Di luar sana adalah serambi yang panjang, pada ujung serambi sana ada sebuah rumah kecil, di dalam rumah sana tampak cahaya api, yaitu api tungku yang sedang berkobar, si kakek bisu-tuli itu tampak berjongkok di tepi tungku lagi masak air.
Tanpa bergerak sedikit pun kakek itu berjongkok di situ, tenang dan tenteram dia menantikan mendidihnya air yang dimasaknya.
Selama hidupnya dia sudah biasa “menunggu” dan entah sudah berapa lama dia akan “menunggu” lagi? Terhadap soal “menunggu” sudah tentu dia jauh lebih paham dan lebih bersabar daripada orang muda. Walaupun ia menyadari bahwa manusia yang sebaya dengan usianya sekarang, selain “mati” kiranya tiada sesuatu lagi yang perlu ditunggu dan tentu juga tiada sesuatu yang dapat diharapkan pula.
Dalam pada itu Kang Piat-ho sudah berada tidak jauh di belakang kakek loyo itu, mendadak ia membentak dengan bengis, “Bagus, mirip benar penyamaranmu, tapi betapa pun juga akhirnya toh konangan, sekarang serahkan jiwamu padaku!”
Habis berkata, secepat kilat ia melompat maju, telapak tangannya terus menghantam batok kepala kakek itu.
Tapi seperti tidak tahu apa-apa, kakek itu hanya menengadah saja dan tersenyum kepada sang majikan sambil menuding cerek air yang sedang dimasaknya, sikapnya seakan-akan hendak berkata, “Air sudah mendidih, segera akan kuseduhkan teh bagimu.”
Telapak tangan Kang Piat-ho yang menghantam itu akhirnya jatuh perlahan di atas pundak si kakek. Betapa pun ia menjadi ragu-ragu pada detik terakhir. Apabila si kakek dapat mendengar sepatah katanya saja, mustahil sikap dan senyumnya dapat begitu tenang dan wajar.
Sudah tentu Kang Piat-ho tidak tahu bahwa ada sementara orang terkadang memang dapat tersenyum dengan tenang dan wajar sekalipun menghadapi maut yang akan merenggut jiwanya.
Orang demikian memang jarang-jarang ada, satu di antaranya misalnya Siau-hi-ji ….
*****
Bintang berkelip-kelip dengan cahayanya yang suram menyinari wajah Hoa Bu-koat, wajah yang putih bersih tanpa cacat.
Sang pangeran yang didambakan setiap gadis di dunia ini mesti beginilah bentuknya. Hoa Bu-koat, model pemuda yang paling sempurna di kolong langit ini.
Sambil memandangi seterunya itu, tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Tahukah bahwa namamu ‘Bu-koat’ sungguh sangat bagus dan tepat, memang betul kau tiada sesuatu kekurangan, tiada cacat … kau berasal dari tempat yang diagungkan dunia persilatan, yang namanya paling termasyhur dan disegani. Kau muda dan cakap, segala keperluanmu serba kecukupan, tidak pernah khawatir kekurangan uang. Ilmu silatmu dapat membuat setiap orang Kangouw tunduk dan menghormat padamu. Kecakapanmu, tutur katamu dan sikapmu yang menarik dapat pula membuat setiap gadis di dunia ini tergila-gila padamu. Namun juga suci bersih tanpa cela, bahkan di belakangmu juga orang lain tiada alasan buat menista dirimu.”
Siau-hi-ji menggeleng-geleng, lalu menambahkan dengan tertawa, “Jika di dunia ini ada manusia yang sempurna tanpa cacat, maka orang itu ialah dirimu.”
“Terima kasih banyak-banyak atas pujianmu,” ucap Hoa Bu-koat dengan tersenyum.
“Akan tetapi sekarang tiba-tiba kutemukan sesuatu, sesuatu atas dirimu, bahwa kau ternyata juga ada sesuatu kekurangan,” sambung Siau-hi-ji dengan perlahan.
“O, apa itu?” tanya Hoa Bu-koat, seperti acuh tak acuh.
“Perasaan!” jawab Siau-hi-ji. “Kekuranganmu adalah perasaan, ya, perasaan. Dari ubun-ubun sampai ujung jari kakimu sudah kulihat bahwa kekuranganmu hanyalah perasaan, kau ini manusia sempurna yang minus perasaan. Darah yang mengalir di tubuhmu mungkin adalah darah dingin.”
“O, begitukah?” Hoa Bu-koat hanya tersenyum hambar saja.
“Tentunya kau tidak dapat menerima tuduhanku ini, bukan?” tanya Siau-hi-ji. “Baik, coba jawab, apakah kau benar-benar paham artinya cinta? Tahukah apa itu benci atau dendam? Pernahkah kau rasakan bagaimana rasanya cinta dan bagaimana rasanya benci?”
Ia melangkah terus ke depan sambil menyambung pula, “Kuyakin, bahkan kekesalan dan kerisauan juga tak pernah kau rasakan. Umpamanya sakit, ketuaan, masygul, kemiskinan, kecewa, berduka, malu, gusar … semua ini adalah penderitaan yang tak dapat dihindari oleh manusia umumnya, akan tetapi, kau tidak kenal semua itu, tiada satu pun yang pernah kau rasakan, semua itu tiada terdapat dalam kamus hidupmu …. Coba, seorang yang sama sekali tidak kenal apa artinya siksa derita, cara bagaimana pula dapat mengetahui betapa rasanya bahagia?”
Setelah menghela napas, perlahan-lahan Siau-hi-ji menyambung lagi, “Kalau toh kau tidak pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh dan juga tidak pernah membenci atau dendam pada seseorang, kau tidak memiliki kesukaran, tidak tahu penderitaan dan juga tidak paham kebahagiaan … orang lain mungkin akan kagum padamu, tapi aku justru berpendapat manusia hidup seperti dirimu ini pada hakikatnya tidak ada artinya.”
Hoa Bu-koat termenung sejenak, sikapnya masih tetap tenang-tenang saja tanpa memperlihatkan sesuatu perubahan perasaan, dia cuma tersenyum hambar saja, katanya kemudian, “Mungkin apa yang kau katakan ini memang betul, bisa jadi pengaruh lingkungan yang membuat diriku menjadi begini.”
“Betul,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum getir, “Hanya Ih-hoa-kiong saja yang dapat menciptakan manusia seperti dirimu dan menjadikanmu manusia patung, patung hidup. Meski kau senantiasa ramah tamah dan sopan santun terhadap siapa pun juga, tapi dalam hati pasti tidak pernah menganggap mereka pantas dihormati, biarpun kau selalu bersikap halus kepada setiap anak perempuan, tapi kau pun pasti tidak benar-benar menyukai mereka.”
Lalu ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, “Seumpama kau hendak membunuh orang, dalam hatimu juga belum pasti menganggap orang itu memang harus dibunuh.”
“Ya, semua ini memang harus disesalkan,” ujar Hoa Bu-koat.
“Baiklah, ucapanku sudah habis, silakan mulai turun tangan saja,” kata Siau-hi-ji akhirnya sambil menengadah dan tertawa. “Aku pun ingin tahu sesungguhnya kau dapat membunuhku dalam berapa jurus serangan.”
