Pendekar binal 14

By abanstn


“Apakah Swat-hoa-to itu perempuan?” tanya Siau-hi-ji.

Tio Coan-hay menghela napas gegetun, jawabnya, “Ya, dia adalah salah satu dari ‘Sam-lo-sat’ (tiga setan buas) yang terkenal dan pernah disegani orang Kangouw dahulu. Ilmu goloknya memang sangat lihai.”

“Lalu siapa lagi yang seorang?”

“Dari ucapan Swat-hoa-to tadi, mungkin orang ini adalah tokoh terkemuka dari Tiang-pek-pay, si pedang naga sakti Pang Thian-ih. Kecepatan ilmu pedang orang ini memang tiada bandingannya di daerah Kwan-gwa.”

“Ai, mungkin usiaku sudah lanjut sehingga berbagai tokoh ternama dari angkatan muda tak kukenal lagi,” ucap Siau-hi-ji dengan lagak menyesal.

Alis Tio Coan-hay tampak berkerut, katanya, “Tempat harta karun ini sedemikian rahasia, mengapa sekaligus datang orang sebanyak ini? Sungguh aneh dan mengherankan.”

Dalam pada itu kelihatan sinar golok dan cahaya pedang bergulung-gulung menggelinding tiba, di tengah sinar pedang yang kemilau itu ada dua sosok bayangan orang, yang satu kurus tinggi berbaju hitam, yang lain berpakaian putih mulus dan berperawakan ramping. Kedua orang bertempur dengan sengit.

Hati Tio Coan-hay ikut kebat-kebit menyaksikan pertarungan kedua orang itu. Sedangkan Siau-hi-ji acuh-tak-acuh, katanya, “Meski ilmu silat kedua orang ini lumayan juga, tapi banyak juga ciri kelemahannya. Kalau melayani aku, mungkin mereka tidak sanggup bertahan sepuluh jurus.”

Mendadak terdengar suara “creng” yang panjang, sinar pedang dan cahaya golok sirna seketika, si baju hitam dan perempuan baju putih sudah berhenti bertempur dan melompat ke depan Siau-hi-ji.

Kini terlihat jelas si perempuan baju putih, yaitu si Swat-hoa-to, berusia setengah baya, tapi masih kelihatan sisa-sisa kecantikannya di masa muda, perawakannya juga masih ramping. Kini ia pun dapat melihat Tio Coan-hay juga berada di situ, tiba-tiba ia berseru, “He, Coan-hay, kau pun datang ke sini.”

Tio Coan-hay menyengir, jawabnya, “Sudah lama tak berjumpa, tampaknya engkau masih tetap cantik.”

“Terima kasih,” kata si Swat-hoa-to dengan tersenyum manis. “Sungguh tak terduga kita akan bertemu di sini. Rasanya sudah sebelas tahun … ah, malah sudah hampir dua belas tahun kau tidak mencari diriku, memangnya kau hanya berpikir tentang nama dan harta saja dan tidak memikirkan urusan lain?”

Tio Coan-hay berdehem-dehem beberapa kali, jawabnya dengan kikuk, “O, aku … aku ….”

“Hahaha, bagus, bagus!” si baju hitam alias pedang naga sakti Pang Thian-ih mendadak mengejek, “Kiranya kekasih lama bertemu kembali. Tapi biarpun Liu Giok-ju ditambah lagi seorang Tio Coan-hay juga aku Pang Thian-ih tidak gentar.”

Merasa sudah mendapatkan bala bantuan, Swat-hoa-to Liu Giok-ju hanya mendengus saja dan tidak pedulikan olok-olok Pang Thian-ih itu, dia mengerling ke arah Siau-hi-ji yang berdiri di sisi Tio Coan-hay dan berkata, “He, apakah kau membawa muridmu? Mengapa bentuknya seaneh ini?”

“Bu … bukan,” jawab Tio Coan-hay dengan tergagap, “Inilah Giok … Giok-locianpwe.”

Seketika mata Liu Giok-ju melotot heran. “Giok-locianpwe?” ia menegas.

“Ya,” kata Tio Coan-hay. “Kim-leng-sam-kiam, Hwe-pian-hok, Niau-thau-eng dan Pek-coa-sin-kun yang menggeletak di sini semuanya binasa di tangan Giok-locianpwe ini.”

Keterangan ini bukan saja membikin Liu Giok-ju terkejut, bahkan Pang Thian-ih juga kaget, serentak mereka menyurut mundur dua-tiga tindak, mereka mengamat-amati Siau-hi-ji dengan ragu-ragu sambil menggenggam erat senjata masing-masing.

Diam-diam perut Siau-hi-ji hampir meledak saking gelinya, tapi lahirnya dia tenang-tenang saja. Bahkan dia sengaja menegur, “Apakah nona Liu juga memiliki peta harta karun?”

“Ehm,” Liu Giok-ju mengangguk.

Sorot mata Siau-hi-ji beralih ke arah Pang Thian-ih dan bertanya pula, “Dan kau?”

“Kalau tiada peta wasiat, cara bagaimana dapat kutemukan tempat ini,” jawab Pang Thian-ih dengan dingin.

Gemerlap sinar mata Siau-hi-ji, katanya pula, “Sampai saat ini, peta harta karun sudah muncul enam helai. Sungguh lucu, suatu harta karun enam peta, benar-benar aneh.”

Mendadak Pang Thian-ih angkat pedangnya dan berteriak, “Tak peduli berapa orang yang datang kemari, kalau sudah mati semua, sisa orang terakhir, dialah majikan harta karun ini.”

“Hm, jika kau ingin mampus saat ini juga pasti tiada yang keberatan,” kata Siau-hi-ji acuh. “Tapi apakah kau tidak mati penasaran apabila tempat penyimpanan harta karun itu belum pernah kau lihat barang sekejap saja?”

Pang Thian-ih melengak, tanpa terasa pedangnya diturunkan kembali.

“Ucapan Giok-locianpwe memang benar,” kata Tio Coan-hay. “Apa pun juga kita harus melihat buktinya dulu, kalau sudah jelas ditemukan harta karunnya barulah kita saling labrak mati-matian.”

“Ehm, mendingan pandangan Congpiauthau kita ini,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Lalu ia mendahului melangkah ke dalam gua, tapi baru saja beberapa langkah, tiba-tiba ia menoleh dan berkata kepada Tio Coan-hay, “Eh, tolong periksakan apakah di dalam baju Pek-coa-sin-kun itu terdapat barang apa-apa.”

Benar juga, dari saku baju Pek-coa-sin-kun ditemukan tiga buah kotak kecil buatan kayu cendana. Bentuk tiga kotak itu serupa, cuma masing-masing ditempeli secarik kertas kecil, yang satu tertulis “Bi-hun” (bius), yang kedua “Kay-tok” (penawar racun) dan yang ketiga jelas tertulis “Coaliang” (makanan ular).

Sungguh girang Siau-hi-ji tak terkatakan setelah menerima kotak-kotak itu, hampir saja ia berjingkrak kegirangan. Ia tahu dengan kotak makanan ular itu pasti dapat memancing pergi semua ular yang bersarang di tubuhnya itu. Tapi setelah ia pikir, ia ambil keputusan untuk sementara takkan mengutik-ngutik kawanan ular itu, maka kotak itu hanya di masukkannya ke dalam baju saja.

Rupanya tiba-tiba ia temukan suatu resep mujarab untuk menggertak orang, yaitu dengan menggunakan ular-ular hijau itu. Pada saat ini, detik ini, dia memang perlu main gertak pada beberapa orang itu.

