak gemerlap dalam kegelapan, sekujur badannya seakan-akan tenggelam juga di tengah kegelapan.
Bayangan hitam ini bukan lain daripada Oh-ti-tu, si labah-labah hitam. Sinar mata yang biasanya tajam itu kini seperti buram dan memandang jauh ke sana dengan kesima tanpa peduli bajunya sudah basah oleh embun.
Mendadak Siau-hi-ji mengikik tawa dan berkata, “Malam sunyi senyap, termenung-menung untuk siapa gerangan?”
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Oh-ti-tu sudah berada di depannya sambil membentak tertahan, “Siapa?”
“Selain aku siapa lagi?” sahut Siau-hi-ji.
Sinar mata Oh-ti-tu gemerdep seperti cahaya kilat, tapi akhirnya tidak jadi mengumbar marah, katanya pula, “Kau lagi?”
“Jarak dari sini ke sana kan tidak jauh, mengapa kau tidak melayang ke sana saja?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.
“Memangnya kudatang untuk … untuk dia?!” jawab Oh-ti-tu, meski wajahnya tidak kelihatan, namun suaranya terdengar rada-rada kikuk.
Namun Siau-hi-ji tidak berolok-olok lagi, ia tanya, “Bukan untuk dia, habis untuk siapa?”
“Dengan sendirinya kedua Lo bersaudara itulah sasaranku.”
“O, begitukah?” Siau-hi-ji tertawa.
“Asal-usul kedua orang itu penuh tanda tanya, tindak tanduknya mencurigakan, sudah dua-tiga bulan kuintai mereka dengan tujuan membongkar rahasia mereka itulah.”
“Dan apa pula hubungannya dengan dirimu?”
“Siapa gerangan di dunia ini yang tidak tahu diriku Oh-ti-tu ini paling suka ikut campur urusan orang lain?”
“Tapi urusan kedua Lo bersaudara ini apakah berharga untuk kau ikut mengurusnya?”
“Betapa pun besar ambisi kedua orang ini, kalau kukatakan mungkin kau pun akan kaget.”
“O, ya?!” Siau-hi-ji heran.
“Kutahu rencana keji mereka, biar orang baik maupun jahat, baik golongan hitam atau kalangan putih, semuanya adalah sasaran mereka. Tampaknya mereka sengaja hendak memecah belah dan mengadu domba agar setiap orang persilatan saling gontok-gontokan, saling bunuh membunuh, dengan demikian mereka yang akan menarik keuntungannya. Sampai sekarang entah berapa banyak korban telah jatuh akibat muslihat mereka itu. Tahukah kau gontokan antara Put-hay-pang dan Ui-hay-pang yang terjadi dua bulan yang lalu serta pertarungan sengit antara Lo-san-pang dan Gway-to-bun sebulan yang lampau? Banjir darah yang terjadi itu justru akibat hasutan kedua Lo bersaudara ini.”
“Jika kau tahu sejelas itu, mengapa kau tidak tampil ke muka?” tanya Siau-hi-ji.
“Pertama aku belum memegang buktinya, kedua orang-orang yang menjadi sasaran mereka itu pun bukan manusia baik-baik. Ketiga, aku ingin membongkar seluk-beluk perbuatan keji mereka baru akhirnya kulabrak mereka.”
“Menurut dugaanmu, siapakah mereka?”
“Semula kusangka mereka adalah anggota Cap-toa-ok-jin, tapi kemudian ….”
“Kemudian bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.
“Setelah kuselidiki baru diketahui bahwa di antara Cap-toa-ok-jin itu tiada terdapat dua orang seperti mereka ini.”
“Bisa jadi tidak ada, tapi ….” Siau-hi-ji tertawa, lalu menyambung, “Jadi tujuanmu bukan untuk nona itu?”
Oh-ti-tu terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Memang juga ada.”
“Tahukah kau siapa dia?”
“Aku cuma tahu dia adalah anak perempuan yang harus dikasihani dan malang terjatuh ke dalam cengkeraman orang jahat ini.”
“Makanya kau ingin melindungi dia?”
“Ya, setiap orang yang harus dikasihani di dunia tentu akan kulindungi.”
“Jika begitu, mengapa kau tidak menyelamatkan dia dan membawanya pergi?”
Sinar mata Oh-ti-tu yang gemerlap itu mendadak berubah buram, namun di mulut justru tertawa dan berkata, “Jika sudah kutolong dia, lalu apakah dia harus mengikuti aku?”
“Apa jeleknya ikut kau?”
“Tapi apakah kau tahu bagaimana kehidupanku?” kata Oh-ti-tu dengan suara bengis. “Sepanjang tahun hdupku terlunta-lunta tiada menentu, makan pagi belum tentu makan siang, malamnya masih hidup belum pasti besoknya apakah masih hidup. Hidupku tidak punya rumah, kalau mati juga tidak tahu mati di mana?!”
“Dengan kepandaianmu, sebenarnya kau kan dapat hidup enak?”
“Tapi aku sudah memilih kehidupan begini, terpaksa harus tetap berlangsung terus, ingin mengubahnya juga sukar lagi. Seumpama aku sendiri tidak ingin hidup cara begini, mungkin orang lain pun takkan mengizinkan ….” Oh-ti-tu mengepal, lalu berseru dengan suara serak, “Kehidupan begini jelas tak mungkin diikuti oleh dia.”
