Setelah menunggu pula sekian lama dan tiada suara lain, perlahan-lahan barulah Siau-hi-ji merangkak bangun, dengan berjinjit-jinjit ia merunduk ke sana, sesudah dekat barulah diketahuinya di situ ada sebuah kamar bunga.
Dahulu, di kamar bunga ini bisa jadi terpelihara berbagai jenis bunga yang sukar dicari. Setiba di sini segera tercium bau harum semerbak.
Tapi bagi penciuman Siau-hi-ji sekarang hanyalah bau busuk yang menyeramkan itu. Sekalipun di dalam kamar ini ada tanaman bunga, mungkin sekali hanya bunga kematian saja.
Pintu ternyata sudah terkunci. Tapi bukan soal bagi Siau-hi-ji, kembali ia pertunjukkan kemahirannya memalsu kunci.
Perlahan ia mendorong pintu, ia menyalakan geretan api yang dicurinya dari meja di kamar Kang Giok-long tadi. Kamar bunga ini penuh sawang, bagian pojok bertumpuk pot bunga yang sudah rusak bercampur dengan daun kering dan kayu rongsokan, selain itu tiada terdapat apa-apa lagi. Sungguh aneh, lalu untuk apakah tengah malam buta Kang Piat-ho datang ke rumah bobrok ini?
Daun jendela berkeriut tertiup angin, dari lubang kertas jendela, angin menembus ke dalam sehingga mirip cakar setan yang dingin sedang merabai kuduk Siau-hi-ji.
Sungguh Siau-hi-ji ingin lari kembali ke kamarnya dan menutup kepalanya dengan selimut. Tempat begini benar-benar setan pun tak mau datang seperti ucapan Kang Giok-long.
Tapi tempat yang tidak sudi didatangi setan sekali pun bukankah justru merupakan tempat sembunyi yang paling rahasia?!
Mata Siau-hi-ji jelalatan kian kemari, sampai sekian lama ia mengamat-amati dan tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar ini. Di mana-mana hanya terdapat debu melulu, jelas kamar ini sudah lama tak pernah didatangi orang.
Akan tetapi jelas sekali Kang Piat-ho baru saja datang ke sini, mengapa debu yang memenuhi lantai kamar ini tidak terdapat bekas kakinya?
Tergerak hati Siau-hi-ji, segera ia berjongkok dan meraba-raba lantai, ternyata debu itu melengket kencang di lantai, kecuali digaruk sekuatnya dengan tangan, kalau tidak, bekas apa pun takkan tertinggal di atasnya.
Hampir saja Siau-hi-ji melonjak kegirangan, ia tahu di dalam kamar ini pasti terdapat lorong di bawah tanah. Ia coba memeriksa lebih teliti, setiap jengkal, setiap pelosok sudah dicarinya, namun tetap tak ditemukan sesuatu pesawat rahasia yang diharapkan.
Hampir saja ia putus harapan, ia menengadah sambil menghela napas. Terlihat sarang labah-labah bergontai ditiup angin, sebagian sawang itu sudah rantas tertiup angin dan kawanan labah-labah lagi sibuk menyambung jaringannya.
Akan tetapi di antara sekian sarang labah-labah itu ada jaringan yang tahan angin, betapa pun angin meniup, tetap tak dapat membuatnya bergoyang.
Hal ini rasanya takkan diperhatikan oleh orang lain. Namun tiada sesuatu di dunia ini yang dapat mengelabui mata Siau-hi-ji. Seketika ia meloncat ke atas. Segera diketahuinya bahwa sarang labah-labah itu memang lain daripada yang lain, jaring sarang labah-labah itu ternyata terbuat dari benang emas yang sangat halus.
Cepat ia meloncat lagi dan menarik jaring labah-labah itu sekuatnya. Terdengarlah suara keriat-keriut, menyusul serentetan suara krek-krek pula, onggokan kayu kering di bawah sarang labah-labah mendadak bergeser perlahan, lalu tertampak sebuah lubang.
Banyak juga Siau-hi-ji melihat pesawat rahasia yang terancang dengan amat bagus, tapi belum pernah dilihatnya ada yang lebih bagus dan rahasia daripada tempat ini.
Yang lebih-lebih tak terduga olehnya ialah di bawah tanah itu adalah sebuah kamar tulis. Kecuali tak berjendela, sungguh kamar tulis ini adalah sebuah kamar tulis yang paling ideal, kamar tulis yang indah dan lengkap.
Dinding kanan-kiri kamar tulis itu adalah rak buku yang penuh berderet berbagai macam kitab. Di tengah-tengah ada sebuah meja tulis marmer yang sangat indah, di atas meja tersedia lengkap peralatan tulis. Selain itu, dengan sendirinya terdapat pula sebuah lampu tembaga kecil.
Siau-hi-ji menyalakan lampu itu, lalu dia duduk di kursi besar itu dengan lagak tuan besar. Ia mulai merenung dengan tenang, “Andaikan aku menjadi Kang Piat-ho, akan kusembunyikan di mana rahasiaku?”
Sudah tentu di dalam sebuah kamar tulis terdapat banyak tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan rahasia. Tapi umpamanya rahasianya mengenai sehelai kertas, lalu harus disimpan di tempat paling baik mana? Rasanya tempat paling rapi ialah di dalam lipatan buku. Malahan mesti disembunyikan dalam buku yang paling jarang dibaca orang.
Segera ia mendekati rak buku dan memeriksanya dengan teliti, satu per satu dia memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata banyak kitab kuno yang bernilai dan sukar dicari, sungguh koleksi buku yang mengagumkan. Hampir setiap kitab itu penuh berdebu, suatu tanda jarang dijamah orang.
Tujuan Kang Piat-ho ke kamar ini dengan sendirinya bukan untuk membaca, tentu saja kitab ini banyak debunya, tapi anehnya di sini, ya, di sinilah anehnya, justru di sinilah ada satu buku yang tak berdebu, bahkan sangat bersih.
Kitab ini tidak terhitung tipis, Siau-hi-ji lantas melolosnya dari rak, dilihatnya judul yang tertulis di kulit kitab itu berbunyi, “Bok-cau” (tetumbuhan). Kiranya sebuah kitab mengenai obat-obatan. Dengan sendirinya jarang ada peminat yang mau membaca kitab beginian terkecuali ahli obat-obatan.
Siau-hi-ji tersenyum, ia tahu pasti inilah kitab yang hendak dicarinya. Ia membalik-balik halaman kitab itu, segera diketahuinya bahwa bagian tengah kitab itu telah terkorek, tapi sekelilingnya terlengket dengan kencang, maka jadinya seperti sebuah kotak kardus.
Pada bagian kitab yang terkorek seperti itulah tersimpan beberapa helai kedok kulit manusia yang sangat tipis dan bagus sekali pembuatannya. Selain itu ada pula dua-tiga botol kecil, jelas inilah peralatan merias muka.
Namun Siau-hi-ji tidak menaruh minat terhadap benda-benda ini, ia mencari lagi dan mencari terus, maka dapat ditemukannya pula sebuah “kotak kardus” yang serupa. Di dalam kotak itu pun ada beberapa buah botol kecil, isi botol-botol itu ternyata adalah racun yang sangat sukar dicari dan tinggi nilainya.
Siau-hi-ji menghela napas, ia coba mencari pula dan kembali ditemukan satu lipatan Gin-bio, yaitu surat uang atau yang kini terkenal sebagai cek atau bilyet giro, dalam jumlah besar yang sangat mengejutkan. Bahwa “Kang-lam-tayhiap” Kang Piat-ho yang diketahui hidup sederhana itu ternyata menyimpan bilyet giro berjumlah sedemikian besarnya.