“Apakah kau ingin memakai senjata?” tanya Bu-koat.
“Aku tidak membawa senjata,” jawab Siau-hi-ji.
“Jika kau ingin memakai senjata dapat kutemani kau pergi ke tempat yang terdapat senjata dan nanti boleh kau pilih sesukamu,” kata Bu-koat.
“Sudah terang kau tahu sekali-kali aku bukan tandinganmu sekali pun aku memakai senjata, sudah jelas kau hendak membunuhku, tapi sikapmu masih begini halus dan begini sopan padaku,” ujar Siau-hi-ji tersenyum getir “Jika dilihat orang lain, tentu kau dianggap keji dan culas. Akan tetapi aku cukup kenal dirimu, aku tahu pasti engkau bukan manusia yang demikian itu, sebab pada hakikatnya kau tidak kenal apa artinya pura-pura, apa artinya munafik, sebab kau memang tidak perlu munafik dan apalagi berpura-pura.”
“Sesungguhnya kau sangat memahami diriku,” ucap Bu-koat.
“Makanya mungkin sangat sulit jika kau ingin mencari lagi seorang yang dapat memahami dirimu seperti aku ini,” kata Siau-hi-ji.
“Ya, memang betul,” tukas Bu-koat dengan gegetun.
Siau-hi-ji mengusap bibirnya yang terasa kering itu, katanya pula, “Rasanya aku tidak perlu menggunakan senjata, silakan saja kau turun tangan sekarang.”
Hoa Bu-koat menengadah memandang angkasa raya yang kelam itu, angin musim rontok meniup berdesir membawa daun kering yang rontok, cahaya bintang semakin redup, jagat raya ini serasa diliputi kesunyian yang mencekam. Dengan rasa hampa ia bergumam, “Hawa begini ….”
“Hawa begini memang sangat cocok untuk membunuh orang,” tukas Siau-hi-ji.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara Thi Sim-lan menyambung, “Hawa begini sungguh membuatku menggigil kedinginan ….” tahu-tahu nona itu telah muncul di antara mereka dalam keadaan luar biasa … dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
Cahaya bintang yang redup itu dengan halus menyinari sekujur badan Thi Sim-lan.
Tubuh yang putih bersih mulus itu tampaknya seperti ukiran gading karya ahli pahat yang tiada taranya.
Rasanya di dunia ini sukar dicari tubuh gadis telanjang yang semulus, seindah dan secemerlang ini, sungguh membuat orang sesak napas melihat tubuh yang mulus ini.
Seketika napas Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat juga seakan-akan berhenti. Dengan terputus-putus Hoa Bu-koat berkata, “Kau … kenapa kau ….”
Thi Sim-lan berpaling menghadapi Hoa Bu-koat, katanya dengan hampa, “Bagus tidak tubuhku ini?” Dada yang montok itu tampak bergerak naik turun, di bawah cahaya bintang yang redup itu tampaknya sedemikian menggiurkan, mustahil laki-laki di dunia ini takkan menelan air liur bila melihat tubuh yang mulus begitu.
Tanpa terasa Hoa Bu-koat memejamkan matanya, katanya dengan gemetar, “Kau … kau ….”
Mendadak Thi Sim-lan menubruk maju dan merangkul Hoa Bu-koat erat-erat. Seketika anak muda itu merasakan sesosok tubuh yang halus licin dan dingin memeluknya, jantungnya berdebar-debar hebat sehingga tangan pun terasa gemetar dan lemas.
Selama hidup Hoa Bu-koat belum pernah timbul perasaan membara begini, seakan-akan pingsan rasanya dia, jantung seperti mau meledak dan … hakikatnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Orang mampus … ken … kenapa kau masih berdiri di situ?” omel Thi Sim-lan dengan suara gemetar, ucapannya itu tertuju kepada Siau-hi-ji.
Ternyata Siau-hi-ji juga berdiri mematung di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Aku … aku bertindak begini dan kau … kau malah tidak mau lekas pergi?” jerit Thi Sim-lan dengan suara serak.
Tiba-tiba air mata menetes dari mata Siau-hi-ji.
Untuk pertama kalinya selama hidup Siau-hi-ji mencucurkan air mata, ia pun tidak tahu air mata ini air mata terharu, air mata berterima kasih atau air mata berdukacita atau air mata murka atau air mata malu diri?
Pada hakikatnya tangan Hoa Bu-koat tidak berani bergerak, apalagi untuk menyentuh tubuh Thi Sim-lan, karena itu, dengan sendirinya ia tak dapat meronta dan melepaskan diri dari rangkulan si nona. Dahinya sudah berkeringat dan mata masih terpejam, ia hanya dapat berseru berulang-ulang, “Lepaskan … lepaskan ….”
Air mata pun tampak membasahi wajah Thi Sim-lan, dilihatnya Siau-hi-ji masih tetap mematung di situ, dengan dongkol ia berteriak pula, “Jika … jika kau tidak mau pergi, biar kumati di … di hadapanmu saja!”
“Aku … aku. …” sungguh Siau-hi-ji tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Akhirnya dia memandang Thi Sim-lan sekejap, pandangan yang paling berarti … tubuh yang suci bersih dan mulus ini dengan air mata yang membasahi wajah yang cantik itu, semua ini pasti akan tetap terukir di dalam sanubarinya dan takkan dilupakannya selama hidup.
Mendadak Siau-hi-ji meraung keras-keras satu kali, seperti orang gila ia terus membalik tubuh dan berlari pergi laksana orang kesurupan.
*****
Bintang-bintang di langit semakin jarang-jarang, jagat raya ini semakin sunyi.
Seperti seekor binatang yang terluka Siau-hi-ji berlari-lari terus tanpa arah tujuan, sampai sekian lamanya ia lari di tengah malam senyap di ladang belukar, dia tidak tahu sudah berapa jauh berlari-lari dan entah sudah berlari sampai di mana?
Ia tidak menangis lagi, air matanya sudah kering, hatinya kusut, sekusut rambutnya. Selama hidupnya tak pernah dia menderita seperti sekarang ini, belum pernah bingung dan risau seperti ini.
Tertampak petak-petak sawah membentang luas, tanaman padi sudah membutir, batang padi bergoyang-goyang tertiup angin malam laksana gelombang samudera raya.
Tanpa pikir Siau-hi-ji berlari dan menyusup ke tengah-tengah sepetak sawah, di bawah cahaya bintang yang remang-remang ia terus merebahkan diri.
Air lumpur membenam sebagian tubuhnya, sinar bintang yang berkedip-kedip itu tampaknya semakin jauh dipandang dari rumpun batang padi yang lebat, tampaknya semakin kabur dan sukar diraba.
Ia menggigit bibir sendiri, bibir sudah pecah-pecah tergigit, tapi sama sekali tak terasa olehnya, maklumlah, derita batinnya jauh lebih sakit daripada sakit lahiriahnya, berpuluh kali lebih menderita.
Ia coba bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apakah aku dapat dianggap sebagai manusia?”
Kuanggap diriku manusia super, siapa pun tak dapat membandingi diriku, kupandang rendah orang lain, tapi bilamana orang hendak membunuhku, nyatanya sedikit pun aku tak berdaya, tak mampu melawan.