*****
Gua itu ternyata sangat dalam, bahkan berlekuk-lekuk dengan hawa dingin menyeramkan.

Siau-hi-ji berjalan paling depan diikuti Tio Coan-hay yang mengangkat obor, Liu-Giok-ju sengaja membiarkan Pang Thian-ih berjalan di depan. Tapi orang she Pang itu tak gentar, dengan pedang terhunus ia terus mengintil di belakang Tio Coan-hay.

Tidak lama, tiba-tiba gua itu meluas, suasana menjadi terang dengan cahaya beraneka warna, banyak batu-batu berwarna aneh memenuhi dinding gua. Di situ tertancap dua obor besar dan di bawah cahaya obor terlihat ada lima orang, yang tiga berdiri dan dua lagi duduk bersila berhadapan, empat tangan mereka saling menempel, kiranya sedang mengadu tenaga dalam.

Kedua orang yang bertanding itu seorang adalah Hwesio berjubah dan yang lain seorang tua kurus kering.

Rupanya kedua orang sudah cukup lama mengadu tenaga, biji mata keduanya tampak melotot dan butiran keringat memenuhi dahi masing-masing.

Ketiga orang yang berdiri di samping pun tampak prihatin dan tegang. Meski Siau-hi-ji berempat sudah mendekati mereka, tapi ketiga orang itu seperti tidak ambil pusing.

Waktu Siau-hi-ji menoleh, dilihatnya air muka Tio Coan-hay, Liu Giok-ju dan Pang Thian-ih sama berubah pucat, agaknya mereka kenal kelima orang ini, bahkan pasti merasa jeri kepada mereka. Tampaknya baik ilmu silat maupun nama kelima orang itu pasti jauh di atas Tio Coan-hay bertiga.

“Aneh, mengapa kelima makhluk aneh ini pun datang ke sini?” demikian Tio Coan-hay bergumam sendiri.

“Seorang kalau dijuluki makhluk aneh, rasanya pasti cukup terkenal,” ujar Siau-hi-ji.

“Bukan cuma terkenal, bahkan disegani,” tukas Tio Coan-hay. “Pernahkah Cianpwe mendengar Eng-jiau-kang keluarga Ong di daerah Hwaylam? Ilmu cakar elang sakti mereka ini sudah sangat terkenal di dunia Kangouw sejak 70 tahun yang lampau.”

“Ya, pernah kudengar,” kata Siau-hi-ji.

“Orang tua kurus kecil itulah tokoh utama Eng-jiau-bun sekarang,” tutur pula Tio Coan-hay. “Namanya Ong It-jiau berjuluk ‘Si-jin-ji-keh’ (memandang orang seperti ayam).”

“Si-jin-ji-keh? Sungguh aneh, terhitung nama apakah ini?” kata Siau-hi-ji.

“Dia sendiri yang memilih nama begitu,” kata Tio Coan-hay dengan menyengir. “Artinya, tidak peduli siapa pun juga dalam pandangannya tidak lebih hanya seperti anak ayam belaka. Elang menyambar anak ayam biasanya kan cuma sekali cengkeram saja?”

“Hm, aneh sekali namanya, besar amat nadanya ….” jengek Siau-hi-ji. Waktu ia berpaling ke arah Hwesio jubah kuning, dilihatnya tubuh paderi itu sangat kekar, sama-sama duduk, tapi satu kepala lebih tinggi daripada si kakek yang bernama Ong It-jiau alias Si-jin-ji-keh.

Kini keempat tangan kedua orang itu saling menempel sehingga Ong It-jiau sendiri mirip anak ayam di bawah cakar si elang. Siau-hi-ji menjadi geli, ia coba tanya Tio Coan-hay dengan perlahan, “Menurut kau siapa di antara kedua orang ini yang lebih mirip anak ayam?”

Tio Coan-hay merasa geli juga, tapi tidak berani tertawa sehingga lebih tepat dikatakan menyengir. Dia berdehem untuk menutupi rasa kikuknya itu, lalu berkata, “Paderi jubah kuning ini adalah Ui-keh Taysu (pendeta agung ayam kuning) dari Keh-bing-si di Ngo-tay-san.”

Siau-hi-ji bergelak tertawa saking gelinya, katanya, “Yang mirip anak ayam justru menganggap dirinya elang, yang menyerupai elang justru bernama ayam. Tampaknya kedua orang ini memang dilahirkan untuk menjadi musuh satu sama lain. Entah mereka ….”

“Tutup mulut?” mendadak seorang membentak. Suaranya tidak terlalu keras, tapi terasa memekak telinga.

Kiranya yang membentak adalah salah seorang kakek berbaju biru yang berdiri di samping itu, dia membentak tanpa menoleh, perhatiannya terarah kepada Ong It-jiau dan Ui-keh Taysu yang sedang mengadu tenaga dalam.

“Orang macam apa pula bocah ini?” ucap Siau-hi-ji dengan lagak jagoan.

Muka Tio Coan-hay menjadi pucat, ia pandang si kakek jubah biru dan memandang pula ular yang memenuhi tubuh Siau-hi-ji, akhirnya dia berkata dengan suara tertahan, “Tuan inilah It-ho-kay-san (sekali bersuara menggugurkan gunung) Siau-hun Kisu yang terkenal dengan Khikangnya, dia adalah sahabat karib Ui-keh Taysu, boleh dikatakan sehidup semati persahabatan antara mereka berdua.”

“Jika sahabat sehidup semati, mengapa dia tidak turun tangan membantu si Hwesio ayam kuning itu?” ujar Siau-hi-ji.

Tio Coan-hay berbisik pula terlebih lirih, “Dengan sendirinya Ong It-jiau juga tidak datang sendirian, kedua orang yang berdiri di belakangnya itu, yang seorang adalah tokoh Thian-lam-kiam-pay dan terkenal dengan ilmu pukulan serta ilmu pedangnya, seorang lagi adalah Khu Jing-po, Khujiya yang mengepalai keluarga Khu dari Ciatkang dengan ilmu tombaknya yang terkenal. Keluarga Khu dan keluarga Ong adalah sahabat turun temurun, dengan sendirinya mereka pun siap membela Ong It-jiau, cuma … cuma Ui-keh Taysu dan Ong It-jiau tentu juga jaga gengsi dan tidak suka dibantu.”

“Gengsi kentut anjing,” jengek Siau-hi-ji, “Kalau Ong It-jiau datang sendirian, mustahil kalau si tua Siau-hun tidak mengerubutnya ….” habis ini mendadak ia melangkah maju dan memberi salam kepada Khu Jing-po serta menegur, “He, apakah Khu-jite (adik kedua) selama ini baik-baik saja?”

Wajah Khu Jing-po itu putih bersih, dia sedang mengawasi pertarungan temannya dengan prihatin. Tapi demi nampak bentuk Siau-hi-ji yang aneh ini, mau tak mau ia pun melengak, jawabnya, “Jite siapa? Dari mana kau kenal diriku dan cara bagaimana kau pun datang ke sini?”

“Haha, kau tidak kenal aku, tapi kukenal kau,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sekali ini kubawa serta Tio Coan-hay, Pang Thian-ih dan nona Liu, si golok bunga salju, justru kami hendak membantumu, silakan kau dan saudara dari Thian-lam-kiam-pay itu turun tangan terhadap si tua Siau-hun, kutanggung mengantar si Hwesio ayam kuning pergi ke langit barat (artinya mati).”

Kejut dan heran pula Khu Jing-po, selagi bingung, tampak air muka Siau-hun Kisu berubah hebat, mendadak ia bersuit panjang nyaring sehingga api obor sampai tergoyang-goyang.