Lalu diketemukan pula sehelai daftar nama yang sangat panjang, Siau-hi-ji malas membaca nama-nama yang tercantum di daftar itu, yang jelas di bawah setiap nama itu diberi bertanda kurung dan di dalam tanda kurung itu tercatat nama “Siau-lim”, “Bu-tong” dan sebagainya. Hampir semua tulisan di dalam tanda kurung itu adalah nama sesuatu aliran besar yang terkenal. Bisa jadi nama yang terdaftar itu adalah mata-mata yang diselundupkan Kang Piat-ho ke dalam golongan dan aliran-aliran terkemuka itu.
Tapi Siau-hi-ji juga enggan mengurusnya lebih lanjut, meski hal ini pun suatu rahasia yang sangat mengejutkan, tapi bukan sasaran yang hendak dicari Siau-hi-ji dan sebegitu jauh ternyata belum diketemukan. Ia merasa kecewa dan duduk pula di kursi depan tadi.
Mendadak ia melihat di samping meja tulis itu ada sebuah meja kecil yang penuh tertaruh kertas dari macam-macam ukuran dan warna. Pandangannya terbeliak, cepat ia comot setumpukan kertas itu. Ternyata semua kertas itu blangko kosong tanpa sesuatu tulisan, tapi justru inilah rahasia yang ingin ditemukannya.
Kertas itu sangat enteng dan tipis, tapi ulet, jenis kertas ini sangat spesial pada jaman itu. Siau-hi-ji sendiri hanya pernah melihat satu kali kertas dari kualitas demikian. Akan tetapi ia justru tahu bagaimana rasanya kertas ini kalau dimakan.
Soalnya Siau-hi-ji memang pernah menelan bulat-bulat sehelai kertas jenis ini.
Kiranya kertas ini serupa dengan kualitas kertas bergambar peta harta karun Yan Lam-thian yang diperolehnya dari Thi Sim-lan dahulu itu, peta itu telah ditelannya mentah-mentah, maka selamanya dia takkan lupa.
Dengan hati-hati ia mengerik secomot debu, lalu diusapkannya dengan perlahan di permukaan kertas itu, maka timbullah garis-garis di atas kertas dan ternyata memang benar menggambarkan peta harta karun itu.
Supaya maklum bahwa agar peta harta karun itu mirip aslinya, maka cara melukisnya adalah dengan arang yang keras (seperti potlot), jika kertas yang atas dibuat melukis, kertas di bawahnya dengan sendirinya meninggalkan bekas-bekas goresan.
Kini Siau-hi-ji mengusap permukaan kertas itu dengan debu, dengan sendirinya bekas goresan itu lantas timbul dan tertampak dengan jelas. Rupanya sewaktu Kang Piat-ho menurun peta yang terakhir kemudian dia tidak pernah mengutik-utik lagi tumpukan kertas ini.
Siau-hi-ji menghela napas panjang, gumamnya, “Yang membuat peta palsu itu kiranya memang dia. Orang yang sengaja mengadu domba para ksatria di dunia ini agar saling membunuh secara keji, ternyata benar dia inilah biang keladinya.”
Lalu ia menjengek sendiri, “Hm, hebat benar ‘Kang-lam-tayhiap’ yang berbudi dan baik hati?! Hm, sebelum ini memang sudah kuduga kau pasti manusia yang punya ambisi jahat, kalau tidak untuk apa berlagak seperti seorang pendekar sejati? Bukan saja kau bermaksud mengelabui segenap ksatria di jagat ini, bahkan kau hendak menumpas mereka yang tak mau takluk padamu dengan akalmu yang keji, dengan begitu kau akan dapat menjagoi dunia ini.”
Dengan hati-hati ia mengembalikan semua benda yang dipegangnya ke tempat semula, lalu bergumam pula, “Jika kau tidak mengganggu diriku, sebenarnya aku pun malas ikut campur urusanmu. Tapi pernah kau bikin aku tertipu satu kali, kalau aku tidak memberi hajaran setimpal padamu rasanya aku berdosa kepada diriku sendiri.”
Segera ia padamkan lampu dan mengundurkan diri dari kamar rahasia itu. Ia mengembalikan pesawat rahasianya dalam keadaan seperti semula. Ia tahu, seumpama saat ini juga dia bongkar tipu muslihat Kang Piat-ho, tentu orang lain tidak mau percaya, soalnya Kang Piat-ho benar-benar pintar berlagak. Terpaksa ia harus menunggu lagi, ia yakin Kang Piat-ho toh takkan mampu lolos.
Begitulah Siau-hi-ji lantas kembali ke kamar tidur Kang Giok-long itu. Dilihatnya Giok-long masih tidur dengan nyenyak, bahkan masih meringkal miring seperti tadi tanpa berubah sedikit pun, kepalanya setengah terbenam di bantalnya, “belenggu cinta” yang sudah terbuka itu masih mencantol di tangannya.
Dengan diam-diam Siau-hi-ji merebahkan diri, tangannya dimasukkan pula ke dalam belenggu itu, “klik”, kuncinya ditutup pula.
Ia tidak ingin memikirkan apa-apa lagi, ia ingin tidur senyenyak-nyenyaknya, supaya penuh semangat untuk menghadapi persoalan yang akan terjadi besok.
Tapi sebelum dia memejamkan matanya, sekonyong-konyong ada orang menyalakan pelita di dalam rumah.
Keruan Siau-hi-ji terkejut, cepat ia pentang mata lebar-lebar, segera dilihatnya seorang berdiri di depan pembaringannya dengan tersenyum simpul, di bawah cahaya lampu yang gemerlap terlihat wajahnya yang pucat. Jelas dia ini Kang Giok-long adanya.
Padahal jelas-jelas Kang Giok-long tidur di sampingnya, mengapa sekarang bisa berdiri di depan pembaringan?!
Seketika Siau-hi-ji melonjak bangun dan memandang orang di sebelahnya. Ia melenggong, orang di sebelahnya juga sedang memandangnya dengan tertawa, kiranya ialah si kakek bisu-tuli yang loyo itu.
Sampai sekian lama Siau-hi-ji tertegun, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan berkata, “Ya, sudah jelas-jelas kutahu Kang Piat-ho seorang tokoh mahalihai, mengapa aku tetap menilai rendah dia?”
“Memangnya itu pun menggelikan?” jengek Kang Giok-long. “Menurut pendapatku, saat ini seharusnya kau menangis.”
“Karena ingin menangis tapi tak dapat menangis, dengan sendirinya aku cuma tertawa saja,” jawab Siau-hi-ji.
Pada saat itu pula terlihat Kang Piat-ho melangkah masuk dengan perlahan, katanya dengan suara halus dan mengulum senyum, “Kau telah menemukan rahasia yang mahapenting itu, seharusnya kau dapat kabur cepat-cepat, tapi kau ternyata tidak mau lari, sebaliknya malah kembali ke sini seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sungguh nyalimu mahabesar dan sangat mengejutkan.”
“Sudah jelas-jelas kau mengetahui rahasiamu telah kuketahui, tetapi tetap kau nantikan kembaliku ke sini seperti tidak pernah terjadi apa-apa dan membiarkan aku membelenggu pula diriku sendiri …. Ai, kau benar-benar tokoh yang mahalihai,” demikian jawab Siau-hi-ji.
“Kau masih muda belia, tapi dapat menipu aku dan ternyata mampu menemukan rahasiaku, sungguh hal ini tak pernah kubayangkan, aku benar-benar kagum padamu,” ucap Kang Piat-ho.
“Kau dapat membuat semua orang percaya penuh padamu sebagai seorang ksatria sejati, seorang pahlawan yang berbudi dan baik hati, setiap orang sama menghormati dan segan padamu, sungguh kau tidak malu disebut sebagai pentolan pada jaman ini,” jawab Siau-hi-ji pula.