Kupandang rendah perempuan, lebih-lebih Thi Sim-lan, lantaran kutahu dia mencintai diriku, makanya aku sengaja menggoda dia, menyiksa dia, sedapatnya aku berusaha membuatnya menderita, melukai hatinya. Tapi akhirnya, akhirnya aku harus menerima pengorbanannya untuk menyelamatkan diriku!
Selamanya kuanggap diriku ini manusia mahapintar, manusia paling cerdik di dunia ini, tapi sekarang aku seperti seekor anjing budukan yang diusir dan dikejar orang, aku lari seperti anjing mencawat ekor.
Biarpun sekali ini aku dapat kabur dengan selamat, tapi selama hidupku masakah harus berlari-lari seperti ini? Apakah selama hidupku ini harus selalu memohon pertolongan orang untuk menyelamatkan jiwaku?
Memang betul, tipu akal Hoa Bu-koat tidak selihai aku, tapi orang seperti dia itu buat apa mesti memakai tipu akal? Soalnya dia memiliki kepandaian sejati, kepandaian asli.
Sedangkan aku? …. Aku hanya mengandalkan nasib belaka … seseorang kalau cuma pintar saja tanpa memiliki kepandaian sejati, lalu apa gunanya?
“Selalu kuanggap tokoh-tokoh di Ok-jin-kok itu sama takut padaku, makanya aku menjadi sok, kuangggap diriku ini mahahebat, tak tahunya bahwa sebabnya mereka itu takut padaku hanyalah serupa ayah-ibu yang memanjakan anaknya yang binal, kalau benar-benar bergebrak, memangnya aku dapat mengalahkan To Kiau-kiau? Atau Toh Sat, atau ….”
Begitulah Siau-hi-ji berbaring di tengah sawah dan merenungkan kepribadiannya, ia pikir dan menimbang bolak-balik.
Tanpa terasa fajar sudah menyingsing, sang surya sudah mengintip di ufuk timur, tidak jauh di persawahan itu sudah terdengar suara gonggong anjing dan suara orang.
Tapi Siau-hi-ji masih saja berbaring di situ tanpa bergerak, matanya masih terpentang lebar walaupun semalam suntuk dia tak tidur.
Pagi berganti siang dan siang berganti malam, hari sudah gelap pula, angin yang mendesir sayup-sayup itu membawa bau sedap kukus nasi.
Akhirnya Siau-hi-ji merangkak bangun, tubuhnya penuh berlumuran lumpur, mukanya juga berlepot lumpur kotor, tapi ia tak peduli, ia terus melangkah ke depan menyusuri pematang sawah.
Dari kejauhan dilihatnya di depan sana ada kelip bintik-bintik cahaya api, agaknya di depan sana adalah sebuah kota.
Benar juga, memang sebuah kota, kota yang kecil, walaupun sudah malam, tapi jalan kota masih cukup ramai, terdengar suara tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu, ada lampu berkerudung kertas merah yang menyinari tengah kalangan.
Rupanya ada sebuah rombongan pemain akrobat yang sedang mengadakan pertunjukan, pada umumnya rombongan pemain akrobat begini adalah kaum pengembara yang terdapat di mana-mana.
Dalam keadaan limbung Siau-hi-ji terus menerobos ke tengah-tengah kerumunan penonton. Melihat keadaannya yang kotor penuh lumpur itu, tentu saja para penonton yang dijubel oleh Siau-hi-ji sama mengumpat, tapi mau tak mau juga sama menyingkir memberi jalan.
Siau-hi-ji langsung maju ke bagian paling depan, di situlah dia berjongkok menyaksikan permainan akrobat. Dilihatnya seorang anak perempuan berbaju merah dengan rambut berkepang menjadi dua kuncir kecil sedang main berjalan di atas tali. Anak perempuan ini bermata besar dan berwajah lumayan.
Selain anak perempuan yang sedang main berjalan di atas tali itu, ada pula beberapa orang lagi tua dan muda yang sedang main senjata, ada pula yang sedang berjumpalitan, sebagian lagi sibuk menabuh dan memukul bereng-bereng atau bende.
Siau-hi-ji hanya berjongkok saja di situ, pada hakikatnya ia tidak tahu pertunjukan apa yang sedang berlangsung di depannya, dia hanya merasa hampa, merasa sunyi dan ingin melihat wajah orang yang mengulum senyum.
Entah sudah berapa lama ia berjongkok di situ, samar-samar ia merasa ada orang bersorak-sorai, ada orang berkeplok dan berjingkrak, ada pula suara gemerencingnya mata uang yang dilemparkan orang ke tengah kalangan.
Kemudian kerumunan penonton pun bubar, rombongan pemain akrobat itu pun sibuk berbenah dan mengukuti alat perabotnya. Si gadis cilik berbaju merah yang main tali tadi tidak bekerja seperti lain-lainnya, bagai seorang tuan saja ia duduk di samping sana dan sedang minum.
Melihat Siau-hi-ji berjongkok di situ, nona cilik itu memandang sekejap sambil mengernyitkan dahi, matanya yang besar itu tampak gemerlap, mendadak ia merogoh sebuah mata uang terus dilemparkan ke depan Siau-hi-ji, habis itu ia lantas melengos lagi ke sana.
Siau-hi-ji masih dalam keadaan limbung, pada hakikatnya ia tidak tahu apa yang dilemparkan si nona cilik itu, maka ia pun tidak memungutnya.
Kemudian rombongan pemain akrobat itu pun berlalu. Dengan tegak si nona cilik baju merah berjalan lewat di samping Siau-hi-ji, seperti tidak sengaja, dengan kakinya ia menyepak mata uang tadi ke sebelah kaki Siau-hi-ji, maksudnya agar dapat dicapai tangan anak muda itu dan mengambilnya.
Itulah hati nurani manusia sejati, manusia yang pada dasarnya berhati bajik, manusia yang melihat kesukaran dan kemiskinan orang lain lantas melupakan keadaan sendiri.
Rombongan pemain akrobat itu sedang bicara dan tertawa, sedang berunding acara pertunjukan mereka dan menghitung hasil usaha sehari ini cukup makan apa dan dapat membeli berapa kati arak. Mengenai esok, esok adalah urusan esok, mereka tidak perlu merisaukan urusan esok, sekalipun esok akan terjadi sesuatu yang malang, biarpun esok tak dapat makan, biarlah dirisaukan saja esok, yang penting adalah hari kini, asalkan hari kini dapat makan enak dan minum arak dan habis perkara.
Itulah kehidupan praktis manusia yang berhati lapang, apa yang dipikirkan dan diharapkan Siau-hi-ji saat ini justru adalah kehidupan yang cuma ada “hari kini” dan tiada “hari esok” begini.
Segera ia pungut mata uang tadi dan ikut di belakang rombongan pemain akrobat itu. Tidak jauh di depan sana adalah sebuah sungai, di tepi sungai sana tertambat sebuah kapal, di dekat haluan kapal menanti seorang kakek kekar, agaknya kakek itulah pemimpin mereka.
Usianya sudah di atas enam puluh, tapi tubuhnya masih kekar seperti orang muda, biarpun kehidupannya mengembara kian kemari tidak menentu, tapi tidak mengurangi gairah hidupnya yang menyala.