Dengan sendirinya perhatian Ong It-jiau dan Ui-keh Taysu juga terpengaruh oleh suara suitan keras itu, empat tangan yang tadinya saling menempel itu bergetar lepas seketika.

Kelima orang itu adalah tokoh-tokoh yang sudah berpengalaman luas dan berkepandaian tinggi, dengan sendirinya reaksi mereka pun sangat cepat. Serentak senjata mereka sudah tergenggam di tangan, Ui-keh Taysu melompat bangun sehingga mirip gumpalan awan kuning yang mengambang di udara.

Terdengar Siau-hun Kisu membentak, “Dengan nama kebesaran keluarga Ong dan Khu, apakah kalian juga ingin main kerubut?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji bergelak tertawa dan menimbrung, “Katanya kalian berlima adalah tokoh-tokoh luar biasa, padahal kalian juga tiada bedanya dengan kawanan bandit, kedua pihak sama-sama tidak dapat mempercayai pihak lain, masing-masing sama bermaksud busuk.”

Dengan murka Siau-hun Kisu membentak, “Siapa kau, sebenarnya apa kehendakmu?”

“Jangan khawatir,” jawab Siau-hi-ji, “Aku takkan membela pihak mana pun, aku cuma tidak tega melihat kalian saling bunuh sebelum menemukan harta karunnya, bukankah kalian akan mati konyol dan sia-sia belaka?”

“Sesungguhnya siapa kau?” tegur Ong It-jiau dengan sorot mata tajam.

“Kau tidak kenal aku?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tanyakan saja padanya.” Dia menuding Tio Coan-hay, maka lima pasang mata serentak menatap tajam ke arah orang she Tio itu.

Keder juga Tio Coan-hay, dengan menunduk ia berkata dengan gelagapan, “Inilah Giok … Giok-locianpwe, si raja diraja, yang dipertuan dari segenap ilmu pedang, yang diagungkan oleh semua ular, mengguncang bumi dan menggetar langit tanpa tandingan, Giok-ong-cu, Giok-locianpwe ….”

“Hehe, walaupun kelompatan beberapa kalimat, tapi boleh juga,” ucap Siau-hi-ji sambil manggut-manggut. “Nah, kalau kalian tidak pernah dengar namaku ini, maka berarti kalian yang cetek pengalaman dan cupet pendengaran.”

“Hm, bocah ingusan juga pakai serentetan nama begitu?” damprat Ong It-jiau.

“Tapi … tapi Lwekang Giok-locianpwe ini sudah mencapai puncaknya,” tutur Tio Coan-hay. “Kiam-leng-sam-kiam, Hwe-pian-hok, Niau-thau-eng dan Pek-coa-sin-kun, semuanya binasa di tangan Giok-locianpwe ini.”

Sudah tentu keterangan ini membuat gempar Ong It-jiau berlima. Dengan sorot mata tajam Siau-hun Kisu membentak Tio Coan-hay, “Orang-orang itu mati di tangannya, dari mana kau tahu? Apakah kau menyaksikan sendiri?”

“Aku … aku, sudah tentu kusaksikan sendiri, mayat mereka saat ini pun masih menggeletak di luar sana,” jawab Tio Coan-hay. Meski dia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi dalam hati dia sudah percaya penuh. Apalagi dalam keadaan demikian, ibarat orang sudah menunggang harimau dan sukar lagi turun, terpaksa ia harus menyatakannya secara tegas.

Seketika Ong It-jiau dan Khu Jing-po berlima saling pandang memandang, bila kemudian mereka berpaling ke arah Siau-hi-ji, maka sorot mata dan sikap mereka sudah jauh berbeda daripada tadi.

Maklumlah, meski kelima orang ini tidak memandang sebelah mata akan ilmu silat Tio Coan-hay, tapi terhadap keterangan orang she Tio itu mereka tak berani meremehkannya. Nama Congpiauthau gabungan tujuh belas perusahaan pengawalan dari propinsi Holam dan Hopak betapa pun juga berbobot, kalau dibawa ke rumah gadai sedikitnya laku berapa tahil perak.

Dengan berseri-seri Siau-hi-ji mengerling semua orang, lalu berkata pula dengan tersenyum, “Harta karun ini ada beberapa buah peta, apakah kalian tidak merasa heran atas kejadian ini dan tidak ingin mencari tahu sebab musababnya?”

Jika uraian Siau-hi-ji ini diucapkan tadi mungkin takkan diperhatikan dan direnungkan oleh orang-orang itu, kini kedudukannya sudah lain dalam pandangan mereka, dengan sendirinya bobot perkataannya juga sudah berbeda.

Segera pikiran Ong It-jiau dan lain-lain bekerja cepat, mereka pun merasa urusan ini rada ganjil dan mencurigakan.

Waktu Siau-hi-ji menengadah, terlihat di atas gua ada sebuah lubang angin, kelihatan bintang-bintang di langit, bahkan cahaya bulan juga menembus masuk dari situ.

“Sudah tiba saatnya!” serentak orang-orang itu berseru.

Siau-hun Kisu bersuit, Ong It-jiau terus ayun tangannya, api obor segera padam, hanya sinar bulan saja yang tepat menyoroti sebuah tonggak batu. Rupanya tempat yang tersorot cahaya bulan itulah tepat jalan masuk ke tempat penyimpanan harta karun.

Ong It-jiau lantas mendahului melompat ke tonggak batu itu, sudah tentu yang lain tidak mau ketinggalan, beramai-ramai mereka memburu maju.

Tonggak batu itu memang benar dapat digeser, ketika obor dinyalakan pula, tertampaklah mulut lorong di bawah tanah yang penuh rahasia ini, belasan undak-undakan batu tampak menjurus ke bawah.

Segera Ong It-jiau mendahului turun ke situ, disusul oleh Ui-keh Taysu, Khu Jing-po dan lain-lain, satu mengawasi yang lain, khawatir ketinggalan rezeki. Semuanya dengan perasaan tegang sehingga napas pun sama tersengal seakan-akan menghadapi musuh di medan perang.

Siau-hi-ji berada paling belakang, wajahnya masih tersenyum simpul, namun perasaannya rada tegang dan juga bersemangat, betapa pun rahasia di tempat ini belum jelas baginya.

Sekonyong-konyong terdengar Ong It jui bersuara “he”, menyusul Ui-keh Taysu juga bersuara sama. Kedua orang ini terhitung tokoh suatu aliran tersendiri, kalau tidak melihat sesuatu yang aneh luar biasa, rasanya tidak mungkin mengeluarkan suara keheranan begitu.

Dengan sendirinya orang-orang yang mengintil di belakang mereka pun memburu ke sana, maka sejenak kemudian Sun Thiam-lan, Tio Coan-hay dan lain-lain juga sama bersuara heran, semuanya berdiri terkesima dan tak dapat bersuara pula.

Kiranya di ujung lorong sana tiada terdapat harta karun apa segala, yang ada cuma beberapa buah peti mati. Peti mati bercat hitam, di dalam gua yang remang-remang oleh cahaya obor tampaknya menjadi sangat seram dan misterius.

Di depan setiap peti mati itu ada tempat sembahyang, yaitu meja kecil dengan papan tanda pengenal dihiasi kelambu kuning. Angin yang meniup masuk melalui lorong itu membuat kelambu kuning itu berkibar sehingga menambah seram suasananya.

Tanpa terasa Liu Giok-ju bergidik dan merapatkan tubuhnya ke dada Tio Coan-hay. Diam-diam ia menghitung, peti mati itu seluruhnya ada tiga belas buah.