Begitulah gayung bersambut dan kata berjawab, kedua orang ternyata sama-sama tajam dan saling menyanjung pihak lain. Jika ada orang awam yang menyaksikan dan mendengar percakapan mereka tentu tiada seorang pun yang dapat menerka apa sebenarnya isi hati mereka.
“Sebenarnya aku sangat sayang pada kecerdasan dan kepintaranmu,” ujar Kang Piat-ho dengan gegetun. “Tapi mengapa kau justru menjadi lawanku? Jika kau sudah mengetahui rahasiaku itu, biarpun aku sayang padamu juga terpaksa harus kukorbankan.”
“Sesungguhnya aku pun sangat sayang kepada kepintaran dan kecerdikanmu, aku suka menyaksikan usahamu dapat berhasil dengan baik, tapi mengapa kau sengaja membuat peta pusaka sialan itu sehingga aku pun tertipu olehmu?”
Mendadak air muka Kang Piat-ho berubah, serunya, “Dari mana kau tahu peta pusaka itu ada sangkut-pautnya dengan diriku?”
“Jika bukan lantaran peta harta pusaka itu, mana bisa aku datang ke sini dan mana bisa pula kuselidiki rahasiamu dengan susah payah? Padahal kalau kau tidak merecoki diriku, tentu aku tidak ambil pusing akan segala macam rahasiamu.”
Kang Piat-ho memandang Giok-long sekejap, lalu bertanya pula kepada Siau-hi-ji, “Sejak kapan kau mengetahui?”
“Waktu kulihat putra kesayanganmu ini membawa sehelai peta wasiat, aku lantas tanya dia peta ini diperoleh dari mana,” tutur Siau-hi-ji. “Menurut ceritanya, katanya dia dapat mencuri peta ini dari kamarmu. Tatkala mana lantas terpikir olehku mengapa peta wasiat yang bernilai dan penting begini sembarangan kau taruh saja di kamar tulis? Sejak itulah aku lantas menaruh curiga.”
“Curigamu memang beralasan,” ujar Kang Piat-ho.
“Kemudian kudengar pula cerita orang lain bahwa ayah dari putra kesayangan ini adalah seorang pendekar besar di jaman ini, maka terpikir pula olehku bahwa seyogianya naga beranak naga dan harimau beranak harimau, mengapa seorang pendekar besar dapat mengeluarkan anak yang begini rendah dan tidak tahu malu?”
“Ehm, makianmu juga cukup beralasan,” kata Kang Piat-ho dengan tersenyum.
“Lalu ketemulah aku dengan kau dan ikut ke sini,” ucap Siau-hi-ji pula. “Kulihat seorang pendekar besar ternyata rela berdiam di tempat beginian bahkan bekerja sendiri dan cuma dibantu seorang kakek reyot bisu-tuli. Aku menarik kesimpulan, kalau orang ini bukan nabi pastilah seorang yang mahajahat dan mahaculas. Sebab di dunia hanya dua macam manusia ini saja yang sanggup berbuat demikian.”
“Dengan sendirinya aku tidak terlalu mirip nabi,” kata Kang Piat-ho dengan tertawa.
“Makanya aku lantas bertekad ingin menyelidiki rahasiamu,” sambung Siau-hi-ji.
“Kau sungguh teramat sangat pintar, tapi sungguh itu pun merupakan kemalanganmu,” kata Kang Piat-ho dengan gegetun.
“Seorang kalau dilahirkan menjadi orang pintar rasanya juga tak dapat menolak dan terpaksa harus terserah pada nasib,” ujar Siau-hi-ji.
“Betul, dalam hal ini aku sependapat denganmu,” Kang Piat-ho mengangguk.
“Bilamana aku lebih tua sedikit, mungkin aku dapat belajar berlagak bodoh.”
“Cuma sayang kau takkan dapat belajar lagi untuk selamanya,” ucap Kang Piat-ho.
Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Kukira, mungkin sekarang kau akan turun tangan membunuh diriku.”
Kang Piat-ho tersenyum, jawabnya, “Selamanya aku tidak tega turun tangan membunuh orang.”
“O, jika begitu akan kau pakai cara keji apa pula?” tanya Siau-hi-ji.
Setelah merenung sejenak, lalu Kang Piat-ho berkata dengan tertawa, “Tahukah bahwa semalam bukan cuma kau satu-satunya orang yang hendak mencelakaiku?”
“O, siapa pula yang ingin mencelakaimu?” tanya Siau-hi-ji.
“Semalam sudah ada orang yang berkunjung ke kamarku, lebih dulu dia meniupkan dupa pembius, lalu mendongkel daun jendela, jelas tujuannya hendak membunuhku. Cuma sayang semalam aku tidak tidur di rumah.”
“Betul, semalam kita masih di tengah perjalanan dan bermalam di hotel,” tukas Siau-hi-ji. “Tapi dari mana engkau mengetahui kamarmu pernah dikunjungi orang?”
“Waktu pulang tadi, di dalam kamarku masih ada sisa bau obat bius, di ambang jendela juga ada bekas telapak kaki,” tutur Kang Piat-ho dengan tertawa. “Makanya aku dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang ingin membunuhku semalam itu bukan jagoan yang ulung.”
“Jika dia sudah ulung, tentu malam ini dia takkan datang lagi,” kata Siau-hi-ji.
“Betul, lantaran dia tidak ulung, maka malam nanti dia masih akan datang lagi,” tukas Kang Piat-ho
“Maka kau menghendaki malam nanti kutidur di kamarmu untuk mewakilkanmu dibunuh orang, dengan begitu jiwaku pasti akan amblas, kesempatan mana dapat pula kau gunakan untuk menangkap orang itu, dan bila kau bunuh orang itu dapat kau tonjolkan alasanmu sebagai membalaskan sakit hatiku. Kalau hal ini diketahui orang lain, bisa jadi kau akan dipuji pula sebagai ksatria yang berbudi luhur dan setia kawan.”
“Hahaha, bicara dengan anak pintar seperti kau ini sungguh sangat menyenangkan. Pada hakikatnya aku tidak perlu bicara dan semua isi hatiku sudah kau ketahui.”
“Aku lebih suka tidak mengetahui apa pun,” ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas.
Dan benar juga, Siau-hi-ji lantas digusur ke kamar tidur Kang Piat-ho dan dibaringkan di tempat tidurnya.
Siau-hi-ji sendiri pula yang membuka kunci “belenggu cinta” itu, tapi begitu belenggu terbuka, seketika beberapa Hiat-to penting di tubuhnya ditutuk oleh Kang Piat-ho.
Sekarang anak muda itu sudah telentang di tempat tidur, matanya terbelalak memandangi langit-langit kamar. Saking kesalnya ia sengaja tidak mau memikirkan apa-apa, untuk melupakan segalanya ia sengaja berhitung, menghitung biri-biri, seekor, dua ekor, tiga, empat, lima ….
Dengan berhitung begitu ia berharap dapat tertidur, kalau sudah tidur nyenyak, maka dia tidak perlu merisaukan akan hidup atau mati. Ia terus berhitung dan hitung terus, tapi meski dia sudah hitung sampai biri-biri yang kedelapan ribu enam ratus lima puluh tujuh, matanya ternyata masih terbelalak lebar.
Karena menghitung biri-biri, tanpa terasa dia lantas teringat kepada si Tho Hoa, terkenang olehnya wajah si Tho Hoa yang kemerah-merahan seperti kulit apel itu, karena itu pula segera ia pun teringat pada Thi Sim-lan.
Selama ini dia tidak tahu bahwa daya pikir renteng manusia umumnya ternyata begini aneh, semakin tidak ingin memikirkan seseorang, bayangan orang itu justru timbul dalam benakmu.
“Di manakah Thi Sim-lan saat ini? Mungkin sedang asyik mengobrol dengan Bu-koat Kongcu yang sopan dan cakap itu. Akan tetapi aku sendiri berada di sini lagi menanti ajal.”