Mendadak Siau-hi-ji memburu maju, dengan sangat hormat dia menjura, katanya, “Loyacu, bolehkah aku ikut ‘Cau-kang-ouw’ (mengembara) bersamamu?”
Kakek itu menoleh dan memandang anak muda itu sekejap, jawabnya sambil menggeleng, “Anak muda, Cau-kang-ouw bukanlah pekerjaan yang enak, untuk itu diperlukan suatu kepandaian, juga harus berani menderita.”
“Aku berani menderita, aku sudah biasa hidup sengsara,” ucap Siau-hi-ji.
“Tapi apakah kau mempunyai sesuatu kepandaian yang dapat dipertontonkan kepada orang?” tanya si kakek.
Siau-hi-ji terdiam sejenak, setelah berpikir barulah ia berkata, “Aku dapat main berjumpalitan.”
“Berjumpalitan?” si kakek tertawa geli. “Haha, berjumpalitan adalah permainan yang paling sederhana, orang bekerja seperti kita ini setiap orang pun bisa. Hai, Gudel, coba pertunjukkan padanya caramu berjumpalitan.”
Seorang anak muda bertubuh kekar kuat, mata besar dan alis tebal lantas tampil ke muka dengan cengar-cengir, mungkin karena tubuhnya yang kekar itulah, maka dia mendapat nama poyokan si “Gudel” (anak kerbau).
Setelah menyingsing lengan baju, tanpa pasang kuda-kuda, sekaligus si Gudel lantas berjumpalitan belasan kali.
Siau-hi-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian kepada si Gudel, “Paling banyak kau dapat berjumpalitan berapa kali?”
“Mungkin bisa mencapai dua puluh atau tiga puluh kali,” jawab si Gudel tertawa.
“Tapi sekaligus aku sanggup berjumpalitan seratus atau dua ratus kali,” kata Siau-hi-ji.
“Hah, apa betul?” si kakek ragu-ragu. “Dapat sekaligus berjumpalitan delapan puluh kali memang pernah kulihat waktu aku masih jejaka, yaitu Li-lotoa dari Li-keh-pan (rombongan keluarga Li), tapi sejak dia terluka dibacok orang, selama ini belum pernah ada lagi.”
“Kalau delapan puluh kali saja bukan apa-apa bagiku, sekaligus aku sanggup berjumpalitan seratus enam puluh kali,” ujar Siau-hi-ji.
“Jika betul kau dapat berjumpalitan seratus enam puluh kali … tidak, cukup asalkan delapan puluh kali saja, maka selama hidup ini rasanya kau tidak akan kelaparan, meski tidak dapat makan enak, namun daging dan arak kukira pasti ada.”
Belum habis si kakek berucap, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah mulai main akrobat.
Dasar seluruh badan Siau-hi-ji memang sudah tergembleng sehingga menyerupai otot kawat tulang besi, biarpun ilmu silatnya belum setingkat jago terkemuka, dalam hal berjumpalitan boleh dikatakan bukan soal baginya, lebih mudah daripada makan kacang goreng misalnya.
Ketika dia berjumpalitan hingga tiga puluh kali, sementara itu orang banyak sudah berkerumun, tatkala berjumpalitan hingga enam puluh kali, serentak semua orang bersorak memuji.
Waktu dia berjumpalitan sampai delapan puluh kali, semua orang menjadi lupa bersorak melainkan melotot kesima. Dan kalau ada yang bergirang, maka si nona cilik berbaju merah bermata besar itulah yang paling gembira.
Siau-hi-ji terus berjumpalitan hingga lebih seratus kali, lalu ia berhenti, katanya dengan tertawa, “Cukup tidak?”
“Cukup, cukup, sangat cukup ….” ucap si kakek sambil berkeplok tertawa. “Ayo lekas, lekas ikut si Gudel ke atas kapal, cuci muka dulu dan ganti pakaian, sebentar kita makan malam. Mulai sekarang kau adalah anggota Hay-keh-pan (group keluarga Hay) kita.”
Tapi Siau-hi-ji lantas menunduk dan menjawab, “Ayah-bundaku meninggal belum lama berselang, aku masih berkabung, di depan makam mereka aku telah bersumpah akan berkabung selama tiga tahun dan selama tiga tahun ini tidak akan cuci muka.”
“O, anak yang malang,” kata si kakek dengan gegetun, “tak tersangka kau adalah anak yang berbakti. Oya, anak-anak sama memanggilku Si-tia, maka selanjutnya kau pun boleh memanggilku demikian.”
*****
Begitulah Siau-hi-ji lantas mulai kehidupannya ikut Cau-kang-ouw dan main akrobat di rombongan. “Hay-keh-pan” ini. Setiap hari kerjanya cuma akrobat, main berjumpalitan.
Kini dapat diketahuinya bahwa hampir seluruh anggota Hay-keh-pan ini adalah putra-putri Hay Si-tia, kalau bukan putra-putrinya tentu adalah keponakan atau sanak keluarganya, si Gudel adalah putranya yang keenam, anggota pemain yang paling cekatan dan memiliki Kungfu paling bagus.
Si nona cilik baju merah itu adalah bintang panggung rombongan mereka, namanya Hay Ang-cu, si mutiara merah. Dia adalah putri bungsu Hay Si-tia yang dilahirkan pada waktu sang ayah merayakan ulang tahun setengah abad.
Selain itu tidak banyak lagi yang diketahui Siau-hi-ji.
Kecuali main akrobat, urusan apa pun Siau-hi-ji tidak ambil pusing, setiap hari selain makan tidur dan main akrobat, selebihnya adalah duduk termenung, duduk ngelamun.
Sudah tentu tiada seorang pun yang tahu waktu ngelamun itulah sebenarnya Siau-hi-ji sedang merenungkan kunci yang paling penting daripada ilmu silat yang paling tinggi, di dunia ini boleh dikatakan tidak seberapa banyak orang yang menguasai kunci ilmu silat yang paling tinggi itu.
Bu-kang-pit-kip (kitab pusaka ilmu silat) yang telah banyak mengambil korban jiwa manusia dan pernah dimiliki Siau-hi-ji bersama Kang Giok-long itu sudah dibacanya sehingga hafal betul di luar kepala, maka dengan mudah ia dapat mengingatnya kembali segala isi kitab yang telah dibacanya itu.
Bila ada satu bagian berhasil dipecahkannya, malamnya bila orang lain sudah sama tidur, diam-diam ia lantas menuju ke tempat yang sepi di tepi sungai untuk melatihnya. Karena orang lain menganggapnya rada sinting, linglung, meski tindak tanduknya terkadang juga rada aneh, tapi tiada orang yang mau memperhatikannya.
Permainan akrobatnya sangat menarik penonton, pula ia tidak rewel dalam hal bagi rezeki, maka orang lain juga dapat memaafkan dia dan membiarkan tingkah-ulah sesukanya.
Kini Siau-hi-ji bukan lagi orang terpintar nomor satu di dunia.
Sekarang orang lain memanggilnya dengan nama poyokan “Hay Siau-ngay”, di tolol kecil she Hay, sebab dia sudah dianggap satu bagian daripada group keluarga Hay.