Karena berada paling belakang, ketika Siau-hi-ji sampai di tempat, sementara itu obor yang dibawa Tio Coan-hay dan Pang Thian-ih sudah padam. Di tengah ruangan batu yang luas itu hanya terlihat kelap-kelip sepasang lilin kecil yang menyala di meja sembahyang pada peti mati paling tengah, cahaya lilin yang redup itu menyinari sebuah Lengpay (papan pengenal orang mati di meja sembahyang) yang bertuliskan: “Tempat abu para Cosu turun temurun”.

Di atas tulisan itu lamat-lamat ada pula dua huruf, tapi tertutup oleh kelambu hiasan sehingga tidak jelas terbaca.

Diam-diam Siau-hi-ji menarik napas dingin, katanya, “Tempat apakah ini?”

“Ditaksir dari tempatnya, di sini adalah tengah-tengah belakang gunung Go-bi,” demikian Khu Jing-po berkata, “Konon di belakang Go-bi-san ada suatu tempat terlarang, yaitu tempat pemakaman para ketua Go-bi-pay turun temurun. Jangan-jangan tempat inilah tempat terlarang yang dimaksud itu?”

Ui-keh Taysu mengernyitkan kening, katanya, “Jika betul tempat ini, lebih baik kita lekas keluar saja!”

“Benar, salah memasuki tempat larangan orang lain adalah pantangan besar kaum persilatan kita,” ucap Siau-hun Kisu.

Sinar mata Ong It-jiau tampak gemerlap, selanya, “Jika demikian, silakan kalian lekas keluar saja.”

Ui-keh Taysu tampak ragu-ragu, sejenak kemudian ia jadi putar tubuh hendak keluar.

“Nanti dulu, Taysu” tiba-tiba Pang Thian-ih berseru, “Janganlah kita kena tipu orang.”

“Tipu? Tertipu bagaimana?” tanya Ui-keh Taysu.

“Coba pikirkan, adakah tempat penyimpanan harta pusaka di dunia ini yang lebih baik daripada peti mati?” tanya Pang Thian-ih.

Tergerak juga hati Ui-keh Taysu, serentak Siau-hun Kisu dan Ong It-jiau terus menyerbu ke samping peti mati paling tengah itu.

Tak terduga pada saat. itu juga, dinding batu sekeliling ruangan itu serentak terbuka delapan buah pintu, delapan jalur cahaya lampu yang kuat terus menyorot tiba sehingga semua orang yang hadir di situ terlihat jelas.

Karena sorot lampu yang mendadak itu, seketika semua mematung tak berani bergerak, bahkan mata pun silau dan sukar terpentang. Samar-samar cuma kelihatan di balik sinar lampu sana banyak bayangan orang serta berkelebatnya sinar pedang, tapi tak jelas siapa-siapa mereka itu.

Suara seorang yang berat parau lantas berjangkit di balik cahaya lampu itu, “Kawanan bangsat dari mana, berani sembarangan menerobos ke tempat suci kami?”

Menyusul seorang lagi membentak dengan bengis, “Menerobos ke tempat suci yang terlarang, hukumannya mati, buat apa tanya asal-usul mereka?!”

Suara orang terakhir ini diucapkan dengan perlahan-lahan, tapi menimbulkan semacam pengaruh yang membikin jeri orang.

Segera Ui-keh Taysu berseru, “Apakah di situ Sin-sik Totiang adanya?”

Orang tadi hanya mendengus saja.

Lalu Ui-keh Taysu berkata pula, “Apakah Totiang sudah lupa kepada Ui-keh Taysu dari Ngo-tay-san?”

“Di tempat suci ini tidak ada persoalan kenalan lama segala. Ciaat!” jawab suara itu dan begitu suara “ciaat” diucapkan, serentak berpuluh larik sinar pedang menyambar dari balik cahaya lampu sana dan secepat kilat menyerang Ui-keh Taysu, Ong It-jiau dan lain-lain, semuanya mengincar tempat mematikan seperti tenggorokan dan sebagainya.

Siau-hi-ji juga menjadi sasaran serangan, dia tidak berani berkelit walaupun sinar pedang musuh menyambar tiba. Maklumlah, dia tidak berani sembarangan bergerak khawatir digigit ular. Namun pedang musuh tidak kenal ampun dan tetap menyambar ke arahnya. Dalam keadaan kepepet, saking cemasnya ia berbalik menengadah dan bergelak tertawa.

Karena tertawanya itu, kawanan ular yang melingkar di tubuhnya sama menegak leher dan menjulurkan lidah. Ular memenuhi tubuh seorang anak tanggung, bentuknya yang luar biasa ini tentu saja mengagetkan semua orang. Tanpa terasa dua pedang yang menusuk ke arahnya terhenti seketika. Maka tertampaklah dua bayangan orang, kiranya dua Tojin berjubah ungu dan berjenggot.

Tojin sebelah kiri lantas membentak, “He, kau bocah ini menertawakan apa?”

“Aku mentertawai Go-bi-pay kalian yang sok anggap pihak sendiri paling hebat, tak tahunya kalian hanya kawanan manusia linglung yang tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk,” kata Siau-hi-ji. “Coba jawab, seumpama betul kami melanggar tempat suci kalian yang dilarang didatangi orang luar, tapi cara bagaimana kalian mendapat tahu akan kedatangan kami ini?”

Tojin itu mendengus, jawabnya, “Memangnya kau kira Go-bi-san adalah tempat yang boleh didatangi orang sesukanya? Ada orang menyusup ke belakang gunung masakah Go-bi-pay kami tidak tahu?”

“Jika kedatangan kami ini kepergok secara mendadak, maka penjagaan kalian yang ketat ini harus dipuji. Tapi jelas kalian memang sudah siap siaga di sini, memangnya Go-bi-pay kalian mempunyai ilmu nujum yang bisa tahu apa yang bakal terjadi di sini?”

“Soal ini bukan urusanmu,” bentak Tojin itu dengan bengis.

“Sudah tentu urusanku,” kata Siau-hi-ji. “Soalnya sebelum kedatangan kami tentu ada orang memberi laporan rahasia kepada pihak kalian, betul tidak? Hm, apakah kalian tidak perlu berpikir mendalam dari mana orang itu mengetahui akan kedatangan kami ini?”

“Betul,” teriak Tio Coan-hay dari kejauhan sana, “Semua itu adalah perangkap yang sengaja diatur oleh orang itu agar pihak kalian saling labrak dengan kami ….” Belum habis ucapannya, mendadak ia menjerit, rupanya karena sedikit meleng saja ia telah dilukai oleh orang Go-bi-pay.

“Perangkap apa? Mana ada perangkap apa segala?” ujar si Tojin tadi sambil mengeryitkan kening.

Siau-hi-ji berteriak, “Asalkan kalian berhenti menyerang, segera dapat kubongkar perangkap ini ….”

Tapi seorang lantas berseru, “Jangan percaya ocehannya, setan cilik itu sengaja main ulur waktu belaka.”

“Betul, bekuk dia dulu baru bicara lagi nanti!” Tojin tadi pun membentak.

Siau-hi-ji menyadari bila pihak lawan mulai turun tangan, maka jangan harap dirinya dapat lolos. Diam-diam ia menyesal tadi tidak membersihkan kawanan ular itu dengan makanan ular dalam kotak itu, tapi sengaja membiarkan kawanan ular itu untuk menggertak orang segala, kini jadinya bikin susah dirinya sendiri.