Begitulah Siau-hi-ji coba memejamkan mata sebisanya agar tidak memikirkan Thi Sim-lan, tapi bayangan nona itu justru seperti timbul di depan matanya dengan pakaiannya yang putih dan berdiri di bawah cahaya mentari yang gemilang.
Itulah adegan untuk pertama kalinya ia lihat Thi Sim-lan. Jika tiada Thi Sim-lan, tentu ia takkan melihat “peta wasiat” sialan itu, dan kalau bukan lantaran “peta wasiat” itu, mana bisa ia datang ke sini?
Ia berusaha menghitung biri-biri lagi … 8658 … 8659 … tapi kepala biri-biri seluruhnya seolah-olah berubah menjadi wajah Thi Sim-lan yang cantik.
Sekonyong-konyong terdengar suara keresek perlahan di luar jendela, menyusul sayup-sayup lantas terendus bau harum tersebar di dalam kamar.
Segera Siau-hi-ji menahan napas, pikirnya, “Ini dia, akhirnya datang juga. Perhitungan Kang Piat-ho ternyata sangat tepat. Ai, sebuah jariku saja tak dapat bergerak, apa gunanya pula menahan napas?”
Karena berbaring tak bisa berkutik, terpaksa Siau-hi-ji hanya dapat mengintip dengan mata setengah terpejam.
Tertampak daun jendela terbuka dengan perlahan, habis itu sesosok bayangan orang lantas menyelinap masuk.
Orang ini memakai pakaian hitam ketat, tangan memegang sebilah golok tipis gemilapan, gerak-geriknya sangat enteng dan gesit, tampaknya nyalinya juga tidak kecil.
Cahaya golok yang gemerlapan itu sekilas menerangi wajah penyatron itu, kebetulan Siau-hi-ji dapat melihat mukanya, seketika ia melongo kaget.
Penyatron berbaju hitam yang bernyali besar itu ternyata bukan lain daripada Thi Sim-lan.
Siau-hi-ji menjadi ragu-ragu pada matanya sendiri, jangan-jangan pandangannya yang kabur? Di dunia ini mana ada kejadian begini kebetulan?
Akan tetapi penglihatannya jelas tidak salah, penyatron ini memang betul Thi Sim-lan adanya.
Begitu menyelinap masuk kamar, setelah melihat di tempat tidur ada orang berbaring di situ, tanpa memandang lebih cermat lagi segera Thi Sim-lan menubruk maju, golok terangkat terus membacok kepala yang berada di atas bantal.
Karena tak dapat bergerak dan juga tak mampu bersuara, Siau-hi-ji menjadi cemas dan pedih dan entah apa pula rasanya. Sungguh sukar dipercaya bahwa dia harus mati di tangan Thi Sim-lan, apakah bukan takdir sengaja berkelakar dengan dia?
Kang Piat-ho dan Kang Giok-long pada saat itu berada di luar pintu dan sedang mengintip segala kejadian yang sedang berlangsung, asalkan golok si nona sudah dibacokkan, seketika mereka akan menerjang masuk … dan tampaknya bacokan Thi Sim-lan sudah dilakukan dan kepala Siau-hi-ji pasti segera akan berpisah dengan tubuhnya.
Di luar dugaan, pada detik yang menentukan itulah sekonyong-konyong terdengar suara “krek” satu kali, golok yang sudah diangkat tinggi-tinggi oleh Thi Sim-lan dan akan dibacokkan itu mendadak patah menjadi dua secara gaib.
Keruan Kang Piat-ho dan Kang Giok-long sama-sama terkejut, “Siapakah yang memiliki kelihaian sehebat ini?” pikir mereka.
Thi Sim-lan juga tidak kurang kagetnya, wajahnya menjadi pucat, ia menyurut mundur beberapa langkah, tampaknya hendak putar haluan dan melarikan diri.
Pada saat itulah dari luar jendela lantas melayang masuk sesosok bayangan manusia, begitu enteng dan cepat laksana daun tertiup angin saja.
Di bawah kerlipan sinar bintang yang remang-remang tertampak orang ini memakai baju panjang warna putih, wajahnya tersenyum sopan dan ramah, dipandang dalam keadaan remang-remang tampaknya seperti malaikat dewata yang baru turun dari kayangan, begitu memesona daya tarik orang ini sehingga sukar dilukiskan dari mana timbulnya daya tariknya yang luar biasa itu.
Kang Piat-ho juga terpengaruh oleh daya tarik orang yang gagah dan anggun itu, seketika ia tertegun. Tak teringat olehnya di dunia persilatan ada seorang tokoh muda sehebat ini.
Tapi sekali pandang saja Siau-hi-ji lantas mengenali pendatang ini dan hampir saja ia jatuh kelengar.
Dengan sendirinya pemuda ini bukan lain dari pada model manusia yang paling sempurna, yakni Hoa Bu-koat alias Bu-koat Kongcu, sesuai dengan namanya, Bu-koat memang berarti tanpa cacat.
Tanpa terasa Thi Sim-lan menyurut mundur lagi dua tindak, dengan suara serak ia berkata, “Kiranya engkau? Meng … mengapa engkau datang …?”
“Ya, aku,” sahut Bu-koat Kongcu tersenyum. “Sejak kemarin kau mencari ‘Ngo-ko-bi-hun-hiang’ (dupa pembius sampai pagi), aku lantas merasa curiga akan tindak tandukmu. Karena itulah selama dua hari ini senantiasa kukuntit kau secara diam-diam.”
Thi Sim-lan membanting-banting kaki, katanya dengan mendongkol, “Untuk apa engkau menguntit diriku, kenapa kau rintangi aku membunuh dia?”
“Setiap orang Kangouw sama bilang ‘Kang-lam-tayhiap’ adalah seorang ksatria yang berbudi luhur, andaikan kau merasa marah padanya kan juga tidak perlu membunuh dia begini saja?” ujar Bu-koat Kongcu dengan suara halus.
“Tapi … apakah kau tahu bahwa … bahwa ayahku telah … telah dibunuh olehnya?” seru Sim-lan dengan suara gemetar.
Pada saat itulah Kang Piat-ho lantas mendorong pintu dan melangkah masuk dengan wajah penuh rasa kejut dan heran, ia berlagak bingung terhadap apa yang dikatakan Thi Sim-lan itu. Ia memberi hormat, lalu bertanya dengan tertawa, “Siapakah kedua saudara muda ini? Selama hidupku rasanya tidak pernah sembarangan membunuh orang yang tak berdosa, dari mana pula Cayhe dapat dituduh membunuh ayah nona? Barangkali terjadi salah paham nona terhadap diriku?”
Mata Thi Sim-lan menjadi merah basah, teriaknya dengan gusar, “Jelas-jelas ayahku meninggalkan tanda rahasia dan memberitahukan padaku bahwa dia datang ke sini mencari kau. Tapi setiba di sini beliau tak pernah keluar lagi dan itu berarti beliau masih berada di sini, kalau orangnya tidak ada itu berarti telah kau bunuh beliau.”
“Nona ini siapa ….” tanya Kang Piat-ho.
“Aku she Thi, ayahku adalah ‘Ong-say’ Thi Cian,” jawab Sim-lan dengan suara keras.
“O, kiranya nona Thi,” ucap Kang Piat-ho tertawa, “Tapi Cayhe sanggup menjamin dengan nama baikku bahwa Thi-losiansing benar-benar tidak pernah datang ke sini. Coba saja nona pikir dengan seksama, apabila benar Cayhe telah membunuh Thi-losiansing, betapa besar peristiwa luar biasa ini, umpama Cayhe hendak merahasiakannya rasanya juga sukar mengelabui orang Kangouw yang tidak kurang daripada tokoh-tokoh yang berhidung tajam. Apalagi kalau betul kubunuh Thi-losiansing, rasanya Cayhe juga tidak perlu merahasiakannya.”