“Asal kau suka padanya dan dia juga suka padarnu, kehidupan yang pahit bagaimana pun juga akan membuatnya bahagia,” ujar Siau-hi-ji.
Mendadak sinar mata Oh-ti-tu memancarkan sinar kepedihan, ucapnya dengan tersenyum getir, “Siapa bilang aku menyukai dia?! Orang seperti diriku ini tidak pantas menyukai siapa pun juga dan juga tidak boleh ….”
“Jadi seumpama kau suka padanya, terpaksa perasaan demikian kau simpan di dalam hati saja, begitu?”
“Ah, omong-kosong!” mendadak Oh-ti-tu melengos.
“Tadinya kusangka kau ini berdarah dingin, tapi sekarang … sekarang dapat kuketahui bahwa kau sesunggguhnya juga seorang yang berperasaan halus,” kata Siau-hi-ji dengan gegetun.
Mendadak Oh-ti-tu berbangkit dan mengomel, “Ah, anak muda serupa kau ini tahu apa? Sudahlah, jangan bicara urusan ini lagi.”
“Haha, kalau isi hatinya kena diketahui orang kan tidak perlu bersikap segalak ini, dong!”
Oh-ti-tu memandangnya sejenak. Mendadak ia bergelak tertawa, ia pegang tangan Siau-hi-ji, katanya, “Akhir-akhir ini aku mendapatkan seorang sahabat pula, hari ini dia telah membeli dua poci arak dan memasak satu kuali daging, marilah aku pun mengundangmu ikut hadir dan ikut makan.”
“Baiklah,” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Orang yang dapat diterima menjadi sahabatmu tentulah orang yang cukup menarik.”
Begitulah mereka terus berlari ke sana, Siau-hi-ji selalu mengintil rapat di belakang Oh-ti-tu. “Tampaknya Ginkangmu telah maju pesat,” ucap Oh-ti-tu sambil menoleh.
“Terima kasih,” jawab Siau-hi-ji tertawa.
“Sahabatku yang baru itu pun serba pintar silat maupun surat, setelah kau kenal dia tentu kau pun akan suka padanya.”
“O, siapakah namanya?” tanya Siau-hi-ji.
“Orang berbakat tidak perlu harus punya nama. Dia sendiri mengaku she Koh bernama Goat-gian, meski namanya tidak terkenal, tapi jauh lebih unggul daripada tokoh-tokoh yang termasyhur.”
Tengah bicara mereka sudah berada di luar kota, terlihat hutan membentang di depan, samar-samar seperti ada berkelipnya sinar api, setelah dekat, tertampak sebuah “sutheng”, yakni rumah abu leluhur keluarga, yang sudah bobrok.
Rumah bobrok demikian inilah kediaman kaum gelandangan dan cahaya api itu pun keluar dari tempat ini. Sampai di sini sudah tercium bau sedapnya daging rebus.
Dengan tertawa Siau-hi-ji berseloroh, “Tampaknya sahabatmu ini bukan cuma serba pandai silat dan surat saja, bahkan juga koki kelas satu.”
“Memangnya hidup kaum gelandangan hanya suka makan besar sekali tempo, masakah ada kenikmatan lainnya lagi?” ucap Oh-ti-tu.
Segera mereka melayang masuk ke rumah pemujaan yang bobrok itu, terlihat di tengah halaman ada api unggun dan di atasnya bergantungan sebuah kuali besar, dari situlah bau sedap daging rebus tercium. Di samping kuali sudah tersedia mangkuk dan sumpit, di dalam mangkuk malah sudah penuh tertuang arak, cuma tiada tertampak seorang pun di situ.
Oh-ti-tu celingukan ke sana sini sambil berseru, “Koh-laute … Koh-laute, kuberikan seorang teman lagi, lekas keluar berkenalan.”
Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli akan watak Oh-ti-tu yang tidak berubah itu, yakni suka menjadi Toako dan orang lain dianggapnya sebagai adik.
Meski Oh-ti-tu sudah berkaok-kaok beberapa kali, tetap tiada jawaban, dia keluar untuk mencari dan tetap tidak diketemukan, akhirnya ia terus duduk dan berkata, “Koh-laute ini memang aneh, mungkin pantatnya lancip, tidak betah duduk dengan tenang, kini entah lari ke mana, biarlah, kita tak perlu menunggunya, makan dulu, urusan belakang.”
“Cocok dengan pikiranku,” sambut Siau-hi-ji dengan gembira, sumpit segera dipegangnya.
Akan tetapi baru saja sepotong daging ia masukkan ke mulut, lalu sumpit ditaruh kembali, mulut pun tidak mengunyah, agaknya daging dalam mulut itu sukar tertelan. Padahal mulut Oh-ti-tu sudah bekerja seperti mesin pabrik, tujuh-delapan potong daging sudah masuk perutnya.
Oh-ti-tu hanya menyingkap sedikit kedoknya, yakni bagian mulut ditarik ke atas hidung sehingga kelihatan mulutnya yang lebar dengan bibir tipis itu, cara makannya yang rakus itu sungguh mirip orang kelaparan.
Setelah belasan potong daging dilansir ke perut, lalu Oh-ti-tu mendorongnya dengan semangkuk arak, habis itu barulah dia pandang Siau-hi-ji sambil menyengir, “Empuk dan