Kaum musafir sepanjang tahun selalu dalam pengembaraan dari sungai sini menghilir ke sana, dari timur pindah ke barat dan dari barat mudik lagi ke hulu. Siau-hi-ji sendiri pun tidak tahu jelas tempat mana saja yang pernah dijelajahinya.
Suatu hari, perahu mereka berlabuh pula, Siau-hi-ji lagi duduk di geladak perahu dan sedang cuci kaki. Tiba-tiba dari belakang terjulur sebuah tangan yang putih, tangan yang kecil itu menyodorkan sebuah jeruk padanya.
Tanpa menoleh Siau-hi-ji terima jeruk itu terus dikuliti dan dimakan.
Hay Ang-cu masih berdiri di belakangnya, tunggu punya tunggu, sampai sekian lamanya Siau-hi-ji tetap tidak menoleh. Terpaksa Ang-cu menggeser ke samping dan duduk di sebelahnya, ia pun membuka sepatu dan berendam kaki di air sungai.
Kaki yang putih, kaki yang kecil, sambil mengaduk air, mendadak air disepak dan muncrat membasahi tubuh Siau-hi-ji. Namun anak muda itu tetap tidak bergerak sedikit pun, juga tidak bersuara.
Hay Ang-cu meliriknya sekejap, tiba-tiba ia tertawa ngikik, katanya, “Kau tidak sudi menggubris diriku, mengapa pula kau makan jerukku?”
“Aku tak dapat bicara,” kata Siau-hi-ji.
“Kau tak dapat bicara? Memangnya bisu?” ujar Hay Ang-cu dengan tertawa.
“Aku tidak sesuai untuk bicara denganmu,” jawab Siau-hi-ji dingin.
“Tidak sesuai? Siapa bilang kau tidak sesuai? ….” mata yang jeli itu mengerling lincah, tiba-tiba ia mengikik tawa pula dan menambahkan, “Orang lain sama memanggilmu Siau-ngay, tapi aku tahu kau adalah orang pintar. Bukan saja pintar, bahkan jauh lebih pintar daripada orang lain, betul tidak?”
Risi rasa hati Siau-hi-ji, yang saling ditakutinya sekarang justru adalah pujian orang lain yang menyatakan dia mahapintar.
Maka ia mengernyit dahi dan berdiri, ia membalik tubuh terus hendak melangkah pergi. Tapi mendadak dilihatnya di depan sana ada serombongan orang, seketika ia melengak dan mematung di tempatnya, kedua kakinya terasa terpaku di situ dan tak dapat bergerak lagi.
Kiranya di tepi sungai sana ada satu rombongan orang sedang bersenda-gurau sambil berjalan kemari di atas tanah berumput hijau. Sementara itu sudah musim semi, jagat raya ini penuh diliputi suasana hidup dengan hawa yang harum menyegarkan.
Pakaian orang-orang di rombongan itu tampak beraneka warna, ringan dan halus, wajah mereka sedemikian cerah penuh kegembiraan, angin musim semi sepoi-sepoi mengusap baju halus mereka, cahaya matahari juga sedemikian hangat, serasi benar dengan usia mereka yang masih muda.
Celakanya di antara rombongan muda-mudi yang bergembira ria itu justru terdapat orang-orang yang paling tidak suka dilihat oleh Siau-hi-ji, mereka ialah Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan, Buyung Kiu dan Kang Giok-long.
Bahwa Kang Giok-long juga berada di tengah-tengah Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan, hal ini benar-benar luar biasa dan sukar dimengerti.
Tatkala mana beberapa orang yang berpakaian perlente tampak sedang mengerumuni Hoa Bu-koat dengan sikap yang menyanjung puji, tak perlu disangsikan lagi, jelas Hoa Bu-koat adalah pusat perhatian dari seluruh anggota rombongan itu.
Hoa Bu-koat sedang tertawa, tapi tertawanya itu lebih banyak ditujukan kepada kedua gadis jelita yang berada di sebelahnya, yaitu Thi Sim-lan dan Buyung Kiu.
Thi Sim-lan juga sedang tertawa, wajahnya tampak cerah, seperti penuh bercahaya kebahagiaan.
Mereka memang benar beruntung dan bahagia, pantaslah jika mereka tertawa gembira.
Tapi keberuntungan mereka justru semakin menonjolkan kemalangan Siau-hi-ji, kegembiraan mereka justru semakin menunjukkan dukacita Siau-hi-ji.
Hati Siau-hi-ji menjadi panas serasa terbakar.
Untuk pertama kalinya selama hidup ini ia benar-benar tahu rasanya iri, baru sekarang dia merasakan penderitaan yang begini hebat, hatinya seakan-akan hancur luluh.
Dengan terheran-heran Hay Ang-cu memandang Siau-hi-ji, lalu ia pandang pula rombongan muda-mudi itu, seakan-akan ia pun merasakan duka-derita Siau-hi-ji itu, dengan sayu ia berkata, “Kutahu riwayat hidupmu pasti banyak rahasianya, betul tidak?”
Pada hakikatnya Siau-hi-ji tidak mendengar apa yang diucapkan nona itu, ia memandang kesima ke arah rombongan yang asyik beriang gembira itu.
Sekarang ia lihat lagi seorang, seorang pemuda yang berpakaian hijau pupus, itulah Pek Leng-siau.
Pek Leng-siau juga sedang bersenda gurau dengan Hoa Bu-koat, tertawanya sangat gembira seperti dua sahabat kenalan lama.
Sungguh aneh, mengapa Hoa Bu-koat dapat bergaul dengan orang begituan? Tapi, ai, Hoa Bu-koat memang dapat bergaul dengan siapa pun juga, pada hakikatnya dia tidak mengambil pusing kepada orang lain, baginya setiap manusia di dunia ini tidak banyak bedanya, bahkan sama saja, dia tidak perlu gusar dan dendam pada mereka.
Dengan menggigit bibir Hay Ang-cu berkata pula dengan lirih, “Apakah kau kenal dengan mereka? …. Kutahu, asalnya engkau memang satu golongan dengan rombongan mereka itu dan sekali-kali tidak mungkin segolongan dengan kami …. Ya, pada hakikatnya kami ini cuma rombongan manusia yang hina dan patut dikasihani.”
Siau-hi-ji mundur-mundur perlahan dan akhirnya berada di titian emper kapal.
Tiba-tiba ia merasa Thi Sim-lan seperti sedang memandang padanya.
Tapi pandangan itu hanya pandangan sepintas lalu saja, mana mungkin si nona memperhatikan benar-benar seorang pemuda dekil dan hina ini.
Akan tetapi mau tak mau Siau-hi-ji terus mengawasi nona itu, tampaknya Thi Sim-lan sudah meningkat lebih dewasa, laksana sekuntum bunga Bo-tan yang sedang mekar, anggun dan cantik penuh gairah.
Sedangkan Buyung Kiu kelihatan lebih kurus, begitu kurus sehingga mirip setangkai bunga seruni, walaupun tidak secantik bunga Bo-tan, tapi memiliki sejenis bau harum semerbak yang memabukkan orang.
Mata Buyung Kiu juga semakin besar tampaknya, tapi sudah kehilangan sorot mata yang tajam itu, sebagai gantinya adalah sinar mata sayu, sinar mata yang sedih. Apa sih yang membuatnya sedih?