Dalam keadaan kepepet, mendadak ia membentak, berbareng ketiga kotak kecil yang dipegangnya itu disambitkan ke arah kedua Tojin di depannya. Tapi sekali pedang mereka bekerja, kontan ketiga kotak itu terbelah menjadi enam. Obat bius, obat penawar bisa dan makanan ular jatuh berhamburan. Dengan sendirinya daya serangan pedang kedua Tojin itu rada merandek, tapi dalam sekejap saja mereka lantas menubruk maju pula.

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh dan gegetun, katanya sambil menyeringai, “Di waktu ingin mencelakai orang berbalik lupa akan kemungkinan membikin susah dirinya sendiri ….”

Belum lagi pedang lawan menyambar tiba, sekonyong-konyong terdengar suara mendesing belasan kali, begitu keras dan cepat suara mendesing itu, hanya sekejap saja api lilin yang redup serta cahaya lampu yang terang tadi sama padam seluruhnya.

Selagi Siau-hi-ji terkejut, tiba-tiba sebuah tangan telah memegangi tangannya disertai suara bisikan di telinganya, “Ssst, jangan bersuara, ikutlah padaku!”

Siau-hi-ji merasa tangan itu dingin bagai es, tapi terasa pula licin dan lunak sekali, bahkan suara itu pun lembut tak terperikan dan rasanya sudah sangat dikenalnya. Tanpa terasa timbul semacam rasa hangat dalam hatinya, dengan suara lirih ia pun bertanya, “Kau Thi Sim-lan?”

“Ehm,” jawab singkat suara itu dengan lirih.

Sambil ikut berjalan dengan nona itu, tanpa terasa ia menghela napas gegetun dan berkata, “Baru sekarang kutahu kepandaianmu menggunakan Amgi (senjata rahasia) ternyata selihai ini, hanya sekejap saja dapat memadamkan belasan lampu, sungguh jauh lebih mahir daripadaku.”

“Yang memadamkan lampu itu bukan diriku,” kata Thi Sim-lan.

“Bukan dirimu?” Siau-hi-ji melengak.

Sesudah lampu padam tadi, untuk sejenak suasana menjadi sunyi, tapi segera berjangkit suara bentakan dan jeritan, berpuluh orang saling membentak dalam kegelapan, “He, siapa itu?”

“Siapa lagi yang menerobos kemari?”

“Nyalakan lampu, lekas!”

Dan belum sempat Thi Sim-lan menjawab pertanyaan Siau-hi-ji tadi, tahu-tahu cahaya lampu sudah terang benderang pula, kelihatan para Tosu Go-bi-pay sama mepet dinding sedangkan rombongan Ong It-jiau juga berkumpul di suatu sudut.

Di bawah sinar lampu itu tampak di ruangan situ sudah bertambah pula dua orang, pakaian mereka seputih salju, rambut hitam legam, kulit badan mereka ternyata lebih putih bersih daripada bajunya, biji mata mereka pun lebih hitam daripada rambutnya.

Semula Siau-hi-ji mengira orang yang mampu memadamkan belasan lampu sekaligus dalam sekejap itu tentulah seorang tokoh yang lihai, siapa tahu yang muncul adalah dua gadis jelita yang tampaknya lemah gemulai.

Yang berada di ruangan batu belakang gunung Go-bi saat ini adalah tokoh terkenal di dunia Kangouw, apalagi kawanan Tosu Go-bi-pay, semuanya adalah jago silat pilihan. Tapi kedua gadis berbaju putih ini ternyata sama sekali tidak menaruh perhatian kepada siapa pun, sorot mata mereka tampak angkuh dan acuh tak acuh terhadap orang lain.

Sikap angkuh pembawaan dan tidak dibuat-buat dengan sendirinya mempunyai daya pengaruh tersendiri. Meski cahaya lampu kini sudah terang benderang lagi, suasana di dalam ruangan malah berubah sunyi senyap dan mencekam.

Tiba-tiba Siau-hun Kisu mendengus, “Hm, tempat Go-bi-pay yang terlarang ini ternyata sembarangan diterobos oleh orang perempuan dan anak murid Go-bi-pay hanya tinggal diam saja, sungguh kejadian aneh yang belum pernah terdengar di dunia Kangouw.”

Dia bicara sambil melirik Sin-sik Totiang, jelas dia berharap tokoh utama Go-bi-pay itu dapat segera bertindak.

Wajah Sin-sik Totiang tampak prihatin, para anak murid Go-bi-pay sudah mulai berisik mengunjuk gusar.

Tapi kedua gadis jelita itu tetap tenang-tenang saja, yang sebelah kiri berperawakan ramping, raut muka potongan daun sirih, alisnya lentik di antara sikapnya yang dingin itu kelihatan cantik yang sukar dilukiskan.

Sedang gadis sebelah kanan bertubuh kecil, wajah bulat dengan mata yang besar, hidung mancung, tapi pada ujung hidung ada beberapa bintik jerawat, namun begitu jadi menambah keelokannya.

Dalam pada itu mata si gadis wajah bulat terbelalak semakin lebar dan berkata pada kawannya, “Kakak Ho-loh, kau dengar tidak, katanya belakang gunung Go-bi ini seharusnya tidak boleh didatangi kita.”

Gadis lain yang dipanggil dengan nama Ho-loh itu mendengus, “Hm, tempat apa pun di dunia ini, kalau kita ingin datang boleh datang, mau pergi boleh pergi, siapa yang dapat merintangi kita dan siapa pula yang berani merintangi kita?”

Sin-sik Totiang tak tahan lagi, segera ia membentak bengis, “Anak perempuan dari manakah kalian, besar amat nada ucapanmu!”

Karena bentakan pemimpinnya, anak murid Go-bi-pay tidak sabar pula, serentak dua larik sinar pedang menggunting ke arah kedua gadis jelita itu.

Tapi melirik saja tidak kedua nona itu, ketika sinar pedang sudah mendekat barulah tangan halus salah seorang itu meraih perlahan terus didorong ke samping. Tiada seorang pun yang tahu persis bagaimana gerak tangan si gadis, tahu-tahu kedua pedang yang menyambar tiba itu ditolak balik sehingga pedang sebelah kiri kena menusuk pundak kanan murid Go-bi-pay dan pedang lain menabas putus secomot rambut Tojin Go-bi-pay yang lain.

Keruan kedua Tosu Go-bi-pay kaget setengah mati, rontok nyali mereka, seketika mereka berdiri mematung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ong It-jiau, Ui-keh Taysu dan lain-lain juga melengak kaget, begitu pula tak terkecuali Sin-sik Totiang, segera ia melompat maju dan menegur, “Apakah … apakah ini gaya ‘Ih-hoa-ciap-giok’ dari Ih-hoa-kiong?”

“Hm, masih boleh juga pandanganmu,” jawab Ho-loh tawar.

Si gadis muka bulat juga lantas menjengek, “Hm, sekarang tentu kau tahu asal usul kami, apakah kau masih anggap nada ucapan kami tadi terlalu besar?”

Dengan wajah pucat Sin-sik Totiang bertanya pula, “Selamanya Go-bi-pay dan Ih-hoa-kiong tiada permusuhan, untuk apakah kedatangan nona?”

“Kami juga tidak ingin apa-apa, hanya minta kau memperlihatkan harta karun tinggalan Yan Lam-thian,” kata Ho-loh. “Sungguh kami hanya ingin melihatnya saja.”

“Harta karun tinggalan Yan Lam-thian apa?” Sin-sik menegas dengan melengak.

“Ah, pakai berlagak pilon segala,” jengek si gadis muka bulat. “Pokoknya harus kau keluarkan, kalau tidak … Hmk!”