Apa yang diucapkan Kang Piat-ho ini memang cukup beralasan dan masuk di akal. Harus maklum bahwa “Ong-say” Thi Cian, si Singa gila, adalah satu di antara kesepuluh top penjahat Cap-toa-ok-jin yang terkenal itu.
Bahwa orang-orang Kangouw banyak yang ingin membunuh Thi Cian dan kawanan Cap-toa-ok-jin itu dapatlah dimengerti pula. Maka kalau ada orang berhasil membunuhnya, bukan saja hal ini akan menggemparkan dan menggembirakan dunia Kangouw, bahkan setiap orang Kangouw pasti juga akan memberi pujian. Jadi kalau betul terjadi hal yang menggembirakan orang-orang Kangouw itu, mustahil kalau sengaja dirahasiakannya malah. Maka apa yang diucapkan Kang Piat-ho itu walaupun juga bernada menyindir, tapi juga masuk di akal.
Dasar watak Thi Sim-lan juga seperti ayahnya, yaitu berangasan dan pemberang, meski kedatangannya ini adalah untuk menuntut balas dan bila perlu mengadu jiwa, tapi sesungguhnya apakah ayahnya memang mati terbunuh di sini atau tidak, pada hakikatnya ia sendiri pun tidak tahu dengan pasti.
Begitulah Kang Piat-ho lantas berpaling dan memberi hormat kepada Bu-koat Kongcu, katanya dengan tertawa, “Kongcu benar-benar mutiaranya dunia Kangouw, sudah berpuluh tahun Cayhe berkecimpung di kalangan persilatan, tapi selama itu belum pernah melihat tokoh muda seperti Kongcu ini. Kalau tidak keberatan, bolehkah Cayhe mengetahui nama dan she Kongcu yang terhormat?”
Dengan tersenyum Bu-koat Kongcu menjawab, “Cayhe Hoa Bu-koat dan Tuan ….
“Cayhe Kang Piat-ho adanya,” sahut Kang Piat-ho sambil menghormat pula.
Seketika Thi Sim-lan melonjak kaget, teriaknya, “He, jadi engkau ini Kang Piat-ho, lalu siapa pula yang meringkuk di tempat tidur itu?”
Diam-diam Kang Piat-ho tertawa geli akan watak Thi Sim-lan yang ceroboh itu, tampaknya saja nona ini lemah lembut, tapi tindak tanduknya ternyata keras dan ceroboh, masa sejak tadi baru sekarang ditanyakannya siapa yang meringkuk di tempat tidur itu?
Tiba-tiba timbul suatu pikiran dalam benaknya, segera ia mendekati tempat tidur dan menepuk perlahan bahu Siau-hi-ji, lalu menjawab, “Anak ini adalah putra mendiang sahabatku yang berbudi, ia datang dari tempat jauh, maka Cayhe menyilakan dia tidur di kamarku ini. Eh, keponakan yang baik, lekas bangun dan menemui Hoa-kongcu.”
Berbareng dengan gerakan tangannya, serentak ia membuka Hiat-to di tubuh Siau-hi-ji yang ditutuknya, tapi segera pula tangannya menekan perlahan di bagian Hiat-to mematikan untuk berjaga-jaga bila Siau-hi-ji berani mengucapkan sesuatu yang tidak menguntungkan dia, maka sekali tangannya menyalurkan tenaga segera anak muda itu tak dapat bicara lebih lanjut lagi alias jiwa akan melayang.
“Orang muda memang suka tidur dengan nyenyak, buat apa tuan membangunkan dia,” ujar Bu-koat Kongcu dengan tertawa.
Sebagian kepala Siau-hi-ji terbenam di bantal, mendadak ia berkata, “Aku sudah mendusin sejak tadi, cuma aku malas bicara dengan mereka.”
Kang Piat-ho mengernyitkan kening, omelnya, “He, mana boleh kau bersikap tidak sopan begini?”
“Siapakah gerangannya di dunia Kangouw ini yang tidak kenal engkau orang tua adalah ksatria yang berbudi luhur dan baik hati,” demikian ucap Siau-hi-ji. “Tapi mereka justru menuduh engkau telah sembarangan membunuh orang. Manusia yang tidak bijaksana dan tidak dapat membedakan antara yang salah dan yang benar, untuk apa kubicara dengan dia.”
Semula Kang Piat-ho mengira dalam keadaan terancam, paling-paling Siau-hi-ji hanya akan tegur sapa sekadarnya saja. Siapa tahu anak muda itu berbalik bersuara membelanya, hal ini sungguh-sungguh tak pernah terpikir olehnya.
Dengan sendirinya Kang Piat-ho tidak tahu bahwa saat ini orang yang paling ditakuti Siau-hi-ji bukanlah dia melainkan si Bu-koat Kongcu yang cakap itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thi Sim-lan bersuara, “He, kau … kau ….” ia pandang Bu-koat Kongcu sekejap dan mendadak tersenyum, lalu menyambung dengan suara lembut, “O, kalau … kalau engkau memang tidak membunuh ayahku, ya sudahlah, marilah kita pergi saja.”
Kang Piat-ho jadi melengak, ia heran mengapa nona ceroboh ini bisa berubah menjadi begini lembut dalam waktu sesingkat ini.
Sudah tentu baik Kang Piat-ho maupun Bu-koat Kongcu tidak mengetahui bahwa meski Siau-hi-ji berbicara dengan suara yang dibikin serak, tapi Thi Sim-lan adalah nona yang pernah bergaul sekian lama dengan anak muda itu, bahkan nona muda itu sudah jatuh cinta padanya, siang dan malam anak muda itu senantiasa terkenang olehnya. Dengan sendirinya dia dapat mengenali suara Siau-hi-ji biarpun anak muda itu sengaja mengubah suaranya sedemikian rupa.
Karena itulah dengan terkejut dan bergirang ia bersuara hendak menegur, tapi segera teringat olehnya apabila Bu-koat Kongcu mengetahui orang yang meringkuk di tempat tidur itu adalah Siau-hi-ji, maka pasti anak muda itu akan dibunuhnya.
Sebab itulah lekas-lekas ia mengajak Hoa Bu-koat pergi saja.
Hubungan dan sangkut-paut antara beberapa orang ini benar-benar sangat ruwet, betapa pun pintar dan cerdiknya Kang Piat-ho juga seketika tidak dapat memahami seluk-beluknya. Ia hanya tertawa saja dan berkata, “Kebetulan Hoa-kongcu berkunjung kemari, mana boleh pergi lagi secara terburu-buru begini?”
Hoa Bu-koat tertawa, jawabnya, “Cayhe juga sudah lama mengagumi nama Kang-lam-tayhiap dan ingin minta petunjuk, cuma ….”
Diam-diam Siau-hi-ji bersyukur ketika melihat Hoa Bu-koat hendak pergi, tapi sekarang mendadak didengarnya ucapan Bu-koat Kongcu itu bernada tidak jadi berangkat, saking gugupnya ia lantas berseru pula, “Bila kau benar-benar ingin menemui paman Kang, sepantasnya kau tunggu sampai esok pagi baru berkunjung pula ke sini. Sekarang tengah malam buta kau masuk melalui jendela, mana sopan santunmu sebagai seorang ksatria?”
Air muka Hoa Bu-koat berubah merah padam, bentaknya mendadak, “Siapa kau sebenarnya?”
Cepat Thi Sim-lan menarik tangan Hoa Bu-koat dan berseru, “Peduli siapa dia, lekas kita pergi saja.”
Dengan setengah paksa ia seret Hoa Bu-koat keluar jendela, baru saja ia menghela napas lega, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, Hoa Bu-koat sudah menghilang. Waktu ia menoleh, anak muda itu ternyata sudah berada pula di depan pembaringan Siau-hi-ji.