Perlahan Hay Ang-cu mendekati Siau-hi-ji, sorot matanya yang sayu seperti Buyung Kiu, dengan rawan ia pandang Siau-hi-ji, katanya dengan lirih, “Baru sekarang kutahu apa sebabnya kau tidak gubris diriku, soalnya aku tidak sesuai untuk berbicara denganmu, betul tidak? Memangnya aku mana dapat membandingi kedua anak perempuan itu, mereka cantik dan anggun, sedangkan aku ….”
Angin meniup sepoi-sepoi, di bawah titian kapal itu pun rada suram ….
Sekonyong-konyong Siau-hi-ji menarik Hay Ang-cu terus dirangkulnya erat-erat, bibirnya yang panas itu dengan bernafsu terus melengket di bibir si nona. Darah anak muda itu bergolak, ia memerlukan pelampiasan!
Sesaat itu Hay Ang-cu merasa langit dan bumi ini seperti berputar dan mendadak dunia ini laksana kiamat.
Ia memejamkan matanya, segala apa pun tak terasakan lagi. Ia merasa dirinya seperti terjerumus ke dalam bara yang sedang berkobar, sekujur badannya serasa ikut terbakar, seluruh raganya seakan-akan lumer, sukmanya juga sudah meleleh.
Hanya sedetik itu, seluruh kehidupannya telah berubah.
Akan tetapi bagi pandangan orang lain hal ini seakan-akan soal sepele yang tak ada nilainya untuk diperhatikan, orang-orang yang sedang bersenda gurau tadi sudah mulai pergi menjauh.
Mendadak Siau-hi-ji mendorong minggir Hay Ang-cu terus melompat turun ke bawah geladak kapal.
Hay Ang-cu berdiri termangu-mangu seperti patung, rasanya tak sanggup bergerak lagi untuk selamanya. Angin masih meniup hangat, namun hatinya telah mulai membeku sedikit demi sedikit.
Ia tetap memejamkan mata, ia tidak berani membuka mata, ia khawatir impian yang telah membuatnya mabuk kepayang itu akan hancur di depan matanya sekarang, bulu matanya yang panjang itu mulai mengalir setitik air mata.
*****
Malam sudah tiba, siapa pun tidak tahu bilakah malam telah tiba.
Sudah tentu Hay Ang-cu juga tidak tahu, bahkan apa pun ia tidak tahu.
Lampu berkerudung telah dinyalakan pula, penonton juga sudah berkerumun, Hay Si-tia sebagai pembawa acara pertunjukan telah mulai memberi komentar panjang lebar dengan ucapannya yang menarik.
Betapa pun perubahan yang terjadi atas diri Hay Ang-cu, tapi kehidupan harus berlangsung terus.
Manusia dapat berubah dalam waktu sekejap, tapi hidup tidak mungkin berubah dalam waktu sesingkat itu, manusia yang hina tetap harus melewatkan hari-harinya yang hina, hal ini tak dapat dihindarinya.
Itulah hidup manusia, itulah kehidupan, kehidupan yang tragis.
Maka Hay Ang-cu kembali naik tali lagi, ia mulai bermain jalan di atas tali pula.
Dengan kaku ia berjalan di atas tali. Penonton sedang tertawa dan bertepuk tangan, akan tetapi semua itu dirasakan oleh Hay Ang-cu seperti jauh sekali jaraknya, jauh sekali … sebab hatinya juga telah terbang ke tempat yang amat jauh.
Cahaya gemilang menyinari tempat yang jauh itu, di tempat itu orang akan senantiasa berdampingan dengan kekasih yang dicintainya dan tidak perlu selalu memperlihatkan senyum yang hina.
Siau-hi-ji berjongkok di belakang rak senjata, hatinya juga sudah terbang ke tempat yang jauh, apa yang terjadi di depan matanya pada hakikatnya tidak terlihat olehnya ….
Sekonyong-konyong, di tengah sorak-sorai penonton telah berubah menjadi jeritan kaget. Tahu-tahu Hay Ang-cu terjatuh dari atas tali yang cukup tinggi.
Air muka Hay Si-tia dan si Gudel berubah pucat, tapi mereka tetap memperlihatkan senyum tak acuh dan berseru, “Ah, manusia bisa terpeleset, kuda pun terkadang kesandung, inilah kejadian biasa, bukan soal … nona cilik, lekas bangun dan perlihatkan pula beberapa gayamu yang menarik!”
Akan tetapi suara jerit kaget para penonton tadi telah berubah menjadi tertawa mengejek, ada sementara berteriak, “Menarik apalagi? Tampaknya anak perempuan ini sedang melamun memikirkan lelaki, makanya jatuh terpeleset!”
“He, nona cilik, siapa yang kau pikirkan, apakah diriku?” demikian seorang lagi berseloroh.
Maka tertawa para penonton bertambah riuh, ocehan mereka pun tampak tidak senonoh.
Darah Siau-hi-ji mulai panas dan bergolak lagi.
Tapi pada saat itu, di tengah penonton yang berjubel itu seorang pemuda baju hijau telah melompat maju, segera Siau-hi-ji mengenalnya sebagai Pek Leng-siau.
Dengan sorot mata yang bengis Pek Leng-siau menyapu pandang para penonton, lalu berteriak, “Siapa di antara kalian berani bicara tidak sopan terhadap nona ini, segera lidahnya akan kupotong.”
“Ya, dan matanya pasti akan kukorek!” sambung seorang pula dengan suara galak. Segera pula orang ini melompat ke tengah kalangan, dia adalah si baju merah bergolok emas Li Beng-sing.
Seketika penonton cep-klakep, tiada seorang pun berani bersuara lagi. Orang jahat, memang selalu ditakuti orang.
Hay Si-tia lantas mendekati kedua pemuda itu, ia memberi hormat dan berkata, “Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan tuan-tuan.”
“Ah, bukan soal,” Pek Leng-siau dengan lagak seperti di dunia ini dia paling kuasa. Dari sakunya ia lantas mengeluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan ke tanah, lalu berkata pula, “Kulihat pertunjukan kalian malam ini hanya sia-sia belaka tanpa hasil, biarlah kupersen kalian untuk makan dan minum.”
“Sedikitnya cukup untuk beli sepuluh guci arak dan makan lima hari bagi kalian,” sambung Li Beng-sing dengan suara keras. “Nah, apa sebabnya tuan besar mau memberi persen padamu, tentunya kau sudah tahu sendiri.”
Air muka Hay Si-tia tampak berubah serba susah, tapi segera ia pun tertawa dan berseru, “Budak Ang, ayo lekas mengaturkan terima kasih!”
Dengan kepala tertunduk Hay Ang-cu lantas melangkah maju, mukanya merah, katanya dengan perlahan, “Terima kasih tuan-tuan ….”
“Bicara saja seperti bunyi nyamuk, memangnya siapa bisa dengar apa yang kau katakan?” omel Hay Si-tia.
Wajah Pek Leng-siau terunjuk senyuman, katanya, “Ah, tak apa, tak apa, memangnya anak perempuan harus bicara dengan lemah lembut.”
“Haha, memang betul, tuan-tuan justru suka pada cara begitu,” seru Li Beng-sing dengan tertawa. Mendadak ia tarik tangan Hay Ang-cu dan menegurnya dengan memicingkan mata, “Toako kami suka padamu, ayolah menemani dia minum arak.”