“Go-bi-pay kami sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan Yan Lam-thian, cara bagaimana harta karunnya bisa tersimpan di sini?” kata Sin-sik dengan bingung. Mendadak sorot matanya memancar ke sekelilingnya, ia menyeringai, lalu menyambung, “Ya, tahulah aku sekarang, rupanya kedatangan kalian juga ingin mencari harta karun ini?”

Ong It-jiau, Ui-keh Taysu dan lain-lain sama bungkam dan tak berani menanggapi, bahwa orang Ih-hoa-kiong telah muncul pula di dunia Kangouw, apalagi yang dapat mereka ucapkan.

Dengan suara serak Sin-sik Totiang berkata pula, “Semua ini pasti suatu perangkap, kalian dan kami adalah orang-orang yang tertipu, jika kita saling labrak sendiri, inilah yang diharapkan jahanam yang mengatur perangkap keji itu.”

Siau-hi-ji sudah mundur ke samping sana, segera ia menanggapi dengan mendengus, “Hm, tadi sudah kukatakan begitu, kau justru tidak percaya, sekarang kau sendiri yang bilang demikian, ini namanya menampar mulutnya sendiri.”

Dalam pada itu si gadis bermuka bulat berkata pula, “Jadi maksudmu di sini tiada terdapat harta karun tinggalan Yan Lam-thian?”

“Dengar saja belum pernah,” jawab Sin-sik gegetun.

“Enci Ho-loh, kau percaya tidak pada ucapannya?” tanya si muka bulat.

“Selamanya aku tidak percaya kepada omongan orang lain,” jawab Ho-loh hambar. “Ucapan siapa pun aku tetap tidak percaya.”

“Jika nona tidak percaya, apa boleh buat,” ujar Sin-sik Totiang.

“Siapa bilang tidak boleh buat? Kami ingin menggeledah!” jengek si muka bulat.

“Menggeledah?” Sin-sik menegas, air mukanya berubah hebat.

“Benar, geledah!” kata si muka bulat. “Kulihat beberapa peti mati ini adalah tempat penimbunan harta karun yang paling bagus, maka harus kau buka dan perlihatkan kepada kami.”

Sungguh tidak kepalang murka para murid Go-bi-pay, juga Sin-sik Totiang, rambut dan jenggotnya seakan-akan berdiri semua. Tapi sebisanya ia tetap bersabar, katanya dengan suara berat, “Isi peti itu adalah jenazah leluhur Go-bi-pay kami turun temurun, siapa pun di dunia ini dilarang membukanya.”

“Di sinilah kelihatan belangnya,” jengek si gadis muka bulat. “Kalau betul isi peti itu adalah orang mati, lalu apa jeleknya diperlihatkan kepada kami, memangnya hanya dilihat saja akan kehilangan satu kerat tulang belulangnya? Bila keberatan diperlihatkan kepada kami, itu tandanya kau menyembunyikan sesuatu.”

“Tidak bisa,” akhirnya Sin-sik Totiang membentak dengan murka. “Siapa yang ingin membuka peti, dia harus melangkahi dulu mayat anak murid Go-bi-pay.”

“Untuk itu makan waktu, kami tak sabar menunggu,” ucap si gadis muka bulat.

“Ih-hoa-kiong terlalu menghina orang, biarlah Go-bi-pay mengadu jiwa dengan kalian!” bentak Sin-sik Totiang mendadak, berbareng pedang lantas dilolos, sekali sinar pedang berkelebat, kontan menusuk tenggorokan nona itu. Serangan dalam keadaan murka, dengan sendirinya luar biasa lihainya.

Betapa pun kedua gadis berbaju putih itu belum cukup sempurna kepandaian mereka, melihat serangan yang sangat lihai ini mereka tidak berani menggunakan gaya “Ih-hoa-ciap-giok” untuk menangkisnya. Cepat mereka menggeser langkah dan berkelit ke samping.

Dalam pada itu berpuluh pedang anak murid Go-bi-pay juga sudah bergerak, biarpun kedua nona itu memiliki kepandaian bagus juga sukar melayani pedang yang mengamuk itu.

Mendadak Thi Sim-lan melepaskan pegangan tangan Siau-hi-ji, katanya, “Kau tunggu di sini dan jangan bergerak, aku akan ….”

“Kau mau apa?” Siau-hi-ji terbelalak.

“Waktu aku kesasar di pegunungan sunyi, mereka yang menolong aku, ketika kau terancam bahaya juga berkat pertolongan mereka,” tutur Thi Sim-lan. “Sekarang mereka mengalami kesulitan, mana boleh kutinggal diam tanpa memberi bantuan?”

“Biarpun mengalami kesulitan, masakah orang Ih-hoa-kiong memerlukan bantuan orang luar?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Betul ucapanmu!” tiba-tiba seorang menyambung perkataan Siau-hi-ji itu. Suaranya nyaring bening dan singkat, baru saja suara itu terdengar, tahu-tahu sesosok bayangan sudah melayang lewat di samping Siau-hi-ji.

Padahal keadaan terang benderang, namun Siau-hi-ji tidak dapat melihat jelas orang itu lelaki atau perempuan dan bagaimana bentuknya. Padahal mata Siau-hi-ji sangat awas, tapi kini warna baju orang pun tak terlihat jelas. Sungguh selama hidupnya belum pernah melihat gerakan secepat itu, lebih-lebih tak pernah terpikir di dunia ini ada orang secepat dan segesit itu.

Dalam sekejap saja terdengar suara mendering beradunya pedang, lalu berpuluh pedang sama jatuh ke lantai. Orang lain sama sekali tidak tahu cara bagaimana pedang sebanyak itu terlepas dari pegangan yang empunya, hanya anak murid Go-bi-pay sendiri yang tahu bagaimana terjadinya, mereka merasa sekonyong-konyong suatu arus tenaga mahabesar membetot pedangnya untuk dibenturkan kepada kawannya, karena tenaga benturan yang kuat luar biasa itu, tangan mereka terasa linu dan pedang terlepas dari cekalan. Semuanya menjerit kaget sambil memegangi pergelangan tangan masing-masing, pikiran mereka pun sama bingung karena tidak tahu persis bagaimana bisa terjadi begitu.

Pedang Sin-sik Totiang sendiri tidak sampai terlepas, tapi ia pun kaget dan cepat melompat mundur, ia coba mengawasi sekelilingnya, kecuali kedua nona baju putih tadi, mana ada bayangan orang lain? Namun di bawah cahaya lampu yang terang, berpuluh pedang jelas berserakan di lantai.

Sin-sik Totiang menengadah dan menghela napas panjang, serunya penuh penyesalan, “Sudahlah!” Mendadak pedang terus menggorok leher sendiri.

Rupanya ia menjadi putus asa, Go-bi-pay yang termasyhur dan malang melintang di dunia Kangouw kini ternyata tidak mampu melawan ilmu silat seorang yang tak dikenal, jelas runtuhlah nama baik Go-bi-pay, untuk itu ia merasa hanya dapat menembusnya dengan kematian selaku seorang pimpinan.

Tak terduga pada detik yang menentukan itulah, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakangnya dan perlahan menarik tangannya, sedang tangan yang lain lantas merampas pedangnya. Padahal pedang Sin-sik Totiang ini boleh dikatakan sehidup semati dengan dia dan entah sudah mengalami betapa banyak pertempuran besar, pedang itu belum pernah berpisah dengan dia. Tapi entah mengapa kini pedang dapat dirampas orang dengan mudah saja.