Hampir seluruh kepala Siau-hi-ji dibenamkan ke dalam bantal, diam-diam ia memaki diri sendiri yang goblok.
Melihat Hoa Bu-koat sudah pergi mendadak kembali lagi, tentu saja Kang Piat-ho juga melongo bingung.
Tertampak Hoa Bu-koat menarik muka dengan prihatin, lalu bertanya dengan sekata demi sekata, “Apakah orang ini Kang Hi adanya?”
Kang Piat-ho melengak, jawabnya sambil menyengir, “Hehe, apakah … apakah Hoa-kongcu kenal akan keponakanku yang baik ini?”
Hoa Bu-koat menghela napas panjang, lalu berkata dengan berseri, “Hah, bagus, bagus sekali, kau ternyata tidak mati.”
Melihat anak muda itu sangat gembira, sama sekali tak diduganya bahwa yang digembirakannya adalah lantaran Ho Bu-koat merasa sekarang dapat membunuh Siau-hi-ji dengan tangannya sendiri, ia malahan mengira anak muda itu adalah sahabat karib Siau-hi-ji, maka dengan tertawa ia menjelaskan, “Dengan sendirinya dia tidak mati, andaikan ada orang hendak membunuhnya juga Cayhe takkan mengizinkan.”
“Kau tidak mengizinkan?” Hoa Bu-koat menegas dengan tak acuh.
Melihat sikap orang yang rada aneh itu, diam-diam Kang Piat-ho merasa heran.
Pada saat itulah tahu-tahu Siau-hi-ji telah melompat bangun dan sembunyi di belakang Kang Piat-ho dan mencibir pada Hoa Bu-koat, katanya dengan tertawa, “Nah, kau dengar sendiri, barang siapa ingin membunuh keponakan baik ‘Kang-lam-tayhiap’, maka dia sama saja sedang bermimpi.”
“Selamanya Cayhe sangat kagum dan hormat pada Kang-tayhiap, tapi apa pun juga Cayhe juga harus membunuh orang ini dan tiada pilihan lain,” ucap Hoa Bu-koat dengan tenang.
Kembali Kang Piat-ho melengak, serunya, “Kau … kau ingin membunuhnya?”
“Ya, mau tak mau Cayhe harus membunuhnya,” ucap Hoa Bu-koat dengan menyesal.
Kang Piat-ho memandang Hoa Bu-koat, lalu memandang Siau-hi-ji sekejap, diam-diam ia mengeluh, “Wah, celaka, akhirnya aku tetap tertipu oleh akal licik setan cilik ini.”
Maklumlah, sekali dia sudah bicara, sesuai nama baik dan kedudukannya, betapa pun ia tidak dapat tinggal diam dan membiarkan sang “keponakan” sendiri dibunuh orang lain di depan hidungnya.
Melihat sikap Kang Piat-ho yang serba salah itu, sungguh Siau-hi-ji gembira setengah mati, tapi di mulut dia sengaja bicara dengan menyesal, “Paman Kang, kukira jangan ikut campur dan biarkan dia membunuhku saja. Ilmu silat orang ini sangat tinggi, bagaimanapun engkau juga bukan tandingannya, jika engkau tidak ikut campur, orang Kangouw pasti juga takkan mencemoohkan dirimu.”
Siau-hi-ji sengaja menandaskan kata-kata “mencemoohkan dirimu” dengan suara keras, sebab ia tahu bila Kang Piat-ho tinggal diam saja dan membiarkan Hoa Bo-koat membunuhnya, maka sebutan “Kang-lam-tayhiap” yang diperolehnya dengan susah payah itu seketika akan terhanyut dan tidak laku sepeser pun.
Tentu saja Kang Piat-ho tahu maksud tujuan Siau-hi-ji, sungguh perutnya hampir meledak saking gemasnya, tapi lahirnya dia tetap tenang-tenang saja dan tersenyum, katanya, “Apakah Hoa-kongcu benar-benar hendak bikin susah Cayhe?”
“Sebaiknya engkau menimbang lagi lebih masak,” ucap Hoa Bu-koat dengan suara berat. “Jika begitu terpaksa Cayhe ….”
Belum habis ucapan Kang Piat-Ho, tiba-tiba Kang Giok-long menerobos masuk sambil memegangi perut sendiri, mukanya pucat pasi, tubuh gemetar.
“Arak … arak yang dia bawa itu beracun!” demikian seru Giok-long sambil menuding Siau-hi-ji dengan suara terputus-putus.
Seketika air muka Kang Piat-ho juga berubah, ia berpaling dan melototi Siau-hi-ji, bentaknya dengan bengis, “Kami ayah beranak menerima kau dengan baik, mengapa … mengapa kau hendak mencelakai kami malah? Pantas kau sendiri tidak … tidak minum barang setetes pun, kiranya arakmu itu ber … beracun!”
Perubahan ini bukan saja di luar dugaan Hoa Bu-koat, bahkan Siau-hi-ji juga melenggong.
Tapi segera ia paham duduknya perkara, diam-diam ia memaki di dalam hati, “Keparat, licin dan keji amat muslihatmu ini ….”
Akal bulus Kang Giok-long itu memang lihai, suasana seketika berubah sama sekali, sampai-sampai Kang Piat-ho pun tidak perlu merintangi lagi apa bila Hoa Bu-koat hendak membinasakan Siau-hi-ji, sebab sekarang mereka sudah berdiri dalam satu pihak, sama-sama hendak membunuh Siau-hi-ji.
Begitulah Kang Piat-ho mendadak melolos pedang pusakanya dan mendamprat, “Kuanggap kau seperti anak sendiri, tak tersangka demi mengincar pedang pusaka ini hendak kau racuni aku … kau manusia berhati binatang yang tidak tahu budi kebaikan, jika … jika kau dibiarkan hidup, entah betapa banyak orang yang akan menjadi korban kejahatanmu. Demi kesejahteraan keluarga, demi ketenteraman dunia Kangouw, terpaksa harus kubinasakanmu.” Habis berkata, sekali bergerak, kontan pedangnya terus menusuk ke dada Siau-hi-ji.
Di luar dugaan, baru saja ia melancarkan serangan, tahu-tahu Hoa Bu-koat melompat maju dan memegang tangan Kang Piat-ho dengan perlahan.
Kembali Kang Piat-ho terkejut oleh kegesitan anak muda yang cakap ini di samping juga heran, ia tidak mengerti mengapa Hoa Bu-koat mendadak berbalik merintanginya, bukankah Hoa Bu-koat sendiri juga bertekad hendak membunuh Siau-hi-ji?
“Hoa-Kongcu, ken … kenapa kau ….” tanyanya dengan bingung.
“O, maaf,” sahut Hoa Bu-koat. “Soalnya aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Mendadak terdengar Kang Giok-long menjerit, berbareng tubuhnya lantas terkulai.
Segera Kang Piat-ho juga memegangi perut dan merintih, katanya dengan tersenyum pedih, “Jika … jika begitu, silakan kau turun tangan, Cayhe ….” belum habis bicara, ia terhuyung-huyung dan “bluk”, ia jatuh tertunduk di kursinya.
Hoa Bu-koat menghela napas, ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan diberikan kepada Kang Piat-ho sambil berkata, “Ini dua jenis obat, Siau-cu-hiang (dupa dewi) dan Soh-li-tan (pil gadis suci), yang satu dibakar dan dicium baunya, yang lain diminum, kedua macam obat ini sekaligus dapat menawarkan segala macam racun di kolong langit ini. Harap engkau memakainya sendiri, maaf, Cayhe tak dapat berdiam lebih lama di sini.”