Muka Hay Ang-cu menjadi pucat, sekujur badan jadi gemetar.
Dengan menyengir Hay Si-tia lantas menyela, “Anak dara ini masih terlalu kecil, biarlah dua tahun lagi pasti dia akan menemani tuan-tuan minum arak.”
“Persetan! Siapa sabar menunggu dua tahun lagi?” semprot Li Beng-sing dengan kurang senang.
Mendadak si Gudel memburu maju dan berteriak, “Lepaskan dia!”
Belum habis ucapannya, tahu-tahu tangan Li Beng-sing telah melayang ke mukanya, “plak”, kontan ia ditempeleng hingga sebelah pipinya merah bengap, bahkan orangnya juga lantas terlempar jatuh.
“Apakah kalian tidak ingin diperlakukan halus dan minta dipaksa?” bentak Li Beng-sing dengan bengis.
Pek Leng-siau juga menyeringai dan berkata, “Kukira lebih baik kau ikut saja dengan baik-baik.” Habis ini mendadak ia mencolek pipi Hay Ang-cu.
Keruan nona cilik itu ketakutan dan menangis.
Pada saat itulah tiba-tiba seorang tampil ke muka dan berkata dengan sekata demi sekata, “Siapa pun dilarang membawanya pergi!”
Seketika mata Hay Ang-cu berbinar, akhirnya Siau-hi-ji tampil ke muka juga. Anak muda ini sudi membelanya, sekali pun mati juga dia rela.
Tentu saja Li Beng-sing sangat murka, alisnya menegak, dampratnya dengan menyeringai, “Hm, kau anak dekil ini, apa kau cari mampus?!” Kontan sebelah tangannya hendak menggampar lagi.
Akan tetapi pukulannya ini selamanya takkan mampu mengenai Siau-hi-ji, sebaliknya entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu tangannya malah sudah terpegang oleh Siau-hi-ji, seketika ia kesakitan setengah mati, rasanya seperti dijepit tanggam, tulang pun serasa hendak patah, saking kesakitan air mata pun bercucuran.
“Enyahlah kau!” bentak Siau-hi-ji. Berbareng tangannya terus mengipat, tubuh Li Beng-sing yang ratusan kati bobotnya itu kontan terlempar pergi dan jatuh beberapa depa jauhnya, sekalipun tidak binasa, sedikitnya juga sekarat.
Serentak para penonton menjerit kaget, air muka Pek Leng-siau berubah pucat, segera ia melolos pedangnya, “creng”, kontan ia menusuk ke dada Siau-hi-ji.
Sedikit mengegos dapatlah Siau-hi-ji mengelakkan serangan itu, bahkan ia terus menyelinap maju, sekali hantam dengan tepat dada Pek Leng-siau kena ditonjoknya.
Pukulan Siau-hi-ji ini sebenarnya belum menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi Pek Leng-siau ternyata tidak tahan, sambil menjerit ngeri, darah terus menyembur dari mulutnya, tubuhnya lantas terkulai. Bajunya yang berwarna hijau pupus itu berlepotan darah sehingga menyerupai lukisan bunga mawar merah.
Seketika para penonton menjadi panik, beramai-ramai mereka menjerit dan berlari serabutan.
Siau-hi-ji sendiri juga melenggong, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ilmu silat sendiri ternyata maju sepesat ini, hanya sekali pukul saja dapat membuat Pek Leng-siau terkapar. Tapi suara jeritan orang ramai telah menyadarkannya.
Ia merasa rahasia dirinya pasti akan terbongkar dengan segera, tempat ini bukan lagi tempat sembunyinya yang baik. Segera ia memutar tubuh terus lari pergi.
Cepat Hay Ang-cu meronta dan berlari-lari menyusulnya sambil berteriak, “Siau-ngay … Siau-ngay … tunggu … tunggu ….”
Akan tetapi Siau-hi-ji tidak berpaling lagi, hanya sekejap saja sudah menghilang di kejauhan.
Dengan terhuyung-huyung Hay Ang-cu mengejar pula, akhirnya ia jatuh bangun, air mata sudah memenuhi wajahnya, ratapnya sambil menangis, “Dia … dia sudah pergi … kutahu dia takkan … takkan kembali lagi untuk selamanya.”
Hay Si-tia telah menyusul tiba dan membangunkan gadisnya itu. Orang tua itu sudah kenyang asam garamnya kehidupan manusia, wajahnya yang rada keriput itu pun penuh menampilkan perasaan yang ruwet, entah kejut, girang atau dukacita yang sukar dihindari lagi.
Perlahan ia membelai rambut putri kesayangan, katanya dengan setengah bergumam, “Meski dia takkan kembali lagi, tapi apa daya …. Memangnya dia bukan orang segolongan kita, mana dapat kau menahannya di sini ….”
“Tapi … tapi aku tak dapat … tak dapat … kumohon engkau ….” demikian Ang-cu meratap dengan sedihnya.
“Sabarlah, nak,” ucap Hay Si-tia sambil menghela napas panjang. “Orang seperti dia, bukan saja ayahmu tidak mampu menahannya di sini, bahkan di dunia ini mungkin juga … juga tiada seorang pun yang dapat mengikatnya … Mungkin untuk seterusnya kau takkan bertemu pula dengan dia.”
Sekonyong-konyong Hay Ang-cu jatuh pingsan dalam pelukan pangkuan sang ayah. Selamanya tak dapat bertemu lagi dengan orang yang dicintainya, siapa pun tak tahan menghadapi pukulan ini. Apalagi Hay Ang-cu, remaja yang baru meningkat dewasa, bunga yang baru mulai mekar.
Tapi apakah betul selamanya dia tak dapat lagi bertemu dengan Siau-hi-ji?
Rasanya tiada seorang pun yang berani memberi jawaban positif. Urusan di dunia ini tiada yang dapat menduganya dengan pasti.
*****
Sekaligus Siau-hi-ji berlari-lari hingga beberapa li jauhnya, akhirnya ia membaringkan diri di tepi sungai yang sepi.
Malam ini, kembali cakrawala penuh dengan kerlipan bintang-bintang.
Setelah melakukan perbuatan tadi, betapa pun ia merasa lega, tekanan batinnya seperti rada longgar. akan tetapi terasa pula bertambah oleh semacam beban berat yang lain.
Ia tahu, setelah kepergiannya ini, hati Hay Ang-cu pasti remuk redam, sesungguhnya dia tidak sengaja hendak melukai hati anak perempuan yang suci murni itu, akan tetapi ia benar-benar telah melukainya.
Ia menengadah dan tertawa, gumamnya, “Janganlah kau menyalahkan diriku, apa yang kulakukan itu adalah terpaksa … meski aku tinggal pergi, namun jejakku sudah konangan, betapa pun aku tak dapat berdiam lagi di tempatmu itu.”
Bintang bertaburan di langit, bintang-bintang itu seperti mata Hay Ang-cu, setiap biji mata itu seakan sedang menitikkan air mata terhadap Siau-hi-ji, akan tetapi anak muda itu telah memejamkan matanya.