Keruan Sin-sik Totiang terkejut dan gusar pula. Tertampak seorang pemuda baju putih melangkah keluar dari belakangnya, kedua tangan mendukung pedang rampasan dan memberi hormat dengan tersenyum, katanya, “Harap Totiang suka memaafkan kelancanganku, apabila para Totiang kalian tidak mulai menyerang kaum wanita, betapa pun Tecu tidak berani sembarangan turun tangan.”

Di bawah cahaya lampu tertampak dengan jelas pemuda ini paling-paling baru berumur 14-15 tahun, tapi ilmu silatnya, gayanya, sama sekali tak pernah terbayang oleh tokoh-tokoh persilatan yang hadir ini. Baju putih yang dipakai juga kain yang sederhana, tapi sikapnya yang agung berwibawa itu sungguh sukar dibandingi oleh pemuda lain atau pangeran sekalipun.

Sebegitu jauh anak itu baru bicara beberapa patah kata saja, tapi gayanya, santunnya, sampai Swat-hoa-to Liu Giok-ju yang sudah banyak berpengalaman juga terpesona dan mabuk kepayang. Seketika suasana menjadi sunyi, semua orang terkesima.

Sin-sik Totiang seolah-olah terpengaruh juga oleh gaya memikat anak muda itu sehingga mau tak mau harus bersikap ramah pula walaupun dia sangat murka. Dengan membalas hormat ia menjawab, “Apakah saudara ini datang dari Ih-hoa-kiong?”

“Benar, tecu Hoa Bu-koat, datang dari Ih-hoa-kiong,” jawab pemuda baju putih. “Orang Ih-hoa-kiong sudah lama tak berkecimpung di dunia Kangouw sehingga sudah lupa pada adat istiadat, apabila ada sesuatu kesalahan, diharap para sahabat sudi memaafkan.”

Cara bicaranya sedemikian sopan, begitu rendah hati, sikapnya itu mirip seorang majikan yang pada dasarnya memang ramah tamah sedang bicara kepada kaum hambanya, meski sikap pihak majikan begitu memang pembawaan, tapi bagi kaum hambanya terasa tidak tenteram di hati. Walaupun wajahnya senantiasa tersenyum simpul dan bersikap ramah, tapi orang lain tetap mengagungkan dia.

Padahal Sin-sik Totiang, Ui-keh Taysu, Ong It-jiau, Khu Jing-po dan lain-lain hampir semuanya adalah tokoh dari suatu aliran tersendiri, kedudukan cukup terhormat, tapi entah mengapa di hadapan anak muda ini terasa serba salah dan kikuk, ingin bicara, tapi sukar keluar dari mulut.

Dengan suara nyaring Ho-loh lantas berseru, “Nah, Kongcu kami sudah datang, sekarang peti mati ini boleh dibuka tidak?”

Air muka Sin-sik Toating berubah pula. Tapi sebelum menjawab, tiba-tiba si anak muda yang bernama Hoa Bu-koat itu menyela, “Kukira tentang harta karun ini pasti omong kosong belaka, Cayhe berharap hadirin jangan mau tertipu oleh muslihat keji orang jahat, marilah kita berkawan saja daripada menjadi lawan, urusan ini mulai sekarang jangan kita ungkit-ungkit lagi.”

“Omitohud! Pikiran Kongcu yang mulia sungguh harus dipuji,” ucap Ui-keh Taysu.

“Benar,” seru Ong It-jiau, “bila ada yang ingin saling labrak lagi sehingga dijadikan buah tertawaan jahanam yang mengatur tipu muslihat ini, maka dia itu pasti orang tolol.”

Serentak Khu Jing-po, Pang Thian-ih dan lain-lain juga menyatakan setuju dan ingin mohon diri.

Sin-sik Totiang memberi hormat kepada Hoa Bu-koat dan mengucapkan terima kasih.

Suasana pertempuran yang tadinya tegang itu hanya berdasarkan beberapa patah-kata Bu-koat Kongcu tadi segera berubah menjadi aman tenteram dan damai.

Kerlingan genit Liu Giok-ju sejak tadi terus melengket pada diri Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan juga memandangi anak muda itu dan tanpa terasa tersembul juga senyuman kagum.

“Hmk!” mendadak Siau-hi-ji mendengus, lalu berlari keluar lorong bawah tanah itu.

Thi Sim-lan melenggong, setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia pun ikut berlari keluar.

Sementara itu terdengar Tio Coan-hay sedang berseru, “Giok-tayhiap, Giok-locianpwe ….”

Ho-loh juga berseru, “He, nona itu, mengapa engkau juga pergi?”

Sin-sik Totiang memanggil juga, “Eh, Siausicu itu, tadi banyak menerima petunjukmu, sudilah engkau mampir ke tempat kami.”

Pada hakikatnya Siau-hi-ji tidak pedulikan seruan mereka, tanpa menoleh langsung ia lari keluar gua. Di luar gua masih ada kabut tipis, tapi rembulan sedang memancarkan cahayanya yang indah.

Siau-hi-ji hanya memandang ke depan saja dan berjalan terus tanpa berhenti diikuti Thi Sim-lan. Kira-kira seminuman teh, akhirnya anak muda itu menemukan sepotong batu besar dan duduklah dia di situ.

Thi Sim-lan menghela napas panjang, katanya, “Urusan harta karun ternyata berakhir begini, sungguh tak pernah terpikir olehku.”

“Memangnya apa yang pernah kau pikir?” tanya Siau-hi-ji dengan ketus.

Thi Sim-lan melengak, ia menunduk, katanya pula dengan perasaan sedih, “Aku banyak mengalami siksa derita lantaran peta harta karun yang ternyata tidak bernilai sepeser pun, bahkan jiwaku hampir melayang. Kalau kupikir sekarang sungguh sangat penasaran.”

“Adalah pantas penderitaanmu itu,” kata Siau-hi-ji.

Dengan menggigit bibir dan menunduk Sim-lan berkata, “Kutahu engkau pasti banyak mengalami kesusahan di Buyung-san-ceng itu, makanya engkau meninggalkan diriku begitu saja, aku tidak menyalahkanmu, cuma engkau ….”

“Cuma apa? Umpama kau menyalahkan aku, lalu mau apa?” kata Siau-hi-ji dengan ketus.

Mendadak Thi Sim-lan mengangkat kepalanya, “Meng … mengapa kau bicara demikian?”

“Cara kubicara memang begini, jika tidak suka janganlah kau mendengarkan. Hm, cara bicara orang lain lebih enak didengar, boleh kau mendengarkan ocehannya saja.”

Mata si nona menjadi merah dan berkaca-kaca, setelah terdiam sejenak, kemudian ia memaksakan tertawa dan bertanya, “Bilakah engkau datang ke Go-bi-san sini?”

“Hmk!” dengus Siau-hi-ji.

“Mengapa tubuhmu terdapat ular sebanyak ini?” tanya Sim-lan dengan suara lembut.

“Hmk!” kembali Siau-hi-ji menjengek.

Thi Sim-lan menjadi dongkol, ia membanting kaki dan duduk di atas batu itu. Maka kedua orang kini duduk menempel punggung dan sama-sama tidak bicara.

Entah berapa lamanya, akhirnya Siau-hi-ji tidak tahan, tiba-tiba ia mengomel, “Huh, lagaknya bocah itu!”

Tapi Thi Sim-lan seperti tidak mendengar sama sekali dan tidak menanggapinya.

Siau-hi-ji menjadi kikuk, akhirnya tidak tahan pula, ia senggol si nona dengan punggungnya dan berseru, “He, orang tuli, kau dengar tidak perkataanku?”