Meski Hoa Bu-koat sudah bertindak dan sudah bicara dengan orang lain, namun sinar matanya tanpa berkedip selalu mengincar ke arah Siau-hi-ji. Maklumlah, dia sudah pernah diakali dan merasakan kelicikan akal bulus Siau-hi-ji sehingga anak muda itu dapat lolos. Keledai sekali pun takkan terperosot untuk kedua kalinya di tempat yang sama, begitu pula Hoa Bu-Koat tidak ingin mengulangi kejadian tempo hari, tatkala mana Siau-hi-ji dapat kabur, maka sekali ini dia tak berani lengah sedikit pun.
Rupanya Siau-hi-ji juga menyadari sekali ini dirinya jangan harap akan dapat meloloskan diri, maka sekalian ia lantas melipat kaki dan duduk bersila di atas ranjang. Dengan tertawa ia pandang Hoa Bu-koat, katanya, “Bahwa aku tidak jadi mati terbunuh, untuk ini aku harus mengucapkan selamat padamu.”
“Betul, bahwa kau tidak sampai mati dibunuh orang, sungguh beruntung bagiku,” sahut Bu-koat tertawa.
“Bila orang lain mendengar percakapan kita, mungkin mereka akan mengira kau ini biniku yang menyamar sebagai lelaki. Kalau tidak, masa aku tidak jadi mati kok malah mengucapkan selamat padamu.”
Hoa Bu-koat tidak jadi marah, ia tertawa tak acuh, jawabnya, “Nanti kalau kau sudah mati kubunuh, tentu mereka akan tahu bahwa dugaan mereka salah sama sekali.”
Memangnya kau yakin sekali ini pasti dapat membunuh diriku?”
“Sekali ini biarpun kau ingin membunuh diri juga tidak mungkin terjadi.”
“O, begitukah?” Siau-hi-ji menegak alis.
Dengan tenang Hoa Bu-koat menjawab, “Dalam jarak sedekat ini, asalkan tangan seseorang bergerak sedikit saja, seketika aku dapat mendahului menutuk delapan belas tempat Hiat-to di kedua lenganmu.”
Dia bicara dengan acuh tak acuh seakan-akan sedang mengobrol iseng sesuatu hal yang paling mudah dan sederhana, tapi bagi pendengaran Siau-hi-ji, ia percaya apa yang diucapkan seterunya itu sedikit pun bukan bualan.
Pada saat itulah Thi Sim-lan yang berdiri di luar jendela sana mendadak menggetarkan goloknya yang tipis sehingga menimbulkan suara mendenging. Golok itu ada sepasang, tadi sudah patah satu sehingga masih sisa sebuah.
Mendengar suara senjata itu, biji mata Siau-hi-ji berputar, tiba-tiba timbul sesuatu perasaannya, katanya dengan tertawa, “Tidaklah pantas jika kau membunuhku di sini.”
“Di mana pun boleh, tempat bukan soal bagiku,” ucap Bu-koat.
“Apakah kau berani membiarkan aku berjalan keluar sendiri?”
“Memangnya kau kira dapat kabur?” jawab Hoa Bu-koat tersenyum.
“Untuk apa kau pikir sejauh itu? Aku hanya tidak suka dipondong keluar olehmu dan ingin berjalan sendiri.”
Habis berkata ia lantas melompat turun dari tempat tidur, ia pandang sekejap kepada Kang Piat-ho dan Kang Giok-long. Jika orang lain, bukan mustahil saat ini rahasia kemunafikan ayah beranak itu pasti akan dibongkarnya habis-habisan.
Akan tetapi Siau-hi-ji tidak mau berbuat demikian, ia tahu cara demikian hanya akan sia-sia dan membuang tenaga belaka. Seumpama dia dapat membikin Hoa Bu-koat percaya Kang Piat-ho adalah manusia paling keji dan munafik di dunia ini, toh Hoa Bu-koat juga tetap akan membunuhnya lebih dulu, dengan demikian ia menjadi lebih sukar lagi untuk lolos. Mana lagi apa yang dikatakannya juga belum tentu dipercaya oleh Hoa Bu-koat.
Begitulah Siau-hi-ji lantas melangkah keluar. Rumah ini adalah bangunan model kuno, ambang jendelanya sangat pendek mirip ambang pintu saja. Maka sekali melangkah saja Siau-hi-ji sudah berada di luar. Ia pandang Thi Sim-lan, nona itu juga sedang memandangnya, matanya yang jeli itu entah betapa banyak mengandung perasaan yang ruwet dan kusut, rasanya siapa pun sukar menelaahnya dengan jelas.
Nona itu masih menggetarkan goloknya yang tipis lentik itu sehingga menerbitkan suara mendenging.
Angin malam meniup sepoi-sepoi dingin. Siau-hi-ji terus melangkah ke depan, sama sekali ia tidak menoleh kepada Hoa Bu-koat, tapi ia yakin pemuda itu pasti berada tidak jauh di belakangnya, ia pikir menoleh juga tiada gunanya.
Begitulah dengan berlenggang bebas ia berjalan lewat di samping Thi Sim-lan.
Sekonyong-konyong sinar golok berkelebat, Liu-yap-to, golok sempit tipis laksana daun pohon Liu yang dipegang Thi Sim-lan itu mendadak membacok ke belakang Siau-hi-ji.
Sudah tentu Siau-hi-ji tahu serangan itu ditujukan kepada Hoa Bu-koat. Biarpun kepandaian Hoa Bu-koat setinggi langit juga mesti menghindar dulu serangan ini. Maklumlah, betapa pun ilmu golok Thi Sim-lan juga tergolong kelas tinggi.
Pada saat sinar golok berkelebat itulah Siau-hi-ji lantas melompat ke depan. Didengarnya Thi Sim-lan berseru, “Tangkap ini ….”
Kiranya bacokannya baru mencapai setengah jalan, mendadak arahnya berubah, Liu-yap-to tiba-tiba dilemparkan kepada Siau-hi-ji. Dan bila anak muda itu sampai memegang senjata, maka kisah membunuh diri di Go-bi-san tempo hari itu tentu dapat berulang pula.
Tak tersangka, selagi golok itu melayang di udara, sekonyong-konyong terdengar suara “tring”, sisa Liu-yap-to ini secara ajaib mendadak juga patah menjadi dua dan jatuh ke tanah.
Dalam pada itu Hoa Bu-koat tahu-tahu sudah berada pula di belakang Siau-hi-ji, katanya tenang-tenang seperti tidak terjadi apa-apa, “Apakah kau masih hendak berjalan lebih jauh lagi?”
Kalau orang tidak menyaksikan permusuhan mereka dan cuma mendengar ucapan Hoa Bu-koat saja, pasti orang akan menyangka mereka adalah sahabat karib yang akan pergi melancong. Betapa tidak, Hoa Bu-koat tetap ramah tamah, tetap tersenyum simpul, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu persoalan di antara mereka. Malahan ia pun tidak menoleh, tidak memandang Thi Sim-lan barang sekejap saja.
Ia tahu, bilamana ia memandang Thi Sim-lan, maka nona itu pasti akan malu dan tiada muka lagi buat bertemu dengan dia. Selama hidup Hoa Bu-koat tidak pernah menyinggung perasaan anak perempuan mana pun juga, apalagi anak perempuan ini ialah Thi Sim-lan.
Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh, terpaksa ia berjalan terus ke depan.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia berkata dengan gegetun, “Tampaknya kau sangat baik terhadap anak perempuan.”
“Ya, itu sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil,” jawab Bu-koat dengan tertawa, “Kebiasaan kan sukar diubah bukan?”
“Tapi kalau anak perempuan bermuka sangat jelek, lalu bagaimana?”
“Asalkan anak perempuan, mukanya baik atau jelek kukira sama saja.”