Bagi Siau-hi-ji, apa yang terjadi ini tidak lebih suatu selingan kecil dalam hidupnya, akan tetapi bagi Hay Ang-cu, apa yang diperbuat Siau-hi-ji itu bisa jadi telah mengubah seluruh kehidupannya.
Bukankah hidup manusia ini memang tidak adil?
Waktu fajar tiba, sementara itu Siau-hi-ji sudah jauh meninggalkan tempat semula, ia terus berjalan ke depan tanpa tujuan, tambah miskin, tambah kotor, semuanya tak terpikirkan olehnya.
Suatu hari, sampailah dia di suatu kota yang tidak terlalu kecil. Besar atau kecilnya sesuatu kota sebenarnya juga tidak berkepentingan baginya, pada hakikatnya ia sudah jauh meninggalkan khalayak ramai.
Ia tidak menyusuri jalan raya melainkan menerobos ke jalan-jalan kecil dan gang-gang sempit, gang-gang sempit itu lebih banyak bau sedap yang menariknya, sebab di gang-gang yang sempit itu kebanyakan terletak dapur rumah di bagian depan. Dari jendela setiap dapur itu teruar bau kukus nasi yang sedap.
Tanpa terasa ia berhenti di pintu belakang sebuah dapur, bagi Siau-hi-ji, ini benar-benar suatu ironi. Santapan lezat apa yang tak pernah dirasakannya, segala macam daharan enak juga takkan menggoyahkan hatinya, tapi sekarang bau yang paling sepele, paling biasa, justru telah merangsang seleranya. Mungkin ini pun terhitung semacam drama dalam kehidupan manusia.
Dapur ini sangat besar, bau sedap itu pun paling kental, Siau-hi-ji berdiri termangu-mangu di situ. Entah sudah selang berapa lama, sekonyong-konyong satu baskom air cucian tertuang dari dalam sehingga sekujur badannya basah kuyup.
Siau-hi-ji tidak menjadi marah dan juga tidak bergerak. Kini ia sudah paham urusan apa yang pantas membuatnya marah, kejadian seperti sekarang ini, biarpun kau mohon dia marah juga takkan membuatnya marah lagi.
Dari balik pintu dapur tiba-tiba menongol keluar sebuah wajah bundar dengan pipi yang tembem, katanya dengan tertawa, “Maaf, aku tidak melihat kau berdiri di situ.”
“O, tak apa-apa,” jawab Siau-hi-ji dengan menyengir.
Wajah yang tembem itu tertawa pula, lalu mengkeret ke dalam. Selang tak lama, kembali muka tembem itu melongok keluar, melihat Siau-hi-ji masih tetap berdiri di situ, dengan tertawa ia mengundang, “Di dalam sini masih ada sedikit nasi, jika kau suka boleh masuk sini dan makanlah.”
“Baik, terima kasih,” sahut Siau-hi-ji tertawa.
Ia tidak merasa rikuh dan juga tidak merasa sungkan, segera ia masuk ke dalam sana terus makan apa yang disuguhkan padanya, sekaligus ia menghabiskan delapan mangkuk nasi, habis makan ia lantas berbangkit dan mengucapkan terima kasih dengan tertawa.
Muka yang tembem itu terus mengawasi dari samping seakan-akan merasa anak muda ini sangat menarik.
Ketika Siau-hi-ji memberi hormat dan mau pergi, muka tembem itu tertawa dan berkata, “Di sini masih kurang satu tenaga cuci mangkuk piring, jika kau sudi, rasanya setiap hari takkan kekurangan makan bagimu.”
Siau-hi-ji berpikir sejenak, jawabnya kemudian dengan tertawa, “Tapi takaranku makan sangat banyak.”
“Orang buka rumah makan masakah takut si perut gentong?” ucap si muka tembem.
Tanpa pikir lagi Siau-hi-ji terus meraih ember dan baskom, katanya, “Di mana mangkuk piring yang harus kucuci?”
*****
Esoknya barulah Siau-hi-ji tahu bahwa tempatnya bekerja adalah dapur restoran “Su-hay-jun”, sebuah restoran cukup besar. Si muka tembem adalah kokinya, bernama Thio Tiang-kui.
Maka mulailah Siau-hi-ji bekerja sebagai pencuci mangkuk piring, diketahuinya bahwa setiap orang kalau bersembunyi di dapur sebuah restoran, maka siapa pun sukar menemukannya, apalagi mengenalnya.
Soalnya dapur sesuatu restoran pada hakikatnya ada dunianya tersendiri. Selain Thi Tiang-kui, setiap hari hampir tidak pernah bertemu pula dengan orang lain. Kalau Thio Tiang-kui sudah selesai membuat sesuatu santapan yang dipesan tamu, segera Siau-hi-ji mengantar masakan itu ke mulut sebuah jendela kecil, pelayan yang menunggu di luar akan meneruskan santapan itu kepada tetamu. Bila tiada keperluan khusus, siapa yang mau masuk ke dapur?
Restoran ini tidak begitu laku, tamunya jarang-jarang, maka tidak terlalu malam restoran lantas tutup pintu. Jika sudah menganggur begitu, sering kali Thio Tiang-kui mengajak Siau-hi-ji menemaninya minum arak dan mengobrol iseng.
Meski arak yang diminum tidaklah sedikit, tapi ucapan yang keluar dari mulut Siau-hi-ji pasti tidak lebih dari dua-tiga kalimat alias banyak makan minum dan sedikit bicara.
Pada suatu hari, ketika Thio Tiang-kui bersiap-siap masak, wajan sudah dituangi minyak, tapi mendadak sang koki mules perut, saking tak tahan, cepat ia taruh serok wajan dan lari ke kakus.
Agar tetamu tidak menunggu terlalu lama, tanpa pikir Siau-hi-ji mewakilkan Thio Tiang-kui menggoreng beberapa macam hidangan.
Setelah Thio Tiang-kui kembali dari buang air, ia menjadi rada-rada khawatir kalau menu yang diolah Siau-hi-ji tidak memenuhi selera yang dikehendaki tetamu.
Ia tidak tahu bahwa koki nomor satu di dunia juga berada di Ok-jin-kok, sejak kecil Siau-hi-ji sudah banyak belajar pada koki nomor wahid itu. Anak muda macam Siau-hi-ji, urusan apa tak dapat dipelajarinya?
Tidak lama setelah menu yang diolah Siau-hi-ji dibawa keluar, tiba-tiba pelayan di luar berseru, “Goreng babat dan ayam asam tadi masing-masing tambah satu porsi lagi!”
Dengan sendirinya sekali ini Thio Tiang-kui tidak membiarkan Siau-hi-ji turun tangan lagi, ia sendiri yang mengolah pesanan itu.
Tapi selang sejenak pula, tiba-tiba Pang-lopan, juragan restoran Su-hay-jun itu, masuk ke dapur, katanya dengan melotot, “Siapa yang membuat goreng babat dan ayam asam tadi?!”
Bahwa sang juragan sendiri sampai masuk ke dapur, hal ini sudah membuat hati Thio Tiang-kui kebat-kebit. Terpaksa ia menjawab, “Dengan sendirinya aku yang membuatnya.”
“Tidak, rasanya tidak betul, jelas bukan karya tanganmu,” kata sang juragan.