“Hmk!” Thi Sim-lan mendengus menirukan suara Siau-hi-ji, “Orang tuli mana bisa mendengar perkataan orang.”

Siau-hi-ji melenggong, tapi segera ia berseru, “Tapi … tapi bukankah kau sudah mendengar? Kalau tidak mendengar, kenapa kau dapat menjawab? Kau … kau ….” bicara ke sana ke sini, akhirnya ia sendiri menjadi geli dan bergelak tertawa.

Diam-diam Thi Sim-lan memang sedang tertawa geli, kini tanpa terasa ia pun terkikik-kikik.

Di tengah suara tertawa mereka, tanpa terasa kedua muda-mudi itu telah duduk berjajar, entah Thi Sim-lan yang menggeser kemari lebih dulu atau Siau-hi-ji yang menggeser duluan.

Sesudah sama-sama tertawa sejenak, mendadak Siau-hi-ji berkata, “Hm, bocah itu benar-benar banyak lagaknya!”

“Sebenarnya juga bukannya dia berlagak, tapi orang lain yang menjunjung tinggi lagaknya,” ujar Thi Sim-lan dengan lembut.

“Hm, jangan kau mengira dia tidak berlagak, sikapnya itu hanya bikinan belaka agar orang memuji dia sopan santun, padahal …. Hm, kentut anjing!” jengek Siau-hi-ji pula.

“Maklumlah, Ih-hoa-kiong boleh dikatakan tempat suci yang diagungkan dunia persilatan sekarang, sebagai satu-satunya ahli waris Ih-hoa-kiong, adalah pantas juga jika dia sok berlagak,” ujar Sim-lan dengan tertawa.

“Hmk… Hmk-hmk … hmk-hmk-hmk,” demikian berulang-ulang Siau-hi-ji mendengus.

Thi Sim-lan tertawa geli, perlahan ia meraba tangan anak muda itu, tapi cepat dia tarik kembali tangannya demi nampak ular yang melilit di pergelangan tangan Siau-hi-ji. Katanya kemudian dengan tertawa, “Eh, apakah kau tahu bahwa alis matanya sungguh sangat mirip dirimu, pada hakikatnya dia serupa denganmu, orang yang tidak kenal tentu mengira kalian adalah saudara sekandung.”

“Jika aku pun berbentuk banci seperti dia, rasanya lebih baik kumati saja,” kata Siau-hi-ji.

Thi Sim-lan hanya meliriknya dengan mengulum senyum dan tidak menanggapi lagi.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendengus pula, “Anehnya, manusia yang suka berlagak dan bicara seperti banci justru ada orang menyukainya.”

“O … siapakah yang menyukai dia?” tanya Sim-lan.

“Kau!” jawab Siau-hi-ji.

“Aku?” Sim-lan melengak, akhirnya ia tertawa geli, “Kau bilang aku menyukai dia? Hah, gila!”

“Jika kau tidak menyukai dia, mengapa kau memandang dia hingga terkesima? Dan bila kau tidak suka padanya, mengapa dalam segala hal kau suka bicara membelanya?”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah saking gemasnya, katanya kemudian dengan gregetan, “Baik, anggaplah aku menyukai dia. Ya, aku menyukai dia setengah mati. Toh kau bukan sanak kadangku, kau tidak perlu urus.” Mendadak ia membanting kaki dan duduk membalik tubuh pula.

Siau-hi-ji sengaja memberosot duduk di tanah sambil mengomel, “Hm, lagaknya seperti kakek kecil, manusia demikian paling menjemukan.”

Tanpa menoleh Thi Sim-lan menanggapi, “Tadi kau bilang dia seperti banci, mengapa sekarang kau katakan dia seperti kakek-kakek.”

“Kumaksudkan dia seperti … seperti nenek cilik,” jawab Siau-hi-ji dengan mengada-ada.

Mendadak Thi Sim-lan mengikik tawa.

Siau-hi-ji mendelik, semprotnya, “Apa yang kau tertawai?”

“Hihi,” Sim-lan mengikik pula, lalu menjawab dengan sekata demi sekata, “Tahulah aku sekarang, kiranya kau cemburu!”

“Aku cemburu?” Siau-hi-ji melonjak bangun. “Hm, mustahil!” Mendadak ia duduk dan bergumam dengan gegetun, “Ya, rasanya sekarang aku memang rada-rada cemburu.”

Sambil tertawa menggiurkan Thi Sim-lan menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu. Tapi segera ia melompat bangun pula dan berseru dengan suara terputus-putus, “He, ular … ular-ular ini mengapa tidak kau enyahkan saja.”

“Jika kudapat mengenyahkan mereka, maka bahagialah aku!” ucap Siau-hi-ji dengan bersungut.

“Kau … kau tidak sanggup mengenyahkan mereka?” kaget juga Thi Sim-lan.

Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya, “Setelah Pek-coa-sin-kun mati, kini mungkin tiada yang sanggup mengenyahkan mereka, siapa saja bila ingin menyentuh mereka, maka akulah yang akan dipagut paling dulu.”

“Wah, lantas bagaimana … bagaimana baiknya? Memangnya selamanya kau akan membawa serta mereka?”

Dengan murung Siau-hi-ji termangu-mangu, sejenak kemudian tiba-tiba ia berseru dengan lagak jenaka, “Begini juga ada baiknya, tubuhku penuh ular, tentu tiada anak perempuan yang berani mendekati aku.”

“Orang bicara dengan sungguh, kau justru sengaja bercanda,” omel Thi Sim-lan dengan mendongkol sambil berpaling pula ke arah lain. Tapi segera ia menoleh dan berkata dengan tertawa, “He, aku ada akal.”

“Bagus, bagaimana akalmu?” tanya Siau-hi-ji dengan girang.

“Ular-ular ini jangan kau beri makan, bila mereka mati kelaparan, dengan sendirinya mereka akan rontok semuanya.”

Siau-hi-ji seperti lagi berpikir, jawabnya sambil manggut-manggut, “Benar, benar, akalmu ini sungguh amat bagus!”

“Terima kasih,” ucap Thi Sim-lan dengan tertawa manis.

“Tapi kau melupakan sesuatu,” tiba-tiba Siau-hi-ji menambahkan pula.

“Sesuatu apa?”

“Ular-ular ini meski gundul, tapi mereka bukan Hwesio.”

“Artinya?” Thi Sim-lan melengak bingung.

“Kalau bukan Hwesio, tentu tidak pantang makan,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Thi Sim-lan melenggong bingung, mendadak ia melonjak bangun dan berseru, “He, maksudmu jika … jika mereka lapar, maka dagingmu dan darahmu juga akan dimakannya?”

“Hah, kau ternyata anak jenius, baru sekarang kutahu,” ucap Siau-hi-ji dengan tak acuh.

“Wah, lantas bagaimana ini?” Thi Sim-lan menjadi gelisah dan hampir menangis. “Kukira harus … harus ….”

“Harus” apa ternyata sukar diucapkannya, saking kelabakan ia hanya berputar-putar saja di situ.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang berkata, “Mengapa budak itu bisa menghilang mendadak, sungguh aneh.”

Lalu seorang lagi menanggapi dengan nada dingin, “Hari ini dia kabur, besok juga kita akan membekuk dia.”

Begitu mendengar suara kedua orang itu, seketika air muka Siau-hi-ji dan Thi Sim-lan berubah hebat.

“Siau-sian-li!” seru Sim-lan dengan saura tertahan.

“Dan Buyung Kiu!” sambung Siau-hi-ji.

“Mari lekas … lekas kita lari!”

Leave a Reply