“Haha, aku menjadi ingin mencarikan seorang anak perempuan yang bermuka sangat buruk, ya botak, ya kudisan, ya pesek, ya sumbing, ya pincang, ya … ya … ya burik …. Nah, akan kulihat cara bagaimana kau akan bersikap baik padanya?”
“O, sungguh menyesal, mungkin kau tidak mempunyai kesempatan begitu lagi,” kata Hoa Bu-koat.
Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas dan berkata pula, “Sungguh fantastis dan sukar dibayangkan bahwa selagi kau hendak membunuh seseorang, tapi tanpa gugup tanpa gelisah kau masih dapat mengajak berkelakar dan mengobrol dengan dia, ini benar-benar sukar dibayangkan.”
“Mengobrol dan membunuh adalah ….”
“Adalah dua persoalan yang berlainan, begitu bukan maksudmu?
“Betul, aku sendiri ingin mengobrol denganmu, tapi perintah yang kuterima mengharuskan diriku membunuhmu. Makanya kedua soal ini sama sekali berlainan dan tiada sangkut-pautnya satu sama lain.”
“Sungguh aku tidak paham, cara bagaimana kau dapat memisahkan persoalan ini?”
“Inilah ajaran yang kuperoleh sejak kecil.”
“Ai, kau benar-benar anak yang baik dan penurut.”
Hoa Bu-koat tertawa, katanya kemudian, “Kau hendak berjalan pula ke depan?”
“Ya, sebenarnya aku ingin berjalan terus ke depan, bahkan berjalan semakin jauh,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. “Tapi soalnya kau yang hendak membunuhku dan bukan aku yang ingin membunuhmu, pada hakikatnya kau tidak perlu meminta pendapatku.”
“O, jika begitu … jika begitu boleh berhenti saja di sini,” kata Hoa Bu-koat dengan perlahan dan rikuh.
Siau-hi-ji memandang sekelilingnya, di bawah cahaya bintang yang kelap-kelip redup tertampak bayangan pegunungan Ku-san yang besar di kejauhan, daun pepohonan yang berdekatan tampak sudah mulai layu dan rontok. … Malam di musim rontok sudah jauh larut ….
Siau-hi-ji bergumam, “Sungguh aneh, musim rontok di daerah Kang-lam mengapa begini dini datangnya dan aku Kang Hi, Kang Siau-hi mengapa pula harus mati sedini dan semuda ini? ….”
*****
Setelah Hoa Bu-koat bertiga pergi jauh barulah Kang Giok-long melompat bangun.
Kang Piat-ho berbangkit, dengan tertawa ia pandang putranya itu, katanya, “Tak tersangka caramu mencari akal pada saat gawat ternyata jauh lebih pintar daripadaku.”
Giok-long menunduk, jawabnya, “Ah, mana anak dapat dibandingkan dengan ayah, anak hanya ….”
“Di depan ayahmu sendiri tidak perlu banyak pikir,” ucap Kang Piat-ho. “Seumpama kau memang lebih cerdik dan pintar daripadaku juga aku merasa bersyukur, masakah aku sampai berbuat sesuatu yang tidak pantas padamu?”
Giok-long menunduk dan mengiakan.
Kang Piat-ho meraba-raba botol kecil porselen Hoa Bu-koat itu, katanya kemudian sambil berkerut kening, “Siau-cu-hiang dan Soh-li-tan … sungguh tidak nyana bocah she Hoa itu adalah anak murid Ih-hoa-kiong. Munculnya bocah ini di dunia Kangouw membuatku mau tak mau harus hati-hati.”
“Meski ilmu silatnya amat tinggi, tapi dia sama sekali tidak paham seluk-beluk orang hidup, kenapa mesti dikhawatirkan?” ujar Giok-long.
“Orang ini tampaknya hijau dan bodoh, tapi sesungguhnya mahapintar, mana kau dapat menjajaki pribadinya yang sesungguhnya?” kata Kang Piat-ho gegetun.
“Nona she Thi itu memang betul rada-rada mirip orang pintar yang tampaknya bodoh seperti ucapan ayah,” kata Giok-long dengan tertawa. “Cuma … seperti apa yang dikatakannya tadi, apakah ayahnya benar-benar tidak pernah datang ke sini? Betulkah ayah tidak pernah membunuhnya?”
Kang Piat-ho menjengek, katanya, “Walaupun aku belum pernah melihat Thi Cian si Singa Gila, tapi anak perempuan seperti nona Thi tadi, biasanya apa yang dikatakannya pasti tidak dusta.”
“Jika dia tidak berdusta dan membual, sedangkan engkau orang tua juga tidak pernah melihat datangnya si Singa Gila Thi Cian, lalu, bagaimana duduknya perkara sehingga nona Thi itu mencari ayahnya ke tempat kita ini?” kata Giok-long dengan mengernyit dahi.
“Ya, itu berarti bahwa si singa gila Thi Cian pasti pernah meninggalkan jejak di sini, bisa jadi kedatangannya dalam penyamaran, dan karena kelengahanku sehingga tak dapat kukenali dia.”
“Tapi … tapi nona itu pun menyatakan bahwa setelah ayahnya datang ke tempat kita ini, lalu … lalu tak pernah lagi pergi dari sini,” ujar Kang Giok-long.
“Betul, kukira saat ini dia mungkin masih berada di sini,” ucap Kang Piat-ho dengan tenang-tenang saja.
“Masih berada di sini?” Giok-long menegas dengan rada melengak.
Kang Piat-ho mendengus, lalu berdiri, katanya pula dengan dingin, “Kau jangan lupa bahwa yang berada di sini selain kita ayah beranak, kan masih ada lagi satu orang?!”
“Hah, maksud ayah si bisu-tuli itu?” seru Giok-long.
“Bisu-tuli kenapa? Memangnya orang tak dapat berlagak bisu-tuli?”
“Tapi … tapi ayah pernah mencoba dengan merunduk dari belakang dan mendadak membunyikan gembreng besar di tepi telinganya, waktu itu kupandang dari depan dan jelas dia sama sekali tidak mendengar bunyi gembreng yang keras itu, bahkan berkedip saja tidak.”
“Orang yang memiliki kekuatan batin, biarpun gunung longsor di depan matanya juga takkan membuatnya gugup, apalagi mata berkedip?”
Segera Kang Giok-long berkata pula dengan suara tertahan, “Apakah ayah tahu saat ini dia berada di mana? Bisa jadi sudah kabur lebih dulu.”
Tapi Kang Piat-ho sengaja membesarkan suaranya, katanya dengan bengis, “Dia menyangka aku takkan mencurigai dia, maka saat ini dia pasti berada di sini. Pokoknya bila sebentar kita pergoki dia, seketika juga kita binasakan dia dan jangan memberi kesempatan padanya untuk bicara. Lebih baik kita salah membunuh seratus orang daripada seorang mata-mata terlolos. Nah, camkan dan ingat baik-baik petuahku ini.”
Kalau Kang Giok-long khawatir pembicaraan mereka didengar oleh orang, makanya dia berkata dengan suara tertahan, tak tahunya sang ayah justru sengaja bicara dengan suara keras, tentu saja ia merasa bingung dan heran. Apabila si kakek memang benar tidak bisu dan tuli, bukankah akan segera kabur bila mendengar ucapannya? Tapi setelah dipikir lagi, segera ia pun paham maksud kehendak sang ayah. Pikirnya, “Bisa jadi ayah sudah tahu kakek bisu tuli itu berada di sekitar sini, maka ayah sengaja bicara keras-keras, jika dia melarikan diri ketakutan, ini akan lebih terbukti bahwa dia memang betul si Singa Gila Thi Cian, tatkala mana belum lagi terlambat untuk mengejarnya.”
Dalam pada itu Kang Piat-ho lantas melangkah ke sana, “blang”, mendadak ia menolak daun pintu sekeras-kerasnya.